Ilmu Dalalah

Ilmu dalalah atau ilmu dilalah (bahasa Arab) yang merupakan padanan dari kata semantique (bahasa Perancis) atau semantics (bahasa Inggris), atau semantik (bahasa Indonesia).
Di kalangan bangsa Arab ada yang menggunakan istilah ilmu dalalah, ada juga yang menggunakan istilah dalalat al-alfaz atau ilmu al-ma’na (bukan ilmu al-ma’ani). Tetapi tampaknya yang pertama lebih sering digunakan. Di samping ilmu dalalah ada juga ilmu ar-rumuz (semiotik) yang mempelajari tanda secara umum, baik terkait dengan bahasa atau non bahasa. Sementara ilmu dalalah (semantik) mengkaji masalah tanda dalam bahasa saja. Dalam system semiotik, bahasa dibedakan ke dalam tiga komponen, yaitu:
1. Sintaksis, terkait dengan lambang dan bentuk hubungan;
2. Semantik, terkait dengan hubungan antar lambang dan dunia luar yang diacunya;
3. Pragmatik, terkait dengan hubungan antara pemakai bahasa dengan lambang dalam pemakaiannya.
Istilah ilmu dalalah muncul belakangan setelah munculnya istilah semantik, yang ditulis pertama kali oleh seorang ahli bahasa berkebangsaan Perancis Breal dalam bukunya Essai de semantique tahun 1897. Sebenarnya kajian tentang makna telah lama dilakukan oleh para ahli bahasa Arab, tetapi baru akhir abad 19 menjadi ilmu tersendiri, sebagaimana yang ada sekarang. Sejauh mana kajian keislaman mempunyai perhatian terhadap kajian tentang makna ini?
Persoalan-persoalan pokok dalam Ilmu Dalalah Pada mulanya, ilmu dalalah hanya membahas makna atau makna-makna kata dan perkembangan makna tersebut, sehingga lebih tepat disebut ilmu ad- dalalah al-mu’jamy, misalnya kata عين dapat berarti mata air, mata-mata atau bola mata dan sebagainya, kata بيت dapat pula berarti sebuah rumah atau sebait puisi.
Satu kata seringkali mempunyai arti lebih dari satu, misalnya yang satu makna hakiki yang lainnya makna majazi , seperti kata nikah, dapat berarti akad nikah ( makna hakiki) atau bersenggama (makna majazi). Misalnya pada ayat:
ولا تنكحوا ما نكح اباؤكم من النساء إلا ما قد سلف
Kata nikah dalam ayat tersebut dapat dipahami dari sisi makna hakiki atau majazi atau kedua-duanya. Tidak sedikit pula dijumpai dalam bahasa Arab, kata yang terdiri dari huruf-huruf tertentu dan dapat dibaca dengan beragam bacaan (berbeda harakat) sehingga mempunyai makna yang berbeda pula, misalnya kata ملك dapat dibaca malikun (seorang raja), mulkun (sebuah kerajaan) milkun (milik) malaka (memiliki atau menguasai). Untuk menentukan makna sebuah kata, diperlukan pengetahuan tentang konteks di mana kata itu diungkapkan atau disusun. Untuk menyingkap makna, dengan hanya terfokus pada kata perkata saja, ternyata belum cukup. Oleh karena itu, pembahasan diperluas lagi dengan kajian terhadap struktur (tarkib) kalimat. Susunan (tarkib) kalimat mempunyai pengaruh terhadap makna yang ditimbulkan oleh kalimat tersebut. Dalam hal tarkib, meskipun kata-kata yang digunakan sama, makna akan berbeda ketika struktur kalimatnya berbeda, misalnya:
-قرأ ابن العميد رسالة أخي
Anak Dekan itu telah membaca surat saudaraku.
-قرأ العميد رسالة ابن أخي
Dekan itu telah membaca surat anak saudaraku.
-قرأ أخي رسالة ابن العميد
Saudaraku telah membaca surat anak Dekan.
-قرأ ابن أخي رسالة العميد
Anak saudaraku telah membaca surat Dekan.
Makna kalimat di atas berbeda antara satu dengan lainnya, meskipun kata-kata yang digunakan sama, karena adanya perbedaan struktur kalimatnya. Jika makna kalimat-kalimat di atas amat berbeda antara satu dengan yang lainnya karena perbedaan strukturnya amat berjauhan, maka contoh berikut ini strukturnya sangat berdekatan maknanya. Meskipun demikian, makna yang ditimbulkannya juga berbeda antara kalimat yang satu dengan yang lainnya, misalnya:
– اشتري السيارة لونها احضر
– السيارة التي لونها أحمر اشتريتها أمس
saya beli mobil warnanya merah
Mobil yang warnanya merah itu saya beli kemarin
Letak perbedaan dua kalimat tersebut pada fokus informasi yang hendak disampaikan. Yang pertama, lebih fokus pada pemberitaan mobil yang telah dibeli, sementara yang kedua lebih fokus pada pemberitaan terhadap mobil yang warnanya merah.
Jika kalimat di atas berbeda maknanya karena perbedaan struktur, kalimat berikut ini strukturnya sama, tetapi penafsiran orang terhadap makna yang ditimbulkan dapat berbeda, misalnya:
Kalimat yang persis sama pun juga dapat berbeda maknanya, misalnya:
1- زيارة الأقارب مزعجة
Kunjungan kerabat mengejutkan, dapat ditafsirkan:
=زيارة الأقارب لي مزعجة لي
Kunjungan kerabat kepadaku mengejutkanku, atau:
= زيارة الأقارب لي مزعجة لهم
Kunjungan kerabat kepadaku mengejutkan mereka, atau:
=زيارتي للأقارب مزعجة لي
Kunjunganku pada keluarga mengejutkanku, atau:
=زيارتي للأقارب مزعجة لهم
Kunjunganku pada kerabat mengejutkan mereka.
Sumber perbedaan makna pada kalimat tersebut adalah adanya beberapa kata yang tidak disebut (mahzuf). Penafsiran terhadap yang mahzuf dapat berbeda tergantung si penafsir sesuai dengan pemahamannya terhadap situasi dan kondisi munculnya ungkapan tersebut. Begitu pula halnya dengan contoh berikut ini:
أنا لا أريد مساعدتك = أنا لا أريد أن أساعدك / أنا لا أريد أن تساعدني
Dapat ditafsirkan: Saya tidak ingin membantumu / Saya tidak ingin kamu membantuku
أنا لا أريد نصحك = أنا لا أريد أن أنصحك
/أنا لا أريد أن تنصحني
Dapat ditafsirkan: Saya tidak ingin menasihatimu / Saya tidak ingin kamu menasihatiku
Sumber perbedaan makna pada kalimat tersebut adalah idlofah pada kata مساعدتك dan نصحك adalah bahwa dlamir mukhatab ( ك ). Persoalannya apakah pada posisi maf’ul bih atau fa’il. Dengan kata lain: ada dua kemungkinan idlafat al-mashdar ila maf’ulih atau idlafat al-mashdar ila al-fa’ilih.
أخبر صالح عليا أنه ناجح = أخبر صالح عليا أن صالحا ناجح
/ أخبر صالح عليا أن عليا ناجح
Dapat ditafsirkan: Saleh memberi tahu Ali bahwa dia ( Saleh / Ali) lulus
Sumber masalahnya adalah marji’ dlamir sama-sama muzakkar
الطالب الذكي أخوه ناجح = (الطالب الذكي) (أخوه ناجح)/ الطالب الذكي أخوه) (ناجح
Saudara mahasiswa yang cerdas itu lulus / Mahasiswa yang saudaranya cerdas itu lulus.
Sumber masalahnya apakah kata أخوه merupakan khabar mubtada’ atau fa’il dari kata sebelumnya. Contoh-contoh di atas menegaskan bahwa pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam suatu kalimat atau teks menuntut pemahaman terhadap konteks yang melatarbelakangi munculnya kalimat atau teks tersebut.
Kalimat yang sama dapat berbeda maknanya karena perbedaan intonasi pengucapan, konteks, situasi dan kondisi pembicaraan. Dalam konteks atau kondisi tertentuالجو حار ( Hawanya panas), dapat diartikan sebagai penyampaian informasi cuaca. Dalam kondisi lain, dapat diartikan sebagai permintaan minum atau agar AC dihidupkan, jendela dibuka, dan sebagainya. Kata هل فهمت؟ (Apakah anda paham?) dapat ditafsirkan bermacam-macam sesuai dengan nada atau intonasi pengucapannya, misalnya sebagai pertanyaan, atau umpatan, tergantung pada intonasi pengucapan, situasi dan kondisi saat munculnya ungkapan ini. Begitu pula kalimat:
أخي الصغير هو الآول في فصله
= Saudaraku adalah yang pertama di kelasnya
Siapa yang dimaksud dengan “saudaraku” itu? Apa pula yang dimaksud “yang pertama” dalam kalimat di atas? Tidak dapat dipastikan maknanya, jika siapa pembicaranya, kapan dia berbicara serta konteks situasi dan kondisinya tidak diketahui. Dalam hal ini, perlu dibedakan antara al-jumlah dan al-qaul. Yang pertama merupakan kalimat yang lepas dari konteksnya, yang kedua adalah kalimat yang diucapkan terkait dengan konteks tertentu. Maka melalui penelusuran konteks situasi dan kondisi munculnya al-qaul tersebut, apa yang dimaksud oleh pembicara dapat dipahami dengan lebih baik. Tetapi apakah dengan cara ini dapat dijamin bahwa apa yang dimaksud oleh pembicara (makna yang terkandung) dapat diketahui dengan pasti? Belum bisa juga, karena adanya kemungkinan keterbatasan dalam kemampuan penelusuran konteks situasi dan kondisi yang sebenarnya, atau pembicaranya bersandiwara: apa yang diucapkan tidak seperti yang ada dalam hatinya, atau sebab yang lain. Betapapun juga makna yang sebenarnya itu amat tersembunyi.
Sebagai disiplin ilmu yang mengkaji masalah makna, maka yang menjadi obyek kajian ilmu dalalah adalah:
1. Aspek intonasi (suara)
2. Aspek bentuk kata (sighah sharfiyyah)
3. Aspek makna kata (al-ma’na al-mu’jami)
4. Aspek struktur kalimat
5. Aspek ungkapan yang terkait erat dengan budaya penutur dan terkadang tidak dapat diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa lain.
Beberapa pemikiran tentang makna di kalangan ahli bahasa Arab
1. Ibnu Jinny (322-392 H)
Dia adalah Abu al-Fath Utsman bin Jinny yang lebih dikenal dengan Ibnu Jinny. Seorang ahli nahwu besar, lahir dan dibesarkan di Mosul. Ia belajar pada al-Akhfasy, juga Abu Ali al-Farisi yang amat besar jasanya dalam membentuk kepakarannya dalam bidang sastra dan tatabahasa Arab, yaki nahwu dan sharaf. Ia dikenal dekat dengan al-Mutanabbi, bahkan sebagai orang pertama yang mensyarahi diwan al-mutanabbi. Teori yang dikemukakannya antara lain:
a.    Isytiqaq Kabir
Isytiqaq ada dua macam, shaghir dan kabir. Yang pertama (isytiqaq shaghir) dikaji dalam ilmu sharaf , misalnya isim fa’il atau isim maf’ul yang diambil dari masdarnya seprti قائل dan مقول dari kata قول . Yang kedua (isytiqaq kabir) dikaji dalam fiqh lughah. Menurut Ibnu Jinni, kata-kata dalam bahasa Arab yang berasal dari tiga huruf yang sama meskipun urutan hurufnya berbeda memiliki makna umum yang sama. Misalnya kata-kata berikut ini : جبر
– جرب- بجر- – ربج برج – رجب
mempunyai makna umum yang sama yakni القوة والشدة (kekuatan dan kekerasan ).
b.Tashaqub al-alfaz litashaqub al-ma’ani
تصاقب الألفاظ لتصاقب المعاني
yang intinya adalah bahwa kata yang hurufnya berdekatan (tidak sama persis) maka maknanya juga berdekatan, misalnya: هزّ ؛ أزّ yang artinya القلق ؛ الإزعاج yakni mengejutkan dan kegelisahan, قطف ؛ قطع juga mempunya arti yang berdekatan yakni memotong dan memetik.
Maka dalam memahami esensi makna kata perkata dapat dilakukan penelusuran terhadap kata-kata lain yang huruf-hurufnya sama atau berdekatan.
C. Dalalah oleh Ibnu Jinni dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Dalalah lafziyyah, yaitu makna yang ditimbulkan oleh lafal atau suara dari kata tersebut, misalnya ضرب menunjukkan suara pukulan (tentunya untuk kata-kata yang berasal dari peniruan suara, atau intonasi untuk kata yang bukan berasal dari peniruan suara).
2. Dalalah shinaiyyah, yaitu makna yang dipengaruhi oleh bentuk kata atau shigah, dalam bentuk madly menunjukkan adanya perbuatan dan waktu perbuatan tersebut . Perbedaan antara kata صابر dan صبور , yang pertama berarti orang yang sabar, yang kedua berarti orang yang sangat sabar. Perbedaan makna ini disebabkan oleh perbedaan shighah.
3. Dalalah ma’nawiyyah, yaitu makna terjadinya pemukulan oleh pemukul terhadap terpukul,
yakni penyampaian gagasan (fikrah) melalui simbol bahasa.
2. ‘Abd al-Qahir al-Jurjani dan teori an-nazm (w. 471 H)
Ia dilahirkan di Jurjan, suatu kota terkenal di Tibristan awal abad 15 H. Sejak kecil ia sudah mencintai ilmu. Ia mempelajari nahwu, sastra dan fiqh. Ia berguru, antara lain, pada Sibawaih, al-Jahiz, al-Mubarrad, Ibnu Duraid. Ia dikenal sebagai salah satu muassis ilmu balaghah, banyak menulis tentang balaghah. Di antara karyanya yang terkenal adalah Dalail al-I’jaz dan Asrar al-Balaghah
Lafal adalah wadah bagi makna, maka lafal akan mengikuti makna. Jika suatu makna itu muncul pertama kali pada diri seseorang, maka begitu pula ia akan muncul pertama kali dalam ucapan.
إن الألفاظ إذا كانت أوعية للمعاني فإنها لا محالة تتبع المعاني في مواقعها. فإذا وجب لمعنى أن يكون أولا في النفس وجب اللفظ الدال عليه أن يكون مثله أولا في النطق
Jika lafal merupakan wadah bagi makna, maka sudah barang tentu lafal akan mengikuti makna pada posisinya masing-masing. Jika posisi makna yang ada dalam diri seseorang berada pada posisi pertama, maka demikian pula halnya lafal yang diungkapkan untuk menunjukkan makna tersebut juga pertama diucapkannya.
Sebagai contoh terkait dengan perbedaan susunan kata pada kalimat-kalimat berikut ini ( kata-kata أنا؛ زيد ؛ ضرب ) letaknya berbeda pada masing-masing kalimat, hal itu menyebabkan
perbedaan makna, seperti berikut ini:
ما ضربت زيدا
Saya tidak memukul Zaid, (tetapi mungkin ada orang lain yang memukulnya, dan mungkin juga tak ada sama sekali yang memukulnya)
ما زيدا ضربت
Saya tidak memukul Zaid, (tapi saya memang memukul selain dia )
ما أنا ضربت زيدا
Saya tidak memukul Zaid.(Kenyataannya, Zaid telah dipukul seseorang tapi bukan saya yang memukulnya).
أجاءك رجل
Kalimat di atas menanyakan tentang peristiwa (datangnya) seseorang.
أرجل جاءك؟
Kalimat di atas menanyakan tentang seseorang (laki-laki atau perempuan) yang dating.
Dengan kata lain, teori nazm ini menegaskan bahwa perbedaan struktur kalimat akan membawa perubahan makna, karena lafal itu wadah bagi makna, berbeda wadah, berbeda makna pula. Oleh karena itu, perubahan struktur lafal (kalimat) akan membawa perubahan makna.
Teori yang dikemukakannya terkait erat dengan nahwu tetapi tidak hanya berhenti pada struktur luar (البناء الخارجي), melainkan masuk ke dimensi yang lebih dalam lagi, yakni makna yang ada di balik struktur tersebut (البناء الباطني) .
3. Al-Jahiz (159-255 H)
Dia adalah Abu Utsman ‘Amr bin Bahr, lahir dan wafat di Basrah salah seorang sastrawan besar di masa Abbasi. Di antara karangannya adalah kitab al-hayawan . Makna (gagasan) yang ada dalam benak orang itu, menurut al-Jahiz, amat sangat tersembunyi dan makna itu berbeda dengan lafal. Makna terhampar luas tanpa batas, sementara tanda-tanda yang menunjukkan makna itu sangat terbatas. Artinya, bahwa makna yang disampaikan oleh penulis atau pembicara tidak dapat dijamin sama dengan makna yang diterima oleh pembaca atau pendengar. Ada banyak faktor yang menjadikan terjadinya perbedaan itu.
Menurutnya al-Jahiz, ada lima macam tanda yang menunjukkan makna, yaitu:
a. Lafal(اللفظ) , yakni apa yang diucapkan oleh seseorang
b. Isyarat (الإشارة), misalnya dengan tangan, kepala, mata dan sebagainya;
c. Tulisan(الخط), berbagai macam model tulisan dibuat adalah untuk menyampaikan makna.
d.  ‘Aqd (العقد)(tanda yang menunjukkan keagungan) seperti pada surat ar-Rahman:
الرحمن علم القرآن خلق الإنسان علمه البيان. الشمس والقمر بحسبان
e. Nishbah ( النصبة ), yakni suatu keadaan yang berbicara tanpa kata dan menunjuk tanpa tangan, tampak jelas seperti penciptaan alam semesta yang menunjukkan adanya Sang Maha Pencipta
Masalah makna dalam kajian Islam
Ketika Rasulullah saw masih hidup, segala persoalan keagamaan yang muncul dapat ditanyakan langsung kepadanya. Setelah wafatnya, maka jawaban dari persoalan tersebut dicari melalui pemahaman terhadap teks al-Qur’an maupun periwayatan hadis atau teks hadis setelah masa pembukuannya.. Oleh karena itu, ilmu yang diperlukan untuk memahami teks menjadi amat penting dalam kajian keislaman. Ilmu nahwu, sharaf, balaghah muncul karena kebutuhan untuk memahami nash atau teks al-Qur’an maupun hadis. Ilmu terkait asbab nuzul juga diperlukan untuk memahami nash al-Qur’an, begitu pula asbab wurud untuk memahami hadis. Kesemuanya diperlukan untuk membantu pemahaman terhadap nash atau teks al-Qur’an. Kajian tafsir, fiqh, kalam semuanya memerlukan ilmu-ilmu tersebut, di samping kaidah-kaidah ushul fiqh, dan usul tafsir, sebab sebagai suatu system, bahasa bahasa bersifat bidimensional yakni berhubungan dengan system lain di luar dirinya, termasuk di dalamnya system sosial dan budaya penuturnya.
Kebutuhan terhadap ilmu untuk memahami makna teks telah muncul sejak masa sahabat. Misalnya, sahabat Umar pernah menanyakan makna dari ayat 266 surat al-Baqarah kepada Ibnu Abbas. Menurut sebuah riwayat, sahabat Umar bertanya kepada Ibnu Abbas tentang yang dimaksud oleh ayat:
أيودّ أحدكم أن تكون له جنة من نخيل وأعناب تجري من تحتها الانهار له فيها من كل الثمرات وأصابه الكبر وله ذرية ضعفاء فأصابها إعصار فيه نار فاحترقت
Kemudian Ibnu Abbas yang berada di belakang menyampaikan pendapatnya bahwa yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah: “Adakah ada di antara kalian yang ingin menggunakan umurnya untuk berbuat kebaikan, akan tetapi ketika ia harus menutup amalnya dengan perbuatan baik karena ajalnya sudah dekat, justeru melakukan perbuatan celaka sehingga merusak semua amalnya dan melenyapkannya ketika ia sangat memerlukannya. Dengan kata lain, apa yang tersirat berbeda dengan yang tersurat. Memang konteks ayat tersebut secara umum tidak keluar dari apa yang dikemukakakan oleh Ibnu Abbas di atas.
Kesadaran akan adanya keragaman makna suatu teks juga ada pada Muqatil bin Sulaiman (w 150 H) yang menulis buku al-alsybah wa an-nazair tentang berbagai kemungkinan arti lafal, dan ungkapan dalam al-Qur’an sesuai dengan konteks masing-masing ayatnya. Begitu pula al-Farra (w. 207 H) dalam bukunya Ma’ani al-Qur’an dan Abu Ubaidah Mu’ammar al-Musanna (w. 215H) dalam bukunya Majaz al-Qur’an semuanya membahas masalah makna teks.
Dari sini dapat dikatakan bahwa kebutuhan untuk memahami makna teks dalam kajian keislaman muncul sejak umat Islam perlu memahami teks al-Qur’an, jelasnya setelah Rasulullah wafat. Adapun pemahaman makna secara umum dimulai sejak manusia menggunakan bahasa, sebab makna merupakan unsur terpenting dalam bahasa. Tanpa makna, bahasa tak berguna.
Persoalan lafal dan makna telah menjadi perdebatan panjang dan menarik perhatian lebih dari dua setengah abad, yakni masa kejayaan peradaban Islam, melibatkan para ahli kalam, balaghah, ushul fiqh terlebih lagi ahli bahasa. Di antaranya adalah al-Jahiz (w. 255 H), Abu Ali al-Jubba’I w.303 H), al-Jurjani w.471 H) dan masih banyak yang lain. Dalam menggali hukum dari al-Qur’an maupun sunnah, para mujtahid berupaya mencari makna teks dari sumber hukum tersebut. Persoalan yang muncul dalam hal itu, antara lain terkait dengan masalah makna kosa kata, apakah musytarak, haqiqah, majaz dan sebagainya, juga makna dari sebuah struktur kalimat atau ungkapan. Penafsiran sumber hukum memerlukan kemampuan memahami makna yang terkandung di dalamnya. Yang menjadi masalah adalah bahwa teks atau lafal yang sama terkadang, bahkan seringkali, dapat dipahami lebih dari satu pemahaman atau lebih dari satu makna. Dalam hal hubungan antara lafal dan makna ada dua macam metode yang ditempuh oleh para mujtahid dalam menggali makna dari sumber hukum. Meski istilahnya berbeda maksudnya sangat berdekatan, yaitu:
1. Metode kelompok Hanafiyyah yang memandang ada 4 cara untuk mengambil hukum dari sumbernya, yaitu: a)ibarat an-nash b)isyarat an-nash c) dalalat an-nash dan d) iqtidla an-nash. Menurut mereka, makna yang bisa yang dipahami melalui empat cara tersebut dapat dijadikan sebagai hujjah.
2. Metode kelompok jumhur, termasuk di dalamnya adalah kelompok Syafi’iyyah, memandang hanya ada dua cara pokok, tetapi masing-masing dari dua cara ini masih dibagai lagi. Dua cara utama tersebut adalah mantuq dan mafhum. Mantuq, terbagi menjadi sharih dan ghairu sharih. Mantuq sharih terbagi menjadi dua, yakni muthabaqah dan tadlmin. Sementara Mantuq ghairu sharih terbagi lagi menjadi: 1)dalalah isyarah; 2)dalalah iqtidla; dan dalalah ima’ dan b)Mafhum, terbagi menjadi dua: mafhum muwafaqah dan mafhum mukhalafah . Tulisan ini bukan hendak membahas masing-masing metode tersebut, melainkan hanya ingin mengemukakan keragaman upaya pencarian makna yang terkandung di dalam sebuah teks. Secara umum metode-metode tersebut membicarakan tentang cara pemahaman terhadap makna teks: apakah secara harfiyah, seperti yang tertera dalam teks tersebut (‘ibarah atau manthuq) atau tidak secara harfiyah (dengan istilah isyarah, mafhum dan lainnya). Cara yang dikemukakan oleh para ahli ushul fiqih ini adalah upaya pencarian makna teks al-Qur’n maupun hadis dengan pendekatan bayani, yakni hubungan antara lafal dan makna. Suatu hal yang perlu dicatat adalah bahwa yang dapat dijadikan hujjah adalah makna yang diambil melalui pendekatan bayani tersebut, sebagaimana dijelaskan di muka. Persoalannya adalah apakah pendekatan bayani ini mampu mengungkapkan makna sebagaimana adanya? Jika ya, mengapa teks yang sama dapat dipahami secara berbeda dengan pendekatan yang sama, yakni bayani ? Di sinilah persoalannya.
Perbedaan pendapat sekitar makna teks rupanya memang tidak dapat dihindari, karena teks itu sendiri terkadang dapat dipahami lebih dari satu makna. Ada banyak faktor yang menyebabkan demikian, antara lain, karena faktor-faktor watak bahasa itu sendiri yang multi tafsir, latar belakang mujtahid atau penafsir teks dan sosiokultural yang melingkupi penafsir. Oleh sebab itu, maka dalam pencarian makna teks tidak cukup hanya mengandalkan lafal atau teksnya saja, melainkan harus dilakukan secara konprehensif, melibatkan berbagai unsur terkait dengan berbagai konteks yang melingkupinya, karena makna itu ada dalam hubungan antara satu komponen dengan komponen-komponen yang lain dalam konteks tertentu.

Kesimpulan dan Penutup:
Dari pembicaraan di muka dapat disimpulkan beberapa hal, antara lain:
1. Kajian keislaman tidak dapat dilepaskan dari kajian tentang makna karena terkait dengan pemahaman terhadap teks al-Qur’an dan al-hadis sebagai sumber ajarannya.
2. Kontribusi Ibnu Jinni adalah dalam persoalan makna kata, al-Jurjani dalam persoalan struktur kalimat, dan al-Jahiz dalam persoalan makna secara umum, bahwa makna itu amat sangat tersembunyi.
4. Salah satu bukti betapa amat tersembunyi dan kompleksnya makna adalah bahwa penggalian terhadap sumber makna yang sama, hasilnya amat beragam, dengan munculnya berbagai mazhab dan aliran pemikiran dalam Islam.
5. Persoalan makna bukan sesuatu yang sederhana, maka diperlukan kajian yang multidimensi untuk menyingkap sebuah makna, karena sesungguhnya segala yang ada ini saling terkait sehingga untuk memahami makna suatu komponen harus juga melalui kajian terhadap komponen-komponen yang lain secara integratif-interkonektif. Kajian terhadap makna suatu teks menuntut kajian terhadap konteksnya dalam pengertian yang luas. Demikian, mudah-mudahan kajian ini ada manfaatnya.

Daftar pustaka

Aminuddin, Semantik, Pengantar Studi tentang Makna, (Bandung: Sinar Baru, 1988), hlm 37
al-Jabiri. M.Abid Binyat al-‘Aql al-Araby, dirasah Tahliliyyah Naqdiyyah li Nuzim al-Ma’rifah fi as-Saqafah al-‘Arabiyyah. (Bairut: al-Markaz as-Saqafi al-Arabi, 1991)
Mukhtar Umar, Ahmad. Ilm ad- dalalah. (Kairo: Alam al-Kutub, 1998, cet V, ) hlm 14

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s