ANALISIS STILISTIKA CERPEN CELOTEH SEPATU KARYA ALPANSYAH

Pengarang : Muhammad Irsan
Tahun : 2010

Abstrak

cerpen Celoteh Sepatu

2)   memahami gaya bahasa cerpen Celoteh SepatuSebagai sebuah karya imajiner, fiksi mengungkapkan berbagai macam persoalan tentang manusia dan kehidupan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkannya kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. Oleh karena itu, fiksi, menurut Altenberd dalam Nurgiyantoro (2000:2), dapat diartikan sebagai “prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan- hubungan antar manusia. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan. Namun, hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya sekaligus memasukkan unsur hiburan dan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia”. Penyeleksian pengalaman kehidupan yang akan diceritakan tersebut, tentu saja, bersifat subjektif.

Fiksi juga menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan, dengan diri sendiri, dan dengan Tuhan. Fiksi merupakan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Oleh karena itu, fiksi merupakan sebuah cerita yang  tidak hanya bertujuan estetik, tetapi juga memberikan hiburan kepada pembaca. Melalui sarana cerita itu pembaca secara tak langsung dapat belajar, merasakan, dan menghayati berbagai permasalahan kehidupan yang sengaja ditawarkan oleh pengarang. Hal itu disebabkan cerita fiksi tersebut akan mendorong pembaca ikut merenungkan masalah hidup dan kehidupan.

Salah satu bentuk karya sastra yang berupa fiksi itu adalah cerpen. Cerpen, sesuai dengan namanya, adalah cerita yang pendek. Jassin dalam Nurgiyantoro (2000:10) mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Karena bentuknya yang pendek, cerpen menuntut penceritaan yang serba ringkas, tidak sampai pada detil-detil khusus yang lebih bersifat memperpanjang cerita.

Cerpen merupakan jenis karya sastra yang paling banyak dibaca orang dengan pemahaman yang cukup memadai. Cerpen banyak menggunakan bahasa yang lugas dan mengacu pada makna denotatif sehingga lebih bersifat transparan. Namun adapula cerpen yang tidak transparan, bersifat prismatis dan penuh dengan perlambangan. Menurut Hendy (1989:184) cerpen memiliki beberapa ciri, yaitu: panjang kisahannya lebih singkat daripada novel, alur ceritanya rapat, berfokus pada satu klimaks, memusatkan cerita pada tokoh tertentu, waktu tertentu, dan situasi tertentu, sifat tikaiannya dramatik, yaitu berintikan pada perbenturan yang berlawanan, dan tokoh-tokoh di dalamnya ditampilkan pada suatu latar atau latar belakang melalui lakuan dalam satu situasi.

Tulisan ini akan menelaah sebuah cerpen karya penulis Palembang yang berjudul Celoteh Sepatu karya Alpansyah dengan tinjauan stilistika. Penulis tertarik untuk meneliti cerpen ini berawal dari keinginan untuk mengangkat dan menggali karya seni yang dihasilkan oleh penulis Sumatra Selatan khususnya di Palembang yang menunjukkan hidupnya nuansa kesusastraan dan kesenian di kalangan seniman sastra di bumi Sriwijaya. Selain itu, cerpen ini kaya akan unsur stilistik dan gaya bercerita yang humoris yang menunjukkan kepiawaian penulisnya dalam menceritakan kondisi kehidupan yang dialami oleh tokoh utama dalam cerpen ini.

 

 

2. Masalah

Berdasarkan paparan yang dikemukakan dalam pendahuluan, masalah yang menjadi pokok perhatian penulis adalah:

1)      Bagaimanakah diksi cerpen Celoteh Sepatu?

2)      Bagaimanakah gaya bahasa cerpen Celoteh Sepatu?

 

3. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang dirumuskan terdahulu. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk

1)   memaparkan bentuk diksi cerp

 

 

4. Kerangka Teori

Kerangka teori penelitian ini berawal dari pernyataan Wellek dan Warren (1993:229) yang menyebutkan bahwa analisis stilistik akan membawa keuntungan besar bagi studi sastra yang dapat menentukan suatu prinsip yang mendasari kesatuan karya sastra dan dapat juga menemukan suatu tujuan estetika umum yang menonjol dalam sebuah karya sastra dari keseluruhan unsurnya.

Stilistika (stylistics) adalah (1) ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan; (2) penerapan linguistik pada penelitian gaya bahasa (Kridalaksana, 1982:157). Beberapa pengertian itu dapat diringkas demikian: stilistika adalah ilmu tentang gaya (bahasa). Stilistika sesungguhnya tidak hanya merupakan studi gaya bahasa dalam kesusastraan, tetapi juga dalam bahasa pada umumnya. Turner dalam Junus (1989:xvii) mengatakan bahwa bagaimanapun stilistika adalah bagian dari linguistik yang memusatkan perhatian pada variasi penggunaan bahasa, terutama bahasa dalam kesusastraan.

Gaya bahasa adalah (1) pemanfaatan kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis; (2) pemakaian ragam tertentu utnuk memperoleh efek tertentu; (3) keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra (Kridalaksana, 1982:49-50). Dalam buku On Defining Style, Enkvist dalam Junus (1989:4) menyatakan bahwa gaya adalah (1) bungkus yang membungkus inti pemikiran yang telah ada sebelumnya; (2) pilihan antara berbagai-bagai pernyataan yang mungkin; (3) sekumpulan ciri pribadi; (4) penyimpangan norma atau kaidah; (5) sekumpulan ciri kolektif; dan (6) hubungan antarsatuan bahasa yang dinyatakan dalam teks yang lebih luas dari kalimat.

Seperti diketahui bahwa stilistika menjadi “jembatan” yang menghubungkan antara kritik sastra di satu pihak dan linguistik di pihak lain. Hubungan itu tercipta karena stilistika mengkaji wacana sastra dengan orientasi linguistik. Stilistika mengkaji cara sastrawan dalam menggunakan unsur dan kaidah bahasa serta efek yang ditimbulkan oleh penggunaannya itu. Stilistika meneliti ciri khas penggunaan bahasa dalam wacana sastra, ciri yang membedakannya dengan nonsastra, dan meneliti deviasi terhadap tata bahasa sebagai sarana literer. Atau dengan kata lain, stilistika meneliti fungsi puitik bahasa (Sudjiman, 1993:3).

Secara umum, ruang lingkup telaah stilistika mencakupi diksi atau pilihan kata (pilihan leksikal), struktur kalimat, majas, pencitraan, pola rima, dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam karya sastra (Sudjiman, 1993:13-14). Atau dengan kata lain, aspek-aspek bahasa yang ditelaah dalam studi stilistika meliputi intonasi, bunyi, kata, dan kalimat, sehingga lahirlah gaya intonasi, gaya bunyi, gaya kata, dan gaya kalimat (Pradopo, 1993:10).

Diksi atau pilihan leksikal sangat menentukan dalam penyampaian makna suatu karya sastra. Kata, rangkaian kata, dan pasangan kata yang dipilih dengan seksama dapat menimbulkan pada diri pembaca suatu efek yang dikehendaki pengarang, misalnya menonjolkan bagian tertentu suatu karya, menggugah simpati atau empati pembaca, atau pun menghilangkan monotoni. Untuk mencapai efek tertentu dapat digunakan sarana fonologis, gramatikal, atau leksikal (Sudjiman, 1993:22). Oleh karena itu, sangatlah penting diketahui kata dan ungkapan atau butir leksikal mana yang sebaiknya digunakan dalam konteks tertentu agar informasi yang hendak disampaikan atau kesan yang hendak ditimbulkan terwujud.

Dalam telaah stilistika, kemungkinan pendekatan yang dapat digunakan ada dua macam, yaitu (1) pendekatan yang menekankan perhatiannya pada analisis sistem linguistik karya sastra yang dilanjutkan dengan interpretasi ciri-cirinya dilihat dari tujuan estetis karya sastra sebagai makna total; dan (2) pendekatan yang menekankan perhatiannya pada pengamatan deviasi dan distorsi terhadap pemakaian bahasa yang normal dan berusaha menemukan tujuan estetisnya (Wellek dan Warren, 1993:226).

5. Sumber Data

Sumber data yang menjadi objek analisis dalam penelitian ini adalah cerpen Celoteh Sepatu karya Alpansyah. Cerpen ini diterbitkan di surat kabar Sriwijaya Post dalam halaman Budaya pada tanggal 1 Agustus 2004.

 

6. Metode Penelitian

6.1 Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Surachmad (1985:131-139), metode deskriptif adalah metode penelitian yang dilakukan seobjektif mungkin, semata-mata berdasarkan kepada data yang ada. Metode ini berbentuk pengamatan yang menitikberatkan pada analisis isi. Metode deskriptif yang berjenis analisis bertujuan untuk mengungkapkan isi sebuah karya sastra dalam hal ini cerpen Celoteh Sepatu karya Alpansyah.

 

6.2. Teknik

Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik-teknik tertentu. Teknik yang dipergunakan adalah teknik catat atau pengamatan yang lebih menekankan pada aspek nilai rasa dan proses berpikir. Dengan teknik catat ini, peneliti sebagai instrumen kunci melakukan pengamatan secara cermat, terarah dan teliti terhadap sumber data sehingga terjadi penyeleksian ketika memilih data dari sumber data. Dalam teknik catat atau pengamatan ini digunakan instrumen penelitian untuk membantu kelancaran proses kerja. Namun, instrumen yang digunakan sangat sederhana berupa kartu catatan yang dijadikan tempat mencatat hal-hal yang penting dan menarik perhatian dari objek yang diteliti. Misalnya, jika ditemukan dalam kalimat-kalimat cerpen Celoteh Sepatu unsur stilistik yang dinyatakan dalam subbagian masalah, dicatat dalam kartu tersebut.

 

7. Pembahasan

7.1. Diksi

7.1.1 Pemanfaatan Sinonim

Sejumlah kata dalam bahasa dapat digunakan secara lugas, misalnya pada bidang keilmuwan makna denotatifnya dominan. Akan tetapi lebih banyak kata yang dalam penggunaannya harus diperhatikan benar makna konotatifnya. Dalam cerpen Celoteh Sepatu, ditemukan adanya pemanfaatan sinonim seperti pada contoh berikut.

“… syarat-syarat di lambungku mulai bergejolak. Penghuni “kampung tengah itu” mulai berdemonstarasi menuntut hak-haknya segera diperhatikan yaitu waktu makan siang yang hampir lewat.”

 

Kata lambung dan kampung tengah itu bersinonim. Pengarang menggunakan frasa kampung tengah sebagai pengganti kata lambung untuk memberi kesan bahwa tokoh si aku memang sangat lapar sehabis pulang mengajar.

Pemanfaatan sinonim bisa juga ditemukan dalam kutipan berikut.

“ Mereka membalas dengan mencium tanganku sebagai tanda hormat melepas kepergian sang pencari nafkah.”

 

Frasa sang pencari nafkah digunakan sebagai pengganti aku. Pencari nafkah di sini memberikan kesan bahwa si tokoh aku masih memiliki kebanggaan pada dirinya meskipun dia hanya seorang guru yang berpenghasilan pas-pasan. Ini juga menunjukkan rasa tanggung jawab si aku terhadap istri dan anak-anaknya.

Selain itu, pemanfaatan sinonim yang lain ditemukan juga dalam kalimat:

“Tidak lama kemudian bus pun bergerak meninggalkan bocah-bocah penjual jajanan. Anak-anak kurang beruntung itu kini menggantikan aku duduk di bangku reot …”

Frasa bocah-bocah penjual jajanan mengacu kepada  anak-anak kurang beruntung. Si pengarang sengaja menggantikannya dengan frasa anak-anak kurang beruntung untuk menunjukkan bagaimana sulitnya kehidupan yang dihadapi oleh anak-anak tersebut. Frasa ini juga memberikan kesan bahwa anak-anak itu hidup dari keluarga yang tak mampu sehingga dampak dari kondisi kehidupan itu memaksa mereka untuk melakukan sesuatu (dengan berjualan) membantu mencari penghasilan untuk orang tua mereka tanpa memperdulikan masa depan.

 

 

7.1.2 Pemanfaatan Kata Daerah

Kata-kata dari bahasa daerah sering digunakan dalam karya sastra yang berlatar tempat daerah yang bersangkutan atau tokohnya berasal dari daerah tertentu. Dengan demikian, penggunaan kata-kata daerah menjadi sarana pelataran atau sarana penokohan.

Dalam cerpen Celoteh Sepatu ini, pengarang menggunakan kata-kata daerah yang bervariasi. Ini menunjukkan luasnya wawasan si pengarang yang tertuang dalam dialog antara tokoh aku dengan sepatu bututnya. Adapun contoh pemanfaatan kata daerah tersebut dapat kita lihat pada kutipan berikut.

“…. Apa yang bisa digugu dan ditiru dari seorang guru kere!”

 

Kata gugu berasal dari bahasa jawa yang berarti dapat diikut. Ini memberikan kesan kesederhanaan si aku dan tokoh sepatu serta keakraban hubungan kedua tokoh tersebut.

Pemakaian kata daerah terdapat juga dalam kalimat berikut

“…. Yuk Ara sudah nagih!”

“…. Salim Nak, Bapak mau berangkat kerja.”

 

Kata Yuk berasal dari bahasa Palembang. Kata Yuk lengkapnya Ayuk berarti kakak perempuan sedangkan salim berasal dari bahasa Jawa yang juga dipakai dalam bahasa Palembang sehari-hari. Kata salim dalam konteks dialog di atas bermakna bersalaman

Pemanfaatan kata-kata daerah seperti yang terdapat pada contoh di atas menunjukkan luasnya pengetahuan dan pengalaman si pengarang terhadap pemakaian kosa kata daerah. Dalam cerpen ini bahasa Palembang dan bahasa Jawa sangat dominan dipakai oleh pengarang. Ini menunjukkan keakraban si pengarang terhadap kedua daerah tersebut.

 

 

 

7.1.3 Pemanfaatan Kata Asing

Penggunaan kata asing dalam percakapan dapat menimbulkan kesan atau sekurang-kurangnya dimaksudkan untuk menimbulkan kesan tertentu, misalnya “intelektual”, “sok intelektual”, atau kesan “wah!” Dalam cerpen Celoteh Sepatu ini terdapat beberapa kalimat yang memanfatkan kata-kata asing, seperti:

Sorry, Bung ! …..”

“ Opps, just kidding !”

 

Kedua ungkapan itu diucapkan oleh si tokoh sepatu. Ini memberikan kesan watak dari tokoh si sepatu yang sok intelek menutupi keadaan sebenarnya.

Tokoh si aku juga memanfaatkan kata asing ini seperti yang terdapat pada kalimat berikut.

“ Tetapi pintaku lakukakanlah tugasmu dengan baik walau sering dipandang sebelah mata dan jauh dari prestise.”

Kata prestise berasal dari bahasa Inggris “prestige” yang berarti wibawa. Pemakaian kata ini menunjukkan luasnya pengetahuan si aku yang seorang guru. Bahkan pemanfaatan kata ini diungkapnya dengan kalimat yang santun sehingga memberikan kesan kebersahajaan dan kerendahan hatinya. Penggunaan kata asing yang diucapkan si aku tidak terasa adanya kesan “sok intelek” seperti pada tokoh sepatu.

 

7.2 Gaya Bahasa

7.2.1 Metafor dan Anomali

“Metafor atau kiasan adalah majas yang mengandung perbandingan yang tersirat sebagai pengganti kata atau ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan atau kesejajaran makna diantaranya” (Sudjiman, 1986:41). Di dalam perbandingan yang tersirat itulah sering terdapat anomali, yaitu “penyimpangan atau kelainan dipandang dari sudut konvensi gramatikal atau semantik suatu bahasa” (Kridalaksana, 1982:12). Perhatikan contoh berikut.

“… keletihan sehabis mengajar di hari itu tumpah pada sebuah bangku yang reot di depan warung nasi dekat jalan itu.”

Keletihan merupakan benda abstrak sedangkan tumpah dapat terjadi pada benda kongkret. Walaupun bersifat anomali maknanya dapat dipahami. Ini memberikan gambaran yang kongkret tentang perasaan  letih yang tak tertahankan (abstrak) yang melanda tokoh aku.

 

7.2.2 Personifikasi

Dalam majas ini sesuatu yang bukan manusia dibandingkan atau diandaikan sebagai insan. Sifat-sifat insan diproyeksikan pada suatu barang tak bernyawa. Contoh personifikasi tampak jelas pada judul cerpen ini Celoteh Sepatu. Sepatu sebagai benda mati tentu tidak dapat berceloteh. Lazimnya celoteh itu dipadankan dengan kata anak menjadi celoteh anak. Ini sebuah insanan yang merupakan penyimpangan semantis.

Personifikasi juga terdapat dalam kalimat berikut.

“Sol sepatuku menganga seolah siap mengejekku”.

 

7.2.3 Repetisi

Majas repetisi menegaskan sesuatu dengan mengulangi bagian yang dianggap penting sehingga menimbulkan rasa semangat/dorongan. Majas repetisi ini terdapat dalam cerpen Celoteh Sepatu seperti yang tampak dalam kalimat berikut:

“Dengung suara kendaraan dari kejauhan semakin lama semakin jelas, semakin kencang, semakin dekat, lalu mendesing”.

 

Majas repetisi pada kalimat di atas ditunjukkan dengan pemakaian kata semakin yang berulang. Ini memberi kesan adanya daya semangat dan dorongan pada tokoh aku dalam penantiannya menunggu tumpangan bis.

Selain itu pemakaian repetisi juga terdapat dalam kalimat berikut.

Percuma- percuma …. Semua idealisme yang kau katakan di depan kelas, semua prinsip yang kau tanamkan kepada anak didikmu tidak akan berarti apa-apa bila melihat keadaanmu sekarang”.

Pemanfaatan majas repetisi pada kalimat itu ternyata mengandung makna pesimis. Majas repetisi pada contoh di atas ditnjukkan dengan pengulangan pemakaian kata percuma dan semua.  Makna pesimis ini bisa terjadi karena konteks kalimatnya berbeda dengan kalimat sebelumnya.

Dari kedua contoh itu kita bisa memahami bahwa selain menimbulkan rasa semangat, ternyata repetisi bisa juga menimbulkan makna pesimis. Hal ini tergantung kepada konteks kalimatnya.

 

7.2.4 Majas Pertautan Pars Pro Toto

Majas pertautan pro toto menyebutkan nama bagian sebagai pengganti keseluruhannya (Sudjiman, 1986:56). Penyimpangan semantis yang terdapt padanya ternyata tidak membingungkan, bahkan menimbulka  citra visual yang jelas seperti dalam kalimat:

Wajah mereka mengantar kepergianku sambil berharap agar aku lekas kembali …”

Kata wajah menunjukkan majas pertautan pars pro toto. Ini memberikan kesan kedekatan hubungan tokoh aku dengan keluargnya.

 

 

8. Penutup

Kejelian pengarang dalam memanfaatkan diksi dan beberapa bentuk gaya bahasa membuat cerita pendek ini wajar dan hidup. Ketepatan pilihan itu juga menimbulkan rasa akrab antara pembaca dengan tokoh, seolah-olah pembaca berada di tengah-tengah mereka dan mengalami semua peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita.

Selain itu, dalam cerita pendek ini penyair membangun kisahnya sebagian besar dalam bentuk dialog yang terkesan humoris sehingga pembaca hanyut menikmati aliran-aliran dialog yang terasa segar mengungkapkan kesederhanaan kehidupan seorang guru yang berpenghasilan pas-pasan tetapi bersyukur dan masih dapat menikmati kehidupannya dengan bersahaja dan selalu optimis terhadap perubahan kondisi kehidupannya di masa depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alpansyah. 2000. Celoteh Sepatu. Dalam Sriwijaya Post, 1 Agustus 2004. Palembang.

Hendy, Zaidan. 1989. Pelajaran Sastra. Jakarta : Gramedia.

Junus, Umar. 1989. Stilistik : Satu Pengantar. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.

Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta : Gramedia.

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1993. “Stilistika”. Makalah Penataran Sastra di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Sudjiman, Panuti. 1986. Kamus Istilah Sastra. Jakarta : Gramedia.

______________. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta : Pustaka Utama Graffiti.

Surachmad, Winarno. 1985. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Angkasa.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: