Filsafat Modern

Biografi Intelektual
1

. Latar Belakang PendidikanGambar
Thabathabai (nama lengkapnya Muhammad Husain bin al-Sayyid Muhammad bin al-Sayyid Muhammad bin Mirza ‘Ali Asyghar al-Islam al-Thabathabai al-Tabrizi al-Qadhi) adalah seorang Iran asli (waktu itu masih bernama Persia). Dia dilahirkan tanggal 29 Dzulhijah 1321 H/1892 M, dalam suatu keluarga keturunan nabi Muhammad SAW yang selama empat belas generasi menghasilkan ulama-ulama terkemuka di Tabriz. Thabathabai muda dibesarkan dalam keluarga ulama-ulama saleh yang sangat dikenal kebijakan dan semangat keberagamaannya. Dia memperoleh pendidikan awal di tangan keluarganya. Namun setelah ayahnya wafat, pendidikan Thabathabai diserahkan kepada guru privat yang sering datang ke rumah-rumah. Di bawah asuhan guru privat ini, dia mempelajari bahasa Persia dan dasar-dasar ilmu agama selama enam tahun.
Setelah itu, mulai tahun 1911 sampai dengan 1917 dia melanjutkan studi tradisionalnya tentang al-Quran dan pelajaran agama di kota Tabriz. Selama tujuh tahun (1918-1925), Thabathabai mulai belajar bahasa Arab, mengkaji ajaran agama dan teks-teks klasik agama Islam.
Pada tahun 1925, dia memasuki studi formal di Universitas Syiah Najaf. Di Najaf inilah dia berhasil menguasai ilmu-ilmu naqliah dan ‘aqliah. Karena peran dan pengaruh guru sangat penting dalam pendidikan, perlulah disebutkan nama beberapa gurunya. Thabathabai belajar fiqh dan ushul fiqh kepada Mirza Muhammad Husain Naini dan Syeikh Muhammad Husain Isfahani. Kepada mereka berdua, Thabathabai belajar selama sepuluh tahun sehingga ia sangat menguasai bidang ini. Bahkan menjadi seorang mujtahid yang terkenal dan berpengaruh dalam bidang sosial dan politik.
Akan tetapi, hal itu bukan jalan hidupnya. Dia sangat tertarik kepada ilmu ‘aqliah. Dia belajar dengan penuh ketekunan cabang ilmu ini yang pada jantungnya terdapat filsafat Islam. Dia mulai mencari guru-guru terbaik di bidang ini, yaitu orang-orang yang telah melestarikan kehidupan filsafat Islam di Iran. Dia mengkaji al-Syifa’ karya Ibn Sina, Asfar karya Sadr al-Din al-Syirazi, Tamhid al-Qawaidnya Ibnu Turkah dan Tahdzib al-Akhlaq karya Ibnu Maskawaih. Literatur filsafat tersebut dipelajarinya di bawah bimbingan seorang filosof terkemuka saat itu, Sayyid Husain Badkubai. Di samping itu, dia mengkaji matematika tradisional yang didasarkan pada dalil-dalil Euclid dengan guru Sayyid Abu al-Qasim Khwansari.
Sebagai tambahan terhadap pelajaran formal atau disebut dengan ilmu hushuli, Thabathabai mempelajari juga ilmu hudhuri. Sebagai guru satu-satunya dalam bidang ilmu hudhuri adalah Mirza Ali Qadhi. Guru inilah yang memperkenalkan kepada Thabathabai karya Ibnu Arabi yang berjudul Fushush al-Hikam.
Memperhatikan latar belakang pendidikan di atas, segera tampak adanya perpaduan ilmu naqliah dan ‘aqliah pada diri Thabathabai. Tidak terlalu salah bila Hossein Nasr menyebutnya sebagai filosof, teolog dan sufi yang di dalam dirinya kerendahan hati seorang sufi dan kemampuan analisa intelektual berpadu.
Setelah tamat studi di Universitas Najaf, minat intelektual Thabathabai tetap menggebu, terutama dia sangat tertarik mempelajari ilmu ‘aqliah. Akan tetapi, karena kesulitan ekonomi, maka Thabathabai kembali ke kota kelahirannya, Tabriz, pada tahun 1935. Di Tabriz, dia tidak dapat terhindar dari pemenuhan kebutuhan ekonomi untuk dapat bertahan hidup. Mata pencahariannya selama di Tabriz adalah bertani. Kehidupan bertani dijalaninya selama sepuluh tahun sebagai masa-masa yang kering dan jauh dari kegiatan ilmiah dan pemikiran. Inilah katanya:
“….because of dificulty subsisting, I was obliged to return to Tabriz, my birthpalce, in 1314/1935. I lived there for ten old years, years I must really count as a period of spiritual barreness in my life, because I was held back from scholarship and reflection by the unavoidable involvements and social contacts entailed in making a living (by farming).”
Bersamaan dengan masa-masa di Tabriz, pecahlah Perang Dunia II. Perang Dunia ini membawa akibat buruk di Iran. Oleh karena itu, Thabathabai pindah ke kota Qum pada tahun 1946. Di kota Qum ini, ia mulai aktif dalam aktivitas keilmuan sampai dengan wafatnya, tahun 1981.
2. Kiprah dan karya ilmiah
Selama menjalani kehidupan di Tabriz dengan bertani, Thabathabai merasakan pahit dan manisnya kehidupan. Menurut pengakuannya, dia telah mendapati dirinya sendiri dalam berbagai keadaan dan berhadapan dengan segala macam pasang-surut kehidupan. Kesulitan demikian dirasakan mulai ketika dia harus menghabiskan sebagian besar usianya sebagai anak yatim, jauh dari sahabat dan teman-teman, tidak punya sarana kehidupan (mata pencaharian) dan sederet kesulitan lainnya.
Kesulitan yang demikian, agaknya tidak menghalangi kiprah intelektual Thabathabai. Menurut Thabathhabai, ada saja pertolongan dari Tuhan. Dalam bahasanya sendiri, dia mengungkapkan:
“I always sensed, however, that an invisible hand has delivered me from every terrible precipice and that a mysterious influence has guided me through a thousand obstacles toward the goal.”
Oleh karena itu, di Tabriz walau terjepit masalah ekonomi, dia tetap juga mengajar sejumlah kecil murid. Namun, dia belum terkenal di kalangan intelektual Iran saat itu. Pecahnya Perang Dunia II dan pendudukan Rusia atas Iran menyebabkan Thabathabai pindah ke kota Qum.
Thabathabai mengawali kiprah intelektualnya dengan mengajar di kota Qum. Sikapnya yang pendiam dan sederhana serta kharisma spiritual yang dimiliki menjadikan murid-muridnya tertarik terhadap pelajaran yang disampaikannya. Dia lebih memusatkan perhatian pada bidang tafsir al-Quran, filsafat dan tasawuf, yang selama bertahun-tahun sebelumnya tidak diajarkan di Qum. Berkat dialah, filsafat kembali menjadi pokok kurikulum di madrasah Iran.
Kegiatan Thabathabai sejak ia datang ke kota Qum juga berbentuk kunjungan-kunjungan ke Teheran. Setelah Perang Dunia II, paham Marxisme menjadi mode sebagian kalangan generasi muda Teheran. Pengaruh materialisme juga menghinggapi tokoh intelektual, antara lain Ali Syariati. Berkembangnya pemikiran yang demikian pada diri Ali Syariati karena ia terpengaruh westernisme dan marxisme. Dengan cara ini, dia menyajikan Islam sebagai kekuatan revolusioner dengan mengorbankan dimensi Islam. Bagi Syariati, “shi’ism was a religion of protest”.
Antara Thabathabai dan Syariati terdapat perbedaan pendekatan dalam upaya memperbaiki nasib Iran untuk masa depan. Thabathabai mendekatinya dari sudut intelektual Islam dan perkembangan rohaniah Islam. Oleh karena itu, Thabathabai tidak pernah terlibat dalam aksi kekerasan atau melibatkan diri dalam gerakan massa untuk melakukan perubahan dengan gagasannya secara revolusioner. Yang terjadi justru sebaliknya, Thabathabai selalu mempergunakan jalur intelektual sebagai salah satu perjuangannya. Thabathabai selalu menyampaikan pesan intelektual Islam dengan tujuan menyembuhkan kebobrokan moral generasi muda khususnya dan manusia modern umumnya. Pesan intelektual ini dilakukan dengan membangun basis metafisis-religius yang dapat menyingkirkan pandangan dunia materialisme. Usaha ini tercermin dari ketekunan Thabathabai dalam mempelajari dasar filsafat komunisme. Hasil kajian ini dituangkannya dalam sebuah buku berjudul Ushul Falsafat wa Rawisy Rialism. Buku ini memberikan kritik tajam atas materialisme dialektika dengan pandangan Islam. Buku ini bahkan dijadikan acuan pengajaran dan bimbingan bagi kalangan generasi muda di Universitas Qum.
Sementara Ali Syariati dan kelompok revolusi lainnya, seperti Imam Khomaini, melihatnya dari kaca mata analisis sosiologis, sehingga mereka cenderung memilih jalur politik. Gerakan revolusi yang dipimpin Khomaini dengan arsitek Ali Syariati akhirnya berhasil menumbangkan rezim Shah Pahlewi dan mendirikan Republik Islam Iran pada tahun 1979 sampai sekarang.
Di kota Qum sendiri, sejak kedatangannya, Thabathabai tidak kenal lelah berusaha menyampaikan pesan intelektual Islami kepada tiga tingkat kelompok mahasiswa. Pertama, sejumlah besar mahasiswa tradisional di kota Qum yang sekarang tersebar di seluruh Iran dan negeri-negeri Syiah lainnya. Kedua, suatu kelompok mahasiswa pilihan yang beliau ajari ilmu ma’rifat dan tasawuf. Ketiga, suatu kelompok yang terdiri dari orang-orang Iran yang berpedidikan modern dan orang-orang non-Iran.
Di luar ketiga kelompok di atas, Thabathabai membentuk sebuah kelompok studi (study groups). Anggota kelompok ini adalah mahasiswa pilihan dan elit-intelektual modern Iran serta intelektual non-Iran. Aktivitas kelompok ini ialah mengadakan diskusi rutin yang diselenggarakan di Teheran. Topik yang dijadikan pembahasan adalah masalah-masalah spiritual, intelektual dan masalah aktual lainnya.
Dalam kelompok tersebut, Thabathabai tidak hanya mendiskusikan teks-teks klasik tentang filsafat ketuhanan dan ilmu ma’rifat, tetapi juga tentang seluk beluk perbandingan ilmu ma’rifat. Dalam beberapa pertemuan, Thabathabai bertukar pikiran dengan profesor Henry Corbin, mengenai ajaran mistik dalam agama-agama besar dunia. Ajaran-ajaran mistik yang terdapat dalam Tao Te-Ching, Upanishad dan Injil Yahya, mereka diskusikan dan perbandingkan dengan ajaran Islam.
Aktivitas keilmuan Thabathabai sebagai tergambar di atas, memberikan identifikasi bahwa dia telah memberikan pengaruh besar bagi kehidupan intelektual Iran. Dia telah mencoba mewujudkan suatu elite inteletktual baru di antara kelompok-kelompok yang berpendidikan modern. Kelompok elite baru tersebut akan diperkenalkan dengan intelektualitas Islam seperti juga dengan dunia modern. Banyak mahasiswanya yang berhasil tampil sebagai tokoh intelektual gemilang. Beberapa di antaranya Sayyid Jalal al-Din al-Asytiyani dari Universitas Masyhad dan Murtadha Mutahhari dari Universitas Teheran.
Meskipun tugas utamanya sebagai seorang pengajar dan pembimbing di beberapa universitas, Thabathabai masih menyibukkan diri dengan menulis banyak buku dan artikel yang memperlihatkan kemampuan intelektual dan kedalaman pengetahuannya dalam bidang keagamaan.
Adapun karya Thabathabai adalah sebagai berikut:
a. Berbentuk buku: (1) Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an. Karya Thabathabai ini tergolong paling penting, dan monumental, terdiri dari dua puluh jilid. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris; (2) Ushul Falsafah wa Rawish Rialism, terdiri atas lima jilid. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan komentar ekstensif oleh Murtadha Mutahhari; (3) Hasyiyah bar Asfar, adalah anotasi terhadap karya Mulla Shadra yang berjudul Asfar; (4) Mushahabat ba Ustadz Kurban. Karya ini terdiri dari dua jilid yang berdasarkan atas tanya jawab antara Thabathabai dan Henry Corbin; (5) Ali wa Falsafah al-Ilahiyat; (6) Syiah dar Islam; (7) Qur’an dar Islam; (8) Islamic Teachings: an Overview; dan (9) Shi’ite Anthology.
b. Berbentuk makalah: Risalah dar Hukumat Islami, Risalah Hasyiyah Kifayah, Risalah dar Quwwah wa fi’l, Risalah dar Itsbat Dzat, Risalah dar Shifat, Risalah dar Af’al, Risalah dar Insan Qabl al-Dunya, Risalah dar Insan ba’d al-Dunya, Risalah dar Nubuwat, Risalah dar Walayat, Risalah dar Musytaqqat, Risalah dar Burhan, Risalah dar Tahlil, Risalah dar Tarkib, dan Risalah dar bu Nubuwat wa Manamat.
Thabathabai juga seorang pengarang dan penulis berbagai artikel yang hadir selama dua puluh tahun belakangan dalam jurnal-jurnal Maktaba tasyayyu’, Maktab Islami, Ma’arif Islam dan dalam koleksi-koleksi seperti The Mulla Shadra Commemoration Volume dan Marja’iyat wa Ruhaniyat.


B. Kondisi Pemikiran Filsafat Sebelum Thabathabai

1. Warisan Intelektual Iran
Dalam sejarahnya, Iran dikenal sebagai wilayah tempat lahirnya filosof, sufi, saintis dan penyair terkenal. Iran dapat dipandang sebagai tempat yang merepresentasikan kontinuitas perkembangan pemikiran keagamaan, khususnya filsafat selama fase akhir sejarah Islam.
Seperti dilaporkan Nasr, filsafat Islam memiliki kehidupan yang lebih panjang di bagian Timur ketimbang di bagian Barat dunia Islam. Iran tidak hanya memiliki tanah yang filsafatnya tetap bertahan hidup sampai sekarang, tetapi ia juga secara definitif menjadi arena utama aktivitas dalam filsafat Islam. Sekurang-kurangnya, ada dua faktor pendukung berkembangnya pemikiran filsafat di Iran: Pertama, faktor geografis-historis, dan kedua, tradisi keagamaan Syiah.
Menurut sejarah, penyerbuan Mongol telah menghancurkan khilafah Abbasiah dan terusirnya orang Islam dari Spanyol. Bersamaan dengan itu, ummat Islam pun tenggelam dalam tidur panjang. Abad keenam Masehi merupakan awal kematian Islam. Hal itu terjadi di dunia Islam sebelah Barat, khususnya dunia Sunni. Abad ke tujuh justru awal tumbuhnya suatu imperium Islam di belahan Timur dan pada dunia Syiah.
Pada tahun 1499 M, berdirilah kerajaan Safawi yang bertahan sampai sekitar dua ratus tahun. Pada periode Safawi inilah berkembang berbagai aliran pemikiran dalam matrik Syi’isme. Salah satu pemikiran yang berkembang pesat adalah bidang filsafat. Filsafat tetap diajarkan dan merupakan tradisi yang hidup sepanjang zaman di sekolah-sekolah Syiah yang didirikan dinasti Safawi.
Menurut Roy Mottehedeh, melalui sekolah Syiah itulah, para tokoh filsafat Iran terkenal bermunculan. Bahkan, Iran menjadi pusat utama ilmu-ilmu intelektual, khususnya filsafat bagi dunia Islam yang didatangi oleh orang Islam dari seluruh penjuru dunia.
Perkembangan pemikiran pada zaman dinasti Safawi mempunyai karakteristik khas sebagai madzhab Isfahan. Madzhab ini menampung perkembangan pemikiran madzhab Masya’i, Isyraqi, Irfani dan Kalam.
Madzhab Masya’i (peripatetik) yang didirikan oleh Ibnu Sina sangat berpengaruh di Iran. Karya-karya Ibn Sina mendapat kritikan dan serangan tajam dari kaum sufi dan teolog. Aliran ini akhirnya mati di dunia Islam. Baru pada abad ke enam, Nashir al-Din al-Thusi menghidupkan kembali mazhab peripatetik Ibn Sina. Sementara itu, dari abad delapan dan seterusnya, Syirazi dan sekitarnya menjadi markas filsafat.
Mazhab Isyraqi didirikan oleh Syihab al-Din Suhrawardi. Walaupun hanya hidup selama 38 tahun, dia telah menegakkan perspektif intelektual baru dan berpengaruh pada dunia Islam Iran. Suhrawardi menciptakan teosofi berdasarkan iluminasi dan intuisi mistik. Mazhab yang didirikannya segera memperoleh pengikut dan penafsir yang pintar.
Mazhab Irfan dan Kalam pada abad ke tujuh juga mencapai masa keemasan. Mazhab ini telah berkembang dalam dunia Syiah sebelum Thabathabai. Demikian pula pemikiran kalam. Pada zaman inilah keempat pemikiran tersebut di atas merasuki pemikiran Syiah, satu fenomena penting yang meratakan jalan bagi kebangkitan Safawi dengan warna khas Syiah.
Pada periode Safawi, tepatnya pada abad XIII sampai XVII filsafat di Iran mencapai puncaknya. Pemikiran filsafat dicirikan oleh penyesuaian besar antara berbagai pemikiran filsafat Islam. Aliran filsafat ini dikenal dengan hikmah al-muta’aliyah. Tokoh utamanya adalah Sadr al-Din Syirazi. Dia merupakan tokoh berpengaruh dalam kelanjutan tradisi Islam sampai abad terkahir ini, yang dianggap sebagai metafisikawan Muslim terbesar. Mulla Shadra menulis sekitar lima puluh buah buku. Sebagian besar dalam bahasa Arab. Buku yang terpenting adalah al-Asfar al-Arba’ah, sebuah buku teks tingkat tinggi tentang filsafat Islam yang digunakan sebagai referensi wajib universitas-universitas di Iran sampai sekarang ini.
Mulla Sadra tetap merupakan tokoh yang berpengaruh dalam kelanjutan tradisi filsafat Islam sampai sekarang ini. Meski diakui pemikirannya bukanlah satu-satunya yang memiliki pengikut, ternyata ajaran Mulla Sadra mampu berdampingan dengan filsafat peripatetik-Ibnu Sina dan iluminasi-Suhrawardi. Mulla Sadra mempunyai banyak murid dan pengikut, di antaranya Mulla Ali al-Nuri, al-Sabzarawi dan al-Qumsyeh’i, Abd. al-Razaq Lahiji dan Muhsin Faid Kasyani. Dengan demikian, filsafat aliran hikmah al-muta’aliyah Mulla Sadra tidak hanya berpengaruh pada dunia pemikiran filsafat Islam di Iran, tetapi juga berkembang terus karena peran murid dan penerusnya sampai dinasti berikutnya.
Pada awal awal abad XIX sebelum periode Qajar, filsafat Mulla Sadra dibangkitkan kembali secara penuh di Isfahan oleh Ismail Khajui dan Ali Nuri. Mulla Ali Nuri terkenal sebagai komentator karya al-Asfar al-Arbaah Mulla Sadra dan sekaligus mengajarkannya pada generasi setelahnya. Thabathabai termasuk orang yang belajar langsung kepadanya. Di bawah murid-murid Mulla Sadra di atas, Thabathabai mempelajari filsafat aliran Mulla Sadra. Selama periode Qajar, Teheran secara bertahap meningkat menjadi pusat studi filsafat Islam yang menghasilkan guru-guru yang terkenal di akhir periode Qajar dan Pahlewi. Di antara nama-nama filosof periode ini adalah Mirza Mahdi Asytiyani, Sayyid Muhammad Kazim ‘Assar, Abu al-Hasan Jilwah, Muh. Ridha Qumshii, Jahangir Khan Qashqai, Mulla Ali Yunusi, Mirza Tahir Tunikabuni, Muhammad Husain Thabathabai dan Sayyid Abu al-Hasan Rafi’i Qazwini.
Setelah Perang Dunia II, Iran tetap merupakan tempat subur bagi berkembangnya pemikiran filsafat Islam. Salah satu pusat kegiatan intelektualnya ada di kota Qum. Di kota inilah Thabathabai kembali memasukkan filsafat hikmah al-muta’aliyah menjadi salah satu mata kuliah wajib di Universitas Qum. Melalui bimbingan Thabathabai, banyak filosof dan sarjana Iran kontemporer yang terlahir, seperti Murtadha Mutahhari –Profesor di Fakultas teologi Universitas Teheran, Ahmad Asytiyani –Profesor di Fakultas Sastra Universitas Teheran,dan Hai’ri Mazandarani. Melalui tokoh intelektual inilah, filsafat Islam sampai ke Barat.
Dari perjalanan sejarah inteletektual di Iran di atas, dapat dipahami bahwa berawal pada tahun 1950-an (pasca Perang Dunia II), terjadi suatu ketertarikan kembali dalam filsafat Islam di Iran. Ini merupakan suatu kebangkitan kembali tradisi filsafat Islam yang belakangan mampu menjawab tantangan pemikiran Barat. Tokoh utama yang menjadi rujukan adalah Mulla Sadra. Melalui sebuah dialog dengan filsafat Islam di dunia Islam lain menjadikan Barat mengenal sebuah tradisi intelektual Islam yang hidup.
2. Tiga Kelompok Filosof pada Masa Thabathabai
Dari deksripsi aliran pemikiran filsafat Islam sebelum Thabathabai, tergambar bahwa banyak filosof ingin memadukan filsafat Plato dan tradisi Neo-Platonisme, dengan Aristoteles di satu sisi dan ajaran Islam sendiri di sisi lain. Perpaduan antara filsafat Barat dengan ajaran Islam telah dilakukan oleh filosof Iran, mulai al-Suhrawardi sampai dengan Mulla Sadra. Usaha tersebut telah memberi tempat aman bagi perkembangan filsafat di dalam Islam. Misalnya, dalam filsafat Mulla Sadra, hikmah al-muta’aliyah yang secara epistemologis didasarkan pada prinsip isyraq (intuisi intelektual), akal dan ajaran Islam, pengetahuan itu dapat diperoleh melalui pengalaman isyraq, yang diungkapkan melalui pembuktian rasional. Tetapi, hanya melalui ajaran Islamlah terbentang jalan realisasi diri untuk mendapatkan pengalaman isyraq itu. Demikianlah, dalam aliran baru yang disebut hikmah al-muta’aliyah (teosofi transenden), dasar filsafat modern dalam Islam disiapkan.
Oleh karena itu, filsafat Mulla Sadra mampu berkembang dan mempengaruhi filosof setelahnya. Sebagaimana terlihat dalam pembahasan sebelumnya, berbagai usaha dilakukan oleh murid dan penerus Mulla Sadra untuk mengembangkan filsafat hikmah al-muta’aliyah. Namun demikian, perkembangan pemikiran filsafat Islam Iran selanjutnya sangat dipengaruhi arah filsafat Barat. Kalau permasalahan filsafat kontemporer ditandai dengan berkembangnya masalah-masalah yang muncul dalam berbagai macam filsafat Barat, maka filsafat Islam pun mempunyai tendensi ke arah itu. Filsafat Islam, melalui para tokohnya, mencoba menafsirkan Islam dari berbagai sudut sistem filosofis tersebut.
Perkembangan aktivitas dalam bidang pemikiran filsafat Islam di Iran pasca Mulla Sadra sampai pada masa Thabathabai ditandai dengan berbagai kecenderungan seperti di atas. Pada awal abad XX, masa dimana Thabathabai berperan aktif dalam kajian pemikiran Islam, di Iran terdapat tiga kelompok filosof. Pertama, kelompok tradisional yaitu kelompok filosof yang memperoleh pendidikan filsafat secara tradisional, baik metode atau materinya. Kedua, kelompok moderat yaitu filosof yang mempelajari filsafat dengan pendekatan tradisional dan modern. Ketiga, kelompok sekular, yaitu sekolompok filosof yang memperoleh pendidikannya di lembaga dan sistem pendidikan modern.
Filosof kelompok pertama dan kedua memperoleh pendidikan dalam bidang filsafat Islam di pusat-pusat madrasah tradisional seperti Qum, Teheran, Mashhad, Isfahan dan Najaf. Perbedaan antara kelompok pertama dan kedua adalah bahwa kelompok pertama mempelajari filsafat dengan mengunakan sumber klasik, sedangkan kelompok kedua, di samping mempelajari literatur klasik, juga teks filsafat Barat. Kelompok ketiga lebih tertarik mempelajari filsafat Barat yang diperoleh dari hasil belajar mereka di negara Barat.
Dari sudut metode pemikiran, kelompok pertama ingin mempertahankan tradisi pemikiran filsafat Islam yang bersumber hanya pada ajaran murni Islam tanpa terpegaruh filsafat lain. Sementara kalangan moderat, mempunyai kecenderungan memadukan dan menjelaskan ajaran Islam berdasarkan metodologi filsafat Barat dengan metodologi Islam sendiri. Dengan memperhatikan ciri dari masing-masing kelompok filosof di atas, dapat dipahami bagaimana posisi pemikiran filsafat Thabathabai. Thabathabai merupakan kelompok filosof kedua, yaitu kelompok moderat. Barangkali faktor-faktor berikut tidak terlalu salah untuk dijadikan alasan dari simpulan tersebut.
Pertama, Thabathabai dalam menulis karyanya kaya dengan sumber atau bahan rujukan yang digunakan. Dia mengutip sumber filsafat dari filosof Islam hingga berbagai pemikiran filsafat Barat. Bahkan, sebagaimana dijelaskan terdahulu, ketika Marxisme menjadi mode di Iran, Thabathabai merupakan satu-satunya ulama yang mempelajari konsep filsafat tersebut. Disamping itu, dalam melakukan kajian ma’rifat, Thabathabai mempelajari ajaran filsafat ma’rifat agama-agama besar dunia.
Kedua, melalui kelompok diskusi yang didirikan, Thabathabai secara intens memanfaatkan forum ini dengan tokoh intelektual Barat. Henry Corbin, misalnya, adalah teman diskusinya dalam berbagai persoalan filsafat. Henry Corbin sendiri, agaknya mempunyai kesan yang baik terhadap kualitas intelektual Thabathabai. Sebagai bukti, Thabathabai adalah salah satu asistennya di Universitas Teheran. Bersama orientalis ini dan Seyyed Hossein Nasr, Thabathabai mendiskusikan persoalan-persoalan filsafat kontemporer.
Ketiga, buku-buku karyanya menampilkan sebuah pemahaman terhadap ajaran Islam dengan berbagai pendekatan. Dengan pendekatan yang bermacam-macam ini, karyanya dapat diterima oleh berbagai kalangan. Hal ini tidak terlepas dari pribadi dan kemampuan Thabathabai dalam bidang menulis dan menyampaikan ide pemikirannya. Thabathabai adalah seorang yang memiliki wewenang keagamaan yang dihormati oleh masyarakat Syiah dan tidak ternoda oleh pengaruh pemikiran Barat. Namun pada saat yang sama, dia cukup mengenal baik dunia Barat dan suasana kejiwaan para pembaca Barat. Salah satu contoh ialah terbitnya buku Shi’a yang merupakan salah satu hasil usulan seorang orientalis Barat bernama Kenneth Morgan dari Universitas Colgate. Morgan ingin menyuguhkan agama-agama Timur kepada Barat dari sudut pandangan tokoh-tokoh terkemuka agama ini. Untuk tujuan inilah Morgan menghubungi Seyyed Hossein Nasr agar mengawasi penulisan satu seri yang terdiri dari sudut pandangan orang Syiah sendiri. Setelah mengadakan studi bertahun-tahun bersama Thabathabai dalam bidang filsafat dan teosofi klasik, Nasr mengetahui bahwa di antara ulama-ulama tradisional Syiah, Thabathabai adalah orang yang memenuhi syarat untuk menulis buku semacam itu. Buku karya Thabathabai berjudul Shi’a memenuhi harapan dan keinginan Morgan. Buku tersebut ditulis dengan prinsip-prinsip intelektual dan dari sudut pandangan Syiah yang otentik. R.M. Burrel dan D.O. Morgan menilai buku Thabathabai tersebut sebagai buku yang menjelaskan ajaran Islam Syiah dengan sebuah pendekatan sintesa berdasarkan pada pendapat ahli-ahli Barat dan pendapat dari dalam Syiah sendiri. Oleh karena itu, buku ini sering menjadi rujukan para penulis tentang Syiah baik dari kalangan Islam ataupun dari kalangan Barat. Karya lain dari Thabathabai yang sering dijadikan rujukan para penulis Syiah adalah Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, sebuah tafsir al-Quran yang dianggap sebagai karya magnum opus Thabathabai.
3. Sumber Pemikiran Filsafat Thabathabai
Untuk mengetahui pemikiran seorang tokoh, apakah merupakan pemikiran orisinal atau hasil keterpengaruhan oleh tokoh sebelumnya, adalah sangat sulit. Demikian menurut Adamson Hobel dalam mengawali tulisannya tentang apakah ada keterpengaruhan seorang pemikir satu dengan yang lain. Selanjutnya, Hobel memberikan argumen bahwa inovasi dalam pemikiran berbeda dengan inovasi dalam sesuatu yang bersifat kebendaan. Dalam bidang materi, segera dapat diketahui bahwa suatu penemuan merupakan sesuatu yang baru atau lama. Misalnya, penemuan adanya jenis insektisida, vitamin, dan bakteri. Orang akan mengetahui bahwa penemuan-penemuan tersebut memang baru. Sedangkan di bidang pemikiran, sangat berbeda sekali. Pemikiran tokoh pembaharu yang datang dari zaman ke zaman, tidak lebih dari akumulasi dari pemikiran tokoh sebelumnya.
Berangkat dari asumsi Hobel ini, pemikiran Thabathabai merupakan akumulasi dari pemikiran yang sudah ada sebelumnya. Hal ini tidak berarti bahwa pemikiran Thabathabai terpengaruh oleh tokoh sebelumnya. Barangkali ungkapan yang tepat adalah bahwa pemikiran yang dikembangkan Thabathabai merupakan warisan dari pemikir sebelumnya. Oleh sebab itu, sub bahasan ini berjudul sumber pemikiran Thabathabai, bukan pengaruh yang diterima. Boleh jadi, pemikiran Thabathabai merupakan entitas dirinya sendiri.
Dari sub bahasan sebelumnya tampak jelas bahwa keahlian Thabathabai dalam pemikiran filsafat merupakan warisan dari intelektual Iran. Warisan tersebut meliputi berbagai pemikiran filsafat dan tasawuf yang telah dikembangkan oleh tokoh sebelumnya. Tradisi pemikiran filsafat dan tasawuf inilah yang memberikan inspirasi pada pola pemikiran Thabathabai. Dengan memperhatikan kondisi pemikiran Islam sebelum Thabathabai dan memperhatikan beberapa karyanya, kita dapat mengetahui sumber utama pemikiran keagamaan Thabathabai.
Pertama, filsafat peripatetis Islami, khususnya dari Ibn Sina. Thabathabai sering menampilkan pemikiran Ibn Sina secara menonjol dalam beberapa tulisannya. Sumber pemikiran filsafat Ibn Sina dipelajari Thabathabai melalui buku Al-Syifa’ di bawah bimbingan Seyyed Hossein Badkubai.
Kedua, filsafat iluminasionis dari Suhrawardi dan para pensyarahnya seperti Quthb al-Din Syirazi dan Jalal al-Din Dawani.
Ketiga, filsafat hikmah al-muta’aliyah dari Mulla Sadra. Pemikiran filsafat ini merupakan sumber utama pemikiran filsafat Thabathabai. Thabathabai mengakui sendiri bahwa metode berpikir Mulla Sadra banyak memberikan inspirasi dan pengaruh bagi dirinya.
Keempat, ajaran tasawuf dari Ibn Arabi dan pensyarahnya seperti Sadr al-Din Qunyawi serta karya-karya tokoh sufi lainnya, seperti Ibn Maskawaih. Ajaran tasawuf ini dipelajari dari guru sufinya bernama Mirza Ali Agha Qadhi. Sebagai seorang guru, Mirza Ali Qadhi tidak hanya mentransfer ajaran tasawuf dari tokoh-tokoh sufi tersebut, bahkan Agha Qadhi mampu membuka pintu gnosis bagi Thabathabai. Menurut Thabathabai, Agha Qadhi merupakan penuntunnya dalam bidang pengetahuan tertinggi tentang yang transenden.
Kelima, syariat Islam, termasuk sabda rasulullah dan Imam-Imam Syiah. Thabathabai memperoleh pemahaman syariat atau ajaran Islam ini melalui karya klasik ulama Syiah, seperti Nahj al-Balaghah, al-Shahifat al-Sajjadiyyat, Bihar al-Anwar dan Mafati al-Jinan. Buku berjudul Shi’ite Anthology disusun Thabathabai berdasarkan sumber klasik tersebut.
Di samping kelima sumber tersebut di atas, kontaknya dengan pemikiran Barat melalui Henry Corbin dan filosof modern Iran, Sayyed Hossein Nasr, merupakan sumber lain yang membawa sisi modernitas dalam pemikiran Thabathabai.
Kelima sumber pemikiran tersebut menjadikan Thabathabai tokoh yang mewakili ulama dan intelektual Syiah. Thabathabai telah menggabungkan perhatian dalam bidang fiqh dan tafsir al-Quran dengan filsafat, teosofi dan tasawuf. Oleh karena itu pemikirannya mewakili pemikiran Syiah yang universal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: