Keilmuan Al-Qur an

Sejarah menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan selama kurun waktu 22 tahun. 2 bulan, 22 hari (sebagian pendapat menyatakan 23 tahun). Sejak kurun waktu itu pula telah dimulai pemeliharaan kemurnian Al-Qur’an. Setiap kali wahyu turun, Nabi Muhammad Saw memerintahkan para sahabat untuk menghafal dan menuliskannya di batu, binatang, pelepah tamar dan apa saja yang bisa dipakai sebagai alat-tulis.

Nabi juga menerangkan bagaimana ayat-ayat itu mesti disusun dalam surat-surat (tauqifi). Pada waktu itu Nabi membuat peraturan bahwa hanya wahyu (ayat-ayat yang diturunkan) saja yang boleh dituliskan. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari bercampurnya antara catatan ayat (wahyu) dengan hadits (bentuk-bentuk penjelasan dari Nabi) sehingga ayat yang tertulis di dalam Al-Qur’an hanyalah dari Allah SWT semata.

Pada jaman Khalifah Abu Bakar, banyaknya sahabat penghafal Al Qur’an yang gugur di medan perang menimbulkan kekhawatiran Umar bin Khatab, oleh sebab makin berkurangnya para sahabat yang hafal Al-Qur’an. Atas usul Umar bin Khatab kepada Khalifah Abu Bakar, dimulailah proses pengumpulan catatan dan tulisan wahyu untuk ditulis ke dalam lembaran-lembaran yang terkumpul. Pada jaman Khalifah Utsman bin Affan dibentuklah panitia dengan ketua Zaid bin Tsabit. Panitia itu bertugas untuk menyusun kitab yang disebut Al Mushaf. Oleh panitia tersebut berhasil ditulis lima buah Mushaf. Empat buah diantaranya, masing-masing sebuah dikirim ke Makkah, Syiria, Basrah dan Kufah. Untuk Khalifah Utsman sendiri satu buah yang kemudian disebut Mushaf Al Imam. Dengan selesainya pem-buku-an Al-Qur’an, Khalifah Utsman memerintahkan untuk membakar dan memusnahkan semua tulisan atau lembaran-lembaran catatan Al-Qur’an yang pernah ditulis sebelumnya. Mushaf dari jaman Khalifah Utsman bin Affan itulah yang kemudian ditetapkan menjadi standar, penyalinan Al-Qur’an bagi kaum muslimin di pelbagai penjuru dunia, termasuk Al-Qur’an yang kita kenal dewasa ini di Indonesia. Oleh karena mengikuti standar penulisan Al-Qur’an pada jaman Khalifah Utsman, maka disebut Al-Qur’an Utsmani.

Pada mulanya mushaf Al-Qur’an yang ditulis oleh para sahabat tidak dilengkapi dengan pencantuman tanda-bantu baca. Oleh karena para sahabat dan para tabi’in adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, yaitu bahasa yang menjadi standar penulisan Al-Qur’an. Oleh karenanya hal ini tidak menimbulkan masalah. Namun seiring dengan makin tersiarnya agama Islam diantara bangsa-bangsa non-Arab, timbul kekhawatiran akan terjadinya kesalahan pembacaan Al-Qur’an. Kesalahan pembacaan mempunyai risiko terjadinya perubahan arti atau pengertian. Oleh karenanya, pada masa dinasti Muawiyah, Abul Aswad Ad Duali berinisiatif untuk mencantumkan tanda-bantu baca yang dituliskan dengan tinta yang berbeda warnanya dengan tulisan Al-Qur’an. Usaha ini kemudian dilanjutkan oleh generasi– generasi berikutnya. Oleh karena makin lama tanda-bantu baca ini makin sama warna dengan tulisan Al-Qur’an, maka justru menyulitkan pembacanya, sehingga perlu dilakukan penyederhanaan tanpa mengurangi maksud. Kemudian Al Khalil berinisiatif memperbaharui tanda-bantu baca tersebut. Usaha ini terus berlanjut, tanda-bantu baca mengalami proses penyempurnaan menuju bentuk tanda-bantu baca seperti yang ada pada masa kini.

Penyebutan dengan istilah tanda-bantu baca dan bukan tanda-baca disini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa pada satu sisi, bagi mereka yang telah fasih/menguasai bacaannya, mampu membaca tanpa bantuan tanda-baca. Namun pada sisi yang lain, oleh karena Al-Qur’an diturunkan untuk semua umat, baik bagi mereka yang telah fasih maupun baru belajar, kepada mereka yang berasal dari latar-belakang pendidikan yang beraneka ragam, baik bagi mereka yang berbahasa ibu, bahasa Arab maupun bukan, dan sebagainya, maka pencantuman tanda-baca untuk membantu siapapun yang berkehendak untuk mempelajari Al-Qur’an tetaplah diperlukan. Apalagi kita yang hidup di masa sekian abad setelah masa para sahabat dan tabi’in. Bahkan, bagi yang telah fasihpun masih memerlukannya untuk mengontrol pengucapan. Apalagi bila ditinjau dari penghayatan makna, maka “membaca” Al-Qur’an bukanlah ‘sekedar’ membaca. Oleh karena sifatnya yang membantu itulah, maka dalam hal ini disebut dengan istilah tanda-bantu baca. Dengan pengertian yang sama, maka setiap tanda yang berperan membantu dalam proses mempelajari Al-Qur’an disebut dengan tanda-bantu.

Uraian di atas memperjelas bahwa pengumpulan teks-teks wahyu yang kemudian dituliskan dan disusun ke dalam bentuk kitab, merupakan suatu keharusan sejarah yang sangat penting bagi pemeliharaan kemurnian Al-Qur’an dan kesinambungan penyampaiannya kepada generasi-generasi yang datang kemudian. Bagi para sahabat yang hidup sejaman dengan Nabi maupun para tabi’in yang masa hidupnya masih dekat dengan masa para sahabat, informasi yang berhubungan dengan penjelasan maksud pesan yang terkandung dalam wahyu, dengan mudah dapat diperoleh dari sumber yang terpercaya. Namun bagaimanakah halnya generasi-generasi yang hidup di masa jauh setelah masa para sahabat dan tabi’in? Dan sini dapat dinilai betapa keputusan untuk membukukan Al-Qur’an mempunyai nilai yang sangat penting dan amat strategis dalam sejarah perkembangan Islam. Betapa jauh visi yang dimililci oleh para sahabat, yakni visi yang diajarkan dan dipelopori oleh Rasulullah Saw.

Nabi Muhammad Saw juga memberi contoh kepeloporan pada umatnya untuk menghargai ilmu-pengetahuan. Kebebasan para tawanan perang ditebus dengan mengajarkan pengetahuan tulis-baca kepada umat Islam yang buta huruf. Menurut salah sebuah Hadits, Rasulullah pernah bersabda: “Di akhirat nanti tinta para ulama akan ditimbang dengan darah syuhada”. Tulis-baca (dalam arti luas) adalah kunci ilmu-pengetahuan yang merupakan alat berkomunikasi untuk dapat menembus, melintasi dan menjelajahi sudut-sudut ruang kehidupan dari jaman ke jaman dengan segala bentuk manifestasinya. Menurut HR Bukhari, dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad Saw mendengar suara keriut-keriut goresan qalam (lihat kutipannya dalam Bab 05, qalam diterjemahkan dengan “pena”). Pelestarian dan pemeliharaan kemurnian serta penyiaran warisan Rasulullah dalam bentuk Kitab Suci Al-Qur’an kitab yang berisi sandi tertulis dan risalah yang dibawakan oleh Rasulullah terus berlanjut dari generasi ke generasi. Mulai dan salinan dalam bentuk tulisan tangan langsung hingga bentuk penggandaan dengan bantuan alat-cetak. Aktifitas demikian ini telah menjadi tradisi umat Islam, yang carat dengan kisah-kisah spiritual yang menyertainya. Bukankah ditegaskan bahwa Al-Qur’an terjamin kemurniannya [QS.15:9]? Bukankah membaca dan mempelajarinya pun bernilai ibadah? Proses penulisan AI-Qur’an yang telah bermula sejak jaman Nabi Muhammad Saw, didukung oleh kebijakan beliau dalam meningkatkan kemampuan tulis-baca bagi umatnya, bergulir menuju dialog antara dua sahabat: Umar bin Khaththab dan Abu Bakar. Dialog antara dua sahabat itu juga membahas tentang pentingnya catatan wahyu dikumpulkan dan disusun, yang pada akhirnya tersusun dalam bentuk standarisasi penulisan Al-Qur’an pada jaman khalifah Utsman bin Affan. Perjalanan sejarah penyiaran Al-Qur’an seiring dengan makin tersiarnya agama Islam ke segala penjuru, melahirkan penambahan tanda-bantu yang dicantumkan pada kitab Al-Qur’an tanpa mengganggu salinan teks asli ayat yang telah distandarisasikan. Pencantuman tanda-bantu dimaksudkan untuk membantu para pengkaji Al-Qur’an agar dapat lebih mudah memahami bacaannya, sekaligus juga dimaksudkan untuk menjaga agar tidak terjadi kesalahfahaman atas arti yang terkandung di dalam teks-teks wahyu.

Perjalanan sejarah penyalinan Al-Qur’an dengan berpegang pada standar Utsmani sebagai bagian integral dan pemeliharaan kemurnian Al-Qur’an adalah warisan budaya ilmu pengetahuan, budaya baca-tulis dan etika penulisan serta tradisi untuk memelihara yang haq. Perjalanan sejarah inipun menjadi perjalanan sejarah sistematika AI-Qur’an. Sistematika yang berupa tertib-urut ayat dan surat, sistem pembagian ruku’ dan juz, beserta segala kelengkapan tanda-bantu yang menyertainya. Secara keseluruhan, sistematika tersebut membentuk format penyalinan Al-Qur’an, atau disingkat dengan format Al-Qur’an, dan tercantum dalam mushaf berbentuk kitab yang telah sangat kita akrabi. Sebagai bagian dan tradisi memelihara yang haq, maka format penyalinan mushaf Al-Qur’an sudah barang tentu mengandung maksud untuk membantu umat dalam mempelajari dan mengkaji pesan-pesan Al-Qur’an. Tradisi memelihara yang haq, memelihara kemurnian Al-Qur’an, adalah tradisi beribadah yang tunduk kepada inayat Allah seperti tercantum dalam Al-Qur’an.

Hasil pengamatan dan pengkajian selama bertahun-tahun terhadap bentuk-format mushaf Al-Qur’an [yang dilakukan oleh Bapak Lukman AQ Soemabrata, mengungkapkan adanya hubungan yang erat antara bentuk-format mushaf Al-Qur’an dengan bentuk-sistem peribadatan, dan pengenalan atas bentuk hubungan itu berguna bagi usaha menggali dan menerjemahkan nuansa-nuansa pesan yang terkandung di dalam Al-Qur’an.

Menurut pengamatan atas mushaf Al-Qur’an yang dicetak dan beredar, ditemukan berbagai tipe format-cetak. Meskipun ada perbedaan dalam tipe format-cetak mushaf, namun kesemuanya menunjukkan adanya kesamaan ciri-ciri pokok yang menjadi standar penyalinan sesuai standarisasi Utsman:

1. Jumlah Ayat = 6236
Jumlah Surat = 114
Jumlah Ruku’ = 558
Jumlah Juz = 30
Seluruhnya beserta dengan tertib-urutnya.

2. Dua halaman paling awal dari halaman-halaman penulisan ayat, dicetak dalam bentuk lebih khusus bila dibandingkan dengan halaman-halaman selanjutnya. Kedua halaman itu adalah:

Halaman 2, berisi surat A1-Faatihah, ayat 1-7.

Halaman 3, berisi beberapa ayat paling awal dari surat Al-Baqarah.

3. Teks ayat. Oleh karena demikian banyaknya (6236 buah ayat), tidak dapat disebutkan satu persatu dalam buku ini karena terbatasnya ruang. Pembaca dapat mencermati sendiri dari berbagai bentuk cetakan mushaf yang telah banyak beredar. Ciri-ciri standar seperti tersebut di atas yaitu mengikuti standar Utsman menjadi ciri pokok dan bersifat umum pada semua jenis format-cetak mushaf. Di samping ciri umum, juga terdapat ciri khusus pada bentuk format-cetak. umum dan ciri khusus itu hadir bersama dalam bentuk sebuah tipe-format kitab cetakan mushaf, disingkat tipe format atau format mushaf.

Tipe-format mushaf sebagai acuan metode.

Tipe-format mushaf Al-Qur’an yang menjadi dasar atau kerangka acuan metode kajian, yang hendak disampaikan dalam buku ini, adalah format yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Jumlah seluruh halaman penulisan ayat adalah 484 halaman, dengan nomor halaman dari 2 hingga ke 485. Halaman 1(satu) adalah halaman judul kitab.

2. Setiap juz berisi 16 halaman, kecuali juz 1(satu) dan juz 30. Juz 1(satu) berisi 13 halaman. Juz 30 berisi 21 halaman.

3. Setiap halaman berisi 18 bans, kecuali halaman: 2, 3 dan 485. Halaman 2 dan 3 masing-masing berisi 6 baris. Halaman 485 berisi 15 baris ditambah “ruang kosong” yang setara dengan 3 (tiga) baris.

4. Setiap ayat selesai ditulis di dalam sebuah halaman, kecuali sebuah ayat. Perkecualian itu adalah ayat empat surat Al-Lahab, ayat yang ditulis dengan berawal di halaman 484 clan berakhir di halaman 485.

5. Tanda ruku’ berupa huruf (‘ain) tercantum di tempat ruku’ berakhir. Di tepi halaman tempat ruku’ persis berakhir, dicantumkan pula notasi tanda ruku’ tersebut dengan ukuran yang diperbesar. Pada perbesaran tanda ruku’ dicantumkan angka-angka yang menunjukkan tentang:

Urutan ruku’ di dalam surat,
Jumlah ayat yang terkandung di dalam ruku’,
Urutan ruku’ di dalam juz.

6. Awal juz ditandai oleh huruf-huruf yang tercetak tebal.

7. Ada dua halaman yang masing-masing penuh diisi oleh sebuah surat. Halaman-halaman itu adalah:

Halaman 2 hanya berisi seluruh ayat QS.1 Al-Faatihah,
Halaman 475 hanya berisi seluruh ayat QS.89 Al-Fajr.

8. Enam buah surat di dalam juz 30 ditempatkan secara khas dengan bertepat-sejajar baris di halaman 482-483. Enam buah surat itu adalah surat-surat nomor 102 s/d 107 (At-Takaatsur s/d Al-Maa’uun).

9. Muqaddimah surat menempati dua baris, kecuali tiga buah surat yang masing-masing muqaddimahnya hanya menempati satu baris. Ketiga buah surat itu adalah:
• QS.9 At-Taubah
• QS.15 Al-Hijr
• QS.27 An-Naml

10. .Halaman 2 dan 3 tercetak secara khas berbeda dengan halaman-halaman selanjutnya, dan
• Halaman 2 berisi seluruh ayat QS.1
• Halaman 3 berisi QS.2 Al-Baqarah: 1-4.

Ciri-ciri tersebut di atas menjadi tanda-bantu yang berguna bagi proses belajar untuk memahami, mendalami dan menggali pesan kelimuan yang terkandung di dalam AI-Qur’an. Ciri-ciri yang menjadi tanda-bantu termaksud bersifat visual (dapat diamati langsung oleh mata). Sifat visual itu sudah barang tentu menciptakan kemudahan-kemudahan bagi proses belajar. Pencantuman tanda-bantu jelas dimaksudkan untuk membantu para pengkaji agar lebih efektif clan tepat dalam menangkap makna pesan yang seringkali memerlukan abstraksi tertentu untuk memahaminya. Secara prinsip, tersebut di atas berfungsi pula sebagai tanda-bantu untuk “membaca” Al-Qur’an (di samping pemahaman arti melalui bahasa dan kaidah gramatika serta pendekatan lainnya).

Arti sebuah posisi

Adanya tertib-urut dalam susunan Al-Qur’an mengandung pengertian tentang penting-nya arti sebuah posisi. Demikan pula ayat perlu diperhatikan dari posisi penempatannya. Arti penting memperhatikan posisi ayat lebih diperjelas lagi dengan adanya 31 buah ayat yang secara tekstual sama lafaz dan tulisannya, namun masing-masing memiliki posisi yang berbeda-beda. Ayat-ayat itu adalah ayat-ayat dalam QS.55 Ar-Rahmaan, yang berbunyi:

“Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Ar-Rahmaan bukanlah satu-satunya surat yang memiliki ayat berulang. Ada yang lain, meskipun pengulangan ayatnya tidak 31 kali. Perulangan ayat dengan posisi yang berbeda-beda pasti punya maksud. Ada keterkaitan pesan yang terangkai olehnya, juga ada penekanan tertentu yang menjadi ciri khas masing-masing sesuai dengan posisi penempatannya, yaitu sesuai dengan konteksnya Meskipun dilihat dari bunyi dan tulisannya tampak seperti pengulangan ayat yang sama, namun sesungguhnya tidak bisa disebut sama, karena masing-masing memiliki arti yang khas, baik berupa penekanan tertentu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: