Menyingkap Rahasia Malam

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah:”Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (al-Isra’79-81)

Malam berbeda dari siang. Malam itu gelap dan siang itu terang, karena itu waktu malam lebih cocok untuk tidur, bersenang-senang dengan keluarga dan istirahat. Siang itu sebenarnya adalah waktu bangun dan bekerja dalam mencari karunia Allah.

Karena itu, di mana-mana di seluruh dunia, waktu kerja resmi selalu di siang hari. Waktu kerja malam sebenarnya bersifat emergency untuk mengurus kepentingan umum seperti kesehatan, keamananan dan lain-lain.

Karena kegiatan ummat manusia pada umumnya di siang hari, maka suasana malam lebih hening dan tenang. Suasana seperti ini lebih cocok untuk beribadah dan membuka kontak batin dengan Allah Tuhan Pencipta.

Batin manusia adalah suatu yang bersifat spiritual yang tidak bisa diindera oleh manusia dan Allah Maha Tinggi juga adalah sesuatu yang bersifat spiritual yang tidak bisa diindera oleh manusia. Pada waktu itulah spirit bertemu dengan spirit sehingga terjadi komunikasi yang menyambung.

Di siang hari, manusia sibuk dengan urusan keluarga, ekonomi, kegiatan masyarakat dan negara. Boleh jadi di siang hari orang tidak fokus dalam mengingat Allah dan beribadah kepada-Nya. Lagi pula kekurangan istirahat di malam hari karena digunakan untuk shalat malam bisa diganti di siang hari di saat-saat waktu istirahat biasa.

Al-Muzammil 7

Sesungguhnya kamu mempunyai kesibukan yang panjang di siang hari. (al-Muzammil 7)

Urusan dunia telah menguras tenanga dan pikirannya sepanjang hari. Banyak prestasi yang telah ia raih, tetapi juga banyak cita-cita yang belum tercapai dan masalah yang susah untuk dipecahkan. Allah Yang Maha Tahu menyiadakan waktu baginya di malam hari untuk menenangkan hati dan pikiran sambil memberikan kesempatan kepadanya di waktu-waktu tertentu di bagian malam untuk munajat kepada Allah, mengadukan nasibnya dan memohon jalan keluar untuk masalah yang sedang ia hadapi. Ini adalah bagian dari sifat Rahman dan Rahim Allah s.w.t.

Qur’an mengatakan bahwa bangun di waktu malam sangat kondusif untuk berbubungan dengan Allah melalui berbagai upaya seperti shalat, zikir, do’a, membaca Qur’an, istighfar, taubat, tafakkur, minta pendapat (istikharah) dan lain-lain.

Shalat malam ada yang bersifat wajib dan ada yang bersifat sunnat. Shalat wajib adalah shalat Maghrib di awal malam, shalat Isya di awal/ pertengahan malam dan shalat Shubuh di akhir malam. Shalat sunnat ada yang dilakukan sebelum shalat wajib atau setelahnya, dan juga shalat sunnat malam yang disebut qiyamul-lail seperti shalat tahajjud dan shalat tarawih di malam Ramadhan serta shalat witir, yang waktunya mulai shalat Maghrib dan ‘Isya’ sampai menjelang waktu subuh.

Shalat malam yang utama adalah yang dilakukan setelah bangun dari tidur di malam hari, di saat orang lain sedang tidur nyenyak. Inilah yang disebut shalat tahajjud. Di saat itu, insan mu’min bangun dari tidurnya yang nyenyak. Ia kalahkan perasaan kantuk yang berat, lalu berwudhu’ dan melakukan shalat malam dengan khusyu’ menghadap Allah s.w.t.

Lakukanlah shalat sunnat tahajjutdi sebagian malam; mudah-mudahan Tuhanmu akan membangkitkanmu pada tempat yang terpuji. (al-Isra1 79)

Qur’an mengatakan bahwa shalat malam asyaddu watha’an wa aqwamu qila (sangat menyambung dengan Allah dan ucapannya sangat mantap). Shalat malam menjadi menyambung dan mantap karena dilakukan dengan tekad mengalahkan kantuk, membasahi anggota tubuh dengan air wudhu’, suasana yang hening di mana yang terdengar hanya bisikan dan desir nafas hamba yang sedang membaca bacaan shalat, zikir dan doa dengan penuh tekun, kata demi kata diikuti dengan perasaan harap-harap cemas apakah akan memperolah kasih sayang-Nya atau tetap dalam kesulitan.

Bacaan shalat membimbing orang beriman kepada kehidupan yang diridhai Allah. Bacaan shalat mulai takbiratul ihram, do’a iftitah, al-Fatihah, bacaan ayat-ayat Qur’an, doa dan zikir ruku’, sujud, dan duduk di antara sujud, sampai kepada salam, semuanya adalah bacaan yang mengingatkan orang beriman akan kebesaran Allah dan kebutuhan manusia kepada-Nya.

Tidak ada tempat berlindung yang lebih aman kecuali kepada Allah. Bacaan tersebut akan lebih menyambung dan mantap bila dilakukan dengan pengertian. Memahami bacaan adalah bagian dari praktek shalat yang khususu’ di mana antara amalan mulut, hati dan badan tidak terpisah. Karena itu, ada kewajiban setiap orang beriman untuk belajar bahasa Arab, paling tidak bahasa Arab menyangkut bacaan-bacaan yang ada dalam ibadah shalat, do’a dan zikir.

Dulu untuk belajar bahasa Arab orang harus masuk pesantren atau jadi santri di madrasah, tetapi sekarang banyak cara yang bisa dilakukan. Pepatah lama mengatakan bahwa tidak satu jalan ke Roma. Pada waktu ini banyak metode yang ditemukan oleh para ahli untuk menguasai bahasa Arab praktis. Bagi yang mempunyai peluang, banyak lembaga yang menyelenggarakan kursus-kursus dan buku-buku praktis yang bisa digunakan untuk belajar. Bila ada kemauan pasti di sana ada jalan.

Di samping bacaan shalat, ada zikir dan do’a yang bisa dipanjatkan kepada Allah. Allah dan Rasul telah mengajarkan zikir untuk berbagai keperluan dan kesempatan dalam rangka mendekatkan hamba kepada Tuhannya, termasuk zikir di shalat malam. Mengenai do’a ada dua jenis. Pertama adalah do’a-do’a dengan formula-formula baku dari Qur’an dan Sunnah. Formula-formula tersebut adalah untuk dijadikan contoh bagi orang beriman. Kedua adalah do’a yang baik sesuai kebutuhan hamba yang berdo’a dengan bahasa dan susunan kata yang ia pilih sendiri. Do’a yang maqbul bersyarat dengan ketulusan hati, keimanan yang kuat dan harapan yang besar akan mustajab dari Allah s.w.t.

Di antara do’a shalat malam:
Tuhanku! Masukkanlah aku ke tempat masuk orang yang benar! Keluarkanlah aku dari tempat keluar orang yang benar dan jadikan untukku dari sisi Engkau tempat terpuji! (al-Isra1 75)

Selanjutnya hamba yang bersangkutan diminta untuk mengucapkan:
Telah datang kebenaran dan telah hancur kebatilan dan kebatilan itu sudah semestinya hancur! (al-Isra1 76)

Bacaan ini mengisyaratkan bahwa Allah akan selalu memenangkan kebenaran dan membatalkan kebatilan. Bila hamba berjalan di jalan yang benar dan ia konsisten untuk itu, maka Allah pasti akan membantunya. Dosa-dosanya akan diampuni. Kesalahan-kesalahannya akan diperbaiki. Cita-citanya akan tercapai. Kasih saying Allah akan selalu menyertainya.

Allah Maha Rahman memberikan sebuah media kepada hamba-Nya yang beriman untuk keluar dari keragu-raguan yang dihadapinya dalam hidup. Media itu adalah shalat istikharah (mohon pertimbangan Allah untuk memantapkan hati terhadap sebuah pilihan yang lebih baik), yang lebih afdhal di dilakukan di malam hari. Boleh jadi seorang insan dihadapkan kepada dua pilihan yang sulit.

Misalnya dalam memilih teman hidup (seorang calon isteri atau calon suami), tempat bekerja yang cocok, pegawai dan teman sekerja, atau proyek tertentu yang menyangkut kepentingan banyak orang. Di saat pertimbangan orang-or-ang yang dekat dengannya tidak dapat meyakinkan dirinya, maka pada waktu ia munajat kepada Allah melalui shalat istikharah, mohon supaya ditunjuki jalan yang benar. Shalat istikharah dapat ciilakukan berkali-kali sampai hatinya mantap utuk membuat sebuah keputusan yang tepat.

Orang yang bangun di tengah dalam rangka beribadah kepada Allah dan mendekatkan dirinya kepada-Nya mempunyai kedudukan tersendiri di sisi Allah.

Apakah orang yang menyembah di tengah malam dalam keadaan sujud atau berdiri mengkhawatirkan hari akhirat dan mengharapkan kasih sayang Tuhannya (sama dengan orang yang tidak melakukannya)? Katakanlah apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui? Oramg yang selalu ingat kepada Allah dalah orang yang mempunyai pemahaman.(al-Israr1 9)

Dalam ayat lain (Al ‘Imran 191) dinyatakan bahwa orang yang mempunyai pemahaman atau ulul-albabadalah orang yang selalu ingat (zikir) kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Mereka mengatakan: “Semua ini tidak Engkau ciptakan dengan percuma! Maha Suci Engkau dan jauhkanlah kami dari siksa neraka.”

Inilah yang dimaksud tadabbur, yaitu mengamati ciptaan Allah dengan pikiran dan hati yang mendalam, lalu membawa insan yang bersangkutan kepada kesimpulan akan kebesaran Allah dan kekerdilan manusia. Intinya adalah bertasbih memuji Allah, mensyukuri nikmat yang diberikan, selalu berserah diri kepada-Nya dan mohon dihindarkan dari mara bahaya, terutama azab neraka.

Sumber : Buletin Dakwah No. 46 Thn. XXXIV Jum’at ke-3 16 November 2007

Sebagai makhluk yang sadar akan keberadaan dirinya, ummat manusia terlibat tanggung-jawab langsung terhadap kelestarian wujudnya di muka bumi. Konsekuensinya membuat setiap individu perlu mengetahui dimana sarana kelangsungan hidupnya didapatkan. Proses kegiatan mengenal lingkung alam yang menyimpan sumber-daya yang dibutuhkan itulah yang disebut membaca.

Tetapi ternyata binatang pun telah melakukan kegiatan serupa di dalam mempertahankan hidupnya. Mereka tidak memakan batu atau meminum pasir ketika merasa lapar dan dahaga. Jelas membaca yang demikian tidak membutuhkan petunjuk dari Robbul-alamin yang berupa firman, karena sejak dini telah diwahyukan olehNya secara langsung ke dalam kodratnya sebagai ‘dabbah’ (makhluk hidup berjasad).
 

Wahyu Iqra’

Wahyu Iqra’ bismi robbik hanya diturunkan buat ummat manusia, karena merekalah jenis makhluk yang mampu berperan sebagai subyek di dalam semestanya. Ia mampu mengambil jarak dari dirinya sendiri dan mengobyekkannya seakurat mungkin menurut pola kebenaran yang telah dimiliki. Untuk itu mereka akan memperoleh kenikmatan lain yang berupa kenikmatan bereksistensi. Suatu kenikmatan yang jauh lebih tinggi dibanding kenikmatan mendayagunakan sarana. Bahkan lebih abadi sifatnya, karena berwujud nilai keberadaan.

Bila mereka gagal menemukan dirinya di dalam nilai, mereka akan menanggung rasa malu. Yaitu suatu perasaan yang tak pernah hadir di dalam diri binatang, yang menandakan bahwa dimensi tersebut tidak diperuntukkan buat mereka.

Perasaan malu itulah yang dikemukakan Nabi SAW sebagai fenomena wujudnya iman di dalam diri. Sesuatu dengan apa Sang Robbul-alamin berkenan membuka dialog antar persona dengan makhluk-Nya.

Kemudian apakah sebenarnya rasa malu itu? Mengapa keberadaannya di dalam diri menandakan wujudnya iman? Dan apakah iman itu? Mengapa ia mampu menjembatani antara Yang Mutlaq dan yang nisbi?
 

Rasa malu dan Iman

Rasa malu adalah perasaan yang timbul di dalam sanubari manusia ketika ia menemukan dirinya dalam keadaan krisis nilai, sementara kesadarannya masih berorientasi kesana.

Rasulullah SAW mengidentikkannya dengan iman, karena keberadaannya di dalam diri mengandaikan wujudnya jiwa yang berorientasi pada masa depan yang kwalifaid. Jiwa yang demikian tidak akan pernah berputus-asa menghadapi kenyataan yang tak diharapkan, betapa pun pahitnya.
“Sesungguhnya tiada berputus-asa dari rahmat Allah, selain orang-orang Kafir”(Yusuf:87).

Sedang kata ‘beriman’ menyimpan makna berorientasi masa depan yang sempurna atau memiliki tujuan yang benar, yang tak lain adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri. Maka jelaslah bahwa kiblat ‘rasa-malu’ sama dengan kiblat ‘iman’. Kondisi tersebut merupakan kondisi hadirnya tujuan yang benar di dalam kesadaran seseorang. Meskipun pada waktu itu wujudnya masih bersifat potensial atau kemungkinan yang menunggu kesempatan aktualnya, namun keberadaannya di dalam diri berefek positif dan dapat diharapkan.
 

Singgasana Rububiyah

Di dalam Surat Hud ayat 7, kita jumpai tiga kalimat yang akan menjelaskan kenyataan tersebut :

– Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari

– Sedang ‘Arsy-Nya di atas air.

– Supaya dapat Ia menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya.

Bila kita membaca kalimat pertama dan kedua, kita mendapatkan pengertian bahwa ketika Robbul-alamin mengurusi alam fisikal (langit dan bumi), singgasana Rububiyah-Nya ada di atas air (atom Hidrogen). Orientasi kita kepadanya akan menghasilkan kekuatan dahsyat yang dapat menghancurkan alam fisikal. Kesadaran manusia yang mampu memasuki dimensi tersebut akan diliputi Hisness-Nya (ke-Dia-an) Tuhan, bagai Musa AS yang dikaruniai tongkat mu’jizat di tangannya.

Setelah kita hubungkan dengan kalimat yang ketiga kita memperoleh petunjuk bahwa Singgasana Rububiyah-Nya di alam spiritual berada di atas kalbu orang beriman. Yaitu hati yang bersifat integratif, seperti air yang selalu mengalir ke bawah di dalam mencapai keutuhan eksistensial. Oleh karena itu perbuatan menganiaya orang mukmin sama artinya dengan menyatakan perang kepada Tuhan (Hadits Qudsi). Bila kesadaran kita mampu memasuki dimensi tersebut, kita akan menjadi seorang mukmin yang sejati atau insan tauhid.
 

Nuzulul Qur’an

Dengan pengantar tersebut di atas kita dapat memahami bahwa Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa turunnya Singgasana Rububiyah Allah di atas kalbu Muhammad SAW, supaya Ia dapat menunaikan kemanajeran-Nya di muka bumi.

Peristiwa itu harus terjadi, karena kehidupan ummat manusia membutuhkan panduan yang memadai demi mewujudkan ide-Nya yang agung, yaituBaldatun thoyyibatun wa robbun ghafur’. Jika tidak, bumi yang penuh rahmat Allah ini akan menjadi kancah perebutan fasilitas yang mengakibatkan kehancuran bersama karena kebodohan dan penyalahgunaan penghuninya sendiri (sifat dlollun dan maghdlub).

Turunnya Singgasana Rububiyah Allah di atas kalbu hamba-Nya yang terpilih merupakan satu-satunya alternatif yang dipilih oleh Robbul-alamin, karena Allah Pribadi tidak berkenan turun ke wilayah ciptaan-Nya. Hal itu disebabkan di antara Samudra Kemutlakan Allah dan Samudra Kenisbian Alam telah diciptakan Barzakh, sehingga keduanya tak akan membaur (Ar-rahman: 20). Sedang sabda-Nya saja bila diturunkan di atas sebuah bukit akan berakibat kehancuran, karena tidak kuasa menanggungnya (Al-Hasyr: 21).

Tehnis Mencapai Kebulatan Eksistensial

Di dalam ayat “Bacalah dengan nama Allah yang menjadikan”(Al-’Alaq: 1) terkandung maksud bahwa di dalam membaca setiap obyek yang kita hadapi, kita diwajibkan untuk tidak memotong sesuatu dari asalnya, yaitu Tuhan yang menjadikan. Dengan demikian kita akan memperoleh pemahaman tentang obyek secara utuh, di samping menyelamatkan diri kita dari prasangka yang tidak semestinya terhadap obyek. Yaitu mengkultuskannya sebagai sesembahan yang menjerumuskan kita ke dalam syirik dan merendahkannya sebagai sesuatu yang nista untuk disentuh (bersikap kerahiban/kependetaan yang tidak mewakili kemanajeran-Nya di muka bumi).

Ayat berikutnya “Yang menjadikan manusia dari segumpal darah”(Al-’Alaq: 2) telah mengantarkan kesadaran kita akan adanya titik temu antara diri kita sebagai subyek dan obyek yang kita jamah. Allah yang menjadikan sesuatu sebagai obyek adalah Allah yang menciptakan kita dari sesuatu yang bersifat obyektif, yaitu darah.

Kesadaran akan adanya titik temu antara subyek dan obyek budaya di dalam wujudnya sebagai ciptaan akan melahirkan warna baru dalam kehidupan ummat beriman.

Selanjutnya setiap obyek yang kita temukan di dalam proses kehidupan tidaklah sesederhana penampilan wujudnya. Obyek-obyek tersebut dapat kita temukan dalam keadaan sempurna sebagai sesuatu adalah berkat dukungan berjuta-juta sebab yang menyusun sejarah jadinya, yang berupa proses evolusi alam dan jasa budaya yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, skill dan keterlibatan persona-persona kreatornya. Hal itulah yang disimbolkan oleh Al-Qur’an dengan istilah ‘pena’ dalam ayat “Yang mengajar manusia dengan pena”(Al-’Alaq: 4).

Tersingkapnya makna ‘pena’ sebagai rentetan sebab yang mendukung lahirnya setiap obyek, akan menyadarkan kita pada wujudnya jasa semesta dalam realita budaya. Konsekwensinya akan menumbuhkan kesadaran untuk merespon setiap obyek seakurat mungkin, dengan mengungkapkan kemungkinan baik yang terkandung di dalamnya dan membendung kemungkinan buruknya. Sikap moral tersebut melahirkan tanggung-jawab besar yang kita kenal sebagai ‘Amar ma’ruf nahi mungkar’. Efek aktualisasinya membuat diri orang mukmin utuh dengan semestanya dalam arus kreatif yang tak kunjung henti. Tidak hanya sekedar merasa utuh dengan semesta di dalam ekstase dan semadi yang bersifat statis.

Kondisi tersebut membuktikan daya mampu kita memahami Amr Allah yang tampil di balik setiap obyek yang kita temukan (Al-A’rof: 54). Itulah sesuatu yang tak diketahui ketika seseorang membuka matanya lebar-lebar di depan obyeknya, selain mereka yang dikaruniai cara membaca oleh Allah.
“Mengajar manusia tentang sesuatu yang tak diketahui”(Al-’Alaq: 5).

Metoda membaca yang diajarkan oleh Robbul-alamin tersebut akan mengantarkan kita ke Hadrat Mitra Dialog kita yang sejati. Hanya dengan kesadaran bahwa di balik setiap obyek terdapat Amr-Nya, maka hubungan dialogis kita akan merayu Kuasa Tuhan untuk turun ke medan kreatifitas-Nya. Tentu saja tidak pada diri Sang Subyek Sejarah dan tidak pula pada obyeknya, melainkan pada ‘proses berkembang’ yang berlangsung pada saat berdialog.
“Sesungguhnya Tuhanku berada di atas jalan yang lurus”(Hud: 56).

Oleh karena itulah menurut Al-Qur’an amal salih itu bukan milik pelakunya, melainkan milik Allah semata-mata (An-Nisa: 79). Karena seseorang tidak akan mengungkapkan perbuatan baiknya tanpa mitra dialog yang mampu menggerakkan niat baiknya.

Kerelaan untuk mengungkapkan diri dengan benar dan baik itulah yang disebut Hidayah, dan partner dialog yang mampu menggerakkan terungkapnya kebaikan dan kebenaran itulah yang disebut Taufiq. Sedang sesuatu dengan apa keduanya mampu melahirkannya disebut Rahmat. Adapun proses berkembang yang diperoleh dari hubungan dialogis yang demikian disebut Momen Tauhid atau Utuh di dalam Allah.
 

Hikmah atau Kebenaran Kontekstual

Turunnya wahyu pertama kepada Nabi SAW disebut juga sebagai Malam Qodar, karena pada saat tersebut berlangsung sebuah proses transendensi dari kadar kedirian seorang hamba menjangkau kadar keuniversalan seorang Nabi.

Bagi seorang Muhammad SAW kondisi tersebut berwujud kemampuan mengaktualisasikan wahyu Allah dan perilaku otentik yang disebut Uswatun Hasanah.

Bila hal itu terjadi pada diri pengikut beliau akan berupa kemampuan memahami wahyu Allah yang konteks dengan kebutuhan pengembangan ummat pada zamannya dan perilaku otentik yang disebut Hikmah atau kebenaran kontekstual.

Hakekat kebenaran kontekstual atau Hikmah itu adalah ayat Allah yang diinformasikan lewat aktualisasi diri seorang Arif-Billah (mukmin yang sebenarnya) di dalam mengambil alih kemanajeran-Nya dalam saat chaos (dilematis). Kendatipun bersifat unik, Hikmah memancarkan sinar ke-Ilahi-an dalam sikon tertentu, dan sangat penting sebagai pengetahuan antar persona di dalam proses identifikasi diri.

Kehadiran Ahli Hikmah di tengah ummat menjadi keharusan proses (sejarah) yang tak dapat dipungkiri. Makna ungkapan ‘Bagi setiap ummat seorang rasul’ tidak terbatas pada Rasul yang membawa Risalah saja, melainkan juga hamba Allah yang diberi kemampuan membawakan Risalah yang telah diturunkan demi pengembangan ummat manusia.

Setelah Rasulullah SAW turun, ummat manusia telah dianggap dewasa dan tidak perlu terus-menerus disuapi nilai dari sisi-Nya, melainkan cukup dengan semua yang telah diterima sebagai rujukan hukum setiap kali menghadapi permasalahan baru. Tak ubahnya seperti seorang ayah yang rela melepas anak-anaknya yang telah dewasa untuk mengembangkan nilai-nilai yang telah ditanamkan sebelumnya.

Ahli Hikmah akan terus hadir dalam setiap zaman, karena perannya tak dapat diwakili oleh segudang referensi yang tak mungkin mampu merespon masalah. Mereka adalah subyek sejarah yang hadir setiap saat diperlukan untuk membentuk kepribadian ummat yang telah bergeser dari shirath yang lurus. Mereka disebut juga sebagai ibu kebenaran kontekstual yang bermukim di hari esok dan berpijak di atas bumi kekinian.

Tentu saja kondisi tersebut tidak mungkin bisa dicapai dengan sekedar berkontemplasi dan beribadah semalam suntuk di penanggalan ganjil dalam sepertiga akhir bulan Ramadlan. Kondisi diri yang demikian hanya lahir dari proses panjang seorang Asyik didalam bersentuhan dengan Ma’syuknya dalam samudra kehidupan yang tak berwatas. Namun tanpa panduan Robbul-alamin lewat tehnis membaca yang sempurna, seribu bulan tak akan cukup untuk mengantarkan kita ke Hadrat Mitra Dialog yang sejati.

Celupan Allah. Celupan siapa yang lebih baik dari celupan Allah?”
(Al-Baqarah: 138).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: