Morfologi

  1. A.    Pembegian Kata Menurut Jenisnya

Dalam kata bahasa tradisional kata-kata dapat dibagi menurut jenisnya baik berdasarkan arti mapun fungsinya dalam kelimat. Adapun pembagian kata itu ialah:

  1. Kata Benda atau Nomina

Kata benda ialah kata yang menyebutkan benda atau nama benda (orang, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda mati, benda abstrak).

Untuk menentukan ciri kata benda dalam bahasa Indonesia kita dapat memandangnya berdasarkan beberapa hal:

  1. Berdasarkan ciri morfologisnya:

1)    Semua kata yang berawalan pe (N)-, misalnya: penulis, pemirsa, pendidik, peneliti, pelaut.

2)    Semua kata yang berimbuhan pe (N)-an, misalnya: penerangan, pegunungan, pengabdian, penyimpangan, perumahan.

3)    Semua kata yang berimbuhan per-an, misal: pembuatan, perkawinan, persatuan, pertanyaan.

4)    Sebagian kata yang berimbuhan ke-an, misal: kekayaan, kesempatan, keunikan, kebesaran.

5)    Sebagian kata yang berakhiran –an, misalnya: timbangan, pikiran, asuhan, ikatan, bantuan.

6)    Beberapa kata yang berawalan ke- (tapi tidak produktif lagi) misal: kehendak, ketua.

7)    Semua kata yang berkhiran –man, -wan, -wati, -or, -ur, -ir, -tas, misalnya: sukarelawan, sukarelawati, seniman, budiman, koruptor, kalkulator, korektor, inspektur, kondektur, aparatur, kasir, importir, aktivitas, fakultas.

(catatan: akhiran –man, pada seniman dan budiman sebenarnya tidak berfungsi membentuk kata benda, sebab seni dan budi adalah kata benda. Jadi fungsi –man pada kata-kata tersebut adalah membentuk kata benda kongkret dari kata benda abstrak).

8)    Kata-kata yang diperluas dengan akhiran –nya, misal: tingginya, besarnya, lamanya.

  1. Menurut ciri frase:

1)    Didepannya dapat ditempatkan kata depan: di atas meja, di dalam rumah, ke pasar, ke sekolah, dari kampung, ke pada pendengar.

2)    Dibelakangnya dapat diikuti kata gantimilik, misal: buku saya, hartanya, pikiran mereka, kekayaanmu.

3)    Didepannya dapat ditempatkan kata bilangan, misalnya: sebuah buku, tiga (buah) rumah, setengah lusin, empat hari.

4)    Dapat diperluas dengan yang + kata sifat.

Misalnya  :  * Pakaian    (yang mahal)

                     * Anak         (yang nakal)

                     * Kekayaan      (yang cukup)

                     * Hati           (yang damai)

  1. Menurut distribusinya

1)    Dapat menempatkan gatra pelaku, misalnya:

–          Samin memukul anjung

–          Anjing menggigit kucing

–          Tikus dimakan kucing

2)    Dapat menduduki gatra pelengkap,misalnya:

–          Ibu membeli ikan (pelengkap penderita)

–          Rakyat dibantu oleh pemerintah (pelengkap yang berkepentingan)

Kata benda dapat dibagi atas kata benda kongkret dan kata benda abstrak.

  1. Kata benda kongkret

Ialah kata benda yang berwujud dan yang bentuk (wujudnya) dapat ditangkap oleh panca indra, kata benda kongkret dapat digolongkan:

–          Kata benda yang bernyawa: makhluk hidup.

–          Kata benda yang tidak bernyawa: batu, air, kayu.

  1. Kata benda abstrak

Ialah kata benda yang bentuk (wujudnya) tak dapat ditangkap oleh panca indra misal: roh, udara, pikiran, angan-angan, kesadaran dan sebagainya.

  1. Kata Ganti/Pronomina

Ialah kata yang menggantikan (kedudukan)orang/benda yang lain, dalam kedudukannya yang demikian, kata ganti dapat dimasukkan dalam subgolongan kata benda. Dalam menggantikan kedudukan orang/benda, kata ganti dapat digolongkan atas:

  1. Kata ganti orang yakni kata yang menggantikan kedudukan orang sebagai benda, terbagi atas:
    1. Kata ganti orang I tunggal : saya, aku, hamba, patik, daku.

Kata ganti orang I jamak : kami, kita.

  1. Kata ganti orang II tunggal : kau, engkau, anda.

Kata ganti orang II jamak : kami kalian, kamu sekalian.

  1. Kata ganti orang III tunggal : dia, beliau.

Kata ganti orang III jamak : mereka.

Pada kalimat langsung kata benda yang dipergunakan sebagai kata ganti seperti Bapak, Ibu, Nenek, dan sebagainya, dapat dipakai secara berubah-ubah sebagai kata ganti orang I, II, dan III misalnya:

–          Sebagai kata ganti orang ke III

Susi bertanya kepada adiknya “kemana Bapak, Dik?”

–          Sebagai kata ganti orang II

Susi bertanya kepada ayahnya

“Kemana Bapak akan pergi?”

–          Sebagai kata ganti orang ke I

“Jika kmu rajin, Bapak akan memberi hadiah”, kata ayah.

  1. Kata ganti mandiri yakni kata ganti untuk menyatakan persona itu juga, misalkan:

Dia berdiam diri saja

Itu salahnya sendiri, bukan salah kita

Mereka bekerja sendiri

Pembalasan akan berlangsung dengan sendirinya.

  1. Kata ganti empunya ialah kata ganti yang menyatakan milik, kata ii sebenarnya adalah kata ganti orang (persona) yang ditempatkan dibelakang kata benda. Mislanya: buku saya (bukuku), bajunya, milikmu, baju Bapak, buku Kakak (dalam hal ini Bapak dan Kakak pengganti orang II atau orang III tunggal).
  2. Kata ganti penunjuk ialah kata yang dapat menggantikan benda yang ditunjuk. Kata ini terdiri atas:

–          Ini untuk penunjuk benda yang berada di tempat si pembicara.

–          Itu untuk penunjuk benda yang tidak berada di tempat si pembicara.

  1. Kata ganti penanya ialah kata ganti yang dipakai sebagai kata tanya untuk menanyakan tentang benda, orang atau suatu hal.

Kata tanya terdiri dari:

–          Apa dipakai untuk menanyakan benda.

–          Siapa untuk menanyakan orang.

–          (yang) mana untuk menanyakan tempat, pilihan kepada suatu benda, orang atau hal yang lain.

Di samping sebagai kata dasar, banyak kata tanya yang merupakan gabungan dengan kata dasar apa dan mana.

1)    Untuk menanyakan tempat dengan gabungan kata depan di, ke, dan dari misal: dari mana, ke mana, di mana.

2)    Untuk menanyakan keadaan/cara melakukan misal: betapa, bagaimana.

3)    Untuk menanyakan waktu, misal: bila, bilamana, apabila, kala mana, mana kala.

4)    Untuk menanyakan jumlah, misal: berapa.

  1. Kata ganti penghubung ialah kata ganti yang menghubungkan induk kalimat dengan anak kalimat misalnya:

–          Buku yang dibelikan kemarin, sudah selesai dibacaknya.

–          Orang yang membunuh itu sudah dihukum.

  1. Kata ganti tak tentu ialah kata ganti yang menyebabkan benda/orang dalam hal yang tidak tentu.

–          Untuk orang yang tidak tentu: siapa, siapa-siapa, masing-masing, si anu, si polan, salah seorang.

–          Untuk benda yang tidak tentu: suatu, sesuatu, barang, salah satu.

  1. Kata Kerja atau Verb

Menurut tata bahasa tradisional kata kerja adalah kata yang menyatakan perbuatan, tindakan dan gerak. Dalam bahasa Indonesia kata kerja menurut bentuknya dapat berbentuk kata dasar tapi kebanyakan adalah yang berbentuk kata turunan, untuk menentukan kata kerja dalam bahasa Indonesia kita dapat memandangnya dari beberapa segi:

  1. Dari segi morfologinya, kata kerja ialah:

1)    Semua kata yang berakhiran –kan (yang dapat membentuk kalimat perintah) misal: satukan, besarkan, rasakan, kuatkan, nyanyikan dan sebagainya.

2)    Semua kata yang berakhiran –i (yang dapat membentuk perintah) misal: dekati, kurangi, guntingi.

3)    Semua kata yang berimbuhan me-kan, misal: membesarkan, menggembirakan, memberitakan.

4)    Pada umumnya kata-kata yang berimbuhan per-,misalnya: perbesar, pertnggi, perlancar, perbuat, permodern.

5)    Kata-kata yang berimbuhan per-i dan per-kan misalnya: perbaiki, pertanyakan, permasalahan, persenjatai.

6)    Sebagaian kata yang berawalan ber- misal: bernyanyi, berdagang, berbuat, berenang, berdiri.

7)    Kebanyakan kata yang berawalan me- misalnya: menangis, menyanyi, menulis, menari, memburu.

8)    Semua kata yang berawalan di- mislanya: ditulis, dibaca, diambil.

  1. Menurut ciri sintaksis dapat diperluas dengan urutan kata dengan + kata sifat, misalnya:

Lari           (dengan cepat)

Belajar      (dengan rajin)

Duduk      (dengan tenang)

Berbicara (dengan kuat)

Kembali   (dengan selamat)

  1. Menurut distribusinya dalam kalimat verbal, kata kerja selalu menduduki predikat dan tidak daapt menduduki pelengkap. Misalnya:

Nenek makan sirih

Dia berjalan lambat

Mereka mundur dengan teratur

Ditinjau dari sudut pelengkap kata kerja dapat digolongkan:

  1. Kata kerja interaktif ialah bentuk kata kerja yang tidak menghendaki obyek langsung (pelengkap penderita) diantaranya berbentuk kata dasar, kata kerja yang berawalan ber- dan sebagian kata kerja yang berawalan me-.
  2. Kata kerja transitif ialah kata kerja yangmenghendaki/mempunyai obyek langsung (pelengkap). Diantaranya kata kerja yang berawalan me-, kata kerja yang berimbuhan me-i dan me-kan.

Misal: menulis, menangisi, menarikan, merasakan.

  1. Kata Sifat atau Ajektif

Ialah kata yang menerangkan sifat dari suatu benda. Untuk mengenal ciri kata sifat dalam bahasa Indonesia dapa ditempuh beberapa cara:

a)    Menurut ciri morfologinya:

–          Segala kata yang dapat dibubuhi dengan awalah ter- yang artinya menyatakan paling. Jadi bentuknya adalah ter + kata sifat itu sendiri.

Misal : terbaik “paling baik”

–          Beberapa kata yang dapat diberntuk dengan awalan pe (N) misal : pemalu, pemarah, pemalas.

–          Segala kata yang dapat dibentuk dengan awalan se + bentuk ulang + nya.

Misal   :  Seindah-indahnya

               Sebesar-besarnya

               Selama-lamanya

b)    Menurut ciri frase

Segala kata sifat dapat didahului dengan kata paling atau diikuti kata sekali yang menyatakan arti sangat misalnya:

–          Paling maju – maju sekali “sangat maju”, sebagian orang menganggap bahwa sebuah kata sifat dapat menjadi adverbia (kata keterangan) sesuai dengan fungsinya dalam kalimat, misal:

Gunung itu tinggi (tinggi adalah kata sifat)

Gunung itu terbang tinggi (tinggi adalah kata keterangan)

  1. Kata Keterangan atau Adverbia

Ialah kata yang memberi/menambah keterangan kepada kata kerja, kata sifat, kata bilangan/kata keterangan itu sendiri.

a)    Menurut bentuknya kata keternagan dapat berbentuk kata dasar dan dapat berbentuk kata turunan.

–          Yang berbentuk kata dasar misalnya: sedang, sekarang, mungkin, jangan, belum, pasti, sangat, hampir.

–          Yang berbentuk kata turunan:

*)   Dengan awalah ber-, misal : batu bertulis

*)   Dengan awalah me-, misal: ular itu melintang di jalan

*)   Dengan imbuhan ke-an, misal: hidup kesepian

*)   Dengan penambahan akhiran –nya misal, rupanya beliau sakit

*)   Awalah se- + akhiran –nya, misal: sebaiknya

*)   Dengan reduplikasi, misal: hati-hati, buru-buru.

*)   Dengan awalan se- + reduplikasi + akhiran –nya, misal selama-lamanya, sekerang-kerasnya.

*)   Dapat berbentuk kata gabung, misal: bilamana, apabila, manakala, bagaimana, barang kali.

b)    Menurut ciri sintaksis

–          Dapat menambah keterangan pada kata kerja, misal: sedang makan, berjalan buru-buru.

–          Dapat menambah keterangan pada kata bilangan, misal: hampir dua jam.

–          Dapat menambah keterangan pada kata sifat, misal: tidak cermat, kurang pandai.

–          Dapat menambah keterangan pada kata keterangan itu sendiri, misal: lebih kurang, sangat kurang, agak kurang hati-hati.

Berdasarkan kedudukanya dalam kalimat yang dapat menambah keternagan pada kata di depan/dibelakangnya, kata keterangan dapat digolongkan:

a)    Kata keterangan waktu: besok, sekarang, tadi dan lain-lain.

b)    Kata keterangan perwatasan : hanya, kecuali, Cuma.

c)    Kata keterangan derajat: amat, sangat, kurang, dan lain-lain.

d)    Kata keterangan (modalitas) yang menyatakan:

–          Kepastian misal: sungguh, pasti, tentu, dan lain-lain.

–          Kesangsian misal: mungkin, barang kali, entah

–          Ajakan misal: mari, silakan, baik, boleh.

–          Larangan misal: jangan.

–          Peringatan, misal awas, hati-hati, ingat-ingat.

–          Pengharapan misal: semoga, mudah-mudahan, hendaknya.

–          Perngakuan misal: ya, betul, benar, baik.

–          Pengingkaran, misal: tidak (tak, tiada), bukan

  1. Kata Bilangan/Mimeralia

Ialah kata yang menyatakan bilangan, jumlah, kumpulan/urutan tempat (tingkat) dari suatu benda.menurut sifatnya kata bilangan dapat digolongkan:

a)    Kata bilangan tentu

–          Kata bilangan utama yakni kata yang menyatakan bilangan/jumlah misal: satu, setengah dan lain-lain.

–          Kata bilangan tingkat yakni kata bilangan yang dibentuk dengan cara membubuhkan awalah ke- pada kata bilangan, misal: orangkedua, tahun kesepuluh.

–          Kata bilangan kumpulan dibentuk dengan cara membubuhkan awalan ke- pada kata bilangan utama, akan tetapi letaknya selalu sebelum kata benda, misal: kedua orang itu, kelima anaknya.

b)    Kata bilangan yang tidak tentu ialah kata bilangan yang menyatakan jumlah yang tidak pasti, misal: berpuluh-puluh, berkali-kali dan lain-lain.

  1. Kata Penghubung/Konjungsi

Ialah kata yang berfungsi mengantarkan suatu kalimat/menghubungkan kata dengan kata, kalimat dengan kalimat. Sebagian kata penghubung posisinya hanya diletakkan di depan kalimat.

Kata penghubung yang hanya menempati posisi pada awal kalimat (kebanyakan dipakai pada sastra lama) ialah:

Alkisah, Arkian, Sebermula, Syahdan, Hatta

Berdasarkan jenis hubungan yang dibawakan sesuai dengan fungsinya, kata penghubung dapat digolongkan:

a)    Sebagai pengantar kalimat,misalnya:

Alkisah                 berhubung (dengan)

Arkian                  sehubungan (dengan)

Hatta                     setelah

b)    Menyatakan penggabungan, misalnya:

Dan                      bersama

Dengan               berikut

Serta                     lagi

c)    Menyakatan sebab, misalnya:

Sebab                  karena

d)    Menyatakan akibat, misalnya:

Sehingga                        sampai

e)    Menyatakan tujuan, misalnya:

Agar                      supaya

Untuk                   guna

f)     Menyakatan syarat, misalnya:

Jika                       andai

Jikalau                 andaikata

g)    Menyatakan pertentangan, misalnya:

Biarpun                sekalipun

Walaupun                       akan tetapi

h)   Menyatakan waktu, misalnya:

Ketika                   setelah

Sesudah              tatkala

i)     Menyatakan perbandingan, misalnya:

Bagaikan             laksana, seperti (se)umpama

j)      Menyataan penguatan, misalnya:

Bahkan, lagipula, malahan, justru, kian….kian….

k)    Menyakatan pembeberan, misalnya:

Yakni, ialah, yaitu, adlah, atau, seperti

l)     Menyakatan kesinambungan, misalnya:

Lalu, lantas, selanjutnya, kemudian, seterusnya.

m)  Kata penghubung yang selalu memulai anak kalimat: bahwa, misalnya:

“Ayah selalu mengatakan bahwa menolong orang sangat bermanfaat”.

  1. Kata Depan/Preposisi

Ialah kata yang bentuknya biasanya tidak berubah-ubah, berfungsi merngkaikan kata/bagian kalimat yang lain dengan kata benda/frase kata benda, yang dianggap sebagai kata depan sejati dalam bahasa Indonesia ialah:

a)    Kata depan di-

Pada pokoknya ialah menyatakan tempat diam/berhenti, namun, dalam perkembangan artinya makin meluas sehingga dapat dipakai di depan kata yang menyatakan:

–          Keterangan waktu misalnya: malan hari, dipagi hari, disaat-saat mendatang.

–          Sebagai pengganti akan misalnya, tak tahu diutung malangnya.

b)    Kata depan ke-

Pada pokokya adalah menyatakan arah/sesuatu yang dituju. Pada umumnya pemakaiannya bertalian dengan kata kerja dan kata yang mengikutinya menyatakan arah yang dituju misalnya:

Pergi ke pasar, berangkat ke luar negeri.

c)    Kata depan dari

Pada pokoknya menyatakan arah, asal kedatangan, tempat asal/pangkal mula suatu proses misalnya:

–          Menyatakan tempat asal: Dia datang dari Bandung

–          Menyatakan asal bahannya: Pakaian ini dibuat dari nilon

–          Manyatakan permulaan waktu: Dari zaman dulu hingga sekarang

Sebagai pengantar perbandingan (komparatif), dlam pemakaiannya sering digantikan dengan “dari pada” misalnya: Emas lebih murah dari pada platina

Sebagai pengantar keterangan milik (kepunyaan) kata depan “dari” tak perlu dipakai misalnya: buku saya bukan buku dari saya.

d)    Kata dengan dari pada

Pada umumnya harus dipakai:

–          Bila berhubungan dengan kata ganti –ku, -mu, dan –nya.misalnya: daripadaku, daripadanya.

–          Jika terletak di depan kalimat untuk menyatakan perbandingan (komperatif), misalnya:

Daripada mati lebih baik melawan.

–          Apabila letaknya di tengah-tengan kalimat, sering diganti dengan kata “dari” misalnya:

Harimau lebih besar dari kucing

e)    Kata depan akan

Di samping sebagai kata depan, ada juga sebagai kata keterangan dan kata sambung.

Sebagai kata keterangan: besok dia akan datang

Sebagai kata sambung mengikuti kata tetapi: orang itu kaya raya, akan tetapi sesuatu yang membuat dia susah.

Kata sebagai kata depan berarti:

–          Tentang: barulah dia sadar akan kesalahannya.

–          Terhadap: ia selalu rindu akan anak istrinya.

–          Untuk: diambilnya orang itu akan teman hidupnya.

f)     Kata depan atas dapat berarti:

  1. Akan: saya minta maaf atas kesalahannya.
  2. Dengan: kedatang kami kemari adalah atas nama ketua.

g)    Kata depan dalam

–          Sebagai pengantar keterangan tempat misal:

Berbunyi dalam gua

–          Sebagai pengantar keterangan tempat dalam arti kiasan

Tersimpan dalam hati

–          Sebagai pengantar keterangan waktu misalnya:

Dalam perang, dlam bulan puasa.

h)   Kata depan antara mengandung arti

–          Sbegai pengantar keterangan tempat:

Letaknya antara Jakarta dan Bogor.

–          Sebagai pengantar keterangan waktu:

Kejadian itu berlangsung antara bulan april dan juni

–          Sama artinya dengna dalam/dari:

Diantara sekian banyak pelamar itu hanya lima orang yang memenuhi syarat.

Selain sebagai kata depan, antara juga dapat diartikan dan berfungsi sebagai kata benda dan kat penghubung.

–          Sebagai kata benda

Antara bumi dan langit sangat jauh.

–          Sebagai kata penghubung selalu diikuti dengan kata lain: warna-warna yang disukainya anatara lain: putih, hijau, dan biru.

i)     Kata depan dengan mengandung arti:

–          Sebagai penganatr keterangan yang menyaakan persamaan atau perbadingan, misalnya:

*) Rupanya mirip dengan rupa kakanya.

*) Kebiasaannya berbeda dengan adat-istiadat kita.

–          Sebagai pengantar keterangan dengan alat,misalnya; orang itu ditikam dengan pedang.

j)      Kata depan oleh

Berfungsi sebagai pengantar penunjuk pelaku. Gunanya untuk menjelaskan hubungan kata kerja dengan pelaku. Adapaun pemakaian kata depan oleh yang merupakan keharusan terdapat dalam hal-hal berikut:

–          Bila kata depan oleh terletak di depan kalimat dan letaknya di depan pelaku yang diikuti kata kerja, misalnya: Oleh Pak Amat hal itu telah lama direncanakan.

–          Bila antara kata kerja dan pelaku ada keterangan-keterangan lain misalnya: Perkerjaan itu dapat diselesaikan dalam dua hari oleh mereka.

–          Pada kalimat betuk perintah apabila pelakunya perlu disebutkan. Tapi bentuk kalimat seperti ini sudah kurang lazin digunakan, misalnya: “Camkanlah olehmu nasihat ini baik-baik”.

–          Menyatakan pembuat/pelaku misalnya:

Buku ini dkarang oleh Sutan Takdir Alisyahbaa.

  1. Kata Sandang/Artikula

Ialah kata uyang dalam pemakaiaannya selalu berfungsi menentukan kata benda dan menyubstatifkan kata lain selain kata benda.

a)    Kata sandang yang berfungsi menentukan kata benda

–          “Si” dipakai sebagai kata gati persona untuk nama orang/binatang misal: Si Ali, Si Belong.

–          Sang, hang, dang dipakai untuk menyebutkan orang, binatang 1 benda yang kedudukannya dianggap istimewa/dianggap tokoh. Kata ini banyak digubakan pada zaman sastra lama misal: digunakan pada zaman sastra lama misal: Hang tua, SagPrabu, Dong Merdu, Sang Kancil.

–          Para, kaum dipakai untuk orang menyatakan jamak misal: para guru, kaum muda.

b)    Kata sandang yang berfungsi menyubstatifkan kata lain selain kata beda:

–          Yang misalnya: yang jahat akan terissi juga

–          Nya misalnya: indahnya tidak terlukiskan.

  1. Kata Seru/Interjeksi

Ialah kata/kelompok kata/kadang-kadang berupa bunyi yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan dan emosi/suatu maksud. Namun kata seru tidak dapat dipandang sebagai kalimat/menduduki suatu salah satu fungsi dalam kalimat.

a)    Bentuk-bentuk kata seru

–          Kata seru yang berbentuk bunyi misalnya: dor, tik, teng, bum, tar, pang.

–          Kaat seru yang berbentuk suku kata misalnya: iii, ooo, uuu, cis, uuh, bah, puh.

–          Kata seru yang berbentuk kata misal: halo, aduh, amboi, aduhai, ampun.

b)    Beberapa makna kata seru

–          Menyatakan kekaguman/keheranan: wah, aduhai, astaga.

–          Menyatakaan sedih: ui, aduh, wahai

–          Menyatakan jijik: iii, ihh

–          Menyatakan tidak suka: akh

–          Menyatakan setuju: ya, oo, mmm

–          Menyatakan teguran: hai, halo, he.

 

  1. B.     Pembentukan Kata
    1. Apakah morfologi?

Yaitu suatu cabang tata bahasa yang mempelajari dan membicarkan struktur, bentuk, dan golongan kata dan juga mempelajari sejarah serta perkembangan bentuk-bentuk suatu kata.

  1. Morfem

Yaitu kesatuan gramatikal yang terkecil yag mengandung arti yang tidak mempunyai kesaan, baik dalam bentuk, maupun dalam arti dengan bentuk-bentuk yang lain.

Morfem dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu:

a)    Morfem bebas : yaitu morfem yang dapat beridir sendiri sebagai sebuah kata.

Misal : pergi, makan, terapi, mereka, dan lain-lain.

b)    Morfem terikat : yaitu morfem yang tidak dpat berdiri sendiri sebagai sebuah kata.

Misal   :  a. Prefiks (awalan) : me-, ber-, ter-, dan lain-lain

               b. Sufeks (akhiran) : -kan, -i, -an, dan lain-lain

               c. Infeks (sisipan) : -el, -em, -er, dan lain-lain

               d. Partikel : -;ah, -tah, -kah

               e. bentuk-bentuk : pra-, tuna-, eka-, dan lain-lain

  1. Morfonemik dan Alomorf

Morfonetik adalah studi tentang perubahan baik penambahan, penghilangan, atau pertukaran pada fonem-fonem akibat perhubunan dua buah morfem atau akibat hubungan secara morfologis yang terdapat dalam dua buah kata.

Alomorf adalah bentuk morfem yang merupakan aggota atu variasi dari suatu morfem, terjadinya betuk ii diakibatkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya.

  1. Fleksi (Infelsi) dan Aglutinasi

Infleski adalah proses atau hasil penambahan afik kepada akar kata untuk menentukan dan membedakan arti gramatikalnya. Seperti yang terdapat pada bahasa-bahasa Indo Eropa sebagaimana yang terjadi pada peristiwa dekinasi dan konjugasi.

Aglutinasi adalah penambahan imbuhan epada kata dasar, misalnya dari kata dasar “makan” dibentuk menjadi pemakan, makanan, makan hati dan lain-lain.

  1. Deklinasi dan Konjugasi

Deklinasi adalah perubahan bentuk kata yang terjadi pada kata benda, kata ganti, dan kata sifat yang mengandung bilangan atau dalam hubungan dengan penentuan jenis kelamin seperti yang terjadi pada bahasa Indo Eropa, bahas latin, bahas arab.

Konjugasi adalah perubahan yang terjadi pada betuk kata kerja sehubungan dengan persona, waktu, atau bilangan yang dinyatakannya.

  1. Derivasi dan Paradigma

Derivasi adalah proses morfologi yang membetuk morfem jamak dengan cara penambahan afiks pada akar kata atau pada kata dasar.

Contoh: main –   bermain

                              memainkan

                              dimainkan

                              permainan

Paradigama adalah daftar lengkap kata-kata yang diturunkan dari morfem dasar yang sama yang mengalami perubahan bentuk akibat perubahan afiksasi.

Contoh :         menulis          tulisan

                        penulis           tuliskan

                        tertulis            ditulis dan lain-lain

  1. Enklitika dan Proklitika

Enklitika adalah suatu kata yang merupakan bentuk ringkas dirangkaian di belakang suatu kata, dan gabungan kedua kata tersebut diucapkan dan ditulis sebagai sebuah kata.

Contoh: – bukuku                 – diambilnya              – milikmu

Proklitika adalah suatu kata (yang hanya memiliki tekanan lemah) yang merupakan bentuk ringkas yang dirangkaikan dalam bentuk lain (yang mendapat tekanan) yang dalam penulisan dan pengucapannya betuk ringkas tersebut membentuk satu kesatuan dengan kata yang letakinya.

Contoh: ku pada kutulis, kau pada kau ambil.

  1. Akar Kata dan Bentuk Kanomik

Akar kata adalah unsur yang lebih kecil dari kata dasar, misalnya kata bukti, bangkit, dibentuk dari akar kata kit dengan unsur tambahan masing-masing bu-, bang-. Demikian juga dengan kata bumbug, gembung, terbentuk dari akar kata bung dengan unsur tambahan masing-masing.

Bentuk kanomik adalah bentuk yang berupa bentuk dasar, kata-kata dasar adalah bentuk kanomik yang dipakai untuk menentukan pola persukuan suatu kata, seperti, da, besar, belanja.

  1. Kata-Kata Dasar dan kata Jadian

Kata adalah bentuk bebas minimal yang merupakan bentuk bahasa yang terkecil yang dapat berdiri sendiri.

Kata dasar adalah suatu kata yang belum mengalami proses morfologi. Contoh: pukul, ambil, dapat, dan lain-lain.

Kata jadian atau kata turunan adalah kata yang sudah mengalami proses morfologi, seperti berimbuhan, kata ulang, dan kata gabung.

  1. Imbuhan atau Afiks

Afiks adalah unsur bahasa yang bukan bentuk bebas yang ditambahkan pada bentuk dasar atau akar kata yang membentuk sebuah kata.

Afiks terdiri atas: perfiks (awalan), infeks (sisipan, dan sufiks (akhiran).

  1. Bentuk Kata dalam Bahasa Indonesia

Secara morfologis kata dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan atas 2 macam, yaitu:

  1. Kata dasar yaitu kata yang belum mengalami proses morfologi

Contoh: meja makan, pergi dan lain-lain.

  1. Kaat jadian (kata turunan) yaitu kata yang sudah mengalami proses morfologi, kata jadian terdiri dari:

–          Kata berimbuhan (awalan, akhiran, sisipan)

–          Kata ulang (reduplikasi)

–          Kata gabung

  1. Awalan atau Prefiks

Yaitu imbuhan yang diletakkan pada awal kata atau awal akar kata atau awal akar kata.

Ada berbagai macam awalan, diantaranya:

  1. Awalan ber-, ini berfungsi untuk;

–          Membetuk kata kerja intransitif, seprti : berjalan, berlari, berbaris dan lain-lain.

–          Membentuk adverbia, seperti dalam bentuk: “mereka hidup bersama, jangan bertindak bersimaharaja lela.

–          Membentuk numeralia, sperti : bertumpuk-tumpuk, berkilo-kilo dan lain-lain.

–          Membentuk adverbia yang maknanya sama dengan bentu kata kerja yang berawalan di-, seperti:

Batu tertulis

Nasi berkunyit

  1. Awalan me- ini berfungsi untuk:

–          Membetnuk kata kerja transitif : membaca (buku), membuka (pintu), memancing (ikan).

–          Membentuk kata kerja intransitif : mendarat, menyebrang, menepi, menurun.

–          Membentuk adverbia: mendua, merata, meluas.

  1. Awalan pe- ini berfungsi untuk:

–          Membentuk kata beda : pembaca, penibuat, pedagang.

–          Membentuk kata sifat: pemalu, pemalas, pemarah.

  1. Awalan per- ini berfugnsi untuk:

–          Membentuk kata kerja

–          Membentuk kata benda

–          Dalam berkombinasi dengan akhiran –an, membentuk kata benda abstrak, misalnya: pertanyaan, pembukaan dan lain-lain.

  1. Awalan se- ini berfungsi untuk:

–          Membentuk kata bantu bilangan, seperti: sebuah, seorang, seekor dan lain-lain.

–          Membentuk kata tugas, sperti: sebelum, sesudah, setelah dan lain-lain.

–          Membentuk adverbia, seperti: sebanyak, seberapa, dan lain-lain.

  1. Awalan ter- ini berfungsi untuk:

–          Menyatakan aspek pada kata kerja, seperti: tertulis, tercatat, terisi, dan lain-lain.

–          Menyatakan tingkat perbadingan pada kata sifat, seperti: tertinggi, terbesar, terindah dan lain-lain.

–          Membentuk kata keterangan, seperti: terulang, terkarang, terbuku dan lain-lain.

  1.  Akhiran atau Sufiks

Yaitu imbuhan yang dibubuhkan pada akhiran suatu kata dalam pembentukan kata. Akhiran juga dapat membentuk berbagai kata, diantaranya:

  1. Membentuk kata benda, seperti : tanaman, pukulan, dan lain-lain.
  2. Membentuk kata kerja, seperti:

–          Akhiran –i : jalani, tempati, dan lain-lain.

–          Akhiran –kan : jalankan, satukan besarkan dan lain-lain

  1. Membentuk adverbia-nya, seperti:

Rupanya beliau sakit

  1. Infiks atau Sisipan

Yaitu bentuk morfem terikat yang pemakaiannya disisipkan antara huruf pertama (yang berupa konsonan) dan huruf kedua (berupa vokal) pada kata dasar. Infeks dalam bahasa bahasa Indonesia ada 3 macam yaitu: el, er, em.

Fungsi infeks:

  1. Membentuk kata benda, seperti:

–          Patuk = pelatuk

–          Tunjuk = telunjuk

–          Genbung = gelembung

  1. Membentuk kata sifat, seperti:

–          Getar = gemetar

–          Guruh = gemuruh

  1. Konfiks

Yaitu gabungan dua macam imbuhan yang merupakan morfem terbagi, tapi bersama-sama mempunyai satu fungsi dan membentuk satu arti.

Misal   :  ke – an = kehutanan, kekayaan

               Per – an = pertanian, perbaikan

  1. Kata Ulang

Yaitu kata yang mendapat perulangan sebahagian atau seluruhnya. Fungsi kata ulang ada dua, yaitu:

  1. Membentuk kelas kata

–          Kata sifat menjadi kata benda seperti:

Luhur = leluhur

–          Kata sifat menjadi kata keterangan, seperti:

Baik = sebaik-baiknya

  1. Tidak mempunyai fungsi sebab kelas kata bentuk ulangnya sama dengan kelas kata dasar, seperti:

Anak = anak-anak

Main = bermain-main

Baik = baik-baik

  1. Kata Gabung

Yaitu gabungan 2 kata atau lebih yang merupakan kesatuan dan menimbulkan pengertian baru. Kata gabung dalam bahasa Indonesia terdiri dari:

  1. Sebagai kata benda, seperti : mata sapi, rumah  sakit, kamar tidur, mata kucing dan lain-lain.
  2. Sebagai kata tegas, seperti : daripada, kepada, bilamana dan lain-lain.

    1. 1.                                                             Dasar–Dasar Fonologi

    http://Zeiper.Multiply.Com/journal/item/28/Linguistik _ Umum

    2. Sistem Fonologi

    http://Pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=278

    3. Pragmatik

    http://smartilicious.blogspot.com/2007/11/pragmatik.html

    BLOGS  http://community.gunadarma.ac.id/blog/main/

    tulisanmakyun http://tulisanmakyun.blogspot.com/

    4. Semantik

    http://massofa.wordpress.com/2008/01/22/cakupan-semantik/

    <Multiplylogo

    <http.//multiply.com

     

    52

    5.Verhaar, J.W.M.1977.Linguistik Umum.Jakarta:Universitas Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: