Pondok Pesantren Walisongo Cukir Jombang

  1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian (Pondok Pesantren)

a)   Kondisi Geografis

Kondisi geografis adalah letak suatu daerah atau wilayah dilihat dari kenyataan di permukaan bumi. Berdasarkan letak geografis Pondok Pesantren Walisongo berada pada permukaan bumi pada posisi silang, yang mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan iklim dan perekonomian.

Letak wilayah Pondok Pesantren Walisongo adalah Jl. Irian Jaya No. 61 Cukir Diwek Jombang Desa Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten jombang. Pondok pesantren walisongo terletak di Desa Cukir Diwek Jombang jarak tempuh dari pondok pesantren ke kota jombang ± 7 km. Jika ditempuh dari desa Cukir Diwek Jombang ke Kabupaten melewati beberapa desa meliputi: Tebuireng, Kwaron, Sukopuro, Diwek, Ceweng, Mbalongbiru, Mbalongbesok, Mojosongo, Parimono, Kaliwungu dan kabupaten Jombang.[1]Batas-batas wilayah Pondok Pesantren Walisongo terletak di Cukir Diwek Jombang, dibatasi oleh sebelah barat dan selatan rumah warga, utara: Pabrik Gula, dan timur jalan raya.[2]

b)   Keadaan Demografis

Untuk memberi definisi sebuah pondok pesantren, harus kita melihat makna perkataannya. Kata pondok berarti tempat yang dipakai untuk makan dan istirahat. Istilah pondok dalam konteks dunia pesantren berasal dari pengertian asrama-asrama bagi para santri. Perkataan pesantren berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri (Dhofier 1985:18).

Sekarang di Indonesia ada ribuan lembaga pendidikan Islam terletak di seluruh nusantara dan dikenal sebagai dayah dan rangkang di Aceh, surau di Sumatra Barat, dan pondok pesantren di Jawa (Azra, 2001:70). Pondok pesantren di Jawa itu membentuk banyak macam-macam jenis. Perbedaan jenis-jenis pondok pesantren di Jawa dapat dilihat dari segi ilmu yang diajarkan, jumlah santri, jumlah ustadz (ah), jumlah pengurus, jumlah satpam, jumlah kelas, jumlah kamar dan aktifitas pondok pesantren. Merupakan elemen unik yang membedakan sistem pendidikan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya:

  1. Santri merupakan unsur yang penting sekali dalam perkembangan sebuah pesantren karena langkah pertama dalam tahap-tahap membangun pesantren adalah bahwa harus ada murid yang datang untuk belajar dari seorang alim. Kalau murid itu sudah menetap di rumah seorang alim, baru seorang alim itu bisa disebut kyai dan mulai membangun fasilitas yang lebih lengkap untuk pondoknya. Santri biasanya terdiri dari dua kelompok, yaitu santri kalong dan santri mukim. Santri kalong merupakan bagian santri yang tidak menetap dalam pondok tetapi pulang ke rumah masing-masing sesudah selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren. Santri kalong biasanya berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren jadi tidak keberatan kalau sering pergi pulang. Makna santri mukim ialah putera atau puteri yang menetap dalam pondok pesantren dan biasanya berasal dari daerah jauh. Sedangkan jumlah Pondok Pesantren Walisongo yang menetap ternyata memiliki jumlah santriwati yang cukup banyak dibandingkan pesantren yang ada disekitarnya. Jumlah keseluruhan santri yang tinggal di Pondok Pesantren Walisongo mencapai 536 santri.[3]
  2. Jumlah ustad-ustadah yang mengajar di Pondok Pesantren terdapat 2 kategori yaitu guru diniyah dan guru Alquran, dengan pendidikan terakhir S1 bahkan ada beberapa yang telah lulusan S2. Diantaranya ustad-ustadah yang mengajar diniyah: Drs. Amir Jamiluddin; KH. Mukhlis Dimyati; Abd. Mannan Iskhaq; H. M. Dahlan; Drs. Syamsuddin Aly, M. Pdi; Drs. Amin Aly; Huda Muhammad; Machsun Sohib, M.Pdi; Drs. Yusuf Mufti; Drs. H. Najib Muhammad; A. Zaini Turmudzi, S.Ag; M. Hasanuddin, S.Ag; Arif Zain, M.Pdi; Nur Hasanah, S.Ag; Syuhada`, M.Hi; A. Nasir, M.Hi; A. Said; Zulin Nihayah, S.Ag; Miftahul Haq, S.Ag; Mastufah; H. M. Nasil Aminulloh, S.Ag; A. Syamsul Anam, S.Ag; Bahrul Ulum; Nur Rahmawati, S.Ag; Nur Faidah; Harisun Nisa`; Abd. Asyik, S.Pd; Baiq Tuhfatul Unsi; Badrut Tamam; Afrohah, S.HI. Sedangangkan Asatidz yang mengajar Al-Qur’an di Pondok Pesantren Walisongo di antaranya adalah: K.H. Abdullah Afif, M.Hi; Daroji; Syakir Ridlwan, Lc; Munawar Hidayat; Ali Sa’id; Afrohah, S.Hi; Nur Faidah, S.Pdi; Mu’awiyah; Ummu Habibah; Leny Fitriyani; Ainun Nusroh; Anik Khanifah; Wiwik; Nur Kholifatul Azizah; Laily Mas’udah; Siti Aisyah; Hidayati; Nur Jannah; Shobihus Surur; Nur Wahid, S.Hi; Baiq Tuhfatul Unsi, M.Pd; Nur Rahmawati, S.Ag; Nur Hasanah, S.Ag; Indah Sulistiowati; Ulfah Syam; Siti Nurratih, S.Pdi; Nur Azizah, S.pdi; Siti Rosyidah; Ainur Rofiq, S.Ag; Nur Halimah; Kurnia Lutfiyah; Enik Khorida; Iswanti; Afifatul Muflikhah; Siti Zahroh Nurbayanti; Gusma; Zamratut Thariqah; Iffah; Siti Nur Halimah. Kesimpulan dari Nama-nama diatas sudah cukup jelas bahwasanya ustadh-ustadhah diniah dan Asatidz pengajian Al-Qur’an berjumlah 69 ustadh-ustadhah.[4]
  3. Pengurus pondok pesantren berperan penting dalam membantu berjalannya kegiatan pondok pesantren. Oleh karena itu diperlukan beberapa department kepengurusan yang memerlukan lumayan banyak, di Pondok Pesantren Walisongo ini sudah terbentuk bagus dalam kepengurusannya yang bisa dibaca di bawah ini:

Susunanan Personalia Pengurus Pondok Pesantren Putri “Walisongo” Cukir Jombang

Periode 2011-2013 Tahun pertama

Ketua Umum           : Enik Khorida                         (Peng)                        Kediri

Kabid I                     : Zamrotut Thoriqoh                (Peng)             Bangkalan

Kabid II                    : Kurnia Lutfiyah                     (Peng)            Pasuruan

Kabid III                   : Siti Ulyatun Nafi’ah               (Peng)             Bojonegoro

Sekretaris Umum    : Siti Rabiatul Adawiyyah       (Peng)            Balikpapan

Sekretaris I              : Khilyatul Zakiyah                  (KF)                Sidoarjo

Bendahara Umum    : Diska Firzan Nadia Fatiq      (Peng)             Nganjuk

Bendahara I              : Laily Mas’udah                      (AR)               Pekalongan

DEPARTEMEN – DEPARTEMEN

  1. Dept. Pendidikan

Koord                  : Nurul Amalia Nuri                 (JUA)              Pasuruan

Anggota              : Yunita Iqro Atin                     (UI)                 Jember

Siti Durrotun Naseha             (DN)               Nganjuk

Ulwiyatul Iffah                      (JF)                 Gresik

Asyrofiyah                             (JH)                Tarakan

  1. Dept. Pengajian Alqur’an

Koord                  : Lailatun Nafisah                    (Peng)             Pekalongan

Anggota              : Athiyyah Ramadani               (JQ)                 Gresik

Della Novita Sari                   (JF)                 Jombang

Fadhilatul Aini                      (JQ)                Madura

  1. Dept. Ubudiyah

Koord                  : Lita Lestari                            (JUA)              Tasikmalaya

Anggota              : Riayatul Maziah                    (DN)               Sumenep

Siti Nur Khanna                     (AK)               Jombang

Fitria Ani Balia                      (JQ)                Pekalongan

  1. Dept. Keamanan dan Ketertiban

Koord                  : Rihatul Jannah                       (Peng)             Banten

Anggota              : Siti Zahro Nurbayanti            (AK)               Pekalongan

Sri Ulyani                              (MM)              Aceh

Faizatur Riska Bella              (JH)                 Lamongan

Lina Adibatus Shofa              (JQ)                 Blitar

Ery Arofah                             (JN)                 Gresik

Fikriatul Ummah                   (JQ)                 Surabaya

  1. Dept. Pelayanan Masyarakat dan Perkantoran

Koord                  : Vivi Abrivani                         (UM)               Pati

Anggota              : Lailatul Magfiroh                  (AM)               Bawean

Saidatul Magfiroh                 (JH)                 Mojokerto

FebrianaDwi Jayanti              (KN)               Kebumen

  1. Dept. Kebersihan

Koord                  : Karti                                       (KF)                Cilacap

Anggota              : Maisatul Qur’ani                   (JN)                 Bojonegoro

Khuzaimatul Fitria                (JQ)                 Surabaya

Ririn Muawanah                    (MM)              Jombang

Nurul Fadhilah Sani              (KM)               Lamongan

  1. Dept. Kesehatan

Koord                  : Nur Syifa Fauzia                    (UI)                 Pekalongan

Anggota              : Dita Ayu Yulianingtias          (JH)                 Tarakan

Ifa Khoirun Nikmah              (AT)                Sidoarjo

Saiya Zulfah Hajirah             (MM)              Jombang

  1. Dept. Bakat – minat dan Inventaris

Koord                  : Nova Syifaul Himmah           (Peng)             Banten

Anggota              : Itsna Mari’fatul Izza              (AS)                Trenggalek

Shobihat Abdul Rosyid         (JH)                 Jakarta

Dengan terbentuknya Susunanan Personalia Pengurus Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir Jombang Periode 2011-2013 di atas maka sudah cukup jelas bahwasanya pengurus pondok pesantren Walisongo cukup banyak yang  berjumlah: 41 Orang dan 8 Depertemen kepengurusan.[5]

  1. Satpam sangatlah penting untuk menjaga keamanan pondok demi terlaksanannya kenyamanan dan tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh para pengasuh dan lebih-lebih para orang tua walisantri, Satpam yang bertugas menjaga keamanan di wilayah pondok pesantren putri walisongo terdiri dari dua orang. Mereka berdua membagi tugas jaga secara bergantian sesuai kesepakatan yang mereka buat. Beliau berdua adalah bapak Priyanto yang ternyata beliau asli masyarakat sekitar, beliau mulai bertugas ±14 thn, sejak tahun 1998. Sedangkan satpam yang kedua bernama bapak Hasyim, beliau juga masyarakat sekitar. Beliau adalah satpam baru disini yang mulai bertugas pada tahun 2009.

Menurut Bapak Priyanto selama ini keamanan pondok pesantren masih dapat dikendalikan. Kerjasama baik yang dilakukan oleh beliau dengan segenap masyarakat sekitar dan dukungan dari para santri menjadikan pondok pesantren ini aman dan tentram. Selama dalam pantauan beliau tidak ada seorang santri yang berani melakukan pelanggaran di luar batas kewajaran sehingga repurtasi pondok masih terjaga. Beliau bersikap tegas kepada semua santri yang ada terkecuali bagi santri baru yang masih beradaptasi dengan lingkunagan pondok. Hal ini beliau lakukan dengan tujuan agar mereka betah tinggal di pondok.[6]

  1. Sistem Pengajian Klasikal yang dibentuk sesuai dengan Pendidikan Formal Santri mengunakan Sistem Diniyyah, yang mana diwajibkan bagi seluruh santri. Terkecuali mereka yang mengikuti Program Khusus, maka diberikan Pengajian Khusus. System ini memakai kurikulum seni salafiyah. Adapun jenjang pendidikannya yaitu:

1)      Tingkat Al-ula

  1. Kelas I
  2. Kelas II

2)      Tingkat Wustho

a.  Kelas I

b. Kelas II

3)      Tingkat Ulya

  1. Kelas I

4)      Tingkat Jami’ah

  1. Salah satu niat pondok selain dari yang dimaksudkan sebagai tempat asrama para santri adalah sebagai tempat latihan bagi santri untuk mengembangkan keterampilan kemandiriannya agar mereka siap hidup mandiri dalam masyarakat sesudah tamat dari pesantren. Santri harus memasak sendiri, mencuci pakaian sendiri dan diberi tugas seperti memelihara lingkungan pondok. Sistem asrama ini merupakan ciri khas tradisi pesantren yang membedakan sistem pendidikan pesantren dengan sistem pendidikan Islam lain. Oleh karena itu aktivitas Pondok Pesantren Walisongo berbagai macam kegiatan yang berada dalam Pondok Pesantren Putri Walisongoyaitu:
    1. Madrasah Tsanawiyah, Aliyah dan Program Khusus (MAPK)

Pukul 03.30-05.00 WIB : Sholat Tahajjud + Sholat Jama’ah Shubuh

Pukul 05.00-06.00 WIB : Sekolah Diniyah pagi

Pukul 06.00-07.00 WIB : Persiapan Sekolah

Pukul 07.00-13.00 WIB : Sekolah

Pukul 13.00-14.00 WIB : Sholat Jama’ah Dhuhur + Istirahat

Pukul 14.00-15.00 WIB : Ekstra Kurikuler Sekolah

Pukul 15.00-16.00 WIB : Sholat Jama’ah Ashar + MCK

Pukul 16.00-17.00 WIB : Sekolah Diniah Sore

Pukul 17.00-17.15 WIB : Kultum

Pukul 17.15-17.30 WIB : Persiapan Sholat Maghrib

Pukul 17.30-18.15 WIB : Sholat Jama’ah Maghrib

Pukul 18.15-18.45 WIB: Pengajian Bin Nadzar

Pukul 18.45-19.10 WIB : Sholat Jama’ah Isya’

Pukul 19.10-20.10 WIB : Pengajian Al-Qur’an dikelas-kelas

Pukul 20.10-21.00 WIB : Jam Belajar kelompok di kelas

Pukul 21.00-22.00 WIB : Jam belajar dan lain-lain

Pukul 22.00-03.30 WIB : Istirahat

  1. Perguruan Tinggi

Pukul 03.30-05.00 WIB : Sholat Tahajjud + Sholat Jama’ah Shubuh

Pukul 05.00-06.00 WIB : Sekolah Diniyah pagi

Pukul 06.00-07.30 WIB : Persiapan Kuliah

Pukul 07.30-12.00 WIB : Perkuliahan Pagi

Pukul 12.00-14.00 WIB : MCK/Istirahat/ Sholat Jama’ah Dhuhur

Pukul 14.00-17.30 WIB : Perkuliahan Siang/sore

Pukul 17.30-18.15 WIB : Sholat Jama’ah Maghrib

Pukul 18.15-18.45 WIB: Pengajian Bin Nadzar

Pukul 18.45-19.10 WIB : Sholat Jama’ah Isya’

Pukul 19.10-20.10 WIB : Pengajian Al-Qur’an dikelas-kelas

Pukul 20.10-21.30 WIB : Sekolah Diniyyah Malam

Pukul 21.30-22.00 WIB : Jam Belajar

Pukul 22.00-03.30 WIB : Istirahat

Salah satu aspek kehidupan sehari-hari para santri adalah ketidakperluannya untuk diawasi atau dikelola oleh para pengurus. Tentu saja kadang terjadi kasus spesifik di mana pengurus perlu ikut campur, tetapi pada umumnya kedisiplinan para santri di Walisongo sangat tinggi sehingga kami tidak pernah melihat seorang santri diperintah mengerjakan sesuatu yang seharusnya dia sudah kerjakan.

Ada alasan tertentu bagi para santri untuk mengelola sendiri kegiatan sehari-harinya. Di antaranya, peraturan-peraturan pondok dan jadwal sehari-hari yang sangat ketat berarti santri cuma tinggal ikut kegiatan-kegiatan yang dimasukkan jadwal untuk hari tertentu. Maka tidak susah untuk dikelola.

  1. Berjalanya kegiatan-kegiatan dan aktifitas yang ada di Pondok Pesantren Walisongo pastinya membutuhkan sarana pendukung yang berkualitas dalam bidang agama maupun umum di antara sarana pendukungnya adalah untuk menunjang kegiatan belajar santri banyak tersediakan fasilitas dari pondok di antaranya: perpustakaan, diadakan kegiatan mukhadhoroh perlombaan khitobah, dan untuk menampung semua karya tulis santri yang dikemas dalam majalah disan. Disamping itu juga di pondok pesantren walisongo terdapat koperasi pondok yang memenuhi semua kebutuhan santri yang setiap harinya, tampan (tabungan masa depan) yang sangat berguna bagi santri dan juga bagi santri yang sibuk dalam kegiatan belajarnya yang tidak sempat untuk mencuci baju kotor bisa mengunakan layanan londre.[7]
  2. Profil Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir Jombang

Nama Pesantren                        : Walisongo

Alamat                                       : JI. Irian Jaya No. 61 Cukir

Kecamatan                                : Diwek

Kabupaten                                 : Jombang

Kode Pos                                   : 61471

Tahun Berdiri                            : 1951

Jumlah Santri                            : 536

Waktu Belajar                           : Full Day

Pondok Pesantren Walisongo merupakan lembaga pendidikan pesantren yang diselenggarakan oleh Yayasan Badan Waqaf KH. Adlan Aly yang menekankan pembelajaran Al-Qur’an dan kitab salaf, dengan program keunggulan dalam bidang hafalan Al Qur’an, secara fisik citra, yang ditampilkan adalah bernuansa salafi sehingga berkesan sederhana berwibawa, sejuk, rapi, dan indah.

Cerminan yang ditampilkan pondok pesantren Walisongo adalah bernuansa salafi, dan mengikuti globalisasi pendidikan dan teknologi modern serta santri dibekali dengan ketrampilan life skill (kecakapan hidup). Kegiatan santri diarahkan menjadi insan yang dekat dengan Allah Swt, ramah terhadap sesama serta peduli terhadap lingkungan.

Ditinjau dari kelembagaan pondok pesantren Walisongo Cukir mempunyai tenaga, pengajar yang handal dalam pemikiran, inovasi dalam pendidikan manajemen yang kokoh yang mampu menggerakkan seluruh potensi untuk mengembangkan kreatifitas, akivitas akademik pondok pesantren Walisongo, serta mempunyai kemampuan antisipatif masa depan dan proaktif. Didukung kepemimpinan yang mampu mengakomodasi seluruh potensi yang dimiliki menjadi penggerak lembaga secara menyeluruh. Pengurus pondok diberi otonomi dalam mengatur seluruh aktivitas pesantren sesuai dengan garis-garis besar pengasuh.

  • Visi, Misi, Tujuan, Target, Dan Strategi

     a. Visi

Visi dari penyelenggaraan pengajaran dan pendidikan di pondok pesantren Walisongo Cukir Diwek Jombang adalah sebagai berikut : “Pondok Pesantren Walisongo Menjadi Pesantren Sebagai Pusat Pendidikan Dan Pengembangan Ilmu Al Qur’an Dan Hadits”.

b. Misi

1. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang menghasilkan lulusan berkualitas dibidang ilmu Al-Qur’an dan Hadits, serta kitab salaf lainnya.

2. Mengembangkan kajian ilmu Al-Qur’an dan Hadits untuk di aplikasikan pada ilmu-ilmu yang lain serta menjadi amaliah sehari-hari.

3. Memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui pendidikan dan pengabdian masyarakat.

c. Tujuan

Tujuan yang diharapkan dari penyelenggaran pendidikan pondok pesantren Walisongo adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan pengetahuan santri dalam bidang Al Qur’an dan Hadits serta kitab salaf lainnya. Dll

2. Menjadikan pesantren unggul dalam pendidikan dan pengembangan Al Qur’an dan Hadits..

3. Meningkatkan kemampuan santri sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan sosial, budaya dan alam sekitarnya yang dijiwai nilai-­nilai pesantren

d. Target

Target penyelenggaraan pengajaran dan pendidikan pondok pesantren Walisongo cukir adalah sebagai berikut:

1.  Membentuk santri yang mampu mengkaji dan memahami ilmu Al-Qur’an dan Hadits.

2.  Terciptanya kehidupan yang salaf modern di lingkungan pesantren yang diperlihatkan dengan perilaku ikhlas, sederhana, dan kebebasan berkreasi dengan tidak meninggalkan akhlaqul karimah.

3.  Lulusan pondok pesantren walisongo dapat diterima dan membina masyarakat menjadi masyarakat yang madam dan agamis.

e. Strategi

Strategi yang dilakukan pondok pesantren Walisongo Cukir untuk mencapai target yang dicanangkan adalah sebagai berikut:

1.   Menciptakan suasana kehidupan yang qurani

2.   Menciptakan suasana kehidupan yang salafi, kreatif, dan inovatif.

3.   Menyiapkan tenaga, pendidikan yang professional.

4.   Menyediakan sarana prasarana yang representative.

5.   Mengadakan kerja sama, dengan pihak-pihak yang terkait.

f. Program Pendidikan

Program pendidikan yang ada di pondok pesantren Walisongo Cukir adalah sebagai berikut:

1.   Program Madrasah Diniyah

2.   Program Tahfidzul Qur’an

3.   Program Pengembangan Bahasa Arab (Syu’bah Lughoh Al Arabiyah)

4.   Program pengajian Al-Qur’an (bin-nadhar)

G.Target Program

1.    Santri bisa membaca dan memahami ilmu Al-Qur’an dan Hadits serta kitab-kitab salaf lainnya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

2.    Santri hafal Al-Qur’an 30 Juz dan mampu mengkaji dan memahami ilmu-ilmu Al-Qur’an serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

3.   Santri yang tidak mengikuti program tahfidzul Qur’an diwajibkan untuk menghafal juz ‘amma, dan surat-surat pendek.

4.   Santri bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab

c)   Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren (versi kyai, versi keluarga dan masyarakat)[8]

Sejarah Ringkas Tentang Pondok Pesantren Putri “WALISONGO” Cukir Jombang dari Periode ke Periode

  • Masa Permulaan (Tahun 1951)

Berbicara tentang Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir Jombang dan dinamikanya, maka tidak dapat dipisahkan dari sejarah “Perguruan Mu’allimat”, sebab adanya Pondok Pesantren ini disebabkan adanya Perguruan Putri Mu’allimat yang telah lahir sebelumnya.

Di keheningan malam pada tahun 1951 M, berkumpullah orang-orang yang terkemuka dan Kepala Madrasah Kecamatan Diwek dan sekitarnya untuk membahas tentang kelanjutan pendidikan siswi tamatan Ibtidaiyyah yang tidak mampu melanjutkan studinya keluar daerah, karena terbentur masalah biaya. Akhirnya tercetuslah Ide untuk mendirikan lembaga pendidikan setingkat SLTP dan SLTA yang kemudian lahirlah “Madrasah Mu’allimat”.

Kepercayaan masyarakat terhadap Madrasah ini semakin lama semakin bertambah bahkan siswi dari luar Diwek pun mulai berdatangan. Sehingga pada tahun 1952 M timbullah gagasan untuk membuat Asrama sebagai tempat tinggal para siswi yang rumahnya jauh atau berasal dari luar daerah dan direalisasi dengan nama Walisongo sebuah nama pemberian Ibu Nyai Hj. Halimah.

Berawal dari jumlah santri yang 7 orang dan menempati satu kamar dapur, Hadrotusy Syeh KH. Muhammad Adlan Ali mengajarkan kitab kuning dari berbagai disiplin Ilmu antara lain: Hadits, Fiqih, Akhlaq, Tauhid dan terikat dengan semua itu. Metode pengajarannya, memakai system Bandongan atau Halaqoh yaitu: Kyai/ Ustadzah membaca suatu kitab sedangkan santri menyimak kitab masing-masing dan memberi arti atau catatan didalamnya.

Pengajian seperti ini ditujukan terutama untuk menambah kualitas dan kemampuan ilmu para santri, yang dilaksanakan diluar jam sekolah sebagai kegiatan ekstra kurikuler. Disamping mengajar, KH. Muhammad Adlan Ali menyimak anak atau santri yang menghafal Al-Qur’an.

Kegiatan itu pertama-tama ditangani oleh Ibu-Ibu Nyai, namun setelah berkembang karena kurangnya biaya, maka Ibu-Ibu Nyai menyerahkan langsung kepada KH. Muhammad Adlan Ali.

Kepemimpinan dimasa itu masih bersifat sentralisme, segala sesuatunya masih ditangani oleh Mbah Nyai sendiri, mulai dari pembangunan sarana sampai penuntunan program pengajaran. Tipe kepemimpinan beliau sebenarnya sudah demokratis (suatu tipe kepemimpinan yang menerima saran dari bawahan). Memenejnya tidak bersifat koversional yang berdasarkan tradisi atau pengalaman pribadi dalam memecahkan persoalan yang dihadapi, tetapi bersifat sistematis (yang juga berdasarkan pengalaman orang lain dalam menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan kepemimpinan).

  • Masa Perkembangan (Tahun 1953-1975 M)

Pada tahun ke-2, santri yang bermukim dipondok semakin banyak dan kamar atau asrama semakin tidak mencukupi, maka pada tanggal 14 September 1953 dibongkarlah dapur Almukarrom KH. Muhammad Adlan Ali untuk dijadikan asrama dengan swadaya murni. Karena bangunan saat itu masih sederhana sekali, dindingnya terbuat dari bambu (Jawa: Gedek) dan penerangannya berupa lampu teplok (Jawa: Oblek) sebab Ampera (Pemasangan aliran) listrik baru dilaksanakan tahun 1977 M. Pada tahun 1954 Mabna dipondok ini direhap kembali sehingga mempunyai 14 kamar dan 1 Musholla.

Pengajian ditahun 1954 M sekalipun masih didominasi oleh Romo Kyai namun, agar teratur sebab beliau sudah ada yang membantu kyai H. Ali Ahmad sebagai menantu pertama dengan Almarhum Ibu Nyai Mustaghfiroh (Tahun 1952 M).

Laju pertama pertambahan santri terus menanjak, bahkan ditahun 1955 M mereka membawa adik-adiknya yang masih kecil ikut mondok. Karena belum ada Program Khusus pengajian anak, maka didirikanlah Madrasah Ibtidaiyyah.

3 tahun berikutnya putra putri Hadrotusy Syeh mulai memikirkan pondok dan pelestariannya, santri sudah dikenalkan beberapa Ilmu Umum dan Ulumul Asyhiriyah. Sehingga pada tahun 1968 M, santri tidak hanya mendalami kitab saja melainkan sudah mengadakan kursus-kursus keorganisasian sampai sekarang.

Secara organisator kepengurusan pondok masih belum sempurna, namun sudah ada ketuanya yang dipilih oleh dewan sidang perwakilan santri, sekretaris dan beberapa pengurus yang membidangi sesuatu yang dianggap penting, sebab keuangan masih sentral dikelola oleh Ibu Nyai. Interveksi (campur tangan) Ibu Nyai pada kepengurusan pondok masih kuat, bahkan ketua yang sudah terpilih pun kadang-kadang masih diupret-upret (dikejar-kejar) kalau perlu diganti.

Maka, jangan heran kalau ditahun 1969 M, ada dua ketua satu ditunjuk oleh Ibu Nyai Hj. Halimah dan satu lagi ditunjuk oleh dewan siding yang mungkin secara structural membawahi ketua yang ditunjuk oleh Ibu Nyai tersebut.

Kegiatan Ekstra Pondok yang maju itu adalah kursus Membaca Al-Qur’an (Qiro’ah Bi Al-Taghonni) yang dilakukan setiap hari jum’at, sehingga di tahun 1972 M diadakan MTQ antara Pondok Pesantren di Jombang Se-Jombang yang bertempat di Pondok Pesantren Putri “Walisongo” Cukir Jombang. Untuk memperlancar kegiatan ini dibentuklah Unit Jam’iyyatul Qurro Huffadz yang responsibilitinya (tanggung jawab) kepada pengurus pondok.

  • Masa Penertiban (Tahun 1970 M – Sekarang)

Semakin tua kepengurusan pondok semakin teratur struktur kepengurusannya semakin rapi, sudah jelas disktription tiap-tiap departemen hingga tidak terjadi Overlaping (tumpang tindih) tugas masing-masing pengurus. Hal ini tidak terlepas dari kepiawaian dan kreatifitas ketuanya. Disamping intervensi Ibu Nyai secara langsung terhadap kepengurusan pondok semakin berkurang dan pendelegasian wewenang kepada pengurus semakin bertambah, kecuali masalah-masalah yang penting tetap keputusan sentral ditangani Ibu Nyai.

Pengajian menggunakan Metode Bandongan dan Sorogan, untuk metode-metode sorogan ini ditangani oleh KH. Husnan dari Depok. Pengajian-pengajian tahunan diluar romadhon pada periode ini diadakan setiap pagi selain jum’at dan selasa, sebab pada hari jum’at digunakan kitab “Ta’lim” oleh Almukarromah Ibu Nyai Hj. Musyafa’ah Adlan dan pada hari selasa menggunakan kitab “Tanbiihul Ghofiliin” oleh Almukarrom KH. Amir Jamiluddin. Sebagai penunjang pelajar santri maka didirikanlah Perpustakaan dengan buku pertama sebanyak 300 Judul, setahun setalah itu tepatnya pada tahun  1982 M diadakan penambahan buku sehingga jumlahnya menjadi 552 Judul. Untuk meningkatkan kecakapan santri dalam Bahasa Arab, maka didirikanlah Lembaga Syu’batul Lughoh Al-Arabiyyah dan muridnya yaitu Ibu Ummul Khiroyah, BA. Jam Muhadoroh pada malam hari, yang diadakan tiga kali pertemuan dalam seminggu. Lembaga ini diresmikan pada tanggal 4 Februari 1983 M. ditahun ini juga didirikan Madrasah Diniyah Islamiyyah sebagai wadah pembinaan santri yang bersekolah di SMP dan SMA Tebuireng serta yang tidak sekolah di lembaga Formal. Layanan pada santri terus ditingkatkan dengan merealidir pendirian koperasi pada tahun 1983 M. Modal awalnya senilai Rp. 15.000,- (Lima Belas Ribu Rupiah) koperasi ini sebetulnya meneruskan kreasi Ibu Nyai Hj. Halimah yang telah berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 14 Sya’ban 1945 H atau tahun 1982 M.

Karena pengaruh globalisasi pers, maka didirikanlah Unit Penerbitan Media Informasinya adalah Majalah DISAN (Dinamika Santri). Unit ini didirikan pada tahun 1984 M, yang bekerjasama dengan UDPI (Unit Dokumentasi dan Pelayanan Informasi) Pondok Pesantren Tebuireng.

Legalisasi pondok ini dilaksanakan pada tanggal 22 November 1985 M yaitu dengan didirikannya Yayasan Badan Wakaf yang membawahi Unit Pondok Pesantren dan “Perguruan Mu’allimat”. Ketuanya dijabat oleh KH. Muhammad Adlan Ali sampai Beliau berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 06 Oktober 1990 M/ 17 Robi’ul Awwal 1401 H. dan estafet kepemimpinan Yayasan beralih kepada putra beliau yang bernama Bapak Ahmad Hamdan Adlan nama yayasan berubah menjadi Yayasan Badan Wakaf KH. Adlan Ali ditetapkan pada tanggal 23 Mei 1991 M.

Kepedulian pondok pesantren pada masyarakat sekitar dari tahun ketahun selalu ditingkatkan, mulai dari pengiriman da’i untuk pengajian rutin sampai pada santunan Anak Yatim Piatu dan Dhu’afa. Kepedulian di bidang pendidikan direalisasikan dalam bentuk pemberian kursus KGRA atau KGTK kepada Asatidzah sekitar pondok yang berjalan mulai tahun 1986 M.

Pada tahun 1988 M tepatnya pada tanggal 30-31 Mei, diselenggarakan MUBES (Musyawaroh Besar) untuk membuat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ ART) Pondok Pesantren putrid Walisongo Cukir Jombang. Dan bersama ini pula dibentuk organisasi alumni santri “Walisongo” agar tejalin komunikasi atau hubungan antar pondok dengan para alumninya.

Mulai tahun 1988 M, Pengajian Kitab Kuning dilakukan secara klasik yang diklasifikasikan menjadi tingkat Mubtada’, Mutawasith, da ‘Ulya. Kurikulumnya disesuaikan dengan Kurikulum Sekolah agar saling menunjang antara sekolah dan pondok. Jadi santri tidak diberi kebebasan mutlak dalam memilih pengajian ataupun metode yang dipakainya (system sorogan, semi sorogan dan bandongan). Pengajian Al-Qur’an dilaksanakan ba’da sholat maghrib secara serentak.

Pada tahun 1989 Masa jabatan kepengurusan dirubah menjadi 2 tahun, dan tiap-tiap mabna dibentuk kepengurusan yang bertanggung jawab pada pengurus pondok. Sehingga struktur kepengurusan pondok terdiri dari : Dewan Pembina yaitu Pengasuh dan Penasehat, dibentuk oleh Badan Pengawas Umum dan pengawas harian dan juga Badan Pengawas Keuangan (BPKU) pada tahun 1992, pembinaan pengajian Al-Qur’an dibenahi lagi dan sebagai pelaksananya didirikan BPPQ (Badan Pembinaan Pengajian Al-Qur’an).

Setelah Almaghfurlah KH. Muhammad Adlan Ali Wafat, Pondok Putri dipimpin oleh pengasuh yaitu Bapak KH. Ahmad Hamdan. Namun beliau juga wafat pada tanggal 16 Juni 1998 dan berdasarkan rapat keluarga memutuskan Bapak Drs. KH. Abdul Djabbar dan Ibu Nyai Sholihah sebagai Pengasuh. Mengingat santri yang menghafal Al-Qur’an semakin banyak, yang tentu menentukan penanganan yang intensif. Maka, dibentuklah lembaga baru yaitu Madrasah Hifdzil Qur’an (MHQ) pada tahun 1994 M. Pada tahun 1998 pondok sudah mengalami banyak kemajuan yaitu program komputerisasi dan perenofasian gedung mabna I dan III mulai dirintis. Pada tanggal 06-07 Mei 1999 diadakan Musyawarah Santri Luar Biasa (MSLB), mendapatkan suatu kesepakatan yakni merubah bagian struktur kepengurusan yang disesuaikan dengan AD/ART yang berlaku, sehingga Job Deskreiption antar pengurus akan semakin jelas. Dalam musyawarah tersebut juga menghasilkan perubahan Lembaga Jam’iyatul Qurro Wal Huffadz (JMQ) dimasukkan dalam Departemen Kepengurusan Pondok Pesantren di bawah naungan Kabid I.

Pada masa kepengurusan tahun 2008-2009 dengan pengasuh Almaghfurlah Drs. KH. Abdul Djabbar Adlan Akhirnya beliau pulang kerahmatullah pada hari senin malam (Selasa Pahing) tanggal 11 November 2002 M atau 06 Romadhon 1423 H.

Akhirnya Pondok Pesantren Putri Walisongo dipimpin oleh Dewan Pengasuh  (Presedium) yaitu Ibu Nyai Hj. Nihayah Abdul Djabbar (Leadership), Ibu Nyai Hj. Sholihah, Ibu Nyai Hj. Musyafa’ah Adlan dan KH. Maghfur Ali sebagai Dewan Pengasuh Yakni pada tahun 2002 M – 2009 M.

Ibu nyai Hj. Nihayah Abdul Djabbar (Leadership) juga memiliki kesibukan mengurus yayasan siti khodijah di Surabaya dan sekarang pun beliau bertempat tinggal di Surabaya. Pengasuh pondok pesantren putri walisongo sekarang adalah Bapak KH. Amir Jamilludin yang beliau adalah cucu KH. Muhammad Adlan Aly yang dengan istri pertamanya Ibu Nyai Hj. Siti Romlah.

  1. Proses Sosialisasi Berdirinya Pondok Pesantren di Masyarakat Sekitar

a)       Inkulturasi

Inkulturasi itu sendiri mempunyai arti tersendiri yaitu kebudayaan yang dianut atau kepercayaan adat istiadat yang ada di masyarakat. Maka dalam study observasi kami inkulturasi itu sendiri meliputi dukungan masyarakat, dukungan alumni, dukungan santri yang tinggal di luar pondok pesantren. Kami akan sedikit mengulasnya dari pertama dukungan masyarakat terhadap pondok pesantren adalah berpartisipasi membangun gedung pondok pesantren dan turut menertibkan pondok serta ikut membantu pondok dalam hal materi. Begitu pun sangat penting dukungan alumni dan dukungan santri yang tinggal di luar pondok pesantren Walisongo karena mereka telah belajar di pondok tersebut maka mereka ikut membantu proses belajar mengajar di sana dengan mengamalkan ilmunya yang telah mereka dapat selama di pondok pesantren, begitupun dukungan alumni santri yang jauh ikut menyumbangsihkan uang guna menuju kesuksesan pondok pesantren Walisongo.

b)       Kondisi Pondok Pesantren Putri Walisongo

  1. Kondisi pondok 5 tahun terakhir
  • Dulunya pendidikan di pondok lebih nyaman, enak dan lebih ketat dibandingkan sekarang.
  • Pengurus yang dulu lebih tegas dan disiplin.
  • Mereka lebih mengutamakan santri yang tahfid tapi para pengurus lebih bijak dalam menghadapi masalah-masalah yang terjadi di pondok
  • Peminat salaf lebih banyak
  • Sekolah 70 %
  • Pondok 30%
  • Alasan: kegiatan di sekolah sudah padat daripada kegiatan pondok sehingga membuat para santri kecapekan setelah mengikuti kegiatan sekolah yang full day
  1.  kondisi sekarang
  • Bangunannya lebih bagus.
  • Pengurus kurang bisa bersikap adil terhadap santri-santri.
  • Kegiatan formal dan non formal menjadi setara karena dengan adanya kegiatan full day yang padat membuat para santri sudah terbiasa dengan kegiatan tersebut.
  • Anak syu’bah masih kurang bisa membiasakan diri (mempraktekkan bahasanya) karena kebanyakan yang anak syu’bah bukan dari alumni mts syu’bah, melainkan dari luar dan mereka masuk MA syu’bah dengan asal-asalan tidak melihat begron atau kemampuannya.
  • Kurangnya kesadaran diri untuk mengaplikasikan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
  • Ustadzah atau pembimbingnya kurang bisa menguasai untuk menyampaikan materi.
  1.  kondisi yang diharapkan
  • Sanggup menyeimbangkan antara kegiatan formal dan non formal tanpa meninggalakn aklak yang mulia
  • Agar kelas bahasa (syu’bah) bisa lebih diperketat lagi.

c)       Pendidikan Dalam Paradigma Santri, Kyai Dan Ustadzah

Diakui atau tidak, Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan tertua yang melekat dalam perjalanan kehidupan Indonesia sejak ratusan tahun yang silam dan telah banyak memberikan kontribusi signifikan dalam pembangunan bangsa ini, karena itu tak heran bila pakar pendidikan sekalas Ki Hajar Dewantoro dan Dr. Soetomo pernah mencita citakan model system pendidikan pesantren sebagai model pendidikan Nasional. Bagi mereka model pendidikan pesantren merupakan kreasi cerdas budaya Indonesia yang berkarakter dan patut untuk dikembangkan. Maka study observasi meneliti yang meliputi gaya hidup santri, gaya hidup kyai, gaya hidup ustadzah dan kultur tradisional santri di antaranya:

1. Gaya Hidup Santri

Jumlah santri seluruhnya 536 santri dari semua lembaga. Kultur yang ada pada pon.pes ini mengacu pada tata tertib yang sesuai dengan pon.pes. di setiap kamar santri ada pembimbing khusus atau ustadzah kamar. Terkadang ada juga santri yang tidak mematuhi tata tertib santri misalnya membawa HP, memakai kaos pendek untuk keluar kamar, dll.

2. Gaya Hidup Kyai

Pak kyai berprofesi sebagai dosen di IKAHA, sedangkan Bu Nyai masih menempuh pendidikan SI di Malang. Sedangakan Perilaku keluarga ndalem terhadap santri kurang peduli, kurang familiar, Kyai dan Bu nyai disibukkan dengan kegiatan sendiri sehingga urusan pondok diserahkan seluruhnya terhadap pengurus. Pengurus berperan penting terhadap perkembangan pondok pesantren Walisongo.

3. Gaya Hidup Ustadzah

Di Pondok Pesantren walisongo tidak diberlakukan pada santri saja akan tetapi tata tertib juga berlaku buat para ustadzah sehingga tidak menimbulkan rasa iri pada santri terhadap ustadzah, jadi jika santri kesulitan dalam belajar mereka bisa bertanya atau belajar lagi ke ustadzah-ustadzah tersebut.

  1. Kultur tradisional santri

Kebiasan menyanyi ala santri di kamar dengan alasan yang real karena kebiasan yang ada di rumah terkadang masih terbawa di pondok sehingga tata tertib kurang bisa berjalan dengan lancar.

d)      Pemetaan Partisipatif Melalui PRA ( Maping Dan Transek)

Keterangan  gambar;

  1. Pintu gerbang depan: berfungsi untuk menjaga keamanan pondok pesantren, gerbang ini dijaga oleh 2 orang satpam. Letak pintu gerbang ini juga berada di depan pondok pesantren sehingga penjaga (satpam) dapat mengetahui siapa saja yang keluar masuk pondok pesantren, sehingga keamanan dapat terjaga dengan baik.
  2. Kantor MA: berfungi dan ditempati oleh para guru MA, fungsinya juga banyak diantaranya untuk tempat mendiskusikan masalah yang terjadi di MA itu sendiri, juga untuk tempat guru yang menunggu pergantian jam mengajar.
  3. Kantor Mts: berfungi dan ditempati oleh para guru Mts, fungsinya juga banyak diantaranya untuk tempat mendiskusikan masalah yang terjadi di Mts sendiri, juga untuk tempat guru yang menunggu pergantian jam mengajar.
  4. Koperasi Mts: disini disediakan banyak kebutuhan murid-murid Mts, fungsinya juga banyak diantaranya murid Mts tidak perlu membeli kebutuhannya ditempat lain karena telah disediakan disini, koperasi ini juga dapat digunakan semua santri.
  5. Lab IPA: fungsinya untuk praktek langsung tentang pelajaran alam dan lab ini digunakan oleh semua murid yang memerlukan praktek tersebut
  6. Mushola Mts: fungsinya untuk sholat murid, baik sholat dhuha,sholat dhuhur. Murid yang dari luar pondok pesantren juga kalau sholat dimushola ini.
  7. Gedung Mts lantai II lama: ini digunakan untuk proses belajar- mengajar Mts, juga kalu pagi di gunakan diniyah oleh para santri pondok pesantren
  8. Kamar mandi Mts: fungsinya sangat banyak dan memang harus ada. Untuk memperlancar proses belajar juga.
  9. Pintu gerbang samping: ini juga ada penjaganya, dan dibuka setiap jam tertentu saja. Fungsinya untuk murid yang ingin membeli jajan karena banyak penjual juga yang menjual di belakang pintu samping ini.
  10. Pos satpam: semua tamu yang akan masuk pondok pesantren harus melalui pos ini untuk laporan sehingga keamanan terjaga dengan baik
  11. Kantor pondok: disini terdapat struktur kepengurusan pondok pesantren dan fungsinya untuk menerima tamu yang ingin bertanya tentang pondok pesantren
  12. Kamar mandi tamu : banyak sekali fungsinya, ini disediakan khusus untuk para tamu sehingga kalau mereka ingin ke kamar mandi tidak perlu jauh-jauh ke kamar mandi santri.
  13. Kantor osis: berfungsi dan dihuni para anggota osis, fungsinya untuk mengadakan rapat osis dll.
  14. Ruang tamu : fungsinya untuk menerima tamu pondok pesantren.
  15. Uks Mts: fungsinya untuk merawat murid yang mungkin tiba-tiba pinsan atau sakit sebelum dibawa pulang kerumah masing-masing
  16. Gedung Mts baru lantai II: berfungsi dan digunakan untuk proses belajar mengajar
  17. Gedung Mts baru lantai III : berfungsi dan digunakan untuk proses belajar mengajar
  18. Gerbang batas asrama: berfungsi untuk memisahkan antara tamu putera dan santri
  19.  Koperasi pondok : menjual berbagai macam kebutuhan santri dan sangat bermanfaat sekali bagi para santri pondok pesantren.
  20. Kamar pengurus: kamar ini khusus untuk para pengurus sehingga pengurus dengan mudah mengontrol para santri
  21. Kantor bendahara: disini tempat para santri melakukan adsministras pon.pes
  22. Kantor SMK: berfungsi dan ditempati para guru SMK, diantara fungsinya untuk rapat guru dan tempau guru untuk menunggu pergantian jam mengajar
  23. Kantor SMK: berfungsi dan ditempati para guru SMK, diantara fungsinya untuk rapat guru dan tempau guru untuk menunggu pergantian jam mengajar
  24. Gedung SMK : tempat dilaksanakannya proses belajar mengajar siswa SMK dan juga berfungsi untuk acara-acara yang diadakan para santri pon.pes (sebagai aula pondok pesantren).

Sedangkan gambar maping yang sudah maksimal bisa dilihat di bawah ini:

e)       Partisipasi pondok pesantren terhadap kemajuan masyarakat sekitar[9]

  1. Banjari

Masyarakat sering melibatkan pondok ketika mengadakan suatu acara-acara tertentu, salah satunya adalah banjari. Undangan dari masyarakat sekitar menjadikan para santri antusias dalam mengembangkan segala potensinya.

  1. Iuran perbulan (bagi msyarakat tidak mampu)

Selain iuran wajib dari para santri per bulannya,sebagian dana dari pondok juga disisihkan untuk sumbangan bagi masyarakat tidak mampu.

  1. Adanya peluang untuk masyarakat dalam mata pencaharian sehari-hari

Banyaknya para pedagang yang berjualan di sekitar pondok, menunjukan bahwa pondok memberikan lahan pekerjaan kepada masyarakat, sehingga bisa membantu perekonomian masyarakat

  1. Pengajian-pengajian rutin sering melibatkan masyarakat

Pondok pesantren juga sering melibatkan masyarakat pada pengajian-pengajian rutin yang diselenggarakan oleh pondok.

  1. Masyarakat ikut berpartisipasi dalam kegiatan pondok pesantren seperti haul

Dalam rangka memperingati dan mengenang jasa-jasa kyai pondok pesantren walisongo, maka pondok melaksanakan kegiatan rutin setiap tahunnya yang dikenal dengan istilah Haul. Hal ini menunjukan bahwa antara pondok dan masyarakat terjalin hubungan yang sangat erat.

  1. Sumbangsih tenaga pengajar dari pondok pesantren bagi mahasiswa dalam pengajaran TPQ sekitar pndok

Penyaluran tenaga pengajar ke TPQ merupakan upaya pon.pes walisongo dalam mempererat hubungan dengan masyarakat. Bagi santri yang sudah mahasiswa maka akan dijadikan tenaga pengajar di TPQ sekitar pondok.

Berdasarkan pemaparan dr Bapak RT yang biasa dikenal dengan Bapak Muhammmad Jamil yang sekaligus menjabat sebagai wakil ketua yayasan menjelaskan bahwa:

  1.  Pondok slalu melibatkan masyarakat pada kegiatan2 yang diadakan pondok
  2. Pondok pesantren walisongo merupakan yayasan yang diwakafkan jadi pihak keluarga hanya sebagai pengelola saja tanpa ada bisyaroh dari yayasan
  3. Masyarakat sering terlibat dalam acara yang diadakan pondok pesantren seperti haul, PHBI
  4. Bakti sosial yang diadakan santriwati pondok pesantren untuk masyarakat sekitar
  5. Penyaluran tenaga pengajar dr pondok ke TPQ sekitar yang tenaganya berasal dari  kalangan mahasiswa
  6. Mengenai donator pondok pesantren tidak memiliki donator tetap, tetapi ada sumbangan dari keluarga pndok dan juga alumni-alumni.[10]

f)        Kondisi pondok pesantren meliputi potensi dan permasalahan lingkungan sekitar (hal-hal yang dihasilkan pondok pesantren dan berguna bagi masyarakat)

  1. Potensi
  • Madrasah Diniyah
  • Tahfidzul Qur’an
  • Program Pengembangan Bahasa Arab (Syu’bah Lughoh Al Arabiyah)
  • Program pengajian Al-Qur’an (bin-nadhar)
  1. Hubungan pondok dan masyarakat sangat baik saling tolong-menolong,misalnya pondok memberikan izin menjual di area pondok bagi para pedagang yang rata-rata warga sekitar pondok sehingga menjadi mata pencaharian sehari-harinya.
  2. Manfaat Adanya Pondok Pesantren Walisongo Terhadap Masyarakat
  • meningkatnya penghasilan warga atau pedagang yang dekat dengan pondok pesantren.
  • meningkatnya wawasan keislaman warga di sekirar pondok pesantren  mengadakan pengajian ibu-ibu tiap 2 minggu sekali tanpa dipungut biaya
  • terbentuknya suasana islami dengan hadirnya para santri.

g)      Dukungan masyarakat terhadap pondok pesantren walisongo

  1. Masyarakat turut berpartisipasi membangun gedung pondok pesantren
  2. Masyarakat turut menertibkan keamanan pondok pesantren.
  1. Proses Belajar Mengajar Bahasa Dan Sastra Arab
    1. Semangat belajar Bahasa dan Sastra Arab
  • Mayoritas anak-anak menyukai Bahasa Arab.
  • Kebanyakan anak-anak lebih bersemangat jika diajak untuk menyanyi dan sebaliknya jika harus menghafal.
  • Sistem pembelajaran Diniyah cenderung guru memberikan makna, menerangkan, kemudian mereka disuruh untuk menghafal atau membaca, akan tetapi tidak terlalu menekankan. Sehingga murid-murid cenderung meremehkan dan membuat mereka tidak semangat.
  • Sistem pembelajaran Bahasa Arab di salah satu MA PK kadang-kadang menggunakan pemutaran Film (Audivisual) yang berupa cerita-cerita, lagu-lagu, dan Muhadatsah.
  • Puncak semangat anak-anak yang berada di kamar Syu’batul Lughah terletak pada hari Jum’at untuk kegiatan Muhadatsah bersama temannya sambil menikmati hari libur.
  1. Kemampuan Santri dalam Berbahasa dan Bersastra Arab

Santri sudah mampu berkomonikasi memakai bahasa arab memakai ilmu Nahwu dan Sorrof sebab dalam hal ini para santri diwajibkan berbahasa Arab dalam kegiatan sehari-hari baik itu siang ataupun malam dan juga didukung dengan bimbingan khusus Ilmu Sorrof dan Nahwu kecuali hari Jum’at, sedangkan hari jum’at free dalam berbahasa Arab.

Untuk bersastra Arab santri belum bisa mengaplikasikannya karena di Ponpes Walisongo tidak mengajari materi khusus tentang sastra Arab. Santri ada yang tidak tahu tentang sastra Arab.

  1. Metode Pembelajaran Bahasa dan Sastra Arab

Membahas tentang metode pembelajaran bahasa dan Sastra Arab disini kebanyakan santri tidak mengetahui metode yang dipakai ustadz atau ustadzahnya dalam mempelajari bahasa Arab. Akan tetapi salah satu di antara mereka ada yang mengatakan bahwa sistem pembelajaran bahasa arab disini sama halnya dengan ketika mereka mempelajari ilmu nahwu dan shorof. Para ustadz atau ustadzahnya dalam sistem pembelajaran bahasa Arab ini, beliau lebih menekankan santrinya untuk mempelajari bahasa Arab saja daripada mempelajari sastranya. Sehingga para santri pun tidak mengenal sastra.

Di Pondok Pesantren Walisongo terdapat program Syu’bah Lughah al-Arabiyah, yang bertujuan untuk mencetak santri yang mampu berbahasa Arab dengan lancar dan baik serta memiliki kualitas keilmuan bahasa Arab yang memadai. Untuk melaksanakan tujuan tersebut, Syu’bah Lughah al-Arabiyah berupaya semaksimal mungkin untuk dapat melaksanakan kualitas santri dengan mengadakan berbagai aktifitas, antara lain:

  1. Pendidikan Formal:
  • Sekolah Syu’bah dilaksanakan empat kali dalam seminggu, yakni setiap hari Ahad, Senin, Selasa, dan Rabu, dan pelaksanaannya dimulai pada malam hari setiap pukul 20.30 – 21.30. Kemudian di imbangi dengan pengajian Kutubus Salaf setiap pagi dan sore hari.
  • Untuk menentukan kelasnya sekolah Syu’bah ini dibagi menjadi tiga kelas:

-      Kelas I

-      Kelas II

-      Kelas III ( tingkatan Musyrifah )

  • Masa pendidikan selama 2 tahun baik itu Madrasah Tsanawiyah maupun Madrasah Aliyah.
  • Santri yang telah lulus akan mendapatkan ijazah.
  1. Pendidikan non Formal:
  • Upaya untuk pembendaraan kata, seperti halnya mufrodat.
  • Mengadakan perlombaan Khitobah.
  • Mengadakan kegiatan Muhadharah, yang diselenggarakan setiap dua minggu sekali.
  • Mengadakan istima’ dan Muhadatsah setiap hari.
  • Wajib bagi warga santri Syu’bah untuk menggunakan bahasa Arab bahasa sehari-hari. Adapun batas berbicara menggunakan bahasa Arab tersebut dimulai ketika para santri bangun tidur samapai pukul 10 malam. Apabila ada santri yang tidak mengikuti kegiatan pondok, maka sntrti tersebut akan dapat ta’ziran dari pengurus. Ta’zirannya disuruh membuat cerita dengan memakai bahasa Arab.

Setelah mengetahui metode pembelajaran bahasa Arab seperti itu, maka perlu adanya perubahan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Arab. Dikarenakan setiap pergantian pengurus pondok, maka bergantilah pula metode pembelajaran bahasa Arab tersebut. Sehingga membuat para santri nilai akadimis bahasa arabnya menurun, dan itu sudah terbukti di tahun ajaran yang kemarin.

Pada hari Jum’at para santri diperbolehkan berbicara menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa, karena pada hari itu Syu’bah Lughahnya diliburkan. Santri-santri pun senang karena mereka bisa berbicara dengan teman-teman yang lain tanpa harus menggunakan bahasa Arab, khususnya teman-teman yang ada di luar kompleknya. Para santri warga Syu’bah sempat malu terhadap teman-teman yang berada di luar kompleknya, karena mereka dianggap sok pintar, soalnya kalau berbicara dengan teman-teman yang lainnya mereka pasti menggunakan bahasa Arab. Padahal itu sudah menjadi kewajiban bagi santri-santri Syu’bah dari pengurus untuk menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari.

  1. Sarana Pendukung dalam Belajar Bahasa dan Sastra Arab

Di Pondok Pesantren Putri “Walisongo” ini sarana pendukung dalam mempelajari bahasa dan sastra Arab sangat minim, bahkan bisa dikatakan kurang. Setelah mewawancarai santri dan Musyrifah yang ada disana sarana pendukung dalam mempelajari bahasa dan sastra Arab antara lain :

  • Perpustakaan yang sifatnya kecil
  • Kaset dan tipe recorder untuk istima’
  • Musyrifah (santri kelas III yang ditugaskan untuk memberi mufrodat setiap harinya )
  • Sedangkan untuk laboratorium bahasa disana belum ada
  1. Hambatan-hambatan dalam Proses Belajar Mengajar Bahasa dan Sastra Arab

Dalam proses belajar mengajar bahasa dan sastra arab belum tentu berjalan dengan lancar sesuai harapan pondok pesantren atau para pembimbing yang ada. Akan tetapi, proses belajar mengajar bahasa dan sastra Arab dapat terhambat karena disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya yaitu:

Pertama, kurangnya fasilitas pendukung seperti tidak adanya laboratorium bahasa. LAB bahasa merupakan faktor pendorong yang sangat pentig dalam pengembangan bahasa. Dengan tidak adanya LAB dapat menghambat proses pengembangan bahasa para santri. Kedua, yaitu hambatan para santri dalam menghafalkan mufrodat yang diberikan oleh para pembimbing. Sebenarnya hambatan ini tidak terlalu dominan untuk dijadikan sebagai alasan dalam pengembangan bahasa, tetapi hal ini dapat diatasi dengan banyak cara antara lain: menghilangkan rasa malas dalam diri para santri dengan terus membaca dan menghafal mufrodat tersebut.

Di dalam pondok pesantren tersebut banyak pendorong agar bahasa yang di miliki para santri selalu berkembang, yaitu pemberian lima mufrodat perhari. Hal ini dapat menambah mufrodat yang dimiliki oleh para santri, dan banyaknya mufrodat yang ditempelkan di tembok-tembok sehingga dapat menambah dan memperkuat hafalan para santri yang ada di pondok tersebut dan adanya pembelajaran program Bahasa di malam hari. Pembelajaran tersebut dinamakan “Diniyah dua”, adapun Diniyah satu dilaksanakan di pagi hari, akan tetapi diniyah satu bersifat umum. Tidak seperti diniyah dua yang lebih mengkhususkan kepada program Bahasanya saja.

Dalam masalah hambatan tersebbut dapat kita simpulkan bahwa semua hasil belajar yang dimiliki oleh semua para santri tergantung keseriusan belajar dari masing-masing santri tersebut.

Foto santri-santri Syu’bah Lughah al-Arabiyah

  1. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab

Strategi pembelajaran (Wina Senjaya, 2008) adalah suatu kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dalam hal ini harus ada kerjasama antar kedua belah pihak yaitu antara pendidik dan anak didik sebagai perwujudan tercapainya pembelajaran bahasa arab.

  1. Strategi internal

Internal yang dimaksud adalah strategi yang diterapkan dalam lingkungan ma’had itu sendiri sebagai perwujudan pengembangan dan peningkatan skill berbahasa arab, meliputi:

  • Tidak hanya dengan menerapkan sistem muhadatsah atau arabic’s day khusus para santri namun juga diperuntukkan untuk semua komponen pengurus, asatidz dan pihak pondok lainnya. Hal ini telah diterapkan dalam komplek syu’bah yang merupakan pusat pengembangan bahasa arab. Namun tidak dengan komplek yang lain, mereka jarang menggunakan bahasa arab dalam berinteraksi antar sesama. Dan fenomena ini tidak didukung dengan adanya ta’zir yang tegas dari pihak pondok sehingga kemampuan berbahasa arab para santri tidak optimal.
  •  Menargetkan para santri menghafal mufradat sebanyak-banyaknya dan mengimplementasikannya dalam kalimat yang sederhana. Dalam hal ini pihak pondok menargetkan para santri menghafal 5 mufradat tiap hari.
  • Membuat kelompok diskusi bahasa arab (bahtsul masail) kecil dengan tema pembahasan sederhana
  • Menerapkan santriwati membuat karangan meliputi pengalaman pribadi, cerita pendek, cerita bergambar, menulis surat untuk teman, membuat pidato  dan sebagainya.
  • mengadakan berbagai musabaqah khususnya musabaqah bernafaskan bahasa arab baik antar komplek maupun antar kamar. Dalam hal ini informasi yang kami peroleh dari para santriwati setelah melakukan survey lapangan secara langsung adalah mereka sering mengadakan perlombaan mengenai bahasa arab pada akhirus sanah dan bulan maulid, seperti: khithabah, fragment arab[11], drama, cerita pendek dengan berbagai tema salah satunya mengenai para nabi[12] dan sebagainya.
  1. Strategi eksternal

Adapun eksternal dalam hal ini adalah strategi yang implementasikan di luar lingkungan pondok untuk mengasah skill berbahasa arab, meliputi:

  • Mengikuti berbagai perlombaan antar pondok lain. Setelah melakukan observasi dengan beberapa santriwati wali songo maka diperoleh informasi bahwasannya program yang dilakukan pihak pondok wali songo dalam rangka pengembangan bahasa arab adalan dengan aktif mengirimkan delegasi ke luar pondok, salah satunya berpartisipasi dalam perlombaan tingkat SMP/MTS sederajat yang diselenggarakan oleh lembaga IAIN Sunan Ampel Surabaya. Selain itu, mereka juga pernah diundang sebagai peserta untuk mengikuti berbagai perlombaan diberbagai pondok[13].
  • Mengadakan study banding dengan pondok lain.

BAB III

PENUTUPAN

  1. Simpulan

Studi Observasi merupakan program penelitian yang dilaksanakan oleh mahasiswa semester 5. Pelaksanaan studi observasi ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan akademik, dalam bentuk pengajaran secara nyata di kelas sesungguhnya.

Selama pelaksanaan studi observasi nyata mahasiswa diharapkan pada masa studi menyeluruh, mulai dari pengelolaan program, pengefektifan elemen kebahasaan, dan hubungan dengan masyarakat. Kegiatan studi observasi merupakan penelitian yang faktual untuk memadukan ilmu keguruan secara teori dan praktik di lembaga maupun luar lembaga kependidikan.

Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan bahwa studi observasi merupakan kegiatan inti dalam pembenahan dan pembentukan seorang mahasiswa yang aktif dalam proses pendewasaan diri dan pembelajaran di akademik. Di katakan inti karena mahasiswa dituntut untuk menerapkan segala ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya selama di bangku kuliah.

  1. Saran-saran

Untuk lebih memaksimalkan kegiatan studi observasi ini pada masa yang akan datang perlu dibuat juknis yang baik secara terorganisasi, komunikasi yang baik  antar mahasiswa dan dosen pembimbing serta lembaga yang akan diobservasi dan juga perlu waktu yang panjang agar pengalaman yang didapat lebih banyak dan berkesan bagi para peserta observasi.

Untuk para mahasiswa yang sedang melaksanakan studi observasi, supaya lebih komunikatif, kompak dalam bekerjasama menjalankan tugasnya agar kekurangan-kekurangan yang ada pada saat melaksanakan studi obserasi yang dilakukan oleh para mahasiswa berjalan dengan lancar dan baik sesuai dengan harapan kita bersama.

Tempat yang ditugaskan oleh pihak fakultas terhadap mahasiswa dalam pelaksanaan studi observasi, sebaiknya dirancang dengan baik agar tidak keluar dari ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan oleh pihak fakultas sendiri dan mahasiswa peserta studi observasi bisa melaksanakannya dengn baik, baik dari segi materi ataupun dan jarak tempat itu sendiri.

Nama-Nama Yang Diwawancarai Saat Observasi

  1. Muzaiyanah, Madrasah Aliyah, Jurusan IPS, dari Palembang
  2. Evis Sumiati, Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat, Jurusan IPS, dari Cianjur
  3. Maisatul Qur’ani, Madrasah Aliyah Perguruan Mu’allimat, Jurusan IPA, dari Bojonegoro
  4. Lavidatul Wasila, Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat, Jurusan IPA, dari Lombok
  5. Ulfiana Muzdalifah, Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat, Jurusan IPS, dari Surabaya
  6. Halimatus Sa’diyah, Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat, Unggulan, dari Surabaya
  7. Siti Ruqayah Bangun, Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat, Jurusan IPA, dari Riau
  8. Khairun Nisa’, Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat, Jurusan IPS, dari Surabaya
  9. Mima Nur Faiza, Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat, Jurusan IPA, dari Gersik

10. Upi Uswatun Hasanah, Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat, Jurusan IPA, dari Subang

11. Siti Dzakiyah, Madrasah Aliyah Perguruan Muallimat, Kelas Khusus, dari Jombang


[1] Budi Adi Wibowo,Warga, Desa Kwaron Diwek Jombang, Pewancara: Evi Pradana Putri.

[2] Bapak priyanto, Satpam Pondok, Pewancara: Lutfatul Qibtiyah, Evi Pradana Putri

[3] Zakiyah, Kediri, Semester 3, Jurusan PGMI, Pewancara: Lutfatul Qibtiyah, Fastabiqul Khoiroh, Evi Pradana Putri.

[4] Enik, Ketua Pondok, Pasuruan, Semester 5, jurusan PGMI, Pewancara: Lutfi Indriani, Evi Pradana Putri, Lutfatul Qibtiyah.

[5] Enik, Ketua Pondok, Pasuruan, Semester 5, jurusan PGMI, Pewancara: Evi Pradana Putri, AL-maulidah, Fastabiqul Khoiroh.

[6] Bapak Priyanto, Satpam Pondok, Cukir Diwek Jombang, Pewancara: Lutfatul Qibtiyah, Evi Pradana Putri, Fastabiqul Khoiroh, Al-maulidah.

[7] Hasil Pengamatan: Lutfatul Qibtiyah. Evi Pradana Putri

[8] KH. Amir Jamiludin, Pengasuh Pondok Pesantren Putri Walisongo, pewancara: Lutfi AAndriani, Evi Pradana Putri, Fastabiqul khoiroh.

[9] Santri, Madura, semester 3, PAI, Pewancara: Risa musafaah, izzatin sumah.

[10] Bapak Muhammad Jamil, RT Cukir diwek Jombang, Pewancara: Risa Musafaah, izzatin sumah.

[11] Meraih juara 1 dari siswi MAPM 1997/1998

[12] Dalam hal ini pesertanya adalah anak dari luar pondok dan perwakilan dari pondok.

[13] Informasi ini kami peroleh dari beberapa santriwati MA dan MAPM dengan jurusan IPA san IPS, salah satunya adalah Muzaiyanah (MA) IPS asal palembang dan Lavidatul Wasila (MAPM) IPA asal lombok

About these ads

11 thoughts on “Pondok Pesantren Walisongo Cukir Jombang

  1. assalamu’alaekum,,
    mas,,kalo boleh nanya ni ,,di ponpes walisongo ada ga beljar ilmu nahu ,sorof ,feqah ,tauhid ?

  2. Assalammu’alaikum,
    bagi lulusan SMK seperti saya ini , jika mondok di walisongo pembelajarannya seperti apa? karena saya tidak mempunyai skill seperti memahami kitab gundul, bahasa arab, dsb. mohon argumentasinya. terima kasih

    • pembelajarannya nanti ada pengajian kitab2 kuning .. dan kitab2 lainnya yang gundulllll
      nanti akan terus dibelajari untuk bisa semuanya itu …untuk .skill bahasa itu nanti akan di biasakan dengan menggunakan bahasa yang di gunakan baik bahasa arab maupun bahasa inggris… nanti akan di belajari mulai dari awal….
      bahasa itu bisa karena biasa dan mau untuk terus berusaha…. bahkan banyak yang lulusan smk mampu mengalahkan yang alumnus sma…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s