ANALISA MITOS DALAM NOVEL LAWANG SEWU KARYA IRIEL PARWANTO (UNSUR SOSIOLOGI: BUDAYA)

BAB I
PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
Sastra merupakan karya kreatif dari sebuah proses pemikiran untuk menyampaikan ide, pengalaman, dan sistem berpikir atau teori. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Hardjana (1981:10) bahwa, “sastra sebagai pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan, dialami, dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan”. Dengan demikian karya sastra akan selalu menarik perhatian karena pengungkapan penghayatan tentang kehidupan manusia itu. Melalui karya sastra akan terungkap penghayatan manusia yang paling dalam di dunia ini (Jassin, 1983:4).
Kesusastraan diciptakan selaras dengan dinamika masyarakat dan kebudayaan. Pertumbuhan dan perkembangan kesusastraan sangat tergantung kepada sistem sosial dan budaya masyarakatnya. Karya sastra senantiasa dipergunakan untuk mengekspresikan kepribadian manusia secara kolektif melalui penggabungan imajinasi individu sastrawan dengan obsesi masyarakatnya. Oleh karena itu, membaca dan menilai karya sastra pada hakikatnya melihat dan mempelajari kehidupan suatu masyarakat di mana karya sastra itu dilahirkan, tumbuh, dan berkembang. Hal ini diperkuat oleh pendapat Sumardjo (1979 : 30).
Sastra adalah produk suatu masyarakat, mencerminkan masyarakat. Obsesi masyarakat itu menjadi obsesi pengarangnya, yang menjadi anggota masyarakatnya dengan mempelajari sastra dapat sampai mempelajari masyarakatnya yaitu mempelajari aspirasi masyarakat itu, tingkat kulturnya, seleranya, pandangan hidup dan lain sebagainya.

B.    RUMUSAN MASALAH
1.    Apa pengertian mitos dalam sosiologi sastra?
2.    Apa unsur kebudayaan yang terkandung dalam novel lawang sewu?

C.    TUJUAN MASALAH
1.    Untuk mengetahui pengertian mitos dalam sosiologi sastra
2.    Untuk mengetahui unsur kebudayaan yang terkandung dalam novel lawang sewu

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Mitos
Ada beberapa pengertian mitos yang diungkapkan oleh para sejarawan. Dari beberapa pengertian itu dapat disimpulkan bahwa: Mitos adalah cerita prosa rakyat yang ditokohi para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain (kayangan) dan dianggap benar-benar terjadi oleh empunya cerita atau penganutnya. Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sebagainya. Mitos itu sendiri, ada yang berasal dari Indonesia dan ada juga yang berasal dari luar negeri. Mitos juga merujuk kepada satu cerita dalam sesebuah kebudayaan yang dianggap mempunyai kebenaran mengenai sesuatu perkara yang pernah berlaku pada suatu masa dahulu. Ia dianggap sebagai satu kepercayaan dan kebenaran mutlak yang dijadikan sebagai rujukan. Ia selalunya satu dogma yang dianggap suci dan mempunyai konotasi upacara.
Mitos yang berasal dari luar negeri pada umumnya telah mengalami perubahan dan pengolahan lebih lanjut, sehingga tidak terasa asing lagi yang disebabkan oleh proses adaptasi karena perubahan jaman. Menurut Moens-Zoeb, orang Jawa bukan saja telah mengambil mitos-mitos dari India, melainkan juga telah mengadopsi dewa-dewa Hindu sebagai dewa Jawa. Di Jawa Timur misalnya, Gunung Semeru dianggap oleh orang Hindu Jawa dan Bali sebagai gunung suci Mahameru atau sedikitnya sebagai Puncak Mahameru yang dipindahkan dari India ke Pulau Jawa. Mitos di Indonesia biasanya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, terjadinya susunan para dewa, terjadinya manusia pertama, dunia dewata, dan terjadinya makanan pokok.
Mitos sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat. Ada masyarakat yang mempercayai mitos tersebut, ada juga masyarakat yang tidak mempercayainya. Jika mitos tersebut terbukti kebenarannya, maka masyarakat yang mempercayainya merasa untung. Tetapi jika mitos tersebut belum terbukti kebenarannya, maka masyarakat bisa dirugikan.

“Mite adalah cerita yang mempunyai latar belakang sejarah, dipercayai oleh masyarakat sebagai cerita yang benar-benar terjadi, dianggap suci, banyak mengandung hal-hal yang ajaib, dan umumnya ditokohi oleh dewa” (Kridalaksana, 2002: 749).
Pengertian antara mite dan mitos berbeda satu sama lain. “Mitos adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib” (Kridalaksana, 2002: 749). Lain halnya dengan pengertian memitoskan. “Memitoskan adalah mengeramatkan, mengagungkan secara berlebih-lebihan tentang pahlawan, benda, dan sebagainya; menjadikan mitos; mendewakan; kecenderungan seseorang perlu dicegah. Sedangkan pemitosan yaitu cara, perbuatan menjadikan mitos, pendewaan” (Kridalaksana, 2002: 749). Hartoko (1986: 88) menyebutkan, “Mitos berasal dari bahasa Yunani yaitu mythos yang artinya adalah kata yang diucapkan. Pengertian kata mitos secara keseluruhan adalah cerita mengenai dewa-dewa, pahlawan-pahlawan dari zaman baheula. Lewat tradisi lisan yang panjang akhirnya mengendap dalam berbagai macam jenis sastra.”
Sudjiman (ed.) (1984;50) memberikan pengertian mitos yakni, “Cerita rakyat legendaris atau tradisional, biasanya bertokoh makhluk yang luar biasa dan mengisahkan peristiwa-peristiwa yang tidak dijelaskan secara rasional, seperti terjadinya sesuatu.” Dalam mitos ditemukan sebuah kontradiksi yang menarik. Banyak peristiwa dalam mitos yang tidak mungkin dan tidak akan kita percayai terjadinya dalam kenyataan sehari-hari. Segala sesuatu memang mungkin terjadi dalam mitos. Mulai dari yang masuk akal, setengah masuk akal, sampai hal-hal yang tidak masuk akal sama sekali, semuanya bisa kita temukan dalam mitos. Oleh karena itu, seringkali kita merasa bahwa tampaknya tidak ada logika sama sekali dalam mitos-mitos tersebut. Ciri apapun dapat muncul pada diri tokoh-tokoh mitis (mythical figures) di situ dan relasi apapun bisa terjadi di antara mereka. Darma (1983:92) memberikan pula pandangannya tentang keterkaitan antara mitos dengan karya sastra. Disebutkan bahwa, mitos sifatnya tidak logis dan mengungkapkan dunia yang aneh. Dalam karya sastra terdapat pula ciri atau sifat mitos itu. Sehingga melalui karya sastra dapat dilihat dan diketahui bentuk-bentuk mitos yang ada.
Dari berbagai uraian yang dikemukakan di atas, tampaklah bahwa antara karya sastra dengan mitos terdapat keterkaitan (hubungan) yang erat. Membicarakan sebuah karya sastra, berarti sudah pula turut membicarakan mitos itu sendiri. Keduanya adalah dua sisi yang saling berhubungan. Pada sisi lain kehidupan manusia telah dipenuhi oleh mitos, sehingga karya sastra mengandung pula mitos itu. Untuk itulah novel sebagai suatu bentuk karya sastra berdampingan secara erat dengan mitos.

B.    Unsur Budaya Dalam Novel Lawang Sewu
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
•    Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
•    Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
Dari kedua jenis wujud kebudayaan tersebut, dalam novel ini terdapat unsur kebudayaan yang berupa kebudayaan non material. Diantara unsur-unsur kebudayaannya adalah :
a.    Mythos :  cerita yang mempunyai latar belakang sejarah, dipercayai oleh masyarakat sebagai cerita yang benar-benar terjadi, dianggap suci, banyak mengandung hal-hal yang ajaib, dan umumnya ditokohi oleh dewa” (Kridalaksana, 2002: 749).
Adapun mythos yang terdapat dalam novel ini adalah kepercayaan bahwa gedung lawang sewu dalam novel ini sangat mistis dan mempunyai berbagai macam pantangan bagi yang ingin memasukinya. Menurut novel ini, ada beberapa larangan bagi sorang yang ingin memasukinya, diantaranya tidak boleh kencing di gedung itu, tidak boleh berbuat mesum di dalamnya dan pantangan bagi orang yang sedang datang bulan.
“ndak semua orang bisa masuk ke sana. Terlebih lagi, ndak ada yang boleh masuk kedalam sana. Ada tiga aturan kalau kamu di sana, pertama,kamu ndak boleh kencing di gedung itu. Kedua, kamu ndak boleh mesum, ketiga, kalau kamu sedang dating bulan, jangan coba-coba masuk… bisa bahaya!!” kata mbah Darmi memperingatkan.’ (Parmato:2007:22)
Selain itu, dalam novel ini masih ada kepercayaan terhadap roh yang bergentayangan dan lebih tepatnya ingin membalaskan dendamnya kepada orang yang telah membuatnya seperti itu. Pemain dalam novel ini percaya bahwa dengan melakukan ritual tertentu maka akan mendatangkan roh penasaran tersebut dan berkomunikasi dengannya.
‘ ”ingat kalian harus terus membaca mantra, jangan sampai ada yang tidak baca,” perintah mbah Darmi ketika mobil sudah terparkir manis di depan Lawang Sewu.’ (Parmato:2007)
SINOPSIS
Kisah ini tentang dendam yang masih membara di gedung tua peninggalan Belanda, LAWANG SEWU. Ketika sekelompok remaja yang tengah menikmati masa liburan, memutuskan untuk pergi keluar kota mengisi liburan mereka kali ini. Perjalanan yang menyenangkan dan penuh dengan emosi suka cita serta kegembiraan, menikmati masa-masa akhir mereka di SMU.
Rahasia kecil yang mereka saling tutupi sepanjang perjalanan, ternyata membuahkan petaka di tempat yang bernama LAWANG SEWU. Ketika satu per satu dari remaja tersebut kemudian harus mengalami hal yang tidak diinginkan, teror dan ketakutan yang menghantui di tempat tersebut. Dalam suasana yang tidak menguntungkan, membuka semua rahasia dan tabiat asli mereka, Diska (Thalita Latief) yang menjadi lebih dewasa dari teman-temannya, Yugo (Marcell Darwin) yang tampan dan ternyata menyukai Diska hingga Onil (Ronald Gustav) yang ternyata suka mengompol ketika merasa takut.
Dilanggarnya beberapa pantangan LAWANG SEWU membuat beberapa dari remaja tersebut harus membayar mahal perbuatan yang sudah mereka lakukan, peristiwa yang kemudian menguak tabir misteri yang melingkupi LAWANG SEWU, dendam yang harus terbayarkan hingga tuntas.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Parmanto, Iriel
(http://uin-suka.info) Ibnu Khaldun dan Pemikirannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: