Linguistik Umum

BAB I

PENGERTIAN LINGUISTIK

 

  1. A.    Linguistik Umum (General Linguistik)

Mempunyai tujuan agar mahasiswa memiliki pengetahuan yang memadai mengenai bahasa dan ilmu bahasa.Sedangkan isi dri linguistik itu sendiri adalah sebagi berikut:

  1. Dimensi bahasa dan spesifikasi
  2. Paradigma dalam bahasa
  3. Dasar-dasar morfologi
  4. Morfologi
  5. Sintaksis
  6. Semantik
  7. Progmatik

Linguistik umum berasal dari bahasa inggris Linguistic yang artinya adalah “Ilmu Bahasa”, tetapi yang sering dipakai adalah linguistik karena 1.) Lebih Esfisien, 2.) Internasional (umum/universal), 3.) Keilmuan.

Linguistik termasuk disiplin ilmu yang sejajar dengan ilmu lain seperti: Fisika, Bahasa Inggris, Kimia, dll.

Tata bahasa tidak sama dengan ilmu bahasa

­   Tata bahasa adalah: Studi tentang aturan-aturan yang ada pada bahasa, hanya mendiskripsikan yang terdapat dalam suatu bahasa saja.

­   Ilmu bahasa adalah: Unsur yang terdapat pada sisitem suatu bahasa.

 

Bunyi bahasa ada 2:

  1. Speech sound: Lambang / simbol yang bersifat arbitrer.

Contoh => bunyi ayam, benda jatuh.

  1. Non Speech Sound: Hanya bunyi yang dihasilkan oleh alat wicara manusia yang mengandung makna.

Contoh => I Love You, Ich Liebe Dich.

Ada 2 bentuk bahasa yang dinalisis oleh Humbolat ( Jerman )

  1. Innece Sprache => Blach Box
  2. Avrzere Sprache            => yang menjadi objek studi linguistik

­   Pelopor General linguistics FD. Soussure membedakan 3 pengertian yaitu:

Langue          = Bahasa tertentu => B. Inggris,B. China,B. Jawa.

Parole                        = Bahasa yang masih mentah perlu dikaji dulu.

Contoh: w  r  8  b  l   lafal,logat,ucapan yang berbeda mengapa_mengafa, S_d

Linguist dan Ahli bahasa itu tidak sama (berbeda)

Linguis adalah: Orang yang benar-benar punya pengetahuan tentang bahasa

Ahli bahasa adalah: Orang yang menyukai/menguasai sejumlah bahasa .

Linguistis ialah: Mempunyai sifat-sifat yang berkenaan dengan bahasa.

Bentuk bahasa ada 2 yaitu:

  1. Bahasa lisan yang termasuk objek linguistik Primer.
  2. Bahasa Tulisan yang termasuk objek linguistik Sekunder.

Ortobiografi adalah: Tulisan dalam linguistik,

dan sebelum muncul tulisan dulu disebut dengan philologi.Philologi mempunyai khas yaitu objek studinya adalah bahasa-bahasa klasik (B. kuno), dan mempelajari bahasa yang berbentuk naskah.

Sedangkan ciri khusus linguistik adalah: objek studinya bahasayang masih hidup ( B. yang masih dipergunakan ).

  1. B.     Linguistik mempunyai fungsi sebagi berikut:
    1. Linguistik memberikan sumbangan terhadap berbagai persoalan berkaitan dengan kegiatan berbahasa.

Contoh: Bahasa dapat dikaji dan dipelajari hingga ditemukan sistem bahasa.

  1. Linguistik bisa berperankan mendiskripsikan bahasa sebagai sebuah sistem ilmu sehingga bisa diketahui linguistik itu berkenaan dengan bunyi bahasa dan linguistik sebagai sistem temuannya.

Contoh: Bunyi vokal dan konsonan,struktur kata/kalimat dan arti.

Linguistik sebagai sebuah sistem temuannya:

  1. Bunyi vokal dan konsonan.
  2. Sruktur kalimat/kata: Reduplikasi,majemuk.
  3. Arti ( dalam hal tertentu mempunyi keajekan = arti imbuhan ( men-, ber, ber-an, mer-i;saling berulang-ulang dll ).

 

  1. C.    PENTINGNYA BAHASA

Menurut Syamsuri (1982) menyatakan bahwa bahasa tidak terpisahkan dari manusia dalam setiap kegiatan.

Fungsi umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi antarmanusia.

Fungsi khusus bahasa:

  1. Fungsi personal

Untuk menyatakan diri atau mengaktualkan diri,mengaktulkan diri manusia ada 2:

  1. Perasaan: Menyatakan isi hati
  2. Pikiran: Logika
  • Fungsi interpersonal
  • Menyangkut hubungan antar penutur atau antar personal.

    Tujuannya: membina hubungan sosial antar pemakai bahasa.

    1. Fungsi Direktif

    Untuk mengatur orang lain

    Tujuan penutur:

    1. Dampak tindakan orang lain.
    2. Menyuruh orang lain.
    3. Memberikan saran untuk melakukan tindakan.
    4. Meminta sesuatu

    Menurut Fasold (1984) pemakai bahas Direktif membawa resiko penutur harus menyampaikan bentuk-bentuk bahasa yang sesuai,menganalisis situasi,dan memprediksi konteks sosial budaya yang berlaku.

    1. Fungsi Referensial

    Menampilkan suatu referen (benda yang disebut/ditunjuk) dengan menggunakan lambang bahasa,

    contohnya: Jika ingin membicarakan Maha Pecipta cukup dengan menggunakan lambang Allah.

    1. Fungsi Imajinatif

    Untuk meciptakan sutu imajinasi.

    contohnya: Prosa, puisi.

     

    1. D.    Ciri-ciri Khusus Linguistik:
    1. Linguistik is the science of language of it’s structure, Aquislhon, Relationship, to the other form of comunication.

    “Linguistik adalah ilmu bahasa”

    1. Linguistik is the study of human speech including the units, structure, nature and modification of language.

    Yang telah ditelaah linguistik bukan bahasanya makhluk lain tapi bahasa manis yang termasuk didalamnya adalah bahasa memiliki satuan-satuan , susunannya, hakikatnya, perubahan bahasa seperti fonem, morfem, kata frase, relausa.

    1. Linguistik is the scientific study of language.

    Linguistik merupakan kajian terhadap bahasa yang dilakukan secara utuh.

     

    1. E.     FILOLOGI

    “Filologi” ( inggris philologi, perancis philologie) sebabnya ialah bahwa dulu,terutama dalam abad ke-19 para ahlibahasa sering menyelidiki masa lampau dari bahasa-bahasa tertentu.(inggris,jerman,latin)dengan tujuan menafsirkan naskah-naskah kuno para sarjana bahasa pada zaman itu menyelidiki pula yang bermacam-macam diantara bahasa-bahasa serumpun.

    Dewasa ini Filologi diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki masa kuno dari sesuatu bahasa berdasarkan dokumen –dokumen tertulis.

    Jadi ahli bahasa kuno, misalnya tak perlu menhjadi spesialis ligustik, sebagai ahli fosiologi cukuplah ia.

     

    1. F.     Evaluasi soal-soal:
    1. Apa yang dimaksud dengan linguistik?
    2. Sebutkan beberapa bunyi bahasa?
    3. Sebutkan fungsi-fungsi dari linguistik?
    4. Sebutkan bentuk-bentuk bahasa?
    5. Apa pengertian dari Ortografi & Philologi?
    6. Sebutkan beberapa fungsi khusus bahasa?Jelaskan!

    BAB II

    BEBERAPA BIDANG DALAM ILMU LINGUISTIK

     

    1. A.    Pembagian Linguistik atas Berbagai Bidang

    Dewasa ini tidak ada persetujuan diantara ahli linguistik bagaimana pembaian bidang-bidangnya. Diantara bidang yang dibedakan kita jumpai linguistik antropologis yaitu cara penyelidikan linguistik yang dimanfaatkan oleh ahli antropologi budaya, linguistik sosiologis atau sosiolinguistik, linguistik komputasional.

    1. Antropologi berarti      :     “Study ilmu bahasa yang dihubungkan dengan perkembangan umat manusia.
    2. Sosiolinguistik berarti      :  Study ilmu bahasa yang dihubugkan dengna kehidupan kemasyarakatan.

     

    1. B.     Linguistik Sinkronis dan Linguistik Diakronis

    Kedua bahasa itu berasal dari Sausure

    1. Linguistik Diakronis berasal dari bahasa Yunani dia berarti “Melalui” dan khronos yang berarti waktu (masa) penyelidikan tentang perkembangan suatu bahasa.

    Misalnya : Bahasa Indonesia sekarang berlainan dari bahasa klasik dan berlainan juga dari bahasa melayu kuno yag tertulis pada prasasti-prasasti kedudukan bukit kalang tuwodan kota kapur.

    1. Linguistik Sinkronis berasal dari Yunani Syin yang berarti “dengan” berarti juga bersama dan khronos yang berarti “waktu” berlainan bidangnya dengan linguistik diakronis atau menganalisis suatu bahasa tanap memperhatikan perkembangannya.

    Misalnya : B. Indonesia atau B. Ingrris masing-masing dapat dianalisis tanpa memperhatikan perkembangan bahasa melayu klasik atau bahasa aklosakon atau menggeluti bahasa yang kita pakai sekarang.

    1. C.    Analisis Leksikal Gramatikal

    Menurut sistematiknya, dalam setiap bahasa dapat dibedakan antra tata bahasa atau gramatical bahsa itu dan perbendaharaan kata atau leksikan dalam bahasa yang sama. Oleh sebab itu analisa tata bahasa atau analisa gramatikal dibedakan dari analisa leksikan atau leksikologi, atau disebut juga analisa leksikal.

    Maka dri itu semantik (analisa makna) lazim dibedakan pula antara semantik gramatikal dan semantik leksikal.

     

    1. D.    Semantik

    Semantik adalah cabang sistem bahasa yang menyelidiki makna atau arti (dalam linguistik dua istilah itu lazimnya tidak dibedakan). Perbedaan leksikon dan gramatical menyebabkan bahwa semantik itu kita bedakan pula antara semantik gramatikal.

    a)    Semantik leksikal

    Sebuah kamus merupakan contoh yang tepat dari semantik leksikal setiap leksem, atau unsuk leksikal memiliki arti, atau makna tertentu, diuraikan untuk setiap kata (dalam bahasa tertentu) hal itu merupakan tugas ahli leksikologi dan leksikogiafi.

    b)    Semantik maksud

    Apakah segala maksud yang 6 berbeda dengan makna ujaran-ujaran yang kita ungkapkan mutlak termasuk semantik maksud? Pasti tidak selalu lihat itu mudah dimengerti. Contoh, saya berbicara dengan seorang teman. Saya senang menggoda dia. Mis saya katakan semantik maksud harus menyangkut bahasa, dalam hal metafora jelas menyangkut behasa, kadang-kadang sulit dibedakan maksud linggual dan maksud ekstralinggual, khususnya dalam lial nasa swara.

     

     

    1. E.     Fonetik, Fonologi, Morfologi, Sintaksis

    Dari ke 4 taraf tersebut morfologi dan sintaksis disebut tata bahas/gramatika/yang tertinggi dalam “hierarki” sedangkan yang lebih rendah yakni fonetik dan morfologi keadaannya tidak termasuk tata bahasa. Banyak ahli linguistik dewasa ini mengungkapkan fonetis termasuk dalam fonologi.

    Fonetik/ilmu bunyi menyelidiki bunyi terdapat dalam parole umpamanya fonetiklah yang merumuskan bahwa bunyi [d] dalam kata Indonesia tidak mempunyai aspirasi yang agak keras pada yang berbahasa jawa, dan tidak begitu keras atau sama sekali tidak pada ucapan orang didaerah lain nunyi l [t]. Dalam bahasa Inggris diberi aspirasi bila terdaapt pada amal dan diikuti sebuah vokal contoh yang pertama “TOP”. Contoh kedua “STOP”.

    Contoh perbedaan fungsional dasar bunyi-bunyi /r/ dan /i/ dalam bahasa Indonesia kedua bunyi diset (fonem) kita dapat mudah membuktikan dengan pasangan kata rupa dan lupa. Dalam bahasa Jepang perbedaan antara [r] dan [i] tidak fungsional karena tidak ada pasangan kata yang mengundang kedua bunyi itu yang dapat dipertentangkan jadi orang Jepang “mengacakkan” kedua bunyi tadi, tetapi sebetulnya tidak mengacakkan karena dari segi fungsional sama, dalam bahasa Indonesia perbedaan antara /r/ dan /i/ adalah perbedaan antar fonem, sedangkan bahasa Jepang perbedaan antara [r] dan [i] adalah perbedaan fonetis saja.

    Morfologi atau kata bentuk analisa bagian-bagian kata. Misalnya dalam bahasa Indonesia kata terduduk terdiri atas “morfem”, ter- dan “morfem” duduk. Inggris confortable terdiri atas confort dan –able. Uncorvortable terdiri atas un dan confort dan –able. Morfem itu disebut satuan gramatikan yang terkecil dalam sistematis bahasa. Misalnya (terduduk terdiri atas delapan fonem) tetapi fonem tidak merupakan satuan gramatikal fonologi tidak termasuk tatabahasa. Morfologi termasuk tata bahasa.

    Seperti morfologi menganalisa satuan gramatikal di dalam kata, demikian pula sintaksis (tata kalimat) menganalisa satuan gramatikal. Sebesar 1 atau daripada satu kata misalnya dalam kalimat Ahmad mengunjungi Amin. Ada macam-macam sentuhan “sintaksis” adalah kata sifat yang berasal dari kata benda “sintaksis” dan juga macam-macam hubungan diantara satuan macam-macam itu.

    Seperti sudah dinyatakan di atas keempat bidang yang disebutkan dalam judul pasal ini merupakan suatu “hierarki” atau sesuatu keseluruhan yang bertaraf. Diagram di bawah ini dapat menjelaskan berikut:

    Fungsional

     

    Tidak fungsional                  Fonetik               analisa bunyi di luar tata bahasa

     

    1. F.     Linguistik Teoritis dan Linguistik Terapan

    Linguistik sebagai ilmu pengetahuan membutuhkan suatu teori yang konsekuen. Linguistik teoritis adalah bila seorang ahli linguistik

    Memusatkan perhatiannya khusus pada pendirian suatu teori. Contohnya seorang ahli linguistik memberi uraian teoritis tentang kekerabatan bahasa austronesia dianggap telah mempunyai bahasa cukup tentang sistem bunyi sistem itu dan sebagainya. Dari bahasa-bahasa itu akan tetapi linguistik itu dapat dimanfaatkan untuk masalah praktis di luar linguis itu sendiri misalnya bagaimana mengatasi kesulitan dalam pengajaran suatu bahasa asing tersebut untuk sebagian tidak menyangkut bahasa. Misalnya umur siswa. Psikologi perkembangan pedagogik dan sebagainya. Linguis dapat dipakai untuk memudahkan soal-soal tadi lalu itu berarti menjadi linguis terapan.

     

    1. G.    Evaluasi Soal-soal:
    1. Apakah yang dimaksud dengan antropologi dan sosiolinguistik? Jelaskan!
    2. Apakah yang dimaksud dengan linguistik singkronis dan linguis diakronis?
    3. Jelaskan yang dimaksud dengan semantik?
    4. Coba jelaskan kembali istilah linguistik teoritis dan linguistik terapan?
    5. Apa yang ketahui menganai semantik leksikal dan semantik maksud?
    6. Kemukakan kembali menurut pendaptmu mengenai analisa leksikal dan gramatikal.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB III

    FONETIK

     

    1. A.    Ada Tiga Jenis Fonetik

    Fonetik dari bahasa Inggris : phonetics, kata sifat Indonesia “fonetis” berbeda dari “fonetik’ sebagai kata benda. Fonetik adalah penyelidikan bunyi-bunyi bahasa, tanpa memperlihatkan fungsinya untuk membedakan makna.

    Fonetik ada 3:

    1. Fonetik akustis

    Menyelidiki bunyi bahasa menurut aspek-aspek fisisnya sebagai getaran udara.

    Contoh : kita memtik gitar maka tali gitar akan bergetar, sehingga menyebabkan udara bergetar pula dan terjadilah bunyi yang dapat kita dengar.

    1. Fonetik auditoris

    Penyelidikan mengenai cara penerimaan bunyi-bunyi bahasa oleh telinga. Fonetik auditoris tidak banyak dikerjakan dalam hubungan dengan linguistik

    1. Fonetis organis

    Menyelidiki bagaimana bunyi-bunyi bahasa dihasilkan dengan alat-alat (“organ”) bicara (organs of speech) dan bidang ini penting sekali bagi linguistik.

     

     

     

     

     

     

    1. B.     Alat-Alat Bicara

    Hal pertama yang perlu diuraikan dalam fonetik organis ialah alat-alat bicara.

    1. Paru-paru (hings)
    2. Batang tenggorokan (trachea, wind pipe)
    3. Pangkal tenggorokan (larynx)
    4. Pita-pita suara (vokal chords)
    5. Rongga kerongkongan (pharynx)
    6. Akar lidah (root of the tongue)
    7. Pangkal lidah (back of the tongue medium)
    8. Tengah lidah (midlle of the tongoe, dorsum)
    9. Daun lidah (blade of the tongue)
    10. Ujung lidah (tip of the tongue)
    11. Anak tekak (uvuta)
    12. Langit-langit lunak, langit-langit tekak (soft plate, velum)
    13. Langit-langit keras (hard palate)
    14. Lengkung kaki gigi, gusi (alveolae, gums)
    15. Gigi atas (upper teeth)
    16. Gigi bawah (lower teeth)
    17. Bibir atas (upper lip)
    18. Bibir bawah (lower lip)
    19. Mulut (mouth)
    20. Rongga mulut (mouth cavity, oral cavity)
    21. Hidung (nose)
    22. Rongga hidung (nose cavity, oral cavity)

     

     

     

     

    1. C.    Cara Kerja Alat-Alat Bicara

    Udara dipompakan dari paru-paru melalui batang tenggorokan ke pangkal tengorok yang didalamnya terdapat pita-pita suara. Pita suara itu harus terbuka untuk memungkinkan arus udara keluar melalui rongga mulut, melalui rongga hidung/mellaui kedua-duanya, karena dalam batang tenggorokan untuk arus udara tidak ada jalan lain. Apabila udara keluar tanpa mengalami hambatan di sana sini, kita tidak mendengar apa-apa, bunyi bahasa dihasilkan hanya bila arus udara terhalang oleh alat bicara tertentu.

     

    1. D.    Konsonan dan Vokal

    Kita harus membedakan bunyi konsonan dan bunyi vokal. Dalam mngucapkan vokal erjadilah aliran sempit antara pita suara karena tempat diantara pita suara tidak lazim disebut artikulasi antara bahasa-bahasa di duania jarang sekali kita jumpai vokal yang tidak bersuara, vokal yang tidak bersuara itu disebut dengan vocoid. Pengucapannya terjadi dengan cara yang dapat dibandingkan dengan pengucapan vokal bila penutur membisik.

    Selain bunyi vokal dan konsonan kita juga mengenal apa yang disebut bunyi semo vokal/semi vowels yaitu [j], [w], dan [ŵ] sebenarnya termasuk konsonan tetapi kualitasnya tidak hanya ditetukan oleh alur sempit “kedua” tetapi juga oleh bangun mulut.

     

    1. E.     Beberapa Jenis Konsonan

    Menurut cara pengucapannya dapat dibedakan konsonan sebagai berikut:

    a)    (Bunyi) letupan (plasives, stops) yaitu bunyi yang dihasilkan dengan menghambat arus udara sama sekali ditempat artikulasi tertentu. Sesudahnya alat-alat bicara ditemapat artikulasi tersebut dilepaskan kembali. Bagian pertama disebut hambatan (implosi), bagian kedua disebut ketupan (eksplosi). Kedua taraf tersebut dapat terjadi diberbagai tempat artikulasi mis diantara bibir. Hasilnya letupan bilabial diantara ujung lidah dan langit-langit lunak hasilnya letupan apiko-velor.

    b)    Semua bunyi yang bukan letupan lazimnya disebut “kontinuan” (continuant). Bunyi kontinuan itu meliputi beberapa jenis, yaitu sengau, sampingan, paduan, geseran, dan aliran.

    c)    (Bunyi) sengau (nasals) yaitu bunyi yang dihasilkan dengan menutup arus udara keluar melalui rongga mulut tetapi membuka jalan agar dapat keluar melalui rongga hidung. Penutupan arus udara ke luar melalui rongga mulut dapat terjadi, antara kedua bibir, hasilnya bunyi (m) antara ujung lidah dan ceruk, hasilnya bunyi (n) antara tengah lidah dan langit-langit keras, hasilnya bunyi (nj) antara pangkal lidah dan langit-langit lunak, hasilnya (n).

    d)    (Bunyi) sampingan (laterals) yaitu bunyi yang dihasilkan dengna menghalangi arus udara sehingga keluar melalui sebelah/biasanya kedua sisi lidah. Tempat artikulasi adalah antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi, hasilnya bunyi (i).

    e)    (Bunyi) paduan atau afrikal (affricates) dihasilkan dengan menghambat arus udara disalah satu tempat artikulasi dimana bunyi letupan diartikulasikan, lalu dilepaskan secara “frikatie” artinya sehingga pada tempat artikulasi suatu aliran sempit dipertahankan,hasilnya bunyi geseran sebagai bagian kedua dari bunyi afrikat. Contoh (ťſ), (ď3), (ts).

    f)     (Bunyi) geseran atau frikatif (fricatives) adalah bunyi yng dihasilkan oleh alur yang amat sempit sehingga sebagian besar arus udara terhambat. Penghambatan bisa terjadi : antara pangkal lidah dan anak tekak, hasilnya bunyi (r) antara daun lidah dan langit-langit keras, hasilnya bunyi (s), (z); antara gigi atas dan bibir bawah hasilnya bunyi (f), (v); antara ujung lidah dan gigi atas hasilnya (Ĵ), (θ).

    g)    (Bunyi) getaran (trills) yaitu bunyi yang dihasilkan dengan mengartikulasikan ujung lidah pada lengkung kaki gigi. Jadi bunyi getar adalah suatu urutan dari “letupan” apiko-alveolar yang cepat sekali, sehingga ujung lidah menggeletar melawan lengkung kaki gigi dalam waktu yang sama dalam artikulasi konsonan. Contoh bunyi (r) dalam ucapan orang Indonesia.

    h)   (Bunyi) alir (liquids) yaitu bunyi yang dihasilkan dengan terbentuknya alur sempit antara pita-pita suara (jadi semua bunyi alir adalah konsonan bersuara) sehingga alur sempit yang kedua lidah ada. Tempat artikulasi dapat terjadi diantara bibir, hasilnya bunyi (m), diantara ujung lidah dan ceruk, hasilnya bunyi (n), (i) ; atau antara pangkal lidah dan langit-langit lunak, hasilnya bunyi (n).

    i)     Bunyi kembar atau geminat (geminates), yaitu konsonan yang terjadi dengna memperpanjangkannya kalau bunyi itu sesuatu kontinuan atau dengan memperpanjang waktu antara implosi dan eksplosi dalam hal bunyi letupan. Misalnya coppa (capa) (itali) ‘jubah’ : sonne (suńa).

     

    1. F.     Semi Vokal

    Semi vokal yang murni, bukan pula konsonan yangurni, tetapi secara praktis dianggap sebagai konsonan saja. Oleh sebab itu bunyi (j) kita sebut “semi vokal” vokal (u) merupakan vokal “bundar”. Maka dari itu (ŵ) adalah semi vokal.

    Catatan : bunyi (ŵ) adalah ((ŵ) yang ‘bundar’ artinya (ŵ) yang bilabial, tetapi bunyi (w) itu dapat diartikulasikan secara labiodental artinya bibir bawah didekatkan pada gigi atas, tetapi tidak sedemikian dekat sehingga menjadi bunyi (v).

     

    1. G.    Beberapa Jenis Vokal

    Ada beberapa cara untuk menggolongkan golongan bunyi-bunyi vokal.

    1. Menurut posisi lidah yang membentuk ruang resonansi. Vokal digolongkan atas : vokal depan (front vowels), vokal tengah (central vowels), dan vokal belakang (back vowels). Vokal depan dihasilkan dengan menggerakkan bagian belakang lidah ke arah langit-langit sehingga terbentuklah suatu rongga yang menjadi ruang resonantsi, antara bagian depan lidah dan langit-langit, misal vokal (e). Vokal tengah dihasilkan dengan menggerakkan bagian depan dan bagian diantara bagian tengah lidah dan langit-langit misal vokal (a).

    Vokal belakang dihasilkan dengan menggerakkan bagian depan lidah ke arah langit-langit sehingga terbentuklah suatu rongga sebagai resonansi antara bagian belakang lidah dan langit-langit misal vokal (o).

    1. Menurut posisi tinggi rendahnya lidah, vokal dogolongkan atas vokal tinggi (high vowels), vokal mady (mid vowels) dan vokal rendah (low vowels), contoh : vokal rendah (a) dari vokal madya (e) dari vokal tinggi (i)
    2. Menurut peranan bibir dapat kita bedakan antara vokal bundar (rounded vowels) dan vokal tak bundar (unrounded vowels).

    Contoh vokal tak bundar (i) bila vokal tersebut dibundarkan maka menjadi (ii).

    1. Menurut lamanya pengucapan vokal dengan mempertahankan posisi alat-alat bicara yang sama. Vokal dapat digolongkan atas vokal panjang (long vowels) dan vokal pendek (low vowels) lamanya itu sendiri disebut “kuantitas” (quantity).
    2. Menurut peranan rongga hidung, bedakan antara vokal sengau (nasal vowels) dan vokal mulut/vokal oral (oral vowels).
    3. H.    Vokal Rangkap Dua

    Vokal rangkap dua terdiri dari 2 bagian yang pertama dengan posisi lidah lain dibandingkan dengan posisinya pada yang kedua. Bila ada dua vokal, yaitu satu terdapat dalam satu suku kata dan yang kedua dalam suku kata berikutnya, maka tidak ada vokal rangkap dua. Contoh: dari diftong : (au) dalam kata Indonesia kalau, atau (ai) dalam kata Indonesia balai, tetapi (a) + (u) dalam kata Indonesia daun, atau (a) + (i) → air adalah contoh dari dua vokal “tunggal” diftong menurut perbedaan tinggi rendahnya dari unsur-unsurnya antara diftong yang “naik” dan yang turun.

     

    1. I.       Tulisan Fonetis

    Dalam buku-buku fonetik serta fonologi kita jumpai bermacam-macam sistem pelambangan bunyi sistem semacam itu selalu terdiri untuk sebagian atas sejumlah huruf biasa dari abjad latin (abjad yang juga dipakai dalam tulisan ortografik bahasa Indonesia, ditambah dengna tanda (atau “karakter” atau simbol) lain-lain.

    Sistem tulisan fonetis yang paling lazim dipakai adalah sistem dari international phonetik association.

     

    1. J.      Klasifikasi Vokal Tunggal

    Vocal-vocal tunggal (simple nowels) dapat diklasifikasikan dengan memperhatikan tinggi rendahnya dan posisinya dari belakang ke depan. Menurut para ahli fonetik vokal yang paling tinggi adalah yang paling depan pula dan yang paling belakang adalah paling rendah pula.

     

    1. K.    Suku Kata (Silabe)

    Suku kata atau silabe berasal dari bahasa Inggris syllable, kata sifatnya syllabic kata sifat Indonesia “silabe” adalah : satuan ritmis terkecil dalam arus ujaran puncak ritme atau irama itu sama dengan kenyaringan atau sonoritas. Yaitu pantulan suara yang dihasilkan, yang dimungkinkan oleh adanya ruang resonansi. (Resonance chamber). Agaknya hal ini akan menjadi lebih jelas apabila kita bandingkan dengan suara di kamar mandi, dinding kamar mandi itu mengakibatkan pemantulan yang mengembalikan suara yang kita keluarkan, sehingga suara itu menjadi nyaring. Dengan keterangan diatas kiranya jelas bahwa puncak silabe (syllabic sound atau syllable peak) biasanya adalah bunyi vokal, oleh karena bunyi vokallah yang paling banyak memanfaatkan rongga mulut, hidung dan kerongkongan sebagai ruang resonansi.

     

    1. L.     Titik Nada

    Dari sudut fonetik akustis aemua bunyi adalah getaran udara,dan makin tinggi frekuensi getaran itu lazimnya dihitung perdetik, makintinggi nada bunyi, nada bunyi bahasa yang paling mudah ditangkap oleh alat pendengaran ialah nada bunyi yang dihasilkan dengan pembentukan alur sempit antara pita-pita suara dan frekuensi getaran udara yang ditimbulkannya ditentukan oleh frekuensi getaran pita-pita suara ¯ ¯ istilah inggris (Titi) nada adalah Pitch Fariasi Titi nada yang menyertai seluruh kalimat atau bagian dari kalimat adalah intonasi atau intonation atau lagu atau melodi. Para ahli fonetik dan fonologi dalam menganalisa intonasi memakai istilah seperti nada “tinggi” high, “rendah” atau low, “sedang” (mid) tinggi rendahnya dibedakan menurut angka saja misal angka 1 sampai 4, contoh didalam klaimat apakah saudara sudah makan? Dalam analisa intonasinya sebagai berikut :

     

     

     

     

    Apakah saudara sudah makan?

    Perbedaan nada tidak absolut, artinya tidakmutlak perlu setiap penutur Indonesia memulai kalimat tanya tadi pada (mis), frekuensi 800 getaran perdetik. Yang penting adalah perbedaan relatif. Perbedaan relatif diantara nada-nada yang dipakai dalam intonasi dapat berbeda diantara bahasa-bahasa (mis. dalam bahasa Perancis nada yang tertinggidanyang terendah tidak terlalu berjauhan. dibandingkan dengan bahasa Inggris), demikian pula diantara dialek-dialek, dan diantara penutur bahasa individual

     

    1. M.   Tekanan dan Aksen

    Tekanan (Inggris. Stress) dan aksen (Accent) sulit sekali dibedakan. Kesulitan-kesulitan tersebut terdapat pula dalam fakta-fakta yang dinamai oleh istilah-istilah tersebut. Kesulitan tadi untuk sebagian adalah terminologis (terminologi = peristilahan), dan untuk sebagian berupa praktis yaitu menyangkut fakta-fakta. Istilah Inggris stree sering dipakai sebagi nama dari accent jadi stress dan Accent sama. Misalnya kaidah Prancis bahwa dalam setiap kata silabe terakhirnya diberi Stress dapat dirumuskan pula dengan istilah “Accent”

    Istilah “tekanan” kita pakai untuk apa yang dinamai sebagai “amplituso” dalam ilmu alam (dari kata latin Amplitudo lebarnya). Amplitudo adalah “lebarnya” getaran udara.

    Tekanan, seperti halnya dengan nada, adalah relatif, tidak absolut, sekarang mari kita ambil suatu contoh konkrit dari tekanan misalnya : Bila saya mau pergi ke Buru (maksudnya Pulau Buru), tetapi entah karena apa anda mendengar “Ke Boro” “Ke Buru” (menekankan keraas), tekanan disini, yaitu pengucapan kata-kata tersebut adalah ucapan dengan amplitudo yang lebih besar, tekanan disini disebut “tekanan Kontras” (………) Ke Buru, bukan Ke Boro.

     

    N. Evaluasi soal-soal

    1. Bagaimanakah cara bekerja alat-alat bicara?
    2. Ada berapakah jenis fonetis?
    3. Apa yang dimaksud dengan bunyi konsonan dan bunyi vokal?
    4. Sebutkan jenis-jenis konsonan dan bunyi vokal?
    5. Dari mana asal bunyi fonetis itu?
    6. Jelaskan pengertian dari suku kata syilable perbedaan tekanan dan aksen?
    7. Bagaimanakah cara kerja alat bicara?

     

     

    BAB IV

    FONOLOGI

     

    1. A.    Fonologi Sebagai Analisa Bunyi Secara “Fungsionil”

    Fonologi disebut phanology sebagai bidang khusus. Sejauh ini dapat dibuktikan fonologi mempunyai arti ialah sesuatu bunyi yang mempunyai fungsi untuk membedakan kata dari kata disebut juga dengan istilah fonem dengan perkataan lain sebagai penyelidikan. Tentang perbedaan minimal antara ujaran-ujaran, dan perbedaan minimal terdapat dalam perbedaan satu bunyi saja, dalam masing-masing kata itu yaitu masing-masing (l) dan (r) maka dari itu (l) dan (r) dalam bahasa Indonesia berbeda secara “fungsional” dalam arti tadi : dengan perkataan lain masing-masing / l / dan / r / merupakan fonem-fonem yang berbeda dalam bahasa Indo.

    Kepada contoh ini mari kita tambahkan beberapa yang lain, bunyi (r) dalam bahasa Inggris diberi sesuatu “asperasi” (bagaikan suatu bunyi) (h) yang amat singkat sesudahnya bila bunyi tersebut terdapat pada awal kata dan di ikuti oleh focal. Misal : kata Top, di ucapkan sebagai (thop) (posisi sedikit lebih ke atas lambang h menyatakan sigkatnya sebagai “aspirasi” tetapi (t) itu di lafalkan tanpa aspirasi tadi bila tidak terdapat pada awal kata. Misalnya stop diucapkan (stop), maka dari itu bunyi (t) dan bunyi (th) tak merupakan forum yang berbeda yang ada hanya fonem / t /. Setiap bahasa fonem-fonem jauh lebih kecil jumlahnya dari pada jumlah bunyi fonetis. Jumlah fonem dalam suatu bahasa Khasanah atau (infentory of phonemis) sudah jelas bahwa pengkhasanahan atau infentarisasi fonem dari suatu bahasa lebih menerangkan sistematis bunyi-bunyinya dari pada suatu inventaris semua bunyi fonetisnya. Dalam istilah ahli fonologi oposisi tadi juga diset kontras.

     

    Oposisi itu terbagi menjadi 2 :

    1. Oposisi langsung

    Dua fonem yang berbeda tidak pernah terdapat dalam pasangan minimal.

    Contoh fonem /h/dan /ŋ/tidak dapat dibuktikan oposisinya dalam pasangan minimal, karena kebetulan /h/ hanya terdapat awal kata dan /ŋ/ tidak pernah terdapat awal kata.

    1. Oposisi tidak langsung

    Dalam peristilahan indirec oposition /h/ dan /ŋ/ dalam Inggris tidak di kontraskan atau tidak berkontras. Perlu juga diketahui istilah fonologis “beban fungsionil” (functional load) makin banyak pasangan kata dibedakan secara minimal, makin “tinggi” pula “beban fungsionil” fonem-fonem yang membedakannya misalnya : /l/ dan /r/ berfungsi pembeda makna dalam banyak sekali pasangan kata dalam bahasa Indonesia.

    Tetapi dapat terjadi bahwa pasangan fonem membedakan jumlah sedikit sekali dalam bitertentu. Misaldalam bahasa jawa baru kata amba (όmbό) “lebar” dibedakan dari kata amba (όmbό) amba disebut juga saya hanya dalam posisi antara bunyi (a) dan (ό)

    Sedangkan kebanyakan kali perbedaan diantara (a) dan (ό) tadi tidak terdapat dalam pasangan minimal tersebut. Dibawah ini yang berbeda bila (a) dan (ό), tak disebutkan dalam fonem yang berbeda (dan hal itu dapat dipersoalkan).

    Fenomena lain yang perlu kita ketahui dalam pasal ini adalah “variasi bebas” istilah itu mengandalkan dari variasi diantara bunyi yang termasuk dalam fonem saja tidak bebas. Misalnya /t/ beraspirasi dalam top dalam tidak beraspirasi dalam stop dan tidak boleh sebaliknya. Tetapi bagaimana variasi dalam lingkungan yang sama, sedangkan kedua bentuk yang bersangkutan jelas tidak merupakan kata-kata yang berbeda. Misalnya telur/telor, berjuang/berjoang, nasihat/nasehat, kurban, korban, kendang, gendong dan seterusnya. Pastilah ada perbedaan fonemnya antara (a) dan (ό), dan /e/ dan /I/, /k/ dan /g/. Padahal kebetulan dalam kata-kata tadi dapat bervariasi bebas.

     

    1. B.     Penafsiran Ekafonem dan Penafsiran Dwifonem.

    Dalam menggolongkan bunyi tertentu kedalam fonem kita menghadapi kesulitan kasus. Misalnya : menafsirkan bunyi (dŋ) sebagai datu fonem atau dua fonem, kedua macam penafsiran dalam fonologi tersebut disebut “penafsiran ekafonem” (monophone matice interpretation), dan “penafsiran dwifonem” (biphone matice interpretation). Andaikan bunyi (d) ditafsirkan sebagai satu fonem karena disini “fonem” /ŋ/ jarang kita jumpai dalam beberapa kata. Seperti measure /meŋer/. Disatu pihak /d/ dan /ŋ/ tidak dapat dipandang sebagai fonem yang sama namun dipihak lain /ŋ/ tidak dapat dikatakan sebagi fonem tersendiri, maka harus di jadikan satu fonem /dŋ/.

     

    1. C.    Variasi Alofonemis

    Perbedaan antara bunyi (th) dan bunyi (t) kedua bunyi tersebut tidak merupakan fonem yang berbeda keduanya anggota dari satu fonem /t/. Fonem merupakan suatu wujud yang agar abstrak karena secara konkrit kita selalu mengucapkan salah satu “Anggota” dari fonem yang bersangkutan misalnya : kata butter bunyi /t/ diucapkan dengan letupan samping

    Contoh tentang perbedaan antara (th) dalam kata inggris top dan bunyi (t) dalam inggris stop tidak ada pasangan minimal yang hanya mengandung perbedaan itu saja.

    Maka dari itu kedua bunyi tersebut tidak merupakan fonem yang berbeda, dan hanya merupakan “Anggota” dari suatu fonem saja, yaitu fonem /t/ fonem merupakan suatu wujud abstrak, secara konkrit kota selalu mengucapkan salah satu “Anggota” dari fonem yang bersangkutan.

    Anggota dari suatu fonem disebut alofon. Suatu alofon (Allophone) adalah salah satu cara konkrit mengucapakan, alofon konkrit harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya: dengan perkataan lain, terjadilah salah satu “Assimilasi” pada waktu yang sama assimilasi yang sama perwujudan tersebut, berbeda tergantung dari lingkungan disebut assimilasi “Fonetis”.

     

    D. Assimilasi Fonemis

    Berbeda dari assimilasi fonetis, ”Assimilasi fonemis” menyebabkan suatu fonim menjadi fonim yang lain.sebagai contoh analisalah kalimat belanda     IK cat we saya makan”ikan,fonem /v/ dari kata vis di ubah menjadi fonim yang lain.yaitu /F/ akibat pengaruh fonem /t/ pada akhir eer:fonim /t/ tersebut.yang bersuara itu menyebabkan fonem /v/ yang berikutnya menjadi tak bersuara pula : /f/ jadi betul – betul assimilasi dan memang progresif lihat  BAB III pas (17) dan memang suatu assimilasi fonemis.

    Supaya dapat menyatakan dengan benar bahwa suatu fonem /v/ menjadi fonem /f/ (akibat adanya /t/ di depannya) maka perlu kita yankin”seharusnya “pada /v/ dalam kata vis (jangan kita dasar pernyataan ini pada adanya huruf V dalam ejaan “vis” saja)dalam contoh tadi tidak sulit : kata VIS memang selalu dilafalkan dengan bunyi /v/ yang bersuara bila tidak ada suatu bynyi yang tak bersuara di depannya

    Peerbedaan assimilasi fonetis dan asimilasi fonemis dapat digarap dengan lebih jelas dengan diagram berikut:

     

     

    Bidang fonologi       Assimilasi fonemis           Penyesuaian fonem

    dengan fonem lain.

     

    Jadi variasi alofonemis saja           Tetapi dengan mempertahankan fonem sama.

    Bidang fonetik          Assimilasi fonetik                 Penyesuaian bunyi dengan

    bunyi lain.

     

    Disini tampak bahwa suatu tatanan yang lebih rendah untuk sebagai sudah mengandalkan sistematik dari tatanan lebih tinggi yang berikutnnya.

    Misalnya asimilasi fonetis termasuk fonetik sebagai asimilasi dan termasuk fonologi sebagai fariasi di batas fonem yang sama

     

    E. Beberapa jenis Assimilasi Fonemis

    Beberapa jenis assimilasi fonemis yakni assimilasi progesif (Progressive Assimilation), assimilasi regresif (regressive assimilation) dan assimilasi resprokal (reciprocal assimilation).

    Assimilasi regresiftun terdapat dalam bahasa belanda, missal, dalam frase (kelompok kata) opdeweg dijalan ‘(de adalah kata sandang) dimana /p/ dari kata op akibat pengaruh antara 2 fonem yang berurutan yang menyebabkan ke2 fonem yang lain dari semua.

     

    F. Assimilasi Fonemis Dalam Beberapa Bahasa 

    Assimilasi fonemis dapat terjadi pada batas morfem bebas, termasuk dalam hal ini juga kata majemuk (keempat kata tadi kata majemuk kalihatannya) kecuali dalam bahasa inggris, missal kata black board tidak memperhatikan assimilasi diantara black dan board: /k/ dari, black tidak menjadi /g/ akibat kebersuaraan /b/ yang berikutnya, tidak menjadi /p/ akibat kotak bersuaraan /k/ yang mendahuluinya.

     

    G. Asimilasi dan Modifikasi Vokal

    Berdasarkan artikulasi,jadi penyesuaian bunyi berdasarkan cara menghasilkannya,jadi asimilasi pada waktu yang sama asimilasi tersebut,tidak mengubah fonem dan fonem yang sama dipertahankan,maka dari itu disini ada asimilasi fonemis.

    Asimilsi itu sering di sebut “umlaut“. “umlaut“ adalah kata german yang berarti ”perubahan vocal“ dalam sebuah suku kata menjadi lebih tinggi karena pengaruh vocal atau semi – vocal berjauhan dengan vocal yang mendahuluinya artinya tidak mutlak “kontinyu“ ( kontinuous )dapat saja “diskret” (Discrete ).

    Umlaut dalam bahasa jerman merupakan asimilasi “Historis” misal: kata buch \bu:x/’ buku ,bila dijamakan menjadi bucher /buser /buku – buku .

    Secara ringkas: umlaut sebagai asimilasi fonetis secara singkronis ,sebagai assimilasi fonemis tidak kita jumpai secara sinkronis.fonemena umlaut sebagai assimilasi, baik diakronis maupun sinkronis selalu bersifat regresif

    Perlu kita catat bahwa semua fenomena umlaut termasuk dalam perubahan vocal, pengaruh regresif .fonemena itu terkenal sebagai “Harmoni vocal”.

     

    H. Netralisasi dan Arki Fonem

    Fungsi fonem adalah membedakan makna sebagai contoh yang sederhana dalamn banyak bahasa dua fonem seperti /t/ dan /d/ dapat merupakan perbedaan minimal antara dua kata akan tetapi dalam keadaan tertentu fungsi pembeda makna diantara dua fonem tersebut dapat menjadi batal.netralisasi selalu mengandung perubahan identitas fonem: sesuatu fonem menjadi fonem yang lain.fonem letupan bersuara menjadi fonem letupan atau tak bersuara (homorgan) tak bersuara oleh pengaruh batas kota yang lebih penting dalam hal.netralisasi ialah batalnya oposisi yang bersangkutan dapat di tandai secara fonemis dalam tulisan fonemis  .

    Para ahli fonologi pernah mengusulkan pemakaian tanda fonem dengan huruf besar untuk menyatakan fenomena yang menjadi batal misalnya dalam kata Belanda hard tulisan fonem biasa /hart/ tetapi tulisan itu tidak membedakan antara hard dan hart jadi kata hard itu dikembangkan dengan /hard/,disela sela bedanya dari tulisan /hart/ ,yang menjadi lambangan fonemis dari kata hart saja.

    I. Beberapa Perubahan Fonemis Selain Dari Assimilasi Dan Modifikasi Vokal.

    a. Hilangnya bunyi dan kontraksi

    Pasal 1 di atas di bicarakan mengenai “variasi bebas” seperti dalam pasangan telur/telor dls. ”variasi bebas” disini bahwa seatu fonem dapat diganti dengan fonem lain dalam kata tertentu,kata yang sama yaitu tanpa sdanya posisi akibat pengertian fonem tersebut.variasi semacam itu dapat kita temukan juga dengan menghilangkan salah satu fonem.misalnya dalm kata “silahkan” /silakah:fonem /X/ boleh dipakai boleh juga tidak.biasanya fenomena ini tidak di sebut “variasi bebas” (meski yang sebenarnya dapat dikata di dalamnya) melainkan “hilangnya bunyi” (loss of sound). (contoh ini hanya bisa di analisa dari sudut sinkronis,karena kebetulan diakronis bentuk tanpa /X/ adalah yang lebih dahulu ada) dalam parole penutur bahasa cenderung lalai diartikulasi yang di alami terlalu sulit: /X/ sesudah /a/ menuntut kegiatan artikulatoris yang mudah terlalai.hal itu dapat kita dengar juga dalam kata sudah [h] silahkan cari yang lain.disini kadang kadang lebih dari pada satu bunyi dihilangkan,tambahan pula bahwa penghilangan bunyi yang bersangkutan tidak lagi berdasarkan pelayanan atau dalam parole,tetapi singkatan dua semacam itu sudah sama sekali tentu bentuknya.contoh:frase inggris shan’t(dari shall not),won’t(dari wiil not) can’t (dari can not).contoh contoh tadi dengan menambahkan tulisan fonemisnya,penyingaktan semacam itu di sebut ”kontraksi”(contraction)beberapa contoh kontraksi yang lain anda temukan dalam pass.

    Hilangnya bunyi dan konyraksi oleh beberapa ahli binaraga di tafsirkan sebagai salah satu kemungkinan asimilasi terjadi karena sebuah bunyi berubah untuk menyesuaikan diri dengan bunyi lain.maka “disimilasi”(dissmilation)terjadi bila dua bunyi yang sama karena berdekatan,misalnya:dalam kata Indonesia belajar bentuk terajar di hindarkan karena dalam ajar sudah ada /r/,jadi tidak terdapat lagi dalam prefik ber,yang/r/-nya,disimilasikan dengan /r/.

    Kata Indonesia cinta dan cipta kedua duanya bersasal dari sansekerta citta, jadi t – t menjadi n – t dan p – t.Dismilasi dengan terjadi di sini membedakan dua kata menurut sistematis fonemis bahasan Indonesia ini mereupakan disimilasi diakronis contoh lain kata lansir yang berasal dari kata belanda  :    r – r menjadi r – e.

     

    J. Evaluasi soal-soal:

    1. Jelaskan beberapa contoh alafonemis?
    2. Apa yang dimaksud dengan asimilasi fonemis?
    3. Sebutkan beberapa jenis asimilasi fonemis ?
    4. Jelaskan tentang asimilasi fonemis dalam beberapa bahasa?
    5. Apa yang dimaksud dengan asimimilasi dan modifikasi vocal?
    6. Apa yang anda ketahui tentang artikulasi dan arki fonem?

     

     

     

     

    BAB V

    MORFOLOGI

     

    1. A.    Pembegian Kata Menurut Jenisnya

    Dalam kata bahasa tradisional kata-kata dapat dibagi menurut jenisnya baik berdasarkan arti mapun fungsinya dalam kelimat. Adapun pembagian kata itu ialah:

    1. Kata Benda atau Nomina

    Kata benda ialah kata yang menyebutkan benda atau nama benda (orang, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda mati, benda abstrak).

    Untuk menentukan ciri kata benda dalam bahasa Indonesia kita dapat memandangnya berdasarkan beberapa hal:

    1. Berdasarkan ciri morfologisnya:

    1)    Semua kata yang berawalan pe (N)-, misalnya: penulis, pemirsa, pendidik, peneliti, pelaut.

    2)    Semua kata yang berimbuhan pe (N)-an, misalnya: penerangan, pegunungan, pengabdian, penyimpangan, perumahan.

    3)    Semua kata yang berimbuhan per-an, misal: pembuatan, perkawinan, persatuan, pertanyaan.

    4)    Sebagian kata yang berimbuhan ke-an, misal: kekayaan, kesempatan, keunikan, kebesaran.

    5)    Sebagian kata yang berakhiran –an, misalnya: timbangan, pikiran, asuhan, ikatan, bantuan.

    6)    Beberapa kata yang berawalan ke- (tapi tidak produktif lagi) misal: kehendak, ketua.

    7)    Semua kata yang berkhiran –man, -wan, -wati, -or, -ur, -ir, -tas, misalnya: sukarelawan, sukarelawati, seniman, budiman, koruptor, kalkulator, korektor, inspektur, kondektur, aparatur, kasir, importir, aktivitas, fakultas.

    (catatan: akhiran –man, pada seniman dan budiman sebenarnya tidak berfungsi membentuk kata benda, sebab seni dan budi adalah kata benda. Jadi fungsi –man pada kata-kata tersebut adalah membentuk kata benda kongkret dari kata benda abstrak).

    8)    Kata-kata yang diperluas dengan akhiran –nya, misal: tingginya, besarnya, lamanya.

    1. Menurut ciri frase:

    1)    Didepannya dapat ditempatkan kata depan: di atas meja, di dalam rumah, ke pasar, ke sekolah, dari kampung, ke pada pendengar.

    2)    Dibelakangnya dapat diikuti kata gantimilik, misal: buku saya, hartanya, pikiran mereka, kekayaanmu.

    3)    Didepannya dapat ditempatkan kata bilangan, misalnya: sebuah buku, tiga (buah) rumah, setengah lusin, empat hari.

    4)    Dapat diperluas dengan yang + kata sifat.

    Misalnya  :  * Pakaian    (yang mahal)

    * Anak         (yang nakal)

    * Kekayaan      (yang cukup)

    * Hati           (yang damai)

    1. Menurut distribusinya

    1)    Dapat menempatkan gatra pelaku, misalnya:

    -          Samin memukul anjung

    -          Anjing menggigit kucing

    -          Tikus dimakan kucing

    2)    Dapat menduduki gatra pelengkap,misalnya:

    -          Ibu membeli ikan (pelengkap penderita)

    -          Rakyat dibantu oleh pemerintah (pelengkap yang berkepentingan)

    Kata benda dapat dibagi atas kata benda kongkret dan kata benda abstrak.

    1. Kata benda kongkret

    Ialah kata benda yang berwujud dan yang bentuk (wujudnya) dapat ditangkap oleh panca indra, kata benda kongkret dapat digolongkan:

    -          Kata benda yang bernyawa: makhluk hidup.

    -          Kata benda yang tidak bernyawa: batu, air, kayu.

    1. Kata benda abstrak

    Ialah kata benda yang bentuk (wujudnya) tak dapat ditangkap oleh panca indra misal: roh, udara, pikiran, angan-angan, kesadaran dan sebagainya.

     

    1. Kata Ganti/Pronomina

    Ialah kata yang menggantikan (kedudukan)orang/benda yang lain, dalam kedudukannya yang demikian, kata ganti dapat dimasukkan dalam subgolongan kata benda. Dalam menggantikan kedudukan orang/benda, kata ganti dapat digolongkan atas:

    1. Kata ganti orang yakni kata yang menggantikan kedudukan orang sebagai benda, terbagi atas:
      1. Kata ganti orang I tunggal : saya, aku, hamba, patik, daku.

    Kata ganti orang I jamak : kami, kita.

    1. Kata ganti orang II tunggal : kau, engkau, anda.

    Kata ganti orang II jamak : kami kalian, kamu sekalian.

    1. Kata ganti orang III tunggal : dia, beliau.

    Kata ganti orang III jamak : mereka.

    Pada kalimat langsung kata benda yang dipergunakan sebagai kata ganti seperti Bapak, Ibu, Nenek, dan sebagainya, dapat dipakai secara berubah-ubah sebagai kata ganti orang I, II, dan III misalnya:

    -          Sebagai kata ganti orang ke III

    Susi bertanya kepada adiknya “kemana Bapak, Dik?”

    -          Sebagai kata ganti orang II

    Susi bertanya kepada ayahnya

    “Kemana Bapak akan pergi?”

    -          Sebagai kata ganti orang ke I

    “Jika kmu rajin, Bapak akan memberi hadiah”, kata ayah.

    1. Kata ganti mandiri yakni kata ganti untuk menyatakan persona itu juga, misalkan:

    Dia berdiam diri saja

    Itu salahnya sendiri, bukan salah kita

    Mereka bekerja sendiri

    Pembalasan akan berlangsung dengan sendirinya.

    1. Kata ganti empunya ialah kata ganti yang menyatakan milik, kata ii sebenarnya adalah kata ganti orang (persona) yang ditempatkan dibelakang kata benda. Mislanya: buku saya (bukuku), bajunya, milikmu, baju Bapak, buku Kakak (dalam hal ini Bapak dan Kakak pengganti orang II atau orang III tunggal).
    2. Kata ganti penunjuk ialah kata yang dapat menggantikan benda yang ditunjuk. Kata ini terdiri atas:

    -          Ini untuk penunjuk benda yang berada di tempat si pembicara.

    -          Itu untuk penunjuk benda yang tidak berada di tempat si pembicara.

    1. Kata ganti penanya ialah kata ganti yang dipakai sebagai kata tanya untuk menanyakan tentang benda, orang atau suatu hal.

    Kata tanya terdiri dari:

    -          Apa dipakai untuk menanyakan benda.

    -          Siapa untuk menanyakan orang.

    -          (yang) mana untuk menanyakan tempat, pilihan kepada suatu benda, orang atau hal yang lain.

    Di samping sebagai kata dasar, banyak kata tanya yang merupakan gabungan dengan kata dasar apa dan mana.

    1)    Untuk menanyakan tempat dengan gabungan kata depan di, ke, dan dari misal: dari mana, ke mana, di mana.

    2)    Untuk menanyakan keadaan/cara melakukan misal: betapa, bagaimana.

    3)    Untuk menanyakan waktu, misal: bila, bilamana, apabila, kala mana, mana kala.

    4)    Untuk menanyakan jumlah, misal: berapa.

    1. Kata ganti penghubung ialah kata ganti yang menghubungkan induk kalimat dengan anak kalimat misalnya:

    -          Buku yang dibelikan kemarin, sudah selesai dibacaknya.

    -          Orang yang membunuh itu sudah dihukum.

    1. Kata ganti tak tentu ialah kata ganti yang menyebabkan benda/orang dalam hal yang tidak tentu.

    -          Untuk orang yang tidak tentu: siapa, siapa-siapa, masing-masing, si anu, si polan, salah seorang.

    -          Untuk benda yang tidak tentu: suatu, sesuatu, barang, salah satu.

     

    1. Kata Kerja atau Verb

    Menurut tata bahasa tradisional kata kerja adalah kata yang menyatakan perbuatan, tindakan dan gerak. Dalam bahasa Indonesia kata kerja menurut bentuknya dapat berbentuk kata dasar tapi kebanyakan adalah yang berbentuk kata turunan, untuk menentukan kata kerja dalam bahasa Indonesia kita dapat memandangnya dari beberapa segi:

    1. Dari segi morfologinya, kata kerja ialah:

    1)    Semua kata yang berakhiran –kan (yang dapat membentuk kalimat perintah) misal: satukan, besarkan, rasakan, kuatkan, nyanyikan dan sebagainya.

    2)    Semua kata yang berakhiran –i (yang dapat membentuk perintah) misal: dekati, kurangi, guntingi.

    3)    Semua kata yang berimbuhan me-kan, misal: membesarkan, menggembirakan, memberitakan.

    4)    Pada umumnya kata-kata yang berimbuhan per-,misalnya: perbesar, pertnggi, perlancar, perbuat, permodern.

    5)    Kata-kata yang berimbuhan per-i dan per-kan misalnya: perbaiki, pertanyakan, permasalahan, persenjatai.

    6)    Sebagaian kata yang berawalan ber- misal: bernyanyi, berdagang, berbuat, berenang, berdiri.

    7)    Kebanyakan kata yang berawalan me- misalnya: menangis, menyanyi, menulis, menari, memburu.

    8)    Semua kata yang berawalan di- mislanya: ditulis, dibaca, diambil.

    1. Menurut ciri sintaksis dapat diperluas dengan urutan kata dengan + kata sifat, misalnya:

    Lari           (dengan cepat)

    Belajar      (dengan rajin)

    Duduk      (dengan tenang)

    Berbicara (dengan kuat)

    Kembali   (dengan selamat)

    1. Menurut distribusinya dalam kalimat verbal, kata kerja selalu menduduki predikat dan tidak daapt menduduki pelengkap. Misalnya:

    Nenek makan sirih

    Dia berjalan lambat

    Mereka mundur dengan teratur

     

    Ditinjau dari sudut pelengkap kata kerja dapat digolongkan:

    1. Kata kerja interaktif ialah bentuk kata kerja yang tidak menghendaki obyek langsung (pelengkap penderita) diantaranya berbentuk kata dasar, kata kerja yang berawalan ber- dan sebagian kata kerja yang berawalan me-.
    2. Kata kerja transitif ialah kata kerja yangmenghendaki/mempunyai obyek langsung (pelengkap). Diantaranya kata kerja yang berawalan me-, kata kerja yang berimbuhan me-i dan me-kan.

    Misal: menulis, menangisi, menarikan, merasakan.

     

    1. Kata Sifat atau Ajektif

    Ialah kata yang menerangkan sifat dari suatu benda. Untuk mengenal ciri kata sifat dalam bahasa Indonesia dapa ditempuh beberapa cara:

    a)    Menurut ciri morfologinya:

    -          Segala kata yang dapat dibubuhi dengan awalah ter- yang artinya menyatakan paling. Jadi bentuknya adalah ter + kata sifat itu sendiri.

    Misal : terbaik “paling baik”

    -          Beberapa kata yang dapat diberntuk dengan awalan pe (N) misal : pemalu, pemarah, pemalas.

    -          Segala kata yang dapat dibentuk dengan awalan se + bentuk ulang + nya.

    Misal   :  Seindah-indahnya

    Sebesar-besarnya

    Selama-lamanya

    b)    Menurut ciri frase

    Segala kata sifat dapat didahului dengan kata paling atau diikuti kata sekali yang menyatakan arti sangat misalnya:

    -          Paling maju – maju sekali “sangat maju”, sebagian orang menganggap bahwa sebuah kata sifat dapat menjadi adverbia (kata keterangan) sesuai dengan fungsinya dalam kalimat, misal:

    Gunung itu tinggi (tinggi adalah kata sifat)

    Gunung itu terbang tinggi (tinggi adalah kata keterangan)

     

    1. Kata Keterangan atau Adverbia

    Ialah kata yang memberi/menambah keterangan kepada kata kerja, kata sifat, kata bilangan/kata keterangan itu sendiri.

    a)    Menurut bentuknya kata keternagan dapat berbentuk kata dasar dan dapat berbentuk kata turunan.

    -          Yang berbentuk kata dasar misalnya: sedang, sekarang, mungkin, jangan, belum, pasti, sangat, hampir.

    -          Yang berbentuk kata turunan:

    *)   Dengan awalah ber-, misal : batu bertulis

    *)   Dengan awalah me-, misal: ular itu melintang di jalan

    *)   Dengan imbuhan ke-an, misal: hidup kesepian

    *)   Dengan penambahan akhiran –nya misal, rupanya beliau sakit

    *)   Awalah se- + akhiran –nya, misal: sebaiknya

    *)   Dengan reduplikasi, misal: hati-hati, buru-buru.

    *)   Dengan awalan se- + reduplikasi + akhiran –nya, misal selama-lamanya, sekerang-kerasnya.

    *)   Dapat berbentuk kata gabung, misal: bilamana, apabila, manakala, bagaimana, barang kali.

    b)    Menurut ciri sintaksis

    -          Dapat menambah keterangan pada kata kerja, misal: sedang makan, berjalan buru-buru.

    -          Dapat menambah keterangan pada kata bilangan, misal: hampir dua jam.

    -          Dapat menambah keterangan pada kata sifat, misal: tidak cermat, kurang pandai.

    -          Dapat menambah keterangan pada kata keterangan itu sendiri, misal: lebih kurang, sangat kurang, agak kurang hati-hati.

    Berdasarkan kedudukanya dalam kalimat yang dapat menambah keternagan pada kata di depan/dibelakangnya, kata keterangan dapat digolongkan:

    a)    Kata keterangan waktu: besok, sekarang, tadi dan lain-lain.

    b)    Kata keterangan perwatasan : hanya, kecuali, Cuma.

    c)    Kata keterangan derajat: amat, sangat, kurang, dan lain-lain.

    d)    Kata keterangan (modalitas) yang menyatakan:

    -          Kepastian misal: sungguh, pasti, tentu, dan lain-lain.

    -          Kesangsian misal: mungkin, barang kali, entah

    -          Ajakan misal: mari, silakan, baik, boleh.

    -          Larangan misal: jangan.

    -          Peringatan, misal awas, hati-hati, ingat-ingat.

    -          Pengharapan misal: semoga, mudah-mudahan, hendaknya.

    -          Perngakuan misal: ya, betul, benar, baik.

    -          Pengingkaran, misal: tidak (tak, tiada), bukan

     

    1. Kata Bilangan/Mimeralia

    Ialah kata yang menyatakan bilangan, jumlah, kumpulan/urutan tempat (tingkat) dari suatu benda.menurut sifatnya kata bilangan dapat digolongkan:

    a)    Kata bilangan tentu

    -          Kata bilangan utama yakni kata yang menyatakan bilangan/jumlah misal: satu, setengah dan lain-lain.

    -          Kata bilangan tingkat yakni kata bilangan yang dibentuk dengan cara membubuhkan awalah ke- pada kata bilangan, misal: orangkedua, tahun kesepuluh.

    -          Kata bilangan kumpulan dibentuk dengan cara membubuhkan awalan ke- pada kata bilangan utama, akan tetapi letaknya selalu sebelum kata benda, misal: kedua orang itu, kelima anaknya.

    b)    Kata bilangan yang tidak tentu ialah kata bilangan yang menyatakan jumlah yang tidak pasti, misal: berpuluh-puluh, berkali-kali dan lain-lain.

     

    1. Kata Penghubung/Konjungsi

    Ialah kata yang berfungsi mengantarkan suatu kalimat/menghubungkan kata dengan kata, kalimat dengan kalimat. Sebagian kata penghubung posisinya hanya diletakkan di depan kalimat.

    Kata penghubung yang hanya menempati posisi pada awal kalimat (kebanyakan dipakai pada sastra lama) ialah:

    Alkisah, Arkian, Sebermula, Syahdan, Hatta

    Berdasarkan jenis hubungan yang dibawakan sesuai dengan fungsinya, kata penghubung dapat digolongkan:

     

    a)    Sebagai pengantar kalimat,misalnya:

    Alkisah                 berhubung (dengan)

    Arkian                  sehubungan (dengan)

    Hatta                     setelah

    b)    Menyatakan penggabungan, misalnya:

    Dan                      bersama

    Dengan               berikut

    Serta                     lagi

    c)    Menyakatan sebab, misalnya:

    Sebab                  karena

    d)    Menyatakan akibat, misalnya:

    Sehingga                        sampai

    e)    Menyatakan tujuan, misalnya:

    Agar                      supaya

    Untuk                   guna

    f)     Menyakatan syarat, misalnya:

    Jika                       andai

    Jikalau                 andaikata

    g)    Menyatakan pertentangan, misalnya:

    Biarpun                sekalipun

    Walaupun                       akan tetapi

    h)   Menyatakan waktu, misalnya:

    Ketika                   setelah

    Sesudah              tatkala

    i)     Menyatakan perbandingan, misalnya:

    Bagaikan             laksana, seperti (se)umpama

    j)      Menyataan penguatan, misalnya:

    Bahkan, lagipula, malahan, justru, kian….kian….

    k)    Menyakatan pembeberan, misalnya:

    Yakni, ialah, yaitu, adlah, atau, seperti

    l)     Menyakatan kesinambungan, misalnya:

    Lalu, lantas, selanjutnya, kemudian, seterusnya.

    m)  Kata penghubung yang selalu memulai anak kalimat: bahwa, misalnya:

    “Ayah selalu mengatakan bahwa menolong orang sangat bermanfaat”.

     

    1. Kata Depan/Preposisi

    Ialah kata yang bentuknya biasanya tidak berubah-ubah, berfungsi merngkaikan kata/bagian kalimat yang lain dengan kata benda/frase kata benda, yang dianggap sebagai kata depan sejati dalam bahasa Indonesia ialah:

    a)    Kata depan di-

    Pada pokoknya ialah menyatakan tempat diam/berhenti, namun, dalam perkembangan artinya makin meluas sehingga dapat dipakai di depan kata yang menyatakan:

    -          Keterangan waktu misalnya: malan hari, dipagi hari, disaat-saat mendatang.

    -          Sebagai pengganti akan misalnya, tak tahu diutung malangnya.

    b)    Kata depan ke-

    Pada pokokya adalah menyatakan arah/sesuatu yang dituju. Pada umumnya pemakaiannya bertalian dengan kata kerja dan kata yang mengikutinya menyatakan arah yang dituju misalnya:

    Pergi ke pasar, berangkat ke luar negeri.

    c)    Kata depan dari

    Pada pokoknya menyatakan arah, asal kedatangan, tempat asal/pangkal mula suatu proses misalnya:

    -          Menyatakan tempat asal: Dia datang dari Bandung

    -          Menyatakan asal bahannya: Pakaian ini dibuat dari nilon

    -          Manyatakan permulaan waktu: Dari zaman dulu hingga sekarang

    Sebagai pengantar perbandingan (komparatif), dlam pemakaiannya sering digantikan dengan “dari pada” misalnya: Emas lebih murah dari pada platina

    Sebagai pengantar keterangan milik (kepunyaan) kata depan “dari” tak perlu dipakai misalnya: buku saya bukan buku dari saya.

    d)    Kata dengan dari pada

    Pada umumnya harus dipakai:

    -          Bila berhubungan dengan kata ganti –ku, -mu, dan –nya.misalnya: daripadaku, daripadanya.

    -          Jika terletak di depan kalimat untuk menyatakan perbandingan (komperatif), misalnya:

    Daripada mati lebih baik melawan.

    -          Apabila letaknya di tengah-tengan kalimat, sering diganti dengan kata “dari” misalnya:

    Harimau lebih besar dari kucing

    e)    Kata depan akan

    Di samping sebagai kata depan, ada juga sebagai kata keterangan dan kata sambung.

    Sebagai kata keterangan: besok dia akan datang

    Sebagai kata sambung mengikuti kata tetapi: orang itu kaya raya, akan tetapi sesuatu yang membuat dia susah.

    Kata sebagai kata depan berarti:

    -          Tentang: barulah dia sadar akan kesalahannya.

    -          Terhadap: ia selalu rindu akan anak istrinya.

    -          Untuk: diambilnya orang itu akan teman hidupnya.

    f)     Kata depan atas dapat berarti:

    1. Akan: saya minta maaf atas kesalahannya.
    2. Dengan: kedatang kami kemari adalah atas nama ketua.

    g)    Kata depan dalam

    -          Sebagai pengantar keterangan tempat misal:

    Berbunyi dalam gua

    -          Sebagai pengantar keterangan tempat dalam arti kiasan

    Tersimpan dalam hati

    -          Sebagai pengantar keterangan waktu misalnya:

    Dalam perang, dlam bulan puasa.

    h)   Kata depan antara mengandung arti

    -          Sbegai pengantar keterangan tempat:

    Letaknya antara Jakarta dan Bogor.

    -          Sebagai pengantar keterangan waktu:

    Kejadian itu berlangsung antara bulan april dan juni

    -          Sama artinya dengna dalam/dari:

    Diantara sekian banyak pelamar itu hanya lima orang yang memenuhi syarat.

    Selain sebagai kata depan, antara juga dapat diartikan dan berfungsi sebagai kata benda dan kat penghubung.

    -          Sebagai kata benda

    Antara bumi dan langit sangat jauh.

    -          Sebagai kata penghubung selalu diikuti dengan kata lain: warna-warna yang disukainya anatara lain: putih, hijau, dan biru.

    i)     Kata depan dengan mengandung arti:

    -          Sebagai penganatr keterangan yang menyaakan persamaan atau perbadingan, misalnya:

    *) Rupanya mirip dengan rupa kakanya.

    *) Kebiasaannya berbeda dengan adat-istiadat kita.

    -          Sebagai pengantar keterangan dengan alat,misalnya; orang itu ditikam dengan pedang.

    j)      Kata depan oleh

    Berfungsi sebagai pengantar penunjuk pelaku. Gunanya untuk menjelaskan hubungan kata kerja dengan pelaku. Adapaun pemakaian kata depan oleh yang merupakan keharusan terdapat dalam hal-hal berikut:

    -          Bila kata depan oleh terletak di depan kalimat dan letaknya di depan pelaku yang diikuti kata kerja, misalnya: Oleh Pak Amat hal itu telah lama direncanakan.

    -          Bila antara kata kerja dan pelaku ada keterangan-keterangan lain misalnya: Perkerjaan itu dapat diselesaikan dalam dua hari oleh mereka.

    -          Pada kalimat betuk perintah apabila pelakunya perlu disebutkan. Tapi bentuk kalimat seperti ini sudah kurang lazin digunakan, misalnya: “Camkanlah olehmu nasihat ini baik-baik”.

    -          Menyatakan pembuat/pelaku misalnya:

    Buku ini dkarang oleh Sutan Takdir Alisyahbaa.

     

    1. Kata Sandang/Artikula

    Ialah kata uyang dalam pemakaiaannya selalu berfungsi menentukan kata benda dan menyubstatifkan kata lain selain kata benda.

    a)    Kata sandang yang berfungsi menentukan kata benda

    -          “Si” dipakai sebagai kata gati persona untuk nama orang/binatang misal: Si Ali, Si Belong.

    -          Sang, hang, dang dipakai untuk menyebutkan orang, binatang 1 benda yang kedudukannya dianggap istimewa/dianggap tokoh. Kata ini banyak digubakan pada zaman sastra lama misal: digunakan pada zaman sastra lama misal: Hang tua, SagPrabu, Dong Merdu, Sang Kancil.

    -          Para, kaum dipakai untuk orang menyatakan jamak misal: para guru, kaum muda.

    b)    Kata sandang yang berfungsi menyubstatifkan kata lain selain kata beda:

    -          Yang misalnya: yang jahat akan terissi juga

    -          Nya misalnya: indahnya tidak terlukiskan.

     

    1. Kata Seru/Interjeksi

    Ialah kata/kelompok kata/kadang-kadang berupa bunyi yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan dan emosi/suatu maksud. Namun kata seru tidak dapat dipandang sebagai kalimat/menduduki suatu salah satu fungsi dalam kalimat.

    a)    Bentuk-bentuk kata seru

    -          Kata seru yang berbentuk bunyi misalnya: dor, tik, teng, bum, tar, pang.

    -          Kaat seru yang berbentuk suku kata misalnya: iii, ooo, uuu, cis, uuh, bah, puh.

    -          Kata seru yang berbentuk kata misal: halo, aduh, amboi, aduhai, ampun.

    b)    Beberapa makna kata seru

    -          Menyatakan kekaguman/keheranan: wah, aduhai, astaga.

    -          Menyatakaan sedih: ui, aduh, wahai

    -          Menyatakan jijik: iii, ihh

    -          Menyatakan tidak suka: akh

    -          Menyatakan setuju: ya, oo, mmm

    -          Menyatakan teguran: hai, halo, he.

     

    1. B.     Pembentukan Kata
      1. Apakah morfologi?

    Yaitu suatu cabang tata bahasa yang mempelajari dan membicarkan struktur, bentuk, dan golongan kata dan juga mempelajari sejarah serta perkembangan bentuk-bentuk suatu kata.

     

    1. Morfem

    Yaitu kesatuan gramatikal yang terkecil yag mengandung arti yang tidak mempunyai kesaan, baik dalam bentuk, maupun dalam arti dengan bentuk-bentuk yang lain.

    Morfem dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu:

    a)    Morfem bebas : yaitu morfem yang dapat beridir sendiri sebagai sebuah kata.

    Misal : pergi, makan, terapi, mereka, dan lain-lain.

    b)    Morfem terikat : yaitu morfem yang tidak dpat berdiri sendiri sebagai sebuah kata.

    Misal   :  a. Prefiks (awalan) : me-, ber-, ter-, dan lain-lain

    b. Sufeks (akhiran) : -kan, -i, -an, dan lain-lain

    c. Infeks (sisipan) : -el, -em, -er, dan lain-lain

    d. Partikel : -;ah, -tah, -kah

    e. bentuk-bentuk : pra-, tuna-, eka-, dan lain-lain

     

    1. Morfonemik dan Alomorf

    Morfonetik adalah studi tentang perubahan baik penambahan, penghilangan, atau pertukaran pada fonem-fonem akibat perhubunan dua buah morfem atau akibat hubungan secara morfologis yang terdapat dalam dua buah kata.

    Alomorf adalah bentuk morfem yang merupakan aggota atu variasi dari suatu morfem, terjadinya betuk ii diakibatkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya.

     

    1. Fleksi (Infelsi) dan Aglutinasi

    Infleski adalah proses atau hasil penambahan afik kepada akar kata untuk menentukan dan membedakan arti gramatikalnya. Seperti yang terdapat pada bahasa-bahasa Indo Eropa sebagaimana yang terjadi pada peristiwa dekinasi dan konjugasi.

    Aglutinasi adalah penambahan imbuhan epada kata dasar, misalnya dari kata dasar “makan” dibentuk menjadi pemakan, makanan, makan hati dan lain-lain.

     

    1. Deklinasi dan Konjugasi

    Deklinasi adalah perubahan bentuk kata yang terjadi pada kata benda, kata ganti, dan kata sifat yang mengandung bilangan atau dalam hubungan dengan penentuan jenis kelamin seperti yang terjadi pada bahasa Indo Eropa, bahas latin, bahas arab.

    Konjugasi adalah perubahan yang terjadi pada betuk kata kerja sehubungan dengan persona, waktu, atau bilangan yang dinyatakannya.

     

    1. Derivasi dan Paradigma

    Derivasi adalah proses morfologi yang membetuk morfem jamak dengan cara penambahan afiks pada akar kata atau pada kata dasar.

    Contoh: main -   bermain

    memainkan

    dimainkan

    permainan

    Paradigama adalah daftar lengkap kata-kata yang diturunkan dari morfem dasar yang sama yang mengalami perubahan bentuk akibat perubahan afiksasi.

    Contoh :         menulis          tulisan

    penulis           tuliskan

    tertulis            ditulis dan lain-lain

     

    1. Enklitika dan Proklitika

    Enklitika adalah suatu kata yang merupakan bentuk ringkas dirangkaian di belakang suatu kata, dan gabungan kedua kata tersebut diucapkan dan ditulis sebagai sebuah kata.

    Contoh: – bukuku                 – diambilnya              – milikmu

    Proklitika adalah suatu kata (yang hanya memiliki tekanan lemah) yang merupakan bentuk ringkas yang dirangkaikan dalam bentuk lain (yang mendapat tekanan) yang dalam penulisan dan pengucapannya betuk ringkas tersebut membentuk satu kesatuan dengan kata yang letakinya.

    Contoh: ku pada kutulis, kau pada kau ambil.

     

    1. Akar Kata dan Bentuk Kanomik

    Akar kata adalah unsur yang lebih kecil dari kata dasar, misalnya kata bukti, bangkit, dibentuk dari akar kata kit dengan unsur tambahan masing-masing bu-, bang-. Demikian juga dengan kata bumbug, gembung, terbentuk dari akar kata bung dengan unsur tambahan masing-masing.

    Bentuk kanomik adalah bentuk yang berupa bentuk dasar, kata-kata dasar adalah bentuk kanomik yang dipakai untuk menentukan pola persukuan suatu kata, seperti, da, besar, belanja.

    1. Kata-Kata Dasar dan kata Jadian

    Kata adalah bentuk bebas minimal yang merupakan bentuk bahasa yang terkecil yang dapat berdiri sendiri.

    Kata dasar adalah suatu kata yang belum mengalami proses morfologi. Contoh: pukul, ambil, dapat, dan lain-lain.

    Kata jadian atau kata turunan adalah kata yang sudah mengalami proses morfologi, seperti berimbuhan, kata ulang, dan kata gabung.

     

    1. Imbuhan atau Afiks

    Afiks adalah unsur bahasa yang bukan bentuk bebas yang ditambahkan pada bentuk dasar atau akar kata yang membentuk sebuah kata.

    Afiks terdiri atas: perfiks (awalan), infeks (sisipan, dan sufiks (akhiran).

     

    1. Bentuk Kata dalam Bahasa Indonesia

    Secara morfologis kata dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan atas 2 macam, yaitu:

    1. Kata dasar yaitu kata yang belum mengalami proses morfologi

    Contoh: meja makan, pergi dan lain-lain.

    1. Kaat jadian (kata turunan) yaitu kata yang sudah mengalami proses morfologi, kata jadian terdiri dari:

    -          Kata berimbuhan (awalan, akhiran, sisipan)

    -          Kata ulang (reduplikasi)

    -          Kata gabung

     

     

     

    1. Awalan atau Prefiks

    Yaitu imbuhan yang diletakkan pada awal kata atau awal akar kata atau awal akar kata.

    Ada berbagai macam awalan, diantaranya:

    1. Awalan ber-, ini berfungsi untuk;

    -          Membetuk kata kerja intransitif, seprti : berjalan, berlari, berbaris dan lain-lain.

    -          Membentuk adverbia, seperti dalam bentuk: “mereka hidup bersama, jangan bertindak bersimaharaja lela.

    -          Membentuk numeralia, sperti : bertumpuk-tumpuk, berkilo-kilo dan lain-lain.

    -          Membentuk adverbia yang maknanya sama dengan bentu kata kerja yang berawalan di-, seperti:

    Batu tertulis

    Nasi berkunyit

    1. Awalan me- ini berfungsi untuk:

    -          Membetnuk kata kerja transitif : membaca (buku), membuka (pintu), memancing (ikan).

    -          Membentuk kata kerja intransitif : mendarat, menyebrang, menepi, menurun.

    -          Membentuk adverbia: mendua, merata, meluas.

    1. Awalan pe- ini berfungsi untuk:

    -          Membentuk kata beda : pembaca, penibuat, pedagang.

    -          Membentuk kata sifat: pemalu, pemalas, pemarah.

    1. Awalan per- ini berfugnsi untuk:

    -          Membentuk kata kerja

    -          Membentuk kata benda

    -          Dalam berkombinasi dengan akhiran –an, membentuk kata benda abstrak, misalnya: pertanyaan, pembukaan dan lain-lain.

    1. Awalan se- ini berfungsi untuk:

    -          Membentuk kata bantu bilangan, seperti: sebuah, seorang, seekor dan lain-lain.

    -          Membentuk kata tugas, sperti: sebelum, sesudah, setelah dan lain-lain.

    -          Membentuk adverbia, seperti: sebanyak, seberapa, dan lain-lain.

    1. Awalan ter- ini berfungsi untuk:

    -          Menyatakan aspek pada kata kerja, seperti: tertulis, tercatat, terisi, dan lain-lain.

    -          Menyatakan tingkat perbadingan pada kata sifat, seperti: tertinggi, terbesar, terindah dan lain-lain.

    -          Membentuk kata keterangan, seperti: terulang, terkarang, terbuku dan lain-lain.

     

    1.  Akhiran atau Sufiks

    Yaitu imbuhan yang dibubuhkan pada akhiran suatu kata dalam pembentukan kata. Akhiran juga dapat membentuk berbagai kata, diantaranya:

    1. Membentuk kata benda, seperti : tanaman, pukulan, dan lain-lain.
    2. Membentuk kata kerja, seperti:

    -          Akhiran –i : jalani, tempati, dan lain-lain.

    -          Akhiran –kan : jalankan, satukan besarkan dan lain-lain

    1. Membentuk adverbia-nya, seperti:

    Rupanya beliau sakit

     

    1. Infiks atau Sisipan

    Yaitu bentuk morfem terikat yang pemakaiannya disisipkan antara huruf pertama (yang berupa konsonan) dan huruf kedua (berupa vokal) pada kata dasar. Infeks dalam bahasa bahasa Indonesia ada 3 macam yaitu: el, er, em.

    Fungsi infeks:

    1. Membentuk kata benda, seperti:

    -          Patuk = pelatuk

    -          Tunjuk = telunjuk

    -          Genbung = gelembung

    1. Membentuk kata sifat, seperti:

    -          Getar = gemetar

    -          Guruh = gemuruh

     

    1. Konfiks

    Yaitu gabungan dua macam imbuhan yang merupakan morfem terbagi, tapi bersama-sama mempunyai satu fungsi dan membentuk satu arti.

    Misal   :  ke – an = kehutanan, kekayaan

    Per – an = pertanian, perbaikan

     

    1. Kata Ulang

    Yaitu kata yang mendapat perulangan sebahagian atau seluruhnya. Fungsi kata ulang ada dua, yaitu:

    1. Membentuk kelas kata

    -          Kata sifat menjadi kata benda seperti:

    Luhur = leluhur

    -          Kata sifat menjadi kata keterangan, seperti:

    Baik = sebaik-baiknya

    1. Tidak mempunyai fungsi sebab kelas kata bentuk ulangnya sama dengan kelas kata dasar, seperti:

    Anak = anak-anak

    Main = bermain-main

    Baik = baik-baik

     

    1. Kata Gabung

    Yaitu gabungan 2 kata atau lebih yang merupakan kesatuan dan menimbulkan pengertian baru. Kata gabung dalam bahasa Indonesia terdiri dari:

    1. Sebagai kata benda, seperti : mata sapi, rumah  sakit, kamar tidur, mata kucing dan lain-lain.
    2. Sebagai kata tegas, seperti : daripada, kepada, bilamana dan lain-lain.

     

    1. C.    Evaluasi:
      1. Apa yang dimaksud dengan morfologi?
      2. Sebutkan beberapa kriteria morfologi menurut jenisnya baik berdasarkan arti maupun fungsinya dalam kalimat?
      3. Jelaskan kembali istilah dari mimeralia, konjungsi, preposisi, artikulasi, interjeksi?
      4. Apa yang dimaksud dengan morfem, morfofonemik, alomorf?
      5. Apa yang anda ketahui tentang derivasi, paradigma, enklitika, dan proklitikas?
      6. Awalan dan prefiks yaitu?
      7. Akhiran disebut juga? Jelaskan beserta contohnya?
      8. Infeks adalah? Berikan contohnya?
      9. Apakah konfiks itu?

    10. Jelaskan kembali istilah dari kata ulang dan kata penghubung?

     

    MODUL

    LINGUISTIK UMUM

    Dosen Pembimbing:

    Nur Wahyu Ningsih, S.Pd.

     

    Nama Kelompok:

    Amirul Muslimin                   ( 086202 )

    Lukmanul Chakim               ( 086213 )

    Aris Fatoni                             ( 086238 )

    Dian Triana                           ( 086207 )

    Ahmad Zamroni                    ( 086008 )

    Siti Ulfah                                ( 086174 )

    Yeni Ardila                            ( 086194 )

    Rodiyah Ningtias                   ( 086157 )

    Zahrotun Nisa’                      ( 086199 )

    Fatmawati                              ( 086209 )

    Siti Hardianti Emilia             ( 086169 )

    Vera Nur Afni                       ( 086188 )

    Sudaristi Okyaviana             ( 086178 )

    Ragil Luluk Lutfiah              ( 086234 )

    Rita Ayu Fatmawati             ( 086155 )

     

    PROGRAM STUDI

    PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 2008/E

    SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA

    JOMBANG

    2009

    KATA PENGANTAR

     

    Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan hidayah-Nya penulisan Modul Linguistik Umum dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas Akhir Semester Mata Kuliah Linguistik Umum di STKIP PGRI Jombang.

    Atas terselesainya makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

    1. Ibu Nur Wahyu Ningsih, S.Pd selaku Dosen Mata Kuliah Linguistik
    2. Teman-teman yang berpatisipasi dalam penyusunan modul ini.

    Akhirnya penulis berharap semoga karya tulis ini bermanfaat bagi kalangan khususnya mahasiswa dalam mata kuliah linguistik dan dapat memberikan informasi bagi semua pihak yang berminat dan memerlukan.

     

     

     

    Jombang, Februari 2009

    Penulis

     

     

     

    ii

     

    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………….   ii

    DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………….   iii

    BAB I PENGERTIAN LINGUISTIK

    1. Linguistik umum………………………………………………………………….. ..   1
    2. Linguistik mempunyai fungsi………………………………………………. ..   3
    3. Pentingnya bahasa……………………………………………………………… ..   3
    4. Ciri –ciri khusus linguistik …………………………………………………… ..   4
    5. Filologi ………………………………………………………………………………… ..   5

    F.  Evaluasi soal ………………………………………………………………………. ..   5

    BAB II BEBERAPA BIDANG DALAM ILMU LINGUISTIK

    1. Pembagian Linguistik atas beberapa bidang ……………………… ..   6
    2. Linguistik Sinkronis dan diakronis………………………………………. ..   6
    3. Analisis Leksikal dan Gramatikal…………………………………………. ..   7
    4. Semantik …………………………………………………………………………….. ..   7
    5. Fonetik, Fonologi, Morfologi, Sintaksis……………………………….. ..   8
    6. Linguistik Teoristik dan Linguistik Terapan…………………………. ..   9
    7. Evaluasi Soal…………………………………………………………………………. 10

    BAB III FONETIK

    1. Ada Tiga Jenis Fonetik………………………………………………………… … 11
    2. Alat-alat Bicara………………………………………………………………….. ….. 12
    3. Cara Kerja Alat-alat Bicara……………………………………………………… 12
    4. Konsonan dan Vokal……………………………………………………………… 13
    5. Beberapa Jenis Konsonan…………………………………………………….. 13
    6. Semi Vokal……………………………………………………………………………… 15
    7. Beberapa Jenis Vokal…………………………………………………………….. 15
    8. Vokal Rangkap Dua……………………………………………………………….. 17

    iii

    Tulisan Fonetis………………………………………………………………………. 17

    1. Klasifikasi Vokal Tunggal ……………………………………………………… 17
    2. Suku Kata (Silabe)…………………………………………………………………. 17
    3. Titik Nada ………………………………………………………………………………. 18
    4. Tekanan dan Aksen……………………………………………………………….. 19

    N.  Evaluasi soal ………………………………………………………………………….. 20

    BAB IV FONOLOGI

    1. Fonologi sebagai analisa bunyi secara “Fungsionil”…………….. 21
    2. Penafsiran Ekafonem dan Penafsiran Dwifonem…………………. 23
    3. Variasi Afonemis …………………………………………………………………… 23
    4. Asimilasi fonemis…………………………………………………………………… 24
    5. Beberapa jenis asimilasi fonemis…………………………………………… 25
    6. Asimilasi fonemis dalam beberapa bahasa……………………………. 25
    7. Asimilasi fonemis dan modifikasi vocal………………………………….. 26
    8. Netralisasi dan arki fonem……………………………………………………… 26
    9. Beberapa perubahan fonemis selain dari asimilasi dan modifikasi vocal                      27
    10. Evaluasi soal………………………………………………………………………….. 28

    BAB V MORFOLOGI

    1. Pembagian Kata Menurut Jenisnya………………………………………. 29
    1. Kata Benda atau Nomina………………………………………………….. 29
    2. Kata ganti atau Pronomina……………………………………………….. 31
    3. Kata Kerja atau Verb…………………………………………………………. 33
    4. Kata Sifat atau Ajektif………………………………………………………… 35
    5. Kata Keterangan atau Adverbia………………………………………… 36
    6. Kata Bilangan atau Mimeralia…………………………………………… 38
    7. Kata Penghubung atau Konjungsi…………………………………… 38
    8. Kata Depan atau Prefiks…………………………………………………… 40
    9. Kata Sandang atau Artikula……………………………………………… 43
    10. iv

      Kata Seru atau Interjeksi…………………………………………………… 44

    1. Pembentukan Kata
      1. Apakah Morfologi……………………………………………………………… 45
      2. Morfem………………………………………………………………………………. 45
      3. Morfonemik dan Alomorf…………………………………………………… 45
      4. Fleksi (Infelsi) dan Aglutinasi……………………………………………. 46
      5. Deklinasi dan Konjugasi…………………………………………………… 46
      6. Derivasi dan Paradigma……………………………………………………. 46
      7. Enklitika dan Proklitika……………………………………………………… 47
      8. Akar kata dan Bentuk Kanomik………………………………………… 47
      9. Kata-kata Dasar dan Kata Jadian……………………………………… 48

    10. Imbuhan atau Afiks…………………………………………………………… 48

    11. Bentuk Kata dan Bahasa Indonesia…………………………………. 48

    12. Awalan atau Prefiks………………………………………………………….. 49

    13. Akhiran atau Sufiks………………………………………………………….. 50

    14. Infiks atau Sisipan…………………………………………………………….. 50

    15. Konfiks……………………………………………………………………………… 51

    16. Kata Ulang………………………………………………………………………… 51

    17. Kata Gabung…………………………………………………………………….. 52

    1. Evaluasi Soal ………………………………………………………………………… 52

    DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………….. 58

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    v

    DAFTAR PUSTAKA

     

    1. Dasar–Dasar Fonologi

    http://Zeiper.Multiply.Com/journal/item/28/Linguistik _ Umum

    2. Sistem Fonologi

    http://Pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=278

    3. Pragmatik

    http://smartilicious.blogspot.com/2007/11/pragmatik.html

    BLOGS  http://community.gunadarma.ac.id/blog/main/

    tulisanmakyun http://tulisanmakyun.blogspot.com/

    4. Semantik

    http://massofa.wordpress.com/2008/01/22/cakupan-semantik/

    <Multiplylogo

    <http.//multiply.com

     

    52

    5.Verhaar, J.W.M.1977.Linguistik Umum.Jakarta:Universitas Indonesia.

    9678470-Pembentukan-Kata

    About these ads

    2 gagasan untuk “Linguistik Umum

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s