Kajian Teori Kebudayaan

KAJIAN TEORI

  1. Pengertian Baritan dan Kebudayaan

419600_325120147544941_2132495063_nBaritan ialah kegiatan perayaan yang dilakukan seluruh warga di perempatan utama suatu kampung. Perayaan ini dilakukan dengan membawa takir sejumlah anggota keluarga. Takir tersebut berisi nasi kuning yang berisikan sayur dan lauk pauk. Baritan dilaksanakan pada bulan suro malam jumat legi yang bertujuan untuk mendapatkan keselamatan. Kegiatan ini dipimpin oleh para sesepuh kampung, biasanya oleh para kyai.

Baritan sudah menjadi kebiasaan yang tidak terlewatkan di dusun gosong desa durenan, karena merupakan tradisi peninggalan para sesepuh. Baritan dilaksanakan pada malam hari, warga berkumpul di pertigaan dusun gosong dekat dengan pasar gosong. Untuk memanggil para warga agar berkumpul yaitu dengan kentongan. Ini mengingat pada zaman dahulu, alat komunikasi utama antar warga adalah kentongan.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskertayaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Jadi, dapat disimpulkan bahwa budaya menyangkut banyak hal bisa berupa agama, bahasa, politik, atau karya seni. Dan merupakan sebuah sarana bagi masyarakat yang biasa dilakukan oleh masyarakat secara turun menurun.

Kebudayaan = cultuur (bahasa Belanda), culture (bahasa Inggris) berasal dari bahasa latin colore yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan dan terutama mengolah tanah atau bertani. Bertolak dari arti tersebut, kemudian kata culture ini berkembang pengertiannya menjadi ”segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam”. (Widagdho dalam Sujarwan, 1999)

Menurut Andreas Eppink, culture atau kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Francis Merill, Kebudayaan adalah pola-pola perilaku yang dihasilkan oleh interaksi sosial dan semua perilaku serta semua produk yang dihasilkan oleh sesorang sebagai anggota suatu masyarakat yang ditemukan melalui interaksi simbolis.

Kebudayaan sangat berguna bagi manusia, teutama untuk melindungi diri dari alam, mengatur hubungan antar manusia dan sebagai tempat untuk menyalurkan curahan batin sebagai manusia. Tak ada kebudayaan yang statis, setiap kebudayaan mempunyai dinamika. Dinamika tersebut merupakan akibat dari gerak masyarakat yang menjadi tempat hidupnya kebudayaan.

Ada beberapa komponen utama dari budaya yaitu: Peralatan dan Perlengkapan Hidup (Teknologi), Sistem mata pencaharian, Sistem kekerabatan dan organisasi sosial, Bahasa, Kesenian, Sistem Kepercayaan, Sistem ilmu dan pengetahuan. Dari sekian banyak komponen utam dari budaya ini yang sangat berpengaru di Indonesia adalah Sistem kepercayaan, yang bersangkutan dengan agama dan kepercyaan tentang ruh nenek moyang.

Kalau dari tinjau unsur komponen budaya acara baritan atau selametan bumi memenuhi semua aspek dari kebudayaan itu sendiri. Seperti peralatan dan perlengkapan hidup, ini mencakup alat-alat yang digunakan sehari mereka memasak dan mengolah sendiri untuk acara ini secara bersama-sama. Sistem mata pencharian, ada sebagian dari mereka yang bertani. Sistem kekerabatan dan organisasi sosial ini sebagian besar dari yang ikut dari acara tersebut masih dalam kerabat, tetapi tidak menutup diri dan menerima orang luar. Bahasa dan kesenian, pada malam hari mereka mengadakan kesenian daerah yang sebagian berisi bahasa daerah, system kepercayaan, ini merupakan salah satu hal yang terpenting mengapa acara ini masih sering dilaksanakan sampai saat ini karena mereka masih percaya bila acara ini tidak dilaksanakan maka akan terjadi sesuatu didaerah ini. Jadi dapat disimpulkan bahwa baritan atau selametan bumi ini adalah salah satu budaya .

Upacara adat baritan merupakan suatu kebudayaan yang ketika bulan syuroh setiap setahun sekali, adat baritan ini di laksanankan sebagai rasa perwujudan syukur para warga gosong dan warga yang ada di sekitar gosong kepada tuhan yang maha esa atas rezeki yang melimpah dari hasil cocok tanam/panen mereka selama satu tahun. Upacara adat baritan ini di lakukan dengan melarung johen atau sejumlah hasil bumi, jajanan pasar, dan buah-buahan ke  pertigaan dusun gosong samping pasar gosong.

Upacara baritan ini selain berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, juga dimaksudkan sebagai doa para warga agar di beri kelancaraan dan mendapatkan hasil yang bagus saat bercocok tanam dan di hindarkan dari malapetaka, tardisi ini merupakan satu-satunya kebudayaan warga yang ada di daerah gosong dan dusung yang lainnya. Upacara adat ini di kalangan masyarakat gosong dan daerah yang ada di durenan ini sebenarnya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang di lakukan sejak zaman dahulu dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan yang wajib di laksanakan setiap tahunya.

Secara fungsional kebudayaaan menurut spillman sebernarnya memiliki tiga macam fungsi dan peran  dalam kehidupa sosial, pertama kebudayaan sebagai ciri kelompok, komunitas atau masyarakat (a feature of entire groups and societies), dalam hal ini adat upacara baritan merupakan sebuah kebudayaan yang menjadi ciri dari kehidupan sosial masyarakat gosong dari masyarakat durenan yang lainnya. Kedua kebudayaan sebagai ekspresi kehidupan sosial (a separate realm of human expression), upacara adat baritan merupakan kebudayaan yang di hasilkan dari daya kreativitas dan kecerdasan masyarakat terdahulu dalam proses beradaptasi terhadap lingkungannya. Ketiga kebudayaan berfungsi sebagai sarana pemaknaan (as meaning-making), kebudayaaan baritan yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat memiliki makna yang beragam dan tidak tumbuh secara tiba-tiba akan tetapi merupakan hasil dari proses kreativitas manusia yang saling berkaitan.

Tradisi adat baritan ini terus berlangsung karena memiliki fungsi tersendiri di dalam masyarakat. oleh karena itu, masyarakat gosong khususnya terus melakukan teradisi adat beritan tersebut, lain halnya jika adat baritan ini tidak memiliki fungsi tersendiri dalam masyarakat gosong, tentunya adat baritan ini akan di tinggalakan lalu faktor fungsi apa yang terdapat dalam adat baritan ini. Dapat kita ketahui bahwa adat pesta baritan ini memiliki tujuan sebagai rasa syukur atas hasil hutan/cocok tanam yang melimpah ruah sekaligus sebagai doa agar masyarakat sekitar gunung wilis ini di jauhkan dari malapetaka disaat sedang bercocok tanam, sehingga dapat di simpulkan fungsi dari pesta adat baritan ini adalah sebaga sebuah media atau tata cara ritual yang di lakukan sebagai media interaksi manusia dengan penciptanya. Masyarakat nelayan sendiri melakukan pelarungan kepala kerbau dan juga jajanan pasar sekaligus buah-buahan dengan maksud agar sang pencipta yakni tuhan yang maha esa ini memberikan keberkahan kepada nelayan  dengan tujuan salah-satunya adalah di lancarkannya pekerjaan mereka menangkap ikan di lautan.

Sedangkan apabila di tinjau dari segi evolusionis, kehidupan masyarakat di pegunungan tidak sepenuhnya menerima pola perubahan zaman, dalam artian masyarakat pegunungan sendiri masih memegang sistem keyakinan adat istiadat yang nenek moyang mereka lakukan. Hal ini biasa di buktikan dengan masih di lakukannya upacara adat baritan tersebut karena di anggap berfungsi sebagai media komunikasi mereka terhadap sang pencipta,

Dari segi perspektif stuktural dalam upacara adat baritan terdapat sebuah hirarki kedudukan dengan  sebuah pembagian jenis pekerjaan, dimana terdapat beberapa kelompok yang mempunyai tugas masing-masing seperti halnya ada kelompok yang bertugas membuat jajanan pasar, ada kelompok yang bertugas menata buah-buahan dan yang paling terpenting dalam pelaksanaan upacara baritan adalah adanya pemimpin upacara adat yang menduduki posisi tertinggi/sesepuh desa dalam upacara adat tersebut, pemimpin upacara adat ini merupakan orang dari golongan masyarakat pegunungan setempat yang di anggap sesepuh atau orang yang memiliki pengetahuan lebih dari masyarakat lainnya.

  1. B.    Pandangan islam.

Bila di kaji dalam pandangan islam banyak yang berpendapat bahwa acara selametan ini hukumnya bid’ah. Karena mereka berkeyakinan segala sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam hukumnya adalah bid’ah. Sebenarnya apa itu bid’ah. Berikut adalah pengertian bid’ah:

 “Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu ditempatnya di Neraka.” (Shåhih, HR. Muslim no. 867)

Secara bahasa bid’ah berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 1/91, Majma’ Al Lugoh Al ‘Arobiyah-Asy Syamilah). Secara istilah bid’ah yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:

Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Satu pendapat mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak dikerjakan di jaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam tidak bisa disebut bid’ah. Ini tergantung niat atau bentuknya. Jika niat atau bentuknyanya (mereka anggap) baik, maka jadilah ia bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Bisa dikatakan, tidak ada kamus bid’ah dalam bahasa syari’at mereka. Pendapat ini dianut oleh kebanyakan penggemar bid’ah. Adapun pendapat lain mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak dikerjakan di jaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, maka itu disebut bid’ah secara mutlak. Dua pendapat ini keliru. Ada satu kaidah yang sangat penting (dalam mengenal bid’ah) yang perlu kita perhatikan sebagai berikut :

إذا تَرَكَ الرسول صلى الله عليه وسلم فعل عبادة من العبادات مع كون موجبها وسببها المقتضي لها قائمًا ثابتًا ، والمانع منها منتفيًا ؛ فإن فعلها بدعة

”Apabila Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam meninggalkan satu ibadah dari jenis-jenis ibadah yang ada, padahal faktor dan sebab yang menuntut dikerjakan ada, sementara faktor penghalangnya tidak ada, maka melaksanakan ibadah tersebut adalah bid’ah”

Ada dua kata kunci di sini, yaitu :

1. Keberadaan faktor dan sebab yang menuntut dilakukannya amalan tersebut.                       2.   Ketiadaan faktor penghalang untuk mengerjakan amalan tersebut.

Dalam hal ini selametan bumi memiliki faktor dan sebab bisa dikerjakan pada zaman rosulullah karena inti dari acara ini adalah sebagai tanda syukur dan rizky yang telah diberiakn . tetapi ini tidak dilakukan oleh rosullullah karena bersyukur dilakukan dengan cara infaq dan shodaqoh yaitu berbagi atau dengan yang lainnya. Faktor penghalangnyapun tidak ada. Maka dari sinilah mereka berpendapat bahwa selametan (termassuk selametan bumi/baritan) ini haram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: