Objektifitas Sejarah

I. Pendahuluan:
History adalah mengenai masa lampau manusia. Manusia adalah Homo Historicos atau makhluk sejarah. Selain sebagai subyek sejarah, manusia juga sebagai obyek sejarah. Peristiwa sejarah sangat unik. Keunikannya adalah, peristiwa sejarah itu hanya sekali terjadi. Sejarah sebagai peristiwa bersifat obyektif. Sementara itu sejarah sebagai konstruk atau kisah bersifat subyektif dan hanya sekali terjadi. Oleh karena itu untuk mengetahui atau mengungkapkan peristiwa sejarah perlu adanya rekonstruksi sejarah. Dengan sumber-sumber yang telah ada dan bukti-bukti sejarah hasil peninggalan masa lampau.
Namun demikian, masa lampau manusia untuk sebagian besar tidak dapat ditampilkan kembali. Ini dikarenakan sifat manusiawi manusia yaitu lupa dan ingin melupakan. Selain itu juga sudah banyaknya sumber yang hilang. Untuk itu diperlukannya peran sejarawan untuk mengolah fakta yang ada dan berusaha untuk mengisi celah kosong sejarah yang tleh hilang.

II. Objektivitas dan Subyektivitas:
Upaya sejarawan dalam merekonstruksi masa lalu mulai mendapatkan kendala ketika sumber penelitian yang didapat tidak dapat menjelaskan secara penuh suatu peristiwa yang pernah terjadi. Ini adalah tugas sejarawan untuk dapat melengkapi dengan penafsiran mengenai kejadian-kejadian yang hilang tersebut. Meskipun demikiam juga harus tetap berusaha menulis dengan sebenar-benarnya (obyektif). Penafsiran sejarawan (subyektif) tetap sangat diperlukan.
Subyektivitas adalah kesaksian atau tafsiran yang merupakan gambaran hasil parasaan atau pikiran manusia. Sementara itu obyektivitas adalah usaha mendekatkan diri pada obyek atau dengan kata lain berarti bertanggung jawab pada kebenaran obyek. Seorang sejarawan dalam merekonstruksi sejarah, harus mendekati obyektivitas, karena akan didapat gambaran rekonstruksi yang mendekati kebenaran.
Dalam merekonstruksi masa lalu suatu peristiwa sejarah diperlukan bukti-bukti sejarah atau lebih tepatnya fakta sejarah. Fakta atau peninggalan sejarah itu disebut obyek, baik yang bersifat artifak maupun yang berujud dokumen tertulis. Dalam suatu peninggalan sejarah, seorang sejarawan menggunakan analisis dan penafsirannya. Di sinilah akan muncul subyektivitas dalam penulisan sejarah. Dia berusaha untuk bersifat interpretative (yang menerangkan mengapa dan bagaimana peristiwa terjadi dan saling berhubungan) maupun bersikap diskriptif (yakni menceritakan apa, bilamana, dimana terjadi dan siapa yang ikut serta didalamnya). Sehingga dalam penulisannya lebih bermakna.
Dalam merekonstruksi suatu peristiwa sejarah tidaklah akan untuk sebagaimana peristiwa itu terjadi dimasa lampau. Hal ini disebabkan karena banyaknya hal atau rangkaian peristiwa yang hilang atau memang sengaja dihilangkan. Karena alasan itu juga, penafsiran dari seorang sejarawan sangat diperlukan untuk menghubungkan suatu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Sehingga mendekati kebenaran. Dari sini dapat dilihat bahwa suatu penulisan atau perekonstruksian peristiwa sejarah itu tidak dapat lepas dari unsur subyektivitas. Karena dalam penulisan sejarah itu tidak dapat obyektif seratus persen. Dalam penulisan sejarah, seseorang tidak dapat melepaskan subjektifitasnya. Salah satu unsur subjektifitas yang paling dominan dan sulit dielakkan adalah pengaruh dari zamannya (zeitgeist). Setiap sejarawan memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap peninggalan-peninggalan sejarah dan kesaksian dari pelaku sejarah.
Dimisalkan saja, suatu peristiwa sejarah seperti sebuah gelas kaca yang masih utuh dan bagus. Ketika gelas itu jatuh kelantai maka pecah berkeping-keping. Anggap kepingan-kepingan gelas tersebut sama dengan kepingan-kepingan peristiwa sejarah. Tugas sejarawanlah untukmengumpulkan kepingan-kepingan peristiwa sejarah yang hilang tersebut. Setelah kepingan-kepingan pecahan gelas tersebut terkumpul dan kemudian disusun, pasti ada bagian dari pecagan gelas tersebut yang hilang. Ini juga sama dengan peristiwa sejarah yang kehilangan pecahan-pecahan peristiwa. Sehingga diperlukan analisis dari seorang sejarawan untuk mengisi kekosongan peristiwa tersebut untuk menghubungkan peristiwa sejarah yang satu dengan yang lain sehingga utuh dan mendekati kebenaran (obyektif).
Penulisan sejarah dengan memakai unsur subyektivitas itu lebih memberi warna pada perekonstruksian peristiwa sejarah, karena dapat menguak lebih dalam peristiwa yang telah terjadi. Sungguhpun demikian, sejarawan selalu dituntut supaya dengan sadar dan jujur mengikatkan diri pada obyek dan berfikir secara obyektif. Seorang sejarawan dalam penulisan atau rekonstruksi suatu peristiwa sejarah diharapkan untuk tidak memihak. Kendati tidak memihak, sejarawan tetap tidak bisa objektif secara total. Ini sekali lagi diakibatkan keterbatasan sumber yang ditemukan dan adanya benda-benda diam yang hanya bisa diamati saja. Sehingga memerlukan analisa sejarawan melalui pemikirannya. Tafsiran dan analisis disusun se-obyektif mungkin. Nilai karya sejarawan antara lain akan tergantung pada nilai obyektivitasnya. Suatu karya sejarah akan jauh nilainya apabila sejarawan dengan sengaja tidak obyektif.
Pemberian penafsiran dari seorang sejarawan dilakukan ketika sumber tidak lengkap. Keuntungan dari pemberian penafsiran tersebut antara lain:
1. mengisi peristiwa yang kosong
2. menghubungkan peristiwa sejarah dari fakta satu dengan fakta yang lain
3. memberi isi pada suatu peristiwa sejarah.
Arti sederhana dari kata objektifitas dalam sejarah objektif adalah sejarah dalam aktualitas, jadi kejadian itu terlepas dari subjek. Sejarah dalam arti subjek dalam proses komunikasi antar individu timbul suatu penyampaian suatu sejarah (dalam arti subjektif) kepada orang ke-2. dapat dikatakan bahwa sejarah atau fakta yang dikomunikasikan menjadi intersubjektif. Komunikasi secara lebih luas mengakibatkan fakta semakin intersubjektif maksudnya semakin dimiliki oleh banyak subjek. Akhirnya pada suatu waktu, fakta menjadi intersubjektif di kalangan yang sangat luas, menjadi umum sekali atau dengan istilah tepat menjadi fakta keras. Untuk lebih jelas perhatikan skema di bawah ini:

I. fakta dikomunikasikan

Komunikasi II
II. fakta menjadi Intersubjektif
Individu A Individu B

Apabila suatu fakta secara intersubjektif telah diterima sebagai kebenaran, maka bagi yang menerima fakta itu dapat dikeluarkan dari subjek secara individu diobjektifitaskan menjadi suatu objek. Dengan demikian fakta tersebut dapat diterima oleh kelompok yang bersangkutan sebagai objek. Dalam pemakaian istilah subjektifitas ini masih terselip sifat relatif dan jelaslah objektifitas yang absolutmerupakan konsep yang ideal dalam ilmu kemanusiaan. Untuk menghindari kesepihakan perlu dilakukan pendekatan multidimensial yaitu melihat dari berbagai aspek kehidupan.
III. Kesimpulan:
Dalam penulisan sejarah tidak bisa lepas dari unsure subyektivitas. Hal ini dikarenakan dalam merekonstruksi masa lampau diperlukan analisis dan imajinasi sejarawan untuk mengisi kekosongan peristiwa sejarah dan menghubungkan peristiwa satu dengan peristiwa yang lain. Ini dikarenakan sumber-sumber yang ditemukan tidak lengkap dan sangat terbatas.
Objektifitas dalam sejarah objektif adalah sejarah dalam aktualitas, jadi kejadian itu terlepas dari subjek. Sejarah yang subjektif apabila dikomunikasikan kepada orang lain dan kemudian diterima maka sejarah itu menjadi intersubjektif. Dan dalam kominikasi selanjutnya, lama kelamaan peristiwa sejarah tersebut akan menjadi objektif dikalangan kelompok yang berkomunikasi tersebut. jadi objektifitas sejarah itu terjadi bila mendapat pengakuan dari banyak orang. Sejarah yang subjektif akan menjadi objektif jika mendapat pengakuan.

Diposkan oleh avenged di 08:34

Persoalan subjektifitas dan objektifitas dalam kerangka epistimologi ilmu, menjadi perdebatan yang tak pernah kunjung selesai dalam tradisi ilmu sosial dan humaniora. Termasuk dalam tradisi penulisan sejarah. Sebagai disiplin ilmu yang juga membahas mengenai manusia dalam dimensi waktu (time dimention), sejarah dalam perkembangannya berpotensi besar digunakan sebagai alat kekuasaan. Pemalsuan data-data sejarah menjadi persoalan serius terhadap indepensi sejarah sebagai suatu disiplin ilmu. Dalam penulisan sejarah, ada kesan subjektif yang pada umumnya menimbulkan penulisan yang bias atau berat sebelah. Subjektifitas sangat sulit untuk dihindarinya. Namun yang tidak boleh dilakukan adalah subjektifitas dalam pengertian mengebiri data, memalsukan dokumen dan menyesuaikan dokumen-dokumen yang ada agar sesuai dengan “tuntutan” yang ada.

A. Objektifitas : Pengertian Konsep dan Aliran-Aliran Dominan

“… Jangan kamu cari arti kata-kata, tapi pahami bagaimana kata-kata itu difungsikan ! (Gadamer dalam Astrid, 1988: 17)

Sebagai sebuah istilah yang sering digunakan dalam sejarah (khususnya : penulisan sejarah), maka konsep objektifitas (selanjutnya digunakan : objektif) dapat dilihat dari dua sudut pengertian. Pengertian Pertama mengacu kepada sasaran atau tujuan sejarah itu diteliti dan ditulis. Dapat juga diformulasikan dalam pertanyaan : “untuk apa dan untuk siapa ?”. Sementara pengertian yang Kedua mengacu kepada pertanyaan : “Apakah sejarah bisa bersifat objektif ?”.

1. Objektif : “Untuk Apa dan Untuk Siapa ?”.

Dalam konteks pengertian ini, cukup banyak karya sejarah yang bisa kita kemukakan, seperti :

a. Bennedict R.O’ Gonnor Anderson telah memperbaiki tesis dan asumsi dominant selama ini yang berkembang – khususnya sejarah versi Orde Baru – tentang penyebab dan aktor Gerakan 30 September 1965. Beberapa versi selama ini mengatakan bahwa penyebab dan aktor Gerakan 30 September 1965 tersebut adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan DN. Aidit . Melalui Cornell Paper’s-nya, Anderson merevisi G 30 S/PKI menjadi G 30 S saja. Anderson mengatakan bahwa penyebab terjadinya gerakan tersebut bukan disebabkan oleh faktor tunggal, tapi cukup komprehensif karena analisis sejarah diseputar gerakan tersebut harus memasukkan faktor keterlibatan CIA, konflik internal Angkatan Darat dan peta politik global serta regional. Karya Anderson dan beberapa karya sejarah lain yang berkaitan dengan gerakan 30 September 1965 tersebut dipahami dalam konteks untuk memperbaiki “mainstream” yang selama ini berkembang.

b. Buku Tuanku Rao yang ditulis oleh Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) secara objektif ingin merevisi – untuk tidak mengatakan meng-counter – buku Tuanku Rao karangan Mangaraja Onggang Parlindungan.

c. Biografi yang ditulis oleh Bachtiar Adnan Kusuma, Baramuli dalam Identitas Sejarah Indonesia : 70 Tahun Pantang Menyerah merupakan karya tulis bernuansa sejarah-biografis yang merupakan pesanan dari elit-politik Indonesia era Orde Baru H. Arnold Baramuli. Objektifnya jelas, ia merupakan pesanan dari seorang tokoh. Karya-karya lain sejenis ini cukup banyak seperti karya-karya Ramadhan KH yang banyak menulis biografi-biografi tokoh besar. Pertanyaan “untuk apa dan untuk siapa ”, terjawab.

d. Beberapa karya sejarah yang membahas tentang sejarah institusi yang pada umumnya – tidak keseluruhan – merupakan karya tulis sejarah yang ditulis untuk institusi berkenaan. Sehingga sering kita menemukan karya-karya sejarah tentang : “Sejarah Madrasah …….” atau “Peran PT. Semen Padang dalam Mencerdaskan Manusia Sumatera Barat : Jejak Tapak sejak Masa Kolonial Belanda …. “ dan sebagainya.

2. Objektif : “Apakah sejarah bisa bersifat objektif ?”.

Dalam konteks pengertian ini, objektif disini mengacu kepada aspek epistimologi ilmu sejarah itu sendiri. Standar keilmiahan sebuah disiplin ilmu, secara umum biasanya diukur dari cara kerja (metodologi) disiplin ilmu itu sendiri yang mengacu kepada metode-metode baku sehingga hasil dari kerja ilmiahnya akan dinilai sebagai sesuatu yang objektif, sebagaimana halnya pada disiplin-disiplin ilmu lainnya – eksak, khususnya.

Disiplin ilmu sejarah memiliki kaedah-kaedah metode penelitian tersendiri sehingga dikatakan sebagai disiplin ilmu yang objektif. Ungkapan nan “klasik” Leopold van Ranke bahwa sejarah itu harus dikaji “seperi apa yang sebenarnya ia terjadi” memberikan pondasi awal ke-objetifitasan disiplin ilmu sejarah itu sendiri. J.B. Burry misalnya mengatakan bahwa “sejarah itu sains, ia memiliki metode sendiri, tak lebih tak kurang”, kembali mempertegas bahwa ilmu sejarah bisa objektif karena metode sendiri. Karena memiliki metode sendiri, maka kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan dengan merujuk kepada metode yang dimilikinya. Karena memiliki metode sendiri, maka pola kerja dalam sebuah penelitian serta penulisan bisa dianggap sama dikalangan sejarawan di seluruh dunia. Dalam konteks inilah, objektif ilmu sejarah tersebut dipahami.

Bila ada perdebatan-perdebatan dari sebuah karya sejarah, biasanya berawal dari teknik analisis dimana teori-teori/ paradigma/pendekatan dari si penulis sejarah/ sejarawan tersebut “bermain”. Karena ini pula, hasil sebuah penelitian/ tulisan sejarah terkadang berbeda-beda. Tapi, hampir semua disiplin ilmu, khususnya ilmu sosial, perbedaan-perbedaan tersebut selalu bersumber dari paradigma/ pendekatan yang digunakan.

Berangkat dari pemahaman di atas, maka kerapkali kita menemukan beberapa karya sejarah dengan tema yang sama justru menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Karena seringkali karya sejarah tersebut menghasilkan simpulan yang berbeda, timbul anggapan bahwa karya sejarah tersebut dalam proses rekonstruksinya, tidak objektif. Padahal, perbedaan kesimpulan yang didapatkan bukan karena metode penelitian yang berbeda. Metode-nya sama, akan tetapi pendekatan yang digunakan berbeda.

Banyak karya sejarah, untuk kasus-kasus yang sama, memperkuat hal ini. Kasus tragedy 30 September 1965 juga bisa kita lihat dalam konteks ini. Hermawan Sulistyo (lihat footnote 4) melihat konflik pertanahan/agraria sebagai penyebab terjadinya pembunuhan besar-besaran terhadap eks-PKI dan Gerwani di wilayah Jawa Timur, sedangkan Asvi Warman Adam justru melihat pembunuhan tersebut dari pendekatan Tipe Ideal-nya Weber, dimana eksistensi kepemimpinan kharismatik Kiai “tereduksi” oleh pengaruh PKI yang mengedepankan semangat “egaliterianisme” dan anti borjuis (termasuk borjuisasi agama). Untuk kasus yang sama, simpulannya berbeda. Tapi, rekonstruksi sejarah ini dianggap objektif karena mengikuti prosedur kerja baku yang dikenal dalam epistimologi sejarah. Simpulan berbeda, karena pendekatannya berbeda.

Untuk hal yang sama, dalam proses bimbingan skripsi, saya pernah mengalami hal serupa. Membimbing beberapa orang mahasiswa mengenai kasus yang sama, namun dilihat dari perspektif/pendekatan yang berbeda. Skripsi pertama tentang “Dinamika Fungsi Rumah Adat” yang dilihat dari pendekatan sosiologi antropologi (secara general). Mahasiswa bersang-kutan melihat perubahan fungsi-fungsi rumah adat tersebut dalam spektrum waktu dengan mengedepankan teori structural fungsional. Sementara mahasiswa yang lain justru melihat “Dinamika Fungsi Rumah Adat” tersebut dari perspektif arkeologis. Mahasiswa tersebut melihat perubahan-perubahan fungsi dari meaning (pemaknaan) dari tinggalan-tinggalan material yang ada di Rumah Adat itu. Simpulannya, terjadi perbedaan signifikan diantara dua skripsi ini. Akan tetapi, metode yang mereka gunakan sama sebagaimana yang dikenal dalam ilmu sejarah, bagi saya, penelitian mereka tetap objektif karena memiliki parameter untuk bisa dipertanggungjawabkan.

3. Relatifis dalam Sejarah

Kita masih ingat dengan ungkapan filosof – sejarawan Italia, Bennedicto Croce yang pernah mengeluarkan ungkapan terkenal : “storia e storia contemporanea”. Artinya kira-kira, sejarah yang benar-benar sejarah adalah sejarah kekinian. Ungkapan ini bisa dipahami dalam dua perspektif. Pertama, Croce ingin mengatakan bahwa penulisan sejarah yang baik haruslah berangkat dari kondisi atau realitas kekinian yang untuk kemudian dicari “akar”nya kedalam “relung panjang sejarah” – meminjam istilah Taufik Abdullah. Pemahaman kedua, Croce ingin menjelaskan posisinya dalam melihat sejarah. Baginya sejarah tersebut sangat terikat dengan konteks masanya yang diistilahkannya sebagai contemporanea – kekiniaan atau ke-masa-an. Intinya adalah, penulisan sejarah, nilai objektifitasnya tersebut sangat terikat dengan ruang dan waktu. Pemahaman orang terhadap suatu fenomena sejarah pada suatu era, akan berbeda dengan era yang lain. Ketika sebuah kalimat tertera dalam sebuah arsip yang dicatat pada era 1910-an :

”Anak-anak di Air Bangis berjalan di tepian soengai pada senja hari pergi sumbajang dan mengadji ke langgar dan poelang tidak pernah laroet malam sehingganja sumbajang isa’ (Isya: pen.) hanja diikoeti oleh orang-prang tua sahaja”

Kalimat diatas akan berbeda pemahamannya bila ditafsirkan pada masa sekarang. Senja pada masa itu akan dipahami dalam durasi waktu pukul 4 – 5 sore, sedangkan larut malam dimaknai sebelum sholat Isya (lebih kurang pukul 8 malam). Bila hal tersebut ditafsirkan menurut “kacamata” sekarang, maka senja itu adalah pukul 6 – 7 malam, sedangkan larut malam diatas pukul 10 malam.

Demikian juga dengan konsepsi poligami, misalnya. Banyak karya-karya sejarah, khususnya yang berkaitan dengan biografi ulama yang berkaitan dengan praktek poligami. Misalnya penggalan kalimat berikut :

“Syekh Halaban (1863-1933) yang dianggap sebagai ulama kharismatik. Dengan potensi kepemimpinan seperti ini, sangatlah mudah bagi Syekh Halaban untuk memiliki istri banyak, bahkan para orang tua berlomba-lomba untuk “menyodorkan” anak mereka menjadi istri Syekh yang juga guru dari ulama tradisional Minangkabau terkenal – Syekh Inyiak Canduang”.

Konsepsi poligami dalam kalangan masyarakat pada masa-masa tersebut diatas adalah suatu kondisi sosial yang fungsional, baik bagi masyarakat maupun bagi elit agama itu sendiri. Nilai-nilai dan fungsi ini hanya bisa diletakkan pada era itu. Ini tidak akan bisa kita tempatkan pada masa-masa A’a Gym ataupun Zainuddin MZ.

Apa yang dikemukakan diatas juga secara “gamblang” pernah dikemukakan dengan baik oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Novel-sejarahnya yang bertitelkan “Gadis Pantai”. Dengan begitu bagusnya Pram menarasikan bagaimana seorang ulama begitu dikonstruksikan oleh realitas sosial dalam strata yang demikian tinggi. Walau bukan dalam bentuk karya sejarah “sebagaimana mestinya”, akan tetapi novel-sejarah ini setidaknya mampu memberikan kepada kita gambaran yang terjadi pada era awal 1900-an, khususnya di Pantai Selatan Jawa.
Bila kita membaca Gadis Pantai ini dengan kaca mata kita sekarang, maka akan kita simpulkan : “ulama yang maniac seks, ulama yang suka daun-daun muda dan ulama yang sangat otoriter serta ulama yang sombong-pongah dengan keulamaannya”. Begitu juga dengan kalimat dibawah ini :

“Sebagaimana anak muda kampoeng lainnja, tentunja Ridjal amat senang sekali bisa berkawan dengan kakak sepoepoenja jang manis itu.Namanya Halimah. Tapi sajang, ianja akan berkahwin dengan seorang saudagar kaja dari Bangkahulu, saudagar jang juga ulama karena baru pulang dari tanah Mekkah. Halimah yang baroe beroemoer 14 tahun, akan berkahwin beberapa minggoe lagi”.

Tentu, bila Syekh Puji hidup pada masa Ridjal ini hidup, ia akan dapat memperistri “anak dibawah umur”. Bila Syekh Puji juga hidup pada masa diatas tersebut, tentu juga ia tidak akan dikenakan sanksi mengawini anak-anak usia dibawah umur. Tapi sayang, Syekh Puji hidup pada masa sekarang. Dan karena itu, alangkah juga naifnya bila kita melihat fenomena diatas dalam pemahaman kacama kita saat ini pula. Karena itu pulalah, Croce dan kawan-kawannya beranggapan bahwa kebenaran sejarah (tepatnya : objektifitas sejarah itu) sangat bersifat relatif.

B. Subjektifitas

Dalam penulisan sejarah, ada kesan subjektif yang pada umumnya menimbulkan penulisan yang bias atau berat sebelah. Memang, kecenderungan untuk lumrah terjadi karena seorang sejarawan yang dalam bahasa sosiologi-nya : “seorang manusia individu, ia adalah gejala sosial, hasil proses dari masyarakatnya” dan dalam kedudukan seperti itulah, ia berusaha untuk mendekati sejarah/merekonstruksi sejarah itu sendiri yang pada prinsipnya hanya terjadi satu kali atau einmalig tersebut. Tentu, subjektifitas sangat sulit untuk dihindarinya. Bahkan, subjektifitas sejarawan itu sendiri juga sebuah entitas objektif dalam penulisan sejarah. Ketika ia mulai memilih judul dan pendekatan yang (akan) digunakannya, maka, subjektifitas tersebut telah “masuk” dan bermain. Oleh karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan subjektifitas, tidak bisa dihindari.

Namun yang tidak boleh dilakukan adalah subjektifitas dalam pengertian mengebiri data, memalsukan dokumen dan menyesuaikan dokumen-dokumen yang ada agar sesuai dengan “tuntutan” yang ada. Inilah yang dinamakan dengan subjektifitas ekstrem. Buku Babon Sejarah Nasional Indonesia yang “dimotori”oleh Nugroho Notosusanto, sebagai contoh, adalah salah satu bentuk “pemerkosaan dokumen” agar sejarah yang ditulis tersebut mengkisahkan peran besar Orde Baru, marginalisasi peran sipil, hegemoni dan keunggulan militer (dalam hal ini : Angkatan Darat) dan kesalahan yang “melulu” harus ditimpakan pada Soekarno dan PKI dibalik terjadinya Gerakan 30 September 1965.

Peran histories Nugroho Notosusanto ini dibuka secara gamblang oleh Katherine Mac. Gregory yang membongkar habis “kepalsuan” Nugroho Notosusanto serta bagaimana Nugroho ini “memilah-milah” dokumen yang seharusnya masuk dalam bagian analisis, justru disisihkan karena berpotensi merendahkan peran histories Suharto, Orde Baru dan militer. Karena itu pulalah Chaterine memberi judul bukunya dengan “Ketika Sejarah Berseragam”.

Cukup banyak buku-buku sejarah yang ditulis dengan memalsukan berbagai dokumen agar penulisan sejarah tersebut bisa sesuai dengan kehendak yang memesan (biasanya pemerintah). Di Negara-negara otoriter seperti Korea Utara, Irak pada masa Saddam Hussein, Protocol Zion dalam menjustifikasi “duka-lara” sejarah bangsa Yahudi – merupakan beberapa contoh subjektifitas ekstrim dalam penulisan sejarah. Interpretasi dari penulis merupakan bentuk subjektifitas yang tidak bisa dihindari. Subjektifitas jenis ini bisa diminimalisir dengan latihan dan kepatuhan akan metode yang ada. Akan tetapi, subjektifitas dengan “memalsukan” dokumen-dokumen yang ada agar menguntung kan pihak tertentu, itulah subjektifitas yang tidak dibolehkan. Dan ini tidak membutuhkan latihan ataupun kepatuhan ketat terhadap metode penelitian, karena seorang Prof. Doktor “botak” sekalipun, bisa “terjebak” dan mau “dijebak” dalam subjektifitas ekstrem ini.

Tulisan Lengkap, Lihat Jurnal KHAZANAH Vol. II/Nomor 1 http://lppbi-fiba.blogspot.com/2011/12/objektifitas-dan-subjektifitas-dalam.html

Sedangkan, Ankersmit dalam bukunya Refleksi tentang Sejarah menjelaskan tentang adanya alasan yang membela subjektifisme dan objektifisme sejarah, yaitu:

  1. Alasan Subjektifisme

(a) Alasan Induksi

Penulisan sejarah selalu bersifat subjektif. Menurut G. Myrdal, bila telaah historis t1, t2, dan seterusnya bersifat subjektif, maka dengan cara induktif dapat disimpulkan bahwa telaah historis, baik masa silam, masa kini, dan masa depan, bersifat subjektif.  Namun, Myrdal menegaskan bahwa sejarawan harus menyadari nilai-nilai dalam penulisannya agar dengan demikian ia dapat mengesampingkan pengaruh nilai-nilai itu dalam penulisannya.

Pendapat ini dilawan oleh Negel, yang mengatakan, bahwa justru nilai-nilai yang mewarnai pandangan seorang sejarawan, tidak disadarinya, lalu bagaimana mungkin mengesampingkannya? Sering kita berpendapat, bahwa pendapat kita mengenani sesuatu itu terbebas dari nilai, padahal justru nilai itu yang dipermasalahkan.

(b) Alasan Relativisme

Untuk mendukung argumen ini, Ch. Beard dan J. Romein membedakan tiga hal, yakni:

(1)             Masa silam sendiri,

(2)             Bekas yang tertinggal dari masa silam, berwujud dokumen,

prasasti dan sebagainya

(3)             Penggambaran kita terhadap masa silam.

Peralihan dari (1) ke (2) sudah menjurus penulisan sejarah. tentu subjektif, karena sumber-sumber yang tersisa dari masa silam pada umumnya merupakan laporan-laporan yang ditulis oleh orang-orang pada zaman dulu. Dan pada peralihan dari (2) ke (3), tidak bisa disingkirkan. Terdapat tiga macam subjektifitas. Pertama, yang merupakan hasil dari kepribadian sejarawan sendiri. Kedua, unsur subjektifitas masih dapat dilacak lalu disingkirkan. Ketiga, subjektifitas waktu tidak dapat dieliminir.

Romein dan E.H. Carr mengatakan bahwa untuk mengatasi permasalahan tersebut, sejarawan harus mampu untuk mengatasi kerangka zamannya dengan menempatkan diri di masa mendatang, yaitu masyarakat tanpa kelas. Sehingga argumen ini mudah dipatahkan karena asumsi yang menopangnya berpangkal pada filsafat sejarah spekulatif[3] yang dapat disangksikan objektivitasnya. Rupanya Romein tetap mempertahankan konsepnya meskipun hal itu tidak rasional.

(c) Alasan bahasa

Bahwa dalam bahasa sendiri terdapat berbagai ungkapan yang mengandung penilaian, sehingga tulisan yang dihasilkan bisa bersifat subjektif. Namun L. Strauss justru berpendapat bahwa penilaian dan bahasa yang bermuatan penilaian justru penting dalam penulisan sejarah. Karena dengan bahasa yang mengandung penilaian itulah kejadian-kejadian yang “mendebarkan” dapat disusun.

Demikian juga bagi A.R. Louch yang mengatakan bahwa tugas sejarawan adalah membangkitkan kembali masa silam (aktualisasi masa silam). Kata-kata seperti agresif, bersahabat, bermusuhan, dlsb, dapat digunakan sebagai sarana untuk membangun kembali masa silam dalam konteks kekinian. Dengan kata-kata itu, muncul dalam diri kita satu perasaan yang sama dengan perasaan yang muncul dalam diri penulis ketika menuliskannya.

(d) Alasan Idealistis

Sebagaimana argumen dasarnya, bahwa kenyataan itu ada sejauh kita menyadarinya, kenyataan historis pun merupakan buah hasil dari budi manusia. Budi manusia adalah objek penelitian historis sekaligus juga subjek penelitian historis. Karena subjek dan objeknya sama, maka keduanya tidak dapat dipisahkan.

(e) Alasan Marxis

Bagi penganut paham ini, tidak mungkin bisa untuk memisahkan subjek dan objek. Pengetahuan selalu berakar dalam pergaulan kita dengan kenyataan. Kenyataan itu adalah kenyataan yang bereaksi terhadap sentuhan penelitian kita. Kenyataan sosial tidak akan muncul dalam bentuk rumusan sosiologis yang objektif, akan tetapi baru akan muncul ketika telah dirombak oleh seorang revolusioner. Karena objektivitas mengandaikan pemisahan antara subjek dan objek, maka ia tidak akan terjadi.

  1. Alasan Objektivitas

Bagi pendukung argumen ini, perbedaan antara pengkajian sejarah dan sains hanya bersifat gradual dan tidak esensial, karena objektifitas dalam hasil penelitian sains jarang disangsikan (sifatnya mutlak-pasti), maka cenderung membela kemungkinan penulisan sejarah yang objektif.

(a) Memilih Objek Penelitian

Seorang sejarawan sudah bersifat subjektif ketika memilih objek bagi penelitian sejarahnya, karena pilihan itu ditentukan oleh kesukaan pribadi seorang sejarawan. Dalam memilih bahannya, seorang sejarawan mungkin didorong oleh pertimbangan subjektif, tetapi ini tidak berarti bahwa hasil penelitiannya juga bersifat subjektif, bisa juga bersifat objektif. Objektif dalam artian ini merupakan sebuah kenyataan historis dalam suatu peristiwa sejarah di masa lampau.

(b) “Wertung” dan “Wertbeziehung”

Seorang sejarawan selalu bersifat subjektif karena bahan yang ditelitinya ialah perbuatan manusia pada masa silam, yang selalu diresapi oleh nilai-nilai. Kita perlu membedakan antara wertbeziehung dan wertung. Yang pertama adalah pertalian dengan nilai-nilai, yang terjadi ketika kita menerangkan perbuatan seorang pelaku sejarah sambil menghubungkan perbuatan itu dengan nilai yang dianut pada masanya. Sedangkan yang kedua adalah penggambaran sejarawan tentang seorang pelaku sejarah yang sudah diilhami oleh nilai-nilai yang dianut oleh sejarawan itu sendiri.

(c) Alasan Seleksi

Mengadakan seleksi berarti mengacaukan jalinan peristiwa yang terjadi dalam sejarah, padahal menurut faham subjektivisme, sejarah adalah ibarat kain tanpa jahitan yang bagian-bagiannya kait mengait. Oleh pendukung objektivisme, argumen ini ditolak karena meskipun penyajian oleh sejarawan tidak lengkap, tidak berarti ia tidak objektif. Sebuah peta tetap objektif meskipun tidak manampilkan hal-hal kecil secara detail. Namun, apakah sejarah sama dengan peta. Peta adalah benda mati yang tidak berubah bagian-bagiannya, sedangkan sejarah terdiri dari bagian-bagian yang saling memengaruhi satu sama lainnya, sifatnya dinamis, sehingga menampilkan salah satu bagian saja tidak akan mungkin menggambarkan kenyataannya yang sesungguhnya.

Adapun alasan subjektivistis yang mengatakan bahwa sejarawan berhenti pada satu titik dalam penelitiannya dan tidak melanjutkan ke titik-titik berikutnya, ditanggapi oleh kalangan objektivis dengan mengatakan bahwa penelusuran sampai masa paling awal tidak perlu, karena, misalnya, untuk mengetahui sebab-sebab Revolusi Perancis (1789) kita tidak harus melacak sebabnya. Sekali lagi, sejarah bukanlah aspek yang statis yang dapat diketahui dengan mudah pangkal dan ujungnya hanya dengan berspekulatif. Pertanyaanya, siapa yang dapat mengetahui dengan pasti bahwa suatu sebab kejadian sejarah berpangkal dari sebuah kejadian tertentu?

(d) Alasan Antiskeptisisme atau Relativisme

Sebenarnya para skeptisisme telah masuk dalam wilayah yang kontradiktif. Secara implisit, mereka masih mempertahankan kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan yang objektif, meskipun secara eksplisit menolaknya. Hal itu karena para skeptisis baru dapat mengatakan bahwa sebuah pengetahuan adalah subjektif kalau ia memiliki sandaran untuk mengukur bahwa pengetahuan itu memang subjektif. Dengan demikian, pengetahuan objektif itu tetap diandaikan.

Di samping itu, ia harus dapat membuktikan bahwa nilai-nilai mana yang memengaruhi seorang sejarawan. Dan bila nilai-nilai itu telah disingkirkan, maka objektivitas menjadi mungkin terjadi secara nyata.

Apakah dengan menyingkirkan nilai-nilai yang diketahui itu lantas membuat penelitian sejarah menjadi objektif? Nilai-nilai adalah sesuatu yang abstrak, yang melingkupi dan melampaui kita karena kita berada di dalamnya, sehingga tidak disadari. Sebagaimana pengertian struktur sebagai sebuah bangunan abstrak, ia hanya bisa dirasakan tanpa bisa dilihat secara fisik atau nyata.

(e) Alasan Sebab Musabab (Kausalitas)

Seorang sejarawan mungkin menggunakan penilaiannya, akan tetapi tidak berarti bahwa pendapat-pendapatnya langsung menunjuk pada benar atau salah. Kalau penilaiannya salah, jelas sejarah menjadi kacau. Dan kalaupun penilaiannya benar, bukankah terdapat banyak aspek dalam sejarah, dimana penilaian sejarawan tersebut sangat mungkin hanyalah salah satunya saja?

(f) Alasan Propaganda

A.I. Melden mengatakan bahwa jika nilai-nilai merupakan unsur pokok dalam pengetahuan historis, maka penulisan sejarah menjadi tidak dapat dibedakan lagi dari propaganda. Keduanya menjadi sama kerena hanya merupakan tindak bahasa yang ingin menyebarkan nilai-nilai tertentu. Padahal propaganda berbeda dengan tulisan sejarah, karena pembaca propaganda tidak terkesan oleh mutu ilmiahnya.

Di samping itu, propaganda bertujuan untuk mengalihkan nilai-nilai kepada orang yang belum memilikinya. Akan tetapi nilai-nilai dalam sejarah tidak diketahui oleh pembacanya, sehingga pengalihan nilai-nilai itu menjadi tidak mungkin. Dengan kata lain, nilai-nilai yang dianggap sebagai bagian pokok itu hanyalah kesimpulan belaka dalam sebuah penalaran, bukan unsur penting di dalalamnya.

Pada hakekatnya, penulisan sejarah memang tidak berbeda dengan propaganda, hanya saja yang terakhir sudah diketahui bahwa ia memang propaganda sehingga tidak dianggap ilmiah, sedangkan yang pertama, penulisan sejarah, belum diketahui kalau ia adalah propaganda, tetapi sudah diasumsikan begitu saja sebagai sejarah, sehingga dianggap ilmiah.

(g) Alasan Analogi

Pengkajian sejarah sama saja dengan pengetahuan eksakta, yang mungkin untuk mendapatkan objektivitas. Ada tolok ukur tertentu dalam menentukan objektivitas. Padahal dalam ilmu eksakta sendiri objektivitas masih diperdebatkan. Hukum gravitasi Newton, misalnya, dianggap kurang memadai sehingga munculah Einstein dengan hukum relativitasnya.

Menurut saya subyektivitas selalu mempengaruhi dalam penyusunan sejarah.  Hal ini akan terjadi ketika kita berusaha untuk membangun kembali kerangka kerangka dari bukti bukti sejarah tepatnya pada bagian interpretasi. Apa yang kita dapat sebagai bukti bukti sejarah merupakan bukti bukti mentah yang harus kita rangkai kembali suatu peristiwa sejarah tersebut untuk merekonstruksi peristiwa sejarah. Dalam penulisan sejarah kita akan selalu dipengaruhi oleh subyektivitas. Seorang sejarawan selalu menuruti instingnya dan pemikirannya dalam penyusunan sejarah.

file ini di ambil dari:

http://ratnakartika2010.wordpress.com/2011/11/07/objektifitas-ubjektifitas-dalam-kajian-sejarah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: