schizophrenia pada novel “khutbah diatas bukit” karya kuntowijoyo

BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Psikologi sastra adalah salah satu jenis kajian karya sastra yang bersifat interdisipliner, karena memahami dan mengkaji sastra dengan menggunkan berbagai konsep kerangka teori yang ada dalam psikologi (Putra, Andhika Dwi: 2010). Hubungan sastra dengan psikologi, kajian mengguraikan kejiwaan dan meneliti alam bawah sadar pengarang, sedangkan hubungan antara sastra dan psikologi lebih dikarenakan munculnya istilah psikologi sastra yang membahas tentang hukum-hukum psikologi yang di terapkan pada karya sastra. Misalnya, karakter tokoh-tokoh dalam suatu karya sastra yang diciptakan pengarang berdasarkan kondisi psikologis yang dibangun oleh pengarangnya.
Dalam penelitian ini menggunakan Teori Kepribadian milik Freud guna mengungkapkan kepribadian tokoh barman dan poppi.  Teori  Kepribadian ini di ungkapkan Eugen Bleuler yang menyatakan bahwa  kekacauan otak yang diartikan abnormalitas dalam persepsi atau ekspresi dari kenyataan. merupakan satu tim yang saling bekerja sama dengan mempengaruhi perilaku manusia.
Novel merupakan bentuk karya sastra yang paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak beredar, lantaran daya komunikasinya yang luas pada masyarakat. Dari sekian banyak bentuk sastra seperti esei, puisi, novel, cerita pendek, drama, cerita pendeklah yang paling banyak dibaca oleh para pembaca.
Beberapa karya sastra memiliki tokoh yang berkarakter dan memiliki kejiwaan berbeda-beda dan membuat karya sastra itu menjadi lebih bernilai. Penelitian ini diarahkan pada  kisah seorang yang telah lanjut usia. Novel khutbah diatas bukit akan menjadi novel psikologis bila setiap tokohnya mempunyai bentuk kejiwaan yang dapat menyentuh hati pembacanya. Tokoh barman memiliki kepribadian yang unik. Tokoh barman yang ingin menghabiskan masa mudahnya di atas bukit dengan seorang perempuan yang sebelumnya salah seorang penghibur. Tokoh barman Barman adalah mantan diplomat di paris. Perjalanan ke bukit itu jadi semacam mimpi indah yang seolah tak ditemukan sebelumnya.
Wanita muda itu bernama Popi, wanita yang dipilihkan anaknya Bobi. Popi adalah mantan wanita penghibur. Barman dengan telaten diurus Popi. Popi senang melakukan itu. “Aku suka melayanimu pap, itu keputusanku”. Popi menegaskan Barman.
Anaknya, Bobi telah melakukan apa yang diharapkannya. Bobi telah membeli mesin percetakan. Setelah mengetahui anaknya dapat menjalankan usaha, maka Barman meninggalkan pekerjaanya.
Barman tinggal di sebuah bukit yang hening. Sejak dulu memang dokter telah merekomendasikan itu kepada Barman. Masa pensiunnya ingin diisi dengan menikmati hidupnya. Di bukit itu. Barman ingin mendapatkan ketenangan hidup, jauh dai hiruk pikuk kota.
Beruntung, Barman memiliki anak-anak yang mengerti akan kemauannya. Menurutnya Popi sangat sempurna cantik, telaten dan pandai memasak berbeda dengan isterinya yang dahulu. Sebelumnya kakek itu ditawari beberapa wanita dan pilihannya jatuh pada Popi. Padahal di hati kecilnya dia tidak mau memberikan ibu tiri buat anak-anaknya. Tapi apa dikata toh anaknya juga yang memintanya.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
•    Bagaimana bentuk schizophrenia seorang yang telah lanjut usia dalam novel “khutbah di atas bukit”  karya kuntowijoyo

3. Tujuan Penelitian
Tujuan melakukan penelitian terhadap novel “Khutbah Diatas Bukit”  karya kuntowijayo untuk mengetahui:
•    Bentuk shizhoprenia tokoh baraman dan popi dalam novel “Khutbah Diatas Bukit”  karya Kuntowijaya.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Chizophrenia
Istilah schizophrenia berasal dari bahasa Yunani yaitu schizein dan phren. Schizen artinya untuk memecah, sedangkan phren artinya pikiran, sehingga dapat diartikan bahwa schizophrenia adalah kekacauan otak yang diartikan abnormalitas dalam persepsi atau ekspresi dari kenyataan. Istilah ini diciptakan oleh Eugen Bleuler (1857 – 1939) pada tahun 1908.
Schizophrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidak seimbangan dopamine yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respon emosional dan menarik diri dari sosialisasi normal. Pada umumnya penderita mengalami delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsangan panca indera).
Penyakit ini bisa mengenai siapa saja. Biasanya gejala-gejala schizophrenia terjadi pada dewasa muda sekitar 0,4 – 0,6 % penduduk yang terkena dampak. Usia remaja dan dewasa muda memang beresiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stressor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian.
“contohnya: tak ada artinya uban, kriput, dan gemeretak tulang tulang tuanya, kalau perempuan itu pun sudah merebah diri yang tegang di ranjan. Bau wewangi tubuh, halus dan lekuk-lekuk perempuan itu adalah miliknya.”(kuntowijoyo. 2008:1-2)
Studi menunjukkan bahwa genetika, lingkungan, neurobiology, proses sosial dan psikologis adalah faktor penting yang menyebabkan munculnya gejala. Saat ini psikiater memfokuskan penelitiannya pada faktor neurobiology. Dengan banyaknya kemungkinan gejala kombinasi ada perdebatan mengenai apakah diagnosa kekacauan mewakili satu dari sejumlah ciri-ciri Sindrom tersebut.
Peningkatan dopamine di mesolimbic otak secara konsisten ditemukan pada penderita schizophrenia. Perawatan yang utama adalah memberi obat-obatan antipsikolik, jenis obat ini bekerja dengan mengurangi kegiatan dopamine. Dosis yang digunakan pada awal dekade penggunaan umumnya lebih rendah.
Berikut ini ada beberapa hal kelainan kejiwaan yang tergolong psikosa fungsional:
a.    . Tanda-tanda umum dari kelainan kejiwaan ini adalah: Kontak dengan realitas tidak ada lagi. Penderita lebih banyak hidup dalam dunia khayalannya sendiri, dan berbicara serta bertingkah laku sesuai dengan khayalannya, sehingga tidak sesuai dengan kenyataan.
1.    Karena tidak ada kontak dengan realitas, maka logikanya juga tidak berfungsi. Akibatnya isi pembicaraan penderita sukar diikuti karena meloncat-loncat (incoherens). Dan sering kali ada kata-kata aneh yang dapat dimengerti oleh penderita sendiri (neo-logisme).
“laki-laki tua itu adalah jalan baginya untuk kemerdekaan. Dan bukan karena percaya bahwa menjual sebagian dagingnya kepada laki-laki itu adalah dosa. Ia telah muak, maka sekalipun ia harus mendengarkan keluhan putus asa dari barman.” Popi tak ada lagi hak bagi yang tua. Ia akan selalu menghibur dirinya dan lalki-laki tua itu dengan.” Tak apalah pap. Hidup semacam itu macih dapat ditanggungnya”.
2.    Ucapan, pernuatan dan perkiraannya tidak sejalan. Ketiga aspek kejiwaan itu pada penderita schizoprhenia dapat berjalan sendiri-sendiri, sehingga ia dapat menceritakan sesuatu yang menyedihkan sambil tertawa-tawa.
“tinggalkan segala milikmu. Apa saja yang menjadi milikmu, sebenarnya memilikimu. Dan engkau tidak lagi merdeka. Engkau kira itu kekuasaan, tidak. Itu emembuat kamu takluk. Membelenggumu” (kuntowijaya, 2008:64).
3.    Sehubungan dengan fikiran yang sangat berorentasi pada khayalan sendiri, timbul delusi atau waham pada penderita schizoprhenia. Delusi atau waham ini adalah suatu keyakinan yang keliru mengenai diri sendiri, misalnya penderita merasa dirinya irang sakti, atau merasa dirinya napoleon.
4.    Halusinasi sering pula nampak pada schizophrenia. Penderita sering mengalami kesalahan persepsi dalam arti mendengar, melihat atau merasa sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau yang sebenarnya sangat lain sifatnya. Misalnya mendengar suara-suara atau melihat sapu sebagai pedang.

B.    Sinopsis
Kisah ini berawal dari sosok Barman, seorang yang sudah lanjut usia menghabiskan masa pensiunnya di sebuah bukit yang tenang dengan seorang wanita muda.  Barman adalah mantan diplomat di paris. Perjalanan ke bukit itu jadi semacam mimpi indah yang seolah tak ditemukan sebelumnya.
Wanita muda itu bernama Popi, wanita yang dipilihkan anaknya Bobi. Popi adalah mantan wanita penghibur. Barman dengan telaten diurus Popi. Popi senang melakukan itu. “Aku suka melayanimu pap, itu keputusanku”. Popi menegaskan Barman.
Anaknya, Bobi telah melakukan apa yang diharapkannya. Bobi telah membeli mesin percetakan. Setelah mengetahui anaknya dapat menjalankan usaha, maka Barman meninggalkan pekerjaanya.
Barman tinggal di sebuah bukit yang hening. Sejak dulu memang dokter telah merekomendasikan itu kepada Barman. Masa pensiunnya ingin diisi dengan menikmati hidupnya. Di bukit itu. Barman ingin mendapatkan ketenangan hidup, jauh dai hiruk pikuk kota.
Beruntung, Barman memiliki anak-anak yang mengerti akan kemauannya. Menurutnya Popi sangat sempurna cantik, telaten dan pandai memasak berbeda dengan isterinya yang dahulu. Sebelumnya kakek itu ditawari beberapa wanita dan pilihannya jatuh pada Popi. Padahal di hati kecilnya dia tidak mau memberikan ibu tiri buat anak-anaknya. Tapi apa dikata toh anaknya juga yang memintanya.
Menurutnya perempuan dan bunga adalah dua makhluk yang sama cantiknya. Ia mengerti tentang Popi, dia tidak ingin kebebasan popi berkurang, “Biarlah Popi merasa seperti apa yang dirasakannya”. Begitulah menurutnya. Barman ingin memulai sesuatu yang baru, seperti dia dilahirkan tak membawa apa-apa, juga pikirannya. Dia ingin sesuatu yang murni. Dia berharap hidup yang murni itu dapat ditemukannya di bukit.
Menurutnya ada satu yang kurang dari Popi, “betul ia sangat jinak, tetapi yang tak bisa dimengerti. Dia tak pernah tahu kapan perempuan  itu  bangun. Baru setelah semuanya siap untuknya  termasuk untuk mandi Barman mengetahui bahwa isterinya itu telah bangun. Siraman air yang mengalir dikepalanya dirasakan seperti telah menyiram masa lalunya. “Sejarah adalah belenggu kita. Persetanlah !”. Gumam Barman.
Suatu ketika Barman bertemu dengan lelaki  sebaya yang kemudian menjadi sahabatnya. Humam nama lelaki tua itu. Barman bertanya “siapa kau”. “aku lelaki penjaga bukit”. Jawab Humam. Aneh dengan segera lelaki misterius itu menghilang seperti kelinci. Sadar telah lama meninggalkan rumah, dia pun pulang.
Karena penasaran keesokan harinya Barman mencari kakek misterius itu. Secara tidak sengaja  Barman menemukan sebuah rumah putih. Karena capek dia langsung masuk rumah itu. Rumah itu acak-acakan berbeda dengan rumahnya. Ternyata rumah itu adalah rumah orang misterius yang dicarinya. Orang misterius itu menyambutnya dengan baik. Disediakannya makanan. Setelah itu mereka berkenalan dan berbagi cerita Barman terpukau mendengar cerita orang itu. Dari pertemuan ini mengatahui bahwa lelaki misterius itu bernama Humam.
Beberpa hari selanjutnya Barman pergi lagi ke rumah Humam di atas bukit. Humam menyambut kedatangannya. Aneh, berbeda sekali rumah itu rapi tidak seperti sebelumnya. Mereka semakin akrab saja dan bersahabat. Mereka memutuskan untuk memancing ke sungai bersama. Menurut Humam, kesendirian adalah hakikat kita. “Rupanya Humam adalah orang yang suka menyendiri”. Gumamnya. Humam berkata “Keadaanku adalah ketiadaanku”. Kata-kata Humam membuatnya bingung. Menurut Barman hakikat hidup adalah gerak. Di saat tidak bergerak lagi, maka hidup telah terhenti dititik itu.  Humam mengatakan “Bung kesenangan itu tak bertambah atau berkurang, kebahagiaan yang mutlak tak memerlukan apa-apa diluar diri kita”. Lebih lanjut Humam mengatakan “Tinggalkan segala milikmu, apa saja yang menjadi milikmu, sebenarnya memilikimu”. Perkataan itu benar-benar memepengaruhi barman. Dipandanginya Popi sambil berkata dalam hati “siapakah sekarang yang menguasai dan dikuasai?”.
Barman mengajak Popi berjalan-jalan ke pasar. Tak terduga Barman menghilang, akhirnya Popi pulang  sendiri. Pikirnya lelaki tua bakal pulang sendiri. Dan benar tidak lama kemudian Barman pulang. Kemudian Popi menceritakan bahwa dia sempat kuliah selama dua tahun.
Esok hari mereka ke pasar. Barman mengatakan kepada orang-orang pasar bahwa mereka berbahagia tapi tidak punya tanpa bermartabat. Menurutnya hidup yang bermartabat adalah hidup yang memilki nilai. “Kalau engkau hidup engkau bermakna”. Begitu kata Barman.
Kemudian Barman meminta Bobi untuk membawakan kuda untuknya sekedar untuk berjalan-jalan. Dengan kuda itu dia berjalan sendiri ke pasar. Sesampainya di pasar dia menemukan kerumunan yang ternyata adalah ditemuakannya humam dalam keadaan tak bernyawa lagi. Begitulah Humam kepergiannya tidak diketahui. Entah kenapa Barman terjatuh dari kuda dan pingsan. Barman diantarkan orang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Barman mengungkapkan keinginannya untuk hidup sendiri menikmati kebebasan saperti sahabatnya Humam.
Akhirnya niatnya itu disampaikan kepada Popi. Dengan berat hati Popi melepas suaminya itu. Hanya berdua saja dengan kuda putih Barman manuju rumah sahabatnya yang telah diwariskannya. Sesampainya di rumah ia mengenang kebersamaannya dengan Humam dan mengingat nasihat-nasihat sahabatnya itu.
Baru dua hari berpisah Barman sudah rindu dengan isterinya yang selalu menyiapkan segala kebutuhannya. Sempat terlintas dipikarannya ingin kembali kepada Popi tapi kini dia telah membulatkan tekad untuk menyendiri dan menikmati kebebasan.
Suatu ketika Barman berjalan-jalan ke kota dengan menunggang kudanya pada malam hari.  Di perjalanan ia bertanya-tanya siapakah yang memberi kebijaksanaan pada Muhammad. Dia berdiri saja, mandi cahaya rembulan dan menghirup sepuasnya udara malam. Dia berkata kepada orang-orang di pasar itu “berbahagialah kalian”. Mereka menjawab : “tidak, kita menderita, kita sengsara”. Sampai akhirnya orang-orang berkesimpulan bahwa Barman adalah satu-satunhya orang yang bahagia dan mereka hendak mengikutinya.
Orang-orang yang mencari kebahagiaan pun berdatangan ke pondok Barman untuk mencari kebahagiaan. Hingga mereka mengikutinya kemanapun. Kepada laki-laki yang menuntun kudanya dai bertanya: “Mengapa kalian mencariku nak?”. Laki-laki itu diam, begitupun orang lain. “Kami gelisah bapak tanpa engkau”. Kata seseorang dibelakang.
Pada malam itu semua orang mengikuti langkah Barman dengan kudanya menuju bukit. Tiba-tiba ada suara “bapak jangan tinggalkan kami”. ”Tidak aku tidak akan meninggalkan kalian, hidupku juga hidupmu, hidupmu juga hidupku”. Barman meyakinkan mereka. Pengikut Barman lama-kelamaan semakin banyak. Barman tahu betapa mereka membutuhkannya. Begitupun dia membutuhkan mereka.
Dalam pertemuan berikutnya Barman memberitahukan bahwa dia harus pergi mengembalikan kuda itu. Kepergian Barman itu dihalang-halangi pengikutnya yang beranggapan dia akan melarikan diri. Kuda itu segera dikandang dan diurus oleh pengikutnya.
Pada suatu pagi Barman hendak melakukan perjalanan ke bukit dan akan mengatatkan sesuatu yang penting. Maka, merekapun berkumpul dan bersiap. Barman menegaskan yang diperkenankan ikut hanyalah bagi mereka yang ingin mengatahui jawaban semua pertanyaan yang telah mereka ajukan.
Barman mengendarai kuda putih menuju bukit dengan diikuti para pengikutnya. Sesampainya di bukit Barman bertanya : “apa yang kalian inginkan?”. Mereka menjawab : “Kami ingin bahagia, tunjukan jalan itu !”. “Ayo berjalan”. Katanya. Sampai dia dan para pengikutnya kelelahan.
Tiba-tiba Barman berbisik pada penjaga tua “aku akan berbicara”.  “Bapak kita akan berbicara”. Kata penjaga tua. Mereka bersiap mendengarkan. Entah siapa pun mau Muhammad, Jesus atau Barman sekarang waktunya berbicara. Pikir Barman. “Ini Khotbahku”. Tiba-Tiba suasana  Hening. “Hidup ini tak berharga utnuk dilanjutkan”. Kalimat ini diucapkannya dengan dengan terisak dan hampir menjerit. Orang-orang terpukau. “Bunuhulah dirimu!” seru Barman. Mereka mengulang kata-kata itu dalam hati dan tidak lama kemudian terdengar isak tangis.
“Kemanakah bapak?, jangan tinggalkan kami bapak!”. Mereka menoleh kesemua sisi dan ternyata hanya kabut. Taka lama kemudian diteketemukan Barman sudah tidak bernyawa. Begitulah rupanya Barman ingin meniru Humam yang menikmati kebebasan dan kesendirian. Tidak lama kemudian Popi dan anak-anaknya pun mengetahui perihal Barman.

C.    Simpulan
Setelah mengetahui kronologi cerita barman dan popi dalam novel “ Khutbah Diatas Bukit” dapat disimpulkan bahwa Barman adalah mantan diplomat di paris. Perjalanan ke bukit itu jadi semacam mimpi indah yang seolah tak ditemukan sebelumnya. Wanita muda itu bernama Popi, wanita yang dipilihkan anaknya Bobi. Popi adalah mantan wanita penghibur. Barman dengan telaten diurus Popi. Popi senang melakukan itu. “Aku suka melayanimu pap, itu keputusanku”. Popi menegaskan Barman.    Anaknya, Bobi telah melakukan apa yang diharapkannya. Bobi telah membeli mesin percetakan. Setelah mengetahui anaknya dapat menjalankan usaha, maka Barman meninggalkan pekerjaanya. Barman tinggal di sebuah bukit yang hening. Yang menginginkan akan hidupnya kembali seperti pada masa mudanya yang dapat melakukan apapun sesuai dengan keinginannanya serta bersenang-senang. Istilah ini disebut juga denan schizophrenia yang berasal dari bahasa Yunani yaitu schizein dan phren. Schizen artinya untuk memecah, sedangkan phren artinya pikiran, sehingga dapat diartikan bahwa schizophrenia adalah kekacauan otak yang diartikan abnormalitas dalam persepsi atau ekspresi dari kenyataan. Istilah ini diciptakan oleh Eugen Bleuler (1857 – 1939) pada tahun 1908.
“Mereka memutuskan untuk memancing ke sungai bersama. Menurut Humam, kesendirian adalah hakikat kita. “Rupanya Humam adalah orang yang suka menyendiri”. Gumamnya. Humam berkata “Keadaanku adalah ketiadaanku”. Kata-kata Humam membuatnya bingung. Menurut Barman hakikat hidup adalah gerak. Di saat tidak bergerak lagi, maka hidup telah terhenti dititik itu.  Humam mengatakan “Bung kesenangan itu tak bertambah atau berkurang, kebahagiaan yang mutlak tak memerlukan apa-apa diluar diri kita”. Lebih lanjut Humam mengatakan “Tinggalkan segala milikmu, apa saja yang menjadi milikmu, sebenarnya memilikimu”.
Kutipan diatas ini menggambarkan bahwa hidup adalah untuk bersenang –senang dan kesendirian yang pada dasarnya untuk dimiliki dan digunakan dengan sebaik-baiknya sebelum datang kematian menimpa. Karena kesenangan itu tidak akan bertambah dan tidak pula berkurang kebahagiaan yang mutlak tak akan memerlukan apa-apa diluar diri manusia.

DAFTAR PUSTAKA
–    Kuntowijoyo,2008. Khutbah Diatas Bukit. Yogyakarta: PT bentang pustaka.
–    http://blogspot.com/2008/04/pengertian -novel.html
–    http://andhikaunysastraindonesia.blogspot.com/2010/12/psikologi-sastra.html
–    http://ardycupu.wordpress.com/2009/10/05/perbedaan-psikoanalisa-sigmund- freud-        dan-erikson
–    http://blank-out.livejournal.com/2162.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: