Perkembangan Kecerdasan Dan Implikasinya dalam Pendidikan

 

  1. A.    Potensi usia dan Faktor-Faktor Perkembangan Kecerdasan

 Perkembangan kecerdasan merupakan bagian dari aspek-aspek perkembangan. Yang mana kecerdasan merupakan kemampuan untuk melihat suatu pola dan menggambarkan hubungan antara pola masa lalu dan pengetahuan dimasa yang akan datang. Urie bronfrenbrenner dan ann crouter (sigelman dan Shaffer, 1995 : 86) mengemukakan bahwa lingkungan perkembangan merupakan “ berbagai peristiwa, situasi atau kondisi di luar organism yang di duga mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembangan individu’’.

  1. 1.      Potensi perkembangan kecerdasan berdasarkan tahap usia

 

Kecerdasan merupakan potensi yang tidak dimiliki makhluk lain selain manusia. Potensi sudah ada sejak manusia dilahirkan dan akan berkembang mengikuti pertumbuhan dan perkembangan dirinya. Semakin ia mengalami perkembangan, maka semakin berkembang pula fungsi-fungsi dari kecerdasan tersebut.

Sejak tahun pertama dari usia anak, fungsi inteligensi sudah mulai tampak dalam tingkah lakunya, umpamanya tingkah laku motorik dan berbicara. Anak yang cerdas menunjukkan gerakan-gerakan yang lancar, serasi, dan koordinasi. Sedagkan anak yang kurang cerdas, gerakan-gerakannya kaku, dan kurang terkoordinasi. Anak yang cerdas cepat dalam perkembangan bahasanya.

Perkembangan kemampuan motori (berjalan) pada anak yang cerdas dimulai pada usia 12 bulan, usia anak yang sedang pada usia 15 bulan, yang moron 22 bulan, dan yang idiot 30 bulan. Dalam perkembangan bahasa (berbicara), anak yang cerdas mulai berbicara pada usia 16 bulan, moron 34 bulan, dan idiot 51 bulan.

Dilihat dari perkembangan kognitif menurut piaget, usia bayi ini berada pada periode sensormotor. Bayi mengenal objek-objek yang berada di lingkungannya melalui system penginderaan (seperti, penglihatan dan pendengaran) dan gerakan motoriknya (refleks, seperti mengenyot, dan menggerakkan kepala kearah sumber rangsangan). Meskipun ketika dilairkan seorang bayi sangat bergantung dan tidak berdaya, tetapi sebagian alat-alat inderannya sudah langsung bias berfungsi, seperti gerakan mengenyot dan mengisap putting susu ibunya. Terdapat 6 subperiode sensorimotori (segelman dan Shaffer, 1995; patricia gunarsa, 1981), adalah sebagai berikut:

  1. Modifikasi (pelatihan refleks-refleks) usia (0-1 bulan.)

Pada usia ini masih terbatas kemampuan untuk melatih refleks-refleks, seperti mengisap atau menghirup, dan menggenggam. Berkembangnya persepsi egosentris, masih belum bias membedakan dirinya dengan objek-objek lain, dan melakukan kegiatan objek.

  1. Pengembangan skema (reaksi pengulangan pertama = primary circular reactions) usia (1-4 bulan).

Anak melakukan kegiatan yang menyenangkan secara sirkular (berulang-ulang) dan bersifat primer (berhubungan dengan tubuh) seperti mengenyot jempol secara berulang-ulang karean menyenangkan sehingga menjadi kebiasaan. Refleks-refleks berkembang menjadi skema (pola gerakan yang diperoleh dari lahir) adaptif. Skema mulai menjadi lebih halus dan terkoordinasi (seperti kondinasi antara gerakan mulut dan tangan). Menunjukkan keingintahuannya.

  1. Reaksi pengulangan kedua (secondary circular reactions) usia 4-8 bulan.

Tingkah lakunya menjadi lebih berorientasi ke luar. Bayi mengembangkan minatnya atau perhatiannya lebih terhadap peristiwa atau dilingkungan sekitarnya. Bayi mulai bias memanipulasi objek-objek. Muali mengimitasi dan menyusun persepsi klarifikasi dan relasi. Mengulang kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, seperti mengulang-ulang atau menggerak-gerakkan mainan yang mengeluarkan bunyi yang menarik. Mengembangkan koordinasi mata-tangan.

  1. Koordinasi reaksi-reaksi (skema) sekunder atau mengembangkan tingkah laku internasionan usia (8-12 bulan).

Mulai berkembangnya tingkah laku yang intensional (disengaja/bertujuan). Bayi mulai membuat cara untuk mencapai tujuan (suatu yang diinginkan). Menggunakan kegiatan-kegiatan yang sudah bias untukmenghadapi situasi baru.

  1. Reaksi pengulangan ketiga (eksplorasi) usia 12-18 bulan.

Bayi mulai mengubah skema secara sistematik untuk menghasilkan efek-efek baru. Dapat memecahkan masalah melalui trial and error. Anak secara gradual belajar tentang dampak kegiatannya terhadap lingkungannya. Dia mulai memahami hubungan sebab akibat. Dia sudah dapat menemukan cara memperlakukan suatu objek agar menghasilkan suatu yang menarik (menyenangkan). Seperti pada tahap keempat anak menemukan kesenangan dengan menekan atau memijit mainan (berbentuk bebek dari karet) berkali-kali, sehingga mengeluarkan suara bebek yang menyenagkan dirinya. Pada tahap kelima ini, anak dapat menemukan cara yang baru untuk memperoleh tujuan yang sama, seperti dengan cara menginjaknya, atau meninjaunya dengan kepala tangan. Tahap ini merupakan skema trial dan error.

  1. Permulaan berpikir (representatif mental) usia 18-24 bulan.

Mulai mengembangkan kemampuan untuk memahami fungsi-fungsi simbolik. Atau representatif mental. Sebagi prestasi puncak tahap sensorimotor adalah kemampuan menginternalisasi skema-skema tingkah laku utnuk membentuk simbol-simbol mental, atau imajinasi. Pada taap ke enam ini, anak sudah dapat bereksperimen secara mental dan memiliki “insight” untuk memecahkan suatu masalah.

Perkembangan kognitif  yang dijelaskan oleh (segelman dan Shaffer, 1995; patricia gunarsa, 1981) pada tahap  ditandai dengan kemampuan: a) mengembangkan imitasi, memori, dan berpikir, b) mempersepsi ketajaman objek, yaitu objek-objek itu akan tetap ada meskipun tidak ada lagi dalam lapangannya persepsinya, dan c) bergerak dari kegiatan yang bersifat refleks keaktivitas yang mengarah kepada tujuan.

Mengenai perkembangan kemampuan mempersepsi ketepatan objek-objek singgih D. gunarsa (1987;151-152) menjelaskan sebagai berikut:

  1. Masa pertama (0-1 bulan)

Objek-objek yang dilihatnya ada dalam lapangan penglihatannya. Objek-objek yang berada diluar lapangan penglihatan tidak diperdulikannya. Disini seperti wajah ibunya yang dilihat bayi, tetapi tidak dilihatnya apabila wajah ibunya meninggalkan lapangan penglihatnannya, dan tidak ada keinginan untuk mencarinya.

  1. Masa kedua (1-4 bulan).

Untuk beberapa saat, bayi akan menoleh dan memandang kea rah objek yang menghilang. Seakan-akan bayi masih menanti objek itu kembali, tetapi tidak aktif. Misalnya, bayi menggoyang-goyangkan mainan dan  jatuh ke lantai. Dia akan meneruskan menggoyang-goyangkan tangan dan tidak melihat kearah mainan yang ada dilantai.

  1. Masa ketiga (4-10 bulan).

Bayi mulai terlatih pada objek-objek di luar dirinya. Kalau mainan jatuh diluar lapangan penglihatan, dia akan meihat ketempat mainan itu jatuh. Bayi bias menemukan objek-objek yang sebagian tersembunyi atau tertutup. Ini permulaan kemampuan dalam mempersepsikan ketepatan dalam objek. Kalau objeknya sama sekali tidak ada, bayi tidak akan mencarinya, misalnya objek itu disingkirkan atau dipindahkan oleh orang lain.

  1. Masa keempat (10-12 bulan).

Bayi sudah mampu menemukan objek yang seluruhnya tidak berada dalam lapangan penglihatannya (tersembunyi). Seperti bayi akan menyingkirkan selimut yang menutupi mainannya. Tetapi apabila objeknya dipindah ketempat lain, bayi masih mencarinya ke tempat semula. Di sini bayi belum dapat merangkaikan pemindahan-pemindahan tempat.

  1. Masa kelima (12-18 bulan).

Bayi sudah melihat rangkaian objek-objek yang dipindahkan, selama objek-objek itu masih dapat dilihat ketika dipindah-pindahkan.

  1. Masa keenam (18-24 bulan).

Bayi bias menemukan objek-objek yang tidak ada dalam lapangan persepsinya, tertutup atau tersembunyi di suatu tempat, artinya mampu mempersepsikan ketepatan dalam objek.

Bloom (abin syamsuddin, 1996), telah mendefinisikan berdasarkan hasil studi longitudinal , bahwa dengan berpatokan pada hasil tes inteligensi pada kelompok subjek usia 17 tahun dan membandingkan hasil tes sebelumnya, maka dapat dilihat perkembangan presentase taraf  kematangan atau kesempurnaan perkembangan inteligensi sebagai berikut:

–          Usia I tahun berkembang sekitar 20%

–          Usia 4 tahun berkembang sekitar 50%

–          Usia 8 tahun berkembang sekitar 80%

–          Usia 12 tahun berkembang sekitar 92%

Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup general information dan verbal analogies, joh dan conrad (abin syamsuddin) mengembangkan sebuah kurva perkembangan inteligensi manusia sebagai berikut:

  1. Laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja awal, setelah itu kesempatannya langsung turun.
  2. Puncak perkembangan pada umumnya dicapai di penghujung masa remaja akhir(sekitar usia 20-an); selanjutnya perubahan-perubahan amat tipis berlangsung hingga usia 50 tahun. Setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai usia 60 tahun untuk selanjutnya berangsur-angsur menurun (deklinasi).
  3. Terdapat variasi dalam waktu dan laju kecepatan deklinasi menurut jenis-jenis kecepatan tertentu.

 

  1. 2.      Faktor-faktor perkembangan kecerdasan

 

Intelektual menurut torndike tersusun dari beberapa faktor, dan faktor-faktor ini terdiri dari elemen-elemen, dan tiap elemen terdiri atom-atom, dan tiap-tiap atom merupakan hubungan stimulus-respon. Jadi, suatu aktivitas yang menyangkut intelektual merupakan kumpulan dari atom-atom aktivitas yang berkombinasi satu dengan yang lainnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelektual menurut andi mappiare (1982: 80), hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelektual anatara lain:

–          Bertamabahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang sehingga ia mampu berpikir reflektif

–          Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah sehingga seseorang dapat berpikir proporsional.

–          Adanya kebebasan berpikir, menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesi-hipotesi yang radikal, kebebasan menjajaki masalah keseluruhan, dan menunjang keberanian anak memecahkan masalah dan menarik  kesimpulan yang baru dan benar.

Di bab sebelumnya telah dibahas tentang faktor-faktor yang sangat penting dalam taraf perkembangan kecerdasan yaitu: pertama, faktor sebelum kelahiran (masa pre-natal) dan kedua, faktor setelah lahir (masa post-natal). Pada urian ini menitikberatkan pada masa kandungan sampai masa umur balita (0-5 tahun). Karena umur 0-5 tahun akan sangat berpengaruh dan menetukan pada perkembangan taraf kecerdasan pada masa umur selanjutnya sebagaimana berlakunya hukum perkembangan manusia.

Yang mana masa pre-natal ini sangat diperhatikan karena berpengaruh terhadap perkembangan si anak setelah lahir, terutama pada perkembangan taraf kecerdasannya. Pada masa ini peranan orang tua terutama sebagi ibu pada saat mengandung sangatlah penting untuk memperhatikan faktor pengaturan makanan pada faktor ini gizi yang diperlukan, karena faktor ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan calon bayi, faktor menjaga kesehatan ini sangat penting bagi ibu pada waktu sedang mengandung karena faktor ini sangat berpengaruh baik dari kesehatan ibunya maupun bayi yang sedang dikandungnya, dan selanjutnya adalah faktor ketenangan batin pada waktu ibu sedang mengandung haruslah menjaga kesehatan jiwanya, seperti kesetabilan emosi, jangan terlalu banyak memikirkan problem rumah tangga, bersusah hati, dan marah yang di tahan.

Sedangkan masa post-natal merupakan faktor yang sangat penting diperhatikan oleh orang tua dalam membantu perkembangan kecerdasan anak setelah dilahirkan seperti menanamkan jiwa kasih sayang, menjaga kesehatan anak setelah mendapatkan kasih sayang dan kasih sayang itu juga sangant penting bagi kesehatan anak, mengembangkan kreativitas anak supaya anak dirangsan untuk mempunyai inisiatif dan berkarya.

Selain faktor otak sebagi penunjang, ada pun faktor-faktor lain yang mempengaruhi kecerdasan anak. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Perbedaan kecerdasan ini dapat dilihat dari tingkah laku dan perbuatannya, adanya perbedaan ini juga dipengaruhi oleh oleh beberapa faktor, antara lain: faktor keturunan, pada faktor ini sifat yang dibawa anak sejak lahir merupakan perpaduan anatara kromosom ayah dan ibu, apabila kedua orang tua ini memiliki faktor hereditas cerdas, kemungkinan dapat menurunkan anak-anak yang cerdas pula. Yang selnjutnya adalah faktor lingkungan, segala sesuatu yang di sekeliling anak yang mempengaruhi perkembangn, antara lain: gizi dan Pendidikan.

  1. B.     Toeri-teori mengenai perkembangan kecerdasan

 

Dalam mengartikan inteligensi (kecerdasan) ini, para ahli mempunyai pengertian yang beragam. Di antara pengertian inteligensi itu adalah sebagai berikut:

  1. C.p. chaplin (1975) mengartikan inteligensi itu sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secar cepat dan efektif

  1. Anita e. woolfolk (1995) mengemukakan bahwa menurut teori-teori lama, inteligensi itu meliputi tiga pengertian, yaitu (1)  kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan (3) kemampuan untuk baradaptasi secara berhasil dengan situasibaru atau lingkungan pada umumnya. Selanjutnya wolkfolk mengemukakan inteligensi itu merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka memcahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkunga.

  1. Binet (sumadi., 1984) menyatakan bahwa sifat hakikat inteligensi itu ada tiga macam, yaitu a) kecerdasan untuk menetapkan dan mempertahankan (memperjuangkan) tujuan tertentu semakin cerdas seseorang, akan semakin pandai dia membuat tujuan sendiri, mempunyai inisiatif sendiri tidak menunggu perintah saja; b) kemapuan untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan tersebut; c) kemapuan untuk melakukan okritik, kemampuan untuk belajar dari kesalahan yang telah dibuatnya.

  1. Raymond cattel dkk. (kimble dkk.,1980) mengklasifikasikan inteligensi ke dalam dua kategori, yaitu (a) fluid inteligensi, yaitu tipe kemampuan analisis kognitif yang relative tidak dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya; (b) crystallized intelligence, yaitu keterampilan-keterampilan atau kemampuan nalar (berpikir) yang dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya.

Beberapa teori yang mengemukakan tentang  perkembangan inteligensi adalah sebagai berikut:

  1. Teori “two factors”

Teori ini dikemukakan oleh Charles spearman (1904). Dia berendapat bahwa inteligensi itu meliputi kemampuan umum yang diberikan kode “g” (generala factors), dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factors). Setiap individu memliki kedua kemampuan ini yang keduanya menentukan penampilan atau perilaku mentalnya.

  1. Teori “primary mental abilities”

Teori ini dikemukakan oleh thurstone (1938). Dia berpendapat bahwa inteligensi merupakan penjelamaan dari kemampuan primer, yaitu (a) kemampuan berbahasa: verbal comprehension; (b) kemampuan mengingat; memory; (c) kemampuan nalar atau  berpikir logis: reasoning; (d) kemampuan tilikan ruang: spatial factor; (e) kemampuan bilangan: numerical ability; (f) kemampuan menggunakan kata-kata; word fluency; dan (g) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat: perceptual speed.

 

  1. Teori multiple “intelligence”.

teori ini dikemukakan oleh J.P Guilford dan howard gardner. Guilford berpendapat bahwa inteligensi itu dapat dilihat dari tiga ketegori dasar atau “ face of intellect”, yaitu sebagai berikut:

  1. Operasi mental (proses berpikir):
  • Kognisi (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru).
  • Memory retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).
  • Memory recording (ingatan yang segera)
  • Divergent production (berpikir melebar = banyak kemungkinan jawaban).
  • Convergent production (berpikir memusat = hanya satu jawaban atau alternatif).
  • Evaluasi (mengambil keputusan tentang apakah sesuatu itu baik, akurat, atau memadui).

  1. Content (isi ang dipikirkan)
  • Visual (bentuk kongkret atau gambaran).
  • Auditory
  • Word meaning (semantic).
  • Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata, angka dan not musik).
  • Behavioral (interaksi non-verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara).

  1. Product (hasil berpikir)
  • Unit (item tunggal informasi).
  • Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama).
  • Relasi (keterkaitan antarinformasi)
  • System (kompeksitas bagian yang saling berhubungan).
  • Transformasi (perubahan, modifikasi atau redifinasi informasi).
  • Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain).
  1. Teori “triachic of intelligence”.

Teori ini dikemukakan oleh Robert Stenberg (1985, 1990). Teori ini merupakan pendekatan teori kognitif untuk memahami inteligensi. Stenberg mengartikannya sebagai suatu “deskripsi tiga bagian kemampuan mental” (proses berpikir, mengatasi pengalaman atau masalah baru, dan penyesuaian terhadap situasi yang dihadapi) yang menunjukkan yang tingkah laku inteligensi. Dengan kata lain, tingkah laku intelegen itu merupakan produk (hasil) dari penerapan starategi berpikir, mengatasi masalah-masalah baru secara kreatif dan cepat, dan penyesuaian terhadap konteks dengan menyeleksi dan beradaptasi dengan lingkungan.

  1. C.    Perkembangan kecerdasan dan implikasinya di pendidikan

 

Implikasi-implikasi bagi pendidikan piaget banyak menulis tentang pendidikan, namun dia memberikan beberapa rekomendasi tentang ini. Pada esensinya, seluruh filsafat pendidikannya mirip dengan rousseaudan montessori. Bagi piaget, pelajar yang sebenarnya bukan sesuatu yang diturunkan oleh guru, melainkan sesuatu yang berasal dari dalam diri anak sendiri. Belajar merupakan sebuah proses penyelidikan dan penemuan spontan.  Karena itu, guru tidak semestinya memaksakan pengetauan kepada anak-anak, melainkan harus menemukan materi-materi pelajaran yang bisa mearik dan menentang anak untuk belajar dan kemudian membiarkan mereka menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dengan cara mereka sendiri.[1]

Seperti rousseau dan montessori, piaget juga menekankan pentingnya pemberian intruksi yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan tertentu anak. Dia tidak menyetujui konsep pendewasaan montessori mengenai pentahapan, namun setuju dengan prinsip umum yang dikembangnya: pendidik harus menyadari bahwa tingkat ketertarikan dan mode belajar anak berbeda-beda pada waktu yang berbeda.

Prinsip ini-menyesuaikan pendidikan dengan tahap perkembangan anak merupakan sebuah self-evident. Salah satu khususnya adalah gelombang reformasi kurukulum yang dimulai bangsa Amerika di akhir tahun 1950-an dan awal 1960-an untuk merespon peluncuran sputnik milik Uni Soviet. Untuk menyamai kemajuan teknologi Rusia ini, para pendidikan memperkenalkan metematika baru, sain baru, dan studi-studi lain yang mengajarkan anak-anak penalaran abstrak dan teoritis pada usia dini.

Perkembangan kecerdasan pada usia sekolah dasar (6-12 tahun) anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (seperti membaca, menulis, dan menghitung). Sebelum masa ini, yaitu masa prasekolah, daya pikir anak masih imajinatif, berangan-angan (berkhayal), sedangkan pada usia SD dya pikirnya syudah berkembang kearah berpikir konkret dan rasional (dapat diterima akal). Piaget menamakannya dengan sebagai masa operasional konkret(berkaitang dengan dunia nyata).

Kemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola pikir atau daya nalarnya. Kepada anak sudah dapat diberikan dasar-dasar keilmuan, seperti membaca, menulis dan berhitung. Disamping itu, kepada anak memberikan juga pengetahuan-pengetahuan tentang manusia, hewan, lingkungan alam sekitar dan sebagainya. Untuk mengembangkan daya nalarnya dengan melatih anak untuk mengungkapkan pendapat, gagasan atau penilainnya terhadap berbagai hal, baik yang dialaminya maupun peristiwa yang terjadi dilingkungannya. Misalnya, yang berkaitan dengan materi pelajaran, tata tertib sekolah, pergaulan yang baik dengan teman sebaya atau orang lain dan sebagainya.

Dalam rangka mengembangkan kemampuan anak, maka sekolah dalam hal ini guru seyognya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pertenyaan, memberikan komentat atau pendapatnya tentang materi pelajaran yang dibacanya atau dijelaskan guru, membuat karangan, menyusun laporan (hasil study tour atau diskusi kelompok).

BAB III

 

PENUTUP

 

 

  1. A.    Kesimpulan

Perkembangan kecerdasa dan implikasinya dengan pendidikan, bagaimana Implikasi-implikasi bagi pendidikan piaget banyak menulis tentang pendidikan, namun dia memberikan beberapa rekomendasi tentang ini. Pada esensinya, seluruh filsafat pendidikannya mirip dengan rousseaudan montessori. Bagi piaget, pelajar yang sebenarnya bukan sesuatu yang diturunkan oleh guru, melainkan sesuatu yang berasal dari dalam diri anak sendiri. Belajar merupakan sebuah proses penyelidikan dan penemuan spontan.  Karena itu, guru tidak semestinya memaksakan pengetauan kepada anak-anak, melainkan harus menemukan materi-materi pelajaran yang bisa mearik dan menentang anak untuk belajar dan kemudian membiarkan mereka menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dengan cara mereka sendiri.

Psikologi pendidikan berkaitan dengan psikologi perkembangan yang juga mempelajari perkembangan manusia dan faktor-faktor yang membentuk perilaku seseorang sejak lahir sampai usia lanjut. Mempelajari entang tahapan-tahapan hidup manusia. Dalam tahap ini juga dikaitkan dengan masalah pendidikan khususnya Indonesia. Karena pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi manusia untuk menjalani hidupnya.


[1]  Piaget, 1969,h.151-153,160

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KIKI MALIKA PRIMADANI

Let's Around The World

LINGUA BLOG

Just Another Lingua Blog Wordpress.com

MADRASAH DINIYAH PLUS AL-MANSHUR

Madrasah Diniyah Plus Al-Manshur Pinggirsari Ponorogo

Protech Parabola ™

Biss Key | Forum Parabola | Sepak Bola | FTA | Liga Inggris | Liga Champions | Liga Spanyol | Liga Italia | IPM | Feed

sastrawan808

Penulis muda muslim, aktivis sosial, penggebrak perubahan menuju kesuksesan dunia dan akhirat

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Mr.Sahrul Santri

SaSatorial_SahrulSantriTutorial

Just in Write

Just be yourself

NoerDblog

Secangkir narasi alam

Lambangsarib's Blog

Catatan Orang Biasa

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

nimadesriandani

Balanced life, a journey for happiness site

Catatan Hidup

Jadikan semua kejadian sebagai pembelajaran hidup

Rindrianie's Blog

Just being me

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

AULIA FASYA

Daily Stories, Poem, Feeling, and You!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

%d blogger menyukai ini: