Pengenalan Teori Sastra dan Studynya

BAB I

SASTRA DAN STUDI SASTRA

Pengertian Teori Sastra
Secara umum, yang dimaksudkan dengan teori adalah suatu sistem ilmiah

atau pengetahuan sistematik yang menetapkan pola pengaturan hubungan antara

gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep atau uraian tentang hukum-hukum

umum suatu objek ilmu pengetahuan dari sudut pandang tertentu. Suatu teori

dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya atau dibantah kesahihannya

pada objek atau gejala yang diamati tersebut.

Menurut Rene Wellek dan Austin (1993: 37-46) dalam wilayah sastra

perlu terlebih dahulu ditarik perbedaan antara sastra di satu pihak dengan teori

sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra di pihak lain. Sastra adalah suatu kegiatan

kreatif. Sedangkan teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra merupakan cabang

ilmu sastra. Teori sastra adalah studi prinsip, kategori, kriteria yang dapat diacu

dan dijadikan titik tolak dalam telaah di bidang sastra. Sedangkan studi terhadap

karya konkret disebut kritik sastra dan sejarah sastra. Ketiganya berkaitan erat

sekali. Tidak mungkin kita menyusun teori sastra tanpa kritik sastra dan teori

sastra, kritik sastra tanpa teori sastra dan sejarah sastra (Wellek & Warren, 1993:

39).

Jan van Luxemburg dkk. (1986) menggunakan istilah ilmu sastra dengan

pengertian yang mirip dengan pandangan Wellek & Warren mengenai teori sastra.

Page 2

                                     teori sastra.txt

Menurut mereka, ilmu sastra adalah ilmu yang mempelajari teks-teks sastra secara

sistematis sesuai dengan fungsinya di dalam masyarakat. Tugas ilmu sastra adalah

meneliti dan merumuskan sastra secara umum dan sistematis. Teori sastra

merumuskan kaidah-kaidah dan konvensi-konvensi kesusastraan umum.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup sastra (literature) adalah kreativitas penciptaan, sedangkan

ruang lingkup studi sastra (literary studies) adalah ilmu dengan sastra sebagai

3
objeknya. Sastra, dengan demikian berfokus pada kreativitas, sedangkan studi

sastra berfokus pada ilmu. Pertanggungjawaban studi sastra adalah logika ilmiah.

Karena ruang lingkup sastra adalah kreativitas penciptaan, maka karya sastra

(puisi, drama, novel, cerpen) adalah sastra. Namun, karena kritik sastra juga

merupakan kreativitas dalam menanggapi karya sastra dan masalah kreativitas

penciptaan lain dalam sastra, maka kritik sastra dalam bentuk esai tidak lain

adalah sastra juga. Kritik sastra yang benar bukanlah kritik sastra yang asalasalan,

tetapi berlandaskan pada logika yang dapat dipertanggungjawabkan.

Apakah dasar kritik sastra hanya akal sehat semata atau teori sastra

tertentu bukan masalah, selama logika dalam kritik sastra itu memenuhi kriteria

logika dalam arti yang sebenarnya. Logika sebagai sebuah ilmu, sementara itu

adalah metode dan prinsip untuk membedakan antara pemikiran yang baik (benar)

dan pemikiran yang jelek (tidak benar). Makna sastra dan studi sastra dengan

demikian dapat bertumpang-tindih.

Cabang Studi Sastra
Dalam studi sastra ada tiga cabang, yaitu teori sastra, kritik sastra, dan

sejarah sastra. Teori sastra adalah kaidah-kaidah untuk diterapkan dalam analisis

karya sastra. Kritik sastra adalah penerapan kaidah-kaidah tertentu dalam analisis

karya sastra. Sejarah sastra adalah sejarah perkembangan sastra. Tiga cabang

tersebut saling terkait dan semuanya bersumber pada sastra, khususnya karya

sastra sendiri.

Karya sastra adalah (karya) seni. Karena itu, tiga cabang studi sastra itu

bersifat seni pula. Teori sastra adalah teori yang mengenai karya sastra yang

bersifat seni sastra. Kritik sastra adalah kritik terhadap karya sastra yang bersifat

seni sastra. Sejarah sastra adalah sejarah sastra yang bersifat seni sastra pula.

Sementara itu, teori sastra kadang-kadang pula dinamakan critical theory karena

untuk melakukan kritik sastra dengan menerapkan teori sastra, seseorang dituntut

untuk mempunyai kemampuan untuk berpikir kritis.

4
Page 3

teori sastra.txt
Lima Cabang Studi Sastra
Kecuali tiga genre yang sudah disebutkan tadi, studi sastra juga memiliki

lima cabang sastra, yaitu:

1.

Sastra umum

2.

Sastra nasional

3.

Sastra regional

4.

Sastra dunia

5.

Sastra bandingan

Lima pembagian studi sastra di atas mencakupi tiga cabang studi sastra,

yakni teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Setiap macam studi sastra yang

lima tersebut dengan demikian dapat dikaji dengan teori sastra, kritik sastra, dan

sejarah sastra. Atau dengan kata lain, teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra

dapat diterapkan pada sastra umum, sastra nasional, sastra regional, sastra dunia,

dan sastra bandingan.

a.

Sastra Umum

Sastra pada umumnya tidak dikaitkan dengan bangsa, negara, atau wilayah

geografi tertentu. Karena tidak terkait dengan bagsa, negara, atau wilayah

geografi tertentu, sastra umum berkaitan dengan gerakan-gerakan

internasional, sebagai mana misalnya poetics dan teori sastra. Poeetics

Aristoteles dan teori sastra strukturalisme, misalnya, menyebar ke seluruh

dunia dan diaplikasikan juga di seluruh dunia. Sastra umum, dengan

demikian, kadang-kadang juga dinamakan sastra universal, yaitu sastra

yang nilai-nilainya ada dan dapat diterapkan di seluruh dunia. Sastra

umum, sekali lagi, juga dapat bermakna poetics dan teori sastra.

Makna teori sastra sudah jelas, yaitu kaidah-kaidah untuk diterapkan

dalam karya sastra. Poetics atau puitika adalah ilmu mengenai:

(1) Keberhasilan

sastrawan dalammenciptakan karya sastra. Sastrawan

yang mampu menulis karya sastra yang baik memiliki kemampuan

puitik yang tinggi, sedangkan yang tidak mampu menulis karya sastra

yang baik, kemampuan puitikanya rendah.

5

(2) Keberhasilan pembaca dalam menghayati karya sastra. Pembaca yang

mampu menghayati karya sastra dengan baik adalah pembaca yang

kemampuan puitikanya tinggi , sebaliknya, yang tidak mampu

menghayati karya sastra yang baik adalah pembaca yang kemampuan

Page 4

teori sastra.txt
puitikanya rendah.

b.

Sastra Nasional

Yaitu sastra bangsa atau negara tertentu, misalnya sastra Indonesia, sastra

Arab, sastra Inggris, sastra Cina, sastra Perancis, dan lain-lain. Tempat

seorang sastrawan dalam konteks sastra nasional pada umumnya tidak

ditentukan oleh bahasa karya sastra sang sastrawan, tetapi oleh

kewarganegaraannya. Sastrawan Singapura yang menulis dalam bahasa

Inggris adalah sastrawan nasional Singapura, dan sastrawan Indoa yang

menulis dalam bahasa Inggris adalah juga sastrawan sastra India.

Sementara itu, sastrawan berkebangsaan Amerika yang menulis dalam

bahasa Yiddish, seperti Isaac Bashevis Singer, juga dianggap sastrawan

sastra Amerika.

c.

Sastra Regional

Sastra dari kawasan geofrafi tertentu yang mencakup beberapa negara,

baik yang mempergunakan bahasa yang sama maupun yang

mempergunakan bahasa yang berbeda, seperti sastra ASEAN (sastra

negara-negara anggota ASEAN), sastra nusantara (sastra berbahasa

melayu, Indonesia, Malaysia, Singapura), sastra Arab (yang mencakupi

negara-negara di kawasan teluk dan timur tengah).

d.

Sastra Dunia

Sastra yang reputasi pada sastrawannya dan karya-karyanya diakui secara

internasional. Sebuah karya sastra dapat dianggap sebagai karya sastra

besar dan diakui secara internasional manakala karya sastra itu ditulis

dengan bahasa yang baik, dan dengan matlamat untuk menaikkan harkat

6

dan derajat manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Pemikiran

mengenai sastra dunia sangat mempengaruhi konsep sastra bandingan,

khususnya pada tahap-tahap awal.

Istilah sastra dunia awalnya dipakai oleh Johann Wolgang von

Goethe (1749-1832), seorang sastrawan dan pemikir Jerman. Dia sangat

menguasai karya-karya besar sastra dalam bahasa aslinya, khususnya

bahasa Inggris, Perancis, dan Itali. Perhatiannya kepada dunia Timur juga

sangat besar, antara lain pada dunia Islam dan Cina.

e.

Sastra Bandingan

Sastra bandingan pada awalnya datang dari studi bandingan ilmu

pengetahuan, kemudian diikuti oleh lahirnya studi bandingan agama.

Setelah studi bandingan agama lahir, lahir pulalah sastra bandingan.

Karena itu, sastra bandingan relatif masih muda, sebelum abad kesembilan

belas, tam tampak adanya sastra bandingan.

Istilah sastra bandingan pertama kali muncul di Eropa ketika batas

berbagai negara di Eropa mengalami perubahan, dan karena itu

Page 5

                                        teori sastra.txt

menimbulkan pemikiran mengenai kebudayaan nasional dan sastra

nasional. Apalagi, pada waktu itu perhatian orang-orang Eropa terhadap

Amerika mencapai tahap-tahap yang penting. Masalah kebudayaan

nasional, jati diri bangsa, dan sastra nasional juga muncul di negara-negara

bekas jajahan. Sementara itu, untuk memahami diri sendiri seseorang perlu

menengok ke luar dan membandingkan dirinya dengan keadaan di luar

dirinya. Karena itu, tumbuhlag sastra bandingan yang membandingkan

karya-karya bekas jajahan dengan bekas penjajah dan juga antara sesama

negara yang pernah dijajah.

7
BAB II

FORMALISME RUSIA

Perkembangannya
Pada umumnya Formalisme Rusia dianggap sebagai pelopor bagi tumbuh

dan berkembangnya teori-teori strukturalisme. Munculnya Formalisme Rusia

tidak dapat dipisahkan dari gerakan Futurisme. Antara tahun 1910-1915 di Italia

dan Rusia muncul gerakan avant garde yang dikenal sebagai gerakan Futurisme

(masa depan). Secara nihilistis mereka menolak dan memberontak terhadap tradisi

dan kebudayaan. Mereka memuja zaman modern dengan mesin-mesin yang

bergerak cepat karena berperan dalam membebaskan rakyat tertindas. Gerakan ini

sangat radikal sehingga mendorong ke arah kekerasan dan perang. Di Rusia ada

kaitan gerakan ini dengan Revolusi Bolsyevik, di Italia dengan Fasisme (Hartoko,

1986: 51).

Menurut kaum futuris Rusia seperti Mayakovski dan Pasternak, sastra

hendaknya menyesuaikan diri dengan zaman modern yang bergerak cepat dan

bentuknya tidak mengenal ketenangan, baik dalam tema (teknik dan mesin)

maupun dalam bentuknya (otonomi bahasa dan seni). Kaum futuris inilah yang

mendorong studi sastra dengan meneliti ciri kesastraan dalam teks sastra secara

otonom. Formalisme Rusia juga timbul sebagai reaksi terhadap aliran positivisme

pada abad ke-19 yang terlalu memperhatikan data-data biografis dalam studi

ilmiah dan cenderung menganggap yang ilahi sebagai yang absolut. Mereka

menawarkan materialisme abad mesin sebagai wilayah puisi yang mendukung

revolusi. Para seniman (yakni kaum proletar) menduduki peranan sebagai

penghasil kerajinan tangan (produk puisi dianggap kerja teknis). Bagi mereka,

seniman benar-benar seorang pembangun dan ahli teknik, seorang pemimpin dan

seorang pemuka.

Aliran formalisme Rusia hidup di antara tahun 1915-1930 dengan tokohtokohnya

seperti Roman Jakobson, Sjklovsky, Eichenbaum, dan Tynjanov. Pada

tahun 1930 keadaan politik (komunisme) mengakhiri kegiatan mereka. Beberapa

orang dari kelompok ini termasuk Rene Wellek dan Roman Jakobson beremigrasi

Page 6

teori sastra.txt
8
ke Amerika Serikat. Di sana mereka mempengaruhi perkembangan new criticism

selama tahun 1940-1950.

Perlu diperhatikan bahwa para formalis Rusia bukan merupakan sebuah

kelompok yang homogen dan kompak pandangannya. Namun demikian fokus

utama mereka adalah meneliti teks-teks yang dianggap sebagai teks kesusastraan.

Adapun unsur yang khas itu adalah bentuk baru yang menyimpang dari bentuk

bahasa biasa. Otomatisme didobrak sehingga pembaca merasa heran dan asing

terhadap bentuk menyimpang itu dan membuatnya memandang kenyataan dengan

cara baru. Bahasa sehari-hari disulap, dimanipulasi dengan berbagai teknik

metrum, irama, sintaksis, struktur gramatikal, dan sebagainya.

Pokok Gagasan
Para formalis membuat sejumlah besar analisis tentang karya-karya sastra

untuk merumuskan pengertian dan dalil-dalil umum mengenai karya sastra.

Beberapa pokok gagasan, istilah dan dalil utama formalisme antara lain sebagai

berikut.

1. Defamiliarisasi dan Deotomatisasi

Menurut kaum formalis, sifat kesastraan muncul sebagai akibat

penyusunan dan penggubahan bahan yang semula bersifat netral. Para pengarang

menyulap teks-teks dengan efek mengasingkan dan melepaskannya dari

otomatisasi. Proses penyulapan oleh pengarang ini disebut defamiliarisasi, yakni

teknik membuat teks menjadi aneh dan asing. Istilah defamiliarisasi dikemukakan

oleh Sjklovski untuk menyebut teknik bercerita dengan gaya bahasa yang

menonjol dan menyimpang dari biasanya. Dalam proses penikmatan atau

pencerapan pembaca, efek deotomatisasi dirasakan sebagai sesuatu yang aneh

atau defamiliar. Proses defamiliarisasi itu mengubah tanggapan kita terhadap

dunia.

Dengan teknin penyingkapan rahasia, pembaca dapat meneliti dan

memahami sarana-sarana (bahasa) yang dipergunakan pengarang. Teknik-teknik

itu misalnya menunda, menyisipi, memperlambat, memperpanjang, atau

9
mengulur-ulur suatu kisah sehingga menarik perhatian karena tidak dapat

ditanggapi secara otomatis.

2. Teori Naratif

Dengan menerima konsep struktur, kaum formalis Rusia memperkenalkan

dikotomi baru antara struktur (yang terorganisasi) dengan bahan material (yang

tak terorganisir), menggantikan dikotomi lama antara bantuk dan isi. Jadi struktur

Page 7

                                     teori sastra.txt

sebuah teks sastra mencakup baik aspek formal maupun semantik. Kaum formalis

Rusia memberikan perhatian khusus terhadap teori naratif. Untuk kepentingan

analisis teks naratif, mereka menekankan perbedaan antara cerita, alur, dan motif

(Fokkema & Kunne-Ibsch, 1977: 26-30).

Menurut mereka, yang sungguh-sungguh bersifat kesusastraan adalah alur,

sedangkan cerita hanyalah bahan mentak yang masih membutuhkan pengolahan

pengarang. Motif merupakan kesatuan terkecil dalam peristiwa yang diceritakan.

Alur adalah penyusunan artistik motif-motif sebagai akibat penerapan penyulapan

terhadap cerita. Alur bukan hanya sekedar susunan peristiwa melainkan juga

sarana yang dipergunakan pengarang untuk menyela dan menunda penceritaan.

Digresi-digresi, permainan-permainan tipograifs, pemindahan bagian-bagian teks

serta deskripsi-deskripsi yang diperluas merupakan sarana yang ditujukan untuk

menarik dan mengaktifkan perhatian pembaca terhadap novel-novel. Cerita itu

sendiri hanya merupakan rangkaian kronologis dari peristiwa-peristiwa yang

diceritakan.

3. Analisis Motif

Secara sangat umum, motif berarti sebuah unsur yang penuh arti dan yang

diulang-ulang di dalam satu atau sejumlah karya. Di dalam satu karya, motif

merupakan unsur arti yang paling kecil di dalam cerita. Pengertian motif di sini

memperolen fungsi sintaksis. Bila motif itu dibaca dan direfleksi maka pembaca

melihat motif-motif itu dalam keseluruhan dan dapat menyimpulkan satu motif

dasarnya. Bila motif dasar tadi dirumuskan kembali secara metabahasa, maka kita

akan menjumpai tema sebuah karya. Misalnya dalam cerita Panji dijumpai tema

10
cinta sejati mengatasi segala rintangan. Bila berkaitan dengan berbagai karya

(pendekatan historis-komparatif), sebuah kesatuan semantis yang selalu muncul

dalam karya-karya itu. Misalnya motif pencarian seorang ayah atau kekasih (motif

Panji yang dijumpai dalam berbagai cerita di Asia Tenggara), atau motif Oedipus,

dan sebagainya (Hartoko, 1986: 291).

Boris Tomashevsky menyebut motif sebagai satuan alur terkecil. Ia

membedakan motif terikat dengan motif bebas. Motif terikat adlaah motif yang

sungguh-sungguh diperlukan oleh cerita, sedangkan motif bebas merupakan aspek

yang tidak esensial ditinjau dari sudut pandang cerita. Meskipun demikian, motif

bebas justru secara potensial merupakan fokus seni karena memberikan peluang

kepada pengarang untuk menyisipkan unsur-unsur artistik ke dalam keseluruhan

alurnya.

4. Fungsi Puitik dan Objek Estetik

Istilah fungsi mengacu pada penempatan suatu karya sastra dalam suatu

modul komunikasi yang meliputi relasi antara pengarang, teks, dan pembaca.

Isitlah ini muncul sebagai reaksi terhadap studi sastra Formalisme yang terlalu

terpaku pada aspek sarana kesusastraan tanpa menempatkannya dalam konteks

tertentu. Menurut Jakobson, dalam setiap ungkapan bahasa terdapat sejumlah

Page 8

                                       teori sastra.txt

fungsi, misalnya fungsi referensial, emotif, konatif, dan puitik, yang berkaitan

dengan beberapa faktor seperti konteks, juru bicara, pengarang, penerima,

pembaca, dan isi atau pesan bahasa itu sendiri. Dalam pemakaian bahasa sastra,

fungsi puitis paling dominan. Pesan bahasa dimanipulasi secara fonis, grafis,

leksikosemantis sehingga kita menyadari bahwa pesan yang bersangkutan harus

dibaca sebagai karya sastra.

Jan Mukarovsky, seorang ahli strukturalisme Praha, memperkenalkan

istilah “objek estetik” sebagai lawan dari istilah “artefak”. Artefak adalah karya

sastra yang sudah utuh dan tidak berubah. Artefak itu akan menjadi objek setetik

bila sudah dihayati dan dinikmati oleh pembaca. Dalam pengalaman pencerapan

pembaca, karya sastra dapat memiliki arti yang berbeda-beda tergantung pada

harapan pembacanya.

11
Sumbangan penting kaum formalis bagi ilmu sastra adalah secara prinsip

mereka mengarahkan perhatian kita kepada unsur-unsur kesastraan dan fungsi

puitik. Sampai sekarang masih banyak dipergunakan istilah teori sastra dan

analisis sastra yang berasal dari kaum Formalis.

12
BAB III

NEW CRITICISM

New criticism merupakan aliran kritik sastra di Amerika Serikat yang

berkembang antara tahun 1920-1960. Istilah new criticism pertama kali

dikemukakan oleh John Crowe Ransom dalam bukunya The New Criticism (1940)

dan ditopang oleh I.A. Richard dan T.S. Eliot. Sejak Cleanth Brooks dan Robert

Penn Warren menerbitkan buku Understanding Poetry (1938), model kritik sastra

ini mendapat perhatian yang luas di kalangan akademisi dan pelajar Amerika

selama dua dekade. Penulis new criticism lainnya yang penting adalah: Allen

Tate, R.P. Blackmur, dan William K. Wimsatt, Jr. (Abrams, 1981: 109-110).

Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap kritik sastra sebelumnya yang

terlalu fokus pada aspek-aspek kehidupan dan psikologi pengarang serta sejarah

sastra. Para new criticism menuduh ilmu dan teknologi menghilangkan nilai

perikemanusiaan dari masyarakat dan menjadikannya berat sebelah. Manurut

mereka, ilmu tidak memadai dalam mencerminkan kehidupan manusia. Sastra dan

terutama puisi merupakan suatu jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan lewat

pengalaman. Tugas kritik sastra adalah memperlihatkan dan memelihara

pengetahuan yang khas, unik dan lengkap seperti yang ditawarkan kepada kita

oleh sastra agung (Van Luxemburg dkk, 1988: 52-54).

Page 9

                                        teori sastra.txt

Sekalipun para new criticism tidak selalu kompak, mereka sepakat dalam

memandang karya sastra sebagai sebuah kesatuan organik yang telah selesai,

sebuah gejala estetik yang telah melepaskan kondisi subjektifnya pada saat karya

itu diselesaikan. Hanya dengan menganalisis susunan dan organisasi sebuah karya

sastra, dapat diperlihatkan inti karya seni itu menurut arti yang sesungguhnya.

Menurut T.S. Eliot, sebuah puisi pertama-tama adalah puisi, bukan sesuatu yang

lain, suatu objek yang otonom dan lengkap.

Para new criticism menganggap berbagai model kritik yang berorientasi

kepada aspek-aspek di luar karya sastra sebagai suatu kesalahan besar. Orientasi

kepada maksud pengarang disebut sebagai suatu penalaran yang sesat. Makna

sebuah puisi juga jangan dikacaukan dengan kesan yang diperoleh pembaca

13
karena kita dapat terjerumus dalam struktur sintaksis dan semantiknya. Untuk

mengetahui arti itu kita harus mempergunakan pengetahuan kita mengenai bahasa

dan sastra. Sejauh hidup pengarangnya dapat dipergunakan sejauh dapat

menerangkan makna kata-kata khusus yang dipergunakan dalam karyanya. Selain

itu, pemahaman terhadap konteks penggunaan bahasa sangat ditekankan.

Menurut mereka, komponen dasar karya sastra, baik lirik, naratif, maupun

dramatik adalah kata-kata, citraan/imagi, dan simbol-simbol, bukan watak,

pemikiran ataupun plot. Elemen-elemen linguistik ini sudah diorganisasikan di

seputar sebuah tema sentral dan mengandung tensi atau maksud, ironi dan

paradoks dalam strukturnya yang merupakan muara pertemuan berbagai impuls

dan kekuatan yang berlawanan.

Pandangan-pandangan kaun new critics, bagaimanapun tetap berguna

karena mermpertajam pengertian kita terhadap puisi yang terkadang sukar

dipahami. Meskipun demikian, pendangan mereka terlalu mengutamakan puisi

daripada jenis sastra lainnya menyebabkan teori sastra mereka dipandang kurang

utuh. Mereka juga menyadari bahwa tidak hanya the words on the page yang

mengemudikan tafsiran mereka melainkan juga cita-cita dan praduga-praduga

mereka telah ikut berperan di dalamnya (Van Luxemburg dkk. 1986: 54).

Cara Kerja New Criticism
Kendati pemikir dan praktisi new criticism banyak, dan diantara mereka

pasti ada silang pendapat, pada hakikatnya cara kerja mereka sama, yaitu

1.

Close reading, yakni mencermati karya sastra dengan teliti dan mendetailkalau

perlu baris demi baris, kata demi kata, dan kalau perlu sampai ke akarakar

katanya. Tanpa close reading, bagian-bagian kecil puisi munkin akan

terlepas dari pengamatan, padahal, semua bagian, sekecil apa pun, akan

merupakan bagian yang tidak munkin dipisahkan dari puisi yang well-

wrought. Begitu sebuah detail puisi ditemukan tidak mempunyai makna dan

Page 10

                                   teori sastra.txt

tidak mempunyai fungsi, maka mutu estetika puisi ini tidak mungkin dijamin.

14

2.

Empiris, yakni penekanan analisis, ada observasi, bukan pada teori. Tokohtokoh

new criticism memang pernah menyatakan bahwa new criticism adalah

sebuah teori satra, namun karena new criticism mempunyai cara kerja

sistematis sebagiamana halnya para teori-teori satra lain, maka new criticism

mau tidak mau diakui sebagai sebuah teori sastra. Dalam sejarah teori dan

kritik sastra, new criticism selalu menempati urutan pertama.

3.

Otonomi

a.

Karya satra adalah sesuatu yang mandiri dan berdiri sendiri, tidak

tergantung pada unsur-unsur lain, termasuk kepada penyair/penulisnya

sendiri

b.

Kajian satra adalah sebuah kajian yang mandiri dan berdiri sendiri,

tidak tergantung pada kajian-kajian lain, seperti sejarah, filsafat,

biografi, psikologi, dan sebagainya.

Otonomi merupakan ciri khas mutlak kajian inrinsik. Kendati teori-teori

berikut tidak tertutup kemungkinan untuk mempertimbangkan unsur

ekstrinsik karya sastra, setiap kajian tidak mungkin lepas dari nilai-nilai

intrinsik karya sastra itu sendiri. Karena itulah, new criticism tetap hidup,

masuk ke berbagai teori lain, kendati secara resmisudah tutup buku pada

tahun 1960-an.

Salah satu pengaruh new criticism pada teori sastra dapat dilihat misalnya

pada formalisme rusia dan strukturalisme. Kedua teori ini mengambil

gagasan otonomi new criticism kendati salah satu ciri penting

strukturalisme adalah kajian-kajian ekstrinsiknya. Meskipun demikian,

dapat diperkirakan dengan tepat bahwa tanpa rintisan new criticism maka

formalisme rusia dan strukturalisme akan lahir terlambat, dan mungkin

pula akan berbeda dengan formalisme rusia dan struktualisme sekarang.

4.

Concreteness. Apabila karya sastra dibaca, maka karya satra menjadi concrete

atau hidup. Dalam sajak penyair romantik jhon keats, “ode to melancholy”,

15

misalnya, baris then glut thy sorrow on a morning terasa benar-benar hidup.

Kata glut menimbulkan kesan kerakusan yang benar-benar concrete.

Sebagaimana halnya konsep otonomi, maka concreteness new criticism juga

diambil oleh formalisme Rusia dan strukturalisme.

5. Bentuk (form): titik berat kajian new criticism adalah bentuk (form) karya

sastra, yaitu keberhasilan penyair atau penulis dalam diksi (pemilihan kata),

Page 11

                                      teori sastra.txt

imagenary (metaphor, simile, onomatopea, dan sebagainya), paradoks, ironi,

dan sebagainya. Bagi new criticism, bentuk karya sastra menentukan isi karya

sastra.

Karena bentuk memegang peran penting, maka titik berat perhaitan new

criticism adalah konotasi, bukan denotasi. Makna denotatif kursi, misalnya,

adalah kursi, sedangkan makna konotatifnya mungkin kedudukan atau

kekuasaan. Kata-kata rebutan kursi, misalnya, mungkin mempunyai makna

rebutan atau kekuasaan, dan sama sekali bukan rebutan tempat duduk.

Konotasi,dengan demikian, memberi uang kepada metafora, simbol, dan lain-

lain di luar makna harfiah sebuah kata, rangkaian kata, atau kalimat. Kata

glut, dengan makna denotatif rakus, dapat mempunyai makna lain sesuai

dengan konteksnya dalam rangkaian kata atau kalimat tertentu. Puisi,

memang, tidak lain adalah sebuah dunia metafora.

Titik berat kajian new criticism pada bentuk (form) akhirnya juga

dipergunakan oleh formalisme rusia dan strukturalisme. Istilah form mengacu

pada bentuk, dan bentukkarya sastra itu pulalah yang menjadi salah satu titik

penting formalisme yang pertama tidak lain adalah new criticism kendati new

criticism tidak menamakan diri dengan istilah form. Struktur dalam

strukturalisme juga tidak dapat memisahkan diri dari makna form, salah satu

titik berat strukturalisme.

16
6.

Diksi (pilihan kata)

Wafat, mangkat, meninggal, mati pada hakikatnya mempunyai makna sama,

namun mana kata yang akan dipilih oleh penyair/penulis tergantung dari

penyair/penulisnya sendiri.

7. Tone (nada), yakni sikap penyair, penulis, narator, atau aku lirik terhadap (a)

diri sendiri, (b) diri sendiri terhadap objek atau bahan pembicaraan, dan (c)

diri sendiri terhadap lawan bicaranya.

Kalimat apakah benarayah saudara kemarin meninggal? Menunjukkan

bahwa pambicaranya tidak menanggap dirinya lebih tinggi daripada yang

diajak bicara dan ayah yang diajak bicara. Kalau kalimat ini diganti menjadi

apa betul ayahmu kemarin mampus? Akan tampak bahwa pembicara merasa

lebih tinggi kedudukannya dibanding yang diajak bicara dan ayah yang diajak

bicara.

Makna harfiah dua kalimat ini sebetulnya sama, namun karena diksi atau

pilihan katanya berbeda, maka tone atau nadanya juga berbeda. Dari diksi

tampak bahwa konotasi lebih penting daripada denotasi. Dengan adanya

pilihan kata yang berbeda, cara berbicaranya pun tentu berbeda.

8. Metafor, yakni pembandingan satu objek dengan objek lain tanpa penggunaan

kata-kata seperti, bagaikan, dan hal-hal semacamnya

Hamidah adalah bunga mawar.

(hamidah bukan bunga mawar, namun cantik dan anggun bagaikan bunga

Page 12

teori sastra.txt
mawar).
9.

Simile, yakni perbandingan objek satu dengan objek lain dengan penggunaan

kata-kata seperti, bagaikan, dan hal-hal semacamnya.

Hamidah cantik bagaikan bunga mawar.

17
10. Onomatopea: peniruan bunyi

Terdengar ketepak-ketepok langkah kaki kuda

11. Paradoks: lawan atau kebalikan sesuatu, antara lain dapat dipergunakan untuk

menyindir. Kalau seseorang naik taksi dan taksinya berjalan terlalu cepat, si

penumpang dapat berkata kepada sopir: alangkah baiknya apabila lebih cepat

lagi, dengan maksud kurangilah laju taksi. Di sini juga tampak bahwa

konotasi lebih penting daripada denotasi.

Namun, paradoks tidak selamanya untuk menyindir, sebagaimana yang

tampak pada kata-kata juliet dalam drama tragediwilliam shakesspeare,

romeo and juliet, ketika dia berjumpa dengan romeo untuk pertama kali:

Karena para santo punya tangan yang para peziarah menyentuhnya

Dan telapak tangan terhadap telapak tangan adalah ciuman sakral

telapak-telapak tangan

Paradoks yang baik dalam sebuah karya sastra yang baik biasanya

menimbulkan gema pada pikiran para penyair atau pengarang lain. Misalnya

paradoks William Shakepeare yang dua abad kemudian masuk dengan versi

berbeda ke dalam puisi Coleridge, penyair Romantik pada abad ke sembilan

belas.

Kadang-kadang paradoks juga tampak seperti moto kendati maknanya

mungkin bukan sekadar moto, seperti yang tampak dalam puisi John Donne

“Kanonisasi”: dia yang akan menyelamatkan jiwanya, harus kehilangan

jiwanya terlebih dahulu dan yanf terakhir akan menjadi yang pertama.

12. Ironi. Segala sesuatu dalam ironi mempunyai makna berlawanan dengan

makna sesungguhnya atau makna denotasi.

a.

Ironi verbal: lawan atau kebalikan dari apa yang diucapkan dan apa yang

dimaksudkan sesungguhnya. Kalimat wah, kamu cantik sekali sebetulnya

merupakan alat untuk menyampaikan maksud sebenarnya, yaitu kamu

18

buruk rupa. Ironi ini dinamakan verbal karena pembicara hanya

mempergunakan kata-kata tertenu untuk menyampaikan maksud yang

Page 13

teori sastra.txt
sesungguhnya.
Dengan sendirinya, ironi verbal ada hubungannya dengan diksi,

yaitu pilihan kata dari buruk rupa diganti dengan cantik. Diksi tertentu

menunjukkan pula tone atau nada, yaitu sikap pembicara terhadap yang

diajak berbicara. Dengan adanya tone atau nada tertentu, nada berbicara

pembicara juga terpengaruh.

b.

Ironi dramatik: lawan atau kebalikan dari apa yang tidak diketahui tokoh

dalam sebuah karya sastra, drama, atau film dan apa yang diketahui oleh

pembaca atau penonton. Dengan kata lain, pembaca atau penonton tahu,

namun tokoh dalam karya sastra, drama, atau film itu tidak tahu. Sebagai

misal, penjahat dalam film menuju utara dengan membawa senapan

karena dia yakin polisis ada di utara sana, tetapi penonton tahu bahwa

sebetulnya polisi berada di selatan, di belakang dia, tidak jauh dari dia.

c. Ironi situasi: lawan atau kebalikan antara harapan atau persangkaan dan

hasil dari harapan atau prasangka itu. Seorang mahasiswa, misalnya,

merasa sangat senang karena dalam ujian dia sanggup menjawab semua

pertanyaan dengan sangat mudah. Dia memiliki keyakinan besar bahwa

dia akan lulus. Keyakinan bahwa dia akan lulus tidak lain merupakan

harapan. Namun, ketika pengumuman hasil ujian keluar, ternyata dia tidak

lulus—kenyataan yang benar-benar berlawanan dengan harapannya.

19

BAB IV

STRUKTURALISME

Sebenarnya semua teori sastra sejak Aristoteles telah menekankan

pentingnya pemahaman struktur dalam analisis sebuah karya sastra. Akan tetapi

istilah kritik strukturalisme secara khusus mengacu kepada praktik kritik sastra

yang mendasarkan model analisisnya pada teori linguistik modern. Termasuk ke

dalam kelompok ini beberapa teoritisi formalis Rusia seperti Roman Jakobson,

tetapi umumnya strukturalisme mengacu kepada sekelompok penulis di Paris

yang menerapkan metode dan istilah-istilah analisis yang dikembangkan oleh

Ferdinan de Saussure (Abrams, 1981: 188-190). Strukturalisme menentang teori

mimetik, yang berpandangan bahwa karya sastra adalah tiruan kenyataan), teori

ekspresif, yang menganggap sastra pertama-tama sebagai ungkapan perasaan dan

watak pengarang, dan menentang teori-teori yang menganggap sastra sebagai

media komunikasi antara pengarang dan pembacanya.

Teori strukturalisme memiliki latar belakang sejarah evolusi yang cukup

penajang dan berkembang secara dinamis. Dalam perkembangan itu terdapat

banyak konsep dan istilah yang berbeda-beda, bahkan saling bertentangan.

Misalnya, strukturalisme di Perancistidak memiliki kaitan erat dengan

strukturalisme ajaran Boas, Sapir, dan Whorf di Amerika. Akan tetapi semua

pemikiran strukturalisme dapat dipersatukan dengan adanya pembaruan dalam

Page 14

                                      teori sastra.txt

ilmu bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure. Jadi walaupun terdapat

banyak perbedaan antara pemikir-pemikir strukturalis, namun titik persamaannya

adalah bahwa mereka semua memiliki kaitan tertentu dengan prinsip-prinsip dasar

linguistik Saussure (Bertens, 1985: 379-381).

Ferdinand de Saussure meletakkan dasar bagi linguistik modern melalui

mazhab yang didirikannya, yaitu mazhab Jenewa. Menurut Saussure prinsip dasar

linguistik adlaah adanya perbedaan yang jelas antara signifiant (bentuk, tanda,

lambang) dan signifie (yang ditandakan), antara parole (tuturan) dan langue

(bahasa), dan antara sinkronis dan diakronis. Dengan klasifikasi yang tegas dan

jelas ini ilmu bahasa dimungkinkan berkembang menjadi ilmu yang otonom, di

20
mana fenomena bahasa dapat dijelaskan dan dianalisis tanpa mendasarkan diri

atas apa pun yang letaknya di luar bahasa. Saussure membawa perputaran

perspektif yang radikal dari pendekatan diakronik ke pendekatan sinkronik.

Sistem dan metode linguistik mulai berkembang secara ilmiah dan

menghasilkan teori-teori yang segera dapat diterima secara laus. Keberhasilan

studi linguistik kemudian diikuti oleh berbagai cabang ilmu lain seperti

antropologi, filsafat, psikoanalisis, puisi, dan analisis cerita.

Pengaruh teori strukturalisme bahasa terhadap teori sastra terutama

dikembangkan oleh Lingkaran Praha. Mula-mula Jan Mukarovsky

memperkenalkan konsep kembar artefakta-objek-estetik. Sastra dianggap sebagai

sebuah fakta semiotik yang tetap. Teks-teks sastra dianggap sebagai suatu tanda

majemuk dalam konteks luas yang meliputi sistem-sistem sastra dan sosial.

Sklovsky mengembangkan konsep otomatisasi dan deotomatisasi, yang serupa

dengan konsep Roman Jakobson tentang familiarisasi dan defamiliarisasi. Dasar

anggapan mereka adalah bahwa bahasa sastra sering kali memunculkan gaya yang

berbeda dari gaya bahasa sehari-hari maupun gaya bahasa ilmiah. Struktur bahasa

ini pun sering kali menghadirkan berbagai pola yang menyimpang dan tidak biasa.

Tugas peneliti sastra adalah mengembalikan pola yang menyimpang ini kepada

bentuk yang dapat dikenal pembaca. Penyimpangan bahasa ini hanya dapat

diamati secara struktural, yakni dalam jaringan relasi oposisi. Selain itu peneliti

sastra mengamati pula evolusi literer dalam suatu lingkungan tradisi tertentu

untuk melihat penyimpangan-penyimpangan norma-norma sastra yang

memunculkan fungsi estetik yang baru.

Teori strukturalisme sastra merupakan sebuah teori pendekatan terhadap

teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks.

Unsur-unsur teks secara berdiri sendiri tidaklah penting. Unsur-unsur itu hanya

memperoleh artinya di dalam relasi, baik relasi asosiasi ataupun relasi oposisi.

Relasi-relasi yang dipelajari dapat berkaitan dengan mikroteks (kata, kalimat),

keseluruhan yang lebih luas (bait, bab), maupun intertekstual (karya-karya lain

dalam periode tertentu). Relasi tersebut dapat berwujud ulangan, gradasi, ataupun

kontras dan parodi (Hartoko, 1986: 135-136).

Page 15

teori sastra.txt
21
Strukturalisme Perancis, yang terutama diwakili oleh Roland Barthes dan

Julia Kristeva, mengambangkan seni penafsiran struktural berdasarkan kode-kode

bahasa teks sastra. Melalui kode bahasa itu, diungkapkan kode-kode retorika,

psikoanalitis, sosiokultural. Mereka menekankan bahwa sebuah karya sastra

haruslah dipandang secara otonom. Puisi khususnya dan sastra umumnya harus

diteliti secara objektif (yakni aspek intrinsiknya). Keindahan sastra terletak pada

penggunaan bahasanya yang khas yang mengandung efek-efek estetik. Aspekaspek

ekstrinsik seperti ideologi, moral, sosiokultural, psikologi, dan agama

tidaklah indah pada dirinya sendiri melainkan karena dituangkan dalam cara

tertentu melalui sarana bahasa puitik.

Strukturalisme sastra mengupayakan adanya suatu dasar yang ilmiah bagi

teori sastra, sebagaimana dituntut oleh disiplin-disiplin ilmiah lainnya. Untuk itu

objek penelitiannya, yakni karya sastra diidentifikasi sebagai suatu benda seni

yang indah karena penggunaan bahasanya yang khusus. Objek studi teori

strukturalisme itu ditempatkan dalam suatu sistem atau susunan relasi yang

memudahkan pengaturannya. Dengan sistem ini kita menghimpun dan

menemukan hubungan-hubungan yang ada dalam realitas yang diamati (Bakker,

1992: 14). Sistematika semacam ini berfungsi meletakkan aksentuasi dalam cara

penanganan objek kajiannya. Dengan demikian teori strukturalisme

memperkenalkan metode pemahaman karya sastra dengan langkah-langkah

sistematis.

Oleh karena teori strukturalisme sastra menganggap karya sastra sebagai

benda seni (artefak) maka relasi-relasi struktural sebuah karya sastra hanya dapat

dipahami dalam keseluruhan relasi unsur-unsur artefak itu sendiri. Jika dicermati

sebuah teks sastra terdiri atas komponen-komponen seperti ide, tema, amanat,

latar, watak, perwatakan, insiden, alur, plot, dan gaya bahasa. Komponenkomponen

itu memiliki perbedaan aksentuasi pada berbagai teks sastra.

Strukturalisme sastra memberi keluasan kepada peneliti sastra untuk menetapkan

komponen-komponen mana yang akan mendapat prioritas signifikasi. Keluasan

ini tetap harus dibatasi, yakni sejauh komponen itu tersurat dalam teks itu sendiri.

Jadi, teks sastra berfungsi mengontrol objektivitas dan validitas hasil penelitian

22
sastra. Prosedur ilmiah ini menempatkan teori strukturalisme sastra berkembang

dengan baik, pesat, dan diterima dalam kalangan luas.

Teori strukturalisme sastra, sesuai dengan penjelasan di aas, dapat

dipandang sebagai teori yang ilmiah mengingat terpenuhinya tiga ciri ilmiah.

Ketiga ciri itu adalah:

Page 16

teori sastra.txt
1.

Sebagai aktivitas yang bersifat intelektual, teori strukturalisme sastra

mengarah pada tujuan yang jelas yakni eksplikasi tekstual,

2.

Sebagai metode ilmiah, teori ini memiliki cara kerja teknis dan rangkaian

langkah-langkah yang tertib untuk mencapai simpulan yang valid, yakni

melalui pengkajian ergosentrik,

3.

Sebagai pengetahuan, teori strukturalisme sastra dapat dipelajari dan

dipahami secara umum dan luas serta dapat dibuktikan kebenaran cara

kerjanya secara cermat.

Sekalipun demikian, teori strukturalisme yang hanya menekankan otonomi dan

prinsip objektivitasnya pada struktur karya sastra memiliki beberapa kelemahan

pokok, yaitu

1.

Karya sastra diasingkan dari konteks dan fungsinya sehingga sastra

kehilangan relevansi sosialnya, tercabut dari sejarah dan terpisahkan dari

permasalahan manusia.

2.

Karya sastra tidak dapat diteliti dalam rangka konvensi-konvensi

kesusastraan sehingga pemahaman kita mengenai genre dan sitem sastra

sangat terbatas.

Cara Kerja Strukturalisme

Cara kerja strukturalisme dapat digambarkan sebagai berikut.
1.

Strukturalisme pada awalnya mengamati lebih dari satu objek, dengan

tujuan untuk mendedah apa yang ada di balik kesamaan struktur dalam

dua objek atau lebih.

2.

Strukturalisme kemudian menyadari, pada dua objek atau lebih itu ternyata

tidak hanya terdapat kesamaan atau kemiripan, namun juga ada

ketidaksamaan dan bahwa kutub-kutub yang berlawanan.

23

3.

Lepas dari adanya kesamaan atau ketidaksamaan teks sastra ternyata diikat

oleh hukum simetri, sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh

Northrop Frye dalam The Fearful Symmetry.

4.

Ketidaksamaan dan kutub-kutub yang berlawanan inilah yang kemudian

memunculkan kesadaran akan adanya oposisi biner dalam kehidupan:

siang-malam, kanan-kiri, bawah-atas, kuat-lemah, laki-perempuan, jahatbaik,

dan lain-lain.

5.

Kesamaan, ketidaksamaan, dan oposisi biner ternyata tidak selamanya

Page 17

                                      teori sastra.txt

hadir dalam dua objek atau lebih, namun pada hakikatnya hadir dalam satu

objek, sebab suatu objek pun diikat oleh hukum simetri.

6.

Oposisi biner akan tampak manakala seseorang mendekonstruksi objek

tersebut. Dekonstruksi khususnya yang dilakukan oleh Derrida,

merupakan bagian penting dalam pascastrukturalisme.

7.

Untuk melihat struktur luaran dengan insting strukturalis, seseorang

berusaha untuk mendedah struktur dalaman objeknya. Dalam mitologi dan

sastra, struktur luaran dapat muncul dalam bentuk plot yang digerakkan

oleh tindakan-tindakan tokoh-tokoh dalam teks sastra. Pergi, berbicara,

menjalani ujian, dan sebagainya dalam bagan dua cerita rakyat Indian

Amerika adalah contoh-contoh tindakan tokoh-tokoh dalam dua cerita

rakyat itu.

24

BAB V

STRUKTURALISME DAN EKSISTENSIALISME

Kendati eksistensialisme tidak berhubungan langsung dengan

strukturalisme, eksistensialisme menjadi salah satu pemicu lahirnya

strukturalisme. Eksistensialisme sebagaimana yang dibawa oleh Jean Paul Sartre

(Perancis), Albert Camus (Perancis), dan Martin Heidegger (Jerman) adalah filsuf,

namun dapat juga muncul dalam bentuk sastra. Kecuali menjadi filsuf, Jean Paul

Sartre, misalnya adalah novelis, penulis drama, dan esais. Albert Camus,

sementara itu, juga menulis novel. Di antara Sartre, Camus, dan Heidegger, hanya

Heidegger lah yang tidak menulis sastra.

Eksistensialisme sebetulnya sudah ada pada abad kesembilan belas

sebagaimana yang dibawakan oleh Soren Kierkegaard dan Karl Jaspers. Pada

abad kesembilan belas, eksistensialisme dibawakan dan dianut oleh orang-orang

yang percaya Tuhan, dan karena itu eksistensialisme abad kesembilan belas

adalah teistik. Eksistensialisme abad kedua puluh, sebaliknya, dibawakan ileh

orang-orang yang tidak percaya Tuhan, dan karena itu ateistik.

Dalam Perang Dunia II, sebagaimana yang dapat diketahui dari sejarah,

Jerman memperoleh kemenangan di berbagai medan perang baik di Eropa

maupun Afrika. Bangsa negara-negara yang diserbu Jerman berdoa agar Jerman

cepat dikalahkan dan perang cepat usai. Namun, perang justru berkelanjutan, dan

Jerman justru terus menerus mendapat kemenangan yang gemilang. Kenyataan

bahwa perang terus berkelanjutan dan Jerman terus mang inilah yang memicu

Sartre dan Camus untuk meragukan keberadaan Tuhan. Akhirnya, inilah salah

satu awal yang memicu keyakinan Sartre dan Camus untuk menjadi ateis.

Karena Tuhan turun tangan, maka tanggung jawab untuk memerangi

Jerman terletak pada tangan manusia sendiri, tanpa bantuan siapa pun.

Demikianlah, akhirnya Sartre memutuskan terjun dalam pasukan bawah tanah

Page 18

                                 teori sastra.txt

untuk melawan Jerman. Dengan keyakinan yang sama, Camus menggabungkan

diri.

25
Menurut eksistensialisme abad kedua puluh, manusia dilahrikan begaikan

dilemparkan begitu saja ke dunia. Apa yang terjadi pada seseorang yang telah

terlanjut dilemparkan ke dunia adalah tanggung jawan dia sendiri. Dia memiliki

pilihan untuk menjadi apa pun. Setelah dia mengambil pilihan dia sendiri, maka

tanggung jawab seluruhnya terletak di tangannya sendiri bukan orang lain, bukan

juga Tuhan, sebab Tuhan tidak ada. Dalam interaksi dengan orang lain pun,

masing-masing orang memiliki pilihan sendiri, dan akibat pilihannya itu dia

memikul tanggung jawab atas pilihannya itu.

Sementara itu, siapapun juga tidak mungkin hidup sendiri, dan karena itu

harus berinteraksi dengan orang-orang lain dan dengan pihak-pihak lain. dalam

interaksi pasti akan timbul masalah, dan masalah pasti akan menimbulkan pilihan:

memilih ini atau memilih itu. Karena akhirnya semua merupakan tanggung jawab

sendiri, maka tanggung jawab ini dapat menimbulkan rasa takut, atau dalam

bahasa eksistensialismena disebut angst.

Seseorang, misalnya, bebas untuk menjadi serdadu atau untuk tidak

menjadi serdadu. Kalau sudah menjadi serdadu, dia bebas untuk melakukan

desersi atau tetap menjalankan perintah-perintah komandannya. Dan kalau dia

melakukan desersi maka keputusan untuk melakukan desersi adalah tanggung

jawabnya sendiri, bukan pada keadaan lain yang menyebabkan dia memutuskan

untuk melakukan disersi. Maka bila dia ditangkap dan kemudian dihukum berat,

hukuman itu merupakan akibat dari pilihan dia sendiri. Begitu pula seandainya dia

tidak melakukan disersi, tapi terus melaksanakan perintah-perintah komandonya,

dan kemudian dia ditembak musuh pada waktu melaksanakan perintah atasannya,

kematiannya juga merupakan tanggung jawab dia sendiri, bukan tanggung jawab

komandonya.

Setiap pilihan, dengan demikian, pasti mempunyai konsekuensi. Karena

setiap konsekuensi dapat mendatangkan petaka, maka kehidupan ini penuh

dengan angst atau ketakutan. Inilah intisari filsafat eksistensialisme ateis abad

kedua puluh, dan ini pulalah yang mewarnai novel dan drama Sartre dan Camus.

Semua tokoh dalam karya sastra mereka ateis, semua menentukan pilihannya

26
sendiri, semua menanggung risiko dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri,

dan semua tidak percaya Tuhan.

Simpul-simpul eksistensialisme tampak juga dalam sastra Indonesia

sebagaimana yang terdapat dalam novel Mochtas Lubis, Jalan Tak Ada Ujung.

Page 19

                                       teori sastra.txt

Ada kisah segi tiga dalam novel ini, yaitu Guru Isa, istri Guru Isa, Fatimah, dan

Hazil. Guru Isa adalah seseorang yang sangat lembut dan penakut, namun

sekonyong-konyong terlempar ke dalam kancah perjuangan. Hazil, seorang lakilaki

gagah berani, karena pilihannya sendiri menjadi pejuang bawah tanah.

Fatimah tampak alim dan tampak setia kepada suaminya, namun sebetulnya

berhidung belang. Dia mempermainkan suaminya dengan jalan bermain api di

tampat tidur suaminya, dan saking asyiknya, pipa hungcai Hazil tertinggal di

bawah bantal. Keberadaan tiga orang ini diikat oleh suatu ikatan eksistensialistis.

Guru Isa ada atau eksis karena Fatimah ada, Fatimah ada karena Guru Isa ada, dan

mereka ada karena Hazil ada, dan Hazil ada karena mereka ada.

Karena sudah terlanjur terlempar dalam hubungan eksistensialitis, masingmasing

mereka memiliki kebebasan untuk memilih, dan masing-masing pula yang

harus menaggung akibat pilihannya sendiri. Guru Isa bebas untuk tidak terlibat

perjuangan, namun, karena ajakan Hazil, dia terlibat perjuangan. Ketika dia

ditangkap musuh dan disiksa, yang bertanggung jawab bukan Hazil, namun dia

sendiri. Hazil juga bebas untuk berjuang atau tidak berjuang dan mempengaruhi

Guru Isa atau tidak. Dia memutuskan menjadi pejuang dan ketika dia ditangkap

dan disiksa, dia harus mempertanggungjawabkannya sendiri.

Sebuah ironi, berwujud angst kemudian terjadi. Guru Isa terlibat dalam

perjuangan dalam keadaan takut dan tertekan. Hazil, sebaliknya, terlibat dalam

perjuangan karena yakin bahwa dia gagah berani. Setelah ditangkap dan disiksa,

Guru Isa kehilangan tasa takut dan kehilangan rasa tertekan, sedangkan hazil tibatiba

dikuasai rasa takut yang luar biasa hebat.

Hubungan antara Guru Isa, Fatimah, dan Hazil adalah hubungan yang

absurd. Mereka berjumpa karena kebetulan karena tahu-tahu mereka sudah

terlempar dalam satu kancah. Kebetulan ini melahirkan kebebasan: Guru Isa bebas

untuk membiarkan dirinya terseret ke dalam perjuangan, Fatimah bebas untuk

27
bermain-main dengan Hazil atau tidak, dan Hazil juga bebas untuk memutuskan

hubungan dengan mereka dan juga untuk tidak menjadi pejuang. Karena mereka

memilih untuk bersatu dan berasa dalam satu kancah, akhirnya segala sesuatunya

menjadi absurd.

Makna absurd bisa bermacam-macam, namun makna pokok absurd dalam

filsafat absurdisme adalah kesia-kesiaan dan ketidakbermaknaan. Hidup adalah

sia-sia, hidup adalah tanpa makna.

Absurditas sebagai sebuah titik pemikiran eksistensialisme kemudian

dikembangkan oleh Albert Camus menjadi sebuah filsafat tersendiri. Maka,

muncullah filsafat absurdisme, yang tidak lain merupakan pengembangan dari

sebuah titik pemikiran eksistensialisme. Pemikiran Sartre mengenai kebebasan

absurditas menjadi landasan kuat filsafat abdurdisme.

Page 20

                                    teori sastra.txt

Tokoh-tokoh dalam karya sastra Camus mempunyai kebebasan untuk

memilih apa pun sesuai dengan pilihannya sendiri dan bertanggung jawab atas

pilihannya sendiri. Mereka menganggap hidup sia-sia dan tanpa makna. Kalau ada

apa-apa, mereka menggantungkan diri kepada mereka sendiri, dan bukan kepada

Tuhan sebab bagi mereka Tuhan tidak ada.

Contoh penerapan filsafat absurdisme tampak dalam semua karya Camus,

antara lain dalam novel Orang Asing. Mersault, protagonis novel ini, bebas untuk

membunuh atau tidak membunuh. Karena dia membunuh, dia tidak berkeberatan

untuk diadili dan dihukum mati. Pendeta berkali-kali datang menemuinya untuk

mohon ampun kepada Tuhan, tetapi dia tidak mau karena bagi dia Tuhan tidak

ada. Dia menjalani hukuman mati dengan tenang karena kalau pun dia tetap

hidup, bagi dia hidup hanyalah absurditas, sia-sia, dan tanpa makna.

Gagasan pokok absurdisme dapat dilihat dalam esai Camus, mitos Sisipus,

berdasarkan kisah Sisipus dalam mitologi Yunani Kuno. Sisipus telah menolong

manusia, dan karena itu sebagaimana juga halnya Promotheus, dia dihukum untuk

selama-lamanya. Hukumannya, dia harus mendorong batu besar ke puncak bukit

dan setelah batu besar itu mencapai bukit, dia harus turun lagi ke bawah dan

mendorong lagi batu itu ke puncak bukit, dan demikianlah seterusnya.

28
Pada saat mendorong batu ke atas, Sisipus menampakkan wajah yang

capai dan sedih, namun sekaligus terpancar pula kebahagiaan. Setelah mencapai

puncak bukit dan menggenlindingkan batu itu ke bawah lagi, dia tampak sedih

dan merasa bahwa kehidupannya kosong. Itulah ibarat kehidupan manusia,

manusia bekerja bersusah payah dan sedih karena pekerjaannya berat, namun

kalau dia menganggur atau tidak berbuat apa-apa lagi, bagaikan Sisipus sudah

sampai pada puncak bukit dan menggelindingkan batu ke bawah, manusia akan

merasa sedih karena hidupnya kosong.

Kehidupan ini sendiri sebetulnya merupakan pengulangan-pengulangan

sebagaimana yang dilakukan oleh Sisipus: mendorong batu ke puncak,

menggelindingkan batu ke bawah, mendorong kembali batu yang sama ke atas,

dan demikian seterusnya. Manusia pun demikian: setiap pagi berangkat kerja, sore

pulang, dan begitu seterusnya. Dalam berjalan pun manusia melangkah dengan

kaki kiri, ganti kaki kanan, da pada waktu bernapas pun manusia menarik napas,

mengeluarkan napas, menarik napas lagi, dan seterusnya demikian.

Kalau manusia harus mengulang-ulang begitu terus dan akhirnya harus

mati, maka sebetulnya hidup ini absurd, sia-sia tanpa makna. Namun, apa pun

yang terjadi, manusia tidak dapat mengelakkan untuk hidup karena manusia

terlanjur sudah dilemparkan ke dunia. Karena sudah terlanjur dilemparkan ke

dunia dan karena itu terlanjur ada, maka manusia harus menentukan pilihannya

sendiri, bertanggung jawab atas pilihannya sendiri, dan tidak perlu

menggantungkan diri kepada Tuhan sebab Tuhan tidak ada.

Page 21

                                      teori sastra.txt

Pada saat strukturalisme akan muncul, eksistensialisme mencapai

puncaknya. Di kafe-kafe eksistensialisme banyak diperbincangkan, di kedai-kedai

banyak kaos oblong eksistensialisme dijual, dan media masa serta mimbar

akademis eksistensialime diperdebatkan dengan penuh semangat. Kepopuleran

eksistensialisme inilah yang kemudian menjadi salah satu pendorong penting

munculnya strukturalisme.

29
BAB VI

SEMIOTIKA SASTRA

Strukturalisme dan semiotik umumnya dipandang termasuk dalam suatu

bukan teoritis yang sama. Sebetulnya apa yang dinamakan semiotik sastra bukan

merupakan suatu aliran ilmu sastra. Berbagai aliran seperti strukturalisma dan

ilmu sastra linguistik dapat dinamakan semiotik (Van Luxemburg dkk, 1984: 4446).

Semiotik adalah ilmu yang mempelajari tanda-tanda, sistem-sistem tanda,

dan proses suatu tanda diartikan (Hartoko, 1986: 131). Dengan kata lain, ilmu

yang mempelajari berbagai objek, peristiwa, atau seluruh kebudayaan sebagai

tanda (Eco, 1979: 6). Tanda itu sendiri diartikan sebagai sesuatu yang bersifat

representatif, mewakili sesuatu yang lain berdasarkan konvensi tertentu. Konvensi

yang memungkinkan suatu objek, peristiwa, atau gejala kebudayaan menjadi

tanda itu disebut juga sebagai kode sosial.

Bila diterapkan pada tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata, kalimat tidak

memiliki arti pada dirinya sendiri. Tanda-tanda itu hanya mengemban

arti(signifiant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Pembaca itulah yang

menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan

konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Dalam penelitian sastra

biasanya diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda (strukturalisme) dan

hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan (semantik).

Ada beberapa aliran semiotik dalam ilmu sastra, yang diwakili oleh

Saussure (Perancis), Jurij Lotman (Rusia), dan C.S. Pierce (Amerika). Kesamaan

utama pandangan mereka adalah bahwa bahasa merupakan salah satu di antara

sekian banyak sistem tanda. Ada kalanya ditekankan bahwa bahasa merupakan

sistem tanda yang paling fundamental. Pokok-pokok pendangan ketiga teoritisi itu

diuraikan berikut ini.

Pierce (1839-1914) adalah seorang filsuf Amerika yang meletakkan dasar

bagi sebuah bidang studi yang disebtu semiotik. Pierce menyebutkan tiga macam

tanda sesuai dengan jenis hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan.

30
Page 22

teori sastra.txt
1.

Ikon, yaitu tanda yang secara inheren memiliki kesamaan dengan arti yang

ditunjuk. Misalnya, foto dengan orang yang difoto, atau pera dengan

wilayah geografisnya.

2.

Indeks, yaitu tanda yang mengandung hubungan kausal dengan apa yang

ditandakan. Misalnya asap menandakan adanya api, mendung menandakan

bakal turun hujan.

3.

Simbol atau tanda, yaitu suatu tanda yang memiliki hubungan makna

dengan yang ditandakan bersifat arbitrer, manasuka, sesuai dengan

konvensi suatu lingkungan sosial tertentu. Misalnya bahasa.

Saussure adalah ahli linguistik asal Swiss yang memperkenalkan studi

tentang tanda sebagai semiologi. Menurut Saussure, bahasa adalah sistem tanda,

dan tanda merupakan kesatuan antara dua aspek yang tak terpisahkan satu dengan

lainnya, yakni penanda dan petanda. Penanda adalah aspek formal atau bunyi pada

tanda itu. Sedangkan petanda adalah aspek makna atau konseptual dari suatu

penanda. Tanda memiliki ciri arbitrer, konvensional, dan sistematik. Arbitrer atau

manasuka misalnya dalam urutan bunyi k-a-c-a-n-g tidak ada pemikiran atau

motif menghubungkan bunyi itu dengan tanaman tertentu. Kombinasi aspek

formal dan konseptual (bunyi “kacang” dengan wujud kacang sebenarnya) hanya

terjadi berdasarkan konvensi sosial yang berlaku dalam bahasa tertentu saja. Jika

kita menyebut “kacang”, orang Inggris menyebutnya “bean” sesuai dengan

konvensi bahasa masing-masing.

Jurij Lotman, seorang ahli semiotik Rusia menyebut bahasa sebagai sistem

tanda primer yang membentuk model dunia bagi pemakaiannya. Model ini

mewujudkan sarana konseptual bagi manusia untuk menafsirkan segala sesuatu di

dalam dan di luar dirinya. Sastra disebutnya sebagai sistem tanda sekunder. Sastra

dan semua cabang seni lainnya mempergunakan sistem tanda primer seperti

terdapat dalam bahasa alamiah tetapi tidak terbatas pada tanda-tanda primer saja.

31
BAB VII

SOSIOLOGI SASTRA

Sejarah Pertumbuhan
Konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra ditulis

oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan a salient being, makhluk yang

mengalami sensasi-sensasi dalam kehidupan empirik masyarakatnya. Dengan

demikian, sastra juga dibentuk oleh masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan

sistem dan nilai dalam masyarakatnya. Dari kesadaran ini muncul pemahaman

bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal balik dalam derajat tertentu dengan

Page 23

                                     teori sastra.txt

masyarakatnya, dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra

dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto 1993).

Konsep dasar sosiologi sastra sebenarnya sudah dikembangkan oleh Plato dan

Aristoteles yang mengajukan istilah mimesis, yang menyinggung hubungan antara

sastra dan masyarakat sebagai cermin.

Pengertian mimesis pertama kali dipergunakan dalam teori-teori tentang

seni seperti dikemaukakan Olato dan Aristoteles, dan dari abad ke abad sangat

mempengaruhi teori-teori mengenai seni dan sastra di Eropa (Van Luxemburg,

1986: 15).

Menurut Plato, setiap benda yang berwujud mencerminkan suatu ide asli

(semacam gambar induk). Jika seseorang tukang membuat sebuah kursi, maka ia

hanya menjiplak kursi yang terdapat dalam dunia ide-ide. Jiplakan atau kopian itu

selalu tidak memadai seperti aslinya, kenyataan yang kira amati dengan

pancaindra selalu kalah dari dunia ide. Seni pada umumnya hanya menyajikan

suatu ilusi tentang kenyataan (yang juga hanya tiruan dari kenyataan yang

sebenarnya) sehingga tetap jauh dari kebenaran. Oleh karena itu lebih berhargalah

seorang tukang daripada seniman karena seniman menjiplak jiplakan, membuat

kopi dari kopian.

Aristoteles juga mengambil teori mimesis Plato, yakni seni

menggambarkan kenyataan, tetapi dia berpendapat bahwa mimesis tidak sematamata

menjiplak kenyataan melainkan juga menciptakan sesuatu yang baru karena

32
kenyataan itu tergantung pada sikap kreatif orang dalam memandang kenyataan.

Jadi, sastra bukan lagi jiplakan atas jiplakan (kenyataan) melainkan sebagai suatu

ungkapan atau perwujudan mengenai universalia (konsep-konsep umum). Dari

kenyataan yang wujudnya kacau, penyair memilih beberapa unsur lalu menyusun

suatu gambaran yang dapat dipahami, karena menampilkan kodrat manusia dan

kebenaran universal yang berlaku pada segala jaman.

Levin (1973: 56-60) mengungkapkan bahwa konsep mimesis itu mulai

dihidupkan kembali pada zaman Renaissance dan nasionalisme Romantik.

Humanisme Renaissance sudah berupaya menghilangkan perdebatan prinsipal

antara sastra modern dan sastra kuno dengan menggariskan paham bahwa

masing0masing kesusastraan itu merupakan ciptaan unik yang memiliki

pembayangan historis dalam jamannya. Dasar pembayangan historis ini telah

dikembangkan pula dalam jaman Romantik, yang secara khusus meneliti dan

menghidupkan kembali tradisi-tradisi asli berbagai negara dengan suatu

perbandingan geografis. Kedua pandangan tersebut kemudian diwariskan kepada

jaman berikutnya, yakni positivisme ilmiah.

Pada jaman positivisme ilmiah, muncul tokoh sosiologi sastra terpenting:

Hippolyte Taine (1766-1817). Dia adalah seorang sejarawan kritikus naturalis

Perancis, yang sering dipandang sebagai peletak dasar bagi sosiologi sastra

Page 24

                                        teori sastra.txt

modern. Taine ingin merumuskan sebuah pendekatan sosiologi sastra yang

sepenuhnya ilmiah dengan menggunakan metode-metode seperti yang digunakan

dalam ilmu alam dan pasti. Dalam bukunya History of English Literature (1863)

dia menyebutkan bahwa sebuah karya sastra dapat dijelaskan menurut tida faktor,

yakni rras, lingkungan, dan momen, dan lingkungan. Maka kita dapat memahami

iklim rohani suatu kebudayaan yang melahirkan seorang pengarang beserta

karyanya. Menurut dia faktor-faktor inilah yang menghasilkan struktur mental

(pengarang) yang selanjutnya diwujudkan dalam sastra dan seni. Adapun ras itu

apa yang diwarisi manusia dalam jiwa dan raganya. Momen ialah situasi sosial

politik pada suatu periode tertentu. Lingkungan meliputi keadaan alam, iklim, dan

sosial. Konsep Taine mengenai lingkungan inilah yang kemudian menjadi mata

rantai yang menghubungkan kritik sastra dengan ilmu-ilmu sosial.

33
Pandangan Taine, terutama yang dituangkannya dalam bukunya tadi, oleh

pembaca kontemporer asal Swis, Amiel, dianggap membuka cakrawala

pemahaman baru yang berbeda dari cakrawala anatomis kaku (strukturalisme)

yang berkembang waktu itu. Bagi Amiel, buku Taine itu membawa aroma baru

yang segar bagi model kesusastraan Amerika di masa depan. Sambutan yang

hangat terutama datang dari Flaubert (1864). Dia mencatat, bahwa Taine secara

khusus telah menyerang anggapan yang berlaku pada masa itu bahwa karya sastra

seolah-olah merupakan meteor yang jatuh dari langit. Menurut Flaubert, sekalipun

segi-segi sosial tidak diperlukan dalam pencerapan estetik, sukar bagi kita untuk

mengingkari keberadaannya. Faktor lingkungan historis ini sering kali mendapat

kritik dari golongan yang percaya pada misteri (ilham). Menurut Taine, hal-hal

yang dianggap misteri itu sebenarnya dapat memiliki kelemahan-kelemahan

tertentu, khususnya dalam penjelasannya yang sangat positivistik, namun telah

menjadi pemicu perkembangan pemikiran intelektual di kemudian hari dalam

merumuskan disiplin sosiologi sastra.

Teori Sastra Marxis
Pendekatan sosiologis sastra yang paling terkemuka dalam ilmu sastra adalah

Marxisme. Kritikus-kritikus Marxis biasanya berdasarkan teorinya pada doktrin

manifesto komunis yang diberikan oleh Karl marx dan Friedrich Engels,

khususnya terhadap pernyataan bahwa perkembangan evolusi historis manusia

dan institusi-institusinya ditentukan oleh perubahan mendasar dalam produksi

ekonomi. Perubahan itu mengakibatkan perombakan dalam struktur kelas-kelas

ekonomi, yang dalam setiap jaman selalu bersaing demi kedudukan sosial

ekonomi dan status politik. Kehidupan agama, intelektual, dan kebudayaan setiap

jaman, termasuk seni dan sastra, merupakan ideologi-ideologi dan

suprastruktursuprastruktur

yang berkaitan secara dialektikal, dan dibentuk atau merupakan

akibat dari struktur dan perjuangan kelas dalam ajamnnya (Abrams, 1981: 178).

Sejarah dipandang sebagai suatu perkembangan yang terus menerus. Daya

kekuatan di dalam kenyataan secara progresif selalu tumbuh untuk menuju kepada

Page 25

                                    teori sastra.txt

suatu masyarakat yang ideal tanpa kelas. evolusi ini tidak berjalan dengan mulus

34
melainkan penuh hambatan-hambatan. Hubungan ekonomi menimbulkan

berbagai kelas sosial yang saling bermusuhan. Pertentangan kelas yang terjadi

pada akhirnya dimenangkan oleh suatu kelas tertentu. Hubungan produksi yang

baru perlu melawan kelas yang berkuasa agar tercapai suatu tahap masyarakat

ideal tanpa kelas, yang dikuasai oleh kaum proletar.

Bagi Marx, sastra dan semua gejala kebudayaan lainnya mencerminkan

pola hubungan ekonomi karena sastra terikat akan kelas-kelas yang ada di dalam

masyarakatnya. Oleh karena itu, karya sastra hanya dapat dimengerti jika

dikaitkan dengan hubungan-hubungan tersebut (Van Luxemburg, 1986: 24-25).

Menurut Lenin, seorang tokoh yang dipandang sebagai peletak dasar bagi kritik

sastra Marxis, sastra dan seni pada umumnya merupakan suatu sarana penting dan

strategis dalam perjuangan proletariat melawan kapitalisme.

Georg Lukacs: Sastra Sebagai Cermin
Lukacs adalah seorang kritikus Marxis terkemuka yang berasal dari

Hungaria dan menulis dalam bahasa Jerman (Damono, 1979: 31). Ia

mempergunakan istilah cermin sebagai ciri khas dalam keseluruhan karyanya.

Mencerminkan menurut dia, berarti menyusun sebuah struktur mental. Sebuah

novel tidak hanya mencerminkan realitas tetapi lebih dari itu memberikan kepada

kita sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih

dinamik yang mungkin melampaui pemahaman umum. Sebuah karya sastra tidak

hanya mencerminkan fenomena individual secara tertutup melainkan lebih

merupakan sebuah proses yang hidup. Sastra tidak mencerminkan realitas sebagai

semacam fotografi, melainkan lebih sebagai suatu bentuk khusus yang

mencerminkan realitas. Dengan demikian, sastra dapat mencerminkan realitas

secara jujur dan objektif dan dapat mencerminkan kesan realitas subjektif (Selden

1991: 27).

Lukacs menegaskan pandangan tentang karya realisme yang sungguhsunggu

sebagai karya yang memberikan perasaan artistik yang bersumber dari

imajinasi yang diberikannya. Imajinasi itu memiliki totalitas intensif yang sesuai

dengan totalitas ekstensif dunia. Penulis tidak memberikan gambaran dunia

35
abstrak melainkan kekayaan imajinasi dan kompleksitas kehidupan untuk dihayati

untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang ideal. Jadi sasrannya adalah

pemecahan kontradiksi melalui dialektika sejarah.

Bertold Brecht: Efek Alienasi
Page 26

teori sastra.txt
Bertold Brecht adalah seorang dramawan Jerman yang terbakar jiwanya

ketika membaca buku Marx sekitar tahun 1926. Drama-dramanya bersifat radikal,

anarkistik, dan anti borjuis. Sebagai seorang yang anti terhadap paham-paham

realisme sosialis, ia terkenal sebagai penentang aliran Aristoteles. Aristoteles

menekankan universalitas dan kesatuan aksi tragik dan identifikasi penonton

terhadap pahlawan-pahlawan positif untuk menghasilkan katarsis (pelepasan

beban) perasaan.

Menurut Brecht, dramawan hendaknya menghindari alur yang

dihubungkan secara lancar dengan makna dan nilai-nilai universal yang pasti.

Fakta-fakta ketidakadilan dan ketidakwajaran perlu dihadirkan untuk mengejutkan

dan mengagetkan penonton. Penonton jangan ditidurkan dengan nilai-nilai palsu.

Para pelaku tidak harus menghilangkan personalitas dirinya untuk mendorong

identifikasi penonton atas tokoh-tokoh pahlawannya. Mereka harus mampu

menimbulkan efek alienasi (keterasingan). Pemain bukan berfungsi menunjukkan

melainkan mengungkapkan secara spontan individualitasnya (Selden, 1991: 3032).

Aliran Frankurt
Aliran Frankurt adalah sebuah aliran filsafat sosial yang dirintis oleh

Horkheimer dan Th. W. Adorono yang berusaha menggabungkan teori ekonomi

sosial Marx dengan psikoanalisis Freud dalam mengkritik teori sosial kapitalis

(Hartoko, 1986: 29-30). Dalam bidang sastra, estetika Marxis aliran Frankurt

mengembangkan apa yang disebut Teori Kritik. Teori kritik ini merupakan sebuah

bentuk analisis kemasyarakatan yang juga meliputi unsur-unsur aliran Marx dan

aliran Freud. Tokoh-tokoh utama dalam filsafat dan estetika adalah Max

36
Horkheimer, Theodor Adomo, Herbert Marcuse, dan J. Habermas (Selden, 1993:

32-37).

Seni dan sastra mendapat perhatian istimewa dalam teori sosiologi

Frankurt, karena inilah satu-satunya wilayah di mana dominasi totaliter dapat

ditentang, adorno mengkritik pandangan Lukacs bahwa sastra berbeda dari

pemikiran, tidak mempunyai hubungan yang langsung dengan realitas.

Keterpisahan itu, menurut Adorno justru memberi kekuatan kepada seni untuk

mengkritik dan menegasi realitas, seperti ditunjukkan oleh seni-seni avant garde.

Seni-seni populer sudah bersekongkol dengan sistem ekonomi yang

membentuknya, sehingga tidak mampu mengambil jarak dengan realitas yang

sudah dimanipulasi oleh sistem sosial yang ada. Mereka memandang sistem sosial

sebagai sebuah totalitas yang di dalamnya semua aspek mencerminkan esensi

yang sma.

Adorno menolak teori-teori tradisional tentang kesatuan dan pentingnya

individualitas atau mengenai bahasa yang penuh arti karena hanya membenarkan

Page 27

                                       teori sastra.txt

sistem sosial yang ada. Menurutnya, drama menghadirkan pelaku-pelaku tanpa

individualitas dan klise-klise bahasa yang terpecah-pecah, diskontinuitas wacana

yang absurd, penolakan yang membosankan, dan ketiadaan alur. Semuanya itu

menimbulkan efek estetik yang menjauhkan realitas yang dihadirkan dalam drama

itu. Dan ini lah sebuah pengetahuan tentang eksistensi dunia mdoern sekaligus

pemberontakan terhadap tipe masyarakat satu dimensi.

37
BAB VIII

DEKONSTRUKSI DAN PASCASTRUKTURALISME

Dekonstruksi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut cara

membaca sebuah teks (sastra maupun filsafat) yang berdasarkan pada pola

pandangan filsafat Jaques Derrida. Derrida sendiri dipengaruhi pandangan

fenomenologi (Heidegger) dan skeptisme (Nietzche). Pandangan ini menantang

klaim strukturaliema yang menganggap sebuah teks mengandung makna yang sah

dalam struktur utuh di dalam sistem bahasa tertentu. Dekonstruksi disebut juga

sebagai pascastrukturalisme karena membangun teorinya atas dasar konsepkonsep

strukturalisme semiotik Ferdinand de Saussure dengan menentang dan

merusak konsep-konsep itu. Mereka melacak konsep-konsep strukturalisme klasik

sampai ke akar-akarnya dan merombaknya dengan pandangan baru.

Aliran ini mula-mula dikembangkan di Perancis oleh kelompok penulis

Tel Quel dengan tokoh perintis antara lain Jacques Derrida dan Julia Kristeva.

Sejak Derrida mempublikasikan tiga bukunya tahun 1967 (Grammatology,

Writing and Deference, dan Speech and Phenomena) aliran ini berkembang luas.

Menurut Derrida, semua teori bahasa, praktik penggunaan bahasa, dan tradisi

kebudayaan Barat bersifat Logosentrik. Maksudnya mengutamakan logo atau kata

sebagai pokok yang didasari pada keyakinan tentang kehadiran (ada) suatu

metafisik. Dalam Perjanjian Baru diungkapkan bahwa pada mulanya adalah kata.

Ungkapan lisan ini seolah-olah menjamin adanya sesuatuderrida menyebutnya

fonosentrisme (mengistimewakan fonem atau tuturan dibanding tulisan). Orang

lalu memburu kata-kata daripada pengertian.

Derrida sendiri memahami tanda sebagai bekas yang tidak memiliki nilai

dan bobot sendiri, tetapi menunjuk pada sesuatu objek yang lain. bekas

mendahului objek, dan menyebabkan sesuatu yang lain. jadi, kita tidak mungkin

memahami “ada” itu karena dia hanyalah efek dari suatu bekas.

Featherson (1993: 3-14) mengungkapkan bahwa pascasrtukturalisme dan

pascamodernisme sebenarnya muncul sebagai reaksi terhadap strukturalisme dan

modernisme. Jika kaum strukturalis berupaya membongkar rahasia makna teks,

38
Page 28

teori sastra.txt
kaum pascastrukturalis yakin bahwa usaha itu sia-sia saja karena kekuatan sejarah

dan bahasa yang unconscious tidak mungkin dikuasai.

Terputusnya konsep pascastrukturalisme dari konsep strukturalisme dapat

dikaji melalui pengungkapan teori linguistik. Saussure, peletak dasar

strukturalisme linguistik, menekankan perbedaan antara penanda dan petanda.

Hubungan struktur antara keduanya membangun tanda linguistik, dan bahasa

terbentuk dari hubungan tersebut. Sekalipun bentuk hubungannya bersifat arbitrer,

tanda linguistik tergantung pada sistem konvensi yang berlaku. Sistem tanda

linguistik ini menurut Saussure, berlaku pula dalam wilayah disiplin ilmu-ilmu

humaniora lainnya karena semua ilmu ini mencoba menetapkan relasi kausal

melalui fenomena yang dapat dilihat sebagai petunjuknya (Culler, 1975: 16-20).

Menurut kaum pascastrukturalis, tidak ada hubungan yang statis antara

proposisi dengan realitas. Penanda-penanda mengambang terus menerus dan

sukar ditentukan hubungannya dengan acuan ekstralinguistik. Kodrat

pemaknaannya tidak stabil secara esensial (Bertens, 1993: 485-7; Selden, 1991:

75). Penemuan ini membawa implikasi yang sangat mendalam bagi teori-teori

kebudayaan pada umumnya, yang telah membangun sistem-sistem teori universal.

Oleh karena penanda mengambang jauh dari petanda dan semiotik mengacaukan

sistem simbol, pascastrukturalisme membongkar dan mendefinisikan kembali

teori-teori dan nilai-nilai yang dianut selama ini. Studinya terfokus pada wacana

nonliterer yang dipandang sebagai faktor yang membentuk dan membuat proses

sosial dan sejarah dan yang secara tidak sadar terungkap dalam wacana literer.

Konsep “arti” yang berasal dari de Saussure oleh penganut dekonstruksi

ditafsirkan sedemikian rupa sehingga pengertian mengenai teks dibongkar

(didekonstruksi). Kaum strukturalisme klasik menganggap teks sebagai sesuatu

yang sudah bulat dan utuh. Menurut faham dekonstruksi, bahasa bukan lagi

semacam jendela yang transparan terhadap kenyataan asli yang belum

dibahasakan. Menurut Derrida, tidak ada kenyataan objektif yang bisa

dibahasakan. Demikian pula, tidak ada ungkapan bahasa dengan arti tertentu.

Bahasa tidak mencerminkan kenyataan melainkan menciptakan kenyataan.

39
Roman Marah Rusli Siti Nurbaya tidak mencerminkan masyarakat

Minangkabau tahun 1920-an. Kesan seolah-olah masyarakat itu sungguh hadir

disebabkan oleh kemampuan bahasa untuk menghadirkan sesuatu yang tidak ada

menjadi seolah ada. Jadi bahasa itulah yang menciptakan kenyataan bukan

menghadirkan atau membayangkan kenyataan. Di dalam teks itu tidak ada tokohtokoh

dan peristiwa-peristiwa. Yang ada hanyalah bentuk-bentuk bahasa yang

menciptakan tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa di dalam angan-angan kita.

Akan tetapi penciptaan angan-angan itu tidak sama pada setiap orang. Syair agung

Milton, Paradise lost, bagi seorang pembaca kristen lebih kaya dan luas isinya

daripada bagi seorang atheis. Pengalaman Adam ketika jatuh ke dalam dosa dapat

tutur dirasakan oleh seorang pembaca Kristen. Jadi arti sebuah teks tidak terdapat

Page 29

                                       teori sastra.txt

di dalam teks itu sendiri atau di dalam strukturnya; arti merupakan sebuah proses,

sesuatu yang terjadi bila kita membaca teks tersebut (Luxemburg, 1986: 60).

Dengan demikian, tidak mungkin seorang kritikus secara polos

menentukan arti sebuah teks. Sebuah teks merupakan suatu tekstur yang tersusun

dari berbagai utas benang. Bila kita mengamati satu utas saja, kita akan sampai

pada kesimpulan keliru, tetapi bila semuanya kita ikuti kita tidak akan mampu

menentukan arti definitif. Kita harus mengakui bahwa kritik sastra tidak mungkin

mencapai jalan keluarnya; kritik menuju ke aporia (tidak ada jalan keluarnya).

Dengan tidak menunjukkan jalan ke luar, seorang kritikus justru mengantar kita

ke dalam perut bumi sehingga kita tidak tahu lagi jalan keluarnya. Dekonstruksi

berarti penelitian terhadap bekas-bekas teks lain, mencari pengaruh-pengaruh dari

teks yang dulu pernah ada, meneliti etimologi kata-kata yang dipergunakan lalu

berusaha agar dari teks yang sudah dibongkar itu disusun sebuah teks baru.

Dalam praktik, ternyata kritik kaum dekonstruksi cukup mengacaukan.

Ada banyak peluang untuk spekulasi subjektif dan dengan terus menerus melacak

bekas-bekas teks lama maka setiap bentuk asosiasi dapat mereka pergunakan lama

kelamaan bentuk kritik ini sangat tergantung kepada pengetahuan dan pribadi

kritikus (Luxemburg, 1986: 61).

Yang dapat dianggap sebagai sumbangan positif dari kelompok

pascastrukturalisme ini adalah dorongan ke arah pluralitas makna daripada

40
kesatuan pandangan yang otoriter. Upaya mengutamakan sikap kritis ketimbang

kepatuhan absolut yang buta. Mereka mencanangkan perang terhadap teori-teori

yang bersifat global dan totalitarian. Menurut mereka, penguniversalan,

pensisteman, dan segala macam upaya mencari kebenaran abadi merupakan mitos

akademik yang telah menelantarkan subjek manusia. Mereka menekankan suatu

model pemahaman wacana yang empirik, kontekstual, plural, dan tak terbatas

yang mampu menampilkan kebutuhan setiap budaya dan sistem (Bartens,

1985:469-500).

41
BAB IX

TEORI RESEPSI SASTRA I

Teori resepsi sastra merupakan salah satu aliran dalam penelitian sastra

yang terutama dikembangkan oleh mazhab Konstanz tahun 1960-an di jerman.

Teori ini menggeserkan fokus penelitian dari struktur teks ke arah penerimaan

atau penikmatan pembaca. Mazhab Konstanz meneruskan penelitian

fenomenologi, strukturalisme Praha, dan hermeneutika.

Page 30

teori sastra.txt
Untuk memahami latar belakang teori-teori resepsi, terlebih dahulu

dijelaskan secara singkat pandangan-pandangan yang berperan mendorong

tumbuhnya pandangan resepsionistik itu, terutama fenomenologi dah

hermeunetika.

Fenomenologi dirintis oleh Edmund Husserl sebagai aliran filsafat yang

menekankan bahwa gejala-gejala harus diajak berbicara dan diberi kesempatan

memperlihatkan diri. Bagi husserl, objek penelitian filosofis yang sebenarnya

adalah isi kesadaran kita dan bukan objek dunia. Kita menemukan sifat-sifat

universal atau esensial dalam benda-benda yang tampak justru di dalam kesadaran

kita. Dengan demikian, makna gejala-gejala hanya dapat disimpulkan berdasarkan

pengalaman kita mengenai gejala-gejala itu. Ketika Roman Ingarden mencoba

menggambarkan cara khas penerimaan sebuah karya seni, dia menggunakan

kerangka acuan fenomenologi untuk menjelaskannya. Menurut Ingarden, setiap

karya sastra secara prinsip belum lengkap karena hanya menghadirkan bentuk

skematik dan sejumlah tempat tanpa batas yang perlu dilengkapi secara individual

menurut pengalamannya akan karya-karya lain. Namun demikian, sejauh

menyangkut teks, kelengkapan itu tak pernah dapat sempurna. Yang dapat

dilakukan untuk melengkapi struktur karya sastra itu adalah melakukan

konkretisasi (penyelarasan atau pengisian makna oleh pembaca).

Hermeneutika semula terbatas pada teori dan kaidah menafsirkan sebuah

teks, khususnya kitab suci agama Yahudi dan Kristen secara filologis, historis,

dan teologis. Schleiermacher memperluas istilah itu untuk menyebut cara kita

memahami dan menafsirkan sesuatu yang selalu dipengaruhi oleh konteks

42
historis. Gadamer memperluas lagi lingkup hermeneutik. Menurut dia istilah itu
mengacu pada proses mengetahui, memahami, dan menafsirkan sesuatu tidak
hanya melibatkan subjek dan objek, melainkan merupakan sebuah proses sejarah.
Cakrawala kesadaran sejarah yang meliputi si penafsir menentukan
pengetahuannya (Hartoko, 1986: 38).

Berikut ini akan dikemukakan teori-teori resepsi yang paling menonjol

dalam lingkup teori sastra.
1. Hans Robert Jauss: Horison Harapan

Teori resepsi, yang merupakan sebuah aplikasi historis dari tanggapan

pembaca terutama berkembang di Jerman ketika hans Robert Jauss

menerbitkan tulisan berjudul Literary Theory as a Challenge to Literary

Theory (1970). Fokus perhatiannya, sebagaimana teori tanggapan pembaca

lainnya, adalah penerimaan sebuah teks. Minat utamanya bukan pada

Page 31

                                         teori sastra.txt

tanggapan seorang pembaca tertentu pada suatu waktu tertentu melainkan

pada perubahan-perubahan tanggapan interpretasi dan evaluasi pembaca

umum terhadap teks yang sama atau teks-teks yang berbeda dalam kurun

waktu berbeda.

Jauss merupakan seorang ahli dalam bidang sastra Perancis abad

pertengahan dari Universitas Konstanz. Sebagai seorang ahli dalam bisang

sastra lama, Jauss beranggapan bahwa karya sastra lama merupakan

produk masa lampau yang memiliki relevansi dengan masa sekarang,

dalam arti ada nilai-nilai terntentu untuk orang yang membacanya. Untuk

menggambarkan relevansi itu Jauss memperkenalkan konsep yang

terkenal: Horizon Harapan yang memungkinkan terjadinya penerimaan

dan pengolahan dalam batin pembaca terhadap sebuah objek literer.

Melalui penelitian resepsi, Jauss ingin merombak sejarah sastra masa itu

yang terkesan hanya memaparkan sederetan pengarang dan jenis sastra

(genre). Fokus perhatiannya adalah proses sebuah karya sastra diterima,

sejak pertama kali ditulis sampai penerimaan-penerimaan selanjutnya.

43
De Man menilai bahwa Jauss berusaha menjembatani teori-teori

formalisme Rusia dengan teori-teori Marxis. Teori formalisme Rusia

dipandangnya terlalu berlebihan menekankan nilai estetik teks sehingga

mengabaikan dungsi sosial sastra. Sebaliknya teori-teori Marxis terlalu

menekankan fungsi sosial sastra dalam masyarakat sehingga hakikat sastra

sebagai karya seni kurang diperhatikan. Jauss menegaskan bahwa sebuah

karya sastra merupakan objek estetik yang memiliki implikasi estetik dan

implikasi historik. Implikasi estetik timbul apabila teks dinilai dalam

perbandingan dengan karya-karya lain yang telah dibaca, dan implikasi

historis muncul akibat perbandingan historis dengan rangkaian penerimaan

atau resepsi sebelumnya.

Jaus mengungkapkan tujuh tesis pemikiran teoretisnya. Secara

singkat ketujuh tesis itu berikut ini.

1) Karya sastra bukanlah monumen yang mengungkapkan makna yang

satu dan sama, seperti anggapan tradisional mengenai objektivitas

sejarah sebagai deskripsi yang tertutup. Karya sastra ibarat oerkestra:

selalu memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menghadirkan

resonansi yang baru yang membebaskan teks itu dari belenggu bahasa,

dan menciptakan konteks yang dapat diterima pembaca masa kini.

Sifat dialogal ini memungkinkan pembaca mengapropriasikan masa

lampau untuk ditiru, diabaikan, atau ditolak.

2)

Sistem horison harapan pembaca timbul sebagai akibat adanya momen

historis karya sastra, yang meliputi suat prapemahaman mengenai

genre, bentuk, dan tema dalam karya yang sudah diakrabi, dan dari

pemahaman mengenai oposisi antara bahasa puitis dan bahasa seharihari.

Page 32

                                     teori sastra.txt

Sekalipun sebuah karya sastra tampak baru sama sekali, ia

sesungguhnya tidak baru secara mutlak seolah-olah hadir dari

keosongan. Sastra telah memerpsiapkan pembacanya dalam sebuah

sistem penerimaan yang khas melalui tanda-tanda dan kode-kode

dalam perbandingan dengan hal yang sudah dikenal sebelumnya. Jadi,

ada interaksi antara teks dengan konteks pengalaman pencerapan

44
estetik yang bersifat transsubjektif itu. Horison harapan

memungkinkan seseorang mengenal ciri artistik sebuah karya teks

sastra.

3)

Jika ternyata masih ada jarak estetik antara horison harapan dengan

wujud sebuah karya sastra yang baru, maka proses penerimaan dapat

mengubah harapan itu baik melalui penyangkalan terhadap

pengalaman estetik yang sudah dikenal atau melalui kesadaran bahwa

sudah muncul suatu pengalaman estetik yang baru. Di sini dituntut

penerimaan sastra sebagaimana penerimaan seni pertunjukan, yang

selalu memenuhi horison harapan sesuai dengan cita rasa keindahan,

sentimen-sentimen, dan emosi yang sudah dikenal. Justru karya sastra

yang adiluhung memiliki sifat artistik jarak estetik ini.

4)

Rekonstruksi mengenai horison harapan terhadap karya sastra sejak

diciptakan atau disambut pada masa lampau hingga masa kini, akan

menghasilkan berbagai varian resepsi dengan semangat jaman yang

berbeda. Dengan demikian, pandangan platonis mengenai makna karya

sastra yang objektis, tunggal dan abadi untuk semua penafsir perlu

ditolak.

5)

Teori estetika penerimaan tidak hanya sekadar memahami makna dan

bentuk karya sastra menurut pemahaman historis. Dia menuntut agar

kita memasukkan sebuah karya individual ke dalam rangkaian sastra

agar lebih dikenal posisi dan arti historisnya dalam konteks

pengalaman sastra.

6) Apabila pemahaman dan pemaknaan sebuah karya sastra menurut

resepsi historis tidak dapat dilakukan karena adanya perubahan sikap

estetik, maka seseorang dapat menggunakan perspektif sinkronis untuk

menggambarkan persamaan, perbedaan, pertentangan, ataupun

hubungan antara sistem seni sejaman dengan sistem seni dalam masa

lampau. Sebuah sejaran sastra menjadi mantap dalam pertemuan

perspektif sinkronis dan diakronis. Jadi, sistem sinkronis tetap harus

45
Page 33

teori sastra.txt
membuat masa lampau sebagai elemen struktural yang tak dapat

dipisahkan.

7) Tugas sejarah sastra tidak menjadi lengkap hanya dengan

menghadirkan sistem-sistem karya sastra secara sinkronis dan

diakronis, melainkan harus juga dikaitkan dengan sejarah umum.

Kedudukan khas dan unik dari sejarah sastra perlu perlu mendapat

kepunuhannya dalam sejarah umum. Hubungan ini tidak berakhir

dengan sekadar menemukan gambaran mengenai situasi sosial yang

berlaku di dalam karya sastra. Fungsi sosial karya sastra hanya

sungguh terwujud bila pengalaman sastra pembaca masuk ke dalam

horison harapan mengenai kehidupannya yang praktis, membuat

dirinya semakin memahami dunianya, dan akhirnya memiliki pengaruh

kepada tingkah laku sosialnya. Pandangan Jauss tempaknya

memperoleh sambutan dan dukungan yang luas di kalahngan ilmuwan

sastra modern.

2. Wolfgang Iser: Pembaca Implisit

Iser juga termasuk salah seoramh eksponen mazhab Konstanz. Tetapi

berbeda dari Jaunn yang memperkenalkan model sejarah resepsi, Iser lebih

memfokuskan perhatiannya kepada hubungan individual antara teks dan

pembaca (estetikan pengolahan). Pembaca yang dimaksud oleh Iser

bukanlah pembaca konkret individual, melainkan pembaca implisit. Secara

singkat dapat dikatakan bahwa pembaca implisit merupakan suatu instansi

di dalam teks yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara teks dan

pembacanya. Dengan kata lain, pembaca yang diciptakan oleh teks-teks itu

sendiri, yang memungkinkan kita membaca teks itu dengan cara tertentu.

Iser mengemukakan teori resepsinya dalam bukunya The Act of

Reading: a Theory of Aesthetic Response (1978). Menurut Iser, tak

seorang pun yang menyangkal keberadaan pembaca dalam memberi

penilaian terhadap karya sastra, sekalipun orang berbicara mengenai

otonomi sastra. Oleh karena itu, observasi terhadap respon pembaca

46
merupakan studi yang esensial. Pusat kegiatan membaca adalah interaksi

antara struktur teks dan pembacanya. Teori fenomenologi seni telah

menekankan bahwa pembacaan sastra tidak hanya melibatkan sebuah teks

sastra, melainkan juga aksi dalam menanggapi teks. Teks itu sendiri

hanyalah aspek-aspek skematik yang diciptakan pengarang, yang akan

digantikan dengan kegiatan konkretisasti (realisasi makna teks oleh

pembaca).

Iser (1978: 20-21) menyebutkan bahwa karya saastra memiliki dua

kutub, yakni kutub artistik dan kutub estetik. Kutub artistik adalah kutub

Page 34

                                      teori sastra.txt

pengarang, dan kutub estetik merupakan realisasinya yang diberikan oleh

pembaca. Aktualisasi yang benar terjadi di dalam interaksi antara teks

(perhatian terhadap teknik pengarang, struktur bahasa) dan pembaca

(psikologi pembaca dalam proses membaca, fungsi struktur bahasa

terhadap pembaca). Penelitian sastra harus dimulai dari kode-kode struktur

yang terdapat dalam teks. Aspek verbal (struktur/bahasa) perlu dipahami

agar menghindarkan penerimaan yang arbitrer. Fungsi struktur itu tidak

berlaku selama belum ada efeknya bagi pembaca. Oleh karena itu

penelitian perlu dilanjutkan dengan mendeskripsikan interaksi antara

bahasa dan pembaca, yang merupakan kepenuhan penerimaan teks.

Bagi Iser, tugas kritik teks adalah menjelaskan potensi-potensi

makna tanpa membatasi diri pada aspek-aspek tertentu, karena makna teks

bukanlah sesuatu yang tetap melainkan sebagai peristiwa yang dinamik,

dapat berubah-ubah sesuai dengan gudang pengalaman pembacanya.

Sekalipun disadari bahwa totalitas makna teks tidak dapat secara tuntas

dipahami, proses membaca itu sendiri merupakan suatu prakondisi penting

bagi pembentukan makna. Makna referensial bukanlah ciri pokok estetis.

Apa yang dinamakan estetis adalah jika hal tertentu membawa hal baru,

sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Jadi, penetapan makna estetis

sesungguhnya bermakna ganda, bersifat estetis sekaligus diskursif.

Pengalaman yang dibangun dan digerakkan dalam diri pembaca oleh

47
sebuah teks menunjukkan bahwa kepenuhan makna estetis muncul dalam

relasi dengan sesuatu di luar teks.

Pandangan Iser tentang estetika resepsi dapat dipahami dengan

meninjau teorinya mengenai pembaca implisit dan membandingkannya

dengan teori-teori pembaca lainnya.

Menurut Iser, konsep tradisional mengenai pembaca selama ini

umumnya mencakup dua kategori, yakni pembaca nyata atau pembaca

historis dan pembaca potensial atau pembaca yang diandaikan oleh

pengarang. Diandaikan bahwa pembaca jenis kedua ini mampu

mengaktualisasikan sebuah teks dalam sebuah konteks secara memadai,

seperti seorang pembaca ideal yang memahami kode-kode pengarang.

Selain teori-teori tradisional tersebut, terdapat beberapa pandangan

yang lebih modern tentang pembaca, yang menurut Iser tidak bebas dari

kesalahan.

1) Michael Riffaterre memperkenalkan istilah superreader, yakni sintesis

pengalaman membaca dari sejumlah pembaca dengan kompetensi

yang berbeda-beda. Kelompok ini diharapkan dapat mengungkap

potensi semantik dan pragmatik dari pesan teks melalui stilistika.

Kesulitan akan muncul bila terdapat penyimpangan gaya, yang

Page 35

                                  teori sastra.txt

mungkin hanya dipahami dengan referensi lain di luar teks.

2) Stanley Fish mengajukan istilah informed reader (pembaca yang tahu,

yang berkompeten), yang mirip dengan konsep Rifattere. Untuk

menjadi seseorang pembaca yang berkompeten, diperlukan syaratsyarat:

a) kemampuan dalam bidang bahasa, b) kemampuan semantik,

c) kemampuan sastra. Melalui kemampuan-kemampuan ini seorang

informed reader dapat merespon karya sastra. Teori ini tidak dapat

diterima karena lebih berkaitan dengan teks daripada dengan

pembacanya. Perubahan kalimat misalnya, lebih berkaitan dengan

aturan gramatikal daripada pengalaman pembaca.

3)

Edwin Wolff mengusulkan intended reader, yakni model pembaca

yang berada dalam benak penulis ketika dia merekonstruksikan idenya.

48
Model pembaca ini mengacu kepada pembayangan seorang penulis

tentang pembaca tulisannya melalui observasi akan norma dan nilai

yang dianut masyarakat pembacanya. Pembaca ini akan mampu

menangkap isyarat-isyarat tekstual. Persoalannya, bagaimana jika

seorang pembaca yang tidak dituju pengarang tetapi mampu

memberikan arti kepada sebuah teks?

Iser sendiri mengajukan konsep implied reader untuk mengatasi

kelemahan pandangan-pandangan teoritis mengenai pembaca.

Pembaca tersirat sesungguhnya telah dibentuk dan distrukturkan di

dalam teks sastra. Teks sendiri telah mengandung syarat-syarat bagi

aktualisasi yang memungkinkan pembentukan maknanya dalam benak

pembaca (Iser, 1982: 34). Dengan demikian, kita harus mencoba

memahami efek tanggapan pembacanya terhadap teks tanpa prasangka

tanpa mencoba mengatasi karakter dan situasi historisnya. Teks sudah

mengasumsikan pembacanya, entah pembaca yang berkompeten

maupun tidak. Teks menampung segala macam pembaca, siapapun

dia, karena struktur teks sudah menggambarkan peranannya.

Perhatikan bahwa teks sastra disusun seorang pengerang (dengan

pandangan dunia pengarangnya) mengandung empat perspektif utama,

yaitu pencerita, perwatakan, alur, dan bayangan mengenai pembaca.

Keempat perspektif ini memberi tuntunan untuk menemukan arti teks.

Arti teks sebuah teks dapat diperoleh jika keempat perspektif ini dapat

dipertemukan dalam aktivitas atau proses membaca. Di sini terlihat

kedudukan pembaca yang sangat penting dalam memadukan perspetifperspektif

tersebut dalam satu kesatuan tekstual, yang dipandu oleh

penyatuan atau perubahan perspektif.

Instruksi-instruksi yang ditunjukkan teks merangsang bayangan

mental dan menghidupkan gambaran yang diberikan oleh struktur teks.

Page 36

                                    teori sastra.txt

Jadi gambaran mental itu muncul selama proses membaca struktur

teks. Pemenuhan makna teks terjadi dalam proses ideasi

(pembayangan dalam benak pembaca) yang menerjemahkan realitas

49
teks ke dalam realitas pengalaman personal pembaca. Secara konkret,

isi nyata dari gambaran mental ini sangat dipengaruhi oleh gudang

pengalaman pembaca sebagai latar referensial.

Konsep implied reader memungkinkan kita mendeskripsikan efekefek

struktur sastra dan tanggapan pembaca terhadap teks sastra.

50
BAB X

TEORI RESEPSI SASTRA II

Psikoanalisis: Norman Holland dan Simon Lesser
Holland dan Lesser menggunakan terminologi psikoanalisis sebagai alat

mendeskripsikan tanggapan pembaca terhadap teks sastra.

Norman Holland pertama-tama menempatkan sastra sebagai sebuah pengalaman

(bukan sebagai bentuk komunikasi, sebagai bentuk ekspresi, atau sebagai karya

seni). Pokok perhatiannya adalah pengalaman pembaca yang dipengaruhi oleh

sastra. Menurut dia, semua karya sastra mentransformasikan fantasi-fantasi tak

sadar (menurut psikoanalisa) kepada makna-makna kesadaran yang dapat

ditemukan dalam interpretasi konvensional. Jadi, makna psikoanalisis merupakan

sumber bagi makna-makna lain. makna psikoanalisis harus dicari karena tingkatan

makna lain hanyalah manifestasi historis atau sosial.

Bagi Holland, sastra memiliki efek pembebasan sehingga akhir dari semua

analisis seni adalah suatu kesenangan hidup. Kesenangan hidup diperoleh melalui

pelepasan. Sekalipun karya sastra membuat perasaan kita sakit, bersalah, atau

cemas, perasaan-perasaan itu (yang sesungguhnya hanyalah fantasi belaka) kita

terima dan kita kuasai sedemikian rupa untuk menjadi pengalaman yang

menyenangkan. Gagasan bahwa sastra akan menimbulkan kenikmatan muncul

sebagai akibat alternasi ritmik antara “gangguan” dan “penguasaan”.

Simon Lesser dalam bukunya Fiction and the Unconscious (1962)

mengembangkan teori emotif melalui model komunikasi yang memungkinkan dia

mendeskripsikan efek-efek pembebasan yang dirasakan pembaca. Untuk

keperluan ini, Lesser memanfaatkan sarana analisis psikoanalisis: superego, ego,

dan id. Seperti Holland, Lesser juga beranggapan bahwa sastra memberikan

pembebasan. Akan tetapi, pembebasan ini hanya memadai bila karya sastra itu

Page 37

                                 teori sastra.txt

memberikan kepuasan yang berbeda-beda pada suatu kurun waktu yang sama.

Komponen-komponen kejiwaan itu harus ditempatkan dalam suatu

gerakan. Setiap karya sastra memiliki efek-efek superego, ego, dan id yang perlu

direfleksikan oleh pembaca. Keterlibatan pembaca ke dalam komponen

51
komponen kejiwaan itu hanya dapat terpenuhi bila karya sastra mengandung

aspek-aspek yang kontradiktif, ambigu, tumpang-tindih, dan samar. Dengan kata

lain, irama konflik (dalam teks) dan solusi (oleh pembaca). Di dalam proses

membaca, pembaca menyusun dan menciptakan cerita dalam imajinasi yang

terstruktur. Cerita ini sendiri bersifat eliptis (ada sebagiannya yang dihilangkan).

Bagian inilah yang harus dihidupkan dengan pengalaman subjektif masing-masing

pembaca.

Konvensi Pembacaan: Jonathan Culler
Jonathan Culler menekankan pentingnya perspektif linguistik untuk teori

sastra. Ia menerima premis bahwa linguistik memberikan model pengetahuan

yang paling baik bagi ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan kemasyarakatan

(Culler, 1975: 4-9). Ia menerima pembagian Chomsky tentang kompetensi

(sebagai titik mula suatu pengertian dalam sistem bahasa) dan performansi

(penggunaan kalimat sesuai dengan pengetahuan mengenai sistem bahasa). Jika

diterapkan untuk teori sastra, maka objek poetika yang nyata bukan karya sastra

melainkan kemampuan pembaca dalam memahaminya. Yang dimaksud dengan

kompetensi adalah sebuah perangkat konvensi untuk membaca teks sastra.

Keinginan Culler yang utama adalah menggeser fokus perhatian dari teks

kepada pembaca. Culler menyatakan bahwa suatu teori pembacaan harus

mengungkap norma dan prosedur yang menuntun pembaca kepada suatu

penafsiran. Kita semua tahu bahwa setiap pembaca memiliki variasi penafsiran

yang berbeda-beda mengenai sebuah teks yang sama. Berbagai penafsiran itu

harus dapat dijelaskan oleh teori. Sekalipun penafsiran itu berbeda-beda tetapi

mungkin saha mereka mengikuti satu konvensi penafsiran yang sama (Selden,

1991: 127).

Studi Sastra harus menerangkan konvensi-konvensi yang memungkinkan

suatu karya sastra dapat dipahami. Dalam menghadapi sebuah teks, seorang

pembaca yang berkompeten dapat merumuskan cara-cara untuk menafsirkan

maknanya, berdasarkan konvensi bahasa dan sastra yang berlaku. Culler melihat

struktur tidak menurut sistem yang mendasari teks melainkan menurut sistem

52
Page 38

                                      teori sastra.txt

yang mendasari tindak penafsiran pembaca. Untuk dapat membaca teks sebagai

karya sastra, kita harus memiliki kompetensi sastra yang lebih umum untuk

memberi arti kepada aspek-aspek kebahasaan yang kita hadapi.

Kompetensi sastra merupakan salah satu prinsip signifikasi yang

terpenting. Kompetensi sastra berkaitan dengan pemahaman terhadap konvensi

dalam perwujudan sastra dan karya sastra. Konvensi-konvensi itu sangat beragam

sifatnya: ada yang sangat umum, ada pula yang khas dan spesifik, dan ada yang

terbatas pada jenis atau tipologi sastra tertentu. Misalnya ada konvensi umum

mengenai drama dan lirik. Ada konvensi yang spesifik seperti konvensi pantun

dan soneta. Konvensi-konvensi itu yang berfungsi sebagai dasar pemahaman

karya sastra bagi seorang pembaca. Kita hanya dapat memahami sebuah puisi

misalnya, jika kita tahu apakah puisi itu dalam sebuah konteks bahasa dan budaya

tertentu (Teeuw, 1988: 95-106).

Rangkuman Teori Resepsi Sastra
Tumbuhnya teori-teori resepsi sastra dipicu oleh alam pemikiran filsafat

(fenomenologi) yang bekembang pada masa itu. Pergeseran orientasi kritik sastra,

dari pengarang kepada teks, dan dari teks kepada pembaca diilhami oleh

pandangan bahwa teks-teks sastra merupakan salah satu gejala yang hanya

menjadi aktual jika sudah dibaca dan ditanggapi pembacanya. Teks hanya sebuah

pralogik dan logika yang sesungguhnya justru ada pada benak pembacanya.

Teori `ini juga muncul sebagai reaksi terhadap sejarah sastra yang tertutup

dan hanya menyajikan deretan pengarang dan jenis sastra. Sejarah sastra seolaholah

suatu momentum mati yang tidak bisa lagi dinikmati dan dihayati oleh

pembaca-oembaca masa kini. Faktor inilah yang menyebabkan Jauss, perintis

teori resepsi sastra, memperkenalkan konsep penerimaan sebuah teks. Menurut

dia, karya sastra agung adalah karya sastra yang masih dapat dinikmati sekalipun

ada jarak estetik yang memisahkannya dari pembaca.

Melalui ketujuh tesisnya, Jauss meletakkan dasar-dasar resepsi sastra

dalam kaitannya dengan sejumlah estetika penerimaan. Teori resepsi ini pun

segera mendapat perhatian berbagai ahli ilmu sastra. Iser mengkhususkan dirinya

53
pada penerimaan dan pencerapan karya sastra oleh pembaca implisit. Culler

beranggapan bahwa pemahaman karya sastra sangat ditentukan oleh kompetensi

sastra, yakni kemampuan pembaca mewujudkan konvensi-konvensi sastra dalam

suatu jenis sastra tertentu.

54
BAB XI
Page 39

teori sastra.txt
INTERTEKSUTUALITAS
Kajian intertekstualitas dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah

teks (sastra), yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya

untuk menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsik seperti ide, gagasan,

peristiwa, plot, penokohan, (gaya) bahasa, dan lainnya, di antara teks yang dikaji.

Secara khusus dapat dikatakan bahwa kajian interteks berusaha menemukan

aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya pada karya

yang muncul lebih kemudian. Tujuan kajian interteks itu sendiri adalah untuk

memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya tersebut. Penulisan dan

atau pemunculan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya

sehingga pemberian makna itu akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur

kesejarahan itu (Teeuw, 1983: 62-5).

Masalah ada tidaknya hubungan antarteks ada kaitannya dengan niatan

pengarang dan tafsiran pembaca. Dalam kaitan ini Luxemburg dkk (1989: 10)

mengartikan intertekstualitas sebagai: kita menulis dan membaca dalam suatu

interteks suatu tradisi budaya, sosial, dan sastra yang tertuang dalam teks-teks.

Setiap teks sebagian bertumpu pada konvensi sastra dan bahasa dan dipengaruhi

oleh teks-teks sebelumnya.

Kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya tulis, ia

tidak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Unsur budaya, termasuk

semua konvensi dan tradisi di masyarakat, dalam wujudnya yang khusus berupa

teks-teks kesastraan yang ditulis sebelumya. Dalam hal ini kita dapat mengambil

contoh, misalnya, sebelum para pengarang Balai Pustaka menulis novel, di

masyarakat telah ada hikayat dan berbagai cerita lisan lainnya seperti pelipur lara.

Sebelum para penyair Pujangga Baru menulis puisi-puisi moderennya, di

masyarakat telah ada berbagai bentuk puisi lama, seperti pantun dan syair, di

samping mereka juga berkenalan dengan puisi angkatan 80-an di negeri Belanda

yang telah mentradisi. Kemudian, sebelum Chairil Anwar dan kawan-kawan

seangkatannya menulis puisi dan prosa di masyarakat juga telah ada puisi-puisi

55
modern ala Pujangga baru, berbagai puisi drama, di samping tentu saja puisi-puisi

lama. Demikian pula halnya dengan penulisan prosa, dan begitu seterusnya,

terlihat adanya kaitan mata rantai antara penulisan karya sastra dengan unsur

kesejarahannya. Penulisan suatu karya sastra tak mungkin dilepaskan dari unsur

kesejarahannya, dan pemahaman terhadapnya pun haruslah mempertimbangkan

unsur kesejarahan itu. Makna keseluruhan sebuah karya, biasanya, secara penuh

baru dapat digali dan diungkap secara tuntas dalam kaitannya dengan unsur

kesejarahan tersebut.

Karya sastra yang ditulis lebih kemudian, biasanya mendasarkan diri pada

karya-karya lain yang telah ada sebelumnya, baik secara langsung maupun tidak

langsung, baik dengan cara meneruskan maupun menyimpang (menolak,

Page 40

                                       teori sastra.txt

memutarbalikkan esensi) konvensi. Riffaterre mengatakan bahwa karya sastra

selalu merupakan tantangan, tantangan yang terkandung dalam perkembangan

sastra sebelumnya, yang secara konkret mungkin berupa sebuah atau sejumlah

karya. Hal itu, sekali lagi, menunjukkan keterikatan suatu karya dari karya-karya

lain yang melatarbelakanginya.

Karya sastra yang dijadikan dasar penulisan bagi karya yang kemudian

disebut sebagai hipogram. Istilah hipogram, barangkali dapat diindonesiakan

menjadi latar, yaitu dasar, walau mungkin tak tampak secara eksplisit, bagi

penulisan karya yang lain. wujud hipogram mungkin berupa penerusan konvensi,

sesuatu yang telah bereksistensi, penyimpangan dan pemberontakan konvensi,

pemutarbalikan esensi dan amanat teks sebelumnya (Teeuw, 1983: 65). Dalam

istilah lain, penerusan tradisi dapat juga disebut sebagai mitos pengukuhan,

sedangkan penolakan tradisi sebagai mitos pemberontakan. Kedua hal tersebut

boleh dikatakan sebagai sesuatu yang wajib hadir dalam penulisan teks

kesastraan, sesuai dengan hakikat kesastraan itu yang selalu berada dalam

ketegangan antara konvensi dan invensi, mitos pengukuhan dan mitos

pemberontakan.

Adanya karya-karya yang ditransformasikan dalam penulisan karya

sesudahnya ini menjadi perhatian utama kajian intertekstual misalnya lewat

pengontrasan antara sebuah karya dengan karya lain yang diduga menjadi

56
hipogramnya. Adanyanya unsur hipogram dalam suatu karya, hal itu mungkin

disadari mungkin tidak disadari oleh pengarang. Kesadaran pengarang terhadap

karya yang menjadi hipogramnya, mungkin berwujud dalam sikapnya yang

meneruskan atau sebaliknya menolak, konvensi yang berlaku sebelumnya. Kita

lihat misalnya, Chairil Anwar menolak wawasan estetika sajak-sajak angkatan

sebelumnya dan menawarkan wawasan estetika baru yang ternyata mendapat

sambutan secara luas. Hal itu terlihat, misalnya, dengan banyaknya penyair

sesudahnya yang berguru pada puisi-puisinya sehingga hal itu pun akibatnya

menjadi konvensi pula.

Dalam kaitannya dengan hipogram itu, Julia Kristeva mengemukakan

bahwa tiap teks merupakan sebuah mosaik kutipan-kutipan, tiap teks merupakan

penyerapan dan transformasi dari teks-teks lain. hal itu berarti, bahwa tiap teks

yang lebih kemudian mengambil unsur-unsurtertentu yang dipandang baik dari

teks sebelumnya, yang kemudian diolah dalam karya sendiri berdasarkan

tanggapan pengarang yang bersangkutan. Dengan demikian, walau sebuah karya

berupa dan mengandung unsur ambilan dari berbagai teks lain, karena telah diolah

dengan pandangan dan daya kreativitasnya sendiri, dengan konsep estetika dan

pikiran-pikirannya, karya yang dihasilkan tetap mengandung dan mencerminkan

sifat kepribadian penulisnya.

Sebuah teks kesastraan yang dihasilkan dengan kerja yang demikian dapat

dipandang sebagai karya yang baru. Pengarang dengan kekuatan imajinasi,

Page 41

                                        teori sastra.txt

wawasan estetika, dan horison harapannya sendiri, telah mengolah dan

mentransformasikan karya-karya lain ke dalam karya sendiri. Namun, unsur-unsur

tertentu dari karya-karya lain tersebut, yang mungkin berupa konvensi, bentuk

formal tertentu, gagasan, tentulah masih dapat dikenali (Pradopo, 1987: 228).

Usaha pengidentifikasian hal-hal itu dapat dilakukan dengan memperbandingkan

antara teks-teks tersebut.

Dalam penulisan teks kesastraan, orang membutuhkan konvensi, aturan,

namun hal itu sekaligus akan disimpanginya. Levin bahkan mengatakan bahwa

pengakuan konvensi dalam sejarah bertepatan dengan penolakannya. Penulisan

sebuah teks kesastraan tidak mungkin tunduk seratus persen pada konvensi.

57
Pengarang yang notabene memiliki daya kreativitas tinggi menciptakan yang

baru, yang asli. Namun, pembaharuan yang ekstrem dengan menolak semua

konvensi akan berakibat karya yang dihasilkankurang dapat dipahami dan tidak

komunikatif. Penyimpangan memang perlu dilakukan namun ia tentunya masih

dalam batas-batas tertentu, masih ada unsur konvensi di dalamnya, sehingga

masih ada celah yang dapat dimanfaatkan pembaca yang memang telah berada

dalam konvensi dan tradisi tertentu.

Prinsip intertekstualitas yang utama adalah prinsip memahami dan

memberikan makna karya yang bersangkutan. Karya itu diprediksikan sebagai

reaksi, penyerapan, atau transformasi dari karya yang lain. masalah intertekstual

lebih dari sekedar pengaruh, ambilan, atau jiplakan, melainkan bagaimana kita

memperoleh makna sebuah karya secara penuh dalam kontrasnya dengan karya

yang lain yang menjadi hipogramnya, baik berupa teks fiksi maupun puisi.

Adanya hubungan intertekstualitas dapat dikaitkan dengan teori resepsi. Pada

dasarnya pembacalah yang menentukan ada atau tidak adanya kaitan antara teks

yang satu dengan teks yang lain itu, unsur-unsur hipogram itu, berdasarkan

persepsi, pemahaman, pengetahuan, dan pengalamannya membaca teks-teks lain

sebelumnya. Penunjukan terhadap adanya unsur-unsur hipogram pada suatu karya

dari karya-karya lain pada hakikatnya merupakan penerimaan atau reaksi

pembaca.

58
BAB XII

CONTOH PENERAPAN TEORI

Intertekstualitas Sajak Zuhud dan Kematian
1. Sajak Thirrimah

Thirrimah menggunakan pandangan yang realis dalam menanggapi

Page 42

                                    teori sastra.txt

kehidupan, yakni setiap makhluk hidup pasti mati dan akan kembali kepada Nya.

Sedangkan Zuhair menanggapi hidup dan kematian dengan optimisme. Ia

menggambarkan kematian seolah tamu yang tak diundang, dan karenanya hidup

itu penuh kejemuan, kebosanan. Namun demikian, masih ada harapan untuk

memaknai hidup menjadi lebih hidup.

…. .. .. … … … …. ….. ….. ..

…. .. …. …. ……. . ……. .. ……. ….. … ….. .. …. …. . …..

(Al-Mausu’ah al-syi’riyyah)
.

Setiap makhluk hidup berusaha sempurnakan umur

Dan menghabiskannya hingga habis

.

Aku heran orang-orang kumpulkan harta

Bangga dan bekerja untuknya saja

.

Hilangkan anugerahNya

Untuk sesuatu yang tidak diyakininya

Sajak Thirrimah itu merupakan tentangan terhadap sajak Zuhair.

Thirrimah dalam hal ini menentang pandangan optimismenya Zuhair dengan

pandangan realismenya yang cenderung pesimis.

2. Sajak Zuhair

Sajak Zuhair dalam pada itu, menunjukkan kesejajaran ide dan gagasan. Ia

mempergunakan ekspresi romantik dengan cara metaforis-personifikasi, yakni

menggambarkan maut sebagai tamu yang datang tanpa permisi.

…. ….. …. … … … …… ….. …………… ….. …. …….. . .. .. …… .. .. .. .. ..
59
 …. …. … ………. … ……. ……. .. …….. … .. … …….. … … … .. ……. ……

.. .. …. ….. …….. .. … … …. … … …. …. ….. …… …… … … … ….. ……. ….

(Al-Mausu’ah al-syi’riyyah)
.

Kujemu dengan segala beban hidup, siapa yang berumur

80 tahun merasa jemu tentu

.

Kutahu apa yang terjadi kini dan yang lalu

Tapi tidak dengan esok

.

Kuliat maut datang tak permisi, siapa didatangi

Mati, siapa luput lanjut

Page 43

teori sastra.txt
.

Siapa jaga kehormatan, terhormat

Siapa tak hindari celaan, tercela

.

Siapa tepati janji, terpuji, siapa hatinya

Terpimpin berbuat baik

.

Siapa takut maut, pasti bertemu

Meski lari ke langit

Sajak Zuhair di atas (bait 1) dapat diuraikan bahwa si aku telah jemu,

bosan dengan segala beban hidup yang harus ditanggung. Karena itu, siapapun

jika ada orang yang hidup hingga tua (berumur 80 tahun) pastilah ia merasa bosan

karena harus menanggung banyak urusan dunia. Berumur muda saja sudah

menanggung berat beban, apalagi berumur hingga 80 tahun! //kujemu dengan

beban hidup, siapa yang berumur// 80 tahun merasa jemu tentu//.

Si aku merasa memiliki kemampuan untuk mengetahui apa yang terjadi

saat ini dan apa yang telah terjadi kemarin. Namun, ia tidak dapat mengetahui apa

yang akan terjadi esok (bait 2). Karena itulah, si aku pasrah dengan kedatangan

maut yang tanpa permisi //karena ia tak tahu kapan akan datang/. Ia pasrah,

karena siapapun yang didatangi maut maka ia tidak dapat mengelak (bait 3).

Meski, si aku pasrah akan datangnya maut, tapi ia memiliki optimisme

dalam kehidupannya. Agar hidupnya berisi dan makin hidup, ia akan selalu

menjaga harga dirinya agar terhormat dan terhindar dari celaan (bait 4). Selain itu,

ia akan menjadi orang yang menepati janji supaya terpuji (bait 5). Walaupun, ada

rasa ketakutan akan maut, tapi maut tetap akan datang menemui, meski engkau

lari ke ujung langit (bait 6).

60
Sajak Zuhair di atas bila diperhatikan berlewah dalam mengungkap

gagasannya mengenai hidup dan mati. Dalam sajak itu kelihatan sikap Zuhair

yang optimistis dalam memaknai hidup meski di satu sisi ia akan mati. Terdapat

ironi antara beban hidup dan kematian. Namun, kepasrahan dalam menghadapi

kematian itu ditanggapi dengan optimisme dalam hidup, agar ketika mati

menjemput namanya tetap harum karena perbuatan baiknya semasa hidup.

Dalam menanggapi sajak zuhair itu, Thirrimah cukup berlawanan sikap

dan gagasannya. Ia berpandangan realis pesimis. Kecuali itu, Thirrimah tidak

ingin berpanjang lebar dalam menguraikan tentang hidup dan mati, hanya 3 bait!

Si aku sadar bahwa setiap makhluk hidup ingin agar hidupnya (umurnya)

panjang dan bermakna /tiap makhluk hidup berusaha sempurnakan umur/.

Mereka ingin menikmati dan menghabiskan masa hidupnya dengan sempurna

hingga usianya benar-benar habis (mati). Akan tetapi, hal itu malah membuat si

aku menjadi heran, mengapa orang-orang gemar mengumpulkan, menumpuk, dan

Page 44

                                      teori sastra.txt

menimbun harta, toh niscaya ia akan mati. Mengapa orang-orang membanggakan

kekayaannya, toh ia akan mati. Mengapa orang-orang bekerja dan mengabdi

hanya demi harta, toh ia akan mati (bait 2). Si aku tetap heran dan bertanya-tanya.

Mengapa mereka menghilangkan dan menyia-nyiakan anugerah Nya untuk

pekerjaan yang tidak diyakini manfaat dan kebenarannya.

Nilai-nilai yang tampak dari sajak Thirrimah di atas mengakui pandangan

bahwa hidup di dunia itu bersifat sementara. Sementara kehidupan setelah mati

adalah kehidupan yang abadi.

Thirrimah dalam hal ini jelas menentang gagasan Zuhair yang realis

optimis. Thirrimah berpandangan realis pesimis. Ia menyadari memang ada hidup

setelah mati. Dan kehidupan di dunia itu sifatnya fana. Karena itu bagi dia,

keberlimpahan harta, mengejar dunia itu tidak ada gunanya. Lebih baik beribadah

kepada Allah.

Kepasrahan dalam menghadapi kematian menggambarkan kepesimisannya

dalam memaknai (menyempurnakan) hidupnya. Thirrimah dalam hal ini bersifat

zuhud, yakni menjauhi hal keduniawian.

61
Dalam hal temai, sajak Thirrimah yang merupakan tanggapan atas teks

hipogramnya sajak Zuhair, memiliki perbedaan. Tema dalam sajak Thirrimah

adalah zuhud, menjauhi hal-hal keduniawian atau hedonisme. Karena itulah dalam

sajaknya, ia mengekspresikan gagasan dan idenya dengan padat, tidak berbelitbelit

dan berpanjang lebar.

Dalam pada itu, sajak zuhair bertemakan hikmah (wisdom), yakni berisi

nasihat-nasihat dan anjuran-anjuran agar orang berbuat baik. Karena itu ia

mengekspresikan gagasannya dengan panjang lebar, sebab banyak nasihat-nasihat

yang disampaikan. Selain itu, ia lebih optimis dalam menghargai hidup dan mati.

Perbedaan tema dan pengekspresian gagasan itu terjadi karena latar

historis. Zuhair hidup pada masa Jahiliyah, masa sebelum Islam datang. Meski ia

hidup pada masa Jahiliyah, namun ia berbeda dengan orang-orang sezamannya

yang umumnya berperilaku sesat dan cabul (mujun). Zuhair dikenal sebagai

penyair hikmah, yang sajak-sajaknya berisi nasihat-nasihat dan anjuran-anjuran

menuju kebaikan, meskipun ia seorang pagan.

Thirrimah di lain pihak, hidup pada masa Umayyah, yakni ketika ajaranajaran

Islam telah diterapkan. Namun, ia cenderung memilih untuk berzuhud,

meski Nabi tidak melarang umatnya berkerja dan mengumpulkan hartaii.

Secara tipografis, tampak ada perbedaan antara sajak Zuhair dan

Thirrimah. Dalam sajaknya, Thirrimah menggunakan teknik pemutusan penulisan

huruf pada setiap sadriii nya. Ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Zuhair.

Tampaknya Thirrimah menyimpangi konvensi tipografi sajak Arab yang pada

Page 45

                                   teori sastra.txt

masa Jahiliyah tidak ada penggunaan teknik pemutusan penulisan huruf pada bait-

bait syiir.

3. Sajak Al-Atahiya

Puisi-puisi di atas diberi tanggapan lain oleh al-Atahiya.

. ……. .. ….. … …………. ……

…………….. … ………. … ……

… ….. .. .. …. …….. ….. …… … … ……. … … .. …. … ………

…… ….. .. ….. …. .. … …. …..

62
… … .. ……. . …. .. … … ….

…. …. …. ….. …. ……

…. .. ….. …. …. …. .. …… …….. ….. …. … …. .. .. ……. …. .

(Nasr, 1994: 78-79)
.

Aku heran pada manusia kalaulah mereka berpikir

Dan introspeksi diri tentu mereka tahu

.

Mereka sibuk dengan dunia

Sejatinya dunia itu perahu

.

Kebaikan itu tidak tersembunyi

Keburukan itu adalah hal munkar

.

Tiada keangkuhan selain keangkuhan orang yang bertaqwa

Esok pada hari mereka dikumpulkan di mahsyar

.

Supaya manusia tahu bahwa taqwa

Dan kebajikan adalah sebaik-baik tabungan

.

Aku heran pada manusia yang sombong

Kelak ia ditimbun tanah kuburan

.

Kok bias sombong, dulu ia setitik air hina

Kelak jadi bangkai busuk

.

Ia nanti tidak memiliki apa-apa

Dan tidak bisa berharap

Si aku heran kepada orang-orang yang menyibukkan diri dengan urusan

duniawi. Seandainya mereka berpikir dan introspeksi, mereka akan menyadari

bahwa dunia itu tempat yang semu, sedangkan akhirat adalah tempat yang abadi

(dar al-maqar) bait 1-2.

Page 46

teori sastra.txt
Pada bait ke-3, si penyair menegaskan bahwa kebaikan itu adalah perintah

Allah. Sementara kejahatan adalah larangan Nya yang mesti dijauhi. Oleh karena

itu, maka ajal atau maut itu pasti datang adanya, tidak bisa dipungkiri dan

dihindari. Di saat itu, Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat. Mereka

akan ditanyai segala amal perbuatannya semasa di dunia. Tidak ada hanyalah

taqwa dan amal kebaikan mereka (bait ke-4 dan 5). Karena taqwa dan amal baik

itulah yang menjadi teman di akhirat (bait ke-6).

Si aku heran, bagaimana bisa manusia itu sombong dan berbangga diri

dengan hartanya, padahal kehidupannya di dunia itu terbatas sementara jalannya

ke kubur itu sudah ditentukan waktunya (bait 7).

63
Bagaimana mungkin dia berbangga diri dan sombong, sementara ia pada

mulanya merupakan setetes mani yang hina dan nantinya ia akan menjadi bangkai

yang berbau busuk (bait 8). Lalu, mengapa manusia sombong? (bait 9-10).

Sajak al-Atahiya mengandung pesan-pesan moral yang lebih luas

ketimbang sajak Zuhair dan Thirrimah. Al-Atahiya lebih tajam dalam

mengungkap hakikat hidup di dunia dan lebih “kejam” dalam menggambarkan

kematian. Pesan-pesan tersebut dapat disarikan berikut ini.

1.

orang yang berakal adalah orang yang menjadikan dunia sebagai

jalan untuk menuju akhirat. Karena itu, orang yang berakal rakus

melakukan kebaikan dan enggan berbuat keburukan.

2.

ajal atau maut adalah hal yang pasti datang. Begitu halnya hisab,

yakni penghitungan amal di hari kiamat. Karena itu, taqwa dan

kebajikan semasa hidup di dunia menjadi bekal manusia menuju

akhirat.

3.

orang yang berakal tidak boleh sombong dan berbangga diri sebab ia

lahir dari setetes air mani yang leceh dan akan kembali ke bentuk

yang paling buruk, yaitu menjadi bangkai yang berbau busuk.

Al-Atahiya menggunakan bahasa-bahasa kiasan yang indah dan

variatif, misalnya ia menyebut dunia sebagai mi’bar yaitu perahu. Dunia

merupakan alat sebagai pengantar manusia menuju akhirat, tempat labuhan

terakhir.

Sajak ini banyak mendapat pengaruh dari al-Quran dan hadis.

Misalnya bait ke-6. Bait ini dipengaruhi oleh ayat

… …. .. … …… ….. …… …. ..
“Wahai orang-orang yang beriman. Bertaqwalah kalian kepada Allah. Dan

Page 47

teori sastra.txt
lihatlah apa
Bait tersebut juga dipengaruhi hadis Rasul:
……. .. … …… ……
“Berintrospeksilah kalian sebelum diintrospeksi (dihisab pada hari

Kiamat).

64
Penutup
Ternyata, bahwa makna sajak Thirrimah menjadi jelas dan maknanya dapat lebih

penuh tergali bila dijajarkan secara intertekstual dengan sajak Zuhair yang

menjadi hipogramnya. Demikian halnya, ketika kita menyandingkannya dengan

sajak al-Atahiya. Meski kelihatan ada pertentangan gagasan, namun bila dicermati

lebih jauh ketiga sajak tersebut saling melengkapi satu sama lain. Makna masingmasing

sajak menjadi lebih terungkap dan dalam.

Catatan Kaki
i) Nama lengkapnya Zuhair bin Abi Salma. Ia merupakan penyair masa Jahili. Zuhair

adalah salah

satu dari tiga serangkai penyair Arab Jahili yang tersohor selain Umru al-Qais dan

Nabigah

Zubyani. Zuhair terkenal dengan puisi-puisi yang mengandung nilai-nilai hikmah, ajaran

tentang

kebijakan, kebijaksanaan, dan etika, meski ia belum memeluk Islam (paganisme).

Karyanya masuk

dalam Muallaqat al-Sab’u, yakni tujuh karya (yang dianggap sebagai kanon sastra Arab)

yang

termaktub dalam antologi puisi masa Jahili. Tujuh penyair yang karyanya termaktub dalam

Muallaqat selain Zuhair adalah Umru al-Qais, Nabigah Zubyani, Hatim al-Tha’i, Lubaid,

Amr bin

Kulsum, Antara bin Saddad (Juwairiyah. Sejarah Sastra Arab Jahili. 2004: 33-54).

Puisi-puisi

yang ada dalam muallaqat ini memiliki kualitas dan nilai sastra tinggi di antara karya

sastra pada

masa Jahiliyah. Antologi puisi tersebut disebut muallaqat (suspended) karena karya-karya

sastra

terbaik pada saat itu biasanya digantung di dinding Kabah. Menggantung puisi pada

dinding

Kabah adalah salah satu sarana promosi hasil karya sastra para penyair pada masa itu.

Dengan cara

itu, puisi-puisi mereka menjadi terkenal di masyarakat sebab Kabah selalu dikunjungi

masyarakat

Page 48

teori sastra.txt
ketika itu (hingga sekarang tentunya).
ii) Nama aslinya Ghaylan bin Uqbah (696-735). Ia merupakan penyair masa Umayah. Ia

adalah

orang Baduwi yang dikenal alim dan saleh. Ia dikenal sebagai penyair hebat pada

masanya yang

konsisten meneruskan tradisi puisi Jahili. Meski dibesarkan dalam ajaran Islam sejak

kacil, namun

pengaruh al-Quran hanya sebagian kecil dengan mengutip (alusi) ayat-ayat al-Quran

(Al-Tayib,

“Arabic Literature to The End of The Umayyad Period” dalam Beeston, A.F.L. et al. 1983:

428).

iii) Nama aslinya Ismail bin al-Qasim (748-868). Dia adalah penyair masa Abbasiyah. Dia

dikenal

sebagai penyair zuhud, penyair yang mengajak berpikir tentang kehidupan sebagai bekal

kematian.

65
Sajak-sajaknya penuh dengan hikmah dan ajakan untuk berbuat baik (Nasr, Muhammad

Ibrahim.

Al-Adab. 1994: 79).

iv) Tema-tema sajak dalam sastra Arab berbeda dan berkembang dari satu periode ke

periode yang

lain. Pada periode jahiliah, tema-tema yang menjadi konvensi saat itu adalah wasf

‘description’,

madah ‘panegyric’, ritsa’ ‘elegi’, haja’’satire’, fakhr’self praise, gazl’love’, khamr’wine’, dan

hikmah’wisdom’. Pada periode Umayyah, selanjutnya tema-tema tersebut berkembang,

yaitu

mengenai I’tizar, dakwah dan hamasah (Juwairiyah. 2004. Sejarah Sastra Arab Masa

Jahili.

Surabaya: Fakultas Adab IAIN Surabaya.

v) Sebagaimana sabdanya:
“Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah

(beribadah)

untuk akhiratmu seakan-akan kau mati esok.”

vi) Tipografi sajak Arab dari segi bentuk dibagi 3 macam: multazam, mursal, dan mansur.

Syiir

multazam dan mursal terdiri atas dua bagian atau belahan. Belahan kanan disebut sadr,

belahan

kiri disebut ajuz.

Bait
Page 49

teori sastra.txt
Ajuz Sadr
… …. …. …… ….. …. …. …. …… ….
66
DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M. H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart

and Winston

Adams, Hazard. 1971. Critical Theory Since Plato. New York: Harcout Brace

Jovanovich, Inc.

Al-Mausu’ah al-syi’riyyah. tt. Abu Dabi: Al Majma’ al Tsaqafiy lil Imarat al

Arabiyyah al Muttahidah. Versi CD.

Badawi, M. M. 1975. A Critical Introduction to Modern Arabic Poetry.

Cambridge: Cambridge University Press.
Bartens, Kees. 1985. Filsafat Barat Abad XX, jilid II, Perancis. Jakarta: Gramedia
Beeston A.F.L. dkk. 1983. Arabic Literature to The End of The Umayyad Period.

Cambridge: Cambridge University Press.

Culler, Jonathan. 1981. Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics and the

Study of Literature. London: Routledge & Kegan Paul.

Damono, Sapardi Djoko. 1977. Sosiologi Sastra. Jakarta: Dikti Depdikbud.
Darma, Budi. 2004. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas.
Eagletton, Terry. 1983. Literary Theory: an Introduction. Great Britain: TJ Press.
Fokkema, D.W dan Elurd Kunne-Ibsch. 1977. Theories of Literature in the

Twentieth Century. London: C. Hurst & Company.

Hartoko, Dick. 1982. “Pencerapan Estetik dalam Sastra Indonesia” dalam Basis,

XXXV 1 Januari. Yogyakarta: Andi Offset.

Hartoko, Dick. 1986. Kamus Populer Filsafat. Jakarta: CV Rajawali.
Holland, Norman. 1968. The Dynamics od Literary Response. New York: State
University Press.

Iser, Wolfgang. 1978. The Act of Reading: a Theoru of Aesthetic Response.

Balitmore and Londong: The John Hopkins University Press.

Jauss, HR. 1982. Toward an Aesthetic of Reception. Minneapolis: University od

Page 50

teori sastra.txt
Minnesota Press.

Juwairiyah. 2004. Sejarah Sastra Arab Masa Jahili. Surabaya: Fakultas Adab

IAIN Surabaya dan Penerbit Sumbangsih.

Lesser, Simon O. 1962. Fiction and The Unconscious. New York: State

Universitu Press.

Mawardi, Muhammad Ja’far. 2003. Perbandingan Syair Jarir, Farozdaq, dan

Akhtol. Surabaya: Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel.

Nasr, Muhammad Ibrahim. 1994. Al-Adab. Riyad: Jami’ah al-Imam Muhammad

ibn Saud al-Islamiyyah.

Noth, W.1990. Handbook of Semiotics. Bloomington and Indianapolis: Indiana

University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko.1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: UGM Press
Riffaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry: Bloomington and London: Indiana
University Press.

Santoso, Puji.2003. Bahtera Kandas di Bukit: Kajian Semiotika Sajak-Sajak Nuh.

Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Sarhan, Muhammad. 1978. Al-Adab al-Arab wa Tarikhuhu fi al-Ashr al-Jahili.

Beirut: Dar al-Fikr.

67
Selden, Rahman. 1991. Panduan Pembaca Teori Sastra masa Kini.

Diterjemahkan oleh Rachmat D. Pradopo. Yogyakarta: Gajah Mada

University Press.

Suwondo, Tirto.2003. Studi Sastra: Beberapa Alternatif. Yogyakarta: Hanindita

Graha Widya.

Taum, Yoseph Yapi. 1997. Pengantar Teori Sastra. Flores: Nusa Indah.
Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta:

Pustaka Jaya.

Teeuw, A.1980. “Estetik, Semiotik, dan Sejarah Sastra” dalam Basis No. 301.

Bulan Oktober.

Teeuw, A.1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Van Luxemburg, Jan, dkk. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. Diindonesikan oleh Dick

Hartono. Jakarta: Gramedia.

Wellek, Rena dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
68
Page 51

teori sastra.txt
Page 52

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: