FILSAFAT HUKUM SEJARAH, ALIRAN DAN PEMAKNAAN

 

BABI

PENDAHULUAN

 

 

A.I’ENGERTlAN    FILSAFAT,   I’EMBIDANGAN   FILSAFAT

DAN LETAK FILSAFAT HUKUM

 

Secara historis zaman terus berkembang melalui hierarkis per-

kembangan yang terus dibarengi pula dengan perubahan-perubahan

sosial,    dimana dua hal ini selalu berjalan beriringan. Keberadaan

manusia yang dasar pertamanya bebas, menjadi hal yang problematis

ketika ia hidup dalam komunitas sosial. Kemerdekaan dirinya meng-

alami benturan dengan kemerdekaan individu-individu lain atau bah-

kan dengan makhluk yang lain. Sehingga ia terus terikat dengan tata

kosmik, bahwa bagaimana ia harus berhubungan dengan orang lain,

dengan alam, dengan dirinya sendiri maupun dengan Tuhannya. Maka

muncullah tata aturan, norma atau nilai-nilai yang menjadi kesepakat-

an universal yang harus ditaati. Semacam                hal tersebut di ataslah

peradaban manusia dimulai, dimana manusia harus selalu menjunjung

tinggi nilai-nilai kemanusiaan. la harus memegangi nilai-nilai aturan

yang berlaku mengatur hidup manusia.

Filsafat atau disebut juga ilmu filsafat,              mempunyai beberapa

cabang ilmu utama . Ca bang I1mu utama dari filsafat adalah ontologi,

epistimologi ,     tentang nilai (aksiologi),          dan moral (etika). Ontologi

(metafisika) membahas tentang hakikat mendasar atas keberadaan

sesuatu . Epistimologi membahas pengetahuan yang diperoleh manu-

sia, misalnya mengena i asalnya       (sumber) dari man a sajakah pengeta-

huan itu diperoleh manusia, apakah ukuran kebenaran pengetahuan

yang telah diperaleh manusia itu dan bagaimanakah susunan pengeta-

huan yang sudah diperaleh manusia . I1mu tentang nilai atau aksiologi

adalah bag ian   dari filsafat yang khusus membahas mengenai hakikat

 

 

2

 

n ila i berkaitan de ngan    sesua tu . Se da ngkan  filsafat   moral membahas

nilai berkai tan       de nga n tingkah      laku    manusia dima na nilai           disini men-

eakup baik dan   buruk serta be nar dan salah.

Berfilsafat adalah          berpikir rad ika l,       radix artinya akar, sehingga

berpikir ra dikal       arti nya   sampai ke akar suatu masalah, me ndalam sam-

p ai   ke akar-akarnya, ba hkan              me lewati      ba tas-batas       fisik yang ada,

me masuk i    medan pe nge mbaraan          diluar sesuatu        yang fisik       (Asy’arie,

2002: 3). Berfi lsafat      ada lah berpikir dalam tahap       ma kna, ia meneari

hak ikat     makna dari ses ua tu,            Berpikir da lam          tahap     makna artinya

menemukan makna tcrdalam dari sesua tu,          yang berada     da lam kan-

dungan sesuatu itu . Dalam filsafat, seseorang meneari dan menernu-

kan jawaban    da n b uka n han ya dengan memperlihatka n pen am pa kan

(appearance ) sern ata, mel ainkan menelusurinya jauh                     d ibalik pe na rn-

paka n itu  de ngan  maksud menentukan sesuatu yang       dise but nilai    dari

se bua h realit as.

Fi lsa fat memil iki objek              bahasan      ya ng    sa ngat lua s, me liputi

se mua hal yang da pa t dij an gkau o leh pikiran ma nusia, dan beru sah a

memaknai   d un ia da lam hal makna    (A ns hori,   2005: 3). IImu hu kum

memi liki      ruang      lingkup yang terbatas, karcna                    hanya     mempel aj ar i

tentang norma ata u        aturan    (hukum). Banyak persoa lan- persoal an

bcrken aan       de nga n    hu ku m     memban gkitkan         pe rtanyaan-pe rtanyaa n

leb ih lanj ut yang   mem erl ukan jawaban mendasar, Pa da    ke nya taan nya

banyak pertanyaan-pertanyaan     mendasar itu tidak dap at      dijawab   lagi

oleh ilm u hu kum . Persoalan-persoa lan       mendasar   ya ng tid ak  dijawab

ole h  ilmu hukum menjadi objek bahasan ilm u         filsafat.   Fi lsafat mern –

p unyai objek berupa   segala ses uatu yang dap at d ij an gkau  olch   pikiran

manusia (A nshori, 2005: 4).

Konscp   hu kum mungkin dapat dikatakan      me mp unya i pen gerti-

an  ya ng  ambigu, dwiarti, sehingga dapat menimbul kan               kek eli ru an

pengertian, bai k seeara inte lektual ma upu n      seeara  moral.   Dapat dika-

takan ada d ua macarn huku m , ya it u huk um yang deskriptif dan hukum

yang pr eskri pt if.   Hu ku m yang des kriptif –      decriptive laws –   ada lah

hukum ya ng menunjukkan se suatu itu dapat       terj adi, misa lnya hukum

gravitas i,   h uku m Are hi medes  ata u h uk um yang berhubungan den gan

ilmu-i lm u kealam an . Di sa mp ing itu , dapat p ula     terpikirkan oleh     kita

 

3

 

mengenai hukum yang telah ditentukan            atau hukum yang memberi

petunjuk –     precriptive law –  misalnya   hukum yan g   diatur   oleh   para

otoritas yang         mengatur apa yang             boleh dan ap a          yan g    tid ak    boleh

dikerj akan,   Hukum inilah yang merupakan         b ahan penelitia n filsafa t

hukum,     scd an gkan    hukurn yang deskriptif menjadi                  obj ek    penelitian

ilmu pengetahuan (A sdi , 1998: 2-3).

Dalam    kontek s   umum kesalehan        ban ya k dikaitkan den gan

, ketaatan  kepada ketentuan    hukum. Namun kesalehan      yang b ert umpu

kepada kesadaran   hukum akan banyak berurusan     dengan tin gkah laku

manusia ,   dan hanya seeara parsial           saj a berurusan     dengan    h al-hal

batiniah (Madjid,         1992: 256). Dengan kat a           lain , orientas i hukum lebih

berat men garah   pada dimensi eksoteri s, den gan       kernungkinan    men g-

abaikan dimen si esoteris. Divergensi ant ara                   k edua orientasi       kea gam a-

an yang lahiri (eksoteri s)             dan batini (esoteri s)           memuneulkan        eab an g

ilmu yang berbeda, yaitu syariah (hukum) dan thariqah (tasawuj) .

 

 

B. PENGERTlAN FILSAFAT HUKUM,                      MANFAAT MEMPE-

LAJARI FILSAFAT HUKUM, DAN                   KEDUDUKAN FILSA-

FAT HUKUM DALAM KONSTELA SI ILMU

 

1. Pengertian Filsafat Hukum

See ara sederhana dapat dikatak an               bahwa filsafat hukum adalah

eabang filsafat , yaitu filsafat tingkah laku atau etika, yang mernpela-

jari hakikat hukum. Dengan kata lain , filsafat hukum adalah ilmu yang

mempel ajari  hukum  secara filosofi s. Jadi objek filsafat hukum adalah

hukum, dan objek tersebut dikaji se ea ra      me ndalam sampai kepada inti

atau dasarnya, yang disebut hakikat.

Pertanyaan tentang “apa (hakikat) hukum itu ?” seka ligus meru-

pakan pertanyaan          filsafat     hukum juga. Pertanyaan tersebut mungkin

saja dapat dijawab oleh ilmu hukum,           tetapi  jawaban yang diberikan

temyata  serba tidak memuaskan.      Menurut   Apeldoorn (1985) hal ter-

sebut tidak lain karena                 hukum hanya          memberikan       jawaban yang

sepihak.

 

 

4

 

Ilm u  huku m hanya melihat gejala-gejala hukum sebagaimana

dapat diamati oleh panca indera manusia mengenai perbuatan-perbuat-

an manusia dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat. Sementara itu, per-

timbangan nilai    di balik gejala-gej ala hukum tersebut luput dari peng-

amatan ilmu hukum. Norma (kaidah) hukum tidak termasuk dunia

kenyataan   (sein), tetapi   berada  pada dunia lain      (sol/en dan  mogeni,

sehingga norma hukum bukan dunia penyelidikan ilmu hukum.

Mengingat    objek filsafat    hukum adalah hukum, maka masal ah

atau pertanyaan    yang dibaha s   oleh filsafat hukum itupun antara lain

berkisar pada apa-a pa yang diuraikan      diata s, seperti hubungan hukum

dan kekuasaan, hubun gan   hukum kodrat dan hukum positif, apa sebab

orang menaati     hukum, apa    tujuan hukum, sampai kepada masalah-

masalah filsafat   hukum yan g ramai   dibicarakan saat ini (oleh sebagian

orang disebut masa lah filsafat      hukum kontemporer, suatu istilah yang

 

5

 

hukum yang menekuni filsafat hukum. Pada jaman                   dulu, filsafat

hukum hanyalah produk sampingan di antara sekia n banyak                objek

penyelidikan para filsuf. Pada masa sekarang,             filsafat   hukum   sudah

menjadi produk utama yang dibahas sendiri oleh para ahl i hu kum.

Sebagai catatan tambahan , dalam banyak tuli san filsafa t hu kum

sering diidentikkan dengan jurisprudence yang        diaj arkan teru tama di

fakultas-fakulta s        hukum di Amerika             Serikat. Istilah          jurisprudence

(bahasa Inggri s) atau jurisprudenz   (bahasa   Jerman) sudah    digunakan

dalam Codex Iuris Civilis di zaman Romawi.     Istilah   ini  dipopulerkan

terutama oleh penganut aliran positivisme hukum.

Kata jurisprudence harus dibedakan          dengan kata yuriprudensi

sebagaimana dikenal    daIam sistem hukum Indonesia dan Eropa Konti-

nental   pada umumnya,    dimana istilah yuri sprudensi        lebih menunjuk

pad a putusan hakim yang diikuti        hakim-hakim    lain . Huijbers    (1988)

 

kurang tepat, meng ingat sejak dulu masalah tersebut juga telah diper-

bincangkan) se pert i masalah                hak asasi manusia dan etika profesi

menyatakan,

.

…. di    lnggri s jurisprudence   berarti    ajaran atau ilmu hukum.

 

hukum. Tentu saja tidak             semua masalah        atau pertanyaan itu akan di-

jawab dalam perk uliahan filsafat                  hukum. Seba gaimana           telah dising-

gung dim uka,     filsafa t huk um  memprioritaskan    pembahasannya pada

pertanyaan-pertanyaan yang dipandang pokok-pokok saja.

Apeldoom      (1985) mi salnya        menyebutkan     tiga     pertanyaan

penting yang dibahas oleh filsafat hukum, yaitu: (1) apakah pengertian

hukum yang berlaku umum; (2) apakah dasar kekuatan mengikat dari

hukum; dan (3) apakah        yang dimaksud dengan hukum kodrat. Lili

Rasyidi (1990) me nyebutka n pertanyaan      yang menjadi masalah filsa-

fat hukum, antara       lain:   ( 1) hubungan hukum dan kekuasaan; (2)

hubungan hukum dengan nilai-nilai sosial budaya;                   (3) apa sebab

negara berhak     menghukum seseorang; (4) apa          sebab orang menaati

hukum; (5) masa lah pert anggungjawaban;       (6) masalah    hak milik;    (7)

masalah kontra k; dan (8) masalah           peranan hukum sebagai sarana

pembaruan masyarakat.

Jika kita bandingkan      antara apa yang dikemukakan oleh Apel-

doom dan Lili Rasyidi tersebut, tampak bahwa masalah-masalah yang

dianggap penting dalam pembahasan filsafat hukum terus bertambah.

Hal ini sesungguhnya tidak terlepas dari semakin banyaknya para ahli

Maka namp aklah     bahwa   penganut-penganut      positivisme yuridis tidak

mau bi cara    mengen ai   suatu filsa fat     hukum.   Oleh   mereka kata juris-

prudensi (sic!)    dianggap   lebih tep at, yakni sua tu kepandaian dan keca-

kapan yang tinggal      dalam batas ilmu hukum.

 

 

Agar tidak membingungkan seba iknya istilah jurisprudence

tidak diterjemahkan ke dalam Bahsa Indon esia (seperti yang dilakukan

Huijbers di atas       menjadi yurisprudensi), te tapi tetap dipertaha nkan

dalam ejaan aslinya.

Menurut Richard A Posner (1994)                       yan g dimaksud dengan

jurisprudence adalah

…          most fundamental.   general,  and  theoritica l   p lain of

analys es of the social phenomenon called law. For the most part it

deals   with problems     and use     perspectives, remote    from    daily

conc erns of legal   practioncrs ; problem  that  cannot  be solved   by

reference  to or by reasoning from conventional       legal  materia ls;

perspective that   cannot be reduced   to  legal doctrines or to legal

reasoning. Many of         problems ofjurisprudence cross doctrina l,

 

6

 

tempora l and nationa l boundaries.

‘” yang paling mendasar, umum, dan merupakan ana-

lisi s   teoritis dari suatu fenomena sosial          yang disebut dengan

hukum . Pada sebagian besar bagiannya sesuai dengan ma salah

dan menggunakan berbagai macam pandangan seperti remote

dari masalah     keseharian yang sering dihadapi para praktisi

hukurn , masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan rujukan

atau  jawaban-jawaban dari sumber hukum biasa,            yaitu pan-

dangan yang tidak dapat direduksi dalam doktrin                   hukum.

Banyak dari      masalah-masalah    jurisprudence      yang bersifat

linta s doktrin, temporal dan national bounderies .

 

Lalu filsafat diartikannya dengan:

‘” the name we give        the analysis of’fundamental questions ,

thus the traditional definition ofjur/sprudence as the philosop hy    of

law. or as the     application of philosophy of law,      is pr ima fa cie

appropriate.

…  narn a tersebut     kita    berikan     untuk me nganal isi s

pertanyaan-pertanyaan mendasar,      jadi pengertian tradi sional

dari jurisprudence adalah filsafat hukum, atau penerapan dari

fil safat hukum, yaitu prima facie appropriate .

 

 

Jadi Posner sendiri tidak membedakan                pengertian     dari dua

istila h   it u,   seka lipun   banyak juga para ahli         hu ku m yang mencoba

mencari distingsi      dari keduanya. Hanya saja sebagaimana dikatakan

oleh Lili Rasyi di       (1988) sekalipun ada perbedaan antara keduanya,

tetap sukar untuk mencari batas-batasnya yang tegas.

 

 

2. Manfaat Mempelajar i Filsafat Huk um

Bagi sebagian besar ma hasiswa,        pertanyaan  yang ser ing    dilon-

tarkan adalah: apakah manfaatnya mempelajari          filsafat   hukum itu?

Apakah tidak cukup mahasiswa dibekali dengan ilm u hukum saja?

Seperti telah     disinggung d i     mu ka, filsafat (termasuk dalam ha l

 

7

 

ini filsafat hukum) memiliki         tiga sifat yang membedakannya        dengan

ilmu-ilmu    lain. Pertama,     filsafat memiliki kar akteristik yang bersifat

menyeluruh.    Den gan cara berpikir      yang holi stik    tersebut, mahasiswa

atau  siapa saja yan g mempelaj ari fi lsafat hukum diajak untuk berwa-

wasan luas    dan terbuka. Mereka      diaj ak untuk me nghargai pemikiran,

pendap at     dan pend irian         orang lain. itu lah            sebabnya dalam filsafat

hukum pun diajark an         berb agai a liran pemikiran          tentan g    hukum.

Dengan      demikian apa bi la mahasiswa                 tersebut      telah     lulus sebagai

sarjana hukum umpamanya, diharapkan ia tidak ak an bersi kap aro gan

dan apriori , bahwa disiplin        ilmu yang dimilikinya       lebih tinggi diban-

din gkan den gan disiplin ilmu yang lainnya.

C iri yan g     lai n,   filsafat hukum juga            memil iki     sifat yan g      men-

da sar.  Artinya dalam     menganalisi s    suatu masalah,    kita   diajak untuk

berpikir    kritis dan radi kal.      M ereka  yan g mem pelajari   filsafat hukum

diaj ak untuk mem ahami hukum tidak dal am art i hu kum po sitif semata .

Or an g yan g mempclajari    hukum dalam arti posit if semata tidak akan

mampu memanfaatkan dan men gemba ngkan     hukum secara baik apa –

bila    ia menjadi hakim,         misalnya di kh awat irkan ia ak an         menjadi

“coron g undang-und an g” bel aka .

C iri berikutnya ya ng tid ak    kal ah penti ng nya adalah sifat filsafat

yan g spekulatif. Sifa t ini tidak bol ch dia rtikan         secara  nega tif se bagai

sifat   gambling .                      Sebagaimana          din yatakan oleh                Suriasumantr i (1985)

bahwa se mua ilmu yan g berkernb an g saa t      ini   bermula   dari   sifat spe-

kulatif ters ebut.    Sifat ini men gaj ak    merek a yang m empelajari    filsafat

hukum untuk berpikir          inovatif, se la lu m encari       sesuatu    yang baru.

Meman g salah satu ciri orang           yan g berp ikir rad ikal      adalah senang

kepada hal-hal baru, Tentu saja tind a kan spekulatif yang dirnaksud di

sini   adalah tindakan   yang terarah, yan g dapat dipertanggungj awabkan

secara   ilmiah. Dengan       berpikir spe kulatif (dalam        arti positif) itulah

hukum dapat dikembangkan ke arah ya ng dicita-citakan bersama.

Ciri lain lagi       adalah sifat    fil safat yang reflektif kritis. Melalui

sifat ini, filsafat hukum berguna untuk membimbing kita menganalisis

masalah-masalah hukum secara ras ional dan kemudian mernpertanya-

kan jawaban itu secara terus menerus.            Jawaban   tersebut seharusnya

tidak sekedar diangkat dari gejala -gejala           yang tampak, tetapi sudah

 

8

 

sampai kepada nilai-nilai yang ada dibalik gejala-gejala itu . Analisis

nilai inilah yang membantu kita untuk menentukan sikap secara bijak-

sana dalam menghadapi suatu masalah.

Sebagai bagian dari filsafat tingkah laku, mata kuliah filsafat

hukum juga memuat materi tentang etika profesi hukum. Dengan

mempelajari etika profesi tersebut, diharapkan para calon sarjana

hukum dapat menjadi pengemban amanat luhur profesinya. Sejak dini

mereka diajak untuk memahami nilai-nilai luhur profesi tersebut dan

mernupuk terus ideal isme             mereka. Sekalipun disadari bahwa dalam

kenyataannya mungkin saja nilai-nilai itu telah ,menga lami penipisan-

perupisan.

Seperti yang diungkapkan oleh Radhakrishnan dalam bukunya

The History of Philosophy,  manfaat mempelajari filsafat (ten tu saja

termasuk mempelajari filsafat hukum) bukan hanya sekedar mencer-

minkan se man gat masa ketika kita hidup, melainkan membimbing kita

untuk maju. Fungsi filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan

kepada kita untuk menopang dunia baru, mencetak manusia-manusia

yang tergo long ke dalam berbagai bangsa, ras dan agama itu mengabdi

kepada cita-cita mulia kemanusiaan .        Filsafat tidak ada artinya sama

sekali apabila    tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun

dalam semangatnya (Poerwartana, 1988).

 

 

3. Ilmu-i1mu yang Berobjek Hukum

Setelah memahami filsafat hukum dengan berbagai sifatnya,

perlu juga diketahui keterkaitan antara filsafat hukum ini dengan ilmu-

.ilmu lain yang juga berobjek hukum. Suatu pembidangan yang agak

lengkap tentang ilrnu-ilmu yang objeknya hukum diberikan oleh

Pumadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto (1989) .

Istilah “disiplin hukum” sendiri sebenamya dialihbahasakan

oleh Pumadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto dari kata                      legal

theory, sebagaiman dimaksudkan oleh W. Friedmann. Hal ini tampak

dalam terjemahan karya Friedmann oleh Pumadi Purbacarakan dan

Chidir Ali (1986) yang diberi kata sambutan oleh Soerjono Soekanto.

Penerjemahan   legal theory dengan “disiplin hukum” disini mungkin

 

9

 

akan membingungkan, mengingat untuk istilah yang sama oleh pen er-

jemah lain        (Mohammad Arifin,          1990) digunakan istilah “teori

hukum” .

Disiplin hukum oleh Purbacaraka, Soekanto, dan Chidir                                 Ali

diartikan sama dengan teori hukum dalam arti luas yang mencakup

politik hukum, filsafat hukum dan teori hukum dalam arti sempit.

Teori hukum dalam arti sempit inilah yang disebut dengan ilmu

hukum.

Ilmu hukum dibedakan menjadi ilmu tentang norma                  (norm-

wissenschafii, ilmu tentang pengertian hukum (begriffenwissenschafii ;

dan ilmu tentang kenyataan hukum              (tatsach enwissenschaft).      Ilmu

tentang norma antara lain membahas tentang perumusan norma

hukum, apa yang dimaksud norma hukum abstrak dan konkrit itu, isi

dan sifat norma hukum, essensialia norma hukum, tugas dan kegunaan

norma hukum,       pemyataan dan tanda pemyataan norma hukum,

penyimpangan terhadap norma hukum dan keberlakuan norma hukum.

Selanjutnya ilmu ten tang pengertian hukum antara lain membahas

tentang apa yang dimaksud dengan masyarakat hukum, subyek

hukum,    objek hukum, hak dan kewajiban,              peristiwa hukum dan

hubungan hukum. Kedua jenis ilmu ini disebut dengan ilmu tentang

dogmatik hukum. Ciri dogmatik hukum tersebut adalah teoritis rasio-

nal dengan menggunakan logika deduktif.

Ilmu tentang kenyataari hukum antara lain: Sosiologi Hukum,

Antropologi Hukum, Psikologi Hukum, Perbandingan Hukum dan

Sejarah Hukum. Sosiologi Hukum mempelajari secara empiris dan

analitis hubungan timbal balik antara hukum sebagai gejala dengan

gejala-gejala sosial lainnya. Antropologi Hukum mempelajari pola –

pola sengketa dan penyelesaiannya baik pada masyarakat sederhana

maupun masyarakat yang sedang mengalami proses modemisasi.

Psikologi Hukum mempelajari hukum sebagai suatu perwujudan per-

kembangan jiwa manusia. Perbandingan Hukum adalah cabang ilmu

(hukum) yang memperbandingkan sistem-sistem hukum yang berlaku

di dalam sesuatu atau beberapa masyarakat. Sejarah Hukum me m-

pelajari tentang perkembangan dan asal-usul dari sistem hukum dalam

suatu masyarakat tertentu. (Purbacaraka dan Soekanto, 1989). Berbeda

 

 

10

 

dengan ilmu tentang norma dan ilmu           tentang pengertian hu kum , ciri

ilmu   tentang kenyataan ilmu ini adalah                  teoritis empiris dengan meng-

gunakan logika induktif.

Politik Hukum mencakup kegiatan-kegiatan memilih n ila i-n ilai

dan mcnerapkan nilai-nilai.         Filsafat Hukum ada lah      perenunga n   dan

perumusan nila-nilai, kecuali itu fi lsafat        hukum juga mencakup penye-

rasian nilai-nilai,          misalnya penyerasian antara ketertiban                      dan keten-

traman, antara kebendaan (materialisme)       dan keakhlakan (idealisme),

antara kelanggengan      nilai-nilai     lama (konservatisme) da n       pembaha-

ruan (Purbacaraka dan Soekan to,           1989). Dapat pu la       ditambahka n

bahwa politik      hukum   selalu berbicara tentang hukum yang dicita-

citakan    (Jus    Constituendu nu     dan berupa menjadikannya sebagai

hukum positif (Jus Constitutuniy pada suatu masa mendatang.

Dari pembidangan yang diuraikan               di atas, tampak bahwa

filsafa t hukum  tidak dimasukkan sebagai cabang        dari filsafa t   hukum

tetapi   sebagai bagia n     dari teori hukum       (lega l  theory)    ata u disiplim

hukum.   Teori hukum dengan demikian tidak sama dengan filsafa t

hukum,   karena yang satu mencakup        yang lainnya. Satji pto       Ra harjo

(1986) menyatakan bahwa teori        hukum boleh dise but      sebagai   kelan-

jutan dari usaha mem pe lajari      hukum positif, setidak-tidaknya        dalam

urutan yang demikian itula h       kita  mengkonstr uksikan    kehadi ran  teori

hukum secara jelas.

Teori hukum memang berb icara       tentang ban yak hal yang dapat

masuk ke dalam    Iapangan politik hukum, filsafat hukum, ilmu         hukum

atau kombinasi dari ketiga bidang itu . Karena itulah teori huk um dapat

saja pada suatu ketika membicarakan sesuatu yang bersifat           universal,

tetapi tidak tertutup kem ungkinan      ia berbicara   mengenai hal-ha l yang

sangat khas menurut tempat dan wakt u tertentu. Uraian tentang filsafa t

hukum dan teori hukum       di atas    kiranya aka n  berguna dalam    rangka

menjelaskan kelak mengenai      apa dan dimana letak filsafat hukum dan

teori hukum Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 11

PANDANGAN TENTANG HUKUM PADA

ZAMAN KLASIK

 

 

Peng ertian   tent ang hukum tidak selalu sama. Hal        ini berkai tan

dengan perubahan pandangan hidup dari       zaman ke zaman. Sejak awa l

zaman modem (abad     ke-15)   ban yak oran g secara spontan menyama-

kan  hukum dengan      hukum negara ,     hukum ada lah undang-und ang.

Akan   tetapi   pengerti an   hukum   secara tradisional      tidakl ah  demi kian.

Dal am pandangan tradi sional    hukum   lebih dipandang sebagai sesuatu

yang   bersifat   idiil atau etis (Huijbers, 1995: 21) . Pada za ma n            klas ik

(abad  6 SM-abad 5 M) hukum dian ggap sebagai cermin aturan              alam

semesta. Pada abad pcrtengahan (abad 5 M – 15 M) hukum yang dituju

ada lah peraturan-peraturan      yan g  mem ancarkan ketentuan-ke tentuan

A llah.

 

 

A. HUKUM ZAMAN YUNANI KUNO

 

Pad a mul anya  tanggapan orang-orang      yunani terhadap penger-

tian hukum masih     primitif. Pad a zaman itu huku m dipan da ng sebaga i

keharu san   alamiah   (nomos)     baik    semest a   alam maup un     manu sia ,

contoh: laki-laki        berkuasa,    bud ak ada lah budak,       dan sebagainya.

Namun   pada perjalanannya,    tepa tnya sejak abad 4     SM  ada beberapa

filosof yang men gartikan     hukum secara berbeda . Plato      (42 7-347  SM)

yang menulis buku P olit eia     dan  N om oi memberikan    taw aran penger-

tian hukum, hakikat      hukum dan div ergens inya . Buku      Politeia   melu –

kiskan   model negara      yang adil. Dalam        buku ters ebut     Plato meng-

ungkapkan     gagasannya ten tang kenyataan           bahwa dalam negara

 

 

12

 

terdapat kelompok-kelompok dan yang dimaksud dengan keadilan

adalah jika tiap-tiap kelompok berbuat dengan apa yang sesuai dengan

tempat dan tugasnya. Sedangkan dalam buku                      Nomoi,   Plato menjelas-

kan     tentang petunjuk dibentuknya tata                          hukum.       Menurut Plato,

peraturan-peraturan yang berlaku ditulis dalam kitab perundangan,

karena jika tidak penyelewengan dari hukum yang adil sulit dihin-

darkan.

Filosof lain seperti Aristoteles (348-322 SM) yang menulis

buku     Politika   juga memberikan tawaran baru pada pengertiannya

tentang hukum. Menurut Aristoteles, manusia merupakan “makhluk

po lis”    (zoon politicon),      dimana manusia harus ikut dalam kegiatan

politik dan taat pada hukum polis. Kemudian Aristoteles membagi

hukum menjadi 2 (dua). Pertama adalah hukum alam (kodrat), yaitu

yang mencerminkan aturan alam, selalu berlaku dan tidak pemah

berubah. Yang kedua adalah hukum positif, yaitu hukum yang dibuat

oleh manusia. Lebih jauh Aristoteles menjelaskan dalam bukunya

tersebut bahwa pembentukan hukum harus selalu dibimbing rasa

keadilan, yaitu rasa yang baik dan pantas bagi orang yang hidup

bersama. Slogan yang menjelaskan tentang hakikat keadilan menurut

Aristoteles adalah “kepada yang sama penting diberikan yang sama,

kepada yang tidak sama penting diberikan yang tidak sama”.

 

 

B. HUKUM ZAMAN ROMAWl

 

Pada permulaan Kerajaan Romawi (abad 8 SM), peraturan

Romawi hanya untuk kota Roma (753 SM), kemudian meluas dan

menjadi universal. Peraturan yang telah meluas dan universal tersebut

disebut juga dengan “ius gentium”, yaitu suatu hukum yang diterima

semua bangsa sebagai dasar suatu kehidupan bersama yang beradab.

Selain peraturan yang ada yurisdiksi awalnya hanya untuk kota

Roma, peraturan tersebut juga bersifat kasuistis. Peraturan tersebut

hanya berlaku untuk untuk kasus-kasus tertentu saja, dimana peraturan

tersebut hanya dijadikan pedoman bagi para hakim dalam memutus

suatu perkara.        Setelah menjadi        ius gentium,    peraturan tersebut

 

13

 

berfungsi sebagai pedoman para gubemur wilayah (yang berperan

juga sebagai hakim).          Perkembangan tersebut sesuai juga dengan

pendapat sarjana hukum Romawi saat itu seperti Cicero,                                      Galius,

Ulpanus, dan lain-lain.

Pada zaman ini, paham yang berkembang adalah bahwa filsafat

hukum (bersifat idiil) yang menerangkan dan mendasari sistem hukum

bukanlah hukum yang ditentukan (hukum                          positiflleges,     melainkan

hukum yang dicita-citakan dan yang dicerminkan dalam leges terse but

(hukum sebagai      ius). Jus belum tentu ditemukan dalam peraturan,

tetapi terwujud dalam hukum alamiah yang mengatur alam dan

manusia. Oleh kaum Stoa, hukum alam yang melebihi hukum positif

adalah pemyataan kehendak ilahi (Huijbers, 1995 :             25). Menurut F.

Schultz bagi bangsa Romawi perundang-undangan tidak begitu pen-

ting , dicerminkan dari pemyataan “Das Volk des Rechts ist       nichts das

Volk des Gesetzes”   (bangsa hukum itu bukanlah bangsa undang-

undang) (Apeldoom, 1986: 15).

Hukum     Romawi     dikembangkan      oleh Kekaisaran         Romawi

Timur (Byzantium), lalu diwarisi kepada generasi-generasi selanjut-

nya dalam bentuk Kodeks Hukum. Tahun 528-534 seluruh perundang-

an kekaisaran Romawi dikumpulkan dalam satu Kodeks atas perintah

Kaisar Yustinianus, yang ia sebut sebagai           Codex Juris Rumaui/Codex

Iustinianus/Corpus Juris Civilis.          Kemudian dikembangkan pad a abad

pertengahan, dan dipraktekkan kembali padakekaisaran Jerman.

Terakhir, hukum romawi tersebut menjadi tulang punggung hukum

perdata modem dalam Code Civil Napoleon (1804).

 

 

c. HUKUM PADA ABAD PERTENGAHAN

 

Sering kali kita membaca dua sejarah besar antar Islam dan

Barat seakan-akan tak pemah saling           bertemu antara keduanya atau

seperti dua sejarah yang harus dibedakan antara keduanya. Padahal

tidaklah begitu, ketika kita mau membaca atau menyimak sejarah,

sains dan ilmu pengetahuan yang kini telah berkembang pesat di era

millenium sekarang ini. Secara filosofis bisa dilihat ketika dunia Islam

 

 

14

 

dalam keemasan. Banyak orang-orang Eropa (Barat) pada umumnya,

sekitar kurang lebih abad pertengahan, negara-negara Barat meng-

alami kegelapan dan kemunduran, setelah berapa saat mengalami

kemajuan di bidang filsafat-khususnya di negara Yunani-diawal abad

Masehi. Alam pikir mereka cenderung mengarah pada profanistik.

Sehingga Barat hams mengakui kemundurannya.

Kronologi Sejarah kemajuan di Barat bisa ditelusuri sejak

Kekhalifahan Umayah masuk ke Spanyol (Andalusia) tahun 711

dibawah pimpinan Abdurrahrnan ad-Dakhil (755 M).                     Pada masa

pemerintahannya Abdurrahman ad-Dakhil membangun masjid, seko-

lah dan perpustakaan di Cordova. Semenjak itu lahirlah sarjana-sarja-

na Islam yang membidangi masalah-masalah tertentu seperti Abbas

ibn Famas yang ahli dalam Ilmu Kimia, Ibn Abbas dalam bidang

Farmakologi, Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash dalam bidang astronomi

dimana ia dapat menghitung gerhana dan penemu teropong bintang

untuk pertama kali, Ibnu Jubair (Valencia, 1145-1228) ahli dalam

Sejarah dan Geografi, Ibn Batuthah (Tangier, 1304-1377), Ibn al-

Khatib (1317-1374), dan Ibn Khaldun.

Dalam bidang filsafat juga lahir beberapa tokoh seperti Ibnu

Bajjah (lahir di Saragosa, wafat tahun 1138 M) yang hidup di Spanyol

menyaingi al-Farabi      dan Ibn Sina yang hidup di Baghdad ibu kota

Kekhalifahan Abbasiyah. la menulis buku                 Tadbir al-Mutawahhid

yang mernbahas masalah etos dan eskatologis. Filosof lain Abu Bakr

ibn Tufail (lahir di Granada, wafat th 1185 M) menulis buku Hay            ibn

Yaqzhan,   Ibn Rusyd (1126-1198) yang merupakan pewaris pemikiran

Aristoteles) menulis buku Bidayalt al- Mujtahid.             Pada perkembangan

selanjutnya Ibnu Rusyd melahirkan aliran filsafat baru tersendiri di

Eropa , Avoreisme.

Abad Pertengahan ini didominasi oleh agama, agama Kristiani

di Barat dan agama Islam di Timur. Jaman ini memberikan pemikiran-

pemikiran baru meskipun tidak menghilangkan sama sekali kebuda-

yaan Yunani dan Romawi. Karya-karya Aristoteles dipelajari oleh

para ahli pikir Islam yang kemudian diteruskan oleh ahli pikir di

Barat.

Filsuf Arab Islam yang dikenal pertama adalah al-Kindi,

 

15

 

(796-873M). la dengan tegas mengatakan bahwa antara filsafat

dan agama tak ada pertentangan. Filsafat ia artikan sebagai pem-

bahasan tentang yang benar (al-bahs’an al-haqq).     Agama dalam

pada itu juga menjelaskan yang benar. Maka kedua-duanya

membahas yang benar. Selanjutnya filsafat dalam pembahasan-

nya memakai akal dan agama, dan dalam penjelasan tentang

yang benar juga memakai argumen-argumen rasional. Dengan

filsafat “al-Haqq al-Awwal”nya, al-Kindi, berusaha memumikan

keesaan Tuhan dari arti banyak. Selain al-Kindi, filsuf lain yang

banyak berbicara mengenai pemumian tauhid adalah al-Farabi

(870-950 M). Percikan pemikiran filsuf-filsuf pada fase awal

perkembangan filsafat diantaranya adalah:          (l)    Alam   qadim

dalam arti tak bermula dalam zaman, (2) Pembangkitan jasmani

tak ada, (3) Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di

alam. Ini adalah tiga dari dua puluh kritikan yang diajukan al-

Ghazali (l 058-1111 M) terhadap pcmikiran para filsufIslam.

Konsep alam   qadim   membawa kepada kekufuran dalam

pendapat al-Ghazali karena qadim    dalam filsafat berarti sesuatu

yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman yaitu

tidak pemah tidak ada di zaman lampau, dan ini berarti tidak

diciptakan. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan, maka syahadat

dalam teologi Islam adalah:     la qadim a, ilallah, tidak ada yang

qadim selain Allah. Kalau alam     qadim,  maka alam adalah pula

Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan, ini membawa kepada paham

syirik atau politheisme. Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak

perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan, dan ini membawa pula

kepada atheisme. Mengenai pembangkitan jasmani, al-Qur’an

menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu . Umpamanya

ayat 78-79 dari QS. Yasin      “Siapa yang menghidupkan tulang-

tulang yang telah rapuh ini? Katakanlah: Yang menghidupkan

adalah Yang Menciptakannya pertama kali. ” Kemudian tentang

masalah ketiga, Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di

alam juga didasarkan atas keadaan falsafat itu, berlawanan

 

 

16

 

dengan al-Qur’an ayat 59 dari surat al-An’am: Tiada daun yang

 

 

 

pada Hukum Tuhan.

 

17

 

jatu}i     yang tidak diketahui-Nya.    Al-Ghazali mengeluarkan pen-

dapat bahwa jalan sebenamya untuk mencapai hakikat bukanlah

filsafat tetapi tasawuf.

Dalam bidang hukum muncul aliran            ancilla theologiae, yaitu

paham yang menetapkan bahwa hukum yang ditetapkan harus di-

cocokkan dengan aturan yang telah ada, yaitu ketentuan-ketentuan

agama. Teori-teori mengenai hukum pada Abad Pertengahan ini dike-

mukakan oleh Agustinus (354-430), Thomas Aquinas (1225-1275),

dan para sarjana Islam, antara lain AI-Safii (820). Menurut Agustinus,

hukum abadi ada pada Budi Tuhan. Tuhan mempunyai ide-ide Abadi

yang merupakan contoh bagi segala sesuatu yang ada dalam dunia

nyata. Oleh karena itu, hukum ini juga disebut sebagai hukum alam,

yang mempunyai prinsip, “Jangan berbuat kepada orang lain, apa yang

engkau tidak ingin berbuat kepadamu.” Dalam prinsip ini nampak

adanya rasa keadilan.

Arti hukum menurut Thomas Aquinas adalah adanya hukum

yang datang dari wahyu ,                 dan hukum yang dibuat oleh manusia.

Hukum yang didapat dari wahyu dinamakan hukum Ilahi positif.

Hukum wahyu ada pad a norma-norma moral agama, sedangkan

hukum yang datang dari akal budi manusia ada tiga mac am, yaitu

hukum alam, hukum bangsa-bangsa, dan hukum positif manusiawi.

Hukum alam bersifat umum, dan karena itu tidak jelas. Maka perlu

disusun hukum yang lebih jelas yang merupakan undang-undang

negara yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat. I-Iukum

ini disebut hukum positif. Apabila hukum positif ini bertentangan

dengan hukum alam, maka hukum alamlah yang berlaku.

Keadilan juga merupakan suatu hat yang utama dalam teori

hukum Thomas Aquinas. Meskipun Thomas Aquinas membedakan

antara keadilan distributif, keadilan tukar-rnenukar, dan keadilan legal,

tetapi keadilan legal menduduki peranan yang sangat penting. Hal ini

disebabkan karena keadilan legal menuntut agar orang tunduk pada

undang-undang, sebab mentaati hukum merupakan sikap yang baik.

Jelaslah bahwa kedua tokoh Kristiani ini mendasarkan teori hukumnya

Pemikir Islam mendasarkan teori hukurnnya pada agama Islam,

yaitu pada wahyu Ilahi yang disampaikan kepada Nabi. Dari ahli pikir

Islam AI-Syafii-Iah aturan-aturan hukum diolah secara sistematis.

Sumber hukum Islam adalah AI-Quran, kemudian Hadis yang meru-

pakan ajaran-ajaran dalam hidup Nabi Muhammad saw .              Peraturan-

peraturan yang disetujui oleh umat juga menjadi hukum, hukum

mufakat, yang disebut juga ijmak. Sumber hukum yang lainnya adalah

qiyas, yaitu analogi atau persamaan. Hukum Islam ini meliputi segala

bidang kehidupan manusia. I-Iukum         Islam hidup dalam jiwa orang-

orang Islam, dan berdasarkan pad a agama. I-lukum         Islam merupakan

hidup ideal bagi penganutnya. Oleh karena Hukum Islam berdasarkan

pada Al Quran maka Hukum Islam adalah hukum yang mempunyai

hubungan dengan Allah,          langsung sebagai wahyu. Aturan hukum

harus dibuat berdasarkan wahyu (Muhammad Khalid Masud, 1996:

12-13).

Dengan kata lain pada abad pertengahan ini ada dua pandangan

yang berbeda.      Menurut Syafi’i mengapa hukum harus dicocokkan

dengan ketentuan agama karena hukum berhubungan dengan wahyu

secara langsung,        sehingga hukum dipandang sebagai bagian dari

wahyu. Berbeda dengan Syafi ‘i,             menurut Agustinus dan Thomas

Aquinas hukum berhubungan         dengan wahyu secara tidak langsung,

yaitu hukum yang dibuat manusia, disusun di bawah inspirasi agama

dan wahyu (Huijbers, 1995: 27).

Pengertian hukum yang berbeda ini membawa konsekuensi

dalam pandangannya terhadap hukum alam. Para tokoh Kristiani

cenderung      untuk    mempertahankan     hukum    alam    sebagai     norma

hukum, akan tetapi bukan disebabkan oleh alam yang dapat mencipta

hukum melainkan karena alam merupakan ciptaan Tuhan. Menurut

Thomas Aquinas aturan alam tidak lain dari partisipasi aturan abadi

(lex aeterna) yang ada pada Tuhan sendiri.                                  .

Dalam Islam, agama merupakan pengakuan manusia untuk

bersikap pasrah kepada sesuatu yang lebih tinggi, lebih agung dan

lebih kuat dari mereka, yang bersifat transedental. Telah menjadi

fitrah manusia untuk memuja dan sikap pasrah kepada sesuatu yang

 

18

 

dia agung-agungkan untuk dijadikan sebagai Tuhannya. 01eh karena

Tuhan telah menetapkan hukum-hukumnya bag i                      manusia, maka tiada

lain sebagai konsekuensi dari kepasrahan terse but manusia harus taat

pada hukum-hukurn terse but. Islam memandang tidak ada perbedaan

antara hukum alam dengan hukum Tuhan             (syariat) , · karena syariat

yang ditetapkan Allah dalam             Al-Quran sesuai dengan hukum alam itu

sendiri, yang dalam Islam disebut fitrah .             Namun pemaknaan fitrah

dalam Islam jauh lebih tinggi daripada pemaknaan hukum alam

sebagaimana dipahami dalam konteks                   ilmu hukum. Jika hukum alam

(lex naturae)        dipahami sebagai eara segala yang ada berjalan sesuai

dengan aturan semesta alam seperti manusia dalam bertindak meng-

kecenderungan-kecenderungan         dalam jasmaninya (Huijbers,

1995), maka    fitrah    berarti pembebasan manusia          dari keterjajahan

terhadap kemauan jasmaninya yang serba tidak terb atas pada kemauan

ruhani yang mendekat pada Tuhan .

Pada abad ini para ahli kemudian membedakan                         ada Iima jeni s

hukum, yaitu:

a. Hukum abadi             (lex aetema):           reneana Allah            tentang aturan

seme sta  alam. Hukum abadi itu merupakan suatu pengertian

teologis tentang asal mula segala hukum,                       yang    kurang berpe-

ngaruh atas pengertian hukum lainnya.

b. Hukum ilahi positif          (lex   divino positiva):      hukum Allah yang

terkandung dalam wahyu        agama, terutama mengenai prinsip-

prinsip keadilan.

e. Hukum alam         (lex natura/is) : hukum Allah sebagaimana nampak

dalam aturan semesta alam melalui akal budi manusia.

d. Hukum bangsa-bangsa (ius              ge ntium): hukum yang diterima oleh

semua atau kebanyakan bangsa. Hukum itu yang berasal dari

hukum romawi ,       lambat Iaun hilang sebab diresepsi dalam

hukum positif.

e. Hukum positif             (lex humana positiva):                hukum sebagaimana

ditentukan oleh yang berkuasa;        tata hukum negara. Hukum ini

pada zaman modem ditanggapi sebagai hukum yang sejati.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PANDANGAN TENTANG HUKUM PADA

ZAMAN MODERN

 

 

Kemajuan yang terjadi di dunia Islam, temyata memiliki daya

tarik tersendiri bagi mereka orang-orang Barat. Maka pada masa

seperti inilah banyak orang-orang Barat yang datang ke dunia Islam

untuk mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan. Kemudian hal ini

menjadi jembatan informasi antara Barat dan Islam. Dari pemikiran-

pemikiran ilmiah, rasional dan filosofis, atau bahkan sains Islam mulai

ditransfer ke daratan Eropa. Kontak antara dunia Barat dan Islam pad a

lima Abad berikutnya temyata mampu mengantarkan Eropa pada

masa kebangkitannya kembali (renaisan ce) pada bidang ilmu pengeta-

huan dan filsafat. Selanjutnya berkembang pada era baru yaitu era-

modem.

 

 

A. ZAMAN RENAISSANCE

 

Berkebalikan dengan apa yang dialami oleh para pelajar Barat

dengan apa yang mereka dapatkan dari Islam, dimana gereja memiliki

kekuasaan    mutlak     di    Eropa     (teokrasi),      menimbulkan      era    baru

renaissance (kelahiran kembali). Era ini merupakan manifestasi dari

protes para ahli yang belajar dari Islam terhadap kekuasaan gereja

yang mutlak terse but. Pada zaman ini hidup manusia mengalami

banyak perubahan. Bila pada abad pertengahan perhatian orang

diarahkan kepada dunia dan akhirat, maka pada zaman modem

perhatiannya hanya padakehidupan dunia saja. Hal ini di latar-

belakangi oleh keadaan Eropa yang saat itu pemahaman tentang

 

 

20

 

akhirat dibajak oleh Gereja. Masa kekuasaan Gereja yang biasa

disebut sebagai masa kegelapan Eropa telah melahirkan sentimen anti

Gereja. Mereka menuduh Gereja telah bersikap selama seribu tahun

layaknya polisi yang memeriksa keyakinan setiap orang.

Lantas, lahirlah teori yang menempatkan manusia sebagai

segala-galanya menggantikan Tuhan. Berdasarkan teori ini, manusia-

lah yang menjadi tolok ukur kebaikan dan keburukan. Era baru ini

telah melahirkan teori yang men gee am segala sesuatu yang membatasi

• kebebasan individu manusia.        Akibatnya, agama berubah peran dan

menjadi sebatas masalah individu yang hanya dimanfaatkan kala sese-

orang memerlukan sandaran untuk mengusir kegelisahan batin dan

kesendirian. Agama seeara perlahan tergeser dari kehidupan masya-

rakat di Eropa (Huijbers, 1985). Burekhardt (dalam Huijbers, 1985:

29) menyebut era ini sebagai “penernuan kembali dunia dan manusia”.

Oengan demikian, Zaman Modem atau Abad Modem di Barat adalah

zaman, ketika manusia menemukan dirinya sebagai kekuatan yang

dapat menyelesaikan segala persoalan-persoalan hidupnya. Manusia

hanya dipandang sebagai mahluk yang bebas yang independen dari

Alam dan Tuhan. Manusia di Barat sengaja membebaskan dari Tatan-

an Ilahiah (Theo Morphisnie],       untuk selanjutnya membangun Tatanan

Antropomorphisme suatu tatanan yang semata-mata berpusat pada

manusia. Manusia menjadi tuan atas nasibnya sendiri.

Kondisi di masa itu yang dipenuhi dengan kegetiran abad per-

tengahan, telah membuat gerakan Humanisme      ini dengan eepat ber-

kembang luas di Eropa. Menurut Humanisme, manusia bersifat unggul

sebagai pribadi diantara segala makhluk lainnya, khususnya dalam

peran manusia sebagai peneipta kebudayaan. Tokoh-tokoh Humanis-

me itu adalah Petraea (1303-1374), Desiderius Erasmus (1469-1537),

dan Thomas More (1478-1535). ·Peru bahan pandangan ini berpenga-

ruh juga pada agama Kristen, yang mewujud dalam agama baru yaitu

agarna Protestan (1217). Agama ini lahir sebagai hasil dari reformasi

agama Kristen oleh Maarten Luther (1483-1546) & Johannes Calvin

(1509-1564). Dalam bidang keilmuwan muneul juga beberapa ilmu-

wan seperti: Copemieus (1473-1543), Kep1er (1571-1630), Galilei

(1564-1642), Newton (1642-1727) dalam bidang fisika.

 

21

 

Bila pengertian hukum zaman klasik lebih bersifat klasik, maka

pengertian hukum pada zaman modem lebih bersifat empiris. Menurut

Huijbers (1995: 29) hal ini berarti bahwa: (1) Tekanan tidak lagi pada

hukum sebagai tatanan yang ideal (hukum alam), melainkan pada

hukum yang dibentuk manusia sendiri, baik oleh raja maupun rakyat

yaitu hukum positif atau tata hukum negara, dimana hukum terjalin

dengan politik negara; (2) Tata hukum negara diolah oleh para sarjana

hukum seeara Iebih ilmiah; (3) Dalam membentuk tata hukum makin

banyak dipikirkan tentang fakta-fakta empiris, yaitu kebudayaan

bangsa dan situasi sosio-ekonomis masyarakat yang bersangkutan.

Percikan Pemikiran ten tang hukum pada zaman ini adalah:

I. Hukum merupakan bagian dari kebijakan manusia;

2. Tertib hukum diwujudkan dalam bentuk negara, dimana di

dalamnya memuat peraturan perundang-undangan yang harus

ditaati oleh warga negara dan memuat peraturan hukum dalam

hubungannya dengan negara lain.

3. Peneipta hukum adalah raja.

Filsuf-filsuf yang memunculkan pemikiran tersebut adalah

Macchiavelli (1469-1527), Jean Bodin (1530-1596), Hugo Grotius

(1583-1645), dan Thomas Hobbes (1588-1679). Dengan semangat ini

pula Eropa kemudian mencari dunia baru yang ditandai dengan

pen emu an sebuah wilayah pada tahun 1492 yang kemudian dinamai

Amerika.

 

 

B. ZAMAN AUFKLARUNG

 

Zaman Aufklarung yang lahir kurang lebih pad a abad ke-17

merupakari awal kemenangan supermasi rasionalisme, empirisme, dan

positivisme dari dogmatis Agama. Kenyataan ini dapat dipahami

karena abad modem Barat ditandai dengan adanya upaya pemisahan

antara ilmu pengetahuan dan filsafat dari pengaruh Agama (seku-

lerisme). Perpaduanantara rasionalisme, empirisme dan positivisme

 

 

22

 

dalam satu paket epistimologi melahirkan               ap a yang T.H Huaxley

disebut dengan Metode IImiah (Scientifi c M ethod).

Munculnya aliran-aliran tersebut                 sangat berpengaruh pada per-

adaban Barat selanjutnya. Dengan metode                ilmi ah   itu, kebenaran

sesuatu hanya mereka perhitungkan da ri sudut fisiologis -lahiriah yang

sangat bersifat profanik (keduniawian atau keb end aan).                          Atau dengan

istilah lain ,     kebenaran ilmu pengetahuan          hanya   diukur dari sudut

koherensi dan korespodensi. Dengan wataknya             tersebut sudah dapat

dipastikan bahwa, segala pengetahuan yan g berada diluar jangkauan

indra dan rasio serta pengujian ilmiah ditolaknya,                        termasuk di dalam-

nya pengetahuan yang bersumber pad a religi.

Perintisnya adalah Rene Descartcs                   (1596-1650) yang mendu-

dukkan manusia sebagai subjek dalam usahanya menjawab tantangan

keberadaan manusia sebagai mahluk mikro kosmik. Manusia dijadi-

kan titik tolak seluruh pandangan hidupnya. Dengan falsafahnya yang

amat terkenal     “cogito  ergo SlIIl/”        (karena berpikir maka aku ada),

Descartes lah yang membawa pemikiran rasionalisme. Oleh karena itu

zaman ini disebut juga zaman ra sionalisme, zaman pencerahan, zaman

terang budi. Setelah Descartes,                   filsafat     zaman     ini menjurus ke dua

arah:

1). Rasionalisme, mengunggulkan ide-ide             aka I  mumi. Tokohnya

adalah: Wolff (1679-1754),              Montesqi eu      (1689-1755), Voltaire

(1694-1778),         Rousseau       (1712-1778),         dan      Immanuel        Kant

(1724-1804).

 

2). Empirisme, yang menekankan perlunya basis empms bagi

semua pengertian. Tokohnya antara lain John Locke (1632-

1704) dan David Hume (1711-1776).

Sebenamya empirisme, yang berkembang di Inggris sejak abad

ke-17 ini merupakan sua tu cara berpikir yang rasionalis juga, namun

dalam emprisme lebih mengutamakan penggunaan metode empiris

yaitu apa yang tidak dapat dialami tidak dapat diakui kebenarannya .

Percikan pemikiran pada zaman ini adalah pertama, hukum

dimengerti       sebagai bagian suatu sistem pikiran yang lengkap yang

 

23

 

ber sifat  rasional,    an  sich.  Kedua,    telah muncul ide dasar konsepsi

men genai  negara yang ideal. Pada zaman ini negara yang ideal adalah

negara    hukum. Beberapa      pemikiran    berkaitan    deng an  ide tersebut

diantaranya John Locke yan g          meny atakan  ten tang   pembelaan hak

warga negara     terh adap  pemer intahan yang ber kuasa; Montesqiu me-

nyatakan tentang pemisahan keku asaan ncgara            dalam   tiga bagian,

yaitu eksekutif,     legislatif dan yudikatif (trias polit ica); J.J .            Rousseau

menyatakan tentang keunggulan manusia              scbagai subjek hukum .

Rousseau menyatakan jika hukum menjadi bagian dari suatu kehi-

dupan bersama    yang demokratis,     maka raja sebagai pencipta hukum

perlu diganti       dengan rakyat seb agai         pencipta    hukum dan      subjek

hukum. Immanuel       Kant menyatakan bahwa pembentukan hukum

merupakan inisiatif manusia guna mengembangkan kehidupan                 ber-

sama yang bermoral (Huijbers , 1995: 32) .

Pada akhir abad VIII , cita-cita negara hukum mengkristal ber-

dirinya negara Amerika Serikat (1776) dan terjadinya Revolusi

.Pera ncis (1789). Revolusi Perancis dijiwai oleh semboyan:                    liberte,

egalite, fraternit e, yang menuntut suatu tata hukum baru atas dasar

kedaulatan rakyat. Tata hukum baru ters ebut kemudian dibentuk oleh

para sarjana Perancis atas perintah Kaisar Napoleon. Tata hukum baru

terscbut mencapai    keb erhasilannya set elah dirumuskannya Code Civil

(1804). Code     Civil terse but pada era berikutnya          merupakan sumber

kodeks negara-negara modem, antara lain Belanda.

 

 

C. PENGERTIAN HUKUM ABAD XIX

 

1. Pandangan lImiah atas Hukum

Pada  zaman ini Empirisrne yang menekankan            perlunya basis

ernpiris bagi semua pengertian berkernbang menjadi Positivisme yang

menggunakan metode pengolahan ilmiah. Dasar dari aliran ini digagas

oleh August Cornte ( 1789- I 857), seorang filsuf Perancis, yang menya-

takan  bahwa sejarah kebudayaan manusia dibagi dalarn tiga tahap:

tahap pertama adalah tahap teologis yaitu tahap dimana orang mencari

 

 

24

 

kebenaran dalam agama, tahap kedua adalah tahap metafisis yaitu

tahap dimana orang mencari kebenaran melalaui filsafat. Tahap ketiga

adalah tahap positif yaitu tahap dimana kebenaran dicari melaui ilmu-

ilmu pengetahuan. Menurut Comte yang terakhir inilah yang merupa-

kan icon dari zaman modem (Comte, 1874: 2).

Bagi filsafat hukum, hukum di abad pertengahan amat dipe-

ngaruhi oleh pertirnbangan-pertimbangan teologis. Sedangkan rentang

waktu dari renaissance hingga kira-kira pertengahan                      abad ke-19

termasuk dalam tahap metafisis. Ajaran hukum alam klasik maupun

filsafat-filsafat hukum revolusioner yang didukung oleh Savigny,

Hegel dan Marx diwarnai oleh unsur-unsur metafisis tertentu. Teori-

teori ini mcncoba menjelaskan si fat hukum dengan menunjuk kepada

ide-ide tertentu atau prinsip-prinsip tertinggi. Pada               pertengahan abad

ke-19 sebuah gerakan mulai menentang tendensi-tcndensi metafisika

yang ada pada abad-abad sebelumnya. Gerakan ini mungkin dijelas-

kan sebagai positivisme, yaitu sebuah sikap ilrniah, mcnolak speku-

lasi-spekulasi apriori dan mcmbatasi dirinya pada data pengalarnan

(Muslehuddin, ] 991: 27-28). (penjelasan berikutnya tcntang positivis-

me hukum ini akan dijelaskan dalam Bab VI Teori I-Iukum,              sub bab

Positivisme Hukum).

 

 

2. Pandangan Historis atas Hukum

Abad XIX ditandai perubahan bcsar di segala bidang, terutama

akibat perkembangan ilmu pcngetahuan dan teknologi. Perubahan

yang dimulai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, penemuan

alat-alat teknologi, hingga revolusi industri, dan terjadinya perubahan-

perubahan sosial beserta masalah-rnasalah sosial yang mucul kernu-

dian memberi ruang kepada para sarjana untuk berpikir tentang gejala

perkembangan itu sendiri. Pada abad-abad sebelumnya, orang merasa

kehidupan manusia sebagai sesuatu yang konstan yang hampir tidak

berbeda dengan kehidupan masa lalu. Pada abad ini perasaan itu

hilang, orang telah sadar tentang segi historis kehidupannya, tentang

kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan yang memberikan nilai

baru dalam kehidupannya.

 

25

 

Pada abad ini, pengertian tentang hukum merupakan pandangan

baru atas hidup, yaitu hidup sebagai perkembangan manusiadan kebu-

dayaan. Beberapa pemikiran tokoh yang mencerminkan ha] ini adalah

Hegel (1770-]831), F .          Von Savigny (1779-186]), dan KarI Marx

(18] 8- I 883). Hegel menempatkan hukum dalam keseluruhan perwu-

judan roh yang objektif dalam kchidupan manusia. F. Von Savigny

menentukan hukum sebagai unsur kebudayaan suatu bangsa yang

berubah dalam Iintasan sejarah. Terakhir, Karl Marx memandang

hukum sebagai cermin situasi ekonomis masyarakat (Soetiksno, 1986:

43-61 ).

 

 

D. PENGERTIAN H UKUM ABAD XX

 

Mcskipun tcrdapat persamaan tentang pembentukan sistem

hukum yang berlaku, namun pada abad XX ini ada perbedaan tentang

pengertian hukum yang hakiki. Ada dua arus besar pandangan ten tang

pengertian hukum yang hakiki (K.        Bcrtens, 1981):

 

I. Hukum sebaiknya dipandang dalam hubungannya dengan pe-

merintah negara, yaitu sebagai norma hukurn yang de facto       ber-

laku. Tolak ukurnya adalah kepentingan umum dilihat sebagai

bagian kebudayaan dan scjarah suatu bangsa. Pandangan ini

bersumber dari aliran sosiologi hukum dan rcalisme hukum.

 

2. Hukum seharusnya dipandang sebagai bagian kehidupan etis

manusia di dunia. Oleh kacna itu disini diakui adanya hubungan

antara hukum positif dengan pribadi manusia, yang berpegang

pada norma-norma keadilan. Prinsip ini diambil dari · filsafat

neoskolastik,       neokantismc,       neohegelianisme        dan      fiIsafat

eksistensi,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BABIV

PANDANGAN TENTANG HUKUM

ERA POST-MODERNISME

 

 

A. LATAR BELAKANG

 

Oengan konteks ini, perlu juga ditegaskan antar hubungan Barat

yang modem dan peran Agama resmi yang berlaku di sana, yakni

kristen. Ada sebagian orang beranggapan bahwa seluruh orang Barat

menganut Agama Kristen, dengan perkecualian minoritas penganut

Yahudi. Anggapan scmaca.m ini seolah-olah Barat masih seperti Barat

pada abad pertengahan, ketika     terjadi perang salib yang peradabannya

saat itu adalah disebut abad keimanan . Ada juga sebagian yang lain

beranggapan sebaliknya, yaitu bahwa seluruh orang Barat bersifat

materialik atau agnostik serta skeptik dan tidak menganut satu Agama

apapun. Pandangan semacam ini bisa disebut keliru, karena yang

terjadi tidaklah demikian. Pada Abad ke-17, bahkan sebelumnya, yaitu

ketika  renaissance,     telah terjadi upaya membawa dunia Barat kearah

sekularisme dan penipisan peran Agama dalam kehidupan sehari-hari

manusia. Akhimya berakibat pada sejumlah orang Barat yang secara

praktis tidak lagi menganut Agama Kristen atau Yahudi. Orang

semacam Comte, yang pikiran-pikirannya begitu anti metafisis men-

jadi jalan mulus menuju kearah sekularisme Ounia Barat. Oitambah

dengan ajaran filsafat sosial (sosialisme), Marx (Marxisme) yang

menegaskan bahwa Agama adalah candu masyarakat, yang karenanya

ia harus ditinggalkan. Puncak penolakan terhadap Agama Kristen di

Barat disuarakan oleh Nietzsche dengan statemennya yang banyak di

kenal orang The God is dead.

Kemunculan gagasan-gagasan semacam itu mungkin diakibat-

 

 

27

 

kan adanya ketidakn1ampuan     sistem keimanan yang berlaku disana

untuk mengakomodasikan perkembangan masyarakat modern dengan

ilmu pengetahuanya. Kemajuan masyarakat yang sudah berhasil dan

begitu percaya pada iptek, akhimya berkembang lepas dari kontrol

Agama. Iptek yang landasan pokoknya bersifat sekuler bagi sebagian

besar orang di Barat akhimya menggantikan posisi Agama. Segala

kebutuhan Agama seolah bisa terpenuhi dengan iptek.Namun dalam

kurung waktu yang panjang iptek ternyata menghianati kepercayaan

manusia, kemajuan iptek justru identik dengan bencana. Kondisi

inilah yang tampaknya membuat masyarakat Barat mengalami apa

yang disebut Cak Nur (Or. Nurkholis Madjid) yang dikutipnya dari

Baigent, Krisis Epistimologis,              yakni masyarakat Barat tidak lagi

mengetahui tentang makna dan tujuan hidup (Meaning and Purpose oJ

Life).

Manusia modem melihat segala sesuatu hanya dari pinggiran

eksistensinya saja ,      tidak pada pusat spiritualitas dirinya, sehingga

mengakibatkan ia lupa siapa dirinya.               Memang dengan apa yang

dilakukannya sekarang-memberi perhatian pada dirinya yang secara

kuantitatif sangat mengagumkan, tapi secara kualitatif dan keseluruh-

an tujuan hidupnya-menyangkut pengertian-pengertian mengenai diri-

nya sendiri-ternyata dangkal. Oekadensi atau kejatuhan manusia di

zaman modern ini terjadi karena mansuia kehilangan ‘pengetahuan

langsung’ mengenai dirinya itu, dan menjadi bergantung berhubungan

dengan dirinya. Itu sebabnya, dunia ini menurut pandangan manusia

adalah dunia yang memang tak memiliki dimensi                         transedental.

Dengan demikian menjadi wajar jika peradaban modem yang di-

bang un selama ini tidak menyertakan hal yang paling esensial dalam

kehidupan manusia, yaitu dimensi spiritual. Belakangan ini baru

disadari adanya krisis spiritual dan krisis pengenalan diri.

Sejarah pemikiran Barat modem, sejak Rene Oescartes ditandai

dengan usaha menjawab tantangan keberadaan manusia sebagai

mahluk mikro kosmik.Oengan falsafahnya yang amat terkenal “cogito

ergo sum” (karena berpikir maka aku ada). Tetapi sayangnya, bukan

pengerian yang makin mendalam yang didapat, narnun justru keadaan

yang semakin menjauh dari eksistensi dan pengertian yang tepat

 

 

28

 

mengenai hakekat diri yang diperoleh. Max Scheeler, Filsafat Jerman

dari awal abad ini mengatakan, tak ada periode lain dalam penge-

tahuan bagi dirinya sendiri, seperti pada periode kita ini . Kita-katanya-

punya antropologi ilmiah, antropologi filosofis, dan antropologis teo-

logis yang tak saling mengenal satu sama lain. Tapi kita tidak merni-

liki gambaran yang jelas dan konsisten tentang keberadaan manusia

(Human being).       Semakin bertumbuh dan banyaknya ilmu-ilmu khusus

yang terjun konsepsi kita tentang manusia, malah sebaliknya semakin

membingungkan dan mengaburkannya.

Maka dari itulah, jika kita kembalikan pada bahasan semula

tentang metode ilmiah yang berwatak rasional dan empiris, telah

menghantarkan kehidupan manusia pada suasana modemisme. Kemu-

dian pada perkembangan selanjutnya, modemisme           melahirkan corak

pemikiran yang mengarah pada rasioanalisme , positivisme, pragmatis-

me, sekulerisme dan materialisme. Aliran-aliran filsafat ini, dengan

watak     dasamya    yang     sekuleris      -merninjam      istilahnya     Fritchjof

Schuon- sudah terlepas dari           Scintia Sacra (Pengetahuan suci) atau

Philosophia Perenneis (Filsafat Keabadian).

 

 

B. TRADISIONALISME ISLAM

 

Proses modemisasi yang dijalankan Barat yang diikuti negara-

negara lain, temyata tidak selalu berhasil me menuhi janjinya meng-

angkat harkat kernanusiaan dan sekaligus memberi makna yang lebih

dalam bagi kehidupan. Modemisme justru telah dirasakan membawa

dampak terhadap terjadinya kerancauan dan penyimpangan nilai-nilai.

Manusia modem kian dihinggapi rasa cemas dan tidak bermakna

dalam kehidupannya. Mereka telah kehilangan visi keillahiahan atau

dimensi transedental, karena itu mudah dihinggapi kehampaan spiri-

tual. Sebagai akibatnya, manusia modem menderita keterasingan (alie-

nasi),    baik teralienasi dari dirinya sendiri, dari lingkungan sosialnya

maupun teralienasi dari Tuhannya.

Menyadari kondisi masyarakat modem yang sedemikian, pada

abad ke-20, terutama sejak beberapa dekade terakhir ini, muncul suatu

 

29

 

gerakan yang mencoba menggugat        dan mengkritik teori-teori moder-

nisasi,   Manusia membutuhkan     pola pemikiran baru yang diharapkan

membawa kesadaran dan pol a         kehidupan baru .      Hingga kemudian

mulai bermunculan gerakan-gerakan responsif altematif sebagai res-

pon balik terhadap perilaku mas yarakat modem yang tidak lagi

mengenal dunia metafisik. Termasuk                         did alamnya        Tradisonalisme

Islam yang dihidupkan Nasr,         atau gerakan     Ne w Age di Barat pada

akhir dewasa ini.

Kritik terhadap modemisme dan usaha pencarian ini sering di-

sebut dengan masa pasca modemisme (post-modernisme). Masa ini

seperti yang dikatakan Jurgen Habermes seorang Sosiolog dan Filosof

Jennan tidak hanya ditandai dengan kchidupan yang semakin mate-

rialistik dan hedonistik, tetapi juga tclah                mengakibatkan terjadinya

intrusi massif dan krisis yang mendalam pada berbagai aspek kehidup-

an. Masyarakat pada Era Post-Modernisme mencoba untuk keluar dari

lingkaran krisis terse but dengan kembali pada hikmah spiritual yang

terdapat dalam semua Agama otentik. Manusia perlu untuk memikir-

kan kembali hubungan antara Yang Su ci           (Sacred) dan yang sekuler

(Profany.

Gerakan ini dikenal den gan sebutan perenneialisme atau tradi-

sionalisme: adalah sebuah gerakan yang           ingin mengembalikan bibit

Yang Asal, Cahaya Yang Asal ,            ataupun   prinsip-prinsip yang asal,

yang sekarang hilangdari tradisi pemikiran manusia modem. Untuk

menyebut beberapa nama tokoh yang melopori gerakan-gerakan ter-

sebut antara lain; Louis Massignon ( 1962), Rene Guenon, Ananda K.

Coomaraswamy, Titus Burckhart, Henry Corbin (1978), Martin Lings,

Fritcjof Schoun, dan masih banyak lagi.

Sementara di kalangan modemis Islam gerakan pembaharuan

dan pemikiran dalam Islam sejak fase 60-an hingga dewasa ini men-

coba bersikap lebih kritis terhadap ide-ide modemisasi sebelumnya,

dan bahkan terhadap sebagian kelompok pemikir Islam yang mencoba

mencari altematif non-Barat. Kelompok yang disebut terakhir misal-

nya Hasan Albana (1949), Abul A’al al-Maududi (1979), Sayyid

Quthub (1965), dan           pemuka-pemuka Al-Ikhwan (sering disebut

kelompok fundamental is, atau lebih tepat ‘Neo-Revivalis Islam’)

 

 

30

 

menghendaki agar semua persoalan kemoderenan selalu dikembalikan

kepada acuan           al-Quran,       as-Sunnah dan kehidupan para                     Sahabat

dalam       pengertian        tekstual.       Fazlur       Rahman       (1989),      Muhammad

Arkoun (1928) , dan Isma ‘il            Raji al-Faru qi (1986)-yang sering disebut

kelompok Neo -Modernis-berusaha mcncari rele vansi                     Islam bagi dunia

modern Islam, bagi mereka ,                adalah al-Qur ‘a n          dan as-Sunnah yang

meski ditangkap pesan-pesan tersebut. Kelompok ini dalam pernbaha-

ruannya berkecendrungan ke arah hum anistik, rasi onalistik, dan libe-

ralistik. Sedang tokoh-tokoh muslim lain           seperti A li Syari’ati (1979) ,

Hassan Hannafi (1935), dan AbdiIlah Larraui                   (serin g disebut penyebar

paham Kiri Islam) berkepentingan membela massa, rakyat tertindas

dan menampilkan Islam sebagai keku atan         revolusioner-politik.       Oleh

karenanya kelompok terkhir ini, sering juga disebut sebagai penyebar

sosialisme Islam dan Marxisme Islam sebagai model pembangunan di

dunia Islam. Mereka mengutuk westerni sasi dan sekulerisasi masyara-

kat Islam,    Nasionalisme, dan ekses-ekses        kapitali sme,   demikian juga

materialisme serta ke-takbertuhanan Marxisme.

Kemudian selanjutnya lahir tokoh-tokoh pemikir             kontemporer

lain sebagai pemikir alternatif ,              yakni   Sayyed Hussein       Nasr yang

mencoba menawarkan konsep nilai -nilai          kc-Islarnan   yang kemudian

terkenal dengan sebutan “Iradisionalisme          Islam’. Merupakan gerakan

respon terhadap kekacauan Barat modern             yang   sedang mengalami

kebobrokan spiritual, dimana menurut penilaian Nasr menyarankan

agar Timur menjadikan Barat seba gai            case study  guna mengambil

hikmah dan pelajaran sehingga Timur tidak mengulangi kesalahan-

kesalahan Barat. Sayyed Hussein Nasr beranggapan , sejauh ini gerak-

an-gerakan fundamental is atau revivalis Islam tak lebih merupakan

dikotorni tradisionalisme-modernisme,          keberadaannya justru menjadi

terlalu radikal dan terlalu mengarah kepada misi politis dari pada

normatik-religius (nilai-nilai ke-Agamaan). Sekalipun gerakan-gerak-

an seperti itu, atas nama pembaharuan-pembaharuan tradisional Islam.

Pad a momen sejarah ini pulalah saat yang tepat untuk me mbe-

dakan    gerakan-gerakan      yang     disebut     sebagai      ‘Fundamentalisme

Islam’ dari Islam Tradisional yang sering dikelirukan siapapun yang

telah membaca karya-karya yang bercorak tradisional tentang Islam

 

31

 

dan membandingkannya     dengan   perjuangan aliran-aliran      ‘ fundarnen-

talis ‘    tersebut segera      dapat melihat      perbedaan-perbedaan mendasar

diantara mereka , tidak saja di dalam        kandungan   tetapi  juga di dalam

‘iklim’ yang mereka nafaskan. Mal ahan          yang  dijuluki sebagai funda-

mentalisme mencakup satu spektrum         yan g luas, yang bagian-bagian-

nya dekat sekali dengan interpreta si trad isional          tentang Islam. Tetapi

tekanan utama macam gerakan       poli to-religius yang sekarang ini di-

sebut fundamentalisme        itu mempunyai perbedaan yang mendasar

dengan Islam Tradisional. Dengan            demikian perbedaan yang        tajam

antara keduanya terju stifikasi, sekalipun terdapat wilayah-wilayah ter-

tentu, dimana beberapa jenis fundamentalisme dan dimensi-dimensi

khusus Islam Tradisonal bersesuaian.

Gerakan Tradisonalisme Islam yang diidekan dan dikembang-

kan Nasr, merupakan gerakan untuk mengajak kembali ke ‘akar

tradisi      yang merupakan kebenaran dan sumbcr asal segala sesuatu;

dengan mencoba menghubungkan antara sekuler (Barat) dengan di-

mensi ke-Ilahiahan yang bersumber pada wahyu Agama. Tradisio-

nalisme Islam adalah gambaran awal sebuah konsepsi pemikiran

dalam sebuah bentuk     Sophia Perenu eis         (keabadian). Tradisionalisme

Islam boleh dikatakan juga disebut sebagai          gerakan intelektual secara

universal untuk mampu merespon arus pemikiran Barat modern

(merupakan efek dari filsafat modern) yang eenderung bersifat profa-

nik, dan selanjutnya untuk sekaligus dapat membedakan gerakan

Tradisionalisme Islam tersebut dengan gerakan Fundamentalisme

Islam,   seperti halnya yang dilakukan di Iran,             Turki dan kelornpok-

kelompok fundamental is lain .         Usaha Nasr untuk menelorkan ide

semacam itu paling tidak merupakan tawaran alternatif sebuah nilai-

nilai hidup bagi manusia modern maupun sebuah negara yang telah

terjangkit pola pikir modem (yan g cenderung bersifat profanik dengan

gaya sekuleristiknya) untuk kemudian kembali pada sebuah akar

tradisi yang bersifat transedental.

Sebagimana yang dipergunakan oleh para kelompok Tradi-

sionalis, tema tradisi menyiratkan sesuatu Yang Sakral,                 Yang Suci,

dan Yang Absolut. Seperti disampaikan manusia melalui wahyu mau –

pun pengungkapan dan pengembangan peran sakral itu di dalam

 

 

32

 

sejarah kemanusiaan tertentu untuk mana ia maksudkan,             dalam satu

cara yang mengimplikasikan baik kesinambun gan           horizontal dengan

sumber maupun mata rantai vertikal              yang menghubungkan       setiap

denyut kehidupan tradisi yang sedang diperb incangkan         dengan realitas .

transeden meta-historikal. Sekaligus           makna abso lut memiliki kaitan

emanasi     dan    nominasi     dari    sesuatu     sesua tu    yang    profan     dan

aksidental.

Tradisi menyiratkan kebenaran          yang   kudus, yang langgeng,

yang tetap, kebijaksanaan yang abadi        (sophia perenneisy;     serta pene-

rapan bersinambungan prinsip-prinsipnya yang                langsung    perennei

terhadap berbagai situasi ruang dan waktu . Untuk itulah Islam Tradi-

sional mempertahankan syariah sebagai hukum Ilahi sebagaimana ia

dipahami dan diartikan selama berabad-abad         dan  sebagaimana ia di-

kristalkan dalam mad zab-madzab klasik. Hukum menyangkut kesufis-

tikkan, Islam Tradisional memmpertahankan Islamitas seni Islam,

kaitannya dengan dimensi batini, wahyu Islam dan kristalisasi kha-

zanah spiritual Agama dalam bentuk-bentuk yang               tampak dan ter-

dengar, dan dalam domain politik,           Perspektif    tradisional se1alu ber-

pegang pada realisme yang didasarkan pad a norm a-norma Islam.

 

 

C. FILSAFAT PERENNIAL SEBAGAI JEMBATAN

Pembicaraan mengenai Tuhan dalam kerangka                  spiritualitas

universal dan religiusitas transhistoris merupakan topik pembicaraan

utama dalam filsafat perennial. Filsafat perennial atau                 philosophia

perennis      didefinisikan      oleh     Frithjof Schuon          dalam    Echoes     of

Perennial Wisdom     (1992) sebagai     the univ ersal Gnosis which always

has existed and always will exist.       Aldous Huxley dalam The Perrenial

Philosophy    (1984) filsafat perennial didefinisikan sebagai             (1) meta-

fisika yang mengakui adanya realitas illahi yang substansial atas dunia

bendawi, hayati dan akali; (2) Psikologi yang hendak menemukan

sesuatu yang serupa dengan jiwa, atau bahkan identik dengan realitas

ilahi; (3) etika yang menempatkan tujuan akhir manusia di dalam

pengetahuan tentang yang dasar, yang imanen dan transeden, yang

immemorial dan universal.

 

33

 

Menurut Seyyed Hossein Na sr              dalam   Kn owledge and the

Sacred (1989), dikalangan muslim Persia telah dikenal istilah J avidan

Khirad   atau al-Hiktnah al-Khalidah      yan g ditemukan dari karya Ma s-

kawih (932-1030). Di dalam karyanya itu, Ibn Maska wih membicara-

kan sejenis wawasan filsafat perennial dengan          mengulas gagasan dan

pemikiran orang-orang dan filsuf yang dianggap suci yang berasal dari

Persia Kuno, India dan Romawi. Jauh seb elum              Miskawih,    pemeluk

Hindu Vendata telah menghayati doktrin fundamental filsafat peren-

nial dalam istilah Sanatana Dharma “agama abadi ” . Doktrin sem acam

itu juga ditemukan dalam tradisi Yunani Kla sik,                   terutama    dalam

formulasi filsafat Plato. Sedangkan dalam dunia Kristen banyak

ditemukan pada tulisan mistikus Jerman dan teolog Kristen                   Meiter

Eckhart. Dalam dunia Islam yang semacam dengan filsafat perennial

ban yak ditemukan dalam karya -karya kaum sufi.

Inti pandangan filsafat perennial adalah bahwa dalam setiap

agama dan tradisi esoterik terdapat suatu pengetahuan dan pesan

keagamaan yang sama , yang muncul melalui beragam nama, beragam

bentuk yang dibungkus oleh sistem-sistem formal institusi keagamaan.

Kesamaan itu diistilahkan dengan transc endent         unity of religions (ke-

satuan transenden agama-agama) (Sukidi, 1997). Maka, pada tingkat

th e COl/ill/on vision,  (kata Huston Smith) atau pacla tingkat transcen-

dent    (kata kaum perennialis) semua agama mempunyai kesatuan,

kalau tidak malah kesamaan gaga san clasar.

Dengan demikian cara berpikir filsafat telah sampai pacla pun-

cak ilmu yang dalam Islam sering disebut Ilmu Laduni. Sehingga tam-

pak bahwa ranah tasawuf sekalipun telah masuk clalam filsafat

perennial ini.

Namun jika kita telaah lebih jauh, tasawuf dan filsafat per ennial

atau para sufi clan filsuf (perennialis) memiliki dasar pijakan yang

berbeda. Perennialis berangkat dari filsafat metafisika pada konsepsi

kearifan tradisional. Sedangkan tasawuf            (para sufi) berangkat clari

syariat, yang melalui jalan thariqat untuk mencapai hakikat. Menurut

para sufi seseorang tidak akan dap at        melakukan pengembaraan spiri-

tual, jika ticlak climulai dari syariat. Logika filsuf aclalah seperti ling-

karan dengan satu titik ditengah lingkaran dengan garis radial

 

34

 

penghubung dari tiap sudut garis lingkaran ke titik tengah lingkaran,

dimana untuk mencapai titik tengah filsuf melalui garis-garis radial

yang merupakan j alur-ja lur        thariqat.    Sedangkan filsafat perennial

dapat digambarkan seperti gelas kaca atau mutiara yang mendapat satu

sinar dan kemudian sinar itu berpendar (divergen) menjadi beberapa

sinar lain yang berwam a-wam i, dimana satu sinar tersebut           menggam-

barkan sinar Tuhan dan        sinar yang berwama-wami         adal ah  kearifan

tradisional yang ada pada masing-masing agama. Tugas filosof disini

adalah menelusuri  sinar-sinar  tersebut untuk mencapai satu sinar

utama yakni sinar T uhan.

Sufi menggunakan  kasyf  (intuisi)  untuk mencapai Realitas

Mutlak sedangkan filosof mas ih mengguna kan       logika hermen eutik.

Kasyf akan  lahir dan muncul dari saat kerja rasio dilakukan dengan

membebaskan rasio dar i mekan isme bendawi (Burckha rdt,           1984: 127-

Hubungan reali tas bendawi dan ruhani bisa dipahami dalam

model mutasi benda ke energi (idea) , dimana cahaya (energi) adalah

fungsi dan bisa   muncul  dari suatu benda fisik yang digerakkan

menyentuh partike l udara dengan     kecepatan tertentu (Mulkhan, 2004).

Kasyf adalah suatu bentuk   kerja   intelek atau   rasio  melalu i suatu

mekanisme yang disebut oleh  Suhraward i              akti vitas           Iiudlu ri (Yazd i,

1994). Dengan demikian kasyfbukanlah metode yang tiba-tib a muncul

tanpa kerja intelek, tetapi merupakan hasil dari kerja intelek atau rasio

itu sendiri. Dala m bahasa yang berbeda, kasyf adalah hasil evolusi-

kontinu intelek atau rasio ketika menempatkan seluruh          tingkat penge-

tahuan tentang realitas lebih rendah yang diperoleh sebelurnnya dalam

kesatuan sintetik baru (Rahman , 2000 : 3 14-3 15).

 

 

 

 

 

 

 

BABV

ASPEK ONTOLOGI, NILAI ETlKA

DAN LOGlKA DALAM HUKUM

 

 

A. PENGERTIAN HUKUM

 

Hakikat hukum dapat dijelaskan dengan cara memberikan suatu

definisi tentang hukum. Sampai saat ini menurut Apeldoom sebagai-

mana dikutipnya dari Immanuel Kant, para ahli hukum masih mencari

tentang apa definisi hukum     (Noch suchen die juristen eine Definition

zu ihrem BegrifJe von Recht).  Definisi tentang hukum yang dikemuka-

kan para ahli hukum sangat beragam, bergantung dari sudut mana

mereka melihatnya. Ahli hukum Belanda J. van Kan (1983) mendefi –

nisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan

yang bersifat memaksa, yang melindungi kepentingan-kepentingan

orang dalam masyarakat. Pendapat tersebut mirip dengan definisi dari

Rudolf van Jhering yang menyat akan bahwa hukum adalah kese1uruh-

an norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara.

Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana

orang harus berperilaku. Pendapat ini didukung oleh ahli hukum Indo-

nesia Wirjono Projodikoro (1992) yang menyatakan bahwa hukum

adalah rangkaian peraturan mengenai      tingkah laku orang-orang

sebagai anggota suatu masyarakat, sedangkan satu-satunya tujuan dari

hukum ialah menjamin keselamatan, kebahagiaan dan tata tertib

masyarakat itu. Se1anjutnya O.  Notohamidjojo (1975) berpendapat

bahwa hukum adalah keseluruhan peraturan yang tertulis dan tidak

tertulis yang biasanya bersifat memaksa untuk kelakuan manusia

dalam masyarakat negara serta antar negara, yang berorientasi pada

dua asas yaitu keadilan dan daya guna, demi tata tertib dan damai

 

 

 

 

da1am masyarakat.

 

36

 

37

 

keempat, yaitu norma hukum. Menurut Sudikno Mertokusumo (1991)

 

Definisi-definisi tersebut menggambarkan betapa luas sesung-

guhnya hukum itu. Keluasan bidang hukum itu dilukiskan oleh

Pumadi Purbaearaka dan Soerjono Soekanto (1986) dengan menyebut

sembilan arti hukum. Menurut mereka hukum dapat diartikan sebagai:

(1) ilmu pengetahuan, yaitu pengetahuan yang tersusun seeara siste-

matis atas dasar kekuatan pemikiran; (2) disiplin, yaitu suatu sistem

ajaran kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi; (3) norma,                yaitu

pedoman atau patokan sikap tindak atau perilakuan yang pantas atau

diharapkan; (4) tata hukum, yaitu struktur dan proses perangkat nor-

ma-norma hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu

serta berbentuk tertulis; (5) petugas, yaitu pribadi-pribadi yang meru-

pakan kalangan yang berhubungan dengan penegakan hukum               (Iaw-

enforcement officer);        (6) keputusan penguasa ,          yaitu hasil proses

diskresi;    (7) proses pemerintahan, yaitu proses hubungan timbal balik

antara unsur-unsur pokok dari sistem kenegaraan; (8) sikap tindak-

tanduk atau perikelakuan “teratur”, yaitu perikelakuan yang diulang-

ulang dengan eara yang sama yang bertujuan untuk meneapai ke-

damaian; dan (9) jalinan nilai-nilai, yaitu jalinan dari konscpsi-

konsepsi abstrak tentang apa yang dianggap ba ik           dan buruk. Dengan

demikian apabila kita ingin mendefinisikan hukum seeara memuas-

kan, kita harus dapat merumuskan suatu kalimat yang meliputi paling

tidak sembilan arti hukum itu. Suatu pekerjaan yang tidak mudah!

Walaupun hukum dapat didefinisikan menurut sekian banyak

pengertian ,    tetapi seeara umum hukum dipandang sebagai norma,

yaitu norma yang mengandung nilai-nilai tertentu. Jika kita batasi

hukum dalam pengertian sebagai norma, tidak lalu berarti hukum

identik dengan norma. Norma adalah pedoman manusia dalam ber-

tingkah laku. Dengan demikian, norma hukum hanyalah salah satu

saja dari sekian banyak pedoman tingkah laku itu.

Di luar norma hukum terdapat norma-norma lain. Purbaearaka

dan Soekanto (1989) menyebutkan ada empat norma, yaitu (I)         keper-

eayaan; (2) kesusilaan; (3) sopan santun; dan (4) hukum. Tiga norma

yang disebutkan dimuka dalam kenyataannya belum dapat mernberi-

kan perlindungan yang memuaskan sehingga diperlukan norma yang

penyebabnya adalah: (1) masih ban yak kepentingan-kepentingan lain

manusia yang memerlukan perlindungan, tetapi belum mendapat per-

lindungan dari ketiga norma sosial tersebut; (2) kepentingan-kepen-

tingan manusia yang telah mendapat perlindungan dari ketiga norma

sosial tersebut belum eukup terlindungi,                 karena dalam hat terjadi

pelanggaran, reaksi atau sanksinya dirasakan belum eukup memuas-

kan. Sebagai eontoh ,       norma kepereayaan tidak memberikan sanksi

yang dapat dirasakan seeara langsung didunia ini. Demikian pula jika

norma kesusilaan dilanggar, hanya akan menimbulkan rasa malu atau

penyesalan bagi pelakunya, tetapi dengan tidak ditangkap dan diadili –

nya pelaku tersebut, masyarakat mungkin akan merasa tidak aman.

Perlindungan yang diberikan oleh norma hukum dikatakan lebih

memuaskan  dibandingkan dengan norma-norma yang lain, tidak lain

karcna pelaksanaan norma hukum dikatakan lebih memuaskan diban-

dingkan dengan norma-norma yang lain, tidak lain karena pelaksanaan

norma hukum itu dapat dipaksakan. Apabila tidak dilaksanakan, pada

prinsipnya akan dikenakan sanksi oleh penguasa. Di sini terlihat

betapa erat hubungan antara hukum dan kekuasaan itu.

Kekuasaan yang dimiliki itupun terbatas sifatnya sehingga

norma hukum yang ingin ditegakkannya pun memiliki daya jangkau

yang terbatas. Kcndati demikian, bukan tidak mungkin terdapat nor-

ma-norma hukum yang berlaku universal dan abadi (tidak dibatasi

oleh ruang dan waktu), yang oleh sebagian ahli hukum disebut dengan

hukum kodrat atau hukum alam. Dari sini timbul hubungan yang erat

antara hukum kodrat dengan hukum positif.

Dari sekian banyak definisi yang ada, menurut Paul Seholten

ada beberapa eiri-eiri hukum, sebagaimana dikutip oleh              A.  Gunawan

Setiardja (1990: 79-90) yaitu:

1. Hukum adalah aturan perbuatan manusia. Dengan demikian

menurut ahli hukum, tatanan hukum adalah hukum positif yang

dibuat oleh pemerintah dan pemerintah adalah sumber hukum

 

2. Hukum bukan hanya dalam keputusan, melainkan                        dalam

 

38

 

realisasinya.     Menurut Prof. Padmo Wahyono, S.H., hukum

yang berlaku dalam suatu negara mencerminkan perpaduan

sikap dan pendapat pimpinan pemerintah dan masyarakat

mengenai hukum tersebut.

 

3.   Hukum ini mewajibkan. Apabila hukum positif telah ditetapkan

maka  setiap warga negara wajib untuk menaati hukum sesuai

dengan undang-undang.

 

4. Institusionali hukum. Hukum positif merupakan hukum institu-

sional dan melindungi masyarakat.

 

5. Dasar hukum. Setiap hukum mempunyai dasar, yaitu mewajib-

kan    dan    mengharuskan.      Pelaksanaannya     dengan     ideologi

bangsa.

 

 

 

B. HUKUM DAN UNDANG-UNDANG NEGARA

 

Ada banyak pengertian ten tang hukum, namun jika kita defini-

sikan hukum dalam tata hidup masyarakat modern tentu akan lebih

mudah mendefinisikannya. Tentu saja pengertian hukum zaman

modern dengan zaman primitif akan berbeda, meskipun secara hakiki

pengertiannya adalah sama. Jika filsafat berusaha mencari makna yang

hakiki dari suatu fenomena, maka sudah seharusnya disini kita mampu

mencari makna yang hakiki dari hukum itu sendiri,                melewati ruang

dan waktu, modern maupun prirnitif

Para antropolog menekankan hal ini .           Leopold Pospisil misal-

nya, mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa

suatu masyarakat yang tidak merniliki peraturan-peraturan             yang abs-

trak dianggap sebagai masyarakat tanpa hukum.              Menurut Prospisil

pengawasan sosial merupakan unsur inti dari hukum. Ciri mendasar

dari fenomena yang termasuk dalam ‘kategori konseptual ini adalah

bahwa gejala itu haruslah merupakan pengawasan sosial yang melem-

baga (Ihromi , 1984: 92-99).

 

39

 

Bila kita menghadapi bentuk-bentuk hukum yang             aktual   pada

zaman modem ini,      kita sampai pada keyakinan bahwa hukum           yang

mempunyai arti yuridis yang sungguh-sungguh adalah hukum yang

ditentukan oleh pemerintah suatu negara, yaitu und ang-undang (Huij –

bers ,   1995: 40). Hal ini jelas dalam kenyataan bahwa peratur an-

peraturan yang berlaku dalam lembaga non -negara,                 membutuhkan

peneguhan dari negara supaya berlaku sungguh-sungguh              secara yuri-

dis . Sebagaimana halnya hukum adat hanya dipandang seb agai hukum

yang sah ,   bila terdapat pengakuan oleh negara kepad a          warga   negara

yang akan menggunakan hukum adatnya tersebut.

 

 

C. KEBERLAKUAN HUKUM

 

Perbedaan antara peraturan yuridis dan tidak yuridis            digambar-

kan secara tepat oleh H.L.A Hart (1979). Hart meny atakan                   bahwa

suatu negara tidak boleh disarnakan dengn           negara po lisi dan kaidah-

kaid ah  hukum suatu negara tidak boleh disamakan dengan                 seperti

perintah    seorang perampok yan g        dapat   memaks a orang lain untuk

meny erahkan  harta yang dimiliki        agar diserahkan kepada       perampok

tersebut, jika tidak akan dikenakan sanksi          (gunman    situation). Men u-

rut Hart sejauh dipandang dari lua r pengertian Au stin ten tang hukum

tepat,   sebab memang      benar bahwa perintah-perintah yang dise but

hukum dikeluarkan oleh seseorang yang berkuasa dan biasanya ditaati,

namun sesungguhnya ada aspek lain yang tidak diperhatikan oleh

Au stin , yaitu aspek intern. Aspek intern untuk menta ati suatu aturan

. hanya dapat dimiliki oleh orang-orang                yang hidup pada w ilayah

dimana peraturan terse but berlaku. Sebaliknya aspek intern tidak akan

dirasakan oleh        orang-orang yang hidup dilu ar wi laya h dimana

peraturan ters ebut diberlakukan. Orang-orang yang hidup dal am suatu

wilyah tertentu menerima hukum yang ditetapkan sebagai huk um

mereka dan mer eka       merasa terikat      padanya sebab ditentukan       oleh

pemerintah sendiri.

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa hukum yang

sesungguhnya     adalah hukum yang legal           atau sah.     Bila    peraturan-

 

 

40

 

peraturan ditentukan oleh suatu instansi yang berwenang, dalam hal

ini pemerintah yang sah, dan ditentukan menurut kriteria yang berlaku

maka peraturan-peraturan tersebut bersifat sah atau legal dan mem-

punyai kekuatan yuridis              (validity).    Oleh karena itu hal ini berbeda

dengan kebiasaan yang tidak berlaku secara yuridis, karena tidak

memenuhi aspek legalitas.

Menurut Sudikno Mertokusumo, agar suatu peraturan perun-

dang-undangan dapat berlaku efektif dalam masyarakat harus memi-

liki kekuatan berlaku. Ada tiga macam kekuatan berlaku, yaitu kekuat-

an berlaku filosofis, sosiologis dan yuridis. Undang-undang memiliki

kekuatan yuridis apabila persyaratan formal terbentuknya undang-

undang telah terpenuhi. Sedangkan undang-undang memiliki kekuatan

berlaku secara sosiologis apabila undang-undang tersebut berlaku

efektif sebagai sebuah aturan-aturan dalam kehidupan masyarakat

serta dapat dilaksanakan. Kekuatan berlakunya hukum secara sosiolo-

gis di dalam masyarakat ada dua macam (Mertokusumo, 1996: 87):

I. Menurut teori kekuatan         (/Ilachtstheorie)        hukum berlaku secara

sosiologis j ika dipaksakan berlakunya oleh penguasa .

 

2. Menurut teori pengakuan ianerkennungstheoriei hukum berlaku

secara sosiologis jika diterima dan diakui masyarakat.

Hukum memilki kekuatan berlaku filosofis apabila kaedah hukum

tersebut sesuai dengan cita-cita hukum               (rechtsidee) suatu bangsa.

Agar berfungsi, maka kaedah hukum harus memenuhi ketiga unsur

tersebut sekaligus.

Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa suatu peraturan ber-

si fat legal? Menurut Hart ada dua cara untuk menjawabnya:

 

 

1. Membedakan Dua Jenis Kaidah Hukum

 

Kaidah hukum terbagi menjadi dua bagian, kaidah primer dan

kaidah sekunder. Kaidah primer, yaitu kaidah yang menentukan kela-

kuan orang. Kaidah primer disebut petunjuk pengenal (rules of recog-

nition),  sebab kaidah ini menyatakan manakah hukum yang sah.

 

41

 

Kaidah sekunder, yaitu kaidah yang menentukan syar.at bagi berlaku-

nya kaidah primer. Kaidah ini juga yang merupakan syarat bagi

perubahan kaidah primer       (rules of change), dan bagi dipecahkannya

konflik (rules ofadjudication).

Van Oer Vlies membahasakannya sebagai asas formal dan asas

material. Asas formal, terkait dengan prosedur pembuatan peraturan

perundang-undangan. Dimulai dari tahap persiapan pembuatan per-

aturan perundang-undangan dan motivasi dibuatnya suatu peraturan

perundang-undangan. Asas formal meliputi:

a.   Asas tujuan yang jelas, terkait dengan sejauh man a peraturan

perundang-undangan mendesak untuk dibentuk.

 

b. Asas organ/lembaga yang tepat, terkait dengan kewenangan

lembaga pembentuk peraturan perundang-undangan dengan

materi muatan yang dimuat didalamnya.

 

c. Asas perlunya pengaturan, terkait dengan perlunya suatu ma-

salah       tertentu       diatur       dalam       suatu       peraturan         perundang-

undangan.

 

d. Asas dapat dilaksanakan, terkait dcngan penegakkan suatu per-

aturan perundang-undangan. Jika tidak dapat ditegakan maka

suatu peraturan perundang-undangan akan kehilangan fungsi

dan tujuannya serta menggerogoti kewibawaan pembentuknya.

 

e. Asas konsensus,           yaitu kesepakatan antara rakyat dengan pem-

bentuk peraturan perundang-undangan, karena peraturan perun-

dang-undangan     terse but    akan    diberlakukan kepada rakyat.

Sehingga pada saat diundangkan masyarakat siap.

Yang kedua adalah asas materiil, yaitu terkait dengan substansi

suatu peraturan perundang-undangan. Asas materiil meliputi:

a. Asas terminologi dan sistematika yang benar, terkait dengan

bahasa hukum/perundang-undangan. Yaitu bisa dimengerti oleh

orang awam, baik strukuktur maupun sistematikanya.

 

42

 

b.   Asas dapat dikenali, yaitu dapat dikenali jenis dan bentuknya.

 

c. Asas per lakuan yan g sama dalam hukum.

 

d.   Asas kepastian hu kum.

 

e. Asas pelaksanaan hukum sesu ai dengan keadaan indi vidu .

 

 

2. Stufenbau Theorie

 

Teori ini dikembangkan oleh beberapa                 pemikir    antara   lain

Merkl, Hans Kelsen dan H.L.A Ha rt . Pada                  intinya teori ini dima ksud –

kan untuk menyusun suatu               hier arki    norma-no rma       sehingga     berlapis-

lapis dan berjenjang-jenj ang. Suatu peraturan                    baru   dapat diakui secara

legal, bila tidak bertentangan dengan peraturan-per atu ran yang be rlaku

pada suatu j enjang         yang   lebih tinggi.        Seluruh     sistem    hukum mempu-

nyai struktur piramidal, mulai dari yang           abstrak (ideologi negara dan

UUD) sampai yang konkrit (UU dan peraturan pelaksanaan).                          Menurut

Hans Nawiasky     da lam”Theorie      von Stufenbau     des Rechtsordnung”

ada empat kelompok penj enjangan perundang -und ang an:

1. Norma dasar (grundnorm).            Norma    dasar negara      dan hukum

yang meru pa kan landasan akhir bagi       peraturan-peraturan lebih

lanjut.

 

2.   Aturan-aturan dasar negara atau konstitusi,            yang menentukan

norma-norm a yang menjamin berlansungnya negara dan pen-

jagaan hak-hak    anggota masyarakat. Aturan      ini bersifat umum

dan tidak  meng andung sanksi, maka tidak termasuk perundang-

undangan.

 

3.   Undang-und ang formal yang di dalamnya telah masuk sanksi-

sanksi   dan   diberl akukan   dalam rangka mengatur lebih lanjut

ha l-hal yang dimuat dalam undang-undang dasar.

 

4.   Peraturan-peratura n       pelaksanaan       dan      peraturan-peraturan

otonom.

 

43

 

Di dalam sistem perundang-undangan          dikenal adanya hierarki

(kewerdaan atau urutan). Ada peraturan yang lebih tinggi dan ada per-

aturan yang lebih rendah. Perundang-undangan suatu negara merupa-

kan suatu sistem yang tidak menghendaki atau                             membenarkan atau

membiarkan adanya pertentangan atau konflik di dalamnya.                              Jika ter-

nyata ada pertentangan yang terjadi            dalam suatu sistem peratur an

perundang-undangan maka salah satu dari keduanya                           harus    ada    yang

dimenangkan dan ada yang dikalahkan. Menurut             uu No .  10  tahu n

2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dalam

pasal 7 ayat (1) disebutkan jenis dan hierarkhi Peraturan Perundang –

undangan adalah sebagai berikut:

1. UUD 1945

 

2. Undang-Undang            (UU)/Peraturan          Pemerintah         Pengganti

Undang-Undang (Perpu)

 

3. Peraturan Pemerintah (PP)

 

4.   Peraturan Presiden

5.   Peraturan Daerah (Perda)

Bagi peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan

peraturan yang lebih tinggi, maka dapat dilakukan Judi cial Review (uji

yang diajukan melalui gugatan dan keberatan kepada Mah-

kmah Konstitusi dan Mahkamah Agung. Seperti disebutkan dalam

Pasal 24C UUD 1945 bahwa Mahkamah Konstutusi berwenang

mengadili tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final

untuk menguji Undang-Undang terhadap Und ang-Undang                    Dasar.

Sedangkan Mahkamah Agung sebagaimana tercantum dalam Pasal

24A ayat (1) redaksi berwenang menguji peraturan perundang-

undangan di bawah Undang-Undang terhadap Undang-Undang.

Ada beberapa asas yang mendasari pengaturan kedudukan

masing-masing peraturan perundang-undangan,                Menurut Sudikno

Mertokusumo, setidaknya ada 3 asas (adagium) dalam tata urutan

peraturan perundang-undangan: Asas lex s up eriori iderogat legi infe

riori, Asas lex specialis derogate legi generali, dan Asas lex posteriori

 

 

44

 

derogat legi priori    (Mertokusumo, 1996: 85-87).

Asas   lex superiori derogat legi inJeriori berarti peraturan yang

lebih tinggi akan melumpuhkan peraturan yang lebih rendah. Jadi jika

ada suatu peraturan yang lebih rendah bertentangan dengan peraturan

yang lebih tinggi, maka yang digunakan adalah peraturan yang lebih

tinggi tersebut. Asas       lex specialis derogate legi generali berarti pada

peraturan yang sederajat, peraturan yang lebih khusus melumpuhkan

peraturan yang umum. Jadi dalam tingkatan perundang-undangan

yang sederajat yang mengatur mcngenai materi yang sama , jika ada

pertentangan diantara keduanya maka yang digunakan adalah per-

aturan yang lebih khusus. Asas         lex posteriori derogat                 legi priori  ber-

arti pada peraturan yang sederajat, peraturan yang paling baru melum-

puhkan peraturan yang lama. Jadi peraturan yang telah diganti dengan

peraturan yang baru, secara otomatis dengan asas ini peraturan yang

lama tidak berlaku lagi.

Di samping itu ada asas lain yang perlu diperhatikan dalam

prinsip tata urutan peraturan perundang-undangan            seperti dikemuka-

kan oleh Bagir Manan, yaitu :

1). Dalam tata urutan peraturan perundang-undangan ada ketentuan

umum bahwa setiap peraturan perundang-undangan harus me-

miliki dasar hukum pada peraturan perundang-undangan yang

lebih tinggi tingkatannya; peraturan perundang-undangan yang

lebih    rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan per-

undang-undangan yang lebih tinggi ,           dimana peraturan perun-

dang-undangan yang lebih rendah dapat dituntut untuk dibatal-

kan, bahkan batal demi hukum.

 

2). Isi atau materi peraturan perundang-undangan tingkatan lebih

 

45

 

peraturan perundang-undangan atau kebijakan maupun tindakan

pemerintah lainnya, terhadap peraturan perundang-undangan

yang lebih tinggi tingkatannya atau tingkat yang tertinggi yaitu

Undang-Undang Dasar.

 

 

 

D. HUKUM SEBAGAI NORMA

 

Yang dimaksud hukum bersifat normatif yaitu apabila peme-

rintah yang sah mengeluarkan peraturan menurut perundang-undangan

yang berlaku, peraturan tersebut ditanggapi sebagai norma yang

berlaku secara yuridis, yaitu peraturan tersebut terasa mewajibkan

sedemikian rupa sehingga orang yang tidak mematuhi peraturan dapat

dituntut hukuman melalui pengadilan.

Memahami hukum sebagai norma berarti juga memahami

hukum sebagai sesuatu yang seharusnya               (das Sol/en).  Memahami

hukum sebagai      das Sol/en  berarti juga menginsyafi bahwa hukum

merupakan bagian dari kehidupan kita yang berfungsi sebagai pedo-

man yang harus diikuti dengan maksud supaya kehidupan kita diatur

sedernikian rupa sehingga hak-hak dan kewajiban-kewajiban orang

dibagi sebagaimana mestinya. Bila hukum diakui sebagai norma,

maka hukum harus ditaati. Hukurn ditaati bukan karena terdapat suatu

kekuasaan di belakangnya,         melainkan karena mewajibkan itu ter-

masuk hakikat hukum itu sendiri . Ini juga bermakna bahwa jika suatu

peraturan tidak ditaati atau banyak dilanggar, bukan berarti kekuatan

peraturan tersebut sebagai norma hilang. Selain itu banyaknya pelang-

garan-pelanggaran terhadap peraturan yang ada, bukan berarti juga

membawa kita pada kesimpulan untuk meniadakan suatu peraturan,

 

rendah tidak boleh menyimpangi atau bertentangan dengan

karena sekali lagi hukurn

mengatur apa yang seharusnya (das

 

peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, yang dibuat

Sol/ell)

bukan proposisi tentang sesuatu yang terjadi             (das Sein).

 

tanpa wewenang           (onbevoegheid)     atau melampaui wewenang

tdetournement de pouvoir),        dan untuk menjaga dan menjamin

prinsip tersebut agar tidak disimpangi atau dilanggar, maka

terdapat mekanisme pengujian secara yudisial atas                       setiap

Oleh karena itu pemyataan ini harus dibalik dengan pemyataan

adanya norma/hukum/eus     Sol/en/atllran tentang apa yang seharusnya

saja masih terjadi banyak pelanggaran, apalagi jika tidak ada.

Hans Kelsen (1881-1973) mendefinisikan yurisprudensi sebagai

 

46

 

pengetahuan akan norma-norma. Dengan istilah nonna-nonna ia me-

mahami sebuah pertimbangan hipotesis yang menyatakan bahwa

melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan tertentu akan diikuti

oleh suatu tindakan memaksa dari negara. Barangsiapa seeara tidak

sah mengambil suatu benda bergerak milik orang lain, suatu norma

berarti bahwa dalam situasi tertentu negara akan melakukan pemak-

saan untuk berperilaku tertentu. Hukum merupakan suatu sistem yang

dibagi ke dalam norma-norma pemaksaan semaeam itu; esensinya

merupakan sebuah tatanan memaksa yang datang dari luar (Boden-

heimer, 1967: 100).

Fungsi pengundangan (legislasi) adalah untuk menentukan isi

norma. Norma umum dan menyediakan organ-organ dan prosedur-

prosedur (pengadilan dan pengadilan-pengadilan administratif) bagi

pelaksanaan norma-norma ini. Alat dalam proses mengkonkretkan

norma-norma adalah kekuatan yudisial, yang dilaksanakan oleh peng-

adilan-pengadilan dan peradilan-peradilan administratif. Otoritas ke-

putusan pengadilan menentukan apakah dan dalam eara apa suatu

norma umum harus diaplikasikan ke dalam kasus konkret.

Hukum menurut Kelsen merupakan sebuah teknik khusus orga-

nisasi sosial. Ciri khas hukum bukan sebagai suatu tujuan akhir tetapi

sebagai alat khusus, sebagai sebuah alat pernaksaan yang dengan

demikian tidak ada nilai politik atau etik menempel, sebuah alat yang

nilainya timbul lebih dari sekedar tujuan yang melebihi hukum itu

(Bodenheimer, 1967: 101). Jadi kemungkinan hukum alam seeara

kategoris ditolak oleh Kelsen.

 

 

E. HUKUM DAN KEADILAN

 

1. Konsep Keadilan

Berbieara mengenai keadilan, kiranya perlu meninjau berbagai

teori para ahli. Salah satunya adalah Plato. Muslehuddin di dalam

bukunya   Philosophy of Islamic Law and Orientalists,   menyebutkan

pandangan Plato sebagai berikut:

 

47

 

In his view, justice consists in a harmonious relation, between

the various parts of the social organism . Every citizen       must do his

duty in his appointed place and do the thing for which his nature is

best suited (Muslehuddin, 1986 : 42).

Dalam mengartikan keadilan, Plato sangat dipengaruhi                                 oleh

eita-eita kolektivistik yang memandang keadilan sebagai hubungan

harmonis dengan berbagai organisme sosial. Setiap warga negara

harus melakukan tugasnya sesuai dengan posisi dan sifat alamiahnya.

Pendapat Plato tersebut merupakan pemyataan kelas,                                  maka

keadilan Platonis berarti bahwa para anggota setiap masyarakat harus

menyelesaikan pekerjaan masing-rnasing dan tidak boleh meneampuri

urusan anggota kelas lain. Pembuat peraturan harus menempatkan

dengan jelas posisi setiap kelompok masyarakat di mana dan situasi

bagaimana yang eoeok untuk seseorang. Pendapat tersebut berangkat

dari asumsi dasar bahwa manusia bukanlah suatu jiwa yang terisolir

dan bebas melakukan apa saja yang dikehendakinya,            tetapi manu sia

adalah jiwa yang terikat dengan peraturan dan tatanan universal yang

harus menundukkan keinginan pribadinya kepada organik kolektif.

Dari sini terkesan pemahaman bahwa,           keadilan dalam kon sep

Plato sangat terkait dengan peran dan fungsi individu dalam masyara-

kat. 1dealisme keadilan akan tereapai bila dalam kehidupan semua

unsur masyarakat berupa individu dapat menempatkan dirinya pada

proporsi masing-rnasing dan bertanggung jawab penuh terhadap tugas

yang diemban, selanjutnya tidak dapat meneampuri urusan dan tugas

kelompok lain. Kesan lainnya adalah Plato membentuk manusia dalam

kotak-kotak kelompok (rasis),           peran suatu kelompok tidak dapat

menyeberang ke kelompok lain. Keadilan hanya akan terwujud mana-

kala manusia menyadari status sosial dan tugasnya sebagai delegasi

kelompoknya sendiri.

Lain halnya dengan Aristoteles, menurutnya keadilan berisi

suatu unsur kesamaan, bahwa semua benda-benda yang ada di alam

ini dibagi seeara rata yang pelaksanaannya dikontrol oleh hukum.

Dalam pandangan Aristoteles keadilan dibagi menjadi dua bentuk.

Pertama, keadilan distributif, adalah keadilan yang ditentukan oleh

 

48

 

pembuat un dang-undang,    distribusinya memuat jasa, hak, dan kebaik-

an bagi anggota-anggota masyarakat menurut prinsip kesamaan pro-

porsiona!.      Kedua,   keadilan korektif, yaitu keadilan yang menjamin,

mengawasi dan memelihara distribusi                  ini melawan serangan-serangan

ilega!. Fungsi korektif keadilan pada prinsipnya diatur oleh hakim dan

menstabilkan kembali            status quo    dengan cara mengembalikan milik

korban yang bersangkutan atau dengan cara mengganti rugi atas mi lik –

nya yang hilang (Muslehuddin,       1991: 36).

Aristoteles dalam mengartikan keadilan sangat dipengaruhi oleh

unsur kepemilikan benda tertentu. Keadilan ideal dalam pandangan

Aristoteles adalah ketika semua unsur masyarakat mendapat bagian

yang sama dari semua benda yang ada di alam. Manusia oleh             Aristo-

teles dipandang sejajar dan mempunyai hak yang sama atas kepernilik-

an suatu barang (materi).

Pandangan Aristoteles tersebut di satu sisi ditolak oleh seorang

filsuf Kontemporer William K. Frankena, pandangan

tentang keadilan sebagai pembagian sama rata adalah s isi             yang dito-

lak, sedangkan pandangan yang diterima Frankena adalah keadilan

merupakan distribusi barang, akan tetapi distribusi yang adil bukan

hanya distribusi sama rata, akan tetapi berbeda dalam keadaan tertentu

juga merupakan     keadilan,   Pendapat Frankena selengkapnya       sebagai –

mana dikutip Feinberg:

Like most other      write rs,  Frankena    begins   b)’ accepting Aris-

totle ‘s formal principle ofj ustice, that           relevantly similar cases shou ld

be treated similarly,       bu t  Frankena    devotes    more attention     than  Aris-

totle did to      the selection      of a    material principle of distrib ution.           He

ag rees  with   Aristotle    that the essence of distrib utive            of injustice is

arb itrary     discrimination       between      relevan tly     similar     cases,     but

disagree over which characteristics are relevantly similar and which

discrim inations     are arbitrary, aligning himself with Aristotle                    old

adversaries,   the equalitarian democrats (Feinberg (ed)., 1975: 214).

Sedangkan   Herbert Spencer mengartikan keadi lan adalah kebe –

basan. Setiap    orang bebas   melaku kan apa yang   ia inginkan asal tidak

men ggan ggu orang      lain (Muslehuddin, 199 1: 36). Pandangan                ini

49

 

sangat kontras bila      dihadapkan dengan pandangan Plato.         Kebebasan

individualis adalah sesuatu yang sangat dihindari oleh Plato,                 semen-

tara Herbert Spencer sebaliknya, keadilan justru berangkat dari kebe-

basan individu.       Sedangkan kesamaannya terletak pada pengertian

tidak dapat mengganggu kepentingan orang lain. Artinya, kebebasan

individu yang ditawarkan oleh Spencer tetap pada asumsi bahwa

manusia hidup berdampingan dengan manusia lain, sehingga setiap

tindakan harus mengacu pada dua pertimbangan, yaitu pertimbangan

kepentingan pribadi dan kepentingan orang lain sebagai bentuk per-

hatian kolektif.

Kelsen adalah tokoh yang berusaha mereduksi sejumlah teori

keadilan menjadi dua pola dasar, Rasional dan Metafisik. Tipe rasio-

nal sebagai tipe yang berusaha menjawab pertanyaan tentang keadilan

dengan cara mendefinisikannya dalam suatu po la ilmiah atau quasi-

ilmiah. Dalam memecahkan persoalan keadilan tipe rasional berlan-

daskan pada aka!’ Pola ini diwaki li          oleh Aristoteles . Sedangkan tipe

Metafisik merupakan realisasi sesuatu yang diarahkan ke dunia lain di

ba lik  pengalaman manusia. Pola in] diwaki li          oleh Plato.    Dalam   pa n-

dangan Dewey keadilan tidak dapat didefinisikan, ia merupakan

idealisme yang tidak rasional (Muslehuddin, 1991: 37).

Menurut John Rawls kebebasan : dan kesamaan merupakan

unsur yang menjadi bagian inti teori keadilan. Rawls menegaskan

bahwa kebebasan dan kesamaam seharusnya tidak dikorbankan demi

manfaat sosial atau ekonomi, betapapun besarnya manfaat yang dapat

diperoleh dari sudut itu. Rawls percaya bahwa sua tu perlakuan yang

sama bagi semua anggota masyarakat yang terakomodasi da lam

keadi lan   formal atau juga disebut keadilan regulatif, sesungguhnya

mengandung pengakuan akan kebebasan dan kesamaan bagi sem ua

orang (Rawls, 1971: 59).

Teori keadilan Rawls yang disebut prinsip -prinsip                      pertarna

keadilan itu ,beli o lak dari sua tu konsep keadi lan            yang   lebih   umum

yang dirumuskannya sebagai berikut:

All social valuesliberty and opportunity, income and wealth,

and the bases ofself-respect-rare to be distributed equally unless and

 

50

 

unequal distribution of any, or all, of these      values is to everyone ‘s

advantage (Rawls, 1971: 62).

Ada dua hal yang penting dapat dicatat sehubungan dengan

konsep ” keadilan umum tersebut. Pertama,             kebebasan ditempatkan

sejajar dengan nilai-nilai lainnya, dan dengan itu juga konsep umum

keadilan tidak memberi tempat istimewa terhadap kebebasan. Hal ini

berbeda dengan konsep keadilan Rawls yang berakar pada prinsip hak

dan bukan pada prinsip manfaat. Kedua , keadilan tidak selalu berarti

semua orang harus selalu mendapatkan sesuatu dalam jumlah yang

sama; keadilan tidak selalu berarti semua orang harus diperlakukan

secara sama tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan penting yang

secara objektif ada pad a setiap individu; ketidaksamaan dalam distri-

busi nilai-nilai sosial selalu dapat dibenarkan asalkan kebijakan itu

ditempuh demi menjamin dan mernbawa manfaat bagi semua orang.

Rawls memberikan tempat dan menghargai hak setiap orang untuk

menikmati suatu hidup yang layak sebagai manusia, termasuk mereka

yang paling tidak beruntung.

Berlandaskan dari prinsip umum tersebut di atas , Rawls meru-

muskan kedua prinsip keadilan sebagai berikut:

First, each person      is to have     an   equal right    to the    most

extensive  basic liberty compatible with similar liberty        for others;

Second, social and economic inequlities are to   be range so that they

are both (a) reasonable expected to be to every one’s advantage, and

(b) attached to positions and offices ope n to all (Rawls , 1971: 60)

Menurut Rawls, kekuatan dalam keadilan dalam arti              Fairness

justru terletak pada tuntutan bahwa ketidaksamaan dibenarkan sejauh

juga memberikan keuntungan bagi semua pihak dan sekaligus me m-

beri prioritas pada kebebasan. Ini merupakan dua tun tutan dasar yang

dipenuhi dan dengan demikian juga membedakan secara tegas konsep

keadilan sebagai       Fairness  dari teori-teori yang dirumuskan dalam

napas intuisionisme dalam cakrawala teologis.

Untuk terjaminnya efektivitas dari kedua prinsip keadilan itu,

Rawls menegaskan bahwa keduanya harus diatur dalam suatu tatanan

yang disebutnya     serial order. Dengan pengaturan seperti itu, Rawls

 

51

 

menegaskan bahwa hak-hak serta kebebasan-kebebasan dasar tidak

dapat ditukar dengan keuntungan sosial dan ekonomis. Ini berarti

prinsip keadilan yang kedua hanya bisa mendapat tempat dan diterap-

kan apabila prinsip keadilan yang pertama telah dipenuhi. A rtinya

penerapan dan pelaksanaan prinsip keadilan yang kedua tidak boleh

bertentangan dengan prinsip keadilan yang pertama. Dengan demikian

hak-hak dan       kebebasan-kebebasan dasar dalam konsep keadilan

memiliki priroritas utama atas keuntungan sosial dan ekonomis.

Soekanto menyebut dua kutub citra keadilan yang harus mele-

kat dalam setiap tindakan yang hendak dikatakan sebagai tindakan

adil.    Pertama ,                Namin em    Laedere,          yakni “jangan merugikan orang

lain”, secara luas azas ini berarti              Apa yang anda tidak ingin alami,

janganlah menyebabkan orang lain mengalaminya”.                 Kedua , Suum

Cuique Tribuere, yakni “bertindaklah sebanding”. Secara luas azas ini

berarti “Apa yang boleh anda dapat, biarkanlah orang lain berusaha

mendapatkannya” (Soekanto, 1988: 28). Azas pertama merupakan

sendi   equality yang ditujukan kepada umum sebagai azas pergaulan

hidup. Sedangkan azas kedua merupakan azas          equity yang diarahkan

pada penyamaan apa yang tidak berbed a dan membedakan apa yang

memang tidak sama.

Di balik pengertian keadilan ter sebut,          para filsuf hukum kema-

syarakatan telah merumuskan teori keadilan tidak dalam istilah-istilah

yang mutlak, tetapi berkaitan dengan peradaban. Nietzsche memahami

keadilan sebagai kebenaran dari orang yang kuat. Sementara Hobbes

mengemukakan konsep yang lain tentang keadilan. Keadilan adalah

apabila perjanjian dilaksanakan sebagaimana mestinya (Muslehuddin,

1991: 170). Lain lagi pendapat Dewey (Muslehuddin, 1991 :78), bagi-

nya keadilan tidak dapat digambarkan dalam pengertian yang terbatas.

Keadilan adalah kebaikan yang tidak berubah-ubah, bahkan persaing-

an adalah wajar dan adil dalam kapitalisme kompetitif-individualistik.

Akhirnya Freidmann (Muslehuddin, 1991 :79) mengomentari, bahwa

kegagalan standar keadilan se lama ini adalah akibat kesalahan standar

dasar pembentuk keadilan itu. Standar keadilan yang mutlak adalah

keadilan dengan dasar agama.

Prinsip keadilan barn dapat dikatakan bersifat universal jika

 

 

52

 

dapat meneakup semua persoalan keadilan sosial dan individual yang

 

53

 

konsep prinsip keadilan menjadi sangat majemuk karena bisa ber-

 

muneul. Universal dalam penerapannya mempunyai

tun tutan-

bentuk konsep teologis, konsep etis, konsep hukum, konsep politik,

 

tuntutannya harus berlaku bagi seluruh anggota masyarakat. Dapat

diuniversalkan dalam               harus menjadi prinsip yang universalitas

penerimaannya dapat dikembangkan seluruh warga masyarakat. Agar

dapat dikernbangkan dan membimbing tindakan warga masyarakat,

maka prinsip-prinsip tersebut harus dapat diumumkan dan dimengerti

setiap orang. Masalah keadilan muneul ketika individu-individu yang

berlainan mengalami kontlik atas kepentingan mereka, maka prinsip-

prinsip keadilan harus mampu tampil sebagai pemberi keputusan dan

penentu akhir bagi perselisihan masalah keadilan. Prinsip keadilan

yang dapat diterima seluruh masyarakat akan menjadi prinsip keadilan

yang bukan sekedar lahir dari kata “setuju”, tetapi benar-benar meru-

pakan jelmaan kesepakatan yang mengikat dan mengandung isyarat

komitmen menjaga kelestarian prinsip keadilan tersebut. Dengan

demikian seseorang kemudian mempertimbangkan “biaya psikologis”

yang harus ditanggung dalam memenuhi kompensasi kesepakatan

pengikat gerak sosial dan individual terse but.

Konsep keadilan, bahkan konsep kepastian dan kebenaran akan

selalu berevolusi, oleh karena itu keadilan harus mampu melakukan

interaksi sirkular dengan perkembangan ilmu-ilmu lain, antara lain

teologi, ideologi, dan teknologi. Perkembangan keadilan di Barat

misalnya, konsep keadilan yang pad a mulanya sifatnya                            mytologica I,

pada masa ini keadilan hanya terdapat pada para dewa. Aristoteles dan

Plato kemudian mengembangkan konsep keadilan tersebut menjadi

intelektual-rasional. Keadilan kemudian dikaitkan dengan institusi dan

kolektifitas kehidupan manusia.

Perubahan konsep keadilan dari waktu ke waktu lebih banyak

terjadi pada dataran operasional, sedangkan sifatnya selalu statis dan

politis. Dari konsep perubahan dan dengan berpegang pada konsep

“hak” kemudian dikembangkan diferensiasi jenis keadilan. Tantangan

utama dalam pembentukan prinsip keadilan di zaman sekarang ini

adalah bagaimana meneari eelah di antara benturan liberalisme dan

sosialisme,      terutama     yang    menyangkut      perkembangan ekonomi,

sehingga keadilan menjadi erat kaitannya dengan ekonomi. Artinya

konsep sosiologis, dan konsep ekonomi.

 

 

2. Hukum dan Keadilan

Tujuan akhir hukum adalah keadi lan.         Oleh karena itu, segala

usaha yang terkait dengan hukum mutlak harus diarahkan untuk

menemukan sebuah sistem hukum yang paling coeok dan sesuai

dengan prinsip keadilan. Hukum harus terjalin erat dengan keadilan,

hukum adalah undang-undang yang adil, bila suatu hukum konkrit,

yakni undang-undang bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan,

maka hukum itu tidak bersifat normatif lagi dan tidak dapat dikatakan

sebagai hukum lagi. Undang-undang hanya menjadi hukum bila

memenuhi prinsip-prinsip keadilan. Dengan kata lain, adil merupakan

unsur konstitutif segala pengertian tentang hukum (Huijbers, 1995:

70).

Sifat adil dianggap sebagai bagian konstitutif hukum adalah

karena hukum dipandang sebagai bagian tugas etis manusia di dunia

ini, artinya manusia wajib membentuk hidup bersama yang baik

dengan mengatumya secara adil. Dengan kata lain kesadaran manusia

yang timbul dari hati nurani tentang tugas suei pengemban misi

keadilan secara spontan adalah penyebab mengapa keadilan menjadi

unsur konstitutif hukurn. Huijbers menambahkan alasan penunjang

mengapa keadilan menjadi unsur konstitutifhukum:

A.  Pemerintah negara manapun selalu membela tindakan dengan

memperlihatkan keadilan yang nyata di dalamnya

 

B. Undang-undang yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ke-

adilan seringkali dianggap sebagai undang-undang yang telah

usang dan tidak berlaku lagi .

 

C. Dengan bertindak tidak adil, suatu pemerintahan sebenamya

bertindak di luar wewenangnya yang tidak sah seeara hukum.

54

 

Konsekuensi pandangan kontinental sistem tentang nilai keadil-

an: hukum adalah undang-undang yang adil , adil merupakan unsur

konstitutif dari segala pengertian hukum, hanya peraturan yang adil

yang disebut hukum:

a. hukum melebihi negara .     Negara (pemerintah) tidak boleh

membentuk hukum yang tidak adil. Lebih percaya pada prinsip-

prinsip moral yang dimuat dalam undang-undang dari pada

kebijaksanaan manusia dalam bentuk putusan-putusan hakim.

 

b. sikap kebanyakan orang terhadap hukum mencerminkan pe-

ngertian hukum ini, yaitu hukum sebagai moral hidup (norma

ideal).

 

c.  prinsip-prinsip pembentukan hukum (prinsip-prinsip keadilan)

bersifat etis, maka hukum sebagai keseluruhan mewajibkan

secara batiniah.

Ungkapan tersebut sejalan dengan komentar Khan (1978:7),

Professor and Head Department of Political Science Univesity of

Sind:

Every    state has undertaken           to eradicate the scourges of

 

55

 

tindakan kekerasan belaka (Huijbers, 1995: 71).

Dalam bidang hukum, keadilan menjadi tugas hukum atau

merupakan kegunaan hukum. Keadilan yang menjadi tugas hukum

merupakan hasil penyerasian atau keserasian antara kepastian hukum

dengan kesebandingan hukum. Secara ideal kepastian hukum meru-

pakan pencerminan azas tidak merugikan orang lain, sedangkan kese-

I bandingan hukum merupakan pencerminan    azas bertindak sebanding.

Oleh karena keserasian antara kepastian hukum dengan kesebandingan

hukum merupakan inti penegakan hukum, maka penegakan hukum

sesungguhnya dipengaruhi oleh:

a. Hukum itu sendiri

 

b.  Kepribadian penegak hukum

 

c. Fasilitas kesadaran dan kepatuhan hukum masyarakat

 

d. Taraf kesadaran dan kepatuhan hukum masyarakat

 

e. Kebudayaan yang dianut masyarakat (Soekanto, 1988:

29).

Penegakan hukum bukan tujuan akhir dari proses hukum karena

 

ignorance disease, squalor, hunger and

type of injustice

keadilan belum tentu tercapai dengan penegakan hukum, padahal

 

among its citizens so that everybody may pursue a happy life in a

way .

Dari ungkapan tersebut tergambar sebuah pengertian, bahwa

tujuan akhir hukum berupa keadilan harus dicapai melalui sebuah

institusi legal dan independen dalam sebuah negara. Hal tersebut

menunjukkan pentingnya mewujudkan keadilan bagi setiap warga

negara (manusia) sebagai orientasi hukum. Terutamasetelah perang

dunia kedua, seringkali akibat pengalaman pahit yang ditinggalkan

kaum Nazi yarig menyalahgunakan kekuasaannya untuk membentuk

undang-undang yang melanggar norma-norma keadilan, makin banyak

orang yang sampai pada keyakinan bahwa hukum harus berkaitan

dengan prinsip-prinsip keadilan    ,untuk dapat   dipandang sebagai

hukum. Bila tidak, maka hukum hanya pantas disebut sebagai

tujuan akhimya adalah keadilan . Pemyataan di atas merupakan isyarat

bahwa keadilan yang hidup di masyarakat tidak mungkin seragam.

Hal ini disebabkan keadilan merupakan proses yang bergerak di antara

dua kutub citra keadilan. Naminem Laedere semata bukanlah keadilan,

demikian pula Suum Cuique Tribuere yang berdiri sendiri tidak dapat

dikatakan keadilan. Keadilan bergerak di atara dua kutub tersebut.

Pada suatu ketika keadilan lebih dekat pada satu kutub, dan pada saat

yang lain, keadilan lebih condong pada kutub lainnya.

Keadilan yang mendekati kutub Naminem Laedere adalah pada

saat manusia berhadapan dengan bidang-bidang kehidupan yang ber-

sifat netral. Akan tetapi jika yang dipersoalkan adalah bidang kehidup-

an spiritual atau sensitif, maka yang disebut adil berada lebih dekat

dengan kutub   Suum Cuique Tribuere.   Pengertian tersebut meng-I

 

56

 

isyaratkan bahwa hanya melalui suatu tata hukum             yang adil orang-

orang dapat hidup dengan damai menuju suatu          kesejahteraan jasmani

maup un ro hani.

Para  sarj ana Inggris dan Amerika dalam memegang prinsip ke-

adilan     lebih banyak diwarnai deng an filsafa t                      emp irisme dan prag-

matisme.      Pada intinya pandangan ini beranggapan                      bahwa kebenaran

berasal    dari penga laman       dan praktek hidup.          Karenanya yang diutama-

kan dalam menangani hukum adalah hubungan                      dengan realitas hidup,

bukan dengan prinsip-prinsip abstrak tentan g kead ilan. Oleh karena itu

adil dan tidak adil tidak       terpengaruh    oleh pen gerti an    tentang hukum,

tetapi lebih banyak diwarn ai oleh realitas pragmatis. Konsekuensi

pandangan ini adalah:

1. Pada prinsipnya       hukum tidak melebi hi      negara (yang dianggap

sama  dengan rakyat) .    Hukum adalah    sarana  pemerintah untuk

mengatur masyarakat secara adi!, tidak ada instansi yang lebih

tinggi     dari   hukum.    Karena kemu ngkinan       dari ketidakadilan

tetap  ada, diharapkan   bahwa dalam    praktik hukum keyakinan-

keya kinan  rakyat dan kebijaksanaan      para hakim menghindari

penyimpangan yang terlalu besar.

 

2. Hukum     adalah apa yang berlaku      de fa cto.         dan itulah akhirnya

tidak lain daripada keputusan hakim dan juri rakyat. Sementara

rakya t  juga menyadari bahwa hukum tak lain dari apa yang

telah ditentukan .

 

3. Menurut aliran emp irisme,         hukum sebagai sistem tidak rnew a-

ji bkan   secara batiniah, sebab tidak dipandang sebagai bag ian

tugas   etis manusia. Hukum harus ditaati sebab ada sanksi bagi

pelanggaran      berupa     hukuman,     sedangkan     ketaatan    secara

batiniah     lebih banyak        di sebabkan    oleh keyakinan agama

(Huijbers,    1995: 70).

Seoran g   filsuf hukum Amerika Latin Louis Recasens Siches

mengatakan   bahwa di satu sisi kepastian dan keamanan merupakan

tuj uan primer   dan mendesak bagi hukum, di lain sisi keadilan haru s

diusahakan oleh para pembuat hukum sebagai tujuan akhir yang           lebih

 

57

 

jauh.    Hukum tidak      dilahirkan untuk manusia karena alasan ingin

memberikan upeti atau penghormatan kepada teori keadilan, tetapi

untuk memenuhi urgensi yang               tidak    bisa dihindarkan bag i          keamanan

dan kepastian kehidupan              sosia!. Pertanyaan tentang sebab musabab

. manusia membuat hukum tidak dijawab dalam struktur teori keadilan,

akan tetapi dalam sebuah               nilai yang lebih rendah,              keamanan adalah

sesuatu yang lebih coc ok bagi manusia (Muslehuddin, 1991: 38) .

Bodenheimer (Muslehuddin,        1991:38) mengatakan, “ada kera-

guan serius”, apakah sistem sosial yang memenuhi syarat-syarat ke-

pastian aturan    atau hukum bisa      efektif tanpa kehadiran unsur yang

substansial yaitu keadilan. Jika                 rasa keadilan sebagian besar masya –

rakat dihina dan diperkosa oleh sebuah sistem yang mengaku hukum

untuk menegakkan kondisi-kond isi                hidup yang sesuai dengan aturan,

maka otoritas publik akan mengalami kesulitan dalam menjaga sistem

hukum melawan usaha-usaha subversif.

Or ang-orang       tidak akan bertahan lama menghadapi                           sebua h

tatanan yang mereka rasa sama sekali tidak sesuai dan tidak masuk

aka!. Pemerintah yang memp ertahankan           aturan semacam itu akan

terjerat dalam kesulitan-kesul itan       serius dalam pelaksanaannya. Arti-

nya ,   sebuah tatanan yang            tidak    berakar      pada    keadilan sama arti nya

dengan bersandar pada landasan yang tidak aman dan berbahaya.

Sebagaimana diungkapkan John Dickinson “Ki ta            tidak hanya    mem-

butuhkan sebuah sistem peraturan umum yang bercampur baur, tetapi

aturan    yang berdasarkan         pada prinsip keadilan” (Muslehuddin, 1991:

38).

 

 

F. KEADILAN MENURUT FILSAFAT HUKUM ISLAM

 

1. Ruang Lingkup Hukum Islam

Membicarakan hukum Islam berarti berbicara Islam itu send iri,

sebab memisahkan antara hukum Islam dengan Islam adalah                              ses uatu

yang mustahil, selain hukum Islam itu bersumber dari agama Islam,

hukum Islam juga tidak dapat dipisahkan dari iman dan kesusilaan

 

 

58

 

(akhlak). Sebab ketiga komponen inti ajaran Islam yakni iman,

hukum, dan akhlak adalah satu rangkaian kesatuan yang membentuk

agama Islam itu sendiri (Ali, 1996: 18).

Setelah mengkristal menjadi Islam dan diturunkan ke muka

bumi, maka Islam menjadi                   rahmatan      1iI   ‘dlamin      yang mencakup

seluruh aspek kehidupan. Aspek kehidupan itu sendiri terdiri atas tiga

bagian pokok      (Cardinal Subject Matter)          yaitu Tuhan      (Theology),

manusia   (Anthrophology), dan alam       (Cosmology).     Kumpulan ajaran-

ajaran pokok Islam tersebut terangkum – baik tersurat maupun tersirat-

dalam al-Quran dan Hadis yang membentuk sebuah ajaran tentang

Islam yang lazim disebut            ‘aqidah.  Akhimya akidah juga terbagi

menjadi tiga bagian, akidah tentang Tuhan, akidah tentang manusia,

dan akidah tentang alam. Selama ini pemahaman tentang akidah

dibatasi pada bagian        tauliid   menyangkut Tuhan, Malaikat, Rasul,

Kitab, Takdir, dan hari kiamat, padahal akidah menyangkut totalitas

masalah ten tang ke-Tuhanan , ke-alaman, dan kemanusiaan.

Akidah ten tang Tuhan adalah ekspresi teoritik yang berwujud

 

59

 

demikian apa yang dimuat dalam al-Quran kaitannya dengan hubung-

an hubungan keseimbangan temyata jauh lebih luas dari anggapan

selama ini, bahwa hubungan keseimbangan hanyalah pelayanan

sesama manusia untuk manusia lainnya (Sabiq, 1996: 28).

Dari proses aktualisasi ajaran Islam kemudian melahirkan nilai,

nilai ini yang umum dikatakan ibadah, maka ibadah-pun kemudian

terbagi ke dalam tiga kategori. Ibadah kepada Tuhan, ibadah melalui

manusia, dan ibadah lewat alam.          Ibadah kepada Tuhan adalah nilai

pengabdian yang secara langsung dijalankan berdasarkan tuntunan

akidah syariat, sedang ibadah melalui manusia adalah nilai yang

terkandung dalam pelayanan kepada sesama manusia.

Pelayanan yang telah berbentuk nilai ibadah, menjadi nilai yang

berhubungan langsung antara manusia dengan Tuhan, dan nantinya

kembali juga kepada manusia. Sedangkan ibadah lewat alam adalah

nilai yang terkandung dalam pelayanan terhadap alam (lingkungan

hidup), nilai ini juga menjadi nilai yang berguna bagi manusia dalam

hubungannya dengan Tuhan, dan nantinya kembali kepada manusia

 

keyakinan   (faith)  atau pemikiran

tentang Tuhan, sedangkan

juga baik dalam konteks kehidupan dunia maupun kehidupan sesudah

 

akidah tentang manusia yakni ekspresi teoritik yang berwujud keya-

kehidupan dunia (akhirat).

 

kinan

atau pemikiran

ten tang manusia, dan akidah

Akidah, muamalah, dan ibadah adalah gerakjiwa raga manusia.

 

tentang alam adalah ekspresi teoritik yang berwujud keyakinan (faith)

atau pemikiran     (thought)   tentang alam ,    selain alam manusia sendiri

(Sabiq, 1996: 25). Ikatan akidah terse but perIu diaktualisasikan dalam

tindakan nyata yang biasa disebut muamalah. Muamalah bukanlah hal

yang hanya bertalian antara manusia dengan manusia, tetapi seluruh-

nya dijangkau, yakni muamalah terhadap Tuhan, muamalah terhadap

manusia, dan muamalah terhadap alam.

Muamalah terhadap Tuhan, yakni ekspresi sosiologik yang

berwujud pelayanan terhadap kehendak Tuhan di alam ini, yang

sasarannya adalah manusia juga, muamalah terhadap manusia adalah

ekspresi sosiologik yang berwujud pelayanan terhadap sesama manu-

sia, sedangkan muamalah terhadap alam adalah ekspresi sosiologik

yang berwujud pelayanan terhadap alam, dan sasarannya adalah

manusia juga. Dengan kata lain al-Quran membawa ajaran yang

memuat aspek-aspek jasa terhadap Tuhan, alam dan manusia. Dengan

Sebagai muslim, keseluruhan gerak jiwa raga tersebut diatur dengan

suatu perangkat yang disebut hukum Islam. Meyakini Islam berarti

terikat dengan hukum Islam itu sendiri, sedangkan hukum Islam hanya

akan berwujud manakala hukum tersebut diterapkan               (tanjidz)    oleh

perneluk-pemeluknya        dengan      dorongan      batin     yang     kuat     (As-

Shiddieqy, 1993: 153).

Tatanan keseimbangan tersebut bersifat supranatural dan amat

mendukung kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam kehidupan

sehari-hari, dengan sifat gandanya; universal dan abadi. la tetap sama

untuk segala zaman dan untuk semua orang. Jakson, sebagaimana di

kutip Muslehuddin (1991, 48) mengungkapkan:

Hukum Islam menemukan sumber utamanya pada kehendak

Allah sebagaimana diwahyukan kepada Nabi Muhammad. la mencip-

takan sebuah masyarakat mukmin, walaupun mereka mungkin terdiri

 

60

 

atas berbagai suku dan berada di wilayah yang amat jauh terpisah.

Agama, tidak seperti       nasionalisme atau geografi, merupakan kekuatan

kohesif utama . Negara itu sendiri berada di bawah                  (subordinate)     al-

Quran, yang memberikan ruang gerak sempit bagi pengundangan

tambahan, tidak untuk dikritik maupun perbedaan pendapat. Dunia ini

hanya dipandang sebagai ruang depan bagi orang lain dan sesuatu

yang lebih baik bagi orang yang beriman. Al-Quran juga menentukan

aturan-aturan bagi      tingkah laku menghadapi orang-orang lain maupun

masyarakat untuk menjamin sebuah tradisi yang aman . Tidak mungkin

memisahkan teori -teori       politik dan keadilan dari ajaran-ajaran Nabi

yang menegaskan aturan-aturan tingkah laku , baik mengenai kehidup-

an beragama,       keluarga ,   sosial dan politik. Ini menimbulkan hukum

tentang      kcwajibankcwajiban daripada             hak-hak,     kewajiban moral

mengikat individu, dari mana tidak (otoritas bumi yang) bisa mernbe –

bastugaskannya,      dan orang yang tidak mentaati akan merugikan

kehidupan masa mendarang”.

Selama ini sepertinya orang sepakat bahwa hukum hanya

mengatur urusan manusia dengan manusia yang lain dan hukum baru

ada setelah adanya manusia , yang berarti pula hukum hanya ada dalam

masyarakat manusia dan seolah-olah hukum di luar masyarakat

manusia tidak pernah ada . Akan tetapi kalau kita mempunyai pendapat

bahwa hukum itu mempunyai fungsi mengurus tata tertib masyarakat,

maka tentu kita harus pula mengakui bahwa setiap masyarakat yang di

dalamnya  terjadi tata tertib adalah diatur oleh hukum. Berarti hukum

ada dalam masyarakat yang di dalamnya tcrdapat tata tertib. Apabila

kita memberikan arti kepada kata masyarakat          sebagai suatu keadaan

berkumpul bersarna-sarna        dalam suatu tcmpat yang tertentu dan

menjalankan fungsinya masing-masing, maka keadaan bermasyarakat

itu bukan saja terjadi pad a masyarakat manusia, tetapi juga pada

seluruh masyarakat yang maujud ini. Ada masyarakat benda mati,

masyarakat tumbuh-tumbuhan, masyarakat binatang, dan masyarakat

yang lebih luas yaitu masyarakat tata surya.

Dalam masyarakat tersebut di atas terlihat adanya tata tertib.

Hukum   Archimedes dalam ilmu fisika menunjukkan adanya hukum

masyarakat benda mati,          yang mengatur tata           tertib benda cair,

 

61

 

Beragamnya tumbuh-tumbuhan yang hidup di daerah dan iklim yang

berlainan        menunjukkan          adanya       hukum       tumbuh-tumbuhan,            yang

mengatur tata tertib flora. Adanya          unta di padang pasir dan adanya

kerbau terse bar di seluruh dun ia          adalah tanda adanya hukum yang

mengatur tata tertib fauna. Timbulnya matahari setiap pagi disebelah

timur dan terbenam di sebelah barat,              menunjukkan    adanya hukum

dalam perputaran dan peredaran bumi , yang mengatur tata tertib tata

surya (Abdoerraoef, 1998: 3).

Pengertian di atas menunjukkan bahwa ada tata tertib di luar

masyarakat manusia. Hukum menurut al-Quran jauh lebih luas                 dari

pada hukum yang diartikan oleh sebagian besar ahli hukum selama ini .

Orang Barat memberikan istilah pada hukum yang mengatur               seluruh

gerak dan tata tertib benda mati dan hidup sebagai                     Natural Law

(Nashr,    1981: 12), dan dalam Islam discbut Sunnatullah.      Sunnatullah

adalah ketentuan-ketentuan      atau hukum-hukurn Allah yang berlaku

untuk alam semesta yang menjadi sebab keserasian hubungan antar

benda yang ada di dalamnya termasuk manusia (Ali ,          1996: 20). Akan

tetapi ada perbedaan antara hukum yang ada dalam masyarakat

manusia dcngan hukum di luar masyarakat manusia. Pcrbedaan itu

ditimbulkan oleh berbedanya objek yang diatur oleh hukum itu

masing-masing. Benda mati dan tumbuh-tumbuhan tidak memiliki

pengalaman psikis, karena kedua makhluk ini memang tidak mern-

punyai alat untuk terbentuknya pengalaman psikis. Walaupun bina-

tang nampak memiliki alat untuk membentuk pengalaman psikis,

seperti otak dan susunan syaraf,          akan tetapi tingkah lakunya sudah

ditentukan oleh naluri        (instinc).    Seekor burung tidak perlu mencari

pengalaman dan belajar untuk membuat sarangnya, tumbuh-tumbuhan

tidak perlu belajar dan mencari pengalaman bagaimana caranya

tumbuh dan berkernbang. Karena tidak adanya unsur alat untuk men-

jadikan pengalaman psikis, maka untuk alam masyarakat benda mati,

tumbuhan, dan hewan Allah menjadikan hukum bagi mereka tidak

berubah-ubah (konstan).

Manusia sebagai subyek sekaligus objek hukum Islam meme-

gang peranan sentral dalam aktualisasi hukum Islam yang selalu mem-

perhatikan bentuk keseimbangan di segala bidang, bukan hanya

 

 

62

 

keseimbangan antara hubungan manusia dengan manusia, tetapi lebih

jauh dari itu keseimbangan antara manusia den gan                       alam, dan manusia

dengan Tuhan. Hukum Islam dikatakan meny angkut              seluruh aspek

yang maujtid didasarkan pada asumsi bah wa ke seimbangan yang ada

di seluruh alam adalah tata tertib hukum All ah SWT (sunnatullah)

yang wajib diyakini kebenarannya.

Dengan dasar pengertian di ata s, sunnatu llah menjadi penting

untuk ditelaah, bagairnana bentuk keseimbangan itu, hubungan bagai-

man a yang dapat menjaga keseimbangan . M empelajari sunnatullah tak

beda pentingnya dengan mempelajari hukum ,                karena sunnatullah

sendiri adalah hukum. Akan tetapi, manusia                  bagaimanapun tetap

dibatasi oleh sifat       insdniyyahtvye;   sehingga banyak hal yang terkait

dengan sunnatullah tidak mampu ditelaah,           akhirnya ada sunnatullah

yang tetap menjadi misteri sampai hari kiamat. Agar tujuan tersebut

dapat tercapai ,      tentulah manusia harus patuh dan taat terhadap

peraturan-peraturan yang telah ditentukan oleh hukum itu. Lantas

timbul pertanyaan,     bagaimana agar orang Islam mau patuh terhadap

hukum Islam, dan menjadikannya sebagai way oflife.

Kepatuhan seseorang terhadap hukum dipengaruhi oleh dua

faktor.   Perta 111a,   faktor internal, ya itu        dorongan yang timbul dari

dalam diri manusia itu sendiri. Kedua , faktor ekstern al, yaitu dorongan

yang timbul sebab adanya pengaruh un sur dari luar diri manusia.

Faktor     internal     yang     mempengaruhi      kepatuhan     seseorang

terhadap hukum adalah jiwa orang itu sendiri. P ertanyaan           selanjutnya

adalah bagaimana mengatur jiwa seseorang                 agar mau mematuhi

hukum. Persoalan ini tentu tidak dap at            dibicarakan oleh hukum itu

sendiri, sebab hukum tidak mengatur perbuatan               orang secara batin

(jiwa) dan fikiran, hukum hanya mengatur perbuatan secara lahir saja.

Akan tetapi al-Quran mengatur perkembangan jiwa manusia, maka

berarti al-Quran memberikan dasar supaya hukum dipatuhi oleh

manusia berdasarkan kesadaran hukum dalam jiwanya.

Kesan yang timbul se lama ini sepertinya ilmu hukum membiar-

kan saja jiwa manusia berkembang apa adanya, tetapi di samping itu

menuntut pula supaya dalam jiwa manusia ada kesadaran untuk me-

matuhi hukum, mungkin kesan itu akibat renaissance yang membuat

 

63

 

manusia mabuk oleh kemerdekaan formil ,         sehingga manusia berbuat

dalam masyarakat den gan         kebe bas an penuh,      tidak perIu diatur.

. Akibatnya nafsu    menjadi raja gerak langkah manusia yang mendapat

kekuatan dari kekuasaan masyarakat.

Apabila    hawa nafsu manusi a     tidak diatur,     maka yang timbul

adalah kesewenang-wenangan, yang             kua t men indas      yan g   lemah

akibatnya kesejahteraan tidak akan     terwujud. Oleh sebab itu harus        ada

peraturan yang membawa hawa nafsu seseorang ke arah perkernbang-

an yang positif,       sehingga manusia mempunyai        jiwa yang tidak lagi

menindas pihak yang lemah hanya untuk memuaskan hawa nafsunya .

Artinya penanaman jiwa kesadaran mematuhi hukum yang ada harus

didahulukan sebelum dikenalkan pada hukum itu sendiri .

Di samping unsur jiwa, faktor lain yang mempengaruhi kepa-

tuhan seseorang terhadap hukum adalah faktor hukum dan akibat

pelanggaran hukum itu sendiri. Dengan kata lain, unsur di luar diri

manusia juga memerlukan perhatian serius. I-Iukum sebagai penyebab

kepatuhan eksternal harus disosialisasikan ke dalam jiwa manusia,

sehingga perternuan dua unsur kepatuhan hukum dapat melahirkan

tindakan yang sesuai dengan kehendak hukum, sebab pelanggaran

hukum mengakibatkan sanksi yang dengan kesadaran penuh berusaha

untuk dihindari.

 

 

2. Hukum Islam dan Keadilan

Dalam pandangan filsafat , tujuan akhir hukum adalah keadilan.

Kaitannya dengan hukum Islam,         keadilan yang harus dicapai mesti

mengacu pada pedoman pokok agama Islam, yaitu al-Quran dan

Hadis. Artinya tujuan keadilan melalui jalur hukum harus berawal dari

dua segi dan mengarah kepada keadilan dua segi pula. Dikatakan

berawal dari dua segi karena pedoman              Islam berupa al-Quran dan

Hadis di satu segi harus mampu menyatu              dengan pedoman prinsip

keadilan secara umum menurut pandangan manusia di lain segi . Tugas

awal yang kemudian dihadapi adalah upaya formulasi al-Quran dan

Hadis   –    khususnya    yang berkaitan dcngan hukum – agar mampu

tampil sesuai dengan prinsip keadilan secara              umum.   Perpaduan dua

 

 

64

 

segi ini diharapkan menj ad i produk st an dar pand uan     mencari keadilan

lewat jalur hukum. Pada akhimya p edom an tersebut mamp u menjadi

standar hukum universal            yang mampu       tampil di      m anapun    dan   kap an-

pun sesuai dengan    fitrah diturunkannya Islam ke muka b umi.

Maksud da ri      muara ke adilan dua segi adalah tujuan akh ir

berupa keadilan yang harus dicap ai oleh sebuah sistem hu kum univer –

sal mesti berorientasi       pada keadil an  terhadap manusia (makhluk ) dan

keadilan kep ada  Allah (kh a liq) . Keadilan bagi manusia me ngarah pad a

berbagai defini si       keadilan yang      bukan tidak mung kin antara satu

masyarakat manu sia      den gan   lainnya bcrbeda dalam mengartikan

keadilan hukum. Artinya            fleksibelitas      prod uk keadi lan mutlak         diperlu –

kan   dalam het erogenitas       manusia    d an lingkungannya, sedangkan

muara keadilan kep ada     Allah ad alah produk hukum yang          ada tetap

menempatkan All ah    scsuai   dengan   propo rsi-N ya sebagai T uhan , dan

kegiatan manu sia       dal am   upaya for mul asi tuj uan        hukum be ru pa keadil –

an juga tetap berada dalam koridor ibadah kepada-Nya.

Pendapat      sc maca m ini sejalan dengan ung ka pa n Fri edmann,

bahwa “selama standa r prin sip ke adil an tidak berpegang pada agama,

maka pedoman itu tid ak akan mencapa i titik ideal          prinsip   keadilan”.

Padahal sebuah prin sip             adalah standar          yang tidak        pemah     berubah .

Perubahan hanya ada pada tataran operasional yang me ng eliling inya.

Pengertian hukum Islam       y an g dcmikian   luas   dengan   b erb agai

hal    yang     terkait     dengannya     m enj ad i  singkat     dalam    ungkapan

MacDonald yan g        menyebut hukum Isla m adalah                “the   science   of  all

things,  human and devine”    (Mac Don ald ,   1965: 66).       Pandan gan

MacDonald tersebut merupakan kri stal isa si d ari sistem hukum Islam

yang mampu melihat     pluralitas sebaga i real itas emp iris . Plural di sini

bukan hanya manusia dalam bentuk hub unga ll garis horizontal , tetapi

plural yang menyangkut               hubungan hor izontal           dan vertikal. Isyarat

keadilan hukum yang dikehendaki Allah tertuan g d alam firman-Nya:

“Hai orang-orang      yang beriman,      hendaklah    kamu j adi    oran g-

orang yang      selalu    menegakkan      (kebcnaran) kare na Allah, menjadi

saksi dengan     adil. Dan janganlah sekali-kali             keb encianmu    terhadap

sesuatu kaum,      mendorong     kamu untuk      berlaku    tidak adil.      Berlaku

adillah, karena adil itu lebih dekat               kepada takwa. Dan        bertakwalah

65

 

kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yan g kamu

perbuat” (QS. Al Ma-idah: 8).

Ayat di atas turun berawal dari                  peristiwa yang menimpa

Nu’man Bin Basyir. Pada suatu ketika Nu’man             Bin Basyir     mendapat

suatu pemberian dari ayahnya, kemudian Umi Umrata binti Rawahah

berkata “Aku tidak akan ridha sampai peristiwa ini disaksikan oleh

Rasulullah”. Persoalan itu kemudian dibawa ke hadapan Rasulullah

SAW. untuk disaksikan.          Rasul kemudian berkata         “Apakah semua

anakmu mendapat pemberian yang sama?”               Jawab    ayah Nu ‘man

“Tidak”. Rasul berkata lagi “Takutlah          eng ka u kepada Allah dan ber –

buat adillah engkau kepada anak-anakrnu “.        Sebagian    perawi menye-

butkan , “Sesungguhnya aku tidak mau menj adi       saksi dalam kecurang-

an”. Mendengar jawaban itu lantas ayah Nu’man pergi dan me m-

batalkan pemberian kepada Nu ‘man (HR. Bukhari Muslim).

Esensi ayat tersebut di atas adalah se man gat menegakkan ke-

adilan kepada siapapun tanpa pandang bulu. Islam memiliki standar

keadilan yang mutlak dengan penggabungan norma dasar Ilahi dengan

prinsip dasar keadilan insani. Hukum diterapkan kepada semua orang

atas dasar persamaan, tidak dibedakan antara yang kaya dengan yang

miskin , antara kulit hitam dengan kulit putih, antara penguasa dengan

rakyat jelata. Keadilan hukum juga diterapkan dalam lapangan ke-

seimbangan kescjahteraan imbalan atas jasa,             dalam artian keseim-

bangan antara ‘hak dan kewajiban. Kehidupan majemuk dalam ma sya –

rakat menuntut keadilan ditegakkan dengan cara setiap individu

terpenuhi haknya , baik hak jasmani maupun hak rohani, material mau-

pun spiritual. Setiap individu berhak untuk mengekploitasi kemarn-

puan dan bakatnya bagi kepentingan pribadi dan masyarakatnya.

Keadilan dalam Islam m erupakan        pcrpaduan harmonis antara

hukum dengan moralitas, Islam tidak bertujuan untuk menghancurkan

kebebasan individu, tetapi mengontrol keb ebasan itu demi keselarasan

dan harmonisasi masyarakat yang terdiri dari individu itu sendiri.

Hukum Islam memiliki peran dalam mendamaikan pribadi dengan

kepentingan kolektif, bukan sebaliknya. individu diberi hak untuk

mengembangkan hak pribadinya d engan            syarat tidak mengganggu

 

 

 

 

kepentingan orang ban yak

 

66

 

67

 

dengan negara lain harus didasarkan pada prinsip k.ebersamaan dan

 

Syariat Islam adalah kode hukum dan kode moral sekaligus.

Syariat Islam merupakan pola yang luas tentang tingkah laku manusia

yang berasal dari otoritas kehendak Allah yang tertinggi, sehingga

garis pemisah antara hukum dan moralitas sama sekali tidak bisa

ditarik secara jelas seperti pada masyarakat Barat pada umumnya.

Itulah sebabnya mengapa kepentingan dan signifikansi semacam ini

melekat dalam pengambilan keputusan hukum dalam Islam (Djamil,

1997:154).

Dalam     meletakkan     aturan-aturan     universal      bagi perbuatan

manusia, Allah menjadikan norma dan moralitas hukum sebagai

landasannya (Syah, (ed)., 1992: 163). Dengan adanya standar moral

Islam itulah, maka lapangan pergeseran moral dalam Islam menjadi

sangat sempit. Artinya, pergerakan ke arah keburukan selalu dihadang

dari berbagai arah dengan standar aturan baik dan buruk menurut

hukum Islam.

Basyir (1984: 27-31) menganulir tujuan hukum Islam sebagai:

Pertama,    pendidikan pribadi, pendidikan pribadi dimaksudkan untuk

menjadikan individu sebagai manusia yang berguna bagi dirinya

sendiri dan masyarakatnya. Dicontohkan, orang yang menjalankan

puasa dididik pribadinya untuk menjadi orang yang mempunyai kepe-

kaan   sosial.     Kedua,     menegakkan keadilan, keadilan yang harus

ditegakkan meliputi keadilan pribadi, keadilan hukum, keadilan sosial,

dan keadilan dunia. Keadilan pribadi diartikan sebagai setiap individu

berkewajiban untuk memenuhi standar kebutuhan pribadinya, baik

yang menyangkut hak jasmaniah maupun ruhaniah. Hak jasmaniah

menyangkut hak atas pangan, sandang, dan papan yang memenuhi

standar kesehatan. Sedangkan hak ruhaniah meliputi pemenuhan

kebutuhan pendidikan, kebutuhan akan ajaran agama agar dipenuhi

sebagaimana mestinya. Keadilan hukum adalah keadilan setiap indi-

vidu di depan hukum. Setiap individu mempunyai hak dan kewajiban

yang sama di depan hukum. Sedangkan keadilan sosial berarti indi-

vidu sebagai anggota masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang

harus dipenuhi secara seimbang. Keadilan dunia merupakan keadilan

hubungan antar negara di dunia. Setiap negara dalam hubungannya

kesamaan hak dan kewajiban.

Ketiga,    memelihara kebaikan hidup, hukum Islam bertujuan

untuk mewujudkan kebaikan hidup hakiki, semua yang menjadi

kepentingan hidup manusia diperhatikan. Sedangkan kepentingan

manusia menuju hidup hakiki dibagi menjadi tiga hal:

a. Kepentingan esensial        (al-Mashdlih adh-Dharuriyalu,        yaitu ke-

pentingan yang mutlak dibutuhkan oleh manusia dalam hidup-

nya. Kepentingan itu meliputi kepentingan agama, kepentingan

memelihara jiwa, kepentingan memelihara harta, kepentingan

memelihara akal, dan kepentingan memelihara keturunan.

 

b. Kepentingan yang tidak esensial                (al-Maslidlih al-Hajiyyah),

yaitu kepentingan yang tidak esensial, akan tetapi dibutuhkan

manusia untuk menghindari         masaqqat.     Misalnya diperboleh-

kannya orang meninggalkan puasa dalam keadaan sakit dan

diperbolehkan        melakukan       perceraian        dalam      kehidupan

perkawinan yang tidak hannonis.

 

c. Kepentingan         pelengkap     ial-Maslrdlih      al-Katndliyahs,      yaitu

kepentingan yang apabila tidak terpenuhi tic1ak akan menim-

bulkan    mudliarat    bagi kehic1upan manusia apalagi merusak

kehidupan manusia. Misalnya mengenakan pakaian yang bagus

ketika pergi ke masjid, mengadakan walimah perkawinan, dan

lain-lain.

Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dari Yang Maha

Adil. kedaulatan hukum Islam adalah milik Allah semata:

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.

Maha Suci Allah, Tuhan semesta alarn” (QS. VII: 54).

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang

diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik

(QS. V: 47).

Kedaulatan Allah berada c1i atas seluruh definisi keclaulatan

yang telah dikemukakan manusia karena Allah merupakan kedaulatan

68

 

bagi seluruh alam dan manusia. Tidak ada kata kecuali Rabb yang bisa

meliputi pengertian kedaulatan Allah. la sebagai penguasa, pelindung,

pemberi harapan, pemberi rejeki , pengatur sekaligus penyernpuma.

Austin, sebagaimana dikutip Muslehuddin (1991: 46) memberi-

kan definisi hukum sebagai perintah dari yang berdaulat, hukum ada-

lah aturan yang ditentukan untuk membimbing manusia oleh manusia

itu sendiri.      Hukum ala Austin terpisah dari keadilan, hukum yang

dulunya berlandaskan baik dan buruk, sekarang diganti menjadi

hukum berdasarkan kekuasaan dari atasan.                            Pengertian ini meng-

isyaratkan bahwa hukum adalah perintah seorang Tiran. Akan tetapi

Allah bukanlah Tiran. Perintah Tuhan merupakan hukum positif, akan

tetapi tetap dalam koridor keadilan,          karena Allah Maha Adil, Maha

Kasih, dan Maha penyayang.

Hukum Islam sebagai jelmaan dari hukum Allah SWT, meru-

pakan perpaduan dari “apa” hukum itu dan “bagairnana” hukum itu

seharusnya. Dengan kata lain, hukum Islam, di samping hukum positif

juga hukum ideal, sebab hukum Islam memandang objek hukum Islam

bukan hanya manusia dengan segala persoalan yang ada di dalamnya.

Akan tetapi hukum Islam menjangkau seluruh aspek keseimbangan

sebagai salah satu unsur keadilan.

 

 

3. Hukum Islam dan Kemaslahatan

Pengetahuan tentang tujuan umum syar’i dalam pembentukan

suatu hukum merupakan hal terpenting untuk memahami nash dan

menerapkannya pad a berbagai kejadian. Pengetahuan tentang tujuan

umum syar ‘i    juga berfungsi untuk mengistimbathkan hukum dalam

permasalahan yang tidak ada nashnya. Kerena sering terjadi bahwa

suatu nash terkadang secara lahiriyah          seperti bertentangan, dan per-

soalan terse but hanya bisa diselesaikan jika kita mengetahui tujuan

umum syar ‘i    yaitu dengan menghilangkan pertentangan tersebut dan

membuat sintesis dari tesis-tesis dan anti tesis nash-nash tersebut atau

mentarjihkan salah satunya.       Nash-nash syar’i juga tidak akan dapat

dipahami dengan benar, jika kita tidak mengetahui maksud umum

.syar’i dalam pensyariatan hukum. Dernikian pula kita harus mengeta-

 

69

 

hui sebab-sebab turunnya suatu hukum terhadap kasus-kasus tertentu

yang terjadi saat itu . Tetapi untuk yang terakhir ini akan dijelaskan

dalam kitab tafsir,     asbabun nuzul     dan sunnah yang sahih. Setidaknya

ada tiga sasaran hukum Islam:

I.   Penyucianjiwa ttazkiyah an-natsy           ./

yaitu agar setiap muslim menjadi sumber kebaikan bagi masya-

rakat lingkungannya. Hal ini diimplementasikan dengan berba-

gai macam bentuk-bentuk ibadah mahdhoh yang disyari’atkan.

 

2. Keadilan sosial

hal ini berlaku baik bagi sesama muslim maupun dengan non

muslim. Firman Allah:         “Dan janganlah sekali-kali kebencian

terhadap suatu kaUlll,      mendorong kamu untuk berlaku tidak

add. Berlaku add lah, karena add itu lebih dekat kepada

taqwa” (al-Maidah:8).

 

3. Kemaslahatan

Maslahat yang dikehendaki Islam adalah maslahat yang hakiki,

dan bukan maslahat yang berdasarkan hawa nafsu. Akan tetapi

maslahat yang hakiki yang menyangkut kepentingan umum,

bukan kepentingan pihak tertentu saja. Maslahat ini mengacu

kepada pemeliharaan terhadap lima hal, yaitu memelihara

agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan (Zahrah, 1994: 543-

548).

Menurut Abdul Wahab Khalaf, tujuan umum syar’i dalam men-

syariatkan hukum-hukumnya ialah mewujudkan kemaslahatan manu-

sia dengan menjamin hal-hal yang         dharuri   (primer),    hajiyyat (sekun-

der), dan     tahsiniyat   (tersier).     Hal yang     dharuriy    ialah sesuatu yang

menjadi landasan berlangsungnya kehidupan manusia yang mesti ada

untuk konsistensi kemslahatan manusia. Apabila tidak ada, maka akan

rusaklah struktur kehidupan manusia, terjadi kekacauan, kerusakan

dan disharmony                                                             dalam kehidupan. Hal-hal yang dharury  bagi manusia

meliputi agama, jiwa, akal, kehormatan, dan harta kekayaan. Menjaga

kelima hal terse but merupakan hal yang dharury bagi manusia.

 

70

 

Hal yang hajiy     adalah sesuatu yang diperlukan manusia untuk

kelapangan dan keleluasaan terhadap beban taklif yang ditanggung-

nya.     Hajiy      mengacu kepada penghilangan kesulitan manusia dan

memberikan keringanan kepada manusia atas                               beban taklif yang

ditanggungnya dan mempermudah bagi manusia untuk melakukan

berbagai mac am perbutan dalam bidang muamalah. Sedangkan tahsini

adalah sesuatu yang dikehendaki oleh moral dan etika terhadap per-

buatan manusia.      Tahsiniy   mengacu pada akhlak yang mulia, adat

istiadat yang baik dan segala sesuatu yang dianggap baik terhadap

perilaku dan perbuatan manusia.

a. Kepentingan esensial (al-Mashdlih adh-Dhaniriyahj

Yaitu kepentingan yang mutlak dibutuhkan oleh manusia dalam

hidupnya. Kepentingan itu meliputi kepentingan agama, kepen-

tingan memelihara jiwa, kepentingan memelihara harta,            kepen-

tingan memelihara akal, dan kepentingan memelihara keturun-

an.

b. Kepentingan yang tidak esensial (al-Masluilih al-Hajiyyah)

Islam telah mensyariatkan hukum-hukum pada bidang tnuatna-

lah, jinayah    dan  ‘ibadah   yang bertujuan untuk menghilangkan

kesulitan dan memberikan kemudahan bagi manusia. Jadi di-

samping memberikan pembebanan (taklif),     islam juga memberi-

kan keringanan ketika bentuk-bentuk taklif tersebut tidak dapat

dilaksanakan secara penuh karena adanay kondisi atau keadaan

yang tidak memungkinkannya dilaksanakan perbuatan tersebut.

Dalam bidang ibadah, Islam memsyariatkan adanya            rukhshah

untuk memberikan keringanan kepada        mukallaf,   apabila terda-

pat kondisi yang memberatkan mereka. Bentuk rukhshoh terse-

but yaitu kebolehan untuk berbuka untuk orang yang sakit atau

berada dalam perjalanan, kebolehan untuk          mengqoshor     shalat

bagi orang yang bepergian, kebolehan untuk tayammum apabila

tidak ditemukan air, dan rukhshoh-rukhshoh lainnya.

Dalam bidang muamalah, Islam mensyariatkan             thalak   untuk

me1epaskan ikatan perkawinan ketika diperlukan, menghalalkan

 

71

 

bangkai binatang laut, dan memakan binatang yang diharamkan

jika dalam keadaan terpaksa. Sedangkan dalam bidangjinayat,

Islam mensyariatkan pembayaran                  diat    oleh pembunuh kepada

pihak dari keluarga yang dibunuh.

c. Kepentingan pelengkap (al-Mashdlih al-Kamdliyahy

Islam telah mensyariatkan hukum-hukum pada bidang muama-

lah, jinayah   dan   ‘ibadah yang bertujuan untuk      perbaikan dan

keindahan serta membiasakan manusia dengan perilaku yang

baik. Dalam bidang             muainalah,       Islam mensyariatkan bersuci

bagi badan, pakaian dan menutup aurat, tempat, dan menghin-

dari najis.

Dalam bidang            muamalah,        Islam mengharamkan penipuan,

tadlis   (menyembunyikan cacat),      taghrir,   berlebih-lebihan,         dan

melarang berlaku kikir. Islam melarang akad yang kauasa-nya

tidak halal atau mengandung najis atau mengandung bahaya.

Dalam bidang jinayat,       Islam mengharamkan membunuh para

pendeta, anak-anak dan kaum wanita dalam peperangan. Islam

melarang membunuh orang yang tidak bersenjata, membakar

orang mati atau hidup.

Para ulama ahli fiqh sepakat bahwa semua ajaran yang dibawa

oleh Islam mengandung maslahat yang nyata. Namun para ulama

berbeda pendapat mengenai keterkaitan antara hukum Islam dengan

maslahat, yaitu diawali dengan pertanyaan “apakah maslahat itu

mengikat hukum syara?” atau “apakah setiap hukum syara yang

diturunkan, mutlak mengandung maslahat?” Ada tiga golongan yang

mengemukakan pendapat yang berbeda:

1.   Golongan Asy’ariyah dan Zhahiriyah menolak bahwa hukum

Islam terkait dengan maslahat. Walaupun berdasarkan peneliti-

an yang dilakukan, menunjukkan bahwa semua hukum syara’

disyariatkan untuk kemaslahatan manusia .                          Menurut mereka

Allah tidak layak ditanya ten tang apa yang diperbuatNya.

2. Sebagian madzhab Syafi’I dan sebagian madzhab Hanafi ber-

pendapat bahwa        maslahat patut menjadi illat bagi hukum, tetapi

 

 

72

 

sekedar hanya sebagai tanda      (amarah)    bagi hukum dan bukan

sebagai penggerak yang mendorong Allah menetapkan hukum.

Firman Allah:        “Dia tidak ditanya ten tang apa yang diperbuat-

Nya, tetapi mereka yang justru ditanya.” (al-Anbiya: 23).

3. Golongan Mu’tazilah, Maturidiyah, sebagian madzhab Hambali

dan Maliki berpendapat bahwa segala hukum islam terkait

dengan maslahat. Hukum-hukum yang terdapat pad a nash me m-

punyai   ilIat   berupa maslahat, tanpa dikaitkan dengan            iradat

(kehendak) Allah, sepanjang        ta ‘lil  (perikatan) itu tidak meng-

akibatkan gugumya nash jika tidak mengandung maslahat. Jika

substansi maslahat tidak jelas diotak kita, maka kita boleh

melakukan rasionalisasi sendiri dan menghindarkan              nash   dari

kemungkinan adanya anggapan tidak mengandung maslahat.

Sinyalemennya adalah bahwa setiap perintah dan larangan

Allah sering diakhiri dengan penjelasan bahwa orang yang

menetangNya sama artinya menganiaya dirinya sendiri (Zahrah,

1994: 552).

Perbedaan ini sebenamya hanya pada tataran teoritis, karena

dalam tataran empiris semua fuqoha’ menyepakati bahwa hukum-

hukum syara’ mengandung maslahat yang hakiki. Tidak ada satu pun

hukum yang didatangkan kecuali mengandung maslahat bagi umat

manusia.

Imam Izzuddin Abdus Salam membagi maslahat menjadi tiga

macam, yaitu:    pertama, maslahat yang diwajibkan oleh Allah bagi

hambaNya. Maslahat wajib bertingkat-tingkat terbagi menjadi                               fadhil

(utama),       afdhal      (paling utama), dan                mutawassith        (pertengahan).

Maslahat afdhal adalah maslahat yang wajib dikerjakan, maslahat ini

adalah maslahat yang mengandung kemuliaan, menghilangkan mafsa-

dah (kerusakan) yang besar, dan mendatangkan kemaslahatan yang

paling besar. Sementara itu,               kewajiban bertingkat-tingkat sesuai

dengan kadar maslahat yang terkandung di dalamnya. Jika tingkat

kemaslahatannya lebih besar, maka kewajibannya untuk dikerjakan

lebih kuat dan harus didahulukan. Contoh: menyelamatkan orang yang

tenggelam pada saat sedang berpuasa Ramadhan. Menyelamatkan

 

73

 

jiwa didahulukan atas memenuhi kewajiban mengerjakan puasa,

walaupun puasa sebagai ash! (hukum pokok).

Kedua,    maslahat yang disunnahkan oleh syari’ kepada hamba-

Nya demi untuk kebaikannya. Kedudukan maslahat sunnah adalah

dibawah maslahat wajib.      Ketiga,   maslahat mubah. Maslahat ini ber-

laku terbatas dan bersifat perorangan, dinikmati khusus bagi pelaku-

nya. Melakukan perbuatan maslahat mubah tidak membawa pahala,

seperti: makan dan minum. Sedangkan maslahat didalam perkara

wajib dan sunnah tidak bersifat perorangan, kemaslahatannya tidak

saja kembali kepada pelakunya tetapi juga kepada masyarakat luas.

 

 

G. ASPEK   NILAI    ETlKA    DALAM    HUKUM   (JURISTIA

ETHICS)

 

Dari persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan manusia,

persoalan tentang moral dapat dikatakan merupakan persoalan pokok,

karena moral menyangkut hubungan antar manusia yang mempersoal-

kan tentang apa yang baik dan apa yang buruk dalam persoalan

tersebut. Untuk mengatur hubungan ini tentu diperlukan kaidah-kai-

dah tertentu yang bersifat mengikat dan mengarahkan hubungan antar

sesama manusia berlangsung dengan baik. Kaidah-kaidah ini adalah

aturan-aturan moral yang mengharuskan manusia untuk mengikutinya.

Manusia dikatakan mempunyai moral yang baik dan dapat dikatakan

manusia susila apabila ia menaati aturan-aturan moral (Asdi, 1998:

1I).

Faktor yang penting bagi manusia untuk menjadi manusia susila

adalah adanya kesadaran moral yang dapat direalisasikan dalam ting-

kah laku sehari-hari. Kesadaran moral ini, kesadaran untuk bertingkah

laku baik, tidak hanya kalau berhadapan dengan orang lain saja, tetapi

berlaku terus menerus tanpa kehadiran orang lain. Kesadaran ini ber-

dasarkan pada nilai-nilai yang fundamental dan sangat mendalam.

Dengan demikian maka tingkah laku yang baik berdasar pada otoritas

kesadaran pribadi dan bukan atas pengaruh dari luar diri manusia.

Dasar ini terletak pada kodrat manusia. Drijarkara (1966 : 25)

 

 

 

 

 

berpendapat bahwa :

 

74

75

 

untuk menilai agar dapat mencapai    Summun Bonum.  Akan tetapi

Summun Bonum   sukar dinilai, karena merupakan cita-cita      yang

 

Moral atau kesusilaan adalah nilai    sebenamya bagi manusia,

satu-satunya nilai  yang betul-betul dapat disebut nilai bagi manusia .

Dengan kata lain, moral atau kesusilaan ada lah kesempumaan manu –

sia sebagai manusia atau kesusilaan adalah tuntutan kodrat manusia.

Moral atau kesusilaan        adalah perkembangan manusia yang sebenar –

nya.

Pada dasamya manusia selalu menginginkan kebaikan dan ber-

usaha untuk mewuju dkannya. Apabila seseorang berbuat kurang baik ,

maka ia berusaha  untuk membuat alasan yang dapat membenarkan

tindakannya tersebut. Dapat disimpulkan bahwa moral atau kesusilaan

merupakan   persoalan yang mendasar bagi kehidupan manusia sepan –

jang waktu. Dalam perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat

dewasa   ini, persoalan tentang moral hendaknya dapat ditampilkan

dengan lebih tegas. Perkembangan kebudayaan manusia yang tampak

pada ilmu dan teknologi , pada satu pihak membantu manusia mem-

buat kehidupan manusia menjadi lebih mudah, atau dapat dikatakan

merupakan    humanisasi,     pada satu pihak menyebabkan terasingnya

manusia dari nilai-nilai moral. Oleh karena itu, peningkatan sumber

daya  manusia dalam bidang ilmu dan teknologi hendaknya dapat

diimbangi dengan peningkatan dalam bidang moral (Asdi , 1997: 6).

Di dalam kehidupan sosial, moralitas menun tut suatu kehidupa n

tertentu    sehingga dapat dikatakan        moralitas itu merupakan aturan-

aturan dalam kehidupan bermasyarakat dari masyarakat untuk anggot a

masyarakat tersebut. Teori-teori ini selalu mencari jawaban yang

benar mengenai pertanyaan tentang          moral. Immanuel kant bertanya ,

“mengapa saya harus bermoral?” Kant menjawab, “Untuk menjawab

pertanyaan-pertanyaan                                            yang lain, seperti misalnya,   “Apa yang        saya

dapatkan kalau saya bermoral?”, terc iptanya          bermacam-macarn teori

moral. Sistem-sitem       Etika atau teori moral pada Yunani Kuno men-

dasarkan   pada  Summun Bonum,       Kebaikan yang Tertinggi atau           The

Supreme Good itu? Kebaikan Tertinggi ini adalah sesuatu yang ideal,

suatu  cita-cita yang merupakan ukuran yang tertinggi bagi segala

sesuatu yang dinilai.         Untuk mencapai itu        harus ada norma-norma

tertinggi dan merupakan konsep dunia yang sempuma. Di dalam dunia

ini  semua makhluk merasa bahagia (Immanuel Kant,    1963 dalam

Asdi, 1998: 13). Dalam hal norma -norma                   moral, perlu    pula diperha-

tikan motif apa yang dipakai sebagai dasar tindakan moral. Dasar-

dasar ini dapat berbeda-beda sehingga menimbulkan aliran etika yang

berbeda pula . Dasar inilah yang dipandang sebagai realitas      yang

tertinggi atau bahkan kenyataan yang sejati .

Etika atau teori moral dapatmendasarkan pada kodrat manusia

untuk   mendapatkan  kenikmatan , sebab   kenikmatan  merup akan

kebaikan yang paling penting .  Manusia dikatakan baik apabila ia

berusaha untuk mengejar kenikmatan yang sebesar-besamya. Aliran

ini     disebut hedonisme ,         dari kota Yunani           hedon e    yang berarti

kenikmatan. Seorang hedonis dikatakan orang yang baik karena hidup

sesuai kodratnya dan mencapai tujuan hidupnya.

Berbeda dengan aliran hedonisme adalah aliran Eudamonisme,

yang dapat dikatakan mencapai kebahagiaan, tidak hanya secara

lahiriah, melainkan juga secara batiniah. Oleh   karena itu, manusia

harus belajar bagaimana caranya untuk mencapai kebahagiaan. Untuk

itu Eudamonisme dijadikan pandangan hidup.

Bentuk lain dari Eudamonisme adalah Stoisisme,               yaitu   aliran

ctika yang memandang tujuan manusia adalah kebahagiaan. Manusia

harus menemukankebahagiaan serta menyesuaikan diri dengan alam

dan menerimanya dengan baik, karena peristiwa alarn itu tidak dapat

dihindari. Dalam menghadapi diri sendiri, manusia harus dapat

menguasai perasaannya dan juga menggunakan akalnya, sehingga

manusia menjadi kuat dan teguh. Aliran Utilisme dapat dikatakan

bentuk lain dari Eudamonisme pula. Manusia dikatakan baik apabila

ia bermanfaat, yaitu yang menimbulkan kebahagiaandan kenikmat an.

Jadi Utilisme dapat disamakan dengan hedonisme.

Teori moral yang dikemukakan oleh Marx berdasar pada fakta,

yai tu pada manusia yang harus bekerja untuk dapat bertahan hidup. Di

samping itu, manusia juga harus hidup dalam kelompok, karena untuk

mempertahankan hidup pribadi manusia juga harus memperhatikan

 

76

 

orang lain ,      lebih-lebih harus ada kerja sama dengan kelompok.

 

 

 

 

tujuan (Asdi , 1998: 15-16).

 

77

 

Dengan demikian aturan moral adalah moral kelompok,              moral yang

ada dalam masyarakat tanpa kelas.

Dapatkah manusia mencapai tujuan akhir,            yaitu kebah agiaan

yang sernpurna? Kebahagiaan yang memuaskan tanpa ada rasa            yang

 

Suatu etika

mendasarkan diri pada kehidupan manusia

menimbulkan kekecewaan? Dalam kenyataannya, manusia tidak dapat

 

disebut Vitalisme, dari kata        Vi/a, yang berarti kehidupan. Kehidupan

adalah kebaikan yang tertingi . Aliran ini menghargai kehidupan sangat

tinggi sehingga mereka        pada akhimya medewa-dewakan kehidupan .

Manusia harus bersatu dengan kehidupan, masuk di dalamnya. Pen- ,

dapat lain mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk rohani, dan

roh ini mempunyai kekuasaan yang besar. Aliran etika ini dikenal

sebagai aliran Idealisme. Ada tiga aliran yang masing masing menda-

sarkan pada bagian dari roh. Yang pertama adalah aliran idealisme

rasionalistik, yang berpendapat bahwa manusia dengan akalnya harus

dapat mengenal norma-norma etika. Dengan demikian maka manusia

dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Yang kedua

adalah etika estetik,       etika adalah sesuatu yang indah, manusia dan

kehidupannya adalah suatu seni. Untuk itu diperlukan kehidupan

dalam masyartakat itu harus selaras. Banyak yang kurang sepaham

dengan etika rasionalistik dan etika estetik. Yang ketiga adalah etika,

etik ,  seperti yang diajarkan oleh Immanuel Kant. Menurut faham ini

memang ada norma-norma moral yang harus diwujudkan oleh manu-

sia.   Menurut Kant ,     manusia harus bertindak baik, karena manusia

wajib untuk itu . Tindakan moral harus datang dari dalam diri manusia

sendiri    dan tidak datang dari luar manusia. Etika yang semacam ini

adal ah etika yang diperintah oleh diri manusia sendiri, suatu imperatif

yang memaksa    dari diri manusia sendiri, imperatif kategoris (Harold

H, Titus , 1970: 363-375).

Dar i uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa manusia itu penuh

dengan usaha untuk dapat mencapai tujuan hidupnya, yaitu kebaha-

giaan. Namun jalan yang ditempuh dapat berlainan, sesuai dengan

keyakinan masing-masing. Perlu diingat bahwa perbuatan manusia

untuk mencapai tujuan tersebut haruslah perbuatan yang dilakukan

dengan sadar, sedangkan perbuatan manusia di luar kesadarannya,

misalnya dalam keadaan tidur, dalam keadaan mabuk, dan dalam

keadaan pingsan,      tidak dapat dikatan perbuatan yangmempunyai

mencapai tujuan akhir di dunia ini, karena mempunyai kehendak yang

tidak dapat dipuaskan. Menurut A.Gunawan Setiardja (1990: 92), ma-

nusia itu mempunyai tujuan akhir objektif dan tujuan akhir subyektif.

Tujuan akhir objektif adalah sama untuk semua orang, yaitu Tuhan

sebagai pencipta, sedangkan tujuan akhir subyektif adalah penyem-

pumaan diri manusia sebagai manusia . Drijarkara (1962: 20-21) juga

mengatakan bahwa manusia selalu menuju ke kesempurnaan. Menurut

kodratnya, setiap realitas itu menuju ke sempumaan yang merupakan

cerminan dari kesempumaan Tuhan. Dalam usaha manusia untuk

mencapai    kesempumaan diperlukan adnya kesadaran moral yang

secara nyata dapat menjelma menjadi suara batin,          consience, yang di

dalamnya terkandung pengertian. Suara batin itu tidak diucapkan

melainkan hanya ada dalam batin yang seolah-olah, menyeru memper-

ingatkan    mana yang baik dan mana yang buruk. MenU11 Martin

Heidegger, der Ruf ko111111/       alls mir und doch  ueber tnmich,  “suara itu

datang dariku tetapi mengatasi diriku. Jadi kesadaran moral itutidak

hanya rasa ,   melainkan juga, pengertian.         Suara batin pada dasarnya

adalah panggilan Tuhan.

Yang juga melekat pada manusia untuk melakukan perbuatan

baik adalah “wajib”, Manusia akan merasa bersalah apabila melanggar

kewajibannya. Manusia barulah manusia apabila ia melaksanakan

kewajibannya. Wajib itu bukan paksaan, karena datang dari dalam diri

manusia, bukan dari luar diri manusia. Hanya dengan menjalankan

wajib ,    manusia menjadi luhur. Perkembangan manusia yang sesung-

guhnya adalah moral. Untuk itu diperlukan niat untuk berbuat baik

dan siap sedia untuk kebaikan. Dengan niat ini manusia siap meng-

hadapi peraturan moral yang meliputi dan melingkungi hidup manu-

sia . Oleh karena itu, hukum moral adalah hukum kodrat manusia, yang

menentukan rohani. Manusia adalah pribadi rohani. Dengan demikian,

hukum moral disebut sebagai hukum kodrat atau hukum alam (N.

. Drijarkara, 1966: 9-30).

 

78

 

Apa perbedaan antara moral dan hukum? Menurut Immanuel

Ka nt, norma moral menimbulkan sikap “moralitat”, yakni penyesuaian

diri dengan kewajiban batin , disini hati nurani menjadi motivasi yang

sebenarnya       dari kelakuan dan tindakan. Norma hukum menimbulkan

sikap ” legalitat”, yakni penyesuaian diri dengan apa yang telah diten-

tukan dalam undang-undang (Kant dalam Huijbers, 1995: 66).

A.  Reinach (1883-1917) menambahkan perbedaan antara moral

dan hukum. Menurut Reinach, norma moral men gena pada suara             hati

pribadi  manusia, sedangkan norma yuridis berlaku atas dasar suatu

perjanji an. Hak-hak moral tidak pernah hilang dan tidak dapat pindah

ke orang lain, sedangkan hak-hak   yuridis dapat hilang dan dapat pin-

dah (sesuai    dengan perjanjian). Disamping itu norma moral mengatur

baik hidup bat in maupun hidup      lahir , sedangkan norma hukum hanya

men gatur kehidupan lahiriah  saj a (de  internis praetor  non indi can

(Huijbers, 1988: 231-234) .

Norma-norma moral dan norma-norma hukum memang ber-

beda , akan tetapi                keduanya          memiliki hubungan yang erat satu sama

lain. Immanuel Kant menj elaskan hubungan antara moral dan hukum

dengan menyatakan bahwa pembentukan hukum sebenarnya merupa-

kan bagian tuntutan moral   (imp eratlf kategoris) yang dialami manu sia

dan hidupnya.  Imperatif  itu mengharuskan orang untuk mengatur

hidup bersama                                                         sesuai dengan prinsip-prinsip moral,   sehingga terben-

tuklah undan g-undang yang adil.

Da ri pernyataan ini juga kita dapat memahami definisi hukum

Kant memuat   unsur etis,   dimana menurut Kant. Definisi hukum

menurut Kant adalah sejumlah syarat yang menjarninbahwa kehendak

seorang pribadi disesuaikan dengan kehendak pribadi lain menurut

norm a                            umum kebebasan                           (Das   Recht   ist.:      der InbegrifJ der         Beding

ungen,                   unter den                              die Willkur des einen mit der        Willkur des anderen

nach  einem  allgmeinen Gesetze  der  Fre iheit Zusammen  vereinigt

werden kann) . Dari sini kita mengetahui bahwa tata hukum oleh Kant

diartikan sebagai buah sikap moral manusia (Huijbers, 1988: 94-102).

Hubungan antara moral dan hukum sebenarnya         lebih erat lagi

sebab perbedaan antar norma tersebut dalam tataran konseptual saja .

Karena dalam ta taran             praksis,         norma-norma yang merupakan norma

 

79

 

sopan santun misalnya,           dapat menjadi norma hukum, demikian pula

dengan norma moral ,  juga dapat menjadi norma hukum.     Bahkan

dengan norma moral menjadi norma hukum, ia akan menjadi            efektif

keberlakuannya. Karenanya kewajiban yang timbul akibat norma-

norma yuridis ada dua j enis: (1) Bersifat ekstern karena adanya sanksi,

bersifat yuridis belaka; (2) Bersifat intern atau moral, bersifat etis-

yuridis. Suatu norma hukum bersifat etis yuridis bila isinya menyang-

kut nilai-nilai dasar hidup, sehingga dengan demikian kehendak

yuridis merupakan bagian dari kehendak etis rnanusia ‘          (D. Scheltens

&  Siregar, 1984: 65-66).

Adanya nilai etis pada hukum dapat dirnengerti, bila kita insyaf

bahwa hukum merupakan salah satu hasil kegiatan manusia sebagai

ko-eksistensi etisnya .                                   Memang benar bahwa    hukum secara  langsung

berasal dari kehendak yuridis, tetapi kehendak yuridis itu merupakan

bagian dari kehendak etis man usia untuk mengatur kehidupan bersama

dalam segala relasi-relasinya. Supaya relasi-relasi itu baik dan karena-

nya kehidupan manusia sendiri menjadi baik dan bahagia.  Menurut

Fernand Van Ne ste (1982) , ada 4 unsur etis yang ada pada hukum :

I .  Hukum mengatur relasi-relasi antara orang.

2.  Hukum memasukkan timbal balik dalam relasi-relasi yang

digalang.

3. Hukum menuntut kesetiaan padajanji.

4. Hukum menciptakan kebebasan.

Dari uraian mengenai hukum dan moral, dapat diketahui adanya

perbedaan dan persamaan                                                      antara keduanya, perbedaan antara       hukum

dan moral teletak pada tujuannya. Hukum bertujuan untuk membentuk

ketertiban dalam masyarakat, sedangkan moral bertujuan untuk mem-

bentuk pribadi setiap individu.   Di samping itu    hukum dituangkan

dalam bentuk tertulis, sehingga dapat diketahui dengan      j elas dan

 

 

,  Namun pernyataan bahwa suatu pcraturan        yuridis dapat mcnghasilkan     suatu

kcwajiban etis dibantah     oleh  ImmanucI  Kant. Mcnurut    Kant rnacam-rnacam motif

diperbolehkan dalam menaati      hukum,  misalnya   rasa takut akan hukuman, karcna

mcnurut Kant undang-undang yang telah tersusun termasuk bidang “yang ada”, bukan

bidang “yang scharusnya”.

 

 

80

 

bersifat objektif. Di pihak yang lain, norma-norma moral bersifat

subjektif dan individual. perbedaan lain juga dapat dilihat dalam

sanksi-sanksinya. Hukum dan Moral keduanya menberikan sanksi.

 

81

 

punyai titik yang sama. Apabila hukum merupakan garis lurus a dan

moral adalah garis lurus b, maka antara kcdua garis itu ada titik yang

berkesinambungan, atau antara kcdua garis itu ada titik potongnya.

 

Akan tetapi hukum dapat dipaksakan dan meberikan sanksi pada

Hukum

moral mempunyai persamaan dalam pcngatahuan perbuat-

 

yang mclanggamya, sedangkan nqrma-norma moral tidak

dipaksakan, karena perbuatan susila mcnyangkut perbuatan yang

bersifat rohaniah. Pemaksaan mungkin dapat menycbabkan transaksi-

nya batin scseorang. Tindakan moral atau tindakan untuk bertingkah

laku baik seolah-seolah tidak mempunyai kckuasaan atau kewenangan

apapun terhadap manusia, karena tindakan moral itu terhagantung

pada kesadaran pribadi,      tergantung pada suara batin setiap individu.

Sanksi yang diterapkan pada pelanggaran moral adalah sanksi yang

mungkin berbentuk penyesalan diri. Orang akan menyesal, karena

telah berbuat kesalahan, seolah-olah ada suara dalam dirinya dan

batinnya yang memberikan peringatan (Asdi, 1998: 17-18).

Drijarkara (1996 : 19) mengatakan bahwa suara batin itu masih

tetap ada, juga setelah manusia melakukan kejahatan. Memang apabila

kesalahan itu kecil, kesalahan itu mudah dilupakan. Tidak demikian

halnya apabila seseorang melakukan kesalahan atau pelanggaran

moral yang besar, maka suara batin itu akan terus menerus mem-

peringatkan. Dalam hal ini orang yang bersalah akan merasa rendah

diri ,   malu dan merasa bersalah terus menerus. Dapat juga terjadi

bahwa orang tersebut akan merasa tidak berguna lagi dan tidak pantas

untuk hidup .     Itulah salah satu sebab mengapa orang yang merasa

bersalah tadi melakukan bunuh diri. Akan tctapi scsungguhnya suara

batin itu merupakan suatu peringatan agar orang tersebut kembali pada

kebaikan, menyadari kesalahannya dan bertaubat untuk tidak berbuat

kesalahan lagi. Kesadaran moral ini adalah rasa dan juga pengartian

yang mendalam. Apabila manusia mcnyadari bahwa manusia itu

adalah makhluk Tuhan, tcntunya ia akan menyadari bahwa suara batin

yang memerintah ke arah kebaikan itu adalah peringatan dari Tuhan.

Pelanggaran hukum moral adalah pelanggaran hukum kodrat atau

hukum Tuhan.

Antara hukum dan Moral, di samping ada perbedaannya, juga

ada kesamaannya. Ini berarti bahwa antara hukum dan moral mem-

an manusia. Hukum mengatur perbuatan manusia sesuai dengan

pcngaturan yang berlaku yang ditetapkan oleh pcnguasa atau negara

dengan tujuan kesejahteraan dalam masyarakat,                        membcri perlindung-

an dan keamanan, scdangkan moral juga merupakan peraturan-per-

aturan yang mengatur perbuatan manusia ditinjau dari perilaku baik

dan buruk. Tujuan moral adalah peningkatan manusia sebagai manu-

sia. Kedua peraturan manusia untuk menaati hukum dan juga menaati

moral. Wajib hukum adalah wajib yang datang dari luar diri manusia,

dan wajib moral adalah wajib yang datang dari dalam diri manusia

(Asdi, 1998: 19).

Apabila dilihat dari dasar hukum dan dasar moral, dapatlah kita

temukan bahwa antara keduanya mepunyai dasar yang sama, yaitu

hukum alam .         Menurut A. Gunawan Setiardja (1990: 116), dalam

hukum alam ditemukan dialektika antara hukum dan moral. Dialektika

adalah suatu pcnyesuaian yang terjadi yang dimulai dari sua tu tesis .

Tesis ini mengakibatkan antitesis. Tesis dan anitetis ini akan meng-

hasilkan sintesis. Periode ini-tesis, antitesis dan sintesis akan terus-

menerus berlangsung sampai pada sintesis yang tcrakhir dan sempur-

na .   Pada dasamya musyawarah untuk mendapatkan kcputusan yang

terakhir adalah proses yang terjadi secara dialektis.

Apabila kita terapkan teori dialektika ini pada hukum dan

moral, dapat dilihat sebagai tesis adalah hukum alam yang ada pada

manusia yang diatur oleh moral. Moral mengatur scgala segi kehi-

dupan manusia, baik kehidupan individu maupun kehidupan sosial,

kehidupan lahir dan batin. Sebagai antitesis, adalah hukum yang

dibentuk oleh para ahli hukum dan para anggota perwakilan rakyat,

serta para ahli yang lainnya, yang harus selalu ingat pada hukum alam.

Hukum yang akan disusun harus mengingat manusia sebagai manusia

pribadi maupun manusia dalam masyarakat. Hukum yang dibentuk

harus pula mencakup tatanan hukum yang memberi kcsempatan pada

manusia untuk membangkitkan dirinya sebagai manusia. Aparatur

 

82

 

peme rintahan, dari yang         tertinggi sampai yang terendah, dalam meng-

ambil keputusan harus men unjunjung tinggi hukum dalam menjalan-

kan keaj iban mereka, maka yang mereka hadapi adalah manusia yang

me mpuny ai hak asasi, manusia yang harus dihormati sebagai manusia.

Sintesis  yang diharapkan dari uraian di atas adala h     terbentuknya

man usia yang mempunyai budi luhur, yang taat pada moral dan

hukum, dalam kehidupan bermasyarakat dan bemegara.

Beberapa filusuf telah   pula berusaha memberikan pendapatnya

mengenai hubungan anta ra hukum dan moral. Plato sudah berusaha ke

arah   itu.   Thomas   aq uinas  justru    mengatakan bahwa hukum positif

haru s membantu manusia untuk memahami hukum alam. Ini disebab-

kan karena hukum alam tidak dapat dimengerti dengan jelas. Hukum

alam adalah sumber    norma-norma moral.

Menurut A. Gunawan Setiardja ( 1990; 119), dialektika antara

hukum dan moral dapat dilihat pada dasar, otonomi, pelaksanaan,

sanksi, tuju an, waktu dan tempat.

 

83

 

Hegel yang terdiri atas tiga tingkatan, yaitu tesis, antit esis dan sintesi s.

Dari bagan diatas, dapat diketahui bahwa dasar          hukum dan mo ral itu

sama, yaitu hukum dasar dan hukum alam.

Menurut Immanuel Kant dalam bukunya           Die M etaphy sik    der

Sitten (Immanuel Kant ,                            1970 dalam Asdi ,  1998: 22),        ada dua maeam

kewajiban, kewajiban terhadap hukum dan kewaj iban terhadap moral.

Kewajiban terhadap hukum dilaksanakan  karena ada  hukum yang

datang dari luar pribadi manusia, seda ngkan                              kewajib an terh adap            mo-

ral, yang tidak tunduk pada hukum        dari   luar pribadi manusia,

melainkan tunduk pada hukum dari  dalam manusia, menuju  tujuan

sekaligus menjadi kewajiban. Menurut Kant, ada   perbedaan antara

hukum dan moral. Sah menurut hukum,   belum tentu  sah menurut

hukum moral. Sah menurut hukum, yang oleh K ant dinamakan        Lega-

litaet  atau  Gesetzma egkeit,           adal ah             suatu tindakan      yang     mempunyai

kesesuaian atau tidak kesesuaian dengan hukum lahiriah. Akan tetapi

tindakan tersebut belum dapat dikatakan mempunyai    nilai  moral,

karena tindakan itu dapat dipengaruhi oleh keinginan , meskipun meru-

 

 

Dasar

 

 

Otonomi

Norma Hukum

a. Perumusan Yurudis

b. Konsensus

c. Dasar terda lam,     hukum alam

Datang dari     luar manusia, hete-

ronomi

Norma Moral

Hukum alam

 

 

otonomi dan teonomi

pakan dorongan batin , misalnya rasa belas  kasihan ,        rasa            takut atau

ingin mendapatkan keuntungan. Meskipun           tindakan itu ba ik, namun

mas ih  ada motivasi tertentu,      masih ada ” pamrih”, maka      tindakan   ini

belum dapat dikatan bemilai moral. Perlu dieatat bahwa tindakan yang

belum mempunyai nilai moral , tidak b erarti amoral atau bertentangan

 

Pe laksa naan        Lahiriah, jadi dapat dipaksakan

lahiriah dan batiniah, tidak

dapat dipaksakan

dengan moral. Tindakan semaeam ini                                  oleh Kant dinamakan      legalitas,

yaitu sesuai dengan hukum. Suatu   tindakan bemil ai mora l apabila

 

Sanksi

Sanksi yur idis,

sanksi lahiria h

Sanksi kodrati,

Batiniah: menyesal, malu

terhadap diri sendiri

tindakan tersebut dilaksanakan karena orang merasa  wajib da n karena

adanya kesadaran untuk melaksanakan                 kewaj iban.            Juga     tidak    karena

adanya tekanan dari luar ataupun kar ena adanya kein ginan   tertentu.

 

Tuj uan

Mengatur    hidup manusia da lam        Mengatur hidup manusia

kehidupan bernegara                             sebagai manusia

Inilah yang dinamakan Kant moralitas (Asdi, 1997; 80-8 1).

 

Waktultempat Tergantung pada waktu

secara objektif tidak dan

tergantung       pada      wak tu

dan tempat

Manusia hidup dalam suatu  siste m hukum       yang harus dikon –

frontasikan dengan bermaeam-maeam   aspek  kehidupan. Ka dang-

kadang hukum itu datang kepada kita dalam keadaan            kurang   menye-

nangkan, apabila hukum itu meng haruskan kita untuk memilih  apa

 

Pendapat Setiardja di atas sesungguhnya belum dapat menu n-

jukkan adanya dialektika apabila kita memakai rumusan   dia lekt ika

yang kita sukai dan yang tidak kita sukai.     Kadang-kadang hukum

datang dengan amat baik, apabila hukum itu memb erikan perlindung-

an kepada kita. Dalam hukum ada larangan-larangan  yang tidak boleh

 

84

 

85

 

 

kita langgar, seperti misalnya mencuri, menipu, menggangu keamanan

dan perbuatan-perbuatan lain yang dapat dikategorikan melanggar

hukum. Jadi dalam kehidupan sehari-hari , kita tidak dapat lepas dari

hukum, tidak dapat menghindari hukum. Mau tidak mau, suka atau

tidak suka ,      hukum selalu ada di sekitar kita dan mempunyai peranan

penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bemegara.

Begitu pula halnya dengan moral. Aturan-aturan moral juga ada

di sekiling kita, suka atau tidak suka , aturan-aturan moral juga meng-

ikat. Tugas aturan moral mengadakan evaluasi pada hukum. Tugas ini

adalah memahami hukum positif sebagai              hukum dan membentuk

suatu teori yang bersifat rasional mengenai bagaimana hukum itu yang

seharusnya. Evaluasi ini dapat bersifat dialektis maupun aplikatif,

sesuai dengan titik sing gung           yang disentuh. Dialektis,          apabila kita

pakai untuk meningkatkan pribadi manusia, meningkatkan                manusia

sebagai manusia. Aplikatif, apabila moral kita pakai scbagai evaluator

pada hukum, khususnya kita pakai untuk menyoroti tujuan memberi

hukuman pada orang yang melanggar hukum. Tujuan ini selain

melihat latar belakang sejarah si pelan ggar,               juga harus mengingat

dampak positifyang akan didapat di masa depan (Asdi , 1998: 27-28).

 

 

H. JURISTIC LOGICS   (PENGGUNAAN LOGIKA DI DALAM

HUKUM ATAU ILMU HUKUM)

 

Logika adalah satu di antaranya        cabang-cabang utarna fiIsafat.

Sebagai sebuah istilah, logika berarti suatu metoda atau teknik yang

diciptakan untuk meneliti ketepatan penalaran. Penalaran adalah suatu

bentuk pemikiran. Bentuk-bentuk pemikiran yang lain adalah: penger-

tian atau konsep        (conceptus ; concept), proposisi atau pemyataan

(propositio;  statement) ,  dan    penalaran     (ratiocinium ;  reasoning)

(Soekadijo, 200 I:3). Logika atau penalaran berkaitan dengan proses

bekerjanya rasio atau akal manusia dalam upaya menangkap atau

mencapai kebenaran, atas dasar proposisi-proposisi atas                        sesuatu

kenyataan guna sampai kepada kesimpulan dengan menggunakan

hukum-hukum berfikir. Proses berfikir manusia dapat dengan meng-

 

gunakan dua cara atau metode .          Kedua metode itu adalah berfikir

secara induktif dan berfikir secara deduktif,             atau dikatakan juga ada

logika deduktif. Cara berfikir dengan metode -rnetode ini dapat meli-

batkan penggunaan silogisme yang di dalamnya ada proposisi sebagai

premise mayor dan premise minor, sehingga sampai kepada sebuah

kesirnpulan dalam upaya mencapai atau rnenemukan                   ‘ kebenaran.

Dikenal ada logika formal (dapat juga disebut logika bentuk), dan

logika material (Iogika isi). Kebenaran yang dicapai dengan menggu-

nakan metode berfikir demikian scbagaimana            diterapkan dalam ber-

bagai bidang pengetahuan ilmiah adalah dua macam kebenaran, yaitu

kebenaran formal dan kebenaran material. Kebenaran yang dicapai

juga bervariasi dalam tingkatannya,         dari sesuatu    yang mutlak, kebe-

naran yang pasti, hingga kebenaran sebagai suatu kemungkinan.

Juristic logic yang dimaksudkan dalam buku ini adalah untuk

menyebutkan aspek      logika yang terdapat atau digunakan di dalam

hukum atau pengetahuan ilmiah hukum. Penerapan metode-metode

berfikir yang lazim berlaku pada berbagai bidang ilmu lain selain ilmu

hukum untuk diterapkan dalam hukum atau ilrnu hukum perlu dikaji

kembali secara kritis tentang kesesuaian atau ketepatannya.

Logika induktif dan logika deduktif lazim berlaku dalam bidang

ilrnu alam. Di dalam scjarah pcrkembangan ilrnu, metode penclitian di

dalam ilmu-ilmu alam adalah met ode yang lebih dahulu muncul , yang

kemudian penerapannya menyebar ke dalam bidang ilmu-ilrnu sosial,

termasuk ilmu hukum. Akan tetapi sesungguhnya metode-metode

tersebut tidak serta merta berlaku dalam bidang hukum, karena bidang

ilmu hukum memil iki       objek manusia yang karakteristiknya berbeda

dan tidak dapat semata-mata disamakan dengan objek-objek fisik.

Manusia memiliki nilai yang berbeda. Demikian pula hukum-hukum

matematis tidak dapat diterapkan begitu saja secara sama kepada

manusia seperti halnya pada objek-objek fisik.

(2005   : 47, 61) berpendapat       bahwa penelitian hukum

sesungguhnya adalah berbeda dengan penelitian ilmu sosial lainnya.

Dalam penelitian hukum, logika silogistik yang diterapkan berkenan

dengan adanya premis mayor dan premis minor dalam sebuah argu-

mentasi hukum guna mencapai sebuah kebenaran (sebagai sebuah

 

86

 

simpulannya )   adalah tid ak   sesederhana silogisme-silogisme tradisio-

nal.    Selain    itu perlu untuk          diketahui  bahwa dalam ilmu .hukum

terdapat tiga lapisan ya itu dogmatik hukum, teori hukum, dan filsafat

hukum. Berhubung      den gan  haI  ini ,  sebuah peneliti an     atas suatu isu

atau m asal ah itu haru s mempertimb an gkan terlebih dahulu apakah isu

atau masalah   itu ad alah  isu   hukum atau masalah hukum atau bukan .

Kemudian, penel itian       huku m harus memperhatikan         ketiga lapisan

tersebut.     Pen elitian    atas masalah      hukum dal am     tataran dogmatik

ada lah  apabi la sesuatu ma sa lah       atau isu hukum         itu menyangkut

ketentuan hukum yan g re leva n dengan fakta yang dihadapi. Penelitian

hukum  da lam tataran  teori   hukum adalah bilamana     isu   atau masalah

hukumnya mengandung     ko nse p hukum. Sedangkan    penelitian hukum

dalam tataran       filos ofis,    isu hukum harus menyangkut asas-asas

hukum.

Dal am si logisme    ada hukum-hukum yang berl aku     dalam mena-

ri k   sebua h kesimpul an     dan   men entukan   apakah kesimpulan yang

di ambil    itu    salah atau     benar. Co ntoh      si logisme tradisional yang

sederhana misalnya (Soekad ijo, 200 I: 40 , 88):

1. Semua pahl aw an ada lah oran g berjasa,

Kart in i ad alah pahl awan.

Jadi: Kartini ada lah oran g yang berjas a

2.   Kal au  pacamya  dari Med an    datang   men engok,   Adam senang

sekali .

Dari Medan pacamya datang menen gok      dan men ginap di rumah

abangnya.

Maka Adam senang sekali.

 

 

 

 

 

 

 

BABVI

ALl RAN-ALl RAN HUKUM

 

 

A. HUKUM ALAM

 

Para pemikir zaman dahulu umumnya menerima suatu hukum,

yaitu hukum alam atau hukum kodrat. Berbeda dengan hukum positif

sebagaimana diterima oleh orang dewasa ini,                    huku m alam     yang

diterima sebagai hukum tersebut bersifat tidak tertulis. Hukum                  alam

ditanggapi tiap-tiap orang sebagai huku m oleh sebab men yatakan apa

yang termasuk alam manusia sendiri, yai tu kodratnya (Huijbers,            1995 :

82).

Huijbers (1995 :      82) membedakan penggunaa n        istilah hukum

alam dengan hukum kodrat. Menurut Huijbers istilah yang benar

untuk menyatakan hukum yang dimaksud ada lah “hukum kodrat” dan

bukan “hukum alam” .        Huijbers menggunakan istilah tersebut              ber-

dasarkan pengertian istilah latin          lex naturalis     (bhs .  Inggris:    natural

law)   yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi “hukum

kodrat” dan bukan        lex naturae      (bhs.Inggris:      law of nature)        yang

diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi “hukum                      alam” .

Secara panjang lebar Huijbers menerangkan sebagai berikut:

. Lex natura e  merupakan cara sega la        yang ada berj alan sesuai

dengan aturan semesta alam. Menurut para sofis Yunani (abad 5 SM)

dan Thomas Hobbes, Ch .        Darwin, H Spencer, dkk.,        hu kum alam    itu

menguasai kehidupan manusia juga seperti makhluk                    hidup lainnya

yang mengikuti kecenderungan-kecenderungan                jasmaninya, contoh:

sifat ketamakan,       kerakusan,    saling memangsa, dan lain sebagainya.

Sebaliknya,    lex naturalis menandakan bahwa terdapat tuntu tan          funda-

mental dalam hidup man usia            yang menjadi nya ta dalam wuj udnya

sebagai makluk yang berakal budi. Dengan mengikuti                   lex naturalis

 

88

 

manusia tidak mengikuti nalurinya yang irasional, melainkan pertim-

bangan akal budi dan rasa moral. Namun dalam                    lex naturalis     juga

diakui bahwa hukum yang dianut bukanlah kegiatan rasional melulu.

Hukum itu merupakan bagian aturan alam semesta alam (natura) yang

sebenarnya merupakan suatu keseluruhan kosmis yang penuh rahasia

yang tidak dapat dijangkau oleh akal budi manusia.

Dalam Bahasa Indonesia, istilah “hukum alam” lebih menan-

dakan   lex naturae    dalam arti yang umum, yaitu sebagai daya yang

menyebabkan bahwa segala yang ada di dunia ini berjalan menurut

aturan yang telah ditetapkan. Karenanya untuk mengungkapkan arti

 

89

 

dirumuskan oleh para pemikir Stoa zaman klasik. Prinsip

hukum kodrat primer yaitu:        honeste vivere     (hidup terhonnat),

neminem laedere (tidak merugikan orang lain), unicuique suutn

tribuere (memberikan orang lain sesuai haknya).

2). Prinsip hukum kodrat sekunder, yaitu norma-norma moral

seperti jangan membunuh, mencuri dan lain sebagainya.

 

Dalam hal ini Thomas Aquinas menggabungkan                         lex naturalis

dengan   lex aeterna (hukum abadi) yang ada pada Tuhan, dalam defi-

 

lex naturalis sebaiknya dipakai istilah lain yaitu hukum kodrat.

nisinya:   lex naturalis

aliud est quam participatio legis aeternae

 

Hukum kodrat lebih kuat dari pada hukum positif, sebab

menyangkut makna kehidupan manusia sendiri. Karenanya hukum itu

mendahului hukum yang dirumuskan dalam undang-undang dan ber-

fungsi sebagai azas bagi hukum yang dirumuskan dalam undang-

undang tersebut. Dengan kat a lain hukum adalah aturan, basis bagi

aturan itu ditentukan dalarn aturan alamiah yang terwujud da lam

kodrat manusia.

 

 

1. Hukum Kodrat dalam Sejarah

a . Zaman klasik

 

Tokohnya adalah Aristoteles.            Menurut Aristoteles manusia

sebagai makhluk politik          (ZOO/1      polticoni    harus menyumbang bagi

Negara yang merupakan kewajiban alamiah bagi                     laki-Iaki    yang

mempunyai hak-hak yuridis sebagai warga polis.

 

 

b. Abad pertengahan

 

Tokohnya adalah Thomas Aquinas. Menurut Aquinas hukum

kodrat sebagai prinsip-prinsip segala hukum positif, berhubungan

langsung dengan manusia dan dunia sebagai ciptaan Tuhan. Prinsip-

prinsip tersebut dibagi menjadi dua, yaitu:

1). Prinsip hukum kodrat primer, yaitu prinsip hukum yang telah

in rationali creatura      (hukum kodrat itu tidak lain adalah partisipasi

hukum abadi dalam ciptaan yang berakal budi) (Huijbers, 1995: 83).

 

 

c. Zarnan rasionalisme

Pada zaman ini lazim diterima bahwa hukum kodrat sebagai

pernyataan akalbudi praktis manusia. Para pemikir zarnan ini cende-

rung menyusun suatu daftar hukum kodrat yang dianggap tetap

berlaku dan abadi. Pada zaman ini Hugo Grotius menyatakan prinsip

hukum   a priori.     yaitu hukum kodrat yang berlaku positif. Menurut

Grotius, ada dua macam prinsip-prinsip dalam konsepnya tersebut,

yaitu:

I). Prinsip-prinsip         dasar,    meliputi:      prinsip     kupunya-kaupunya,

prinsip kesetiaan pada janji, prinsip ganti rugi, prinsip perlunya

hukuman.

2). Prinsip-prinsip yang melekat pad a subjek hukum, me liputi             hak

atas kebebasan, hak untuk berkuasa atas orang lain, hak untuk

berkuasa sebagai majikan, hak untuk berkuasa atas milik.

 

 

d. Awal abad XX

Pada awal abad ini beberapa pemikir berusaha lagi untuk

menyusun suatu daftar hukum kodrat, diantaranya Messner. Menurut

Messner hukum kodrat sama dengan prinsip-prinsip dasar bagi kehi-

 

90

 

dupan sosial dan individual. Definisi hukum kodrat dari Messner

berbunyi:   Das Naturrecht ist die Ordnung del’ in del’ menschilchen

Natur mit ihren Eigenverantwortlichkeiten                begrundeten eizelmen

schlichen und gesellschaftlichen Eigenzustandigkeiten           (hukum kodrat

adalah aturan hak-hak (kompetensi) khas                  baik pribadi maupun

masyarakat yang berakar dalam kodrat manusia yang bertanggung-

jawab sendiri). Menurut Messner terdapat tiga macam hukum kodrat,

yaitu:

1). Hukum kodrat primer yang mutlak, yaitu memberikan kepada

tiap orang sesuai haknya. Dari prinsip ini diturunkan prinsip-

prinsip umum seperti jangan membunuh , dan seterusnya.

2). Hak fundamental, yaitu kebebasan batin, kebebasan agama, hak

atas nama baik, hak atas         privacy,  hak atas pemikahan, hak

untuk membentuk keluarga, dan sebagainya.

3) . Hukum kodrat sekunder, yaitu hak yang diperoleh karena ber-

kaitan dengan situasi kebudayaan, misalnya hak milik dan azas-

azas hukum adat .

 

 

2. Perkembangan Hukum Kodrat

Pemikir zaman ini menerima bahwa terdapat prinsip-prinsip

tertentu yang menjadi pedoman bagi pembentukan undang-undang,

oleh karena itu dewasa ini muncul satu anggapan bahwa hukum kodrat

seperti bangkit kembali sebagaimana disuarakan Roscoe Pound (1982:

24), Eikema Hommes (1961), dan Wolfgang Kluxen (1979). Namun

berbeda dengan pemikir zaman dulu, pemikir zaman ini menginsyafi

bahwa hidup manusia bersifat dinamis. Dinamisnya masyarakat ter-

cermin dalam pandangan-pandangannya, misalnya masalah perbudak-

an, zaman dulu hat ini sesuatu yang wajar dan sesuai dengan martabat

kemanusiaan, namun kita harus akui bahwa pandangan tersebut keliru,

Contoh yang lain misalnya masalah kesetaraan gender, dan lain

sebagainya.

Demikianlah dapat dipastikan bahwa manusia melalui pikiran-

nya meIihat dirinya dalam suatu situasi hsitoris aktual                tertentu, dan

 

91

 

bahwa gambaran manusia ten tang dirinya terus berubah dalam lintas-

an sejarah. Namun adanya kesadaran tentang perubahan pandangan-

pandangan tertentu membuktikan juga, bahwa manusia mampu meng-

atasi situasi historisnya dan mampu menerapkan aturan-aturan hidup

yang kurang lebih tetap. Karenanya pada zaman sekarang ini diterima

adanya prinsip-prinsip yang harus digunakan dalam menyusun per-

aturan-peraturan, tetapi prinsip-prinsip itu umumnya tidak dipandang

lagi sebagai prinsip yang abadi (Huijbers, 1995: 85).

Saat ini hukum kodrat yang terperinci seperti zaman klasik dan

pertengahan tidak lagi dianggap bersifat abadi ,                karena dinamisnya

kehidupan manusia. Namun prinsip itu tetap ada , dengan lebih umum

seperti keadilan, kejujuran, kesopanan dan lain-lain. Prinsip itu

memiliki ketetapan, tetapi juga suatu kelonggaran untuk berubah

sesuai perkembangan zaman.

Sekarang ini ban yak sarjana tidak rela menerima adanya dua

macam hukum, yang satu telah menjadi undang-undang dan yang lain

yang dipikirkan sebagai hukum dasar yang Iebih kuat daripada

undang-undang. Oleh karena para ahli hukum senantiasa melembaga-

kan /institusionalisasi     atau formalisasi prinsip-prinsip hukum dengan

memasukkannya dalam undang-undang dengan mengadopsinya dalam

kerangka rasionaI. Dengan ini pula sebenamya berarti ban yak pemikir

menolak positivisme hukum, tetapi sekaligus mengakui bahwa hukum

yang benar adalah hukum positif.

Namun demikian para positivis memandang bahwa prinsip-

prinsip hukum yang terdapat dalam hukum kodrat sebagai prinsip

regulatifbelaka, yaitu sebagai pedoman bagi terbentuknya hukum, dan

bukan sebagai prinsip konstitutif dari hukum. Artinya prinsip-prinsip

tersebut memang harus diindahkan pad a saat undang-undang di-

bentuk, namun bila undang-undang yang ada seandainya bertentangan

dengan prinsip-prinsip hukum kodrat,           maka undang-undang tersebut

tetap sah berlaku. Dengan kata lain menurut para postivis cenderung

menganut prinsip kepastian hukum, dibandingkan dengan sarjana

tradisional yang lebih memperhatikan prinsip keadilan dan keman-

faatan hukum bagi masyarakat.

 

 

 

 

B. POSITIVISME HUKUM

 

1. Pengertian

 

92

93

 

Prinsip-prinsip positivisme yuridis adalah:

1.  Hukum adalah sama dengan undang-undang,

ini didasarkan pemikiran bahwa hukum muncul ber-

kaitan dengan Negara, sehingga hukum yang benar adalah

 

Positivisme dalam pengertian modem adalah suatu sistem  fil-

safat yang mengakui hanya fakta-fakta positif dan fenomena-feno-

mena yang bisa diobservasi. Dengan hubungan objektif fakta-fakta ini

dan hukurn-hukum yang menentukannya, meninggalkan semua penye-

lidikan menjadi sebab-sebab atau asal-asul tertinggi (Muslehuddin,

1991: 27). Dengan kata lain, positivisme merupakan sebuah sikap

ilmiah, menolak spekulasi-spekulasi apriori dan berusaha membangun

dirinya pada data pengalaman. Teori ini dikembangkan oleh August

Comte, seorang sarjana Perancis yang hidup pada tahun 1798 hingga

1857.

Dimulai dengan pertengahan kedua abad ke-19, positivisme

menjalar ke dalam segala cabang ilmu pengetahuan sosial, termasuk

ilmu pengetahuan hukum. ia berusaha untuk mendepak pertimbangan-

pertimbangan nilai-nilai dari ilmu Yurisprudensi dan membatasi tugas

ilmu-ilmu ini pada analisa, dan mendobak tatanan hukum positif. Para

positivis mengajarkan bahwa hukum positiflah yang merupakan

hukum yang berlaku; dan hukum positif disini adalah norma-norma

yudisial yang dibangun oleh otoritas negara. la juga menekankan

pemisahan ketat hukum positif dari etika dan kebijaksanaan sosial dan

cenderung   mengidentifikasikan keadilan  dengan   legalitas,   yaitu

ketaatan kepada aturan-aturan yang ditentukan oleh negara.

Positivisme hukum ada 2 bentuk, yaitu positivisme yuridis dan

positivisme sosiologis:

a. Positivisme yuridis

Dalam perspektif positivisme yuridis, hukum dipandang

sebagai suatu gejala tersendiri yang perlu diolah secara ilmiah.

Tujuan postivisme yuridis adalah pembentukan struktur-struktur

rasional system-sistem yuridis yang berlaku. Dalam praksisnya

konsep ini menurunkan suatu teori bahwa pembentukan hukum

bersifat professional yaitu hukum merupakan ciptaan para ahli

hukum.

/

hukum yang berlaku dalam sua tu Negara.

2. Tidak ada hubungan mutlak’     antara hukum dan moral.

Hukum adalah ciptaan para ahli hukum belaka.

3. Hukum adalah suatu closed logical system .

Untuk menafsirkan hukum tidak perlu bimbingan norma

sosial, politik dan moral melainkan cukup disimpulkan dari

undang-undang. Tokohnya adalah : R. von Jhering dan John

Austin (analytical jurisprudence).

b. Positivisme sosiologis

Dalam perspektif positivisme sosiologis, hukum dipan-

dang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Dengan demi-

kian hukum bersifat terbuka bagi kehidupan masyarakat. Keter-

bukaan tersebut menurut positivisme sosiologis harus diselidiki

melalui metode ilmiah. Tokohnya adalah Auguste Comte (1789-

1857) yang menciptakan ilmu pengetahuan baru, sosiologi.

 

Dalam teori hukum modem, positivisme telah mendapatkan

pengertian umum. Positivisme hukum telah memanifestasikan dirinya

ke dalam yurisprudensi analitik, yang disini disebut Positivisme Ana-

litik. Positivisme Analitik bertitik tolak dari suatu tatanan hukum ter-

tentu, dimana dari situ dijaring konsep-konsep, pengertian-pengertian

dan perbedaan-perbedaan        fundamental tertentu dengan menggunakan

metode yang sepenuhnya induktif, kemudian membandingkannya

dengan perbedaan-perbedaan, konsep-konsep dan pemikiran-pemikir-

an fundamental tertentu dari tatanan hukum lain untuk memastikan

sejumlah unsur yang sama (Bodenheimer, 1967: 93). Dengan cara ini,

Positivisme Analitik berarti melengkapi ilmu pengetahuan hukum

dengan anatomi suatu sistem hukum, prinsipnya memisahkan hukum

yang ada  (das sein)  dengan hukum yang seharusnya   (das sol/en)

(Friedmann, 1990: 257).

 

 

 

2. Positivisme Analitik

 

94

95

 

diberikan oleh negara. Dengan otoritas semacam itu mungkin telah

dijamin secara jelas; tapi biasanya ia memberinya melalui persetujuan

 

Sarjana yang membahas secara komprehen sif sistem positivis-

me hukum analitik adalah John Austin (1790-1859),                 seorang yuris

Inggris. la mendefinisikan hukum sebagai suatu aturan yang ditentu-

kan untuk membimbing makhluk berakal oleh makhluk berakal yang

telah memiliki kekuatan mengalahkannya. Sehingga karenanya hu-

kum, yang dipisahkan dari keadilan dan sebagai gantinya didasarkan

pada ide-ide baik dan buruk, dilandaskan pada kekuasaan yang ter-

(secara diam-diam) (Bodenheimer, 1967: 96).

Adanya berbagai jenis hukum diterangkan oleh tokoh positivis-

me John Austin (1970-1859). Menurut dia hukum dibedakan menjadi

dua:

I). Hukum Allah, merupakan suatu moral hidup daripada hukum

dalam arti sejati.

 

tinggi (Friedmann, 1990: 258).

,

2). Hukum manusia, yakni segala peraturan yang dibuat oleh

 

Menurut Austin, ilmu yurisprudensi membicarakan hukum-

hukum positif, karena mempertimbangkan tanpa memperhatikan baik

atau buruknya hukum-hukum itu. Semua hukum positif berasal dari

pembuat hukum yang sangat menentukan, sebagai yang berdaulat. la

mendefinisikan penguasa sebagai seorang manusia superiori yang

menentukan, bukan dalam kebiasaan ketaatan kepada seorang yang

seakan-akan superiori dan yang menerima kebiasaan ketaatan dari

suatu masyarakat tertentu.     la  menjelaskan bahwa atasan itu mungkin

seorang individu, sebuah lernbaga atau sekumpulan individu. Pengua-

sa tidak dengan sendirinya diikat oleh batasan hukum baik dipaksakan

oleh prinsip-prinsip atasan atau oleh hukum-hukumnya sendiri.

Karakteristik hukum yang terpenting menurut teori Austin ter-

letak pada karakter imperatifnya .          Hukum dipahami sebagai suatu

perintah dari penguasa. Akan tetapi memang tidak semua perintah

oleh Austin dianggap sebagai hukum,           menurut pandangannya hanya

perintah-perintah umum yang mengharuskan seseorang atau orang-

orang untuk bertindak atau bersabar dari suatu kelas pantas mendapat

atribut hukum (Bodenheimer, 1967: 95). Menurut Austin sebuah

perintah yang memenuhi syarat sebagai hukum tidak harus keluar

langsung dari sebuah badan legislatif suatu negara, semi sal Parlemen

di Inggris. la bisa saja keluar dari sebuah badan resmi (pemerintah)

dimana otoritas pembuatan hukum telah didelegasikan oleh penguasa.

Menurut Austin hukum buatan hakim adalah hukum positif dalam

pengertian yang sebenamya dari istilah ini, karena aturan-aturan yang

dibuat hakim melalui kekuatan hukum mereka berupa kekuasaan yang

manusia sendiri.

Hukum manusia dibedakan lagi menjadi:

a. Hukum yang sungguh-sungguh (properly so called).      Hukum

ini adalah undang-undang yang berasal dari suatu kekuasaan

politik, atau peraturan-peraturan pribadi-pribadi swasta yang

menurut undang-undang yang berlaku.

b. Hukum yang sebenamya bukan hukum                              (improperly so

called). Seperti peraturan-peraturan               yang berlaku bagi suatu

klub olahraga, pabrik,             dan sebagainya. Peraturan-peraturan

ini bukan hukum dalam arti yang sesungguhnya, sebab tidak

berkaitan dengan pemerintah sebagai pembentuk hukum.

 

Jika kita mengacu pada apa yang dikatakan oleh Austin maka

menurut Huijbers (1995: 41) ada dua turunan pandangan:

1.   Bidang yuridis mendapat tempat yang terbatas, yaitu menjadi

unsur negara. Wilayah hukum bertepatan dengan wilayah suatu

negara.

2. Hukum mengandung arti kemajemukan sebab terdapat beberapa

bidang hukum di samping negara, walaupun bidang-bidang itu

tidak mempunyai arti hukum dalam arti yang penuh. Hukum

dalam arti yang sesungguhnya adalah hukum yang berasal dari

negara dan yang dikukuhkan oleh negara, Hukum-hukum lain

tetap dapat disebut hukum, tetapi tidak memiliki arti yuridis

yang sesungguhnya.

96

 

Austin menyatakan demikian karena bertolak dari kenyataan

bahwa terdapat suatu kekuasaan yang mernberikan perintah-perintah

dan ada orang yang menaati perintah-perintah         tersebut.   Tidak penting

mengapa orang menaati perintah-perintah ters ebut, ada orang yang

mentaati karena rnerasa memiliki           kew ajib an  untuk   memperhatikan

kepentingan umum, takut akan kekacauan , terpaksa        dan lain sebagai-

nya tidak menjadi persoalan. Yang jelas jik a tidak mentaati, maka

akan dikenakan sanksi .       Maka untuk dap at dise but hukum menurut

Austin diperlukan adanya unsur-unsur             sebagai    berikut: (1) adanya

penguasa   (souvereighnityy,    (2)   suatu pe rintah   (command) ,    (3) kewa-

jiban untuk menaati (duty) , dan (4)       sanksi bagi mereka yang tidak taat

(sanction ).

Dengan demikian Austin, sebagaimana dikatakan oleh Fried-

man (1990), mengganti ideal keadilan yang secara tradisional dipan-

dang sebagai pokok utama segala hukum, dengan               perintah seorang

penguasa. Definisi Austin (dalam Friedman ,                1990) tentang hukum

berbunyi sebagai berikut:

97

 

Teori Austin yang berlandaskan pada perintah penguasa-

penguasa dalam arti negara modem kemudian d ikembangkan                 oleh

Rudolf von Jhering dan George Jellinek. Kaum positivi sme sej ak dar i

Austin, amat terpengaruh oleh teori hukum dengan                           men gubah     pene-

kanan dari teori-teori keadilan menjadi teori-teori negara                                  berdaulat

nasional sebagai gudang dan sumber kekuasaan hukum . Ha ns Kelsen

dan para pengikutnya yang secara kolektif dikenal             seba gai “Mazhab

Wina” kemudian mengembangkan positivi sme ana litis Austin .

 

 

Kritik atas Teori Austin

Penggolongan Austin yang mengkategorikan                 semua hukum

sebagai perintah telah dikritik oleh berbagai penulis seperti Bryce,

Gray, Dicey, yang menganggap hak-hak privat, undang-undang admi-

nistratif dan hukum-hukum deklaratori tidak bisa digolongkan seb agai

perintah. Disamping itu, teori Austin tidak menawarkan pemecahan

dalam menghadapi interpretasi-interpretasi yang bertentangan den gan

 

Every   positive

is directly    or circuitously, by sou vereighn

suatu keadaan atau preseden. Pemisahan hukum secara ketat da ri cita-

 

individual or body, to a member or memb ers           of          independent

political society                its author is supreme.

 

Hukum adalah tiap -tiap      undang-undang positif yang ditentukan

secara langsung atau tidak Iangsun g            oleh   seorang pribadi atau seke-

lompok orang yang berwibawa bagi               scorang    anggota atau anggota-

anggota suatu masyarakat politik yang bcrdaulat,                dimana yang mem-

bentuk hukum adalah yang tcrtinggi.

Menurut Huijbers (1995) kelemahan utama teori                      Austin terletak

pada pandangan bahwa negara dan hukum adalah kenyataan belaka.

Hukum dianggapnya tidak lain daripada perintah-perintah yang dike-

luarkan oleh yang berkuasa dan yang biasanya ditaati. Hal ini berarti

jika peraturan-peraturan tersebut secara            de  fa cto   ditaati, peraturan-

peraturan tersebut dianggap berlaku juga secara                  de jure.   Hal ini

menurut Huijbers tidak dapat dibenarkan, menurut Huijbers hukum

yang sesungguhnya adalah hukum yang legal.

cita keadilan juga dibantah oleh pemikir-pernikir lain .

 

 

3. Positivisme Pragmatik

Sebagai lawan dari teori Austin adalah gerakan kaum Realis

Amerika yang disebut Positivisme Pragmatis, yang mempelajari

hukum sebagai karya-karya dan fungsi-fungsinya bukan scbagai yang

tertulis di atas kertas. Hal ini merupakan sua tu pendekatan pragmatis

terhadap hukum, yang mengarah pada akhir segala sesuatu, hasil dari

akibat-akibatnya. Sebagaimana dinyatakan oleh Friedmann, menjelang

akhir abad ke-19, skeptisisme yang sehat yang menyerang pendirian

jurisprudensi analitis mengambil dua bentuk yang amat berbeda: suatu

idealisme hukum baru yang sebagian bersifat metafisik dan sebagian

lagi bersifat sosiologis, lentur dan bertekad melawan asumsi positivis-

me analitis dan mengarah untuk meneliti realitas-realitas masyarakat

modem dalam hubungan mereka dengan hukum modem (Friedmann,

1990: 294).

 

98

 

Positivisme Pragmatik dan Analitik merupakan kubu-kubu yang

terpisah dalam konsep-konsep                 hukum mereka. Bagi kaum positivis

Analitis, hukum dipisahkan dari etika, sernentara kaum Positivis Prag-

matis melekatkan makna penting kebaikan etik ,                              tetapi esensi dari

kebaikan -sebagairnana dinyatakan oleh WiIIiam James- adalah benar-

benar memuaskan keinginan-keinginan. Roscoe Pound (lahir 1870)

pendiri fiIsafat sosial Amerika ,               benar-benar       terpengaruh oleh filsafat

Pragmatis yang dikemukakan oleh William lames, karena ia meng-

anggap tujuan akhir hukum dalam rangka memuaskan keinginan-

keinginan semaksimal mungkin.

Hukum menurut Positivisme Pragmatik, harus ditentukan oleh

fakta-fakta sosial yang berarti sebuah konsepsi hukum dalam perubah-

an terus menerus dan konsep masyarakat yang berubah lebih cepat

dibandingkan hukum, sementara Positivisme Analitik mempertahan-

kan kestabilan yang kaku dalam hukum.            Kaum Positivis Pragmatis

mementingkan hukum seharusnya, sedangkan tcori Austin hanya me-

mentingkan ‘apa hukum itu?’. Perbedaan ini disamping yang lainnya

membuat Positivisme menjadi scbuah teori yang mengalami kontra-

diksi dalam dirinya sendiri.

 

 

C. TEORI HUKUM MURNI

 

Pembahasan utama       Hans Kelsen (lahir 1881) dalam teori

hukum murni adalah untuk membebaskan             ilmu hukum dari unsur

ideologis. Kcadilan misalnya, oleh Kelsen dipandang sebagai sebuah

konsep ideologis. la melihat dalam keadilan sebuah ide yang tidak

rasional dan teori hukum murni tidak bisa menjawab tentang perta-

nyaan tentang apa yang membentuk keadilan karena pernyataan ini

sama sekali tidak bisa dijawab secara ilmiah. Jika keadilan harus di-

identikkan dengan legaIitas, dalam arti tempat, kcadilan berarti meme-

lihara sebuah tatanan (hukum) positif melalui aplikasi kesadaran

atasnya.

Teori hukum murni menenurut Kelsen adalah sebuah teori

hukum positif. Teori ini berusaha menjawab pertanyaan “apa hukum

 

99

 

itu?” tetapi bukan pertanyaan “apa hukum itu seharusnya?”. Teori ini

mengkonsentrasikan diri pada hukum semata-mata dan berusaha

melepaskan ilmu pengetahuan hukum dari campur tan gan                         ilrnu penge-

tahuan asing seperti psikologi dan etika. Kelsen memisahk an              penger-

tian hukum dari segala unsur yang berperan dal am                                 pembentukan

hukum seperti unsur-unsur psikologi ,           sosiologi, sejarah, politik,          dan

bahkan juga etika. Semua un sur ini termasuk ‘ide                hukum ‘   atau  ‘ isi

hukum’ . Isi hukum tidak pernah lepas dari unsur politik, psikis, sosial-

budaya, dan lain-lain. Bukan demikian halnya dengan pengertian

hukum. Pengertian hukum menyatakan hukum dalam arti formalnya,

yaitu sebagai pcraturan yang berIaku secara                          yuridis .     Inilah     hukum

dalam arti yang benar, hukum yang murni (das reine Recht).

Mengapa kewajiban yang terIetak dalam kaidah hukum adalah

suatu kewajiban yuridis? Menurut pcnganut positivisme, hal ini ter-

sangkut dengan suatu kcharusan ekstem,           yaitu karena ada paksaan/-

ancaman dari pihak luar jika tidak menaati. Dasarnya adalah bahwa

asal mula segala hukum adalah undang-undang dasar negara. Oalam

relasi negara ada penguasa dan ada rakyat, ada yang memberi perintah

dan ada yang harus menaati perintah.

Pandangan kedua menyatakan bahwa hal ini tersangkut dengan

suatu kewajiban intern, yaitu karena dorongan dari batin untuk mene-

rimanya sebagai suatu kewajiban yang harus ditaati. Kewajiban yuri-

dis dianggap sebagai suatu dorongan batin yang tidak dapat dielakkan.

Lalu bagaimana hukum dapat mewajibkan secara batin? Menurut

Hans Kelsen (1881-1973) adalah karena adanya kewajiban yuridis,

sebab memang beginilah pengertian kita tentang hukum.                 suatu per-

aturan yang a-normatiftidak masuk akal , dan tidak merupakan hukum.

Meminjam istilah Immanuel Kant,                  Kelsen     menyatakan bahwa kewa-

jiban hukum tennasuk dalam pengertian                 transedental-logis,       yaitu

“mewajibkan” harus diterima sebagi syarat yang tidak dapat dielakkan

untuk mengerti hukum sebagai hukum. Jika menurut Kant ada norma

dasar    (grundnorm) bagi moral (yang berbunyi: berlakulah sesuai

dengan suara hatimu), maka menurut Hans Kelsen dalam hukum juga

terdapat suatu norma dasar yang harus dianggap sebagai sumber keha-

rusan dibidang hukum . Norma dasar (grundnorm)                     tersebut berbunyi:

 

 

100

 

orang-orang harus menyesuaikan diriya dengan apa yang telah

ditentukan.

Meskipun Kelsen telah berusaha menjawab pertanyaan tentang

mengapa hukum mewaj ibkan secara batin, .namun jawaban Kelsen

banyak dikritik karena konsep norma dasar abstraknya tidak dapat

dipahami. Kritik ini membawa Kelsen menerima teori                       stufenbau.

Menurut Kelsen syarat satu-satunya bagi suatu peraturan untuk dapat

disebut sebagai hukum yang mewaj ibkan adalah bahwa terdapat suatu

minimum efektivitas (yaitu orang harus menaatinya). Dengan kesim-

pulan ini Kelsen sudah beralih ke positivisme hukum.

Jawaban yang lain diberikan oleh konsepsi Islam tentang makna

syariat sebagai hukum yang mewajibkan. Seorang muslim harus

menginsyafi bahwa kehidupannya telah diatur oleh syariat. Syariat

tersebutlah yang memberi makna sakral pada setiap aspek kehidupan,

meneiptakan keseimbangan pada masyarakat, dan menyediakan media

bagi umat manusia agar dapat menjalankan kehidupan sal eh sarat

dengan nilai, serta untuk memenuhi fungsi manusia sebagai makhluk

Tuhan yang ditempatkan di muka bumi agar mengabdikan diri kepada

kehendak-Nya. Menurut Sayyid Hossein Nasr (2003: 90) melalui

syariat,   seorang muslim mempunyai potensi untuk dapat melampui

makna esoterik syariat itu sendiri dan menempuh jalan                     (thariqat)

menuju kebenaran     (hakikat) yang terkandung di balik sisi lahir dan

ajaran-ajaran hukum yang suei.

Nasr menjelaskan bahwa syariat adalah garis yang mernbentuk

sebuah lingkaran, tiap-tiap titik dalam garis yang melingkar tersebut

mewakili tempat berpijak umat muslim. Tiap-tiap radius yang meng-

hubungkan setiap titik sudut pada garis lingkaran ke titik di tengah

lingkaran itu menyirnbolkan       thariqat, dan titik yang berada ditengah

adalah hakikat, yang menjadi sumber keberadaan garis radial, dan

sudut garis yang membentuk lingkaran. Semua bagian lingkaran,

dengan titik di tengah, garis lingkaran dan garis radialnya dapat dium-

pamakan mewakili totalitas tradisi Islam. Seseoranng diperkenankan

untuk memilih salah sa tuIgaris radial sebagai rute yang mengantar-

kannya ke titik yang berada di tengah-tengah lingkaran, namun

dengan satu syarat yakni melalui garis perrnulaan dari lini yang

 

101

 

membentuk lingkaran. Sedemikian besar makna syariat, sehingga

tanpanya pengembaraan spiritual tidak akan mungkin dapat ditempuh,

dan dengan dernikian agama itu sendiri tidak akan dapat dipraktikan.

Dari sini kita mengetahui bahwa konsep Nasr diatas telah

menjelaskan konsep transedental-Iogis hukum yang dikemukakan

Immanuel Kant.

 

 

Kritik atas teori Kelsen

Singkatnya teori Kelsen mernbatasi dirinya pada hukum seba-

gaimana adanya tanpa memperhatikan keadilan atau ketidakadilannya.

Akan tetapi menurut Stammer kemurnian mutlak bagi teori hukum :

apapun adalah tidak mungkin. Kelsen harus mengakui manakala teori

ini memasuki pertanyaan tentang norma-norma fundamental yang

bertentangan. Pertanyaan, yang merupakan norma-norma fundamental

yang valid, dirnana teori murninya tidak bisa menghindari, karena

tanpa itu maka keseluruhan bangunan itu akan runtuh (Friedrnann,

1990: 285). Dari sisi lain, Lauterpaeht seorang pengikut Kelsen telah

mernpertanyakan apakah teori hierarki norma-norma hukum tidak

menyatakan seeara langsung sebuah pengakuan akan prinsip-prinsip

hukum alam, walaupun Kelsen menyerang keras ideologi hukum alam

(Friedmann, 1990: 286).

Keeuali teori hukum murni menyatakan bahwa situasi-situasi

yang mengabaikan pilihan diantara dua ideologi alternatif, semi sal

interpretasi-interpretasi yang memperdebatkan undang-undang, teori

ini menolak mernberikan bimbingan apapun juga bagi pemeeahan

atas-atas konflik semaeam itu. Tidak dapat disangkal bahwa hukum

dalam kasus-kasus semaeam itu tidak bisa diinterpretasikan dengan

tanpa menunjuk kepada cita-cita hukum. Selanjutnya hukum menurut

Austin dan Kelsen merupakan sebuah tatanan yang digaransi oleh

aneaman-aneaman -yang menurut Friedmann merupakan eiri khas

hukum kriminal- ia mengabaikan fungsi utama hukum sebagai alat

kontrol sosial, diluar proses pengadilan atau penuntutan perdata.

Dengan pernberian kekuasaan, tidak: melalui tatanan yang digaransi

oleh aneaman-aneaman, hukum memiliki kontribusi dalam kehidupan

 

 

102

 

sosial. la memungkinkan individu-individu bisa membentuk hubung-

an-hubungan hukum mereka dengan orang-orang lain melalui kontrak,

wasiat, perkawinan dan tindakan hukum lainnya.

 

 

D. HUKUM BERLANDASKAN WAHYU

 

Menarik untuk dieatat bahwa Roseoe Pound menandai kejadi-

an-kejadian pada abad ke- I 9 yang memberi sebuah rangkaian baru

kepada hukum alarn dengan hasil bahwa hukum alam diinterpre-

tasikan sesuai dengan perubahan sosial dan kehilangan karakter

idealnya sebagai hukum yang lebih tinggi . la mengatakan:

Karena kemacetan organisasi sosial feodal, kenaikan perda-

gangan dan era penemuan, kolonisasi dan eksploitasi atas sumber-

sumber benua-benua barn, bersarnaan dengan rnunculnya nation-

.  nation menggantikan tumpukan teritorial yang dipegang oleh budak,

ruembutuhkan sebuah hukum nasional yang disatukan dalarn dominasi

nasional. Starkey mcngajukan kodifikasi kepada Henry VIII dan

Durnoulin    menghimbau       harmonisasi      dan     unifikasi      hukum     adat

Perancis dengan kcdifikasi akhirnya. Para teolog yuris Protestan abad

ke- 19 mencmukan scbuah basis filsafat untuk me menu hi keinginan-

keinginan waktu itu dalarn negara yang dinobatkan sebagai bersifat

ketuhanan dan dalam hukum alam yang dipisahkan                  dari teologi dan

berlandaskan semata-mata kepada akal, merefleksikan keyakinan tak

terbatas pada akal dengan datangnya               renaissance.     Jadi setiap yuris

nasional biasa menafsirkan sendiri hukum alam berkat kemarnpuan

akalnya, sebagaimana         setiap orang Kristcn bisa menafsirkan finnan

Tuhan untuk dirinya sendiri seperti yang ditunjukkan oleh akal dan

kesadarannya. Disisi lain para Yuris Katolik kalangan Kontra-refor-

masi menemukan sebuah          basis filsafat untuk memenuhi keinginan-

keinginan yang sama dalarn sebuah konsepsi hukurn alam sebagai

sua tu sistem batasan-batasan perbuatan manusia yang mengekspesikan

sifat manusia, yaitu gagasan rnanusia sebagai makhluk rasional, dan

hukum positif sebagai sistem ideal yang mengekspresikan hukum

sebuah negara yang tidak menyatu (Pound,          1953: 13-14).

 

103

 

Dari sini filsafat hukum dengan akal sebagai basisnya, ambruk

karena hukum alam ditafsirkan oleh setiap yuris menurut akalnya

sendiri padahal berbeda dari satu ke lain orang dan lain tempat

(Muslehuddin, 1991: 40).

I-Iume  telah memberikan rembesan analisis logis yang meng-

hancurkan pretensi hukum alam terhadap validitas ilmiah. Teori

hukum alam ditandaskan pada scbuah konsepsi akal sebagai potensi

yang melekat pada diri setiap manusia dan menciptakan norma-norma

perbuatan yang abadi dan pasti. Hume memperjelas bahwa akal

seperti dipahami dalam sistem hukum alam mengacaukan tiga hal

berbeda:

a. Kebenaran-kebenaran yang tidak dapat dihindarkan dan pen-

ting, yang amat sedikit sekali seperti aksioma-aksioma metema-

tika. Aksioma tersebut tidak ada dalam kawasan tingkah laku

manusia.

b. Hubungan antara fakta-fakta atau kejadian-kejadian yang seeara

formal dijelaskan melalui ‘sebab dan akibat’ karena fakta dan

kejadian selalu diasosiasikan dalam suatu pola khusus, sebagai

bahan bagi pengalaman dan observasi. Tetapi tidak ada keperlu-

an logis dalam asosiasi semacam itu, ia semata-rnata sebuah

bahan    bagi     hubungan     empirik      sedangkan     observasi      atas

hubungan-hubungan ini merupakan objek ilmu pengetahuan

empirik.

e. Perbuatan manusia yang ‘rnasuk akal’. Teori-teori hukum alam

mengasumsikan bahwa ada prinsip-prinsip tingkah laku rasional

yang karenanya mcrupakan bagian dari validitas universal dan

penting (Sabine, 1964: 59).

 

Analisa diatas menunjukkan bahwa konsep akal yang dijadikan

tumpuan teori hukum alam, hanyalah sebuah kekaeauan dari tiga

faktor yang pengertiannya amat berbeda ini. Karena itu, Hume

menolak akal. Menurutnya akal hanyalah semata-mata khayalan, dan

dibuat-buat. Untuk ini Muslehuddin menyatakan:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I

 

 

104

 

Filsafat hukum yang bertujuan mencapai keadilan mutlak

berlandaskan pada hukum alam, tidak akan bertahan lama selama akal,

 

105

 

bunuhan, pemotongan anggota badan maupun tindakan melu-

kai. Termasuk memelihara kemuliaan dan harga diri manusia

 

yang selalu berubah, menjadi

Demikina pula keadilan itu

dengan jalan mencegah perbuatan         qadzcf (menuduh berzina),

 

sendiri merupakan karakter cair dan tidak bisa memberikan sebuah

definisi yang tepat. Kedua faktor ini menyebabkan kelemahan filsafat

hukum, walaupun ia talah berjuang keras untuk mencapai tujuan yang

diinginkannya. Ini membuktikan perbedaan antara akal dan wahyu.

Akal gaga] mencapai keadilan, tetapi wahyu telah menjadi sumber

abadi bagi keadilan dan pada kenyataanya sebagai keadilan mutlak.

Karena hanya Tuhanlah yang mengetahui apa yang mutlak baik dan

adil untuk manusia. Karena itu Islam mendekati keadilan dengan cara

yang dijel’askan oleh Tuhan dan menurut petunjuk yang digariskan

oleh wahyu, karena konsep keadilan tidak pemah berubah maupun

bervariasi tetapi tetap abadi dibawah wahyu (Muslehuddin, 1995: 41).

Menurut As Syatibi, Abu Zahroh (1994), Abdul Wahab Khalaf

(1994), Islam telah mensyariatkan berbagai hukum yang menjamin

terwujudnya hal-hal       yang   dharuri  (primer) yang meIiputi: agama,

jiwa, akal, kehormatan, dan harta kekayaan; dan menjamin pemeIiha-

raan terhadap kelima hal tersebut.

1. Memelihara agama

Agama adalah sekumpulan akidah, ibadah, hukum dan undang-

undang yang disyariatkan oleh Allah untuk mengatur hubungan

manusia denganNya, dan hubungan antar manusia (Khalaf,

1994: 314). Untuk mewujudkan dan memeIihara agama, Islam

telah mensyariatkan iman dan hukum pokok ajaran dasar islam

tsyahadatain,   sholat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji), kewa-

jiban berdakwah untuk menyeru manusia kepada agama, kewa-

jiban berjihad untuk memerangi orang-orang yang menghalangi

agama, hukuman terhadap orang yang murtad dari agama, dan

hukuman     terhadap     pembuat     bid ‘ah    (mengada-ada      dalam

agama).

2. Memeliharajiwa ial-Muhafadzah ala an-Nafsy

Yaitu memelihara hak untuk hidup terhormat dan memelihara

jiwa agar terhindar dari tindakan penganiayaan, berupa pem-

dan melindungi kebebasan berpikir, berpendapat, berkarya dan

bergerak ditengah dinamika sosial sepanjang tidak merugikan

orang lain (Zahrah, 1994: 549-550).

3. Memelihara akal (al-Muhafadzah ala al- ‘aql)

Yaitu menjaga akal agar tidak terkena bahaya (kerusakan) yang

mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak berguna lagi

dimasyarakat, menjadi sumber keburukan dan penyakit bagi

orang lain. Arti penting pemeliharaan akal:

a. Setiap individu sebagai bagian dari sebuah tatanan ma-

syarakat, maka akal yang dimiliki oleh setiap anggota

masyarakat memiliki fungsi sosial, Sebab denagan akal

tersebut, setiap individu ikut membentuk po la kehidupan

masyarakat.

b. Orang yang membiarkan akalnya dalam kerusakan, akan

menjadi beban yang harus dipikul oleh masyarakat.

c. Dengan rusaknya akal seseorang maka memungkinkan

timbulnya ketidaktertiban dalam masyarakat. Masyarakat

akan menanggung resiko atas terjadinya kejahatan dan

pelanggaran       yang     disebabkan      oleh      rusaknya      akal

(Zahrah, 1994: 549-550).

Oleh karena itu Islam mensyariatkan pengharaman minuman

khamar dan segala hal yang memabukkan yang menyebabkan

hilangnya (rusaknya) akal.

4. Memelihara keturunan tal-Muhafadzah ala an-Naslt

Yaitu memelihara tatanan nilai dalam proses pergaulan diantara

sesama manusia dan mencegah terjadinya kerusakan biologis

yang diakibatkan oleh ketidakterjagaan didalam proses interaksi

sesama manusia. Oleh karena itu Islam melarang menikah dan

berhubungan kelamin dengan muhrimnya (incest)      dan melarang

berzina dengan        memberikan     sanksi     yang    seberat-beratnya

 

 

 

 

berupa hukuman hadd.

 

106

 

5. Memelihara harta tal-Muhafadzah ala al-Mali

Untuk menghasilkan       dan   mernperoleh harta      kekayaan,   Islam

mensyaratkan kewaj iban beru saha                 untuk mernperoleh            rezeki ,

kebebasan bermuamalah, pertukaran,         perdagangan    dan kerja-

sama dalarn usaha. Sed an gkan      untuk mem elihara     harta , Islam

mensyariatkan pengharama n pencurian       den gan  hukuman  hadd

bagi setiap orang ya ng melakukannya, dan mengharamkan riba

karena termasuk perbuatan aniaya (dzalim)     terhadap orang lain

dalam hal harta.

 

 

 

BAB VII

AZASHUKUM

 

 

Pengertian azas hukum adalah prin sip -prin sip            yang   dianggap

dasar atau fundamen   hukum atau pen gertian dan    nila i-nilai yang men-

j adi titik tolak berpi kir       tentang   huku rn atau titik    tolak   bagi pemb en-

tukan undang-undang            dan interpretasi           undang-undang        atau prinsip-

prinsip yang kedudukannya lebih tin ggi daripada hukum yang ditentu-

kan manusia, Ada tiga macam azas hukum (H uijbers, 1995: 82) :

I. Azas objektif hukum yang ber sifat          moral. Prin sip     ini telah    ada

pada para pemikir Zaman Kla sik

2. Azas objekti f     hukum yang bersifat      rasiona l, yaitu prinsip-prin-

sip yang term asuk    pengertian hukum dan aturan hidup bersama

yang rasional. Prinsip-prinsip ini juga telah dit erima sej ak dahu –

lu, akan tetap i    baru diungkapk an secara nyata sejak        mulainya

zaman modem,     yaitu   sejak timbulnya negara-negara nasional

dan hukum yan g dibuat oleh kaum yuris secara profesional.

3. Azas subjektif hukum         yang bersifat     moral dan rasional, yaitu

hak-hak yang    ada pada   manusia   dan yang menjadi      titik tolak

pembentukan         hukum.     Perkembangan         hukum paling nampak

pada bid ang  ini.

 

Hukum dalam    arti objektif menandakan       kaidah yang sebagai

normatif meng atur     kaidah kehidup an    bermasyarakat. Hukum dalam

arti   subjektif men and ak an      hak dan    kewajiban    yang ada pada orang

yang    merupakan an ggota          masyarakat , yakni sebagai subjek                  hukum .

Seperti azas -aza s yang

 

 

 

A. AZAS OBJEKTIF HUKUM

 

1. Azas Rasional

108

 

109

 

kerelaan hati orang-orang untuk mengakui suatu aturan hidup yang

melebihi kesukaan individual. Aturan hidup itu menjadi sasaran bagi

seorang yang bersikap adil adalah aturan Sang Pencipta, yang menjadi

 

Azas rasional hukum,  yaitu azas yang bertalian dengan suatu

aturan hidup bersama yang masuk akal, dan karenanya diterima

sebagai titik tolak bagi pembentukan suatu tata hukum yang baik.

Azas rasional hukum meIiputi azas bagi hukum objektif (undang-

undang) dan hukum subjektif (hak), yaitu antara lain:

a. Hak manusia sebagai pribadi.

b. Kepentingan masyarakat.

c. Kesamaan hak didepan pengadilan.

d. PerIindungan terhadap yang kurang mampu.

e. Tidak ada ganti rugi tanpa kesalahan (Huijbers, 1995: 87).

 

 

2. Azas Moral

Azas moral hukum,   yaitu azas yang lebih dipandang sebagai

sesuatu yang idiil, yang belum tentu dapat diwujudkan dalam tata

hukum yang direncanakan. Sejak zaman Romawi prinsip-prinsip

moral ini dipandang sebagai hukum kodrat, entah hukum itu dianggap

berkaitan dengan kehendak Tuhan atau tidak. H.L.A. Hart, seorang

positivis berpandangan bahwa undang-undang             harus dibuat dengan

berpedoman pad a prinsip moral (“minimum hukum kodrat”) .                 Akan

tetapi prinsip ini hanya sebagi prinsip regulatif saja, artinya undang-

undang itu tetap hukum, walaupun melawan prinsip moral (Hart,

1979: 76). Gustav Radbruc berpendapat bahwa diperIukan sedikit

natural law yang berfungsi sebagai prinsip konstitutifhukum.

Emil Brunner (1889-1966) menyatakan bahwa negara harus

tunduk pada suatu norma kritis, yaitu hukum kodrat. Hukum kodrat itu

bukan hukum, bila dipandang secara tersendiri, akan tetapi berfungsi

sebagai prinsip konstitutif bagi undang-undang. Sehingga undang-

undang yang tidak menurut hukum kodrat, tidak dapat diakui sebagai

hukum. Menurut isinya hukum kodrat itu merupakan buah usaha ma-

nusia untuk bertindak secara adil, yaitu hukum kodrat mengandaikan

nyata dalam kesadaran manusia tentang tugasnya di dunia. Tugasnya

itu tidak selalu sama, sebab berkembang bersama dengan kesadaran

etis manusia.      Seorang yang beriman akan menerima petunjuk dari

firman Tuhan, akan tetapi orang yang tidak beriman seperti Aristoteles

akan    memikirkan      makna    keadilan juga         (Brunner,      1943    dalam

Huijbers, 1988: 256-259).

Muhammad Iqbal (1934: 1966) mendukung pandangan bahwa

hukum merupakan hasil upaya manusia untuk bertindak sesuai dengan

prinsip-prinsip keadilan. Sikap adil dan baik diperlukan guna mem-

bangun suatu hidup bersama yang diatur melalui hukum dan cinta

kasih. Sikap ini dianggapnya sebagai suatu rasa dasar kemanusiaan

yang berkaitan erat dengan sikap keagamaan juga.

Kehendak untuk berIaku baik terhadap sesama manusia ber-

muara pada pergaulan antar pribadi, berdasarkan prinsip-prinsip rasio-

nal dan moral. Kehendak yang sama juga mendorong manusia untuk

membuat suatu aturan hidup bersama yang sesuai dengan prinsip-

prinsip moral tersebut, yaitu dengan membentuk suatu sistem norma-

norma yang harus ditaati semua pihak yang termasuk dalam suatu

masyarakat tertentu.

Kehendak untuk mengatur hidup menghasilkan tiga macam

norma:

1. Norma moral yang mewajibkan tiap-tiap orang secara batiniah.

Norma ini bersifat subjektif, karena berkaitan dengan suara hati

nurani subjek yang bersangkutan. Selain itu norma ini juga bersifat

“menuntut” untuk ditaati.

2. Norma-norma masyarakat, atau norma-norma sopan santun yang

mengatur pergaulan secara umum. Norma ini bersifat objektif,

karena berhubungan dengan masyarakat dan kebudayaan dan ber-

sifat tidak “menuntut”, tetapi hanya “mengundang”.

3. Norma-norma yang mengatur hidup bersama secara umum dengan

menentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban. Norma inilah yang

dimaksud dengan norma hukum. Norma ini bersifat                       objektif,

 

110

 

karena berkaitan dengan negara dan bersifat menuntut untuk

ditaati.

 

Diatas dinyatakan bahwa norma-norma berdasar atas kehendak,

sebabnya adalah bahwa suatu keharusan yang dalam tiap-tiap norma

mengandaikan bahwa ada “sesuatu yang menghendaki”. Demikian

pula dalam bidang hukum ,        “sesuatu yang menghendaki” itu adalah

warga negara yang bersama-sama mau mengatur hidupnya secara

yuridis. Oleh karcna itu dalam bidang hukum, sustu kehendak yuridis

merupakan akar dan syarat scluruh hukum (positif).

R. Stammler menerangkan bahwa kehendak yuridis tersebut

bukanlah suatu realitas psikologis,             seperti halnya kehendak untuk

memberikan harta jika seseorang dirampok. Karena memberikan harta

bukanlah suatu kewajiban yuridis, melainkan semata-mata oleh sebab

takut (psikis). Oleh karcna itu kehendak psikologis termasuk bidang

“ada”, bukan bidang “harus”. Tampak juga bahwa kehendak psiko-

logis itu bersifat subjektif, sedangkan kehendak yuridis bersifa netral

dan objektif (Kelsen). Menurut Stammler kehendak bebas dan otonom

yang membangun hidup bersama secara yuridis bersifat formal belaka

(dalam arti     Fortnen a priori Kanti,  dan tidak ada sangkut pautnya

dengan isi suatu tata hukum yang bcrsifat materiil. Oleh karena itu

harus dibedakan dcngan teliti antara pengertian hukum yang formal,

dan ide hukum yang material (Huijbers, 1988: 150-156).

 

 

B. NILAI SUBJEKTIF HUKUM

 

1. Hak dan Kewajiban

Hak adalah keistimewaan yang membuka kemungkinan baginya

untuk diperlukan sesuai dengan keistimewaan tersebut. Kewajiban

adalah permintaan berupa sikap atau tindakan yang sesuai dengan

keistimewaan yang ada pada orang lain. Ada dua macam hak:

1). Hak yang dianggap melekat pada tiap-tiap manusia sebagai

manusia sebab berkaitan dengan realitas hidup manusia sendiri.

 

III

 

Hak ini merupakan bagian dari eksistensi etis manusia di dunia

ini. John Locke menerangkan bahwa manusia pada                     zaman

purbakala pun mengetahui hak dan kewajiban yang ada pada

dirinya sebagaimana diajarkan oleh alam. Menurut Locke, “Th e

state of nature has a law of nature to  govern it, which obliges

everyone, and reason, which is that law, teaches                all mankind

who will but consult it, that being all equal and ind ependent, no

one ought to to harm another in his                 life,   health,    liberty   or

possesions”  (“Negara alam” telah memiliki “hukum alam”

untuk mengatumya, yang mewajibkan seseorang dan dengan

alasan tersebut ia kita sebut sebagai hukum, mengajarkan semua

jenis manusia yang akan meminta petunjuknya,                          dengan mem-

perlakukannya sama rata dan tidak saling bergantung, tidak                            ada

yang saling menyakiti satu sama lain dalam kehidupannya,

kesehatannya, kebebasan atau dalam hal kepemilikan           (Coples-

ton, 1961-1975:    138)

2). Hak yang ada pada manusia akibat adanya peraturan perun-

dang-undangan. Hak ini tidak langsung berhubungan dengan

martabat manusia, tetapi menjadi hak sebab termuat dalam

undang-undang yang sah.

 

Hak dan kewajiban manusia melekat sebagai akib at               manusia

memiliki martabat. Manusia memiliki martabat, mengapa? Karena

manusia merupakan makhluk istimewa yang tidak           ada bandingannya

di dunia. Keistimewaan ini nampak dalam pangkatnya, bobotnya, rela-

sinya, fungsinya sebagai manusia. Bukan sebagai makhluk individual,

melainkan sebagai anggota kelas manusia, yang berbeda dengan tum-

buh-tumbuhan dan binatang. Keistimewaan manusia dapat diterang-

kan sebagai berikut:

a. Secara ontologis

a). Menurut filsuf Yunani, Skolastik dan Arab, manusia adalah

makhluk istimewa yang tinggal pada tangga yang paling atas

seluruh hierarki makhluk-makhluk, sebagai wujud yang berakal

budi dan/atau ciptaan Tuhan.

b). Max Scheler: manusia merupakan suatu makhluk ruhani yang

 

 

112

 

melebihi makhluk-makhluk lainnya karena akal budinya yang

transeden.

c). G Marcel: manusia bersifat istimewa karena sebagai pribadi

yang memerlukan orang lain.

 

b. Secara etis

Immanuel Kant menyatakan bahwa nilaimanusia terletak dalam

kebebasannya dan otonominya, yang nyata dalam praksis hidup,

dalam hidup moralnya. Tetapi hidup moral yang bemilai itu berakar

dalam nilai religiusnya, sebab kebebasannya berasal dari Tuhan .

 

 

2. Hak Azasi

Hak-hak asasi manusia diakui sebagai bagian humanisasi hidup

yang telah mulai tergalang sejak manusia menjadi sadar tentang tern-

patnya dan tugasnya di dunia ini. Oleh karena itu hak asasi dianggap

sebagai fundamen yang diatasnya seluruh organisasi hidup bersama

harus dibangun. Hak -hak azasi dibagi dalam dua jenis:

1). Hak azasi individual yaitu hak atas hidup dan perkembangan

hidup seperti hak atas kebebasan batin, hak atas nama baik, hak

atas kebebasan agama, dan sebagainya. Hak-hak dasar ini disu-

sun terutama demi perlindungan pribadi manusia terhadap

kekuasaan Negara.

2). Hak azasi sebagai makhluk sosial, yang dibagi dalam hak-hak

ekonomis, sosial dan kulturaI.

 

 

Universal Declaration of Human Right            (1948) tidak mencipta-

kan hak-hak azasi, tetapi hanya memaklumkannya, meliputi:

a). Manusia mempunyai hak-hak kebebasan politik, dimana tiap

pribadi harus dilindungi terhadap penyelewengan dari pihak

pemerintah.

b). Manusia mempunyai hak-hak kebebasan sosial, yaitu hak untuk

memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, perawat-

an, kesehatan dan pendidikan.

 

113

 

Manusia mempunyai hak-hak kebebasan sipil dan politik dalam

menentukan pemerintahan dan policy pemerintahan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VIII

KEBEBASAN MANUSIA

DANPEMBEBANANHUKUM

 

 

Hukum    bersifat  mewajibkan/membebankan      dan lawan dari

pembebanan adalah kcbcbasan . Manusia diciptakan oleh Tuhan dalam

keadaan bebas dan merdeka,     lalu bagaimana kedudukan hukum dalam

konteks kebebasan manusia?

 

 

A. EKSISTENSI

 

Eksi stcnsi   adalah cara manusia berad a     di dunia sebagai subj ek

yang konkrit. Pengertian        manusia sebagai subjek yang konkrit disini

maksudnya adalah manusia dalam peng ertian subj ektif-konkr it yaitu

manusia dalam kedudukannya sebagai subj ek            di dunia

Eksistensi meliputi dua dimensi: dimensi immanensi,                 yaitu apa saja

yang dilakukan manusia berpusat pad a kesadaran              manusia tentang

dirinya, sehingga       seluruh hidupnya dialami sebagai bagian dirinya

(batinlsistit) , dan dimensi transedensi ,          yaitu manusia tidak hidup

dalam batin saja, tctapi apa yang dirasakannya dalam batin itu adalah

apa yang ada di luar dirinya.

 

 

I    Dalam filsafat tentan g    manusia, pertama-tama     manusia dimengcrti secara

obyektif-abstrak yaitu dalam dcfinisi       home est animal rationale       (manusia adalah

rnakhluk yang bcrakal budi). Kcmudian manusia dimengerti        sccara subjektif-abstrak

dalam ucapan Descartcs,     cogito  ergo sum   (saya bcrpikir maka saya ada), dimana

tekanannya tcrletak dalam kchidupan batin.           Terakhir dalam filsafat eksistcnsial

manusia dimengerti scc ara   subjektif-konkrit, manusia adalah subjek di dunia. Lihat

Huijbers (1995 : 52).

 

115

 

Manusia seba gai    subj ek  yang immanen dan transeden bersifat

dinamis,    hal ini ditandai dengan kenyataan          bahwa manusia berkem-

bang menuju arah ke depan .          Selain itu manusia juga berkembang

melalui tindakannya sen diri. Sifat manu sia                         yang dinamis tersebut

memunculkan ide kunci bagi pengertian manusia, yaitu kebebasan.

 

 

B. KEBEBASAN EKSISTENSIAL

 

Manusia memang tid ak     bebas   untuk masuk ke dunia kar ena      ia

tidak dapat memilih dari      siapa ia dilahirkan , dimana ia akan lahir , apa

jenis kelaminnya,      bagaimana bentuk     tubuhnya dan lain sebagainya.

Namun setelah manusia berada di dunia sesungguhnya ia merupakan

makhluk yang bebas .      Kebebasan    tersebut    menyangkut masa depan,

bukan masa yang lampau . Ma sa yang lampau        merupakan masa yang

harus ia terima dan sebagai ken yataan dari dirinya yang tidak dapat ia

hilangkan. Manusia kemudian men entukan arti dirinya dan mewujud-

kan kehidupannya sebagai kultur (kebudayaan).              Kultur merupakan

simbol keistimewaan dirinya sebagai              makhluk yang bebas. Kultur

tersebut dalam tingkatan yang lebih              tinggi termanifestasi menjadi

peradaban.   Oleh eksistensi       manusia ada ketika ia sebagai subjek di

dunia mampu menciptakan          budaya dan peradaban dalam rangka

mewujudkan kehidupannya. Dengan kata lain manusia yang tidak

berbudaya dan tidak beradab berarti telah kehilangan eksistensinya

sebagai manusia    sebagai makhluk yang bebas (kehilangan kebebasan

eksistensialisnya).

Mengapa sebagai makhluk yang bebas manusia justru terikat

dengan budaya dan adab? Manusia diartikan sebagai makhluk bebas,

tidak dimaksudkan bahwa semua tindakannya bebas . Kebebasan disini

adalah bebas akan suatu tindakan manusiawi            (actus humanusy;        dan

bukan bebas akan suatu tindakan manusia         (actus hominisi. Tindakan

manusia (actus hominist adalah tindakan yang dapat dilakukan manu-

sia, seperti berjalan,          menolong orang lain, mencuri, memperkosa,

membunuh dan lain sebagainya,           namun bukan ini yang dimaksud

dengan kebebasan eksistensial manu sia. Kebebasan eksistensial adalah

 

 

116

 

kebebasan yang berpangkal pada kebebasan akan tindakan manusiawi

(actus humanus), yaitu perbuatan yang sesuai dengan kodratlfitrah

manusia sesuai dengan petunjuk dari yang menciptakannya.

Dari sini kita dapat memahami jika dalam sejarah filsafat senan-

tiasa timbul keraguan tentang kemungkinan manusia memiliki tindak-

an   bebas/sejati; menurut K Bertens (1985: 399-412) hal ini disebab-

kan:   •

a. Menurut paham materialisme-deterministis,             semuanya berjalan

menurut sebab-akibat yang kita kenal dari alam material.

Manusia sebagai makhlukjasmani tidak luput dari hukum sebab

akibat ini.

b. Freud dalam “teori bawah sadar” mengatakan bahwa seluruh

kelakuan manusia berasal dari dorongan bawah sadar yang tidak

dikuasai kehendak kita.

c. Menurut paham strukturalisme, manusia terbelenggu dalam

struktur-struktur yang menggenggam kehidupannya di dunia.

Menurut filsuf struktura’lisme        manusia sebenarnya bukan indi-

vidu .   Bahwa dia merasa dirinya individu,               merupakan suatu

khayalan (ilusi). Manusia terbelenggu dalam struktur-struktur

masyarakat, sedemikian rupa sehingga ia tidak mampu mem-

buat sejarahnya sendiri .

 

Bahwa manusia adalah suatu makhluk yang bebas tidak dapat

dibuktikan secara matematis, tetapi dapat dibenarkan berdasarkan

pengalaman      sendiri . Dasar kebebasan manus ia             adalah bahwa ia mem-

punyai suatu pandangan yang luas atas beberapa kemungkinan yang

ada pada dirinya sendiri maupun pada lapangan tindakannya. Pan-

dangan universal ini yang menimbulkan alternatif                              bertindak. Yang

bersifat hakiki bagi kebebasan manusia adalah bahwa tindakannyal

pilihannya berasal dari dirinya sendiri. Menurut Huijbers (1995: 54)

inisiatif/pilihan sendiri merupakan unsur yang menentukan bagi kebe-

basan suatu tindakan. Lebih lanjut Huijbers menyatakan bahwa manu-

sia bersifat bebas sebab ia mempunyai ‘akalbudi’ dengan pandangan

universal dan ‘kehendak’ untuk memilih apa yang dikehendakinya

sendiri. Huijbers mengkritik pengertian kebebasan manusia dalam

117

 

buku J.P. Sartre     L ‘etre et le neant yang menyetakan bahwa kebebasan

menurut maknanya terl etak dal am kemampuan manusia untuk menga-

takan ‘tidak’     terhadap masa lalunya.      Menurut Huijbers, dengan per-

nyataan seperti     ini berarti     intisari kebebasan sebagai inisiatif/pilihan

atas dasar pengertian telah diabaikan.

Kebebasan manusia tidak tanpa       batas.  Tiap-tiap pilihan adalah

terbatas, baik karena faktor eksternal maupun             internal. Terbatasnya

pilihan disebabkan halangan-halangan ba ik            yang bersifat eksternal

maupun yang bersifat internal. Dalam filasafat tradisional, ada empat

halangan yang dimaksud:

a. Halangan yang berasal dari batin, yaitu ketidakpengetahuan

(ignorantia) ; ketakutan (metus) dan nafsu (passio).

b.   Halangan yang berasal dari luar batin, yaitu kekerasan (violen-

tia) atau tekanan atau paksaan (Huijbers, 1995: 55).

 

 

Kebebasan dari halangan-halangan tersebut berupa pilihan atau

inisiatif untuk memilih dan bertindak. Di dalam batin, ketidak penge-

tahuan merupakan halangan dalam bertindak, sebab karenanya kegiat-

an akal budi dikurangi. Sedangkan ketakutan dan nafsu merupakan

halangan bertindak karena            ia    menyebabkan     kegiatan     kehendak

dikurangi.

Di luar batin situasi fisik seseorang dan perlawanan yang ber-

asal dari lingkungan, khususnya penggunaan kekerasan, dapat dipan-

dang sebagai halangan bagi bertindak secara bebas juga. Teriebih,

penggunaan kekerasan dari pihak luar kebebasan dapat hilang sama

sekali. Bila keterbatasan bertindak disebabkan oleh orang lain secara

tidak wajar, keterbatasan itu dialami sebagai ketidakbebasan. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa kebebasan         berupa inisiatif (bebas

bertindak, bebas memilih) merupakan kebebasan dari halangan dan

paksaan.

Intisari     kebebasan adalah bahwa manusia dapat bertindak

menurut inisiatif sendiri dan pilihan sendiri atas dasar pandangannya

yang universal. Tiap-tiap tindakan terdiri dari tiga unsur:              (1)  tindakan

itu sendiri; (2) asal tindakan; dan (3) tujuan tindakan. Makna kebebas-

 

 

118

 

an adalah bila manu sia mampu mengarahkan            dirinya    kearah   suatu

tujuan yang bernilai baginya. Makna kebeb asan scmacam inilah yang

disebut     sebagai kebebasan          eksisten sial ,     karena kebebasan dipandang

sebagai sarana untuk mencapai tuj uan hidupnya, dan dengan demikian

mengemban gkan eksistensinya      ses uai dengan cita-cita     inti pribadinya

(Huijbers, 1995: 56) .

Dari   sini dapat disimpul kan           bahwa konsep kebebasan            eks isten-

sial, adalah:

Keb ebasan   eksistensial     adal ah  kebebasan yang digunakan        se-

bagai sarana untuk mencapai tuju an hidupnya, untuk mengem-

bangkan eksistensinya ses uai dengan cita-c ita inti pribadinya.

Tujuan inti pribadi tidak harus baik, te tapi j uga dapat ber sifat

jahat. Schingga baik        atau jahat   tidak   termasuk   dalam   pertim-

bangan bahwa itu merupakan kebebasan eks istens ial.

Niet szhe dan Sartre mengatakan bahwa       hanya  orang yang kuat-

lah yang    akan berha sil hidup      secara bebas, yaitu      orang yang

mamp u mengatasi  halan gan-halangan di atas.

 

 

C. KEBEBASAN MANUSIA DA N KEHENDAK TUHAN

 

1. Pengertian Kehendak Tuhan (T aqdir)

Yang dimaksud dengan istilah taqdir                pada pembahasan      ini

adalah   Qadar    (AI-Qadar Kh airuhu wa       Syarruhu)     atau  Qadlia’   dan

Qadar (AI Qadha wal Qadar).            Secara etimologis qadha            adalah bentuk

tnashdar   dari kata kerja    qadha   yang  berarti   kehendak   atau ketetapan

hukum, yaitu kehendak atau ketetapan                    hukum Allah terhadap            segala

sesuatu. Sedangkan     qadar   secara   etimologis adalah bentuk        mashdar

dari   qadara   yang berarti ukuran atau ketentuan,           yaitu ukuran atau

ketentuan Allah terhadap segala        sesuatu (Ilyas,     1992: 182). Menurut

Hilabi , qadlia adalah ekesekusi, pelaksanaan penciptaan segala sesua-

tu; sedang Qadar adalah ketentuan-ketentuan yang ada pada ciptaan

itu (Jaiz, 1996: 37) . Hillabi lebih lanjut mengemukakan bahwa dengan

mempelajari    qadha   (apa yang diciptakan Allah) untuk mengetahui

 

119

 

qadamya itulah timbu l ilmu pengetahuan .

Ulama yang lain       menyata kan  bahwa   qadha   adalah kenyataan

hukum yang telah ditetapkan Alla h          sej ak  zaman azaly     (dalam ilmu

Tuh an) terhadap sesuatu , yang seka rang te lah terwujud, seperti: hidup,

mati , senang, susah , dan sebagainya. Se dangka n qadar adalah rencana

atau program yang berada di dalam ilmu          Tu han (zaman azaly)     untuk

menentukan segala sesuatu (teoritis). Dari pengertian itu dap at disim-

pulkan bahwa qadha merupakan manifcstasi dari qadar.

Muhammad Na ‘im Yasin m enyatakan:                  secar a   terminologis ada

ulama yang berpendapat bahwa kedua istilah tadi mempunyai penger-

tian yang sama dan    ada pula yang mcmb edakan pengertian keduanya.

Yang membedakan, mendefinisikan Qadar sebagai Ilmu Allah tentang

apa-apa yang akan terjadi pada seluruh makhluknya dim asa yang akan

datan g. Dan qadha adalah Penciptaan segala       sesuatu oleh Allah sesuai

ilmu dan iradah Nya. Ulama lain mcn ganggap              bahwa istilah     qadh a

dan qadhar memiliki             pengerti an      yang    sama, yaitu segala ketentuan ,

undang-undang, peraturan dan hukum yang ditetapkan secar pasti oleh

Allah untuk segala yang ada          (tnaujudi , yang mengikat antara sebab

dan akibat segala     sesuatu yang terjadi. Pengertian         ini sej alan dengan

pengguanaan kata    qadar dalam AI Qur’an dengan berbagai            derivasi-

nya (I1yas, 1992: 183).

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin menyatakan : menu-

rut para ulama shalaf as-shalih, qadha dan qadar termasuk                kedalam

salah satu di antara tiga macam tauhid, yaitu: tal/hid uluhiyah, tauliid

rububiyah    dan   tauliid asma      wa   sifat    (Jaiz ,   1996: 40-41).      Tauhid

Uluhiyah    ialah mengesakan Allah dalam ibadah, yaitu beribadah

hanya kepada Allah dan karena-Nya semata.         Tauhid Rububiyah ialah

mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya, yaitu mengimani dan meya-

.kini bahwa Allah yang mencipt a,               menguasai dan mengatur          alam

semesta. Iman    qadha   dan  qadar adalah termasuk Tauhid Rububiyah.

Tauhid Asmawa Shifat ialah men gesakan       Allah dalam asma dan sifat

Nya yaitu mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan

Allah dalam zat, asm a maupun sifat.

Menurut Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin dalam bukunya

Aqidah Ahl SU/111ah wal jama ah menyebutkan bahwa tingkatan taqdir

 

 

 

 

 

at au qadar ada empat tingkatan:

 

120

 

 

 

 

firman :

 

121

 

1.  All/m

Allah    mengetahui sega la      sesuatu . Dia      mengetahui    apa yang

telah, sedang dan akan terjadi . Dia                mcngc tahui apa yang ada di

langit dan di bumi,             yang terli hat        at aupun     yang tersembunyi,

secara     umum maupun terperinci, tcr masuk                   atas perbuatanNya

sendiri     maupun atas perb uatan             makhluk-Nya.        Dalam QS. Al

An’am ayat 59 Allah berfirman :

“D i   sisi-Nya segala anak kunei           yang   ghaib,    tiadalah   yang

mengetah uinya kecuali Dia sendiri.          Dia mengetahui      apa -apa

yang ada    di darat dan di  lauta n.                                    Tiadal ah gugur se helai       daun

kay u  pUll.   melainkan    Dia    mengetahui,    dan   tiada    sebuah    biji

dal am ge lap gulita dan tiada pula benda y ang basah dan yang

kering, ntelainkun seinuanya da latn kitab y ang terang.

2.   A I Kitabah

A llah  te lah menuliskan segala sesu atu       di Lauh Mahfudz.      Apa

yang ada sekarang, dan apa yang telah terjadi            pada masa lalu,

serta apa yang akan terjadi pad a masa        yang akan datang telah

A llah tuliskan dalam lauh Mahfudz. Allah berfirman :

“Tiada   s uatu  ntus ibah    pun yang nienimpa            di butni      dan  tidak

(y aitu)        bagi                                               siapa diantara kamu yang                tnau menempult jalan

yang    lurus. Dan kamu tidak dapat tnettgh endaki             (meu empuh

jalan itu] k ecuali       apabila dikeliendaki      Allah.    Tuhan sem esta

Alam.     (QS. At Takwir: 28 -29 )

4. A! khalq

Allah menciptakan segala sesuatu , termasuk perbuatan manu sia .

Allah berfirman:

“Padalial A lla h  lah yang menciptakan       kamu dan  apa  yang

kamu p erbuat itu “ (QS. As Shafaat: 96)

 

 

2. Aliran

Umat Islam      dalam menyikapi       keberadaan   taqdir bermacam-

mac am dan sccara umum digolongkan menjadi tiga golongan:

I. Kelompok yan g ekstrim dalam menetapkan qadar dan meno lak

adanya kchendak dan kemarnpuan makhluk (paham Jabariyah).

2. Kelompok yan g ekstrim menol ak         adanya qadar dan men gang-

gap bahwa apa yang dilakukan dan terjadi pada manusia adalah

atas usaha dan akibat dari perbuatannya sendiri (paham Qadari

 

pula pada   dirimu se ndiri  mel ainkan telalt            tertu lis        dalam  kitab

y ah ).

.

 

(lauh   Mahfudz)   sebelum   Ka mi   m encip takanny a. Sesungguh nya

yang    detnikian itu     inudah bagi Allah .        (kami   jelaskan yang

dem ikian   itu) supaya    katnu jangan berduka      eita terhadap apa

yang lup ut dar i kamu , da n s upaya kantu jangan terla lu gembira

terh adap apa       ya ng   diberkan-Nya kepadamu.             Dan Alla h      tidak

menyukai setiap    ora ng yang so mbong lagi tnembanggakan      diri.

(QS. AI Hadid : 22-23)

3. AI Maisyah

Ba hwa  sega la   sesua tu  yang    terj adi atau tidak terjadi         ada lah

dengan kehendak A llah. Ke hendak Allah meliputi sega la ses ua-

tu , tidak   ada ses uatu pun terj adi di      langit dan di bumi       kecuali

atas kehendak    A llah.   Dan Allah telah menetapkan        bahwa   apa

yang d iperb uat-Nya    adalah  kehendak-Nya    term asuk apa yang

dip erbu at hamba-Nya termasuk     kehendak-Nya juga. Allah       ber-

3.   Mereka    yan g   ber iman   sehingga     dib eri   petunjuk oleh Alla h

untuk men emukan         kebenaran yang mcreka perselisihkan (Jaiz ,

1996 : 42).

 

Timbulnya golon gan-golongan         tadi disebabkan oleh. adanya

berbagai pemahaman yang berbeda (kcliru) dalam mempercayai             ada-

nya taqdir.

Jika kita mengikuti pandangan               kelompok yang pertama tjabari-

yah)    maka mengapakah    A llah   menurunkan syariat ke muka b umi?

Padahal semua perbuatan yang kita lakukan merupakan kehendak dan

keinginan Allah, Hal ini sangat bertentangan            dengan apa yang Allah

firmankan dalam nash-nash AI Qur’an, seperti             dalam Qs. Al An ‘am

ayat 148:

 

 

 

 

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan akan mengata-

kan: “jika Allah mengliendaki niscaya kami tidak akan memperseku-

tukan Allah dan tidak pula kami mengharatnkan barang sesuatu pun. “

Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan

(para rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah:

“adakah kaniu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga kamu dapat

mengemukakannya kepada kami?” kamu tidak mengikuti kecuali per-

sangkaan be/aka, dan kamu tidak lain hanya berdusta “.

Sebenamya        qadha     dan    qadar     adalah sesuatu hal yang gaib,

yang tersembunyi bagi kita, kita tidak mengetahui bahwa hal itu

qadlia     dan    qadar,     kecuali setelah itu terjadi. Sebelum terjadi kita

diperintahkan oleh syariat untuk mcnjalankan hal-hal yang membawa

kebaikan di dunia dan         akhirat  sesuai dengan petunjuk agama (AI

Qardhawi, 1993: 54).

Sedangkan jika kita mengikuti pendapat yang kedua                  iqada-

riyah) maka hal ini pun bertentangan dengan nash AI Qur’an maupun

yang terjadi dalam kenyataan. Syaikh Muhammad bin shaleh AI Us-

taimin menyatakan: mereka yang menganut pendapat ini sebenamya

telah mengingkari salah satu aspek dari                     rububiyah     Allah, dan

berprasangka bahwa ada dalam kerajaan Allah ini apa yang tidak

dikehendaki dan tidak diciptakanNya (Jaiz, 1996: 49). Percaya akan

qadha dan   qadar,    tidaklah bertentangan dengan usa ha dan perjuangan

untuk mengejar sesuatu yang dikehendaki atau mencegah sesuatu

yang dibenci. Tidak dapat diterima alasan bagi orang malas dalam

meletakkan kesalahan, dosanya, dan tanggungjawabnya atas               qadha

dan   qadar.    Yang demikian itu menunjukkan dalil kelemahan dan

Iarinya dari tanggung jawab (AI Qardhawi, 1993: 55). Firman Allah:

“…    Katakanlah (wahai nabi) :           sekiranya kamu berada di

rutnah kamu. niscaya orang-orang yang telah               ditakdirkan     akan   mati

terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh …. “                   (Qs. Ali

Imran: 154)

Sedangkan pendapat yang ketiga men ganggap bahwa manusia

berbuat atas dasar kemauannya dan berkata menurut keinginannya,

tetapi keinginan dan kemauannya itu tidak lepas dari kemauan dan

 

123

 

kehendak Allah. Dan kehendak Allah tidak lepas dari hikmah dan

kebijaksanaanNya, bukan kehendak yang mutlak dan absolute.

Masalah taqdir jika kita kaitkan dengan perbuatan manusia

seringkali menimbulkan berbagai macam pertanyaan:

a. Jika segala sesuatu tergantung pada kehendak Allah, lalu apa-

kah manusia tidak mempunyai pilihan dalam melakukan se-

suatu didalam kehidupannya?

b. Jika segala sesuatu sudah ditentukan Allah dan sudah dituliskan

di  Lauh   Mahfudz,     lalu untuk apa manusia berusaha? Apa peran

dari usahanya itu?

c. Jika Allah yang menciptakan kita dan semua perbuatan kita,

lalu mengapa la mengadili perbuatan jahat yang kita lakukan,

sedang la yang menciptakannya?

d. Jika Allah yang menyesatkan siapa saja yang dikehendaki dan

memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Lalu

kenapa orang yang tidak mendapat petunjuk disiksa di neraka

nanti?

 

Pertanyaan-pertanyaan diatas dan pertanyaan-pertanyaan lain

yang semacamnya timbul karena pemahaman yang parsial terhadap

Islam, atau dengan ungkapan lain karena mcmahami taqdir sebagai

suatu ajaran yang terlepas dari konteks keseluruhan ajaran Islam.

Memahami ayat alqur’an tentang kemutlakan             maisyah    Allah tanpa

memahami bahwa Allah juga memberikan maisyah kepada manusia

akan me1ahirkan pemahaman dan sikap jabariyah (meniadakan kehen-

dak dan ikhtiar manusia), sebaliknya memahami ayat al Qur’an ten-

tang  maisyah   dan  irodah   manusia tanpa memahami kemutlakan dan

iradah   dan   maisyah    Allah akan melahirkan pemahaman dan sikap

qadariyali   (manusia sepenuhnya yang menentukan perbuatannya sen-

diri tanpa campur tangan Allah) (Ilyas, 1992: 187).

Abdul Mujid Az Zandany memberikan satu analogi: seperti se-

orang guru yang cerdas dan tahu betul tentang keadaan murid-rnurid-

nya, membuat beberapa soal untuk diujikan kepada murid-muridnya.

la menulis di atas kertas daftar narna-nama murid yang ia yakini dapat

lulus ujian dan dan nama-nama yang tidak akan lulus ujian. Waktu

 

 

124

 

ujian tiba, dan hasilnya pun terbukti. Apakah murid-murid yang tidak

lulus ujian dapat menyatakan bahwa apa yang ditulis diatas kertas

itulah yang menyebabkan mereka tidak lulus. Kita tahu bahwa apa

yang ditulis di atas kertas tadi oleh sang guru adalah kenyataan yang

berkaitan dengan pengetahuan dan pengalamannya mengenai kedaaan

murid-muridnya. Dan penyebab kegagalan mereka adalah karena

kelalaian dan kemalasan mereka sendiri (Az Zandany, 1984: 165) .

Memang penilaian seoarang manusia seringkali tidak tepat, kita

sering menyebutnya sebagai prediksi/perkiraan. Tetapi taqdir Allah

dengan segala ilmu-Nya tentu tidak akan meleset dan pasti terjadi. la

menuliskan kegagalan orang yang gagal dan kebahagian orang yang

yang berhasil sesuai dengan ilmu-Nya,

Memahami ayat alqur’an yang menyatakan bahwa segala sesua-

tu telah dituliskan di Lauh Mahfudz tanpa memahami bahwa tidak ada

seorang manusia pun yang tahu apa yang telah dituliskan disana akan

menyebabkan sesorang mempertanyakan untuk apa manusia berusaha,

padahal Allah dengan sangat jelas telah memerintahkan manusia

untuk melakukan amal kebajikan dan melarang melakukan kejahatan.

Manusia disatu sisi adalah makhluk inussayar,         yaitu tidak rnernpunyai

kebebasan untuk menerima atau menolak seperti tentang jenis kela-

min, keturunan, kematian,       kelahiran dan sebagainya.       Dan disisi lain

adalah makhluk    Mukhayyar yaitu memiliki kebebasan untuk mene-

rima atau menolak yang berupa ikhtiar (Ilyas, 1992 : 188). Al Ustaimin

memaparkan bukti-bukti tentang adanya ikhtiar bagi manusia:

a. Didalam alqur’an Allah menyebutkan secara eksplisit tentang

adanya Maisyah dan iradah manusia seperti dalam surat Al

Baqarah ayat 223 dan At Taubah ayat 46.

b. Adanya perintah dan larangan Allah terhadap hambanya.

c. Allah memuji orang-orang yang baik, mencela orang yang

berbuat jahat, dan          memberikan balasan yang sesuai bagi

keduanya.

d. Allah telah mengutus para Rasul untuk menjadi mubasyirin dan

munzirin supaya tidak ada alasan lagi bagi umat manusia untuk

membantah Allah sesudah diutus para Rasul itu (lihat QS. An

Nisa: 165).

125

 

e.    Dalam kehidupan sehari-hari manusia melakuakan sesuatu atau

tidak berdasarkan         kemauannya       sendiri tanpa ada yang memak-

sakannya.      Sangat bisa       dibedakan mana perbuatan yang dilaku-

kan dengan terpaksa dan perbuatan yang dilakukan atas kemau-

an sendiri. Bahkan Islam tidak             akan meminta pertanggung-

jawaban atas perbuatan yang dilakuka n dengan terrpaksa.

 

 

Memahami bahwa Allah menciptakan segala sesautu, termasuk

manusia dan perbuatannya tanpa memahami bahwa Allah tidak pemah

menyuruh manusia berbuat kejahatan, bahkan menyuruh mereka

berbuat kebaikan. Manusialah yang melakukan kejahatan tersebut atas

kehendak dan ikhti amya     sendiri seh ingga      manusialah yang nantinya

harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya tersebut. Al

Utsaimin mengatakan bahwa perbuatan dan perkataan kita timbul

karena dua faktor, yaitu kehendak dan kemampuan .          Yang mencipta-

kan kehendak dan kemampuan tadi adalah Allah. Andaikata tidak ada

kehendak dan kemampuan tentu manusia tidak akan berbuat. Karena

jika ia menghendaki,       tetapi tidak mampu maka ia tidak akan dapat

berbuat. Demikian juga jika ia mampu tetapi tidak berkehendak tentu

juga ia tidak akan berbuat. Semua perbuatan yang manusia lakukan

didasari oleh kehendak dan kemampuan yang diciptakan Allah. Tetapi

pada hakikatnya manusialah yang berbuat, hanya yang menciptakan

perbuatan manusia adalah Allah. Siapa yang menciptakan sebab, maka

Dialah yang menciptakan akibatnya (AI Utsaimin dalam Jaiz, 1996:

62) .

Memami ayat yang menyatakan bahwa Allah menyesatkan

siapa saja yang dikehendaki dan memberi hidayah kepada siapa saja

yang Dia kehendaki. Tanpa memahami makna hidayah dan perintah-

perintah Allah untuk mencari hidayah dan mernbimbing orang lain

dalam mencarinya akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan sema-

cam ini. Bahwa sesungguhnya hidayah (petunjuk) ada dua mac am,

hidayah irsyad dan hidayah I’anah (Az Zandany, 1984: 165). Hidayah

irsyad dilakukan oleh para Rasul dalam membimbing kita ke jalan

kebenaran. Sedangkan      hidayah inayah merupakan tahap berikutnya

 

 

126

 

yang di dapat manusia seteIah datangnya hiday ah irsyad, dan yang ini

mutIak miIik Allah. Para rasul menunaikan hidayah irsyad                      tetapi

mereka tidak memiliki             taujik  dan   1I1a ‘unah, karena Allah hanya            akan

memberikannya kepada        para    hamba   yang dike tahui-Nya berha k

menerimanya. Firman Allah:

“Sesungguhnya kamu tidak ak an dapat memberi petunjuk pada

orang yang kamu kasihi, tetapi Allah mentb eri petunjuk kepada orang

yang dik ehendakilvya,      dan  Allah lebih     mengetahui ormzg-orG.ng yang

mau menerima petunjuk.         (QS. AI Qa shosh: 56)

Dan Allah tidak akan menyesatkan             manusia kecuali      kepada

mereka yang menolak hidayah Irsyad . F irman Alla h:

maka tatkala mereka        be/paling     (dari kebenaran).      Allah me-

tnalingkan hati mereka,      dan Allah tiada member! petunjuk orang yang

fasik” (Q5. As Shaf: 5).

 

 

3. Sikap Kritis terhadap Keberadaan Taqdir

Percaya akan adan ya     qadlia  dan   qadar   termasuk rukun iman

yang keen am, seperti disebutkan dalam hadi st nabi yang diriwayatkan

oleh Imam Muslim dari     Umar ibn Khattab ra, yang berbunyi:

“Beritahulah     aku ten tang    iman . .. Rasul Menjawab : “Engkau

beriman kepada      Allah. kitab -kitablvya,        rasul-rasullvya,     dan kepada

Izari akhir, serta engka u beritnan               kepada     taqdir-Nya y ang baik

maupun yang buruk. (HR. Muslim)

Tetapi dalam Al Qur ‘an         sendiri tidak secara lengkap          menye-

butkan bahwa rukun iman itu ada enam, dalam Al Qur’an hanya

menyebutkan bahwa rukun iman         itu hanya ada lima. Seperti dise-

butkan dalam ayat berikut:

Beberapa ulama seperti          Harun Na sution       menyetujui bahwa

rukun iman itu ada lima sesuai dengan yang tert era dalam AI Qur’an.

Dia menyatakan bahwa hadis yang diriwayatkan Muslim dari Umar

bin Khattab bukan hadis yang mutawattir. Lebih lanjut beliau menya-

takan bahwa mempercayai        qadha    dan   qadar   bertentangan dengan

 

127

 

ilmu pengetahuan dan teknologi, karena dalam faham taqdir yang

bahasa arabnya jabariyah      dan bahasa baratnya fatalisme, semuanya

dikehendaki ,    semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Beliau mencontohkan misalnya api , menurut Jabariyyalz           yang mem-

bakar adalah Tuhan , sedangkan dalam IPTEK yang membakar adalah

api itu sendiri . Tetapi hal ini kemudian dib antah          oleh Muhammad bin

Shaleh AI Utsaimin. Beliau mengatakan bahwa yang menjadikan api

dapat membakar adalah Allah. Api tidak dapat membakar dengan

sendirinya , sebab seandainya api dapat membakar dengan sendirinya

ten tu ketika Nabi Ibrahim as dilernparkan kedalam api, ia akan hangus

terbakar. Tetapi temyata tidak, karena Allah menghendaki lain. Allah

berfirman:

“Hai api menjadi dinginlah kamu,                    dan selamatlah bagi

Ibrahim.” (QS . AI Anbiya: 69).

Dan jika kita perhatikan secara seksama, hadist nabi tersebut

sama sekaIi tidak bertentangan dengan AI Qur’an. Karena di ayat-ayat

yang    lain     Allah     menegaskan tentang kekuasaannya atas               taqdir

makhluknya (Jaiz, 1996).

 

 

4. Hikmah Percaya kepada Taqdir

Berkaitan dengan uraian diatas, seorang muslim wajib mem-

percayai taqdir. Dan diharapkan kita semua bisa memahami masalah

taqdir secara benar karena pemahaman yang salah akan melahirkan

sikap yang salah pula dalam menempuh kehidupan. Ada beberapa hik-

mah yang dapat dipetik dari mempercayai adanya taqdir, yaitu sebagai

berikut:

1. Melahirkan kesadaran bagi umat manusia bahwa segala sesuatu

di alam semesta ini berjalan sesuai aturan, undang-undang, dan

hukum yang telah ditetapkan pasti oleh Allah        tsunnatullah).

2.   Mendorong manusia untuk berusaha dan beramal dengan sung-

guh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan

di akhirat, mengikuti hukum sebab akibat yang telah ditetapkan

Allah .

 

128

 

3. Menanamkan sikap tawakal       dalam diri manusia, karena menya-

dar i bahwa manus ia hanya bisa beru saha dan berdo’a sedangkan

hasilnya diserahkan kepada Allah.

4. Mempercayai keku asaan           (qudrat) -Nya atas segala sesuatu yang

tidak dapat diduga dan dina lar oleh manu sia bia sa, berdasarkan

kehendak    (iradah)-Nya        bahwa    sesuatu past i      terjadi    dengan

izinNya .

 

129

 

Kategoris artinya mutlak, kewajiban ini merupakan kewajiban

yang sesungguhnya,                           bila tidak diikuti            maka ia bersalah. Menurut D .

van Eck (1971 : 133) keyakinan hati nurani tentang baik tidaknya suatu

tindakan – yang bersumber pada pertimbangan akal budi , pendirian

orang lain, dan wahyu dalam Kitab Suc i- tetap mengikat, sekalipun

tindakan itu secara objek tif dinyatakan salah. Alasannya, hati nurani

ialah satu-satunya sarana untuk sampai pada norma-norma moral      (de

 

5.  Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketenteraman hidu p, karena

ze denwet bereikt

slechts via zijn innerlijk oordeel). Namun orang

 

meyakini apapun yang terj adi        ada lah atas kehendak    dan  qadar

Allah.

 

 

D. KEBEBASAN MORAL

Kebebasan moral ialah kemampuan ma nusia untuk     mewujud-

kan hidupnya sesuai  dengan prinsip-prinsip moral (Huijbers, 1995:

59). Berhubungan     dengan p engertian ini,       Agusti nus telah     membeda-

kan anta ra     kehendak bebas       (liberum       arbitirium)        dan kebebasan

(moral)/libertas .       Kehendak bebas     adalah  kemamp uan untuk berbuat

yang baik dan yang jahat         (L iberum     arbitirium      et ad      malum     et ad

bonum faci endum confitenduni est 1I0 S           habere),   seda ngkan kebebasan

(moral) adalah      kemampuan    untu k  berbuat yang      baik   (Redimuntur

autem (scil. homines) in libert atem beatitudinis sempiternam,              ubi jam

p eccato servire non possinti.

Guna menerangkan keb ebasan moral itu, Emmanuel Kant mem-

bedakan hidup manusia sebagai bidang praktis dengan bidang alam

sebagai bidang teoritis .         Bidang teoritis adalah         bidang yang “ada”,

yaitu alam. Alam itu merupakan kenyat aan yang ada, didekati sebagai-

mana adanya dan dapat diselidiki secara  ilmiah . Sebaliknya bidang

praktis, bidang hidup, dibangun dengan bert indak secara bebas . Ma ka

dibidang ini orang tidak berhadapan deng an yang sudah ada, melain-

kan dengan yang belum ada dan harus diwujudkan, yaitu nilai-nilai

hidup. Yang “harus ada” itu menimbulkan suatu keharusan berupa ke-

wajiban untuk bertindak dengan cara tertentu. Rasa kewajiban dalam

kesadaran manusia   itu disebut oleh Emmanuel Kant:       imperatif

kategoris.

dianggap tetap bersalah, bila mereka tidak b erusaha  menghindarkan

supaya suara hatinya tidak terse sat.

Timbulnya rasa kewajiban pada manus ia                ada karena rasa

‘tanggungjawab ‘, yaitu:

1). Kesadaran bahwa tindakannya yangbebas           tidak pemah dapat

lepas dari dirinya ,      tiap-tiap   tindakan bebas merupakan bagian

dari dirinya sendiri .

2) . Adanya panggilan atau keyakinan yang berasal dari suara hati

bahwa suatu nilai hidup tertentu patut diwujudkan.

 

 

Tanggung jawab      langsung berkaitan      dengan manusia sebagai

makhluk yang bebas di dunia. Manusia bertanggungjawab dan           harus

mempertanggungj awabkan     tindakannya kepada dirinya send iri, kepa-

da masyarakat dan kepada Tuhan .      Suatu tindakan yang penuh tang-

gungjawab menjadi tanda dan ungkapan martabat manusia (Huijbers ,

1995: 60). Dengan bertindak secara bertanggungjawab, yaitu dengan

menuju ke arah nilai hidup yang sejati, manusia menyatakan cara ia

berada di dunia dan senant iasa menentukan nilainya sendiri .

Bertindak dengan penuh tanggung jawab itu khas manusia .

Hanya manusia yang dapat menentukan                                tindakannya sendiri .    Seekor

hewan berhadapan dengan altem atif-altematif juga, akan tetapi         hanya

dapat meng ikuti                                         nalurinya saja. Sebaliknya            manusia mengikuti nilai-

nilai  hidup yang sesuai dengan martabatnya, yang dengan ini berarti

juga ia mempertanggungjawabkan hidupnya (Huijbers, 1995: 60-61) .

Kebebasan rasio nal sebenamya suatu kebebasan moral. Artinya

nilai -nilai hidup yang ditanggapi secara rasional, harus diterima seba-

 

130

 

gai norma. Kebebasan       rasional adalah kebebasan       yang menentukan

bahwa tujuan hidup yang hendak      dicapai harus   ad a tuj uan yang wajar

menurut pandangan umum. Oleh          karena  itu   ada tiga    unsur   obj ektif

yang harus diperhitungkan:

I) . Fakta bahwa tiap-t iap orang hidup bersama orang-orang lain .

2) . Paramete r su atu tindakan dikat akan wajar atau    tidak d idasarkan

pad a nilai-nilai universal.

3). Un sur   boleh-tidak                    boleh , ya itu          terdapat         larangan                untuk bertin-

dak semau-maunya . Unsur ini dalam     masya ra kat disebut n0l111a.

 

 

Dengan    ini suda h      menj adi j ela s   bahwa kebe basa n rasional

digolongkan pada ‘keb ebasan untuk ‘ , yaitu      keb ebasan dilihat dari    segi

tujuannya. Akan tetapi disini istilah ter sebut mend apat         nilai sua tu art i

yang lebih objekti f       darip ad a keb ebasan eksis tens ial.    Untuk   sa mpai

pada pada keb eba san rasional      ora ng haru s   men gindahkan   fakta  dan

nilai-nilai suatu keh idup an      yang sejati     yang belum tentu      ditemukan

dalam eksistensinya sendiri .

OIeh seba b hanya   melalui s ua tu ke be basan ya ng rasiona l – yang

berdasarkan   suatu pertimban gan   yan g matang ten tan g fakta dan   nila i-

dapat dibentuk suatu kehidupan      bersam a ya ng baik.   Larangan-Iaran g-

an untuk bertindak semaunya      dap at disambut   deng an segala kerelaan

hati . Memang den gan ad anya  larangan -larangan, keb ebasan   individual

dibatasi , akan tetapi hal ini terjadi demi          terwujudnya   keh idu pan ber-

sama sebagaimana dicita-citakan. Ada dua fungsi larangan            dalam  hal

ini: pertama, larangan-Iarangan      menj elaskan  kew aj iban-kewaj iban se-

seorang sebagai makhluk sosial. Kedua, Iarangan-Iaran gan          untuk ber-

tindak secara individual belaka membina suatu keb ebasan          baru, yaitu

rnembuka ‘ peluang   untuk bertindak demi kebaikan        hidup yang     sej ati

(Huijbers, 1995: 58).

M elalui   bepikir ten tang nilai-nil ai        hidup orang sampai       berke-

hendak untuk melepaskan diri dari kebutuhan-kebutuhan yang alamiah

belaka. Suatu kehendak     ‘a lamiah ‘ merupakan kesewenang-wenangan.

Karl Lazen menulis:

 

131

 

Tidak bebas .. . adalah manusia yang hanya mengikuti kecende-

rungan-kecenderungan dan nafsunya yang mendadak, tidak menguasa i

diri, membiarkan dirinya dibawa arus. Dia menjadi bola permainan

dari rangsangan-rangsangan   yang mempengaruhinya (Scheltens     &

Siregar, 1984: 52).

Namun menurut penulis, penggunaan akal dalam setiap peni-

laian benar dan salah juga merupakan kesewang-wenangan. Karena

sej arah telah membuktikan bahwa akal tidak bersifat              tetap,   ia akan

sel alu berubah dari waktu ke waktu. Sesuatu yang dulu oleh akal

dianggap benar, boleh .j adi saat ini oleh         akal pula itu dianggap       salah,

atau sebaliknya sesuatu yang dulu oleh akal di anggap salah, boleh jadi

saat ini oleh akal pula dianggap benar.         Contohnya adalah praktik per-

budakan, pada zaman dahulu oleh aka I hal ini dianggap sesuatu yang

benar dan ini menjadi kebenaran yang umum, oleh karena itu tidak

heran jika pada zaman tersebut praktek perbudakan terjadi pada setiap

bangsa.

Contoh yang lain misalnya masalah kedudukan perempuan,

menurut akal pada       zaman dahulu perempuan memiliki kedudukan

yang tidak berharga sama sekali, dia tidak berhak mewaris dan bahkan

diperlakukan seba gai      harta waris yang bisa diwariskan. Kedudukan

perempuan yang seperti ini pun terus               bertahan,   bahkan kedudukan

perempuan yang tersebut masih kita jumpai hingga hari ini, melaui

hukum perdata yang katanya modem dalam              Code Civil   Napoleon

yang dirumuskan pada tahun 1804,           dimana perempuan tidak dapat

melakukan perbuatan hukum apapun ketika ia telah menikah, dan

kedudukannya berada dibawah pengampuan suaminya.            Namun hari

ini kedudukan perempuan yang         se macam ini telah berubah, perem-

puan sejajar dengan laki-Iaki, dan menurut ak al:inilah yang benar, dan

di indonesia sendiri hal ini telah dikoreksi dengan diundangkannya

VU No .    1 tahun 1974 tentang Perkawinan         yang menyamakan kedu-

dukan perempuan dan laki-Iaki dalam bidang harta kekayaan.

Dari sini kita mengetahui bahwa akal merupakan pijakan yang

absurd dalam penilaian kebenaran sejati. Absurditas itu disebabkan

oleh keadaan akal sendiri yang memang selalu berubah, sehingga pe-

nilaian yang diberikan pada sesuatu pun tidak akan tetap pula. Lalu

 

 

132

 

apa pijakan yang mutlak? Jawabannya adalah wahyu. Wahyu merupa-

kan sebuah kebenaran mutlak yang bersifat aksiomatik. la akan terus

relevan sepanjang zaman, sebelum Tuhan sendiri yang menggantinya.

Penilaian yang diberikan oleh wahyu bersifat objektif, karena                          _

meminjam istilah Muhammad Iqbal- dibuat oleh Realitas Mutlak.

Bagaimana dengan hati nurani,          apakah bisa menjadi patokan

peniIaian moralitas manusia? Berbagai pandangan para sarjana            Barat

di atas memposisikan hati nurani sebagai patokan bagi moralitas

manusia, sebagaimana D . van Eck (197 I: 133) mengatakan bahwa hati

nurani ialah satu-satunya sarana untuk sampai pada norma-norma

moral   (de   zedenwet    bereikt   hem   sl echts   via zijn innerlijk oordeel).

Meskipun daJam tulisan D. van Eck yang dikutip oleh Huijbers (1995:

6) keyakinan hati          nurani ten tang baik tidaknya suatu tindakan

bersumber pada pertimbangan akal budi, pendirian orang lain, dan

wahyu dalarn Kitab Suci, namun pada kenyataanya tidak seperti itu.

Keyakinan hati nurani dalam praktiknya hanya bersumber pada

“keinginan pribadi” subjek. Sebagai contoh masalah berhubungan

kelamin/pekawinan    dengan sesama   jenis, incest,     sex bebas, fenomena

waria dan     sebagainya, bagi penganut/penderita          masalah ini, hal ini

mereka anggap sesuai dengan hati nuraninya. Oleh karena itu mereka

tidak segan-segan untuk mempertontonkannya kepada orang lain dan

bahkan memperjuangkannya hingga ke parlemen. Jika demikian ,

dihadap-hadapkan dengan orang yang dalam hati nuraninya mengang-

gap bahwa perbuatan-perbuatan seperti itu merupakan penyimpangan,

man a sebenamya suara hati nurani yang objektif? Moralitas mana

yang dianggap benar oleh hati nurani?

Ahli-ahli Barat yang dalam haI ini menganggap bahwa suara

hati nurani itu selalu benar dan menjadi ukuran moralitas manusia,

meskipun hal ini sesungguhnya juga bertentangan dengan filsafatnya

zaman dahulu : homo hotnini lupus      (manusia adalah serigala bagi ma-

nusia lain), yang menjustifikasi adanya aturan/norma/hukum. Terlepas

dari pertentangan itu, Islam membagi jiwa manusia dalam tiga kecen-

derungan:   nafsu al-muthmainnah,      nafsu al-Iawwamah,      dan  nafsu al-

amarah bissu ‘.      Nafsu al-muthmainnah        merupakan jiwa yang baik,

nafsu al-Iawwamah      merupakan jiwa moderat yang mampu memilah

 

133

 

sesuatu itu baik atau buruk, dan          nafsu al-amarali bissu        merupakan

jiwa yang tidak baik. Menurut Islam manusia sesungguhnya mempu-

ny ai tiga potensi itu secara bersama-sama, dan yang menjadi pijakan

dalam memandang bahwa sesuatu itu salah atau benar adalah wahyu,

yaitu wahyu yang diturunkan kepada manusia yang menurut Tuhan

hal ini sesuai denganjitrah (kodrat) manusia.

Sikap dan pandangan manusia benar ketika ia memedomani

wahyu .    Orang yang memedomani wahyu berarti ia menggunakan

nafsu al-muthmainnalnvye; sebaliknya orang yang tidak memedomani

wahyu berarti ia mengikuti kecenderungan              nafsu al-amarah      bissu ‘,

Dengan demikian ukuran benar dan salah dalam hal ini menjadi

mutlak, tidak relatif sebagaimana pandangan para ahli dan realitas di

Barat, ditentukan oleh hati nurani yang dibimbing oleh wahyu.

 

 

E. KO-EKSISTENSI

 

Manusia adalah makhluk yang paling sempuma di alam ini,

berbeda dari makhluk-makhluk lain. Perbedaan itu tampak dari

karakteristik sebagaimana para filosof menyebut                 hakikat manusia

dengan istilah-istilah homo rationale, homo simbolicuin, homo econo-

tnicus, homo social (Arsitoteles), homo ludens (Huizinga), homo men

sura    (Protagoras),      homo mechanicus         (La    Mettrie),     homo viator

(Gabriel Marcel), homo creator (Michael Landman) . Professor Noto-

nagoro (aIm) memandang         hakikat dasar ontologis manusia dalam

Negara Republik Indonesia yang ber-Pancasila sebagai makhluk yang

monopluralis.      Manusia sebagai makhluk yang monopluralis oleh

Professor Notonagoro (aIm) diartikan sebagai makhluk yang merniliki

3 (tiga) hakikat kodrat sebagai berikut:

a    Sifat kodrat, yaitu manusia sebagai makhluk individu dan

makhluk sosial.

b. Susunan kodrat, yaitu manusia sebagai makhluk yang tersusun

dari dua un sur, yaitu raga danjiwa.

c. Kedudukan kodrat, yaitu manusia sebagai makhluk yang berdiri

sendiri dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

 

 

134

 

Atas dasar pemahaman hakikat kodrat ontologi manusia yang

monopluralis itu maka kita dapat dengan mudah memahami hubungan

antara manusia dengan nilai-nilai hidupnya. Pada kenyataannya manu-

 

 

 

 

F. KEPEMILIKAN

 

1. Pengertian Hak Milik

 

135

 

sia hidup bersama-sama dengan orang lain dan kebersamaan ini nyata

dalam seluruh hidup manusia dalam segala tindakannya. Oleh karena

itu    eksistenis manusia selalu berarti juga ko-eksistensi .                         Dalam

koeksistensi terdapat tiga tingkat (Huijbers, 1995: 62-64):

 

1). Ko-eksistensi biologis-psikis, yang berdasarkan kebutuhan ‘aku’.

Dalam keadaan ini ‘aku’ dipandang lebih tinggi daripada

manusia lain. Orang lain sedapat-dapatnya diarahkan untuk meme-

nuhi kebutuhan-kebutuhan ‘aku’. Akibatnya hidup bersama itu di-

tandai dengan eksploitasi dan dominasi manusia pada manusia lain.

Bila kebutuhan-kebutuhan pribadi itu menjadi satu-satunya tiang

bagi pembentukan hidup, maka dengan demikian hidup itu bertum-

pu pada suatu egoisme individual belaka.

Herbert Spencer (1820-1903) berpendirian bahwa memang

inilah situasi hidup yang sebenamya. Sesuai dengan teori evolusi

Charles Darwin dijelaskan bahwa prinsip-prinsip evolusi berlaku

bagi kehidupan manusia juga, seperti struggle for life, the survival

ofthe fittest, natural selection. Teori ini disebut Darwinisme sosial,

hukum dibuat untuk mengatur evolusi kehidupan bersama dalam

masyarakat industri modem yang bertumpu pada egoisme indivi-

dual (Copleston, 1961-1975: 142-168). ·

2). Ko-eksistensi etis berdasarkan kesamaan hak.

Dalam keadaan ini aku dipandang sama tinggi dengan manusia

lain. Prinsip rasional ini yang menjadi sumber hukum.

3). Ko-eksistensi etis berdasakan kewajiban.

Dalam keadaan ini manusia lain dipandang lebih tinggi daripada

aku. Prinsip rasional ini yang menjadi sumber moral hidup

manusia.

Istilah milik berasal dari bahasa arab yaitu             milk.   Milik secara

lughowi   diartikan sebagai “memiliki sesuatu dan sanggup bertindak

secara bebas terhadapnya” (Hasbi Ash-Shiddieqy,            1989: 8). Menurut

istilahi milik didefinisikan sebagai suatu              iklitisas   yang menghalangi

orang lain,       menurut syariat,         yang memb enarkan          pemilik      ikhtisas     itu

bertindak terhadap barang miliknya sekehendaknya, kecuali ada

penghalang (Hasbi Ash-Shiddieqy, 1989: 8) .

Kata ‘menghalangi’ dalam definisi diatas maksudnya adalah

sesuatu yang mencegah orang yang bukan pemilik sesuatu barang

untuk mempergunakan atau memanfaatkan dan bertindak tanpa per-

setujuan terlebih dahulu dari               pemiliknya.     Sedangkan pengertian

‘penghalang’ adalah sesuatu ketentuan yang mencegah pemilik untuk

bertindak terhadap hart a miliknya.

Hak milik dalam pandangan Hukum Islam dapat dibedakan

menjadi:

I .  Hak milik yang sempuma tmilkut tam) , yaitu kepemilikan yang

meliputi penguasaan terhadap bendanya (zatnya) dan manfaat-

, nya (hasil) benda secara keseluruhan .

2.   Hak milik yang kurang sempuma               (milkun naqish),        disebut

demikian karena kepemilikan tersebut hanya meliputi bendanya

saja , atau manfaatnya saja.

 

 

2. Sebab Hak Milik

Selanjutnya dapat dikemukakan sebab-sebab seseorang mempu-

nyai hak milik menurut Hukum Islam, dapat diperoleh dengan cara:

1). Disebabkan         Ihra zul     mubaltat       (memiliki benda yang boleh

dimiliki)

Baranglbenda yang dapat dijadikan sebagai objek kepemilikan

adalah bukan benda yang menjadi hak orang lain dan bukan

pula benda dimana ada larangan hukum agama untuk diambil

 

136

 

sebagai hak milik. Diantaranya dengan: berburu, membuka ta-

nah baru yang belum ada pemiliknya, air di sungai, pengusa-

haan barang tambang (rikaz) dan hart a rampasan perang.

2). Disebabkan al-Uqud (akad)

Pengertian akad atau perikatan dalam lapangan hukum harta

kekayaan adalah suatu hubungan hukum (mengenai kekayaan

harta benda) antara dua orang yang memberi hak pada yang satu

untuk menuntut sarang sesuatu dari yang lainnya, sedangkan

orang yang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan itu (Soe-

bekti, 1996: 122-123).         Adapun klasifikasi perbuatan hukum

tersebut adalah:

a.   Perbuatan sepihak, yaitu perbuatan hukum yang dilakukan

oleh satu pihak saja dan menimbulkan hak dan kewajiban

pada pihak yang lainnya, misal: pembuatan surat wasiat, dan

pemberian hadiah (hibah).

b. Perbuatan hukum dua pihak, yaitu perbuatan hukum yang

dilakukan oleh dua pihak dan menimbulkan hak-hak dan

kewajiban-kewajiban bagi kedua belah pihak secara timbal

balik, misal: jual beli, sewa menyewa , perjanjian kerja dan

lain sebagainya.

3). Disebabkan al-Khalafiyah (pewarisan)

Yaitu seseorang memperoleh hak milik disebabkan karena

menempati temp at orang lain (Suhrawardi, 2004: 11). Lahimya

hak milik ini dapat dikelompokkan menjadi dua:

a.   Khalafiyah     syakhsyan   syakhsy,     sering juga diistilahkan

dengan   irts,   yaitu ahli waris menempati tempat si pewaris

meliputi kepemilikan segala harta yang ditinggalkan oleh

pewaris terse but.

b. khalafiyah syai’an syaiin, sering dinamakan juga dengan

tadlmin atau ta’wild atau menjamin kerugian.               Maksudnya

apabila seseorang melakukan sesuatu perbuatan yang meru-

gikan orang lain, maka orang tersebut diwajibkan untuk

mengganti kerugian tersebut. Barang ganti kerugian               (diyatl

iwald,   dan   arsyul jinayat)     menjadi sepenuhnya milik dari

yang menenma.

 

137

 

4). Attawalludu minal mamluk (beranak pinak)

Segala yang lahir/terjadi dari benda yang dimi liki               merupakan

hak bagi pemilik barang atau benda tersebut, misal: anak bina-

tang- yang lah ir     dari induknya, susu lembu          yang keluar     dari

seekor lembu .

 

 

3. Prinsip Kepemilikan

Pemilikan pribadi dalam pandangan Islam tidak bersi fat mutlak

(absolute).    Dalam berbagai ketentuan,       Islam melakukan    pembatasan

terhadap pengelolaan dan pemanfaatan harta            benda milikny a.     Ada

beberapa prinsip dasar mengenai kepemilikan terhadap               harta benda,

seperti dikemukakan oleh Sayyid Quthb berikut ini:

1). Pada hakikatnya individu hanyalah wakil masyarakat

Prinsip ini menekankan bahwa sesungguhnya individu (pribadi)

hanya merupakan wakil masyarakat yan g              diserahi    amanah ,

yaitu mengurus dan memegang harta benda.                 Sesungguhnya

keseluruhan harta benda tersebut secara umum adalah hak milik

masyarakat. Sedangkan yang     menjadi pemil ik mutlak dari      harta

benda terse but adalah Allah. Hal ini didasarkan               pada  finnan

Allah:

“Beritnanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkah-

kanlah sebagian      dari hartamu yang Allah telah            menjadikan

kamu menguasainya “. (QS. AI-Hadid :7).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemilikan pribadi atas

sesuatu harta benda dalam pandangan Islam sebenamya hanya

bersifat “pemilikan hak pembelanjaan dan pemanfaatan belaka.

Dengan demikian ,      apapun bentuk kepemilikan        pribadi (yang

diperoleh berdasarkan usaha-usaha yang tidak menyimpang dari

syariat Islam) akan didapati hak masyarakat. Dalam bahasa

sederhana dapat dikemukakan      bahwa   hak kepemilikan pribadi

dalam Islam mempunyai dimensi fungsi sosial.

2). Harta benda tidak boleh hanya       berada   di tangan pribadi (seke-

lompok) anggota masyarakat.

Prinsip ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan dan ke-

 

 

138

 

stabilan dalam masyarakat. Karena seperti kita keta hui             bahwa

kepemilikan hanya pada satu orang atau kelompok anggota ma –

syarakat (monopoli) memberikan dampak yang dapat                            merugi-

kan masyarakat. Ketidakbolehan penumpukan harta ini didasar-

kan pada finnan Allah:

…   supaya                itu jangan hanya beredar di antara orang-

orang yang kaya saja diantara          kamu    … ” (QS . AI-Hasyr: 7).

Oalam   konteks kekinian, hal tersebut yang diambi l                ilustrasi

bahwa sikap mental oligopoli, monopoli, kartel dan yang sejenis

dengannnya merupakan sikap                    mental pengingkaran nura ni

kemanusiaan dan jelas-jelas menyimpang dari aturan                  Is lam

(Suhrawardi, 2000: 7) .

 

 

Walaupun di dalam syariat Islam diakui adanya hak -hak yang

bersifat perorangan terhadap suatu benda, bukan berarti atas sesuatu

benda yang dimilikinya tersebut sesorang dapat berbuat sewenang-

wenang .   Adanya hak masyarakat yang melekat           terhadap hak milik

yang diperoleh seseorang, dibuktikan dengan kctentuan sebagai

berikut (Suhrawardi, 2004: 12-14):

a.   Larangan menimbun barang

Dalam ketentuan syariat Islam seseorang pemilik harta tidak

diperbolehkan untuk       menimbun barang dengan maksud agar

harga barang tcrsebut naik, kemudian penirnbun akan             menj ual

barang pad a harga yang tinggi tersebut. Larangan tersebut

tercermin dari hadis yang           diriwayatkan oleh Ab u       Oaud, At-

Tirmidzi dan Muslim             dari Mu’ammar bahwa           Nab i SAW

bersabda,    “siapa yang tnelak ukan         penitnbunan, ia dianggap

bersalah.

b.   Larangan memanfaatkan harta untuk hal-hal yang        mernbahaya-

kan masyarakat

Pengertian membahayakan       di sini adalah hal-hal yang yang

dapat mengakibatka n ba haya   atau kerusakan bagi masyarakat,

baik fisik maupun non-fisik seperti membahayakan            keh idupan

beragama, membahayakan akal pikiran manusia maupun mem-

 

139

 

bahayakan keutuhan dan per satu an masyarakat.

c. Larangan pembeku an harta

Pemb ekuan  harta  di  sini maksudnya adalah      mem bia rkan harta

atau bend a miliknya    terla ntar,  tidak berman faat, dan    tidak pro-

duktif. Padahal     di sisi lain j ika        barang   tersebut   dikuasai   oleh

orang lain,       maka sangat mungkin untuk           di manfaatkan   bagi

usaha-usaha   produktif yang       bermanfaat bagi      oran g terse but

maupun masyarakat secara luas.               .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BABIX

POLITIK HUKUM

 

 

Kegiatan politik adalah kegiatan yang bertujuan untuk merebut

dan memperoleh kekuasaan,                    karena dengan kekuasaan dianggap

seseorang atau kelompok masyarakat akan mempunyai akses yang

besar untuk ikut merumuskan dan menetapkan kebijakan publik yang

menguntungkan dirinya atau kelompoknya. Bahkan kekuasaan politik

dianggap sebagai kekuatan nyata untuk mengatur kehidupan masyara-

kat dalam berbagai aspeknya , karena tanpa kekuasaan politik, penga –

ruh seseorang atau kelornpok tidak akan efektif dalam kehidupan

masyarakat (Asy’arie , 1999 : 107).

Teori politik adalah bahasan dan generalisasi dari fenomena

yang bersifat politik, yang bahasannya meliputi: (a) tujuan dari kegiat-

an politik, (b) cara-cara mencapai tujuan itu, (c) kemungkinan                         –

kemungkinan dan kebutuhan- kebutuhan yang ditimbulkan oleh situa-

si politik tertentu, dan (d) kewajiban yang ditimbulkan oleh tujuan

politik itu. Konsep-konsep yang dibahas dalam teori politik mencakup

antara lain masyarakat, kelas sosial, negara,              kekuasaan, kedaulatan,

hak dan kewajiban, kemerdekaan, lernbaga-lernbaga                         negara, perubah-

an sosial, pembangunan politik, modemisasi dan sebagainya.

Menurut Thomas P. Jenkin dalam                 Study ofPolitical Theory

dibedakan dua macam teori politik yaitu:

1. Teori-teori yang mempunyai dasar moril dan yang menentukan

norma-norma politik. Karena adanya unsur norma-norma dan

nilai maka teori-teori ini dinamakan                       volutional       (mengandung

nilai). Yang termasuk golongan ini antara lain filsafat politik,

teori politik sistematis idiologi dan sebagainya. Teori-teori yang

valuational dapat dibagi dalam tiga golongan:

a. Filsafat politik (political philosophy)

 

141

 

Filsafat politik mencari pilihan berdasarkan rasio, disini

terdapat hubungan antara sifat dan hakikat dari kehidupan

politik di dunia fana.

b. Teori politik sistematis (syst ematic political theory)

Teori ini menjelaskan realisasi dari                        dan nilai-nilai ke

dalam suatu program politik.

c.   Idiologi politik (political ideology)

Merupakan himpunan nilai-nilai ,        ide,   norma-norma,    keper-

cayaan, keyakinan yang dimiliki orang atau sekelompok

orang atas dasar mana ia menentukan sikapnya atas sua tu

problema politik. Contoh beberapa ideologi seperti Marxis-

me-Leninisme, Liberalisme.

2. Teori-teori yang menggambarkan dan membahas fenomena dan

fakta-fakta politik dengan tidak mempersoalkan norma atau

nilai  (noli   valutionali, bersifat deskriptif dan komparatif.

 

Al-Farabi menyatakan bahwa ilmu politik dan etika merupakan

pcrluasaan atau perkembangan metafisika atau sebagai manifestasinya

yang tertinggi yaitu teologi, politik pemerintahan merupakan jelmaan

dari gambaran nyata kondisi ideal. la menyebut tatanan itu sebagai al-

Madinah al-Fadilali,     suatu kondisi masyarakat ideal yang bersumber

dari ide-ide Yang Sempuma atau Wujud Azali (AI-Farabi, 1959: 109-

110).

 

 

A. NEGARA SEBAGAI SUMBER HUKUM

 

Hukum berkaitan dengan manusia sebagai manusia. Manusia

memenuhi tugasnya di dunia ini dengan menciptakan suatu aturan

hidup bersama yang baik, yaitu secara rasional dan moral, dengan

bcrtumpu pada hak-hak manusia. Namun pada kenyataannya hukum

diciptakan oleh negara. Hal ini sekurang-kurangnya berlaku bagi

hukum sebagaimana dibentuk pada zaman modem ini. Hukum diang-

gap sungguh-sungguh hukum, bila sah, yaitu bila dikukuhkan oleh

negara.

 

 

142

 

Keny ataan ini men imbulkan        keyakinan bahwa terdapat dua

tingkat bagi    berlakunya hukum. Pada tingkat pertama, hukum berada

 

 

 

 

2. Terbentuknya Nega ra

 

143

 

sebagai tuntutan        rasional dan      moral.    Selanjutnya      pada tingkatan kedua

hukum berl aku secara yuridis bila disahkan oleh Lembaga ya ng

berwenang/ma syarakat, dimana hukum berlaku secara yuridis.

 

 

1. Pengertian Negara

Pasal 1 konvensi         Mont evideo    1963 mengenai hak-hak dan

kewajiban-kewajiban            negara -yang ditandatangani oleh Amerika

Seri kat dan beb erapa     negara-n egara   Amerika latin- mengemukakan

karakteristik-karakt eristik pok ok dari suatu negara:

“Negara     sebaga i subjek hukum internasional             harus merniliki

syarat-syarat berikut: (a) RakyatSubjek tctap , (b) Wilayah tertentu, (c)

Pemerimtah,      dan   (d)    Kemampu an    melakukan hubungan-hubun gan

dengan negara lain” .

Konvensi Montevideo di ata s tidak menj ela skan tentang peng er-

tian negara tetapi     lebih merupakan pen etap an   syarat yang harus dimi-

liki   oleh negara. Dari berba gai kon sep si yang        ada mengenai pen gerti –

an negara dapat disimpulkan      bahwa negara merupakan     suatu alat ata u

wewenang    (auth ority ) yang   meng atu r atau mengendalikan     pesoalan-

pe rsoalan   bersama   dari   masyarakat.   Seh ing ga  seperti Hans K elsen

misalnya   mend efinisikan    negara   sebagai    kesatuan ketentuan hukum

yang     mengikat sekelompok              individu yang hidup dalam wilayah

tert entu.  Dengan demikian Kelsen       menyamakan anta ra negara   dengan

hukum. Dengan anali sis       yan g  lebih   mendalam   akan tampak    bahwa

teori ini merupakan        suatu penyingkatan dari keempat          karakteristik

negara di       atas karena       adanya     sistem hukum merup akan              persyaratan

dari suatu pemerintahan sebagai         suatu unsur    ketatanegaraan (Starke,

1989: 127), karena seperti yang dikatakan oleh John Locke:

“Suatu   pemerintahan     tanpa hukum     adalah suatu misteri dalam

politik,    yang sulit untuk dibayangkan secara               manusiawi dan tidak

konsisten dengan masyarakat manusia “.

Terbentuknya negara dapat terjadi     karena proklamasi kemerde-

kaan negara, perjanjian intemasional, atau karena adanya                   plebisit

(1stanto,1994: 22). Proklamasi kemerdekaan berarti pemyataan sepi –

hak dari suatu    bangsa bahwa dirinya melepaskan diri dari kekuasaan

negara lain dan mengambil            penentuan nasibnya ditangan sendiri.

Dengan adanya proklamasi berarti suatu masyarakat membentuk orga-

nisasi kekuasaan berupa pemerintahan yang berdaulat.         Dengan prokla-

masi juga berarti suatu          masyarakat menerapkan sis tem        hukurnnya

sendiri, menata sistem            pemerintahannya sendiri untuk mencapai

tujuan negara sesuai falsafah yang dianutnya.

 

 

3. Unsur Negara

a. Wilayah/Daerah Negara

Wilayah negara terdiri atas daratan dan lautan. Yang

dimaksud   dengan wilayah     daratan negara adalah bagian dunia

yang kering yang merupakan bagian dari benua atau pulau yang

mencakup juga wilayah perairan daratan seperti danau dan

sungai. Luas wilayah daratan suatu negara dapat terjadi karena

ditentukan sendiri secara sepihak oleh negara itu sendiri,

ditentukan dalam perjanjian internasional, ditentukan kebiasaan

dimasa lampau atau ditentukan oleh perkembangan setelah

terbentuknya negara tersebut (lstanto,1994: 22). Yang dimaksud

de ngan  wi layah   laut negara adalah       massa air di dunia yang

mengelilingi daratan beserta tanah yang ada di bawahnya.            Bagi

negara   pant ai dan negara kepula uan      yang wilayah     daratannya

berbatasan    dengan    laut memiliki        previlige yaitu menguasai

wilayah lautan tcrsebut.

 

 

b. Rakyat N egara

Kiranya pe rlu      dibedakan antara penduduk dan warga

negara, karena satu     sama lain memiliki hubungan hukum yang

 

144

 

berbeda. Yang dinamakan penduduk adalah semua orang yang

 

 

 

 

4. Bentuk Negara

 

145

 

dalam waktu tertentu berada dalam wilayah negara, baik warga

negara maupun orang asing. Mereka tunduk pada hukum negara

Indonesia . Bagi mereka pada prinsipnya berlaku semua hukum

yang berlaku dengan beberapa pengecualian bagi yang bukan

warga negara yaitu misalnya mereka tidak mempunyai hak

suara dalam pemilu, tidak berhak menduduki jabatan tertentu,

mereka yang mempunyai           kekuatan diplomatik bebas dari

pungutan pajak dan bea. Bagi warga negara dimanapun ia ber-

ada tunduk pada kekuasaan dan hukum negara..

c. Pemerintah

Menurut Prins Pemerintah dalam arti luas adalah suatu

organisasi kekuasaan yang mempunyai wilayah tertentu dan

berdaulat atas sejumlah orang tertentu sebagai warga negara.

Sedangkan dalam arti sempit adalah lembaga yang ada dalam

suatu negara yang memiliki kekuasaan melaksanakan setiap

peraturan yang dibuat oleh kembaga legislatif.

 

d. Kedaulatan

Jean Bodin mengatakan bahwa kedaulatan adalah ke-

kuasaan tertinggi untuk membuat hukum dalam suatu negara

yang bersifat tunggal, asli, abadi, dan tidak dapat dibagi-bagi .

Sedangkan CF. Strong membagi pengertian kedaulatan menjadi

pengertian intern dan pengertian ekstern.               Sebagai pengertian

intern kedaulatan merupakan kekuasaan tertinggi untuk menen-

tukan serta melaksanakan hukum terhadap semua orang dan

semua golongan yang terdapat dalam lingkungan kekuasaannya.

Sedangkan sebagai .pengeli ian ekstern, kedaulatan merupakan

kekuasaan tertinggi yang tidak diturunkan dari kekuasaan lain

yang mengandung konsekwensi bahwa tidak ada campur tangan

negara lain dalam menentukan hukumnya sendiri.

Dalam Ilmu Negara pengertian tentang bentuk negara sejak

dulu kala dibagi menjadi dua yaitu: monarchie dan republik. Untuk

menentukan suatu negara berbentuk monarki atau republik banyak

ukuran yang dipakai. Jellineck memakai kriteria bagaimana caranya

kehendak negara dinyatakan. Jika kehendak negara ditentukan oleh

satu orang saja maka bentuk negara itu adalah monarki. Jika kehendak

negara ditentukan oleh banyak orang dalam suatu majelis, maka

bentuk negaranya adalah republik. Sedangkan Leon Ouguit menggu-

nakan kriteria bagaimana caranya kepala negara itu diangkat. Jika

seorang kepala negara berdasarkan hak waris atau keturunan, maka

bentuk negaranya disebut monarki. Tetapi jika kepala negaranya

dipilih melaui suatu pemilihan umum untuk masa jabatan tertentu,

adalah republik.

 

 

5. Susunan Negara

Istilah susunan ditujukan untuk menentukan apakah negara itu

merupakan negara kesatuan, federasi atau konfederasi. Jellineck mem-

bedakan negara federasi dan negara konfederasi pad a letak kedau-

latannya. Pada negara konfederasi kedaulatan terletak pada negara-

negara bagiannya. Sedangkan pada negara federasi kedaulatan ada

pad a keseluruhannya yaitu pada negara federasi itu sendiri. Alat

pengukur lain untuk membedakan negara federasi dan konfederasi

adalah sejauh mana pemerintah pusat dapat secara langsung mempe-

ngaruhi rakyat dari negara-negara bagian melalui peraturan-peraturan

yang dikeluarkannya. Oalam negara federasi, pemerintah pusat dapat

mempergunakan wewenangnya secara Iangsung terhadap setiap warga

negara dalam ncgara-negara bagiannya, sedangkan wewenang ini

tidak terdapat pad a negara konfederasi (Kusnardi & Ibrahim, 1976:

168).

Selanjutnya antara negara federal dan negara kesatuan dapat

ditunjukkan perbedaannya sebagai berikut:

a. Pada negara federal negara-negara bagian mempunyai wewe-

 

146

 

nang untuk membuat UUD-nya          sendiri    (Pouvoir Constituant)

dan dapat menentukan        bentuk organisasinya masing-masing

dalam batas-batas yang tidak bertentangan dengan konstitusi

negara federal. Pada negara kesatuan daerah daerah tidak dapat

membuat UUD sendiri, dalam hal ini organisasi kekuasannya

telah ditentukan oleh pembuat undang-undang dipusat.

b. Dalam negara federasi             wewenang pembuat undang-undang

pemerintah federasi ditentukan secara terperinci sedangkan

wewenang lainnya         ada pada negara-negara bagian             iresidu

power atau reserved power). Sebaliknya dalam negara kesatuan,

wewenang secara terperinci terdapat pada daerah-daerah dan

residu    powemya      ada pada pemerintah pusat (Kranenburg,

1939) .

 

 

Masyarakat merupakan kelompok manusia yang saling berhu-

bungan dan menempati suatu wilayah .              Untuk melindungi kepen-

tingannya dan menghindari terjadinya kebebasan tanpa batas maka

manusia membentuk suatu asosiasi yang bertujuan untuk mernudah-

kan memperoleh kebutuhannya dan membatasi kompetisi.                  Negara

adalah asosiasi yang lahir untuk memenuhi kebutuhan politik warga

negara.

Negara    merupakan integrasi dari kekuasaan politik. Negara

adalah alat dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk meng-

atur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan

gejala-gejala kekuasaan dalam masyarakat. Secara umum negara

mempunyai dua tugas yaitu:

I. Mengendalikan dan mengatur gejala-gejala kekuasaan yang a-

sosial, yakni bertentangan satu sarna lain,         supaya tidak menjadi

antagonisme yang membahayakan.

2. Mengorganisir dan mengintegrasikan kegiatan manusia dan

golongan ke arah tercapainya tujuan dari masyarakat secara

keseluruhan.

 

147

 

Si fat negara merupakan manifestasi dari kedaulatan yang dirni-

likinya, diantaranya:

I). Sifat memaksa, ditujukan untuk menciptakan ketertiban dalam

masyarakat, dapat berupa penggunaan kekuasaan secara fisik

secara legal. Dalam suatu negara yang demokratis hal ini dite-

kan seminimal mungkin.

2). Sifat monopoli , yang bertujuan untuk menetapkan tujuan bersa-

ma dari masyarakat. Sikap mencakup semua (all-encompassing,

all embracing),     dalam setiap kebijakan-kebijakan negara berla-

ku merata bagi setiap orang tanpa kecuali .

 

 

Dari sini muncul adanya politik hukum suatu negara tertentu,

yang berada di tangan pemerintah.                 Sehingga     negara merupakan

sumber hukum.       Kedaulatan dalam arti yuridis ada pada negara.

Kedaulatan negara sebagai sumber hukum tidak mutlak. Negara harus

tunduk pada aturan yang dikehendaki Tuhan, yakni aturan yang adil.

 

 

B. HUKUM DAN KEKUASAAN

 

Kekuasaan merupakan      kemampuan seseorang atau kelompok

orang untuk mempengaruhi orang atau kelompok lain sehingga sesuai

dengan     keinginan      orang     yang     mempunyai      kekuasaan     tersebut.

Kekuasaan politik adalah kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan

umum (pemerintah) baik terbentuknya ,               maupun akibat-akibatnya

sesuai dengan keinginan pemilik kekuasaan. Kekuasaan politik bagian

dari kekuasaan sosial yang           ditujukan kepada negara sebagai satu-

satunya institusi     yang berkuasa. Dalam penggunaan kekuasaan harus

ada penguasa dan sarana kekuasaan agar penggunaan kekuasaan itu

berjalan dengan baik.

Ossip K.Flechtheim membedakan kekuasaan politik atas:

1. Bagian dari kekuasaan sosial yang khususnya terwujud dalam

negara (kekuasaan negara atau         state power),  seperti lembaga

pemerintahan.

 

 

148

 

2.   Bagian dari kekuasaan sosial yang ditujukan kepada negara,

seperti partai politik,           lembaga-Iembaga sosial yang mempenga-

ruhi jalannya kekuasaan Negara.

 

Hukum berasal dari negara,                 dan yang berkuasa dalam suatu

negara adalah pemerintah. Pemerintah melalui politiknya menetapkan

hukum. Apakah ada hubungan antara hukum dan kekuasaan? Ada dua

pandangan untuk menjawab hal ini:

1.   Hukum tidak sama dengan kekuasaan. Hal ini didasarkan pada

dua alasan:

a. I-Iukum   kehilangan artinya jika disamakan dengan k ekuasa-

an karena hukum bermaksud meneiptakan suatu masyarakat

yang adil. Tujuan ini hanya tereapai jika pemerintah juga

adil dan tidak semena-mena dengan kekuasaannya.

b. I-Iukum   tidak hanya membatasi     kebebasan individual terha-

dap keb ebasan   individual yang lain, melainkan juga kebe-

basan (wewenang) dari yang berkuasa dalam negara.

2. Hukum tidak melawan pemerintah negara, sebaliknya membu-

tuhkannya guna mengatur hidup bersama. Yang dilawan adalah

kesewenang-wenangan     individual. Hal ini didasarkan pada dua

alasan :

a. Dalam masyarakat yang luas,            konflik hanya dapat diatasi

oleh entitas yang berada di atas kepentingan individu -indivi-

du , yaitu pemerintah.

b. Keamanan dalam hidup bersama hanya              terjarnin bila ada

pemerintah sebagai petugas tertib negara.

 

 

c. HUKUM DAN MASYARAKAT

 

Apabila kita berbieara mengenai hukum, maka akan terpikirkan

oleh kita suatu proses pengadilan, ada hakim, jaksa, penuntut,                    dan

pengaeara , yang semuanya meneoba untuk menyelesaikan suatu per-

kara agar terpenuhi suatu keadilan. Akan tetapi hukum bukan hanya di

dalam pengadilan saja,         melainkan hukum itu ada juga di ‘ dalam

 

149

 

masyarakat. Gejala hukum dapat terI ihat         dalam kehidupan manusia

sehari-hari ,   baik dalam kehidupan manusia secara individu maupun

seear a sosial. Jumlah       gej ala hukum itu sangatlah banyak,          sehingga

kadang-kadang tidak kita sadari                   keberadaannya. Setiap waktu kita

dikuasai’   oleh hukum, sej ak manusia lah ir              sampai sesudah mati.

Hubungan manusia    dengan manusia lainnya dalam per gaulan sehari-

hari juga   tidak lepas   da ri peraturan-peraturan yang menyebabkan ada-

nya keh idupan   yang baik dan teratur. Peraturan-peraturan itu rneru –

pakan peraturan yang       ” mengej awantah” dalam kehidupan manusia

sehari-hari. Mungkin ada peraturan         yang sudah berlaku sejak jaman

dahulu, namun mungkin pula ada peraturan baru yang sesuai dengan

keadaan ,  waktu dan tempat.      Dapat saja    peraturan itu berbeda       antar

satu bangsa dengan     bangsa yang lain. Dengan demikian dapat dikata-

kan bahwa hukum berlaku di             se luru h dunia dan dapat dikatakan

sebagai   gej ala yang b er sifat     universal.    Namun secara nyata ,      gejala

hukum dapat kita lihat dalam undang-undang,              ketetapan-ketetapan,

dan juga kontrak perjanjian.          G ejala   hukum inilah yang dipclajari

dalam ilmu hukum,       yan g  jika dilihat dari sudut ilmu pengetahuan

merupakan bagian dari kebudayaan (A sdi , 199 8: 3-4).

Setiap ban gsa mempunyai kebudayaannya sendiri-sendiri, maka

hukum pun berbed a    antara bangsa   sa tu dengan bangsa yang lainnya.

M enurut   von Savigny (Theo Huijbers,           1990  :   114) ,  hukum adalah

pemyataan jiwa bangsa     –    Volksgeist    karena pada dasamya hukum

tidak dibuat     oleh    manusia,   tetapi tumbuh dalam masyarakat,          yang

lahir, berkembang dan lenyap dalam sejarah. Dengan demikian hukum

berkembang pula dalam sejarah.         Dalam pembentukan hukum perIu

pula diperhatikan eita-eita ban gsa dan nilai-nilai yang terdapat dalam

bangsa tersebut.

Meskipun, hukum merupakan bagian kebudayaan suatu bangsa ,

oleh sebab itu tiap-tiap bangsa memiliki hukum masing-masing me-

lalui proses sejarah dan kebudayaannya, namun terdapat suatu univer-

salitas juga dalam tata hukum-tata           hukum yang berlaku di dunia.

Karenanya perlu dibedakan antara ‘politik hukum’ yang menyangkut

makna dan jiwa sebuah tata hukum,                 dan ‘teknik hukum’ yang

menyangkut eara membentuk hukum (Huijbers, 1988 : 118-121).

 

 

150

 

Hukum dalam hubungannya dengan kebudayaan suatu bangsa

dalam perkembangannya dipelajari secara empiris dalam antropologi

hukum. Disini hukum dipandang berkaitan dengan nilai-nilai budaya,

norrna-norma sosial dan lembaga-Iembaga sosial , sccara khusus dalam

masyarakat sederhana atau primitif.

Masyarakat tidak hanya ditandai oleh kebudayaannya sebagai

ciri khasnya,      melainkan juga oleh situasi sosial ekonominya yang

aktual. Oleh sebab itu perhatian pemerintah dan para sarjana hukum

tidak dibatasi pada nilai-nilai kebudayaan yang bersigat spiritual,

me lainkan  lebih-Iebih diarahkan pada kebutuhan-kebutuhan masyara-

kat yang bersifat material. Pemcrintah mengatur kehidupan masyara-

kat secara hukum atas dasar           situasi sosial-ekonomis konkret yang

tertentu.

I1mu yang mempelajari hukum dalam hubungan dengan situasi

masyarakat, dalam konteks masyarakat       modem adalah sosiologi hu-

kum. Tujuan sosiologi hukum bersifat praktis, dimana yang dimaksud

adalah bahwa undang-undang yang dibentuk sungguh-sungguh cocok

dengan kebutuhan-kebutuhan dan cita-cita suatu masyarakat tertentu .

 

 

D. TUJUAN POLITIK HUKUM

 

Secara urnum dalam sistcm politik terdapat                 empat variabel

yaitu:

1.   Kekuasaan –     sebagai cara untuk mencapai hal yang diinginkan

antara lain membagi sumber-sumber di antara kelompok-kelom-

pok dalam masyarakat.

2. Kepentingan – tujuan yang dikejar oleh pelaku atau kelompok

poIitik.

3. Kebijaksanaan – hasil dari                interaksi antara kekuasaan dan

kepentingan, biasanya dalam bentuk perundang-undangan.

4. Budaya politik – orientasi subyektif dari individu terhadap

sistem politik.

Musa Asy’ari       (1999: 107) membedakan politik menjadi dua,

politik kekuasan dan politik moral. Politik kekuasaan adalah tindakan

 

151

 

politik yang semata-mata       ditujukan untuk merebut dan memperoleh

kekuasaan, kawan dan lawan politik ditentukan sepenuhnya oleh

kepentingan-kepentingan poIi tik semata sehingga tidak ada lawan dan

kawan abadi, yang           ada adalah       kepentingan       abadi ,    yaitu kepentingan

kekuasaan . Sedangkan   dalam pol itik moral , kekuasaan bukan merupa-

kan tujuan akhir,        tetapi   alat perjuan gan      dari cita-cit a      moral dan

kemanusiaan.

Ada bebcrapa     tujuan poIitik hukum yang diuraikan oleh            para

sarjana, yaitu:

a. Menjamin keadilan dalam masyarakat.

Tugas utama pemerintah suatu Negara ialah                     mewujudkan

keadilan social      (iustitia socialis)  yang dulu disebut keadilan distri –

butive   (iustitia distributive).  Undang-undang     disebut    adil yaitu un-

dang-undang yan g       mengatur sed emikan       rupa kehidupan manusia

dimana untung dan beban dibagi sec ara        pantas. Undang-undang yang

tidak adil adaIah yang melanggar hak-hak manusia atau mcngunggul-

kan kepentingan saIah satu kelompok saja.

 

b. Menciptakan ketentraman          hidup dengan memelihara kepastian

hukum.

Kepastian hukum berarti bahwa dalam Negara tcrs ebut undang-

undang sungguh berlaku sebagai hukum, dan bahwa putusan-putusan

hakim bersifat konstan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

 

c. Menangani kepentingan-kepentingan          yang nyata dalam kehidupan

bersama secara konkret.

Kepentingan ters ebut nampak dalam cita-cita masyarakat secara

kolektif. Pemerintah kemudian menetapkan               undang-undang untuk

mendukung dan mengembangkan cita-cita tersebut.

Tujuan mana yang harus      diprioritaskan antara keadilan, kepas-

tian hukum atau nilai -nilai          khusus? Menurut Huijbers yang harus

diutamakan adalah keadilan, yaitu pemeliharaan hak-hak yang berkait-

an dengan tiap -tiap      manusia sebagai      pribadi. Karena hak-hak azasi

tidak jatuh dibawah wewenang          pemerintah dan tidak pemah dapat

diserahkan kepada orang lain. Negara didirikan atas dasar hak-hak itu

 

 

152

 

sebagai azas-azas segala hukum. Sesudah              keadilan    baru kepastian

hukum, lalu salah satu nilai khusus dapat dipilh            sebagai tujuan poltik

hukum, sesuai dengan cita-cita dan kebutuhan-kebutuhan                                    bangsa

(Huijbers, 1995: 120).

 

 

 

 

 

 

 

 

BABX

PENEGAKAN HUKUM

 

 

A. PERAMPASAN KEMERDEKAAN DAN PEMIDANAAN

 

Pelanggaran hukum membawa akibat diberikannya hukuman

kepada si pelanggar. Hukuman itu dapat             berbentuk    hukuman fisik ,

hukuman denda ataupun hukuman              dalam bentuk lain.            Adanya

hukuman yang diberikan tersebut akan menimbulkan masalah yang

mengacu pad a keadilan. Sudah adilkah hukuman yang diberikan,

khususnya hukuman yang diberikan sesuai dengan keputusan hakim

dan dalam hukum legal. Berdasarkan pemberian hukuman itu akan

timbul pertanyaan, “Apakah sesungguhnya                   tujuan memberi hukuman?

Kecuali itu apakah hukuman terse but sesuai dengan nilai-nilai moral?”

Mungk in ada yang berpendapat bahwa memberi hukuman ter-

sebut balas dendam,               atau biar orang bersalah itu “kapok”,                           jera,

sehingga tidak melakukannya lagi. Atau mungkin pula sebagai contoh

agar orang lain tid ak          melakukan pelanggaran yang sama .           Secara

umum, dapat dikatakan                bahwa memberikan hukuman merupakan

pengobatan atau treatment ,     atau merupakan denda karena melanggar

peraturan. Agar suatu hukuman dapat dikatakan adil , maka hukuman

itu hams mengandung aspek legal dan aspek moral, sehingga tercapai

ketentraman lahir maupun batin, tidak hanya untuk si pelanggar

hukum, melainkan juga masyarakat pada umumnya.

Teori yang membenarkan       pemberian hukuman pada seseorang

yang melanggar hukum dan dibenarkan secara moral adalah teori

Retributivisme. Menurut teori ini, dalam memberi hukuman haruslah

dilihat apakah seseorang itu melanggar hukum. Untuk mengetahui hal

ini perlu dilihat perbuatan orang itu pada masa lalu . Kalau memang

 

 

154

 

orang tersebut pada masa lalu telahmelanggar hukum, sudah sepan-

tasnyalah ia . menerima hukuman.                    Maka hukuman yang diberikan

tersebut merupakan retribusi bagi pelanggaran yang diakibatkan oleh

pelanggarannya .        Dengan demikian telah sesuai pemberian hukuman

itu dan karena itu teori retribusi ini juga dinamakan teori Propor-

sionalitas (Yong Ohoitimur, 1997: 6).

Pengdukung teori ini adalah Immanuel Kant dan Friedrich

Hegel. Kedua filsuf Jerman pada abad ke-18 ini mempunyai pan –

dangan yang berbeda, namun keduanya menyetujui teori Retributi-

visme. Kant mengatakan, bahwa menghukum adalah kewajiban moral,

apabila memang terbukti sescorang itu melakukan kesalahan. Jadi

menurut Kant, hukuman merupakan sesuatu yang harus diterima oleh

orang yang bersalah, dan              hukuman itu adalah hadiah baginya.

Pandapat ‘Kant ini dapat dikatakan bahwa ada dua macam hubungan

antara hukuman dan pelanggaran. Yang pertama, ada hubungan logis

antara hukuman dan pelanggaran, yaitu siapa yang melanggar akan

mendapat hukuman .      Kedua, hukuman menimbulkan rasa               moral,

karena    seseorang yang berbuat harus                bertanggungj awab      (Y ong

Ohoitimur, 1997: 7-10).

Hegel     berpendapat bahwa        hukuman     merupakan     kehend ak

umum,   general will.   Ini tidak berarti bahwa           gen eral will  adalah

kehendak kolektif, tetapi         g eneral will  menyatakan dirinya dalam

hukum, dan dikenal sebagai hukum positif yaitu             hukum yang sesuai

dengan rasio. Hukum mengharuskan setiap individu garus dihargai

dan iperlakukan sebagai manusia bebas. Melanggar hukum berarti

melanggar kehendak bebas. Maka menurut Hegel, hukuman adalah

konsekuensi dari perbuatan yang melanggar hukum (Yong Ohoitimer,

1997: 9-17).

Di samping Retributivisme yang mengadakan evaluasi hukum,

ada aliran yang lain, yaitu aliran Utilitarisme. Kaum utilitarianisme

mengatakan bahwa pemberian hukuman berarti pencegahan, preventif.

Teori ini telah ada sejak jaman Plato. Pada dasamya teori ini ber-

pendirian bahwa hukuman tidak dapat membatalkan kesalahan yang

telah dibuat oleh seseorang, tetapi hukuman itu justru mengingatkan

pada masa depan si pelaku pelanggaran. Teori             Plato ini juga diikuti

 

155

 

oleh beberapa orang filsuf, di antaranya oleh Jeremy Bentham dari

1nggris.

Berbeda dengan teori Retributivisme yang memandang pada

mementingkan masa depan. Dampak apa yang akan terjadi’ apabila

seseorang menerima hukuman. Hukuman yang diberikan diharapkan

mengandung konsekuensi positifbagi si terhukum danjuga bagi orang

lain khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Pendapat ini tentu

tidak jauh berbeda dengan teori moral Utilitarisme yang mengatakan

bahwa suatu tindakan mempunyai nilai moral apabila tindakan ter-

sebut memberikan konsekuensi yang baik pada orang-orang lain

sebanyak-banyaknya. Prinsip manfaat inilah yang menjadi ukuran

bagi utilitarianisme.

Menurut Bentham, konsekuensi yang merupakan akibat dari

hukuman yang berbentuk preventif ini ada dua macam. Pertama

hukuman yang diberikan mengakibatkan seseorang yang dihukum

tidak mempunyai kemampuan untuk mengulangi perbuatan pelanggar-

an. Hal ini disebabkan karena orang itu di hukum seumur hidup atau

dikurung, atau bahkan dihukum mati .          kedua, hukuman mempunyai

efek baik, yaitu untuk memperbaiki si terhukum, sehingga ia tidak

akan membuat pclanggaran lagi. Jadi menurut teori ini,

I. Hukuman dapat memberikan akibat jera seseorang yang diberi

hukuman. lni berarti bahwa hukuman memberikan efek pre-

ventif.

2.   Hukuman sebagai rehabilitasi, memberi kesempatan pada terhu-

kum untuk memperbaiki diri. Mungkin lembaga pemasyarakat-

an di Indonesia diharapkan untuk merehabilitir para terhukum.

3. Hukuman sebagai pendidikan moral, bersifat edukatif agar si

terhukum menjadi taat pada hukum (Yong Ohoitimur, 1997: 26-

48).

 

 

B. MASALAH-MASALAH DALAM PENEGAKAN HUKUM

 

1. Ironi “Negara Hukum” Indonesia

Negara Indonesia adalah negara hukum, begitu yang dinyatakan

 

 

156

 

dalam konstitusi kita UUD Negara             RI  1945 pasal 1 ayat (3) yang

dirumuskan dalam amandemennya yang ketiga, Agustus 2001 yang

lalu. Sehingga seharusnya seluruh sendi kehidupan dalam bermasyara-

kat dan bernegara kita harus berdasarkan pada norma-norma hukum.

Artinya hukum harus dijadikan panglima dalam penyelesaian masa-

lah-masalah yang berkenaan dengan individu, masyarakat dan Negara.

Tetapi sampai saat ini dalam kenyataannya masyarakat seperti tidak

percaya kepada hukum sebagai satu-satunya solusi atas permasalahan

yang terjadi disekitarnya. Mungkin hal ini disebabkan karena sudah

sangat kronisnya krisis kepercayaan masyarakat terhadap hukum, isti-

lah ini tidak lazim dipakai dalam bahasa Indonesia dimana penyum-

bang terbesar krisis tersebut adalah dari para penegak hukumnya

sendiri.

Para pencari keadilan yang        notebene adalah masyarakat kecil

sering dibuat frustasi oleh para penegak hukum yang nyatanya lebih

memihak pada golongan berduit. Sehingga orang sering menggambar-

kan kalau hukum Indonesia seperti jaring laba-laba yang hanya

mampu menangkap hewan-hewan kecil ,         namun tidak mampu mena-

han hewan besar tetapi hewan tersebutlah yang mungkin menghancur-

kan seluruh jaring laba-laba. Contoh paling nyata adalah penanganan

kasus-kasus korupsi, hampir sebagian besar permasalahan yang meng-

indikasikan adanya tindak pidana korupsi tidak pernah tersentuh oJeh

hukum. Apalagi jika kasus tersebut melibatkan “orang-orang besar”

yang dekat dengan kekuasaan dan konglomerat. Kalaupun hal ini

ditindaklanjuti oleh pihak kejaksaan, maka kelanjutan kasus tersebut

semakin     suram.     Karena    biasanya     kasus-kasus     yang     melibatkan

“orang-orang besar” akan di”peti-es”kan oleh                     kejaksaan dengan

mengeluarkan SP3 (surat perintah penghentian penyidikan) atau

kalaupun sampai masuk ke pengadilan, maka akan dikenakan pemida-

naan yang sangat ringan atau putusan bebas.

Saat ini sering kita menyaksikan peristiwa-peristiwa miris,

penggusuran orang miskin kota, ‘penggarukan’ anak jalanan, ‘pener-

tiban’ pedagang kaki lima, tetapi disisi lain penguasa malah mern-

biarkan pencurian harta negara dan uang rakyat oleh koruptor, pem-

berian keringanan terhadap konglomerat hitam yang ‘ngemplang’

 

157

 

dana BLBl,     pencabutan subsidi kepada rakyat, kasus busung lapar

yang terjadi di         N1T   dan NTB yang menistakan pembangunan yang

kita lakukan selama ini , industrialisasi pendidikan dan penjualan aset-

aset negara kepada pihak swasta asing. Kesemuanya itu dilakukan

oleh    pemerintah dengan dalih untuk mewujudkan kesejahteraan

rakyat.

Di sisi lain kita melihat proses dehumanisasi ini semakin cepat

yang diakibatkan oleh kehancuran moral dan akhlak manusia. Manu-

sia tidak lagi memiliki rasa empati terhadap manusia lainnya yang

ditimpa kemalangan, di sisi lain negara telah tidak lagi “rnengurusi”

rakyatnya. Masyarakat mulai frustasi dengan sistem yang dibuat oleh

negara, karena jelas bahwa sistem yang ada sangat tidak memihak

kepentingan orang banyak. Sistem tersebut lebih memihak kepada

para pemodal, politisi busuk, konglomerat hitam, penjahat kernanusia-

an, penjarah uang rakyat, dan penguasa yang menyembah berhala

materialisme. Masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada keadilan

yang ditegakkan oleh hukum, masyarakat juga tidak lagi mau rnern-

perhatikan nilai-nilai moral dan susila yang selama ini mapan.

Kernudian kita rasakan bahwamasyarakat Indonesia sekarang ini

mengarah pada pemikiran yang formalistik, intoleransi, kebekuan dan

kejumudan, fanatisme buta, serta sernakin menguatnya paham-paham

otoriter dan fasisme (Fakih, 2002: xiv).

 

 

2. Fenomena “Pengadilan Rakyat”

Fenomena “pengadilan rakyat” kiranya bisa menjadi satu

sinyalemen adanya kebekuan tersebut.           Eigenriclzting    atau tindakan

main hakim sendiri yang oleh Prof. Sudikno Mertokusumo diartikan

sebagai tindakan untuk melaksanakan hak menurut kehendak sendiri

yang bersifat sewenang-wenang tanpa persetujuan pihak lain yang

berkepentingan (Mertokusumo,                 1996: 23), sepertinya menjadi satu

jawaban atas ketidakpercayaan terhadap sistem sosial yang kita

bangun selama ini yang termanifestasi dalam tata aturan kehidupan

bernegara dan bermasyarakat melalui seperangkat norma, kaidah, dan

peraturan legal formal perundang-undangan Negara.                               Rakyat yang

 

 

 

158

 

dalam wujud kesehariannya dikenal sebagai massa, baik secara ber-

kelompok-kelompok maupun secara massal, dalam “mengadili” pela-

ku yang diduga meresahkan dan mengacaukan kehidupan masyarakat,

pada umurnnya lebih didasarkan pada perasaan                               emosional sesaat

dengan perlakuan yang tanpa kompromi sedikit pu n . Sehingga dengan

demikian sudah pasti tidak ada peluang untuk menyelesaikannya

dengan cara ber-KKN atau suap-menyuap sebagairnana kebiasaan dari

kebanyakan para penegak hukum se lama ini . Profesor Donald Black

(dalam              Behavior of Law,    1976) merumuskan bahwa ketika

pengendalian sosial oleh pemerintah yang sering dinamakan hukum

tidak jalan, maka bentuk lain dari pengendalian sosial secara otornatis

akan muncul (Ali dalam Kompas 26/06/2002). Suka atau tidak suka,

tindakan-tindakan individu maupun massa yang dari kacamata yuridis

dapat digolongkan sebagai tindakan main hakim sendiri               (eigenricht-

ing) ,  pada hakikatnya merupakan wujud pengendalian sosial oleh

rakyat.

Adanya praktik “pengadilan rakyat” yang bukan lagi sebagai

fenomena, akan tetapi sudah semakin menguat dalam tradisi masya-

rakat ini, paling tidak perlu dijadikan cambuk yang sangat keras bagi

para pemimpin bangsa, wakil-wakil rakyat yang diberi amanah untuk

itu dan terutama kepada para penegak dan pembela hukum di negeri

InI.

 

 

3. Mafia Peradilan

Masalah yang sering menjadi sorotan sejak dulu adalah mandul-

nya institusi penegak hukum. Kepolisian, Kejaksaan, Hakim dan

Pengacara seakan menjadi satu jejaring (baca: mafia) peradilan yang

terus mencari     “rnangsa” yang     notabene para pencari keadilan. Uang

menjadi suatu ha] yang sangat prinsipil dalam penyelesaian persoalan-

persoalan hukum. Azas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya

ringan hanya menjadi slogan saja, karena kenyataannya malah ber-

belit-belit, lama dan mahal. Peradilan menjadi seperti kantor lelang

yang menjajakan “dagangan-hukumnya” dengan variasi harga dengan

penawaran tertinggi.

 

159

 

Istilah mafia yang mungkin kita kenal selama ini adalah cerita-

cerita tentang mafia Sisilia di Italia yang menjalankan kejahatan

secara terorganisasi. Kita disini menggunakan kata                   “mafia” untuk

menunjuk pad a praktik korup peradilan, karena kata ini dianggap

mewakili jejaring korupsi di lingkup peradilan dan penegak hukum.

Kata ini menunjuk pada satu bentuk korupsi yang dilakukan dimulai

dari Kepolisian, Kejaksaan, hingga ke Pengadilan (disini termasuk

Hakim dan Panitera), yang juga melibatkan Pengacara. Yang sering

dijadikan apologi oleh para petinggi penegak hukum tersebut adalah

perilaku korup tersebut dilakukan oleh oknum, bukan institusi. Tetapi

pertanyaannya jika yang melakukan perilaku korup tersebut adalah

semua orang yang ada dalam institusi, sulit kita membedakan apakah

ini oknum ataukah memang institusinya yang bobrok.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abu Zahrah, Muhammad, 1994,           Ushul al-Fiqh,  terj emah ,  Jakarta:

Pustaka Firdaus .

Al -Farabi, Rasail,    Hyderab ad, t.t.

Al-Ghazali,  1966, Tahafut al-Falasifah,  Kairo, D ar al-Ma’arif

– – – — ,                        200 3,     Panduan       Ja lan     Ruhani,       Y ogyak art a:

Pustaka Sufi.

Ali, Ahmad, “M enyoal       Anarki dan Pene gakan     Hukum”,   Komp as  26

Juni2000

Al Qardhawi, Yusuf,              1993, fatawa   qardhawi: permasalaha n,

pemecahan    dan hikmah,     terjem ah,      Surabaya:      Risalah

Gusti , eet 1

Anshori,     Abdul    Ghofur, 2005 ,      Filsafat  Huku m    Ke warisan Is lam,

 

161

 

– – – – — , 1993, Etika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Bradly, F.H., 1952, Ethical Studies,   sec . ed., Oxford: Carendom.

Buckhardt, Titus, 1984, Mengenal Ajaran Kaum Sufi,  Jakarta: Pustaka

Jaya .

Chittick, William C, 2002,           Tasawuf di Mata  Kaum   Sufi , Bandung:

Mizan.

Departemen Agama RI, 1971,               AI-QuI’ ‘an dan Terjemahnya,        Jakarta:

Bumi Restu.

Dworkin, Gerald, ed.,         1994,  Morality, Harm and the law,   London:

Westview .

Drijarkara, N., 1966, Pertjikan Filsafat, Djakarta: Pembangunan.

Fakih, Mansour,            2002,   Jalan Lain Manifesto Intelektual Orga

nik, Y ogyakarta: Insist Press

Feinberg, J.       (ed). ,   1975,   Philosopy    of Law,  California: Wadsworth

Publisher Company, Inc., Belmont.

Friedman, W.,      1990,  Teori dan Filsaf at Hukum,        Susunan I, Jakarta:

Rajawali Press .

–    – – – – -,                1990,  Teori dan Filsafat Hukum , Susunan 11, Jakarta:

Rajawali Press .

 

Yogyakarta: UII Press.

Haart, HLA.

Con cept ofLaw

 

Asdi, Endang Daruni ,       1990, Imp ertif Kategoris dala m Filsafat Moral

Immanu el Kant, Yogyakarta:        Lukman Offset.

– —             –     –     ,    1998,   Itnplik asi Teori-Teori  Mora l pada  Hukum ,

Pidato Pengukuhan      Gur u Besa r Fakultas Filsafat Universitas

Gadjah Mada , Yogyakarta.

Asy’ari ,     Musa,     2002,    Filsafat Islam , Sunnah Na bi dalam          Berpikir,

Yogyakarta: LE SFI, cet 3.

Abdul Mujid Az Zandany dkk , Al Iman, terjemah (Jakarta : Pustaka Al

Kautsar, 1984) cet V edisi ketiga hi m 165

Basyir,    Ahmad Azhar, 2001,          Hukum  Waris  Islam,  Edisi Revisi ,

Yogyakarta: UII Press.

–    –     –    –     –     , 1999,     Hukum Perkawinan  Islam , Yogyakarta: UII

Press, cet 9.

Bertens, 1981, Filsafat Barat dalam Abad xx, Jakarta: Gramedia.

Hazairin,     1981,   Tujuh Serangkai Tentang Hukum,    Jakarta:    Bina

Aksara.

– – – – — , 1982, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Quran

dan Hadist , Jakarta: Tinta Mas.

–    – – — – , 1976,                   Hend ak    Kemana Hukum Islam, Jakarta: Tinta

Mas.

Hosen, Ibrahim,    1971, Fiqh Perbandingan dalam Masalah Nikah dan

Rujuk, Jakarta: Ihya Ulumuddin.

Huijbers,     Theo ,    1990,    Filsafat  Hukutn dalatn       Lintasan Sejarah,

Yogyakarta: Kanisius.

– — – – -, 1991, Filsafat Hukum , Yogyakarta: Kanisius.

Ilyas, Yunahar,        1992,  Kuliab Aqidah Islam,    Yogyakarta: LPPI

UMY, eet. 2

Istanto,   Sugeng, 1994, Hukum Internasional,   Yogyakarta: Penerbitan

 

 

 

 

UAJY.

 

162

 

163

 

Yudian Wahyudi Asmin, Yogyakarta: Tiara Wacana.

 

‘Jaiz, Hartono Ahmad,      1996, Rukun Iman digun cang, Jakarta : Pustaka

An Nab a’ , cet 2

Kant ,  Imm anu el,  1963,   Lectures on      E thics,   New York: Harper &

Row.

–    – – –          – – .      1991,   The   Me tap hys ics    oJ Mo rals,    tra nsl. by Mary

Gregor , New York : Cambridge Uni versity.

Khallaf Abdul Wah ab,             1994,   Ilmu    Ushul   F iqh,   terj emah ,    Sem arang:

Dina Utama.

Kranenburg dalam      buku  terj emah an R. Roregoard,      P oltical Theory,

(Oxford Univ ersity Press , 1939)

Kusnardi Moh & dan Ibrah im,           Harmaily,    1976,   Pe ngantar Hukum

Tata Negara Indonesi a, Pusat Studi Hukum Tata Negara FHU I,

Jakarta.

Madjid,    Nurcholi sh, 2000,       Masy arakat    Relight s ,  Jakarta:   Penerbi t

Paramadina, cet 11.

– – – – – -, 1992,                  Islam   Doktrin    dan Perada ba n:     Sebuah   Telaa h

Kristis   tentang  Mas alah Ke ima nan,   Kemanusiaan, dan Ke mo

dernan , Jakarta: Penerbit Paramadina

Marzuki, P.M. , 2005, Peneliti an Hukum, Jakart a: Kenca na

Masud, Muh amm ad   Khalid,    1996,   Filsafa t Hukum Islam ,      Bandung:

Pustaka.

Mertokusumo, Sudikno, 1996,               Men genal Hukutn         (Suatu    Pe nga ntar),

Yogyakarta: Liberty, cet 2

Mulkan , Abdul Munir, “M a ‘rifat       Queti ont , Jalan Pembebasan Manu-

sia dari Mekani sme Konflik” dalam        Begawan Muhammadiyah:

Bun ga  Rampai Pidato Pengu kuhan Guru Besa r Tokoh Muh am –

tnadiyah, Jakarta: PSAP Muhammadiy ah, 2005 .

Murphy, Jeffri e G. and Jules              L.   Coleman,      1990,   Philosop hy     of Law,

Revised ed ., London: Westview.

Muslehuddin, M .,     1986, Philosophy oJ Islam ic La w A nd The          Orien-

talist, New Delhi: Taj      Company.

–    – – – – – ,                1991,  Filsafat Hukum       Islam    da n  Pemikiran Orien-

talis; Studi Perbandingan      Sistem Hukum     Islam. Terjemah oleh

Nasr, Seyyed Hossein, 2003, Islam : Agama, Sejarah, dan Peradaban,

Surabaya: Risalah Gusti .

Nasution, Harun, Notohamidjojo, Filsafat Islam, Jakarta: Artikel

Yayasan Paramadina, t.t.

Notonagoro. Pembukaan UUD 1945.

Notohamidjojo, HLA. Soal-soal Pokok Falsafat Hukum .

Ohoitimur, Yong , 1997,      Teori Et ika tentang Hukuman Legal, Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Paton, HJ.,         1972 ,   The   Moral Law, Kant ‘.’I                Groundwork oJ the

Metaphysi c ofMoral, Hutchinson University Library, London.

Rahman, Fazlur, 2000 , Filsafat Shadra , Bandung: Pustaka.

Ramulyo, M.     Idris, 2004,     Hukum Perkawinan      Islam, Suatu Analisis

dari UU No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, cet V.

Rasyidi, Lili, 1990,          Dasar-dasar     FilsaJat Hukum,       Bandung: Citra

Aditya Bakti.

Rawls, J.,      1971,   A Theory oJ Ju sti ce,       Ma ssachusetts:   The Belknap

Press of Harvard University Press of Cambridge.

Sarmadi, A. Sukris, 1997,         Transedensi   K eadilan Hukum Waris      Isl am

Tran sformatif.: Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Schuon,   Frithjof, 2002 ,    Transfigurasi Manusia, Rejleksi        Antrosophia

Perennialis, Yogyakarta: Penerbit Qalam.

Setiardja,      A.    Gunawan,      1990,    Dialektika      Hukum      dan     Moral,

Yogyakarta :Kanisius.

Shihab, Quraish, 1994, Membumikan AI-Qur ‘an , Bandung: Mizan.

Snare,     Franci s,     1992,    The    Nature     of  Moral Thinking,         London:

Routledge.

Soejadi. Pan casila sebagai Sumber      Tertib Hukutn Indonesia.

Soekadijo, R.G. ,        2001, Logika       Dasar,     tradisional, simbolik,          dan

induktif, Jakarta : Gramedia Pustaka Umum

Soetiksno, 1989, FilsaJat Hukum , Jakarta : Pradnya Paramita.

Starke, JG., 1989, Inroduction To Intenational Law, Butterworth &           Co

Publisher Ltd

Subekti,    1996,  Pokok-pokok Hukum P erdata,        Jakarta: Intermasa,    cet

 

 

 

 

XXVIII.

 

164

 

 

 

 

INDEKS

 

– –– – – – , 1992, Kitab Undang-Undang          Hukum Perdata (Bur-

gerlijk Wetboek) , Jakarta: Pradnya Paramita, cet XXv.

Sukardja, Ahmad,      1995,  Piagam  Madinah dan UUD  1945, Cet 1,

Jakarta: Penerbit VI.

Sukidi,      “Dari      Pluralisme        Agama       Menuju Konvergensi               Agama-

agama”, Komp as, Jumat, 17 Oktober 1997

Thalib,      Sajuti,      1974,     Hukutn     Kekeluargaan     Indonesia,    Jakarta: VI

Press.

Titus, Harold H.,      1970, Living Issues in                     New York: Van

Nostrand Rein Hold.

Ya zdi,  Mehdi   Ha ‘iri ,   1994 , Ilmu Hudluri, Prinsip-prinsip Epsitimo-

logi dalam Filsafat Islam , Bandung: Mizan.

 

A

 

Abb asiyah , 14

Abdul Wahab   Khalaf, 69, 104

A gustinus, 16, 17

Aksiologi, 1

Akhlak , 10,58

Al Farabi , 14, 15

Al Ghazali, 15, 16

Al Hadi st, 17, 126, 127

Al Kindi, 14, 15

 

H

 

Hakim, 5, 7, 12, 13,48, 54 , 56 ,

94 ,148, 151, 152, 156-158

Hegel, 24, 25, 83, 153

Hukum alam, 12, 13, 16-18,

2 1, 24, 37, 46, 77,8 1-83,

87 ,88, 10 1-104, 111

Hukum kod rat, 4,37, 77, 80,

87-91 ,108

Hukum po sitif, 4, 7, 10, 12,

13,16,18,21 ,25 , 37,38,

68, 82,84,87,88,91 ,92,

94, 98, 102, 153

 

I

 

Ibnu Ru syd , 14

lmmanuel Kan t, 22, 23, 35 ,

74-79 , 83, 99, 101, 112,

153

Islam, 13-1 9,28-33 , 57-59,

 

61 -72,100, 104- 106, 12 1,

123, 125, 132,1 33,135 ,

137, 138

Ius Constituendum. 10

Ius Constitutum, 10

Ius gentium, 12, 18

 

J

 

J urisprudence, 5, 6, 93

 

K

 

Kap italisme, 30, 51

Karl Marx, 25

Kasyf, 34

Kea dilan, 12, 16, 18, 25, 35,

46-57 ,60,63-66,68,69,

91,92,94,96-98,1 0 1, 104,

109,1 4 8,1 51 , 152,1 55-

157

 

R

 

Rene Descartes, 27

Romawi, 5,12- 14,18, 33, 108

 

S

 

Sey yed Hossein Nasr, 33

Sos iologi Hukum, 9,2 5, 150

Spekul atif,7

StuJenbau theorie,      42 , 100

Sufi ,3 3,34

 

 

 

Syariat, 17, 18,33 ,59,66,68-

71,100,101,104-106,121,

122, 135, 137, 138

 

T

 

Taqdir, 118, 119, 121, 123,

124, 126, 127

Tasawuf,33

Teori hukum mumi , 98, 101

Teori proporsionalitas, 153

Tradisionalisme, 28-31

 

 

166

 

 

 

 

w

 

BABI

PENDAHULUAN

 

 

A.I’ENGERTlAN    FILSAFAT,   I’EMBIDANGAN   FILSAFAT

DAN LETAK FILSAFAT HUKUM

 

Secara historis zaman terus berkembang melalui hierarkis per-

kembangan yang terus dibarengi pula dengan perubahan-perubahan

sosial,    dimana dua hal ini selalu berjalan beriringan. Keberadaan

manusia yang dasar pertamanya bebas, menjadi hal yang problematis

ketika ia hidup dalam komunitas sosial. Kemerdekaan dirinya meng-

alami benturan dengan kemerdekaan individu-individu lain atau bah-

kan dengan makhluk yang lain. Sehingga ia terus terikat dengan tata

kosmik, bahwa bagaimana ia harus berhubungan dengan orang lain,

dengan alam, dengan dirinya sendiri maupun dengan Tuhannya. Maka

muncullah tata aturan, norma atau nilai-nilai yang menjadi kesepakat-

an universal yang harus ditaati. Semacam                hal tersebut di ataslah

peradaban manusia dimulai, dimana manusia harus selalu menjunjung

tinggi nilai-nilai kemanusiaan. la harus memegangi nilai-nilai aturan

yang berlaku mengatur hidup manusia.

Filsafat atau disebut juga ilmu filsafat,              mempunyai beberapa

cabang ilmu utama . Ca bang I1mu utama dari filsafat adalah ontologi,

epistimologi ,     tentang nilai (aksiologi),          dan moral (etika). Ontologi

(metafisika) membahas tentang hakikat mendasar atas keberadaan

sesuatu . Epistimologi membahas pengetahuan yang diperoleh manu-

sia, misalnya mengena i asalnya       (sumber) dari man a sajakah pengeta-

huan itu diperoleh manusia, apakah ukuran kebenaran pengetahuan

yang telah diperaleh manusia itu dan bagaimanakah susunan pengeta-

huan yang sudah diperaleh manusia . I1mu tentang nilai atau aksiologi

adalah bag ian   dari filsafat yang khusus membahas mengenai hakikat

 

 

2

 

n ila i berkaitan de ngan    sesua tu . Se da ngkan  filsafat   moral membahas

nilai berkai tan       de nga n tingkah      laku    manusia dima na nilai           disini men-

eakup baik dan   buruk serta be nar dan salah.

Berfilsafat adalah          berpikir rad ika l,       radix artinya akar, sehingga

berpikir ra dikal       arti nya   sampai ke akar suatu masalah, me ndalam sam-

p ai   ke akar-akarnya, ba hkan              me lewati      ba tas-batas       fisik yang ada,

me masuk i    medan pe nge mbaraan          diluar sesuatu        yang fisik       (Asy’arie,

2002: 3). Berfi lsafat      ada lah berpikir dalam tahap       ma kna, ia meneari

hak ikat     makna dari ses ua tu,            Berpikir da lam          tahap     makna artinya

menemukan makna tcrdalam dari sesua tu,          yang berada     da lam kan-

dungan sesuatu itu . Dalam filsafat, seseorang meneari dan menernu-

kan jawaban    da n b uka n han ya dengan memperlihatka n pen am pa kan

(appearance ) sern ata, mel ainkan menelusurinya jauh                     d ibalik pe na rn-

paka n itu  de ngan  maksud menentukan sesuatu yang       dise but nilai    dari

se bua h realit as.

Fi lsa fat memil iki objek              bahasan      ya ng    sa ngat lua s, me liputi

se mua hal yang da pa t dij an gkau o leh pikiran ma nusia, dan beru sah a

memaknai   d un ia da lam hal makna    (A ns hori,   2005: 3). IImu hu kum

memi liki      ruang      lingkup yang terbatas, karcna                    hanya     mempel aj ar i

tentang norma ata u        aturan    (hukum). Banyak persoa lan- persoal an

bcrken aan       de nga n    hu ku m     memban gkitkan         pe rtanyaan-pe rtanyaa n

leb ih lanj ut yang   mem erl ukan jawaban mendasar, Pa da    ke nya taan nya

banyak pertanyaan-pertanyaan     mendasar itu tidak dap at      dijawab   lagi

oleh ilm u hu kum . Persoalan-persoa lan       mendasar   ya ng tid ak  dijawab

ole h  ilmu hukum menjadi objek bahasan ilm u         filsafat.   Fi lsafat mern –

p unyai objek berupa   segala ses uatu yang dap at d ij an gkau  olch   pikiran

manusia (A nshori, 2005: 4).

Konscp   hu kum mungkin dapat dikatakan      me mp unya i pen gerti-

an  ya ng  ambigu, dwiarti, sehingga dapat menimbul kan               kek eli ru an

pengertian, bai k seeara inte lektual ma upu n      seeara  moral.   Dapat dika-

takan ada d ua macarn huku m , ya it u huk um yang deskriptif dan hukum

yang pr eskri pt if.   Hu ku m yang des kriptif –      decriptive laws –   ada lah

hukum ya ng menunjukkan se suatu itu dapat       terj adi, misa lnya hukum

gravitas i,   h uku m Are hi medes  ata u h uk um yang berhubungan den gan

ilmu-i lm u kealam an . Di sa mp ing itu , dapat p ula     terpikirkan oleh     kita

 

3

 

mengenai hukum yang telah ditentukan            atau hukum yang memberi

petunjuk –     precriptive law –  misalnya   hukum yan g   diatur   oleh   para

otoritas yang         mengatur apa yang             boleh dan ap a          yan g    tid ak    boleh

dikerj akan,   Hukum inilah yang merupakan         b ahan penelitia n filsafa t

hukum,     scd an gkan    hukurn yang deskriptif menjadi                  obj ek    penelitian

ilmu pengetahuan (A sdi , 1998: 2-3).

Dalam    kontek s   umum kesalehan        ban ya k dikaitkan den gan

, ketaatan  kepada ketentuan    hukum. Namun kesalehan      yang b ert umpu

kepada kesadaran   hukum akan banyak berurusan     dengan tin gkah laku

manusia ,   dan hanya seeara parsial           saj a berurusan     dengan    h al-hal

batiniah (Madjid,         1992: 256). Dengan kat a           lain , orientas i hukum lebih

berat men garah   pada dimensi eksoteri s, den gan       kernungkinan    men g-

abaikan dimen si esoteris. Divergensi ant ara                   k edua orientasi       kea gam a-

an yang lahiri (eksoteri s)             dan batini (esoteri s)           memuneulkan        eab an g

ilmu yang berbeda, yaitu syariah (hukum) dan thariqah (tasawuj) .

 

 

B. PENGERTlAN FILSAFAT HUKUM,                      MANFAAT MEMPE-

LAJARI FILSAFAT HUKUM, DAN                   KEDUDUKAN FILSA-

FAT HUKUM DALAM KONSTELA SI ILMU

 

1. Pengertian Filsafat Hukum

See ara sederhana dapat dikatak an               bahwa filsafat hukum adalah

eabang filsafat , yaitu filsafat tingkah laku atau etika, yang mernpela-

jari hakikat hukum. Dengan kata lain , filsafat hukum adalah ilmu yang

mempel ajari  hukum  secara filosofi s. Jadi objek filsafat hukum adalah

hukum, dan objek tersebut dikaji se ea ra      me ndalam sampai kepada inti

atau dasarnya, yang disebut hakikat.

Pertanyaan tentang “apa (hakikat) hukum itu ?” seka ligus meru-

pakan pertanyaan          filsafat     hukum juga. Pertanyaan tersebut mungkin

saja dapat dijawab oleh ilmu hukum,           tetapi  jawaban yang diberikan

temyata  serba tidak memuaskan.      Menurut   Apeldoorn (1985) hal ter-

sebut tidak lain karena                 hukum hanya          memberikan       jawaban yang

sepihak.

 

 

4

 

Ilm u  huku m hanya melihat gejala-gejala hukum sebagaimana

dapat diamati oleh panca indera manusia mengenai perbuatan-perbuat-

an manusia dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat. Sementara itu, per-

timbangan nilai    di balik gejala-gej ala hukum tersebut luput dari peng-

amatan ilmu hukum. Norma (kaidah) hukum tidak termasuk dunia

kenyataan   (sein), tetapi   berada  pada dunia lain      (sol/en dan  mogeni,

sehingga norma hukum bukan dunia penyelidikan ilmu hukum.

Mengingat    objek filsafat    hukum adalah hukum, maka masal ah

atau pertanyaan    yang dibaha s   oleh filsafat hukum itupun antara lain

berkisar pada apa-a pa yang diuraikan      diata s, seperti hubungan hukum

dan kekuasaan, hubun gan   hukum kodrat dan hukum positif, apa sebab

orang menaati     hukum, apa    tujuan hukum, sampai kepada masalah-

masalah filsafat   hukum yan g ramai   dibicarakan saat ini (oleh sebagian

orang disebut masa lah filsafat      hukum kontemporer, suatu istilah yang

 

5

 

hukum yang menekuni filsafat hukum. Pada jaman                   dulu, filsafat

hukum hanyalah produk sampingan di antara sekia n banyak                objek

penyelidikan para filsuf. Pada masa sekarang,             filsafat   hukum   sudah

menjadi produk utama yang dibahas sendiri oleh para ahl i hu kum.

Sebagai catatan tambahan , dalam banyak tuli san filsafa t hu kum

sering diidentikkan dengan jurisprudence yang        diaj arkan teru tama di

fakultas-fakulta s        hukum di Amerika             Serikat. Istilah          jurisprudence

(bahasa Inggri s) atau jurisprudenz   (bahasa   Jerman) sudah    digunakan

dalam Codex Iuris Civilis di zaman Romawi.     Istilah   ini  dipopulerkan

terutama oleh penganut aliran positivisme hukum.

Kata jurisprudence harus dibedakan          dengan kata yuriprudensi

sebagaimana dikenal    daIam sistem hukum Indonesia dan Eropa Konti-

nental   pada umumnya,    dimana istilah yuri sprudensi        lebih menunjuk

pad a putusan hakim yang diikuti        hakim-hakim    lain . Huijbers    (1988)

 

kurang tepat, meng ingat sejak dulu masalah tersebut juga telah diper-

bincangkan) se pert i masalah                hak asasi manusia dan etika profesi

menyatakan,

.

…. di    lnggri s jurisprudence   berarti    ajaran atau ilmu hukum.

 

hukum. Tentu saja tidak             semua masalah        atau pertanyaan itu akan di-

jawab dalam perk uliahan filsafat                  hukum. Seba gaimana           telah dising-

gung dim uka,     filsafa t huk um  memprioritaskan    pembahasannya pada

pertanyaan-pertanyaan yang dipandang pokok-pokok saja.

Apeldoom      (1985) mi salnya        menyebutkan     tiga     pertanyaan

penting yang dibahas oleh filsafat hukum, yaitu: (1) apakah pengertian

hukum yang berlaku umum; (2) apakah dasar kekuatan mengikat dari

hukum; dan (3) apakah        yang dimaksud dengan hukum kodrat. Lili

Rasyidi (1990) me nyebutka n pertanyaan      yang menjadi masalah filsa-

fat hukum, antara       lain:   ( 1) hubungan hukum dan kekuasaan; (2)

hubungan hukum dengan nilai-nilai sosial budaya;                   (3) apa sebab

negara berhak     menghukum seseorang; (4) apa          sebab orang menaati

hukum; (5) masa lah pert anggungjawaban;       (6) masalah    hak milik;    (7)

masalah kontra k; dan (8) masalah           peranan hukum sebagai sarana

pembaruan masyarakat.

Jika kita bandingkan      antara apa yang dikemukakan oleh Apel-

doom dan Lili Rasyidi tersebut, tampak bahwa masalah-masalah yang

dianggap penting dalam pembahasan filsafat hukum terus bertambah.

Hal ini sesungguhnya tidak terlepas dari semakin banyaknya para ahli

Maka namp aklah     bahwa   penganut-penganut      positivisme yuridis tidak

mau bi cara    mengen ai   suatu filsa fat     hukum.   Oleh   mereka kata juris-

prudensi (sic!)    dianggap   lebih tep at, yakni sua tu kepandaian dan keca-

kapan yang tinggal      dalam batas ilmu hukum.

 

 

Agar tidak membingungkan seba iknya istilah jurisprudence

tidak diterjemahkan ke dalam Bahsa Indon esia (seperti yang dilakukan

Huijbers di atas       menjadi yurisprudensi), te tapi tetap dipertaha nkan

dalam ejaan aslinya.

Menurut Richard A Posner (1994)                       yan g dimaksud dengan

jurisprudence adalah

…          most fundamental.   general,  and  theoritica l   p lain of

analys es of the social phenomenon called law. For the most part it

deals   with problems     and use     perspectives, remote    from    daily

conc erns of legal   practioncrs ; problem  that  cannot  be solved   by

reference  to or by reasoning from conventional       legal  materia ls;

perspective that   cannot be reduced   to  legal doctrines or to legal

reasoning. Many of         problems ofjurisprudence cross doctrina l,

 

6

 

tempora l and nationa l boundaries.

‘” yang paling mendasar, umum, dan merupakan ana-

lisi s   teoritis dari suatu fenomena sosial          yang disebut dengan

hukum . Pada sebagian besar bagiannya sesuai dengan ma salah

dan menggunakan berbagai macam pandangan seperti remote

dari masalah     keseharian yang sering dihadapi para praktisi

hukurn , masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan rujukan

atau  jawaban-jawaban dari sumber hukum biasa,            yaitu pan-

dangan yang tidak dapat direduksi dalam doktrin                   hukum.

Banyak dari      masalah-masalah    jurisprudence      yang bersifat

linta s doktrin, temporal dan national bounderies .

 

Lalu filsafat diartikannya dengan:

‘” the name we give        the analysis of’fundamental questions ,

thus the traditional definition ofjur/sprudence as the philosop hy    of

law. or as the     application of philosophy of law,      is pr ima fa cie

appropriate.

…  narn a tersebut     kita    berikan     untuk me nganal isi s

pertanyaan-pertanyaan mendasar,      jadi pengertian tradi sional

dari jurisprudence adalah filsafat hukum, atau penerapan dari

fil safat hukum, yaitu prima facie appropriate .

 

 

Jadi Posner sendiri tidak membedakan                pengertian     dari dua

istila h   it u,   seka lipun   banyak juga para ahli         hu ku m yang mencoba

mencari distingsi      dari keduanya. Hanya saja sebagaimana dikatakan

oleh Lili Rasyi di       (1988) sekalipun ada perbedaan antara keduanya,

tetap sukar untuk mencari batas-batasnya yang tegas.

 

 

2. Manfaat Mempelajar i Filsafat Huk um

Bagi sebagian besar ma hasiswa,        pertanyaan  yang ser ing    dilon-

tarkan adalah: apakah manfaatnya mempelajari          filsafat   hukum itu?

Apakah tidak cukup mahasiswa dibekali dengan ilm u hukum saja?

Seperti telah     disinggung d i     mu ka, filsafat (termasuk dalam ha l

 

7

 

ini filsafat hukum) memiliki         tiga sifat yang membedakannya        dengan

ilmu-ilmu    lain. Pertama,     filsafat memiliki kar akteristik yang bersifat

menyeluruh.    Den gan cara berpikir      yang holi stik    tersebut, mahasiswa

atau  siapa saja yan g mempelaj ari fi lsafat hukum diajak untuk berwa-

wasan luas    dan terbuka. Mereka      diaj ak untuk me nghargai pemikiran,

pendap at     dan pend irian         orang lain. itu lah            sebabnya dalam filsafat

hukum pun diajark an         berb agai a liran pemikiran          tentan g    hukum.

Dengan      demikian apa bi la mahasiswa                 tersebut      telah     lulus sebagai

sarjana hukum umpamanya, diharapkan ia tidak ak an bersi kap aro gan

dan apriori , bahwa disiplin        ilmu yang dimilikinya       lebih tinggi diban-

din gkan den gan disiplin ilmu yang lainnya.

C iri yan g     lai n,   filsafat hukum juga            memil iki     sifat yan g      men-

da sar.  Artinya dalam     menganalisi s    suatu masalah,    kita   diajak untuk

berpikir    kritis dan radi kal.      M ereka  yan g mem pelajari   filsafat hukum

diaj ak untuk mem ahami hukum tidak dal am art i hu kum po sitif semata .

Or an g yan g mempclajari    hukum dalam arti posit if semata tidak akan

mampu memanfaatkan dan men gemba ngkan     hukum secara baik apa –

bila    ia menjadi hakim,         misalnya di kh awat irkan ia ak an         menjadi

“coron g undang-und an g” bel aka .

C iri berikutnya ya ng tid ak    kal ah penti ng nya adalah sifat filsafat

yan g spekulatif. Sifa t ini tidak bol ch dia rtikan         secara  nega tif se bagai

sifat   gambling .                      Sebagaimana          din yatakan oleh                Suriasumantr i (1985)

bahwa se mua ilmu yan g berkernb an g saa t      ini   bermula   dari   sifat spe-

kulatif ters ebut.    Sifat ini men gaj ak    merek a yang m empelajari    filsafat

hukum untuk berpikir          inovatif, se la lu m encari       sesuatu    yang baru.

Meman g salah satu ciri orang           yan g berp ikir rad ikal      adalah senang

kepada hal-hal baru, Tentu saja tind a kan spekulatif yang dirnaksud di

sini   adalah tindakan   yang terarah, yan g dapat dipertanggungj awabkan

secara   ilmiah. Dengan       berpikir spe kulatif (dalam        arti positif) itulah

hukum dapat dikembangkan ke arah ya ng dicita-citakan bersama.

Ciri lain lagi       adalah sifat    fil safat yang reflektif kritis. Melalui

sifat ini, filsafat hukum berguna untuk membimbing kita menganalisis

masalah-masalah hukum secara ras ional dan kemudian mernpertanya-

kan jawaban itu secara terus menerus.            Jawaban   tersebut seharusnya

tidak sekedar diangkat dari gejala -gejala           yang tampak, tetapi sudah

 

8

 

sampai kepada nilai-nilai yang ada dibalik gejala-gejala itu . Analisis

nilai inilah yang membantu kita untuk menentukan sikap secara bijak-

sana dalam menghadapi suatu masalah.

Sebagai bagian dari filsafat tingkah laku, mata kuliah filsafat

hukum juga memuat materi tentang etika profesi hukum. Dengan

mempelajari etika profesi tersebut, diharapkan para calon sarjana

hukum dapat menjadi pengemban amanat luhur profesinya. Sejak dini

mereka diajak untuk memahami nilai-nilai luhur profesi tersebut dan

mernupuk terus ideal isme             mereka. Sekalipun disadari bahwa dalam

kenyataannya mungkin saja nilai-nilai itu telah ,menga lami penipisan-

perupisan.

Seperti yang diungkapkan oleh Radhakrishnan dalam bukunya

The History of Philosophy,  manfaat mempelajari filsafat (ten tu saja

termasuk mempelajari filsafat hukum) bukan hanya sekedar mencer-

minkan se man gat masa ketika kita hidup, melainkan membimbing kita

untuk maju. Fungsi filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan

kepada kita untuk menopang dunia baru, mencetak manusia-manusia

yang tergo long ke dalam berbagai bangsa, ras dan agama itu mengabdi

kepada cita-cita mulia kemanusiaan .        Filsafat tidak ada artinya sama

sekali apabila    tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun

dalam semangatnya (Poerwartana, 1988).

 

 

3. Ilmu-i1mu yang Berobjek Hukum

Setelah memahami filsafat hukum dengan berbagai sifatnya,

perlu juga diketahui keterkaitan antara filsafat hukum ini dengan ilmu-

.ilmu lain yang juga berobjek hukum. Suatu pembidangan yang agak

lengkap tentang ilrnu-ilmu yang objeknya hukum diberikan oleh

Pumadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto (1989) .

Istilah “disiplin hukum” sendiri sebenamya dialihbahasakan

oleh Pumadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto dari kata                      legal

theory, sebagaiman dimaksudkan oleh W. Friedmann. Hal ini tampak

dalam terjemahan karya Friedmann oleh Pumadi Purbacarakan dan

Chidir Ali (1986) yang diberi kata sambutan oleh Soerjono Soekanto.

Penerjemahan   legal theory dengan “disiplin hukum” disini mungkin

 

9

 

akan membingungkan, mengingat untuk istilah yang sama oleh pen er-

jemah lain        (Mohammad Arifin,          1990) digunakan istilah “teori

hukum” .

Disiplin hukum oleh Purbacaraka, Soekanto, dan Chidir                                 Ali

diartikan sama dengan teori hukum dalam arti luas yang mencakup

politik hukum, filsafat hukum dan teori hukum dalam arti sempit.

Teori hukum dalam arti sempit inilah yang disebut dengan ilmu

hukum.

Ilmu hukum dibedakan menjadi ilmu tentang norma                  (norm-

wissenschafii, ilmu tentang pengertian hukum (begriffenwissenschafii ;

dan ilmu tentang kenyataan hukum              (tatsach enwissenschaft).      Ilmu

tentang norma antara lain membahas tentang perumusan norma

hukum, apa yang dimaksud norma hukum abstrak dan konkrit itu, isi

dan sifat norma hukum, essensialia norma hukum, tugas dan kegunaan

norma hukum,       pemyataan dan tanda pemyataan norma hukum,

penyimpangan terhadap norma hukum dan keberlakuan norma hukum.

Selanjutnya ilmu ten tang pengertian hukum antara lain membahas

tentang apa yang dimaksud dengan masyarakat hukum, subyek

hukum,    objek hukum, hak dan kewajiban,              peristiwa hukum dan

hubungan hukum. Kedua jenis ilmu ini disebut dengan ilmu tentang

dogmatik hukum. Ciri dogmatik hukum tersebut adalah teoritis rasio-

nal dengan menggunakan logika deduktif.

Ilmu tentang kenyataari hukum antara lain: Sosiologi Hukum,

Antropologi Hukum, Psikologi Hukum, Perbandingan Hukum dan

Sejarah Hukum. Sosiologi Hukum mempelajari secara empiris dan

analitis hubungan timbal balik antara hukum sebagai gejala dengan

gejala-gejala sosial lainnya. Antropologi Hukum mempelajari pola –

pola sengketa dan penyelesaiannya baik pada masyarakat sederhana

maupun masyarakat yang sedang mengalami proses modemisasi.

Psikologi Hukum mempelajari hukum sebagai suatu perwujudan per-

kembangan jiwa manusia. Perbandingan Hukum adalah cabang ilmu

(hukum) yang memperbandingkan sistem-sistem hukum yang berlaku

di dalam sesuatu atau beberapa masyarakat. Sejarah Hukum me m-

pelajari tentang perkembangan dan asal-usul dari sistem hukum dalam

suatu masyarakat tertentu. (Purbacaraka dan Soekanto, 1989). Berbeda

 

 

10

 

dengan ilmu tentang norma dan ilmu           tentang pengertian hu kum , ciri

ilmu   tentang kenyataan ilmu ini adalah                  teoritis empiris dengan meng-

gunakan logika induktif.

Politik Hukum mencakup kegiatan-kegiatan memilih n ila i-n ilai

dan mcnerapkan nilai-nilai.         Filsafat Hukum ada lah      perenunga n   dan

perumusan nila-nilai, kecuali itu fi lsafat        hukum juga mencakup penye-

rasian nilai-nilai,          misalnya penyerasian antara ketertiban                      dan keten-

traman, antara kebendaan (materialisme)       dan keakhlakan (idealisme),

antara kelanggengan      nilai-nilai     lama (konservatisme) da n       pembaha-

ruan (Purbacaraka dan Soekan to,           1989). Dapat pu la       ditambahka n

bahwa politik      hukum   selalu berbicara tentang hukum yang dicita-

citakan    (Jus    Constituendu nu     dan berupa menjadikannya sebagai

hukum positif (Jus Constitutuniy pada suatu masa mendatang.

Dari pembidangan yang diuraikan               di atas, tampak bahwa

filsafa t hukum  tidak dimasukkan sebagai cabang        dari filsafa t   hukum

tetapi   sebagai bagia n     dari teori hukum       (lega l  theory)    ata u disiplim

hukum.   Teori hukum dengan demikian tidak sama dengan filsafa t

hukum,   karena yang satu mencakup        yang lainnya. Satji pto       Ra harjo

(1986) menyatakan bahwa teori        hukum boleh dise but      sebagai   kelan-

jutan dari usaha mem pe lajari      hukum positif, setidak-tidaknya        dalam

urutan yang demikian itula h       kita  mengkonstr uksikan    kehadi ran  teori

hukum secara jelas.

Teori hukum memang berb icara       tentang ban yak hal yang dapat

masuk ke dalam    Iapangan politik hukum, filsafat hukum, ilmu         hukum

atau kombinasi dari ketiga bidang itu . Karena itulah teori huk um dapat

saja pada suatu ketika membicarakan sesuatu yang bersifat           universal,

tetapi tidak tertutup kem ungkinan      ia berbicara   mengenai hal-ha l yang

sangat khas menurut tempat dan wakt u tertentu. Uraian tentang filsafa t

hukum dan teori hukum       di atas    kiranya aka n  berguna dalam    rangka

menjelaskan kelak mengenai      apa dan dimana letak filsafat hukum dan

teori hukum Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 11

PANDANGAN TENTANG HUKUM PADA

ZAMAN KLASIK

 

 

Peng ertian   tent ang hukum tidak selalu sama. Hal        ini berkai tan

dengan perubahan pandangan hidup dari       zaman ke zaman. Sejak awa l

zaman modem (abad     ke-15)   ban yak oran g secara spontan menyama-

kan  hukum dengan      hukum negara ,     hukum ada lah undang-und ang.

Akan   tetapi   pengerti an   hukum   secara tradisional      tidakl ah  demi kian.

Dal am pandangan tradi sional    hukum   lebih dipandang sebagai sesuatu

yang   bersifat   idiil atau etis (Huijbers, 1995: 21) . Pada za ma n            klas ik

(abad  6 SM-abad 5 M) hukum dian ggap sebagai cermin aturan              alam

semesta. Pada abad pcrtengahan (abad 5 M – 15 M) hukum yang dituju

ada lah peraturan-peraturan      yan g  mem ancarkan ketentuan-ke tentuan

A llah.

 

 

A. HUKUM ZAMAN YUNANI KUNO

 

Pad a mul anya  tanggapan orang-orang      yunani terhadap penger-

tian hukum masih     primitif. Pad a zaman itu huku m dipan da ng sebaga i

keharu san   alamiah   (nomos)     baik    semest a   alam maup un     manu sia ,

contoh: laki-laki        berkuasa,    bud ak ada lah budak,       dan sebagainya.

Namun   pada perjalanannya,    tepa tnya sejak abad 4     SM  ada beberapa

filosof yang men gartikan     hukum secara berbeda . Plato      (42 7-347  SM)

yang menulis buku P olit eia     dan  N om oi memberikan    taw aran penger-

tian hukum, hakikat      hukum dan div ergens inya . Buku      Politeia   melu –

kiskan   model negara      yang adil. Dalam        buku ters ebut     Plato meng-

ungkapkan     gagasannya ten tang kenyataan           bahwa dalam negara

 

 

12

 

terdapat kelompok-kelompok dan yang dimaksud dengan keadilan

adalah jika tiap-tiap kelompok berbuat dengan apa yang sesuai dengan

tempat dan tugasnya. Sedangkan dalam buku                      Nomoi,   Plato menjelas-

kan     tentang petunjuk dibentuknya tata                          hukum.       Menurut Plato,

peraturan-peraturan yang berlaku ditulis dalam kitab perundangan,

karena jika tidak penyelewengan dari hukum yang adil sulit dihin-

darkan.

Filosof lain seperti Aristoteles (348-322 SM) yang menulis

buku     Politika   juga memberikan tawaran baru pada pengertiannya

tentang hukum. Menurut Aristoteles, manusia merupakan “makhluk

po lis”    (zoon politicon),      dimana manusia harus ikut dalam kegiatan

politik dan taat pada hukum polis. Kemudian Aristoteles membagi

hukum menjadi 2 (dua). Pertama adalah hukum alam (kodrat), yaitu

yang mencerminkan aturan alam, selalu berlaku dan tidak pemah

berubah. Yang kedua adalah hukum positif, yaitu hukum yang dibuat

oleh manusia. Lebih jauh Aristoteles menjelaskan dalam bukunya

tersebut bahwa pembentukan hukum harus selalu dibimbing rasa

keadilan, yaitu rasa yang baik dan pantas bagi orang yang hidup

bersama. Slogan yang menjelaskan tentang hakikat keadilan menurut

Aristoteles adalah “kepada yang sama penting diberikan yang sama,

kepada yang tidak sama penting diberikan yang tidak sama”.

 

 

B. HUKUM ZAMAN ROMAWl

 

Pada permulaan Kerajaan Romawi (abad 8 SM), peraturan

Romawi hanya untuk kota Roma (753 SM), kemudian meluas dan

menjadi universal. Peraturan yang telah meluas dan universal tersebut

disebut juga dengan “ius gentium”, yaitu suatu hukum yang diterima

semua bangsa sebagai dasar suatu kehidupan bersama yang beradab.

Selain peraturan yang ada yurisdiksi awalnya hanya untuk kota

Roma, peraturan tersebut juga bersifat kasuistis. Peraturan tersebut

hanya berlaku untuk untuk kasus-kasus tertentu saja, dimana peraturan

tersebut hanya dijadikan pedoman bagi para hakim dalam memutus

suatu perkara.        Setelah menjadi        ius gentium,    peraturan tersebut

 

13

 

berfungsi sebagai pedoman para gubemur wilayah (yang berperan

juga sebagai hakim).          Perkembangan tersebut sesuai juga dengan

pendapat sarjana hukum Romawi saat itu seperti Cicero,                                      Galius,

Ulpanus, dan lain-lain.

Pada zaman ini, paham yang berkembang adalah bahwa filsafat

hukum (bersifat idiil) yang menerangkan dan mendasari sistem hukum

bukanlah hukum yang ditentukan (hukum                          positiflleges,     melainkan

hukum yang dicita-citakan dan yang dicerminkan dalam leges terse but

(hukum sebagai      ius). Jus belum tentu ditemukan dalam peraturan,

tetapi terwujud dalam hukum alamiah yang mengatur alam dan

manusia. Oleh kaum Stoa, hukum alam yang melebihi hukum positif

adalah pemyataan kehendak ilahi (Huijbers, 1995 :             25). Menurut F.

Schultz bagi bangsa Romawi perundang-undangan tidak begitu pen-

ting , dicerminkan dari pemyataan “Das Volk des Rechts ist       nichts das

Volk des Gesetzes”   (bangsa hukum itu bukanlah bangsa undang-

undang) (Apeldoom, 1986: 15).

Hukum     Romawi     dikembangkan      oleh Kekaisaran         Romawi

Timur (Byzantium), lalu diwarisi kepada generasi-generasi selanjut-

nya dalam bentuk Kodeks Hukum. Tahun 528-534 seluruh perundang-

an kekaisaran Romawi dikumpulkan dalam satu Kodeks atas perintah

Kaisar Yustinianus, yang ia sebut sebagai           Codex Juris Rumaui/Codex

Iustinianus/Corpus Juris Civilis.          Kemudian dikembangkan pad a abad

pertengahan, dan dipraktekkan kembali padakekaisaran Jerman.

Terakhir, hukum romawi tersebut menjadi tulang punggung hukum

perdata modem dalam Code Civil Napoleon (1804).

 

 

c. HUKUM PADA ABAD PERTENGAHAN

 

Sering kali kita membaca dua sejarah besar antar Islam dan

Barat seakan-akan tak pemah saling           bertemu antara keduanya atau

seperti dua sejarah yang harus dibedakan antara keduanya. Padahal

tidaklah begitu, ketika kita mau membaca atau menyimak sejarah,

sains dan ilmu pengetahuan yang kini telah berkembang pesat di era

millenium sekarang ini. Secara filosofis bisa dilihat ketika dunia Islam

 

 

14

 

dalam keemasan. Banyak orang-orang Eropa (Barat) pada umumnya,

sekitar kurang lebih abad pertengahan, negara-negara Barat meng-

alami kegelapan dan kemunduran, setelah berapa saat mengalami

kemajuan di bidang filsafat-khususnya di negara Yunani-diawal abad

Masehi. Alam pikir mereka cenderung mengarah pada profanistik.

Sehingga Barat hams mengakui kemundurannya.

Kronologi Sejarah kemajuan di Barat bisa ditelusuri sejak

Kekhalifahan Umayah masuk ke Spanyol (Andalusia) tahun 711

dibawah pimpinan Abdurrahrnan ad-Dakhil (755 M).                     Pada masa

pemerintahannya Abdurrahman ad-Dakhil membangun masjid, seko-

lah dan perpustakaan di Cordova. Semenjak itu lahirlah sarjana-sarja-

na Islam yang membidangi masalah-masalah tertentu seperti Abbas

ibn Famas yang ahli dalam Ilmu Kimia, Ibn Abbas dalam bidang

Farmakologi, Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash dalam bidang astronomi

dimana ia dapat menghitung gerhana dan penemu teropong bintang

untuk pertama kali, Ibnu Jubair (Valencia, 1145-1228) ahli dalam

Sejarah dan Geografi, Ibn Batuthah (Tangier, 1304-1377), Ibn al-

Khatib (1317-1374), dan Ibn Khaldun.

Dalam bidang filsafat juga lahir beberapa tokoh seperti Ibnu

Bajjah (lahir di Saragosa, wafat tahun 1138 M) yang hidup di Spanyol

menyaingi al-Farabi      dan Ibn Sina yang hidup di Baghdad ibu kota

Kekhalifahan Abbasiyah. la menulis buku                 Tadbir al-Mutawahhid

yang mernbahas masalah etos dan eskatologis. Filosof lain Abu Bakr

ibn Tufail (lahir di Granada, wafat th 1185 M) menulis buku Hay            ibn

Yaqzhan,   Ibn Rusyd (1126-1198) yang merupakan pewaris pemikiran

Aristoteles) menulis buku Bidayalt al- Mujtahid.             Pada perkembangan

selanjutnya Ibnu Rusyd melahirkan aliran filsafat baru tersendiri di

Eropa , Avoreisme.

Abad Pertengahan ini didominasi oleh agama, agama Kristiani

di Barat dan agama Islam di Timur. Jaman ini memberikan pemikiran-

pemikiran baru meskipun tidak menghilangkan sama sekali kebuda-

yaan Yunani dan Romawi. Karya-karya Aristoteles dipelajari oleh

para ahli pikir Islam yang kemudian diteruskan oleh ahli pikir di

Barat.

Filsuf Arab Islam yang dikenal pertama adalah al-Kindi,

 

15

 

(796-873M). la dengan tegas mengatakan bahwa antara filsafat

dan agama tak ada pertentangan. Filsafat ia artikan sebagai pem-

bahasan tentang yang benar (al-bahs’an al-haqq).     Agama dalam

pada itu juga menjelaskan yang benar. Maka kedua-duanya

membahas yang benar. Selanjutnya filsafat dalam pembahasan-

nya memakai akal dan agama, dan dalam penjelasan tentang

yang benar juga memakai argumen-argumen rasional. Dengan

filsafat “al-Haqq al-Awwal”nya, al-Kindi, berusaha memumikan

keesaan Tuhan dari arti banyak. Selain al-Kindi, filsuf lain yang

banyak berbicara mengenai pemumian tauhid adalah al-Farabi

(870-950 M). Percikan pemikiran filsuf-filsuf pada fase awal

perkembangan filsafat diantaranya adalah:          (l)    Alam   qadim

dalam arti tak bermula dalam zaman, (2) Pembangkitan jasmani

tak ada, (3) Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di

alam. Ini adalah tiga dari dua puluh kritikan yang diajukan al-

Ghazali (l 058-1111 M) terhadap pcmikiran para filsufIslam.

Konsep alam   qadim   membawa kepada kekufuran dalam

pendapat al-Ghazali karena qadim    dalam filsafat berarti sesuatu

yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman yaitu

tidak pemah tidak ada di zaman lampau, dan ini berarti tidak

diciptakan. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan, maka syahadat

dalam teologi Islam adalah:     la qadim a, ilallah, tidak ada yang

qadim selain Allah. Kalau alam     qadim,  maka alam adalah pula

Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan, ini membawa kepada paham

syirik atau politheisme. Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak

perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan, dan ini membawa pula

kepada atheisme. Mengenai pembangkitan jasmani, al-Qur’an

menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu . Umpamanya

ayat 78-79 dari QS. Yasin      “Siapa yang menghidupkan tulang-

tulang yang telah rapuh ini? Katakanlah: Yang menghidupkan

adalah Yang Menciptakannya pertama kali. ” Kemudian tentang

masalah ketiga, Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di

alam juga didasarkan atas keadaan falsafat itu, berlawanan

 

 

16

 

dengan al-Qur’an ayat 59 dari surat al-An’am: Tiada daun yang

 

 

 

pada Hukum Tuhan.

 

17

 

jatu}i     yang tidak diketahui-Nya.    Al-Ghazali mengeluarkan pen-

dapat bahwa jalan sebenamya untuk mencapai hakikat bukanlah

filsafat tetapi tasawuf.

Dalam bidang hukum muncul aliran            ancilla theologiae, yaitu

paham yang menetapkan bahwa hukum yang ditetapkan harus di-

cocokkan dengan aturan yang telah ada, yaitu ketentuan-ketentuan

agama. Teori-teori mengenai hukum pada Abad Pertengahan ini dike-

mukakan oleh Agustinus (354-430), Thomas Aquinas (1225-1275),

dan para sarjana Islam, antara lain AI-Safii (820). Menurut Agustinus,

hukum abadi ada pada Budi Tuhan. Tuhan mempunyai ide-ide Abadi

yang merupakan contoh bagi segala sesuatu yang ada dalam dunia

nyata. Oleh karena itu, hukum ini juga disebut sebagai hukum alam,

yang mempunyai prinsip, “Jangan berbuat kepada orang lain, apa yang

engkau tidak ingin berbuat kepadamu.” Dalam prinsip ini nampak

adanya rasa keadilan.

Arti hukum menurut Thomas Aquinas adalah adanya hukum

yang datang dari wahyu ,                 dan hukum yang dibuat oleh manusia.

Hukum yang didapat dari wahyu dinamakan hukum Ilahi positif.

Hukum wahyu ada pad a norma-norma moral agama, sedangkan

hukum yang datang dari akal budi manusia ada tiga mac am, yaitu

hukum alam, hukum bangsa-bangsa, dan hukum positif manusiawi.

Hukum alam bersifat umum, dan karena itu tidak jelas. Maka perlu

disusun hukum yang lebih jelas yang merupakan undang-undang

negara yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat. I-Iukum

ini disebut hukum positif. Apabila hukum positif ini bertentangan

dengan hukum alam, maka hukum alamlah yang berlaku.

Keadilan juga merupakan suatu hat yang utama dalam teori

hukum Thomas Aquinas. Meskipun Thomas Aquinas membedakan

antara keadilan distributif, keadilan tukar-rnenukar, dan keadilan legal,

tetapi keadilan legal menduduki peranan yang sangat penting. Hal ini

disebabkan karena keadilan legal menuntut agar orang tunduk pada

undang-undang, sebab mentaati hukum merupakan sikap yang baik.

Jelaslah bahwa kedua tokoh Kristiani ini mendasarkan teori hukumnya

Pemikir Islam mendasarkan teori hukurnnya pada agama Islam,

yaitu pada wahyu Ilahi yang disampaikan kepada Nabi. Dari ahli pikir

Islam AI-Syafii-Iah aturan-aturan hukum diolah secara sistematis.

Sumber hukum Islam adalah AI-Quran, kemudian Hadis yang meru-

pakan ajaran-ajaran dalam hidup Nabi Muhammad saw .              Peraturan-

peraturan yang disetujui oleh umat juga menjadi hukum, hukum

mufakat, yang disebut juga ijmak. Sumber hukum yang lainnya adalah

qiyas, yaitu analogi atau persamaan. Hukum Islam ini meliputi segala

bidang kehidupan manusia. I-Iukum         Islam hidup dalam jiwa orang-

orang Islam, dan berdasarkan pad a agama. I-lukum         Islam merupakan

hidup ideal bagi penganutnya. Oleh karena Hukum Islam berdasarkan

pada Al Quran maka Hukum Islam adalah hukum yang mempunyai

hubungan dengan Allah,          langsung sebagai wahyu. Aturan hukum

harus dibuat berdasarkan wahyu (Muhammad Khalid Masud, 1996:

12-13).

Dengan kata lain pada abad pertengahan ini ada dua pandangan

yang berbeda.      Menurut Syafi’i mengapa hukum harus dicocokkan

dengan ketentuan agama karena hukum berhubungan dengan wahyu

secara langsung,        sehingga hukum dipandang sebagai bagian dari

wahyu. Berbeda dengan Syafi ‘i,             menurut Agustinus dan Thomas

Aquinas hukum berhubungan         dengan wahyu secara tidak langsung,

yaitu hukum yang dibuat manusia, disusun di bawah inspirasi agama

dan wahyu (Huijbers, 1995: 27).

Pengertian hukum yang berbeda ini membawa konsekuensi

dalam pandangannya terhadap hukum alam. Para tokoh Kristiani

cenderung      untuk    mempertahankan     hukum    alam    sebagai     norma

hukum, akan tetapi bukan disebabkan oleh alam yang dapat mencipta

hukum melainkan karena alam merupakan ciptaan Tuhan. Menurut

Thomas Aquinas aturan alam tidak lain dari partisipasi aturan abadi

(lex aeterna) yang ada pada Tuhan sendiri.                                  .

Dalam Islam, agama merupakan pengakuan manusia untuk

bersikap pasrah kepada sesuatu yang lebih tinggi, lebih agung dan

lebih kuat dari mereka, yang bersifat transedental. Telah menjadi

fitrah manusia untuk memuja dan sikap pasrah kepada sesuatu yang

 

18

 

dia agung-agungkan untuk dijadikan sebagai Tuhannya. 01eh karena

Tuhan telah menetapkan hukum-hukumnya bag i                      manusia, maka tiada

lain sebagai konsekuensi dari kepasrahan terse but manusia harus taat

pada hukum-hukurn terse but. Islam memandang tidak ada perbedaan

antara hukum alam dengan hukum Tuhan             (syariat) , · karena syariat

yang ditetapkan Allah dalam             Al-Quran sesuai dengan hukum alam itu

sendiri, yang dalam Islam disebut fitrah .             Namun pemaknaan fitrah

dalam Islam jauh lebih tinggi daripada pemaknaan hukum alam

sebagaimana dipahami dalam konteks                   ilmu hukum. Jika hukum alam

(lex naturae)        dipahami sebagai eara segala yang ada berjalan sesuai

dengan aturan semesta alam seperti manusia dalam bertindak meng-

kecenderungan-kecenderungan         dalam jasmaninya (Huijbers,

1995), maka    fitrah    berarti pembebasan manusia          dari keterjajahan

terhadap kemauan jasmaninya yang serba tidak terb atas pada kemauan

ruhani yang mendekat pada Tuhan .

Pada abad ini para ahli kemudian membedakan                         ada Iima jeni s

hukum, yaitu:

a. Hukum abadi             (lex aetema):           reneana Allah            tentang aturan

seme sta  alam. Hukum abadi itu merupakan suatu pengertian

teologis tentang asal mula segala hukum,                       yang    kurang berpe-

ngaruh atas pengertian hukum lainnya.

b. Hukum ilahi positif          (lex   divino positiva):      hukum Allah yang

terkandung dalam wahyu        agama, terutama mengenai prinsip-

prinsip keadilan.

e. Hukum alam         (lex natura/is) : hukum Allah sebagaimana nampak

dalam aturan semesta alam melalui akal budi manusia.

d. Hukum bangsa-bangsa (ius              ge ntium): hukum yang diterima oleh

semua atau kebanyakan bangsa. Hukum itu yang berasal dari

hukum romawi ,       lambat Iaun hilang sebab diresepsi dalam

hukum positif.

e. Hukum positif             (lex humana positiva):                hukum sebagaimana

ditentukan oleh yang berkuasa;        tata hukum negara. Hukum ini

pada zaman modem ditanggapi sebagai hukum yang sejati.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PANDANGAN TENTANG HUKUM PADA

ZAMAN MODERN

 

 

Kemajuan yang terjadi di dunia Islam, temyata memiliki daya

tarik tersendiri bagi mereka orang-orang Barat. Maka pada masa

seperti inilah banyak orang-orang Barat yang datang ke dunia Islam

untuk mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan. Kemudian hal ini

menjadi jembatan informasi antara Barat dan Islam. Dari pemikiran-

pemikiran ilmiah, rasional dan filosofis, atau bahkan sains Islam mulai

ditransfer ke daratan Eropa. Kontak antara dunia Barat dan Islam pad a

lima Abad berikutnya temyata mampu mengantarkan Eropa pada

masa kebangkitannya kembali (renaisan ce) pada bidang ilmu pengeta-

huan dan filsafat. Selanjutnya berkembang pada era baru yaitu era-

modem.

 

 

A. ZAMAN RENAISSANCE

 

Berkebalikan dengan apa yang dialami oleh para pelajar Barat

dengan apa yang mereka dapatkan dari Islam, dimana gereja memiliki

kekuasaan    mutlak     di    Eropa     (teokrasi),      menimbulkan      era    baru

renaissance (kelahiran kembali). Era ini merupakan manifestasi dari

protes para ahli yang belajar dari Islam terhadap kekuasaan gereja

yang mutlak terse but. Pada zaman ini hidup manusia mengalami

banyak perubahan. Bila pada abad pertengahan perhatian orang

diarahkan kepada dunia dan akhirat, maka pada zaman modem

perhatiannya hanya padakehidupan dunia saja. Hal ini di latar-

belakangi oleh keadaan Eropa yang saat itu pemahaman tentang

 

 

20

 

akhirat dibajak oleh Gereja. Masa kekuasaan Gereja yang biasa

disebut sebagai masa kegelapan Eropa telah melahirkan sentimen anti

Gereja. Mereka menuduh Gereja telah bersikap selama seribu tahun

layaknya polisi yang memeriksa keyakinan setiap orang.

Lantas, lahirlah teori yang menempatkan manusia sebagai

segala-galanya menggantikan Tuhan. Berdasarkan teori ini, manusia-

lah yang menjadi tolok ukur kebaikan dan keburukan. Era baru ini

telah melahirkan teori yang men gee am segala sesuatu yang membatasi

• kebebasan individu manusia.        Akibatnya, agama berubah peran dan

menjadi sebatas masalah individu yang hanya dimanfaatkan kala sese-

orang memerlukan sandaran untuk mengusir kegelisahan batin dan

kesendirian. Agama seeara perlahan tergeser dari kehidupan masya-

rakat di Eropa (Huijbers, 1985). Burekhardt (dalam Huijbers, 1985:

29) menyebut era ini sebagai “penernuan kembali dunia dan manusia”.

Oengan demikian, Zaman Modem atau Abad Modem di Barat adalah

zaman, ketika manusia menemukan dirinya sebagai kekuatan yang

dapat menyelesaikan segala persoalan-persoalan hidupnya. Manusia

hanya dipandang sebagai mahluk yang bebas yang independen dari

Alam dan Tuhan. Manusia di Barat sengaja membebaskan dari Tatan-

an Ilahiah (Theo Morphisnie],       untuk selanjutnya membangun Tatanan

Antropomorphisme suatu tatanan yang semata-mata berpusat pada

manusia. Manusia menjadi tuan atas nasibnya sendiri.

Kondisi di masa itu yang dipenuhi dengan kegetiran abad per-

tengahan, telah membuat gerakan Humanisme      ini dengan eepat ber-

kembang luas di Eropa. Menurut Humanisme, manusia bersifat unggul

sebagai pribadi diantara segala makhluk lainnya, khususnya dalam

peran manusia sebagai peneipta kebudayaan. Tokoh-tokoh Humanis-

me itu adalah Petraea (1303-1374), Desiderius Erasmus (1469-1537),

dan Thomas More (1478-1535). ·Peru bahan pandangan ini berpenga-

ruh juga pada agama Kristen, yang mewujud dalam agama baru yaitu

agarna Protestan (1217). Agama ini lahir sebagai hasil dari reformasi

agama Kristen oleh Maarten Luther (1483-1546) & Johannes Calvin

(1509-1564). Dalam bidang keilmuwan muneul juga beberapa ilmu-

wan seperti: Copemieus (1473-1543), Kep1er (1571-1630), Galilei

(1564-1642), Newton (1642-1727) dalam bidang fisika.

 

21

 

Bila pengertian hukum zaman klasik lebih bersifat klasik, maka

pengertian hukum pada zaman modem lebih bersifat empiris. Menurut

Huijbers (1995: 29) hal ini berarti bahwa: (1) Tekanan tidak lagi pada

hukum sebagai tatanan yang ideal (hukum alam), melainkan pada

hukum yang dibentuk manusia sendiri, baik oleh raja maupun rakyat

yaitu hukum positif atau tata hukum negara, dimana hukum terjalin

dengan politik negara; (2) Tata hukum negara diolah oleh para sarjana

hukum seeara Iebih ilmiah; (3) Dalam membentuk tata hukum makin

banyak dipikirkan tentang fakta-fakta empiris, yaitu kebudayaan

bangsa dan situasi sosio-ekonomis masyarakat yang bersangkutan.

Percikan Pemikiran ten tang hukum pada zaman ini adalah:

I. Hukum merupakan bagian dari kebijakan manusia;

2. Tertib hukum diwujudkan dalam bentuk negara, dimana di

dalamnya memuat peraturan perundang-undangan yang harus

ditaati oleh warga negara dan memuat peraturan hukum dalam

hubungannya dengan negara lain.

3. Peneipta hukum adalah raja.

Filsuf-filsuf yang memunculkan pemikiran tersebut adalah

Macchiavelli (1469-1527), Jean Bodin (1530-1596), Hugo Grotius

(1583-1645), dan Thomas Hobbes (1588-1679). Dengan semangat ini

pula Eropa kemudian mencari dunia baru yang ditandai dengan

pen emu an sebuah wilayah pada tahun 1492 yang kemudian dinamai

Amerika.

 

 

B. ZAMAN AUFKLARUNG

 

Zaman Aufklarung yang lahir kurang lebih pad a abad ke-17

merupakari awal kemenangan supermasi rasionalisme, empirisme, dan

positivisme dari dogmatis Agama. Kenyataan ini dapat dipahami

karena abad modem Barat ditandai dengan adanya upaya pemisahan

antara ilmu pengetahuan dan filsafat dari pengaruh Agama (seku-

lerisme). Perpaduanantara rasionalisme, empirisme dan positivisme

 

 

22

 

dalam satu paket epistimologi melahirkan               ap a yang T.H Huaxley

disebut dengan Metode IImiah (Scientifi c M ethod).

Munculnya aliran-aliran tersebut                 sangat berpengaruh pada per-

adaban Barat selanjutnya. Dengan metode                ilmi ah   itu, kebenaran

sesuatu hanya mereka perhitungkan da ri sudut fisiologis -lahiriah yang

sangat bersifat profanik (keduniawian atau keb end aan).                          Atau dengan

istilah lain ,     kebenaran ilmu pengetahuan          hanya   diukur dari sudut

koherensi dan korespodensi. Dengan wataknya             tersebut sudah dapat

dipastikan bahwa, segala pengetahuan yan g berada diluar jangkauan

indra dan rasio serta pengujian ilmiah ditolaknya,                        termasuk di dalam-

nya pengetahuan yang bersumber pad a religi.

Perintisnya adalah Rene Descartcs                   (1596-1650) yang mendu-

dukkan manusia sebagai subjek dalam usahanya menjawab tantangan

keberadaan manusia sebagai mahluk mikro kosmik. Manusia dijadi-

kan titik tolak seluruh pandangan hidupnya. Dengan falsafahnya yang

amat terkenal     “cogito  ergo SlIIl/”        (karena berpikir maka aku ada),

Descartes lah yang membawa pemikiran rasionalisme. Oleh karena itu

zaman ini disebut juga zaman ra sionalisme, zaman pencerahan, zaman

terang budi. Setelah Descartes,                   filsafat     zaman     ini menjurus ke dua

arah:

1). Rasionalisme, mengunggulkan ide-ide             aka I  mumi. Tokohnya

adalah: Wolff (1679-1754),              Montesqi eu      (1689-1755), Voltaire

(1694-1778),         Rousseau       (1712-1778),         dan      Immanuel        Kant

(1724-1804).

 

2). Empirisme, yang menekankan perlunya basis empms bagi

semua pengertian. Tokohnya antara lain John Locke (1632-

1704) dan David Hume (1711-1776).

Sebenamya empirisme, yang berkembang di Inggris sejak abad

ke-17 ini merupakan sua tu cara berpikir yang rasionalis juga, namun

dalam emprisme lebih mengutamakan penggunaan metode empiris

yaitu apa yang tidak dapat dialami tidak dapat diakui kebenarannya .

Percikan pemikiran pada zaman ini adalah pertama, hukum

dimengerti       sebagai bagian suatu sistem pikiran yang lengkap yang

 

23

 

ber sifat  rasional,    an  sich.  Kedua,    telah muncul ide dasar konsepsi

men genai  negara yang ideal. Pada zaman ini negara yang ideal adalah

negara    hukum. Beberapa      pemikiran    berkaitan    deng an  ide tersebut

diantaranya John Locke yan g          meny atakan  ten tang   pembelaan hak

warga negara     terh adap  pemer intahan yang ber kuasa; Montesqiu me-

nyatakan tentang pemisahan keku asaan ncgara            dalam   tiga bagian,

yaitu eksekutif,     legislatif dan yudikatif (trias polit ica); J.J .            Rousseau

menyatakan tentang keunggulan manusia              scbagai subjek hukum .

Rousseau menyatakan jika hukum menjadi bagian dari suatu kehi-

dupan bersama    yang demokratis,     maka raja sebagai pencipta hukum

perlu diganti       dengan rakyat seb agai         pencipta    hukum dan      subjek

hukum. Immanuel       Kant menyatakan bahwa pembentukan hukum

merupakan inisiatif manusia guna mengembangkan kehidupan                 ber-

sama yang bermoral (Huijbers , 1995: 32) .

Pada akhir abad VIII , cita-cita negara hukum mengkristal ber-

dirinya negara Amerika Serikat (1776) dan terjadinya Revolusi

.Pera ncis (1789). Revolusi Perancis dijiwai oleh semboyan:                    liberte,

egalite, fraternit e, yang menuntut suatu tata hukum baru atas dasar

kedaulatan rakyat. Tata hukum baru ters ebut kemudian dibentuk oleh

para sarjana Perancis atas perintah Kaisar Napoleon. Tata hukum baru

terscbut mencapai    keb erhasilannya set elah dirumuskannya Code Civil

(1804). Code     Civil terse but pada era berikutnya          merupakan sumber

kodeks negara-negara modem, antara lain Belanda.

 

 

C. PENGERTIAN HUKUM ABAD XIX

 

1. Pandangan lImiah atas Hukum

Pada  zaman ini Empirisrne yang menekankan            perlunya basis

ernpiris bagi semua pengertian berkernbang menjadi Positivisme yang

menggunakan metode pengolahan ilmiah. Dasar dari aliran ini digagas

oleh August Cornte ( 1789- I 857), seorang filsuf Perancis, yang menya-

takan  bahwa sejarah kebudayaan manusia dibagi dalarn tiga tahap:

tahap pertama adalah tahap teologis yaitu tahap dimana orang mencari

 

 

24

 

kebenaran dalam agama, tahap kedua adalah tahap metafisis yaitu

tahap dimana orang mencari kebenaran melalaui filsafat. Tahap ketiga

adalah tahap positif yaitu tahap dimana kebenaran dicari melaui ilmu-

ilmu pengetahuan. Menurut Comte yang terakhir inilah yang merupa-

kan icon dari zaman modem (Comte, 1874: 2).

Bagi filsafat hukum, hukum di abad pertengahan amat dipe-

ngaruhi oleh pertirnbangan-pertimbangan teologis. Sedangkan rentang

waktu dari renaissance hingga kira-kira pertengahan                      abad ke-19

termasuk dalam tahap metafisis. Ajaran hukum alam klasik maupun

filsafat-filsafat hukum revolusioner yang didukung oleh Savigny,

Hegel dan Marx diwarnai oleh unsur-unsur metafisis tertentu. Teori-

teori ini mcncoba menjelaskan si fat hukum dengan menunjuk kepada

ide-ide tertentu atau prinsip-prinsip tertinggi. Pada               pertengahan abad

ke-19 sebuah gerakan mulai menentang tendensi-tcndensi metafisika

yang ada pada abad-abad sebelumnya. Gerakan ini mungkin dijelas-

kan sebagai positivisme, yaitu sebuah sikap ilrniah, mcnolak speku-

lasi-spekulasi apriori dan mcmbatasi dirinya pada data pengalarnan

(Muslehuddin, ] 991: 27-28). (penjelasan berikutnya tcntang positivis-

me hukum ini akan dijelaskan dalam Bab VI Teori I-Iukum,              sub bab

Positivisme Hukum).

 

 

2. Pandangan Historis atas Hukum

Abad XIX ditandai perubahan bcsar di segala bidang, terutama

akibat perkembangan ilmu pcngetahuan dan teknologi. Perubahan

yang dimulai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, penemuan

alat-alat teknologi, hingga revolusi industri, dan terjadinya perubahan-

perubahan sosial beserta masalah-rnasalah sosial yang mucul kernu-

dian memberi ruang kepada para sarjana untuk berpikir tentang gejala

perkembangan itu sendiri. Pada abad-abad sebelumnya, orang merasa

kehidupan manusia sebagai sesuatu yang konstan yang hampir tidak

berbeda dengan kehidupan masa lalu. Pada abad ini perasaan itu

hilang, orang telah sadar tentang segi historis kehidupannya, tentang

kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan yang memberikan nilai

baru dalam kehidupannya.

 

25

 

Pada abad ini, pengertian tentang hukum merupakan pandangan

baru atas hidup, yaitu hidup sebagai perkembangan manusiadan kebu-

dayaan. Beberapa pemikiran tokoh yang mencerminkan ha] ini adalah

Hegel (1770-]831), F .          Von Savigny (1779-186]), dan KarI Marx

(18] 8- I 883). Hegel menempatkan hukum dalam keseluruhan perwu-

judan roh yang objektif dalam kchidupan manusia. F. Von Savigny

menentukan hukum sebagai unsur kebudayaan suatu bangsa yang

berubah dalam Iintasan sejarah. Terakhir, Karl Marx memandang

hukum sebagai cermin situasi ekonomis masyarakat (Soetiksno, 1986:

43-61 ).

 

 

D. PENGERTIAN H UKUM ABAD XX

 

Mcskipun tcrdapat persamaan tentang pembentukan sistem

hukum yang berlaku, namun pada abad XX ini ada perbedaan tentang

pengertian hukum yang hakiki. Ada dua arus besar pandangan ten tang

pengertian hukum yang hakiki (K.        Bcrtens, 1981):

 

I. Hukum sebaiknya dipandang dalam hubungannya dengan pe-

merintah negara, yaitu sebagai norma hukurn yang de facto       ber-

laku. Tolak ukurnya adalah kepentingan umum dilihat sebagai

bagian kebudayaan dan scjarah suatu bangsa. Pandangan ini

bersumber dari aliran sosiologi hukum dan rcalisme hukum.

 

2. Hukum seharusnya dipandang sebagai bagian kehidupan etis

manusia di dunia. Oleh kacna itu disini diakui adanya hubungan

antara hukum positif dengan pribadi manusia, yang berpegang

pada norma-norma keadilan. Prinsip ini diambil dari · filsafat

neoskolastik,       neokantismc,       neohegelianisme        dan      fiIsafat

eksistensi,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BABIV

PANDANGAN TENTANG HUKUM

ERA POST-MODERNISME

 

 

A. LATAR BELAKANG

 

Oengan konteks ini, perlu juga ditegaskan antar hubungan Barat

yang modem dan peran Agama resmi yang berlaku di sana, yakni

kristen. Ada sebagian orang beranggapan bahwa seluruh orang Barat

menganut Agama Kristen, dengan perkecualian minoritas penganut

Yahudi. Anggapan scmaca.m ini seolah-olah Barat masih seperti Barat

pada abad pertengahan, ketika     terjadi perang salib yang peradabannya

saat itu adalah disebut abad keimanan . Ada juga sebagian yang lain

beranggapan sebaliknya, yaitu bahwa seluruh orang Barat bersifat

materialik atau agnostik serta skeptik dan tidak menganut satu Agama

apapun. Pandangan semacam ini bisa disebut keliru, karena yang

terjadi tidaklah demikian. Pada Abad ke-17, bahkan sebelumnya, yaitu

ketika  renaissance,     telah terjadi upaya membawa dunia Barat kearah

sekularisme dan penipisan peran Agama dalam kehidupan sehari-hari

manusia. Akhimya berakibat pada sejumlah orang Barat yang secara

praktis tidak lagi menganut Agama Kristen atau Yahudi. Orang

semacam Comte, yang pikiran-pikirannya begitu anti metafisis men-

jadi jalan mulus menuju kearah sekularisme Ounia Barat. Oitambah

dengan ajaran filsafat sosial (sosialisme), Marx (Marxisme) yang

menegaskan bahwa Agama adalah candu masyarakat, yang karenanya

ia harus ditinggalkan. Puncak penolakan terhadap Agama Kristen di

Barat disuarakan oleh Nietzsche dengan statemennya yang banyak di

kenal orang The God is dead.

Kemunculan gagasan-gagasan semacam itu mungkin diakibat-

 

 

27

 

kan adanya ketidakn1ampuan     sistem keimanan yang berlaku disana

untuk mengakomodasikan perkembangan masyarakat modern dengan

ilmu pengetahuanya. Kemajuan masyarakat yang sudah berhasil dan

begitu percaya pada iptek, akhimya berkembang lepas dari kontrol

Agama. Iptek yang landasan pokoknya bersifat sekuler bagi sebagian

besar orang di Barat akhimya menggantikan posisi Agama. Segala

kebutuhan Agama seolah bisa terpenuhi dengan iptek.Namun dalam

kurung waktu yang panjang iptek ternyata menghianati kepercayaan

manusia, kemajuan iptek justru identik dengan bencana. Kondisi

inilah yang tampaknya membuat masyarakat Barat mengalami apa

yang disebut Cak Nur (Or. Nurkholis Madjid) yang dikutipnya dari

Baigent, Krisis Epistimologis,              yakni masyarakat Barat tidak lagi

mengetahui tentang makna dan tujuan hidup (Meaning and Purpose oJ

Life).

Manusia modem melihat segala sesuatu hanya dari pinggiran

eksistensinya saja ,      tidak pada pusat spiritualitas dirinya, sehingga

mengakibatkan ia lupa siapa dirinya.               Memang dengan apa yang

dilakukannya sekarang-memberi perhatian pada dirinya yang secara

kuantitatif sangat mengagumkan, tapi secara kualitatif dan keseluruh-

an tujuan hidupnya-menyangkut pengertian-pengertian mengenai diri-

nya sendiri-ternyata dangkal. Oekadensi atau kejatuhan manusia di

zaman modern ini terjadi karena mansuia kehilangan ‘pengetahuan

langsung’ mengenai dirinya itu, dan menjadi bergantung berhubungan

dengan dirinya. Itu sebabnya, dunia ini menurut pandangan manusia

adalah dunia yang memang tak memiliki dimensi                         transedental.

Dengan demikian menjadi wajar jika peradaban modem yang di-

bang un selama ini tidak menyertakan hal yang paling esensial dalam

kehidupan manusia, yaitu dimensi spiritual. Belakangan ini baru

disadari adanya krisis spiritual dan krisis pengenalan diri.

Sejarah pemikiran Barat modem, sejak Rene Oescartes ditandai

dengan usaha menjawab tantangan keberadaan manusia sebagai

mahluk mikro kosmik.Oengan falsafahnya yang amat terkenal “cogito

ergo sum” (karena berpikir maka aku ada). Tetapi sayangnya, bukan

pengerian yang makin mendalam yang didapat, narnun justru keadaan

yang semakin menjauh dari eksistensi dan pengertian yang tepat

 

 

28

 

mengenai hakekat diri yang diperoleh. Max Scheeler, Filsafat Jerman

dari awal abad ini mengatakan, tak ada periode lain dalam penge-

tahuan bagi dirinya sendiri, seperti pada periode kita ini . Kita-katanya-

punya antropologi ilmiah, antropologi filosofis, dan antropologis teo-

logis yang tak saling mengenal satu sama lain. Tapi kita tidak merni-

liki gambaran yang jelas dan konsisten tentang keberadaan manusia

(Human being).       Semakin bertumbuh dan banyaknya ilmu-ilmu khusus

yang terjun konsepsi kita tentang manusia, malah sebaliknya semakin

membingungkan dan mengaburkannya.

Maka dari itulah, jika kita kembalikan pada bahasan semula

tentang metode ilmiah yang berwatak rasional dan empiris, telah

menghantarkan kehidupan manusia pada suasana modemisme. Kemu-

dian pada perkembangan selanjutnya, modemisme           melahirkan corak

pemikiran yang mengarah pada rasioanalisme , positivisme, pragmatis-

me, sekulerisme dan materialisme. Aliran-aliran filsafat ini, dengan

watak     dasamya    yang     sekuleris      -merninjam      istilahnya     Fritchjof

Schuon- sudah terlepas dari           Scintia Sacra (Pengetahuan suci) atau

Philosophia Perenneis (Filsafat Keabadian).

 

 

B. TRADISIONALISME ISLAM

 

Proses modemisasi yang dijalankan Barat yang diikuti negara-

negara lain, temyata tidak selalu berhasil me menuhi janjinya meng-

angkat harkat kernanusiaan dan sekaligus memberi makna yang lebih

dalam bagi kehidupan. Modemisme justru telah dirasakan membawa

dampak terhadap terjadinya kerancauan dan penyimpangan nilai-nilai.

Manusia modem kian dihinggapi rasa cemas dan tidak bermakna

dalam kehidupannya. Mereka telah kehilangan visi keillahiahan atau

dimensi transedental, karena itu mudah dihinggapi kehampaan spiri-

tual. Sebagai akibatnya, manusia modem menderita keterasingan (alie-

nasi),    baik teralienasi dari dirinya sendiri, dari lingkungan sosialnya

maupun teralienasi dari Tuhannya.

Menyadari kondisi masyarakat modem yang sedemikian, pada

abad ke-20, terutama sejak beberapa dekade terakhir ini, muncul suatu

 

29

 

gerakan yang mencoba menggugat        dan mengkritik teori-teori moder-

nisasi,   Manusia membutuhkan     pola pemikiran baru yang diharapkan

membawa kesadaran dan pol a         kehidupan baru .      Hingga kemudian

mulai bermunculan gerakan-gerakan responsif altematif sebagai res-

pon balik terhadap perilaku mas yarakat modem yang tidak lagi

mengenal dunia metafisik. Termasuk                         did alamnya        Tradisonalisme

Islam yang dihidupkan Nasr,         atau gerakan     Ne w Age di Barat pada

akhir dewasa ini.

Kritik terhadap modemisme dan usaha pencarian ini sering di-

sebut dengan masa pasca modemisme (post-modernisme). Masa ini

seperti yang dikatakan Jurgen Habermes seorang Sosiolog dan Filosof

Jennan tidak hanya ditandai dengan kchidupan yang semakin mate-

rialistik dan hedonistik, tetapi juga tclah                mengakibatkan terjadinya

intrusi massif dan krisis yang mendalam pada berbagai aspek kehidup-

an. Masyarakat pada Era Post-Modernisme mencoba untuk keluar dari

lingkaran krisis terse but dengan kembali pada hikmah spiritual yang

terdapat dalam semua Agama otentik. Manusia perlu untuk memikir-

kan kembali hubungan antara Yang Su ci           (Sacred) dan yang sekuler

(Profany.

Gerakan ini dikenal den gan sebutan perenneialisme atau tradi-

sionalisme: adalah sebuah gerakan yang           ingin mengembalikan bibit

Yang Asal, Cahaya Yang Asal ,            ataupun   prinsip-prinsip yang asal,

yang sekarang hilangdari tradisi pemikiran manusia modem. Untuk

menyebut beberapa nama tokoh yang melopori gerakan-gerakan ter-

sebut antara lain; Louis Massignon ( 1962), Rene Guenon, Ananda K.

Coomaraswamy, Titus Burckhart, Henry Corbin (1978), Martin Lings,

Fritcjof Schoun, dan masih banyak lagi.

Sementara di kalangan modemis Islam gerakan pembaharuan

dan pemikiran dalam Islam sejak fase 60-an hingga dewasa ini men-

coba bersikap lebih kritis terhadap ide-ide modemisasi sebelumnya,

dan bahkan terhadap sebagian kelompok pemikir Islam yang mencoba

mencari altematif non-Barat. Kelompok yang disebut terakhir misal-

nya Hasan Albana (1949), Abul A’al al-Maududi (1979), Sayyid

Quthub (1965), dan           pemuka-pemuka Al-Ikhwan (sering disebut

kelompok fundamental is, atau lebih tepat ‘Neo-Revivalis Islam’)

 

 

30

 

menghendaki agar semua persoalan kemoderenan selalu dikembalikan

kepada acuan           al-Quran,       as-Sunnah dan kehidupan para                     Sahabat

dalam       pengertian        tekstual.       Fazlur       Rahman       (1989),      Muhammad

Arkoun (1928) , dan Isma ‘il            Raji al-Faru qi (1986)-yang sering disebut

kelompok Neo -Modernis-berusaha mcncari rele vansi                     Islam bagi dunia

modern Islam, bagi mereka ,                adalah al-Qur ‘a n          dan as-Sunnah yang

meski ditangkap pesan-pesan tersebut. Kelompok ini dalam pernbaha-

ruannya berkecendrungan ke arah hum anistik, rasi onalistik, dan libe-

ralistik. Sedang tokoh-tokoh muslim lain           seperti A li Syari’ati (1979) ,

Hassan Hannafi (1935), dan AbdiIlah Larraui                   (serin g disebut penyebar

paham Kiri Islam) berkepentingan membela massa, rakyat tertindas

dan menampilkan Islam sebagai keku atan         revolusioner-politik.       Oleh

karenanya kelompok terkhir ini, sering juga disebut sebagai penyebar

sosialisme Islam dan Marxisme Islam sebagai model pembangunan di

dunia Islam. Mereka mengutuk westerni sasi dan sekulerisasi masyara-

kat Islam,    Nasionalisme, dan ekses-ekses        kapitali sme,   demikian juga

materialisme serta ke-takbertuhanan Marxisme.

Kemudian selanjutnya lahir tokoh-tokoh pemikir             kontemporer

lain sebagai pemikir alternatif ,              yakni   Sayyed Hussein       Nasr yang

mencoba menawarkan konsep nilai -nilai          kc-Islarnan   yang kemudian

terkenal dengan sebutan “Iradisionalisme          Islam’. Merupakan gerakan

respon terhadap kekacauan Barat modern             yang   sedang mengalami

kebobrokan spiritual, dimana menurut penilaian Nasr menyarankan

agar Timur menjadikan Barat seba gai            case study  guna mengambil

hikmah dan pelajaran sehingga Timur tidak mengulangi kesalahan-

kesalahan Barat. Sayyed Hussein Nasr beranggapan , sejauh ini gerak-

an-gerakan fundamental is atau revivalis Islam tak lebih merupakan

dikotorni tradisionalisme-modernisme,          keberadaannya justru menjadi

terlalu radikal dan terlalu mengarah kepada misi politis dari pada

normatik-religius (nilai-nilai ke-Agamaan). Sekalipun gerakan-gerak-

an seperti itu, atas nama pembaharuan-pembaharuan tradisional Islam.

Pad a momen sejarah ini pulalah saat yang tepat untuk me mbe-

dakan    gerakan-gerakan      yang     disebut     sebagai      ‘Fundamentalisme

Islam’ dari Islam Tradisional yang sering dikelirukan siapapun yang

telah membaca karya-karya yang bercorak tradisional tentang Islam

 

31

 

dan membandingkannya     dengan   perjuangan aliran-aliran      ‘ fundarnen-

talis ‘    tersebut segera      dapat melihat      perbedaan-perbedaan mendasar

diantara mereka , tidak saja di dalam        kandungan   tetapi  juga di dalam

‘iklim’ yang mereka nafaskan. Mal ahan          yang  dijuluki sebagai funda-

mentalisme mencakup satu spektrum         yan g luas, yang bagian-bagian-

nya dekat sekali dengan interpreta si trad isional          tentang Islam. Tetapi

tekanan utama macam gerakan       poli to-religius yang sekarang ini di-

sebut fundamentalisme        itu mempunyai perbedaan yang mendasar

dengan Islam Tradisional. Dengan            demikian perbedaan yang        tajam

antara keduanya terju stifikasi, sekalipun terdapat wilayah-wilayah ter-

tentu, dimana beberapa jenis fundamentalisme dan dimensi-dimensi

khusus Islam Tradisonal bersesuaian.

Gerakan Tradisonalisme Islam yang diidekan dan dikembang-

kan Nasr, merupakan gerakan untuk mengajak kembali ke ‘akar

tradisi      yang merupakan kebenaran dan sumbcr asal segala sesuatu;

dengan mencoba menghubungkan antara sekuler (Barat) dengan di-

mensi ke-Ilahiahan yang bersumber pada wahyu Agama. Tradisio-

nalisme Islam adalah gambaran awal sebuah konsepsi pemikiran

dalam sebuah bentuk     Sophia Perenu eis         (keabadian). Tradisionalisme

Islam boleh dikatakan juga disebut sebagai          gerakan intelektual secara

universal untuk mampu merespon arus pemikiran Barat modern

(merupakan efek dari filsafat modern) yang eenderung bersifat profa-

nik, dan selanjutnya untuk sekaligus dapat membedakan gerakan

Tradisionalisme Islam tersebut dengan gerakan Fundamentalisme

Islam,   seperti halnya yang dilakukan di Iran,             Turki dan kelornpok-

kelompok fundamental is lain .         Usaha Nasr untuk menelorkan ide

semacam itu paling tidak merupakan tawaran alternatif sebuah nilai-

nilai hidup bagi manusia modern maupun sebuah negara yang telah

terjangkit pola pikir modem (yan g cenderung bersifat profanik dengan

gaya sekuleristiknya) untuk kemudian kembali pada sebuah akar

tradisi yang bersifat transedental.

Sebagimana yang dipergunakan oleh para kelompok Tradi-

sionalis, tema tradisi menyiratkan sesuatu Yang Sakral,                 Yang Suci,

dan Yang Absolut. Seperti disampaikan manusia melalui wahyu mau –

pun pengungkapan dan pengembangan peran sakral itu di dalam

 

 

32

 

sejarah kemanusiaan tertentu untuk mana ia maksudkan,             dalam satu

cara yang mengimplikasikan baik kesinambun gan           horizontal dengan

sumber maupun mata rantai vertikal              yang menghubungkan       setiap

denyut kehidupan tradisi yang sedang diperb incangkan         dengan realitas .

transeden meta-historikal. Sekaligus           makna abso lut memiliki kaitan

emanasi     dan    nominasi     dari    sesuatu     sesua tu    yang    profan     dan

aksidental.

Tradisi menyiratkan kebenaran          yang   kudus, yang langgeng,

yang tetap, kebijaksanaan yang abadi        (sophia perenneisy;     serta pene-

rapan bersinambungan prinsip-prinsipnya yang                langsung    perennei

terhadap berbagai situasi ruang dan waktu . Untuk itulah Islam Tradi-

sional mempertahankan syariah sebagai hukum Ilahi sebagaimana ia

dipahami dan diartikan selama berabad-abad         dan  sebagaimana ia di-

kristalkan dalam mad zab-madzab klasik. Hukum menyangkut kesufis-

tikkan, Islam Tradisional memmpertahankan Islamitas seni Islam,

kaitannya dengan dimensi batini, wahyu Islam dan kristalisasi kha-

zanah spiritual Agama dalam bentuk-bentuk yang               tampak dan ter-

dengar, dan dalam domain politik,           Perspektif    tradisional se1alu ber-

pegang pada realisme yang didasarkan pad a norm a-norma Islam.

 

 

C. FILSAFAT PERENNIAL SEBAGAI JEMBATAN

Pembicaraan mengenai Tuhan dalam kerangka                  spiritualitas

universal dan religiusitas transhistoris merupakan topik pembicaraan

utama dalam filsafat perennial. Filsafat perennial atau                 philosophia

perennis      didefinisikan      oleh     Frithjof Schuon          dalam    Echoes     of

Perennial Wisdom     (1992) sebagai     the univ ersal Gnosis which always

has existed and always will exist.       Aldous Huxley dalam The Perrenial

Philosophy    (1984) filsafat perennial didefinisikan sebagai             (1) meta-

fisika yang mengakui adanya realitas illahi yang substansial atas dunia

bendawi, hayati dan akali; (2) Psikologi yang hendak menemukan

sesuatu yang serupa dengan jiwa, atau bahkan identik dengan realitas

ilahi; (3) etika yang menempatkan tujuan akhir manusia di dalam

pengetahuan tentang yang dasar, yang imanen dan transeden, yang

immemorial dan universal.

 

33

 

Menurut Seyyed Hossein Na sr              dalam   Kn owledge and the

Sacred (1989), dikalangan muslim Persia telah dikenal istilah J avidan

Khirad   atau al-Hiktnah al-Khalidah      yan g ditemukan dari karya Ma s-

kawih (932-1030). Di dalam karyanya itu, Ibn Maska wih membicara-

kan sejenis wawasan filsafat perennial dengan          mengulas gagasan dan

pemikiran orang-orang dan filsuf yang dianggap suci yang berasal dari

Persia Kuno, India dan Romawi. Jauh seb elum              Miskawih,    pemeluk

Hindu Vendata telah menghayati doktrin fundamental filsafat peren-

nial dalam istilah Sanatana Dharma “agama abadi ” . Doktrin sem acam

itu juga ditemukan dalam tradisi Yunani Kla sik,                   terutama    dalam

formulasi filsafat Plato. Sedangkan dalam dunia Kristen banyak

ditemukan pada tulisan mistikus Jerman dan teolog Kristen                   Meiter

Eckhart. Dalam dunia Islam yang semacam dengan filsafat perennial

ban yak ditemukan dalam karya -karya kaum sufi.

Inti pandangan filsafat perennial adalah bahwa dalam setiap

agama dan tradisi esoterik terdapat suatu pengetahuan dan pesan

keagamaan yang sama , yang muncul melalui beragam nama, beragam

bentuk yang dibungkus oleh sistem-sistem formal institusi keagamaan.

Kesamaan itu diistilahkan dengan transc endent         unity of religions (ke-

satuan transenden agama-agama) (Sukidi, 1997). Maka, pada tingkat

th e COl/ill/on vision,  (kata Huston Smith) atau pacla tingkat transcen-

dent    (kata kaum perennialis) semua agama mempunyai kesatuan,

kalau tidak malah kesamaan gaga san clasar.

Dengan demikian cara berpikir filsafat telah sampai pacla pun-

cak ilmu yang dalam Islam sering disebut Ilmu Laduni. Sehingga tam-

pak bahwa ranah tasawuf sekalipun telah masuk clalam filsafat

perennial ini.

Namun jika kita telaah lebih jauh, tasawuf dan filsafat per ennial

atau para sufi clan filsuf (perennialis) memiliki dasar pijakan yang

berbeda. Perennialis berangkat dari filsafat metafisika pada konsepsi

kearifan tradisional. Sedangkan tasawuf            (para sufi) berangkat clari

syariat, yang melalui jalan thariqat untuk mencapai hakikat. Menurut

para sufi seseorang tidak akan dap at        melakukan pengembaraan spiri-

tual, jika ticlak climulai dari syariat. Logika filsuf aclalah seperti ling-

karan dengan satu titik ditengah lingkaran dengan garis radial

 

34

 

penghubung dari tiap sudut garis lingkaran ke titik tengah lingkaran,

dimana untuk mencapai titik tengah filsuf melalui garis-garis radial

yang merupakan j alur-ja lur        thariqat.    Sedangkan filsafat perennial

dapat digambarkan seperti gelas kaca atau mutiara yang mendapat satu

sinar dan kemudian sinar itu berpendar (divergen) menjadi beberapa

sinar lain yang berwam a-wam i, dimana satu sinar tersebut           menggam-

barkan sinar Tuhan dan        sinar yang berwama-wami         adal ah  kearifan

tradisional yang ada pada masing-masing agama. Tugas filosof disini

adalah menelusuri  sinar-sinar  tersebut untuk mencapai satu sinar

utama yakni sinar T uhan.

Sufi menggunakan  kasyf  (intuisi)  untuk mencapai Realitas

Mutlak sedangkan filosof mas ih mengguna kan       logika hermen eutik.

Kasyf akan  lahir dan muncul dari saat kerja rasio dilakukan dengan

membebaskan rasio dar i mekan isme bendawi (Burckha rdt,           1984: 127-

Hubungan reali tas bendawi dan ruhani bisa dipahami dalam

model mutasi benda ke energi (idea) , dimana cahaya (energi) adalah

fungsi dan bisa   muncul  dari suatu benda fisik yang digerakkan

menyentuh partike l udara dengan     kecepatan tertentu (Mulkhan, 2004).

Kasyf adalah suatu bentuk   kerja   intelek atau   rasio  melalu i suatu

mekanisme yang disebut oleh  Suhraward i              akti vitas           Iiudlu ri (Yazd i,

1994). Dengan demikian kasyfbukanlah metode yang tiba-tib a muncul

tanpa kerja intelek, tetapi merupakan hasil dari kerja intelek atau rasio

itu sendiri. Dala m bahasa yang berbeda, kasyf adalah hasil evolusi-

kontinu intelek atau rasio ketika menempatkan seluruh          tingkat penge-

tahuan tentang realitas lebih rendah yang diperoleh sebelurnnya dalam

kesatuan sintetik baru (Rahman , 2000 : 3 14-3 15).

 

 

 

 

 

 

 

BABV

ASPEK ONTOLOGI, NILAI ETlKA

DAN LOGlKA DALAM HUKUM

 

 

A. PENGERTIAN HUKUM

 

Hakikat hukum dapat dijelaskan dengan cara memberikan suatu

definisi tentang hukum. Sampai saat ini menurut Apeldoom sebagai-

mana dikutipnya dari Immanuel Kant, para ahli hukum masih mencari

tentang apa definisi hukum     (Noch suchen die juristen eine Definition

zu ihrem BegrifJe von Recht).  Definisi tentang hukum yang dikemuka-

kan para ahli hukum sangat beragam, bergantung dari sudut mana

mereka melihatnya. Ahli hukum Belanda J. van Kan (1983) mendefi –

nisikan hukum sebagai keseluruhan ketentuan-ketentuan kehidupan

yang bersifat memaksa, yang melindungi kepentingan-kepentingan

orang dalam masyarakat. Pendapat tersebut mirip dengan definisi dari

Rudolf van Jhering yang menyat akan bahwa hukum adalah kese1uruh-

an norma-norma yang memaksa yang berlaku dalam suatu negara.

Hans Kelsen menyatakan hukum terdiri dari norma-norma bagaimana

orang harus berperilaku. Pendapat ini didukung oleh ahli hukum Indo-

nesia Wirjono Projodikoro (1992) yang menyatakan bahwa hukum

adalah rangkaian peraturan mengenai      tingkah laku orang-orang

sebagai anggota suatu masyarakat, sedangkan satu-satunya tujuan dari

hukum ialah menjamin keselamatan, kebahagiaan dan tata tertib

masyarakat itu. Se1anjutnya O.  Notohamidjojo (1975) berpendapat

bahwa hukum adalah keseluruhan peraturan yang tertulis dan tidak

tertulis yang biasanya bersifat memaksa untuk kelakuan manusia

dalam masyarakat negara serta antar negara, yang berorientasi pada

dua asas yaitu keadilan dan daya guna, demi tata tertib dan damai

 

 

 

 

da1am masyarakat.

 

36

 

37

 

keempat, yaitu norma hukum. Menurut Sudikno Mertokusumo (1991)

 

Definisi-definisi tersebut menggambarkan betapa luas sesung-

guhnya hukum itu. Keluasan bidang hukum itu dilukiskan oleh

Pumadi Purbaearaka dan Soerjono Soekanto (1986) dengan menyebut

sembilan arti hukum. Menurut mereka hukum dapat diartikan sebagai:

(1) ilmu pengetahuan, yaitu pengetahuan yang tersusun seeara siste-

matis atas dasar kekuatan pemikiran; (2) disiplin, yaitu suatu sistem

ajaran kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi; (3) norma,                yaitu

pedoman atau patokan sikap tindak atau perilakuan yang pantas atau

diharapkan; (4) tata hukum, yaitu struktur dan proses perangkat nor-

ma-norma hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu

serta berbentuk tertulis; (5) petugas, yaitu pribadi-pribadi yang meru-

pakan kalangan yang berhubungan dengan penegakan hukum               (Iaw-

enforcement officer);        (6) keputusan penguasa ,          yaitu hasil proses

diskresi;    (7) proses pemerintahan, yaitu proses hubungan timbal balik

antara unsur-unsur pokok dari sistem kenegaraan; (8) sikap tindak-

tanduk atau perikelakuan “teratur”, yaitu perikelakuan yang diulang-

ulang dengan eara yang sama yang bertujuan untuk meneapai ke-

damaian; dan (9) jalinan nilai-nilai, yaitu jalinan dari konscpsi-

konsepsi abstrak tentang apa yang dianggap ba ik           dan buruk. Dengan

demikian apabila kita ingin mendefinisikan hukum seeara memuas-

kan, kita harus dapat merumuskan suatu kalimat yang meliputi paling

tidak sembilan arti hukum itu. Suatu pekerjaan yang tidak mudah!

Walaupun hukum dapat didefinisikan menurut sekian banyak

pengertian ,    tetapi seeara umum hukum dipandang sebagai norma,

yaitu norma yang mengandung nilai-nilai tertentu. Jika kita batasi

hukum dalam pengertian sebagai norma, tidak lalu berarti hukum

identik dengan norma. Norma adalah pedoman manusia dalam ber-

tingkah laku. Dengan demikian, norma hukum hanyalah salah satu

saja dari sekian banyak pedoman tingkah laku itu.

Di luar norma hukum terdapat norma-norma lain. Purbaearaka

dan Soekanto (1989) menyebutkan ada empat norma, yaitu (I)         keper-

eayaan; (2) kesusilaan; (3) sopan santun; dan (4) hukum. Tiga norma

yang disebutkan dimuka dalam kenyataannya belum dapat mernberi-

kan perlindungan yang memuaskan sehingga diperlukan norma yang

penyebabnya adalah: (1) masih ban yak kepentingan-kepentingan lain

manusia yang memerlukan perlindungan, tetapi belum mendapat per-

lindungan dari ketiga norma sosial tersebut; (2) kepentingan-kepen-

tingan manusia yang telah mendapat perlindungan dari ketiga norma

sosial tersebut belum eukup terlindungi,                 karena dalam hat terjadi

pelanggaran, reaksi atau sanksinya dirasakan belum eukup memuas-

kan. Sebagai eontoh ,       norma kepereayaan tidak memberikan sanksi

yang dapat dirasakan seeara langsung didunia ini. Demikian pula jika

norma kesusilaan dilanggar, hanya akan menimbulkan rasa malu atau

penyesalan bagi pelakunya, tetapi dengan tidak ditangkap dan diadili –

nya pelaku tersebut, masyarakat mungkin akan merasa tidak aman.

Perlindungan yang diberikan oleh norma hukum dikatakan lebih

memuaskan  dibandingkan dengan norma-norma yang lain, tidak lain

karcna pelaksanaan norma hukum dikatakan lebih memuaskan diban-

dingkan dengan norma-norma yang lain, tidak lain karena pelaksanaan

norma hukum itu dapat dipaksakan. Apabila tidak dilaksanakan, pada

prinsipnya akan dikenakan sanksi oleh penguasa. Di sini terlihat

betapa erat hubungan antara hukum dan kekuasaan itu.

Kekuasaan yang dimiliki itupun terbatas sifatnya sehingga

norma hukum yang ingin ditegakkannya pun memiliki daya jangkau

yang terbatas. Kcndati demikian, bukan tidak mungkin terdapat nor-

ma-norma hukum yang berlaku universal dan abadi (tidak dibatasi

oleh ruang dan waktu), yang oleh sebagian ahli hukum disebut dengan

hukum kodrat atau hukum alam. Dari sini timbul hubungan yang erat

antara hukum kodrat dengan hukum positif.

Dari sekian banyak definisi yang ada, menurut Paul Seholten

ada beberapa eiri-eiri hukum, sebagaimana dikutip oleh              A.  Gunawan

Setiardja (1990: 79-90) yaitu:

1. Hukum adalah aturan perbuatan manusia. Dengan demikian

menurut ahli hukum, tatanan hukum adalah hukum positif yang

dibuat oleh pemerintah dan pemerintah adalah sumber hukum

 

2. Hukum bukan hanya dalam keputusan, melainkan                        dalam

 

38

 

realisasinya.     Menurut Prof. Padmo Wahyono, S.H., hukum

yang berlaku dalam suatu negara mencerminkan perpaduan

sikap dan pendapat pimpinan pemerintah dan masyarakat

mengenai hukum tersebut.

 

3.   Hukum ini mewajibkan. Apabila hukum positif telah ditetapkan

maka  setiap warga negara wajib untuk menaati hukum sesuai

dengan undang-undang.

 

4. Institusionali hukum. Hukum positif merupakan hukum institu-

sional dan melindungi masyarakat.

 

5. Dasar hukum. Setiap hukum mempunyai dasar, yaitu mewajib-

kan    dan    mengharuskan.      Pelaksanaannya     dengan     ideologi

bangsa.

 

 

 

B. HUKUM DAN UNDANG-UNDANG NEGARA

 

Ada banyak pengertian ten tang hukum, namun jika kita defini-

sikan hukum dalam tata hidup masyarakat modern tentu akan lebih

mudah mendefinisikannya. Tentu saja pengertian hukum zaman

modern dengan zaman primitif akan berbeda, meskipun secara hakiki

pengertiannya adalah sama. Jika filsafat berusaha mencari makna yang

hakiki dari suatu fenomena, maka sudah seharusnya disini kita mampu

mencari makna yang hakiki dari hukum itu sendiri,                melewati ruang

dan waktu, modern maupun prirnitif

Para antropolog menekankan hal ini .           Leopold Pospisil misal-

nya, mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa

suatu masyarakat yang tidak merniliki peraturan-peraturan             yang abs-

trak dianggap sebagai masyarakat tanpa hukum.              Menurut Prospisil

pengawasan sosial merupakan unsur inti dari hukum. Ciri mendasar

dari fenomena yang termasuk dalam ‘kategori konseptual ini adalah

bahwa gejala itu haruslah merupakan pengawasan sosial yang melem-

baga (Ihromi , 1984: 92-99).

 

39

 

Bila kita menghadapi bentuk-bentuk hukum yang             aktual   pada

zaman modem ini,      kita sampai pada keyakinan bahwa hukum           yang

mempunyai arti yuridis yang sungguh-sungguh adalah hukum yang

ditentukan oleh pemerintah suatu negara, yaitu und ang-undang (Huij –

bers ,   1995: 40). Hal ini jelas dalam kenyataan bahwa peratur an-

peraturan yang berlaku dalam lembaga non -negara,                 membutuhkan

peneguhan dari negara supaya berlaku sungguh-sungguh              secara yuri-

dis . Sebagaimana halnya hukum adat hanya dipandang seb agai hukum

yang sah ,   bila terdapat pengakuan oleh negara kepad a          warga   negara

yang akan menggunakan hukum adatnya tersebut.

 

 

C. KEBERLAKUAN HUKUM

 

Perbedaan antara peraturan yuridis dan tidak yuridis            digambar-

kan secara tepat oleh H.L.A Hart (1979). Hart meny atakan                   bahwa

suatu negara tidak boleh disarnakan dengn           negara po lisi dan kaidah-

kaid ah  hukum suatu negara tidak boleh disamakan dengan                 seperti

perintah    seorang perampok yan g        dapat   memaks a orang lain untuk

meny erahkan  harta yang dimiliki        agar diserahkan kepada       perampok

tersebut, jika tidak akan dikenakan sanksi          (gunman    situation). Men u-

rut Hart sejauh dipandang dari lua r pengertian Au stin ten tang hukum

tepat,   sebab memang      benar bahwa perintah-perintah yang dise but

hukum dikeluarkan oleh seseorang yang berkuasa dan biasanya ditaati,

namun sesungguhnya ada aspek lain yang tidak diperhatikan oleh

Au stin , yaitu aspek intern. Aspek intern untuk menta ati suatu aturan

. hanya dapat dimiliki oleh orang-orang                yang hidup pada w ilayah

dimana peraturan terse but berlaku. Sebaliknya aspek intern tidak akan

dirasakan oleh        orang-orang yang hidup dilu ar wi laya h dimana

peraturan ters ebut diberlakukan. Orang-orang yang hidup dal am suatu

wilyah tertentu menerima hukum yang ditetapkan sebagai huk um

mereka dan mer eka       merasa terikat      padanya sebab ditentukan       oleh

pemerintah sendiri.

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa hukum yang

sesungguhnya     adalah hukum yang legal           atau sah.     Bila    peraturan-

 

 

40

 

peraturan ditentukan oleh suatu instansi yang berwenang, dalam hal

ini pemerintah yang sah, dan ditentukan menurut kriteria yang berlaku

maka peraturan-peraturan tersebut bersifat sah atau legal dan mem-

punyai kekuatan yuridis              (validity).    Oleh karena itu hal ini berbeda

dengan kebiasaan yang tidak berlaku secara yuridis, karena tidak

memenuhi aspek legalitas.

Menurut Sudikno Mertokusumo, agar suatu peraturan perun-

dang-undangan dapat berlaku efektif dalam masyarakat harus memi-

liki kekuatan berlaku. Ada tiga macam kekuatan berlaku, yaitu kekuat-

an berlaku filosofis, sosiologis dan yuridis. Undang-undang memiliki

kekuatan yuridis apabila persyaratan formal terbentuknya undang-

undang telah terpenuhi. Sedangkan undang-undang memiliki kekuatan

berlaku secara sosiologis apabila undang-undang tersebut berlaku

efektif sebagai sebuah aturan-aturan dalam kehidupan masyarakat

serta dapat dilaksanakan. Kekuatan berlakunya hukum secara sosiolo-

gis di dalam masyarakat ada dua macam (Mertokusumo, 1996: 87):

I. Menurut teori kekuatan         (/Ilachtstheorie)        hukum berlaku secara

sosiologis j ika dipaksakan berlakunya oleh penguasa .

 

2. Menurut teori pengakuan ianerkennungstheoriei hukum berlaku

secara sosiologis jika diterima dan diakui masyarakat.

Hukum memilki kekuatan berlaku filosofis apabila kaedah hukum

tersebut sesuai dengan cita-cita hukum               (rechtsidee) suatu bangsa.

Agar berfungsi, maka kaedah hukum harus memenuhi ketiga unsur

tersebut sekaligus.

Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa suatu peraturan ber-

si fat legal? Menurut Hart ada dua cara untuk menjawabnya:

 

 

1. Membedakan Dua Jenis Kaidah Hukum

 

Kaidah hukum terbagi menjadi dua bagian, kaidah primer dan

kaidah sekunder. Kaidah primer, yaitu kaidah yang menentukan kela-

kuan orang. Kaidah primer disebut petunjuk pengenal (rules of recog-

nition),  sebab kaidah ini menyatakan manakah hukum yang sah.

 

41

 

Kaidah sekunder, yaitu kaidah yang menentukan syar.at bagi berlaku-

nya kaidah primer. Kaidah ini juga yang merupakan syarat bagi

perubahan kaidah primer       (rules of change), dan bagi dipecahkannya

konflik (rules ofadjudication).

Van Oer Vlies membahasakannya sebagai asas formal dan asas

material. Asas formal, terkait dengan prosedur pembuatan peraturan

perundang-undangan. Dimulai dari tahap persiapan pembuatan per-

aturan perundang-undangan dan motivasi dibuatnya suatu peraturan

perundang-undangan. Asas formal meliputi:

a.   Asas tujuan yang jelas, terkait dengan sejauh man a peraturan

perundang-undangan mendesak untuk dibentuk.

 

b. Asas organ/lembaga yang tepat, terkait dengan kewenangan

lembaga pembentuk peraturan perundang-undangan dengan

materi muatan yang dimuat didalamnya.

 

c. Asas perlunya pengaturan, terkait dengan perlunya suatu ma-

salah       tertentu       diatur       dalam       suatu       peraturan         perundang-

undangan.

 

d. Asas dapat dilaksanakan, terkait dcngan penegakkan suatu per-

aturan perundang-undangan. Jika tidak dapat ditegakan maka

suatu peraturan perundang-undangan akan kehilangan fungsi

dan tujuannya serta menggerogoti kewibawaan pembentuknya.

 

e. Asas konsensus,           yaitu kesepakatan antara rakyat dengan pem-

bentuk peraturan perundang-undangan, karena peraturan perun-

dang-undangan     terse but    akan    diberlakukan kepada rakyat.

Sehingga pada saat diundangkan masyarakat siap.

Yang kedua adalah asas materiil, yaitu terkait dengan substansi

suatu peraturan perundang-undangan. Asas materiil meliputi:

a. Asas terminologi dan sistematika yang benar, terkait dengan

bahasa hukum/perundang-undangan. Yaitu bisa dimengerti oleh

orang awam, baik strukuktur maupun sistematikanya.

 

42

 

b.   Asas dapat dikenali, yaitu dapat dikenali jenis dan bentuknya.

 

c. Asas per lakuan yan g sama dalam hukum.

 

d.   Asas kepastian hu kum.

 

e. Asas pelaksanaan hukum sesu ai dengan keadaan indi vidu .

 

 

2. Stufenbau Theorie

 

Teori ini dikembangkan oleh beberapa                 pemikir    antara   lain

Merkl, Hans Kelsen dan H.L.A Ha rt . Pada                  intinya teori ini dima ksud –

kan untuk menyusun suatu               hier arki    norma-no rma       sehingga     berlapis-

lapis dan berjenjang-jenj ang. Suatu peraturan                    baru   dapat diakui secara

legal, bila tidak bertentangan dengan peraturan-per atu ran yang be rlaku

pada suatu j enjang         yang   lebih tinggi.        Seluruh     sistem    hukum mempu-

nyai struktur piramidal, mulai dari yang           abstrak (ideologi negara dan

UUD) sampai yang konkrit (UU dan peraturan pelaksanaan).                          Menurut

Hans Nawiasky     da lam”Theorie      von Stufenbau     des Rechtsordnung”

ada empat kelompok penj enjangan perundang -und ang an:

1. Norma dasar (grundnorm).            Norma    dasar negara      dan hukum

yang meru pa kan landasan akhir bagi       peraturan-peraturan lebih

lanjut.

 

2.   Aturan-aturan dasar negara atau konstitusi,            yang menentukan

norma-norm a yang menjamin berlansungnya negara dan pen-

jagaan hak-hak    anggota masyarakat. Aturan      ini bersifat umum

dan tidak  meng andung sanksi, maka tidak termasuk perundang-

undangan.

 

3.   Undang-und ang formal yang di dalamnya telah masuk sanksi-

sanksi   dan   diberl akukan   dalam rangka mengatur lebih lanjut

ha l-hal yang dimuat dalam undang-undang dasar.

 

4.   Peraturan-peratura n       pelaksanaan       dan      peraturan-peraturan

otonom.

 

43

 

Di dalam sistem perundang-undangan          dikenal adanya hierarki

(kewerdaan atau urutan). Ada peraturan yang lebih tinggi dan ada per-

aturan yang lebih rendah. Perundang-undangan suatu negara merupa-

kan suatu sistem yang tidak menghendaki atau                             membenarkan atau

membiarkan adanya pertentangan atau konflik di dalamnya.                              Jika ter-

nyata ada pertentangan yang terjadi            dalam suatu sistem peratur an

perundang-undangan maka salah satu dari keduanya                           harus    ada    yang

dimenangkan dan ada yang dikalahkan. Menurut             uu No .  10  tahu n

2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dalam

pasal 7 ayat (1) disebutkan jenis dan hierarkhi Peraturan Perundang –

undangan adalah sebagai berikut:

1. UUD 1945

 

2. Undang-Undang            (UU)/Peraturan          Pemerintah         Pengganti

Undang-Undang (Perpu)

 

3. Peraturan Pemerintah (PP)

 

4.   Peraturan Presiden

5.   Peraturan Daerah (Perda)

Bagi peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan

peraturan yang lebih tinggi, maka dapat dilakukan Judi cial Review (uji

yang diajukan melalui gugatan dan keberatan kepada Mah-

kmah Konstitusi dan Mahkamah Agung. Seperti disebutkan dalam

Pasal 24C UUD 1945 bahwa Mahkamah Konstutusi berwenang

mengadili tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final

untuk menguji Undang-Undang terhadap Und ang-Undang                    Dasar.

Sedangkan Mahkamah Agung sebagaimana tercantum dalam Pasal

24A ayat (1) redaksi berwenang menguji peraturan perundang-

undangan di bawah Undang-Undang terhadap Undang-Undang.

Ada beberapa asas yang mendasari pengaturan kedudukan

masing-masing peraturan perundang-undangan,                Menurut Sudikno

Mertokusumo, setidaknya ada 3 asas (adagium) dalam tata urutan

peraturan perundang-undangan: Asas lex s up eriori iderogat legi infe

riori, Asas lex specialis derogate legi generali, dan Asas lex posteriori

 

 

44

 

derogat legi priori    (Mertokusumo, 1996: 85-87).

Asas   lex superiori derogat legi inJeriori berarti peraturan yang

lebih tinggi akan melumpuhkan peraturan yang lebih rendah. Jadi jika

ada suatu peraturan yang lebih rendah bertentangan dengan peraturan

yang lebih tinggi, maka yang digunakan adalah peraturan yang lebih

tinggi tersebut. Asas       lex specialis derogate legi generali berarti pada

peraturan yang sederajat, peraturan yang lebih khusus melumpuhkan

peraturan yang umum. Jadi dalam tingkatan perundang-undangan

yang sederajat yang mengatur mcngenai materi yang sama , jika ada

pertentangan diantara keduanya maka yang digunakan adalah per-

aturan yang lebih khusus. Asas         lex posteriori derogat                 legi priori  ber-

arti pada peraturan yang sederajat, peraturan yang paling baru melum-

puhkan peraturan yang lama. Jadi peraturan yang telah diganti dengan

peraturan yang baru, secara otomatis dengan asas ini peraturan yang

lama tidak berlaku lagi.

Di samping itu ada asas lain yang perlu diperhatikan dalam

prinsip tata urutan peraturan perundang-undangan            seperti dikemuka-

kan oleh Bagir Manan, yaitu :

1). Dalam tata urutan peraturan perundang-undangan ada ketentuan

umum bahwa setiap peraturan perundang-undangan harus me-

miliki dasar hukum pada peraturan perundang-undangan yang

lebih tinggi tingkatannya; peraturan perundang-undangan yang

lebih    rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan per-

undang-undangan yang lebih tinggi ,           dimana peraturan perun-

dang-undangan yang lebih rendah dapat dituntut untuk dibatal-

kan, bahkan batal demi hukum.

 

2). Isi atau materi peraturan perundang-undangan tingkatan lebih

 

45

 

peraturan perundang-undangan atau kebijakan maupun tindakan

pemerintah lainnya, terhadap peraturan perundang-undangan

yang lebih tinggi tingkatannya atau tingkat yang tertinggi yaitu

Undang-Undang Dasar.

 

 

 

D. HUKUM SEBAGAI NORMA

 

Yang dimaksud hukum bersifat normatif yaitu apabila peme-

rintah yang sah mengeluarkan peraturan menurut perundang-undangan

yang berlaku, peraturan tersebut ditanggapi sebagai norma yang

berlaku secara yuridis, yaitu peraturan tersebut terasa mewajibkan

sedemikian rupa sehingga orang yang tidak mematuhi peraturan dapat

dituntut hukuman melalui pengadilan.

Memahami hukum sebagai norma berarti juga memahami

hukum sebagai sesuatu yang seharusnya               (das Sol/en).  Memahami

hukum sebagai      das Sol/en  berarti juga menginsyafi bahwa hukum

merupakan bagian dari kehidupan kita yang berfungsi sebagai pedo-

man yang harus diikuti dengan maksud supaya kehidupan kita diatur

sedernikian rupa sehingga hak-hak dan kewajiban-kewajiban orang

dibagi sebagaimana mestinya. Bila hukum diakui sebagai norma,

maka hukum harus ditaati. Hukurn ditaati bukan karena terdapat suatu

kekuasaan di belakangnya,         melainkan karena mewajibkan itu ter-

masuk hakikat hukum itu sendiri . Ini juga bermakna bahwa jika suatu

peraturan tidak ditaati atau banyak dilanggar, bukan berarti kekuatan

peraturan tersebut sebagai norma hilang. Selain itu banyaknya pelang-

garan-pelanggaran terhadap peraturan yang ada, bukan berarti juga

membawa kita pada kesimpulan untuk meniadakan suatu peraturan,

 

rendah tidak boleh menyimpangi atau bertentangan dengan

karena sekali lagi hukurn

mengatur apa yang seharusnya (das

 

peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, yang dibuat

Sol/ell)

bukan proposisi tentang sesuatu yang terjadi             (das Sein).

 

tanpa wewenang           (onbevoegheid)     atau melampaui wewenang

tdetournement de pouvoir),        dan untuk menjaga dan menjamin

prinsip tersebut agar tidak disimpangi atau dilanggar, maka

terdapat mekanisme pengujian secara yudisial atas                       setiap

Oleh karena itu pemyataan ini harus dibalik dengan pemyataan

adanya norma/hukum/eus     Sol/en/atllran tentang apa yang seharusnya

saja masih terjadi banyak pelanggaran, apalagi jika tidak ada.

Hans Kelsen (1881-1973) mendefinisikan yurisprudensi sebagai

 

46

 

pengetahuan akan norma-norma. Dengan istilah nonna-nonna ia me-

mahami sebuah pertimbangan hipotesis yang menyatakan bahwa

melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan tertentu akan diikuti

oleh suatu tindakan memaksa dari negara. Barangsiapa seeara tidak

sah mengambil suatu benda bergerak milik orang lain, suatu norma

berarti bahwa dalam situasi tertentu negara akan melakukan pemak-

saan untuk berperilaku tertentu. Hukum merupakan suatu sistem yang

dibagi ke dalam norma-norma pemaksaan semaeam itu; esensinya

merupakan sebuah tatanan memaksa yang datang dari luar (Boden-

heimer, 1967: 100).

Fungsi pengundangan (legislasi) adalah untuk menentukan isi

norma. Norma umum dan menyediakan organ-organ dan prosedur-

prosedur (pengadilan dan pengadilan-pengadilan administratif) bagi

pelaksanaan norma-norma ini. Alat dalam proses mengkonkretkan

norma-norma adalah kekuatan yudisial, yang dilaksanakan oleh peng-

adilan-pengadilan dan peradilan-peradilan administratif. Otoritas ke-

putusan pengadilan menentukan apakah dan dalam eara apa suatu

norma umum harus diaplikasikan ke dalam kasus konkret.

Hukum menurut Kelsen merupakan sebuah teknik khusus orga-

nisasi sosial. Ciri khas hukum bukan sebagai suatu tujuan akhir tetapi

sebagai alat khusus, sebagai sebuah alat pernaksaan yang dengan

demikian tidak ada nilai politik atau etik menempel, sebuah alat yang

nilainya timbul lebih dari sekedar tujuan yang melebihi hukum itu

(Bodenheimer, 1967: 101). Jadi kemungkinan hukum alam seeara

kategoris ditolak oleh Kelsen.

 

 

E. HUKUM DAN KEADILAN

 

1. Konsep Keadilan

Berbieara mengenai keadilan, kiranya perlu meninjau berbagai

teori para ahli. Salah satunya adalah Plato. Muslehuddin di dalam

bukunya   Philosophy of Islamic Law and Orientalists,   menyebutkan

pandangan Plato sebagai berikut:

 

47

 

In his view, justice consists in a harmonious relation, between

the various parts of the social organism . Every citizen       must do his

duty in his appointed place and do the thing for which his nature is

best suited (Muslehuddin, 1986 : 42).

Dalam mengartikan keadilan, Plato sangat dipengaruhi                                 oleh

eita-eita kolektivistik yang memandang keadilan sebagai hubungan

harmonis dengan berbagai organisme sosial. Setiap warga negara

harus melakukan tugasnya sesuai dengan posisi dan sifat alamiahnya.

Pendapat Plato tersebut merupakan pemyataan kelas,                                  maka

keadilan Platonis berarti bahwa para anggota setiap masyarakat harus

menyelesaikan pekerjaan masing-rnasing dan tidak boleh meneampuri

urusan anggota kelas lain. Pembuat peraturan harus menempatkan

dengan jelas posisi setiap kelompok masyarakat di mana dan situasi

bagaimana yang eoeok untuk seseorang. Pendapat tersebut berangkat

dari asumsi dasar bahwa manusia bukanlah suatu jiwa yang terisolir

dan bebas melakukan apa saja yang dikehendakinya,            tetapi manu sia

adalah jiwa yang terikat dengan peraturan dan tatanan universal yang

harus menundukkan keinginan pribadinya kepada organik kolektif.

Dari sini terkesan pemahaman bahwa,           keadilan dalam kon sep

Plato sangat terkait dengan peran dan fungsi individu dalam masyara-

kat. 1dealisme keadilan akan tereapai bila dalam kehidupan semua

unsur masyarakat berupa individu dapat menempatkan dirinya pada

proporsi masing-rnasing dan bertanggung jawab penuh terhadap tugas

yang diemban, selanjutnya tidak dapat meneampuri urusan dan tugas

kelompok lain. Kesan lainnya adalah Plato membentuk manusia dalam

kotak-kotak kelompok (rasis),           peran suatu kelompok tidak dapat

menyeberang ke kelompok lain. Keadilan hanya akan terwujud mana-

kala manusia menyadari status sosial dan tugasnya sebagai delegasi

kelompoknya sendiri.

Lain halnya dengan Aristoteles, menurutnya keadilan berisi

suatu unsur kesamaan, bahwa semua benda-benda yang ada di alam

ini dibagi seeara rata yang pelaksanaannya dikontrol oleh hukum.

Dalam pandangan Aristoteles keadilan dibagi menjadi dua bentuk.

Pertama, keadilan distributif, adalah keadilan yang ditentukan oleh

 

48

 

pembuat un dang-undang,    distribusinya memuat jasa, hak, dan kebaik-

an bagi anggota-anggota masyarakat menurut prinsip kesamaan pro-

porsiona!.      Kedua,   keadilan korektif, yaitu keadilan yang menjamin,

mengawasi dan memelihara distribusi                  ini melawan serangan-serangan

ilega!. Fungsi korektif keadilan pada prinsipnya diatur oleh hakim dan

menstabilkan kembali            status quo    dengan cara mengembalikan milik

korban yang bersangkutan atau dengan cara mengganti rugi atas mi lik –

nya yang hilang (Muslehuddin,       1991: 36).

Aristoteles dalam mengartikan keadilan sangat dipengaruhi oleh

unsur kepemilikan benda tertentu. Keadilan ideal dalam pandangan

Aristoteles adalah ketika semua unsur masyarakat mendapat bagian

yang sama dari semua benda yang ada di alam. Manusia oleh             Aristo-

teles dipandang sejajar dan mempunyai hak yang sama atas kepernilik-

an suatu barang (materi).

Pandangan Aristoteles tersebut di satu sisi ditolak oleh seorang

filsuf Kontemporer William K. Frankena, pandangan

tentang keadilan sebagai pembagian sama rata adalah s isi             yang dito-

lak, sedangkan pandangan yang diterima Frankena adalah keadilan

merupakan distribusi barang, akan tetapi distribusi yang adil bukan

hanya distribusi sama rata, akan tetapi berbeda dalam keadaan tertentu

juga merupakan     keadilan,   Pendapat Frankena selengkapnya       sebagai –

mana dikutip Feinberg:

Like most other      write rs,  Frankena    begins   b)’ accepting Aris-

totle ‘s formal principle ofj ustice, that           relevantly similar cases shou ld

be treated similarly,       bu t  Frankena    devotes    more attention     than  Aris-

totle did to      the selection      of a    material principle of distrib ution.           He

ag rees  with   Aristotle    that the essence of distrib utive            of injustice is

arb itrary     discrimination       between      relevan tly     similar     cases,     but

disagree over which characteristics are relevantly similar and which

discrim inations     are arbitrary, aligning himself with Aristotle                    old

adversaries,   the equalitarian democrats (Feinberg (ed)., 1975: 214).

Sedangkan   Herbert Spencer mengartikan keadi lan adalah kebe –

basan. Setiap    orang bebas   melaku kan apa yang   ia inginkan asal tidak

men ggan ggu orang      lain (Muslehuddin, 199 1: 36). Pandangan                ini

49

 

sangat kontras bila      dihadapkan dengan pandangan Plato.         Kebebasan

individualis adalah sesuatu yang sangat dihindari oleh Plato,                 semen-

tara Herbert Spencer sebaliknya, keadilan justru berangkat dari kebe-

basan individu.       Sedangkan kesamaannya terletak pada pengertian

tidak dapat mengganggu kepentingan orang lain. Artinya, kebebasan

individu yang ditawarkan oleh Spencer tetap pada asumsi bahwa

manusia hidup berdampingan dengan manusia lain, sehingga setiap

tindakan harus mengacu pada dua pertimbangan, yaitu pertimbangan

kepentingan pribadi dan kepentingan orang lain sebagai bentuk per-

hatian kolektif.

Kelsen adalah tokoh yang berusaha mereduksi sejumlah teori

keadilan menjadi dua pola dasar, Rasional dan Metafisik. Tipe rasio-

nal sebagai tipe yang berusaha menjawab pertanyaan tentang keadilan

dengan cara mendefinisikannya dalam suatu po la ilmiah atau quasi-

ilmiah. Dalam memecahkan persoalan keadilan tipe rasional berlan-

daskan pada aka!’ Pola ini diwaki li          oleh Aristoteles . Sedangkan tipe

Metafisik merupakan realisasi sesuatu yang diarahkan ke dunia lain di

ba lik  pengalaman manusia. Pola in] diwaki li          oleh Plato.    Dalam   pa n-

dangan Dewey keadilan tidak dapat didefinisikan, ia merupakan

idealisme yang tidak rasional (Muslehuddin, 1991: 37).

Menurut John Rawls kebebasan : dan kesamaan merupakan

unsur yang menjadi bagian inti teori keadilan. Rawls menegaskan

bahwa kebebasan dan kesamaam seharusnya tidak dikorbankan demi

manfaat sosial atau ekonomi, betapapun besarnya manfaat yang dapat

diperoleh dari sudut itu. Rawls percaya bahwa sua tu perlakuan yang

sama bagi semua anggota masyarakat yang terakomodasi da lam

keadi lan   formal atau juga disebut keadilan regulatif, sesungguhnya

mengandung pengakuan akan kebebasan dan kesamaan bagi sem ua

orang (Rawls, 1971: 59).

Teori keadilan Rawls yang disebut prinsip -prinsip                      pertarna

keadilan itu ,beli o lak dari sua tu konsep keadi lan            yang   lebih   umum

yang dirumuskannya sebagai berikut:

All social valuesliberty and opportunity, income and wealth,

and the bases ofself-respect-rare to be distributed equally unless and

 

50

 

unequal distribution of any, or all, of these      values is to everyone ‘s

advantage (Rawls, 1971: 62).

Ada dua hal yang penting dapat dicatat sehubungan dengan

konsep ” keadilan umum tersebut. Pertama,             kebebasan ditempatkan

sejajar dengan nilai-nilai lainnya, dan dengan itu juga konsep umum

keadilan tidak memberi tempat istimewa terhadap kebebasan. Hal ini

berbeda dengan konsep keadilan Rawls yang berakar pada prinsip hak

dan bukan pada prinsip manfaat. Kedua , keadilan tidak selalu berarti

semua orang harus selalu mendapatkan sesuatu dalam jumlah yang

sama; keadilan tidak selalu berarti semua orang harus diperlakukan

secara sama tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan penting yang

secara objektif ada pad a setiap individu; ketidaksamaan dalam distri-

busi nilai-nilai sosial selalu dapat dibenarkan asalkan kebijakan itu

ditempuh demi menjamin dan mernbawa manfaat bagi semua orang.

Rawls memberikan tempat dan menghargai hak setiap orang untuk

menikmati suatu hidup yang layak sebagai manusia, termasuk mereka

yang paling tidak beruntung.

Berlandaskan dari prinsip umum tersebut di atas , Rawls meru-

muskan kedua prinsip keadilan sebagai berikut:

First, each person      is to have     an   equal right    to the    most

extensive  basic liberty compatible with similar liberty        for others;

Second, social and economic inequlities are to   be range so that they

are both (a) reasonable expected to be to every one’s advantage, and

(b) attached to positions and offices ope n to all (Rawls , 1971: 60)

Menurut Rawls, kekuatan dalam keadilan dalam arti              Fairness

justru terletak pada tuntutan bahwa ketidaksamaan dibenarkan sejauh

juga memberikan keuntungan bagi semua pihak dan sekaligus me m-

beri prioritas pada kebebasan. Ini merupakan dua tun tutan dasar yang

dipenuhi dan dengan demikian juga membedakan secara tegas konsep

keadilan sebagai       Fairness  dari teori-teori yang dirumuskan dalam

napas intuisionisme dalam cakrawala teologis.

Untuk terjaminnya efektivitas dari kedua prinsip keadilan itu,

Rawls menegaskan bahwa keduanya harus diatur dalam suatu tatanan

yang disebutnya     serial order. Dengan pengaturan seperti itu, Rawls

 

51

 

menegaskan bahwa hak-hak serta kebebasan-kebebasan dasar tidak

dapat ditukar dengan keuntungan sosial dan ekonomis. Ini berarti

prinsip keadilan yang kedua hanya bisa mendapat tempat dan diterap-

kan apabila prinsip keadilan yang pertama telah dipenuhi. A rtinya

penerapan dan pelaksanaan prinsip keadilan yang kedua tidak boleh

bertentangan dengan prinsip keadilan yang pertama. Dengan demikian

hak-hak dan       kebebasan-kebebasan dasar dalam konsep keadilan

memiliki priroritas utama atas keuntungan sosial dan ekonomis.

Soekanto menyebut dua kutub citra keadilan yang harus mele-

kat dalam setiap tindakan yang hendak dikatakan sebagai tindakan

adil.    Pertama ,                Namin em    Laedere,          yakni “jangan merugikan orang

lain”, secara luas azas ini berarti              Apa yang anda tidak ingin alami,

janganlah menyebabkan orang lain mengalaminya”.                 Kedua , Suum

Cuique Tribuere, yakni “bertindaklah sebanding”. Secara luas azas ini

berarti “Apa yang boleh anda dapat, biarkanlah orang lain berusaha

mendapatkannya” (Soekanto, 1988: 28). Azas pertama merupakan

sendi   equality yang ditujukan kepada umum sebagai azas pergaulan

hidup. Sedangkan azas kedua merupakan azas          equity yang diarahkan

pada penyamaan apa yang tidak berbed a dan membedakan apa yang

memang tidak sama.

Di balik pengertian keadilan ter sebut,          para filsuf hukum kema-

syarakatan telah merumuskan teori keadilan tidak dalam istilah-istilah

yang mutlak, tetapi berkaitan dengan peradaban. Nietzsche memahami

keadilan sebagai kebenaran dari orang yang kuat. Sementara Hobbes

mengemukakan konsep yang lain tentang keadilan. Keadilan adalah

apabila perjanjian dilaksanakan sebagaimana mestinya (Muslehuddin,

1991: 170). Lain lagi pendapat Dewey (Muslehuddin, 1991 :78), bagi-

nya keadilan tidak dapat digambarkan dalam pengertian yang terbatas.

Keadilan adalah kebaikan yang tidak berubah-ubah, bahkan persaing-

an adalah wajar dan adil dalam kapitalisme kompetitif-individualistik.

Akhirnya Freidmann (Muslehuddin, 1991 :79) mengomentari, bahwa

kegagalan standar keadilan se lama ini adalah akibat kesalahan standar

dasar pembentuk keadilan itu. Standar keadilan yang mutlak adalah

keadilan dengan dasar agama.

Prinsip keadilan barn dapat dikatakan bersifat universal jika

 

 

52

 

dapat meneakup semua persoalan keadilan sosial dan individual yang

 

53

 

konsep prinsip keadilan menjadi sangat majemuk karena bisa ber-

 

muneul. Universal dalam penerapannya mempunyai

tun tutan-

bentuk konsep teologis, konsep etis, konsep hukum, konsep politik,

 

tuntutannya harus berlaku bagi seluruh anggota masyarakat. Dapat

diuniversalkan dalam               harus menjadi prinsip yang universalitas

penerimaannya dapat dikembangkan seluruh warga masyarakat. Agar

dapat dikernbangkan dan membimbing tindakan warga masyarakat,

maka prinsip-prinsip tersebut harus dapat diumumkan dan dimengerti

setiap orang. Masalah keadilan muneul ketika individu-individu yang

berlainan mengalami kontlik atas kepentingan mereka, maka prinsip-

prinsip keadilan harus mampu tampil sebagai pemberi keputusan dan

penentu akhir bagi perselisihan masalah keadilan. Prinsip keadilan

yang dapat diterima seluruh masyarakat akan menjadi prinsip keadilan

yang bukan sekedar lahir dari kata “setuju”, tetapi benar-benar meru-

pakan jelmaan kesepakatan yang mengikat dan mengandung isyarat

komitmen menjaga kelestarian prinsip keadilan tersebut. Dengan

demikian seseorang kemudian mempertimbangkan “biaya psikologis”

yang harus ditanggung dalam memenuhi kompensasi kesepakatan

pengikat gerak sosial dan individual terse but.

Konsep keadilan, bahkan konsep kepastian dan kebenaran akan

selalu berevolusi, oleh karena itu keadilan harus mampu melakukan

interaksi sirkular dengan perkembangan ilmu-ilmu lain, antara lain

teologi, ideologi, dan teknologi. Perkembangan keadilan di Barat

misalnya, konsep keadilan yang pad a mulanya sifatnya                            mytologica I,

pada masa ini keadilan hanya terdapat pada para dewa. Aristoteles dan

Plato kemudian mengembangkan konsep keadilan tersebut menjadi

intelektual-rasional. Keadilan kemudian dikaitkan dengan institusi dan

kolektifitas kehidupan manusia.

Perubahan konsep keadilan dari waktu ke waktu lebih banyak

terjadi pada dataran operasional, sedangkan sifatnya selalu statis dan

politis. Dari konsep perubahan dan dengan berpegang pada konsep

“hak” kemudian dikembangkan diferensiasi jenis keadilan. Tantangan

utama dalam pembentukan prinsip keadilan di zaman sekarang ini

adalah bagaimana meneari eelah di antara benturan liberalisme dan

sosialisme,      terutama     yang    menyangkut      perkembangan ekonomi,

sehingga keadilan menjadi erat kaitannya dengan ekonomi. Artinya

konsep sosiologis, dan konsep ekonomi.

 

 

2. Hukum dan Keadilan

Tujuan akhir hukum adalah keadi lan.         Oleh karena itu, segala

usaha yang terkait dengan hukum mutlak harus diarahkan untuk

menemukan sebuah sistem hukum yang paling coeok dan sesuai

dengan prinsip keadilan. Hukum harus terjalin erat dengan keadilan,

hukum adalah undang-undang yang adil, bila suatu hukum konkrit,

yakni undang-undang bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan,

maka hukum itu tidak bersifat normatif lagi dan tidak dapat dikatakan

sebagai hukum lagi. Undang-undang hanya menjadi hukum bila

memenuhi prinsip-prinsip keadilan. Dengan kata lain, adil merupakan

unsur konstitutif segala pengertian tentang hukum (Huijbers, 1995:

70).

Sifat adil dianggap sebagai bagian konstitutif hukum adalah

karena hukum dipandang sebagai bagian tugas etis manusia di dunia

ini, artinya manusia wajib membentuk hidup bersama yang baik

dengan mengatumya secara adil. Dengan kata lain kesadaran manusia

yang timbul dari hati nurani tentang tugas suei pengemban misi

keadilan secara spontan adalah penyebab mengapa keadilan menjadi

unsur konstitutif hukurn. Huijbers menambahkan alasan penunjang

mengapa keadilan menjadi unsur konstitutifhukum:

A.  Pemerintah negara manapun selalu membela tindakan dengan

memperlihatkan keadilan yang nyata di dalamnya

 

B. Undang-undang yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ke-

adilan seringkali dianggap sebagai undang-undang yang telah

usang dan tidak berlaku lagi .

 

C. Dengan bertindak tidak adil, suatu pemerintahan sebenamya

bertindak di luar wewenangnya yang tidak sah seeara hukum.

54

 

Konsekuensi pandangan kontinental sistem tentang nilai keadil-

an: hukum adalah undang-undang yang adil , adil merupakan unsur

konstitutif dari segala pengertian hukum, hanya peraturan yang adil

yang disebut hukum:

a. hukum melebihi negara .     Negara (pemerintah) tidak boleh

membentuk hukum yang tidak adil. Lebih percaya pada prinsip-

prinsip moral yang dimuat dalam undang-undang dari pada

kebijaksanaan manusia dalam bentuk putusan-putusan hakim.

 

b. sikap kebanyakan orang terhadap hukum mencerminkan pe-

ngertian hukum ini, yaitu hukum sebagai moral hidup (norma

ideal).

 

c.  prinsip-prinsip pembentukan hukum (prinsip-prinsip keadilan)

bersifat etis, maka hukum sebagai keseluruhan mewajibkan

secara batiniah.

Ungkapan tersebut sejalan dengan komentar Khan (1978:7),

Professor and Head Department of Political Science Univesity of

Sind:

Every    state has undertaken           to eradicate the scourges of

 

55

 

tindakan kekerasan belaka (Huijbers, 1995: 71).

Dalam bidang hukum, keadilan menjadi tugas hukum atau

merupakan kegunaan hukum. Keadilan yang menjadi tugas hukum

merupakan hasil penyerasian atau keserasian antara kepastian hukum

dengan kesebandingan hukum. Secara ideal kepastian hukum meru-

pakan pencerminan azas tidak merugikan orang lain, sedangkan kese-

I bandingan hukum merupakan pencerminan    azas bertindak sebanding.

Oleh karena keserasian antara kepastian hukum dengan kesebandingan

hukum merupakan inti penegakan hukum, maka penegakan hukum

sesungguhnya dipengaruhi oleh:

a. Hukum itu sendiri

 

b.  Kepribadian penegak hukum

 

c. Fasilitas kesadaran dan kepatuhan hukum masyarakat

 

d. Taraf kesadaran dan kepatuhan hukum masyarakat

 

e. Kebudayaan yang dianut masyarakat (Soekanto, 1988:

29).

Penegakan hukum bukan tujuan akhir dari proses hukum karena

 

ignorance disease, squalor, hunger and

type of injustice

keadilan belum tentu tercapai dengan penegakan hukum, padahal

 

among its citizens so that everybody may pursue a happy life in a

way .

Dari ungkapan tersebut tergambar sebuah pengertian, bahwa

tujuan akhir hukum berupa keadilan harus dicapai melalui sebuah

institusi legal dan independen dalam sebuah negara. Hal tersebut

menunjukkan pentingnya mewujudkan keadilan bagi setiap warga

negara (manusia) sebagai orientasi hukum. Terutamasetelah perang

dunia kedua, seringkali akibat pengalaman pahit yang ditinggalkan

kaum Nazi yarig menyalahgunakan kekuasaannya untuk membentuk

undang-undang yang melanggar norma-norma keadilan, makin banyak

orang yang sampai pada keyakinan bahwa hukum harus berkaitan

dengan prinsip-prinsip keadilan    ,untuk dapat   dipandang sebagai

hukum. Bila tidak, maka hukum hanya pantas disebut sebagai

tujuan akhimya adalah keadilan . Pemyataan di atas merupakan isyarat

bahwa keadilan yang hidup di masyarakat tidak mungkin seragam.

Hal ini disebabkan keadilan merupakan proses yang bergerak di antara

dua kutub citra keadilan. Naminem Laedere semata bukanlah keadilan,

demikian pula Suum Cuique Tribuere yang berdiri sendiri tidak dapat

dikatakan keadilan. Keadilan bergerak di atara dua kutub tersebut.

Pada suatu ketika keadilan lebih dekat pada satu kutub, dan pada saat

yang lain, keadilan lebih condong pada kutub lainnya.

Keadilan yang mendekati kutub Naminem Laedere adalah pada

saat manusia berhadapan dengan bidang-bidang kehidupan yang ber-

sifat netral. Akan tetapi jika yang dipersoalkan adalah bidang kehidup-

an spiritual atau sensitif, maka yang disebut adil berada lebih dekat

dengan kutub   Suum Cuique Tribuere.   Pengertian tersebut meng-I

 

56

 

isyaratkan bahwa hanya melalui suatu tata hukum             yang adil orang-

orang dapat hidup dengan damai menuju suatu          kesejahteraan jasmani

maup un ro hani.

Para  sarj ana Inggris dan Amerika dalam memegang prinsip ke-

adilan     lebih banyak diwarnai deng an filsafa t                      emp irisme dan prag-

matisme.      Pada intinya pandangan ini beranggapan                      bahwa kebenaran

berasal    dari penga laman       dan praktek hidup.          Karenanya yang diutama-

kan dalam menangani hukum adalah hubungan                      dengan realitas hidup,

bukan dengan prinsip-prinsip abstrak tentan g kead ilan. Oleh karena itu

adil dan tidak adil tidak       terpengaruh    oleh pen gerti an    tentang hukum,

tetapi lebih banyak diwarn ai oleh realitas pragmatis. Konsekuensi

pandangan ini adalah:

1. Pada prinsipnya       hukum tidak melebi hi      negara (yang dianggap

sama  dengan rakyat) .    Hukum adalah    sarana  pemerintah untuk

mengatur masyarakat secara adi!, tidak ada instansi yang lebih

tinggi     dari   hukum.    Karena kemu ngkinan       dari ketidakadilan

tetap  ada, diharapkan   bahwa dalam    praktik hukum keyakinan-

keya kinan  rakyat dan kebijaksanaan      para hakim menghindari

penyimpangan yang terlalu besar.

 

2. Hukum     adalah apa yang berlaku      de fa cto.         dan itulah akhirnya

tidak lain daripada keputusan hakim dan juri rakyat. Sementara

rakya t  juga menyadari bahwa hukum tak lain dari apa yang

telah ditentukan .

 

3. Menurut aliran emp irisme,         hukum sebagai sistem tidak rnew a-

ji bkan   secara batiniah, sebab tidak dipandang sebagai bag ian

tugas   etis manusia. Hukum harus ditaati sebab ada sanksi bagi

pelanggaran      berupa     hukuman,     sedangkan     ketaatan    secara

batiniah     lebih banyak        di sebabkan    oleh keyakinan agama

(Huijbers,    1995: 70).

Seoran g   filsuf hukum Amerika Latin Louis Recasens Siches

mengatakan   bahwa di satu sisi kepastian dan keamanan merupakan

tuj uan primer   dan mendesak bagi hukum, di lain sisi keadilan haru s

diusahakan oleh para pembuat hukum sebagai tujuan akhir yang           lebih

 

57

 

jauh.    Hukum tidak      dilahirkan untuk manusia karena alasan ingin

memberikan upeti atau penghormatan kepada teori keadilan, tetapi

untuk memenuhi urgensi yang               tidak    bisa dihindarkan bag i          keamanan

dan kepastian kehidupan              sosia!. Pertanyaan tentang sebab musabab

. manusia membuat hukum tidak dijawab dalam struktur teori keadilan,

akan tetapi dalam sebuah               nilai yang lebih rendah,              keamanan adalah

sesuatu yang lebih coc ok bagi manusia (Muslehuddin, 1991: 38) .

Bodenheimer (Muslehuddin,        1991:38) mengatakan, “ada kera-

guan serius”, apakah sistem sosial yang memenuhi syarat-syarat ke-

pastian aturan    atau hukum bisa      efektif tanpa kehadiran unsur yang

substansial yaitu keadilan. Jika                 rasa keadilan sebagian besar masya –

rakat dihina dan diperkosa oleh sebuah sistem yang mengaku hukum

untuk menegakkan kondisi-kond isi                hidup yang sesuai dengan aturan,

maka otoritas publik akan mengalami kesulitan dalam menjaga sistem

hukum melawan usaha-usaha subversif.

Or ang-orang       tidak akan bertahan lama menghadapi                           sebua h

tatanan yang mereka rasa sama sekali tidak sesuai dan tidak masuk

aka!. Pemerintah yang memp ertahankan           aturan semacam itu akan

terjerat dalam kesulitan-kesul itan       serius dalam pelaksanaannya. Arti-

nya ,   sebuah tatanan yang            tidak    berakar      pada    keadilan sama arti nya

dengan bersandar pada landasan yang tidak aman dan berbahaya.

Sebagaimana diungkapkan John Dickinson “Ki ta            tidak hanya    mem-

butuhkan sebuah sistem peraturan umum yang bercampur baur, tetapi

aturan    yang berdasarkan         pada prinsip keadilan” (Muslehuddin, 1991:

38).

 

 

F. KEADILAN MENURUT FILSAFAT HUKUM ISLAM

 

1. Ruang Lingkup Hukum Islam

Membicarakan hukum Islam berarti berbicara Islam itu send iri,

sebab memisahkan antara hukum Islam dengan Islam adalah                              ses uatu

yang mustahil, selain hukum Islam itu bersumber dari agama Islam,

hukum Islam juga tidak dapat dipisahkan dari iman dan kesusilaan

 

 

58

 

(akhlak). Sebab ketiga komponen inti ajaran Islam yakni iman,

hukum, dan akhlak adalah satu rangkaian kesatuan yang membentuk

agama Islam itu sendiri (Ali, 1996: 18).

Setelah mengkristal menjadi Islam dan diturunkan ke muka

bumi, maka Islam menjadi                   rahmatan      1iI   ‘dlamin      yang mencakup

seluruh aspek kehidupan. Aspek kehidupan itu sendiri terdiri atas tiga

bagian pokok      (Cardinal Subject Matter)          yaitu Tuhan      (Theology),

manusia   (Anthrophology), dan alam       (Cosmology).     Kumpulan ajaran-

ajaran pokok Islam tersebut terangkum – baik tersurat maupun tersirat-

dalam al-Quran dan Hadis yang membentuk sebuah ajaran tentang

Islam yang lazim disebut            ‘aqidah.  Akhimya akidah juga terbagi

menjadi tiga bagian, akidah tentang Tuhan, akidah tentang manusia,

dan akidah tentang alam. Selama ini pemahaman tentang akidah

dibatasi pada bagian        tauliid   menyangkut Tuhan, Malaikat, Rasul,

Kitab, Takdir, dan hari kiamat, padahal akidah menyangkut totalitas

masalah ten tang ke-Tuhanan , ke-alaman, dan kemanusiaan.

Akidah ten tang Tuhan adalah ekspresi teoritik yang berwujud

 

59

 

demikian apa yang dimuat dalam al-Quran kaitannya dengan hubung-

an hubungan keseimbangan temyata jauh lebih luas dari anggapan

selama ini, bahwa hubungan keseimbangan hanyalah pelayanan

sesama manusia untuk manusia lainnya (Sabiq, 1996: 28).

Dari proses aktualisasi ajaran Islam kemudian melahirkan nilai,

nilai ini yang umum dikatakan ibadah, maka ibadah-pun kemudian

terbagi ke dalam tiga kategori. Ibadah kepada Tuhan, ibadah melalui

manusia, dan ibadah lewat alam.          Ibadah kepada Tuhan adalah nilai

pengabdian yang secara langsung dijalankan berdasarkan tuntunan

akidah syariat, sedang ibadah melalui manusia adalah nilai yang

terkandung dalam pelayanan kepada sesama manusia.

Pelayanan yang telah berbentuk nilai ibadah, menjadi nilai yang

berhubungan langsung antara manusia dengan Tuhan, dan nantinya

kembali juga kepada manusia. Sedangkan ibadah lewat alam adalah

nilai yang terkandung dalam pelayanan terhadap alam (lingkungan

hidup), nilai ini juga menjadi nilai yang berguna bagi manusia dalam

hubungannya dengan Tuhan, dan nantinya kembali kepada manusia

 

keyakinan   (faith)  atau pemikiran

tentang Tuhan, sedangkan

juga baik dalam konteks kehidupan dunia maupun kehidupan sesudah

 

akidah tentang manusia yakni ekspresi teoritik yang berwujud keya-

kehidupan dunia (akhirat).

 

kinan

atau pemikiran

ten tang manusia, dan akidah

Akidah, muamalah, dan ibadah adalah gerakjiwa raga manusia.

 

tentang alam adalah ekspresi teoritik yang berwujud keyakinan (faith)

atau pemikiran     (thought)   tentang alam ,    selain alam manusia sendiri

(Sabiq, 1996: 25). Ikatan akidah terse but perIu diaktualisasikan dalam

tindakan nyata yang biasa disebut muamalah. Muamalah bukanlah hal

yang hanya bertalian antara manusia dengan manusia, tetapi seluruh-

nya dijangkau, yakni muamalah terhadap Tuhan, muamalah terhadap

manusia, dan muamalah terhadap alam.

Muamalah terhadap Tuhan, yakni ekspresi sosiologik yang

berwujud pelayanan terhadap kehendak Tuhan di alam ini, yang

sasarannya adalah manusia juga, muamalah terhadap manusia adalah

ekspresi sosiologik yang berwujud pelayanan terhadap sesama manu-

sia, sedangkan muamalah terhadap alam adalah ekspresi sosiologik

yang berwujud pelayanan terhadap alam, dan sasarannya adalah

manusia juga. Dengan kata lain al-Quran membawa ajaran yang

memuat aspek-aspek jasa terhadap Tuhan, alam dan manusia. Dengan

Sebagai muslim, keseluruhan gerak jiwa raga tersebut diatur dengan

suatu perangkat yang disebut hukum Islam. Meyakini Islam berarti

terikat dengan hukum Islam itu sendiri, sedangkan hukum Islam hanya

akan berwujud manakala hukum tersebut diterapkan               (tanjidz)    oleh

perneluk-pemeluknya        dengan      dorongan      batin     yang     kuat     (As-

Shiddieqy, 1993: 153).

Tatanan keseimbangan tersebut bersifat supranatural dan amat

mendukung kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam kehidupan

sehari-hari, dengan sifat gandanya; universal dan abadi. la tetap sama

untuk segala zaman dan untuk semua orang. Jakson, sebagaimana di

kutip Muslehuddin (1991, 48) mengungkapkan:

Hukum Islam menemukan sumber utamanya pada kehendak

Allah sebagaimana diwahyukan kepada Nabi Muhammad. la mencip-

takan sebuah masyarakat mukmin, walaupun mereka mungkin terdiri

 

60

 

atas berbagai suku dan berada di wilayah yang amat jauh terpisah.

Agama, tidak seperti       nasionalisme atau geografi, merupakan kekuatan

kohesif utama . Negara itu sendiri berada di bawah                  (subordinate)     al-

Quran, yang memberikan ruang gerak sempit bagi pengundangan

tambahan, tidak untuk dikritik maupun perbedaan pendapat. Dunia ini

hanya dipandang sebagai ruang depan bagi orang lain dan sesuatu

yang lebih baik bagi orang yang beriman. Al-Quran juga menentukan

aturan-aturan bagi      tingkah laku menghadapi orang-orang lain maupun

masyarakat untuk menjamin sebuah tradisi yang aman . Tidak mungkin

memisahkan teori -teori       politik dan keadilan dari ajaran-ajaran Nabi

yang menegaskan aturan-aturan tingkah laku , baik mengenai kehidup-

an beragama,       keluarga ,   sosial dan politik. Ini menimbulkan hukum

tentang      kcwajibankcwajiban daripada             hak-hak,     kewajiban moral

mengikat individu, dari mana tidak (otoritas bumi yang) bisa mernbe –

bastugaskannya,      dan orang yang tidak mentaati akan merugikan

kehidupan masa mendarang”.

Selama ini sepertinya orang sepakat bahwa hukum hanya

mengatur urusan manusia dengan manusia yang lain dan hukum baru

ada setelah adanya manusia , yang berarti pula hukum hanya ada dalam

masyarakat manusia dan seolah-olah hukum di luar masyarakat

manusia tidak pernah ada . Akan tetapi kalau kita mempunyai pendapat

bahwa hukum itu mempunyai fungsi mengurus tata tertib masyarakat,

maka tentu kita harus pula mengakui bahwa setiap masyarakat yang di

dalamnya  terjadi tata tertib adalah diatur oleh hukum. Berarti hukum

ada dalam masyarakat yang di dalamnya tcrdapat tata tertib. Apabila

kita memberikan arti kepada kata masyarakat          sebagai suatu keadaan

berkumpul bersarna-sarna        dalam suatu tcmpat yang tertentu dan

menjalankan fungsinya masing-masing, maka keadaan bermasyarakat

itu bukan saja terjadi pad a masyarakat manusia, tetapi juga pada

seluruh masyarakat yang maujud ini. Ada masyarakat benda mati,

masyarakat tumbuh-tumbuhan, masyarakat binatang, dan masyarakat

yang lebih luas yaitu masyarakat tata surya.

Dalam masyarakat tersebut di atas terlihat adanya tata tertib.

Hukum   Archimedes dalam ilmu fisika menunjukkan adanya hukum

masyarakat benda mati,          yang mengatur tata           tertib benda cair,

 

61

 

Beragamnya tumbuh-tumbuhan yang hidup di daerah dan iklim yang

berlainan        menunjukkan          adanya       hukum       tumbuh-tumbuhan,            yang

mengatur tata tertib flora. Adanya          unta di padang pasir dan adanya

kerbau terse bar di seluruh dun ia          adalah tanda adanya hukum yang

mengatur tata tertib fauna. Timbulnya matahari setiap pagi disebelah

timur dan terbenam di sebelah barat,              menunjukkan    adanya hukum

dalam perputaran dan peredaran bumi , yang mengatur tata tertib tata

surya (Abdoerraoef, 1998: 3).

Pengertian di atas menunjukkan bahwa ada tata tertib di luar

masyarakat manusia. Hukum menurut al-Quran jauh lebih luas                 dari

pada hukum yang diartikan oleh sebagian besar ahli hukum selama ini .

Orang Barat memberikan istilah pada hukum yang mengatur               seluruh

gerak dan tata tertib benda mati dan hidup sebagai                     Natural Law

(Nashr,    1981: 12), dan dalam Islam discbut Sunnatullah.      Sunnatullah

adalah ketentuan-ketentuan      atau hukum-hukurn Allah yang berlaku

untuk alam semesta yang menjadi sebab keserasian hubungan antar

benda yang ada di dalamnya termasuk manusia (Ali ,          1996: 20). Akan

tetapi ada perbedaan antara hukum yang ada dalam masyarakat

manusia dcngan hukum di luar masyarakat manusia. Pcrbedaan itu

ditimbulkan oleh berbedanya objek yang diatur oleh hukum itu

masing-masing. Benda mati dan tumbuh-tumbuhan tidak memiliki

pengalaman psikis, karena kedua makhluk ini memang tidak mern-

punyai alat untuk terbentuknya pengalaman psikis. Walaupun bina-

tang nampak memiliki alat untuk membentuk pengalaman psikis,

seperti otak dan susunan syaraf,          akan tetapi tingkah lakunya sudah

ditentukan oleh naluri        (instinc).    Seekor burung tidak perlu mencari

pengalaman dan belajar untuk membuat sarangnya, tumbuh-tumbuhan

tidak perlu belajar dan mencari pengalaman bagaimana caranya

tumbuh dan berkernbang. Karena tidak adanya unsur alat untuk men-

jadikan pengalaman psikis, maka untuk alam masyarakat benda mati,

tumbuhan, dan hewan Allah menjadikan hukum bagi mereka tidak

berubah-ubah (konstan).

Manusia sebagai subyek sekaligus objek hukum Islam meme-

gang peranan sentral dalam aktualisasi hukum Islam yang selalu mem-

perhatikan bentuk keseimbangan di segala bidang, bukan hanya

 

 

62

 

keseimbangan antara hubungan manusia dengan manusia, tetapi lebih

jauh dari itu keseimbangan antara manusia den gan                       alam, dan manusia

dengan Tuhan. Hukum Islam dikatakan meny angkut              seluruh aspek

yang maujtid didasarkan pada asumsi bah wa ke seimbangan yang ada

di seluruh alam adalah tata tertib hukum All ah SWT (sunnatullah)

yang wajib diyakini kebenarannya.

Dengan dasar pengertian di ata s, sunnatu llah menjadi penting

untuk ditelaah, bagairnana bentuk keseimbangan itu, hubungan bagai-

man a yang dapat menjaga keseimbangan . M empelajari sunnatullah tak

beda pentingnya dengan mempelajari hukum ,                karena sunnatullah

sendiri adalah hukum. Akan tetapi, manusia                  bagaimanapun tetap

dibatasi oleh sifat       insdniyyahtvye;   sehingga banyak hal yang terkait

dengan sunnatullah tidak mampu ditelaah,           akhirnya ada sunnatullah

yang tetap menjadi misteri sampai hari kiamat. Agar tujuan tersebut

dapat tercapai ,      tentulah manusia harus patuh dan taat terhadap

peraturan-peraturan yang telah ditentukan oleh hukum itu. Lantas

timbul pertanyaan,     bagaimana agar orang Islam mau patuh terhadap

hukum Islam, dan menjadikannya sebagai way oflife.

Kepatuhan seseorang terhadap hukum dipengaruhi oleh dua

faktor.   Perta 111a,   faktor internal, ya itu        dorongan yang timbul dari

dalam diri manusia itu sendiri. Kedua , faktor ekstern al, yaitu dorongan

yang timbul sebab adanya pengaruh un sur dari luar diri manusia.

Faktor     internal     yang     mempengaruhi      kepatuhan     seseorang

terhadap hukum adalah jiwa orang itu sendiri. P ertanyaan           selanjutnya

adalah bagaimana mengatur jiwa seseorang                 agar mau mematuhi

hukum. Persoalan ini tentu tidak dap at            dibicarakan oleh hukum itu

sendiri, sebab hukum tidak mengatur perbuatan               orang secara batin

(jiwa) dan fikiran, hukum hanya mengatur perbuatan secara lahir saja.

Akan tetapi al-Quran mengatur perkembangan jiwa manusia, maka

berarti al-Quran memberikan dasar supaya hukum dipatuhi oleh

manusia berdasarkan kesadaran hukum dalam jiwanya.

Kesan yang timbul se lama ini sepertinya ilmu hukum membiar-

kan saja jiwa manusia berkembang apa adanya, tetapi di samping itu

menuntut pula supaya dalam jiwa manusia ada kesadaran untuk me-

matuhi hukum, mungkin kesan itu akibat renaissance yang membuat

 

63

 

manusia mabuk oleh kemerdekaan formil ,         sehingga manusia berbuat

dalam masyarakat den gan         kebe bas an penuh,      tidak perIu diatur.

. Akibatnya nafsu    menjadi raja gerak langkah manusia yang mendapat

kekuatan dari kekuasaan masyarakat.

Apabila    hawa nafsu manusi a     tidak diatur,     maka yang timbul

adalah kesewenang-wenangan, yang             kua t men indas      yan g   lemah

akibatnya kesejahteraan tidak akan     terwujud. Oleh sebab itu harus        ada

peraturan yang membawa hawa nafsu seseorang ke arah perkernbang-

an yang positif,       sehingga manusia mempunyai        jiwa yang tidak lagi

menindas pihak yang lemah hanya untuk memuaskan hawa nafsunya .

Artinya penanaman jiwa kesadaran mematuhi hukum yang ada harus

didahulukan sebelum dikenalkan pada hukum itu sendiri .

Di samping unsur jiwa, faktor lain yang mempengaruhi kepa-

tuhan seseorang terhadap hukum adalah faktor hukum dan akibat

pelanggaran hukum itu sendiri. Dengan kata lain, unsur di luar diri

manusia juga memerlukan perhatian serius. I-Iukum sebagai penyebab

kepatuhan eksternal harus disosialisasikan ke dalam jiwa manusia,

sehingga perternuan dua unsur kepatuhan hukum dapat melahirkan

tindakan yang sesuai dengan kehendak hukum, sebab pelanggaran

hukum mengakibatkan sanksi yang dengan kesadaran penuh berusaha

untuk dihindari.

 

 

2. Hukum Islam dan Keadilan

Dalam pandangan filsafat , tujuan akhir hukum adalah keadilan.

Kaitannya dengan hukum Islam,         keadilan yang harus dicapai mesti

mengacu pada pedoman pokok agama Islam, yaitu al-Quran dan

Hadis. Artinya tujuan keadilan melalui jalur hukum harus berawal dari

dua segi dan mengarah kepada keadilan dua segi pula. Dikatakan

berawal dari dua segi karena pedoman              Islam berupa al-Quran dan

Hadis di satu segi harus mampu menyatu              dengan pedoman prinsip

keadilan secara umum menurut pandangan manusia di lain segi . Tugas

awal yang kemudian dihadapi adalah upaya formulasi al-Quran dan

Hadis   –    khususnya    yang berkaitan dcngan hukum – agar mampu

tampil sesuai dengan prinsip keadilan secara              umum.   Perpaduan dua

 

 

64

 

segi ini diharapkan menj ad i produk st an dar pand uan     mencari keadilan

lewat jalur hukum. Pada akhimya p edom an tersebut mamp u menjadi

standar hukum universal            yang mampu       tampil di      m anapun    dan   kap an-

pun sesuai dengan    fitrah diturunkannya Islam ke muka b umi.

Maksud da ri      muara ke adilan dua segi adalah tujuan akh ir

berupa keadilan yang harus dicap ai oleh sebuah sistem hu kum univer –

sal mesti berorientasi       pada keadil an  terhadap manusia (makhluk ) dan

keadilan kep ada  Allah (kh a liq) . Keadilan bagi manusia me ngarah pad a

berbagai defini si       keadilan yang      bukan tidak mung kin antara satu

masyarakat manu sia      den gan   lainnya bcrbeda dalam mengartikan

keadilan hukum. Artinya            fleksibelitas      prod uk keadi lan mutlak         diperlu –

kan   dalam het erogenitas       manusia    d an lingkungannya, sedangkan

muara keadilan kep ada     Allah ad alah produk hukum yang          ada tetap

menempatkan All ah    scsuai   dengan   propo rsi-N ya sebagai T uhan , dan

kegiatan manu sia       dal am   upaya for mul asi tuj uan        hukum be ru pa keadil –

an juga tetap berada dalam koridor ibadah kepada-Nya.

Pendapat      sc maca m ini sejalan dengan ung ka pa n Fri edmann,

bahwa “selama standa r prin sip ke adil an tidak berpegang pada agama,

maka pedoman itu tid ak akan mencapa i titik ideal          prinsip   keadilan”.

Padahal sebuah prin sip             adalah standar          yang tidak        pemah     berubah .

Perubahan hanya ada pada tataran operasional yang me ng eliling inya.

Pengertian hukum Islam       y an g dcmikian   luas   dengan   b erb agai

hal    yang     terkait     dengannya     m enj ad i  singkat     dalam    ungkapan

MacDonald yan g        menyebut hukum Isla m adalah                “the   science   of  all

things,  human and devine”    (Mac Don ald ,   1965: 66).       Pandan gan

MacDonald tersebut merupakan kri stal isa si d ari sistem hukum Islam

yang mampu melihat     pluralitas sebaga i real itas emp iris . Plural di sini

bukan hanya manusia dalam bentuk hub unga ll garis horizontal , tetapi

plural yang menyangkut               hubungan hor izontal           dan vertikal. Isyarat

keadilan hukum yang dikehendaki Allah tertuan g d alam firman-Nya:

“Hai orang-orang      yang beriman,      hendaklah    kamu j adi    oran g-

orang yang      selalu    menegakkan      (kebcnaran) kare na Allah, menjadi

saksi dengan     adil. Dan janganlah sekali-kali             keb encianmu    terhadap

sesuatu kaum,      mendorong     kamu untuk      berlaku    tidak adil.      Berlaku

adillah, karena adil itu lebih dekat               kepada takwa. Dan        bertakwalah

65

 

kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yan g kamu

perbuat” (QS. Al Ma-idah: 8).

Ayat di atas turun berawal dari                  peristiwa yang menimpa

Nu’man Bin Basyir. Pada suatu ketika Nu’man             Bin Basyir     mendapat

suatu pemberian dari ayahnya, kemudian Umi Umrata binti Rawahah

berkata “Aku tidak akan ridha sampai peristiwa ini disaksikan oleh

Rasulullah”. Persoalan itu kemudian dibawa ke hadapan Rasulullah

SAW. untuk disaksikan.          Rasul kemudian berkata         “Apakah semua

anakmu mendapat pemberian yang sama?”               Jawab    ayah Nu ‘man

“Tidak”. Rasul berkata lagi “Takutlah          eng ka u kepada Allah dan ber –

buat adillah engkau kepada anak-anakrnu “.        Sebagian    perawi menye-

butkan , “Sesungguhnya aku tidak mau menj adi       saksi dalam kecurang-

an”. Mendengar jawaban itu lantas ayah Nu’man pergi dan me m-

batalkan pemberian kepada Nu ‘man (HR. Bukhari Muslim).

Esensi ayat tersebut di atas adalah se man gat menegakkan ke-

adilan kepada siapapun tanpa pandang bulu. Islam memiliki standar

keadilan yang mutlak dengan penggabungan norma dasar Ilahi dengan

prinsip dasar keadilan insani. Hukum diterapkan kepada semua orang

atas dasar persamaan, tidak dibedakan antara yang kaya dengan yang

miskin , antara kulit hitam dengan kulit putih, antara penguasa dengan

rakyat jelata. Keadilan hukum juga diterapkan dalam lapangan ke-

seimbangan kescjahteraan imbalan atas jasa,             dalam artian keseim-

bangan antara ‘hak dan kewajiban. Kehidupan majemuk dalam ma sya –

rakat menuntut keadilan ditegakkan dengan cara setiap individu

terpenuhi haknya , baik hak jasmani maupun hak rohani, material mau-

pun spiritual. Setiap individu berhak untuk mengekploitasi kemarn-

puan dan bakatnya bagi kepentingan pribadi dan masyarakatnya.

Keadilan dalam Islam m erupakan        pcrpaduan harmonis antara

hukum dengan moralitas, Islam tidak bertujuan untuk menghancurkan

kebebasan individu, tetapi mengontrol keb ebasan itu demi keselarasan

dan harmonisasi masyarakat yang terdiri dari individu itu sendiri.

Hukum Islam memiliki peran dalam mendamaikan pribadi dengan

kepentingan kolektif, bukan sebaliknya. individu diberi hak untuk

mengembangkan hak pribadinya d engan            syarat tidak mengganggu

 

 

 

 

kepentingan orang ban yak

 

66

 

67

 

dengan negara lain harus didasarkan pada prinsip k.ebersamaan dan

 

Syariat Islam adalah kode hukum dan kode moral sekaligus.

Syariat Islam merupakan pola yang luas tentang tingkah laku manusia

yang berasal dari otoritas kehendak Allah yang tertinggi, sehingga

garis pemisah antara hukum dan moralitas sama sekali tidak bisa

ditarik secara jelas seperti pada masyarakat Barat pada umumnya.

Itulah sebabnya mengapa kepentingan dan signifikansi semacam ini

melekat dalam pengambilan keputusan hukum dalam Islam (Djamil,

1997:154).

Dalam     meletakkan     aturan-aturan     universal      bagi perbuatan

manusia, Allah menjadikan norma dan moralitas hukum sebagai

landasannya (Syah, (ed)., 1992: 163). Dengan adanya standar moral

Islam itulah, maka lapangan pergeseran moral dalam Islam menjadi

sangat sempit. Artinya, pergerakan ke arah keburukan selalu dihadang

dari berbagai arah dengan standar aturan baik dan buruk menurut

hukum Islam.

Basyir (1984: 27-31) menganulir tujuan hukum Islam sebagai:

Pertama,    pendidikan pribadi, pendidikan pribadi dimaksudkan untuk

menjadikan individu sebagai manusia yang berguna bagi dirinya

sendiri dan masyarakatnya. Dicontohkan, orang yang menjalankan

puasa dididik pribadinya untuk menjadi orang yang mempunyai kepe-

kaan   sosial.     Kedua,     menegakkan keadilan, keadilan yang harus

ditegakkan meliputi keadilan pribadi, keadilan hukum, keadilan sosial,

dan keadilan dunia. Keadilan pribadi diartikan sebagai setiap individu

berkewajiban untuk memenuhi standar kebutuhan pribadinya, baik

yang menyangkut hak jasmaniah maupun ruhaniah. Hak jasmaniah

menyangkut hak atas pangan, sandang, dan papan yang memenuhi

standar kesehatan. Sedangkan hak ruhaniah meliputi pemenuhan

kebutuhan pendidikan, kebutuhan akan ajaran agama agar dipenuhi

sebagaimana mestinya. Keadilan hukum adalah keadilan setiap indi-

vidu di depan hukum. Setiap individu mempunyai hak dan kewajiban

yang sama di depan hukum. Sedangkan keadilan sosial berarti indi-

vidu sebagai anggota masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang

harus dipenuhi secara seimbang. Keadilan dunia merupakan keadilan

hubungan antar negara di dunia. Setiap negara dalam hubungannya

kesamaan hak dan kewajiban.

Ketiga,    memelihara kebaikan hidup, hukum Islam bertujuan

untuk mewujudkan kebaikan hidup hakiki, semua yang menjadi

kepentingan hidup manusia diperhatikan. Sedangkan kepentingan

manusia menuju hidup hakiki dibagi menjadi tiga hal:

a. Kepentingan esensial        (al-Mashdlih adh-Dharuriyalu,        yaitu ke-

pentingan yang mutlak dibutuhkan oleh manusia dalam hidup-

nya. Kepentingan itu meliputi kepentingan agama, kepentingan

memelihara jiwa, kepentingan memelihara harta, kepentingan

memelihara akal, dan kepentingan memelihara keturunan.

 

b. Kepentingan yang tidak esensial                (al-Maslidlih al-Hajiyyah),

yaitu kepentingan yang tidak esensial, akan tetapi dibutuhkan

manusia untuk menghindari         masaqqat.     Misalnya diperboleh-

kannya orang meninggalkan puasa dalam keadaan sakit dan

diperbolehkan        melakukan       perceraian        dalam      kehidupan

perkawinan yang tidak hannonis.

 

c. Kepentingan         pelengkap     ial-Maslrdlih      al-Katndliyahs,      yaitu

kepentingan yang apabila tidak terpenuhi tic1ak akan menim-

bulkan    mudliarat    bagi kehic1upan manusia apalagi merusak

kehidupan manusia. Misalnya mengenakan pakaian yang bagus

ketika pergi ke masjid, mengadakan walimah perkawinan, dan

lain-lain.

Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dari Yang Maha

Adil. kedaulatan hukum Islam adalah milik Allah semata:

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.

Maha Suci Allah, Tuhan semesta alarn” (QS. VII: 54).

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang

diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik

(QS. V: 47).

Kedaulatan Allah berada c1i atas seluruh definisi keclaulatan

yang telah dikemukakan manusia karena Allah merupakan kedaulatan

68

 

bagi seluruh alam dan manusia. Tidak ada kata kecuali Rabb yang bisa

meliputi pengertian kedaulatan Allah. la sebagai penguasa, pelindung,

pemberi harapan, pemberi rejeki , pengatur sekaligus penyernpuma.

Austin, sebagaimana dikutip Muslehuddin (1991: 46) memberi-

kan definisi hukum sebagai perintah dari yang berdaulat, hukum ada-

lah aturan yang ditentukan untuk membimbing manusia oleh manusia

itu sendiri.      Hukum ala Austin terpisah dari keadilan, hukum yang

dulunya berlandaskan baik dan buruk, sekarang diganti menjadi

hukum berdasarkan kekuasaan dari atasan.                            Pengertian ini meng-

isyaratkan bahwa hukum adalah perintah seorang Tiran. Akan tetapi

Allah bukanlah Tiran. Perintah Tuhan merupakan hukum positif, akan

tetapi tetap dalam koridor keadilan,          karena Allah Maha Adil, Maha

Kasih, dan Maha penyayang.

Hukum Islam sebagai jelmaan dari hukum Allah SWT, meru-

pakan perpaduan dari “apa” hukum itu dan “bagairnana” hukum itu

seharusnya. Dengan kata lain, hukum Islam, di samping hukum positif

juga hukum ideal, sebab hukum Islam memandang objek hukum Islam

bukan hanya manusia dengan segala persoalan yang ada di dalamnya.

Akan tetapi hukum Islam menjangkau seluruh aspek keseimbangan

sebagai salah satu unsur keadilan.

 

 

3. Hukum Islam dan Kemaslahatan

Pengetahuan tentang tujuan umum syar’i dalam pembentukan

suatu hukum merupakan hal terpenting untuk memahami nash dan

menerapkannya pad a berbagai kejadian. Pengetahuan tentang tujuan

umum syar ‘i    juga berfungsi untuk mengistimbathkan hukum dalam

permasalahan yang tidak ada nashnya. Kerena sering terjadi bahwa

suatu nash terkadang secara lahiriyah          seperti bertentangan, dan per-

soalan terse but hanya bisa diselesaikan jika kita mengetahui tujuan

umum syar ‘i    yaitu dengan menghilangkan pertentangan tersebut dan

membuat sintesis dari tesis-tesis dan anti tesis nash-nash tersebut atau

mentarjihkan salah satunya.       Nash-nash syar’i juga tidak akan dapat

dipahami dengan benar, jika kita tidak mengetahui maksud umum

.syar’i dalam pensyariatan hukum. Dernikian pula kita harus mengeta-

 

69

 

hui sebab-sebab turunnya suatu hukum terhadap kasus-kasus tertentu

yang terjadi saat itu . Tetapi untuk yang terakhir ini akan dijelaskan

dalam kitab tafsir,     asbabun nuzul     dan sunnah yang sahih. Setidaknya

ada tiga sasaran hukum Islam:

I.   Penyucianjiwa ttazkiyah an-natsy           ./

yaitu agar setiap muslim menjadi sumber kebaikan bagi masya-

rakat lingkungannya. Hal ini diimplementasikan dengan berba-

gai macam bentuk-bentuk ibadah mahdhoh yang disyari’atkan.

 

2. Keadilan sosial

hal ini berlaku baik bagi sesama muslim maupun dengan non

muslim. Firman Allah:         “Dan janganlah sekali-kali kebencian

terhadap suatu kaUlll,      mendorong kamu untuk berlaku tidak

add. Berlaku add lah, karena add itu lebih dekat kepada

taqwa” (al-Maidah:8).

 

3. Kemaslahatan

Maslahat yang dikehendaki Islam adalah maslahat yang hakiki,

dan bukan maslahat yang berdasarkan hawa nafsu. Akan tetapi

maslahat yang hakiki yang menyangkut kepentingan umum,

bukan kepentingan pihak tertentu saja. Maslahat ini mengacu

kepada pemeliharaan terhadap lima hal, yaitu memelihara

agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan (Zahrah, 1994: 543-

548).

Menurut Abdul Wahab Khalaf, tujuan umum syar’i dalam men-

syariatkan hukum-hukumnya ialah mewujudkan kemaslahatan manu-

sia dengan menjamin hal-hal yang         dharuri   (primer),    hajiyyat (sekun-

der), dan     tahsiniyat   (tersier).     Hal yang     dharuriy    ialah sesuatu yang

menjadi landasan berlangsungnya kehidupan manusia yang mesti ada

untuk konsistensi kemslahatan manusia. Apabila tidak ada, maka akan

rusaklah struktur kehidupan manusia, terjadi kekacauan, kerusakan

dan disharmony                                                             dalam kehidupan. Hal-hal yang dharury  bagi manusia

meliputi agama, jiwa, akal, kehormatan, dan harta kekayaan. Menjaga

kelima hal terse but merupakan hal yang dharury bagi manusia.

 

70

 

Hal yang hajiy     adalah sesuatu yang diperlukan manusia untuk

kelapangan dan keleluasaan terhadap beban taklif yang ditanggung-

nya.     Hajiy      mengacu kepada penghilangan kesulitan manusia dan

memberikan keringanan kepada manusia atas                               beban taklif yang

ditanggungnya dan mempermudah bagi manusia untuk melakukan

berbagai mac am perbutan dalam bidang muamalah. Sedangkan tahsini

adalah sesuatu yang dikehendaki oleh moral dan etika terhadap per-

buatan manusia.      Tahsiniy   mengacu pada akhlak yang mulia, adat

istiadat yang baik dan segala sesuatu yang dianggap baik terhadap

perilaku dan perbuatan manusia.

a. Kepentingan esensial (al-Mashdlih adh-Dhaniriyahj

Yaitu kepentingan yang mutlak dibutuhkan oleh manusia dalam

hidupnya. Kepentingan itu meliputi kepentingan agama, kepen-

tingan memelihara jiwa, kepentingan memelihara harta,            kepen-

tingan memelihara akal, dan kepentingan memelihara keturun-

an.

b. Kepentingan yang tidak esensial (al-Masluilih al-Hajiyyah)

Islam telah mensyariatkan hukum-hukum pada bidang tnuatna-

lah, jinayah    dan  ‘ibadah   yang bertujuan untuk menghilangkan

kesulitan dan memberikan kemudahan bagi manusia. Jadi di-

samping memberikan pembebanan (taklif),     islam juga memberi-

kan keringanan ketika bentuk-bentuk taklif tersebut tidak dapat

dilaksanakan secara penuh karena adanay kondisi atau keadaan

yang tidak memungkinkannya dilaksanakan perbuatan tersebut.

Dalam bidang ibadah, Islam memsyariatkan adanya            rukhshah

untuk memberikan keringanan kepada        mukallaf,   apabila terda-

pat kondisi yang memberatkan mereka. Bentuk rukhshoh terse-

but yaitu kebolehan untuk berbuka untuk orang yang sakit atau

berada dalam perjalanan, kebolehan untuk          mengqoshor     shalat

bagi orang yang bepergian, kebolehan untuk tayammum apabila

tidak ditemukan air, dan rukhshoh-rukhshoh lainnya.

Dalam bidang muamalah, Islam mensyariatkan             thalak   untuk

me1epaskan ikatan perkawinan ketika diperlukan, menghalalkan

 

71

 

bangkai binatang laut, dan memakan binatang yang diharamkan

jika dalam keadaan terpaksa. Sedangkan dalam bidangjinayat,

Islam mensyariatkan pembayaran                  diat    oleh pembunuh kepada

pihak dari keluarga yang dibunuh.

c. Kepentingan pelengkap (al-Mashdlih al-Kamdliyahy

Islam telah mensyariatkan hukum-hukum pada bidang muama-

lah, jinayah   dan   ‘ibadah yang bertujuan untuk      perbaikan dan

keindahan serta membiasakan manusia dengan perilaku yang

baik. Dalam bidang             muainalah,       Islam mensyariatkan bersuci

bagi badan, pakaian dan menutup aurat, tempat, dan menghin-

dari najis.

Dalam bidang            muamalah,        Islam mengharamkan penipuan,

tadlis   (menyembunyikan cacat),      taghrir,   berlebih-lebihan,         dan

melarang berlaku kikir. Islam melarang akad yang kauasa-nya

tidak halal atau mengandung najis atau mengandung bahaya.

Dalam bidang jinayat,       Islam mengharamkan membunuh para

pendeta, anak-anak dan kaum wanita dalam peperangan. Islam

melarang membunuh orang yang tidak bersenjata, membakar

orang mati atau hidup.

Para ulama ahli fiqh sepakat bahwa semua ajaran yang dibawa

oleh Islam mengandung maslahat yang nyata. Namun para ulama

berbeda pendapat mengenai keterkaitan antara hukum Islam dengan

maslahat, yaitu diawali dengan pertanyaan “apakah maslahat itu

mengikat hukum syara?” atau “apakah setiap hukum syara yang

diturunkan, mutlak mengandung maslahat?” Ada tiga golongan yang

mengemukakan pendapat yang berbeda:

1.   Golongan Asy’ariyah dan Zhahiriyah menolak bahwa hukum

Islam terkait dengan maslahat. Walaupun berdasarkan peneliti-

an yang dilakukan, menunjukkan bahwa semua hukum syara’

disyariatkan untuk kemaslahatan manusia .                          Menurut mereka

Allah tidak layak ditanya ten tang apa yang diperbuatNya.

2. Sebagian madzhab Syafi’I dan sebagian madzhab Hanafi ber-

pendapat bahwa        maslahat patut menjadi illat bagi hukum, tetapi

 

 

72

 

sekedar hanya sebagai tanda      (amarah)    bagi hukum dan bukan

sebagai penggerak yang mendorong Allah menetapkan hukum.

Firman Allah:        “Dia tidak ditanya ten tang apa yang diperbuat-

Nya, tetapi mereka yang justru ditanya.” (al-Anbiya: 23).

3. Golongan Mu’tazilah, Maturidiyah, sebagian madzhab Hambali

dan Maliki berpendapat bahwa segala hukum islam terkait

dengan maslahat. Hukum-hukum yang terdapat pad a nash me m-

punyai   ilIat   berupa maslahat, tanpa dikaitkan dengan            iradat

(kehendak) Allah, sepanjang        ta ‘lil  (perikatan) itu tidak meng-

akibatkan gugumya nash jika tidak mengandung maslahat. Jika

substansi maslahat tidak jelas diotak kita, maka kita boleh

melakukan rasionalisasi sendiri dan menghindarkan              nash   dari

kemungkinan adanya anggapan tidak mengandung maslahat.

Sinyalemennya adalah bahwa setiap perintah dan larangan

Allah sering diakhiri dengan penjelasan bahwa orang yang

menetangNya sama artinya menganiaya dirinya sendiri (Zahrah,

1994: 552).

Perbedaan ini sebenamya hanya pada tataran teoritis, karena

dalam tataran empiris semua fuqoha’ menyepakati bahwa hukum-

hukum syara’ mengandung maslahat yang hakiki. Tidak ada satu pun

hukum yang didatangkan kecuali mengandung maslahat bagi umat

manusia.

Imam Izzuddin Abdus Salam membagi maslahat menjadi tiga

macam, yaitu:    pertama, maslahat yang diwajibkan oleh Allah bagi

hambaNya. Maslahat wajib bertingkat-tingkat terbagi menjadi                               fadhil

(utama),       afdhal      (paling utama), dan                mutawassith        (pertengahan).

Maslahat afdhal adalah maslahat yang wajib dikerjakan, maslahat ini

adalah maslahat yang mengandung kemuliaan, menghilangkan mafsa-

dah (kerusakan) yang besar, dan mendatangkan kemaslahatan yang

paling besar. Sementara itu,               kewajiban bertingkat-tingkat sesuai

dengan kadar maslahat yang terkandung di dalamnya. Jika tingkat

kemaslahatannya lebih besar, maka kewajibannya untuk dikerjakan

lebih kuat dan harus didahulukan. Contoh: menyelamatkan orang yang

tenggelam pada saat sedang berpuasa Ramadhan. Menyelamatkan

 

73

 

jiwa didahulukan atas memenuhi kewajiban mengerjakan puasa,

walaupun puasa sebagai ash! (hukum pokok).

Kedua,    maslahat yang disunnahkan oleh syari’ kepada hamba-

Nya demi untuk kebaikannya. Kedudukan maslahat sunnah adalah

dibawah maslahat wajib.      Ketiga,   maslahat mubah. Maslahat ini ber-

laku terbatas dan bersifat perorangan, dinikmati khusus bagi pelaku-

nya. Melakukan perbuatan maslahat mubah tidak membawa pahala,

seperti: makan dan minum. Sedangkan maslahat didalam perkara

wajib dan sunnah tidak bersifat perorangan, kemaslahatannya tidak

saja kembali kepada pelakunya tetapi juga kepada masyarakat luas.

 

 

G. ASPEK   NILAI    ETlKA    DALAM    HUKUM   (JURISTIA

ETHICS)

 

Dari persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan manusia,

persoalan tentang moral dapat dikatakan merupakan persoalan pokok,

karena moral menyangkut hubungan antar manusia yang mempersoal-

kan tentang apa yang baik dan apa yang buruk dalam persoalan

tersebut. Untuk mengatur hubungan ini tentu diperlukan kaidah-kai-

dah tertentu yang bersifat mengikat dan mengarahkan hubungan antar

sesama manusia berlangsung dengan baik. Kaidah-kaidah ini adalah

aturan-aturan moral yang mengharuskan manusia untuk mengikutinya.

Manusia dikatakan mempunyai moral yang baik dan dapat dikatakan

manusia susila apabila ia menaati aturan-aturan moral (Asdi, 1998:

1I).

Faktor yang penting bagi manusia untuk menjadi manusia susila

adalah adanya kesadaran moral yang dapat direalisasikan dalam ting-

kah laku sehari-hari. Kesadaran moral ini, kesadaran untuk bertingkah

laku baik, tidak hanya kalau berhadapan dengan orang lain saja, tetapi

berlaku terus menerus tanpa kehadiran orang lain. Kesadaran ini ber-

dasarkan pada nilai-nilai yang fundamental dan sangat mendalam.

Dengan demikian maka tingkah laku yang baik berdasar pada otoritas

kesadaran pribadi dan bukan atas pengaruh dari luar diri manusia.

Dasar ini terletak pada kodrat manusia. Drijarkara (1966 : 25)

 

 

 

 

 

berpendapat bahwa :

 

74

75

 

untuk menilai agar dapat mencapai    Summun Bonum.  Akan tetapi

Summun Bonum   sukar dinilai, karena merupakan cita-cita      yang

 

Moral atau kesusilaan adalah nilai    sebenamya bagi manusia,

satu-satunya nilai  yang betul-betul dapat disebut nilai bagi manusia .

Dengan kata lain, moral atau kesusilaan ada lah kesempumaan manu –

sia sebagai manusia atau kesusilaan adalah tuntutan kodrat manusia.

Moral atau kesusilaan        adalah perkembangan manusia yang sebenar –

nya.

Pada dasamya manusia selalu menginginkan kebaikan dan ber-

usaha untuk mewuju dkannya. Apabila seseorang berbuat kurang baik ,

maka ia berusaha  untuk membuat alasan yang dapat membenarkan

tindakannya tersebut. Dapat disimpulkan bahwa moral atau kesusilaan

merupakan   persoalan yang mendasar bagi kehidupan manusia sepan –

jang waktu. Dalam perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat

dewasa   ini, persoalan tentang moral hendaknya dapat ditampilkan

dengan lebih tegas. Perkembangan kebudayaan manusia yang tampak

pada ilmu dan teknologi , pada satu pihak membantu manusia mem-

buat kehidupan manusia menjadi lebih mudah, atau dapat dikatakan

merupakan    humanisasi,     pada satu pihak menyebabkan terasingnya

manusia dari nilai-nilai moral. Oleh karena itu, peningkatan sumber

daya  manusia dalam bidang ilmu dan teknologi hendaknya dapat

diimbangi dengan peningkatan dalam bidang moral (Asdi , 1997: 6).

Di dalam kehidupan sosial, moralitas menun tut suatu kehidupa n

tertentu    sehingga dapat dikatakan        moralitas itu merupakan aturan-

aturan dalam kehidupan bermasyarakat dari masyarakat untuk anggot a

masyarakat tersebut. Teori-teori ini selalu mencari jawaban yang

benar mengenai pertanyaan tentang          moral. Immanuel kant bertanya ,

“mengapa saya harus bermoral?” Kant menjawab, “Untuk menjawab

pertanyaan-pertanyaan                                            yang lain, seperti misalnya,   “Apa yang        saya

dapatkan kalau saya bermoral?”, terc iptanya          bermacam-macarn teori

moral. Sistem-sitem       Etika atau teori moral pada Yunani Kuno men-

dasarkan   pada  Summun Bonum,       Kebaikan yang Tertinggi atau           The

Supreme Good itu? Kebaikan Tertinggi ini adalah sesuatu yang ideal,

suatu  cita-cita yang merupakan ukuran yang tertinggi bagi segala

sesuatu yang dinilai.         Untuk mencapai itu        harus ada norma-norma

tertinggi dan merupakan konsep dunia yang sempuma. Di dalam dunia

ini  semua makhluk merasa bahagia (Immanuel Kant,    1963 dalam

Asdi, 1998: 13). Dalam hal norma -norma                   moral, perlu    pula diperha-

tikan motif apa yang dipakai sebagai dasar tindakan moral. Dasar-

dasar ini dapat berbeda-beda sehingga menimbulkan aliran etika yang

berbeda pula . Dasar inilah yang dipandang sebagai realitas      yang

tertinggi atau bahkan kenyataan yang sejati .

Etika atau teori moral dapatmendasarkan pada kodrat manusia

untuk   mendapatkan  kenikmatan , sebab   kenikmatan  merup akan

kebaikan yang paling penting .  Manusia dikatakan baik apabila ia

berusaha untuk mengejar kenikmatan yang sebesar-besamya. Aliran

ini     disebut hedonisme ,         dari kota Yunani           hedon e    yang berarti

kenikmatan. Seorang hedonis dikatakan orang yang baik karena hidup

sesuai kodratnya dan mencapai tujuan hidupnya.

Berbeda dengan aliran hedonisme adalah aliran Eudamonisme,

yang dapat dikatakan mencapai kebahagiaan, tidak hanya secara

lahiriah, melainkan juga secara batiniah. Oleh   karena itu, manusia

harus belajar bagaimana caranya untuk mencapai kebahagiaan. Untuk

itu Eudamonisme dijadikan pandangan hidup.

Bentuk lain dari Eudamonisme adalah Stoisisme,               yaitu   aliran

ctika yang memandang tujuan manusia adalah kebahagiaan. Manusia

harus menemukankebahagiaan serta menyesuaikan diri dengan alam

dan menerimanya dengan baik, karena peristiwa alarn itu tidak dapat

dihindari. Dalam menghadapi diri sendiri, manusia harus dapat

menguasai perasaannya dan juga menggunakan akalnya, sehingga

manusia menjadi kuat dan teguh. Aliran Utilisme dapat dikatakan

bentuk lain dari Eudamonisme pula. Manusia dikatakan baik apabila

ia bermanfaat, yaitu yang menimbulkan kebahagiaandan kenikmat an.

Jadi Utilisme dapat disamakan dengan hedonisme.

Teori moral yang dikemukakan oleh Marx berdasar pada fakta,

yai tu pada manusia yang harus bekerja untuk dapat bertahan hidup. Di

samping itu, manusia juga harus hidup dalam kelompok, karena untuk

mempertahankan hidup pribadi manusia juga harus memperhatikan

 

76

 

orang lain ,      lebih-lebih harus ada kerja sama dengan kelompok.

 

 

 

 

tujuan (Asdi , 1998: 15-16).

 

77

 

Dengan demikian aturan moral adalah moral kelompok,              moral yang

ada dalam masyarakat tanpa kelas.

Dapatkah manusia mencapai tujuan akhir,            yaitu kebah agiaan

yang sernpurna? Kebahagiaan yang memuaskan tanpa ada rasa            yang

 

Suatu etika

mendasarkan diri pada kehidupan manusia

menimbulkan kekecewaan? Dalam kenyataannya, manusia tidak dapat

 

disebut Vitalisme, dari kata        Vi/a, yang berarti kehidupan. Kehidupan

adalah kebaikan yang tertingi . Aliran ini menghargai kehidupan sangat

tinggi sehingga mereka        pada akhimya medewa-dewakan kehidupan .

Manusia harus bersatu dengan kehidupan, masuk di dalamnya. Pen- ,

dapat lain mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk rohani, dan

roh ini mempunyai kekuasaan yang besar. Aliran etika ini dikenal

sebagai aliran Idealisme. Ada tiga aliran yang masing masing menda-

sarkan pada bagian dari roh. Yang pertama adalah aliran idealisme

rasionalistik, yang berpendapat bahwa manusia dengan akalnya harus

dapat mengenal norma-norma etika. Dengan demikian maka manusia

dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Yang kedua

adalah etika estetik,       etika adalah sesuatu yang indah, manusia dan

kehidupannya adalah suatu seni. Untuk itu diperlukan kehidupan

dalam masyartakat itu harus selaras. Banyak yang kurang sepaham

dengan etika rasionalistik dan etika estetik. Yang ketiga adalah etika,

etik ,  seperti yang diajarkan oleh Immanuel Kant. Menurut faham ini

memang ada norma-norma moral yang harus diwujudkan oleh manu-

sia.   Menurut Kant ,     manusia harus bertindak baik, karena manusia

wajib untuk itu . Tindakan moral harus datang dari dalam diri manusia

sendiri    dan tidak datang dari luar manusia. Etika yang semacam ini

adal ah etika yang diperintah oleh diri manusia sendiri, suatu imperatif

yang memaksa    dari diri manusia sendiri, imperatif kategoris (Harold

H, Titus , 1970: 363-375).

Dar i uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa manusia itu penuh

dengan usaha untuk dapat mencapai tujuan hidupnya, yaitu kebaha-

giaan. Namun jalan yang ditempuh dapat berlainan, sesuai dengan

keyakinan masing-masing. Perlu diingat bahwa perbuatan manusia

untuk mencapai tujuan tersebut haruslah perbuatan yang dilakukan

dengan sadar, sedangkan perbuatan manusia di luar kesadarannya,

misalnya dalam keadaan tidur, dalam keadaan mabuk, dan dalam

keadaan pingsan,      tidak dapat dikatan perbuatan yangmempunyai

mencapai tujuan akhir di dunia ini, karena mempunyai kehendak yang

tidak dapat dipuaskan. Menurut A.Gunawan Setiardja (1990: 92), ma-

nusia itu mempunyai tujuan akhir objektif dan tujuan akhir subyektif.

Tujuan akhir objektif adalah sama untuk semua orang, yaitu Tuhan

sebagai pencipta, sedangkan tujuan akhir subyektif adalah penyem-

pumaan diri manusia sebagai manusia . Drijarkara (1962: 20-21) juga

mengatakan bahwa manusia selalu menuju ke kesempurnaan. Menurut

kodratnya, setiap realitas itu menuju ke sempumaan yang merupakan

cerminan dari kesempumaan Tuhan. Dalam usaha manusia untuk

mencapai    kesempumaan diperlukan adnya kesadaran moral yang

secara nyata dapat menjelma menjadi suara batin,          consience, yang di

dalamnya terkandung pengertian. Suara batin itu tidak diucapkan

melainkan hanya ada dalam batin yang seolah-olah, menyeru memper-

ingatkan    mana yang baik dan mana yang buruk. MenU11 Martin

Heidegger, der Ruf ko111111/       alls mir und doch  ueber tnmich,  “suara itu

datang dariku tetapi mengatasi diriku. Jadi kesadaran moral itutidak

hanya rasa ,   melainkan juga, pengertian.         Suara batin pada dasarnya

adalah panggilan Tuhan.

Yang juga melekat pada manusia untuk melakukan perbuatan

baik adalah “wajib”, Manusia akan merasa bersalah apabila melanggar

kewajibannya. Manusia barulah manusia apabila ia melaksanakan

kewajibannya. Wajib itu bukan paksaan, karena datang dari dalam diri

manusia, bukan dari luar diri manusia. Hanya dengan menjalankan

wajib ,    manusia menjadi luhur. Perkembangan manusia yang sesung-

guhnya adalah moral. Untuk itu diperlukan niat untuk berbuat baik

dan siap sedia untuk kebaikan. Dengan niat ini manusia siap meng-

hadapi peraturan moral yang meliputi dan melingkungi hidup manu-

sia . Oleh karena itu, hukum moral adalah hukum kodrat manusia, yang

menentukan rohani. Manusia adalah pribadi rohani. Dengan demikian,

hukum moral disebut sebagai hukum kodrat atau hukum alam (N.

. Drijarkara, 1966: 9-30).

 

78

 

Apa perbedaan antara moral dan hukum? Menurut Immanuel

Ka nt, norma moral menimbulkan sikap “moralitat”, yakni penyesuaian

diri dengan kewajiban batin , disini hati nurani menjadi motivasi yang

sebenarnya       dari kelakuan dan tindakan. Norma hukum menimbulkan

sikap ” legalitat”, yakni penyesuaian diri dengan apa yang telah diten-

tukan dalam undang-undang (Kant dalam Huijbers, 1995: 66).

A.  Reinach (1883-1917) menambahkan perbedaan antara moral

dan hukum. Menurut Reinach, norma moral men gena pada suara             hati

pribadi  manusia, sedangkan norma yuridis berlaku atas dasar suatu

perjanji an. Hak-hak moral tidak pernah hilang dan tidak dapat pindah

ke orang lain, sedangkan hak-hak   yuridis dapat hilang dan dapat pin-

dah (sesuai    dengan perjanjian). Disamping itu norma moral mengatur

baik hidup bat in maupun hidup      lahir , sedangkan norma hukum hanya

men gatur kehidupan lahiriah  saj a (de  internis praetor  non indi can

(Huijbers, 1988: 231-234) .

Norma-norma moral dan norma-norma hukum memang ber-

beda , akan tetapi                keduanya          memiliki hubungan yang erat satu sama

lain. Immanuel Kant menj elaskan hubungan antara moral dan hukum

dengan menyatakan bahwa pembentukan hukum sebenarnya merupa-

kan bagian tuntutan moral   (imp eratlf kategoris) yang dialami manu sia

dan hidupnya.  Imperatif  itu mengharuskan orang untuk mengatur

hidup bersama                                                         sesuai dengan prinsip-prinsip moral,   sehingga terben-

tuklah undan g-undang yang adil.

Da ri pernyataan ini juga kita dapat memahami definisi hukum

Kant memuat   unsur etis,   dimana menurut Kant. Definisi hukum

menurut Kant adalah sejumlah syarat yang menjarninbahwa kehendak

seorang pribadi disesuaikan dengan kehendak pribadi lain menurut

norm a                            umum kebebasan                           (Das   Recht   ist.:      der InbegrifJ der         Beding

ungen,                   unter den                              die Willkur des einen mit der        Willkur des anderen

nach  einem  allgmeinen Gesetze  der  Fre iheit Zusammen  vereinigt

werden kann) . Dari sini kita mengetahui bahwa tata hukum oleh Kant

diartikan sebagai buah sikap moral manusia (Huijbers, 1988: 94-102).

Hubungan antara moral dan hukum sebenarnya         lebih erat lagi

sebab perbedaan antar norma tersebut dalam tataran konseptual saja .

Karena dalam ta taran             praksis,         norma-norma yang merupakan norma

 

79

 

sopan santun misalnya,           dapat menjadi norma hukum, demikian pula

dengan norma moral ,  juga dapat menjadi norma hukum.     Bahkan

dengan norma moral menjadi norma hukum, ia akan menjadi            efektif

keberlakuannya. Karenanya kewajiban yang timbul akibat norma-

norma yuridis ada dua j enis: (1) Bersifat ekstern karena adanya sanksi,

bersifat yuridis belaka; (2) Bersifat intern atau moral, bersifat etis-

yuridis. Suatu norma hukum bersifat etis yuridis bila isinya menyang-

kut nilai-nilai dasar hidup, sehingga dengan demikian kehendak

yuridis merupakan bagian dari kehendak etis rnanusia ‘          (D. Scheltens

&  Siregar, 1984: 65-66).

Adanya nilai etis pada hukum dapat dirnengerti, bila kita insyaf

bahwa hukum merupakan salah satu hasil kegiatan manusia sebagai

ko-eksistensi etisnya .                                   Memang benar bahwa    hukum secara  langsung

berasal dari kehendak yuridis, tetapi kehendak yuridis itu merupakan

bagian dari kehendak etis man usia untuk mengatur kehidupan bersama

dalam segala relasi-relasinya. Supaya relasi-relasi itu baik dan karena-

nya kehidupan manusia sendiri menjadi baik dan bahagia.  Menurut

Fernand Van Ne ste (1982) , ada 4 unsur etis yang ada pada hukum :

I .  Hukum mengatur relasi-relasi antara orang.

2.  Hukum memasukkan timbal balik dalam relasi-relasi yang

digalang.

3. Hukum menuntut kesetiaan padajanji.

4. Hukum menciptakan kebebasan.

Dari uraian mengenai hukum dan moral, dapat diketahui adanya

perbedaan dan persamaan                                                      antara keduanya, perbedaan antara       hukum

dan moral teletak pada tujuannya. Hukum bertujuan untuk membentuk

ketertiban dalam masyarakat, sedangkan moral bertujuan untuk mem-

bentuk pribadi setiap individu.   Di samping itu    hukum dituangkan

dalam bentuk tertulis, sehingga dapat diketahui dengan      j elas dan

 

 

,  Namun pernyataan bahwa suatu pcraturan        yuridis dapat mcnghasilkan     suatu

kcwajiban etis dibantah     oleh  ImmanucI  Kant. Mcnurut    Kant rnacam-rnacam motif

diperbolehkan dalam menaati      hukum,  misalnya   rasa takut akan hukuman, karcna

mcnurut Kant undang-undang yang telah tersusun termasuk bidang “yang ada”, bukan

bidang “yang scharusnya”.

 

 

80

 

bersifat objektif. Di pihak yang lain, norma-norma moral bersifat

subjektif dan individual. perbedaan lain juga dapat dilihat dalam

sanksi-sanksinya. Hukum dan Moral keduanya menberikan sanksi.

 

81

 

punyai titik yang sama. Apabila hukum merupakan garis lurus a dan

moral adalah garis lurus b, maka antara kcdua garis itu ada titik yang

berkesinambungan, atau antara kcdua garis itu ada titik potongnya.

 

Akan tetapi hukum dapat dipaksakan dan meberikan sanksi pada

Hukum

moral mempunyai persamaan dalam pcngatahuan perbuat-

 

yang mclanggamya, sedangkan nqrma-norma moral tidak

dipaksakan, karena perbuatan susila mcnyangkut perbuatan yang

bersifat rohaniah. Pemaksaan mungkin dapat menycbabkan transaksi-

nya batin scseorang. Tindakan moral atau tindakan untuk bertingkah

laku baik seolah-seolah tidak mempunyai kckuasaan atau kewenangan

apapun terhadap manusia, karena tindakan moral itu terhagantung

pada kesadaran pribadi,      tergantung pada suara batin setiap individu.

Sanksi yang diterapkan pada pelanggaran moral adalah sanksi yang

mungkin berbentuk penyesalan diri. Orang akan menyesal, karena

telah berbuat kesalahan, seolah-olah ada suara dalam dirinya dan

batinnya yang memberikan peringatan (Asdi, 1998: 17-18).

Drijarkara (1996 : 19) mengatakan bahwa suara batin itu masih

tetap ada, juga setelah manusia melakukan kejahatan. Memang apabila

kesalahan itu kecil, kesalahan itu mudah dilupakan. Tidak demikian

halnya apabila seseorang melakukan kesalahan atau pelanggaran

moral yang besar, maka suara batin itu akan terus menerus mem-

peringatkan. Dalam hal ini orang yang bersalah akan merasa rendah

diri ,   malu dan merasa bersalah terus menerus. Dapat juga terjadi

bahwa orang tersebut akan merasa tidak berguna lagi dan tidak pantas

untuk hidup .     Itulah salah satu sebab mengapa orang yang merasa

bersalah tadi melakukan bunuh diri. Akan tctapi scsungguhnya suara

batin itu merupakan suatu peringatan agar orang tersebut kembali pada

kebaikan, menyadari kesalahannya dan bertaubat untuk tidak berbuat

kesalahan lagi. Kesadaran moral ini adalah rasa dan juga pengartian

yang mendalam. Apabila manusia mcnyadari bahwa manusia itu

adalah makhluk Tuhan, tcntunya ia akan menyadari bahwa suara batin

yang memerintah ke arah kebaikan itu adalah peringatan dari Tuhan.

Pelanggaran hukum moral adalah pelanggaran hukum kodrat atau

hukum Tuhan.

Antara hukum dan Moral, di samping ada perbedaannya, juga

ada kesamaannya. Ini berarti bahwa antara hukum dan moral mem-

an manusia. Hukum mengatur perbuatan manusia sesuai dengan

pcngaturan yang berlaku yang ditetapkan oleh pcnguasa atau negara

dengan tujuan kesejahteraan dalam masyarakat,                        membcri perlindung-

an dan keamanan, scdangkan moral juga merupakan peraturan-per-

aturan yang mengatur perbuatan manusia ditinjau dari perilaku baik

dan buruk. Tujuan moral adalah peningkatan manusia sebagai manu-

sia. Kedua peraturan manusia untuk menaati hukum dan juga menaati

moral. Wajib hukum adalah wajib yang datang dari luar diri manusia,

dan wajib moral adalah wajib yang datang dari dalam diri manusia

(Asdi, 1998: 19).

Apabila dilihat dari dasar hukum dan dasar moral, dapatlah kita

temukan bahwa antara keduanya mepunyai dasar yang sama, yaitu

hukum alam .         Menurut A. Gunawan Setiardja (1990: 116), dalam

hukum alam ditemukan dialektika antara hukum dan moral. Dialektika

adalah suatu pcnyesuaian yang terjadi yang dimulai dari sua tu tesis .

Tesis ini mengakibatkan antitesis. Tesis dan anitetis ini akan meng-

hasilkan sintesis. Periode ini-tesis, antitesis dan sintesis akan terus-

menerus berlangsung sampai pada sintesis yang tcrakhir dan sempur-

na .   Pada dasamya musyawarah untuk mendapatkan kcputusan yang

terakhir adalah proses yang terjadi secara dialektis.

Apabila kita terapkan teori dialektika ini pada hukum dan

moral, dapat dilihat sebagai tesis adalah hukum alam yang ada pada

manusia yang diatur oleh moral. Moral mengatur scgala segi kehi-

dupan manusia, baik kehidupan individu maupun kehidupan sosial,

kehidupan lahir dan batin. Sebagai antitesis, adalah hukum yang

dibentuk oleh para ahli hukum dan para anggota perwakilan rakyat,

serta para ahli yang lainnya, yang harus selalu ingat pada hukum alam.

Hukum yang akan disusun harus mengingat manusia sebagai manusia

pribadi maupun manusia dalam masyarakat. Hukum yang dibentuk

harus pula mencakup tatanan hukum yang memberi kcsempatan pada

manusia untuk membangkitkan dirinya sebagai manusia. Aparatur

 

82

 

peme rintahan, dari yang         tertinggi sampai yang terendah, dalam meng-

ambil keputusan harus men unjunjung tinggi hukum dalam menjalan-

kan keaj iban mereka, maka yang mereka hadapi adalah manusia yang

me mpuny ai hak asasi, manusia yang harus dihormati sebagai manusia.

Sintesis  yang diharapkan dari uraian di atas adala h     terbentuknya

man usia yang mempunyai budi luhur, yang taat pada moral dan

hukum, dalam kehidupan bermasyarakat dan bemegara.

Beberapa filusuf telah   pula berusaha memberikan pendapatnya

mengenai hubungan anta ra hukum dan moral. Plato sudah berusaha ke

arah   itu.   Thomas   aq uinas  justru    mengatakan bahwa hukum positif

haru s membantu manusia untuk memahami hukum alam. Ini disebab-

kan karena hukum alam tidak dapat dimengerti dengan jelas. Hukum

alam adalah sumber    norma-norma moral.

Menurut A. Gunawan Setiardja ( 1990; 119), dialektika antara

hukum dan moral dapat dilihat pada dasar, otonomi, pelaksanaan,

sanksi, tuju an, waktu dan tempat.

 

83

 

Hegel yang terdiri atas tiga tingkatan, yaitu tesis, antit esis dan sintesi s.

Dari bagan diatas, dapat diketahui bahwa dasar          hukum dan mo ral itu

sama, yaitu hukum dasar dan hukum alam.

Menurut Immanuel Kant dalam bukunya           Die M etaphy sik    der

Sitten (Immanuel Kant ,                            1970 dalam Asdi ,  1998: 22),        ada dua maeam

kewajiban, kewajiban terhadap hukum dan kewaj iban terhadap moral.

Kewajiban terhadap hukum dilaksanakan  karena ada  hukum yang

datang dari luar pribadi manusia, seda ngkan                              kewajib an terh adap            mo-

ral, yang tidak tunduk pada hukum        dari   luar pribadi manusia,

melainkan tunduk pada hukum dari  dalam manusia, menuju  tujuan

sekaligus menjadi kewajiban. Menurut Kant, ada   perbedaan antara

hukum dan moral. Sah menurut hukum,   belum tentu  sah menurut

hukum moral. Sah menurut hukum, yang oleh K ant dinamakan        Lega-

litaet  atau  Gesetzma egkeit,           adal ah             suatu tindakan      yang     mempunyai

kesesuaian atau tidak kesesuaian dengan hukum lahiriah. Akan tetapi

tindakan tersebut belum dapat dikatakan mempunyai    nilai  moral,

karena tindakan itu dapat dipengaruhi oleh keinginan , meskipun meru-

 

 

Dasar

 

 

Otonomi

Norma Hukum

a. Perumusan Yurudis

b. Konsensus

c. Dasar terda lam,     hukum alam

Datang dari     luar manusia, hete-

ronomi

Norma Moral

Hukum alam

 

 

otonomi dan teonomi

pakan dorongan batin , misalnya rasa belas  kasihan ,        rasa            takut atau

ingin mendapatkan keuntungan. Meskipun           tindakan itu ba ik, namun

mas ih  ada motivasi tertentu,      masih ada ” pamrih”, maka      tindakan   ini

belum dapat dikatan bemilai moral. Perlu dieatat bahwa tindakan yang

belum mempunyai nilai moral , tidak b erarti amoral atau bertentangan

 

Pe laksa naan        Lahiriah, jadi dapat dipaksakan

lahiriah dan batiniah, tidak

dapat dipaksakan

dengan moral. Tindakan semaeam ini                                  oleh Kant dinamakan      legalitas,

yaitu sesuai dengan hukum. Suatu   tindakan bemil ai mora l apabila

 

Sanksi

Sanksi yur idis,

sanksi lahiria h

Sanksi kodrati,

Batiniah: menyesal, malu

terhadap diri sendiri

tindakan tersebut dilaksanakan karena orang merasa  wajib da n karena

adanya kesadaran untuk melaksanakan                 kewaj iban.            Juga     tidak    karena

adanya tekanan dari luar ataupun kar ena adanya kein ginan   tertentu.

 

Tuj uan

Mengatur    hidup manusia da lam        Mengatur hidup manusia

kehidupan bernegara                             sebagai manusia

Inilah yang dinamakan Kant moralitas (Asdi, 1997; 80-8 1).

 

Waktultempat Tergantung pada waktu

secara objektif tidak dan

tergantung       pada      wak tu

dan tempat

Manusia hidup dalam suatu  siste m hukum       yang harus dikon –

frontasikan dengan bermaeam-maeam   aspek  kehidupan. Ka dang-

kadang hukum itu datang kepada kita dalam keadaan            kurang   menye-

nangkan, apabila hukum itu meng haruskan kita untuk memilih  apa

 

Pendapat Setiardja di atas sesungguhnya belum dapat menu n-

jukkan adanya dialektika apabila kita memakai rumusan   dia lekt ika

yang kita sukai dan yang tidak kita sukai.     Kadang-kadang hukum

datang dengan amat baik, apabila hukum itu memb erikan perlindung-

an kepada kita. Dalam hukum ada larangan-larangan  yang tidak boleh

 

84

 

85

 

 

kita langgar, seperti misalnya mencuri, menipu, menggangu keamanan

dan perbuatan-perbuatan lain yang dapat dikategorikan melanggar

hukum. Jadi dalam kehidupan sehari-hari , kita tidak dapat lepas dari

hukum, tidak dapat menghindari hukum. Mau tidak mau, suka atau

tidak suka ,      hukum selalu ada di sekitar kita dan mempunyai peranan

penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bemegara.

Begitu pula halnya dengan moral. Aturan-aturan moral juga ada

di sekiling kita, suka atau tidak suka , aturan-aturan moral juga meng-

ikat. Tugas aturan moral mengadakan evaluasi pada hukum. Tugas ini

adalah memahami hukum positif sebagai              hukum dan membentuk

suatu teori yang bersifat rasional mengenai bagaimana hukum itu yang

seharusnya. Evaluasi ini dapat bersifat dialektis maupun aplikatif,

sesuai dengan titik sing gung           yang disentuh. Dialektis,          apabila kita

pakai untuk meningkatkan pribadi manusia, meningkatkan                manusia

sebagai manusia. Aplikatif, apabila moral kita pakai scbagai evaluator

pada hukum, khususnya kita pakai untuk menyoroti tujuan memberi

hukuman pada orang yang melanggar hukum. Tujuan ini selain

melihat latar belakang sejarah si pelan ggar,               juga harus mengingat

dampak positifyang akan didapat di masa depan (Asdi , 1998: 27-28).

 

 

H. JURISTIC LOGICS   (PENGGUNAAN LOGIKA DI DALAM

HUKUM ATAU ILMU HUKUM)

 

Logika adalah satu di antaranya        cabang-cabang utarna fiIsafat.

Sebagai sebuah istilah, logika berarti suatu metoda atau teknik yang

diciptakan untuk meneliti ketepatan penalaran. Penalaran adalah suatu

bentuk pemikiran. Bentuk-bentuk pemikiran yang lain adalah: penger-

tian atau konsep        (conceptus ; concept), proposisi atau pemyataan

(propositio;  statement) ,  dan    penalaran     (ratiocinium ;  reasoning)

(Soekadijo, 200 I:3). Logika atau penalaran berkaitan dengan proses

bekerjanya rasio atau akal manusia dalam upaya menangkap atau

mencapai kebenaran, atas dasar proposisi-proposisi atas                        sesuatu

kenyataan guna sampai kepada kesimpulan dengan menggunakan

hukum-hukum berfikir. Proses berfikir manusia dapat dengan meng-

 

gunakan dua cara atau metode .          Kedua metode itu adalah berfikir

secara induktif dan berfikir secara deduktif,             atau dikatakan juga ada

logika deduktif. Cara berfikir dengan metode -rnetode ini dapat meli-

batkan penggunaan silogisme yang di dalamnya ada proposisi sebagai

premise mayor dan premise minor, sehingga sampai kepada sebuah

kesirnpulan dalam upaya mencapai atau rnenemukan                   ‘ kebenaran.

Dikenal ada logika formal (dapat juga disebut logika bentuk), dan

logika material (Iogika isi). Kebenaran yang dicapai dengan menggu-

nakan metode berfikir demikian scbagaimana            diterapkan dalam ber-

bagai bidang pengetahuan ilmiah adalah dua macam kebenaran, yaitu

kebenaran formal dan kebenaran material. Kebenaran yang dicapai

juga bervariasi dalam tingkatannya,         dari sesuatu    yang mutlak, kebe-

naran yang pasti, hingga kebenaran sebagai suatu kemungkinan.

Juristic logic yang dimaksudkan dalam buku ini adalah untuk

menyebutkan aspek      logika yang terdapat atau digunakan di dalam

hukum atau pengetahuan ilmiah hukum. Penerapan metode-metode

berfikir yang lazim berlaku pada berbagai bidang ilmu lain selain ilmu

hukum untuk diterapkan dalam hukum atau ilrnu hukum perlu dikaji

kembali secara kritis tentang kesesuaian atau ketepatannya.

Logika induktif dan logika deduktif lazim berlaku dalam bidang

ilrnu alam. Di dalam scjarah pcrkembangan ilrnu, metode penclitian di

dalam ilmu-ilmu alam adalah met ode yang lebih dahulu muncul , yang

kemudian penerapannya menyebar ke dalam bidang ilmu-ilrnu sosial,

termasuk ilmu hukum. Akan tetapi sesungguhnya metode-metode

tersebut tidak serta merta berlaku dalam bidang hukum, karena bidang

ilmu hukum memil iki       objek manusia yang karakteristiknya berbeda

dan tidak dapat semata-mata disamakan dengan objek-objek fisik.

Manusia memiliki nilai yang berbeda. Demikian pula hukum-hukum

matematis tidak dapat diterapkan begitu saja secara sama kepada

manusia seperti halnya pada objek-objek fisik.

(2005   : 47, 61) berpendapat       bahwa penelitian hukum

sesungguhnya adalah berbeda dengan penelitian ilmu sosial lainnya.

Dalam penelitian hukum, logika silogistik yang diterapkan berkenan

dengan adanya premis mayor dan premis minor dalam sebuah argu-

mentasi hukum guna mencapai sebuah kebenaran (sebagai sebuah

 

86

 

simpulannya )   adalah tid ak   sesederhana silogisme-silogisme tradisio-

nal.    Selain    itu perlu untuk          diketahui  bahwa dalam ilmu .hukum

terdapat tiga lapisan ya itu dogmatik hukum, teori hukum, dan filsafat

hukum. Berhubung      den gan  haI  ini ,  sebuah peneliti an     atas suatu isu

atau m asal ah itu haru s mempertimb an gkan terlebih dahulu apakah isu

atau masalah   itu ad alah  isu   hukum atau masalah hukum atau bukan .

Kemudian, penel itian       huku m harus memperhatikan         ketiga lapisan

tersebut.     Pen elitian    atas masalah      hukum dal am     tataran dogmatik

ada lah  apabi la sesuatu ma sa lah       atau isu hukum         itu menyangkut

ketentuan hukum yan g re leva n dengan fakta yang dihadapi. Penelitian

hukum  da lam tataran  teori   hukum adalah bilamana     isu   atau masalah

hukumnya mengandung     ko nse p hukum. Sedangkan    penelitian hukum

dalam tataran       filos ofis,    isu hukum harus menyangkut asas-asas

hukum.

Dal am si logisme    ada hukum-hukum yang berl aku     dalam mena-

ri k   sebua h kesimpul an     dan   men entukan   apakah kesimpulan yang

di ambil    itu    salah atau     benar. Co ntoh      si logisme tradisional yang

sederhana misalnya (Soekad ijo, 200 I: 40 , 88):

1. Semua pahl aw an ada lah oran g berjasa,

Kart in i ad alah pahl awan.

Jadi: Kartini ada lah oran g yang berjas a

2.   Kal au  pacamya  dari Med an    datang   men engok,   Adam senang

sekali .

Dari Medan pacamya datang menen gok      dan men ginap di rumah

abangnya.

Maka Adam senang sekali.

 

 

 

 

 

 

 

BABVI

ALl RAN-ALl RAN HUKUM

 

 

A. HUKUM ALAM

 

Para pemikir zaman dahulu umumnya menerima suatu hukum,

yaitu hukum alam atau hukum kodrat. Berbeda dengan hukum positif

sebagaimana diterima oleh orang dewasa ini,                    huku m alam     yang

diterima sebagai hukum tersebut bersifat tidak tertulis. Hukum                  alam

ditanggapi tiap-tiap orang sebagai huku m oleh sebab men yatakan apa

yang termasuk alam manusia sendiri, yai tu kodratnya (Huijbers,            1995 :

82).

Huijbers (1995 :      82) membedakan penggunaa n        istilah hukum

alam dengan hukum kodrat. Menurut Huijbers istilah yang benar

untuk menyatakan hukum yang dimaksud ada lah “hukum kodrat” dan

bukan “hukum alam” .        Huijbers menggunakan istilah tersebut              ber-

dasarkan pengertian istilah latin          lex naturalis     (bhs .  Inggris:    natural

law)   yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi “hukum

kodrat” dan bukan        lex naturae      (bhs.Inggris:      law of nature)        yang

diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi “hukum                      alam” .

Secara panjang lebar Huijbers menerangkan sebagai berikut:

. Lex natura e  merupakan cara sega la        yang ada berj alan sesuai

dengan aturan semesta alam. Menurut para sofis Yunani (abad 5 SM)

dan Thomas Hobbes, Ch .        Darwin, H Spencer, dkk.,        hu kum alam    itu

menguasai kehidupan manusia juga seperti makhluk                    hidup lainnya

yang mengikuti kecenderungan-kecenderungan                jasmaninya, contoh:

sifat ketamakan,       kerakusan,    saling memangsa, dan lain sebagainya.

Sebaliknya,    lex naturalis menandakan bahwa terdapat tuntu tan          funda-

mental dalam hidup man usia            yang menjadi nya ta dalam wuj udnya

sebagai makluk yang berakal budi. Dengan mengikuti                   lex naturalis

 

88

 

manusia tidak mengikuti nalurinya yang irasional, melainkan pertim-

bangan akal budi dan rasa moral. Namun dalam                    lex naturalis     juga

diakui bahwa hukum yang dianut bukanlah kegiatan rasional melulu.

Hukum itu merupakan bagian aturan alam semesta alam (natura) yang

sebenarnya merupakan suatu keseluruhan kosmis yang penuh rahasia

yang tidak dapat dijangkau oleh akal budi manusia.

Dalam Bahasa Indonesia, istilah “hukum alam” lebih menan-

dakan   lex naturae    dalam arti yang umum, yaitu sebagai daya yang

menyebabkan bahwa segala yang ada di dunia ini berjalan menurut

aturan yang telah ditetapkan. Karenanya untuk mengungkapkan arti

 

89

 

dirumuskan oleh para pemikir Stoa zaman klasik. Prinsip

hukum kodrat primer yaitu:        honeste vivere     (hidup terhonnat),

neminem laedere (tidak merugikan orang lain), unicuique suutn

tribuere (memberikan orang lain sesuai haknya).

2). Prinsip hukum kodrat sekunder, yaitu norma-norma moral

seperti jangan membunuh, mencuri dan lain sebagainya.

 

Dalam hal ini Thomas Aquinas menggabungkan                         lex naturalis

dengan   lex aeterna (hukum abadi) yang ada pada Tuhan, dalam defi-

 

lex naturalis sebaiknya dipakai istilah lain yaitu hukum kodrat.

nisinya:   lex naturalis

aliud est quam participatio legis aeternae

 

Hukum kodrat lebih kuat dari pada hukum positif, sebab

menyangkut makna kehidupan manusia sendiri. Karenanya hukum itu

mendahului hukum yang dirumuskan dalam undang-undang dan ber-

fungsi sebagai azas bagi hukum yang dirumuskan dalam undang-

undang tersebut. Dengan kat a lain hukum adalah aturan, basis bagi

aturan itu ditentukan dalarn aturan alamiah yang terwujud da lam

kodrat manusia.

 

 

1. Hukum Kodrat dalam Sejarah

a . Zaman klasik

 

Tokohnya adalah Aristoteles.            Menurut Aristoteles manusia

sebagai makhluk politik          (ZOO/1      polticoni    harus menyumbang bagi

Negara yang merupakan kewajiban alamiah bagi                     laki-Iaki    yang

mempunyai hak-hak yuridis sebagai warga polis.

 

 

b. Abad pertengahan

 

Tokohnya adalah Thomas Aquinas. Menurut Aquinas hukum

kodrat sebagai prinsip-prinsip segala hukum positif, berhubungan

langsung dengan manusia dan dunia sebagai ciptaan Tuhan. Prinsip-

prinsip tersebut dibagi menjadi dua, yaitu:

1). Prinsip hukum kodrat primer, yaitu prinsip hukum yang telah

in rationali creatura      (hukum kodrat itu tidak lain adalah partisipasi

hukum abadi dalam ciptaan yang berakal budi) (Huijbers, 1995: 83).

 

 

c. Zarnan rasionalisme

Pada zaman ini lazim diterima bahwa hukum kodrat sebagai

pernyataan akalbudi praktis manusia. Para pemikir zarnan ini cende-

rung menyusun suatu daftar hukum kodrat yang dianggap tetap

berlaku dan abadi. Pada zaman ini Hugo Grotius menyatakan prinsip

hukum   a priori.     yaitu hukum kodrat yang berlaku positif. Menurut

Grotius, ada dua macam prinsip-prinsip dalam konsepnya tersebut,

yaitu:

I). Prinsip-prinsip         dasar,    meliputi:      prinsip     kupunya-kaupunya,

prinsip kesetiaan pada janji, prinsip ganti rugi, prinsip perlunya

hukuman.

2). Prinsip-prinsip yang melekat pad a subjek hukum, me liputi             hak

atas kebebasan, hak untuk berkuasa atas orang lain, hak untuk

berkuasa sebagai majikan, hak untuk berkuasa atas milik.

 

 

d. Awal abad XX

Pada awal abad ini beberapa pemikir berusaha lagi untuk

menyusun suatu daftar hukum kodrat, diantaranya Messner. Menurut

Messner hukum kodrat sama dengan prinsip-prinsip dasar bagi kehi-

 

90

 

dupan sosial dan individual. Definisi hukum kodrat dari Messner

berbunyi:   Das Naturrecht ist die Ordnung del’ in del’ menschilchen

Natur mit ihren Eigenverantwortlichkeiten                begrundeten eizelmen

schlichen und gesellschaftlichen Eigenzustandigkeiten           (hukum kodrat

adalah aturan hak-hak (kompetensi) khas                  baik pribadi maupun

masyarakat yang berakar dalam kodrat manusia yang bertanggung-

jawab sendiri). Menurut Messner terdapat tiga macam hukum kodrat,

yaitu:

1). Hukum kodrat primer yang mutlak, yaitu memberikan kepada

tiap orang sesuai haknya. Dari prinsip ini diturunkan prinsip-

prinsip umum seperti jangan membunuh , dan seterusnya.

2). Hak fundamental, yaitu kebebasan batin, kebebasan agama, hak

atas nama baik, hak atas         privacy,  hak atas pemikahan, hak

untuk membentuk keluarga, dan sebagainya.

3) . Hukum kodrat sekunder, yaitu hak yang diperoleh karena ber-

kaitan dengan situasi kebudayaan, misalnya hak milik dan azas-

azas hukum adat .

 

 

2. Perkembangan Hukum Kodrat

Pemikir zaman ini menerima bahwa terdapat prinsip-prinsip

tertentu yang menjadi pedoman bagi pembentukan undang-undang,

oleh karena itu dewasa ini muncul satu anggapan bahwa hukum kodrat

seperti bangkit kembali sebagaimana disuarakan Roscoe Pound (1982:

24), Eikema Hommes (1961), dan Wolfgang Kluxen (1979). Namun

berbeda dengan pemikir zaman dulu, pemikir zaman ini menginsyafi

bahwa hidup manusia bersifat dinamis. Dinamisnya masyarakat ter-

cermin dalam pandangan-pandangannya, misalnya masalah perbudak-

an, zaman dulu hat ini sesuatu yang wajar dan sesuai dengan martabat

kemanusiaan, namun kita harus akui bahwa pandangan tersebut keliru,

Contoh yang lain misalnya masalah kesetaraan gender, dan lain

sebagainya.

Demikianlah dapat dipastikan bahwa manusia melalui pikiran-

nya meIihat dirinya dalam suatu situasi hsitoris aktual                tertentu, dan

 

91

 

bahwa gambaran manusia ten tang dirinya terus berubah dalam lintas-

an sejarah. Namun adanya kesadaran tentang perubahan pandangan-

pandangan tertentu membuktikan juga, bahwa manusia mampu meng-

atasi situasi historisnya dan mampu menerapkan aturan-aturan hidup

yang kurang lebih tetap. Karenanya pada zaman sekarang ini diterima

adanya prinsip-prinsip yang harus digunakan dalam menyusun per-

aturan-peraturan, tetapi prinsip-prinsip itu umumnya tidak dipandang

lagi sebagai prinsip yang abadi (Huijbers, 1995: 85).

Saat ini hukum kodrat yang terperinci seperti zaman klasik dan

pertengahan tidak lagi dianggap bersifat abadi ,                karena dinamisnya

kehidupan manusia. Namun prinsip itu tetap ada , dengan lebih umum

seperti keadilan, kejujuran, kesopanan dan lain-lain. Prinsip itu

memiliki ketetapan, tetapi juga suatu kelonggaran untuk berubah

sesuai perkembangan zaman.

Sekarang ini ban yak sarjana tidak rela menerima adanya dua

macam hukum, yang satu telah menjadi undang-undang dan yang lain

yang dipikirkan sebagai hukum dasar yang Iebih kuat daripada

undang-undang. Oleh karena para ahli hukum senantiasa melembaga-

kan /institusionalisasi     atau formalisasi prinsip-prinsip hukum dengan

memasukkannya dalam undang-undang dengan mengadopsinya dalam

kerangka rasionaI. Dengan ini pula sebenamya berarti ban yak pemikir

menolak positivisme hukum, tetapi sekaligus mengakui bahwa hukum

yang benar adalah hukum positif.

Namun demikian para positivis memandang bahwa prinsip-

prinsip hukum yang terdapat dalam hukum kodrat sebagai prinsip

regulatifbelaka, yaitu sebagai pedoman bagi terbentuknya hukum, dan

bukan sebagai prinsip konstitutif dari hukum. Artinya prinsip-prinsip

tersebut memang harus diindahkan pad a saat undang-undang di-

bentuk, namun bila undang-undang yang ada seandainya bertentangan

dengan prinsip-prinsip hukum kodrat,           maka undang-undang tersebut

tetap sah berlaku. Dengan kata lain menurut para postivis cenderung

menganut prinsip kepastian hukum, dibandingkan dengan sarjana

tradisional yang lebih memperhatikan prinsip keadilan dan keman-

faatan hukum bagi masyarakat.

 

 

 

 

B. POSITIVISME HUKUM

 

1. Pengertian

 

92

93

 

Prinsip-prinsip positivisme yuridis adalah:

1.  Hukum adalah sama dengan undang-undang,

ini didasarkan pemikiran bahwa hukum muncul ber-

kaitan dengan Negara, sehingga hukum yang benar adalah

 

Positivisme dalam pengertian modem adalah suatu sistem  fil-

safat yang mengakui hanya fakta-fakta positif dan fenomena-feno-

mena yang bisa diobservasi. Dengan hubungan objektif fakta-fakta ini

dan hukurn-hukum yang menentukannya, meninggalkan semua penye-

lidikan menjadi sebab-sebab atau asal-asul tertinggi (Muslehuddin,

1991: 27). Dengan kata lain, positivisme merupakan sebuah sikap

ilmiah, menolak spekulasi-spekulasi apriori dan berusaha membangun

dirinya pada data pengalaman. Teori ini dikembangkan oleh August

Comte, seorang sarjana Perancis yang hidup pada tahun 1798 hingga

1857.

Dimulai dengan pertengahan kedua abad ke-19, positivisme

menjalar ke dalam segala cabang ilmu pengetahuan sosial, termasuk

ilmu pengetahuan hukum. ia berusaha untuk mendepak pertimbangan-

pertimbangan nilai-nilai dari ilmu Yurisprudensi dan membatasi tugas

ilmu-ilmu ini pada analisa, dan mendobak tatanan hukum positif. Para

positivis mengajarkan bahwa hukum positiflah yang merupakan

hukum yang berlaku; dan hukum positif disini adalah norma-norma

yudisial yang dibangun oleh otoritas negara. la juga menekankan

pemisahan ketat hukum positif dari etika dan kebijaksanaan sosial dan

cenderung   mengidentifikasikan keadilan  dengan   legalitas,   yaitu

ketaatan kepada aturan-aturan yang ditentukan oleh negara.

Positivisme hukum ada 2 bentuk, yaitu positivisme yuridis dan

positivisme sosiologis:

a. Positivisme yuridis

Dalam perspektif positivisme yuridis, hukum dipandang

sebagai suatu gejala tersendiri yang perlu diolah secara ilmiah.

Tujuan postivisme yuridis adalah pembentukan struktur-struktur

rasional system-sistem yuridis yang berlaku. Dalam praksisnya

konsep ini menurunkan suatu teori bahwa pembentukan hukum

bersifat professional yaitu hukum merupakan ciptaan para ahli

hukum.

/

hukum yang berlaku dalam sua tu Negara.

2. Tidak ada hubungan mutlak’     antara hukum dan moral.

Hukum adalah ciptaan para ahli hukum belaka.

3. Hukum adalah suatu closed logical system .

Untuk menafsirkan hukum tidak perlu bimbingan norma

sosial, politik dan moral melainkan cukup disimpulkan dari

undang-undang. Tokohnya adalah : R. von Jhering dan John

Austin (analytical jurisprudence).

b. Positivisme sosiologis

Dalam perspektif positivisme sosiologis, hukum dipan-

dang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Dengan demi-

kian hukum bersifat terbuka bagi kehidupan masyarakat. Keter-

bukaan tersebut menurut positivisme sosiologis harus diselidiki

melalui metode ilmiah. Tokohnya adalah Auguste Comte (1789-

1857) yang menciptakan ilmu pengetahuan baru, sosiologi.

 

Dalam teori hukum modem, positivisme telah mendapatkan

pengertian umum. Positivisme hukum telah memanifestasikan dirinya

ke dalam yurisprudensi analitik, yang disini disebut Positivisme Ana-

litik. Positivisme Analitik bertitik tolak dari suatu tatanan hukum ter-

tentu, dimana dari situ dijaring konsep-konsep, pengertian-pengertian

dan perbedaan-perbedaan        fundamental tertentu dengan menggunakan

metode yang sepenuhnya induktif, kemudian membandingkannya

dengan perbedaan-perbedaan, konsep-konsep dan pemikiran-pemikir-

an fundamental tertentu dari tatanan hukum lain untuk memastikan

sejumlah unsur yang sama (Bodenheimer, 1967: 93). Dengan cara ini,

Positivisme Analitik berarti melengkapi ilmu pengetahuan hukum

dengan anatomi suatu sistem hukum, prinsipnya memisahkan hukum

yang ada  (das sein)  dengan hukum yang seharusnya   (das sol/en)

(Friedmann, 1990: 257).

 

 

 

2. Positivisme Analitik

 

94

95

 

diberikan oleh negara. Dengan otoritas semacam itu mungkin telah

dijamin secara jelas; tapi biasanya ia memberinya melalui persetujuan

 

Sarjana yang membahas secara komprehen sif sistem positivis-

me hukum analitik adalah John Austin (1790-1859),                 seorang yuris

Inggris. la mendefinisikan hukum sebagai suatu aturan yang ditentu-

kan untuk membimbing makhluk berakal oleh makhluk berakal yang

telah memiliki kekuatan mengalahkannya. Sehingga karenanya hu-

kum, yang dipisahkan dari keadilan dan sebagai gantinya didasarkan

pada ide-ide baik dan buruk, dilandaskan pada kekuasaan yang ter-

(secara diam-diam) (Bodenheimer, 1967: 96).

Adanya berbagai jenis hukum diterangkan oleh tokoh positivis-

me John Austin (1970-1859). Menurut dia hukum dibedakan menjadi

dua:

I). Hukum Allah, merupakan suatu moral hidup daripada hukum

dalam arti sejati.

 

tinggi (Friedmann, 1990: 258).

,

2). Hukum manusia, yakni segala peraturan yang dibuat oleh

 

Menurut Austin, ilmu yurisprudensi membicarakan hukum-

hukum positif, karena mempertimbangkan tanpa memperhatikan baik

atau buruknya hukum-hukum itu. Semua hukum positif berasal dari

pembuat hukum yang sangat menentukan, sebagai yang berdaulat. la

mendefinisikan penguasa sebagai seorang manusia superiori yang

menentukan, bukan dalam kebiasaan ketaatan kepada seorang yang

seakan-akan superiori dan yang menerima kebiasaan ketaatan dari

suatu masyarakat tertentu.     la  menjelaskan bahwa atasan itu mungkin

seorang individu, sebuah lernbaga atau sekumpulan individu. Pengua-

sa tidak dengan sendirinya diikat oleh batasan hukum baik dipaksakan

oleh prinsip-prinsip atasan atau oleh hukum-hukumnya sendiri.

Karakteristik hukum yang terpenting menurut teori Austin ter-

letak pada karakter imperatifnya .          Hukum dipahami sebagai suatu

perintah dari penguasa. Akan tetapi memang tidak semua perintah

oleh Austin dianggap sebagai hukum,           menurut pandangannya hanya

perintah-perintah umum yang mengharuskan seseorang atau orang-

orang untuk bertindak atau bersabar dari suatu kelas pantas mendapat

atribut hukum (Bodenheimer, 1967: 95). Menurut Austin sebuah

perintah yang memenuhi syarat sebagai hukum tidak harus keluar

langsung dari sebuah badan legislatif suatu negara, semi sal Parlemen

di Inggris. la bisa saja keluar dari sebuah badan resmi (pemerintah)

dimana otoritas pembuatan hukum telah didelegasikan oleh penguasa.

Menurut Austin hukum buatan hakim adalah hukum positif dalam

pengertian yang sebenamya dari istilah ini, karena aturan-aturan yang

dibuat hakim melalui kekuatan hukum mereka berupa kekuasaan yang

manusia sendiri.

Hukum manusia dibedakan lagi menjadi:

a. Hukum yang sungguh-sungguh (properly so called).      Hukum

ini adalah undang-undang yang berasal dari suatu kekuasaan

politik, atau peraturan-peraturan pribadi-pribadi swasta yang

menurut undang-undang yang berlaku.

b. Hukum yang sebenamya bukan hukum                              (improperly so

called). Seperti peraturan-peraturan               yang berlaku bagi suatu

klub olahraga, pabrik,             dan sebagainya. Peraturan-peraturan

ini bukan hukum dalam arti yang sesungguhnya, sebab tidak

berkaitan dengan pemerintah sebagai pembentuk hukum.

 

Jika kita mengacu pada apa yang dikatakan oleh Austin maka

menurut Huijbers (1995: 41) ada dua turunan pandangan:

1.   Bidang yuridis mendapat tempat yang terbatas, yaitu menjadi

unsur negara. Wilayah hukum bertepatan dengan wilayah suatu

negara.

2. Hukum mengandung arti kemajemukan sebab terdapat beberapa

bidang hukum di samping negara, walaupun bidang-bidang itu

tidak mempunyai arti hukum dalam arti yang penuh. Hukum

dalam arti yang sesungguhnya adalah hukum yang berasal dari

negara dan yang dikukuhkan oleh negara, Hukum-hukum lain

tetap dapat disebut hukum, tetapi tidak memiliki arti yuridis

yang sesungguhnya.

96

 

Austin menyatakan demikian karena bertolak dari kenyataan

bahwa terdapat suatu kekuasaan yang mernberikan perintah-perintah

dan ada orang yang menaati perintah-perintah         tersebut.   Tidak penting

mengapa orang menaati perintah-perintah ters ebut, ada orang yang

mentaati karena rnerasa memiliki           kew ajib an  untuk   memperhatikan

kepentingan umum, takut akan kekacauan , terpaksa        dan lain sebagai-

nya tidak menjadi persoalan. Yang jelas jik a tidak mentaati, maka

akan dikenakan sanksi .       Maka untuk dap at dise but hukum menurut

Austin diperlukan adanya unsur-unsur             sebagai    berikut: (1) adanya

penguasa   (souvereighnityy,    (2)   suatu pe rintah   (command) ,    (3) kewa-

jiban untuk menaati (duty) , dan (4)       sanksi bagi mereka yang tidak taat

(sanction ).

Dengan demikian Austin, sebagaimana dikatakan oleh Fried-

man (1990), mengganti ideal keadilan yang secara tradisional dipan-

dang sebagai pokok utama segala hukum, dengan               perintah seorang

penguasa. Definisi Austin (dalam Friedman ,                1990) tentang hukum

berbunyi sebagai berikut:

97

 

Teori Austin yang berlandaskan pada perintah penguasa-

penguasa dalam arti negara modem kemudian d ikembangkan                 oleh

Rudolf von Jhering dan George Jellinek. Kaum positivi sme sej ak dar i

Austin, amat terpengaruh oleh teori hukum dengan                           men gubah     pene-

kanan dari teori-teori keadilan menjadi teori-teori negara                                  berdaulat

nasional sebagai gudang dan sumber kekuasaan hukum . Ha ns Kelsen

dan para pengikutnya yang secara kolektif dikenal             seba gai “Mazhab

Wina” kemudian mengembangkan positivi sme ana litis Austin .

 

 

Kritik atas Teori Austin

Penggolongan Austin yang mengkategorikan                 semua hukum

sebagai perintah telah dikritik oleh berbagai penulis seperti Bryce,

Gray, Dicey, yang menganggap hak-hak privat, undang-undang admi-

nistratif dan hukum-hukum deklaratori tidak bisa digolongkan seb agai

perintah. Disamping itu, teori Austin tidak menawarkan pemecahan

dalam menghadapi interpretasi-interpretasi yang bertentangan den gan

 

Every   positive

is directly    or circuitously, by sou vereighn

suatu keadaan atau preseden. Pemisahan hukum secara ketat da ri cita-

 

individual or body, to a member or memb ers           of          independent

political society                its author is supreme.

 

Hukum adalah tiap -tiap      undang-undang positif yang ditentukan

secara langsung atau tidak Iangsun g            oleh   seorang pribadi atau seke-

lompok orang yang berwibawa bagi               scorang    anggota atau anggota-

anggota suatu masyarakat politik yang bcrdaulat,                dimana yang mem-

bentuk hukum adalah yang tcrtinggi.

Menurut Huijbers (1995) kelemahan utama teori                      Austin terletak

pada pandangan bahwa negara dan hukum adalah kenyataan belaka.

Hukum dianggapnya tidak lain daripada perintah-perintah yang dike-

luarkan oleh yang berkuasa dan yang biasanya ditaati. Hal ini berarti

jika peraturan-peraturan tersebut secara            de  fa cto   ditaati, peraturan-

peraturan tersebut dianggap berlaku juga secara                  de jure.   Hal ini

menurut Huijbers tidak dapat dibenarkan, menurut Huijbers hukum

yang sesungguhnya adalah hukum yang legal.

cita keadilan juga dibantah oleh pemikir-pernikir lain .

 

 

3. Positivisme Pragmatik

Sebagai lawan dari teori Austin adalah gerakan kaum Realis

Amerika yang disebut Positivisme Pragmatis, yang mempelajari

hukum sebagai karya-karya dan fungsi-fungsinya bukan scbagai yang

tertulis di atas kertas. Hal ini merupakan sua tu pendekatan pragmatis

terhadap hukum, yang mengarah pada akhir segala sesuatu, hasil dari

akibat-akibatnya. Sebagaimana dinyatakan oleh Friedmann, menjelang

akhir abad ke-19, skeptisisme yang sehat yang menyerang pendirian

jurisprudensi analitis mengambil dua bentuk yang amat berbeda: suatu

idealisme hukum baru yang sebagian bersifat metafisik dan sebagian

lagi bersifat sosiologis, lentur dan bertekad melawan asumsi positivis-

me analitis dan mengarah untuk meneliti realitas-realitas masyarakat

modem dalam hubungan mereka dengan hukum modem (Friedmann,

1990: 294).

 

98

 

Positivisme Pragmatik dan Analitik merupakan kubu-kubu yang

terpisah dalam konsep-konsep                 hukum mereka. Bagi kaum positivis

Analitis, hukum dipisahkan dari etika, sernentara kaum Positivis Prag-

matis melekatkan makna penting kebaikan etik ,                              tetapi esensi dari

kebaikan -sebagairnana dinyatakan oleh WiIIiam James- adalah benar-

benar memuaskan keinginan-keinginan. Roscoe Pound (lahir 1870)

pendiri fiIsafat sosial Amerika ,               benar-benar       terpengaruh oleh filsafat

Pragmatis yang dikemukakan oleh William lames, karena ia meng-

anggap tujuan akhir hukum dalam rangka memuaskan keinginan-

keinginan semaksimal mungkin.

Hukum menurut Positivisme Pragmatik, harus ditentukan oleh

fakta-fakta sosial yang berarti sebuah konsepsi hukum dalam perubah-

an terus menerus dan konsep masyarakat yang berubah lebih cepat

dibandingkan hukum, sementara Positivisme Analitik mempertahan-

kan kestabilan yang kaku dalam hukum.            Kaum Positivis Pragmatis

mementingkan hukum seharusnya, sedangkan tcori Austin hanya me-

mentingkan ‘apa hukum itu?’. Perbedaan ini disamping yang lainnya

membuat Positivisme menjadi scbuah teori yang mengalami kontra-

diksi dalam dirinya sendiri.

 

 

C. TEORI HUKUM MURNI

 

Pembahasan utama       Hans Kelsen (lahir 1881) dalam teori

hukum murni adalah untuk membebaskan             ilmu hukum dari unsur

ideologis. Kcadilan misalnya, oleh Kelsen dipandang sebagai sebuah

konsep ideologis. la melihat dalam keadilan sebuah ide yang tidak

rasional dan teori hukum murni tidak bisa menjawab tentang perta-

nyaan tentang apa yang membentuk keadilan karena pernyataan ini

sama sekali tidak bisa dijawab secara ilmiah. Jika keadilan harus di-

identikkan dengan legaIitas, dalam arti tempat, kcadilan berarti meme-

lihara sebuah tatanan (hukum) positif melalui aplikasi kesadaran

atasnya.

Teori hukum murni menenurut Kelsen adalah sebuah teori

hukum positif. Teori ini berusaha menjawab pertanyaan “apa hukum

 

99

 

itu?” tetapi bukan pertanyaan “apa hukum itu seharusnya?”. Teori ini

mengkonsentrasikan diri pada hukum semata-mata dan berusaha

melepaskan ilmu pengetahuan hukum dari campur tan gan                         ilrnu penge-

tahuan asing seperti psikologi dan etika. Kelsen memisahk an              penger-

tian hukum dari segala unsur yang berperan dal am                                 pembentukan

hukum seperti unsur-unsur psikologi ,           sosiologi, sejarah, politik,          dan

bahkan juga etika. Semua un sur ini termasuk ‘ide                hukum ‘   atau  ‘ isi

hukum’ . Isi hukum tidak pernah lepas dari unsur politik, psikis, sosial-

budaya, dan lain-lain. Bukan demikian halnya dengan pengertian

hukum. Pengertian hukum menyatakan hukum dalam arti formalnya,

yaitu sebagai pcraturan yang berIaku secara                          yuridis .     Inilah     hukum

dalam arti yang benar, hukum yang murni (das reine Recht).

Mengapa kewajiban yang terIetak dalam kaidah hukum adalah

suatu kewajiban yuridis? Menurut pcnganut positivisme, hal ini ter-

sangkut dengan suatu kcharusan ekstem,           yaitu karena ada paksaan/-

ancaman dari pihak luar jika tidak menaati. Dasarnya adalah bahwa

asal mula segala hukum adalah undang-undang dasar negara. Oalam

relasi negara ada penguasa dan ada rakyat, ada yang memberi perintah

dan ada yang harus menaati perintah.

Pandangan kedua menyatakan bahwa hal ini tersangkut dengan

suatu kewajiban intern, yaitu karena dorongan dari batin untuk mene-

rimanya sebagai suatu kewajiban yang harus ditaati. Kewajiban yuri-

dis dianggap sebagai suatu dorongan batin yang tidak dapat dielakkan.

Lalu bagaimana hukum dapat mewajibkan secara batin? Menurut

Hans Kelsen (1881-1973) adalah karena adanya kewajiban yuridis,

sebab memang beginilah pengertian kita tentang hukum.                 suatu per-

aturan yang a-normatiftidak masuk akal , dan tidak merupakan hukum.

Meminjam istilah Immanuel Kant,                  Kelsen     menyatakan bahwa kewa-

jiban hukum tennasuk dalam pengertian                 transedental-logis,       yaitu

“mewajibkan” harus diterima sebagi syarat yang tidak dapat dielakkan

untuk mengerti hukum sebagai hukum. Jika menurut Kant ada norma

dasar    (grundnorm) bagi moral (yang berbunyi: berlakulah sesuai

dengan suara hatimu), maka menurut Hans Kelsen dalam hukum juga

terdapat suatu norma dasar yang harus dianggap sebagai sumber keha-

rusan dibidang hukum . Norma dasar (grundnorm)                     tersebut berbunyi:

 

 

100

 

orang-orang harus menyesuaikan diriya dengan apa yang telah

ditentukan.

Meskipun Kelsen telah berusaha menjawab pertanyaan tentang

mengapa hukum mewaj ibkan secara batin, .namun jawaban Kelsen

banyak dikritik karena konsep norma dasar abstraknya tidak dapat

dipahami. Kritik ini membawa Kelsen menerima teori                       stufenbau.

Menurut Kelsen syarat satu-satunya bagi suatu peraturan untuk dapat

disebut sebagai hukum yang mewaj ibkan adalah bahwa terdapat suatu

minimum efektivitas (yaitu orang harus menaatinya). Dengan kesim-

pulan ini Kelsen sudah beralih ke positivisme hukum.

Jawaban yang lain diberikan oleh konsepsi Islam tentang makna

syariat sebagai hukum yang mewajibkan. Seorang muslim harus

menginsyafi bahwa kehidupannya telah diatur oleh syariat. Syariat

tersebutlah yang memberi makna sakral pada setiap aspek kehidupan,

meneiptakan keseimbangan pada masyarakat, dan menyediakan media

bagi umat manusia agar dapat menjalankan kehidupan sal eh sarat

dengan nilai, serta untuk memenuhi fungsi manusia sebagai makhluk

Tuhan yang ditempatkan di muka bumi agar mengabdikan diri kepada

kehendak-Nya. Menurut Sayyid Hossein Nasr (2003: 90) melalui

syariat,   seorang muslim mempunyai potensi untuk dapat melampui

makna esoterik syariat itu sendiri dan menempuh jalan                     (thariqat)

menuju kebenaran     (hakikat) yang terkandung di balik sisi lahir dan

ajaran-ajaran hukum yang suei.

Nasr menjelaskan bahwa syariat adalah garis yang mernbentuk

sebuah lingkaran, tiap-tiap titik dalam garis yang melingkar tersebut

mewakili tempat berpijak umat muslim. Tiap-tiap radius yang meng-

hubungkan setiap titik sudut pada garis lingkaran ke titik di tengah

lingkaran itu menyirnbolkan       thariqat, dan titik yang berada ditengah

adalah hakikat, yang menjadi sumber keberadaan garis radial, dan

sudut garis yang membentuk lingkaran. Semua bagian lingkaran,

dengan titik di tengah, garis lingkaran dan garis radialnya dapat dium-

pamakan mewakili totalitas tradisi Islam. Seseoranng diperkenankan

untuk memilih salah sa tuIgaris radial sebagai rute yang mengantar-

kannya ke titik yang berada di tengah-tengah lingkaran, namun

dengan satu syarat yakni melalui garis perrnulaan dari lini yang

 

101

 

membentuk lingkaran. Sedemikian besar makna syariat, sehingga

tanpanya pengembaraan spiritual tidak akan mungkin dapat ditempuh,

dan dengan dernikian agama itu sendiri tidak akan dapat dipraktikan.

Dari sini kita mengetahui bahwa konsep Nasr diatas telah

menjelaskan konsep transedental-Iogis hukum yang dikemukakan

Immanuel Kant.

 

 

Kritik atas teori Kelsen

Singkatnya teori Kelsen mernbatasi dirinya pada hukum seba-

gaimana adanya tanpa memperhatikan keadilan atau ketidakadilannya.

Akan tetapi menurut Stammer kemurnian mutlak bagi teori hukum :

apapun adalah tidak mungkin. Kelsen harus mengakui manakala teori

ini memasuki pertanyaan tentang norma-norma fundamental yang

bertentangan. Pertanyaan, yang merupakan norma-norma fundamental

yang valid, dirnana teori murninya tidak bisa menghindari, karena

tanpa itu maka keseluruhan bangunan itu akan runtuh (Friedrnann,

1990: 285). Dari sisi lain, Lauterpaeht seorang pengikut Kelsen telah

mernpertanyakan apakah teori hierarki norma-norma hukum tidak

menyatakan seeara langsung sebuah pengakuan akan prinsip-prinsip

hukum alam, walaupun Kelsen menyerang keras ideologi hukum alam

(Friedmann, 1990: 286).

Keeuali teori hukum murni menyatakan bahwa situasi-situasi

yang mengabaikan pilihan diantara dua ideologi alternatif, semi sal

interpretasi-interpretasi yang memperdebatkan undang-undang, teori

ini menolak mernberikan bimbingan apapun juga bagi pemeeahan

atas-atas konflik semaeam itu. Tidak dapat disangkal bahwa hukum

dalam kasus-kasus semaeam itu tidak bisa diinterpretasikan dengan

tanpa menunjuk kepada cita-cita hukum. Selanjutnya hukum menurut

Austin dan Kelsen merupakan sebuah tatanan yang digaransi oleh

aneaman-aneaman -yang menurut Friedmann merupakan eiri khas

hukum kriminal- ia mengabaikan fungsi utama hukum sebagai alat

kontrol sosial, diluar proses pengadilan atau penuntutan perdata.

Dengan pernberian kekuasaan, tidak: melalui tatanan yang digaransi

oleh aneaman-aneaman, hukum memiliki kontribusi dalam kehidupan

 

 

102

 

sosial. la memungkinkan individu-individu bisa membentuk hubung-

an-hubungan hukum mereka dengan orang-orang lain melalui kontrak,

wasiat, perkawinan dan tindakan hukum lainnya.

 

 

D. HUKUM BERLANDASKAN WAHYU

 

Menarik untuk dieatat bahwa Roseoe Pound menandai kejadi-

an-kejadian pada abad ke- I 9 yang memberi sebuah rangkaian baru

kepada hukum alarn dengan hasil bahwa hukum alam diinterpre-

tasikan sesuai dengan perubahan sosial dan kehilangan karakter

idealnya sebagai hukum yang lebih tinggi . la mengatakan:

Karena kemacetan organisasi sosial feodal, kenaikan perda-

gangan dan era penemuan, kolonisasi dan eksploitasi atas sumber-

sumber benua-benua barn, bersarnaan dengan rnunculnya nation-

.  nation menggantikan tumpukan teritorial yang dipegang oleh budak,

ruembutuhkan sebuah hukum nasional yang disatukan dalarn dominasi

nasional. Starkey mcngajukan kodifikasi kepada Henry VIII dan

Durnoulin    menghimbau       harmonisasi      dan     unifikasi      hukum     adat

Perancis dengan kcdifikasi akhirnya. Para teolog yuris Protestan abad

ke- 19 mencmukan scbuah basis filsafat untuk me menu hi keinginan-

keinginan waktu itu dalarn negara yang dinobatkan sebagai bersifat

ketuhanan dan dalam hukum alam yang dipisahkan                  dari teologi dan

berlandaskan semata-mata kepada akal, merefleksikan keyakinan tak

terbatas pada akal dengan datangnya               renaissance.     Jadi setiap yuris

nasional biasa menafsirkan sendiri hukum alam berkat kemarnpuan

akalnya, sebagaimana         setiap orang Kristcn bisa menafsirkan finnan

Tuhan untuk dirinya sendiri seperti yang ditunjukkan oleh akal dan

kesadarannya. Disisi lain para Yuris Katolik kalangan Kontra-refor-

masi menemukan sebuah          basis filsafat untuk memenuhi keinginan-

keinginan yang sama dalarn sebuah konsepsi hukurn alam sebagai

sua tu sistem batasan-batasan perbuatan manusia yang mengekspesikan

sifat manusia, yaitu gagasan rnanusia sebagai makhluk rasional, dan

hukum positif sebagai sistem ideal yang mengekspresikan hukum

sebuah negara yang tidak menyatu (Pound,          1953: 13-14).

 

103

 

Dari sini filsafat hukum dengan akal sebagai basisnya, ambruk

karena hukum alam ditafsirkan oleh setiap yuris menurut akalnya

sendiri padahal berbeda dari satu ke lain orang dan lain tempat

(Muslehuddin, 1991: 40).

I-Iume  telah memberikan rembesan analisis logis yang meng-

hancurkan pretensi hukum alam terhadap validitas ilmiah. Teori

hukum alam ditandaskan pada scbuah konsepsi akal sebagai potensi

yang melekat pada diri setiap manusia dan menciptakan norma-norma

perbuatan yang abadi dan pasti. Hume memperjelas bahwa akal

seperti dipahami dalam sistem hukum alam mengacaukan tiga hal

berbeda:

a. Kebenaran-kebenaran yang tidak dapat dihindarkan dan pen-

ting, yang amat sedikit sekali seperti aksioma-aksioma metema-

tika. Aksioma tersebut tidak ada dalam kawasan tingkah laku

manusia.

b. Hubungan antara fakta-fakta atau kejadian-kejadian yang seeara

formal dijelaskan melalui ‘sebab dan akibat’ karena fakta dan

kejadian selalu diasosiasikan dalam suatu pola khusus, sebagai

bahan bagi pengalaman dan observasi. Tetapi tidak ada keperlu-

an logis dalam asosiasi semacam itu, ia semata-rnata sebuah

bahan    bagi     hubungan     empirik      sedangkan     observasi      atas

hubungan-hubungan ini merupakan objek ilmu pengetahuan

empirik.

e. Perbuatan manusia yang ‘rnasuk akal’. Teori-teori hukum alam

mengasumsikan bahwa ada prinsip-prinsip tingkah laku rasional

yang karenanya mcrupakan bagian dari validitas universal dan

penting (Sabine, 1964: 59).

 

Analisa diatas menunjukkan bahwa konsep akal yang dijadikan

tumpuan teori hukum alam, hanyalah sebuah kekaeauan dari tiga

faktor yang pengertiannya amat berbeda ini. Karena itu, Hume

menolak akal. Menurutnya akal hanyalah semata-mata khayalan, dan

dibuat-buat. Untuk ini Muslehuddin menyatakan:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I

 

 

104

 

Filsafat hukum yang bertujuan mencapai keadilan mutlak

berlandaskan pada hukum alam, tidak akan bertahan lama selama akal,

 

105

 

bunuhan, pemotongan anggota badan maupun tindakan melu-

kai. Termasuk memelihara kemuliaan dan harga diri manusia

 

yang selalu berubah, menjadi

Demikina pula keadilan itu

dengan jalan mencegah perbuatan         qadzcf (menuduh berzina),

 

sendiri merupakan karakter cair dan tidak bisa memberikan sebuah

definisi yang tepat. Kedua faktor ini menyebabkan kelemahan filsafat

hukum, walaupun ia talah berjuang keras untuk mencapai tujuan yang

diinginkannya. Ini membuktikan perbedaan antara akal dan wahyu.

Akal gaga] mencapai keadilan, tetapi wahyu telah menjadi sumber

abadi bagi keadilan dan pada kenyataanya sebagai keadilan mutlak.

Karena hanya Tuhanlah yang mengetahui apa yang mutlak baik dan

adil untuk manusia. Karena itu Islam mendekati keadilan dengan cara

yang dijel’askan oleh Tuhan dan menurut petunjuk yang digariskan

oleh wahyu, karena konsep keadilan tidak pemah berubah maupun

bervariasi tetapi tetap abadi dibawah wahyu (Muslehuddin, 1995: 41).

Menurut As Syatibi, Abu Zahroh (1994), Abdul Wahab Khalaf

(1994), Islam telah mensyariatkan berbagai hukum yang menjamin

terwujudnya hal-hal       yang   dharuri  (primer) yang meIiputi: agama,

jiwa, akal, kehormatan, dan harta kekayaan; dan menjamin pemeIiha-

raan terhadap kelima hal tersebut.

1. Memelihara agama

Agama adalah sekumpulan akidah, ibadah, hukum dan undang-

undang yang disyariatkan oleh Allah untuk mengatur hubungan

manusia denganNya, dan hubungan antar manusia (Khalaf,

1994: 314). Untuk mewujudkan dan memeIihara agama, Islam

telah mensyariatkan iman dan hukum pokok ajaran dasar islam

tsyahadatain,   sholat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji), kewa-

jiban berdakwah untuk menyeru manusia kepada agama, kewa-

jiban berjihad untuk memerangi orang-orang yang menghalangi

agama, hukuman terhadap orang yang murtad dari agama, dan

hukuman     terhadap     pembuat     bid ‘ah    (mengada-ada      dalam

agama).

2. Memeliharajiwa ial-Muhafadzah ala an-Nafsy

Yaitu memelihara hak untuk hidup terhormat dan memelihara

jiwa agar terhindar dari tindakan penganiayaan, berupa pem-

dan melindungi kebebasan berpikir, berpendapat, berkarya dan

bergerak ditengah dinamika sosial sepanjang tidak merugikan

orang lain (Zahrah, 1994: 549-550).

3. Memelihara akal (al-Muhafadzah ala al- ‘aql)

Yaitu menjaga akal agar tidak terkena bahaya (kerusakan) yang

mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak berguna lagi

dimasyarakat, menjadi sumber keburukan dan penyakit bagi

orang lain. Arti penting pemeliharaan akal:

a. Setiap individu sebagai bagian dari sebuah tatanan ma-

syarakat, maka akal yang dimiliki oleh setiap anggota

masyarakat memiliki fungsi sosial, Sebab denagan akal

tersebut, setiap individu ikut membentuk po la kehidupan

masyarakat.

b. Orang yang membiarkan akalnya dalam kerusakan, akan

menjadi beban yang harus dipikul oleh masyarakat.

c. Dengan rusaknya akal seseorang maka memungkinkan

timbulnya ketidaktertiban dalam masyarakat. Masyarakat

akan menanggung resiko atas terjadinya kejahatan dan

pelanggaran       yang     disebabkan      oleh      rusaknya      akal

(Zahrah, 1994: 549-550).

Oleh karena itu Islam mensyariatkan pengharaman minuman

khamar dan segala hal yang memabukkan yang menyebabkan

hilangnya (rusaknya) akal.

4. Memelihara keturunan tal-Muhafadzah ala an-Naslt

Yaitu memelihara tatanan nilai dalam proses pergaulan diantara

sesama manusia dan mencegah terjadinya kerusakan biologis

yang diakibatkan oleh ketidakterjagaan didalam proses interaksi

sesama manusia. Oleh karena itu Islam melarang menikah dan

berhubungan kelamin dengan muhrimnya (incest)      dan melarang

berzina dengan        memberikan     sanksi     yang    seberat-beratnya

 

 

 

 

berupa hukuman hadd.

 

106

 

5. Memelihara harta tal-Muhafadzah ala al-Mali

Untuk menghasilkan       dan   mernperoleh harta      kekayaan,   Islam

mensyaratkan kewaj iban beru saha                 untuk mernperoleh            rezeki ,

kebebasan bermuamalah, pertukaran,         perdagangan    dan kerja-

sama dalarn usaha. Sed an gkan      untuk mem elihara     harta , Islam

mensyariatkan pengharama n pencurian       den gan  hukuman  hadd

bagi setiap orang ya ng melakukannya, dan mengharamkan riba

karena termasuk perbuatan aniaya (dzalim)     terhadap orang lain

dalam hal harta.

 

 

 

BAB VII

AZASHUKUM

 

 

Pengertian azas hukum adalah prin sip -prin sip            yang   dianggap

dasar atau fundamen   hukum atau pen gertian dan    nila i-nilai yang men-

j adi titik tolak berpi kir       tentang   huku rn atau titik    tolak   bagi pemb en-

tukan undang-undang            dan interpretasi           undang-undang        atau prinsip-

prinsip yang kedudukannya lebih tin ggi daripada hukum yang ditentu-

kan manusia, Ada tiga macam azas hukum (H uijbers, 1995: 82) :

I. Azas objektif hukum yang ber sifat          moral. Prin sip     ini telah    ada

pada para pemikir Zaman Kla sik

2. Azas objekti f     hukum yang bersifat      rasiona l, yaitu prinsip-prin-

sip yang term asuk    pengertian hukum dan aturan hidup bersama

yang rasional. Prinsip-prinsip ini juga telah dit erima sej ak dahu –

lu, akan tetap i    baru diungkapk an secara nyata sejak        mulainya

zaman modem,     yaitu   sejak timbulnya negara-negara nasional

dan hukum yan g dibuat oleh kaum yuris secara profesional.

3. Azas subjektif hukum         yang bersifat     moral dan rasional, yaitu

hak-hak yang    ada pada   manusia   dan yang menjadi      titik tolak

pembentukan         hukum.     Perkembangan         hukum paling nampak

pada bid ang  ini.

 

Hukum dalam    arti objektif menandakan       kaidah yang sebagai

normatif meng atur     kaidah kehidup an    bermasyarakat. Hukum dalam

arti   subjektif men and ak an      hak dan    kewajiban    yang ada pada orang

yang    merupakan an ggota          masyarakat , yakni sebagai subjek                  hukum .

Seperti azas -aza s yang

 

 

 

A. AZAS OBJEKTIF HUKUM

 

1. Azas Rasional

108

 

109

 

kerelaan hati orang-orang untuk mengakui suatu aturan hidup yang

melebihi kesukaan individual. Aturan hidup itu menjadi sasaran bagi

seorang yang bersikap adil adalah aturan Sang Pencipta, yang menjadi

 

Azas rasional hukum,  yaitu azas yang bertalian dengan suatu

aturan hidup bersama yang masuk akal, dan karenanya diterima

sebagai titik tolak bagi pembentukan suatu tata hukum yang baik.

Azas rasional hukum meIiputi azas bagi hukum objektif (undang-

undang) dan hukum subjektif (hak), yaitu antara lain:

a. Hak manusia sebagai pribadi.

b. Kepentingan masyarakat.

c. Kesamaan hak didepan pengadilan.

d. PerIindungan terhadap yang kurang mampu.

e. Tidak ada ganti rugi tanpa kesalahan (Huijbers, 1995: 87).

 

 

2. Azas Moral

Azas moral hukum,   yaitu azas yang lebih dipandang sebagai

sesuatu yang idiil, yang belum tentu dapat diwujudkan dalam tata

hukum yang direncanakan. Sejak zaman Romawi prinsip-prinsip

moral ini dipandang sebagai hukum kodrat, entah hukum itu dianggap

berkaitan dengan kehendak Tuhan atau tidak. H.L.A. Hart, seorang

positivis berpandangan bahwa undang-undang             harus dibuat dengan

berpedoman pad a prinsip moral (“minimum hukum kodrat”) .                 Akan

tetapi prinsip ini hanya sebagi prinsip regulatif saja, artinya undang-

undang itu tetap hukum, walaupun melawan prinsip moral (Hart,

1979: 76). Gustav Radbruc berpendapat bahwa diperIukan sedikit

natural law yang berfungsi sebagai prinsip konstitutifhukum.

Emil Brunner (1889-1966) menyatakan bahwa negara harus

tunduk pada suatu norma kritis, yaitu hukum kodrat. Hukum kodrat itu

bukan hukum, bila dipandang secara tersendiri, akan tetapi berfungsi

sebagai prinsip konstitutif bagi undang-undang. Sehingga undang-

undang yang tidak menurut hukum kodrat, tidak dapat diakui sebagai

hukum. Menurut isinya hukum kodrat itu merupakan buah usaha ma-

nusia untuk bertindak secara adil, yaitu hukum kodrat mengandaikan

nyata dalam kesadaran manusia tentang tugasnya di dunia. Tugasnya

itu tidak selalu sama, sebab berkembang bersama dengan kesadaran

etis manusia.      Seorang yang beriman akan menerima petunjuk dari

firman Tuhan, akan tetapi orang yang tidak beriman seperti Aristoteles

akan    memikirkan      makna    keadilan juga         (Brunner,      1943    dalam

Huijbers, 1988: 256-259).

Muhammad Iqbal (1934: 1966) mendukung pandangan bahwa

hukum merupakan hasil upaya manusia untuk bertindak sesuai dengan

prinsip-prinsip keadilan. Sikap adil dan baik diperlukan guna mem-

bangun suatu hidup bersama yang diatur melalui hukum dan cinta

kasih. Sikap ini dianggapnya sebagai suatu rasa dasar kemanusiaan

yang berkaitan erat dengan sikap keagamaan juga.

Kehendak untuk berIaku baik terhadap sesama manusia ber-

muara pada pergaulan antar pribadi, berdasarkan prinsip-prinsip rasio-

nal dan moral. Kehendak yang sama juga mendorong manusia untuk

membuat suatu aturan hidup bersama yang sesuai dengan prinsip-

prinsip moral tersebut, yaitu dengan membentuk suatu sistem norma-

norma yang harus ditaati semua pihak yang termasuk dalam suatu

masyarakat tertentu.

Kehendak untuk mengatur hidup menghasilkan tiga macam

norma:

1. Norma moral yang mewajibkan tiap-tiap orang secara batiniah.

Norma ini bersifat subjektif, karena berkaitan dengan suara hati

nurani subjek yang bersangkutan. Selain itu norma ini juga bersifat

“menuntut” untuk ditaati.

2. Norma-norma masyarakat, atau norma-norma sopan santun yang

mengatur pergaulan secara umum. Norma ini bersifat objektif,

karena berhubungan dengan masyarakat dan kebudayaan dan ber-

sifat tidak “menuntut”, tetapi hanya “mengundang”.

3. Norma-norma yang mengatur hidup bersama secara umum dengan

menentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban. Norma inilah yang

dimaksud dengan norma hukum. Norma ini bersifat                       objektif,

 

110

 

karena berkaitan dengan negara dan bersifat menuntut untuk

ditaati.

 

Diatas dinyatakan bahwa norma-norma berdasar atas kehendak,

sebabnya adalah bahwa suatu keharusan yang dalam tiap-tiap norma

mengandaikan bahwa ada “sesuatu yang menghendaki”. Demikian

pula dalam bidang hukum ,        “sesuatu yang menghendaki” itu adalah

warga negara yang bersama-sama mau mengatur hidupnya secara

yuridis. Oleh karcna itu dalam bidang hukum, sustu kehendak yuridis

merupakan akar dan syarat scluruh hukum (positif).

R. Stammler menerangkan bahwa kehendak yuridis tersebut

bukanlah suatu realitas psikologis,             seperti halnya kehendak untuk

memberikan harta jika seseorang dirampok. Karena memberikan harta

bukanlah suatu kewajiban yuridis, melainkan semata-mata oleh sebab

takut (psikis). Oleh karcna itu kehendak psikologis termasuk bidang

“ada”, bukan bidang “harus”. Tampak juga bahwa kehendak psiko-

logis itu bersifat subjektif, sedangkan kehendak yuridis bersifa netral

dan objektif (Kelsen). Menurut Stammler kehendak bebas dan otonom

yang membangun hidup bersama secara yuridis bersifat formal belaka

(dalam arti     Fortnen a priori Kanti,  dan tidak ada sangkut pautnya

dengan isi suatu tata hukum yang bcrsifat materiil. Oleh karena itu

harus dibedakan dcngan teliti antara pengertian hukum yang formal,

dan ide hukum yang material (Huijbers, 1988: 150-156).

 

 

B. NILAI SUBJEKTIF HUKUM

 

1. Hak dan Kewajiban

Hak adalah keistimewaan yang membuka kemungkinan baginya

untuk diperlukan sesuai dengan keistimewaan tersebut. Kewajiban

adalah permintaan berupa sikap atau tindakan yang sesuai dengan

keistimewaan yang ada pada orang lain. Ada dua macam hak:

1). Hak yang dianggap melekat pada tiap-tiap manusia sebagai

manusia sebab berkaitan dengan realitas hidup manusia sendiri.

 

III

 

Hak ini merupakan bagian dari eksistensi etis manusia di dunia

ini. John Locke menerangkan bahwa manusia pada                     zaman

purbakala pun mengetahui hak dan kewajiban yang ada pada

dirinya sebagaimana diajarkan oleh alam. Menurut Locke, “Th e

state of nature has a law of nature to  govern it, which obliges

everyone, and reason, which is that law, teaches                all mankind

who will but consult it, that being all equal and ind ependent, no

one ought to to harm another in his                 life,   health,    liberty   or

possesions”  (“Negara alam” telah memiliki “hukum alam”

untuk mengatumya, yang mewajibkan seseorang dan dengan

alasan tersebut ia kita sebut sebagai hukum, mengajarkan semua

jenis manusia yang akan meminta petunjuknya,                          dengan mem-

perlakukannya sama rata dan tidak saling bergantung, tidak                            ada

yang saling menyakiti satu sama lain dalam kehidupannya,

kesehatannya, kebebasan atau dalam hal kepemilikan           (Coples-

ton, 1961-1975:    138)

2). Hak yang ada pada manusia akibat adanya peraturan perun-

dang-undangan. Hak ini tidak langsung berhubungan dengan

martabat manusia, tetapi menjadi hak sebab termuat dalam

undang-undang yang sah.

 

Hak dan kewajiban manusia melekat sebagai akib at               manusia

memiliki martabat. Manusia memiliki martabat, mengapa? Karena

manusia merupakan makhluk istimewa yang tidak           ada bandingannya

di dunia. Keistimewaan ini nampak dalam pangkatnya, bobotnya, rela-

sinya, fungsinya sebagai manusia. Bukan sebagai makhluk individual,

melainkan sebagai anggota kelas manusia, yang berbeda dengan tum-

buh-tumbuhan dan binatang. Keistimewaan manusia dapat diterang-

kan sebagai berikut:

a. Secara ontologis

a). Menurut filsuf Yunani, Skolastik dan Arab, manusia adalah

makhluk istimewa yang tinggal pada tangga yang paling atas

seluruh hierarki makhluk-makhluk, sebagai wujud yang berakal

budi dan/atau ciptaan Tuhan.

b). Max Scheler: manusia merupakan suatu makhluk ruhani yang

 

 

112

 

melebihi makhluk-makhluk lainnya karena akal budinya yang

transeden.

c). G Marcel: manusia bersifat istimewa karena sebagai pribadi

yang memerlukan orang lain.

 

b. Secara etis

Immanuel Kant menyatakan bahwa nilaimanusia terletak dalam

kebebasannya dan otonominya, yang nyata dalam praksis hidup,

dalam hidup moralnya. Tetapi hidup moral yang bemilai itu berakar

dalam nilai religiusnya, sebab kebebasannya berasal dari Tuhan .

 

 

2. Hak Azasi

Hak-hak asasi manusia diakui sebagai bagian humanisasi hidup

yang telah mulai tergalang sejak manusia menjadi sadar tentang tern-

patnya dan tugasnya di dunia ini. Oleh karena itu hak asasi dianggap

sebagai fundamen yang diatasnya seluruh organisasi hidup bersama

harus dibangun. Hak -hak azasi dibagi dalam dua jenis:

1). Hak azasi individual yaitu hak atas hidup dan perkembangan

hidup seperti hak atas kebebasan batin, hak atas nama baik, hak

atas kebebasan agama, dan sebagainya. Hak-hak dasar ini disu-

sun terutama demi perlindungan pribadi manusia terhadap

kekuasaan Negara.

2). Hak azasi sebagai makhluk sosial, yang dibagi dalam hak-hak

ekonomis, sosial dan kulturaI.

 

 

Universal Declaration of Human Right            (1948) tidak mencipta-

kan hak-hak azasi, tetapi hanya memaklumkannya, meliputi:

a). Manusia mempunyai hak-hak kebebasan politik, dimana tiap

pribadi harus dilindungi terhadap penyelewengan dari pihak

pemerintah.

b). Manusia mempunyai hak-hak kebebasan sosial, yaitu hak untuk

memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, perawat-

an, kesehatan dan pendidikan.

 

113

 

Manusia mempunyai hak-hak kebebasan sipil dan politik dalam

menentukan pemerintahan dan policy pemerintahan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VIII

KEBEBASAN MANUSIA

DANPEMBEBANANHUKUM

 

 

Hukum    bersifat  mewajibkan/membebankan      dan lawan dari

pembebanan adalah kcbcbasan . Manusia diciptakan oleh Tuhan dalam

keadaan bebas dan merdeka,     lalu bagaimana kedudukan hukum dalam

konteks kebebasan manusia?

 

 

A. EKSISTENSI

 

Eksi stcnsi   adalah cara manusia berad a     di dunia sebagai subj ek

yang konkrit. Pengertian        manusia sebagai subjek yang konkrit disini

maksudnya adalah manusia dalam peng ertian subj ektif-konkr it yaitu

manusia dalam kedudukannya sebagai subj ek            di dunia

Eksistensi meliputi dua dimensi: dimensi immanensi,                 yaitu apa saja

yang dilakukan manusia berpusat pad a kesadaran              manusia tentang

dirinya, sehingga       seluruh hidupnya dialami sebagai bagian dirinya

(batinlsistit) , dan dimensi transedensi ,          yaitu manusia tidak hidup

dalam batin saja, tctapi apa yang dirasakannya dalam batin itu adalah

apa yang ada di luar dirinya.

 

 

I    Dalam filsafat tentan g    manusia, pertama-tama     manusia dimengcrti secara

obyektif-abstrak yaitu dalam dcfinisi       home est animal rationale       (manusia adalah

rnakhluk yang bcrakal budi). Kcmudian manusia dimengerti        sccara subjektif-abstrak

dalam ucapan Descartcs,     cogito  ergo sum   (saya bcrpikir maka saya ada), dimana

tekanannya tcrletak dalam kchidupan batin.           Terakhir dalam filsafat eksistcnsial

manusia dimengerti scc ara   subjektif-konkrit, manusia adalah subjek di dunia. Lihat

Huijbers (1995 : 52).

 

115

 

Manusia seba gai    subj ek  yang immanen dan transeden bersifat

dinamis,    hal ini ditandai dengan kenyataan          bahwa manusia berkem-

bang menuju arah ke depan .          Selain itu manusia juga berkembang

melalui tindakannya sen diri. Sifat manu sia                         yang dinamis tersebut

memunculkan ide kunci bagi pengertian manusia, yaitu kebebasan.

 

 

B. KEBEBASAN EKSISTENSIAL

 

Manusia memang tid ak     bebas   untuk masuk ke dunia kar ena      ia

tidak dapat memilih dari      siapa ia dilahirkan , dimana ia akan lahir , apa

jenis kelaminnya,      bagaimana bentuk     tubuhnya dan lain sebagainya.

Namun setelah manusia berada di dunia sesungguhnya ia merupakan

makhluk yang bebas .      Kebebasan    tersebut    menyangkut masa depan,

bukan masa yang lampau . Ma sa yang lampau        merupakan masa yang

harus ia terima dan sebagai ken yataan dari dirinya yang tidak dapat ia

hilangkan. Manusia kemudian men entukan arti dirinya dan mewujud-

kan kehidupannya sebagai kultur (kebudayaan).              Kultur merupakan

simbol keistimewaan dirinya sebagai              makhluk yang bebas. Kultur

tersebut dalam tingkatan yang lebih              tinggi termanifestasi menjadi

peradaban.   Oleh eksistensi       manusia ada ketika ia sebagai subjek di

dunia mampu menciptakan          budaya dan peradaban dalam rangka

mewujudkan kehidupannya. Dengan kata lain manusia yang tidak

berbudaya dan tidak beradab berarti telah kehilangan eksistensinya

sebagai manusia    sebagai makhluk yang bebas (kehilangan kebebasan

eksistensialisnya).

Mengapa sebagai makhluk yang bebas manusia justru terikat

dengan budaya dan adab? Manusia diartikan sebagai makhluk bebas,

tidak dimaksudkan bahwa semua tindakannya bebas . Kebebasan disini

adalah bebas akan suatu tindakan manusiawi            (actus humanusy;        dan

bukan bebas akan suatu tindakan manusia         (actus hominisi. Tindakan

manusia (actus hominist adalah tindakan yang dapat dilakukan manu-

sia, seperti berjalan,          menolong orang lain, mencuri, memperkosa,

membunuh dan lain sebagainya,           namun bukan ini yang dimaksud

dengan kebebasan eksistensial manu sia. Kebebasan eksistensial adalah

 

 

116

 

kebebasan yang berpangkal pada kebebasan akan tindakan manusiawi

(actus humanus), yaitu perbuatan yang sesuai dengan kodratlfitrah

manusia sesuai dengan petunjuk dari yang menciptakannya.

Dari sini kita dapat memahami jika dalam sejarah filsafat senan-

tiasa timbul keraguan tentang kemungkinan manusia memiliki tindak-

an   bebas/sejati; menurut K Bertens (1985: 399-412) hal ini disebab-

kan:   •

a. Menurut paham materialisme-deterministis,             semuanya berjalan

menurut sebab-akibat yang kita kenal dari alam material.

Manusia sebagai makhlukjasmani tidak luput dari hukum sebab

akibat ini.

b. Freud dalam “teori bawah sadar” mengatakan bahwa seluruh

kelakuan manusia berasal dari dorongan bawah sadar yang tidak

dikuasai kehendak kita.

c. Menurut paham strukturalisme, manusia terbelenggu dalam

struktur-struktur yang menggenggam kehidupannya di dunia.

Menurut filsuf struktura’lisme        manusia sebenarnya bukan indi-

vidu .   Bahwa dia merasa dirinya individu,               merupakan suatu

khayalan (ilusi). Manusia terbelenggu dalam struktur-struktur

masyarakat, sedemikian rupa sehingga ia tidak mampu mem-

buat sejarahnya sendiri .

 

Bahwa manusia adalah suatu makhluk yang bebas tidak dapat

dibuktikan secara matematis, tetapi dapat dibenarkan berdasarkan

pengalaman      sendiri . Dasar kebebasan manus ia             adalah bahwa ia mem-

punyai suatu pandangan yang luas atas beberapa kemungkinan yang

ada pada dirinya sendiri maupun pada lapangan tindakannya. Pan-

dangan universal ini yang menimbulkan alternatif                              bertindak. Yang

bersifat hakiki bagi kebebasan manusia adalah bahwa tindakannyal

pilihannya berasal dari dirinya sendiri. Menurut Huijbers (1995: 54)

inisiatif/pilihan sendiri merupakan unsur yang menentukan bagi kebe-

basan suatu tindakan. Lebih lanjut Huijbers menyatakan bahwa manu-

sia bersifat bebas sebab ia mempunyai ‘akalbudi’ dengan pandangan

universal dan ‘kehendak’ untuk memilih apa yang dikehendakinya

sendiri. Huijbers mengkritik pengertian kebebasan manusia dalam

117

 

buku J.P. Sartre     L ‘etre et le neant yang menyetakan bahwa kebebasan

menurut maknanya terl etak dal am kemampuan manusia untuk menga-

takan ‘tidak’     terhadap masa lalunya.      Menurut Huijbers, dengan per-

nyataan seperti     ini berarti     intisari kebebasan sebagai inisiatif/pilihan

atas dasar pengertian telah diabaikan.

Kebebasan manusia tidak tanpa       batas.  Tiap-tiap pilihan adalah

terbatas, baik karena faktor eksternal maupun             internal. Terbatasnya

pilihan disebabkan halangan-halangan ba ik            yang bersifat eksternal

maupun yang bersifat internal. Dalam filasafat tradisional, ada empat

halangan yang dimaksud:

a. Halangan yang berasal dari batin, yaitu ketidakpengetahuan

(ignorantia) ; ketakutan (metus) dan nafsu (passio).

b.   Halangan yang berasal dari luar batin, yaitu kekerasan (violen-

tia) atau tekanan atau paksaan (Huijbers, 1995: 55).

 

 

Kebebasan dari halangan-halangan tersebut berupa pilihan atau

inisiatif untuk memilih dan bertindak. Di dalam batin, ketidak penge-

tahuan merupakan halangan dalam bertindak, sebab karenanya kegiat-

an akal budi dikurangi. Sedangkan ketakutan dan nafsu merupakan

halangan bertindak karena            ia    menyebabkan     kegiatan     kehendak

dikurangi.

Di luar batin situasi fisik seseorang dan perlawanan yang ber-

asal dari lingkungan, khususnya penggunaan kekerasan, dapat dipan-

dang sebagai halangan bagi bertindak secara bebas juga. Teriebih,

penggunaan kekerasan dari pihak luar kebebasan dapat hilang sama

sekali. Bila keterbatasan bertindak disebabkan oleh orang lain secara

tidak wajar, keterbatasan itu dialami sebagai ketidakbebasan. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa kebebasan         berupa inisiatif (bebas

bertindak, bebas memilih) merupakan kebebasan dari halangan dan

paksaan.

Intisari     kebebasan adalah bahwa manusia dapat bertindak

menurut inisiatif sendiri dan pilihan sendiri atas dasar pandangannya

yang universal. Tiap-tiap tindakan terdiri dari tiga unsur:              (1)  tindakan

itu sendiri; (2) asal tindakan; dan (3) tujuan tindakan. Makna kebebas-

 

 

118

 

an adalah bila manu sia mampu mengarahkan            dirinya    kearah   suatu

tujuan yang bernilai baginya. Makna kebeb asan scmacam inilah yang

disebut     sebagai kebebasan          eksisten sial ,     karena kebebasan dipandang

sebagai sarana untuk mencapai tuj uan hidupnya, dan dengan demikian

mengemban gkan eksistensinya      ses uai dengan cita-cita     inti pribadinya

(Huijbers, 1995: 56) .

Dari   sini dapat disimpul kan           bahwa konsep kebebasan            eks isten-

sial, adalah:

Keb ebasan   eksistensial     adal ah  kebebasan yang digunakan        se-

bagai sarana untuk mencapai tuju an hidupnya, untuk mengem-

bangkan eksistensinya ses uai dengan cita-c ita inti pribadinya.

Tujuan inti pribadi tidak harus baik, te tapi j uga dapat ber sifat

jahat. Schingga baik        atau jahat   tidak   termasuk   dalam   pertim-

bangan bahwa itu merupakan kebebasan eks istens ial.

Niet szhe dan Sartre mengatakan bahwa       hanya  orang yang kuat-

lah yang    akan berha sil hidup      secara bebas, yaitu      orang yang

mamp u mengatasi  halan gan-halangan di atas.

 

 

C. KEBEBASAN MANUSIA DA N KEHENDAK TUHAN

 

1. Pengertian Kehendak Tuhan (T aqdir)

Yang dimaksud dengan istilah taqdir                pada pembahasan      ini

adalah   Qadar    (AI-Qadar Kh airuhu wa       Syarruhu)     atau  Qadlia’   dan

Qadar (AI Qadha wal Qadar).            Secara etimologis qadha            adalah bentuk

tnashdar   dari kata kerja    qadha   yang  berarti   kehendak   atau ketetapan

hukum, yaitu kehendak atau ketetapan                    hukum Allah terhadap            segala

sesuatu. Sedangkan     qadar   secara   etimologis adalah bentuk        mashdar

dari   qadara   yang berarti ukuran atau ketentuan,           yaitu ukuran atau

ketentuan Allah terhadap segala        sesuatu (Ilyas,     1992: 182). Menurut

Hilabi , qadlia adalah ekesekusi, pelaksanaan penciptaan segala sesua-

tu; sedang Qadar adalah ketentuan-ketentuan yang ada pada ciptaan

itu (Jaiz, 1996: 37) . Hillabi lebih lanjut mengemukakan bahwa dengan

mempelajari    qadha   (apa yang diciptakan Allah) untuk mengetahui

 

119

 

qadamya itulah timbu l ilmu pengetahuan .

Ulama yang lain       menyata kan  bahwa   qadha   adalah kenyataan

hukum yang telah ditetapkan Alla h          sej ak  zaman azaly     (dalam ilmu

Tuh an) terhadap sesuatu , yang seka rang te lah terwujud, seperti: hidup,

mati , senang, susah , dan sebagainya. Se dangka n qadar adalah rencana

atau program yang berada di dalam ilmu          Tu han (zaman azaly)     untuk

menentukan segala sesuatu (teoritis). Dari pengertian itu dap at disim-

pulkan bahwa qadha merupakan manifcstasi dari qadar.

Muhammad Na ‘im Yasin m enyatakan:                  secar a   terminologis ada

ulama yang berpendapat bahwa kedua istilah tadi mempunyai penger-

tian yang sama dan    ada pula yang mcmb edakan pengertian keduanya.

Yang membedakan, mendefinisikan Qadar sebagai Ilmu Allah tentang

apa-apa yang akan terjadi pada seluruh makhluknya dim asa yang akan

datan g. Dan qadha adalah Penciptaan segala       sesuatu oleh Allah sesuai

ilmu dan iradah Nya. Ulama lain mcn ganggap              bahwa istilah     qadh a

dan qadhar memiliki             pengerti an      yang    sama, yaitu segala ketentuan ,

undang-undang, peraturan dan hukum yang ditetapkan secar pasti oleh

Allah untuk segala yang ada          (tnaujudi , yang mengikat antara sebab

dan akibat segala     sesuatu yang terjadi. Pengertian         ini sej alan dengan

pengguanaan kata    qadar dalam AI Qur’an dengan berbagai            derivasi-

nya (I1yas, 1992: 183).

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin menyatakan : menu-

rut para ulama shalaf as-shalih, qadha dan qadar termasuk                kedalam

salah satu di antara tiga macam tauhid, yaitu: tal/hid uluhiyah, tauliid

rububiyah    dan   tauliid asma      wa   sifat    (Jaiz ,   1996: 40-41).      Tauhid

Uluhiyah    ialah mengesakan Allah dalam ibadah, yaitu beribadah

hanya kepada Allah dan karena-Nya semata.         Tauhid Rububiyah ialah

mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya, yaitu mengimani dan meya-

.kini bahwa Allah yang mencipt a,               menguasai dan mengatur          alam

semesta. Iman    qadha   dan  qadar adalah termasuk Tauhid Rububiyah.

Tauhid Asmawa Shifat ialah men gesakan       Allah dalam asma dan sifat

Nya yaitu mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan

Allah dalam zat, asm a maupun sifat.

Menurut Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin dalam bukunya

Aqidah Ahl SU/111ah wal jama ah menyebutkan bahwa tingkatan taqdir

 

 

 

 

 

at au qadar ada empat tingkatan:

 

120

 

 

 

 

firman :

 

121

 

1.  All/m

Allah    mengetahui sega la      sesuatu . Dia      mengetahui    apa yang

telah, sedang dan akan terjadi . Dia                mcngc tahui apa yang ada di

langit dan di bumi,             yang terli hat        at aupun     yang tersembunyi,

secara     umum maupun terperinci, tcr masuk                   atas perbuatanNya

sendiri     maupun atas perb uatan             makhluk-Nya.        Dalam QS. Al

An’am ayat 59 Allah berfirman :

“D i   sisi-Nya segala anak kunei           yang   ghaib,    tiadalah   yang

mengetah uinya kecuali Dia sendiri.          Dia mengetahui      apa -apa

yang ada    di darat dan di  lauta n.                                    Tiadal ah gugur se helai       daun

kay u  pUll.   melainkan    Dia    mengetahui,    dan   tiada    sebuah    biji

dal am ge lap gulita dan tiada pula benda y ang basah dan yang

kering, ntelainkun seinuanya da latn kitab y ang terang.

2.   A I Kitabah

A llah  te lah menuliskan segala sesu atu       di Lauh Mahfudz.      Apa

yang ada sekarang, dan apa yang telah terjadi            pada masa lalu,

serta apa yang akan terjadi pad a masa        yang akan datang telah

A llah tuliskan dalam lauh Mahfudz. Allah berfirman :

“Tiada   s uatu  ntus ibah    pun yang nienimpa            di butni      dan  tidak

(y aitu)        bagi                                               siapa diantara kamu yang                tnau menempult jalan

yang    lurus. Dan kamu tidak dapat tnettgh endaki             (meu empuh

jalan itu] k ecuali       apabila dikeliendaki      Allah.    Tuhan sem esta

Alam.     (QS. At Takwir: 28 -29 )

4. A! khalq

Allah menciptakan segala sesuatu , termasuk perbuatan manu sia .

Allah berfirman:

“Padalial A lla h  lah yang menciptakan       kamu dan  apa  yang

kamu p erbuat itu “ (QS. As Shafaat: 96)

 

 

2. Aliran

Umat Islam      dalam menyikapi       keberadaan   taqdir bermacam-

mac am dan sccara umum digolongkan menjadi tiga golongan:

I. Kelompok yan g ekstrim dalam menetapkan qadar dan meno lak

adanya kchendak dan kemarnpuan makhluk (paham Jabariyah).

2. Kelompok yan g ekstrim menol ak         adanya qadar dan men gang-

gap bahwa apa yang dilakukan dan terjadi pada manusia adalah

atas usaha dan akibat dari perbuatannya sendiri (paham Qadari

 

pula pada   dirimu se ndiri  mel ainkan telalt            tertu lis        dalam  kitab

y ah ).

.

 

(lauh   Mahfudz)   sebelum   Ka mi   m encip takanny a. Sesungguh nya

yang    detnikian itu     inudah bagi Allah .        (kami   jelaskan yang

dem ikian   itu) supaya    katnu jangan berduka      eita terhadap apa

yang lup ut dar i kamu , da n s upaya kantu jangan terla lu gembira

terh adap apa       ya ng   diberkan-Nya kepadamu.             Dan Alla h      tidak

menyukai setiap    ora ng yang so mbong lagi tnembanggakan      diri.

(QS. AI Hadid : 22-23)

3. AI Maisyah

Ba hwa  sega la   sesua tu  yang    terj adi atau tidak terjadi         ada lah

dengan kehendak A llah. Ke hendak Allah meliputi sega la ses ua-

tu , tidak   ada ses uatu pun terj adi di      langit dan di bumi       kecuali

atas kehendak    A llah.   Dan Allah telah menetapkan        bahwa   apa

yang d iperb uat-Nya    adalah  kehendak-Nya    term asuk apa yang

dip erbu at hamba-Nya termasuk     kehendak-Nya juga. Allah       ber-

3.   Mereka    yan g   ber iman   sehingga     dib eri   petunjuk oleh Alla h

untuk men emukan         kebenaran yang mcreka perselisihkan (Jaiz ,

1996 : 42).

 

Timbulnya golon gan-golongan         tadi disebabkan oleh. adanya

berbagai pemahaman yang berbeda (kcliru) dalam mempercayai             ada-

nya taqdir.

Jika kita mengikuti pandangan               kelompok yang pertama tjabari-

yah)    maka mengapakah    A llah   menurunkan syariat ke muka b umi?

Padahal semua perbuatan yang kita lakukan merupakan kehendak dan

keinginan Allah, Hal ini sangat bertentangan            dengan apa yang Allah

firmankan dalam nash-nash AI Qur’an, seperti             dalam Qs. Al An ‘am

ayat 148:

 

 

 

 

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan akan mengata-

kan: “jika Allah mengliendaki niscaya kami tidak akan memperseku-

tukan Allah dan tidak pula kami mengharatnkan barang sesuatu pun. “

Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan

(para rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah:

“adakah kaniu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga kamu dapat

mengemukakannya kepada kami?” kamu tidak mengikuti kecuali per-

sangkaan be/aka, dan kamu tidak lain hanya berdusta “.

Sebenamya        qadha     dan    qadar     adalah sesuatu hal yang gaib,

yang tersembunyi bagi kita, kita tidak mengetahui bahwa hal itu

qadlia     dan    qadar,     kecuali setelah itu terjadi. Sebelum terjadi kita

diperintahkan oleh syariat untuk mcnjalankan hal-hal yang membawa

kebaikan di dunia dan         akhirat  sesuai dengan petunjuk agama (AI

Qardhawi, 1993: 54).

Sedangkan jika kita mengikuti pendapat yang kedua                  iqada-

riyah) maka hal ini pun bertentangan dengan nash AI Qur’an maupun

yang terjadi dalam kenyataan. Syaikh Muhammad bin shaleh AI Us-

taimin menyatakan: mereka yang menganut pendapat ini sebenamya

telah mengingkari salah satu aspek dari                     rububiyah     Allah, dan

berprasangka bahwa ada dalam kerajaan Allah ini apa yang tidak

dikehendaki dan tidak diciptakanNya (Jaiz, 1996: 49). Percaya akan

qadha dan   qadar,    tidaklah bertentangan dengan usa ha dan perjuangan

untuk mengejar sesuatu yang dikehendaki atau mencegah sesuatu

yang dibenci. Tidak dapat diterima alasan bagi orang malas dalam

meletakkan kesalahan, dosanya, dan tanggungjawabnya atas               qadha

dan   qadar.    Yang demikian itu menunjukkan dalil kelemahan dan

Iarinya dari tanggung jawab (AI Qardhawi, 1993: 55). Firman Allah:

“…    Katakanlah (wahai nabi) :           sekiranya kamu berada di

rutnah kamu. niscaya orang-orang yang telah               ditakdirkan     akan   mati

terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh …. “                   (Qs. Ali

Imran: 154)

Sedangkan pendapat yang ketiga men ganggap bahwa manusia

berbuat atas dasar kemauannya dan berkata menurut keinginannya,

tetapi keinginan dan kemauannya itu tidak lepas dari kemauan dan

 

123

 

kehendak Allah. Dan kehendak Allah tidak lepas dari hikmah dan

kebijaksanaanNya, bukan kehendak yang mutlak dan absolute.

Masalah taqdir jika kita kaitkan dengan perbuatan manusia

seringkali menimbulkan berbagai macam pertanyaan:

a. Jika segala sesuatu tergantung pada kehendak Allah, lalu apa-

kah manusia tidak mempunyai pilihan dalam melakukan se-

suatu didalam kehidupannya?

b. Jika segala sesuatu sudah ditentukan Allah dan sudah dituliskan

di  Lauh   Mahfudz,     lalu untuk apa manusia berusaha? Apa peran

dari usahanya itu?

c. Jika Allah yang menciptakan kita dan semua perbuatan kita,

lalu mengapa la mengadili perbuatan jahat yang kita lakukan,

sedang la yang menciptakannya?

d. Jika Allah yang menyesatkan siapa saja yang dikehendaki dan

memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Lalu

kenapa orang yang tidak mendapat petunjuk disiksa di neraka

nanti?

 

Pertanyaan-pertanyaan diatas dan pertanyaan-pertanyaan lain

yang semacamnya timbul karena pemahaman yang parsial terhadap

Islam, atau dengan ungkapan lain karena mcmahami taqdir sebagai

suatu ajaran yang terlepas dari konteks keseluruhan ajaran Islam.

Memahami ayat alqur’an tentang kemutlakan             maisyah    Allah tanpa

memahami bahwa Allah juga memberikan maisyah kepada manusia

akan me1ahirkan pemahaman dan sikap jabariyah (meniadakan kehen-

dak dan ikhtiar manusia), sebaliknya memahami ayat al Qur’an ten-

tang  maisyah   dan  irodah   manusia tanpa memahami kemutlakan dan

iradah   dan   maisyah    Allah akan melahirkan pemahaman dan sikap

qadariyali   (manusia sepenuhnya yang menentukan perbuatannya sen-

diri tanpa campur tangan Allah) (Ilyas, 1992: 187).

Abdul Mujid Az Zandany memberikan satu analogi: seperti se-

orang guru yang cerdas dan tahu betul tentang keadaan murid-rnurid-

nya, membuat beberapa soal untuk diujikan kepada murid-muridnya.

la menulis di atas kertas daftar narna-nama murid yang ia yakini dapat

lulus ujian dan dan nama-nama yang tidak akan lulus ujian. Waktu

 

 

124

 

ujian tiba, dan hasilnya pun terbukti. Apakah murid-murid yang tidak

lulus ujian dapat menyatakan bahwa apa yang ditulis diatas kertas

itulah yang menyebabkan mereka tidak lulus. Kita tahu bahwa apa

yang ditulis di atas kertas tadi oleh sang guru adalah kenyataan yang

berkaitan dengan pengetahuan dan pengalamannya mengenai kedaaan

murid-muridnya. Dan penyebab kegagalan mereka adalah karena

kelalaian dan kemalasan mereka sendiri (Az Zandany, 1984: 165) .

Memang penilaian seoarang manusia seringkali tidak tepat, kita

sering menyebutnya sebagai prediksi/perkiraan. Tetapi taqdir Allah

dengan segala ilmu-Nya tentu tidak akan meleset dan pasti terjadi. la

menuliskan kegagalan orang yang gagal dan kebahagian orang yang

yang berhasil sesuai dengan ilmu-Nya,

Memahami ayat alqur’an yang menyatakan bahwa segala sesua-

tu telah dituliskan di Lauh Mahfudz tanpa memahami bahwa tidak ada

seorang manusia pun yang tahu apa yang telah dituliskan disana akan

menyebabkan sesorang mempertanyakan untuk apa manusia berusaha,

padahal Allah dengan sangat jelas telah memerintahkan manusia

untuk melakukan amal kebajikan dan melarang melakukan kejahatan.

Manusia disatu sisi adalah makhluk inussayar,         yaitu tidak rnernpunyai

kebebasan untuk menerima atau menolak seperti tentang jenis kela-

min, keturunan, kematian,       kelahiran dan sebagainya.       Dan disisi lain

adalah makhluk    Mukhayyar yaitu memiliki kebebasan untuk mene-

rima atau menolak yang berupa ikhtiar (Ilyas, 1992 : 188). Al Ustaimin

memaparkan bukti-bukti tentang adanya ikhtiar bagi manusia:

a. Didalam alqur’an Allah menyebutkan secara eksplisit tentang

adanya Maisyah dan iradah manusia seperti dalam surat Al

Baqarah ayat 223 dan At Taubah ayat 46.

b. Adanya perintah dan larangan Allah terhadap hambanya.

c. Allah memuji orang-orang yang baik, mencela orang yang

berbuat jahat, dan          memberikan balasan yang sesuai bagi

keduanya.

d. Allah telah mengutus para Rasul untuk menjadi mubasyirin dan

munzirin supaya tidak ada alasan lagi bagi umat manusia untuk

membantah Allah sesudah diutus para Rasul itu (lihat QS. An

Nisa: 165).

125

 

e.    Dalam kehidupan sehari-hari manusia melakuakan sesuatu atau

tidak berdasarkan         kemauannya       sendiri tanpa ada yang memak-

sakannya.      Sangat bisa       dibedakan mana perbuatan yang dilaku-

kan dengan terpaksa dan perbuatan yang dilakukan atas kemau-

an sendiri. Bahkan Islam tidak             akan meminta pertanggung-

jawaban atas perbuatan yang dilakuka n dengan terrpaksa.

 

 

Memahami bahwa Allah menciptakan segala sesautu, termasuk

manusia dan perbuatannya tanpa memahami bahwa Allah tidak pemah

menyuruh manusia berbuat kejahatan, bahkan menyuruh mereka

berbuat kebaikan. Manusialah yang melakukan kejahatan tersebut atas

kehendak dan ikhti amya     sendiri seh ingga      manusialah yang nantinya

harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya tersebut. Al

Utsaimin mengatakan bahwa perbuatan dan perkataan kita timbul

karena dua faktor, yaitu kehendak dan kemampuan .          Yang mencipta-

kan kehendak dan kemampuan tadi adalah Allah. Andaikata tidak ada

kehendak dan kemampuan tentu manusia tidak akan berbuat. Karena

jika ia menghendaki,       tetapi tidak mampu maka ia tidak akan dapat

berbuat. Demikian juga jika ia mampu tetapi tidak berkehendak tentu

juga ia tidak akan berbuat. Semua perbuatan yang manusia lakukan

didasari oleh kehendak dan kemampuan yang diciptakan Allah. Tetapi

pada hakikatnya manusialah yang berbuat, hanya yang menciptakan

perbuatan manusia adalah Allah. Siapa yang menciptakan sebab, maka

Dialah yang menciptakan akibatnya (AI Utsaimin dalam Jaiz, 1996:

62) .

Memami ayat yang menyatakan bahwa Allah menyesatkan

siapa saja yang dikehendaki dan memberi hidayah kepada siapa saja

yang Dia kehendaki. Tanpa memahami makna hidayah dan perintah-

perintah Allah untuk mencari hidayah dan mernbimbing orang lain

dalam mencarinya akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan sema-

cam ini. Bahwa sesungguhnya hidayah (petunjuk) ada dua mac am,

hidayah irsyad dan hidayah I’anah (Az Zandany, 1984: 165). Hidayah

irsyad dilakukan oleh para Rasul dalam membimbing kita ke jalan

kebenaran. Sedangkan      hidayah inayah merupakan tahap berikutnya

 

 

126

 

yang di dapat manusia seteIah datangnya hiday ah irsyad, dan yang ini

mutIak miIik Allah. Para rasul menunaikan hidayah irsyad                      tetapi

mereka tidak memiliki             taujik  dan   1I1a ‘unah, karena Allah hanya            akan

memberikannya kepada        para    hamba   yang dike tahui-Nya berha k

menerimanya. Firman Allah:

“Sesungguhnya kamu tidak ak an dapat memberi petunjuk pada

orang yang kamu kasihi, tetapi Allah mentb eri petunjuk kepada orang

yang dik ehendakilvya,      dan  Allah lebih     mengetahui ormzg-orG.ng yang

mau menerima petunjuk.         (QS. AI Qa shosh: 56)

Dan Allah tidak akan menyesatkan             manusia kecuali      kepada

mereka yang menolak hidayah Irsyad . F irman Alla h:

maka tatkala mereka        be/paling     (dari kebenaran).      Allah me-

tnalingkan hati mereka,      dan Allah tiada member! petunjuk orang yang

fasik” (Q5. As Shaf: 5).

 

 

3. Sikap Kritis terhadap Keberadaan Taqdir

Percaya akan adan ya     qadlia  dan   qadar   termasuk rukun iman

yang keen am, seperti disebutkan dalam hadi st nabi yang diriwayatkan

oleh Imam Muslim dari     Umar ibn Khattab ra, yang berbunyi:

“Beritahulah     aku ten tang    iman . .. Rasul Menjawab : “Engkau

beriman kepada      Allah. kitab -kitablvya,        rasul-rasullvya,     dan kepada

Izari akhir, serta engka u beritnan               kepada     taqdir-Nya y ang baik

maupun yang buruk. (HR. Muslim)

Tetapi dalam Al Qur ‘an         sendiri tidak secara lengkap          menye-

butkan bahwa rukun iman itu ada enam, dalam Al Qur’an hanya

menyebutkan bahwa rukun iman         itu hanya ada lima. Seperti dise-

butkan dalam ayat berikut:

Beberapa ulama seperti          Harun Na sution       menyetujui bahwa

rukun iman itu ada lima sesuai dengan yang tert era dalam AI Qur’an.

Dia menyatakan bahwa hadis yang diriwayatkan Muslim dari Umar

bin Khattab bukan hadis yang mutawattir. Lebih lanjut beliau menya-

takan bahwa mempercayai        qadha    dan   qadar   bertentangan dengan

 

127

 

ilmu pengetahuan dan teknologi, karena dalam faham taqdir yang

bahasa arabnya jabariyah      dan bahasa baratnya fatalisme, semuanya

dikehendaki ,    semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Beliau mencontohkan misalnya api , menurut Jabariyyalz           yang mem-

bakar adalah Tuhan , sedangkan dalam IPTEK yang membakar adalah

api itu sendiri . Tetapi hal ini kemudian dib antah          oleh Muhammad bin

Shaleh AI Utsaimin. Beliau mengatakan bahwa yang menjadikan api

dapat membakar adalah Allah. Api tidak dapat membakar dengan

sendirinya , sebab seandainya api dapat membakar dengan sendirinya

ten tu ketika Nabi Ibrahim as dilernparkan kedalam api, ia akan hangus

terbakar. Tetapi temyata tidak, karena Allah menghendaki lain. Allah

berfirman:

“Hai api menjadi dinginlah kamu,                    dan selamatlah bagi

Ibrahim.” (QS . AI Anbiya: 69).

Dan jika kita perhatikan secara seksama, hadist nabi tersebut

sama sekaIi tidak bertentangan dengan AI Qur’an. Karena di ayat-ayat

yang    lain     Allah     menegaskan tentang kekuasaannya atas               taqdir

makhluknya (Jaiz, 1996).

 

 

4. Hikmah Percaya kepada Taqdir

Berkaitan dengan uraian diatas, seorang muslim wajib mem-

percayai taqdir. Dan diharapkan kita semua bisa memahami masalah

taqdir secara benar karena pemahaman yang salah akan melahirkan

sikap yang salah pula dalam menempuh kehidupan. Ada beberapa hik-

mah yang dapat dipetik dari mempercayai adanya taqdir, yaitu sebagai

berikut:

1. Melahirkan kesadaran bagi umat manusia bahwa segala sesuatu

di alam semesta ini berjalan sesuai aturan, undang-undang, dan

hukum yang telah ditetapkan pasti oleh Allah        tsunnatullah).

2.   Mendorong manusia untuk berusaha dan beramal dengan sung-

guh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan

di akhirat, mengikuti hukum sebab akibat yang telah ditetapkan

Allah .

 

128

 

3. Menanamkan sikap tawakal       dalam diri manusia, karena menya-

dar i bahwa manus ia hanya bisa beru saha dan berdo’a sedangkan

hasilnya diserahkan kepada Allah.

4. Mempercayai keku asaan           (qudrat) -Nya atas segala sesuatu yang

tidak dapat diduga dan dina lar oleh manu sia bia sa, berdasarkan

kehendak    (iradah)-Nya        bahwa    sesuatu past i      terjadi    dengan

izinNya .

 

129

 

Kategoris artinya mutlak, kewajiban ini merupakan kewajiban

yang sesungguhnya,                           bila tidak diikuti            maka ia bersalah. Menurut D .

van Eck (1971 : 133) keyakinan hati nurani tentang baik tidaknya suatu

tindakan – yang bersumber pada pertimbangan akal budi , pendirian

orang lain, dan wahyu dalam Kitab Suc i- tetap mengikat, sekalipun

tindakan itu secara objek tif dinyatakan salah. Alasannya, hati nurani

ialah satu-satunya sarana untuk sampai pada norma-norma moral      (de

 

5.  Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketenteraman hidu p, karena

ze denwet bereikt

slechts via zijn innerlijk oordeel). Namun orang

 

meyakini apapun yang terj adi        ada lah atas kehendak    dan  qadar

Allah.

 

 

D. KEBEBASAN MORAL

Kebebasan moral ialah kemampuan ma nusia untuk     mewujud-

kan hidupnya sesuai  dengan prinsip-prinsip moral (Huijbers, 1995:

59). Berhubungan     dengan p engertian ini,       Agusti nus telah     membeda-

kan anta ra     kehendak bebas       (liberum       arbitirium)        dan kebebasan

(moral)/libertas .       Kehendak bebas     adalah  kemamp uan untuk berbuat

yang baik dan yang jahat         (L iberum     arbitirium      et ad      malum     et ad

bonum faci endum confitenduni est 1I0 S           habere),   seda ngkan kebebasan

(moral) adalah      kemampuan    untu k  berbuat yang      baik   (Redimuntur

autem (scil. homines) in libert atem beatitudinis sempiternam,              ubi jam

p eccato servire non possinti.

Guna menerangkan keb ebasan moral itu, Emmanuel Kant mem-

bedakan hidup manusia sebagai bidang praktis dengan bidang alam

sebagai bidang teoritis .         Bidang teoritis adalah         bidang yang “ada”,

yaitu alam. Alam itu merupakan kenyat aan yang ada, didekati sebagai-

mana adanya dan dapat diselidiki secara  ilmiah . Sebaliknya bidang

praktis, bidang hidup, dibangun dengan bert indak secara bebas . Ma ka

dibidang ini orang tidak berhadapan deng an yang sudah ada, melain-

kan dengan yang belum ada dan harus diwujudkan, yaitu nilai-nilai

hidup. Yang “harus ada” itu menimbulkan suatu keharusan berupa ke-

wajiban untuk bertindak dengan cara tertentu. Rasa kewajiban dalam

kesadaran manusia   itu disebut oleh Emmanuel Kant:       imperatif

kategoris.

dianggap tetap bersalah, bila mereka tidak b erusaha  menghindarkan

supaya suara hatinya tidak terse sat.

Timbulnya rasa kewajiban pada manus ia                ada karena rasa

‘tanggungjawab ‘, yaitu:

1). Kesadaran bahwa tindakannya yangbebas           tidak pemah dapat

lepas dari dirinya ,      tiap-tiap   tindakan bebas merupakan bagian

dari dirinya sendiri .

2) . Adanya panggilan atau keyakinan yang berasal dari suara hati

bahwa suatu nilai hidup tertentu patut diwujudkan.

 

 

Tanggung jawab      langsung berkaitan      dengan manusia sebagai

makhluk yang bebas di dunia. Manusia bertanggungjawab dan           harus

mempertanggungj awabkan     tindakannya kepada dirinya send iri, kepa-

da masyarakat dan kepada Tuhan .      Suatu tindakan yang penuh tang-

gungjawab menjadi tanda dan ungkapan martabat manusia (Huijbers ,

1995: 60). Dengan bertindak secara bertanggungjawab, yaitu dengan

menuju ke arah nilai hidup yang sejati, manusia menyatakan cara ia

berada di dunia dan senant iasa menentukan nilainya sendiri .

Bertindak dengan penuh tanggung jawab itu khas manusia .

Hanya manusia yang dapat menentukan                                tindakannya sendiri .    Seekor

hewan berhadapan dengan altem atif-altematif juga, akan tetapi         hanya

dapat meng ikuti                                         nalurinya saja. Sebaliknya            manusia mengikuti nilai-

nilai  hidup yang sesuai dengan martabatnya, yang dengan ini berarti

juga ia mempertanggungjawabkan hidupnya (Huijbers, 1995: 60-61) .

Kebebasan rasio nal sebenamya suatu kebebasan moral. Artinya

nilai -nilai hidup yang ditanggapi secara rasional, harus diterima seba-

 

130

 

gai norma. Kebebasan       rasional adalah kebebasan       yang menentukan

bahwa tujuan hidup yang hendak      dicapai harus   ad a tuj uan yang wajar

menurut pandangan umum. Oleh          karena  itu   ada tiga    unsur   obj ektif

yang harus diperhitungkan:

I) . Fakta bahwa tiap-t iap orang hidup bersama orang-orang lain .

2) . Paramete r su atu tindakan dikat akan wajar atau    tidak d idasarkan

pad a nilai-nilai universal.

3). Un sur   boleh-tidak                    boleh , ya itu          terdapat         larangan                untuk bertin-

dak semau-maunya . Unsur ini dalam     masya ra kat disebut n0l111a.

 

 

Dengan    ini suda h      menj adi j ela s   bahwa kebe basa n rasional

digolongkan pada ‘keb ebasan untuk ‘ , yaitu      keb ebasan dilihat dari    segi

tujuannya. Akan tetapi disini istilah ter sebut mend apat         nilai sua tu art i

yang lebih objekti f       darip ad a keb ebasan eksis tens ial.    Untuk   sa mpai

pada pada keb eba san rasional      ora ng haru s   men gindahkan   fakta  dan

nilai-nilai suatu keh idup an      yang sejati     yang belum tentu      ditemukan

dalam eksistensinya sendiri .

OIeh seba b hanya   melalui s ua tu ke be basan ya ng rasiona l – yang

berdasarkan   suatu pertimban gan   yan g matang ten tan g fakta dan   nila i-

dapat dibentuk suatu kehidupan      bersam a ya ng baik.   Larangan-Iaran g-

an untuk bertindak semaunya      dap at disambut   deng an segala kerelaan

hati . Memang den gan ad anya  larangan -larangan, keb ebasan   individual

dibatasi , akan tetapi hal ini terjadi demi          terwujudnya   keh idu pan ber-

sama sebagaimana dicita-citakan. Ada dua fungsi larangan            dalam  hal

ini: pertama, larangan-Iarangan      menj elaskan  kew aj iban-kewaj iban se-

seorang sebagai makhluk sosial. Kedua, Iarangan-Iaran gan          untuk ber-

tindak secara individual belaka membina suatu keb ebasan          baru, yaitu

rnembuka ‘ peluang   untuk bertindak demi kebaikan        hidup yang     sej ati

(Huijbers, 1995: 58).

M elalui   bepikir ten tang nilai-nil ai        hidup orang sampai       berke-

hendak untuk melepaskan diri dari kebutuhan-kebutuhan yang alamiah

belaka. Suatu kehendak     ‘a lamiah ‘ merupakan kesewenang-wenangan.

Karl Lazen menulis:

 

131

 

Tidak bebas .. . adalah manusia yang hanya mengikuti kecende-

rungan-kecenderungan dan nafsunya yang mendadak, tidak menguasa i

diri, membiarkan dirinya dibawa arus. Dia menjadi bola permainan

dari rangsangan-rangsangan   yang mempengaruhinya (Scheltens     &

Siregar, 1984: 52).

Namun menurut penulis, penggunaan akal dalam setiap peni-

laian benar dan salah juga merupakan kesewang-wenangan. Karena

sej arah telah membuktikan bahwa akal tidak bersifat              tetap,   ia akan

sel alu berubah dari waktu ke waktu. Sesuatu yang dulu oleh akal

dianggap benar, boleh .j adi saat ini oleh         akal pula itu dianggap       salah,

atau sebaliknya sesuatu yang dulu oleh akal di anggap salah, boleh jadi

saat ini oleh akal pula dianggap benar.         Contohnya adalah praktik per-

budakan, pada zaman dahulu oleh aka I hal ini dianggap sesuatu yang

benar dan ini menjadi kebenaran yang umum, oleh karena itu tidak

heran jika pada zaman tersebut praktek perbudakan terjadi pada setiap

bangsa.

Contoh yang lain misalnya masalah kedudukan perempuan,

menurut akal pada       zaman dahulu perempuan memiliki kedudukan

yang tidak berharga sama sekali, dia tidak berhak mewaris dan bahkan

diperlakukan seba gai      harta waris yang bisa diwariskan. Kedudukan

perempuan yang seperti ini pun terus               bertahan,   bahkan kedudukan

perempuan yang tersebut masih kita jumpai hingga hari ini, melaui

hukum perdata yang katanya modem dalam              Code Civil   Napoleon

yang dirumuskan pada tahun 1804,           dimana perempuan tidak dapat

melakukan perbuatan hukum apapun ketika ia telah menikah, dan

kedudukannya berada dibawah pengampuan suaminya.            Namun hari

ini kedudukan perempuan yang         se macam ini telah berubah, perem-

puan sejajar dengan laki-Iaki, dan menurut ak al:inilah yang benar, dan

di indonesia sendiri hal ini telah dikoreksi dengan diundangkannya

VU No .    1 tahun 1974 tentang Perkawinan         yang menyamakan kedu-

dukan perempuan dan laki-Iaki dalam bidang harta kekayaan.

Dari sini kita mengetahui bahwa akal merupakan pijakan yang

absurd dalam penilaian kebenaran sejati. Absurditas itu disebabkan

oleh keadaan akal sendiri yang memang selalu berubah, sehingga pe-

nilaian yang diberikan pada sesuatu pun tidak akan tetap pula. Lalu

 

 

132

 

apa pijakan yang mutlak? Jawabannya adalah wahyu. Wahyu merupa-

kan sebuah kebenaran mutlak yang bersifat aksiomatik. la akan terus

relevan sepanjang zaman, sebelum Tuhan sendiri yang menggantinya.

Penilaian yang diberikan oleh wahyu bersifat objektif, karena                          _

meminjam istilah Muhammad Iqbal- dibuat oleh Realitas Mutlak.

Bagaimana dengan hati nurani,          apakah bisa menjadi patokan

peniIaian moralitas manusia? Berbagai pandangan para sarjana            Barat

di atas memposisikan hati nurani sebagai patokan bagi moralitas

manusia, sebagaimana D . van Eck (197 I: 133) mengatakan bahwa hati

nurani ialah satu-satunya sarana untuk sampai pada norma-norma

moral   (de   zedenwet    bereikt   hem   sl echts   via zijn innerlijk oordeel).

Meskipun daJam tulisan D. van Eck yang dikutip oleh Huijbers (1995:

6) keyakinan hati          nurani ten tang baik tidaknya suatu tindakan

bersumber pada pertimbangan akal budi, pendirian orang lain, dan

wahyu dalarn Kitab Suci, namun pada kenyataanya tidak seperti itu.

Keyakinan hati nurani dalam praktiknya hanya bersumber pada

“keinginan pribadi” subjek. Sebagai contoh masalah berhubungan

kelamin/pekawinan    dengan sesama   jenis, incest,     sex bebas, fenomena

waria dan     sebagainya, bagi penganut/penderita          masalah ini, hal ini

mereka anggap sesuai dengan hati nuraninya. Oleh karena itu mereka

tidak segan-segan untuk mempertontonkannya kepada orang lain dan

bahkan memperjuangkannya hingga ke parlemen. Jika demikian ,

dihadap-hadapkan dengan orang yang dalam hati nuraninya mengang-

gap bahwa perbuatan-perbuatan seperti itu merupakan penyimpangan,

man a sebenamya suara hati nurani yang objektif? Moralitas mana

yang dianggap benar oleh hati nurani?

Ahli-ahli Barat yang dalam haI ini menganggap bahwa suara

hati nurani itu selalu benar dan menjadi ukuran moralitas manusia,

meskipun hal ini sesungguhnya juga bertentangan dengan filsafatnya

zaman dahulu : homo hotnini lupus      (manusia adalah serigala bagi ma-

nusia lain), yang menjustifikasi adanya aturan/norma/hukum. Terlepas

dari pertentangan itu, Islam membagi jiwa manusia dalam tiga kecen-

derungan:   nafsu al-muthmainnah,      nafsu al-Iawwamah,      dan  nafsu al-

amarah bissu ‘.      Nafsu al-muthmainnah        merupakan jiwa yang baik,

nafsu al-Iawwamah      merupakan jiwa moderat yang mampu memilah

 

133

 

sesuatu itu baik atau buruk, dan          nafsu al-amarali bissu        merupakan

jiwa yang tidak baik. Menurut Islam manusia sesungguhnya mempu-

ny ai tiga potensi itu secara bersama-sama, dan yang menjadi pijakan

dalam memandang bahwa sesuatu itu salah atau benar adalah wahyu,

yaitu wahyu yang diturunkan kepada manusia yang menurut Tuhan

hal ini sesuai denganjitrah (kodrat) manusia.

Sikap dan pandangan manusia benar ketika ia memedomani

wahyu .    Orang yang memedomani wahyu berarti ia menggunakan

nafsu al-muthmainnalnvye; sebaliknya orang yang tidak memedomani

wahyu berarti ia mengikuti kecenderungan              nafsu al-amarah      bissu ‘,

Dengan demikian ukuran benar dan salah dalam hal ini menjadi

mutlak, tidak relatif sebagaimana pandangan para ahli dan realitas di

Barat, ditentukan oleh hati nurani yang dibimbing oleh wahyu.

 

 

E. KO-EKSISTENSI

 

Manusia adalah makhluk yang paling sempuma di alam ini,

berbeda dari makhluk-makhluk lain. Perbedaan itu tampak dari

karakteristik sebagaimana para filosof menyebut                 hakikat manusia

dengan istilah-istilah homo rationale, homo simbolicuin, homo econo-

tnicus, homo social (Arsitoteles), homo ludens (Huizinga), homo men

sura    (Protagoras),      homo mechanicus         (La    Mettrie),     homo viator

(Gabriel Marcel), homo creator (Michael Landman) . Professor Noto-

nagoro (aIm) memandang         hakikat dasar ontologis manusia dalam

Negara Republik Indonesia yang ber-Pancasila sebagai makhluk yang

monopluralis.      Manusia sebagai makhluk yang monopluralis oleh

Professor Notonagoro (aIm) diartikan sebagai makhluk yang merniliki

3 (tiga) hakikat kodrat sebagai berikut:

a    Sifat kodrat, yaitu manusia sebagai makhluk individu dan

makhluk sosial.

b. Susunan kodrat, yaitu manusia sebagai makhluk yang tersusun

dari dua un sur, yaitu raga danjiwa.

c. Kedudukan kodrat, yaitu manusia sebagai makhluk yang berdiri

sendiri dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

 

 

134

 

Atas dasar pemahaman hakikat kodrat ontologi manusia yang

monopluralis itu maka kita dapat dengan mudah memahami hubungan

antara manusia dengan nilai-nilai hidupnya. Pada kenyataannya manu-

 

 

 

 

F. KEPEMILIKAN

 

1. Pengertian Hak Milik

 

135

 

sia hidup bersama-sama dengan orang lain dan kebersamaan ini nyata

dalam seluruh hidup manusia dalam segala tindakannya. Oleh karena

itu    eksistenis manusia selalu berarti juga ko-eksistensi .                         Dalam

koeksistensi terdapat tiga tingkat (Huijbers, 1995: 62-64):

 

1). Ko-eksistensi biologis-psikis, yang berdasarkan kebutuhan ‘aku’.

Dalam keadaan ini ‘aku’ dipandang lebih tinggi daripada

manusia lain. Orang lain sedapat-dapatnya diarahkan untuk meme-

nuhi kebutuhan-kebutuhan ‘aku’. Akibatnya hidup bersama itu di-

tandai dengan eksploitasi dan dominasi manusia pada manusia lain.

Bila kebutuhan-kebutuhan pribadi itu menjadi satu-satunya tiang

bagi pembentukan hidup, maka dengan demikian hidup itu bertum-

pu pada suatu egoisme individual belaka.

Herbert Spencer (1820-1903) berpendirian bahwa memang

inilah situasi hidup yang sebenamya. Sesuai dengan teori evolusi

Charles Darwin dijelaskan bahwa prinsip-prinsip evolusi berlaku

bagi kehidupan manusia juga, seperti struggle for life, the survival

ofthe fittest, natural selection. Teori ini disebut Darwinisme sosial,

hukum dibuat untuk mengatur evolusi kehidupan bersama dalam

masyarakat industri modem yang bertumpu pada egoisme indivi-

dual (Copleston, 1961-1975: 142-168). ·

2). Ko-eksistensi etis berdasarkan kesamaan hak.

Dalam keadaan ini aku dipandang sama tinggi dengan manusia

lain. Prinsip rasional ini yang menjadi sumber hukum.

3). Ko-eksistensi etis berdasakan kewajiban.

Dalam keadaan ini manusia lain dipandang lebih tinggi daripada

aku. Prinsip rasional ini yang menjadi sumber moral hidup

manusia.

Istilah milik berasal dari bahasa arab yaitu             milk.   Milik secara

lughowi   diartikan sebagai “memiliki sesuatu dan sanggup bertindak

secara bebas terhadapnya” (Hasbi Ash-Shiddieqy,            1989: 8). Menurut

istilahi milik didefinisikan sebagai suatu              iklitisas   yang menghalangi

orang lain,       menurut syariat,         yang memb enarkan          pemilik      ikhtisas     itu

bertindak terhadap barang miliknya sekehendaknya, kecuali ada

penghalang (Hasbi Ash-Shiddieqy, 1989: 8) .

Kata ‘menghalangi’ dalam definisi diatas maksudnya adalah

sesuatu yang mencegah orang yang bukan pemilik sesuatu barang

untuk mempergunakan atau memanfaatkan dan bertindak tanpa per-

setujuan terlebih dahulu dari               pemiliknya.     Sedangkan pengertian

‘penghalang’ adalah sesuatu ketentuan yang mencegah pemilik untuk

bertindak terhadap hart a miliknya.

Hak milik dalam pandangan Hukum Islam dapat dibedakan

menjadi:

I .  Hak milik yang sempuma tmilkut tam) , yaitu kepemilikan yang

meliputi penguasaan terhadap bendanya (zatnya) dan manfaat-

, nya (hasil) benda secara keseluruhan .

2.   Hak milik yang kurang sempuma               (milkun naqish),        disebut

demikian karena kepemilikan tersebut hanya meliputi bendanya

saja , atau manfaatnya saja.

 

 

2. Sebab Hak Milik

Selanjutnya dapat dikemukakan sebab-sebab seseorang mempu-

nyai hak milik menurut Hukum Islam, dapat diperoleh dengan cara:

1). Disebabkan         Ihra zul     mubaltat       (memiliki benda yang boleh

dimiliki)

Baranglbenda yang dapat dijadikan sebagai objek kepemilikan

adalah bukan benda yang menjadi hak orang lain dan bukan

pula benda dimana ada larangan hukum agama untuk diambil

 

136

 

sebagai hak milik. Diantaranya dengan: berburu, membuka ta-

nah baru yang belum ada pemiliknya, air di sungai, pengusa-

haan barang tambang (rikaz) dan hart a rampasan perang.

2). Disebabkan al-Uqud (akad)

Pengertian akad atau perikatan dalam lapangan hukum harta

kekayaan adalah suatu hubungan hukum (mengenai kekayaan

harta benda) antara dua orang yang memberi hak pada yang satu

untuk menuntut sarang sesuatu dari yang lainnya, sedangkan

orang yang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan itu (Soe-

bekti, 1996: 122-123).         Adapun klasifikasi perbuatan hukum

tersebut adalah:

a.   Perbuatan sepihak, yaitu perbuatan hukum yang dilakukan

oleh satu pihak saja dan menimbulkan hak dan kewajiban

pada pihak yang lainnya, misal: pembuatan surat wasiat, dan

pemberian hadiah (hibah).

b. Perbuatan hukum dua pihak, yaitu perbuatan hukum yang

dilakukan oleh dua pihak dan menimbulkan hak-hak dan

kewajiban-kewajiban bagi kedua belah pihak secara timbal

balik, misal: jual beli, sewa menyewa , perjanjian kerja dan

lain sebagainya.

3). Disebabkan al-Khalafiyah (pewarisan)

Yaitu seseorang memperoleh hak milik disebabkan karena

menempati temp at orang lain (Suhrawardi, 2004: 11). Lahimya

hak milik ini dapat dikelompokkan menjadi dua:

a.   Khalafiyah     syakhsyan   syakhsy,     sering juga diistilahkan

dengan   irts,   yaitu ahli waris menempati tempat si pewaris

meliputi kepemilikan segala harta yang ditinggalkan oleh

pewaris terse but.

b. khalafiyah syai’an syaiin, sering dinamakan juga dengan

tadlmin atau ta’wild atau menjamin kerugian.               Maksudnya

apabila seseorang melakukan sesuatu perbuatan yang meru-

gikan orang lain, maka orang tersebut diwajibkan untuk

mengganti kerugian tersebut. Barang ganti kerugian               (diyatl

iwald,   dan   arsyul jinayat)     menjadi sepenuhnya milik dari

yang menenma.

 

137

 

4). Attawalludu minal mamluk (beranak pinak)

Segala yang lahir/terjadi dari benda yang dimi liki               merupakan

hak bagi pemilik barang atau benda tersebut, misal: anak bina-

tang- yang lah ir     dari induknya, susu lembu          yang keluar     dari

seekor lembu .

 

 

3. Prinsip Kepemilikan

Pemilikan pribadi dalam pandangan Islam tidak bersi fat mutlak

(absolute).    Dalam berbagai ketentuan,       Islam melakukan    pembatasan

terhadap pengelolaan dan pemanfaatan harta            benda milikny a.     Ada

beberapa prinsip dasar mengenai kepemilikan terhadap               harta benda,

seperti dikemukakan oleh Sayyid Quthb berikut ini:

1). Pada hakikatnya individu hanyalah wakil masyarakat

Prinsip ini menekankan bahwa sesungguhnya individu (pribadi)

hanya merupakan wakil masyarakat yan g              diserahi    amanah ,

yaitu mengurus dan memegang harta benda.                 Sesungguhnya

keseluruhan harta benda tersebut secara umum adalah hak milik

masyarakat. Sedangkan yang     menjadi pemil ik mutlak dari      harta

benda terse but adalah Allah. Hal ini didasarkan               pada  finnan

Allah:

“Beritnanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkah-

kanlah sebagian      dari hartamu yang Allah telah            menjadikan

kamu menguasainya “. (QS. AI-Hadid :7).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemilikan pribadi atas

sesuatu harta benda dalam pandangan Islam sebenamya hanya

bersifat “pemilikan hak pembelanjaan dan pemanfaatan belaka.

Dengan demikian ,      apapun bentuk kepemilikan        pribadi (yang

diperoleh berdasarkan usaha-usaha yang tidak menyimpang dari

syariat Islam) akan didapati hak masyarakat. Dalam bahasa

sederhana dapat dikemukakan      bahwa   hak kepemilikan pribadi

dalam Islam mempunyai dimensi fungsi sosial.

2). Harta benda tidak boleh hanya       berada   di tangan pribadi (seke-

lompok) anggota masyarakat.

Prinsip ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan dan ke-

 

 

138

 

stabilan dalam masyarakat. Karena seperti kita keta hui             bahwa

kepemilikan hanya pada satu orang atau kelompok anggota ma –

syarakat (monopoli) memberikan dampak yang dapat                            merugi-

kan masyarakat. Ketidakbolehan penumpukan harta ini didasar-

kan pada finnan Allah:

…   supaya                itu jangan hanya beredar di antara orang-

orang yang kaya saja diantara          kamu    … ” (QS . AI-Hasyr: 7).

Oalam   konteks kekinian, hal tersebut yang diambi l                ilustrasi

bahwa sikap mental oligopoli, monopoli, kartel dan yang sejenis

dengannnya merupakan sikap                    mental pengingkaran nura ni

kemanusiaan dan jelas-jelas menyimpang dari aturan                  Is lam

(Suhrawardi, 2000: 7) .

 

 

Walaupun di dalam syariat Islam diakui adanya hak -hak yang

bersifat perorangan terhadap suatu benda, bukan berarti atas sesuatu

benda yang dimilikinya tersebut sesorang dapat berbuat sewenang-

wenang .   Adanya hak masyarakat yang melekat           terhadap hak milik

yang diperoleh seseorang, dibuktikan dengan kctentuan sebagai

berikut (Suhrawardi, 2004: 12-14):

a.   Larangan menimbun barang

Dalam ketentuan syariat Islam seseorang pemilik harta tidak

diperbolehkan untuk       menimbun barang dengan maksud agar

harga barang tcrsebut naik, kemudian penirnbun akan             menj ual

barang pad a harga yang tinggi tersebut. Larangan tersebut

tercermin dari hadis yang           diriwayatkan oleh Ab u       Oaud, At-

Tirmidzi dan Muslim             dari Mu’ammar bahwa           Nab i SAW

bersabda,    “siapa yang tnelak ukan         penitnbunan, ia dianggap

bersalah.

b.   Larangan memanfaatkan harta untuk hal-hal yang        mernbahaya-

kan masyarakat

Pengertian membahayakan       di sini adalah hal-hal yang yang

dapat mengakibatka n ba haya   atau kerusakan bagi masyarakat,

baik fisik maupun non-fisik seperti membahayakan            keh idupan

beragama, membahayakan akal pikiran manusia maupun mem-

 

139

 

bahayakan keutuhan dan per satu an masyarakat.

c. Larangan pembeku an harta

Pemb ekuan  harta  di  sini maksudnya adalah      mem bia rkan harta

atau bend a miliknya    terla ntar,  tidak berman faat, dan    tidak pro-

duktif. Padahal     di sisi lain j ika        barang   tersebut   dikuasai   oleh

orang lain,       maka sangat mungkin untuk           di manfaatkan   bagi

usaha-usaha   produktif yang       bermanfaat bagi      oran g terse but

maupun masyarakat secara luas.               .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BABIX

POLITIK HUKUM

 

 

Kegiatan politik adalah kegiatan yang bertujuan untuk merebut

dan memperoleh kekuasaan,                    karena dengan kekuasaan dianggap

seseorang atau kelompok masyarakat akan mempunyai akses yang

besar untuk ikut merumuskan dan menetapkan kebijakan publik yang

menguntungkan dirinya atau kelompoknya. Bahkan kekuasaan politik

dianggap sebagai kekuatan nyata untuk mengatur kehidupan masyara-

kat dalam berbagai aspeknya , karena tanpa kekuasaan politik, penga –

ruh seseorang atau kelornpok tidak akan efektif dalam kehidupan

masyarakat (Asy’arie , 1999 : 107).

Teori politik adalah bahasan dan generalisasi dari fenomena

yang bersifat politik, yang bahasannya meliputi: (a) tujuan dari kegiat-

an politik, (b) cara-cara mencapai tujuan itu, (c) kemungkinan                         –

kemungkinan dan kebutuhan- kebutuhan yang ditimbulkan oleh situa-

si politik tertentu, dan (d) kewajiban yang ditimbulkan oleh tujuan

politik itu. Konsep-konsep yang dibahas dalam teori politik mencakup

antara lain masyarakat, kelas sosial, negara,              kekuasaan, kedaulatan,

hak dan kewajiban, kemerdekaan, lernbaga-lernbaga                         negara, perubah-

an sosial, pembangunan politik, modemisasi dan sebagainya.

Menurut Thomas P. Jenkin dalam                 Study ofPolitical Theory

dibedakan dua macam teori politik yaitu:

1. Teori-teori yang mempunyai dasar moril dan yang menentukan

norma-norma politik. Karena adanya unsur norma-norma dan

nilai maka teori-teori ini dinamakan                       volutional       (mengandung

nilai). Yang termasuk golongan ini antara lain filsafat politik,

teori politik sistematis idiologi dan sebagainya. Teori-teori yang

valuational dapat dibagi dalam tiga golongan:

a. Filsafat politik (political philosophy)

 

141

 

Filsafat politik mencari pilihan berdasarkan rasio, disini

terdapat hubungan antara sifat dan hakikat dari kehidupan

politik di dunia fana.

b. Teori politik sistematis (syst ematic political theory)

Teori ini menjelaskan realisasi dari                        dan nilai-nilai ke

dalam suatu program politik.

c.   Idiologi politik (political ideology)

Merupakan himpunan nilai-nilai ,        ide,   norma-norma,    keper-

cayaan, keyakinan yang dimiliki orang atau sekelompok

orang atas dasar mana ia menentukan sikapnya atas sua tu

problema politik. Contoh beberapa ideologi seperti Marxis-

me-Leninisme, Liberalisme.

2. Teori-teori yang menggambarkan dan membahas fenomena dan

fakta-fakta politik dengan tidak mempersoalkan norma atau

nilai  (noli   valutionali, bersifat deskriptif dan komparatif.

 

Al-Farabi menyatakan bahwa ilmu politik dan etika merupakan

pcrluasaan atau perkembangan metafisika atau sebagai manifestasinya

yang tertinggi yaitu teologi, politik pemerintahan merupakan jelmaan

dari gambaran nyata kondisi ideal. la menyebut tatanan itu sebagai al-

Madinah al-Fadilali,     suatu kondisi masyarakat ideal yang bersumber

dari ide-ide Yang Sempuma atau Wujud Azali (AI-Farabi, 1959: 109-

110).

 

 

A. NEGARA SEBAGAI SUMBER HUKUM

 

Hukum berkaitan dengan manusia sebagai manusia. Manusia

memenuhi tugasnya di dunia ini dengan menciptakan suatu aturan

hidup bersama yang baik, yaitu secara rasional dan moral, dengan

bcrtumpu pada hak-hak manusia. Namun pada kenyataannya hukum

diciptakan oleh negara. Hal ini sekurang-kurangnya berlaku bagi

hukum sebagaimana dibentuk pada zaman modem ini. Hukum diang-

gap sungguh-sungguh hukum, bila sah, yaitu bila dikukuhkan oleh

negara.

 

 

142

 

Keny ataan ini men imbulkan        keyakinan bahwa terdapat dua

tingkat bagi    berlakunya hukum. Pada tingkat pertama, hukum berada

 

 

 

 

2. Terbentuknya Nega ra

 

143

 

sebagai tuntutan        rasional dan      moral.    Selanjutnya      pada tingkatan kedua

hukum berl aku secara yuridis bila disahkan oleh Lembaga ya ng

berwenang/ma syarakat, dimana hukum berlaku secara yuridis.

 

 

1. Pengertian Negara

Pasal 1 konvensi         Mont evideo    1963 mengenai hak-hak dan

kewajiban-kewajiban            negara -yang ditandatangani oleh Amerika

Seri kat dan beb erapa     negara-n egara   Amerika latin- mengemukakan

karakteristik-karakt eristik pok ok dari suatu negara:

“Negara     sebaga i subjek hukum internasional             harus merniliki

syarat-syarat berikut: (a) RakyatSubjek tctap , (b) Wilayah tertentu, (c)

Pemerimtah,      dan   (d)    Kemampu an    melakukan hubungan-hubun gan

dengan negara lain” .

Konvensi Montevideo di ata s tidak menj ela skan tentang peng er-

tian negara tetapi     lebih merupakan pen etap an   syarat yang harus dimi-

liki   oleh negara. Dari berba gai kon sep si yang        ada mengenai pen gerti –

an negara dapat disimpulkan      bahwa negara merupakan     suatu alat ata u

wewenang    (auth ority ) yang   meng atu r atau mengendalikan     pesoalan-

pe rsoalan   bersama   dari   masyarakat.   Seh ing ga  seperti Hans K elsen

misalnya   mend efinisikan    negara   sebagai    kesatuan ketentuan hukum

yang     mengikat sekelompok              individu yang hidup dalam wilayah

tert entu.  Dengan demikian Kelsen       menyamakan anta ra negara   dengan

hukum. Dengan anali sis       yan g  lebih   mendalam   akan tampak    bahwa

teori ini merupakan        suatu penyingkatan dari keempat          karakteristik

negara di       atas karena       adanya     sistem hukum merup akan              persyaratan

dari suatu pemerintahan sebagai         suatu unsur    ketatanegaraan (Starke,

1989: 127), karena seperti yang dikatakan oleh John Locke:

“Suatu   pemerintahan     tanpa hukum     adalah suatu misteri dalam

politik,    yang sulit untuk dibayangkan secara               manusiawi dan tidak

konsisten dengan masyarakat manusia “.

Terbentuknya negara dapat terjadi     karena proklamasi kemerde-

kaan negara, perjanjian intemasional, atau karena adanya                   plebisit

(1stanto,1994: 22). Proklamasi kemerdekaan berarti pemyataan sepi –

hak dari suatu    bangsa bahwa dirinya melepaskan diri dari kekuasaan

negara lain dan mengambil            penentuan nasibnya ditangan sendiri.

Dengan adanya proklamasi berarti suatu masyarakat membentuk orga-

nisasi kekuasaan berupa pemerintahan yang berdaulat.         Dengan prokla-

masi juga berarti suatu          masyarakat menerapkan sis tem        hukurnnya

sendiri, menata sistem            pemerintahannya sendiri untuk mencapai

tujuan negara sesuai falsafah yang dianutnya.

 

 

3. Unsur Negara

a. Wilayah/Daerah Negara

Wilayah negara terdiri atas daratan dan lautan. Yang

dimaksud   dengan wilayah     daratan negara adalah bagian dunia

yang kering yang merupakan bagian dari benua atau pulau yang

mencakup juga wilayah perairan daratan seperti danau dan

sungai. Luas wilayah daratan suatu negara dapat terjadi karena

ditentukan sendiri secara sepihak oleh negara itu sendiri,

ditentukan dalam perjanjian internasional, ditentukan kebiasaan

dimasa lampau atau ditentukan oleh perkembangan setelah

terbentuknya negara tersebut (lstanto,1994: 22). Yang dimaksud

de ngan  wi layah   laut negara adalah       massa air di dunia yang

mengelilingi daratan beserta tanah yang ada di bawahnya.            Bagi

negara   pant ai dan negara kepula uan      yang wilayah     daratannya

berbatasan    dengan    laut memiliki        previlige yaitu menguasai

wilayah lautan tcrsebut.

 

 

b. Rakyat N egara

Kiranya pe rlu      dibedakan antara penduduk dan warga

negara, karena satu     sama lain memiliki hubungan hukum yang

 

144

 

berbeda. Yang dinamakan penduduk adalah semua orang yang

 

 

 

 

4. Bentuk Negara

 

145

 

dalam waktu tertentu berada dalam wilayah negara, baik warga

negara maupun orang asing. Mereka tunduk pada hukum negara

Indonesia . Bagi mereka pada prinsipnya berlaku semua hukum

yang berlaku dengan beberapa pengecualian bagi yang bukan

warga negara yaitu misalnya mereka tidak mempunyai hak

suara dalam pemilu, tidak berhak menduduki jabatan tertentu,

mereka yang mempunyai           kekuatan diplomatik bebas dari

pungutan pajak dan bea. Bagi warga negara dimanapun ia ber-

ada tunduk pada kekuasaan dan hukum negara..

c. Pemerintah

Menurut Prins Pemerintah dalam arti luas adalah suatu

organisasi kekuasaan yang mempunyai wilayah tertentu dan

berdaulat atas sejumlah orang tertentu sebagai warga negara.

Sedangkan dalam arti sempit adalah lembaga yang ada dalam

suatu negara yang memiliki kekuasaan melaksanakan setiap

peraturan yang dibuat oleh kembaga legislatif.

 

d. Kedaulatan

Jean Bodin mengatakan bahwa kedaulatan adalah ke-

kuasaan tertinggi untuk membuat hukum dalam suatu negara

yang bersifat tunggal, asli, abadi, dan tidak dapat dibagi-bagi .

Sedangkan CF. Strong membagi pengertian kedaulatan menjadi

pengertian intern dan pengertian ekstern.               Sebagai pengertian

intern kedaulatan merupakan kekuasaan tertinggi untuk menen-

tukan serta melaksanakan hukum terhadap semua orang dan

semua golongan yang terdapat dalam lingkungan kekuasaannya.

Sedangkan sebagai .pengeli ian ekstern, kedaulatan merupakan

kekuasaan tertinggi yang tidak diturunkan dari kekuasaan lain

yang mengandung konsekwensi bahwa tidak ada campur tangan

negara lain dalam menentukan hukumnya sendiri.

Dalam Ilmu Negara pengertian tentang bentuk negara sejak

dulu kala dibagi menjadi dua yaitu: monarchie dan republik. Untuk

menentukan suatu negara berbentuk monarki atau republik banyak

ukuran yang dipakai. Jellineck memakai kriteria bagaimana caranya

kehendak negara dinyatakan. Jika kehendak negara ditentukan oleh

satu orang saja maka bentuk negara itu adalah monarki. Jika kehendak

negara ditentukan oleh banyak orang dalam suatu majelis, maka

bentuk negaranya adalah republik. Sedangkan Leon Ouguit menggu-

nakan kriteria bagaimana caranya kepala negara itu diangkat. Jika

seorang kepala negara berdasarkan hak waris atau keturunan, maka

bentuk negaranya disebut monarki. Tetapi jika kepala negaranya

dipilih melaui suatu pemilihan umum untuk masa jabatan tertentu,

adalah republik.

 

 

5. Susunan Negara

Istilah susunan ditujukan untuk menentukan apakah negara itu

merupakan negara kesatuan, federasi atau konfederasi. Jellineck mem-

bedakan negara federasi dan negara konfederasi pad a letak kedau-

latannya. Pada negara konfederasi kedaulatan terletak pada negara-

negara bagiannya. Sedangkan pada negara federasi kedaulatan ada

pad a keseluruhannya yaitu pada negara federasi itu sendiri. Alat

pengukur lain untuk membedakan negara federasi dan konfederasi

adalah sejauh mana pemerintah pusat dapat secara langsung mempe-

ngaruhi rakyat dari negara-negara bagian melalui peraturan-peraturan

yang dikeluarkannya. Oalam negara federasi, pemerintah pusat dapat

mempergunakan wewenangnya secara Iangsung terhadap setiap warga

negara dalam ncgara-negara bagiannya, sedangkan wewenang ini

tidak terdapat pad a negara konfederasi (Kusnardi & Ibrahim, 1976:

168).

Selanjutnya antara negara federal dan negara kesatuan dapat

ditunjukkan perbedaannya sebagai berikut:

a. Pada negara federal negara-negara bagian mempunyai wewe-

 

146

 

nang untuk membuat UUD-nya          sendiri    (Pouvoir Constituant)

dan dapat menentukan        bentuk organisasinya masing-masing

dalam batas-batas yang tidak bertentangan dengan konstitusi

negara federal. Pada negara kesatuan daerah daerah tidak dapat

membuat UUD sendiri, dalam hal ini organisasi kekuasannya

telah ditentukan oleh pembuat undang-undang dipusat.

b. Dalam negara federasi             wewenang pembuat undang-undang

pemerintah federasi ditentukan secara terperinci sedangkan

wewenang lainnya         ada pada negara-negara bagian             iresidu

power atau reserved power). Sebaliknya dalam negara kesatuan,

wewenang secara terperinci terdapat pada daerah-daerah dan

residu    powemya      ada pada pemerintah pusat (Kranenburg,

1939) .

 

 

Masyarakat merupakan kelompok manusia yang saling berhu-

bungan dan menempati suatu wilayah .              Untuk melindungi kepen-

tingannya dan menghindari terjadinya kebebasan tanpa batas maka

manusia membentuk suatu asosiasi yang bertujuan untuk mernudah-

kan memperoleh kebutuhannya dan membatasi kompetisi.                  Negara

adalah asosiasi yang lahir untuk memenuhi kebutuhan politik warga

negara.

Negara    merupakan integrasi dari kekuasaan politik. Negara

adalah alat dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk meng-

atur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan

gejala-gejala kekuasaan dalam masyarakat. Secara umum negara

mempunyai dua tugas yaitu:

I. Mengendalikan dan mengatur gejala-gejala kekuasaan yang a-

sosial, yakni bertentangan satu sarna lain,         supaya tidak menjadi

antagonisme yang membahayakan.

2. Mengorganisir dan mengintegrasikan kegiatan manusia dan

golongan ke arah tercapainya tujuan dari masyarakat secara

keseluruhan.

 

147

 

Si fat negara merupakan manifestasi dari kedaulatan yang dirni-

likinya, diantaranya:

I). Sifat memaksa, ditujukan untuk menciptakan ketertiban dalam

masyarakat, dapat berupa penggunaan kekuasaan secara fisik

secara legal. Dalam suatu negara yang demokratis hal ini dite-

kan seminimal mungkin.

2). Sifat monopoli , yang bertujuan untuk menetapkan tujuan bersa-

ma dari masyarakat. Sikap mencakup semua (all-encompassing,

all embracing),     dalam setiap kebijakan-kebijakan negara berla-

ku merata bagi setiap orang tanpa kecuali .

 

 

Dari sini muncul adanya politik hukum suatu negara tertentu,

yang berada di tangan pemerintah.                 Sehingga     negara merupakan

sumber hukum.       Kedaulatan dalam arti yuridis ada pada negara.

Kedaulatan negara sebagai sumber hukum tidak mutlak. Negara harus

tunduk pada aturan yang dikehendaki Tuhan, yakni aturan yang adil.

 

 

B. HUKUM DAN KEKUASAAN

 

Kekuasaan merupakan      kemampuan seseorang atau kelompok

orang untuk mempengaruhi orang atau kelompok lain sehingga sesuai

dengan     keinginan      orang     yang     mempunyai      kekuasaan     tersebut.

Kekuasaan politik adalah kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan

umum (pemerintah) baik terbentuknya ,               maupun akibat-akibatnya

sesuai dengan keinginan pemilik kekuasaan. Kekuasaan politik bagian

dari kekuasaan sosial yang           ditujukan kepada negara sebagai satu-

satunya institusi     yang berkuasa. Dalam penggunaan kekuasaan harus

ada penguasa dan sarana kekuasaan agar penggunaan kekuasaan itu

berjalan dengan baik.

Ossip K.Flechtheim membedakan kekuasaan politik atas:

1. Bagian dari kekuasaan sosial yang khususnya terwujud dalam

negara (kekuasaan negara atau         state power),  seperti lembaga

pemerintahan.

 

 

148

 

2.   Bagian dari kekuasaan sosial yang ditujukan kepada negara,

seperti partai politik,           lembaga-Iembaga sosial yang mempenga-

ruhi jalannya kekuasaan Negara.

 

Hukum berasal dari negara,                 dan yang berkuasa dalam suatu

negara adalah pemerintah. Pemerintah melalui politiknya menetapkan

hukum. Apakah ada hubungan antara hukum dan kekuasaan? Ada dua

pandangan untuk menjawab hal ini:

1.   Hukum tidak sama dengan kekuasaan. Hal ini didasarkan pada

dua alasan:

a. I-Iukum   kehilangan artinya jika disamakan dengan k ekuasa-

an karena hukum bermaksud meneiptakan suatu masyarakat

yang adil. Tujuan ini hanya tereapai jika pemerintah juga

adil dan tidak semena-mena dengan kekuasaannya.

b. I-Iukum   tidak hanya membatasi     kebebasan individual terha-

dap keb ebasan   individual yang lain, melainkan juga kebe-

basan (wewenang) dari yang berkuasa dalam negara.

2. Hukum tidak melawan pemerintah negara, sebaliknya membu-

tuhkannya guna mengatur hidup bersama. Yang dilawan adalah

kesewenang-wenangan     individual. Hal ini didasarkan pada dua

alasan :

a. Dalam masyarakat yang luas,            konflik hanya dapat diatasi

oleh entitas yang berada di atas kepentingan individu -indivi-

du , yaitu pemerintah.

b. Keamanan dalam hidup bersama hanya              terjarnin bila ada

pemerintah sebagai petugas tertib negara.

 

 

c. HUKUM DAN MASYARAKAT

 

Apabila kita berbieara mengenai hukum, maka akan terpikirkan

oleh kita suatu proses pengadilan, ada hakim, jaksa, penuntut,                    dan

pengaeara , yang semuanya meneoba untuk menyelesaikan suatu per-

kara agar terpenuhi suatu keadilan. Akan tetapi hukum bukan hanya di

dalam pengadilan saja,         melainkan hukum itu ada juga di ‘ dalam

 

149

 

masyarakat. Gejala hukum dapat terI ihat         dalam kehidupan manusia

sehari-hari ,   baik dalam kehidupan manusia secara individu maupun

seear a sosial. Jumlah       gej ala hukum itu sangatlah banyak,          sehingga

kadang-kadang tidak kita sadari                   keberadaannya. Setiap waktu kita

dikuasai’   oleh hukum, sej ak manusia lah ir              sampai sesudah mati.

Hubungan manusia    dengan manusia lainnya dalam per gaulan sehari-

hari juga   tidak lepas   da ri peraturan-peraturan yang menyebabkan ada-

nya keh idupan   yang baik dan teratur. Peraturan-peraturan itu rneru –

pakan peraturan yang       ” mengej awantah” dalam kehidupan manusia

sehari-hari. Mungkin ada peraturan         yang sudah berlaku sejak jaman

dahulu, namun mungkin pula ada peraturan baru yang sesuai dengan

keadaan ,  waktu dan tempat.      Dapat saja    peraturan itu berbeda       antar

satu bangsa dengan     bangsa yang lain. Dengan demikian dapat dikata-

kan bahwa hukum berlaku di             se luru h dunia dan dapat dikatakan

sebagai   gej ala yang b er sifat     universal.    Namun secara nyata ,      gejala

hukum dapat kita lihat dalam undang-undang,              ketetapan-ketetapan,

dan juga kontrak perjanjian.          G ejala   hukum inilah yang dipclajari

dalam ilmu hukum,       yan g  jika dilihat dari sudut ilmu pengetahuan

merupakan bagian dari kebudayaan (A sdi , 199 8: 3-4).

Setiap ban gsa mempunyai kebudayaannya sendiri-sendiri, maka

hukum pun berbed a    antara bangsa   sa tu dengan bangsa yang lainnya.

M enurut   von Savigny (Theo Huijbers,           1990  :   114) ,  hukum adalah

pemyataan jiwa bangsa     –    Volksgeist    karena pada dasamya hukum

tidak dibuat     oleh    manusia,   tetapi tumbuh dalam masyarakat,          yang

lahir, berkembang dan lenyap dalam sejarah. Dengan demikian hukum

berkembang pula dalam sejarah.         Dalam pembentukan hukum perIu

pula diperhatikan eita-eita ban gsa dan nilai-nilai yang terdapat dalam

bangsa tersebut.

Meskipun, hukum merupakan bagian kebudayaan suatu bangsa ,

oleh sebab itu tiap-tiap bangsa memiliki hukum masing-masing me-

lalui proses sejarah dan kebudayaannya, namun terdapat suatu univer-

salitas juga dalam tata hukum-tata           hukum yang berlaku di dunia.

Karenanya perlu dibedakan antara ‘politik hukum’ yang menyangkut

makna dan jiwa sebuah tata hukum,                 dan ‘teknik hukum’ yang

menyangkut eara membentuk hukum (Huijbers, 1988 : 118-121).

 

 

150

 

Hukum dalam hubungannya dengan kebudayaan suatu bangsa

dalam perkembangannya dipelajari secara empiris dalam antropologi

hukum. Disini hukum dipandang berkaitan dengan nilai-nilai budaya,

norrna-norma sosial dan lembaga-Iembaga sosial , sccara khusus dalam

masyarakat sederhana atau primitif.

Masyarakat tidak hanya ditandai oleh kebudayaannya sebagai

ciri khasnya,      melainkan juga oleh situasi sosial ekonominya yang

aktual. Oleh sebab itu perhatian pemerintah dan para sarjana hukum

tidak dibatasi pada nilai-nilai kebudayaan yang bersigat spiritual,

me lainkan  lebih-Iebih diarahkan pada kebutuhan-kebutuhan masyara-

kat yang bersifat material. Pemcrintah mengatur kehidupan masyara-

kat secara hukum atas dasar           situasi sosial-ekonomis konkret yang

tertentu.

I1mu yang mempelajari hukum dalam hubungan dengan situasi

masyarakat, dalam konteks masyarakat       modem adalah sosiologi hu-

kum. Tujuan sosiologi hukum bersifat praktis, dimana yang dimaksud

adalah bahwa undang-undang yang dibentuk sungguh-sungguh cocok

dengan kebutuhan-kebutuhan dan cita-cita suatu masyarakat tertentu .

 

 

D. TUJUAN POLITIK HUKUM

 

Secara urnum dalam sistcm politik terdapat                 empat variabel

yaitu:

1.   Kekuasaan –     sebagai cara untuk mencapai hal yang diinginkan

antara lain membagi sumber-sumber di antara kelompok-kelom-

pok dalam masyarakat.

2. Kepentingan – tujuan yang dikejar oleh pelaku atau kelompok

poIitik.

3. Kebijaksanaan – hasil dari                interaksi antara kekuasaan dan

kepentingan, biasanya dalam bentuk perundang-undangan.

4. Budaya politik – orientasi subyektif dari individu terhadap

sistem politik.

Musa Asy’ari       (1999: 107) membedakan politik menjadi dua,

politik kekuasan dan politik moral. Politik kekuasaan adalah tindakan

 

151

 

politik yang semata-mata       ditujukan untuk merebut dan memperoleh

kekuasaan, kawan dan lawan politik ditentukan sepenuhnya oleh

kepentingan-kepentingan poIi tik semata sehingga tidak ada lawan dan

kawan abadi, yang           ada adalah       kepentingan       abadi ,    yaitu kepentingan

kekuasaan . Sedangkan   dalam pol itik moral , kekuasaan bukan merupa-

kan tujuan akhir,        tetapi   alat perjuan gan      dari cita-cit a      moral dan

kemanusiaan.

Ada bebcrapa     tujuan poIitik hukum yang diuraikan oleh            para

sarjana, yaitu:

a. Menjamin keadilan dalam masyarakat.

Tugas utama pemerintah suatu Negara ialah                     mewujudkan

keadilan social      (iustitia socialis)  yang dulu disebut keadilan distri –

butive   (iustitia distributive).  Undang-undang     disebut    adil yaitu un-

dang-undang yan g       mengatur sed emikan       rupa kehidupan manusia

dimana untung dan beban dibagi sec ara        pantas. Undang-undang yang

tidak adil adaIah yang melanggar hak-hak manusia atau mcngunggul-

kan kepentingan saIah satu kelompok saja.

 

b. Menciptakan ketentraman          hidup dengan memelihara kepastian

hukum.

Kepastian hukum berarti bahwa dalam Negara tcrs ebut undang-

undang sungguh berlaku sebagai hukum, dan bahwa putusan-putusan

hakim bersifat konstan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

 

c. Menangani kepentingan-kepentingan          yang nyata dalam kehidupan

bersama secara konkret.

Kepentingan ters ebut nampak dalam cita-cita masyarakat secara

kolektif. Pemerintah kemudian menetapkan               undang-undang untuk

mendukung dan mengembangkan cita-cita tersebut.

Tujuan mana yang harus      diprioritaskan antara keadilan, kepas-

tian hukum atau nilai -nilai          khusus? Menurut Huijbers yang harus

diutamakan adalah keadilan, yaitu pemeliharaan hak-hak yang berkait-

an dengan tiap -tiap      manusia sebagai      pribadi. Karena hak-hak azasi

tidak jatuh dibawah wewenang          pemerintah dan tidak pemah dapat

diserahkan kepada orang lain. Negara didirikan atas dasar hak-hak itu

 

 

152

 

sebagai azas-azas segala hukum. Sesudah              keadilan    baru kepastian

hukum, lalu salah satu nilai khusus dapat dipilh            sebagai tujuan poltik

hukum, sesuai dengan cita-cita dan kebutuhan-kebutuhan                                    bangsa

(Huijbers, 1995: 120).

 

 

 

 

 

 

 

 

BABX

PENEGAKAN HUKUM

 

 

A. PERAMPASAN KEMERDEKAAN DAN PEMIDANAAN

 

Pelanggaran hukum membawa akibat diberikannya hukuman

kepada si pelanggar. Hukuman itu dapat             berbentuk    hukuman fisik ,

hukuman denda ataupun hukuman              dalam bentuk lain.            Adanya

hukuman yang diberikan tersebut akan menimbulkan masalah yang

mengacu pad a keadilan. Sudah adilkah hukuman yang diberikan,

khususnya hukuman yang diberikan sesuai dengan keputusan hakim

dan dalam hukum legal. Berdasarkan pemberian hukuman itu akan

timbul pertanyaan, “Apakah sesungguhnya                   tujuan memberi hukuman?

Kecuali itu apakah hukuman terse but sesuai dengan nilai-nilai moral?”

Mungk in ada yang berpendapat bahwa memberi hukuman ter-

sebut balas dendam,               atau biar orang bersalah itu “kapok”,                           jera,

sehingga tidak melakukannya lagi. Atau mungkin pula sebagai contoh

agar orang lain tid ak          melakukan pelanggaran yang sama .           Secara

umum, dapat dikatakan                bahwa memberikan hukuman merupakan

pengobatan atau treatment ,     atau merupakan denda karena melanggar

peraturan. Agar suatu hukuman dapat dikatakan adil , maka hukuman

itu hams mengandung aspek legal dan aspek moral, sehingga tercapai

ketentraman lahir maupun batin, tidak hanya untuk si pelanggar

hukum, melainkan juga masyarakat pada umumnya.

Teori yang membenarkan       pemberian hukuman pada seseorang

yang melanggar hukum dan dibenarkan secara moral adalah teori

Retributivisme. Menurut teori ini, dalam memberi hukuman haruslah

dilihat apakah seseorang itu melanggar hukum. Untuk mengetahui hal

ini perlu dilihat perbuatan orang itu pada masa lalu . Kalau memang

 

 

154

 

orang tersebut pada masa lalu telahmelanggar hukum, sudah sepan-

tasnyalah ia . menerima hukuman.                    Maka hukuman yang diberikan

tersebut merupakan retribusi bagi pelanggaran yang diakibatkan oleh

pelanggarannya .        Dengan demikian telah sesuai pemberian hukuman

itu dan karena itu teori retribusi ini juga dinamakan teori Propor-

sionalitas (Yong Ohoitimur, 1997: 6).

Pengdukung teori ini adalah Immanuel Kant dan Friedrich

Hegel. Kedua filsuf Jerman pada abad ke-18 ini mempunyai pan –

dangan yang berbeda, namun keduanya menyetujui teori Retributi-

visme. Kant mengatakan, bahwa menghukum adalah kewajiban moral,

apabila memang terbukti sescorang itu melakukan kesalahan. Jadi

menurut Kant, hukuman merupakan sesuatu yang harus diterima oleh

orang yang bersalah, dan              hukuman itu adalah hadiah baginya.

Pandapat ‘Kant ini dapat dikatakan bahwa ada dua macam hubungan

antara hukuman dan pelanggaran. Yang pertama, ada hubungan logis

antara hukuman dan pelanggaran, yaitu siapa yang melanggar akan

mendapat hukuman .      Kedua, hukuman menimbulkan rasa               moral,

karena    seseorang yang berbuat harus                bertanggungj awab      (Y ong

Ohoitimur, 1997: 7-10).

Hegel     berpendapat bahwa        hukuman     merupakan     kehend ak

umum,   general will.   Ini tidak berarti bahwa           gen eral will  adalah

kehendak kolektif, tetapi         g eneral will  menyatakan dirinya dalam

hukum, dan dikenal sebagai hukum positif yaitu             hukum yang sesuai

dengan rasio. Hukum mengharuskan setiap individu garus dihargai

dan iperlakukan sebagai manusia bebas. Melanggar hukum berarti

melanggar kehendak bebas. Maka menurut Hegel, hukuman adalah

konsekuensi dari perbuatan yang melanggar hukum (Yong Ohoitimer,

1997: 9-17).

Di samping Retributivisme yang mengadakan evaluasi hukum,

ada aliran yang lain, yaitu aliran Utilitarisme. Kaum utilitarianisme

mengatakan bahwa pemberian hukuman berarti pencegahan, preventif.

Teori ini telah ada sejak jaman Plato. Pada dasamya teori ini ber-

pendirian bahwa hukuman tidak dapat membatalkan kesalahan yang

telah dibuat oleh seseorang, tetapi hukuman itu justru mengingatkan

pada masa depan si pelaku pelanggaran. Teori             Plato ini juga diikuti

 

155

 

oleh beberapa orang filsuf, di antaranya oleh Jeremy Bentham dari

1nggris.

Berbeda dengan teori Retributivisme yang memandang pada

mementingkan masa depan. Dampak apa yang akan terjadi’ apabila

seseorang menerima hukuman. Hukuman yang diberikan diharapkan

mengandung konsekuensi positifbagi si terhukum danjuga bagi orang

lain khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Pendapat ini tentu

tidak jauh berbeda dengan teori moral Utilitarisme yang mengatakan

bahwa suatu tindakan mempunyai nilai moral apabila tindakan ter-

sebut memberikan konsekuensi yang baik pada orang-orang lain

sebanyak-banyaknya. Prinsip manfaat inilah yang menjadi ukuran

bagi utilitarianisme.

Menurut Bentham, konsekuensi yang merupakan akibat dari

hukuman yang berbentuk preventif ini ada dua macam. Pertama

hukuman yang diberikan mengakibatkan seseorang yang dihukum

tidak mempunyai kemampuan untuk mengulangi perbuatan pelanggar-

an. Hal ini disebabkan karena orang itu di hukum seumur hidup atau

dikurung, atau bahkan dihukum mati .          kedua, hukuman mempunyai

efek baik, yaitu untuk memperbaiki si terhukum, sehingga ia tidak

akan membuat pclanggaran lagi. Jadi menurut teori ini,

I. Hukuman dapat memberikan akibat jera seseorang yang diberi

hukuman. lni berarti bahwa hukuman memberikan efek pre-

ventif.

2.   Hukuman sebagai rehabilitasi, memberi kesempatan pada terhu-

kum untuk memperbaiki diri. Mungkin lembaga pemasyarakat-

an di Indonesia diharapkan untuk merehabilitir para terhukum.

3. Hukuman sebagai pendidikan moral, bersifat edukatif agar si

terhukum menjadi taat pada hukum (Yong Ohoitimur, 1997: 26-

48).

 

 

B. MASALAH-MASALAH DALAM PENEGAKAN HUKUM

 

1. Ironi “Negara Hukum” Indonesia

Negara Indonesia adalah negara hukum, begitu yang dinyatakan

 

 

156

 

dalam konstitusi kita UUD Negara             RI  1945 pasal 1 ayat (3) yang

dirumuskan dalam amandemennya yang ketiga, Agustus 2001 yang

lalu. Sehingga seharusnya seluruh sendi kehidupan dalam bermasyara-

kat dan bernegara kita harus berdasarkan pada norma-norma hukum.

Artinya hukum harus dijadikan panglima dalam penyelesaian masa-

lah-masalah yang berkenaan dengan individu, masyarakat dan Negara.

Tetapi sampai saat ini dalam kenyataannya masyarakat seperti tidak

percaya kepada hukum sebagai satu-satunya solusi atas permasalahan

yang terjadi disekitarnya. Mungkin hal ini disebabkan karena sudah

sangat kronisnya krisis kepercayaan masyarakat terhadap hukum, isti-

lah ini tidak lazim dipakai dalam bahasa Indonesia dimana penyum-

bang terbesar krisis tersebut adalah dari para penegak hukumnya

sendiri.

Para pencari keadilan yang        notebene adalah masyarakat kecil

sering dibuat frustasi oleh para penegak hukum yang nyatanya lebih

memihak pada golongan berduit. Sehingga orang sering menggambar-

kan kalau hukum Indonesia seperti jaring laba-laba yang hanya

mampu menangkap hewan-hewan kecil ,         namun tidak mampu mena-

han hewan besar tetapi hewan tersebutlah yang mungkin menghancur-

kan seluruh jaring laba-laba. Contoh paling nyata adalah penanganan

kasus-kasus korupsi, hampir sebagian besar permasalahan yang meng-

indikasikan adanya tindak pidana korupsi tidak pernah tersentuh oJeh

hukum. Apalagi jika kasus tersebut melibatkan “orang-orang besar”

yang dekat dengan kekuasaan dan konglomerat. Kalaupun hal ini

ditindaklanjuti oleh pihak kejaksaan, maka kelanjutan kasus tersebut

semakin     suram.     Karena    biasanya     kasus-kasus     yang     melibatkan

“orang-orang besar” akan di”peti-es”kan oleh                     kejaksaan dengan

mengeluarkan SP3 (surat perintah penghentian penyidikan) atau

kalaupun sampai masuk ke pengadilan, maka akan dikenakan pemida-

naan yang sangat ringan atau putusan bebas.

Saat ini sering kita menyaksikan peristiwa-peristiwa miris,

penggusuran orang miskin kota, ‘penggarukan’ anak jalanan, ‘pener-

tiban’ pedagang kaki lima, tetapi disisi lain penguasa malah mern-

biarkan pencurian harta negara dan uang rakyat oleh koruptor, pem-

berian keringanan terhadap konglomerat hitam yang ‘ngemplang’

 

157

 

dana BLBl,     pencabutan subsidi kepada rakyat, kasus busung lapar

yang terjadi di         N1T   dan NTB yang menistakan pembangunan yang

kita lakukan selama ini , industrialisasi pendidikan dan penjualan aset-

aset negara kepada pihak swasta asing. Kesemuanya itu dilakukan

oleh    pemerintah dengan dalih untuk mewujudkan kesejahteraan

rakyat.

Di sisi lain kita melihat proses dehumanisasi ini semakin cepat

yang diakibatkan oleh kehancuran moral dan akhlak manusia. Manu-

sia tidak lagi memiliki rasa empati terhadap manusia lainnya yang

ditimpa kemalangan, di sisi lain negara telah tidak lagi “rnengurusi”

rakyatnya. Masyarakat mulai frustasi dengan sistem yang dibuat oleh

negara, karena jelas bahwa sistem yang ada sangat tidak memihak

kepentingan orang banyak. Sistem tersebut lebih memihak kepada

para pemodal, politisi busuk, konglomerat hitam, penjahat kernanusia-

an, penjarah uang rakyat, dan penguasa yang menyembah berhala

materialisme. Masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada keadilan

yang ditegakkan oleh hukum, masyarakat juga tidak lagi mau rnern-

perhatikan nilai-nilai moral dan susila yang selama ini mapan.

Kernudian kita rasakan bahwamasyarakat Indonesia sekarang ini

mengarah pada pemikiran yang formalistik, intoleransi, kebekuan dan

kejumudan, fanatisme buta, serta sernakin menguatnya paham-paham

otoriter dan fasisme (Fakih, 2002: xiv).

 

 

2. Fenomena “Pengadilan Rakyat”

Fenomena “pengadilan rakyat” kiranya bisa menjadi satu

sinyalemen adanya kebekuan tersebut.           Eigenriclzting    atau tindakan

main hakim sendiri yang oleh Prof. Sudikno Mertokusumo diartikan

sebagai tindakan untuk melaksanakan hak menurut kehendak sendiri

yang bersifat sewenang-wenang tanpa persetujuan pihak lain yang

berkepentingan (Mertokusumo,                 1996: 23), sepertinya menjadi satu

jawaban atas ketidakpercayaan terhadap sistem sosial yang kita

bangun selama ini yang termanifestasi dalam tata aturan kehidupan

bernegara dan bermasyarakat melalui seperangkat norma, kaidah, dan

peraturan legal formal perundang-undangan Negara.                               Rakyat yang

 

 

 

158

 

dalam wujud kesehariannya dikenal sebagai massa, baik secara ber-

kelompok-kelompok maupun secara massal, dalam “mengadili” pela-

ku yang diduga meresahkan dan mengacaukan kehidupan masyarakat,

pada umurnnya lebih didasarkan pada perasaan                               emosional sesaat

dengan perlakuan yang tanpa kompromi sedikit pu n . Sehingga dengan

demikian sudah pasti tidak ada peluang untuk menyelesaikannya

dengan cara ber-KKN atau suap-menyuap sebagairnana kebiasaan dari

kebanyakan para penegak hukum se lama ini . Profesor Donald Black

(dalam              Behavior of Law,    1976) merumuskan bahwa ketika

pengendalian sosial oleh pemerintah yang sering dinamakan hukum

tidak jalan, maka bentuk lain dari pengendalian sosial secara otornatis

akan muncul (Ali dalam Kompas 26/06/2002). Suka atau tidak suka,

tindakan-tindakan individu maupun massa yang dari kacamata yuridis

dapat digolongkan sebagai tindakan main hakim sendiri               (eigenricht-

ing) ,  pada hakikatnya merupakan wujud pengendalian sosial oleh

rakyat.

Adanya praktik “pengadilan rakyat” yang bukan lagi sebagai

fenomena, akan tetapi sudah semakin menguat dalam tradisi masya-

rakat ini, paling tidak perlu dijadikan cambuk yang sangat keras bagi

para pemimpin bangsa, wakil-wakil rakyat yang diberi amanah untuk

itu dan terutama kepada para penegak dan pembela hukum di negeri

InI.

 

 

3. Mafia Peradilan

Masalah yang sering menjadi sorotan sejak dulu adalah mandul-

nya institusi penegak hukum. Kepolisian, Kejaksaan, Hakim dan

Pengacara seakan menjadi satu jejaring (baca: mafia) peradilan yang

terus mencari     “rnangsa” yang     notabene para pencari keadilan. Uang

menjadi suatu ha] yang sangat prinsipil dalam penyelesaian persoalan-

persoalan hukum. Azas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya

ringan hanya menjadi slogan saja, karena kenyataannya malah ber-

belit-belit, lama dan mahal. Peradilan menjadi seperti kantor lelang

yang menjajakan “dagangan-hukumnya” dengan variasi harga dengan

penawaran tertinggi.

 

159

 

Istilah mafia yang mungkin kita kenal selama ini adalah cerita-

cerita tentang mafia Sisilia di Italia yang menjalankan kejahatan

secara terorganisasi. Kita disini menggunakan kata                   “mafia” untuk

menunjuk pad a praktik korup peradilan, karena kata ini dianggap

mewakili jejaring korupsi di lingkup peradilan dan penegak hukum.

Kata ini menunjuk pada satu bentuk korupsi yang dilakukan dimulai

dari Kepolisian, Kejaksaan, hingga ke Pengadilan (disini termasuk

Hakim dan Panitera), yang juga melibatkan Pengacara. Yang sering

dijadikan apologi oleh para petinggi penegak hukum tersebut adalah

perilaku korup tersebut dilakukan oleh oknum, bukan institusi. Tetapi

pertanyaannya jika yang melakukan perilaku korup tersebut adalah

semua orang yang ada dalam institusi, sulit kita membedakan apakah

ini oknum ataukah memang institusinya yang bobrok.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abu Zahrah, Muhammad, 1994,           Ushul al-Fiqh,  terj emah ,  Jakarta:

Pustaka Firdaus .

Al -Farabi, Rasail,    Hyderab ad, t.t.

Al-Ghazali,  1966, Tahafut al-Falasifah,  Kairo, D ar al-Ma’arif

– – – — ,                        200 3,     Panduan       Ja lan     Ruhani,       Y ogyak art a:

Pustaka Sufi.

Ali, Ahmad, “M enyoal       Anarki dan Pene gakan     Hukum”,   Komp as  26

Juni2000

Al Qardhawi, Yusuf,              1993, fatawa   qardhawi: permasalaha n,

pemecahan    dan hikmah,     terjem ah,      Surabaya:      Risalah

Gusti , eet 1

Anshori,     Abdul    Ghofur, 2005 ,      Filsafat  Huku m    Ke warisan Is lam,

 

161

 

– – – – — , 1993, Etika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Bradly, F.H., 1952, Ethical Studies,   sec . ed., Oxford: Carendom.

Buckhardt, Titus, 1984, Mengenal Ajaran Kaum Sufi,  Jakarta: Pustaka

Jaya .

Chittick, William C, 2002,           Tasawuf di Mata  Kaum   Sufi , Bandung:

Mizan.

Departemen Agama RI, 1971,               AI-QuI’ ‘an dan Terjemahnya,        Jakarta:

Bumi Restu.

Dworkin, Gerald, ed.,         1994,  Morality, Harm and the law,   London:

Westview .

Drijarkara, N., 1966, Pertjikan Filsafat, Djakarta: Pembangunan.

Fakih, Mansour,            2002,   Jalan Lain Manifesto Intelektual Orga

nik, Y ogyakarta: Insist Press

Feinberg, J.       (ed). ,   1975,   Philosopy    of Law,  California: Wadsworth

Publisher Company, Inc., Belmont.

Friedman, W.,      1990,  Teori dan Filsaf at Hukum,        Susunan I, Jakarta:

Rajawali Press .

–    – – – – -,                1990,  Teori dan Filsafat Hukum , Susunan 11, Jakarta:

Rajawali Press .

 

Yogyakarta: UII Press.

Haart, HLA.

Con cept ofLaw

 

Asdi, Endang Daruni ,       1990, Imp ertif Kategoris dala m Filsafat Moral

Immanu el Kant, Yogyakarta:        Lukman Offset.

– —             –     –     ,    1998,   Itnplik asi Teori-Teori  Mora l pada  Hukum ,

Pidato Pengukuhan      Gur u Besa r Fakultas Filsafat Universitas

Gadjah Mada , Yogyakarta.

Asy’ari ,     Musa,     2002,    Filsafat Islam , Sunnah Na bi dalam          Berpikir,

Yogyakarta: LE SFI, cet 3.

Abdul Mujid Az Zandany dkk , Al Iman, terjemah (Jakarta : Pustaka Al

Kautsar, 1984) cet V edisi ketiga hi m 165

Basyir,    Ahmad Azhar, 2001,          Hukum  Waris  Islam,  Edisi Revisi ,

Yogyakarta: UII Press.

–    –     –    –     –     , 1999,     Hukum Perkawinan  Islam , Yogyakarta: UII

Press, cet 9.

Bertens, 1981, Filsafat Barat dalam Abad xx, Jakarta: Gramedia.

Hazairin,     1981,   Tujuh Serangkai Tentang Hukum,    Jakarta:    Bina

Aksara.

– – – – — , 1982, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Quran

dan Hadist , Jakarta: Tinta Mas.

–    – – — – , 1976,                   Hend ak    Kemana Hukum Islam, Jakarta: Tinta

Mas.

Hosen, Ibrahim,    1971, Fiqh Perbandingan dalam Masalah Nikah dan

Rujuk, Jakarta: Ihya Ulumuddin.

Huijbers,     Theo ,    1990,    Filsafat  Hukutn dalatn       Lintasan Sejarah,

Yogyakarta: Kanisius.

– — – – -, 1991, Filsafat Hukum , Yogyakarta: Kanisius.

Ilyas, Yunahar,        1992,  Kuliab Aqidah Islam,    Yogyakarta: LPPI

UMY, eet. 2

Istanto,   Sugeng, 1994, Hukum Internasional,   Yogyakarta: Penerbitan

 

 

 

 

UAJY.

 

162

 

163

 

Yudian Wahyudi Asmin, Yogyakarta: Tiara Wacana.

 

‘Jaiz, Hartono Ahmad,      1996, Rukun Iman digun cang, Jakarta : Pustaka

An Nab a’ , cet 2

Kant ,  Imm anu el,  1963,   Lectures on      E thics,   New York: Harper &

Row.

–    – – –          – – .      1991,   The   Me tap hys ics    oJ Mo rals,    tra nsl. by Mary

Gregor , New York : Cambridge Uni versity.

Khallaf Abdul Wah ab,             1994,   Ilmu    Ushul   F iqh,   terj emah ,    Sem arang:

Dina Utama.

Kranenburg dalam      buku  terj emah an R. Roregoard,      P oltical Theory,

(Oxford Univ ersity Press , 1939)

Kusnardi Moh & dan Ibrah im,           Harmaily,    1976,   Pe ngantar Hukum

Tata Negara Indonesi a, Pusat Studi Hukum Tata Negara FHU I,

Jakarta.

Madjid,    Nurcholi sh, 2000,       Masy arakat    Relight s ,  Jakarta:   Penerbi t

Paramadina, cet 11.

– – – – – -, 1992,                  Islam   Doktrin    dan Perada ba n:     Sebuah   Telaa h

Kristis   tentang  Mas alah Ke ima nan,   Kemanusiaan, dan Ke mo

dernan , Jakarta: Penerbit Paramadina

Marzuki, P.M. , 2005, Peneliti an Hukum, Jakart a: Kenca na

Masud, Muh amm ad   Khalid,    1996,   Filsafa t Hukum Islam ,      Bandung:

Pustaka.

Mertokusumo, Sudikno, 1996,               Men genal Hukutn         (Suatu    Pe nga ntar),

Yogyakarta: Liberty, cet 2

Mulkan , Abdul Munir, “M a ‘rifat       Queti ont , Jalan Pembebasan Manu-

sia dari Mekani sme Konflik” dalam        Begawan Muhammadiyah:

Bun ga  Rampai Pidato Pengu kuhan Guru Besa r Tokoh Muh am –

tnadiyah, Jakarta: PSAP Muhammadiy ah, 2005 .

Murphy, Jeffri e G. and Jules              L.   Coleman,      1990,   Philosop hy     of Law,

Revised ed ., London: Westview.

Muslehuddin, M .,     1986, Philosophy oJ Islam ic La w A nd The          Orien-

talist, New Delhi: Taj      Company.

–    – – – – – ,                1991,  Filsafat Hukum       Islam    da n  Pemikiran Orien-

talis; Studi Perbandingan      Sistem Hukum     Islam. Terjemah oleh

Nasr, Seyyed Hossein, 2003, Islam : Agama, Sejarah, dan Peradaban,

Surabaya: Risalah Gusti .

Nasution, Harun, Notohamidjojo, Filsafat Islam, Jakarta: Artikel

Yayasan Paramadina, t.t.

Notonagoro. Pembukaan UUD 1945.

Notohamidjojo, HLA. Soal-soal Pokok Falsafat Hukum .

Ohoitimur, Yong , 1997,      Teori Et ika tentang Hukuman Legal, Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Paton, HJ.,         1972 ,   The   Moral Law, Kant ‘.’I                Groundwork oJ the

Metaphysi c ofMoral, Hutchinson University Library, London.

Rahman, Fazlur, 2000 , Filsafat Shadra , Bandung: Pustaka.

Ramulyo, M.     Idris, 2004,     Hukum Perkawinan      Islam, Suatu Analisis

dari UU No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, cet V.

Rasyidi, Lili, 1990,          Dasar-dasar     FilsaJat Hukum,       Bandung: Citra

Aditya Bakti.

Rawls, J.,      1971,   A Theory oJ Ju sti ce,       Ma ssachusetts:   The Belknap

Press of Harvard University Press of Cambridge.

Sarmadi, A. Sukris, 1997,         Transedensi   K eadilan Hukum Waris      Isl am

Tran sformatif.: Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Schuon,   Frithjof, 2002 ,    Transfigurasi Manusia, Rejleksi        Antrosophia

Perennialis, Yogyakarta: Penerbit Qalam.

Setiardja,      A.    Gunawan,      1990,    Dialektika      Hukum      dan     Moral,

Yogyakarta :Kanisius.

Shihab, Quraish, 1994, Membumikan AI-Qur ‘an , Bandung: Mizan.

Snare,     Franci s,     1992,    The    Nature     of  Moral Thinking,         London:

Routledge.

Soejadi. Pan casila sebagai Sumber      Tertib Hukutn Indonesia.

Soekadijo, R.G. ,        2001, Logika       Dasar,     tradisional, simbolik,          dan

induktif, Jakarta : Gramedia Pustaka Umum

Soetiksno, 1989, FilsaJat Hukum , Jakarta : Pradnya Paramita.

Starke, JG., 1989, Inroduction To Intenational Law, Butterworth &           Co

Publisher Ltd

Subekti,    1996,  Pokok-pokok Hukum P erdata,        Jakarta: Intermasa,    cet

 

 

 

 

XXVIII.

 

164

 

 

 

 

INDEKS

 

– –– – – – , 1992, Kitab Undang-Undang          Hukum Perdata (Bur-

gerlijk Wetboek) , Jakarta: Pradnya Paramita, cet XXv.

Sukardja, Ahmad,      1995,  Piagam  Madinah dan UUD  1945, Cet 1,

Jakarta: Penerbit VI.

Sukidi,      “Dari      Pluralisme        Agama       Menuju Konvergensi               Agama-

agama”, Komp as, Jumat, 17 Oktober 1997

Thalib,      Sajuti,      1974,     Hukutn     Kekeluargaan     Indonesia,    Jakarta: VI

Press.

Titus, Harold H.,      1970, Living Issues in                     New York: Van

Nostrand Rein Hold.

Ya zdi,  Mehdi   Ha ‘iri ,   1994 , Ilmu Hudluri, Prinsip-prinsip Epsitimo-

logi dalam Filsafat Islam , Bandung: Mizan.

 

A

 

Abb asiyah , 14

Abdul Wahab   Khalaf, 69, 104

A gustinus, 16, 17

Aksiologi, 1

Akhlak , 10,58

Al Farabi , 14, 15

Al Ghazali, 15, 16

Al Hadi st, 17, 126, 127

Al Kindi, 14, 15

 

H

 

Hakim, 5, 7, 12, 13,48, 54 , 56 ,

94 ,148, 151, 152, 156-158

Hegel, 24, 25, 83, 153

Hukum alam, 12, 13, 16-18,

2 1, 24, 37, 46, 77,8 1-83,

87 ,88, 10 1-104, 111

Hukum kod rat, 4,37, 77, 80,

87-91 ,108

Hukum po sitif, 4, 7, 10, 12,

13,16,18,21 ,25 , 37,38,

68, 82,84,87,88,91 ,92,

94, 98, 102, 153

 

I

 

Ibnu Ru syd , 14

lmmanuel Kan t, 22, 23, 35 ,

74-79 , 83, 99, 101, 112,

153

Islam, 13-1 9,28-33 , 57-59,

 

61 -72,100, 104- 106, 12 1,

123, 125, 132,1 33,135 ,

137, 138

Ius Constituendum. 10

Ius Constitutum, 10

Ius gentium, 12, 18

 

J

 

J urisprudence, 5, 6, 93

 

K

 

Kap italisme, 30, 51

Karl Marx, 25

Kasyf, 34

Kea dilan, 12, 16, 18, 25, 35,

46-57 ,60,63-66,68,69,

91,92,94,96-98,1 0 1, 104,

109,1 4 8,1 51 , 152,1 55-

157

 

R

 

Rene Descartes, 27

Romawi, 5,12- 14,18, 33, 108

 

S

 

Sey yed Hossein Nasr, 33

Sos iologi Hukum, 9,2 5, 150

Spekul atif,7

StuJenbau theorie,      42 , 100

Sufi ,3 3,34

 

 

 

Syariat, 17, 18,33 ,59,66,68-

71,100,101,104-106,121,

122, 135, 137, 138

 

T

 

Taqdir, 118, 119, 121, 123,

124, 126, 127

Tasawuf,33

Teori hukum mumi , 98, 101

Teori proporsionalitas, 153

Tradisionalisme, 28-31

 

 

166

 

 

 

 

w

 

Wahyu , 16-18,31,32, 102,

104,129,132,133

 

y

 

Yunani,ll, 14,33, 74, 75, 87,

111

Yurisprudensi, 5, 45, 92-94

 

Wahyu , 16-18,31,32, 102,

104,129,132,133

 

y

 

Yunani,ll, 14,33, 74, 75, 87,

111

Yurisprudensi, 5, 45, 92-94

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: