Penelitian Bahasa dan Kajian Sastra

Sebagai salah satu bagian dari kekayaan pengetahuan umat manusia ilmu, memiliki tiga tiang penyangga. Pertama, ontologi, yang merupakan asas penetapan ruang lingkup dan sasaran kajian, serta asas penafsiran akan hakekat sasaran kajian tersebut. Kedua, epistemologi, yang merupakan asas metodologik pemerolehan dan penyusunan bangunan pengetahuan. Ketiga, aksiologi, yang merupakan asas tujuan dan pemanfaatan pengetahuan keilmuan (scientific knowledge).
Secara ontologik, lingkup kajian ilmu terbatas pada kawasan yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Selain itu, ilmu berupaya menafsirkan hakekat bahan telaah (studied object) sebagaimana adanya, serta terbuka terhadap pengujian secara terus-menerus. Karena itu, tepat sekali bila dinyatakan bahwa ilmu bertolak dari kenyataan dan diakhiri dengan kenyataan pula. Apa pun teori yang diuji atau dibangun, harus dirujukkan dengan kenyataan.
Secara aksiologik, tujuan dan pemanfaatan pengetahuan keilmuan harus dimaksudkan demi kemaslahatan manusia. Ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat untuk meningkatkan taraf hidup manusia tanpa harus mengorbankan kodrat dan martabat manusia, serta kelestarian dan keseimbangan alam. Karena itu, ilmu merupakan harta bersama umat manusia. Setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya.
Secara epistemologik, penyusunan dan pengayaan bangunan pengetahuan keilmuan berdasarkan metode keilmuan (scientific method). Metode keilmuan adalah seperangkat tata-cara dan tata-kerja guna menghasilkan pengetahuan keilmuan. Ditilik sebagai kata benda, ilmu tidak lain adalah seperangkat pengetahuan yang diperoleh melalui metode keilmuan.
Metodologi keilmuan adalah telaah tentang seperangkat aturan dalam metode keilmuan. Metode keilmuan adalah seperangkat tata-kerja dan atau tata-cara untuk menghasilkan pengetahuan keilmuan secara sistemik dan sistematik. Sistemik berarti ada saling keterkaitan (inter-connectedness) antar unsur, sedangkan sistematik berarti ada urutan logik (logical-sequence) antar langkah.
Karena masing-masing ilmu niscaya memiliki ciri-ciri khusus, maka setiap telaah tentang metode keilmuan tertentu, termasuk ilmu bahasa dan kajian sastra (linguistics dan literary study), perlu terlebih dahulu menjawab pertanyaan: Apa sasaran atau bahan telaah ilmu bahasa dan kajian sastra (ontology)? Apa tujuan kajian ilmu bahasa dan kajian sastra (axiology)? Bagaimana cara mengkaji bahasa dan sastra (epistemology)? Dengan ungkapan lain, agar dapat dikategorikan sebagai penelitian keilmuan bahasa atau kajian sastra, maka kajian itu harus: (1) benar-benar menyelidiki gejala bahasa atau karya sastra, (2) bertujuan mengembangkan pengetahuan keilmuan tentang gejala bahasa atau karya sastra, serta (3) menerapkan metode keilmuan bahasa atau kajian sastra.
Istilah kajian (study) digunakan dalam tulisan ini untuk menunjuk pada segala bentuk kegiatan pemerolehan pengetahuan keilmuan. Cakupan makna istilah kajian lebih luas dibanding penelitian (research), sebab istilah penelitian hanya menunjuk pada kegiatan mencari jawaban pertanyaan keilmuan dengan cara memadukan penghampiran teoretik dan bukti empirik. Pada kajian bahasa, misalnya, lebih tepat digunakan istilah metode penelitian, sedangkan terhadap karya sastra, lebih lazim digunakan istilah metode kajian. Hanya demi kesederhanaan dan kemudahan semata, dalam tulisan ini kedua istilah tersebut saling dipertukarkan.

BAHAN TELAAH PENELITIAN BAHASA DAN SASTRA
Apa bahan telaah ilmu bahasa? Secara ontologik, ilmu bahasa mengkaji berbagai gejala bahasa, dan tali-temali bahasa dengan gejala lain. Bahan telaah primer ilmu bahasa adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa tulisan merupakan bahan telaah sekunder. Gejala paling kongkrit bahasa berupa ujaran (parole). Gejala lebih abstrak, karena meyangkut kaidah-kaidah bahasa tertentu secara tepat, berupa langue. Bahasa Inggris dengan segala kaidahnya, misalnya, merupakan langue. Sedangkan yang paling abstrak adalah langage, yang mencakup tidak hanya kaidah satu bahasa, tetapi kaidah umum berbagai bahasa.
Ilmu bahasa tidak hanya mempelajari satu langue, tetapi juga tempat langue tersebut dalam khasanah langage. Dalam setiap bahasa, ada ciri tertentu yang juga ditemukan dalam bahasa-bahasa lain. Karena itu, seorang sarjana bahasa selayaknya menguasai satu atau lebih bahasa selain bahasanya sendiri, agar bisa mengungkap ciri yang sama maupun yang berbeda antara satu langue dengan langue lain, menuju penemuan kaidah-kaidah umum langage.
Secara sederhana, ada lima wujud gejala langage. Karena kelahiran bahasa bermula dari ujaran (speech), maka gejala terkecil bahasa adalah bunyi (sound, phone). Gejala ini dipelajari oleh cabang kajian fonetik atau fonologi (phonetics or phonology). Gejala bahasa terkecil kedua berupa morfem (morpheme) dan kata (word). Serba-serbi kata dipelajari oleh morfologi (morphology), perbendaharaan kata ini dipelajari oleh leksikologi (lexicology), sedangkan kata sebagai tanda dikaji oleh semiotika (semiotics).
Gejala bahasa berupa kelompok kata dengan susunan terpola (patterned order of words), baik frasa (phrase) maupun kalimat (sentence) dipelajari oleh cabang kajian sintaksis (syntax). Karena bahasa niscaya digunakan untuk bertukar pesan, maka unsur sangat penting bahasa berikutnya adalah makna (meaning). Gejala bahasa ini dipelajari oleh cabang kajian semantika (semantics). Selanjutnya, gejala bahasa berupa percakapan dan atau wacana (conversation and or discourse) dipelajari baik oleh cabang kajian pragmatika (pragmatics), hermeneutika (hermeneutics) maupun analisis wacana (discourse analysis). Seluruh cabang ilmu bahasa yang mempelajari sistematika bahasa tanpa mengaitkan dengan perkembangan atau sejarahnya disebut sebagai kajian linguistik sinkronik (synchronic-linguistics).
Sebagai gejala khas manusia, bahasa juga bertali-temali dengan gejala khas manusia yang lain. Gejala ini melahirkan bidang kajian lintas disiplin (inter-disciplinary study). Tali-temali bahasa dengan masyarakat, misalnya, dipelajari oleh cabang kajian sosiolinguistik dan sosiologi bahasa (sociolinguistics and sociology of language). Hubungan bahasa dengan jiwa manusia, termasuk proses pemerolehan bahasa pertama (first-language acquisition) dipelajari oleh psikolingustik (psycholinguistics). Hubungan bahasa dengan pendidikan, misalnya pembelajaran bahasa kedua (second-language learning), dipelajari oleh cabang kajian linguistik terapan (applied-linguistics). Kenyataan yang terkait dengan masa kuno dari sesuatu bahasa atau naskah kuno dipelajari oleh filologi (philology). Tali-temali bahasa dengan sejarah atau perkembangan bahasa, dipelajari oleh linguistik diakronik (diachronic-linguistics).
Karena ilmu bahasa mempelajari parole, langue, dan langage, maka tidak dibenarkan seorang calon sarjana bahasa mengajukan topik kajian di luar ketiga bahan telaah tersebut. Ilmu bahasa tidak mempelajari sembarang lambang (symbol), sembarang isyarat (code), dan tidak pula mempelajari sembarang tanda (sign), tetapi rangkaian lambang suara dan terucap yang bermakna (meaningful vocal and verbal symbol), yang kemudian berkembang menjadi lambang tertulis. Simbolisme pada upacara perkawinan, misalnya, sama sekali di luar kawasan kajian ilmu bahasa. Agak berlainan bila persoalan menyangkut sistem isyarat nonverbal (nonverbal code systems) seperti gerak tubuh (kinesics), pengaturan jarak (proxemics), penampilan fisik (physical appearance), penggunaan sentuhan (haptics), pengaturan suara (vocalics or paralinguistics), penggunaan waktu (chronemics), dan penggunaan benda (artifacts), walaupun tidak tercakup dalam lambang suara, tetapi masih relevan manakala semua itu memiliki makna serta digunakan dalam proses pertukaran pesan (communication). Karena itu, sejauh suatu kajian menelaah lambang bermakna yang digunakan untuk berkomunikasi, maka topik demikian masih cukup beralasan untuk dimasukkan ke dalam penelitian bahasa.
Apa bahan telaah kajian sastra? Telah lazim dipahami, sastra merupakan salah satu bentuk berkesenian manusia yang menggunakan bahasa sebagai bahan kegiatan. Namun demikian, pemakaian bahasa dalam kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan lain. Perbedaan ini memberi kesan sifat khusus kegiatan dan karya sastra. Jadi, dalam kegiatan bersastra, bahasa telah digunakan dengan cara tertentu (language used in a particular way), bisa saja menyimpang, sering pula bermakna majemuk. Kendati demikian, lazim disepakati bahwa melalui karyanya, seorang sastrawan niscaya juga bermaksud menyampaikan seperangkat pesan kepada penikmat karya sastra.
Secara ontologik, wujud karya sastra bisa bernaskah, bisa pula tidak bernaskah. Ada tiga bentuk utama karya sastra bernaskah, yaitu: prosa, drama, dan puisi (prose, play, and poetry). Hasil kegiatan bersastra lisan atau tak bernaskah bisa berupa cerita rakyat, mantra-mantra, lagu rakyat dan teater tradisional (folk-tales, charms, folk-song, traditional theater).
Semua karya sastra tersebut bisa dikaji di tingkat tanda, struktur, gaya, hingga maknanya. Gejala penggunaan tanda dan atau lambang dalam karya sastra dikaji melalui semiotika (semiotics). Gejala struktur dalam karya sastra dikaji melalui analisis alur ataupun analisis struktur (plot analysis and structural analysis). Gejala gaya bahasa dalam sastra dikaji melalui stilistika (stylistics). Gejala makna dalam karya sastra dikaji melalui hermeneutika dan analisis text (hermeneutics and textual analysis).
Karya sastra niscaya juga bertali-temali dengan gejala khas manusia yang lain. Gejala ini melahirkan bidang kajian lintas disiplin (inter-disciplinary study). Tali-temali karya sastra dengan masyarakat, misalnya, dipelajari oleh cabang kajian sosiologi sastra (sociology of literature), hubungan karya sastra dengan gejala jiwa dipelajari oleh psikologi sastra (psychology of literature), dan seterusnya.
Gejala sastra pada dasarnya juga bersifat universal, karena semua masyarakat memiliki karya sastra. Selain terdapat sejumlah perbedaan, di antara karya-karya sastra tersebut, juga terdapat ciri-ciri yang secara umum sama. Karena itu, kajian sastra (literary study) bisa mengambil bahan telaah dari karya sastra berbahasa apa pun. Tentu saja, calon sarjana pada program studi sastra asing harus menyajikan dan mempertanggung-jawabkan laporan proses dan hasil kajiannya dalam bahasa asing sesuai dengan program studi masing-masing. Walaupun demikian, akan lebih tinggi penghargaan yang diberikan manakala calon sarjana sastra asing tersebut mengkaji karya sastra yang ditulis oleh bangsa asing, dalam bahasa asing, dan dalam latar sosial-budaya asing.

TUJUAN PENELITIAN BAHASA DAN KAJIAN SASTRA
Apa tujuan penelitian bahasa dan kajian sastra? Secara aksiologik, kegiatan kajian bisa bertujuan: (1) menghasilkan pengetahuan teruji (to produce a verified knowledge), (2) memperoleh pemahaman mendalam (to generate a deep-understanding), atau (3) menawarkan penafsiran tandingan (to offer a counter-interpretation).
Pertama, kalau bertujuan menghasilkan pengetahuan teruji, paling tidak bisa dipilih dari empat jenis pengetahuan yang akan dihasilkan, yaitu: (1) pengetahuan eksploratori (exploratory knowledge), (2) pengetahuan deskriptif (descriptive knowledge), (3) pengetahuan eksplanatori (explanatory knowledge), atau (4) pengetahuan prediktif (predictive knowledge).
Selaras dengan tujuan untuk menghasilkan pengetahuan jenis tertentu, dikenal sejumlah jenis penelitian, yaitu: penelitian eksploratori (exploratory research), penelitian deskriptif (descriptive research), penelitian explanatori (explanatory research), dan penelitian prediktif (predictive research). Sepanjang tidak bermaksud mengenali hubungan sebab-akibat, maka penelitian perbandingan (contrastive or comparative research) dapat digolongkan ke dalam penelitian deskriptif. Termasuk di dalamnya adalah penelitian kesejarahan (historical study) bahasa, dan penelitian perkembangan bahasa individu, baik secara membujur (longitudinal-study) maupun secara silang-bagian (cross-sectional study).
Bertolak dari pertimbangan aksiologik tersebut, akan lebih tepat, pada kajian bertujuan menghasilkan pengetahuan, apabila dirumuskan dengan kalimat, misalnya: untuk menghasilkan pengetahuan eksploratori (to produce an exploratory knowledge on…), untuk menghasilkan pengetahuan deskriptif (to produce a descriptive knowledge on…), untuk menghasilkan pengetahuan eksplanatori (to produce an explanatory knowledge on…), untuk menghasilkan pengetahuan prediktif (to produce a predictive knowledge on…) tentang bahan yang dikaji.
Kedua, kalau bertujuan menghasilkan pemahaman mendalam bisa dipilih dari lima jenis pemahaman, yaitu: (1) pemahaman berdasar wicara atau naskah per se (textual understanding), (2) pemahaman penutur atau pengarang (intentional understanding), (3) pemahaman pendengar atau pembaca (receptive or experiential understanding), (4) pemahaman pengkaji (interpretive understanding), atau (5) pemahaman bersama (shared-understanding) antara penutur atau pengarang, pendengar atau pembaca, dan peneliti atau pengkaji.
Pemahaman berdasar wicara atau naskah adalah pengertian yang semata-mata didasarkan apa yang terucap atau apa yang tertulis. Wicara atau naskah dilepaskan sama sekali dari penutur atau pengarangnya. Pemahaman penutur atau pengarang adalah pengertian sebagaimana dimaksudkan oleh penutur wicara atau penulis naskah. Wicara atau naskah dianggap tidak bisa dipisahkan dari penutur atau penulisnya. Pemahaman pendengar atau pembaca adalah pengertian sebagaimana ditangkap atau dialami oleh pendengar wicara atau pembaca naskah. Makna sejati wicara atau naskah justru terletak pada pesan yang sampai kepada pendengar wicara atau pembaca naskah. Pemahaman pengkaji adalah pengertian yang disimpulkan oleh penafsir yang dilakukan secara sistematik-komprehensif. Pemahaman bersama adalah wilayah pertemuan (intersection) antara pengertian menurut wicara atau naskah, pengertian menurut penutur atau penulis, pengertian menurut pendengar atau pembaca, dan penafsiran yang diberikan oleh pengkaji.
Beracuan jenis-jenis pemahaman tersebut, kajian terhadap wicara dan naskah dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu: (1) kajian tafsir kitab (exegesis study) dan kajian tafsir naskah (textual-interpretive study), (2) kajian pragmatika intensional (intentional-pragmatics study), kajian naskah tunggal dan kajian antar naskah (single-textual and inter-textual study), (3) kajian hermeneutik-eksperiensial (experiential-hermeneutics study), dan kajian reseptif sastra (literary-receptive study), dan (4) kajian pragmatika intensional, hermeneutika eksperiensial dan tafsir naskah terpadu (combined textual, intentional and receptive study).
Bertolak dari pertimbangan aksiologik tersebut, akan lebih tepat apabila kajian jenis ini merumuskan tujuannya dengan kalimat, misalnya: untuk menghasilkan pemahaman tekstual (to generate a textual understanding on…), untuk menghasilkan pemahaman intensional (to generate an intentional understanding on…), untuk menghasilkan pemahaman eksperiensial (to generate an experiential understanding on…), untuk menghasilkan pemahaman interpretif (to generate an interpretive understanding on… ), atau untuk menghasilkan pemahaman bersama (to generate a shared-understanding on… ) tentang bahan yang dikaji.
Ketiga, kalau bertujuan menawarkan penafsiran tandingan, bisa dipilih berdasarkan perspektif filsafat atau ideologi tertentu. Semua itu dicapai dengan melakukan kritik terhadap naskah, wacana dan pola pemaknaan konvensional yang secara tersirat maupun tersurat mengandung pesan-pesan tertentu, khususnya yang bersifat menyesatkan, tidak adil, atau menindas kelompok tertentu.
Sesuai dengan tujuannya, kajian jenis ini bisa dikategorikan sebagai analisis wacana kritik (critical discourse analysis), kritik sastra (literary ciriticism), atau kajian refleksif (reflexive study). Apa pun jenis kajiannya, tentu saja terlebih dulu pengkaji harus menegaskan pendirian filsafat atau perspektif ideologiknya, misalnya, perspektif ideologik sosio-realis, liberal-feminis, socialist-feminist, pasca-modernis, dan sebagainya.
Bertolak dari pertimbangan aksiologik ini, maka akan lebih tepat apabila tujuan jenis kajian ini dirumuskan dengan kalimat, misalnya: untuk menawarkan penafsiran realis terhadap…. (to offer a realist interpretation on…. ), untuk menawarkan penafsiran romantisis terhadap…. (to offer a romanticist interpretation on…. ), untuk menawarkan penafsiran sosio-realis terhadap…. (to offer a socio-realist interpretation on…. ), dan seterusnya.

PARADIGMA DAN METODE PENELITIAN BAHASA DAN KAJIAN SASTRA
Bagaimana penelitian bahasa dan kajian sastra dilakukan? Sebelum menentukan pilihan pendekatan (approach), metode (method), teknik (technique) ataupun cara dan piranti (ways and instruments), peneliti menetapkan cara pandang yang digunakan terhadap bahan dan tujuan kajiannya. Cara pandang mendasar ini disebut paradigma kajian (paradigm of inquiry). Jadi, paradigma adalah pandangan mendasar mengenai pokok persoalan, tujuan, dan sifat dasar bahan telaah. Dalam suatu paradigma terkandung sejumlah pendekatan. Dalam suatu pendekatan terkandung sejumlah metode. Dalam suatu metode terkandung sejumlah teknik. Sedangkan dalam suatu teknik terkandung sejumlah cara dan piranti.
Selaras dengan tinjauan aksiologik, khasanah metodologi kajian mengenal, paling tidak, tiga paradigma kajian utama, yaitu: (1) paradigma positivistik (positivistic paradigm), (2) paradigma interpretif (interpretive paradigm), dan (3) paradigma refleksif (reflexive paradigm). Lazimnya, paradigma positivistik disepadankan dengan pendekatan kuantitatif (quantitative approach), paradigma interpretif disepadankan dengan pendekatan kualitatif (qualitative approach), sedangkan paradigma refleksif disepadankan dengan pendekatan kritik (critical approach).
Ada sejumlah butir pembeda antara ketiga jenis paradigma tersebut. Berikut adalah butir pembeda beserta penjelasan ringkasnya. Pertama, perbedaan cita-cita. Menurut paradigma positivistik, setiap kajian harus bercita-cita menemukan semacam hukum kenyataan yang memungkinkan manusia meramal dan mengendalikan kenyataan. Paradigma interpretif bercita-cita memahami dan menafsirkan makna suatu kenyataan. Sedangkan paradigma refleksif bercita-cita memberdayakan dan membebaskan manusia dari semacam belenggu pemahaman atau kesadaran palsu.
Kedua, sifat dasar kenyataan. Menurut paradigma positivistik, kenyataan niscaya bersifat stabil dan terpola, sehingga bisa ditemukan atau dirumuskan hukum-hukumnya. Paradigma interpretif berkeyakinan bahwa kenyataan bersifat cair dan mengalir, karena merupakan hasil kesepakatan dan interaksi manusia. Sedangkan menurut paradigma refleksif kenyataan niscaya penuh dengan pertentangan, dan dipengaruhi oleh struktur terselubung yang mendasarinya.
Ketiga, sifat dasar manusia. Menurut paradigma positivistik, manusia niscaya bersifat rasional dan memiliki kepentingan pribadi, serta dipengaruhi oleh kekuatan di luar dirinya. Paradigma interpretif beranggapan bahwa manusia berkemampuan membentuk makna dan niscaya memberi makna terhadap dunia mereka. Sedangkan menurut paradigma refleksif, manusia bersifat kreatif dan adaptif, tetapi cenderung terbelenggu dan tertindas oleh kesadaran palsu, sehingga kurang mampu menampilkan seluruh potensinya.
Keempat, peran akal sehat. Menurut paradigma positivistik, akal sehat (common sense) jelas berbeda dari dan tidak sahih dibanding pengetahuan keilmuan. Paradigma interpretif berpendapat bahwa akal sehat tidak lain merupakan seperangkat teori keseharian yang digunakan dan bermanfaat bagi orang-orang tertentu. Sedangkan menurut paradigma refleksif, akal sehat tidak lain merupakan keyakinan palsu yang menyelubungi kenyataan sebenarnya.
Kelima, wujud teori. Menurut paradigma positivistik, teori merupakan sistem logik, deduktif, dan menggambarkan saling keterkaitan antara sejumlah definisi, aksioma dan hukum. Paradigma interpretif mengartikan teori sebagai suatu paparan tentang bagaimana seperangkat sistem pemaknaan dihasilkan dan dipertahankan. Sedangkan menurut paradigma refleksif, teori merupakan suatu kritik yang membuka atau mengungkap kenyataan sebenarnya dan membantu manusia melihat cara memperbaiki keadaan.
Keenam, tolok ukur kebenaran penjelasan. Menurut paradigma positivistik, suatu penjelasan benar apabila secara logik terkait dengan hukum serta didasarkan pada kenyataan. Paradigma interpretif berpendapat bahwa suatu penjelasan benar apabila menyuarakan kembali atau memang dipandang benar oleh para pelaku sendiri. Sedangkan menurut paradigma refleksif, suatu penjelasan benar manakala bisa memberi manusia seperangkat piranti yang diperlukan untuk mengubah kenyataan.
Ketujuh, bukti kebenaran. Menurut paradigma positivistik, bukti kebenaran harus didasarkan pada pengamatan yang tepat sehingga orang lain bisa mengulanginya. Paradigma interpretif berpendapat bahwa bukti kebenaran harus terpancang atau terkait konteks interaksi manusia yang cair dan mengalir. Sedangkan menurut paradigma refleksif, bukti kebenaran ditakar berdasar kemampuannya dalam menyingkap struktur terselubung yang mendasari kepalsuan dan atau ketidak-adilan.
Terakhir, kedudukan nilai-nilai. Menurut paradigma positivistik, ilmu harus bebas nilai, dan nilai tidak memiliki tempat kecuali ketika seseorang memilih topik kajian. Paradigma interpretif berpendapat bahwa nilai-nilai merupakan bagian tak terpisahkan dari kenyataan manusia. Tidak ada nilai yang salah atau benar, yang ada hanya berbeda. Sedangkan menurut paradigma refleksif, semua ilmu harus mulai dengan pendirian menurut tata-nilai tertentu. Ada nilai-nilai benar, ada pula nilai-nilai yang salah.
Apapun paradigma yang dipilih oleh pengkaji, tampak jelas bahwa semua jenis kajian keilmuan harus: (1) dilakukan secara sistematik, (2) didasarkan pada data, (3) dilandasi wawasan teoretik, (4) disajikan secara eksplisit, (5) disemangati tindakan reflektif, dan (6) ditutup dengan akhiran terbuka (open-ended).
Langkah Kerja Paradigma Positivistik
Dalam kegiatan kajian, paradigma positivistik terjabar ke dalam langkah-langkah: (1) penentuan rumusan masalah (problem statement), yang meliputi kegiatan memilih masalah yang memenuhi syarat kelayakan dan kebermaknaan, (2) penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis, yang mencakup kegiatan penelaahan teori dan hasil kajian sebelumnya, (3) perumusan hipotesis, sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan, (4) pemilihan atau pengembangan rancangan kajian, (5) pengembangan piranti atau alat pengumpulan data, (6) pengumpulan atau pemerolehan data, (7) pengolahan data untuk menguji hipotesis, (8) penafsiran hasil kajian, dan (9) penarikan kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data, (10) penyatu-paduan hasil kajian ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya, serta saran bati kajian berikutnya.
Bila kajian tidak bermaksud menghasilkan pengetahuan eksplanatori, maka langkah-langkah yang terkait dengan pengajuan dan pengujian hipotesis tidak diperlukan. Dalam kajian yang tidak menguji hipotesis, kajian teori dan telaah hasil kajian terdahulu diperlukan untuk memperjelas dan menjabarkan konsep atau variabel yang diteliti, serta memberikan gambaran “sudah sejauh mana” kajian dalam topik tersebut telah dikaji oleh para peneliti lain.
Akhirnya, apa pun jenis bahan yang dikaji, kegiatan kajian berparadigma positivistik harus memenuhi kriteria: (1) kesahihan (validity), (2) keandalan (reliability), (3) objektivitas (objectivity), dan (4) kerampatan (generality). Kesahihan membuktikan bahwa apa yang dikumpulkan oleh peneliti memang sesuai dengan apa yang sesungguhnya hendak dikumpulkan. Keandalan membuktikan bahwa bila kapan dan oleh siapa pun data dikumpulkan, akan memberikan hasil yang kurang lebih sama. Objektivitas membuktikan tidak ada pengaruh pribadi peneliti terhadap hasil penelitian. Kerampatan membuktikan bahwa simpulan kajiannya bisa diberlakukan secara umum.
Langkah Kerja Paradigma Interpretif
Dalam kegiatan kajian, paradigma interpretif dijabarkan ke dalam langkah-langkah: (1) penentuan pumpun kajian (focus of study), yang mencakup kegiatan memilih masalah yang memenuhi syarat kelayakan dan kebermaknaan, (2) pengembangan kepekaan teoretik dengan menelaah bahan pustaka yang relevan dan hasil kajian sebelumnya, (3) penentuan kasus atau bahan telaah, yang meliputi kegiatan memilih dari mana dan dari siapa data diperoleh, (4) pengembangan protokol pemerolehan dan pengolahan data, yang mencakup kegiatan menetapkan piranti, langkah dan teknik pemerolehan dan pengolahan data yang digunakan, (5) pelaksanaan kegiatan pemerolehan data, yang terdiri atas kegiatan mengumpulkan data lapangan atau melakukan pembacaan naskah yang dikaji, (6) pengolahan data perolehan, yang meliputi kegiatan penyandian (coding), pengkategorian (categorizing), pembandingan (comparing), dan pembahasan (discussing), (7) negosiasi hasil kajian dengan subjek kajian, dan (8) perumusan simpulan kajian, yang meliputi kegiatan penafsiran dan penyatu-paduan (interpreting and integrating) temuan ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya, serta saran bagi kajian berikutnya.
Karena sifat dasar bahan yang dikaji serta tujuan yang ingin dicapai, bisa saja langkah-langkah tersebut diubah menurut dinamika lapangan. Pumpun kajian, misalnya, mungkin mengalami penajaman dan perumusan ulang setelah peneliti melakukan penjajakan lapangan. Tentu saja, penajaman ulang perlu dilakukan berdasarkan ketersediaan data, serta dimaksudkan untuk meningkatkan kebermaknaan kajian.
Terakhir, setiap kajian berparadigma interpretif harus memenuhi kriteria: (1) keterpercayaan (credibility), (2) kebergantungan (dependability), dan (3) kepastian (confirmability), dan (4) keteralihan (transferability). Keterpercayaan membuktikan bahwa data perolehan dan simpulan kajian benar-benar dapat dipercaya. Kebergantungan membuktikan bahwa temuan dan simpulan kajian benar-benar bersandar pada data mentah. Kepastian membuktikan bahwa kebenaran temuan dan simpulan kajian bisa dilacak berdasarkan data perolehan. Sedangkan keteralihan membuktikan bahwa temuan dan simpulan penelitian bisa diberlakukan pada kasus lain yang memiliki ciri-ciri sama dengan kasus yang dikaji.
Langkah Kerja Paradigma Refleksif
Dalam kegiatan kajian, paradigma refleksif terjabar ke dalam langkah-langkah: (1) penentuan topik kajian, yang mencakup kegiatan memilih dan merumuskan masalah yang bernilai bagi pembangkitan kesadaran manusia, (2) penetapan pendirian filsafat dan atau ideologik, yang meliputi kegiatan penelaahan pemikiran-pemikiran yang relevan, dan perumusan secara eksplisit pokok-pokok pikiran yang digunakan sebagai landasan pengajuan kritik, (3) pemilihan kasus atau bahan telaah, dengan menentukan dari mana dan dari siapa data diperoleh, (4) pengembangan strategi pemerolehan dan pengolahan data, yang terdiri atas kegiatan menetapkan piranti data, langkah dan teknik yang digunakan, (5) pelaksanaan kegiatan pemerolehan data, yang mencakup kegiatan mengumpulkan data atau melakukan pembacaan naskah yang dikaji, (6) pengolahan data perolehan, yang meliputi kegiatan penyandian (coding), pengkategorian (categorizing), pembandingan (contrasting), dan pembahasan (discussing), (7) perumusan simpulan kajian, yang dilakukan berdasarkan perenungan (reflexive thinking), dan (8) pengajuan rekomendasi baik untuk arah kajian lanjutan maupun agenda pemberdayaan (empowerment agenda) ke depan.
Seperti jenis kajian lain, kajian berparadigma refleksif juga dituntut untuk memenuhi kriteria keterpercayaan, kebergantungan, kepastian, dan keteralihan. Selain itu, karena cita-cita utamanya adalah membangkitkan kesadaran menuju perubahan, maka penafsiran tandingan (counter-interpretation) yang disajikan pun harus memenuhi kriteria kelayakan sebagai penafsiran tandingan. Ini mencakup kriteria relevansi (relevance), koherensi (coherence), kekritisan (criticalness), dan kebernalaran (reasonableness). Relevansi membuktikan bahwa baik topik maupun pendirian ideologik yang dipilih memiliki keterkaitan erat dengan tantangan atau masalah kemanusiaan. Koherensi membuktikan bahwa seluruh bangunan penafsiran yang ditawarkan tidak saling bertentangan. Kekritisan membuktikan bahwa penelaahan berhasil membongkar suatu wacana hingga ke akarnya. Kebernalaran membuktikan bahwa penafsiran tandingan yang diajukan memiliki landasan penalaran yang kokoh.

PENYAJIAN HASIL PENELITIAN BAHASA DAN SASTRA
Bila dicermati, sejumlah langkah kerja tersebut sebenarnya belum lengkap, sebab masih ada satu kegiatan lagi yang justru merupakan puncak dari kegiatan kajian. Puncak kegiatan yang dimaksud adalah menulis laporan kajian. Dengan menulis laporan, pengkaji bermaksud menginformasikan kepada khalayak, sehingga memberikan sumbangan bagi pengayaan khasanah pengetahuan keilmuan.
Sesuai dengan kaidah ketersuratan (explicitness), maka setiap laporan kajian sekurang-kurangnya harus bisa menjawab pertanyaan: (1) mengapa suatu masalah perlu diteliti, (2) apa masalah dan tujuan kajiannya, (3) bagaimana masalah tersebut didekati secara teoretik, (4) bagaimana kajian diselenggarakan, (5) apa saja hasil kajian dan analisisnya, (6) apa makna hasil dan temuan kajiannya, dan (7) apa simpulan dan implikasinya?
Lazimnya, butir persoalan pertama dan kedua, termasuk aspek-aspek terkaitnya, disajikan dalam bagian pendahuluan (introduction). Butir kedua disajikan dalam bagian tinjauan teoretik dan kajian terdahulu (theoretical framework and review of related studies). Butir ketiga disajikan dalam bagian proses kajian (research process) atau metode kajian (research method). Butir kelima disajikan dalam bagian paparan dan analisis data (data description and analysis) atau paparan hasil kajian (description of research findings). Butir keenam disajikan dalam bagian pembahasan (discussion) atau penafsiran (interpretation). Sedangkan butir ketujuh disajikan dalam bagian simpulan dan saran (conclusion and recommendation).
Walaupun ada sejumlah besar kesamaan inti laporan penelitian, tetap harus diperhatikan adanya sejumlah perbedaan, baik karena sifat dasar bahan telaah maupun karena rincian langkah kerjanya. Jadi, karena perbedaan sifat dasar, dan langkah-langkah kerja penelitian bahasa dan kajian sastra, maka bentuk pelaporannya pun cenderung berbeda.
Terakhir, kendati berada di luar bagian inti laporan penelitian, masih ada satu bagian yang tak terpisahkan dari laporan penelitian, yaitu: lampiran bahan mentah atau bukti kegiatan penelitian. Dikias sebagai laporan keuangan yang harus dilengkapi dengan berbagai bukti pengeluaran agar dapat dipertanggung-jawabkan dalam pemeriksaan keuangan (financial-auditing), maka laporan kajian juga harus dilengkapi dengan jejak atau berkas kegiatan agar lulus dalam ujian kelayakan (qualification-test) karya ilmiah, misalnya, untuk pemerolehan gelar akademik.

Situs Informasi Pendidikan Indonesia – Serba-Serbi Dunia Pendidikan : http://edu-articles.com/lama/
Versi Online : http://edu-articles.com/lama//?pilih=lihat&id=144

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: