teks Tulisan Bahasa Melayu

Teks Mulisan Melayu :Warisan Intelek Masa Lampau Indonesia-Malaysia

17 Desember 2010 14:33:36

Oleh: Dr. Kun Zachrun Istanti, S.U

Abstrak

Makalah yang berjudul “Teks Melayu: Warisan Intelek Masa Lampau Indonesia-Malaysia” ini bertujuan untuk mengungkapkan teks-teks Melayu warisan masa lampau kaum intelek Indonesia-Malaysia (yang disingkat dengan teks Melayu) dengan menunjukkan berbagai teks dan naskah Melayu serta tempat penyimpanan naskah Melayu yang dihasilkan oleh para pengarang masa lampau; menanamkan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya teks-teks Melayu sebagai sumber rujukan dan sebagai bahan penelitian dan pengkajian.

Naskah-naskah Melayu yang dipilih mewakili pelbagai bidang yang dikoleksi oleh berbagai perpustakaan dan museum di seluruh dunia. Setiap entri naskah berisi deskripsi naskah Melayu agar para peneliti dan peminat naskah Melayu lebih mengenal bahan-bahan dalam pelbagai bidang ilmu tersebut.

Hasil-hasil kesusasteraan Melayu masa lampau dapat dikelompokkan ke dalam sastra lisan dan tulisan, yang keduanya tercipta dalam bentuk prosa dan puisi. Sastra lisan mempunyai ciri-ciri tersendiri, baik dari segi bentuk, perkembangan, dan penyebarannya, sebaliknya sastra tulisan berkembang dengan menggunakan tulisan, yang pada awalnya huruf Jawi (Arab-Melayu) dan kemudian dengan tulisan Rumi. Sebelum mengenal tulisan Jawi, orang Melayu telah memanfaatkan tulisan yang berasal dari tulisan dari kawasan mereka, misalnya tulisan Rencong, Palava dan Kavya. Tulisan-tulisan ini tidak berkembang karena ada kendala terutama dalam penerapan dan penyebarannya.

Ada beberapa Genre sastra Melayu, di antaranya: genre sastra undang-undang, sastra sejarah, sastra epik, sastra keagamaan, sastra rakyat. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa masyarakat masa kini masih perlu meneladani nilai-nilai yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita. Hasil karya sastra masa lampau perlu dipahami terlebih dahulu dari segi konteks zaman kelahirannya, masyarakat yang melahirkannya serta nilai-nilai yang dianut oleh masyarakatnya. Setelah memahami hal-hal yang dasar tentang sastra dan zamannya, dapatlah kita meluaskan hasil pengkajian dengan menggunakan pendekatan yang modern kepada masyarakat masa kini.

1. Pengantar

Pada awal pembicaraan ini perlu dikemukakan yang dimaksud dengan teks dan naskah. Teks mengacu ke kandungan/isi suatu karya sastra yang bersifat abstrak, sedangkan naskah adalah sesuatu yang konkret, yang dapat dijamah diamati. Teks tersimpan di dalam naskah.

Kata ‘naskah‘ disebuit juga ‘manuskrip‘ dan ‘kodeks‘ merupakan peninggalan masa lampau yang di dalamnya tersimpan sejumlah informasi yang mencerminkan buah pikiran, perasaan, kepercayaan, adapt kebiasaan, dan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat pemiliknya. Peninggalan tulisan masa lampau pada saat ini dikenal dengan kata-kata ‘naskah‘, kata Arab yang berarti tulisan tangan, ‘manuskrip‘, kata Latin yang berarti tulisan tangan, dan ‘kodeks‘. Di Indonesia, istilah yang digunakan adalah ‘naskah‘, sedangkan di Malaysia digunakan istilah manuskrip. Kandungan yang tersimpan dalam naskah disebut teks. Apabila naskah merupakan produk yang bersifat konkret, maka teks merupakan produk yang bersifat abstrak. Jadi, teks adalah informasi yang terkandung dalam naskah (Baroroh et al, 1996).

Yang dimaksud dengan teks Melayu adalah hasil sastra yang berkembang dan tersebar di daerah yang berbahasa Melayu sampai sekitar abad ke-18. Kesusastraan Melayu itu dipandang sebagai kesusastraan masa lampau Indonesia-Malaysia (dalam makalah ini disebut dengan sastra Melayu masa lampau), mengingat bahwa bahasa Melayu itu berkembang di wilayah Indonesia dan Malaysia. Kesusastraan masa lampau Indonesia-Malaysia yang dibicarakan di sini, pada umumnya berisi hal-hal yang fantastis dan istana sentris; menggunakan bahasa klise; cara bercerita hampir sama, yaitu dimulai dengan “kata sahibul hikayat” dan diakhiri dengan “wallahu a‘lam bissawab”. Tiap-tiap alinea diawali dengan kata “hatta, alkisah, syahdan, arkian, kalakian”, tanpa menyebut nama pengarang.

2. Sastra Melayu Lisan

Kira-kira sampai dengan tahun 1500 sastra Melayu masa lampau itu disebarluaskan secara lisan, sebab masyarakatnya sebagian besar belum mengenal tulisan. Setelah huruf Arab dikenal oleh masyarakat Melayu, mulailah diadakan penulisan sastra Melayu dengan huruf Arab.

Sastra lisan Melayu adalah hasil sastra yang dituturkan secara lisan. Wujud yang paling awal berupa ikatan bahasa yang berfungsi untuk memperoleh kesaktian, misalnya mantra. Ada pula ikatan bahasa yang berfungsi untuk hiburan, misalnya cerita pelipur lara, teka-teki, peribahasa, dan pantun. Pawang dan pelipur lara pada masa ini berperan sebagai penyebar sastra lisan. Pawang ialah orang yang pandai dalam hal yang berhubungan dengan makhluk halus. Tugas pawang adalah memimpin dalam upacara-upacara yang berhubungan dengan makhluk halus; dukun yang bertenaga gaib dengan mantra-mantranya; kepala adat dan hakim; juru bahasa. Tugas pelipur lara adalah sebagai tukang cerita yang berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain (bdk. dalang di Jawa).

3. Sastra Melayu Tulisan

Dalam tulisan ini yang hendak dibicarakan ialah sastra Melayu masa lampau yang tertulis. Adapun yang dimaksud dengan teks Melayu masa lampau yang tertulis, dibatasi pada korpus karya sastra yang tertulis dengan huruf Arab-Melayu atau Jawi yang dihasilkan pada abad ke-16 sampai abad ke-19 Masehi. Dengan huruf Arab-Melayu dimaksudkan huruf Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu. Oleh karena sistem fonologi bahasa Melayu tidak sama dengan sistem fonologi bahasa Arab, digunakan bantuan titik diakritik untuk menyatakan bunyi bahasa yang tidak ada di dalam bahasa Arab, yaitu:
چ untuk bunyi ‘c‘
ڠ untuk bunyi ‘ng‘
ڨ untuk bunyi ‘p‘
ک untuk bunyi ‘g‘
ٽ untuk bunyi ‘ny

Adapun kata ‘jawi‘ adalah bentuk genetif (Arab) kata ‘Jawa‘ yang secara pars pro toto digunakan untuk mengacu ke Indonesia atau Nusantara. Tulisan Arab-Melayu atau Jawi yang digunakan mengisyaratkan bahwa karya-karya tersebut dituliskan setelah agama Islam masuk ke kawasan Nusantara.

Manuskrip (naskah) Melayu yang ada di seluruh dunia kebanyakan merupakan hasil kebudayaan Islam, yang ditulis dengan huruf Jawi. Teknik penulisan dengan dua halaman berhadapan, gaya Islam, ada kolofon yang biasanya berbentuk segi tiga dengan hiasan. Naskah Melayu biasanya ada iluminasi yang coraknya dengan corak bunga, daun. Seni kaligrafi atau dikenal juga dengan seni khat adalah fenomena seni rupa yang indah, menarik, dan tersusun. Seni kaligrafi ini termasuk seni Islam yang tinggi, karena sifatnya sebagai bahan bukti pada penuturan bahasa Alquran. Seni kaligrafi yang wujud dalam naskah Melayu yang biasa ditemui adalah khat riq‘ah dan khat thuluth (Zawiyah, 2003: 29).

Walaupun telah diberi batasan karya sastra tertulis, bila perlu dan relevan, pembicaraan dapat juga memanfaatkan keberadaan sastra lisan. Hal ini mengingat kebanyakan karya tertulis merupakan rekaman dari karya lisan.

Di dalam karya sastra Melayu masa lampau tercermin pengalaman hidup dan keadaan masyarakat pendukungnya sepanjang masa, di dalamnya tergambar keadaan geografisnya, manusia dan pemukimannya serta kesibukan sehari-harinya, perjalanan sejarah kaum dan bangsanya, pengalaman emosional yang dilaluinya, serta pemikiran dan falsafah hidupnya. Karya sastra itu membukakan dunia orang Melayu kepada kita gambaran alam pikiran, adat-istiadat, kepercayaan, keadaan sosial masyarakat, kepribadian individu, hubungan antarindividu serta hubungan di antara individu dan masyarakat, dan sistem nilai yang berlaku di dalam masyarakat (Liaw Yock Fang, 1982).

Dalam makalah ini dikemukakan mengenai budaya penulis Melayu masa lampau. Adapun teks-teks Melayu yang dikemukakan dalam tulisan ini meliputi berbagai bidang, di antaranya sejarah, sastra kitab, ilmu tradisional, obat-obatan, dan undang-undang.

3.1 Budaya Penulis

Dalam karya sastra Melayu masa lampau, pengarang senantiasa bersikap merendahkan diri. Sikap ini adalah sebagian dari sifat orang Melayu yang memperhambakan diri untuk berbakti kepada raja atau masyarakat. Berbagai cara dinyatakan oleh pengarang tentang sifat rendah diri ini sangat menarik bagi para peneliti. Berikut beberapa kutipan yang menyatakan bahwa penulis dengan rendah diri memperkenalkan dirinya.

“…adapun kemudian dari itu maka berkata hamba yang muhtaj kepada Allah Yang Mahakaya lagi Amat Besar, yaitu Syeikh Nurunddin ibn Ali ibn Hasanji ibn….” (Tibyan fi Ma‘rifat al Adyan – Syekh Nuruddin Arraniri).

“…adapun kemudian daripada itu maka akan berkata fakir yang berkehendak kepada Tuhannya yang Amat Kaya, yaitu Abdul Samad Jawi Falembani khadam fakir di dalam negeri Mekah mushrifah mudah-mudahan mengampuni Allah Taala baginya dan bagi ibu bapanya dan segala muslimin….” (Hidayat al Salikin fi Suluk Maslak al Muttaqin – Abdul Samad Jawi Falembani)

3.2 Kandungan Teks Melayu

Dari segi bentuknya, teks Melayu dapat berbentuk prosa maupun puisi. Di antara bentuk prosa yang terkenal di dunia Melayu adalah hikayat dan di antara bentuk puisi adalah syair. Dari segi kandungan teksnya, teks Melayu ada yang mengandung sejarah, sastra kitab, ilmu tradisional, obat-obatan, dan undang-undang.
3.2.1 Sejarah

Kedatangan dan penghayatan agama Islam di Kepulauan Nusantara sejak abad ke-13 telah melahirkan satu peradaban baru dengan terwujudnya politik kesultanan. Sifat keistimewaan politik ini memperlihatkan acuan budaya yang serupa. Salah satu hasil peradaban ini ialah semaraknya penulisan atau kesusastraan yang bermacam-macam, di antaranya sastra sejarah (Liaw Yock Fang, 1972).

Karya sastra sejarah Melayu ada berbagai macam, di antaranya Misa Melayu, Salasilah Melayu dan Bugis, Hikayat Patanu, Sejarah Melayu, Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Banjar, Silsilan Kutai, Tambo Minangkabau, dan Hikayat Merong Mahawangsa. Karya-karya ini kaya akan pengetahuan tentang keadaan pikiran zamannya, keadaan susunan masyarakat Melayu zaman itu. Di dalam Sejarah Melayu tergambarkan adapt raja-raja, pantang larang dan hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang untuk rakyat. Di dalam Sejarah Melayu juga digambarkan adanya penaklukan negeri lain oleh Melaka dan hubungan negeri Melaka dengan Majapahit, Siam, dan China.

Contoh Sastra Sejarah: MSS 6 (PNM) Misa Melayu, naskah ini ditulis pada tahun 1252 H (1836M), dikarang oleh Raja Chulan ibn Raja Hamid, 148 hlm, 33 x 20 cm, isinya menceriterakan silsilah raja-raja Perak yang diawali oleh Almarhum Jalilullah hingga Sultan Mahmud Syah. Sebagian besar hikayat ini menceritakan peristiwa-peristiwa yang berlaku pada zaman Sultan Iskandar Syah, utamanya adapt-adat istana. Ada juga diuraikan tentang perhubungan perdagangan antara Perak dengan Belanda. Misa Melayu menjadi sumber utama sejarah negeri Perak pada abad ke-18.

(2) Schoemann V. 3 (SPK) Salasilah Kerajaan Bima (Sumbawa) juga dikenal dengan nama Hikayat Asal Bangsa Jin dan Dewa, 40 hlm., 35 x 22 cm, berisi tentang kejadian jin yang bernama Jan Manjan serta keturunannya. Setelah Iskandar Zulkarnain menyerang salah seorang anak jin yang bernama Betara Sang Tunggal Raja Jin, ia kawin dengan Putri Julusul Asyikin. Salah seorang anaknya menjadi raja di Andalas (Minangkabau). Iskandar Zulkarnain lalu menyerang raja masyrik bernama Betara Ratu lalu ia masuk Islam. Diceritakan ada seorang cucu jin yang berkelahi memperebutkan tanah Jawa. Bima kawin dengan Arimbi lalu mempunyai anak bernama Kutut Kachah. Kutut Kachah dan Bima dapat mengalahkan tanah Jawa. Cerita tentang pengislaman Pasai oleh Syekh Muhammad dan Ibrahim. Seterusnya cerita keturunan Bima dengan istri dari anak Raja Naga menjadi Raja di Bima (Sumbawa)(Asma, 1992: 7-8).

3.2.2. Sastra Kitab

Sastra kitab adalah karya orang Melayu masa lampau yang berisi ajaran agama Islam. Karya sastra kitab dapat menjadi rujukan mengenai Islam bagi orang-orang Melayu karena pada waktu sebagian besar masyarakat Melayu masih sedikit yang memahami bahasa Arab. Kebanyakan karya sastra kitab ini merupakan terjemahan atau hasil transformasi karya-karya Arab. Bidang pengetahuan yang terdapat dalam karya sastra kitab ini adalah ilmu tauhid, fikih, hadis, dan tasawuf (Yock Fang, 1982).

Contoh sastra kitab: MSS 2758 (PNM) Shifa‘ al Qulub, ditulis oleh Nuruddin Arraniri pada waktu luhur, hari senin, 2 ramadhan 1225H ( 1 Oktober 1810 M), tahun ‘zai‘, 14 hlm, 21,2 X 17 cm. Nuruddin Arraniri menulis kitab ini untuk menerangkan pengertian kalimat syahadat dan kepercayaan kepada Allah. Ia berpendapat bahwa kepercayaan kepada Allah telah dinodai oleh pemikiran kaum wujudiyah. Pada bagian awal kitab ini Nuruddin menerangkan dengan rinci tentang pengertian syahadat. Dalam bagian berikutnya, ia mengecam golongan wujudiyah yang telah mengubah makna Alquran dan hadis (Zawiyah, 2003: 50).

3.2.3 Ilmu Tradisional

Karya sastra Melayu yang berisi ilmu tradisional yang berupa pengajaran, pemahaman, dan amalan secara formal, misalnya ilmu bintang, ilmu ramal, tabir mimpi dan firasat. Naskah-naskah Melayu yang berisi tentang kepercayaan yang berhubungan dengan kedudukan bintang dan pengaruhnya terhadap kejadian alam dan kehidupan manusia, kepercayaan terhadap kekuatan gaib dan benda-benda lain yang dihubungkan dengan penyakit dan amalan hidup, kepercayaan terhadap tabir mimpi dan firasat. Kepercayaan-kepercayaan ini diamalkan oleh masyarakat Melayu masa lampau dalam kehidupan sehari-hari dan memengaruhi hidup mereka (Zawiyah, 2003: 70).

Contoh karya sastra Melayu yang berisi ilmu tradisional adalah: (1) MSS 1177 (PNM) Tabir Mimpi, 27 hlm, 17,2 x 10,5 cm, isinya tentang tafsiran mimpi dan fatwa orang Melayu masa lampau tentang alamat pergerakan bagian tubuh tertentu (Kedut), waktu yang sesuai untuk bepergian, alamat/tanda apabila ada binatang masuk ke rumah atau kampong pada hari tertentu. Di antara mimpi yang ditafsirkan ialah: (a) jika bermimpi bintang turun ke rumahnya berarti ada tanda bahwa seseorang akan mendapatkan rizki atau anak yang baik-baik; (b) Jika bermimpi minum air sungai adalah tanda akan mendapatkan harta, kebajikan, atau ilmu, (c) Jika bermimpi air laut berubah menjadi manis adalah tanda akan mendapatkan istri orang kaya atau terlepas dari ancaman bahaya, (d) Jika mimpi menangkap burung putih adalah tanda akan memperoleh jodoh yang budiman.

(2) MSS 1076 (PNM) Kitab Adab, 87 hlm, 24,2 x 18,5 cm. Isi teks adalah mengenai khasiat jenis makanan, misalnya (a) khasiat air madu adalah menguatkan paru-paru, mencerahkan mata, menghilangkan lender di dalam lambung, menguatkan syahwat, dan menyejukkan badan; (b) khasiat bawang merah: menghangatkan badan dan menghilangkan sakit masuk angina; (c) khasiat kemenyan: jika ditumbuk halus lalu dicampur dengan air dan dogosokkan pada bekas panu atau jerawat niuscaya akan sembuh.

(3) MSS 2390 (PNM) Ilmu Firasat, 27 hlm, 20,8 x 16,5 cm, berisi tentang fisarat yang menarik untuk menentukan sifat seseorang berdasarkan anatomi tubuh, misalnya, rambut yang ikal lagi hitam berkilau-kilau itu tanda orang berakal lagi sempurna bicaranya, tahi lalat yang ada pada lengan itu tanda akan ditolong orang segala kehendaknya, suara yang sederhana itu tanda orang yang berakal dan baik budi bicaranya serta benar segala pekerjaannya, telinga yang besar itu tanda orang berakal, mudah mengingat-ingat, panjang umur dan mudah marah, tetapi juga mudah hilang amarahnya,

(4) MSS 2812 (PNM) Ilmu Tradisional, 100 hlm, 17 x 12,4 cm, Naskah ini berisi beberapa catatan tentang ilmu tradisional Melayu, adanya jadwal hari yang baik dan buruk dalam memulai suatu pekerjaan, tabir dan tafsir mimpi, fatwa tradisional yang berfaedah untuk diamalkan oleh masyarakat pada zamannya (Zawiyah, 2003: 84).

3.2.4 Obat-Obatan

Karya Melayu yang berisi obat-obatan Melayu tradisional telah banyak ditulis oleh masyarakat pada masa lampau. Naskah yang mengandung teks obat-obatan itu lebih dikenal dengan kitab Tib yang digunakan sebagai panduan untuk mengobati berbagai penyakit yang bahan dasarnya adalah fauna dan flora di sekitarnya yang dicampur (Zawiyah, 2003: 85).

Contoh karya orang Melayu yang berisi obat-obatan adalah (1) MSS 758 (PNM) Kitab Tib, 14 hlm, 18,7 x 13 cm, disalin pada hari Kamir 7 Rajab 1312 H (14 Januari 1895 M tahun kuda. Di antara pengobatan tradisional adalah obat masuk angina: (ambil kunyit, lempuyang, bawang merah, bawang putih, garam dan air jeruk nipis, ditumbuk lembut lalu dididihkan dengan sedikit air, setelah hangat usapkan pada perut.

(2) MS 33 (DBP) Kitab Ilmu Perubatan, 491 hlm, 32 x 23 cm, disalin oleh Muhammad Salleh bin Ahmad Panjang di Kelantan, tamat pada Syawal 1288 H (1871M) dan kitab ini asalnya dari Raja Besar. Kitab ini berisi 147 fasal tentang cara-cara dan peraturan-peraturan mengobati berbagai jenis penyakit secara tradisional, seperti sakit kepala, sakit perut, sakit gigi dengan menggunakan ayat-ayat Alquran. Selain itu juga dikemukakan tentang cara meramal dan menafsirkan mimpi.

3.2.5 Undang-Undang Melayu

Dalam khasanah karya Melayu masa lampau terdapat sekumpulan hasil penulisan yang tergolong sebagai undang-undang adapt Melayu. Undang-undang adapt itu merupakan peraturan-peraturan tentang tata-tertib dan adab dalam masyarakat Melayu yang terwujud berdasarkan budaya yang turun-temurun diwarisi secara lisan. Dengan hadirnya kesultanan Melayu mendorong penulisan undang-undang adapt secara lebih teratur sebagai panduan raja-raja dalam menentukan suatu hal yang dianggap benar atau salah serta untuk menentukan hukuman atas seseorang yang melanggar adapt. Hukuman yang dijatuhkan kepada tersangka dianggap adil apabila mengikuti ukuran masyarakat masa lampau dan yang sebagian mengikuti tradisi Hindu serta Islam. Hukum yang berasal dari ajaran Islam di antaranya mengenai harta waris, urusan jenazah, urusan jual beli.

Contoh Undang-undang Melayu, (1) Mal-Pol 269 (Bibliotheque National) Undang-Undang, 19 hlm, 20,6 x 16 cm, naskah ini berasal dari Musee Guimet no 2960, isi teks mengenai adapt pakaian orang-orang besar dan larangan raja-raja, Sultan Muhammad melarang orang awam mengenakan warna kuning dan keris (Mariani, 1991: 152)

(2) Schoemann V. 33. Hukum Kanun Melaka, 80 hlm, 20 x 15,3 cm, berisi 44 fasal tentang undang-undang. (Asma, 1992: 89).

(3) MN 390.2209595114 ADA (PNM) Adat Lembaga- Orang-orang Melayu di dalam Negeri Perak Darul Ridzuan daripada Zaman Purbakala, 60 hlm, berisi tentang adapt lembaga orang-orang Melayu yang dipakai di Negeri Perak sejak zaman purbakala hingga zaman Paduka Seri Sultan Iskandar Syah di Negeri Perak, silsilah Sultan Perak, peraturan gelar raja-raja dan jabatannya, peraturan pemerintah kerajaan Negeri Perak, adapt berpakaian, tata tertib menghadap raja, adapt berkabung, dan tanda kebesaran (Zawiyah, 2003: 123).

Undang-undang

(4) Ms. Or. Oct. 112, SPK Undang-undang Sumatra Barat, 111 hlm; 16,5 x 10,5 cm; kertas Belanda putih kekuningan; ‘Concordia Resparvae Crescunt‘, format teks 12,5 x 8,5 cm) Isi: hukum ada dua yaitu, hukum adapt dan hukum sarak. Hokum adapt ada enam (cupak yang asali; cupak buatan; kata pusaka; kata mufakat, kata dahulu (kata batapati, kata bacari). Kutipan dari Bustanus Salatin 10 perkara seorang yang sempurna akal.

(5) MS. Or. Fol. 3150, SPK Undang-Undang Palembang ( 80 hlm; 33 x 21 cm; kertas Belanda putih kekuningan, berlubang kecil di sana sini; ‘Cdl‘, ‘Concordia Resparvae Crescunt‘, format teks 30 x 9,5 cm. Isi: Adat bujang gadis dan kawin; aturan Marga, aturan dusun dan berladang, aturan kaum, aturan pajak, adapt perhukuman.

3.3 Penutup

Di tengah-tengah warisan kebudayaan Indonesia-Malaysia masa lampau, naskah sering kali diabaikan. Naskah dianggap kurang lebih sama dengan teks, khususnya teks tradisional, dan oleh karena itu menjadi mata perhatian orang tertentu saja, khususnya para pustakawan dan ahli filologi saja. Akan tetapi, naskah itu mempunyai dimensi dan makna yang jauh lebih luas karena merupakan hasil tradisi yang melibatkan berbagai keterampilan dan sikap budaya. Dunia naskah patut diamati dari berbagai segi. Dari segi isi, kandungan teks yang berbagai ragam dapat diteliti oleh berbagai bidang ilmu (obat-obatan, undang-undang, sejarah, agama dsb); dari segi seni sangat menarik mengingat banyak naskah yang memuat gambar yang indah; dari segi system tulisan yang dipakai sepanjang sejarah, baik tulisan tipe India, Arab maupun Latin masih perlu diteliti sejarah perkembangannya; dari segi teknis juga perlu diperhatikan, misalnya proses pembuatan bahan naskah dari daun rontal, kulit kayu, kertas. Oleh karena itu, para ahli dari berbagai bidang itu semestinya memanfaatkan data yang terpendam dalam koleksi naskah. Para ahli hukum dan sejarah telah lama memperhatikan isi naskah (teks) itu, namun mereka masih saja memanfaatkan teks yang sudah disunting (diterbitkan lewat penggarapan para ahli filologi). Padahal, masih banyak naskah yang belum diterbitkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: