Negeri 5 Menara

Judul Buku : Negeri 5 Menara Penulis : A. Fuadi Penerbit : Gramedia Jumlah Halaman : 423 Halaman Harga : Rp.50.000 Pondok pesantren bukanlah penjara. Pondok pesantren juga bukan rumah sakit. Tetapi Pondok pesantren adalah tempat untuk merubah sikap yang kliru menjadi benar sekaligus menyembuhkankan pikiran yang sakit, dan menyehatkan jiwa yang sembuh. Bagi kebanyakan Santri yang pernah mondok atau paling tidak pernah mengikuti kajian-kajian di Majelis Taklim, mendapat pengarahan atau ceramah agama dari Kyai adalah hal yang biasa saja, dan tentunya mudah untuk diterapkan dalam sikap keseharian. Tapi bagaimana kalau orang yang bercita-cita tidak mau mondok tapi dipaksa masuk ke pondok pesantren kemudian diwajibkan mengikuti aturan-aturan pondok, dimana bila melanggar maka hukumannya adalah malah dia sendiri yang disuruh mencari kesalahan orang kemudian dicatat dalam kartu khusus. Alif Fikri, dia adalah salah satu penghuni Pondok Madani yang mengalami kejadian itu, menjadi jasus atau mata-mata di dalam pondok karena tanpa sengaja terlambat 5 menit datang ke masjid bersama 5 temannya Raja, Said, Dulmajid, Atang dan Baso. Masuk pondok pesantren bukanlah sepenuhnya kemauan Alif, setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah Alif bercita-cita melanjutkan sekolah SMA, tapi karena orangtuanya ingin agar anaknya menjadi seperti Buya Hamka, walau Alif sendiri ingin menjadi seperti Habibie mau tidak mau, dengan setengah hati Alif mengikuti kemauan orang tua. Kisah Alif Fikri yang tinggal di Pondok, membuka hati kita semua terutama calon Wali murid bahwa bersekolah di pondok itu tidak monoton belajar tentang agama saja, membaca dan menghafal Al Qur’an saja, tetapi lebih kepada penerapan kehidupan sehari-hari seperti sekolah umum lainnya dengan tetap mengedepankan dasar / syariat agama Islam. Tinggal di pondok selain bisa tetap menyalurkan hobbi, Alif dan kelima kawannya bersama-sama dengan segala kemampuannya bersusah payah mengejar impian mereka masing-masing. Seperti halnya Baso yang datang ke Pondok dengan niat menghafal Al-Quran, maka selain mengikuti kegiatan pelajaran umum, kemana-mana dia juga membawa buku favoritnya yakni Al Quran butut! Juga bagaimana gembiranya Alif, meski memiliki ukuran tubuh tidak terlalu tinggi seperti kebanyakan pemain sepak bola, Alif masih bisa menyalurkan bakat bermain sepak bolanya walau setiap bertanding hanya pasrah sebagai pemain cadangan. Jangankan seorang santri, Sang Kyai sendiri, yakni Kyai Rais yang sehari-harinya dianggap sebagai singa podium yang bergelar MA bidang tafsir, dan juga seorang hafiz Quran saja juga masih hobby bermain bola. Sudah jelas tergambar bahwa belajar di Pondok bukan monoton belajar agama saja secara spesifik tetapi yang terpenting adalah wujud kecintaan terhadap agama. Saya suka sekali dengan tabiat Alif Fikri yang natural. Tidak melulu menjadi orang baik, tapi juga mempunyai sifat jahat terhadap sahabatnya yang semestinya bahagia melihat kebahagiaan sahabatnya. Seorang Alif Fikri juga manusia, seorang manusiapun wajar bila mempunyai perasaan iri apalagi melihat kesuksesan Randai, sahabatnya di kampung yang berhasil membujuk orangtuanya untuk masuk sekolah umum, SMA. Mendengar cerita-cerita SMA Randai, Alif Fikri menjadi ciut nyali, hingga membuat Alif sempat ingin melarikan diri dari Pondok Madani dan pindah ke sekolah umum, mengikuti sepak Randai. Tetapi kekuatan bujukan sang Ayah untuk siap membantu Alif masuk ke ITB selepas dari Pondok Madani membuat Alif mengurungkan niatnya keluar dari Pondok, sang Ayah meyakinkan bahwa walau tanpa memegang selembar Ijazah seperti halnya sekolah umum, Ayah Alif yakin anaknya bisa masuk ke ITB. Ini adalah secuil kisah dari Novel Negeri 5 Menara yang diadaptasi dari kisa pribadi penulisnya A. Fuadi yang juga lulusan Pondok Madani. Buku setebal 423 halaman, terbitan Gramedia ini banyak menuturkan cerita senang, sedih, haru dan bahagia selama tinggal dipondok. Walau tak pernah mondok, saya sendiri terksan dengan kisahnya. Kisah Alif ini persis plek dengan kisah saya pribadi yang sejak kelas 3 Kejuruan mengikuti pengajian di Majelis Ta’lim yang disana kehidupannya boleh dibilang hampir mirip seperti kisah Alif. Bedanya kalau di Majelis Ta’lim yang saya ikuti bila makan/minum sambil berdiri, nyerobot masuk kamar mandi tanpa permisi, tidak menggunakan pakaian putih dan tidak menggunakan rok waktu pengajian maka tidak dibebani hukuman/ tidak dijadikan jasus, tetapi dibiarkan saja dengan kesadaran sendiri. Dalam beberapa hadist memang terdapat larangan makan dan minum sambil berdiri tetapi ada juga yang membolehkan. Seperti hadist dibawah ini: Dalam riwayat Ahmad dinyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Apa yang kalian lihat jika aku minum sambil berdiri. Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum sambil berdiri. Jika aku minum sambil duduk maka sungguh aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk.” Juga terdapat hadits dari Qotadah dari Anas, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri. Qotadah lantas bertanya kepada Anas, “Bagaimana dengan makan sambil berdiri?” “Itu lebih jelek dan lebih kotor” kata Anas. (HR. Muslim no. 2024) Aturan-aturan seperti di Pondok ini sedikit banyak tertuang dalam kitab Ta’lim Muta’alim, yakni kitab yang diperuntukkan bagi seorang penuntut ilmu. Di buku itu dijelaskan tentang adab berhadapan dengan guru. Tuntunan atau tata cara bagi penuntut ilmu/murid yang sedang belajar dan hal-hal lain yang membuat ilmu tidak bisa diterima oleh murid seperti halnya makan/minum sambil berdiri, mandi sambil berdiri, tidak boleh batal wudhu dan sesuatu remeh lainnya yang berakibat menghambat datangnya rezeki. Novel Negeri 5 Menara ini dibungkus dengan bahasa yang mudah dicerna. Bahasanya tidak membungungkan pembaca. Bila pembaca bingung membayangkan pada bab ke 4 yang berjudul ‘Kampung di Atas Kabut’ yang menceritakan seluk beluk dalamnya Pondok Madani, maka dibuku itu telah dilengkapi sketsa peta atau tata letak gedung di dalam Pondok. Sayangnya peta itu tidak dibuatkan halaman tersendiri tetapi ditaruh di bagian belakang cover. Maka bila buku itu tidak disampul rapi, maka siap-siap saja peta itu akan kabur dari penglihatan. Buku Negeri 5 Menara ini sangat cocok menjadi panduan Orangtua yang sedang bingung memasukkan putra-putri nya dalam melanjutkan sekolah ke tingkat lebih tinggi. Barangkali saja, dengan membaca novel ini para Orangtua bisa dengan serta merta membuang image buruk tentang sekolah agama, yaitu Pondok pesantren. Dan barangkali saja dengan membaca kisah sukses Alif menjalani kehidupan yang jauh dari orang tua, seorang anak bisa lebih hidup mandiri dengan kemampuannya sendiri dengan pegangan mantra sakti ‘Man Jadda Wajada’. Bagi murid yang sedang menimba ilmu baik yang dipondok maupun di sekolah umum, buku ini juga bisa digunakan pegangan karena didalam buku itu menyimpan banyak tips dan trik ketika menghadapi ujian.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: