EGOISME TOKOH SEORANG IBU TERHADAP NAYLA DALAM NOVEL “NAYLA” KARYA DJENAR MAESA AYU

  PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Psikologi sastra adalah salah satu jenis kajian karya sastra yang bersifat interdisipliner, karena memahami dan mengkaji sastra dengan menggunkan berbagai konsep kerangka teori yang ada dalam psikologi (Putra, Andhika Dwi: 2010). Hubungan sastra dengan psikologi, kajian mengguraikan kejiwaan dan meneliti alam bawah sadar pengarang, sedangkan hubungan antara sastra dan psikologi lebih dikarenakan munculnya istilah psikologi sastra yang membahas tentang hukum-hukum psikologi yang di terapkan pada karya sastra. Misalnya, karakter tokoh-tokoh dalam suatu karya sastra yang diciptakan pengarang berdasarkan kondisi psikologis yang dibangun oleh pengarangnya.
Dalam penelitian ini menggunakan Teori Kepribadian milik Freud guna mengungkapkan kepribadian tokoh Ibu dan Nayla.  Teori  Kepribadian  milik Freud memiliki tiga unsur pembentuk kepribadian. Ketiga unsur tersebut akan saling mendominasi dan akan membentuk suatu kepribadian. Untuk memahami kepribadian seseorang Freud menggolongkan ke dalam tiga unsur atau sistem yaitu Id, Ego, dan Super Ego ketiganya membentuk suatu totalitas yang merupakan interaksi. Ketiganya ini memiliki ciri-ciri, prinsip kerja, fungsi, dan sifat yang berbeda, namun ketiganya merupakan satu tim yang saling bekerja sama dengan mempengaruhi perilaku manusia.
Novel merupakan bentuk karya sastra yang paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak beredar, lantaran daya komunikasinya yang luas pada masyarakat. Dari sekian banyak bentuk sastra seperti esei, puisi, novel, cerita pendek, drama, cerita pendeklah yang paling banyak dibaca oleh para pembaca.
Beberapa karya sastra memiliki tokoh yang berkarakter dan memiliki kejiwaan berbeda-beda dan membuat karya sastra itu menjadi lebih bernilai. Penelitian ini diarahkan pada  tokoh ibu dan tokoh Nayla. Novel Nayla akan menjadi novel psikologis bila setiap tokohnya mempunyai bentuk kejiwaan yang dapat menyentuh hati pembacanya.. Tokoh ibu memiliki kepribadian yang unik. Tokoh ibu memberikan hukuman pada Nayla dengan alasan hukuman itu merupakan bentuk kasih sayangnya. Tokoh ibu menjadi sosok yang sangat menakutkan bagi tokoh Nayla, karena Nayla selalu menganggap tokoh Ibu itu kuat sehinggga ia tidak bisa melawannya. Perilaku Ibu yang suka berganti-ganti pasangan, memberikan hukuman pada Nayla tanpa alasan yang jelas, berusaha agar Nayla membenci Ayah kandungnya, serta menginginkan Nayla menjadi seperti dirinya. Hal ini membuat Nayla menjadi pemberontak dan ingin lepas dari tokoh Ibu. Nayla pun mencari Ayah untuk tempat pelarian.  Setelah Ayah meninggal dia tinggal di Rehabilitasi Anak Pengguna Narkoba, lepas itu Nayla menjadi anak jalanan dan hidup di dunia malam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya  sendiri saat usianya masih belia.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
•    Bagaimana bentuk Egoisme tokoh seorang Ibu terhadap Nayla dalam novel “Nayla”  karya Djenar Maesa Ayu?

3. Tujuan Penelitian
Tujuan melakukan penelitian terhadap novel “Nayla”  karya Djenar Maesa Ayu  untuk mengetahui:
•    Bentuk Egoisme tokoh Ibu terhadap Anak kandungnya dalam novel “Nayla”  karya Djenar Maesa Ayu.

B.    PEMBAHASAN
1.     Egoisme Tokoh Ibu Terhadap Nayla dalam Novel  “Nayla”  karya Djenar Maysa Ayu
Istilah “egoisme” berasal dari bahasa Yunani yakni ego yang berarti “Diri” atau “Saya”, dan -isme, yang digunakan untuk menunjukkan filsafat. Dengan demikian, istilah ini etimologis berhubungan sangat erat dengan egoisme. Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat. Istilah lainnya adalah “egois. Egoisme dapat hidup berdampingan dengan kepentingannya sendiri, bahkan pada saat penolakan orang lain. Sombong adalah sifat yang menggambarkan karakter seseorang yang bertindak untuk memperoleh nilai dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang ia memberikan kepada orang lain.
Egoisme sering dilakukan dengan memanfaatkan kebodohan orang lain, serta memanfaatkan kekuatan diri sendiri  atau kecerdikan untuk menipu, keyakinan bahwa nilai-nilai lebih didapatkan dari yang boleh diberikan.
Tokoh Ibu berwatak keras. Semua yang Ibu inginkan harus tercapai. Ibu juga memegang prinsip bahwa Nayla harus menjadi seperti yang ia inginkan. Setiap keputusan yang sudah Ibu buat tidak bisa diubah dan ditawar lagi. Ibu selalu memandang semua benar dan salah menurut aturannya. Bahkan bentuk kedisplinan yang diterapkan untuk Nayla juga sesuai dengan aturannya, bila Nayla melakukan kesalahan Ibu menghukum tanpa melihat sebab akibat Nayla melakukan kesalahan itu. Seperti saat Nayla tetap mengompol dan ibu menghukumnya dengan  menusukkan peniti  ke selangkangan dan vagina Nayla.
”Kenapa ibu tak bisa berpikir bahwa tak akan ada satu orang anak pun yang memilih ditusuk vaginanya dengan peniti hanya karena ingin mempertahankan rasa malas” (Ayu, 2008: 2).
Kutipan di atas merupakan pernyataan Nayla tentang tokoh ibu yang tetap menghukum Nayla tanpa mengatahui alasan yang jelas. Nayla tidak merasa mengompol itu karena Nayla malas, tetapi dikarenakan Nayla tertekan akan keadaan yang dia alami. Bentuk watak keras Ibu juga terlihat karena Ibu tidak mau mendengar alasan Nayla mengapa  masih mengompol pada malam hari sebenarnya bukan karena malas tetapi ada alasan lain. Kutipan itu juga menunjukan bahwa tokoh Ibu berprilaku keras. Perilaku keras diakibatkan ego yang mempengaruhi kepribadiannya. Bila ego mendominasi kepribadian Ibu, Ibu akan berperilaku dan berpikir rasional  tetapi ibu juga memegang peranan dan menghubungkan dengan objek yang dihadapinya (Nayla). Ibu mempertahankan egonya dengan menghukum Nayla walaupun tanpa alasan yang jelas.
”Contohlah aku. Aku tak butuh mereka. Lihat betapa banyak laki-laki yang takluk kepadamu. Lihat betapa mereka rela menyerahkan jiwa dan raganya hanya untukku. Kamu pun harus bisa seperti aku. Akan ada banyak laki-laki seperti ayahmu yang kelak mencapakkanmu jika kamu tak sekuat dan sepandai aku. Apalagi fisikmu pas-pasan, anakku. Kamu tak seperti aku” (Ayu, 2008: 8).
Pada kutipan di atas Ibu mengharapkan Nayla menjadi seperti dirinya. Tokoh Ibu juga menginginkan banyak laki-laki yang tergila-gila pada Nayla seperti banyak laki-laki yang suka atau tunduk pada Ibu. Tokoh Ibu menggambarkan bahwa dia bangga dengan apa yang dia miliki dan yang dia punya pada dirinya. Ibu menginginkan Nayla mencontoh dia dan berharap Nayla bisa menaklukan banyak laki-laki. Semua hal yang dilakukan Nayla harus sesuai dengan keinginan Ibu. Perilaku Ibu yang demikian dikategorikan dalam perilaku yang Oktokrat. Perilaku Oktokrat, perilaku ingin mendominasi orang lain. Ibu mendominasi hidup Nayla karena merasa memiliki Nayla. Bahkan semua keputusan yang harus Nayla ambil sendiri, Ibu menginginkan dia yang memutuskan. Saat Nayla mengambil keputusan tidak sesuai dengan yang Ibu inginkan, Ibu marah dan kecewa.
”Akan ada banyak laki-laki  seperti ayahmu yang kelak mencapakkanmu jika kamu tak sekuat dan sepandai aku. Apalagi fisikmu pas-pasan, anakku. Kamu tak seperti  aku. Aku sebenarnya menyesal dan kasihan. Betapa hidup ini begitu tidak adil. Kenapa fisikmu pun menurun darinya. Kalau sifatnya juga kamu pelihara, hendak jadi apa?  Tak peka, pemalas, tak cantik pula.” (Ayu, 2008: 8)

Tokoh Ibu juga mengalami kecemasan. Bila dilihat dari semua pernyataan ibu tantang dia dan perlakukannya terhadap Nayla berdasarkan pada kecemasan yang dialamai ibu. Kecemasan realistis,  kecemasan atau ketakutan yang realitas atau takut akan bahaya-bahaya di dunia luar. Tokoh ibu mengalami ketakutan terhadap Nayla kalau-kalau Nayla tidak bisa menghadapi hidupnya, hal ini yang menimbulkan kecemasan realistis. Kecemasan realistis berdasarkan tingkah laku. Kecemasan realistis merupakan ketakutan terhadap dunia luar, ibu takut bila Nayla tidak bisa bertahan hidup bila  Ibu memberi bekal kehidupan yang banyak pada Nayla.
Watak keras ditunjukan juga saat  Nayla kembali ke rumah setelah Ayahnya meninggal. Tokoh Ibu tidak ingin menerima Nayla kembali ke rumah dengan alasan Nayla telah menyakiti hati ibu dengan memilih tinggal bersama Ayah.
”Namun kenapa kamu kembali?  Kamu kembali untukku, atau hanya karena ayahmu mati? Harusnya kamu tahu, sikapku tak bisa ditawar. Aku tak akan menjilat ludahku sendiri. Sudah kukatakan berkali-kali, kamu harus memilih aku atau ayahmu. Dan kamu sudah memilihnya. Tak ada alasan untuk menyatukan kita berdua” (Ayu, 2008: 17).
Sikap keras karena Ibu merasa dikhianati oleh Nayla karena lebih memilih Ayah. Tokoh Ibu juga sudah  tidak ingin lagi tinggal bersama Nayla bahkan hati Ibu juga sudah tertutup untuk Nayla. Bagi Ibu semua konsekuensi yang telah diambil Nayla merupakan pilihan yang  harus dijalani Nayla dalam kehidupan Nayla. Ego muncul saat Ibu tidak mengijinkan Nayla tinggal bersama Ibu. Tokoh Ibu menganggap dirinya berpikir realistis tentang hidup yang dijalani Nayla.
”Saya dipukuli ketika menumpahkan sebutir nasi. Tidak rapi, kata Ibu. Tapi saya lihat di sekolah, anak lain kerap menumpahkan tidak hanya sebutir, namun segepok nasi berikut lauknya tanpa dipukuli maupun diomeli Ibunya. Saya di jemur di atas seng yang panas terbakar terik matahari tanpa alas kaki karena  membiarkan pensil tanpa kemali menutupnya. Tidak bertanggung jawab, kata Ibu. Tapi yang saya lihat di sekolah, anak lain kerap membiarkan pensil mereka tak berpenutup dan orangtuanya dengan suka rela mencarikan dan menutupnya. Saya dipaksa mengejan sampai berak lantai diikat dan tahinya direkatkan dengan plester di sekujur tubuh juga mulut saya karena ketahuan tidak makan sayur. Tidak bersyukur, kata Ibu. Tapi yang  saya lihat di sekolah, anak lain banyak menampik sayur yang dibawakan ibunya, lantas sang Ibu malah menjajani mereka bakso atau pempek. Ibu memang kuat. Dan saya begitu lemah untuk tidak merasa takut pada Ibu” (Ayu, 2008:  112-113).
Kutipan di atas menggambarkan  hukuman-hukuman yang diberikan Ibu pada Nayla. Kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan anak seumuran Nayla tetapi Ibu mendidik Nayla sesuai dengan aturan yang Ibu miliki. Ibu mempertahankan egonya di hadapan Nayla sehingga Nayla menganggap Ibu kuat dan memegang kendali atas hidupnya. Kekerasan yang dilakukan Ibu mengakibatkan Nayla tidak berani berterus terang tentang apa yang Nayla rasakan saat Ibu mulai melakukan kekerasan terhadap dirinya.
2.    SINOPSIS
Nayla seorang anak yang pada waktu kecil mendapat hukuman badan dari ibu kandungnya. Saat usia Nayla masih belasan Ibu masih sering menghukum Nayla dengan menusukan peniti di vagina dan selangkangannya, hanya karena Nayla mengompol saat malam hari. Hukuman-hukuman yang diberikan Ibu kadang tidak sesuai dengan kesalahan  yang dilakukan Nayla. Ibu juga mengajarkan Nayla untuk membenci Ayah kandungnya sendiri. Ibu juga sering mengajak Nayla untuk menemui laki-laki  yang menjadi teman kencan Ibu. Ibu bahkan mengajak seorang laki-laki untuk tinggal di rumah. Nayla pun mengalami pelecehan seksual oleh lelaki simpanan Ibu yang tinggal di rumah. Nayla merasa tertekan ikut dengan ibu dan tidak kuat dengan hukuman-hukuman yang diberikan Ibu. Nayla pun memutuskan untuk mencari ayah dan tinggal bersama ayah. Keputusannya itu membuat Ibu marah. Setelah dua bulan Nayla tinggal bersama Ayah, Ayah jatuh  sakit dan meninggal dunia. Nayla pun  memutuskan kembali ke rumah Ibu. Tetapi Ibu menutup rapat pintu rumahnya bahkan menyetujui keputusan Ibu tiri Nayla yang mengirim Nayla ketempat Panti Rehabilitasi Anak Pengguna Narkoba. Setelah keluar dari Panti itu Nayla pun hidup di jalanan. Nayla mengenal dunia malam bahkan Nayla menjadi seorang lesbian. Tokoh Juli membuat Nayla jatuh cinta pada perempuan. Juli yang pertama kali menolong Nayla saat Nayla tidak punya tempat untuk mangadu. Juli pun pergi karena merasa Nayla tidak bisa mencintai Juli lagi. Nayla pun sering berkencan dengan laki-laki lain. Sampai dia bertemu dengan Ben, laki-laki kaya yang  memberikan segalanya buat Nayla tetapi tidak memberikan kepuasan batin. Nayla pun putus dengan Ben karena Nayla tidak mencintainya dengan sepenuh hati. Nayla pun mencoba kemampuannya dalam menulis. Beberapa kali karyanya ditolak oleh beberapa media cetak. Tulisannya yang berjudul Laki-Laki Binatang akhirnya diterbitkan. Hal ini membuat nama Nayla Kinar menjadi terkenal karena tulisannya tentang tokoh Ibu yang ada dalam karya sastra. Tokoh Ibu yang membaca karya Nayla menjadi marah karena merasa yang ditulis Nayla merupakan gambaran dari diri Ibu dan laki-laki simpanannya. Nayla menjadi terkenal sampai diminta memvisualkan karya. Tetapi tokoh Nayla tidak bisa menggambarkan tokoh  Ibu. Nayla tidak tahu bagaimana menggambarkan tokoh Ibu yang pas untuk filmnya itu.

C.    SIMPULAN
Setelah mengetahui kronologi cerita Nayla pada novel “Nayla”  karya Djenar Maesa Ayu, penulis mengambil kesimpulan bahwasannya yang di lakukan oleh seorang Ibu terhadap tokoh nayla berkaitan dengan psikologi kepribadian. Perbuatan atau bentuk-bentuk tindakan yang di lakukan seorang Ibu terhadap nayla dalam istilah Psikologi itu lebih dikenal dengan sebutan “egoisme”. Egoisme Psikologis adalah asumsi bahwa tindakan altruistik sering dilakukan untuk memberikan ketenangan batin pelakunya, sehingga dengan demikian pada akhirnya egoisme-lah yang menjadi motif terdalam tindakan tersebut. Karena, faktanya, seorang egois justru tidak akan peduli pada orang lain, entah kepedulian pada orang lain itu membawa manfaat baginya atau tidak. inilah cuplikan dari ke Egoisan tokoh seorang Ibu terhadap Anaknya:

”Saya dipukuli ketika menumpahkan sebutir nasi. Tidak rapi, kata Ibu. Tapi saya lihat di sekolah, anak lain kerap menumpahkan tidak hanya sebutir, namun segepok nasi berikut lauknya tanpa dipukuli maupun diomeli Ibunya. Saya di jemur di atas seng yang panas terbakar terik matahari tanpa alas kaki karena  membiarkan pensil tanpa kemali menutupnya. Tidak bertanggung jawab, kata Ibu. Tapi yang saya lihat di sekolah, anak lain kerap membiarkan pensil mereka tak berpenutup dan orangtuanya dengan suka rela mencarikan dan menutupnya. Saya dipaksa mengejan sampai berak lantai diikat dan tahinya direkatkan dengan plester di sekujur tubuh juga mulut saya karena ketahuan tidak makan sayur. Tidak bersyukur, kata Ibu. Tapi yang  saya lihat di sekolah, anak lain banyak menampik sayur yang dibawakan ibunya, lantas sang Ibu malah menjajani mereka bakso atau pempek. Ibu memang kuat. Dan saya begitu lemah untuk tidak merasa takut pada Ibu” (Ayu, 2008: 112-113)

Kutipan di atas menggambarkan  hukuman-hukuman yang diberikan Ibu pada Nayla. Kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan anak seumuran Nayla tetapi Ibu mendidik Nayla sesuai dengan aturan yang Ibu miliki. Ibu mempertahankan egonya di hadapan Nayla sehingga Nayla menganggap Ibu kuat dan memegang kendali atas hidupnya. Kekerasan yang dilakukan Ibu mengakibatkan Nayla tidak berani berterus terang tentang apa yang Nayla rasakan saat Ibu mulai melakukan kekerasan terhadap dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ayu, Djenar Maesa. 2005. Nayla. Jakarta: PT Ikrar Mandiri Abadi.
http://andhikaunysastraindonesia.blogspot.com/2010/12/psikologi-sastra.html
http://ardycupu.wordpress.com/2009/10/05/perbedaan-psikoanalisa-sigmund- freud-dan-erikson
http://blogspot.com/2008/04/pengertian -novel.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: