Multilingualisme

Kawan saya Deen Aljunied menceritakan pengalamannya ketika mengajar di Sekolah Menengah Muhammadiyah Singapura. Suatu ketika seorang muridnya mengatakan kepadanya, “Ana hilang shoes”.

“Can you imagine, Bang?” katanya ketika menceritakan hal itu kepada saya, “three words from three languages in a single sentence.” Entah apa yang ada dalam benak kawan saya itu, tapi saya menangkap kegamangan dalam berkomunikasi, yang nantinya akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri dalam berekspresi.

Muridnya yang lain dinyatakan tidak lulus dalam Bahasa Inggris. Hebatnya lagi, pelajaran Bahasa Melayu pun tak lulus. “Then what language does he speak?” tanya Deen.

Saya pun terkadang tak tahu. Ketika membantu mengajar di salah satu madrasah mingguan di Singapura, saya sendiri seringkali mengalami kesulitan dalam menjelaskan pelajaran kepada murid-murid saya. Dalam Bahasa Melayu baku, mereka seringkali mengaku sulit menerima. Dijelaskan dalam Bahasa Inggris, pun sebagian merasa kalang kabut.

Ketika harus mengekspresikan diripun, terasa sekali adanya kegamangan dalam berbahasa. Jangankan English, Singlish pun bukan. Melayunya yang jelas tak ada dalam buku. Suatu ketika salah seorang murid saya berkata ttg cita-citanya, “I want to be a cooker”, dengan serius sekali, tanpa sadar bahwa sebagian orang meledak tertawa mendengar dia mau jadi periuk.

Dalam kasus anak yang bersekolah di Madrasah, faktornya menjadi lebih rumit karena mereka juga diwajibkan belajar Bahasa Arab. Hasilnya: ana hilang shoes.

Walaupun memang tidak bisa digeneralisir, fenomena itu bukanlah fenomena yang terbatas. Kalau diperhatikan, proporsinya sangatlah signifikan. Cobalah berbicara kepada anak muda Melayu. Perhatikan bahasa apa yang dia pakai. Kalau dia pakai bahasa melayu, berapa lama dia “tahan” terus menerus berbahasa melayu.

***

Tulisan ini bukan bertujuan untuk membicarakan orang Melayu, atau menjelek-jelekkan orang Singapura. Tidak perlu diperdebatkan pula apakah pengamatan saya tentang anak muda Melayu itu benar atau salah, atau seberapa parah sebenarnya. Pertanyaan yang perlu kita perhatikan bersama adalah: apakah lingkungan multilingual adalah rahmat, atau malah jadi kutukan?

Sebagai orang awam dalam bidang lingustik, saya cenderung mengatakan itu tentu saja rahmat. Tapi menurut Chester Christian, seorang ahli bahasa, tidak selalu begitu. “In an important sense, the education of those who speak two languages can never be “equal” to the education of monolinguals; it must be inferior or superior. Whether it will be the one or the other depends heavily on whether literacy is provided in only one or in both languages.”

Menurut beliau, bergantung pada kemampuan membaca. Kalau sang anak dibiasakan membaca dalam multi bahasa, maka itu akan menjadi modal besar bagi perkembangan pendidikan anak.

Tapi pengalaman masa kecil kita kan tidak seperti itu. Berapa banyak di antara kita yang bisa membaca atau menulis dalam bahasa daerah sejak kecil? Membaca yang sama baiknya dengan mendengar?

Belum lagi kalau kita memasukkan variabel baru: aksara yang berbeda. Berapa banyak sih anak-anak di Jawa yang fasih membaca Ha Na Ca Ra Ka sefasih membaca tulisan latin?

Berdasarkan pernyataan Christian di atas, tidaklah heran kalau perkembangan pendidikan kita jadi lambat, relatif terhadap mereka yang “strictly” monolingual. Coba bayangkan betapa tertekannya keponakan saya yang berlatar belakang Melayu Aceh, sehari-hari monolingual, tapi “dipaksa” belajar bahasa Sunda karena dia tinggal di Depok?

Mungkin sama dengan pengalam pribadi saya ketika dari Jawa pindah sekolah ke Makassar, dan harus berhadapan dengan aksara Ka Ga Nga Pa yang sampai sekarang saya tak paham.

***

Sebelum membaca, ada satu faktor penting yang menjadi dasar bagi kemampuan berbahasa sang anak: kebanggaan sebagai multilingual. Setidaknya kesadaran haruslah ditanamkan sejak dini, bahwa menjadi multilingual adalah suatu kelebihan.

Lebih penting lagi adalah kesadaran dan kebanggaan dalam berbahasa. Bagaimana si anak bisa percaya diri dalam berekspresi kalau dia sendiri malu menggunakan bahasanya sendiri?

Kalau kesadaran dan kebanggaan itu sudah tertanam, akan mudah bagi sang anak untuk mengekspresikan dirinya dalam bahasa(-bahasa) itu. Mudah pula bagi dia untuk mengembangkan kemampuannya berbahasa.

Tanpa adanya kesadaran itu, hasilnya sangat mengerikan. Si anak jadi susah berkomunikasi dengan orang lain. Self-esteem-nya hancur.

Kondisi yang paling parah adalah seperti yang digambarkan oleh Anderson berikut ini, ketika menggambarkan kaum imigran di Amerika:

“One widely held misconception is that there is room in a child’s head for only one language and one culture. As a result, many immigrant families give up their home language. They talk to their children in English, often broken English, and also make no effort to teach their children to read the mother tongue. It is small wonder, then, that the children feel ashamed rather than proud of thier home language, which falls into disuse. The resulting precarious hold on two languages has been called halvsprakighet (semilingualism) by a Swedish linguist who has observed the same phenomenon in northern Sweden on the frontier with Finland.”

Ketika bahasa inggris tidak lulus, bahasa melayu pun tidak lulus, kemungkinan besar murid kawan saya itu sudah mengidap fenomena semilingualism ini. Anderson mengungkapkan akibat lebih lanjut dari semilingualisme ini. Satu generasi para imigran itu ketika masuk sekolah harus diajari membaca dan menulis dalam bahasa Inggris. Tetapi ketika mereka memasuki sekolah menengah, mereka diberi pilihan untuk kembali belajar bahasa spanyol, yaitu, kembali belajar tata bahasa spanyol, menulis dan membaca seolah-olah bahasa ibu mereka itu adalah bahasa asing.

Sayangnya, keinginan untuk belajar bahasa tersebut sudah lama hilang. Bahkan mereka sudah pun malu untuk bertutur dalam bahasa ibu mereka.

The lost generation?

Semoga tidak. Masih banyak yang bisa kita lakukan sebelum hal seperti ini terjadi pada anak-anak kita, di lingkungan kita.

***

Pertama-tama, tentukan dulu apa bahasa ibu untuk anak-anak kita. Bahasa ibu bagi anak-anak kita bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipilih. Apalagi dalam keluarga campuran. Kami sendiri dengan latar belakan Aceh Sunda memilih bahasa melayu sebagai bahasa ibu anak-anak kami. [Saya terkenang Kang Iwan, nih, bekas Ketua Studi Teater Islam Karisma, di mana beliau sekarang ya? Beliaulah yang membuat saya sadar bahwa bahasa melayu baku bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari, tanpa harus kehilangan kesan “cool”].

Syaratnya hanya satu: orang tua harus fasih menggunakan bahasa yang dipilih itu. Anderson mencatat ada satu keluarga yang menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibu sang suami ataupun istri. Bahasa asing bagi mereka, diputuskan untuk menjadi bahasa ibu bagi anak-anak mereka. Ini bisa terjadi, karena syaratnya ya itu tadi, bahasa tersebut harus dikuasai oleh sang ayah dan ibu.

Kedua, kita dorong anak-anak kita untuk menggunakan dan menguasai bahasa lain yang digunakan di lingkungan kita. Ini tentu saja memerlukan partisipasi aktif orang tua. Jadikan ini sebagai sarana pembelajaran bagi seluruh keluarga.

Ketiga, kita tanamkan kepada anak-anak bahwa bahasa adalah pintu dalam memahami suatu budaya. Bagaimana orang-orang dari budaya yang berbeda mempunyai cara yang berbeda dalam mengekspresikan sesuatu, yang boleh jadi bukan terjemaham letterlijk dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Contoh sederhana misalnya “how are you going,
man?!”, tentunya tidak bisa diterjemahkan kata per kata.

Contoh lainnya adalah betapa kata yang sama, ketika diadopsi kepada budaya yang berbeda, bisa memiliki arti yang berbeda. Kata “dag” dalam bahasa belanda, diucapkan dengan agak panjang, bisa merupakan ungkapan ketika bertemu atau berpisah. Sedangkan kata yang sama di Indonesia, diucapkan sama tapi dituliskan berbeda, “daah” biasanya
hanya digunakan ketika berpisah.

Keempat, tentu saja jangan dilupakan, jangan lupa diajarkan membaca dalam semua bahasa yang digunakan oleh anak. Masalah pelajaran membaca dalam lingkungan multilingual insya Allah akan saya tuliskan dalam artikel yang lain.

Dengan kekayaan bahasa dan budaya yang kita paparkan kepada anak-anak kita, insya Allah, mereka akan punya modal awal lebih besar dalam perkembangan pendidikannya di masa datang. Dalam kondisi seperti itu, kondisi multilingual yang sehari-hari sudah kita alami akan merupakan rahmat dan berkah bagi kita.

Eindhoven, 05.08.2002

Ana hilang shoes : multilingualisme pada anak

Kawan saya Deen Aljunied menceritakan pengalamannya ketika mengajar di Sekolah Menengah Muhammadiyah Singapura. Suatu ketika seorang muridnya mengatakan kepadanya, “Ana hilang shoes”.

“Can you imagine, Bang?” katanya ketika menceritakan hal itu kepada saya, “three words from three languages in a single sentence.” Entah apa yang ada dalam benak kawan saya itu, tapi saya menangkap kegamangan dalam berkomunikasi, yang nantinya akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri dalam berekspresi.

Muridnya yang lain dinyatakan tidak lulus dalam Bahasa Inggris. Hebatnya lagi, pelajaran Bahasa Melayu pun tak lulus. “Then what language does he speak?” tanya Deen.

Saya pun terkadang tak tahu. Ketika membantu mengajar di salah satu madrasah mingguan di Singapura, saya sendiri seringkali mengalami kesulitan dalam menjelaskan pelajaran kepada murid-murid saya. Dalam Bahasa Melayu baku, mereka seringkali mengaku sulit menerima. Dijelaskan dalam Bahasa Inggris, pun sebagian merasa kalang kabut.

Ketika harus mengekspresikan diripun, terasa sekali adanya kegamangan dalam berbahasa. Jangankan English, Singlish pun bukan. Melayunya yang jelas tak ada dalam buku. Suatu ketika salah seorang murid saya berkata ttg cita-citanya, “I want to be a cooker”, dengan serius sekali, tanpa sadar bahwa sebagian orang meledak tertawa mendengar dia mau jadi periuk.

Dalam kasus anak yang bersekolah di Madrasah, faktornya menjadi lebih rumit karena mereka juga diwajibkan belajar Bahasa Arab. Hasilnya: ana hilang shoes.

Walaupun memang tidak bisa digeneralisir, fenomena itu bukanlah fenomena yang terbatas. Kalau diperhatikan, proporsinya sangatlah signifikan. Cobalah berbicara kepada anak muda Melayu. Perhatikan bahasa apa yang dia pakai. Kalau dia pakai bahasa melayu, berapa lama dia “tahan” terus menerus berbahasa melayu.

***

Tulisan ini bukan bertujuan untuk membicarakan orang Melayu, atau menjelek-jelekkan orang Singapura. Tidak perlu diperdebatkan pula apakah pengamatan saya tentang anak muda Melayu itu benar atau salah, atau seberapa parah sebenarnya. Pertanyaan yang perlu kita perhatikan bersama adalah: apakah lingkungan multilingual adalah rahmat, atau malah jadi kutukan?

Sebagai orang awam dalam bidang lingustik, saya cenderung mengatakan itu tentu saja rahmat. Tapi menurut Chester Christian, seorang ahli bahasa, tidak selalu begitu. “In an important sense, the education of those who speak two languages can never be “equal” to the education of monolinguals; it must be inferior or superior. Whether it will be the one or the other depends heavily on whether literacy is provided in only one or in both languages.”

Menurut beliau, bergantung pada kemampuan membaca. Kalau sang anak dibiasakan membaca dalam multi bahasa, maka itu akan menjadi modal besar bagi perkembangan pendidikan anak.

Tapi pengalaman masa kecil kita kan tidak seperti itu. Berapa banyak di antara kita yang bisa membaca atau menulis dalam bahasa daerah sejak kecil? Membaca yang sama baiknya dengan mendengar?

Belum lagi kalau kita memasukkan variabel baru: aksara yang berbeda. Berapa banyak sih anak-anak di Jawa yang fasih membaca Ha Na Ca Ra Ka sefasih membaca tulisan latin?

Berdasarkan pernyataan Christian di atas, tidaklah heran kalau perkembangan pendidikan kita jadi lambat, relatif terhadap mereka yang “strictly” monolingual. Coba bayangkan betapa tertekannya keponakan saya yang berlatar belakang Melayu Aceh, sehari-hari monolingual, tapi “dipaksa” belajar bahasa Sunda karena dia tinggal di Depok?

Mungkin sama dengan pengalam pribadi saya ketika dari Jawa pindah sekolah ke Makassar, dan harus berhadapan dengan aksara Ka Ga Nga Pa yang sampai sekarang saya tak paham.

***

Sebelum membaca, ada satu faktor penting yang menjadi dasar bagi kemampuan berbahasa sang anak: kebanggaan sebagai multilingual. Setidaknya kesadaran haruslah ditanamkan sejak dini, bahwa menjadi multilingual adalah suatu kelebihan.

Lebih penting lagi adalah kesadaran dan kebanggaan dalam berbahasa. Bagaimana si anak bisa percaya diri dalam berekspresi kalau dia sendiri malu menggunakan bahasanya sendiri?

Kalau kesadaran dan kebanggaan itu sudah tertanam, akan mudah bagi sang anak untuk mengekspresikan dirinya dalam bahasa(-bahasa) itu. Mudah pula bagi dia untuk mengembangkan kemampuannya berbahasa.

Tanpa adanya kesadaran itu, hasilnya sangat mengerikan. Si anak jadi susah berkomunikasi dengan orang lain. Self-esteem-nya hancur.

Kondisi yang paling parah adalah seperti yang digambarkan oleh Anderson berikut ini, ketika menggambarkan kaum imigran di Amerika:

“One widely held misconception is that there is room in a child’s head for only one language and one culture. As a result, many immigrant families give up their home language. They talk to their children in English, often broken English, and also make no effort to teach their children to read the mother tongue. It is small wonder, then, that the children feel ashamed rather than proud of thier home language, which falls into disuse. The resulting precarious hold on two languages has been called halvsprakighet (semilingualism) by a Swedish linguist who has observed the same phenomenon in northern Sweden on the frontier with Finland.”

Ketika bahasa inggris tidak lulus, bahasa melayu pun tidak lulus, kemungkinan besar murid kawan saya itu sudah mengidap fenomena semilingualism ini. Anderson mengungkapkan akibat lebih lanjut dari semilingualisme ini. Satu generasi para imigran itu ketika masuk sekolah harus diajari membaca dan menulis dalam bahasa Inggris. Tetapi ketika mereka memasuki sekolah menengah, mereka diberi pilihan untuk kembali belajar bahasa spanyol, yaitu, kembali belajar tata bahasa spanyol, menulis dan membaca seolah-olah bahasa ibu mereka itu adalah bahasa asing.

Sayangnya, keinginan untuk belajar bahasa tersebut sudah lama hilang. Bahkan mereka sudah pun malu untuk bertutur dalam bahasa ibu mereka.

The lost generation?

Semoga tidak. Masih banyak yang bisa kita lakukan sebelum hal seperti ini terjadi pada anak-anak kita, di lingkungan kita.

***

Pertama-tama, tentukan dulu apa bahasa ibu untuk anak-anak kita. Bahasa ibu bagi anak-anak kita bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipilih. Apalagi dalam keluarga campuran. Kami sendiri dengan latar belakan Aceh Sunda memilih bahasa melayu sebagai bahasa ibu anak-anak kami. [Saya terkenang Kang Iwan, nih, bekas Ketua Studi Teater Islam Karisma, di mana beliau sekarang ya? Beliaulah yang membuat saya sadar bahwa bahasa melayu baku bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari, tanpa harus kehilangan kesan “cool”].

Syaratnya hanya satu: orang tua harus fasih menggunakan bahasa yang dipilih itu. Anderson mencatat ada satu keluarga yang menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibu sang suami ataupun istri. Bahasa asing bagi mereka, diputuskan untuk menjadi bahasa ibu bagi anak-anak mereka. Ini bisa terjadi, karena syaratnya ya itu tadi, bahasa tersebut harus dikuasai oleh sang ayah dan ibu.

Kedua, kita dorong anak-anak kita untuk menggunakan dan menguasai bahasa lain yang digunakan di lingkungan kita. Ini tentu saja memerlukan partisipasi aktif orang tua. Jadikan ini sebagai sarana pembelajaran bagi seluruh keluarga.

Ketiga, kita tanamkan kepada anak-anak bahwa bahasa adalah pintu dalam memahami suatu budaya. Bagaimana orang-orang dari budaya yang berbeda mempunyai cara yang berbeda dalam mengekspresikan sesuatu, yang boleh jadi bukan terjemaham letterlijk dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Contoh sederhana misalnya “how are you going,
man?!”, tentunya tidak bisa diterjemahkan kata per kata.

Contoh lainnya adalah betapa kata yang sama, ketika diadopsi kepada budaya yang berbeda, bisa memiliki arti yang berbeda. Kata “dag” dalam bahasa belanda, diucapkan dengan agak panjang, bisa merupakan ungkapan ketika bertemu atau berpisah. Sedangkan kata yang sama di Indonesia, diucapkan sama tapi dituliskan berbeda, “daah” biasanya
hanya digunakan ketika berpisah.

Keempat, tentu saja jangan dilupakan, jangan lupa diajarkan membaca dalam semua bahasa yang digunakan oleh anak. Masalah pelajaran membaca dalam lingkungan multilingual insya Allah akan saya tuliskan dalam artikel yang lain.

Dengan kekayaan bahasa dan budaya yang kita paparkan kepada anak-anak kita, insya Allah, mereka akan punya modal awal lebih besar dalam perkembangan pendidikannya di masa datang. Dalam kondisi seperti itu, kondisi multilingual yang sehari-hari sudah kita alami akan merupakan rahmat dan berkah bagi kita.

Eindhoven, 05.08.2002

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: