Naturalisme

Supernaturalisme dan Naturalisme serta Idealisme dan Materialisme

Istilah-istilah naturalis, materialis, dan idealis, adalah istilah-istilah yang digunakan di kalangan ilmu filsafat sebagai suatu paham, pandangan, atau falsafah hidup yang akhirnya di kalangan ilmu sastra merupakan aliran yang dianut seseorang dalam menghasilkan karyanya. Aliran dalam karya sastra biasanya terlihat pada periode tertentu. Setiap periode sastra biasanya ditandai oleh aliran yang dianut para pengarang pada masa itu. Bahkan unsur aliran yang menjadi mode pada periode tertentu merupakan ciri khas karya sastra yang berada pada masa tersebut.
Masalah aliran sebagai pokok pandangan hidup, berangkat dari paham yang dikemukakan para filosof dalam menghadapi kehidupan alam semesta ini. Tafsiran yang mula-mula diberikan oleh manusia terhadap alam ini ada dua macam, yaitu supernatural dan natural. Penganut paham-paham tersebut dinamakan supernaturalisme dan naturalisme. Paham supernatural mengemukakan bahwa di dalam alam ini terdapat wujud-wujud yang bersifat gaib yang bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa daripada alam nyata yang mengatur kehidupan alam sehingga menjadi alam yang ditempati sekarang ini. Kepercayaan animisme dan dinamisme merupakan kepercayaan yang paling tua usianya dalam sejarah perkembangan kebudayaan manusia yang berpangkal pada paham supernaturalisme dan masih dianut oleh beberapa masyarakat di muka bumi ini.
Sebagai lawan dari paham supernatural adalah naturalisme yang menolak paham supernatural. Paham ini mengemukakan bahwa gejala-gejala alam yang terlihat ini terjadi karena kekuatan yang terdapat di dalam alam itu sendiri yang dapat dipelajari dan dengan demikian dapat diketahui. Paham ini juga mengemukakan bahwa dunia sama sekali bergantung pada materi, kebendaan, dan gerak. Kenyataan pokok dalam kehidupan dan akhir kehidupan adalah materi, atau kebendaan.
Pada bidang seni terdapat pula kedua aliran besar tersebut dengan karakteristik yang berbeda, yaitu aliran idealisme dan materialisme. Idealisme adalah aliran yang menilai tinggi angan-angan (idea) dan cita-cita (ideal) sebagai hasil perasaan daripada dunia nyata. Aliran ini pada awalnya dikemukakan oleh Socrates (469-399 sM.) yang dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Plato (427-347 sM.). Dalam bidang seni rupa pelukis yang beraliran idealisme cenderung lebih suka mewujudkan benda-benda sebaik mungkin daripada apa adanya. Dalam ilmu kesusilaan idealisme mengandung pandangan hidup di mana rohani mewujudkan kekuatan yang berkuasa dan menjelaskan bahwa semua benda di dalam alam dan pengalaman adalah perwujudan pikiran, pandangan yang nyata.
Lawan aliran idealisme adalah aliran materialisme. Aliran ini mengemukakan bahwa dunia sama sekali bergantung pada materi dan gerak. Ajaran ini sudah dikemukakan oleh Democrates pada abad ke-4 sM, yang mengatakan bahwa semua kejadian yang gaib, dan ajaib di alam ini digerakkan oleh atom dan keluasan geraknya. Tidak ada kekuatan gaib yang bersifat supernatural yang mengatur kehidupan ini.
Di dalam bidang seni, seni rupa dan seni pahat, aliran materialisme atau naturalisme ini disebut juga dengan aliran realisme, yaitu bentuk lukisan yang diciptakan menurut keadaan alam yang sebenarnya yang berdasarkan atas faktor-faktor perspektif, proporsi, warna, sinar, dan bayangan. Sedangkan di dalam seni sastra aliran materialisme atau naturalisme ini merupakan kelanjutan dari aliran realisme.

Idealisme dan Aliran Lainnya dalam Karya Sastra

Aliran-aliran yang terdapat di dalam karya sastra tidak dapat di- “cap”-kan sepenuhnya kepada seorang pengarang. Sutan Takdir Alisyahbana, misalnya dalam karyanya ia idealis tetapi juga romantis, sehingga ia juga dikenal sebagai seorang yang beraliran romantis-idealis.
Dalam aliran idealisme terdapat aliran romantisme, simbolisme, ekspresionisme, mistisisme, dan surealisme. Sedangkan yang termasuk ke dalam aliran materialisme ialah aliran realisme, naturalisme, impresionisme, serta determinisme. Aliran lain yang berpandangan ke arah manusia sebagai pribadi yang unik dikenal sebagai aliran eksistensialisme.
Aliran idealisme adalah aliran di dalam filsafat yang mengemukakan bahwa dunia ide,dunia cita-cita, dunia harapan adalah dunia utama yang dituju dalam pemikiran manusia. Dalam dunia sastra, idealisme berarti aliran yang menggambarkan dunia yang dicita-citakan, dunia yang diangan-angankan, dan dunia harapan yang masih abstrak yang jauh jangka waktu pencapaiannya. Di dalamnya digambarkan keindahan hidup yang ideal, yang menyenangkan, penuh kedamaian, kebahagiaan, ketenteraman, adil makmur dan segala sesuatu yang menggambarkan dunia harapan yang sesuai dengan tuntutan batin yang menyenangkan yang tidak lagi adanya keganasan, kecemasan, kemiskinan, penindasan, ketidakadilan, keterbelakangan, yang menyusahkan dan menyengsarakan batin. Sastrawan Indonesia yang dikenal sebagai seorang yang idealis baik di dalam novel maupun puisinya ialah Sutan Takdir Alisyahbana.
Aliran romantisme ini menekankan kepada ungkapan perasaan sebagai dasar perwujudan pemikiran pengarang sehingga pembaca tersentuh emosinya setelah membaca ungkapan perasaannya. Untuk mewujudkan pemikirannya, pengarang menggunakan bentuk pengungkapan yang seindah-indahnya dan sesempurna-sempurnanya. Aliran romantisme biasanya dikaitkan dengan masalah cinta karena masalah cinta memang membangkitkan emosi. Tetapi anggapan demikian tidaklah selamanya benar.
Simbolisme adalah aliran kesusastraan yang penyajian tokoh-tokohnya bukan manusia melainkan binatang, atau benda-benda lainnya seperti tumbuh-tumbuhan yang disimbolkan sebagai perilaku manusia. Binatang-binatang atau tumbuh-tumbuhan diperlakukan sebagai manusia yang dapat bertindak, berbicara, berkomunikasi, berpikir, berpendapat sebagaimana halnya manusia. Kehadiran karya sastra yang beraliran simbolisme ini biasanya ditentukan oleh situasi yang tidak mendukung pencerita atau pengarang berbicara. Pada masyarakat lama, misalnya di mana kebebasan berbicara dibatasi oleh aturan etika moral yang mengikat kebersamaan dalam kelompok masyarakat, pandangan dan pendapat mereka disalurkan melalui bentuk-bentuk peribahasa atau fabel.
Aliran ekspresionisme adalah aliran dalam karya seni, yang mementingkan curahan batin atau curahan jiwa dan tidak mementingkan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang nyata. Ekspresi batin yang keras dan meledak-ledak. biasa dianggap sebagai pernyataan atau sikap pengarang. Aliran ini mula-mula berkembang di Jerman sebelum Perang Dunia I, Pengarang Indonesia yang dianggap ekspresionis ialah Chairil Anwar.
Mistisisme adalah aliran dalam kesusastraan yang mengacu pada pemikiran mistik, yaitu pemikiran yang berdasarkan kepercayaan kepada Zat Tuhan Yang Maha Esa, yang meliputi segala hal di alam ini. Karya sastra yang beraliran mistisisme ini memperlihatkan karya yang mencari penyatuan diri dengan Zat Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Tuhan Semesta Alam. Pada masa kesusastraan Klasik dikenal Raja Ali Haji dengan Gurindam Dua Belas-nya yang sarat dengan ajaran mistik. Pada karya-karya sastra sekarang ini yang memperlihatkan aliran mistik, misalnya Abdul Hadi W.M., Danarto, dan Rifai Ali.
Surealisme adalah aliran di dalam kesusastraan yang banyak melukiskan kehidupan dan pembicaraan alam bawah sadar, alam mimpi. Segala peristiwa yang dilukiskan terjadi dalam waktu yang bersamaan dan serentak. Aliran ini dipengaruhi oleh Sigmund Freud (1856-1939) ahli psikiatri Austria yang dikenal dengan psikoanalisisnya terhadap gejala histeria yang dialami manusia. Dia berpendapat bahwa gejala histeria traumatik yang dialami seseorang dapat disembuhkan melalui analisis kejiwaan yang dilakukan dengan kondisi kesadaran pasien, bukan dengan cara menghipnotis sebagaimana yang dilakukan oleh rekannya Breuer. Menurut Freud emosi yang terpendam itu bersifat seksual. Perbuatan manusia digerakkan oleh libido, nafsu seksual yang asli. Dengan menggali bawah sadar manusia, ia akan dapat dikembalikan kepada kondisinya semula.

Realisme dan Aliran Lainnya dalam Karya Sastra

Realisme adalah aliran dalam karya sastra yang berusaha melukiskan suatu objek seperti apa adanya Pengarang berperan secara objektif. Dalam keobjektifanlah ia melihat keindahan objek yang dibidiknya dan dihasilkan di dalam karya sastra. Pengarang tidak memasukkan ide, pikiran, tanggapan dalam menghadapi objeknya. Gustaf Flaubert seorang pengarang realisme Perancis mengemukakan bahwa objektivitas pengarang sangat diperlukan dalam menghasilkan karyanya. Objek yang dibidik pengarang sebagai objek ceritanya tidak hanya manusia dengan beragam karakternya, ia juga dapat berupa binatang, alam, tumbuh-tumbuhan, dan objek lainnya yang berkesan bagi pengarang sebagai sumber inspirasinya.
Impresionisme berarti aliran dalam bidang seni sastra, seni lukis, seni musik yang lebih mengutamakan kesan tentang suatu objek yang diamati dari pada wujud objek itu sendiri. Di bidang seni lukis, aliran ini bermula di Perancis pada akhir abad ke-l9.. Di dalam seni sastra aliran impresionisme tidak berbeda dengan aliran realisme, hanya pada impresionisme yang dipentingkan adalah kesan yang diperoleh tentang objek yang diamati penulis. Selanjutnya, kesan awal yang diperoleh pengarang diolah dan dideskripsikan menjadi visi pengarang yang sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.
Karya sastra yang beraliran impresionisme pada umumnya terdapat pada masa angkatan Pujangga Baru, masa Jepang, yang pada masa itu kebebasan berekspresi tentang cita-cita, harapan, ide belum dapat disalurkan secara terbuka. Semua idealisme disalurkan melalui bentuk yang halus yang maknanya terselubung.
Pengarang Indonesia yang karyanya bersifat impresif antara lain ialah Sanusi Pane, dengan puisi-puisinya Candi, Teratai, Sungai, Abdul Hadi W.M., dan W.S Rendra.
Aliran naturalisme adalah aliran yang mengemukakan bahwa fenomena alam yang nyata ini terjadi karena kekuatan alam itu sendiri yang berinteraksi sesamanya. Kebenaran penciptaan alam ini bersumber pada kekuatan alam (natura). Di dalam seni lukis aliran naturalisme ini dimaksudkan sebagai karya seni yang menampilkan keadaan alam apa adanya, berdasarkan faktor perspektif, proporsi sinar, dan bayangan. Di dalam karya sastra aliran naturalisme adalah aliran yang juga menampilkan peristiwa sebagaimana adanya. Karena itu ia tidak jauh berbeda dengan realisme. Hanya saja, kalau realisme menampilkan objek apa adanya yang mengarah kepada kesan positif, kesan yang menyenangkan, sedangkan naturalisme sebaliknya.
Dalam kesusastraan Barat, yang dikenal sebagai tokoh naturalis ialah Emil Zola (1840-1902) pengarang Perancis. Dalam karyanya gambaran kemesuman, pornografi digambarkan apa adanya. Aliran seni untuk seni (l’art pour art’) melatarbelakangi pandangannya dalam berkarya. Di Indonesia pengarang yang karyanya cenderung beraliran naturalisme adalah Armijn Pane dengan novel Belenggu-nya, Motinggo Busye pada awal-awal novelnya tahun 60-an dan 70-an bahkan memperlihatkan novel yang dikategorikan pornografis. Novel Saman (l998) karya Ayu Utami juga memperlihatkan kecenderungan ke arah naturalis.
Determinisme ialah aliran dalam kesusastraan yang merupakan cabang dari naturalisme yang menekankan kepada takdir sebagai bagian dari kehidupan manusia yang ditentukan oleh unsur biologis dan lingkungan. Takdir yang dialami manusia bukanlah takdir yang ditentukan oleh yang Mahakuasa melainkan takdir yang datang menimpa nasib seseorang karena faktor keturunan dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya.

Eksistensialisme dalam Karya Sastra

Di samping aliran-aliran yang telah dibicarakan sebelumnya, terdapat pula aliran kesusastraan yang berkembang akhir-akhir ini, yaitu aliran eksistensialisme. Aliran ini adalah aliran di dalam filsafat yang muncul dari rasa ketidakpuasan terhadap dikotomi aliran idealisme dan aliran materialisme dalam memaknai kehidupan ini. Aliran idealisme yang hanya mementingkan ide sebagai sumber kebenaran kehidupan dan materialisme yang menganggap materi sebagai sumber kebenaran kehidupan, mengabaikan manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai keberadaan sendiri yang tidak sama dengan makhluk lainnya. Idealisme melihat manusia hanya sebagai subjek, hanya sebagai kesadaran, sedangkan materialisme melihat manusia hanya sebagai objek. Materialisme lupa bahwa sesuatu di dunia ini disebut objek karena adanya subjek. Eksistensialisme ingin mencari jalan ke luar dari kedua pemikiran yang dianggap ekstrem itu yang berpikiran bahwa manusia di samping ia sebagai subjek ia pun juga sekaligus sebagai objek dalam kehidupan ini (Ahmad Tafsir,1994 hal 193).
Kata eksistensi berasal dari kata exist, bahasa Latin yang diturunkan dari kata ex yang berarti ke luar dan sistere berarti berdiri. Jadi eksistensi berarti berdiri dengan ke luar dari diri sendiri. Pikiran seperti ini dalam bahasa Jerman dikenal dengan dasei. Dengan ia ke luar dari dirinya, manusia menyadari keberadaan dirinya, ia berada sebagai aku atau sebagai pribadi yang menghadapi dunia dan mengerti apa yang dihadapinya dan bagaimana menghadapinya. Dalam menyadari keberadaannya, manusia selalu memperbaiki, atau membangun dirinya, ia tidak pernah selesai dalam membangun dirinya.
Filsuf yang pertama mengemukakan eksistensi manusia ialah Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855) dari Denmark, kemudian Jean Paul Satre (1905-1980) filsuf Perancis yang menyebabkan eksistensialisme menjadi terkenal. Menurut Satre karena manusia menyadari bahwa dia ada, yang berarti manusia menyadari pula bahwa ia menghadapi masa depan. Karenanya manusia sebagai individu mempunyai tanggung jawab terhadap masa depan dirinya sendiri dan tanggung jawab terhadap manusia secara keseluruhan. Akibatnya, orang eksistensialisme berpendapat bahwa salah satu watak keberadaan manusia adalah rasa takut yang datang dari kesadaran tentang wujudnya di dunia ini. Sebagai manusia yang mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan terhadap manusia lainnya di dunia ini, mereka bebas menentukan, bebas memutuskan dan sendiri pula memikul akibat keputusannya tanpa ada orang lain atau sesuatu yang bersamanya. Dari konsepnya ini timbul pemikiran bahwa nasib manusia ditentukan oleh dirinya sendiri dengan tidak bantuan sedikit pun dari yang lain. Akibatnya, manusia selalu hidup dalam rasa sunyi, cemas, putus asa, dan takut serta selalu dipenuhi bayangan harapan yang tak pernah terwujud dan berakhir.
Karena dasar eksistensialisme ini adalah ide tentang keberadaan manusia, maka aliran ini tidak mementingkan gaya bahasa yang khas yang mencerminkan aliran tertentu, melainkan menekankan kepada pandangan pengarang terhadap kehidupan dan keberadaan manusia. Dalam perkembangannya, aliran eksistensialisme berkembang menjadi dua jalur, yaitu eksistensialisme yang ateistis dan eksistensialisme yang theistis. Eksistensialisme yang ateistis dikembangkan oleh Jean Paul Sartre dan eksistensialisme yang theistis dikembangkan oleh Gabriel Marcel. Dia menyatakan dengan tegas bahwa semua eksistensi adalah kenyataan karena adanya Tuhan. Manusia tidak mungkin ada kalau tidak ada Tuhan yang menciptakannya, dan konkretisasi alam dunia ini merupakan bukti nyata dari keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, keberadaan manusia di alam ini harus kembali ke jalan Tuhan dan mewujudkan pujian kepada Tuhan.
Di dalam kesusastraan Indonesia, eksistensialisme ini terlihat pada novel-novel karya Iwan Simatupang, seperti Ziarah, Merahnya Merah, dan Kering, Dalam karyanya, Iwan Simatupang memperlihatkan manusia sebagai tamu di dunia ini. Sebagai tamu, ia datang, dan pergi lagi. Manusia gelisah, tidak punya rumah, selalu berada dalam perjalanan dan berlangitkan relativisme-relativisme.

DIarsipkan di bawah: Bahasa

« Teori-Teori Sastra

Posted on Desember 8, 2009 by Pakde sofa

Writing


Every sentence must have a subject and a verb and must express a complete thought. A word group that lacks a subject or a verb and that does not express a complete thought is a fragment. There are four most common types of fragments that people write. They are (1) dependent-word fragments, (2) -ing and to fragments, (3) added-detail fragments, and (4) missing-subject fragment

Once you understand the specific kind or kinds of fragments that you might write, you should be able to eliminate them from your writing.

Run-On, Shift and Mixed Constructions

A run-on is two complete thoughts that are run together with no adequate sign given to mark the break between them. Two types of run-ons are fused sentences and comma splices. Some run-on sentences have no punctuation at all to mark the break between the thoughts. Such run-ons are known as fused sentences. In other run-on sentences, known as comma splices, a comma is used to connect or splice together two complete thoughts.

Four common methods of correcting a run-on sentence are:
1. Use a period and a capital letter to separate the two complete thoughts.
2. Use a comma plus a joining word (and, but, for, or, nor, so, yet) to connect the two complete thoughts.
3. Use a semicolon to connect the two complete thoughts.
4. Use subordination.

Readers expect a logical consistency in the person and a number of subjects, in the forms of verbs, and in the way quotations are reproduced within a sentence. A change in any of these elements is called a shift. Often a writer’s meaning does require a shift, such as a change of subject from third person to first person or from singular to plural.

Mixed construction is a sentence that begins one way and then takes a sudden, unexpected turn, so that readers are unsure what it means. One kind of mixed construction uses a grammatically unacceptable element as a subject or predicate. Another kind of mixed construction links subject and verb in an illogical way.

Modifiers

Word order problems in writing often involve modifiers adjectives, adverbs, and phrases or clauses used as adjectives and adverbs. If a modifier’s placement within a sentence does not make clear what it modifies, readers may misinterpret the sentence. Modifiers that seem to modify the wrong thing are called misplaced. Those that are ambiguous about what they modify are called squinting. Those that have no element to modify sensibly are called dangling. Finally, modifiers that come between sentence elements that should not be separated are called disruptive.

Pronoun Reference

Pronouns serve as stand-ins for nouns, noun phrases, or other pronouns. Unless reader can understand what word a pronoun such `she’ refers to, they may find themselves asking, “She who?” Pronouns are words that take place of nouns (persons, places, or things). In fact, the word pronoun means for a noun. Pronouns are shortcuts that keep you from unnecessarily repeating words in writing.

The word for which a pronoun substitutes is called its antecedent (from Latin roots meaning `to go before’). Although antecedents normally appear before pronouns that refer to them, sometimes they follow the pronouns. In either case, there must be no conflicting choices to confuse readers.

To clarify pronoun reference, edit your sentences using the following strategies:
Make sure a pronoun clearly refers to a single antecedent.
Place a pronoun close to its antecedent.
Provide an explicit antecedent.
Use it, they, and you appropriately.
Avoid overusing it.
Choose who, which, or that according to the antecedent.
Eliminate unneeded pronouns.

Coordination, Subordination, and Parallelism
An effective sentence means a clear, coherent sentence that produces precisely the reader’s response you want. An effective sentence consistently clarifies the purpose of writing. In order to construct effective sentences, basically, we should know kinds of sentences, coordination, subordination, and parallelism.

A compound sentence is two or more independent clauses joined together; each clause is of equal importance and could stand alone. It is the coordination. A complex sentence contains one independent clause and one (or more) dependent clause. It is the subordination. In order to make the ideas in your sentences clear and understandable, words, phrases, and clauses should have parallelism-that is, the sentence structures should be grammatically balanced. Parallelism is a paragraph means using the same grammatical structures in several sentences to establish coherence.

Conciseness Versus Wordiness

Almost all writing suffers from wordiness – the tendency to use more words than necessary. Wordiness is frequently the result of using one or more of the following: 1) deadword construction, 2) redundancies, and 3) pretentiousness. If you can avoid wordiness, you might have conciseness. You have also to know the sentence problems and revise them. There are four major sentence structure problems:
A fragment is only a part of a sentence. You can fix it most easily by attaching it to an independent clause.
A run-on or comma splice sentence is two independent clauses written without punctuation. To fix it, separate the clauses with a period or semicolon.
Choppy sentences result from too many simple sentences in one paragraph. To fix this problem, join some of the sentences to make compound and complex sentences.
A stringy sentence results from too many clauses in one sentence. Divide the stringy sentence into two or three compound or complex sentences.

In other-shorter-words , to attract and hold your readers’ attention, to communicate clearly and quickly, make your sentences as informative, straightforward, specific, and concise as possible. God writing demands clarity and conciseness.

Variety and Emphasis
Good writing must be clear, concise, lively, forceful, and interesting. In order to have such kind of writing, the following practical suggestions are useful for you:
use specific, descriptive verbs;
use specific, precise modifiers that help the reader see, hear, or feel what you are describing;
emphasize people when possible;
vary your sentence style;
avoid overuse of any one kind of construction in the same sentence;
don’t change your point of view between or within sentences.

Furthermore, you need to give emphasis on some words and phrases in your sentence. Three ways to vary emphasis are by 1) word order, 2) coordination, and 3) subordination.

Appropriate Word Choice
Slang is the comfortable, in-group language of neighborhood friends, coworkers, teammates, or of any group to which we feel we belong. We often use slang expressions when we talk because they are so vivid and colorful. However, slang is usually out of place in formal writing. Clichés are expressions that have been worn out through constant use. Pretentious Words are fancy and elevated words. People use artificial and stilted language that more often obscures their meaning than communicates it clearly

Sexiest and Biased Language

Using generalizations about a group of people to describe, interpret, or predict the behavior or characteristics of an individual is particularly risky. Careless generalizations, especially those based on race, ethnicity, gender, cultural background, age, physical characteristics, or lifestyle, are called stereotypes. People often speak of themselves in terms of the racial, gender, political, professional, or ethnic groups to which they belong. But labels inevitably focus on a single feature and have the potential to offend those who do not want to be characterized in one particular way and some labels are considered derogatory. If you use words that embody sexual stereotypes, you run the risk of alienating half your potential audience (or more). Several kinds of gender bias arise from habits of thought and language.

Exact Word Choice

The writer’s first concern in selecting a word is to be sure that its denotation, or dictionary meaning, is appropriate for the sentence at hand. Once you are satisfied that you are using a word correctly according to its denotation, consider its connotations-its implications, associations, and nuances of meaning. Specific details, illustrations, and observations are more vivid and more memorable than general remarks. Successful writers shuttle back and forth between the general and specific. Like general words, abstract words are broad. They name categories or ideas. Concrete expressions provide details that give readers a chance to see, hear, and touch-and in this way to understand how an idea or category is made real. Just as with general and specific language, you should seek a balance between the abstract and concrete.

End Punctuation

A period is used to mark the end of a statement or a mild command, in relation to end quotation mark and parentheses, and with abbreviations. The question mark is used after a direct question, after a quoted question with a statement, and within parentheses to indicate that the accuracy of information is in doubt. Exclamation point is used to mark an emphatic statement or command, please mark mild exclamation with periods or comma.

The Comma, Semicolon, And Colon

Comma is used before coordinating conjunction joining independent clauses, after introductory elements, to set off nonrestrictive modifier and appositives, between items in a series and between coordinate adjectives, to set off parenthetical expressions and elements of contrast, to set off interjections, tag sentences, and direct address, with quotation, and many other uses. Semicolon is used between independent clauses and in a series containing commas. Colon is used to introduce a list, to introduce a long quotation, and to introduce an explanation.

The Apostrophe, Quotation Mark, and Other Punctuation

The apostrophe, used primarily to form the possessive of a noun or pronoun, also indicates certain unusual plural forms and shows where a letter has been dropped in contraction. Quotation marks are like shoes: use them in pairs. In written American English, there are two types of quotation marks: double quotation marks (” “) which identify quotations, titles, and so on, and single quotation marks (‘ ‘) which identify quotations with in quotations (or titles within titles). In print and in handwriting, a distinction is made between an opening quotation mark (“) and a closing quotation mark (“), Most typewriters and personal computers, however; use the same quotation mark or marks at both ends of a quotation. Parentheses enclose elements that would otherwise interrupt a sentence: explanations, examples, asides, and supplementary information. They are also used to set off cross-references, citations, and numbers in a list. Parentheses can be distracting, so use them sparingly. Brackets are used to enclose words that are added to or changed within direct quotations. They can also enclose comments about quotations and about material that is already inside parentheses. Use a slash, preceded and followed by a space, to mark the end of a line of poetry incorporated in text.

Capitals, Abbreviations, and Numbers

Capital letters are used with: a) the first word in a sentence or direct quotation, b) names of persons and the word I, c) names of particular places, d) names of days of the week, months, and holidays, e) names of commercial products, f) names of organizations such as religious and political groups, associations, companies, unions, and clubs, and g) titles of books, magazines, newspapers, articles, stories, poems, films, television shows, songs, papers that you write, and the like.

The following kinds of information can be abbreviated in most writing situations: a) titles and degrees, b) numbers, symbols, and amounts, c) addresses, d) common Latin terms, and e) initials and acronyms.

The following kind s of information are useful for using numbers: a) spell out numbers that can be expressed in one or two words; otherwise, use numerals, b) be consistent when you use a series of numbers, and c) use numerals for dates, times, addresses, percentages, and parts of a book.

Common Uses of Italics

As you edit, check for your use of italics with the following:

– Titles of long published works, musical works, and works of art
– Specific words you wish to give special emphasis
– Words, numerals, and letters used as words
– Words from languages other than English
– Names of trains, ships, and other specific vehicles

Word Divisions
Hyphen are commonly used for the following purposes:
Use hyphen to make compound words.
Use hyphen to divide a word at the end of a line.
Use hyphen to add prefixes and suffixes.
Use hyphen to avoid misreading.
Use hyphen with numbers, fractions, and units of measure.

An Introduction To Paragraph

To write effectively in English, you must conform to the accepted patterns of organization and you should master master some elements of good writing, namely subject, purpose, and audience. A paragraph is a group of sentences that develop one subject logically. The number of sentences in the paragraph depends on its subjects.

A good paragraph should fulfill the following rules: a) indent the first word of a new paragraph, b) begin each sentence with a capital letter, c) end each sentence with a period, d) do not start each new sentece on a new line, and e) place the title of the paragraph in the center position.

Components of A Paragraph

A paragraph is a small unit of writing that contains information about one idea. A good paragraph should have a topic sentence, several related supporting details, and a concluding sentence. A good topic sentence should contain a topic, a main idea, the controlling idea(s). Supporting ideas should be relevant to the general subject being developed by the topic sentence. They should be specific enough to describe and contain specific facts and/or examples. Concluding sentence should review the topic sentence and give some final thought about the subject.

Composing a Good Paragraph
have discussed that each sentence in a paragraph should relate to the topic and develop the controlling idea. If a sentence does not relate to or develop that that idea, it is irrelevant and should be omitted. A paragraph that has sentences that do not relate to or discuss the controlling idea lacks unity. Another element that a paragraph needs is coherence. A coherent paragraph contains sentences that are logically arranged and flow smoothly. There are various ways to order the sentences, depending on the purposes: from the least important to the most important and chronological order.

Introduction to Narrative Paragraph

There are three main types of paragraphs in English: narrative, descriptive, and expository. A narrative paragraph tells a story. When you write a story, it is very important to write the sequence of event in the right time order. The topic sentence should tell the time and place of the story. Then, the rest of the sentences should tell what happened in the correct time order. This is known as chronological order. Chronological order, or time, is used to write about past events.

Coherent is one of the most important elements of a good paragraph. To make your paragraph coherent, arrange the supporting sentence in chronological order, the order in which the events or pieces of information occur. Words such as just last week, last night, and a few minutes ago signal time and provide a smooth transition to the next sentence or thought.

In addition to a topic sentence and supporting points, a good paragraph has a concluding sentence. The concluding sentence restates or returns to the main idea in the topic sentence. Your concluding sentence is your final statement. It should logically end the paragraph by supporting the point you made in the topic sentence. It should never undermine that point or stray from the point.

Writing a Narrative Paragraph

There are many things your need to consider when you write effective narration. They are know your purpose, maintain a consistent point of view, follow a logical time sequence, use a variety of sentence lengths, use parallel structure, use quoted (direct) speech, and organize your narrative with a clear topic and controlling idea, supporting ideas, using a chronological sequence. Narration can be developed through prewriting and revising. Moreover, there are two types of narrative paragraphs; present narration and past narration

Describing A Person

You can describe a person’s appearance in many ways. You can describe the person’s clothes, manner of walking, color and style of hair, facial appearance, body shape, and expression. You can also describe the person’s way of talking. Just what you select again depends on the topic and purpose. When you describe someone, you give your readers a picture in words. To make this “word picture” as vivid and real as possible, you must observe and record specific details that appeal to your readers’ senses (sight, hearing, taste, smell and touch).

Describing a Place

When you describe a place, you use space order to explain where things are located. The easiest way to do this is to choose a starting point. Then you describe where things are located in relation to your starting point. Decide on a logical method to follow. The arrangement of the details in a descriptive paragraph depends on the subject. The selection and the description of details depend on the describer’s purpose. When painting a picture with words, you can begin from left to right, from right to left, from top to bottom or from bottom to top.

Describing Things

The subject of a descriptive paragraph must be a limited object with a small number of important parts-usually something that can be held in the hand. In the topic sentence of a descriptive paragraph, the general idea is the object, and the specific parts are the most important parts of the object. The specific parts are written down in the order they will be developed. The subject development of a descriptive paragraph details each part, shows how that part is related to the other parts, and explains the use of the part

Process and Procedure

SA Process is a continuous series of steps that produces a result. A directional process analysis explain step-by-step how to the process. In the topic sentence of process paragraph, the general idea is the process, and the specific parts are short description of each step.

Comparison and Contrast
Comparison and contrast paragraphs are the ones that tell the reader about the things. Comparison paragraphs are about the similarities of two things, while contrast paragraphs are about the differences of two things. There are two common methods, or formats, of development in a comparison or contrast paper. One format presents the details one side at a time. The other presents the details point by point

Cause and Effect
Cause and effect Paragraphs can be developed into two ways: cause analysis and effect analysis. In a “cause” paragraph, the writer usually wants to discover the reason why a situation exists or the reasons why a change has occurred in a situation. An effect is the result of a cause. An effect analysis paragraph explains the main effects that result from a cause. In effect analysis, the writer simply answers the question `What are the effects of this cause? ‘

Sumber Writing 1 Karya Refnaldi, Jufrizal, Jufri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: