Sejarah Islam dan Kebudayaan di Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

     Di mulainya masa islam setelah mundurnya kejayaan islam oleh dinasti abbasiyah, islam pun berkembang dan tersebar ke seluruh penjuru negeri sampai ke nusantara. Perkembangan tersebut sangat ekstrem ketika masuk ke nusantara dikarenakan berbagai corak agama yang sangat melekat pada setiap suku di sana. Di antaranya sebagaimana contoh ketika masuknya islam ke daerah Demak telah mengakibatkan kemunduran kerajaan majapahit. Hal tersebut terjadi, karena budaya yang berbeda dengan agama yang dianut kerajaan majapahit sebelumnya yang pada mulanya adalah Hindu dan Budha. Sehingga mengakibatkan hilangnya kepercayaan dari mayoritas penduduk yang masih teguh dengan kepercayaan mereka. Walupun tak sedikit dari golongan mereka yang akhirnya dengan berfikir rasional mereka menemukan bahwa islam merupakan agama yang patut di akui.

     Bila kita tilik dari contoh permasalahan di atas, membuat kami sebagai pemakalah ingin menuntaskan problematika tersebut pada makalah kami yang bertemakan “islam dan kebudayaan di indonesia” ini dengan penalaran yang rasional dan historis. Adapun isi makalah yang akan kami terangkan secara rasional yakni bagaimana kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, cipta masyarakat.karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat di abadikan untuk keperluan masyarakat.

     Selanjutnya pula akan kami sampaikan pada makalah kami ini tentang beberapa kebudayaan seperti halnya kebudayaan Hindu Budha, bahwasannya tidak hanya kebudayaan hindu dan budha kebudayaan Islam pun menimbulkan pengaruh yang besar. Masuknya pengaruh Islam jelas akan menambah khasanah budaya Indonesia. Oleh karena itu pengaruh agama Islam sulit untuk dihilangkan. Kebudayaan Islam menimbulkan pengaruh besar dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat mudah menerima pengaruh tersebut. Akibatnya timbulah berbagai macam corak kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Berbagai kebudayaan yang dihasilkan beraneka ragam seperti sastra, pertunjukan, masjid, makam, kaligrafi, seni pahat, sosial kemasyarakatan,upacara dan sistem pemerintahan.

 

 

B. Rumusan Masalah

     Ketika mencakup sebuah masalah tentang islam dan kebudayaan di indonesia, tentunya kita akan berfikir di manakah letak yang paling berpengaruh dalam perjalanan islam untuk memasuki sebuah negeri yang penduduknya kala itu masih sangat lekat dengan budaya mereka dan kepercayaan yang mereka anut. Dan kita pula tentunya akan memiliki banyak tanda tanya besar mengapa islam bisa masuk ke budaya indonesia. Seperti apakah budaya mereka sehingga mampu diterima secara lapang oleh para penduduk. Dan yang perlu di garis bawahi, bagaimana islam hingga saat ini masih sangat berpengaruh dan telah menjadikan mayoritas penduduk di indonesia menganut ajaran tersebut? Peninggalan apakah yang sampai saat ini masih terjaga sehingga begitu kuatnya islam di bumi pertiwi kita ini?.

C. Tujuan Makalah

     Dengan tema islam dan kebudayaan di Indonesia, kami harapkan pembaca dan teman – teman dapat mengambil manfaat dari makalah yang kami ajukan sebagai pelengkap nilai tugas kami pada mata pelajaran pengantar studi islam. Dan khususnya bagi pemakalah sendiri semoga bisa mengambil manfaat pula dari makalah yang kami ulas. Yakni dengan pemahaman yang dapat kami tangkap dari buku – buku pengantar dan sejarah islam ketika masuk ke indonesia. Dan yang paling utama tujuan kami ialah pembaca dapat mengkritisi dan menjadikan titik temu antara ilmu dan rasa ingin tahu pembaca.sehingga menghasilkan pengetahuan baru tentang apakah itu islam dan apakah itu kebudayaan?. Mengapa keduanya begitu sinkron dan lekat satu sama lain. Tetapi semuanya telah kami rangkum dalam makalah ini sehingga dari pembahasan ini semoga kita semua terutama kami selaku pemakalah mampu menjadi implementasi atau batu lonjakan untuk menuju pemahaman yang absolute dan universal.

     Demikian tujuan dari makalah kami dan sekaligus sebagai penutup dari pendahuluan yang dapat kami utarakan pada makalah ini. Mohon segala kekurangan dan kesalahan pada makalah menjadi intropeksi pemakalah. karena segala kebenaran hanyalah milik sang penguasa alam semesta. Dan adapun kami adalah sebagai pelengkap jalan dari pada kebenaran tuhan tersebut.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Islam dan Kebudayaan di Indonesia[1]

     Agama islam pertama masuk ke Indonesia melalui proses perdagangan, pendidikan, dll. Tokoh penyebar islam adalah walisongo antara lain; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim).

     Pada tahun 30 Hijriyah atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan R.A. mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

     Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

     Sampai dengan abad ke – 8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar – besaran. Baru pada abad ke – 9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan – kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja – raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke – 14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.

     Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan – pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa – bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke – 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah terutama Belanda menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

     Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke – 15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al – Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fatahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

     Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama – ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan – kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).[2]

B. Budaya Islam di Indonesia

     Budaya islam di indonesia tersebar melalui tiga kebudayaan adapun budaya – budaya tersebut hingga saat ini masih berjalan dan menjadi adat bagi penduduk khususnya pemeluk islam yang sangat percaya akan agama ini. Dan kebudayaan tersebut antara lain adalah:

1.  dulu ketika masa penjajahan dengan menunggu angin muson (6 bulan), pedagang mengadakan perkawinan dengan penduduk asli. Dari perkawinan itulah terjadi interaksi sosial yang menghantarkan Islam berkembang (masyarakat Islam). Dan kebudayaan ini adalah salah satu contoh kebudayaan yang hingga saat ini masih ada di kalangan masyarakat kita sekarang.

2.    Pembentukan masyarakat Islam dari tingkat ‘bawah’ dari rakyat lapisan bawah, kemudian berpengaruh ke kaum birokrat. Ini merupakan salah satu cara islam untuk memperkuat ikatan islam dalam memperjuangkan hakekat kebenaran islam. Sehingga tidak sampai dicaplok oleh para penjajah yang haus ataupun menjadi budak kolonial yang tak tahu perikemanusiaan.

3.    Gerakan Dakwah, dibagi melalui dua jalur yaitu:

a.  Ulama keliling menyebarkan agama Islam (dengan pendekatan Akulturasi dan Sinkretisasi / lambing – lambang budaya).

b.  Pendidikan pesantren (ngasu ilmu / perigi / sumur), melalui lembaga / sisitem pendidikan Pondok Pesantren, Kyai sebagai pemimpin, dan santri sebagai murid.

     Dari ketiga model perkembangan Islam itu, secara realitas Islam sangat diminati dan cepat berkembang di Indonesia. Meskipun demikian, intensitas pemahaman dan aktualisasi keberagaman islam bervariasi menurut kemampuan masyarakat dalam mencernanya.

     Ditemukan dalam sejarah, bahwa komunitas pesantren lebih intensif keberagamannya, dan memiliki hubungan komunikasi “ukhuwah” (persaudaraan / ikatan darah dan agama) yang kuat. Proses terjadinya hubungan “ukhuwah” itu menunjukkan bahwa dunia pesantren memiliki komunikasi dan kemudian menjadi tulang punggung dalam melawan kolonialisme.

C. Peninggalan Kerajaan Islam dan Contoh – Contohnya

     Islam tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Bukti keberadaan Islam itu dapat dilihat bukan saja dari para pemeluknya yang memiliki pengikut paling besar di Indonesia. Bukti historis dan arkeologis juga mendukung keberadaan Islam di Indonesia. Bukti historis dan arkeologis dapat dilihat pada budaya dan tradisi yang telah lama hidup dan berkembang pada masyarakat. Peninggalan Islam yang dapat kita saksikan hari ini merupakan perpaduan antara kebudayaan Islam dan kebudayaan setempat. Hasil-hasil kebudayaan yang bercorak Islam dapat kita temukan antara lain dalam bentuk bangunan (masjid, makam) dan seni.[3]

a. Peninggalan dalam Bentuk Bangunan

Bangunan yang menjadi ciri khas Islam antara lain ialah masjid, istana / keraton, dan makam (nisan).

1) Masjid

Masjid merupakan tempat salat umat Islam. Masjid tersebar di berbagai daerah.

Namun, biasanya masjid didirikan pada tepi barat alun-alun dekat istana. Alun-alun adalah tempat bertemunya rakyat dan rajanya. Masjid merupakan tempat bersatunya rakyat dan rajanya sebagai sesama mahkluk Illahi dengan Tuhan. Raja akan bertindak sebagai imam dalam memimpin salat.

     Bentuk dan ukuran masjid bermacam-macam. Namun, yang merupakan ciri khas sebuah masjid ialah atap (kubahnya). Masjid di Indonesia umumnya atap yang bersusun, makin ke atas makin kecil, dan tingkatan yang paling atas biasanya berbentuk limas.

Jumlah atapnya selalu ganjil. Bentuk ini mengingatkan kita pada bentuk atap candi yang denahnya bujur sangkar dan selalu bersusun serta puncak stupa yang adakalanya berbentuk susunan payung-payung yang terbuka. Dengan demikian, masjid dengan

bentuk seperti ini mendapat pengaruh dari Hindu-Buddha.

     Beberapa di antara masjid-masjid khas Indonesia memiliki menara, tempat muadzin menyuarakan adzan dan memukul bedug. Contohnya menara Masjid Kudus yang memiliki bentuk dan struktur bangunan yang mirip dengan bale kul-kul di Pura Taman Ayun. Kul-kul memiliki fungsi yang sama dengan menara, yakni memberi informasi atau tanda kepada masyarakat mengenai berbagai hal berkaitan dengan kegiatan suci atau yang lain dengan dipukulnya kul-kul dengan irama tertentu.

     Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk masjid, dapat kita lihat antara lain pada beberapa masjid berikut.

(1) Masjid Banten (bangun beratap tumpang)

(2) Masjid Demak (dibangun para wali)

(3) Masjid Kudus (memiliki menara yang bangun dasarnya serupa meru)

(4) Masjid Keraton Surakarta, Yogyakarta, Cirebon (beratap tumpang)

(5) Masjid Agung Pondok Tinggi (beratap tumpang)

(6) Masjid tua di Kotawaringin, Kalimantan Tengah (dibangun ulama penyebar siar pertama di Kalteng)

(7) Masjid Raya Aceh, Masjid Raya Deli (dibangun zaman Sultan Iskandar Muda)

2) Makam dan Nisan

     Makam memiliki daya tarik tersendiri karena merupakan hasil kebudayaan. Makam biasanya memiliki batu nisan. Di samping kebesaran nama orang yang dikebumikan pada makam tersebut, biasanya batu nisannya pun memiliki nilai budaya tinggi. Makam yang terkenal antara lain makam para anggota Walisongo dan makam raja-raja.

     Pada makam orang-orang penting atau terhormat didirikan sebuah rumah yang disebut cungkup atau kubah dalam bentuk yang sangat indah dan megah. Misalnya, makam Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan sunan-sunan besar yang lain.

     Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk makam dapat kita lihat antara lain pada beberapa makam berikut.

(1) Makam Sunan Langkat (di halaman dalam masjid Azisi, Langkat)

(2) Makam Walisongo

(3) Makam Imogiri (Yogyakarta)

(4) Makam Raja Gowa

Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk nisan dapat kita lihat antara lain pada beberapa nisan berikut.

(1) Di Leran, Gresik (Jawa timur) terdapat batu nisan bertuliskan bahasa dan huruf Arab, yang memuat keterangan tentang meninggalnya seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimun yang berangka tahun 475 Hijriah (1082 M);

(2) Di Sumatra (di pantai timur laut Aceh utara) ditemukan batu nisan Sultan Malik alsaleh yang berangka tahun 696 Hijriah (!297 M);

(3) Di Sulawesi Selatan, ditemukan batu nisan Sultan Hasanuddin;

(4) Di Banjarmasin, ditemukan batu nisan Sultan Suryana Syah; dan

(5) Batu nisan di Troloyo dan Trowulan.

b. Peninggalan dalam Bentuk Karya Seni

     Peninggalan Islam dapat juga kita temui dalam bentuk karya seni seperti seni ukir, seni pahat, seni pertunjukan, seni lukis, dan seni sastra. Seni ukir dan seni pahat ini dapat dijumpai pada masjid-masjid di Jepara. Seni pertunjukan berupa rebana dan tarian, misalnya tarian Seudati. Pada seni aksara, terdapat tulisan berupa huruf arab-melayu, yaitu tulisan arab yang tidak memakai tanda (harakat, biasa disebut arab gundul).

     Salah satu peninggalan Islam yang cukup menarik dalam seni tulis ialah kaligrafi. Kaligrafi adalah menggambar dengan menggunakan huruf-huruf arab. Kaligrafi dapat ditemukan pada makam Malik As-Saleh dari Samudra Pasai.

     Karya sastra yang dihasilkan cukup beragam. Para seniman muslim menghasilkan beberapa karya sastra antara lain berupa syair, hikayat, suluk, babad, dan kitab-kitab.

Syair banyak dihasilkan oleh penyair Islam, Hamzah Fansuri. Karyanya yang terkenal adalah Syair Dagang, Syair Perahu, Syair Si Burung Pangi, dan Syair Si Dang Fakir.

Syair-syair sejarah peninggalan Islam antara lain Syair Kompeni Walanda, Syair Perang Banjarmasin, dan Syair Himop. Syair-syair fiksi antara lain Syair Ikan Terumbuk dan Syair Ken Tambunan.

     Hikayat adalah karya sastra yang berisi cerita atau dongeng yang sering dikaitkan dengan tokoh sejarah. Peninggalan Islam berupa hikayat antara lain, Hikayat Raja Raja Pasai, Hikayat Si Miskin (Hikayat Marakarma), Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Hang Tuah, dan Hikayat Jauhar Manikam.

     Suluk adalah kitab-kitab yang berisi ajaran-ajaran tasawuf. Peninggalan Islam berupa suluk antara lain Suluk Wujil, Suluk Sunan Bonang, Suluk Sukarsa, Suluk Syarab al Asyiqin, dan Suluk Malang Sumirang.

     Babad adalah cerita sejarah tetapi banyak bercampur dengan mitos dan kepercayaan masyarakat yang kadang tidak masuk akal. Peninggalan Islam berupa babad antara lain Babad Tanah Jawi, Babad Sejarah Melayu (Salawat Ussalatin), Babad Raja-Raja Riau, Babad Demak, Babad Cirebon, Babad Gianti.

     Adapun kitab-kitab peninggalan Islam antara lain Kitab Manik Maya, Us-Salatin Kitab Sasana-Sunu, Kitab Nitisastra, Kitab Nitisruti, serta Sastra Gending karya Sultan Agung.

c. Peninggalan dalam Bentuk Adat

1.  Ziarah

     Yaitu kegiatan mengunjungi makam. Ziarah berkembang bersama dengan tradisi lain. Di Jawa, misalnya pengunjung di sebuah makam melaksankan ziarah dengan cara melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut adalah membaca Al Quran atau kalimat syahadat, berdoa, begadang untuk semadi, atau tidur dengan harapan memperoleh firasat dalam mimpi.

2.  Sedekah

     Acara keluarga dengan mengundang tetangga sekitar. Sedekah untuk peristiwa gembira disebut syukuran. Sedekah untuk peristiwa sedih atau meminta perlindungan, disebut selamatan. Sedekah meminta sesuatu disebut hajatan.

3.  Sekaten

     Yaitu perayaan Maulid Nabi Muhammad dalam budaya Jawa. Perayaan Sekaten dikenal di Yogyakarta, Surakarta, Jawa Timur, dan Cirebon.

4.  Upacara

     Gerebeg, upacara ini hanya dilakukan oleh Sultan / Sunan. Apabila dilihat dari tinjauan perayaan dan waktunya merupakan budaya Islam, tetapi pemakaian gunungan serta iringan gamelan merupakan budaya sebelumnya. Kenduri oleh Sultan tersebut dikeramatkan oleh sebagian penduduk yang yakin bahwa barokahnya sangat besar. Hal ini menunjukan bahwa kepercayaan animisme-dinamisme masih ada dalam masyarakat. Hal ini diperkuat dengan bersamaan waktunya dilakukan upacara pembersihan barang-barang pusaka keraton seperti senjata dan kereta. Upacara demikian diselenggarakan di Cirebon bertempat di kerajaan kasepuhan dan Kanoman yang dikenal sebagai panjang jamat, di kasultanan Yogyakarta untuk meminta berkah

d. Peninggalan dalam Bentuk Tata Negara dan Hubungan Masyarakat

1.  Sistem pemerintahan

     Sejalan dengan perkembangan melemahnya kekuasaan Sriwijaya, maka pedagang-pedagang Islam yang mungkin disertai para mubalig menggunakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dagang dan politik. Mereka mendukung berdirinya daerah-daerah yang menyatakan dirinya bercocok Islam misalnya Samodra Pasai dan merupakan  salah satu kerajaan Islam pertama di Indonesia. Pertumbuhan kerajan Islam semakin pesat  setelah runtuhnya Majapahit dan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis 1511. Kerajaan-kerajaan Islam pada umumnya tumbuh dan berkembang di daerah pantai, misalnya Demak, Gresik,  Tuban, Jepara, Pasuruan, Surabaya, Banten dll.

2.  Sosial masyarakat

     Keadaan sosial masyarakat sebelum Islam masuk menggunakan tradisi budaya pra-Hindu ada kecenderungan hanya menyentuh kelompok para raja  dan para bangsawan. Terlebih-lebih masyarakat pedesaan hidupnya tetap sebagai petani sedangkan masyarakat yang ada di daerah pantai tetap sebagai pedagang. Karena pengaruh Islam masuk melalui jalur perdagangan, maka daerah pantailah yang mengalami perubahan menjadi pelabuhan dagang atau kota dagang. Dalam masyarakat kota, baik kota pelabuhan maupun kota kerajaan dapat digolongkan menjadi empat golongan yaitu:

  • Golongan raja dan keluarganya
  • Golongan Elite, yaitu sekelompok masyarakat yang mempunyai kedudukan terkemuka di lingkungannya dan mempunyai martabat tinggi. Mereka terdiri dari golongan bangsawan, priyayi, tokoh agama.
  • Golongan non Elite, yaitu golongan masyarakat yang jumlahnya terbesar atau merupakan rakyat kebanyakan. Mereka terdiri dari para petani, pedagang, nelayan, seniman, prajurit dan sebagainya.
  • Golongan hamba sahaya, kelompok ini adalah kelompok masyarakat paling bawah disebut juga budak. Mereka mempunyai kedudukan ini karena beberapa faktor antara lain: seseorang yang tak mampu membayar hutang maka mereka menyerahkan kelurga ataupun dirinya untuk menjadi budak, para tawanan perang, dan diperoleh dari perdagangan budak.

     Pendidikan Agama Islam pada masa ini telah dijarkan pada anak-anak, dimana pada sore hari mereka diberikan pendidikan mengaji. Anak-anak datang kepada orang yang telah fasih membaca Al Quran untuk belajar membaca. Masa ini juga dikenal dengan pondok pesantren yang memiliki 3 elemen yaitu guru kyai, santri, dan masjid. Mereka belajar yang belajar pesantren dibedakan atas dua macam. Pertama santri kalong yaitu santri tempat guru lansung dari rumahnya karena jaraknya dekat, kedua santri mukim mereka adalah anak-anak dewasa yang karena tinggalnya jauh dari guru mengaji maka ia menetap di lingkungan pondok pesantren. Yang terakhir adalah yang paling berkesan karena mereka lebih banyak menggunakan wantu untuk  belajar di pesantren. Pengajaranya dilakukan dengan dua sistem yaitu sorongan dan bandongan. Sorongan adalah apabila seorang santri secara individual belajar pada kyai, ustadz, tertentu atau santri senior untuk membaca kitab agama, baik untuk tahap pengenalan atau pedalaman. Dalam sistem bandongan atau weton para santri belajar dari kyai atau ustadz. Mereka membentuk sebuah kelompok yang mengelilingi kyai atau ustadz yang membaca, menterjemahkan dan menjelaskan kitab agama tertentu dan secara berangsur sistem yang dipakai mengarah pada sistem klasikal dimana seorang ustadz menghadapi sekaligus santri dalam ukuran kelas.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

     Dalam kajian ilmu sejarah, tentang masuknya Islam di Indonesia masih “debatable”. Oleh karena itu perlu ada penjelasan lebih dahulu tentang pengertian “masuk”, antara lain:

  1. Dalam arti sentuhan (ada hubungan dan ada pemukiman Muslim).
  2. Dalam arti sudah berkembang adanya komunitas masyarakat Islam.
  3. Dalam arti sudah berdiri Islamic State (Negara / kerajaan Islam).

Selain itu juga masing – masing pendapat menggunakan berbagai sumber, baik dari arkeologi, beberapa tulisan dari sumber barat, dan timur. Disamping jika berkembang dari sudut pandang Eropa Sentrisme dan Indonesia Sentrisme.[4]

     Sehingga dapat kami simpulkan dari makalah kami bahwasannya islam dan kebudayaannya masuk dan tersebar di indonesia ini tidak dapat ditinjau semudah yang kita tahu ketika masih duduk di bangku SMA atau MA. Tetapi hal tersebut tergantung dari pengamat – pengamat sejarah bagaimana mereka melihat sebuah kejadian dari masa lampau. Oleh karena itu kita di sini hanya mampu mengambil titik tengah pembahasan saat ini ialah hanya mencakup kejelasan yang fakta dan masih berlaku hingga sekarang bagaimana kebudayaan islam ketika masuk ke indonesia.

     Salah satunya ialah mengetahui beberapa peninggalan yang masih terjaga hingga saat ini. Dan kebudayaan turun – temurun yang diajarkan oleh nenek moyang kita yang lekat dengan keagamaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Kuntowijoyo, 1994, Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, Yogyakarta; Shalahuddin Press.
  • Madjid, Nurcholish, 1995, Islam Agama Peradaban, Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah, Jakarta; Paramadina.
  • Abuddin Nata, 2003, Metodologi Studi Islam, Jakarta; Raja Grafindo Persada.
  • Rahman, Fazlur. 1997. Islam, terj. Ahsin Mohammad, Bandung: Pustaka.
  • Wahid, Abdurrahman. 1989. “Pribumisasi Islam” dalam Muntaha Azhari dan Abdul Mun’im Saleh (ed.), Islam Menatap Masa Depan, Jakarta: P3M.
  • Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2011, Pengantar Studi Islam, Surabaya; IAIN Sunan Ampel Press.


[1] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, ( Pengantar Studi Islam , Surabaya; IAIN Sunan Ampel Press, 2011).hlm. 237 – 239.

[2] Kuntowijoyo. (Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, Yogyakarta; Shalahuddin Press, 1994). hlm. 1 – 25

[3] Madjid, Nurcholish. (1995). Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah. Jakarta: Paramadina.

[4] Abuddin Nata, 2003, Metodologi Studi Islam, Jakarta; Raja Grafindo Persada.

About these ads

6 thoughts on “Sejarah Islam dan Kebudayaan di Indonesia

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s