Study Hukum Islam

  1. KONDISI HUKUM ISLAM PADA MASA KHULAFA’UR RASYIDIN

Sejarah penetapan hukum Islam pada periode sahabat dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad wafat, yaitu tahun 11 Hijriyah. Dan berakhir ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan menjabat sebagai Khalifah pada tahun 41 Hijriyah. Periode ini merupakan awal sejarah penetapan hukum Islam dalam arti fikih, sebab penetapan hukum pada periode ini merupakan hasil pemahaman terhadap Al-Qur’an dan hadits. Hukum dalam pengertian syariat telah berhenti bersamaan dengan Nabi Muhammad wafat. Periode ini disebut sebagai periode sahabat karena kekuasaan menetapkan hukum berada di tangan para sahabat.

Dan masa mulai dari periode khulafaur Rasyidin dan sahabat-sahabat yang senior, hingga lahirnya Imam Madzhab yaitu dari tahun 11-132 H. Ini meliputi periode khulafaur Rasyidin (11-40 H = 632-661 M). Pada masa ini daerah kekuasaan Islam semakin luas, meliputi beberapa daerah di luar semenanjung Arabia, seperti Mesir, Syria, Iran (Persia) dan Iraq. Dan bersamaan dengan itu pula, agama Islam berkembang dengan pesat mengikuti perkembangan daerah tersebut.

Pada periode sahabat dalam penetapan hukum islam ini lahir syarat dan ketentuan siapa yang berhak menetapkan hukum dan memberi fatwa, antara lain:

a)      Sampai sejauh mana keahlian mereka dalam soal hukum.

b)      Berapa lama mereka bergaul dan dekat dengan Nabi Muhammad.

c)      Dan seberapa jauh pengetahuan mereka tentang Al-Qur’an (asbabun nuzul) maupun hadits.

d)     Di samping itu juga hafal Al-Qur’an dan hadits juga dipertimbangkan.

Periode sahabat ditandai dengan penafsiran undang-undang dan terbukanya istinbath[1] hukum (menetapkan hukum) dalam kejadian-kejadian yang tidak ada nash hukumnya. Dari para pemuka sahabat muncul pendapat dalam menafsirkan nash-nash hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang dapat dipandang sebagai pandangan yuridis (kehakiman) bagi penafsiran nash-nash serta penjelasannya. Dari para sahabat banyak keluar fatwa hukum mengenai kejadian yang tidak ada nashnya dan dapat dipandang sebagai dasar dalam berijtihad dan beristimbath.

Di periode sahabat ini, kaum muslimin telah memiliki rujukan hukum syari’at yang sempurna berupa Al-qur’an dan Hadits Rasul. Kemudian dilengkapi dengan ijma’ dan qiyas, diperkaya dengan adat istiadat dan peraturan-peraturan berbagai daerah yang bernaung dibawah naungan Islam. Dapat kita tegaskan bahwa di zaman khulafaur Rasyidin lengkaplah dalil-dalil tasyri Islami (dasar-dasar fiqih Islam) yang empat, yaitu: Al-Kitab, As Sunnah, Al-Qiyas atau ijtihad, atau ra’yu dan Ijma’ yang bersandar pada Al-Kitab, atau As-Sunnah, atau Qiyas.

Sudah anda ketahui bahwa sumber hukum pada masa Nabi SAW adalah al-Quran dan as-Sunnah. Beliau pada waktu itu merupakan tempat kembali (rujukan) tertingi dalam fatwa dan peradilan. Setelah wafat, wahyupun  terhenti dan beliau meninggalkan untuk umat dua hal besar sebagaimana sabda beliau:

                قد تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا مَسَكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيّهِ. مالك، فى الموطأ

Aku tinggalkan untukmu dua perkara yang apabila kamu berpegang teguh kepadanya, niscaya kamu tidak akan sesat selamanya, yaitu kitab suci al-Quran dan sunah Rasul.” (HR. Malik)

Setelah wafatnya Rasulullah ini, para sahabat besarlah (senior) yang memikul beban perjuangan Islam. Mereka menghadapi tugas yang sulit dan perkara yang besar, lantaran meluasnya daerah Islam ke luar jazirah Arab, seperti Mesir, Persia dan Irak. Karena hal inilah, orang-orang muslim mendapatkan dirinya dihadapkan kepada peristiwa dan kejadian baru yang belum pernah dialaminya dalam sepanjang hidupnya.

Peristiwa dan kejadian itu semua membuat mereka sibuk mencari penyelesaian hukum-hukumnya dalam al-quran dan as-sunnah. Tampak jelas bahwa kedua sumber tersebut belum menetapkan hukum masalah-masalah yang melanda kaum muslimi itu.

Untungnya, Rasulullah telah menyiapkan bagi mereka jalan berijtihad, melatih dan meridhai mereka serta menetapkan pahala atas ijtihad mereka, benar atu salah.[2] Karenanya, mereka mencurahkan kemampuanya dan bersemangat mengeluarkan hukum-hukum permasalahan yang mereka hadapi.

Istinbath (mengeluarkan hukum dari nash umum) pada masa ini terbatas pada kasus-kasus atau peristiwa yang terjadi saja, mereka tidak mengkhayalkan masalah-maslah yang belum terjadi (prediksi) dan megira-ngira bakal terjadi, lalu mencari hukumnya sebagaimana yang dilakukan ulama mutaakhiri.

Adapun cara para sahabat mengistinbathkan hukum dapat dilihat dalam hadits yang riwayatkan  al-Baghawy  dari Maimun bin Mahran, yaitu:

“Abu Bakar, apabila diadukan kepadanya perselisihan, ia melihat klepada kitabullah. Apabila ditemukan hukum yang dpat memutuskan perkara mereka, ia putuskan dengan hukum tersebut. Tapi bila tidak mendapatkan dalam kitabullah dan mengetahui sunnah Rasulullah tentanghal itu, maka ia memutuskan dengan sunnah tersebut. Bila tidak ditemukan juga (dalam sunnah), ia betanya kepada sahabat; apakah diantara kalian yang tahu Rasulullah menetapkn hukum dalam masalah ini terkadang beliau memperoleh berita bahwa Rasulullah pernah memutuskan perkara seperti itu dan terkadang tidak. Bila tidak diperoleh, ia mengumpulkan tokoh-tokoh msyarakat untuk bermuyawarah. Bila diperoleh kesepakatan hukumnya, ia memutuskan degan hasil kespeakatan tersebut.”

Umarbin khatabjuga melakukan hal yang sama. Dari riwayat ini jelas bahwa mereka dalam berfatwa sersandar kepada empat hal yang merupakan sumber hukum pada masa itu, yaitu al-quran, sunnah rasulullah, ijma’ dan ra’yu.

  1. LANGKAH-LANGKAH PADA MASA PEMERINTAHAN SAHABAT

Setelah waktu nabi datang era sahabat besar dan Khulafa mendapat petunjuk ‘. Periode ini berlangsung 11-40 AH. qurra adalah istilah yang digunakan pada saat itu untuk menunjukkan orang sahabat yang memiliki pemahaman yang baik tentang fiqh dan memberi fatwa.

Khulafa’u Rasydin

  1. Abu Bakar Shidiq (632-634 M)

Ia seorang ahli hukum yang tinggi mutunya dan dikenal sebagai orang yang orang yang jujur dan disegani. Tindakan-tindakan penting yang dilakukannya.

  1. Pidatonya pada waktu pelantikan yang berbunyi:

“Aku telah kalian pilih sebagai khalifah, kepala Negara tetapaku bukanlah yang terbaik dianata kalian. Karena jika aku melakukan seskuatu yang benar ikutilah dan bantulah aku, tetapi jika aku melakukn kesalahan, perbaikilah sebab, menurut pendapatku, menyatakan yang benar adalah amanat, membohongi rakyat adalah pengkhianat.” selanjutnyabeliau berkata: “ikutilah perintahlku selama kumengokuti perinth Allah dan rasul-Nya. Jika aku tidak mengikuti perintah Allah dan rasul-Nya, kalian berhak untuk tidak patuh kepadaku dan aku pun tidak akan menuntut kepatuhan kalian.”

Kata-kata ini menjadi dasar dalam mnentukan hubungan antra rakyat dengan penguasa, anatara pemerintah dan warga Negara.

  1. Cara yang dilakukan dalam memecahkan persoalan, mula-mula dicarinya wahyu dalam wahyu tuhan. Kemudian dalam sunah nabi, kemudian abu bakar bertanya kepada sahabat nabi yang dikumpulkan dalam majlis. Majlis ini melakukan ijtihad lalu timbulah kesatuan bersama yang disebut ijma.

Pembentukan panitia khusus yang bertugas mengunpulkan catatan ayat-ayat al-quran yang telah ditulis di zaman nabi pada bahan-bahan darurat seperti pelepah-pelepah kurma, tulang-tulang unta, kemudian dihimpun dalam suatu naskah. Panitia ini dipimpin oleh Zaid bin Tsabit, salah seorang sekretaris nabi Muhammad.

  1. Umar bin Khathab (634-644 M)

Tindakannya:

  1. Turut aktif menyiarkan agama islam sampai ke palestina, syiria, irak dan Persia serta ke mesir.
  2. Menetapkan tahun hijriah sebagai tahun islam yang terkenal.
  3. Menetapkan kebiasaan shalat tarawih
  4. Dll
  5. Usman bin Affan (644-656 M)

Tindakannya:

  1. Menyalin dan membuat al-Quran standar yang disebut dengan kodifikasi al-Quran.
  2. 2.      Membentuk kembali panitia yang dihimpun oleh Zaid bin Tsabit, menyalin kembali naskah-naskah al-Quran ke dalam lima mushaf, kemudian dikirim ke ibu kota propinsi (Mekkah, Kairo, Damaskus, dan Baghdad). Naskah usmani adalah naskah yang disalin pada masa pemerintahannya yang. Sebagai kenangan atas jasa-jasanya disebut juga al-Imam.
  3. Ali bin Abi Thalib (656-662 M)

Dalam pemerintahannya timbul bibit perpecahan yang bermuara pada perang saudara dan timbulnya kepompok-kelompok, sehingga pada masanya lebih berfokus pada kemananan Negara.

  1. Umar Ibn Abdul Aziz

Hari kedua dilantik menjadi khalifah, beliau menyampaikan khutbah umum. Dihujung khutbahnya, beliau berkata “Wahai manusia, tiada nabi selepas Muhammad saw dan tiada kitab selepas alQuran, aku bukan penentu hukum malah aku pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah malah aku seorang yang mengikut sunnah, aku bukan orang yang paling baik dikalangan kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa di sisi Allah” Beliau kemudian duduk dan menangis “Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku” sambung Umar Ibn Abdul Aziz.

Beliau pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isteri “Apa yang Amirul Mukminin tangiskan?” Beliau mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jawatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat jawab hujah-hujah mereka sebagai khalifah kerana aku tahu, yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah saw’’ Isterinya juga turut mengalir air mata.

Umar Ibn Abdul Aziz mulai memeritah pada usia 36 tahun sepanjang tempoh 2 tahun 5 bulan 5 hari. Pemerintahan beliau sangat menakjubkan. Pada waktu inilah dikatakan tiada siapa pun umat Islam yang layak menerima zakat sehingga harta zakat yang menggunung itu terpaksa diiklankan kepada sesiapa yang tiada pembiayaan untuk bernikah dan juga hal-hal lain.

BAB III

KESIMPULAN

  1. Pada masa ini, masalah-masalah baru bermunculan karena berbagai faktor dan peristiwa seperti perluasan Islam ke luar jazirah Arab, banyak orang-orang yang masuk Islam yang membawa budaya baru, yang menuntut kejelasan hukum.
  2. Kewenangan membuat hukum pada masa ini, dipelopori oleh Khulaf’u Rasyidin sebagai imam, dengan cara musyawarah dengan merujuk pada sumber utama.
  3. Fiqh Islam tidak ditetapkan secara total, tetapi hanya memberikan fatwa pada masalah yang benar-benar terjadi.
  4. Sumber yang digunakan pada masa ini adalah al-Quran, Sunah Rasulullah, ‘Ijma dan Ra’yu.

PENUTUP

Dengan adanya sejarah pembentukan hukum islam pada masa sahabat ini semoga bisa menjadikan kita lebih yakin dan selalu berpedoman pada sumber hukum islam sebagai sumber pembuatan keputusan setiap persoalan kita agar kita bisa selalu berada dalam lindungan Allah SWT.

Sekian dari kami semoga dari makalah yang kami buat ini mampu menambah wawasan ilmu pengetahuan kita tentang hukum islam pada masa sahabat. Dengan selesainya makalah ini kami sadar bahwasanya makalah kami ini masih jauh dari kesempurnaan, karena masih banyak kekurangan dan kesalahan baik dar segi materi pembahasan maupun ejaan kata, maka dari itu kami mengharapkan adanya saran dan kritik yang membangun dari pembaca khususnya bagi dosen pengampu makalah kami agar di kemudian hari kami dapat menyusun makalah lebih baik lagi. Amien.

 

 

 

Daftar Pustaka

Yusuf Al Qardhawi (terjemahan), 1996, Konsep dan Praktek Fatwa Kontemporer, Jakarta; Pustaka Al Kautsar

Djazuli, Prof. H. A, 2005, Ilmu Fiqh, Penggalian, perkembangan, penerapan hukum Islam, Jakarta; Prenada Media
Abdul Wahab Khalaf, 1968, Ilmu Ushul Fiqh, Mesir; al dar Al Kawaetiyah
Drs. Zarkasi Abdul Salam, Drs. Oman Faturrohman SW,1994, Pengantar Ushul Fiqh 1, Yogyakarta; LESFI.

Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H., 2007, Hukum Islam Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia, Jakarta; PT Raja Grafindo Persada.

http://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Abdul-Aziz


[1] Istinbat (الإستنباط) adalah daya usaha membuat keputusan hukum syarak berdasarkan dalil-dalil al-Quran atau Sunnah yang sedia ada.

[2] Pemberian pahala ini dinyatakan Nabi SAW dalam sabdanya: “Apabila seorang hakim berijtihad dan ijtihadnya itu mengena (benar), maka ia mendapat dua pahala. Dan apabila ia berijtihad namun ijtihadnya itu salah, maka ia hanya mendapat satu pahala.” (HR. Muslim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: