ANALISIS SEMANTik

ANALISIS SEMANTIK

Analisis Semantik adalah proses setelah melewati proses scanning dan parsing. Pada tahap ini dilakukan pengecekan pada struktur akhir yang telah diperoleh dan diperiksa kesesuaiannya dengan komponen program yang ada. Secara global, fungsi dari semantic analyzer adalah untuk menentukan makna dari serangkaian instruksi yang terdapat dalam program sumber.

Contoh : A := (A + B)*(C + D)

maka penganalisis semantik harus mampu menentukan aksi apa yang akan dilakukan oleh operator-operator tersebut. Dalam sebuah proses kompilasi, andaikata parser menjumpai ekspresi seperti diatas, parser hanya akan mengenali simbol-simbol ‘:=’ , ‘+’ , dan ‘*’. Parser tidak tahu makna apa yang tersimpan dibalik simbol simbol tersebut. Untuk mengenalinya, kompiler akan memanggil rutin semantik yang akan memeriksa :
 Apakah variabel-variabel yang ada telah didefinisikan sebelumnya?
 Apakah variabel-variabel tersebut tipenya sama?
 Apakah operand yang akan dioperasikan tersebut ada nilainya?, dan seterusnya.

Fungsi ini terkait dengan tabel simbol. Pengecekan yang dilakukan oleh analisis semantik adalah sebagai berikut :
a) Memeriksa keberlakuan nama-nama meliputi pemeriksaan berikut.
 Duplikasi : pada tahap ini dilakukan pengecekan apakah sebuah nama terjadi pendefinisian lebih dari dua kali. Pengecekan dilakukan pada bagian pengelola blok.
 Terdefinisi : Melakukan pengecekan apakah sebuah nama yang dipakai pada tubuh program sudah terdefinisi atau belum. Pengecekan dilakukan pada semua tempat kecuali blok.
b) Memeriksa tipe. Melakukan pemeriksaan terhadap kesesuaian tipe dalam statement-statement yang ada. Misalkan bila terdapat suatu operasi, diperiksa tipe operand. Contohnya bila ekspresi yang mengikuti instruksi IF berarti tipenya boolean, akan diperiksa tipe identifier dan tipe ekspresi. Bila ada operasi antara dua operand, maka tipe operand pertama harus bisa dioperasikan dengan operand kedua.

Analisa semantik sering juga digabungkan pada pembangkitan kode antara yang menghasilkan Output intermediate code, yang nantinya akan digunakan pada proses kompilasi berikutnya.

KODE ANTARA

Kode antara/Intermediate code merupakan hasil dari tahapan analisis, yang dibuat oleh kompilator pada saat mentranslasikan program dari bahasa tingkat tinggi. Kegunaan dari kode antara sebagai berikut:
 untuk memperkecil usaha dalam membangun kompilator dari sejumlah bahasa ke sejumlah mesin. Dengan adanya kode antara yang lebih machine independent maka kode antara yang dihasilkan dapat digunakan lagi pada mesin lainnya.
 Proses optimasi masih lebih mudah. Beberapa strategi optimisasi lebih mudah dilakukan pada kode antara daripada pada program sumber atau pada kode assembly dan kode mesin.
 Bisa melihat program internal yang mudah dimengerti. Kode antara ini akan lebih mudah dipahami dari pada kode assembly atau kode mesin.

Terdapat dua macam kode antara, yaitu Notasi Postfix dan N-Tuple

NOTASI POSTFIX

Sehari-hari kita biasa menggunakan operasi dalam notasi infix (letak operator di tengah). Pada notasi Postfix operator diletakkan paling akhir maka disebut juga dengan notasi Sufix atau Reverse Polish.
Sintaks notasi Postfix :

Misalkan ekspresi :
(a + b)*(c + d)

kalau kita nyatakan dalam postfix :
ab + cd + *

Kita dapat mengubah instruksi kontrol program yang ada ke dalam notasi Postfix. Misal :
IFTHENELSE
diubah ke dalam Postfix
BZBR

label1 label2
Keterangan :
BZ = branch if zero (zero = salah) {bercabang/meloncat jika kondisi yang dites salah}
BR = branch {bercabang/meloncat tanpa ada kondisi yang dites}

Arti dari notasi Postfix di atas adalah sebagai berikut.

“Jika kondisi ekspresi salah, maka instruksi akan meloncat ke Label1dan menjalankan statement2. Bila kondisi ekspresi benar, maka statement1 akan dijalankan lalu meloncat ke Label2. Label1 dan Label1 dan Label2 sendiri menunjukan posisi tujuan loncatan, untuk Label1 posisinya tepat sebelum statement2, dan Label2 setelah statement2”

Dalam implementasi ke kode antara, label bisa berupa nomor baris instruksi. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat contoh berikut.
IF a > b THEN
c := d
ELSE
c := e

Bila diubah ke salam Postfix

11. a
12. b
13. >
14. 22 {menunjuk label1}
15. BZ
16. c
17. d
18. :=
19.
20. 25 {menunjuk label2}
21. BR
22. c
23. e
24. :=
25.

Notasi Postfix di atas bisa dipahami sebagai berikut.
 Bila ekspresi (a > b) salah, maka loncat ke instruksi no.22
 Bila ekspresi (a > b) benar, tidak terjadi loncatan, instruksi berlanjut ke 16 sampai 18, lalu loncat ke 25.

Contoh lain :
WHILEDO
diubah ke postfix
BZ BR

label1 label2

Contoh, instruksi
a := 1
WHILE a<5 DO
a := a + 1

diubah ke notasi postfix menjadi sebagai berikut :
10. a
11. 1
12. :=
13. a
14. 5
15. <
16. 26 {menunjuk label1}
17. BZ
18. a
19. a
20. 1
21. +
22. :=
23.
24. 13 {menunjuk label2}
25. BR

NOTASI N-TUPLE

Bila pada Postfix setiap baris instruksi hanya terdiri dari satu tupel, pada notasi N-tuple setiap baris terdiri dari beberapa tupel. Format umum dari Notasi N-Tuple ada sebagai berikut:

operator……(N-1) operand

selanjutnya akan dibahas notasi 3 tupel dan 4 tupel.

TRIPLE NOTATION

Notasi tripel memiliki format sebagai berikut :

contoh, instuksi :

A := D * C + B / E

Kode antara tripel :

1. *, D,C
2. /, B, E
3. +, (1), (2)
4. :=, A, (3)

operasi perkalian/pembagian lebih prioritas dibandingkan penjumlahan/pengurangan

contoh lain:

IF x > y THEN
x:= a – b
ELSE
x:= a + b

kode antara tripelnya :

1. >,x,y
2. BZ,(1),(6) {bila kondisi (1) salah satu loncat ke no (6)}
3. –,a,b
4. :=,x,(3)
5. BR, ,(8)
6. +,a,b
7. :=,x,(6)

Kekurangan dari notasi tripel adalah sulit pada saat melakukan optimasi, maka dikembangkan Indirect triples yang memiliki dua list (senarai), yaitu list instruksi yang berisi notasi tripel dan list eksekusi yang berisi urutan eksekusinya.

Contoh :
A:= B+C*D/E
F:= C*D

List Instruksinya:
1. *, C, D
2. /, (1), E
3. +, B, (2)
4. :=, A, (3)
5. :=, F, (1)

List Eksekusinya :
1. 1
2. 2
3. 3
4. 4
5. 1
6. 5

QUADRUPLES NOTATION

Format notasi kuadrupel :

hasil adalah temporary variable yang bisa ditempatkan pada memory atau register. Masalah yang ada bagaimana mengelola temporary variable (hasil) seminimal mungkin.

Contoh instruksi :
A := D * C + B / E

bila dibuat dalam kode antara :

1. *, D,C, T1
2. /, B, E, T2
3. +, T1, T2, A

PEMBANGKITAN KODE

Hasil dari tahapan analisis akan diterima oleh bagian pembangkitan kode (code generator). Disini kode antara dari program biasanya ditranslasikan ke bahasa assembly atau bahasa mesin.

Contoh :
(A+B)*(C+D)

Notasi Kuadrupel :
1. +, A, B, T1
2. +, C, D, T2
3. *, T1, T2, T3

Dapat ditranslasikan ke dalam bahasa Assembly dengan akumulator tunggal :

LDA A {Muat isi A ke akumulator}
ADD B {Tambahkan isi akumulator dengan B}
STO T1 {Simpan isi akumulator ke T1}
LDA C
ADD D
STO T2
LDA T1
MUL T2
STO T3

Keluaran dari code generator akan diterima oleh code optimizer. Misalkan untuk kode assembly diatas bisa dioptimasi menjadi :

LDA A
ADD B
STO T1
LDA C
ADD D
MUL T1
STO T2

Notes :
 Perintah LDA : Memuat isi dari register/memory ke akumulator (load to accumulator)
 Perintah STO : Menyimpan isi akumulator ke register/memory (store from accumulator)

CARA PENANGANAN KESALAHAN

Kesalahan Program bisa merupakan :
1. Kesalahan Leksikal : THEN ditulis TEN
2. Kesalahan Sintaks : A:=X+(B*(C+D) {jumlah kurungnya kurang}
3. Kesalahan Semantik :
 Tipe data yang salah.
Contoh : Var Siswa : Integer
Siswa := ‘Yanuar’ {tipe string}
 Variabel belum didefinisikan.
Contoh : B := B + 1 {B belum didefinisikan}

Langkah-langkah Penanganan Kesalahan adalah sebagai berikut :
 Mendeteksi Kesalahan
 Melaporkan Kesalahan
 Tindak lanjut pemulihan/perbaikan

sebuah kompilator yang menemukan kesalahan akan melakukan pelaporan kesalahan, yang biasanya meliputi :
 Kode kesalahan
 Pesan kesalahan dalam bahasa natural
 Nama dan atribut identifier
 Tipe-tipe yang terkait bila type checking

Contoh : Error Massage: Error 162 Jumlah := unknown identifier
artinya :
 kode kesalahan = 162
 pesan kesalahan = unknown identifier
 nama identifier = Jumlah

Adanya pesan kesalahan tersebut akan memudahkan pemrogram dalam mencari dan mengoreksi sumber dari kesalahan.

REAKSI KOMPILATOR PADA KESALAHAN

Terdapat beberapa tingkatan reaksi yang dilakukan oleh kompilator saat menemukan kesalahan, yaitu :
1. Reaksi-reaksi yang tidak dapat diterima (tidak melaporkan error);
 Kompilator crash: berhenti atau hang.
 Looping: kompilator masih berjalan tapi tidak pernah berakhir karena looping tak berhingga (indefinite/onbounded loop)
 Menghasilkan program objek yang salah: kompilator melanjutkan proses sampai selesai tapi program objek yang dihasilkan salah. Ini berbahaya bila tidak diketahui pemrogram, karena baru akan muncul saat program dieksekusi.
2. Reaksi yang benar tapi kurang dapat diterima dan kurang bermanfaat. Kompilator menemukan kesalahan pertama, melaporkannya, lalu berhenti (halt). Ini bisa muncul bila pembuat kompilator menganggap jarang terjadi kemunculan error dalam program sehingga kemampuan kompilator untuk mendeteksi dan melaporkan kesalahan hanya satu untuk setiap kali kompilasi. Pemrogram akan membuang waktu untuk melakukan pengulangan kompilasi setiap kali terdapat sebuah error.
3. Reaksi-reaksi yang dapat diterima:
 Reaksi yang sudah dapat dilakukan, yaitu kompilator melaporkan error, dan selanjutnya melakukan :
■ Recovery/pemulihan, lalu melanjutkan mencari error lain bila masih ada.
■ Repair/perbaikan kesalahan, lalu melanjutkan proses translasi dan menghasilkan program objek yang valid.
Kebanyakan kompilator dewasa ini sudah memiliki kemampuan recovery dan repair.
 Reaksi yang belum dapat dilakukan, yaitu kompilator mengkoreksi kesalahan, lalu menghasilkan program objek sesuai dengan yang diinginkan pemrogram. Disini komputernya sudah memiliki kecerdasan untuk mengetahui maksud pemrogram. Tingkatan respon ini belum dapat diimplementasikan pada kompilator yang ada dewasa ini.

ERROR RECOVERY

Pemulihan kesalahan bertujuan mengembalikan kondisi parser kekondisi stabil (supaya bisa melanjutkan proses parsing keposisi selanjutnya). Strategi untuk melakukan error recovery sebagai berikut:
1. Mekanisme Ad Hoc. Recovery yang dilakukan tergantung dari pembuat kompilator sendiri/spesifik dan tidak terikat pada suatu aturan tertentu. Cara ini bisa disebut juga sebagai special purpose error recovery.
2. Syntax directed recovery. Melakukan recovery berdasarkan syntax. Contoh :
Begin
A:=A+1
B:=B+1;
C:=C+1
end;
kompilator akan mengenali sebagai (dalam notasi BNF):
begin?;end;
‘?’ akan dikenali sebagai ‘;’
3. Secondary Error Recovery berguna untuk melokalisir error, dengan cara sebagai berikut:
 Panic Mode. Maju terus dan mengabaikan teks sampai bertemu delimiter (‘;’). contoh,
IF A:=1
Kondisi := true;
Pada teks diatas tidak terdapat instuksi THEN, kompilator akan maju terus/skip sampai bertemu titik koma.
 Unit Deletion. Menghapus keseluruhan suatu unit sintaktik (misal: , , ). Efeknya mirip dengan panic mode tetapi unit deletion memelihara kebenaran sintaksis dari source program dan mempermudah untuk melakukan error repairing lebih lanjut.
4. Context Sensitive Recovery. Berkaitan dengan semantik, misal bila terdapat variabel yang belum dideklarasikan (Undefined Variable) maka diasumsikan tipenya berdasarkan kemunculannya. Contoh :
B:= ‘nama’
sementara diawal program variabel B belum dideklarasikan, maka berdasarkan kemunculannya diasumsikan variabel B bertipe string.

ERROR REPAIRING

Perbaikan kesalahan bertujuan memodifikasi source program dari kesalahan dan membuatnya valid sehingga memungkinkan kompilator untuk melakukan translasi program yang mana akan dialirkan ketahapan selanjutnya pada proses kompilasi. Mekanismenya sebagai berikut :
1. Mekanisme Ad Hoc. Tergantung dari pembuat kompilator sendiri/spesifik.
2. Syntax Directed Repar. Menyisipkan simbol terminal yang dianggap hilang atau membuang terminal penyebab kesalahan. Contoh :algoritma berikut kurang instruksi DO
WHILE A < 1
I:=I+1;
Kompilator akan menyisipkan DO
contoh lain :
Procedure Increment;
begin
x:=x+1;
end;
end;
terdapat kelebihan simbol end, yang menyebabkan kesalahan maka kompilator akan membuangnya.
3. Context Sensitive Repair. Perbaikan dilakukan pada kesalahan berikut.

 Tipe Identifier. Diatasi dengan membangkitkan identifier dummy, contoh:
Var A:string;
begin
A:=0;
end;
kompilator akan memperbaiki kesalahan dengan membangkitkan identifier baru, misal B yang bertipe integer.
 Tipe Konstanta diatasi dengan membangkitkan konstanta baru dengan tipe yang tepat.
4. Spelling Repair. Memperbaiki kesalahan pengetikan pada identifier, misal:
WHILLE A=1 DO
identifier yang salah tersebut akan diperbaiki menjadi WHILE.

Sampingan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: