Ilmu Kalam

MU’TAZILAH

Diajukan untuk memenuhi tugas

Ilmu Kalam

Dosen pengampu :

Abdullah Ubed

 

 Oleh :

Moch Agus Setiawan

 

BAHASA DAN SASTRA ARAB

FAKULTAS ADAB

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURABAYA

 

 

A.   PENDAHULUAN

Problematika teologis di kalangan umat Islam baru muncul pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib (656-661M) yang ditandai dengan munculnya kelompok dari pendukung Ali yang memisahkan diri mereka karena tidak setuju dengan sikap ‘Ali yang menerima Tahkim dalam menyelesaikan konfliknya dengan Muawiyah bin Abi Sofyan, Gubernur Syam, pada waktu Perang Siffin. Di situ ‘Ali mengalami kekalahan di plomatis dan kehilangan kekuasaan “de jure”-nya.[1] Karena itu mereka memisahkan diri dengan membentuk kelompok baru yang kelak terkenal dengan sebutan kaum Khawarij (Pembelot atau Pemberontak). Kaum Khawarij memandang ‘Ali dan Mu’awiyah sebagai kafir karena mengkompromikan yang benar (haqq) dengan yang palsu (bathil). Karena itu mereka merencanakan untuk membunuh ‘Ali dan Mu’awiyah. Tapi kaum Khawarij, melalui seseorang bernama Ibn Muljam, hanya berhasil membunuh ‘Ali, sedangkan Mu’awiyah hanya mengalami luka-luka saja.

Bila Khawarij merupakan kelompok yang kontra terhadap Ali, maka kelompok kedua yang muncul kepermukaan yaitu Rhawafidl (Syi’ah) justru kebalikan Khawarij. Mereka adalah pendukung Ali dan mendaulatkan bahwa Ali-lah yang berhak menyandang gelar khalifah setelah Nabi Muhammad SAW. bukan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka semua ini bahkan dikafirkan oleh Syi’ah.

Selanjutnya muncul pula Murji’ah pada akhir kurun pertama (akhir masa sahabat) tepatnya pada masa pemerintahan Ibnu Zubair dan Abdul Malik.  Kemudian pada awal kurun kedua (masa tabi’in) yakni pada masa akhir pemerintahan Bani Umayyah muncul Jahmiyah, Musyabihah, dan Mumatstsilah yang diusung Ja’di bin Dirham dan Jahm bin Shafwan, penganut faham Jabariyah. Kemunculan berikutnya adalah Mu’tazilah yang mempunyai ciri khas ialah rasionalitas. Kerasionalannya tergambar dalam memberikan peran akal begitu besar dalam kehidupan, sehingga implikasinya dikatakan bahwa manusia bebas menentukan perbuatannya baik atau buruk.[2] Sedangkan paham Qadariyyah kebalikan dengan apa yang diusung Jahm bin Shafwan. Setelahnya, ada As’ariyah dan Maturidiah.

Mu’tazilah sebenarnya merupakan gerakan keagamaan semata, mereka tidak pernah membentuk pasukan, dan tidak pernah menghunus pedang. Riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang keikutsertaan beberapa pemimpin kaum Mu’tazilah, seperti ‘Amru Ibnu ‘Ubaid dalam serangan yang dilancarkan kepada al-Walid ibn Yazid, dan yang menyebabkan gugurnya Al Walid ibnu Yazid, tidaklah menyebabkan Mu’tazilah ini menjadi suatu golongan yang mempunyai dasar-dasar kemiliteran, sebab pemberontakan terhadap Al-Walid itu bukanlah pemberontakan kaum Mu’tazilah, melainkan adalah suatu pemberontakan yang berakar panjang yang berhubungan dengan kepribadian dan moral Khalifah. Maka ikut-sertanya beberapa orang Mu’tazilah dalam pemberontakan itu hanyalah secara perseorangan, disebabkan prinsip-prinsip umum, yang menyebabkan rakyat memberontak kepada penguasa yang zalim.

Walaupun gerakan Mu’tazilah merupakan gerakan keagamaan, namun pada saat ia mempunyai kekuatan ia tidak segan-segan menggunakan kekerasan dan tekanan-tekanan terhadap pihak-pihak yang menantangnya. Pemakaian kekerasan itu dipandang sebagai salah satu dari sikap Mu’tazilah yang tercela. Dan adanya tekanan-tekanan itu menjadi sebab yang terpenting bagi lenyapnya aliran ini di kemudian hari.

Meskipun aliran Mu’tazilah pada era dewasa ini sulit ditemukan, pemikiran-pemikiran Mu’tazilah sepertinya terus berkembang, tentunya dengan gaya baru dan dengan nama-nama yang cukup menggelitik dan mengelabui orang yang membacanya. Sebut saja  istilah Modernisasi Pemikiran, Sekulerisme, dan nama-nama lainnya yang mereka buat untuk menarik dan mendukung apa yang mereka anggap benar dari pemikiran itu dalam rangka usaha mereka menyusupkan dan menyebarkan pemahaman dan pemikiran yang bersumber dari akal pikiran semata.[3]

Untuk itulah, pada kesempatan ini penulis mencoba untuk membahas tentang asal usul aliran Mu’tazilah berikut prinsip-prinsip pemikiran mereka agar kita dapat mengetahui secara jelas apakah aliran ini memang dapat diterima atau malah menyimpang dari ajaran agama Islam.

                                                                                  

B.   SEJARAH LAHIRNYA ALIRAN MU’TAZILAH

a.       Awal Munculnya Golongan Mu’tazilah

Sebenarnya term Mu’tazilah sudah muncul pada pertengahan abad Hijriah. Istilah ini digunakan untuk orang-orang (para sahabat) yang memisahkan diri atau bersikap netral dalam peristiwa-peristiwa politik yang terjadi setelah Usman bin Affan wafat. Pertama, pertentangan antara Aisyah, Thalhah, dan Zubair dengan Ali bin Abi Thalib sehingga meletus perang Jamal. Kedua, perselisihan antara Mu’awiyah dan Ali bin Abi Thalib sehingga pecah perang Shiffin. Sejumlah sahabat tidak mau terlibat dalam konflik politik berdarah itu. Mereka menjauhkan diri dari konflik politik tersebut dan tidak memihak kepada siapa pun. Diantara sahabat yang bersikap demikian adalah Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, Suhaib bin Sinan, dan Zain bin Tsabit. Karena mereka memisahkan diri dari kelompok-kelompok yang bertikai, mereka dinamakan Mu’tazilah yang berarti orang yang memisahkan diri.

Al-Naubakti dalam kitabnya Firaq al-Syiah, sebagaimana dikutib oleh HAR Gibb dan J.H.Kramers, mengatakan bahwa setelah Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah, sekelompok umat Islam memisahkan diri (i’tizal) dari Ali, meskipun mereka menyetujui pengangkatan tersebut. Mereka ini disebut golongan Mu’tazilah.[4]

Di dalam beberapa buku yang membicarakan tentang teologi Islam, sering disebut bahwa Mu’tazilah lahir pada abad kedua Hijriah dengan tokoh utama Washil bin Atha’. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah ada hubungan antara Mu’tazilah pada abad peratama dengan Mu’tazilah yang muncul di abad kedua ini? Apakah Mu’tazilah yang dipelopori oleh Washil bin Atha’ merupakan kelanjutan dari Mu’tazilah Sa’ad bin Abi Waqqash dan sejulah sahabat lainnya? Ataukah kedua Mu’tazilah tersebut muncul sendiri-sendiri, tanpa ada hubungan dan kaitan, sekalipun namanya sama?

Kalau diperhatikan keadaan masyarakat dan situasi politik serta latar belakang lahirnya kedua Mu’tazilah di atas, nampaknya tidak ada hubungan antara Mu’tazilah yang muncul di abad pertama Hijriah dengan Mu’tazilah yang dipelopori oleh Washil bin Atha’. Yang pertama lahir akibat kemelut politik, sedangkan yang muncul karena didorong oleh persoalan akidah atau keimanan.

Al-Syahrastani menceritakan bagaimana Mu’tazilah kedua tersebut lahir. Katanya, pada suatu hari seorang laki-laki datang enemui Hasan al-Bashri (21-110 H/642-728 M) di majlis pengajiannya di Bashrah, seraya berkata, “Pada zaman sekarang ada golongan yang mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa besar. Menurut mereka dosa besar itu merusak ian sehingga membawa kepada kekafiran (yang dimaksud adalah golongan Khuwarij). Di samping itu, ada pula golongan yang menangguhkan hukum orang yang berdosa besar. Menurut golongan ini, dosa besar tidak merusak iman sehingga orang yang berbuat dosa besar itu masih tetap orang mukmin, tidak kafir (golongan dimaksud adalah murjiah).

Ketika Hasan al Bashri masih merenung untuk memberikan jawaban atas pertanyaannya tersebut, Whasil bin Atha’, salah seorang peserta dalam majlis tersebut, memberikan jawaban lebih dahulu, “Aku tidak mengatakan orang yang berbuat dosa besar itu mukmin secara mutlak, dan tidak pula kafir secara mutlak (al-manzilah bain al-manzilatain). Orang itu tidak mukmin, tidak pula kafir. Setelah memberikan jawaban itu, Whasil berdiri dan berjalan menuju ke salah satu sudut masjid. Di sini ia kembali menegaskan dan menjelaskan pendapatnya tersebut kepada kawan-kawannya. Melihat sikap Whasil demikian, Hasan al-Bashri berkata,”I’tazala ‘anna Washil (wasil telah memisahkan diri dari kita)”. Sejak itulah Whasil dan kawan-kawan serta pengikutnya dinamakan mu’tazilah. [5]

Mu’tazilah dalam bentuk pertama (abad pertama Hijriah) tidak berkembang dan bukan merupakan aliran teologi Islam. Mu’tazilah yang berkembang dan menjadi salah satu aliran teologi ialah Mu’tazilah bentuk kedua, pimpinan Whasil bin Atha’.

 

 

b.      Suasana Lahirnya Mu’tazilah

Sejak Islam meluas, banyaklah bangsa-bangsa yang masuk Islam untuk hidup di bawah naungannya. Akan tetapi tidak semuanya memeluk dengan segala keikhlasan. Ketidakikhlasan ini dimulai sejak zaman Mu’awiyah, karena mereka telah memonopoli segala kekuasaan pada bangsa Arab sendiri. Tindakan ini menimbulkan kebencian terhadap bangsa Arab dan keinginan menghancurkan Islam dari dalam, sumber keagungan dan kekuatan mereka. Diantara musuh-musuh Islam dari dalam ialah golongan Rafidlah, yaitu golongan Syi’ah ekstrim yang mempunyai banyak unsur-unsur kepercayaan yang jauh sama sekali dari ajaran Islam, seperti kepercayaan agama Mani dan golongan sceptic yang pada waktu itu tersebar luas di kota-kota Kufah dan Bashrah, juga golongan tasawwuf inkarnasi termasuk musuh Islam.

Dalam keadaan yang deikian itu muncullah golongan Mu’tazilah yang berkembang dengan pesatnya sehingga mempunyai sistem atau metode dan pendapat-pendapatnya sendiri. Meskipun banyak golongan-golongan yang ditentang Mu’tazilah namun mereka sendiri sering-sering terpengaruh oleh golongan-golongan tersebut, karena pendapat dan fikiran selalu bekerja, baik terhadap lawan maupun kawan, baik menerima atau membantah bahkan sering-sering masuk kepada lawannya tanpa dikehendaki atau disengaja.

Golongan-golongan yang mempengaruhi aliran Mu’tazilah antara lain orang-orang Yahudi (misalnya dalam soal baharunya Qur’an) dan orang-orang Mesehi, seperti Saint John of Damascus (676-749) yang terkenal dengan nama Ibnu Sarjun, Tsabit bin Qurrah (836-901) murid John tersebut dan Kusto bin Lucas (820-912).[6]

 

c.       Asal Usul Nama Mu’tazilah

Nama Mu’tazilah bukan ciptaan orang-orang Mu’tazilah sendiri,tetapidiberikan oleh orang-orang lain. Orang-orang Mu’tazilah menamakan dirinya “Ahli keadilan dan keesaan” (ahlu adli wat tauhid).[7] Secara harfiyah kata Mu’tazilah berasal dari kata I’tazala yang berarti berpisah atau memisahkan diri yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri dan atau menyalahi pendapat orang lain. Secara teknis penyebutan istilah Mu’tazilah,ada dalam beberapa versi,antara lain :

1.      Disebut Mu’tazilah karena Wasil bin Atha’ dan ‘Amar bin ‘Ubaid menjauhkan diri dari pengajian Hasan Basri di masjid Basrah dan kemudian membentuk majlis ta’lim sendiri sebagai kelanjutan dari pendapatnya bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak mukmin lengkap juga tidak kafir lengkap, melainkan berada di antara dua tempat tersebut (al manzilatu bainal manzilataini). Dengan adanya peristiwa tersebut, Hasan Basri berkata, “Wasil menjauhkan diri dari kita (I’tazaala anna)”. Sehingga mereka di sebut golongan Mu’tazilah. Jadi penyebutan Mu’tazilah menurut versi ini secara lahiriyah yaitu pemisahan fisik atau menjauhkan diri dari tempat duduk orang lain.

2.      Disebut Mu’tazilah karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Murji’ah dan golongan Khawarij tentang tahkim atau pemberian status bagi orang yang melakukan dosa besar. Golongan Murji’ah berpendapat bahwa pelaku dosa besar masih termasuk orang mukmin, sedang menurut golongan Khawarij pelaku dosa besar menjadi kafir dan menurut Hasan Basri ia menjadi orang munafik. Datanglah Wasil bin Atha’ yg mengatakan bahwa pelaku dosa besar bukan mukmin bukan pula kafir, melainkan fasik jadi penyebutan Mu’tazilah menurut versi yang kedua ini adalah secara ma’nawiyah yaitu menyalahi pendapat orang lain.

3.      Disebut Mu’tazilah karena pendapat mereka bahwa orang yang melakukan dosa besar berarti dia telah menjauhkan diri dari golongan orang mukmin dan orang kafir, yang berarti juga bahwa istilah Mu’tazilah itu menjadi sifat bagi pelaku dosa besar tersebut yang kemudian menjadi nama atau sifat bagi golongan yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar menyendiri dari orang orang mukmin dan orang kafir.

4.      Menurut Ahmad Amin, nama Mu’tazilah sebenarnya telah ada sebelum peristiwa Wasil dan Hasan Basri. Ahmad Amin berpendapat bahwa yang mula-mula memberi nama Mu’tazilah adalah kaum Yahudi. Seperti diketahui, sepulang mereka dari tawanan di Siria (perang Meccabea melawan Antiochus IV, raja Siria, abad empat atau tiga sebelum lahir Isa) timbulah diantara mereka golongan Yahudi “PHARISEE” yang artinya memisahkan diri (dari bahasa Ibrani, parash; to separate).[8] Maksud sebutan ini tepat sekali dipakai untuk orang-orang Mu’tazilah. Selain itu, pendapat golongan Yahudi Pharisee mirip dengan golongan Mu’tazilah, yaitu semua perbuatan bukan Tuhan yang ,mengadakannya.  Nama Mu’tazilah diberikan kepada orang yang tidak mau berintervensi dalam oertikaian politik yang terjadi pada masa Utsman bin Affan dan Ali bin abi Thalib. Ia menjumpai pertikain. Satu golongan mengikuti pertikaian tersebut sedang satu golongan yang lain menjauhkan diri ke Kharbitha. Oleh karena itu, dalam surat yang di kirimnya ke Ali bin Abi Thalib, Qais menamai golongan yang menjauh diri tersebut dengan nama Mu’taziliin, sedang Abu Fida menamainya dengan Mu’tazilah.

C.     CORAK PEMIKIRAN MU’TAZILAH

Aliran Mu’tazilah dikenal sebagai golongan tradisional dalam Islam, karena di antara yang ada, dialah yang paling banyak memberi fungsi terhadap akal dalam membahas masalah keagamaan. Namun demikian, untuk mengetahui secara jelas corak pemikiran aliran Mu’tazilah, maka yang menjadi pembahasan utama dalam persoalan tersebut adalah peranan akal dalam kehidupan umat manusia, karena manusia dalam hidupnya di beri dua hal yang menjadi pedoman baginya agar tidak sesat, yaitu akal dan wahyu. Jika diperhatikan pembahasan tentang fungsi akal dan wahyu dalam kehidupan beragama di kalangan Mutakallimin, senantiasa dihubungkan dengan 4 masalah pokok, yaitu: 1) Mengetahui Tuhan, 2) Mengetahui kewajiban Tuhan, 3) Mengetahui baik dan buruk, 4) Mengetahui kewajiban melaksanakan yang baik dan menjauhi yang buruk.[9]

Aliran Mu’tazilah dalam melihat masalah tersebut mengatakan bahwa keempat masalah di atas bisa diketahui akal. Akal dapat dijadikan pedoman dalam menentukan baik dan buruknya sesuatu sebelum datangnya wahyu, sehingga wajib untuk melakukan penalaran yang mapan agar dapat mengantar manusia untuk mengetahui kewajiban-kewajibannya. Karena itu, akal yang sudah sempurna merupakan sumber pengetahuan yang dapat mengetahui apa yang mendatangkan mudharat dan dosa. Akal yang sudah sempurna itu dimiliki oleh orang yang sudah mukallaf, sehingga hanya dialah yang dapat mengetahui 4 masalah tersebut di atas.

Meskipun demikian, tidaklah berarti bahwa semua masalah secara rinci dapat diketahui oleh akal, tetapi ada hal-hal tertentu dimana akal sangat membutuhkan penjelasan wahyu karena akal mempunyai keterbatasan, yaitu dalam perincian terhadap baik dan buruk serta kewajiban umat manusia. Al Jabbar menjelaskan bahwa akal hanya dapat mengetahui sebahagian yang baik dan buruk serta kewajiban, sehingga wahyulah yang menyempurnakan pengetahuan akal tersebut, termasuk menjelaskan cara berterima kasih kepada Tuhan, seperti shalat, zakat, dan puasa.[10] Karena itu, ada pengetahuan baik yang diketahui oleh akal dan ada yang diketahui oleh wahyu, begitu pula dalam hal yang buruk. Fungsi lain dari wahyu dalam pandangan aliran Mu’tazilah dikemukakan oleh al Syahrastaniy yaitu mengingatkan manusia tentang kewajibannya dan mempercepat untuk mengetahuinya.[11] Di sini dapat dipahami bahwa jika melalui akal memerlukan waktu yang lama karena harus ada pengamatan, kemudian dipikirkan lalu mengambil keputusan. Oleh Harun Nasution dikatakan bahwa fungsi wahyu terhadap akal sebagai informasi dan konfirmasi.[12] Memberikan informasi terhadap apa yang belum diketahui oleh akal di samping mengkonfirmasikan apa yang telah diketahui akal. Aboe Bakar Atjeh menjelaskan tentang fungsi akal bagi aliran Mu’tazilah yaitu akal dapat menjangkau segala persoalan kehidupan manusia, sehingga apa yang dihasilkan oleh akal harus di terima. Jika terjadi pertentangan antara hasil akal dengan ketentuan wahyu, misalnya terhadap ayat-ayat mutasyabihat, maka harus di ta’wilkan agar sesuai dengan ketentuan akal.[13] Meskipun demikian, aliran Mu’tazilah tidak meninggalkan aturan.

D.   AJARAN-AJARAN MU’TAZILAH

Menurut Al-Bagdady dalam kitabnya (al-Farqu bainal Firaqi) alran Mu’tazilah terpecah-pecah menjadi 22 golongan, dua diantaranya dianggap sudah keluar dari Islam.[14] Meskipun terpecah-pecah, namun semuanya masih tergabung dalam al-Ushul al-Khamzah (lima ajaran dasar), yaitu:

1.      At-Tawhid (ke-Esa-an)

At-Tawhid dalam pandangan Mu’tazilah berarti meng-Esa-kan Allah dari segala sifat dan af’alnya yang menjadi pegangan bagi akidah Islam.[15] Orang-orang Mu’tazilah dikatakan ahli Tauhid, karena ereka berusaha seaksimal mungkin mempertahankan prinsip keTauhidannya dari serangan Syi’ah Rafidiyah yang menggambarkan Tuhan dalam bentuk Jisim, dan bisa menghindari serangan dari agama dualise dan Tritinas.[16]

Tauhid dari golongan Mu’tazilah adalah:

  • Sifat-sifat Tuhan tidak bersifat Qadim, kalau sifat Tuhan itu qadim brati Allah itu berbilang-bilang, sebab ada dua zat yang qadim, yaitu Allah dan sifat-Nya, padahal Maha Esa.
  • Mereka “menafikan” meniadakan sifat-sifat Allah sebab bila Allah bersifat dan sifatnya itu bermacam-macam, pasti Allah itu berbilang.
  • Allah bersifat ‘Alimin, Qadarin, Hayyun, Samiun, Basyirun dan sebagainya adalah dengan zat-Nya demikian, tetapi ini bukan keluar dari zat Allah yang berdiri sendiri.
  • Allah tidak dapat diterka dan dilihat mata walaupun di akhirat nanti.
  • Mereka menolak aliran Mujasimah, Musyabilah, Dualisme, dan Trinitas.
  • Tuhan itu bukan benda bukan Arrad dan tidak berlaku tempat (arah) pada-Nya.

2.      Al-Adlu (keadilan)

Manusia adalah merdeka dalam segala perbuatannya dan bebas bertindak, oleh karena kebebasan itulah manusia harus mempertanggungjawabkan atas segala perbuatannya. Apabila perbuatan itu baik, maka Tuhan memberi kebaikan dan kalau perbuatan itu jelek atau salah jelas, siksaan dari Tuhan yang didapat. Inilah yang mereka maksud keadilan.[17]

Lebih jauhnya tentang keadilan, mereka berpendapat:

  • Tuhan menguasai kebaikan dan tidak menghendaki keburukan.
  • Manusia bebas berbuat dan kebebasan ini karena Qudrat (kekuasaan) yang dijadikan Tuhan pada diri manusia.
  • Makhluk diciptakan Tuhan atas dasar hikmah kebijaksanaan.
  • Tuhan tidak melarang atas sesuatu kecuali terhadap yang dilarang dan menyuruh kecuali yang disuruh-Nya.
  • Kaum Mu’tazilah tidak mengakui bahwa manusia memiliki Qudrat dan Iradat, tetapi Qudrat dan Iradat tersebut hanya merupakan pinjaman belaka.
  • Manusia dapat dilarang atau dicegah untuk melakukan Qadrat dan Iradat.

3.      Al-Wa’du  wal Wa’id (janji dan ancaman)

Prinsip janji dan ancaman yang dipegang oleh kaum Mu’tazilah adalah untuk membuktikan keadilan Tuhan sehingga manusia dapat merasakan balasan Tuhan atas segala perbuatannya. Di sinilah peranan janji dan ancaman bagi manusia agar tidak terlalu menjalankan kehidupannya.

Ajarannya ialah:

  • Orang mukmin yang berdosa besar lalu mati sebelum bertaubat ia tidak akan mendapat ampunan dari Tuhan.
  • Di akhirat tidak akan ada Syafaat karena syafaat berlawanan dengan al-Wa’du wal Wa’id (janji dan ancaman).
  • Tuhan pasti akan membalas kebaikan manusia yang telah berbuat baik dan akan menjatuhkan siksa terhadap manusia yang melakukan kejahatan.

4.      Al-Manzilah bainal Manzilataini (tempat diantara dua tempat)

Sebagai diuraikan terdahulu bahwa dimaksud dengan tempat diantara dua tempat yang dikemukakan oleh kaum Mu’tazilah yaitu tempat bagi orang Fasik, yaitu orang-orang Mu’tazilah yang melakukan dosa besar tetapi tidak Musyrik, nanti akan ditempatkan disuatu tempat yang berada diantara surga dan neraka.[18] Doktrin ini oleh sebagian teolog dipandang membingungkan dan tidak jelas. Sebab tidak terdapat penjelasan yang kongkrit dan riil tentang dasar yang digunakan oleh Mu’tazilah dan keadaan tempat tersebut.[19]

5.      Amar Ma’ruf Nahi Munkar (menyuruh kebaikan dan melarang kejelekan)

Dasar ini pada kenyataannya hanya sekedar berhubungan dengan amalan batin dan dengan dasar itu pula membuat heboh dunia Islam selama 300 tahun, pada abad permulaan Islam, sebab menurut mereka: “Orang yang menyalahi pendirian mereka dianggap sesat dan harus dibenarkan atau diluruskan”. Kewajiban ini harus dilaksanakan oleh setiap muslimin dan muslimat untuk menegakkan agama serta memberi petunjuk kepada orang yang sesat. Dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, Mu’tazilah berpegang kepada Al-Hadist yang artinya: “siapa diantaramu yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tanganmu”.

Oleh karena itulah telah tercatat dalam sejarah bahwa kaum Mu’tazilah pernah membunuh ulama-ulama Islam diantaranya ulama Islam yang terkenal Syekh Buwaithi, seorang ulama pengganti Imam Syafi’i dalam suatu peristiwa “Qur’an Makhluk”.[20] Di sini terdapat keganjilan-keganjilan dari orang Mu’tazilah sebab amar ma’ruf atau menyuruh kebaikan itu dimaksudkan hanya ma’ruf (kebaikan) bagi kaum Mu’tazilah, yaitu hanya pendapat mereka bukan ma’ruf (kebaikan) yang sesuai dengan Qur’an.

E.   TOKOH-TOKOH MU’TAZILAH

1.      Washil bin Atha’ al-Ghazzal (70-131 H/SM)

Washil bib Atha’ lahir sekitar tahun 70 H di Madinah.[21] Dari Madinah beliau pindah ke Bashrah dan berguru pada hasan al-Bashri, seorang tokoh dan ulam besar. Ketika belajar dengan Hasan al-Bashri inilah ia pertama kali melontarkan pendapat yang berbeda dengan gurunya sehingga dia dan pengikutnya disebut Mu’tazilah. Pokok-pokok pikiran teologis Washil dapat disimpulkan pada tiga hal penting:

  • Tentang muslim yang berbuat dosa besar, Washil berpendapat, orang itu tidak mukmin, tidak pula kafir, tapi fasiq. Kedudukannya berada diantara mukmin dan kafir (al-manzilah bain al-manzilain), dengan klasifikasi tersendiri.
  • Mengenai perbuatan manusia, Washil berpendapat, manusia memiliki kebebasan, kemampuan, dan kekuasaan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan. Kebebasan memilih, kemampuan dan kekuasaan berbuat yang ada pada manusia itu adalah pemberian dari Tuhan kepadanya. Karena itu manusialah yang menciptakan perbuatannya dan harus bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya itu.
  • Tentang sifat Allah, Washil menolak paham bahwa Tuhan memiliki sifat. Apa yang dianggap orang sebagai sifat tidak lain kecuali sifat Allah itu sendiri. Sebagai contoh, Tuhan mengetahui dengan pengetahuan-Nya dan pengetahuan-Nya itu adalah zat-Nya, Tuhan mendengar dengan pendengaran-Nya dan pendengaran-Nya itu adalah zat-Nya.

2.      Abu al-Huzail al-Allaf (135-226 H atau 753-840 M)

Ia menjadi pemimpin aliran Mu’tazilah Bashrah yang merupakan generasi kedua Mu’tazilah. Tokoh inilah yang mengintrodusir dan menyusun dasar-dasar paham Mu’tazilah al-ushul al-khamsah, sehinnga aliran Mu’tazilah mengalami kepesatan.[22] Pendapat-pendapatnya antara lain:

  • Tentang aradl, dinamakan aradl bukan karena mendatang pada benda-benda, karena banyak aradl bukan pada benda, seperti waktu, abadi dan hancur. Ada aradl yang abadi dan tidak abadi.
  • Menetapkan adanya bagian-bagian yang tidak dapat dibagi-bagi lagi (atom).
  • Gerak dan diam, benda yang banyak bagian-bagiannya bisa bergerak dengan satu bagian yang bergerak.
  • Hakekat manusia, hakekatnya adalah badannya, bukan jiwanya (nafh dan rukh).
  • Gerak penghuni surge dan neraka, gerak gerik mereka akan berakhir dan menjadi kesenangan dan siksaan.
  • Qadar, manusia bisa mengadakan perbuatan-perbuatannya di dunia, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa di akhirat.
  • Tentang sesuatu yang dapat dicapai panca indra hanya bisa diterima apabila diberitakan oleh 20 orang sekurang-kurangnya, seorang diantaranya dari ahli surge (aliran Mu’tazilah).

3.      Ibrahim bin Sayyar an-Nazzam (wafat 231 H atau 845 M)

Ia adalah murid Abul-Huzain al-Allaf. Ketika kecilnya ia banyak bergaul dengan orang-orang bukan dari golongan Islam dan sesudah dewasa banyak berhubungan dengan filosof-filosof masanya. Beberapa pendapat-pendapatnya berlainan dengan orang-orang Mu’tazilah lainnya, antara lain,

  • Tentang benda (jisim), semua yang ada disebut jisim, termasuk warna dan bau.
  • Tidak mengakui adanya bagian yang tidak dapat dibagi-bagi.
  • Teori lompatan (thafrah).
  • Tidak ada “diam” (inrest). Diam hanyalah istilah bahasa, pada hakekatnya semua yang ada bergerak.
  • Hakekat manusia, hakekatnya adalah jiwanya bukannya badannya (seperti pendapat al-Allaf).
  • Berkumpulnya contradictie dalam suatu tempat, menunjukkan adanya Tuhan.
  • Teori sembunyi (kumun), semua makhluk dijadikan Tuhan sekaligus dalam waktu yang sama.
  • Berita yang benar adalah yang diriwayatkan oleh imam yang ma’sum.
  • I’jaz Qur’an (daya pelemah) terletak dalam pemberitaan hal-hal yang gaib.

4.      Bisyr bin al-Mu’tamir (wafat 226 H/840 M)

Salah satu pedapatnya adalah, siapa yang taubat dari dosa besar kemudian mengerjakan dosa besar lagi, ia akan menerima dosa yang pertama juga, sebab taubatnya dapat diterima dengan syarat tidak mengulangi lagi

5.      Jahiz Amr bin Bahr (wafat 255 H/808 M)

Ia terkenal taajam penanya, banyak karangannya dan banyak membaca buku-buku filsafat, terutama filsafat alam. Karangan-karangannya yang masih ada hanyalah yang bertalian dengan kasusastran.

6.      Al-Jubba’I (235-303H atau 849-915M)

Nama lengkapnya Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahab. Ia berguru pada al-Syahham, salah seorang murid Abu Huzail al-Allaf. Suasana polotik pada zamannya tidak stabil. Gerakan-gerakan sparatis di berbagai daerah bermunculan dan dinasti-dinasti kecil lahir dimana-mana sehingga pemerintahan pusat jauh menurun. Meskipun demikian, ilmu pengetahuan tetap berkembang pesat, sebab masing-masing dinasti kecil yang menguasai beberapa daerah juga tetap turut memajukan ilmu pengetahuan. Di samping itu, para ilmuwan tidak banyak terpengaruh dengan siruasi dan kondisi politik pada zaman itu

F.    KEMUNDURAN GOLONGAN MU’TAZILAH

Selama beberapa puluh tahun lamanya golongan Mu’tazilah mencapai kepesatan dan kemegahannya, akhirnya mengalami kemunduran. Kemunduran ini sebenarnya karena perbuatan orang-orang Mu’tazilah sendiri. Mereka hendak membela dan memperjuangkan kebebasan berfikir akan tetapi mereka sendiri memusuhi orang-orang yang tidak mengikuti pendapat-pendapat mereka. Puncak tindakan mereka adalah ketika Al-Ma’mun menjadi khalifah dimana mereka bisa memaksakan pendapat dan keyakinan mereka kepada golongan-golongan lain dengan menggunakan kekuasaan Al-Ma’mun yang mengakibatkan timbulnya “peristiwa Qur’an”, yang memecah kaum muslimin menjadi dua blog, yaitu blog yang menuju kekuatan akal-fikiran dan menundukkan agama kepada ketentuannya. Yang lain adalah blog yang berpegang teguh pada bunyi nas-nas Qur’an dan Hadis semata-mata dan menganggap tiap-tiap yang baru sebagai bid’ah dan kafir.

Akan tetapi persengketaan tersebut dapat dibatasi dengan tindakan al-Mutawakkil, lawan golongan Mu’tazilah untuk mengembalikan kekuaaan golongan yang mempercayai kezaliman Qur’an. Sejak aat itu golongan Mu’tazilah mengalami tekanan berat, padahal sebelumnya menjadi pihak yang selalu menekan. Kitab-kitabnya dibakar dan kekuatannya dicerai-berai sehingga kemudian tidak lagi ada aliran Mu’tazilah sebagai suatu golongan.

Akan tetapi mundurnya golongan Mu’tazilah sebagai golongan yang teratur tidak menghalang-halangi lahirnya simpatisan dan pengikut-pengikut setia yang menyiarkan ajaran-ajarannya. Pada akhir abad ketiga Hijriyah muncullah Al-Khayyat yang dianggap umber yang asli untuk mengetahui pendapat-pendapat atau pikiran-pikiran Mu’tazilah. Pada permulaan abad keempat muncullah Abu Bakar al-Ikhsyidi dengan alirannya yang sangat berpengaruh. Ulama Mu’tazilah angkatan baru yang angat terkenal adalah Al-Kassyaf.[27] Tafsir ini sangat berpengaruh dan lama sekali menjadi pegangan oleh ahli Sunnah, ampai lahirnya tafsir Baidlawy. Kegiatan kaum Mu’tazilah baru hilang sama sekali setelah adanya erangan-serangan oleh orang Mongolia. Meskipun demikian pikiran-pikiran dan ajaran-ajarannya yang penting masih hidup ampai sekarang pada golongan Syi’ah Zaidiyah.

G.  KRITIK

Pada ajaran Mu’tazilah at-Tauhid dikatakan bahwasanya “Mereka menafikan meniadakan sifat-sifat Allah sebab bila Allah bersifat dan sifatnya itu bermacam-macam, pasti Allah itu berbilang.” Sudah dijelaskan di Al-Qur’an bahwa Allah mempunyai sifat wajib yang sebanyak 20,yaitu wujud, qidam, baqa’, muqalafatililqawatisi, dsb. Jadi sangat jelas bahwa ajaran at-Tauhid ini menyimpang dengan esensi Al-Qur’an. Pada kasus ini, orang-orang Mu’tazilah salah menafsirkan sifat-sifat Allah. Sifat yang banyak tidak berarti Allah berbilang-bilang. Allah tetap Esa dengan segala sifat-sifatnya.

At-Tauhid juga mengajarkan bahwa “Allah tidak dapat diterka dan dilihat mata walaupun di akhirat nanti.” Ajaran ini juga tidak sesuai dengan Al-Qur’an, karena di Al-Qur’an dikatan barang orang-orang soleh akan berjumpa dengan Allah nanti di akhiat. Aliran Mu’tazilah juga tidak menyebutkan atas dasar apa ajaran ini dikeluarkan, jadi kefalidannya tidak jelas.

Ajaran ketiga aliran Mu’tazilah adalah janji dan ancaman yang di dalamnya tertulis bahwa “di akhirat tidak akan ada Syafaat karena syafaat berlawanan dengan al-Wa’du wal Wa’id (janji dan ancaman).” Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa siapa yang selalu berolawat atas Nabi maka di hari akhir akan mendapat Syafaatnya. Memang Syafaat ini hanya untuk orang-orang yang taat, jadi orang-orang yang berbuat dosa besar dan meninggal sebelum bertaubat sudah dipastiakan tidak akan mendapat Syafaat di hari akhir. Sesuai eseni Al-Qur’an, Syafaat ada di hari akhir, jadi ekali lagi ajaran ini menyimpang dari dasar-dasar agama Islam.

Selanjutnya yaitu ajaran tentang tempat diantara dua tempat, tempat bagi orang Fasik, yaitu orang-orang Mu’tazilah yang melakukan dosa besar tetapi tidak Musyrik, nanti akan ditempatkan disuatu tempat yang berada diantara surga dan neraka. Ajaran ini sangat membingungkan, karena Mu’tazilah sendiri tidak mendiskribsikan bagaimana keadaan tempat tersebut. Bisa tempat yang setengah surga dan setengah neraka, atau mungkin bisa juga tempat yang setengah panas dan setengah indah. Kalau dipikir secara logika sangat tidak rasional. Tidak adil juga jika orang yang berbuat dosa besar tidak disiksa dalam neraka, padahal dikatakan dalam Al-Qur’an, jangankan dosa besar, dosa sekecil zahro saja akan dipertangjawabkan yaitu berupa siksa api neraga. Lalu bagaimana bisa orang yang berbuat dosa besar tidak masuk dalam neraka.

Dalam ajaran amar ma’ruf nahi munkar, Mu’tazilah mengatakan bahwa  “Orang yang menyalahi pendirian mereka dianggap sesat dan harus dibenarkan atau diluruskan”. Tercatat oleh sejarah bahwa kaum Mu’tazilah pernah membunuh ulama-ulama Islam diantaranya ulama Islam yang terkenal Syekh Buwaithi, seorang ulama pengganti Imam Syafi’i dalam suatu peristiwa “Qur’an Makhluk”. Pada ajaran ini kaum Mu’tazilah menggunakan dasar al-Hadist yang artinya “siapa diantaramu yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tanganmu”. Nampaknya salah penafsiran terjadi kembali pada ajaran ini. Hadist mengatakan “rubahlah dengan tanganmu sendiri” maksudnya tidak dengan kekerasan tangan (membunuh) seperti yang dilakukan kaum Mu’tazilah tersebut. Namun bagaimana kita bertindak untuk membenarkan mereka yang salah dengan halus dan sopan seperti cara Rasul menyebarkan ajaran Islam. Dari sini dapat disimpulkan bahwa yang dinamakan amar ma’ruf atau menyuruh kebaikan itu dimaksudkan hanya ma’ruf (kebaikan) bagi kaum Mu’tazilah, yaitu hanya pendapat mereka bukan ma’ruf (kebaikan) yang sesuai dengan Qur’an.

H.  PENUTUP DAN KESIMPULAN

Aliran Mu’tazilah yang selalu membawa persoalan-persoalan teologi banyak memakai akal dan logika sehingga mereka dijuluki sebagai “kaum rasionalis Islam“. Penghargaan mereka yang tinggi terhadap akal dan logika menyebabkan timbul banyak perbedaan pendapat di kalangan mereka sendiri, hal ini disebabkan keberagaman akal manusia dalam berfikir. Bahkan perbedaan tersebut telah melahirkan sub-sub sekte (aliran) mu’tazilah baru yang tidak sedikit jumlahnya. Setiap sub sekte memiliki corak pemikiran tersendiri yang ditentukan oleh corak pemikiran pimpinan sub sekte tersebut. Al-Baghdady dalam kitabnya “al-farqu bainal firaqi” menyebutkan bahwa aliran Mu’tazilah ini telah terpecah menjadi 22 golongan.mPemikiran-pemikiran para filosof Mu’tazilah pada ajaran-ajaran dan wahyu dari Allah tidak seuai dengan esensi Al-Qur’an, sehingga banyak ajaran Islam yang tidak mereka akui karena menyelisihi akal menurut prasangka mereka.

Berbicara perpecahan umat Islam tidak ada habis-habisnya, karena terus menerus terjadi perpecahan dan penyempalan mulai dengan munculnya Khowarij dan Syi’ah, kemudian muncullah satu kelompok lain yang berkedok dan berlindung dibawah syiar akal dan kebebasan berfikir, satu syiar yang menipu dan mengelabuhi orang-orang yang tidak mengerti bagaimana Islam telah menempatkan akal pada porsi yang benar. Sehingga banyak kaum muslimin yang terpuruk dan terjerumus masuk pemikiran kelompok ini. Akhirnya terpecahlah dan berpalinglah kaum muslimin dari agamanya yang telah diajarkan Rasulullah dan para shahabat-shahabatnya.  Akibat dari hal itu bermunculanlah kebidahan-kebidahan yang semakin banyak dikalangan kaum muslimin sehingga melemahkan kekuatan dan kesatuan mereka serta memberikan gambaran yang tidak benar terhadap ajaran Islam, bahkan dalam kelompok ini terdapat hal-hal yang sangat berbahaya bagi Islam yaitu, mereka lebih mendahulukan akal.

Bermunculanlah pada era dewasa ini pemikiran Mu’tazilah dengan nama-nama yang yang cukup menggelitik dan mengelabuhi orang yang membacanya, mereka menamainya dengan “Aqlaniyah”, Modernisasi pemikiran. “Westernasi” dan “Sekulerisme” serta nama-nama lainnya yang mereka buat untuk menarik dan mendukung apa yang mereka anggap benar dari pemkiran itu dalam rangka usaha mereka menyusupkan dan menyebarkan pemahaman dan pemikiran ini.

Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menasehati saudaranya agar tidak terjerumus kedalam pemikiran kelompok ini yaitu kelompok Mu’tazilah yang pengaruh penyimpangannya masih sangat terasa sampai saat ini dan masih dikembangkan oleh para kolonialis Kristen dan Yahudi dalam menghancurkan kekuatan kaum muslimin dan persatuannya.

I.      DAFTAR PUTAKA

Nasution, Harun.Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah.1987.UI Press:Jakarta

Hanafi, Ahmad.Theology Islam.1974.Bulan Bintang:Jakarta

Asmuni, Yusran.Ilmu Tauhid.1993.Raja Grafindo Persada:Jakarta

Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga/hal-94.2005.Yogyakarta

H, Zainuddin.Ilmu Tauhid Lengkap/hal-58.1996.Rineka Cipta:Jakarta

http://www.puticknduth.co.cc/aliran.u’tazilah.html/11-01-2011

http://limalaras.wordpress.com/11-01-2011

 


[1]  Nasution, Harun.Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah/hal-1.1987.UI Press:Jakarta

[2]  Hanafi, Ahmad.Theology Islam/hal-39.1974.Bulan Bintang:Jakarta

[3]  http://limalaras.wordpress.com/11-01-2011

[4]  Asmuni, Yusran.Ilmu Tauhid/hal-113.1993.Raja Grafindo Persada:Jakarta

[5] Ibid.hal-114

[6]  Hanafi, Ahmad.Theology Islam/hal-41.1974.Bulan Bintang;Jakarta

[7]  Ibid.hal-39

[8]  Ibid.hal-40

[9]  http://www.puticknduth.co.cc/aliran.u’tazilah.html/11-01-2011

[10]  Nasution, Harun.Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah/hal-43.1987.UI Press:Jakarta

[11]  Ibid.hal-44

[12]  Ibid.hal-46

[13]  Ibid.hal-49

[14]  Hanafi,Ahmad.Theology Islam/hal-42.1974.Bulan Bintang:Jakarta

[15]  Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga/hal-92.2005.Yogyakarta

[16]  H, Zainuddin.Ilmu Tauhid Lengkap/hal-54.1996.Rineka Cipta:Jakarta

[17]  Ibid.hal-55

[18]  Ibid.56

[19]  Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga/hal-94.2005.Yogyakarta

[20]  H, Zainuddin.Ilmu Tauhid Lengkap/hal-58.1996.Rineka Cipta:Jakarta

[21]  Asmuni, Yusran.Ilmu Tauhid/hal-117.1993.Raja Grafindo Persada:Jakarta

[22]  Hanafi, Ahmad.Theology Islam/hal-54.1874.Bulan Bintang:Jakarta

[23]  Ibid.hal-55

[24]  Ibid.hal-56

[25]  Ibid.hal-57

[26]  Asmuni, Yusran.Ilmu Tauhid/hal-119.1993.Raja Grafindo Persada:Jakarta

[27]  Hanafi, Ahmad.Theology Islam/hal.59.1974.Bulan Bintang:Jakarta

3 Komentar (+add yours?)

  1. jenongsendiri
    Des 01, 2011 @ 01:43:00

    salam kenal… ^_^

    Balas

  2. bocahsastra
    Des 23, 2011 @ 04:06:25

    slam knl juga my friends….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: