Kateterisasi Urine

Kateterisasi urine adalah tindakan memasukan selang kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra dengan tujuan mengeluarkan urine. Kateterisasi dapat menyebabkan hal – hal yang mengganggu kesehatan sehingga hanya dilakukan bila benar – benar diperlukan serta harus dilakukan dengan hati – hati ( Brockop dan Marrie, 1999 ).
Menurut ( Brockop dan Marrie, 1999 ) pemasangan kateter urine dapat dilakukan untuk diagnosis maupun sebagai terapi. Indikasi pemasangan kateter urine untuk diagnosis adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengambil sample urine guna pemeriksaan kultur mikrobiologi dengan menghindari kontaminasi.
2. Pengukuran residual urine dengan cara, melakukan regular kateterisasi pada klien segera setelah mengakhiri miksinya dan kemudian diukur jumlah urine yang keluar.
Untuk pemeriksaan cystografi, kontras dimasukan dalam kandung kemih melalui kateter.
1. Untuk pemeriksaan urodinamik yaitu cystometri dan uretral profil pressure.
Indikasi Pemasangan Kateter urine sebagai Terapi adalah :
1. Dipakai dalam beberapa operasi traktus urinarius bagian bawah seperti secsio alta, repair reflek vesico urethal, prostatatoktomi sebagai drainage kandung kemih.
2. Mengatasi obstruksi infra vesikal seperti pada BPH, adanya bekuan darah dalam buli-buli, striktur pasca bedah dan proses inflamasi pada urethra.
3. Penanganan incontinensia urine dengan intermitten self catheterization.
4. Pada tindakan kateterisasi bersih mandiri berkala ( KBMB ).
5. Memasukan obat-obat intravesika antara lain sitostatika / antipiretika untuk buli – buli.
6. Sebagai splint setelah operasi rekontruksi urethra untuk tujuan stabilisasi urethra,
Menurut ( Brockop dan Marrie, 1999 ) Jenis – jenis pemasangan kateter urine terdiri dari :
1. Indewelling catheteter yang biasa disebut juga dengan retensi kateter / folley cateter – indewelling catheter dibuat sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas dari kandung kemih.
2. Intermitten catheter yang digunakan untuk jangka waktu yang pendek ( 5-10 menit ) dan klien dapat diajarkan untuk memasang dan melepas sendiri.
3. Suprapubik catheter kadang – kadang digunakan untuk pemakaian secara permanent. Cara memasukan kateter dengan jenis ini dengan membuat sayatan kecil diatas suprapubik
Saat ini ukuran kateter yang biasanya dipergunakan adalah ukuran dengan kalibrasi French ( FR ) atau disebut juga Charriere ( CH ). Ukuran tersebut didasarkan atas ukuran diameter lingkaran kateter tersebut misalkan 18 FR atau CH 18 mempunyai diameter 6 mm dengan patokan setiap ukuran 1 FR = CH 1 berdiameter 0,33 mm. Diameter yang diukur adalah diameter pemukaan luar kateter. Besar kecilnya diameter kateter yang digunakan ditentukan oleh tujuan pemasangan kateter urine tersebut untuk klien dewasa,ukuran kateter urine yang biasa digunakan adalah 16-19 FR. Kateter yang mempunyai ukuran yang sama belum tentu mempunyai diameter lumen yang sama karena perbedaan bahan dan jumlah lumen pada kateter tersebut.
Bahan kateter dapat berasal dari logam ( Stainlles ), karet ( Latteks ), latteks dengan lapiasan silicon ( Siliconized ). Perbedaan bahan kateter menentukan biokompabiliti kateter didalam buli-buli sehingga akan mempengaruhi daya tahan kateter yang terpasang di buli – buli.
Menurut ( Brunner dan Suddart, 1986 ), Prosedur pemasamgan kateter urine melalui beberapa tahap :
a. Persiapan alat
 Sterill
– Kateter yang akan dipasang sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan satu ( 1 ) buah disiapkan dalam bak steril.
– Pinset anatomis 1 buah.
– Sarung tangan 1 pasang.
– Spuit 10-20 cc 1 buah.
– Kain kassa 2 lembar.
– Kapas sublimate dalam tempatnya.
– Air / aquabidest NaCl 0,9 % secukupnya.
– Xylocain jelly 2 % atau sejenisnya
– Slang dan kantong untuk menampung urine.
 Tidak Steril
– Bengkok 1 buah.
– Alas bokong 1 buah
– Lampu sorot bila perlu
– sampiran tangan 1 pasang
– Selimut mandi / kain penutup
– Botol kecil steril untuk bahan pemeriksaan steril.
a. Persiapan klien
Terutama untuk tindakan kateterisasi urine klien harus diberi penjelasan secara adekuat tentang prosedur dan tujuan pemasangan kateter urine. Posisi yang biasa dilakukan adalah dorsal recumbent,berbaring di tempat tidur / diatas meja perawatan khususnya bagi wanita kurang memberikan fasa nyaman karena panggul tidak ditopang sehingga untuk melihat meatus urethra menjadi sangat sulit. Posisi sims / lateral dapat dipergunakan sebagai posisi berbaring / miring sama baiknya tergantung posisi mana yang dapat memberikan praaan nyaman bagi klien dan perawat saat melakukan tindakan kateterisasi urine.
b. Persiapan perawat
– Mencuci tangan meliputi :
 Melepaskan semua benda yang ada di tangan
 Menggunakan sabun
 Lama mencuci tangan 30 menit
 Membilas dengan air bersih
 Mengeringkan dengan handuk / lap kering
 Dilakukan selama dan sesudah melakukan tindakan kateterisasi urine
– Memakai sarung tangan
– Menjelaskan prosedur tindakan kepada klien.
c. Pelaksanaan
a) Pasang sampiran dan pintu ditutup
b) Perlak dan alasnya dipsang dibawah gluteus
c) Letakan 2 bengkok diantara kedua tungkai klien
d) Cuci tangan
e) Pada klien pria :
Klien berbaring, perawat berada di sebelah klien, meatus uretra dan glandula penis disinfeksi dengan cairan antiseptic, pasang doek bolong dan perawat memakai handscone steril, selang kateter diberi jelly secukupnya pada pemukaan yang akan dimasukan pada uretra, penis ditegakkan lurus keatas dan tanpa ukuran kateter urine dimasukan perlahan kedalam buli-buli, anjurkan klien untuk menarik nafas panjang.
f) Pada klien wanita
Labia mayora dibuka dengan ibu jari dan telunjuk tangan perawat yang dibungkus dengan kapas savlon, bersihkan vulva sekurang – kurangnya tiga kali, perawat memakai sarung tangan dengan menggunakan kassa steril dan bethadin 10% disinfeksi labia mayora dan lipat paha, pasang doek bolong steril, kateter urine dimasukan perlahan – lahan yang sebelumnya telah diberi jelly dan klien dianjurkan menarik nafas dalam.
g) Urine yang keluar ditampung dalam urine bag.
h) Isi balon kateter urine dengan aquabidest / nacl 0,9% = 10 cc sesuai dengan petunjuk yang tertera pada pembungkus kateter urine.
i) Fiksasi kateter urine di daerah pangkal paha
j) Letakan urine bag lebih rendah daripada kandung kemih atau gantung urine bag di bed.
k) Disinfeksi sambungan urine bag dengan kateter urine.
l) Rapihkan klien,bersihkan alat,
m) Perawat cuci tangan
n) Memberikan penjelasan kembali tentang prosedur tindakan pada klien.
d. Perawatan kateter urine selama terpasang kateter
Perawatan kateter urine sangat pentung dilakukan pada klien dengan tujuan untuk mengurangi dampak negatif dari pemasangan kateterisasi urine seperti infeksi dan radang pada saluran kemih, dampak lain yang mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar manusia perawatan yang dilakukan meliputi : menjaga kebersihan kateter dan alat vital kelamin, menjaga kantong penampumg urine dengan tidak meletakan lebih tinggi dari buli-buli dan tidak agar tidak terjadi aliran balik urine ke buli-buli dan tidak sering menimbulkan saluran penampung karena mempermudah masuknya kuman serta mengganti kateter dalam jangka waktu 7-12 hari. Semakin jarang kateter diganti, resiko infeksi makin tinggi, penggantian kateter urine tergantung dari bahan kateter urine tersebut sebagai contoh kateter urine dengan bahan latteks silicon paling lama dipakai 10 hari,sedang bahan silicon dapat dipakai selama 12 hari. Pada tahap pengangkatan kateterisasi urine perlu diperhatikan agar balon kateter urine telah kempis. Selain itu menganjurkan klien menarik nafas untuk mengurangi ketegangan otot sekitar saluran kemih sehingga kateterisasi urine dapat diangkat tanpa menyebabkan trauma berlebihan
2.2 KECEMASAN
2.2.1 Pengertian
Kecemasan adalah pengalaman manusia yang universal, suatu respon emcsional yang tidak menyenangkan, penuh kekhawatiran, suatu rasa takut yang tidak terekspresikan dan tidak terarah karena sesuatu sumber ancaman / pikiran sesuatu yang akan datang tidak jelas dan tidak teridentifikasikan. Kecemasan merupakan salah satu bentuk emosi yang mempunyai peran utama dalam proses penyesuaian individu yaitu sebagai indicator rspon terhadap stress dan sebagat suatu tanda untuk menghadapi stress yang selanjutnya. Kecemasan dalam batas – batas tertentu ternyata dianggap cukup signifikan sebagai peringatan adanya ancaman sehingga untuk itu individu dapat mempersiapkan prcses penyesuaian diri yang lebih efektif ( Kaplan and Saddock, 1995).
Menurut Stuart dan Suddens ( 1998 ) bahwa respon individual terhadap kecemasan meliputi respon fisiologis dan psikologi.
2.2.2 Respon Fisiologis
Respon fisiologi kecemasan yang timbul tergantung pada tingkat dan lamanya kecemasan, karakteristik fisiologis kecemasan adalah :
Tabel 1.1 Respon fisiologi kecemasan
Tingkat kecemasan    Respon fisiologis
Ringan         Nafas pendek
    Irama jantung dan tekanan darah meningkat
    Gejala yang tidak enak pada lambung, napsu makan menurun
    Ekspresi muka gugup
Sedang         Napas pendek
    Denyut jantung dan tekanan darah meningkat
    Mulut kering, gangguan pada lambung, anoreksia, diare, konstipasi, badan gemetar ( wajah ketakutan, otot –otot meregang, respon badan bergetar, ketidak mampuan untuk relaksasi, susah tidur )
    Gelisah
Berat        Napas pendek, cepat, dangkal, rasa tercekik dan tersumbat
    Hipotensi, pusing, nyeri dada
    Palpitasi
    Mual
    Agitasi
    Koordinasi motorik berkurang, gerak tubuh involunter, tubuh bergetar, ekspresi wajah menakutkan, pucat, berkeringat
2.2.3 Respon Psikologis
Respon psikologis menurut beberapa sumber terdiri dari Respon perilaku diantaranya : Perasaan gelisah, ketegangan fisik, tremor gugup, bicara cepat, kurang koordinasi, cenderung mendapat cedera, menarik diri dari hubungan interpersonal, menghalangi serta menghindari diri dari masalah. Respon kognitif diantaranya : perhatian terganggu, konsentrasi buruk, pelupa, salah dalam memberikan penilaian, hambatan berpikir, persepsi menurun, kreatifitas menurun, bingung, sangat waspada, kehilangan objektifitas, takut pada gambaran visual, takut cedera dan kematian. Respon afektif diantaranya : Kondisi gelisah, tidak sabar, tegang, nervous, mudah terganggu, ketakutan, tremor, dan gugup (Stuart dan Sudden, 1998 )
2.3 Tingkat kecemasan
( Menurut Stuart and Sudden, 1998 ) bahwa tingkat kecemasan dan efeknya terhadap individu terdiri dari : Kecemasan ringan yaitu berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan cara persepsinya, kecemasan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. Kecemasan sedang yaitu memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan hal yang lain sehingga yang seseorang mengalami perhatian yang selektif namum dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.. Kecemasan berat yaitu Kecemasan biasanya berhubungan dengan terperangah, ketakutan, terror. Biasanya individu ini mrngalami kehilangan kendali, individu yang mengalami kecemasan berat tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian.
2.4 Faktor – factor yang mempengaruhi kecemasan
Berbagai factor dapat melatarbelakangi timbulnya kecemasan pada klien yang akan dilakukan pemasangan kateter. Faktor – factor yang melatarbelakangi kecemasan antara lain :
a. Jenis Kelamin
( Kapplan dan Saddock, 1997 ), mengemukakan bahwa diperkirakan jumlah mereka yang menderita kecemasan baik akut maupun kronik 1 tahun terentang dari 3 – 8 % dari jumlah penduduk dengan perbandingan antara wanita dan laki – laki 2 : 1.
b. Umur
Semakin tua usia seseorang maka semakin baik ia dalam mengendalikan emosinya ( Hurlock, 1996 ).
c. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan menurut kamus besar Poerwadarmina ( 1996 ) adalah proses pengubahan sikap dari tata laku seseorang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Jadi dengan semakin tinggi tingkat pendidikan diharapkan mereka dapat berpikir secara rasional dan menahan emosi yang baik.

Rabu, 23 Juni 2010
anfaat jahe merah
Beberapa Ramuan Jahe Merah
1. Untuk Atasi Rematik
Ramuan 1:
Siapkan jahe merah segar 20 gram, temulawak 20 gram, cabe jawa 20 gram, kumis kucing 30 gram, daun komfrey 30 gram, dan air untuk minum 4 gelas.
Semua bahan dicuci bersih, rajang atau diiris tipis, lalu direbus. Tunggu hingga air rebusan tersisa 2 gelas, kemudian saring.
Minum 2 kali pada pagi dan sore hari, sekali minum 1 gelas. Agar rasanya lebih segar, tambahkan 2 sendok makan madu dan perasan jeruk nipis.
Ramuan 2:
Siapkan jahe merah segar 20 gram, daun dewa segar 30 gram, irisan kering mahkota dewa 20 gram, daun meniran segar 30 gram, daun sendok 30 gram, dan air untuk minum 4 gelas. Semua bahan dicuci bersih, diiris atau dirajang kecil-kecil, lalu direbus. Tunggu hingga air rebusan tersisa 2 gelas, kemudian saring.
Minum 2 kali sehari pada pagi dan sore hari, sekali minum 1 gelas. Bila suka, tambahkan madu.
2. Untuk Atasi Keropos Tulang
Siapkan jahe merah segar 20 gram, kacang hijau 30 gram, biji cengkih 10 gram, kapulaga 10 gram, merica 15 gram, kayumanis 20 gram, dan air 4 gelas.
Bahan-bahan dicuci bersih dan dilumatkan atau dimemarkan. Rebus hingga air rebusan tersisa 2 gelas, kemudian disaring. Minum 2 kali sehari pada pagi dan sore hari setelah makan. Sekali minum 1 gelas. Agar rasanya nikmat, bisa ditambahkan 2 sendok makan madu.
3. Untuk Atasi Asma
Siapkan jahe merah segar 20 gram, daun sambiloto 30 gram, daun randu 30 gram, daun lampes 20 gram, dan air untuk minum 4 gelas. Semua bahan setelah dicuci bersih, diiris atau dirajang kecil. Rebus hingga air rebusan tersisa 2 gelas, lalu saring.
Minum 2 kali sehari pada pagi dan sore hari setelah makan. Sekali minum 1 gelas. agar rasanya segar, bisa ditambahkan madu dan perasan jeruk nipis.
4. Untuk Atasi Stroke
Siapkan jahe merah 20 gram, mengkudu 40 gram, pule pandak 20 gram, daun dewa 30 gram, daun ciremai 20 gram, air untuk minum 4 gelas. Setelah semua dicuci, dirajang atau diiris. Rebus dengan air 4 gelas hingga air rebusan tersisa 1,5 (satu setengah) gelas, kemudian saring.
Minum tiga kali pada pagi, siang, dan sore setelah makan. Sekali minum _ (setengah) gelas.
5. Menambah Gairah Seks
Siapkan jahe merah 15 gram, gingseng 30 gram, cabe jawa 20 gram, lada hitam 20 gram, air untuk minum 4 gelas. Semua bahan dicuci, direbus hingga air rebusan tersisa 2 gelas kemudian disaring.
Minum 2 kali pada pagi dan sore. Sekali minum 1 gelas. Bisa tambahkan kuning telur 1 butir dan 2 sendok makan madu murni. Aduk hingga merata sebelum diminum.
Catatan: Agar lebih aman, tetaplah berkonsultasi dengan ahli tanaman obat atau ahli penyembuhan herbal. @ Suharso Rahman (sumber : Kompas cybermedia, 25 Juli 2004)
Diposkan oleh rinoardila di 05:17 0 komentar
Beranda
Langgan: Entri (Atom)
Pengikut

narkoba
Menunggu Keseriusan Pemerintah, Penantian yang tidak Pasti
Media Indonesia, 12 April 2008
Penulis : Belantara Sukma Pengamat masalah sosial, sukarelawan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCA
________________________________________
FENOMENA peredaran narkotik, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya (narkoba) di berbagai kalangan akhir-akhir ini makin membuktikan betapa penyalahgunaan narkoba bisa melibatkan siapa saja. Kalangan terdidik maupun kurang berpendidikan, kelompok ekonomi menengah ke atas juga menengah ke bawah, serta masyarakat di perkotaan sampai pedesaan. Untuk skala Indonesia, tingkat penyalahgunaan yang tinggi itu membuktikan peredaran narkoba di negara kita makin hari terus meluas. Data berikut memperlihatkan hal itersebut.
Masih belum hilang dari ingatan kita, betapa Ellyas Pical yang mantan juara dunia tinju pun bisa kedapatan sedang membawa pil ekstasi. Artis-artis gaek seperti Roy Marten dan Ahmad Albar pun terlibat peredaran narkoba. Seorang fotomodel asal Australia juga pernah kedapatan positif menggunakan narkoba seusai menjalani tes urine.
Fenomena penyebaran meluas ini makin menguatkan sinyalemen bahwa di Indonesia, narkoba tersebar hingga ke berbagai kawasan. Dari artikel ‘Jakarta dalam Angka’ (2007), disebutkan bahwa di Jakarta terdapat 267 kelurahan terdiri dari 2.686 RW dan 30.093 RT. Sebuah survei yang dilakukan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) pada 2004 menemukan tak ada satu pun kelurahan di Jakarta ini yang bebas dari peredaran narkoba. Bisa dibayangkan betapa luasnya skala peredaran narkoba itu. Jika berkaca pada total luas Kota Jakarta yang membentang dari kawasan Tanjung Priok di Jakarta Utara, Cengkareng dan sekitarnya di Jakarta Barat, Ciputat di Jakarta Selatan, dan Pondok Kopi di Jakarta Timur, Anda akan menemukan sebuah wilayah seluas 661,52 km2.
border=0 v:shapes=”_x0000_s1026″>Belum lagi jika Kepulauan Seribu juga dimasukkan sebagai cakupan. Seperti kita ketahui bersama, beberapa waktu yang lalu aparat gabungan Polda Metro Jaya, Badan Narkotika Provinsi, dan Polres Kepulauan Seribu sudah melakukan razia pada tujuh pulau yang diperkirakan menjadi sarang narkoba. Kondisi geografis memang menjadi salah satu tantangan dalam pemberantasan itu.
Berbagai referensi tentang narkoba pun telah menyebutkan banyaknya bukti mengenai peningkatan penggunaan narkoba di seluruh wilayah Indonesia. Kematian akibat overdosis saat ini terjadi secara rutin di berbagai rumah sakit di Jakarta. Sebuah rumah sakit utama di Jakarta mencatat bahwa pada 1999 terjadi enam kematian akibat overdosis dalam waktu hanya satu bulan. Sekarang ini, diperkirakan kematian karena overdosis di Jakarta sudah mencapai satu kematian per hari.
Beberapa aktivis pendampingan pecandu narkoba menilai perkiraan adanya satu kasus overdosis per hari di Jakarta itu tidak berlebihan. “Dengan tingkat pemakaian yang makin meningkat kini, intensitas kematian karena OD per hari rasanya sudah meningkat. Tetapi angka pastinya tetap harus melalui survei,” kata salah seorang aktivis yang intens dalam penanganan kecanduan narkoba.
Data terbaru Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Februari 2006 menyebutkan dalam lima tahun terakhir jumlah kasus tindak pidana narkoba di Indonesia rata-rata naik 51,3% atau bertambah sekitar 3.100 kasus per tahun. Ditengarai pula, data itu masih merupakan data di permukaan gunung es karena justru banyak kasus yang belum terungkap.
Kondisi produksi dan distribusi
Jika mencermati jenis narkoba yang beredar di Indonesia, berdasarkan keterangan para tersangka yang ditangkap polisi, periode 2003-2006, kokain banyak didatangkan dari Kolombia. Kokain adalah narkoba yang dibuat dengan bahan dasar tanaman koka. Heroin (narkoba dengan bahan dasar tanaman poppy/ opium) berasal dari kawasan Segitiga Emas (Thailand, Myanmar, Laos); sementara metamfetamina kebanyakan didatangkan dari China, dengan jalur distribusi melalui Hong Kong, Bangkok, dan Singapura.
Pembuatan narkoba di Jakarta, terutama yang berbahan dasar kimia, juga meningkat, baik oleh pabrik berskala besar maupun kecil. Indonesia juga sudah mampu memproduksi berbagai macam narkoba, tidak hanya untuk konsumsi dalam negeri, tetapi juga diperuntukkan sejumlah negara di Asia dan di Eropa. Banyaknya kurir narkoba yang tertangkap saat hendak mengirim narkoba ke luar negeri, baik WNI maupun orang asing, membuktikan fenomena tersebut.
Terdapat ratusan pulau di Indonesia yang bisa dipergunakan untuk mendirikan pabrik dan itu benar-benar membantu produksi narkoba. Beredar pula laporan di kalangan lembaga antinarkoba di Asia, bahwa kurir Indonesia beberapa kali kedapatan menyelundupkan ekstasi ke China, dan saat pulang membawa metamfetamina.
Sebagian besar mariyuana (khususnya ganja) dibudidayakan di Nanggroe Aceh Darussalam. Secara historis, itu jenis narkoba yang bisa dipakai penduduk lokal untuk keperluan kehidupan sehari-hari. Luas ladang ganja yang ditanami dan dipanen ditaksir mencapai 2.000 hektare.
Kepolisian RI (Polri), di bawah Kapolri Jenderal Sutanto, menjanjikan pemberantasan ladang ganja di Aceh secara konsisten dan berkelanjutan. Kini, sejauh mana keberhasilan pemberantasan yang dilontarkan pada berbagai kesempatan saat pertama kali Sutanto dilantik sebagai Kapolri pada 2005 itu tidak jelas.
Dengan tingkat peredaran yang makin meluas, jumlah pecandu narkoba di Indonesia, diperkirakan sudah bukan lagi sekitar 500 ribu orang. Ada sebagian kalangan yang menyebutkan jumlahnya sudah mencapai 1,5 juta orang.
Sebagai perbandingan, di Jakarta saja, terdapat sekitar 13 ribu pecandu. Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO), salah satu rumah sakit yang mengkhususkan diri dalam penanganan masalah ketergantungan narkoba, melaporkan adanya kenaikan jumlah pasien dalam periode tertentu dan penurunan pada periode lainnya (lihat tabel berikut).
border=0 v:shapes=”_x0000_s1027″> Jumlah Kunjungan Pasien Rawat Jalan dan Rawat Inap di RSKO Jakarta 1997-2004
Namun perlu dicatat pula bahwa angka tersebut tidak dapat dikatakan menggambarkan kondisi sesungguhnya. Banyak orang yang memilih tidak melaporkan keterlibatan mereka dengan narkoba dan menyelesaikan hal itu sendiri (misal ke pesantren dan panti rehab) sehingga tidak tercatat. Alasan utamanya biasanya karena malu akan sanksi sosial bila ketahuan ada anggota keluarga yang terlibat.
Indonesia jalan di tempat
Dengan adanya berbagai situasi yang makin memprihatinkan itu, di mana posisi Indonesia dalam penanganan penyalahgunaan narkoba? Secara terbuka harus dikatakan, Indonesia jalan di tempat dalam hal yang krusial ini. Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak uji materiil atas vonis hukuman mati kepada terpidana narkoba tidak direspons dengan positif oleh penegak hukum, dalam hal ini Kejaksaan Agung. Itu merupakan salah satu contoh betapa pemerintah tidak serius menegakkan hukum dalam kasus narkoba.
Hingga saat ini, sesuai dengan data yang diluncurkan anggota Komisi III DPR RI, Trimedya Panjaitan, masih ada 44 orang terpidana narkoba yang divonis mati, tetapi masih ditahan. Berbagai pihak sudah mendesakkan eksekusi ini, baik Badan Narkotika Nasional maupun sejumlah kalangan LSM, namun ketegasan yang ditunggu tak kunjung hadir.
Hukum di Indonesia, tak hanya dalam kasus narkoba, sudah sejak lama dianggap mandul. Dalam kasus peredaran narkoba, mandulnya hukum negara kita makin terasa membahayakan jika dibandingkan dengan penegakan hukum di negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Dengan hukum yang tegas di Malaysia dan Singapura, wajar jika akhirnya bandar dan pengedar mengarahkan lokasi peredaran di Indonesia. Selain aman, konsumennya juga lebih banyak.

Hal tersebut ‘didukung’ pula oleh perilaku aparat yang korup dan buruknya sarana deteksi di bandar udara dan pelabuhan laut di Indonesia. Sebagian besar dari 100 lebih pelabuhan laut Indonesia tidak punya fasilitas detector X-ray yang memadai. Tak mengherankan jika banyak narkoba yang lolos pemeriksaan saat disalurkan melalui perjalanan laut. Di bandara dan pelabuhan dengan fasilitas lengkap pun belum tentu narkoba terdeteksi karena oknum aparat kita yang masih ‘doyan’ sogokan.
Posisi pemerintah dalam menjalankandemand reduction (pengurangan permintaan) juga sama sekali tidak jelas. Kampanye antinarkoba di kalangan mereka yang masih berstatus drug free, terasa sekali, hanya didengungkan di panggung-panggung retorika politik.
Tak mengherankan jika upaya kampanye antipenyalahgunaan narkoba tidak menyentuh masyarakat, alias hanya berada di awang-awang. Situasi itu diperparah berbagai situasi yang tidak menguntungkan Indonesia, seperti tingginya angka pengangguran, baik yang kentara maupun tak kentara, ekonomi negara dan masyarakat yang rapuh, serta faktor-faktor lain.
Kesulitan ekonomi pada akhirnya sering menjadi bagian tak terpisahkan dari terjerumusnya masyarakat ke ‘jurang’ narkoba. Kondisi itu sebenarnya merupakan potret dari pasar yang ‘ideal’ untuk narkoba yang supermemprihatinkan. Dalam situasi itulah permintaan bertemu intens dengan penawaran. Masyarakat yang kehilangan identitas diri, dan tidak punya basis ekonomi yang kuat, pada akhirnya mudah dirayu untuk menjadi pengedar narkoba kelas teri. Itu menjawab pertanyaan, mengapa tukang ojek di Jakarta juga akhirnya mau mengedarkan narkoba. Si tukang ojek berpikir, uang hasil mengedarkan narkoba lebih tinggi ketimbang pendapatan sehari-hari seorang tukang ojek.
Sayang seribu kali sayang, sikap pemerintah yang abai terhadap fenomena ini justru menjadi lahan yang subur bagi pasar narkoba. Penegakan hukum yang ‘tebang pilih’ dan ‘hangat-hangat tahi ayam’ terlihat dengan sangat kentara. Bandar-bandar besar yang tertangkap memang sudah disidang dan dipidana. Namun, di penjara ternyata mereka masih bisa menjalankan kegiatan bisnis ilegal tersebut.
Akankah keseriusan pemerintah Indonesia harus menunggu preseden yang kerap terjadi di luar negeri, yakni mereka baru serius setelah ada kerabat pejabat tinggi yang terperangkap menjadi korban penyalahgunaan narkoba? Jika itu yang menjadi ‘syarat’ keseriusan, bisa jadi dalam 10 tahun ke depan, warung-warung di sekitar rumah kita sudah lazim menjadi penyedia narkoba. (***)
Opini Lainnya
18 Oktober 2008
HOPES, Sketsa Remaja Bebas Narkoba
11 Oktober 2008
100 Tahun Aksi Melawan Narkoba
13 September 2008
Pemberdayaan Masyarakat Bebas Narkoba
06 September 2008
Mengempiskan Kebijakan yang Egosentris
23 Agustus 2008
Kebijakan Eklektik Mengatasi Masalah Narkoba
16 Agustus 2008
Membangun Profil Keluarga yang Merdeka dari Narkoba
09 Agustus 2008
Perang Candu Masa Kini Prevention Work!
02 Agustus 2008
Memberantas Narkoba dengan Menyediakan Lingkungan Hidup Alternatif
26 Juli 2008
Kenali dengan Baik Anak Anda!
05 Juli 2008
Membangun kembali Kehidupan Keluarga dari Keterpurukan akibat Narkoba
» Kumpulan

Home | Komentar
© 2010 Media Indonesia Online All rights reserved

Home
Laporan Utama
Laporan Khusus
Monitor Kabinet
Nasional
Ensiklo
Gerilya Parpol
Indikator
Wawancara Khusus
Internasional
Info Haji
Info Lowongan Kerja
Monitor Parlemen
Megapolitan
Hukum & Kriminal
Profil
Eko-Bis
Perbankan & BUMN
Etalase
Politainmen
Redaksi
Hot News

Berita Terkini Megapolitan
23/03/10 – KPK TUNGGU HASIL AUDIT SETORAN HARAM BANK DKI
16/03/10 – DEWAN ALERGI DITANYA SOAL FEE BANK JABAR
16/03/10 – AWAS, KONGKALIKONG PERTAMINA-SPBU NAKAL

14 July 2009
Jatim Runner Up Kasus Narkoba dan Miras

Nilai pembaca:      / 0
Kurang     Bagus
Menurut Gus Ipul— panggilan akrab Syaifullah Yusuf, tingkat peredaran dan penyalagunaan narkoba di Jatim saat ini memang sudah memasuki tahap mengkhawatirkan. Dari waktu ke waktu, menunjukkan adanya peningkatan baik dari jumlah kasus yang terungkap maupun kualitasnya.
Pernyataan Ketua Badan Narkotika Propinsi (BNP) Jatim itu soal mulai mengkhawatirkannya kasus narkoba di Jatim tidak mengada-ada. Data yang ada di BNP Jatim, hingga akhir April 2009 saja, tercatat 1.447. Dari jumlah kasus itu, sudah 1.000 orang yang ditetapkan sebagai tersangka.
Peningkatan jumlah kasus narkoba juga bisa dilihat dari data statistic yang ada di Kepolisian Daerah (Polda) Jatim. Pada tahun 2007, misalnya, Polda Jatim berhasil mengungkap 326 kasus narkoba dengan jumlah tersangka 348 orang.
Jumlah ini meningkat pada tahun 2008 yang berhasil mengungkap 383 kasus dengan 490 tersangka. Sedangkan sejak Januari hingga Mei 2009, sudah 258 kasus yang berhasil diungkap dengan 327 tersangka.
Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Surabaya merupakan yang terbanyak mengungkap kasus narkoba di jajaran Polda Jatim. Pada tahun 2007, 1.266 kasus berhasil diungkap dengan 1.504 tersangka. Tahun 2008 jumlah kasus yang diungkap menurun menjadi 1.207 kasus dengan 1.464 tersangka. Sedangkan mulai Januari hingga Mei 2009, berhasil mengungkap 492 kasus dengan 598 tersangka.
“Kalau kita hitung seluruh kasus di Jatim, tahun 2007 pihak kepolisian berhasil mengungkap kasus narkoba 2.255 kasus, tahun 2008 2.525 kasus dan hingga Mei 2009 mengungkap 1.233 kasus. Sedangkan tersangkanya 2.789 pada tahun 2007, dan 3.287 tersangka tahun 2008 serta 1.598 tersangka hingga Mei 2009,” ungkap Gus Ipul.
Aparat kepolisian sebenarnya juga tidak tinggal diam. Beberapa kali razia dan penggerebekan dilakukan. Terakhir kali, seorang penjual martabak di Surabaya ditangkap setelah ketahuan nyambi menjadi kurir sabu-sabu (SS), Jumat (3/7).
M.Rafi (32), kurir SS yang juga penjual martabak asal Kranggan Pangselan ditangkap petugas reserse narkoba Polwiltabes Surabaya setelah beberapa hari memantaunya. Tersangka Rafi ditangkap di tempat mangkalnya menjual martabak di kawasan Pasar Kranggan.
“Dari tangan tersangka, kami berhasil mendapatkan barang bukti berupa uang penjualan sabu sebesar Rp 200 ribu,” ujar seorang petugas seraya mengungkapkan, tersangka sebelumnya pada tahun 2006 juga pernah ditangkap karena kasus serupa.
Ibu Rumah Tangga Penjual Miras
Supami (49), seorang ibu rumah tangga warga Jalan Barito, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, ditangkap petugas Satuan Samapta Kepolisian Resor Kota (Polresta) Madiun karena diduga menyimpan dan menjual miras jenis arak Jowo (arjo).
Kasat Samapta Polresta Madiun, AKP Sutrisno, mengatakan, tersangka diamankan saat petugas menggelar razia dalam rangka cipta kondisi. “Di rumahnya, petugas menemukan puluhan liter miras jenis arjo. Razia seperti ini, akan terus kami lakukan untuk memberantas peredaran miras di Kota Madiun. Mereka yang terjaring, baik penjual dan peminum akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.
Menurut Sutrisno, penangkapan dilakukan setelah polisi mencurigai kegiatan tersangka sehari-hari. “Kecurigaan polisi ini juga berdasarkan banyaknya laporan masyarakat yang sering menjumpai tersangka menjual arjo di rumahnya. Saat dilakukan penggerebekan, ternyata benar, ada banyak botol miras di rumah tersebut,” katanya.
Di rumah tersangka, polisi berhasil menemukan 15 botol plastik berisi arjo sebanyak 22,5 liter, 1 jerigen berisi 30 liter arjo, dan 3 botol plastik kecil berisi 1,5 liter arjo. Polisi juga mengamankan lima warga yang kedapatan sedang berpesta arjo di Jalan Bali Gang V dan Lapangan Gulun Kota Madiun. Guna proses hukum lebih lanjut, penjual arjo dan lima pemabuk tersebut dibawa ke Mapolresta Madiun.
Di Kediri, anggota Satuan Narkoba Polres Kediri juga berhasil membongkar jaringan peredaran narkoba di sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di wilayah Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri.
Zis, siswa kelas II dan Set, siswa kelas III, diamankan polisi dengan barang bukti sembilan butir dobel L. Penangkapan dua pelajar SMP ini bermula dari hasil penggeledahan pihak sekolah terhadap Zis.
Bocah baru gede itu sengaja dihadang oleh seorang guru, karena ia terlambat masuk sekolah. Karena Zis memang terkenal bandel dan terlihat mencurigakan, guru pun akhirnya melakukan pemeriksaan.
Ternyata, di dalam saku celana sebelah kiri Zis, ditemukan sembilan butir pil dobel L yang terbungkus plastik klip kecil. Mendapati barang terlarang itu, pihak sekolah menyerahkan Zis ke polisi.
Kepada petugas, Zis yang masih mengenakan pakaian sekolah mengaku mendapatkan pil haram itu dari kakak kelasnya Set, yang kemudian juga diringkus.
■ Budiarie S
Comments (0)
Write comment
Show/Hide comment form
Name
Email
Website
Title
Comment

Add Comment
Please enable JavaScript to post a new comment

________________________________________
Older news items:
– Duel Maung Bandung Melawan Dugaan Korupsi
– Edan, Ada Sekolah Copet
– Mafia Pengemis Gentayangan
– Menanti Reformasi Birokrasi DI TANGAN GUBERNUR FAUZI
– 4.500 Aset Pemprov Jabar Bermasalah
– 240 Bangunan Bersejarah Dalam Kondisi Kritis
– Derita Upik Abu Tak Kunjung Usai
– Jakarta Kota 1001 KORUPSI
– Aksi Membelot di Depan Walkot
– Meracik Narkoba Belajar Lewat Internet
________________________________________

Indonesia Monitor

Populer
•    Habib Husein Al-Habsy : “Apa PKS Tidak Tahu Istri Boediono Katolik?”
•    Wiwid Gunawan : Koleksi Film Porno
•    Mayjen (Purn) Kivlan Zen : “Prabowo dan Wiranto Sudah Disilet Mukanya”
•    Operasi Sospol MENGGORENG MASSA
•    Nada Sumbang Jelang Pelaminan

Powered by INDONESIA MONITOR
KabarIndonesia – Jambi, Dalam upaya memerangi bahaya narkoba di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jambi bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) menyelenggarakan Rapat Koodinasi (Rakor) yang dibuka Gubernur Jambi H. Zulkifli Nurdin, Rabu (26/08) bertempat di runag Telanaipura, Hotel Novotel Jambi.

Hadir pada kesempatan ini Unsur Muspida Provinsi Jambi, Ketua Pengadilan Tinggi dan Ketua Pengadilan Tinggi Agama Provinsi Jambi, Kepala bagian Organisasi Departemen Dalam Negeri Edwar Sigalingging, Kepala Sub. Badang Kelembagaan Polhukam Menpan Dra. Sri Mulyati, MPD, Widya Iswara Balai Diklat BNN R.A. Kadarmanta, S.Sos, MM, Wakil Walikota Jambi dan undangan lainnya.

Pada kesempatan ini Gubernur dalam sambutnnya menyampaikan, sebagaiman sama-sama disadari akan situasi dan kondisi yang sedang melanda bangsa Indonesia, yang masih menyisakan kekhawatiran, khususnya masalah kenakalan remaja dan narkoba, dan peredaran narkoba secara illegal di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini dirasakan semakin meningkat. Negara Indonesia yang tadinya hanya sebagai Negara transit, belakangan telah dijadikan daerah tujuan operasional, bahkan dijadikan daerah produsen.

Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah kasus, jumlah tersangka dan jumlah barang bukti tindaka kejahatan, serta jumlah pengguna narkoba. Bahkan keberadaan narkoba telah masuk kedesa-desa dan kepada siswa-siswa sekolah dasar dan anak-anak di pedesaan yang sangat rentan terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, yang membawa dampak yang sangat luas diberbagai aspek kehidupan. Ditegaskan Gubernur, menginghat seriusnya permasalahan ini, maka BNP Jambi bekerjasama dengan BNN dan instansi terkait melaksanakan Rakor ini dengan tema “Akselerasi Peembentukan Badan Narkotika Provinsi dan Badan Narkotika Kabupaten/Kota menuju Indonesia bebas narkoba tahun 2015”, dan diharaapkan dengan rakor ini diharapkan akan terbentuk Badan yang mampu berkoordinasi dengan seluruh instansi terkait yang dapat mencegah terjadinya penyebaran narkoba yang lebih luas lagi.

Menurut Gubernur usaha dan upaya tersebut membutuhkan waktu dan semua daya serta keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, “usaha dan upaya tersebut membutuhkan waktu dan semua daya serta keterlibatan seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga generasi muda kita terhindar dari godaan dan akibat penyalahgunaan narkoba bagi masa depannya dan masa depan kita”, tegas Gubernur.

Ditambahkan Gubernur, korban-korbannya dapat disaksikan, sangat memprihatinkan, masa depannya hilang oleh godaan sesaat, tetapi akibatnya berkepanjangan dan sangat mempengaruhi kehidupannya di tengah pergaulan masyarakat sekitarnya. Orang-orang yang kecanduan narkoba otaknya tidak dapat bekerja dengan baik, sehingga tindakannya tidak terkontrol. Daya pikirnya menjadi lemah, mudah menyerah jika menghadapi kesulitan hidup, tidak berani menghadapi kenyataan hidup, dan cepat frustasi.

Dijelaskan Gubernur, untuk mengadapi kehidupan yang terhindar dari peredaran dan penyalahgunaan narkoba perlu dilakukan tiga upaya, pertama, tindakan prefentif, dengan melakukan pencegahan secara tidak langsung melalui pengurangan factor-faktor yang mendorong timbulnya kesempatan atau peluang untuk melakukan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Upaya ini dilakukan dengan menciptakan kesadaran, kepedulian, kewaspadaan dan daya tangkal masyarakat dan terbina kondisi, perilaku dan hidup sehat tanpa narkoba. Kedua, proaktif, dengan melakukan pembinaan dan pengembangan lingkungan masyarakat bebas narkoba, pembinaan dan pengembangan pola hidup sehat, beriman, melakukan kegiatan positif, produktif, konstruktif dan kreaktif. Ketiga, melakukan komunikasi informasi dan pendidikan pencegahan yang diarahkan kepada generasi muda, anak-anak, remaja, pelajar, pemuda dan mahasiswa. Karena tegas Gubernur, menyikapi situasi dan kondisi yang berkembang akhir-akhir ini, dimana pemuda, pelajar dan mahasiswa sering menjadi sorotan, bahkan menjadi kambing hitam dalam kehidupan bermasyarakat. Karena sebagaimana sama-sama disadari bahwa tidak sedikit anak-anak yang terjebak dalam pergaulan yang tidak diinginkan, seperti terjerumus kedalam pergaulan bebas yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia serta penggunaan narkoba yang telah merasukinya, dan untuk mengatasi hal ini bukanlah semata-mata tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab semua pihak untuk mencegah jangan sampai generasi muda bangsa ini terjerumus kedalam bahaya narkoba yang berdampak rapuhnya etika dan moral serta nilai-nilai ajaran agama, kata Gubernur.

Sebelumnya yang mewakil BNN, R.A. Kadarmanta, S.Sos, MM, salah seorang Widya Iswara Balai diklat BNN menyampaikan, Akselerasi Peembentukan Badan Narkotika Provinsi dan Badan Narkotika Kabupaten/Kota ini diselenggarakan dalam rangka menyongsong visi Indonesia bebas dari penyalahgunaan narkoba tahun 2015. Dijelaskannya, bahwa kesepakatan Negara-nagara Asean mencanangkan tahun 2015 bebas dari penyalahgunaan narkoba, yang berarti termasuk Indonesia.

Menurut Kadarmanta, di Indonesia sendiri saat ini terdata 3,6 juta pecandu narkoba, dan ini sebagaimana pernah disampaikan salah seorang pakar yakni Prof. Dadang Hawari, sebenernya karakteristik kejahatan narkoba yang muncul kepermukaan saat ini hanya 10 persen, yang artinya jika mengacu pendapat ini maka jumlahnya 10 kali lipatnya yang tidak terdeteksi, atau yang dibawah permukaan, dan ini menurut Dadang Hawari merupakan gunung es kejahatan narkoba, yang sewaktu-waktu dapat mencair.

Dijelaskan Kadarmanta, bahwa ada tiga hal yang menjadi komitmen kebijakan BNN, pertama, menjadikan masyarakat imun, kebal terhadap bahaya narkoba, sanggub, berani dan mampu mengatakan tidak pada narkoba, kedua, menyembuhkan yang sudah menjadi pecandu yang jumlahnya saat ini mencapai 3,6 juta orang, dan yang ketiga, memutus jaringan nerkoba gelap, baik melalui pemasoknya dan menyetop penggunaan narkoba, sehingga tidak ada lagi pengguna narkoba, karena yang sudah menjadi penggunanya sudah disembuhkan, yang belum terkana bisa mampu mengatakan tidak kepada narkoba.

Rakor ini diawali dengan pemutaran film tentang bahya narkoba, yang diikuti sekitar 40 orang peserta, terdiri dari Ketua Badan Narkotika Kabupaten/Kota (BNK) se-Provinsi Jambi, Kepala Bagian Organisasi Setda Kabupaten/Kota dan Anggota DPRD Kabupaten/Kota se-Provinsi Jambi masing-masing satu orang dan selebihnya dari BNP Jambi, dan rakor ini akan berlangsung selama dua hari, tanggal 26-27 Agustus 2009.(*)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini…!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//
[Beritahu Teman] [Print Berita]

3,6 Juta Pecandu Narkoba di Indonesia
Kamis, 27 Agustus 2009 06:58 Redaksi

Widya Iswara Balai Diklat Badan Narkotika Nasional (BNN), RA Kadarmanta, S.Sos, MM, mengatakan, di Indonesia saat ini terdata ada 3,6 juta pecandu nakotika dan obat-obatan (narkoba). Ketika memberikan sambutan pada rapat koordinasi Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jambi di Jambi, Rabu, ia menjelaskan, berdasarkan pengamatan pakar, sebenarnya karakteristik kejahatan narkoba yang muncul ke permukaan saat ini hanya 10 persen.
Artinya, jika mengacu pendapat ini maka jumlah yang tidak terdeteksi berjumlah 10 kali lipat, hal ini juga merupakan “gunung es” kejahatan narkoba yang sewaktu-waktu dapat mencair. Oleh karena itu, BNN mempunyai tiga komitmen untuk memberantas kejahatan narkoba, pertama, menjadikan masyarakat imun atau kebal terhadap bahaya narkoba, sanggup, berani dan mampu mengatakan tidak pada narkoba.

Kedua, menyembuhkan yang sudah menjadi pecandu yang jumlahnya saat ini mencapai 3,6 juta orang, dan ketiga, memutus jaringan nerkoba gelap, baik melalui pemasoknya dan menyetop penggunaan narkoba, sehingga tidak ada lagi pengguna narkoba, karena penggunanya sudah disembuhkan, yang belum terkena bisa mampu mengatakan tidak kepada narkoba.

Ia mengatakan, dengan tiga komitmen itu, BNN melalui pembentukan BNP dan Badan Narkotika kabupaten/kota ingin mewujudkan visi Indonesia bebas dari penyalahgunaan narkoba tahun 2015. Apalagi telah ada kesepakatan negara-nagara Asean yang mencanangkan tahun 2015 bebas dari penyalahgunaan narkoba, berarti termasuk di dalamnya Indonesia, kata Kadarmata.

Sementara itu, Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin dalam sambutannya mengatakan, saat ini muncul kekhawatiran soal kenakalan remaja dan narkoba, serta peredaran narkoba secara ilegal yang sejak beberapa tahun terakhir ini dirasakan semakin meningkat.

Indonesia yang tadinya hanya sebagai negara transit, belakangan telah dijadikan daerah tujuan operasional, bahkan dijadikan daerah produsen, hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah kasus, jumlah tersangka dan jumlah barang bukti tindakan kejahatan, serta jumlah pengguna narkoba.

Bahkan keberadaan narkoba telah masuk ke desa-desa dan kepada siswa-siswa sekolah dasar dan anak-anak di pedesaan yang sangat rentan terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, yang berdampak sangat luas di berbagai aspek kehidupan. Menginghat seriusnya permasalahan ini, BNP Jambi bekerja sama dengan BNN dan instansi terkait dapat berkoordinasimencegah terjadinya penyebaran narkoba yang lebih luas lagi.

Usaha dan upaya tersebut membutuhkan waktu dan semua daya serta keterlibatan seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga agar generasi muda terhindar dari godaan dan akibat penyalahgunaan narkoba. “Korban-korbannya dapat disaksikan, sangat memprihatinkan, masa depannya hilang oleh godaan sesaat, tetapi akibatnya berkepanjangan dan sangat mempengaruhi kehidupannya di tengah pergaulan masyarakat sekitarnya,” katanya.

Orang-orang yang kecanduan narkoba otaknya tidak dapat bekerja dengan baik, sehingga tindakannya tidak terkontrol, daya pikirnya menjadi lemah, mudah menyerah jika menghadapi kesulitan hidup, tidak berani menghadapi kenyataan hidup dan cepat frustasi.

Untuk mengadapi kehidupan yang terhindar dari peredaran dan penyalahgunaan narkoba perlu dilakukan tiga upaya, pertama tindakan prefentif, dengan pencegahan secara tidak langsung melalui pengurangan factor-faktor yang mendorong timbulnya kesempatan atau peluang melakukan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Kedua, proaktif melakukan pembinaan dan pengembangan lingkungan masyarakat bebas narkoba, pembinaan dan pengembangan pola hidup sehat, beriman, melakukan kegiatan positif, produktif, konstruktif dan kreaktif. Ketiga, melakukan komunikasi informasi dan pendidikan pencegahan yang diarahkan kepada generasi muda, anak-anak, remaja, pelajar, pemuda dan mahasiswa.

Situasi dan kondisi yang berkembang akhir-akhir ini, pemuda, pelajar dan mahasiswa sering menjadi sorotan, bahkan menjadi “kambing hitam” dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak sedikit anak-anak yang terjebak dalam pergaulan yang tidak diinginkan, seperti terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia dan penggunaan narkoba yang telah merasukinya.

Untuk mengatasi hal ini bukan semata-mata tanggungjawab pemerintah saja, tetapi menjadi tanggungjawab semua pihak untuk mencegah jangan sampai generasi muda bangsa ini terjerumus ke dalam bahaya narkoba yang berdampak rapuhnya etika dan moral serta nilai-nilai ajaran agama, tambah Gubernur Jambi.

Rakor yang berlangsung dua hari diawali pemutaran filem tentang bahaya narkoba, yang diikuti sekitar 40 peserta, terdiri dari ketua badan narkotika kabupaten/kota (BNK) se-Provinsi Jambi dan wakil dari DPRD kabupaten/kota se-Provinsi Jambi.
Set as favorite
Bookmark
Email This
Hits: 499
Komentar (0)
Subscribe to this comment’s feed

Tulis Komentar
Tulis Komentar/Sembunyikan form Komentar

Please enable JavaScript to post a new comment

Developed & Designed by PT. Batara Putera Mandiri
You are here: Home / Nasional / DI Indonesia Ada 3,6 Juta Pecandu Narkoba
DI Indonesia Ada 3,6 Juta Pecandu Narkoba
Posted by Redaksi on Agustus 27, 2009 • Leave a Comment
Jambi ( Berita ) : Widya Iswara Balai Diklat Badan Narkotika Nasional (BNN), RA Kadarmanta, S.Sos, MM, mengatakan, di Indonesia saat ini terdata ada 3,6 juta pecandu nakotika dan obat-obatan (narkoba).
Ketika memberikan sambutan pada rapat koordinasi Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jambi di Jambi, Rabu [26/08] , ia menjelaskan, berdasarkan pengamatan pakar, sebenarnya karakteristik kejahatan narkoba yang muncul ke permukaan saat ini hanya 10 persen.
Artinya, jika mengacu pendapat ini maka jumlah yang tidak terdeteksi berjumlah 10 kali lipat, hal ini juga merupakan “gunung es” kejahatan narkoba yang sewaktu-waktu dapat mencair.
Oleh karena itu, BNN mempunyai tiga komitmen untuk memberantas kejahatan narkoba, pertama, menjadikan masyarakat imun atau kebal terhadap bahaya narkoba, sanggup, berani dan mampu mengatakan tidak pada narkoba.
Kedua, menyembuhkan yang sudah menjadi pecandu yang jumlahnya saat ini mencapai 3,6 juta orang, dan ketiga, memutus jaringan nerkoba gelap, baik melalui pemasoknya dan menyetop penggunaan narkoba, sehingga tidak ada lagi pengguna narkoba, karena penggunanya sudah disembuhkan, yang belum terkena bisa mampu mengatakan tidak kepada narkoba.
Ia mengatakan, dengan tiga komitmen itu, BNN melalui pembentukan BNP dan Badan Narkotika kabupaten/kota ingin mewujudkan visi Indonesia bebas dari penyalahgunaan narkoba tahun 2015.
Apalagi telah ada kesepakatan negara-nagara Asean yang mencanangkan tahun 2015 bebas dari penyalahgunaan narkoba, berarti termasuk di dalamnya Indonesia, kata Kadarmata.
Sementara itu, Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin dalam sambutannya mengatakan, saat ini muncul kekhawatiran soal kenakalan remaja dan narkoba, serta peredaran narkoba secara ilegal yang sejak beberapa tahun terakhir ini dirasakan semakin meningkat.
Indonesia yang tadinya hanya sebagai negara transit, belakangan telah dijadikan daerah tujuan operasional, bahkan dijadikan daerah produsen, hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah kasus, jumlah tersangka dan jumlah barang bukti tindakan kejahatan, serta jumlah pengguna narkoba.
Bahkan keberadaan narkoba telah masuk ke desa-desa dan kepada siswa-siswa sekolah dasar dan anak-anak di pedesaan yang sangat rentan terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, yang berdampak sangat luas di berbagai aspek kehidupan.
Menginghat seriusnya permasalahan ini, BNP Jambi bekerja sama dengan BNN dan instansi terkait dapat berkoordinasimencegah terjadinya penyebaran narkoba yang lebih luas lagi.
Usaha dan upaya tersebut membutuhkan waktu dan semua daya serta keterlibatan seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga agar generasi muda terhindar dari godaan dan akibat penyalahgunaan narkoba.
“Korban-korbannya dapat disaksikan, sangat memprihatinkan, masa depannya hilang oleh godaan sesaat, tetapi akibatnya berkepanjangan dan sangat mempengaruhi kehidupannya di tengah pergaulan masyarakat sekitarnya,” katanya.
Orang-orang yang kecanduan narkoba otaknya tidak dapat bekerja dengan baik, sehingga tindakannya tidak terkontrol, daya pikirnya menjadi lemah, mudah menyerah jika menghadapi kesulitan hidup, tidak berani menghadapi kenyataan hidup dan cepat frustasi.
Untuk mengadapi kehidupan yang terhindar dari peredaran dan penyalahgunaan narkoba perlu dilakukan tiga upaya, pertama tindakan prefentif, dengan pencegahan secara tidak langsung melalui pengurangan factor-faktor yang mendorong timbulnya kesempatan atau peluang melakukan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
Kedua, proaktif melakukan pembinaan dan pengembangan lingkungan masyarakat bebas narkoba, pembinaan dan pengembangan pola hidup sehat, beriman, melakukan kegiatan positif, produktif, konstruktif dan kreaktif.
Ketiga, melakukan komunikasi informasi dan pendidikan pencegahan yang diarahkan kepada generasi muda, anak-anak, remaja, pelajar, pemuda dan mahasiswa.
Situasi dan kondisi yang berkembang akhir-akhir ini, pemuda, pelajar dan mahasiswa sering menjadi sorotan, bahkan menjadi “kambing hitam” dalam kehidupan bermasyarakat.
Tidak sedikit anak-anak yang terjebak dalam pergaulan yang tidak diinginkan, seperti terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia dan penggunaan narkoba yang telah merasukinya.
Untuk mengatasi hal ini bukan semata-mata tanggungjawab pemerintah saja, tetapi menjadi tanggungjawab semua pihak untuk mencegah jangan sampai generasi muda bangsa ini terjerumus ke dalam bahaya narkoba yang berdampak rapuhnya etika dan moral serta nilai-nilai ajaran agama, tambah Gubernur Jambi.
Rakor yang berlangsung dua hari diawali pemutaran filem tentang bahaya narkoba, yang diikuti sekitar 40 peserta, terdiri dari ketua badan narkotika kabupaten/kota (BNK) se-Provinsi Jambi dan wakil dari DPRD kabupaten/kota se-Provinsi Jambi. ( ant )
Filed under Nasional • Tagged with
NAPZA DAN PERMASALAHANNYA
Tanggal: Selasa, 14 Oktober 2008
Topik: Napza
Ditulis Oleh Taufik

Penyalahgunaaan narkotik, obat-obatan, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) untuk berbagai tujuan telah ada sejak jaman dahulu kala. Masalah timbul bila narkotik dan obat-obatan digunakan secara berlebihan sehingga cenderung kepada penyalahgunaan dan menimbulkan kecanduan . Dengan adanya penyakit-penyakit yang dapat ditularkan melalui pola hidup para pecandu, maka masalah penyalahgunaan NAPZA menjadi semakin serius. Lebih memprihatinkan lagi bila yang kecanduan adalah remaja yang merupakan masa depan bangsa, karena penyalahgunaan NAPZA ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan, sosial dan ekonomi suatu bangsa. Dalam istilah sederhana NAPZA berarti zat apapun juga apabila dimasukkan kedalam tubuh manusia, dapat mengubah fungsi fisik dan/atau psikologis. NAPZA psikotropika berpengaruh terhadap system pusat syaraf (otak dan tulang belakang) yang dapat mempengaruhi perasaan, persepsi dan kesadaran seseorang.
Secara umum, NAPZA dibedakan dari efek yang dihasilkannya, yaitu :
Dalam istilah sederhana NAPZA berarti zat apapun juga apabila dimasukkan kedalam tubuh manusia, dapat mengubah fungsi fisik dan/atau psikologis. NAPZA psikotropika berpengaruh terhadap system pusat syaraf (otak dan tulang belakang) yang dapat mempengaruhi perasaan, persepsi dan kesadaran seseorang.

Secara umum, NAPZA dibedakan dari efek yang dihasilkannya, yaitu :

a. Stimulan (Perangsang). Obat jenis ini meningkatkan aktifitas dalam sistem syaraf pusat dan otonom. Obat perangsang bekerja mengurangi kantuk karena kelelahan, mengurangi waktu makan dan menghasilkan insomnia, mempercepat detak jantung, tekanan darah dan pemapasan, serta mengerutkan urat nadi, membesarkan biji mata. Obat perangsang yang paling banyak dipakai adalah: nikotin (dari nikotin tembakau), kafein (terdapat dalam kopi, teh, coklat, minuman ringan), amfetanium, kokain (dari erythroxylum pohon koka), dan crack (kristalisasi bentuk dasar kokain).

b. Anti Depresan.Obat yang mempunyai kemampuan untuk memperIambat fungsi sistem syaraf pusat dan otonom. Obat anti depresan memberikan perasaan melambung tinggi, memberikan rasa bahagia semu, pengaruh anastesia (kehilangan indera perasa), pengaruh analgesia (mengurangi rasa sakit), penghilang rasa tegang dan kepanikan, memperlambat detak jantung dan pernafasan serta dapat berfungsi sebagai obat penenang dan obat tidur. Obat anti depresan yang sering dipakai meliputi: obat penenang hipnotis, alkohol, benzodiazepines, obat tidur (dengan nama dagang seperti Valium dan Rohypnol), analgesik narkotika (opium, morfin, heroin, kodein), analgesik non-narkotika (aspirin, parasetamol), serta anastesia umum seperti ether, oksida nitrus.

c. Halusinogen. Obat yang memiliki kemampuan untuk memproduksi spektrum pengubah rangsangan indera yang jelas dan pengubah perasaan serta pikiran. Akibat yang disebabkan oleh halusinogen dan reaksi subyektif terhadap pengaruh-pengaruh tersebut bisa bebeda jauh antara satu pemakai dengan pemakai yang ragamnya mulai dari perasaan gembira yang luar biasa sampai perasaan ngeri yang luar biasa. Contohnya: LSD, psilocybin, jamur (juga dikenal sebagai jamur sakti), dan DMD atau detura yang berasal dari bunga terompet.

d. Klasifikasi NAPZA yang lain. Jenis-jenis obat yang tidak berpengaruh secara langsung terhadap sistem syaraf pusat dan otonom, namun jenis-jenis obat tersebut berpengaruh langsung terhadap bahan-bahan kimia otak yang spesifik (neurotransmitter). Ketika sedang aktif, neurotransmitter itu diyakini mempengaruhi emosi, rasa sakit, daya ingat dan keterampilan motorik.

Bahaya NAPZA

Pada dasarnya, semua obat adalah racun, yang apabila dikonsumsi melebihi dosis yang aman dapat membahayakan kesehatan bahkan dapat sampai menimbulkan kematian. Demikian pula dengan obat-obatan atau zat yang bersifat adiktif atau menimbulkan ketagihan. Dalam keadaan ketagihan, pecandu merasa sangat tidak nyaman dan kesakitan. Baginya, tidak ada lagi yang lebih penting daripada mendapatkan zat yang menyebabkan dia ketagihan itu. Untuk mendapatkan itu dia dapat melakukan apapun, seperti mencuri, bahkan membunuh.

Bila dikonsumsi terus-menerus, zat adiktif ini dapat menyebabkan peningkatan toleransi sehingga pemakai tidak dapat mengontrol penggunaannya dan cenderung untuk terus meningkatkan dosis pemakaian sampai akhirnya tubuhnya tidak dapat menerima lagi. Keadaan ini disebut overdosis, dan apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat, dapat menyebabkan nyawa melayang. Overdosis juga dapat disebabkan oleh penggunaan campuran dua jenis atau lebih NAPZA. Mencampur beberapa jenis sangat berbahaya karena kalau NAPZA dicampur, pengaruhnya akan lebih dahsyat bahkan dapat menimbulkan reaksi lain yang tak terduga. Banyak kasus overdosis yang merupakan akibat dari pencampuran berbagai jenis NAPZA. Campuran yang paling berbahaya adalah campuran dua macam depresan misa1nya heroin dan alkohol dan / atau valium rohypnol. Pengaruh sinergi dari dua jenis depresan dapat menutup rapat pusat pernapasan otak, yang mengakibatkan koma atau kematian.

Selain kecanduan, ketergantungan dan overdosis, masih ada bahaya lain yang mengintai para pengguna NAPZA. Efek yang ditimbulkan oleh NAPZA dapat membuat pemakainya kehilangan kontrol atas dirinya, sehingga terkadang melakukan hal-hal yang tidak akan dilakukannya apabila ia sedang dalam kesadaran penuh. Walaupun NAPZA tidak akan membuat seseorang menjadi pemerkosa kalau memang dia tidak punya fantasi untuk itu misalnya, tapi di bawah pengaruh NAPZA (terutama yang bersifat stimulan dan halusinogen) seseorang bisa melakukan hubungan seks yang tidak aman, yang buntut-buntutnya dapat menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan atau penularan penyakit kelamin. Selain itu, bergantian memakai jarum suntik juga dapat menularkan virus seperti HIV dan Hepatitis B.

Tahap-tahap kecanduan NAPZA

Dari penjelasan di atas tadi, kita tahu bahwa seseorang tidak begitu saja mengalami ketergantungan, melainkan bertahap. Diawali dengan tahap eksperimental, dimana seseorang coba-coba memakai NAPZA, seperti juga coba-coba merokok atau minum beralkohol. Motivasi coba-coba ini bisa macam-macam. Setelah itu, mungkin karena merasakan efek yang menyenangkan, ia ingin mengulanginya. Apabila hal ini berlangsung lebih sering, maka ia akan memasuki tahap pembiasaan, dimana penggunaan NAPZA sudah menjadi kebiasaannya. Selanjutnya adalah tahap kompulsif yaitu seseorang sudah mengalami ketergantungan dan pemakaiannya sudah tidak dapat dikendalikan lagi, yang akhirnya dapat mengarah ke overdosis seperti tadi dibicarakan.

Bagaimana seseorang bisa mulai menjadi pemakai dipengaruhi oleh faktor-faktor individu maupun faktor lingkungan. Kedua faktor ini berhubungan sangat erat satu sama lain. Yang termasuk faktor individu, selain untuk iseng dan coba-coba, antara lain adanya harapan untuk dapat memperoleh “kenikmatan” dari efek obat yang ada, atau untuk dapat menghilangkan rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dirasakan, baik sakit yang sifatnya fisik (seperti yang dialami penderita kanker atau penyakit lain) maupun psikis, seperti misalnya sakit hati karena putus cinta, rapor jelek, atau dimarahin ortu.

Seringkali perilaku kita dipengaruhi oleh pergaulan maupun lingkungan tempat tinggal kita. Bagi generasi muda, hal paling berat yang dirasakan adalah tekanan kelompok sebaya (peer pressure) untuk dapat diterima/diakui dalam kelompoknya. Biasanya di kalangan remaja, kita suka ikut apa yang dilakukan oleh temen-temen kita, hanya karena takut dianggap nggak cool dan nggak gaul. Karena itulah, bergaul rapat dengan para pengedar dan pemakai NAPZA beresiko tinggi. Selain itu, tempat tinggal dan sekolah juga berpengaruh, misalnya rumah kita berada di lingkungan peredaran atau pemakaian NAPZA, atau kita bersekolah di tempat atau di lingkungan yang rawan terhadap penyalahgunaan NAPZA.

Nah, temen-temen, setelah kita tahu seluk beluk NAPZA, bahayanya dan bagaimana seseorang bisa sampai kecanduan, kita tentunya bisa dong mengatakan “tidak” pada diri sendiri dan teman yang mengajak coba-coba nge-drug. Banyak hal yang dapat kita raih dengan tubuh yang sehat, jangan sampai kita merusak tubuh dan masa depan kita dengan NAPZA. Hal berikutnya yang perlu kita ketahui adalah bagaimana apabila hal ini menimpa kita atau orang yang dekat dengan kita, apa tanda-tandanya, apa yang bisa kita lakukan serta kemana kita harus mencari bantuan. Direktorat Pelayanan dan Rehabilirtasi Sosial Korban Penyalahgunaan NAPZA, Departemen Sosial RI Sebagai Lembaga Milk Pemerintah juga memiliki Lembaga Konsultasi Informasi mengenai Pemasalahan Penyalahgunaan NAPZA bertempat di Jl. Salemba Raya No.28 Jakarta Pusat Gedung D Aneka Krida Lantai Dasar Tlp. 021-3100341 dapat menghubungi :
1.    Dra. Agnes Widiastuti ( Penanggung jawab )
2.    Drs. Agus Hizbullah, M.Si ( Konselor )
3.    Drs. Kaswito, M.Si ( Konselor ) 08128321097
4.    Dra. Ina Kania ( Konselor ) 081283091325.
5.    Cecep Sulaiaman, M.Si ( Konselor ) 08567630706.
6.    Ahmad Shobirin, M.Si ( Konselor ) 0813110288817.
7.    Umi Badri Yusamah, S.Pd ( Konselor ) 813178195358.
8.    Rini Maswati, M.Si ( Konselor ).
9.    Ophee & berbagai macam sumber

Mengenai Saya

rinoardila
nama.rino ardila. kampus akper setih setio muara bungo-jambi
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog
•    ▼  2010 (1)
o    ▼  Juni (1)
    anfaat jahe merah Beberapa…

Template Travel. Didukung oleh Blogger.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: