Takhrij Hadist

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.Pengertian Takhrij Hadits

Secara bahasa takhrij hadits adalah:

اجتماع امرين متضا د ين في شيء واحد

     Artinya: ”kumpulan dua perkara yang saling berlawanan dalam satu masalah”[1]

     Sedangkan secara istilah,Takhrij adalah:

الدلالة على موضع الحد يث في مصا د رء الاصلية التى اخرجته بسند ه ثم بيا ن مرتبته عند الحاجة

     Artinya: ”Menunjukkan tempat hadits pada sumber-sumber aslinya ,di mana hadits tersebut telah di riwayatkan lengkap dengan sanadnya kemudian menjelaskan derajatnya jika di perlukan”.[2]

Sedangkan menurut istilah muhaditsin, takhrij diartikan dalam beberapa pengertian :
1.  Sinonim dari ikhraj, yakni seorang rawi mengutarakan suatu hadist dengan             menyebutkan sumber keluarnya (pemberita) hadist tersebut.

2.  Mengeluarkan hadist – hadist dari kitab – kitab, kemudian sanad-sanadnya            disebutkan.

3.  Menukil hadist dari kitab – kitab sumber (diwan hadist) dengan menyebut mudawinnya serta dijelaskan martabat hadistnya.

     Menyimak definisi di atas, dapat kami pahami bahwa kegiatan Takhrij Al – Hadits  adalah melacak dan menemukan hadits dalam kitab sumber hadits. Dengan demikian, apabila seorang pembaca atau peneliti menemukan hadits dalam kitab sumber hadits ( dalam sebuah buku bacaan ) dan di sana tercantum kalimat. Kemudian pembaca tersebut melacak dan menemukan dalam kitab hadits  Shahih Al – Bukhari, maka kegiatan ini termasuk takhrij hadits.

     Yang dimaksud  kitab sumber hadits adalah kitab-kitab hadits yang telah disusun oleh para penyusun kitab hadits lengkap dengan sanad – sanadnya sampai kepada nabi Muhammad saw, seperti kitab Shahih Al – Bukhari, muwatta’ Imam Malik dan lain sebagainya. Kitab – kitab koleksi hadits seperti Bulughul Maram bukan termasuk atau tidak terhitung  sebagai sumber hadits oleh karenanya menghimpun hadits – hadits yang sudah ditulis dalam kitab sumbernya. Demikian juga halnya dengan kitab Riyad Al-shalihin yang banyak dikaji di pesantren tidak termasuk kitab sumber hadits. Oleh sebab itulah kitab – kitab hadits yang bukan kitab sumber perlu di takhrij haditsnya, sebab tidak semua kitab koleksi hadits itu menjamin keshahihan nilai suatu hadits.

     Termasuk dalam kitab sumber hadits adalah kitab-kitab hadits pengikut (tabi’) seperti al-jami’  Bayn Al-sahihayn karya Al-humaidi, kitab-kitab atraf dan kitab-kitab ringkasan dari kitab sumber hadits.[3]

     Dari definisi di atas pula dapat kami pahami bahwa tentang obyek dan kegunaan kegiatan takhrij hadits ini adalah  hadits – hadits Nabi SAW yang tersebar dalam berbagai kitab sumber hadits memiliki kelengkapan yang berbeda sehingga kitab – kitab hadits yang bukan kitab sumber perlu di takhrij haditsnya.

 

B.Tujuan Takhrij

     Dalam melakukan takhrij tentunya ada tujuan yang ingin dicapai. Tujuan pokok dari Takhrij yang ingin dicapai seorang peneliti adalah:

  1. Mengetahui eksitensi suatu hadits apakah benar suatu hadits yang ingin diteliti       terdapat dalam buku-buku hadits atau tidak.
  2. Mengetahui sumber otentik suatu hadits dari buku hadits apa saja.
  3. Mengetahui ada berapa tempat hadits tersebut dengan sanad yang berbeda di dalam          sebuah buku hadits atau dalam  beberapa buku induk hadits.
  4. Mengetahui kualitas hadits (maqbul / diterima atau mardud / tertolak).[4]

 

C.Faedah dan Manfaat takhrij

     Faedah dan manfaat takhrij cukup banyak di antaranya yang dapat dipetik oleh yang melakukannya adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui referensi beberapa buku hadits, dengan takhrij seseorang dapat            mengetahui siapa perawi suatu hadits yag di teliti dan di dalam kitab hadits apa saja       hadits tersebut di dapatkan.
  2. Menghimpun sejumlah sanad hadits,dengan takhrij seseorang dapat menemukan    sebuah hadits yang akan diteliti di sebuah atau beberapa buku induk hadits.misalnya      terkadang di beberapa tempat di dalam  kitab Al-bukhari saja,atau di dalam kitab- kitab lain.Dengan demikian ia akan menghimpun sejumlah sanad.
  3. Mengetahui keadaan sanad yang bersambung dan yang terputus dan mengetahui kadar     kemampuan perawi dalam mengingat hadits serta kejujuran dalam periwayatan.
  4. Mengetahui status suatu hadits.Terkadang ditemukan sanad suatu hadits dha’if,tetapi       melalui sanad lain hukumnya shahih.
  5. Meningkatkan suatu hadits yang dhoif menjadi hasan li ghayrihi  karena adanya    dukungan sanad lain yang seimbang atau lebih tinggi kualitasnya.Atau meningkatkan        hadits hasan menjadi shahih li ghayrihi  dengan di temukannya sanad lain  yang   seimbang atau lebih tinggi kualitasnya.
  6. Mengetahui bagaimana para imam hadits menilai suatu kualitas hadits dan bagaimana        kritikan yang disampaikan.
  7. Seseorang yang melakukan takhrij dapat menghimpu beberapa sanad dan matan suatu       hadits.[5]

 

D.Metode Takhrij

Di dalam melakukan takhrij, ada lima metode yang dapat dijadikan sebagai pedoman, yaitu;

 

1. Takhrij Berdasarkan Perawi Sahabat

     Metode ini adalah metode dengan cara mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadits, adapun kitab-kitab pembantu dari metode ini adalah:

a.  Al-Masanid (musnad-musnad). Dalam kitab ini disebutkan hadits-hadits yang        diriwayatkan oleh setiap sahabat secara tersendiri. Selama kita sudah mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadits, maka kita mencari hadits tersebut dalam kitab ini   hingga mendapatkan petunjuk dalam satu musnad dari kumpulan musnad tersebut. Musnad yang dapat digunakan adalah; musnad Ahmad ibn Hanbal , Musnad         Dawud Al Tayalisi, Musnad Al Humaidi, Musnad Abu Hanifah, Musnad As Syafi’i, dsb.            Cara penggunaannya adalah; misalnya sahabat yang meriwayatkan hadits itu             bernama Ali, maka pencarian atau penelusuran dilakukan melalui huruf ‘ayn.[6]

b.  Kitab-kitab Al-Atraf. Kebanyakan kitab al-atraf disusun berdasarkan musnad-musnad        para sahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus. Jika seorang peneliti mengetahui bagian dari hadits itu, maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang           ditunjukkan oleh kitab-kitab al-atraf tadi untuk kemudian mengambil hadits secara lengkap. Di antara kitab-kitab Atraf yang dapat dipergunakan adalah; Atraf As      Shohihayn, karya Al Wasiti dan Al Dimashqi, Tuhfatul Al Ashrof bi Ma’rifat Al Atraf       karya Al Mizzi yang merupakan Syarah kitab Al Ashraf bi ma’rifat Al Atraf karya ibn             ‘Asakir, Ithaf Al Mahram bi Atraf Al ‘Ashrah karya Ibn Hajar Al Asqalani, dsb. Cara        penggunaan kitab ini seperti seperti cara menggunakan kitab musnad, artinya       disusun secara alfabetis Hija’iyah.[7]

c.  Al- ma`ajim (mu`jam-mu`jam). Susunan hadits di dalamnya berdasarkan urutan      musnad para sahabat atau syuyukh (guru-guru) sesuai huruf kamus hijaiyah. Dengan          mengetahui nama sahabat dapat memudahkan untuk merujuk haditsnya. Dan kitab        mu’jam yang dapat kita gunakan adalah; mu’jam Al Kabir, Mu’jam Al Awsat, dan           Mu’jam Al Saghir yang kesemuanya adalah karya Al Tabrani. Juga kitab Mu’jam As      Shahabah karya Al Mawasili, Mu’jam As Sahabh karya Al Hamdani, dsb. Dan cara           penggunaannya tidak jauh berbeda dengan kitab musnad dan kitab Atraf.[8]

     Kelebihan metode ini adalah bahwa proses takhrij dapat diperpendek. Akan tetapi, kelemahan dari metode ini adalah ia tidak dapat digunakan dengan baik, apabila perawih yang hendak diteliti itu tidak diketahui.[9]

 

2. Takhrij Melalui Lafadz Pertama Matan Hadits

     Metode ini sangat tergantung pada lafadz pertama matan hadits. Hadits-hadits dengan metode ini dikodifikasi berdasarkan lafadz pertamanya menurut urutan huruf hijaiyah. Misalnya, apabila akan men-takhrij hadits yang berbunyi;

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُرْعَةِ

Untuk mengetahui lafadz lengkap dari penggalan matan tersebut, langkah yang harus dilakukan adalah menelusuri penggalan matan itu pada urutan awal matan yang memuat penggalan matan yang dimaksud. Dalam kamus yang disusun oleh Muhammad fuad Abdul Baqi, penggalan hadits tersebut terdapat di halaman 2014. Bearti, lafadz yang dicari berada pada halaman 2014 juz IV.  Setelah diperiksa, bunyi lengkap matan hadits yang dicari adalah;

عَنْ اَ بِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاَلَ: لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِاالصُرْعَةِ اِنَّمَا الشَدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَالغَيْبِ

     Artinya: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda, “(Ukuran) orang yang kuat (perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam berkelahi, tetapi yang disebut sebagai orang yang kuat adalh orang yang mampu menguasai dirinya tatkala dia marah”.

     Metode ini mempunyai kelebihan dalam hal memberikan kemungkinan yang besar bagi seorang mukharrij untuk menemukan hadits-hadits yang dicari dengan cepat. Akan tetapi, metode ini juga mempunyai kelemahan yaitu, apabila terdapat kelainan atau perbedaan lafadz pertamanya sedikit saja, mak akan sulit unruk menemukan hadits yang dimaksud. Sebagai contoh ;

اِذاأَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَ خُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ

     Berdasarkan teks di atas, maka lafadz pertama dari hadits tersebut adalah iza atakum (اِذا اَتَاكُمْ). Namun, apabila yang diingat oleh mukharrij sebagai lafadz pertamanya adalah law atakum (لَوْ اَتَا كُمْ) atau iza ja’akum (اذاجَاءَكُمْ), maka hal tersebut tentu akan menyebabkan sulitnya menemukan hadits yang sedang dicari, karena adanya perbedaan lafadz pertamanya, meskipun ketiga lafadz tersebut mengandung arti yang sama.

 

3. Takhrij Melalui Kata-Kata dalam Matan Hadits

     Metode ini adalah metode yang berdasarkan pada kata-kata yang terdapat dalam matan hadits, baik berupa kata benda ataupun kata kerja. Dalam metode ini tidak digunakan huruf-huruf, tetapi yang dicantumkan adalah bagian haditsnya sehingga pencarian hadits-hadits yang dimaksud dapat diperoleh lebih cepat. Penggunaan metode ini akan lebih mudah manakala menitik beratkan pencarian hadits berdasarkan lafadz lafadznya yang asing dan jarang penggunaanya.

     Kitab yang berdasarkan metode ini di antaranya adalah kitab Al – Mu`jam Al – Mufahras li Al-faz Al – Hadit  An – Nabawi.[10] Kitab ini mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat di dalam Sembilan kitab induk hadits sebagaimana yaitu; Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Turmizi, Sunan Abu Daud, Sunan Nasa’i, Sunan Ibn Majah, Sunan Darimi, Muwaththa’ malik, dan Musnad Imam Ahmad.

     Contohnya pencarian hadits berikut;

اِنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ طَعَامِ الْمُتَبَارِيَيْنِ أَنْ يُؤْكَلَ

Dalam pencarian hadits di atas, pada dasrnya dapat ditelusuri melalui kata-kata naha (نَهَى) ta’am (طَعَام), yu’kal (يُؤْكَلْ) al-mutabariyaini (المُتَبَارِيَينِ). Akan tetapi dari sekian kata yang dapat dipergunakan, lebih dianjurkan untuk menggunakan kata al-mutabariyaini (المُتَبَارِيَيْنِ) karena kata tersebut jarang adanya. Menurut penelitian para ulama hadits, penggunaan kata tabara (تَبَارَى) di dalam kitab induk hadits (yang berjumlah Sembilan) hanya dua kali.

     Penggunaan metode ini dalam mentakhrij suatu hadits dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

     Langkah pertama, adalah menentukan kata kuncinya yaitu kata yang akan dipergunakan sebagai alatuntuk mencari hadits. Sebaiknya kata kunci yang dipilih adalah kata yang jarang dipakai, karena semakin bertambah asing kata tersebut akan semakin mudah proses pencarian hadits. Setelah itu, kata tersebut dikembalikan kepada bentuk dasarnya. Dan berdasarkan bentuk dasar tersebutdicarilah kata-kata itu di dalam kitab Mu’jammenurut urutannya secara abjad (huruf hijaiyah).

     Langkah kedua, adalah mencari bentuk kata kunci tadi sebagaimana yang terdapat di dalam hadits yang akan kita temukan melalui Mu’jam ini. Di bawah kata kunci tersebut akan ditemukan hadits yang sedang dicari dalam bentuk potongan-potongan hadits (tidak lengkap). Mengiringi hadits tersebut turut dicantumkan kitab-kitab yang menjadi sumber hadits itu yang dituliskan dalm bentuk kode-kode sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

     Metode ini memiliki beberapa kelebihan yaitu; Metode ini mempercepat pencarian hadits dan memungkinkan pencarian hadits melalui kata-kata apa saja yang terdapat dalam matan hadits. Selain itu, metode ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu; Terkadang suatu hadits tidak didapatkan dengan satu kata sehingga orang yang mencarinya harus menggunakan kata-kata lain.[11]

 

4. Takhrij Berdasarkan Tema Hadits

     Metode ini berdasrkan pada tema dari suatu hadits. Oleh karena itu untuk melakukan takhrij dengan metode ini, perlu terlebih dahulu disimpulkan tema dari suatu hadits yang akan di – takhrij dan kemudian baru mencarinya melalui tema itu pada kitab-kitab yang disusun menggunkan metode ini. Seringkali suatu hadits memiliki lebih dari satu tema. Dalam kasus yang demikian seorang men – takhrij harus mencarinya pada tema – tema yang mungkin dikandung oleh hadits tersebut. Contoh :

بُنِيَ الاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ انْ لاَاِلهَ اِلاَّ اللّهُ وانَّ مُحَمَّدّا رَسُوْلُ اللَّهِ وَاِقَامِ الصّلاَةِ وَايْتَاءِ الزَّكاَةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاّ

Dibangun Islam atas lima pondasi yaitu : Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, berpuasa bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

     Hadits diatas mengandung beberapa tema yaitu iman, tauhid, shalat, zakat, puasa dan haji. Berdasarkan tema-tema tersebut maka hadits diatas harus dicari didalam kitab-kitab hadits dibawah tema-tema tersebut. Cara ini banyak dibantu dengan kitab Miftah Kunuz As-Sunnah yang berisi daftar isi hadits yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan.

     Dari keterangan diatas jelaslah bahwa takhrij dengan metode ini sangat tergantung kepada pengenalan terhadap tema hadits. Untuk itu seorang mukharrij harus memiliki beberapa pengetahuan tentang kajian Islam secara umum dan kajian fiqih secara khusus.

     Metode ini memiliki kelebihan yaitu : Hanya menuntut pengetahuan akan kandungan hadits, tanpa memerlukan pengetahuan tentang lafadz pertamanya. Akan tetapi metode ini juga memiliki berbagai kelemahan, terutama apabila kandungan hadits sulit disimpulkan oleh seorang peneliti, sehingga dia tidak dapat menentukan temanya, maka metode ini tidak mungkin diterapkan.

 

5. Takhrij Berdasarkan Status Hadits

     Metode ini memperkenalkan suatu upaya baru yang telah dilakukan para ulama hadits dalam menyusun hadits-hadits, yaitu penghimpunan hadits berdasarkan statusnya. Karya-karya tersebut sangat membantu sekali dalam proses pencarian hadits berdasarkan statusnya, seperti hadits qudsi, hadits masyhur, hadits mursal dan lainnya. Seorang peneliti hadits dengan membuka kitab-kitab seperti diatas dia telah melakukan takhrij al hadits.

     Kelebihan metode ini dapat dilihat dari segi mudahnya proses takhrij. Hal ini karena sebagian besar hadits-hadits yang dimuat dalam kitab yang berdasarkan sifat-sifat hadits sangat sedikit, sehingga tidak memerlukan upaya yang rumit. Namun, karena cakupannya sangat terbatas, dengan sedikitnya hadits-hadits yang dimuat dalam karya-karya sejenis, hal ini sekaligus menjadi kelemahan dari metode ini.[12]

 

E. Pengenalan Kitab – Kitab Takhrij

     Dalam melakukan takhrij, seseorang memerlukan kitab-kitab tertentu yang dapat dijadikan pegangan atau pedoman sehingga dapat melakukan kegiatan takhrij secara mudah dan mencapai sasaran yang dituju. Diantara kitab-kitab yang dapat dijadikan pedoman dalam men – takhrij adalah: Usul al – Takhrij wa Dirasat Al – Asanid oleh Muhammad Al-Tahhan, Husul al-Tafrij bi Usul al-Takhrij oleh Ahmad ibn Muhammad al-Siddiq al- Gharami, Turuq Takhrij Hadits Rasul Allah Saw karya Abu Muhammad al-Mahdi ibn `Abd al-Qadir ibn `Abd al Hadi, Metodologi Penelitian Hadits Nabi oleh Syuhudi Ismail, dan lain-lain.

     Selain kitab-kitab di atas, di dalam men-takhrij diperlukan juga bantuan dari kitab-kitab kamus atau mu’jam hadits dan mu’jam para perawi hadits, diantaranya seperti:

  • AL-Mu`jam Al-Mufahras li Al-faz Al-Hadits An-Nabawi. Kitab ini memuat hadits-  hadits dari Sembilan kitab induk hadits seperti Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim,     Sunan Turmidzi, Sunan abu Daud, Sunan Nasa’i, Sunan ibn Majah, Sunan Darimi,           Muwaththa’ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad.
  • Miftah Kunuz al- Sunna. Kitab ini memuat hadits-hadits yang terdapat dalam empat          belas buah kitab, baik mengenai Sunnah maupun biografi Nabi. Yaitu selain dari             Sembilan kitab induk hadits yakni; musnad al – Tayalisi, Musnad Zaid ibn Ali ibn    Husein ibn Ali ibn Abi Talib, Al-Tabaqat al – Kubra, Sirah ibn Hisyam, Al – Magazi.

     Sedangkan kitab yang memuat biografi para perawi hadits diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Thahhan sebagai berikut:

a) Kitab yang memuat biografi sahabat

1.  Al – Istihab fi Ma`rifat al Asahab, oleh ibn ‘abd al – Barr al – Andalusi (w. 463      H/1071  M).

2.  Usud al-Ghabah fi Ma`rifat al-Sahabah, oleh Iz al-Din Abi al-Hasan Ali ibn           Muhammadibn Al-asir al-Jazari (w. 630 H/ 1232 M)

3.  Al-Ishabah fi Tamyizal-Sahabah, oleh Al-Hafiz ibn Hajar al-asqalani (w. 852 H/     1449).

b) Kitab – kitab Tabaqat yaitu kitab – kitab yang membahas biografi para perawi hadits berdasarkan tingkatan para perawi (tabaqat al-ruwat), seperti:

  1. Al-Tabaqat al-Kubra, oleh `Abdullah Muhammad ibn Sa`ad Khatibal – Waqidi (w.            230 H).
  2. Tazkirat al-Huffaz, karangan Abu `Abdullah Muhammad ibn Ahmad ibn Usman al-           Zahabi (w. 748 H/ 1348 M).

c) Kitab-kitab yang memuat para perawi hadits secara umum;

  1. Al-Tarikh al-Kabir, oleh Imam Al-Bukhari (w 256 H/870 M).
  2. Al-Jarh wa al-Ta`dil, karya ibn Abi Hatim (w 327 H).

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

     Dari uraian makalah yang penulis sajikan tentang Takhrij Al- Hadits, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.  Hadits Nabi dalam hirarki sumber pokok ajaran Islam yang menempati urutan kedua          sesudah al-Qur’an , namun dalam prakteknya sering bahkan dianggap sejajar dengan          al-Qur’an.

2. Takhrij al-Hadits merupakan suatu kegiatan penelusuran atau pencarian hadits dari berbagai sumbernya yang asli dengan mengemukakan matan serta sanadnya secara           lengkap untuk kemudian diteliti kualitas haditsnya.

3.  Kegunaan Takhrij al-Hadits untuk mengetahui asal-usul riwayat hadits, seluruh      riwayat hadits dan ada tidaknya syahid dan mutabi’ pada sanad hadits yang diteliti.

4.  Latar belakang Takhrij al-Hadits pada awalnya tidaklah begitu urgen karena           penguasaan para ulama terhadap sumber as-sunnah begitu luas. Namun dirasa   semakin urgen/penting ketika semangat belajar generasi berikutnya semakin lemah,           untuk mengetahui hadits yang dijadikan rujukan ilmu syar’i.

5.  Penerapan metode Takhrij al-Hadits secara garis besar dapat dibagi menjadi dua    yaitu: Penerapan media konvensional dan media elektronika atau komputer.

6.  Penerapan metode Takhrij al-Hadits memerlukan keseriusan agar memperoleh hasil            yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

     Demikian makalah yang dapat kami sajikan semoga bermanfa’at, saran dan kritik konstruktif sangat kami harapkan sebagai penyempurna makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Arif Jamaluddin Malik, S.Ag, 1999, Ulumul Hadits, Surabaya; Biro Penerbitan dan           Pengembangan Perpustakaan.
  • Al-Ittihafat al-Saniyyat fi al-Ahadits al-Qadsiyyah oleh al-Madani
  • Al-Mu`jam Al-Mufahras li Al-faz Al-Hadits An-Nabawi.
  • Al-Azhar al-Mutanasirah fi al-Akbar al-Mutawatirah karangan Al-Suyuthi
  • Al-Tahhan ,metode takhrij dan penelitian sanad hadits,ter,Ridlwan Nasir (surabaya:Bina   ilmu, 1995)
  • Biro penerbitan dan pengembangan perpustakaan IAIN sunan ampel           fak.syariah(surabaya,1999)


[1] Al-Tahhan ,metode takhrij dan penelitian sanad hadits,ter,Ridlwan Nasir (surabaya:Bina ilmu, 1995)

[2] Biro penerbitan dan pengembangan perpustakaan IAIN sunan ampel fak.syariah(surabaya,1999)

[3] ibid

[4] Arif Jamaluddin Malik, S. Ag, 1999, Ulumul Hadits, Surabaya; Biro Penerbitan dan Pengembangan Perpustakaan./ Hal. 57

[5] Ibid. 25-95.

[6] Arif Jamaluddin Malik, S. Ag, 1999, Ulumul Hadits, Surabaya; Biro Penerbitan dan Pengembangan Perpustakaan./ Hal. 57

[7] Arif Jamaluddin Malik, S. Ag, 1999, Ulumul Hadits, Surabaya; Biro Penerbitan dan Pengembangan Perpustakaan./ Hal. 57

[8] Arif Jamaluddin Malik, S. Ag, 1999, Ulumul Hadits, Surabaya; Biro Penerbitan dan Pengembangan Perpustakaan./ Hal. 57

[9] Al-Azhar al-Mutanasirah fi al-Akbar al-Mutawatirah karangan Al-Suyuthi

[10] Al-Mu`jam Al-Mufahras li Al-faz Al-Hadits An-Nabawi.

[11] Al-Ittihafat al-Saniyyat fi al-Ahadits al-Qadsiyyah oleh al-Madani

[12] Ibid. 64

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s