Fonologi

  1. A.    Fonologi Sebagai Analisa Bunyi Secara “Fungsionil”

Fonologi disebut phanology sebagai bidang khusus. Sejauh ini dapat dibuktikan fonologi mempunyai arti ialah sesuatu bunyi yang mempunyai fungsi untuk membedakan kata dari kata disebut juga dengan istilah fonem dengan perkataan lain sebagai penyelidikan. Tentang perbedaan minimal antara ujaran-ujaran, dan perbedaan minimal terdapat dalam perbedaan satu bunyi saja, dalam masing-masing kata itu yaitu masing-masing (l) dan (r) maka dari itu (l) dan (r) dalam bahasa Indonesia berbeda secara “fungsional” dalam arti tadi : dengan perkataan lain masing-masing / l / dan / r / merupakan fonem-fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia.

Kepada contoh ini mari kita tambahkan beberapa yang lain, bunyi (r) dalam bahasa Inggris diberi sesuatu “asperasi” (bagaikan suatu bunyi) (h) yang amat singkat sesudahnya bila bunyi tersebut terdapat pada awal kata dan di ikuti oleh focal. Misal : kata Top, di ucapkan sebagai (thop) (posisi sedikit lebih ke atas lambang h menyatakan sigkatnya sebagai “aspirasi” tetapi (t) itu di lafalkan tanpa aspirasi tadi bila tidak terdapat pada awal kata. Misalnya stop diucapkan (stop), maka dari itu bunyi (t) dan bunyi (th) tak merupakan forum yang berbeda yang ada hanya fonem / t /. Setiap bahasa fonem-fonem jauh lebih kecil jumlahnya dari pada jumlah bunyi fonetis. Jumlah fonem dalam suatu bahasa Khasanah atau (infentory of phonemis) sudah jelas bahwa pengkhasanahan atau infentarisasi fonem dari suatu bahasa lebih menerangkan sistematis bunyi-bunyinya dari pada suatu inventaris semua bunyi fonetisnya. Dalam istilah ahli fonologi oposisi tadi juga diset kontras.

Oposisi itu terbagi menjadi 2 :

  1. Oposisi langsung

Dua fonem yang berbeda tidak pernah terdapat dalam pasangan minimal.

Contoh fonem /h/dan /ŋ/tidak dapat dibuktikan oposisinya dalam pasangan minimal, karena kebetulan /h/ hanya terdapat awal kata dan /ŋ/ tidak pernah terdapat awal kata.

  1. Oposisi tidak langsung

Dalam peristilahan indirec oposition /h/ dan /ŋ/ dalam Inggris tidak di kontraskan atau tidak berkontras. Perlu juga diketahui istilah fonologis “beban fungsionil” (functional load) makin banyak pasangan kata dibedakan secara minimal, makin “tinggi” pula “beban fungsionil” fonem-fonem yang membedakannya misalnya : /l/ dan /r/ berfungsi pembeda makna dalam banyak sekali pasangan kata dalam bahasa Indonesia.

Tetapi dapat terjadi bahwa pasangan fonem membedakan jumlah sedikit sekali dalam bitertentu. Misaldalam bahasa jawa baru kata amba (όmbό) “lebar” dibedakan dari kata amba (όmbό) amba disebut juga saya hanya dalam posisi antara bunyi (a) dan (ό)

Sedangkan kebanyakan kali perbedaan diantara (a) dan (ό) tadi tidak terdapat dalam pasangan minimal tersebut. Dibawah ini yang berbeda bila (a) dan (ό), tak disebutkan dalam fonem yang berbeda (dan hal itu dapat dipersoalkan).

Fenomena lain yang perlu kita ketahui dalam pasal ini adalah “variasi bebas” istilah itu mengandalkan dari variasi diantara bunyi yang termasuk dalam fonem saja tidak bebas. Misalnya /t/ beraspirasi dalam top dalam tidak beraspirasi dalam stop dan tidak boleh sebaliknya. Tetapi bagaimana variasi dalam lingkungan yang sama, sedangkan kedua bentuk yang bersangkutan jelas tidak merupakan kata-kata yang berbeda. Misalnya telur/telor, berjuang/berjoang, nasihat/nasehat, kurban, korban, kendang, gendong dan seterusnya. Pastilah ada perbedaan fonemnya antara (a) dan (ό), dan /e/ dan /I/, /k/ dan /g/. Padahal kebetulan dalam kata-kata tadi dapat bervariasi bebas.

  1. B.     Penafsiran Ekafonem dan Penafsiran Dwifonem.

Dalam menggolongkan bunyi tertentu kedalam fonem kita menghadapi kesulitan kasus. Misalnya : menafsirkan bunyi (dŋ) sebagai datu fonem atau dua fonem, kedua macam penafsiran dalam fonologi tersebut disebut “penafsiran ekafonem” (monophone matice interpretation), dan “penafsiran dwifonem” (biphone matice interpretation). Andaikan bunyi (d) ditafsirkan sebagai satu fonem karena disini “fonem” /ŋ/ jarang kita jumpai dalam beberapa kata. Seperti measure /meŋer/. Disatu pihak /d/ dan /ŋ/ tidak dapat dipandang sebagai fonem yang sama namun dipihak lain /ŋ/ tidak dapat dikatakan sebagi fonem tersendiri, maka harus di jadikan satu fonem /dŋ/.

  1. C.    Variasi Alofonemis

Perbedaan antara bunyi (th) dan bunyi (t) kedua bunyi tersebut tidak merupakan fonem yang berbeda keduanya anggota dari satu fonem /t/. Fonem merupakan suatu wujud yang agar abstrak karena secara konkrit kita selalu mengucapkan salah satu “Anggota” dari fonem yang bersangkutan misalnya : kata butter bunyi /t/ diucapkan dengan letupan samping

            Contoh tentang perbedaan antara (th) dalam kata inggris top dan bunyi (t) dalam inggris stop tidak ada pasangan minimal yang hanya mengandung perbedaan itu saja.

            Maka dari itu kedua bunyi tersebut tidak merupakan fonem yang berbeda, dan hanya merupakan “Anggota” dari suatu fonem saja, yaitu fonem /t/ fonem merupakan suatu wujud abstrak, secara konkrit kota selalu mengucapkan salah satu “Anggota” dari fonem yang bersangkutan.

            Anggota dari suatu fonem disebut alofon. Suatu alofon (Allophone) adalah salah satu cara konkrit mengucapakan, alofon konkrit harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya: dengan perkataan lain, terjadilah salah satu “Assimilasi” pada waktu yang sama assimilasi yang sama perwujudan tersebut, berbeda tergantung dari lingkungan disebut assimilasi “Fonetis”.

D. Assimilasi Fonemis

            Berbeda dari assimilasi fonetis, ”Assimilasi fonemis” menyebabkan suatu fonim menjadi fonim yang lain.sebagai contoh analisalah kalimat belanda     IK cat we saya makan”ikan,fonem /v/ dari kata vis di ubah menjadi fonim yang lain.yaitu /F/ akibat pengaruh fonem /t/ pada akhir eer:fonim /t/ tersebut.yang bersuara itu menyebabkan fonem /v/ yang berikutnya menjadi tak bersuara pula : /f/ jadi betul – betul assimilasi dan memang progresif lihat  BAB III pas (17) dan memang suatu assimilasi fonemis.

Supaya dapat menyatakan dengan benar bahwa suatu fonem /v/ menjadi fonem /f/ (akibat adanya /t/ di depannya) maka perlu kita yankin”seharusnya “pada /v/ dalam kata vis (jangan kita dasar pernyataan ini pada adanya huruf V dalam ejaan “vis” saja)dalam contoh tadi tidak sulit : kata VIS memang selalu dilafalkan dengan bunyi /v/ yang bersuara bila tidak ada suatu bynyi yang tak bersuara di depannya

Peerbedaan assimilasi fonetis dan asimilasi fonemis dapat digarap dengan lebih jelas dengan diagram berikut:

Bidang fonologi       Assimilasi fonemis           Penyesuaian fonem

dengan fonem lain.

 

Jadi variasi alofonemis saja           Tetapi dengan mempertahankan fonem sama.

Bidang fonetik          Assimilasi fonetik                 Penyesuaian bunyi dengan

bunyi lain.

 

Disini tampak bahwa suatu tatanan yang lebih rendah untuk sebagai sudah mengandalkan sistematik dari tatanan lebih tinggi yang berikutnnya.

Misalnya asimilasi fonetis termasuk fonetik sebagai asimilasi dan termasuk fonologi sebagai fariasi di batas fonem yang sama

E. Beberapa jenis Assimilasi Fonemis

Beberapa jenis assimilasi fonemis yakni assimilasi progesif (Progressive Assimilation), assimilasi regresif (regressive assimilation) dan assimilasi resprokal (reciprocal assimilation).

Assimilasi regresiftun terdapat dalam bahasa belanda, missal, dalam frase (kelompok kata) opdeweg dijalan ‘(de adalah kata sandang) dimana /p/ dari kata op akibat pengaruh antara 2 fonem yang berurutan yang menyebabkan ke2 fonem yang lain dari semua.

 

F. Assimilasi Fonemis Dalam Beberapa Bahasa 

            Assimilasi fonemis dapat terjadi pada batas morfem bebas, termasuk dalam hal ini juga kata majemuk (keempat kata tadi kata majemuk kalihatannya) kecuali dalam bahasa inggris, missal kata black board tidak memperhatikan assimilasi diantara black dan board: /k/ dari, black tidak menjadi /g/ akibat kebersuaraan /b/ yang berikutnya, tidak menjadi /p/ akibat kotak bersuaraan /k/ yang mendahuluinya.

 

G. Asimilasi dan Modifikasi Vokal

Berdasarkan artikulasi,jadi penyesuaian bunyi berdasarkan cara menghasilkannya,jadi asimilasi pada waktu yang sama asimilasi tersebut,tidak mengubah fonem dan fonem yang sama dipertahankan,maka dari itu disini ada asimilasi fonemis.

Asimilsi itu sering di sebut “umlaut“. “umlaut“ adalah kata german yang berarti ”perubahan vocal“ dalam sebuah suku kata menjadi lebih tinggi karena pengaruh vocal atau semi – vocal berjauhan dengan vocal yang mendahuluinya artinya tidak mutlak “kontinyu“ ( kontinuous )dapat saja “diskret” (Discrete ).

Umlaut dalam bahasa jerman merupakan asimilasi “Historis” misal: kata buch \bu:x/’ buku ,bila dijamakan menjadi bucher /buser /buku – buku .

Secara ringkas: umlaut sebagai asimilasi fonetis secara singkronis ,sebagai assimilasi fonemis tidak kita jumpai secara sinkronis.fonemena umlaut sebagai assimilasi, baik diakronis maupun sinkronis selalu bersifat regresif

Perlu kita catat bahwa semua fenomena umlaut termasuk dalam perubahan vocal, pengaruh regresif .fonemena itu terkenal sebagai “Harmoni vocal”.

H. Netralisasi dan Arki Fonem

            Fungsi fonem adalah membedakan makna sebagai contoh yang sederhana dalamn banyak bahasa dua fonem seperti /t/ dan /d/ dapat merupakan perbedaan minimal antara dua kata akan tetapi dalam keadaan tertentu fungsi pembeda makna diantara dua fonem tersebut dapat menjadi batal.netralisasi selalu mengandung perubahan identitas fonem: sesuatu fonem menjadi fonem yang lain.fonem letupan bersuara menjadi fonem letupan atau tak bersuara (homorgan) tak bersuara oleh pengaruh batas kota yang lebih penting dalam hal.netralisasi ialah batalnya oposisi yang bersangkutan dapat di tandai secara fonemis dalam tulisan fonemis  .

          Para ahli fonologi pernah mengusulkan pemakaian tanda fonem dengan huruf besar untuk menyatakan fenomena yang menjadi batal misalnya dalam kata Belanda hard tulisan fonem biasa /hart/ tetapi tulisan itu tidak membedakan antara hard dan hart jadi kata hard itu dikembangkan dengan /hard/,disela sela bedanya dari tulisan /hart/ ,yang menjadi lambangan fonemis dari kata hart saja.

I. Beberapa Perubahan Fonemis Selain Dari Assimilasi Dan Modifikasi Vokal.

a. Hilangnya bunyi dan kontraksi

Pasal 1 di atas di bicarakan mengenai “variasi bebas” seperti dalam pasangan telur/telor dls. ”variasi bebas” disini bahwa seatu fonem dapat diganti dengan fonem lain dalam kata tertentu,kata yang sama yaitu tanpa sdanya posisi akibat pengertian fonem tersebut.variasi semacam itu dapat kita temukan juga dengan menghilangkan salah satu fonem.misalnya dalm kata “silahkan” /silakah:fonem /X/ boleh dipakai boleh juga tidak.biasanya fenomena ini tidak di sebut “variasi bebas” (meski yang sebenarnya dapat dikata di dalamnya) melainkan “hilangnya bunyi” (loss of sound). (contoh ini hanya bisa di analisa dari sudut sinkronis,karena kebetulan diakronis bentuk tanpa /X/ adalah yang lebih dahulu ada) dalam parole penutur bahasa cenderung lalai diartikulasi yang di alami terlalu sulit: /X/ sesudah /a/ menuntut kegiatan artikulatoris yang mudah terlalai.hal itu dapat kita dengar juga dalam kata sudah [h] silahkan cari yang lain.disini kadang kadang lebih dari pada satu bunyi dihilangkan,tambahan pula bahwa penghilangan bunyi yang bersangkutan tidak lagi berdasarkan pelayanan atau dalam parole,tetapi singkatan dua semacam itu sudah sama sekali tentu bentuknya.contoh:frase inggris shan’t(dari shall not),won’t(dari wiil not) can’t (dari can not).contoh contoh tadi dengan menambahkan tulisan fonemisnya,penyingaktan semacam itu di sebut ”kontraksi”(contraction)beberapa contoh kontraksi yang lain anda temukan dalam pass.

            Hilangnya bunyi dan konyraksi oleh beberapa ahli binaraga di tafsirkan sebagai salah satu kemungkinan asimilasi terjadi karena sebuah bunyi berubah untuk menyesuaikan diri dengan bunyi lain.maka “disimilasi”(dissmilation)terjadi bila dua bunyi yang sama karena berdekatan,misalnya:dalam kata Indonesia belajar bentuk terajar di hindarkan karena dalam ajar sudah ada /r/,jadi tidak terdapat lagi dalam prefik ber,yang/r/-nya,disimilasikan dengan /r/.

Kata Indonesia cinta dan cipta kedua duanya bersasal dari sansekerta citta, jadi t – t menjadi n – t dan p – t.Dismilasi dengan terjadi di sini membedakan dua kata menurut sistematis fonemis bahasan Indonesia ini mereupakan disimilasi diakronis contoh lain kata lansir yang berasal dari kata belanda  :    r – r menjadi r – e.

3 Komentar (+add yours?)

  1. Debby Anchika
    Nov 30, 2015 @ 14:49:13

    kak mau tanya, kale variasi bebas itu ada lambangnya nggak? misal korespondensi kan dilambangkan tengan ~, kalau variasi bebas apa ya kak..? bantu jaw yeah.. trims.. oriya sama distribusi komplementer juga.. lambangnya apa ya kak..?

    Balas

    • bocahsastra
      Nov 30, 2015 @ 15:53:47

      untuk variasi bebas
      Tidak berkontras atau tidak membedakan makna

      Menurut Muslich (2008 : 82) yang dimaksud dengan tidak berkontras adalah tidak membedakan makna, berarti karena tidak membedakan makna bunyi-bunyi itu termasuk dalam fonem yang sama.

      contoh : bunyi [k] dan bunyi [?] mempunyai kesamaan fonetik.

      dalam kata [pOkOk] dan [pOkO?]

      Balas

    • bocahsastra
      Nov 30, 2015 @ 15:59:05

      untuk lambang bunyi distribusi komplementer itu sendiri masih simpang siur karena dalam distribusi komplementer itu sendiri bunyi bunyinya diapit oleh bunyi yang bukan merupakan desisi

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: