Teknik Penulisan Karya Ilmiah

TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH POPULER

2611201

Oleh: moch. Agus setiawan

Jurusan bahasa dan sastra arab fakultas adab

Institute agama islam sunan ampel surabaya

                                                                          

Ilutrasi

John seorang mahasiswa tingkat satu di suatu universitas. Ia sangat gemar membaca baik bahan kuliah, iptek, pengetahuan umum, novel, cerita bersambung, cerpen dan sebagainya. Ia tidak habis mengerti, mengapa para penulis atau pengarang begitu pandai bercerita lewat tulisan atau karangan yang runtut, menarik dan mengesankan. Ia juga banyak mendengar dari teman-temannya yang pandai menulis atau mengarang bahwa honorariumnya cukup lumayan sebagai tambahan biaya hidup. Yah, sebagai seorang mahasiswa dari keluarga yang kurang berada, maka “imbalan” yang didengarnya cukup menggiurkan.

“Ah, kalau seandainya aku bisa menulis, pasti aku tak usah minta kiriman uang. Kasihan ortu. Mereka sangat lelah,” angannya.

John ternyata tidak hanya berangan-angan. Ia wujudkan angan-anganya dengan perbuatan. Ia pergi ke perpustakaan, diskusi dan wawancara dengan para pakar. Ia juga melahap buku-buku yang membahas cara menulis dan mengarang.

”Ah, rasanya sih mudah menulis,” pikirnya. Aku tinggal membuat ide – yang sebetulnya sudah bertimbun dalam otakku –, menulis tema, pokok pikiran, judul, kerangka tulisan, mencari bahan dan menulis.” ”Ah, gampang,” batinnya.

Iapun mulai mencari bahan-bahan tulisan yang ia harapkan dapat mendukung tulisan yang hendak ia buat. Setelah bahan tulisan tersedia, iapun mulai menulis. Namun, begitu pena menyentuh kertas, setumpuk ide yang ada dalam otaknya tidak mau keluar. Macet!

”Ah, kenapa seret amat,” keluhnya. Ia coba dan coba sampai akhirnya ia putus asa dan berhenti menulis.

”Ah, barangkali aku tidak bakat,” pikirnya.

—–000—–

            Bakat barangkali sangat mendukung seseorang untuk menjadi penulis atau pengarang yang baik. Namun tanpa latihan, mustahil seseorang akan bisa menjadi seorang penulis atau pengarang. Pada hemat saya, kemampuan menulis lebih banyak ditentukan oleh latihan yang intensif. Banyak diantara kita yang berhenti menulis pada tahap awal seperti John. Ketika penanya seret, mereka berhenti menulis serta menganggap bahwa mereka tidak berbakat.

Sebenarnya, langkah-langkah yang ditempuh oleh John sudah benar. Ia belajar terlebih dahulu teori atau tuntunan menulis, baru setelah memahaminya ia mencari bahan untuk ditulis. Ia juga telah mencoba menulis berulang kali. Namun ia merasa gagal. Padahal ia belum cukup banyak berlatih. Einstein bilang: “Jika anda telah gagal  sepuluh ribu kali maka cobalah lagi barangkali pada yang ke sepuluh ribu satu kali anda berhasil.” Ya, kita harus mempunyai motivasi yang kuat untuk berlatih terus sampai sukses menjemput kita.

Ada langkah yang barangkali cukup praktis. Jika anda merasa pena sudah mulai seret, berhentilah menulis. Simpan tulisan itu dan kemudian baca ulang tulisan itu pada kesempatan yang lain. Anda  akan melihat berbagai kelemahan dan kekurangan tulisan anda. Jika anda sudah tahu kekurangan tulisan itu, saya yakin anda akan mengetahui cara untuk memperbaikinya. Sebagai langkah awal, anda bisa menulis apa saja, asal sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Hal ini sangat penting, untuk menjaga agar pena anda tidak seret kembali, dan agar berbagai ide dalam otak anda bisa dituangkan ke dalam tulisan. Baru setelah selesai, anda bisa mengoreksi draft kasar sampai tulisan itu anda nilai sudah baik. Draft terakhir sebaiknya dibaca oleh teman anda. Sebab seringkali kita sudah menilai bahwa tulisan kita sangat sempurna, setelah dibaca oleh orang lain ternyata masih banyak bolong-bolongnya.

 

Pemilihan Tema

Tema merupakan pokok masalah yang akan diuraikan dalam sebuah tulisan. Tema harus ditentukan sebelum mulai mengarang. Tanpa tema, tidak akan dihasilkan tulisan yang baik. Tema dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti pengalaman, hasil penelitian, survei, pengamatan, wawancara, kreasi imajinatif dll. Karangan-karangan narasi, deskripsi biasanya bersumber dari sumber-sumber tersebut. Akan tetapi tulisan argumentatif atau persuasi umumnya bersumber dari pendapat dan sikap penulis.

Agar terhindar dari kesulitan memperoleh tema, beberapa hal harus diperhatikan, antara lain:

  1. selalu menambah pengalaman, banyak melihat, mendengarkan, membaca, berdiskusi, mengalami sendiri berbagai peristiwa.
  2. selalu rajinmengamati sesuatu yang terjadi di sekitar kita atau membaca buku, jurnal, majalah, koran yang merupakan hasil pengamatan/penelitian orang lain.
  3. selalu mengembangkan imajinasi dan kreativitas.
  4. sering mengadakan diskusi dan tukar-menukar pendapat untuk melatih mengemukakan pendapat dan mempertahankannya dengan argumentasi dan contoh yang baik dan tepat serta memperluas cakrawala berpikir.

 

Untuk menghasilkan sebuah tulisan yang berbobot, penulis harus memilih tema yang menarik, memungkinkan untuk digarap, ruang lingkup yang tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, dan hangat. Coba anda bandingkan tema-tema di bawah ini:

  1. Curah hujan di Indonesia vs Curah hujan di pulau Jawa
  2. Sejarah seni lukis di Indonesia vs Seni lukis di zaman kemerdekaan
  3. Perkembangan Islam vs Sebabnya Islam cepat tersiar
  4. Pembangunan di Indonesia vs Pembangunan ekonomi pada Pelita III
  5. Pengaruh kebijakan 15 Nopember 1978 terhadap masyarakat vs Pengaruh kebijakan 15 Nopember 1978 terhadap usaha kerajinan rotan di Amuntai
  6. Perkembangan pers di Indonesia vs Perkembangan pers di Indonesia ditinjau dari segi kebebasannya.

Sering kita mendapatkan tema, ide atau gagasan secara tiba-tiba. Bisa ketika kita membaca, bisa ketika kita melihat sesuatu, atau bisa  seketika atau bahkan dalam mimpi. Kilasan-kilasan ide atau gagasan atau tema sering mudah kita lupakan. Jika hal itu tidak segera kita tangkap, maka mereka akan segera menghilang dari pikiran kita. Oleh sebab itu, ide-ide tersebut harus segera dicatat. Adalah hal yang menarik jika ide-ide itu kita dokumentasikan dalam sebuah buku ide. Sewaktu-waktu kita dapat mengingat kembali ide-ide kita yang dituangkan ke dalam sebuah buku. Kita tinggal memilih ide atau tema mana yang kita nilai sangat menarik  bagi pembaca, dan mulailah kita menulis. Menulis dan menulis, sebagai wahana latihan tanpa mengenal lelah dan putus asa.

 

Kerangka Tulisan

Setelah menentukan tema, langkah berikutnya adalah membuat kerangka tulisan. Kerangka tulisan ini sangat penting untuk memandu tahapan menulis agar tidak menyimpang dari tema. Kerangka tulisan ini selain sangat berguna bagi penulis pemula, juga berguna untuk menghindari kemungkinan terlupa dan bermanfaat untuk mengkaji sekali lagi point-point yang penting itu secara kritis.

Ada beberapa macam tipe susunan kerangka tulisan antara lain:

  1. Berdasarkan urutan kronologis. Susunan kerangka diatur menurut susunan waktu kejadian peristiwa yang hendak diuraikan.
  2. Berdasar urutan lokal. Susunan kerangka diatur menurut susunan lokal (ruang/tempat) dari obyek yang hendak diuraikan.
  3. Berdasar urutan klimaks. Susunan kerangka diatur menurut jenjang kepentingannya.
  4. Berdasar urutan familiaritas. Susunan kerangka diatur menurut dikenal-tidaknya bahan yang akan diuraikan.
  5. Berdasar urutan akseptabilitas. Susunan kerangka diatur menurut diterima-tidaknya prinsip yang dikemukakan.
  6. Berdasar urutan kausal. Susuanan kerangka diatur menurut hubungan sebab-akibat.
  7. Berdasar urutan logis. Susunan kerangka diatur menurut aspek umum dan aspek khusus.
  8. Berdasar urutan apresiatif. Susunan kerangka diatur menurut pemilikan buruk-baik, untung-rugi, berguna-tidak berguna, benar-salah, dst.

Untuk bisa membuat kerangka tulisan yang baik, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

1.      Mencatat di atas kertas segala gagasan yang timbul dari perkiraan, atau  yang dikumpulkan dari sumber-sumber yang ada hubungan dengan tema yang telah dirumuskan.

2.      Kemudian, mulailah gagasan-gagasan tadi diatur, diorganisasi dan disitematisasikan.

3.      Mengkaji sekali lagi gagasan-gagasan yang telah dikelompokkan dalam bab-bab dan pasal-pasal.

4.      Membuat kerangka tulisan yang lengkap dan terperinci yang sudah bebas dari coretan-coretan. Dalam tahap ini dicantumkan tema, judul dan pokok pikiran yang mendasari kerangka tulisan tersebut.

 

Contoh:

Tema: Bermahasiswa yang benar.

Pokok pikiran: Menjadi mahsiswa bukan untuk menaikkan status sosial atau untuk tujuan-tujuan lain, melainkan untuk belajar lebih banyak dan lebih intens sebagai bekal menghadapi masa depan bangsa.

Kerangka tulisan

Pendahuluan (Masih banyak diantara mahasiswa belum menyadari dengan baik untuk apa sebenarnya dia menjadi mahasiswa)

I. Motivasi masuk perguruan tinggi

A. Untuk memperoleh status sosial yang tinggi

B. Untuk menghindari menjadi penganggur

C. Untuk mengembangkan kemampuan diri

II. Karakteristik perguruan tinggi

A. Antara perguruan tinggi dengan sekolah lanjutan

B. Perguruan tinggi sebagai simbol peradaban bangsa

III. Mahasiswa yang ideal

A. Selalu melipatgandakan usaha studi

B. Selalu melatih diri dalam keterampilan memimpin

 

Beberapa persyaratan membuat kerangka tulisan antara lain:

  1. Kerangka harus mengandung pokok-pokok yang cukup mendalam.
  2. Kerangka harus disusun secara cermat dan logis.
  3. Kerangka yang baik, pokok-pokok yang sejajar harus diberi nomor atau huruf yang sejenis. Dalam membuat kerangka tulisan tidak boleh ada pembagian yang pincang.

 

Pemilihan Judul

Setelah menentukan tema, pokok pikiran dan kerangka tulisan, langkah selanjutnya adalah membuat judul. Judul, selain harus menarik perhatian pembaca, juga harus mencerminkan tema tulisan. Hal ini sangat penting artinya bagi pembaca. Setelah pembaca tertarik terhadap judul yang terpampang di majalah atau koran, maka ia ingin segera tahu apa isinya. Pembaca akan kecewa jika isi yang ditulis ternyata tidak sesuai atau semenarik sebagaimana judulnya.

Menarik bukan berarti bombastis. Judul-judul yang bombastis sekilas memang menarik perhatian pembaca. Akan tetapi pembaca akan segera kecewa ketika membaca isi tulisan tersebut. Sebab judul yang bombastis itu biasanya tidak mencerminkan isi tulisan yang dibahas. Betapa sering kita dikecewakan oleh judul-judul buku yang seperti ini. Membaca judul dan sinopsis buku yang biasanya ditulis di kover belakang kita sering tertarik untuk membelinya. Akan tetapi, ketika setelah sampai di rumah dan membacanya kita menjadi sangat kecewa. Demikian pula ketika kita membaca koran atau majalah atau tulisan apapun, sering dikecewakan oleh judul yang bombastis tetapi isinya tidak relevan.

Perhatikan juduljudul di bawah ini.

1. Aerodynamika msyarakat serangga

Ternyata hanya  membahas cara terbang serangga.

2. Razzia penduduk sungai

Ternyata bercerita tentang orang cari ikan

3. Hotel internasional di Teluk Banten

Ternyata berceritera tentang suaka burung

4. Klinik bersalin masyarakat ikan

Ternyata berisi sarang ikan dan cara menetaskan telur.

 

Judul-judul tersebut memang sangat menarik, namun bisa jadi pembaca sangat kecewa karena isinya tidak seperti yang dibayangkan oleh pembaca sewaktu membaca judul.

Contoh-contoh berikut ini merupakan contoh-contoh judul yang kurang  baik dan berkesan membosankan dan melelahkan.

  1. Setiap empat jam ada orang ditabrak trem di Betawi
  2. Varietas-varietas atau strain-strain ikan mas dan masalahnya dalam pemuliaan.
  3. Perlu kita perhatikan adanya serangan penyakit pada tanaman kacang tanah, terutama becak dan belang daun.

Judul-judul tersebut di atas dapat diperbaiki sebagai berikut:

  1. Tiap empat jam ada orang ditabrak trem
  2. Masalah strain ikan mas dalam pemuliaan
  3. Perlu perhatian terhadap serangan penyakit pada kacang tanah

Judul sebaiknya juga tidak terlalu pendek. Mungkin judul-judul pendek hanya sesuai  pada karangan seperti novel, cerpen, puisi dll. Jika anda ingin tetap menggunakan judul pendek karena hal tersebut dapat mencerminkan sesuatu bahasan yang hendak anda tonjolkan, maka judul pendek itu bisa dibuat, dengan catatan menambah sebjudul di bawahnya.

Contoh:

1. Sapi Bali

Riwayat penciptaan dan cara peternakannya

2. Daun Katuk

Sebagai obat pelangsing tubuh yang manjur

3. Bulu entok

Sebagai bahan pembuatan bola bulu tangkis

4. Kijing Taiwan

Benar-benar menyelundup ke Indonesia

 

Untuk membuat judul, sebelumnya kita membuat synopsis, agar diperoleh gambaran keseluruhan isi artikel, kemudian membuat paling sedikit 3 judul. Di bawah ini merupakan ringkasan proses pembuatan judul.

 

Tabel 1. Proses pembuatan judul

No. Tema Sinopsis Judul
1. Dengan pupuk majemuk kita melipatgandakan hasil bumi dalam rangka partisipasi dalam pembangunan a. Arti dan jenis pupuk majemuk

b. Pengaruhnya terhadap tanaman pangan

c. Cara pemakaiannya

1. Gunakan pupuk majemuk demi suksesnya pembangunan

2. Arti, pengaruh dan cara pemakaian pupuk majemuk

3. Pupuk majemuk

* Pengaruh dan pemakaiannya bagi peningkatan hasil tanaman

2. Penggunaan jaring trawl yang benar, dalam peningkatan pemanfaatan sumber ikan demersal yang hidup di dekat dasar laut a. Pengertian ikan demersal dan daerah penyebarannya

b. Cara penangkapan ikan demersal dengan jaring trawl

1. Jaring trwal

2. Ikan demersal dan cara penangkapannya yang benar dengan jaring trawl

3. Penangkapan ikan dasar dengan jaring trawl

 

Pendahuluan

Setelah pembaca tertarik dengan judul yang anda tampilkan, maka pembaca akan segera melirik ke pendahuluan. Mereka mengharapkan membaca sesuatu yang menarik sesuai dengan persepsi pembaca ketika membaca judul. Minat membaca akan menurun atau meningkat tergantung dari sajian dalam pendahuluan. Oleh karena itu, sub-pendahuluan perlu mendapat perhatian  yang serius. Dalam tulisan populer dan ilmiah populer, anda tidak perlu menulis ”Pendahuluan” untuk menunjukkan sub-bagian pendahuluan sebagaimana dalam tulisan ilmiah. Anda langsung saja menulis apa yang akan anda kemukakan dalam sub-bagian pendahuluan itu.

Ada tujuh macam bentuk pendahuluan, yang dapat kita pilih yaitu:

1. Ringkasan. Pendahuluan berbentuk ringkasan ini nyata-nyata mengemukakan topik dan poko isi tulisan secara garis besar.

2. Pernyataan yang menonjol. Kadang-kadang disebut juga pendahuluan kejutan. Biasanya diikuti dengan kalimat kekaguman.

3. Pelukisan. Pendahuluan yang melukiskan suatu fakta, kejadian atau hal.

4. Anekdot.

5. Pertanyaan. Pendahuluan berbentuk pertanyaan yang merangsang keingintahuan merupakan pendahuluan yang bagus.

6. Ktipan orang lain. Pendahuluan berupa kutipan ucapan seseorang (tentunya orang terkenal) dapat langsung menyentuh rasa pembaca.

7. Amanat langsung. Pendahuluan berbentuk amanat (pesan) langsung kepada pembaca sehingga terasa akrab.

Bagian pendahuluan mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai pemancing minat dan mengatur pembaca ke arah pembahasan. Hal terakhir ini sering kali lebih sulit daripada menulis judul atau isi. Seringkali kita mengalami kesulitan sehingga kita menjadi kesal dan putus asa. Jika anda mengalami hal ini, maka langkah yang sebaiknya dilakukan adalah menunda dulu bagian pendahuluan iniu dan menulis bagian lain, misalnya isi tulisan. Baru setelah dirasa bisa melanjutkan, anda dapat menulis pendahuluan kembali. Seringkali pendahuluan mengalami perubahan berulangkali untuk memperoleh alinea pendahuluan yang dapat memancing minat.

Misalnya contoh proses pembuatan judul dan alinea pendahuluan di bawah ini.

Konsep awal:

PERGANTIAN KELAMIN DAN CARA BETERNAK BELUT

            Ikan belut yang kita kenal enak dagingnya itu ternyata mempunyai cara hidup yang aneh. Kalau muda berupa betina semua, dan kalau tua berganti kelamin menjadi jantan semua. Dalam tulisan  di bawah ini akan dikemukakan tingkah laku mereka dalam perkawinan, dan cara beternak mereka di kolam air tawar.

Setelah konsep ditulis ulang, alinea pembuka itu menjadi:

SKANDAL SEKS KAUM BELUT

            Sebagai ikan buas yang suka berlindung dalam sarang penyamunnya, lindung atau belut menarik perhatian, karena skaldal seksnya. Kalau masih muda mereka menikmati hidup sebagai juwita belut betina, maka setelah tua mereka berganti kelamin menikmati Sorga Dunia untuk kedua kalinya sebagai Don Juan belut jantan.

            Tingkah lakunya yang aneh dalam perkawinan, antara lain membentuk sarang busa, kita pakai untuk mengambil tindakan teknis dan cara beternak mereka di kolam air tawar.

Revisi ini mungkin bukan tulisan akhir, karena barangkali perlu dicekulang lagi. Bila  anda merasa revisi itu sudah baik dan tidak tahu lagi   bagian mana yang perlu direvisi, maka ada baiknya anda minta tolong kepada teman anda untuk membacanya. Biasanya teman anda akan lebih jeli dalam melihat kelemahan tulisan anda.

Tidak selamanya usaha membuat pendahuluan demikian dapat berhasil, terutama jika sinopsis artikel yang bersangkutan tidak menarik. Dalam hal ini, pendahuluannya sebaiknya kita susun berupa sari yang disarikan dari sinopsis yang paling menonjol dan menarik perhatian.

Misalnya contoh sebagai berikut:

Judul                                                    MENUJU TENAGA SURYA

Novelty lead                 Kali ini seorang presiden pun naik ke atap rumah dalam rangka

Usaha melawan krisis energi. Cina memasak dengan tenaga matahari.

Tapi listrik tenaga surya masih mahal harganya. Diharapkan makin

murah, nanti menjelang tahun 2000.

 

Tubuh utama                 Mungkin bsru ksli ini seorang Presiden Amerika Serikat naik ke

                        Atap Gedung Putih. Ini terjadi ketika Jimmy Carter meresmikan

pemakaian alat pemasak air yang menggunakan tenaga matahari

tanggal 20 Juni 1979 yang lalu. (Dan seterusnya).

 

Cara lain untuk memancing minat baca ialah mengingatkan seseorang (pembaca) kepada kejadian serupa, atau juga berupa dongeng, kisah atau cerita yang familiar dari orang lain.

Misalnya contoh sebagai berikut;

Judul                            AIR  KELAPA

                                    . 1000 liter sehari terbuang

                                    . Siapa yang mau ikut memanfaatkannya?

Pendahuluan                 Air kelapa yang pertama kali kita dengar ialah air kelapa Ki

                        Ageng Giring dalam Babad Tanah Jawi dulu. Kata sahibulhikayat, kelapa

yang dipetiknya di atas pohon diringi oleh suara gaib yang mengiang di

telinganya: ”Pengumuman! Barang siapa yang bisa minum air kelapa

’yang ini’ sekaligus dalam satu tarikan, ia akan menurunkan raja-raja

Mataram!”

 

Isi Tulisan

Pada alinea atau kalimat terakhir dari pendahuluan sangat dianjurkan merupakan alinea atau kalimat penghubung antara pendahuluan dan isi tulisan. Hal  ini perlu diperhatikan agar pembaca tidak merasa ada sesuatu yang hilang sewaktu membaca isi utama  tulisan anda. Jika tidak ada kalimat penghubung, seolah-olah pembaca diajak melompat sehingga terasa mengganjal.

Untuk menghindari pembaca cepat bosan, maka isi utama tulisan sebaiknya dibagi ke dalam sub-sub. Sub-sub ini juga perlu dipilih kata-kata yang menarik tanpa meninggalkan maknanya. Memang cukup sulit. Untuk mengtasi hal ini, maka pertama-tama tulis dahulu sub yang sesuai walaupun belum terasa menarik. Cara ini adalah untuk memandu jalannya tulisan yang sedang disusun. Baru setelah sub-sub tersusun, kita dapat memeriksanya kembali.

Etelah judul sub dibuat, kita mulai menulis pikiran, gagasan, fakta dll. sesuai dengan judul sub tersebut. Agar sub-sub menarik, maka harus  dibuat alinea-alinea yang menarik, berkesinambungan dan dinamis serta cepat berpindah tepat pada waktunya. Dengan adanya alinea-alinea, pembaca akan tahu, suatu gagasan pokok dimulai dan diakhiri, serta kemudian berpindah ke gagasan berikutnya. Dengan demikian, pembaca dapat dengan mudah menelusuri anak-anak tangga tanpa kesulitan.

 

Contoh alinea yang baik:

Sebagai ikan buas, para kakap jelas tidak cocok untuk dipelihara dalam tambak bersama ikan bandeng dan udang, karena terang mereka akan menghabiskan benih bandeng dan udang, yang sangat berharga.

            Tetapi di India, ikan kakap justru sengaja dipelihara dalam tambak juga, meskipun dengan pemberian makanan tambahan berupa udang kerdil setengah mati. Sedangkan di Muangthai, ikan kakap dipelihara dengan pemberian makanan berupa ikan rucah sebangsa teri.

 

Dari contoh di atas, jelas bahwa sebuah alinea yang menarik harus beruntut atau berkesinambungan. Namun alinea yang beruntun saja masih belum tentu enak dibaca. Harus pula diusahakan agar tiap kalimat dalam alinea itu merupakan irama yang teratur.

Contoh: Pikiran masih jernih, dan badan masih segar

Berikut contoh alinea yang kalimatnya tidak berirama:

Praktis semua orang tua mengetahui bahwa kebiasaan caranya memakan sirih adalah suatu etiket pergaulan resmi yang pada jaman dahulu kala tidak semua orang menguasainya, bilamana ingin diterima di kalangan para pembesar dan para raja-raja.

 

Alinea itu dapat disusun kembali dan terasa lebih berirama sebagai berikut:

Praktis semua orang tua tahu, bagaimana cara makan sirih. Yaitu menggoyang-goyangkan rahang menguyah daun sirih, kapur dan pinang, kemudian menyumbat mulut dengan segumpal tembakau. Susur, namanya.

            Pada jaman dahulu, semua orang yang akan menghadiri rapat para pembesar sipil dan militer harus memakan sirih. Waktu itu, kebiasaan ini merupakan etiket yang harus dikuasai oleh semua orang, bila ingin diterima di kalangan mereka.

 

Alinea yang tidak dinamis akan membuat sebuah alinea terasa lamban.

Contoh dan perbaikannya (?)

 

Penutup

Sebagaimana pendahuluan, maka kata penutup sebagai isyarat penutup sebuah tulisan tidak dicantumkan pada tulisan populer. Penutup ini dapat berupa alinea terakhir dari sebuah tulisan. Penutup biasanya bergaya pamit. Gaya pamit itu biasanya cukup dihasilkan dengan menyelipkan kata demikian, jadi, maka, akhirnya atau kalimat pertanyaan.

 

Contoh ?

 

Format Tulisan

Agar tulisan kita bisa dimuat di suatu majalah, koran, jurnal atau yang sejenisnya, kita harus memperhatikan format dan bahasa media masa tersebut. Kalau anda perhatikan, setiap media masa biasanya mempunyai format tulisan dan gaya bahasa yang berbeda. Bahkan, kadangkala kualitas bahasa dari suatu media masa akan menunjukkan bobot media masa tersebut. Untuk itu, anda harus menyesuaikan dengan gaya bahasa media masa tersebut. Jika anda merasa belum mampu, maka anda dapat memilih media masa yang belum mempunyai bentuk dan gaya bahasa.

 

Persiapan Naskah

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam mempersiapkan naskah. Betapapun bagusnya tulisan kita, mungkin sekali setelah sampai di meja redaksi langsung dibuang ke tong sampah. Mengapa? Alasannya sederhana! Naskah kotor!

 

Daftar Pustaka

 

Banjarnahor, G. 1994. Wartawan Freelance: Panduan menulis artikel untuk media cetak dan elektronik. Ghalia Indonesia, Jakarta.

 

Brotowidjoyo, M. D. 1995. Penulisan Karangan Ilmiah. Edisi Kedua. Akademika Pressindo. Jakarta.

 

Haryanto, A. G. 2000. Penelusuran pustaka. Dalam: Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah (Haryanto, A. G., H. Ruslijanto dan D. Mulyono ed.). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

 

Haryanto, A. G., H. Ruslijanto, D. Mulyono. 2000. Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah. Penebit Buku Kedokteran, Jakarta.

 

Lindsay, D. 1988. A Guide to Scientific Writing.  (Penerjemah S. S. Achmadi). UI-Press, Jakarta.

 

Manalu, W. 1999. Penulisan artikel ilmiah pada jurnal ilmiah internasional. Makalah Pelatihan Penatar Penulisan Artikel Ilmiah di Perguruan Tinggi, DIKTI, Jakarta.

 

Mullins, C. J. 1980. The Complete Writing Guide to Preparing Reports, Proposals, Memos, Etc. Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, NJ.

 

Nafiah, A. H. 1981. Anda Ingin Jadi Pengarang? Usaha Nasional, Surabaya.

 

Purbo-Hadiwidjojo, M. M. 1993. Menyusun Laporan Teknik. Penerbit ITB, Bandung.

 

Purwoko, A. 2006. Mencari dan merumuskan topik penelitian. Disampaikan pada Pelatihan Peningkatan Kemampuan Menulis Karya Ilmiah, Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu, Bengkulu.

 

 

Rifai, M. A. 1995. Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. UGM Press, Yogyakarta.

 

Santoso, U. 1998. Penyusunan penulisan ilmiah populer. Pelatihan penulisan ilmiah populer bagi mahasiswa, Bengkulu.

 

Soeseno, S. 1984. Teknik Penulisan Ilmiah Populer. PT Gramedia, Jakarta.

 

Wiradi, G. 1996. Etika Penulisan Karya Ilmiah. Akatiga. Bandung.

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s