Teori Belajar

Sesuai dengan perkembangan psikologi, pandangan dan teori belajar sebagai bagian pokok bahasannya berkembang pula mulai dari teori-teori yang berdasarkan pandangan filosofis sampai yang diiringi dan seiring dengan eksperimen-eksperimen.

            Stewart Hulse berpendapat bahwa deskripsi tentang belajar telah didapatkan lebih dari 2000 tahun lalu oleh ahli-ahli filsafat, paling tidak, dua pemikir besar, yakni Aristoteles dan Plato. Berikut ini merupakan pandangan para ahli:[1]

  1. Pandangan Aristoteles tentang belajar berdasarkan psinsip Asosiasionisme. Dasar pandangannya adalah awalnya, manusia tidak tahu apa-apa atau dalam keadaan kosong. Saat lahir, jiwanya seperti tabularasa (kertas putih belum berisi coretan dan tulisan). Kemudian, pengetahuannya dibentuk oleh penangkapan perasaan-perasaan atau kejutan-kejutan dasar, seperti suara-suara, penglihatan, pembauan dan rasa atau perasaan oanas dan dingin. Selanjutnya, hal-hal yang telah ditangkap melalui indera-indera berkaitan hanya secara mekanis di dalam jiwa. Ide-ide pengetahuan yang kompleks terbentuk dari yang sederhana dan secara mekanis.
  2. Sekitar tahun 1650 sampai 1850-an, sekelompok filsafat Inggris, yaitu John Locke, Thomas Hobbes, John Mill dan James Mill Hartly masih mendasarkan teori-teori pada ide dasar Aristoteles.
  3. Di Amerika, di akhir tahun 1800-an, Wund dan Muhler menerima dan mengombinasikan ide dasar Aristoteles dengan tradisi empiris dan metode-metode eksperimental di Jerman.
  4. Di samping itu, di Amerika mminat dan kegunaan paham behavior theory berkembang, terutama dalam pendidikan, sehingga paham dasar Aristoteles terkombinasikan dengan paham tersebut. hal ini tercermin pada paham stimulus-respons dalam teori behavioristik J.B. Watson, B.F. Skinner, dan akhirnya Thorndike, J. Dewey, Guthri, Hull, Miller dan Spencer. Dari semua teori, metode behavioristik dan falsafah Skinnerlah yang paling berpengaruh sampai saat ini.
  5. Konsep Plato tentang belajar berbeda dengan Aristoteles. Plato beranggapan bahwa pengetahuan tidak diperoleh melalui panca indera, melainkan pikiran. Konsep Plato sangat memengaruhi psikologi belajar selanjutnya, yakni ide-idenya tentang pendekatan rasionalistik untuk mengadakan analisis tingkah laku.
  6. Wilhelm Wundt (1832-1920) memelopori pendapat tentang pandangan Gestalt. Ia berpendapat bahwa gejala-gejala jiwa bukan sekedar sejumlah unsur kejiwaan, tetapi tersusun dan bersifat tidak sama dengan elemen-elemen unsur kejiwaan. Hal ini mempengaruhi teori belajar yang dikembangkan ahli-ahli pengikutnya.
  7. Pada abad ke-18 dan 19, psikologi berusaha memisahkan diri dari ilmu filsafat dan muncullah tokoh-tokoh yang memasukkan psikologi ke dalam ilmu alam. Alurnya, pada pertengahan abad ke-19, John Stuart Mill (1850) memelopori pendapat tentang logika ilmu kimia, bukan logika ilmu alam. Kemudian, dengan berdasarkan paradigma ilmu fisika dan ilmu kimia, Wundt dan para pengikutnya mengadakan penyelidikan tentang peristiwa-peristiwa kejiwaan berdasarkan logika ilmu alam. Wundt mengadakan penyelidikan tentang apersepsi asosiasi fantasi dengan menggunakan metode analitis-sintetis dan asumsi  ahwa hidup kejiwaan dapat diuraikan menjadi elemen-elemen. Weber dan Feehner masuk pengikut Wundt. Mereka berpendapat bahwa peristiwa kejiwaan dapat diterangkan berdasarkan proses alam biasa. Percobaan mereka menggunakan alat-alat untuk mencatat denyut jantung, denyut paru-paru dan sebagainya (Bigot, Kehustaman, Palland).

Demikian adalah uraian singkat tentang beberapa dasar pandangan para pakar yang menjadi landasan utama bagaimana teori belajar abad 20 terbentuk.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada abad ke-20, teori belajar yang dirumuskan, terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu teori Behavioristik dan teori Kognitif. Teori behavioristik terbagi menjadi tiga, antara lain teori Connectionism (koneksionisme) yang dirancang oleh Thorndike, teori Classical Conditioning yang diprakarsai oleh Pavlov, dan teori Operant Conditioning yang dikembangkan oleh B.F. Skinner.

Sedangkan untuk teori Kognitif, terbagi menjadi dua yaitu teori Gestalt yang dikembangkan oleh Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler, serta teori Medan yang diprakarsai oleh Kurt Lewin.[2]

  1. 1.      Teori Behavioristik

Dalam psikologi, teori belajar selalu dihubungkan dengan stimulus-respons dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons makhluk hidup dihubu.ngkan dengan stimulus yang didapat dalam lingkungannya. Proses yang menunjukkan hubungan yang terus menerus antara respons yang muncul serta rangsangan yang diberikan dinamakan suatu proses belajar. (Tan, 1981:91).[3]

  1. a.      Teori Belajar Classical Conditioning Ivan Pavlov

a.1. Biografi Ivan Pavlov

Tokoh ini memiliki nama lengkap Ivan Petrovich Pavlov, dilahirkan di Rjasan (Rusia)[4], (yang saat ini Negara Rusia telah menjadi negara-negara kecil) pada tanggal 18 September 1849 dan wafat di Leningrad pada tanggal 7 Februari 1936. Pavlov anak seorang Pendeta; sebagaimana keterangan yang kami kutip bahwa orang tua Ivan Pavlov berkeinginan supaya anaknya kelak mengikuti jejaknya menjadi pendeta, karenaitu dalam pendidikannya, Pavlov memang disiapkan untuk itu. Tetapi Pavlov sendiri merasa tidak cocok dengan pekerjaan sebagai pendeta, ia memilih belajar kedokteran, dan mengambil spesialisasi dalam bidang fisiologi. Sejak tahun 1890 ia telah menjadi ahli filosofi yang ternama.

Sedangkan sejarah Pavlov mengenai jabatan ia pernah menjabat sebagai guru besar di Akademik Kedokteran milik Militer Rusia hingga tahun 1925.

Eksperimen Pavlov yang sangat berkembang di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan studi tentang pencernaan, sehingga dikenal dengan teori Clasical Conditioning. sehingga dalam sejarahnya ia dikenal sebagai ilmuan besar Rusia yang berhasil meraih Nobel pada tahun 1909 dalam lapangan ilmu fisiologi. Ia memandang ilmu pengetahuan sebagai sarana belajar tentang berbagai masalah dunia dan masalah manusia. Peranan dari ilmuwan menurutnya antara lain membuka rahasia alam sehingga dapat memahami hukum-hukum yang ada pada alam. Di samping itu ilmuwan juga harus mencoba memahami bagaimana manusia itu belajar dan tidak bertanya bagaimana mestinya manusia belajar.

Sebagaimana yang telah penulis kemukakan secara sederhana bahwa Pavlov peletek studi eksperimen-objektif bagi aktifitas saraf (nerves) pada hewan dan manusia dengan menggunakan teori “refleksi terkondisikan”. Melalui ini, Pavlov berhasil menemukan prinsip dasar dari mekanisme kerja otak. Hasil eksperimen yang ia simpulkan tentang “air liur yang mengalir secara alami” dan beberapa kajian eksperimen lainnya menjadi dasar kesimpulan yang diperolehnya tentang fungsi indikator dari kerja mental (psychic).

Pavlov memiliki beberapa buah karyanya yang penting, sebagaimana dikutip dari Filsafat Islam karangan Ismail Asy-Syarafa beliau menerangkan diantaranya:

  1. Dua Puluh Tahun Studi Objektiv tentang Aktivitas Saraf (perilaku) pada Binatang (Isyuruuna ‘Aamman mi Ad-Dirasah Al-hayawaanat, 1923).
  2. Kuliah tentang Cara Kerja Dua Lingkaran Besar Otak (Muhadharat fi ‘Amali An-Nishfain Al-Kurawiyyaain Al-Kabirainn li Al-Mukh),1927.

a.2. Eksperimen yang Dilakukan oleh Ivan Pavlov

Penemuan Pavlov yang sangat menetukan dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflex).[5] Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar.

Adapun jalannya eksperimen tentang refleks berkondisi yang dilakukan Pavlov adalah sebagai berikut :Pavlov menggunakan seekor anjing sebagai binatang percobaan. Anjing itu diikat dan dioperasi pada bagian rahangnya sedemikian rupa, sehingga tiap-tiap air liur yang keluar dapat ditampung dan diukur jumlahnya.Pavlov kemudian menekan sebuah tombol dan keluarlah semangkuk makanan di hadapan anjing percobaan.Sebagai reaksi atas munculnya makanan, anjing itu mengeluarkan air liur yang dapat terlihat dengan jelas pada alat pengukur. Makanan yang keluar disebut sebagai rangsangan tak berkondisi (unconditional stimulus) dan aiu liur yang keluar setelah anjing melihat makanan disebut reflek tak berkondisi (unconditioned reflek), karena setiap anjing akan melakukan reflek yang sama (mengeluarkan air liur) kalau melihat rangsangan yang sama pula (makanan).

Kemudian dalam percobaan selanjutnya Pavlov membunyikan sebuah bel setiap kali ia hendak mengeluarkan makan. Dengan demikian anjing akan mendengar bel dahulu sebelum ia melihat makanan muncul di depannya. Percobaan ini dilakukan berkali-kali dan selama itu keluarnya air liur selalu diamati.Mula-mula air liur hanya keluar setelah anjing melihat makanan (refleks tak terkondisi), tetapi lama kelamaan aiu liur sudah keluar pada waktu anjing baru mendengar bel.Keluarnya air liur setelah anjing mendengar bel disebut sebagai reflek berkondisi (conditioned reflex), karena reflek itu merupakan hasil latihan yang terus menerus dan hanya anjing yang sudah mendapat latihan itu saja yang dapat melakukannya. Bunyi bel merupakan rangsang berkondisi (conditioned stimulus). Kalau latihan itu diteruskan, maka pada waktu keluarnya aiu liur setelah anjing mendengar bunyi bel akan tetap terjadi walaupun tidak ada lagi makanan yang mengikuti bunyi bel itu. Dengan kata lain, refleks berkondisi akan bertahan walaupun rangsang tak berkondisi tidak ada lagi. Pada tingkat yang lebih lanjut, bunyi bel didahului oleh sebuah lampu yang menyala, maka lama kelamaan aiu liur sudah keluar setelah anjing melihat nyala lampu walaupun ia tidak mendengar bel atau melihat makanan sesudahnya.

Demikian satu rangsang berkondisi dapat dihubungkan dengan rangsang berkondisi lainnya sehingga binatang percobaan tetap dapat mempertahankan refleks berkondisi walaupun rangsang tak berkondisi tidak lagi diberikan. Tentu saja tidak adanya rangsang tak berkondisi hanya bisa dilakukan sampai pada taraf tertentu, karena kalau terlalu lama tidak ada rangsang tak berkondisi, binatang percobaan itu tidak akan mendapat imbalan (reward) atas refleks yang sudah dilakukannya dan karena itu redleks itu makin lama akan makin menghilang dan terjadilah ekstinksi atau proses penghapusan refleks (extiction)

Dari hasil eksperimen dengan mnggunakan anjing tersebut, Pavlov akhirnya menemukan beberapa hukum pengkondisian, antara lain:

1.    Pemerolehan/Penguasaan (acquisition)

Pemerolehan atau penguasaan bagaimana individu mempelajari sesuatu gerak balas atau respon baru, membuat pasangan stimulus netral dengan stimulus tak bersyarat berulang-ulang hingga muncul respons bersyarat atau yang disebut acquisition atau acquisition training (latihan untuk memperoleh sesuatu).Para peneliti sering kali membuat stimulus netral bersamaan dengan stimulus bersyarat atau berbeda beberapa detik selisih waktu pemberiannya dan segera menghentikan secara serempak.Prosedur ini biasanya disebut dengan pengkondisian secara serempak.Prosedur ini lebih sederhana dan efektif dalam melatih orang atau hewan.Kadang peneliti juga menggunakan prosedur yang berbeda, yakni dengan menghentikan stimulus netral terlebih dahulu sebelum stimulus tak bersyarat, walaupun prosedur ini jarang digunakan dalam pengkondisian. Memasangkan stimulus netral dengan stimulus tak bersyarat selama latihan untuk memperoleh sesuatu akan berfungsi sebagai penguat atau reinforcement bagi respons bersyarat.

2.    Generalisasi (generalizatition)

Rangsangan yang sama akan menghasilkan tindak balas yang sama. Pavlov menggunakan bunyi loceng yang berlainan nada, tetapi anjing masih mengeluarkan air liur. Ini menunjukkan bahawa organisme telah terlazim, dengan dikemukakan sesuatu rangsangan tak terlazim akan menghasilkan gerak balas terlazim (air liur) walaupun rangsangan itu berlainan atau hampir sama.

Contoh : anak kecil yang merasa takut pada anjing galak, tentu akan memberikan respons rasa takut pada setiap anjing. Tapi melalui penguatan dan pemadaman diferensial, rentang stimulus rasa takut menjadi menyempit hanya pada anjing yang galak saja.

3.    Diskriminasi (Discrimination)

Diskriminasi berlaku apabila individu berkenaan dapat membedakan atau mendiskriminasi antara rangsangan yang dikemukakan dan memilih untuk tidak bertindak atau bergerak balas.

Contoh : Anak kecil yang takut pada anjing galak, maka akan memberi respon rasa takut pada setiap anjing, tapi ketika anjing galak terikat dan terkurung dalam kandang maka rasa takut anak itu menjadi berkuran.

4.    Pemadaman/penghapusan (extinction)

Penghapusan berlaku apabila rangsangan terlazim tidak diikuti dengan rangsangan tak terlazim, lama-kelamaan individu/organisme itu tidak akan bertindak balas. Setelah respons itu terbentuk, maka respons itu akan tetap ada selama masih diberikan rangsangan bersyaratnya dan dipasangkan dengan rangsangan tak bersyarat. Kalau rangsangan bersyarat diberikan untuk beberapa lama, maka respons bersyarat lalu tidak mempunyai pengut/reinforce dan besar kemungkinan respons bersyarat itu akan menurun jumlah pemunculannya dan akan semakin sering tak terlihat seperti penelitian sebelumnya. Peristiwa itulah yang disebut dengan pemandaan (extinction). Beberapa respons bersyarat akan hilang secara perlahan-lahan atau hilang sama sekali untuk selamanya. Dalam kehidupan nyata, mungkin kita pernah menjumpai realitas respons emosi bersyarat.

Contoh : Ada dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan yang biasa bermain bersama. Pada saat mereka menginjak dewasa, menjadi seorang gadis dan pemuda, tiba-tiba tumbuh perasaan cinta pada diri pemuda kepada gadis tersebut, tetapi tidak demikian dengan sang gadis. Pada saat pemuda teman sejak kecilnya itu menyatakan cintanya, gadis tersebut menolak dengan alasan perasaan kepada pemuda itu hanya sebatas teman. Namun, karena pemuda itu sangat mencintai sang gadis, dengan menggunakan berbagai cara yang dapat membahagaikan, ia berusaha untuk mengambil hati gadis itu agar menerima cintanya. Misalnya, dengan selalu memberikan perhatian, memberikan segala yang disukai oleh gadis itu, dan lain sebagainya. Ketika perhatian dan kebaikannya kepada gadis tersebut dilakukan berulang-ulang maka pada suatu saat hati sang gadis menjadi luluh dan akhirnya menerima cinta pemuda tersebut.

a.3. Hukum-hukum belajar menurut Pavlov, diantaranya :

  1. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
  2. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

Kesimpulan yang didapat dari percobaan Ivan Pavlov adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses kondisioning (conditioning prosess) di mana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak berkondisi lama kelamaan dihubungkan dengan rangsang berkondisi.

a.4. Implikasi Teori Classic Conditioning

Penerapan prinsip-prinsip kondisioning klasik dalam kelas, antara lain :

  1. Memberikan suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugas-tugas belajar,

Contoh: Menekankan pada kerja sama dan kompetisi antar kelompok daripada individu, banyak siswa yang akan memiliki respons emosional secara negatif terhadap kompetisi secara individual, yang mungkin akan digeneralisasikan dengan pelajaran-pelajaran yang lain, contoh lainnya adalah membuat kegiatan membaca menjadi menyenangkan dengan menciptakan ruang membaca yang nyaman dan enak serta menarik.

  1. Membantu siswa mengatasi secara bebas dan sukses situasi-situasi yang mencemaskan atau menekan,

Contoh: Mendorong siswa yang pemalu untuk mengajarkan siswa lain cara memahami materi pelajaran, misalnya dengan memberikan tes harian, mingguan, agar siswa dapat menyimpan apa yang dipelajari dengan baik. Jika siswa takut berbicara di depan kelas mintalah siswa untuk membacakan sebuah laporan di depan kelompok kecil sambil duduk ditempat, kemudian berikutnya dengan berdiri. Setelah dia terbiasa, kemudian mintalah ia untuk membaca laporan di depan seluruh murid di kelas.

  1. Membantu siswa untuk mengenal perbedaan dan persamaan terhadap situasi-situasi sehingga mereka dapat membedakan dan menggeneralisasi secara tepat.

Contoh : Meyakinkan siswa yang cemas ketika menghadapi ujian masuk sebuah perguruan tinggi, bahwa tes tersebut sama dengan tes-tes prestasi akademik lain yang pernah mereka lakukan.

  1. b.      Teori Thorndike (Connectionism)

b.1. Biografi Thorndike

Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika.Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895, S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903), Mental and social Measurements (1904), Animal Intelligence (1911), Ateacher’s Word Book (1921),Your City (1939), dan Human Nature and The Social Order (1940)

b.2. Teori Thorndike dalam Belajar

Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik.[6]

Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang

Thorndike memplokamirkan teorinya dalam belajar ia mengungkapkan bahwasanya setiap makhluk hidup itu dalam tingkah lakunya itu merupakan hubungan antara stimulus dan respon adapun teori thorndike ini disebut teori koneksionisme. Belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya.Dalam artian dengan adanya stimulus itu maka diharapkan timbulah respon yang maksimal teori ini sering juga disebut dengan teori trial and error dalam teori ini orang yang bisa menguasai hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya maka dapat dikatakan orang ini merupakan orang yang berhasil dalam belajar. Adapun cara untuk membentuk hubungan stimulus dan respon ini dilakukan dengan ulangan-ulangan.

Dalam teori trial and error ini, berlaku bagi semua organisme dan apabila organisme ini dihadapkan denagan keadaan atau situasi yang baru maka secara otomatis organisme ini memberikan respon atau tindakan-tindakan yang bersifat coba-coba atau bias juga berdasarkan naluri karena pada dasarnya disetiap stimulus itu pasti ditemukakn respon. Apabila dalam tindakan-tindakan yang dilakukan itu menelurkan perbuatan atau tindakan yang cocok atau memuaskan maka tindakan ini akan disimpan dalam benak seseoarang atau organisme lainya karena dirasa diantatara tindakan-tindakan yang paling cocok adalah itu, selama yang telah dilalakukan dalam menanggapi stimulus dan situasi baru. Jadi dalam teori ini pengulangan-pengulangan respon atau tindakan dalam menanggapi stimulus atau situasi baru itu sangat penting sehingga seseorang atau organisme mampu menemukan tindakan yang tepat dan dilakukan secara terus menerus agar lebih tajam dan tidak terjadi kemunduran dalam tindakan atau respon terhadap stimulus.

Dalam membuktikan teorinya thorndike melakukan percobaan terhadap seekor kucing yang lapar dan kucing itu ditaruh dalam kandang, yang mana kandang tersebut terdapat celah-celah yang kecil sehingga seekor kucing itu bisa melihat makakanan yang berada diluar kandang dan kandang itu bisa terbuka dengan sendiri apabila seekor kucing tadi menyentuh salah satu jeruji yang terdapat dalam kandang tersebut. mula-mula kucing tersebut mengitari kandang bebarapa kali sampai ia menemukan jeruji yang bisa membuka pintu kandang kucing ini melakuakn respon atu tindakan dengan cara coba-coba ia tidak maengetahui jalan keluar dari kandang tersebut, kucing tadi melakukan respon yang sebanyak-banyaknya sehingga menemukan tindakan yang cocok dalam situasi baru atau stimulus yang ada. Thrndike melakukan percobaan ini berkali-kali pada kucing yang sama dan situasi yang sama pula. Memang pertama kali kucing tersebut, dalam menemuka jalan keluar membutuhkan waktu yang lama dan pastinya mengitari kandang dengan jumblah yang banyak pula, akan tetapi karena sifat dari setiap organisme itu selalu memegang tindakan yang cocok dalam menghadapi situasi atau stimulus yang ada, maka kucing tadi dalam menemukan jeruji yang menyebabkan kucing tadi bisa keluar dari kandang ia pegang tindakan ini sehingga kucing tadi dalam keluar untuk mendaptkan makanan tidak lagi perlu mengitari kandang karena tindakan ini dirasa tidak cocok, akan tetapi kucing tadi langsung memegang jeruji yang menyebabkannya bisa keluar untuk makan.

b.3. Hukum-Hukum Belajar

1) Hukum kesiapan “Law of Readiness”[7]

Dalam belajar seseorang harus dalam keadaan siap dalam artian seseorang yang belajar harus dalam keadaan yang baik dan siap, jadi seseorang yang hendak belajar agar dalam belajarnya menuai keberhasilan maka seseorang dituntut untuk memiliki kesiapan, baik fisik dan psikis, siap fisik seperti seseorang tidak dalam keadaan sakit, yang mana bisa menagganggu kualitas konsentrasi. Adapun contoh dari siap psikis adalah seperti seseorang yang jiwanya tidak lagi terganggu, seperti sakit jiwa dan lain-lain.

Disamping sesorang harus siap fisik dan psikis seseorang juga harus siap dalam kematangan dalam penguasaan pengetahuan serta kecakapan-kecakapan yang mendasarinya.

2) Hukum Latihan”Law of Exercise”

Untuk menghasilkan tindakan yang cocok dan memuaskan untuk merespon suatu stimulus maka seseorang harus mengadakan percobaan dan latihan yang berulang-ulang, adapun latihan atau pengulangan prilaku yang cocok yang telah ditemukan dalam belajar, maka ini merupakan bentuk peningkatan existensi dari perilaku yang cocok tersebut agar tindakan tersebut semakin kuat(Law of Use). Dalam suatu teknik agar seseorang dapat mentrasfer pesan yang telah ia dapat dari sort time memory ke long time memory ini di butuhkan pengulangan sebanyak-banyak nya dengan harapan pesan yang telah di dapat tidak mudah hilang dari benaknya.

Adapun dalam percobaan Throndike pada seekor kucing yang lapar yang ditaruh dalam kandang, pertama-tama kucing tadi membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui pintu kandang tersebut dan untuk menemukan pintu tersebut membutuhkan pecobaan tingkah laku yang berulang-ulang dan membutuhkan waktu yang relative lama untuk mendapatkan tingkah laku yang cocok, sehingga kucing tadi untuk keluartidak membutuhkan waktu yang lama.

3) Hukum Akibat “Law of Effect”

Setiap organisme memiliki respon sendiri-sendiri dalam menghadapi stimulus dan situasi yang baru, apabila suatu organisme telah menetukan respon atau tindakan yang melahirkan kepuasan dan keocokan dengan situasi maka hal ini pasti akan di pegang dan dilakuakn sewaktu-waktu ia di hadapakan dengan situasi yang sama. Sedangkan tingkah laku yang tidak melahirkan kepuasaan dalam menghadapi situasi dan stimulus maka respon yang seperti ini aka ditinggalkan selama-lamanya oleh pelaku.Hal ini terjadi secara otomatis bagi semua binantang (otomatisme).

Hukum belajar ini timbul dari percobaan thorndike pada seekor kucing yang lapar dan ditaruh dalam kandang, yang ditaruh makanan diluar kandang tersebut tepat didepan pintu kandang. Makanan ini merupakan effect positif atau juga bisa dikatakan bentuk dari ganjaran yang telah diberikan dari respon yang dilakukan dalam menghadapi situsai yang ada.

Thorndike mengungkapkan bahwa organisme itu sebagai mekanismus yang hanya bertindak jika ada perangsang dan situasi yang mempengaruhinya. Dalam dunia pendidikan Law of Effect ini terjadi pada tindakan seseoranng dalam memberikan punishment atau reward. Akan tetapi dalam dunia pendidikan menurut Thorndike yang lebih memegang peranan adalah pemberian reward dan inilah yang lebih dianjurkan. Teori Thorndike ini biasanya juga disebut teori koneksionisme karena dalam hukum belajarnya ada “Law of Effect” yang mana disini terjadi hubungan antara tingkah laku atau respon yang dipengaruhi oleh stimulus dan situasi dan tingkah laku tersebut mendatangkan hasilnya(Effect).

b.4. Prinsip-Prinsip Belajar yang Dikemukakan oleh Thorndike

  1. Pada saat seseorang berhadapan dengan situasi yang baru, berbagai respon yang ia lakukan. Adapun respon-respon tiap-tiap individu berbeda-beda tidak sama walaupun menghadapi situasi yang sama hingga akhirnya tiap individu mendapatkan respon atau tindakan yang cocok dan memuaskan. Seperti contoh seseorang yang sedang dihadapkan dengan problema keluarga maka seseorang pasti akan menghadapi dengan respon yang berbeda-beda walaupun jenis situasinya sama, misalnya orang tua dihadapkan dengan prilaku anak yang kurang wajar.
  2. Dalam diri setiap orang sebenarnya sudah tertanam potensi untuk mengadakan seleksi terhadap unsur-unsur yang penting dan kurang penting, hingga akhirnya menemukan respon yang tepat. Seperti orang yang dalam masa pekembangan dan menyongsong masa depan maka sebenarnya dalam diri orang tersebut sudah menegetahui unsur yang penting yang harus dilakukan demi mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan.
  3. Orang cenderung memberikan respon yang sama terhadap situasi yang sama. Seperti apabila seseorang dalam keadaan stress karena diputus oleh pacarnya dan ia mengalami ini bukan hanya kali ini melainkan ia pernah mengalami kejadian yang sama karena hal yang sama maka sudah barang tentu ia akan merespon situasi tersebut seperti yang ia lakukan seperti dahulu yang ia lakukan.

b.5. Aplikasi Teori Behavioristik terhadap Pembelajaran Siswa

Aplikasi Teori Thorndike

Sebelum guru dalam kelas mulai mengajar, maka anak-anak disiapkan mentalnya terlebih dahulu. Misalnya anak disuruh duduk, reward dan punishment sehingga memberikan motivasi proses belajar mengajar yang rapi, tenang dan sebagainya.

· Guru mengadakan ulangan yang teratur, bahkan dengan ulangan yang ketat atau sistem drill.

· Guru memberikan bimbingan, pemberian hadiah, dan pujian.

Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.

Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak.

Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti :

Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.

Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.

b.6. Kelemahan-kelemahan dari teori Thorndike

  1. Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka disamakan dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and error.Trial and error tidak berlaku mutlak bagi manusia.
  2. Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon. Sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan-latihan, atau ulangan-ulangan yang terus menerus.
  3. Karena belajar berlangsung secara mekanistis, maka penegertian tidak dipandangnya sebagai suatu yang pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan pengertian sebagai unsur yang pokok dalam belajar.
  4. Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot.Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.
  5. c.       Teori Operant Conditioning B.F. Skinner (pembiasaan perilaku respons)

Teori pembiasaan perilaku (operant conditioning) ini merupakan teori belajar yang berusia paling muda dan masih sangat berpengaruh dikalangan para ahli psikologi belajar masa kini.Penciptanya bernama Burrhus Frederic Skinner (lahir tahun 1904), seorang penganut behaviorisme yang dianggap kontroversial.[8]

Operant adalah sejumlah perilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat (reber,1988). Tidak seperti dalam respondent conditioning(yang responnya didatangkan oleh stimulus tertentu), respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforce. Reinforce itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya  sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical respondent conditioning[9].

Dalam salah satu eksperimennya, skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang kemudian terkenal dengan nama “Skinner box”. Peti sangkar ini terdiri atas dua macam komponen pokok, yakni: manipulandun dan alat pemberi reinforcement yang antara lain berupa wadah makanan. Manipulandun adalahkomponen yang dapat dimanipulasi dan gerakannya berhubungan dengan reinforcement.Komponen ini terdiri atas tombol, batang jeruji, dan pengungkit (reber, 1988)[10].

Dalam eksperimen tadi mula-mula tikus itu mengeksplprasi peti sangkar dengan cara lari kesana-kemari, mencium benda-benda yang ada disekitarnya, mencakar dinding, dan sebagainya. Aksi-aksi seperti ini tersebut “Emitted Behaviour” (tingkah laku yang terpancar), yakni tingkah laku yang terpancar dari organisme tanpa mempedulikan stimulus tertentu. Kemudian pada gilirannya, secara kebetulan salah satu emitted behavior tersebut (seperti cakaran kaki depan atau sentuhan moncong) dapat menekan pengungkit. Tekana pengungkit ini mengakibatkan munculnya butir-butir makanan ke dalam wadahnya[11].

Butir-butir makanan yang muncul itu merupakan reinforce bagi penekanan pengungkit. Penekanan pengungkit inilah yang disebut tingkah laku operen yang akanterus meningkat apabila diiringi dengan reinforcement, yakni penguatan berupa butir-butir makanan yang muncul pada wadah makanan[12].

Jelas sekali bahwa eksperimrn skinner di atas mirip sekali dengan trial end error learning yang ditemukan oleh thorndike. Dalam hal ini, fenomena tingkah laku belajar menurut thorndike selalu melibatkan kepuasan, sedangkan menurut skinner fenomene tersebut melibatkan penguatan. Dengan demikian, baik belajar dalam teori S-R Bond maupun dalam teori operan conditioninglangsung atau tidak, keduanya mengakui arti penting law of effect.

Selanjutnya, proses belajar dalam teori operant conditioning juga tunduk kepada hokum operant yang berbeda, yakni: low of operant conditioning dan law of operant extinction. Menurut law of operant conditioning, jika timbulnya tingkah laku operant tersebut akan meningkat. Sebaliknya, menurut law of operant extinction, jika timbulnya tingkah laku operantyang telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingakah laku tersebut akan menurun atau bahkan musnah (Hintzman, 1987). Hukum-hukum ini pada dasarnya sama saja dengan hokum-hukum yang melekat dalam proses belajar menurut teori pembiasaan klasik[13].

Teori-teori belajar hasil eksperimen Thorndike, Skinner, dan Pavlov di atas secara principal bersifat behavioristic dalam arti lebih menekankan timbulnya prilaku jasmaniah yang nyata dan dapat diukur.Teori-teori itu juga bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respons, sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robrot.

Kelemahan-kelemahan teori tersebut adalah sebagi berikut[14]:

1)      Proses belajar itu dipandang dapat diamati secara langsung, padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar kecuali sebagian gejalanya.

2)      Proses belajar itu dipandang bersifat otomatis-mekanis, sehingga terkesan seperti gerakan mesin dan robot, padahal setiap siswa memiliki self-regulation (kemampuan mengatur diri sendiri) dan self-control (pengendalian diri) yang bersifat kognitif, dan karenanya ia bisa menolak, merespons jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati.

3)      Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat amat mencoloknya perbedaan antara karakter fisik dan psikis manusia dengan karakter fisik dan psikis hewan.

  1. 2.      Teori Kognitif
    1. a.      Teori Gestalt (Koffka dan Kohler)

a.1. Teori Gestalt

Menurut teori gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lainnya; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya[15].

Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang “insight” yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan.Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan teori Gestalt, guru tidak memberikan potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu satu kesatuan yang utuh. Guru memberikan suatu kesatuan situasi atau bahan yang mengandung persoalan-persoalan, dimana anak harus berusaha menemukan hubungan antar bagian, memperoleh insight agar ia dapat memahamii keseluruhan situasi atau bahan ajaran tersebut. “insight” itu sering dihubungkan dengan pernyataan spontan seperti “aha” atau “oh, see now”. Menurut teori Gestalt ini pengamatan manusia pada awalnya bersifat global terhadap objek-objek yang dilihat, karena itu belajar harus dimulai dari keseluruhan, baru kemudian berproses kepada bagian-bagian. Pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga[16].

Suatu hukum yang terkenal dari teori Gestalt yaitu hukum Pragnanz, yang kurang lebih berarti teratur, seimbang, simetri, dan harmonis. Untuk menemukan Pragnanz diperlukan adanya pemahaman atau insight, menurut Ernest hilgard ada enam ciri dari belajar pemahamn ini yaitu[17]:

  1. Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar.
  2. Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu yang relevan.
  3. Pemahaman tergantung kepada pengaturan situasi, sebab insight itu hanya mungkin terjadi apabila situasi belajar itu diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati.
  4. Pemahaman didahului oleh usaha coba-coba, sebab insight bukanlah hal yang dapat jatuh dari langit dengan sendirinya, melainkan adalah hal yang harus dicari.
  5. Belajar dengan pemahaman dapat diulangi, jika sesuatu problem yang telah dipecahkan dengan insight lain kali diberikan lagi kepada pelajar yang bersangkutan, maka dia dengan langsung dapat memecahkan problem itu lagi.
  6. Suatu pemahaman dapat diaplikasikan atau dipergunakan bagi pemahaman situasi lain.

a.2. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain[18] :

  1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
  2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
  3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
  4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
  5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
    1. b.      Teori Medan (Kurt Lewin)

b.1. Teori Medan

Teori Medan atau Field Theory, merupakan salah satu teori yang termasuk rumpun Cognitive-Gestalt-Field. Teori ini sama dengan Gestalt menekankan keseluruhan dan kesatupaduan[19].

Menurut Kurt Lewin perilaku ditentukan oleh totalitas situasi yang melingkupi seseorang.Dalam teori medannya, ‘lapangan’ didefinisikan sebagai totalitas fakta-fakta yang mengiringi dan dipahami saling tergantung atau terkait satu dengan yang lainnya[20].Setiap individu berperilaku berbeda sesuai dengan persepsi diri dan lingkungannya bekerja.Medan psikologis atau lifespace, di mana orang berperilaku harus ditinjau, dalam rangka memahami perilaku itu sendiri. Penilaian seseorang berdasar persepsi diri dan aspek lingkungan yang mendukungnya ini disebabkan karena otak adalah sistem fisik, otak menciptakan medan yang memengaruhi informasi yang masuk ke dalamnya, seperti medan magnet memengaruhi partikel logam. Medan kekuatan inilah yang mengatur pengalaman sadar[21].

Kurt Lewin (1892-1947) menaruh perhatian pada kepribadian dan psikologi sosial. Lewin memandang bahwa masing-masing individu berada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis. Medan kekuatan psikologis dimana individu bereaksi disebut sebagai ”Life Space”. Life Space mencakup perwujudan lingkungan dimana individu bereaksi, misalnya: orang-orang yang ia jumpai, objek material yang ia hadapi, serta fungsi-fungsi kejiwaan yang ia miliki. Lewin berpendapat bahwa tingkah laku merupakan hasil tindakan antar kekuatan-kekuatan, baik yang dari dalam diri individu seperti; tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan maupun dari luar diri individu, seperti; tantangan dan permasalahan[22].

Dalam medan hidup ini ada sesuatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi untuk mencapainya selalu ada barier atau hambatan. Individu memiliki satu atau sejumlah dorongan dan berusaha mengatasi hambatan untuk mencapai tujuan tersebut. Apabila individu telah berhasil mencapai tujuan, maka ia masuk ke dalam medan atau lapangan psikologis baru yang di dalamnya berisi tujuan baru dengan hambatan-hambatan yang baru pula. Demikian seterusnya individu keluar dari suatu medan dan masuk ke medan psikologis berikutnya[23].

Hall dan Lindzey merangkum poin utama Teori Medan Kognitif Lewin sebagai berikut[24]:

  1. Perilaku adalah fungsi dari medan yang ada pada saat perilaku tersebut terjadi.
  2. Analisa tingkah laku dimulai dengan situasi sebagai keseluruhan dari komponen-komponen tingkah laku yang terpisah dan berbeda.
  3. Individu yang konkret dalam sebuah situasi nyata (konkret) dapat digambarkan secara matematis.

b.2. Penggunaan Teori Medan dalam Belajar

  1. Belajar sebagai perubahan sistem kognitif

Teori Medan (Field Theory) Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam satu medan atau lapangan psikologis[25]. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hanbatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan masuk ke dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya[26]. Menurut teori ini belajar berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan.Kurikulum sekolah dengan segala macam tuntutannya, berupa kegiatan belajar di dalam kelas, laboratorium, di workshop, di luar sekolah, penyelesaian tugas-tugas, ujian-ulangan dan lain-lain, pada dasarnya merupakan hambatan yang harus diatasi[27].

Menurut Lewin belajar terjadi akibat adanya perubahan struktur kognitif. Perubahan kognitif adalah hasil dari dua macam kekuatan yaitu struktur medan kognitif dan motivasi internal individu[28]. Apabila seseorang belajar, maka dia akan tambah pengetahuannya. Artinya tahu lebih banyak dari pada sebelum ia belajar. Ini berarti ruang hidupnya lebih terdiferensiasi, lebih banyak subregion yang dimilikinya, yang dihubungkan dengan jalur-jalur tertentu. Dengan kata lain orang tahu lebih banyak tentang fakta-fakta dansaling berhubungan antara fakta-fakta itu[29].

Perubahan struktur pengetahuan (struktur kognitif) dapat terjadi karena ulangan; situasi mungkin perlu diulang-ulang sebelum strukturnya berubah.Akan tetapi yang penting bukanlah bahwa ulangan itu terjadi, melainkan bahwa struktur kognitif itu berubah.Dengan pengaturan masalah (problem) yang lebih baik, struktur mungkin dapat berubah dengan ulangan yang sangat sedikit.Hal ini telah terbukti dalam ekserimen mengenai insight. Terlalu banyak ulangan tidak menambah belajar; sebaliknya ulangan itu mungkin menyebabkan kejenuhan psikologis (pychological satiation) yang dapat membawa disorganisasi (kekacauan) dan dediferensiasi (kekaburan ) dalam sistem kognitif[30].

Perubahan dalam struktur kognitif ini untuk sebagian berlangsung dengan prinsif pemolaan (patterning) dalam pengamatan, jadi disinilah lagi terbukti betapa pentingnya pengamatan itu dalam belajar.Perubahan itu disebabkan oleh kekuatan yang telah intrinsik ada dalam struktur kognitif.Tetapi struktur kognitif itu juga berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan yang ada pada individu.Disinilah terjadi belajar dengan motivasi[31].

  1. Hadiah dan hukuman menurut Kurt Lewin

Bila kaum Behavioral memandang hadiah dan hukuman sebagai The Law of Effect and The Law of Reinforcement, maka Kurt Lewin menggambarkan situasi yang mengandung hadiah atau hukuman sebagai situasi yang mengandung konflik. Hal ini digambarkannya dalam topologi berikut:

Situasi yang mengandung hukuman

Di dalam situasi yang digambarkan di atas, ribadi harus melakukan pekerjaan atau tugas yang tidak menyenangkan, karenanya ada kebutuhan untuk meninggalkan tugas yang tidak menyenangkan itu. Supaya ia tetap mengerjakan tugas itu, ada ancaman hukuman bila ia tidak menyelesaikan tugas tersebut. Sehingga dalam situasi seperti ini lalu timbul konflik, yaitu si pribadi harus memilih diantara dua kemungkinan yang tidak menyenangkan tersebut.Dalam situasi ini, malah ada kecenderungan pribadi menghindarkan diri dari kedua kondisi yang tidak menyenangkan dirinya. Supaya pribadi tidak meninggalkan medanitu maka harus dibuat barier; barier dalam kehidupan nyata adalah kekuasaan atau pengawasan.

Situasi yang mengandung hadiah

Dalam situasi yang mengandung hadiah, pribadi tidak perlu dimasukkan dalam tembok pengawasan seperti yang digambarkan pada topologi yang mengandung hukuman, karena sifat menariknya hadiah akan menahan pribadi untuk tetap berada dalam medan. Akan tetapi barier tetap diperlukan untuk mencegah supaya pribadi jangan sampai memperoleh hadiah secara langsung tanpa mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan.Pengawasan dalam situasi ini masih diperlukan karena hadiah berhubungan dengan aktivitas menjalankan tugas secara eksternal, maka selalu ada kecenderungan untuk mencari jalan lebih singkat bahkan bila mungkin mendapatkan hadiah tanpa mengerjakan tugasnya.

  1. Masalah berhasil dan gagal

Kurt Lewin lebih setuju penggunaan istilah sukses dan gagal dari pada istilah hadiah dan hukuman. Sebab apabila tujuan-tujuan yang akan kita capai itu adalah intrinsik, maka kita lebih tepat menggunakan istilah berhasil atau gagal daripada terminologi hadiah dan hukuman. Istilah hadiah dan hukuman lebih dekat pada pendekatan nonpsikologis sedang istilah sukses dan gagal merupakan kajian dalam pendekatan psikologis.Secara psikologis yang penting memang adalah bagaimana yang dialami individu dalam menghadapi suatu problem. Suatu pengalaman sukses haruslah dimengerti sesuai dengan apa yang telah dikerjakan atau dicapai oleh seseorang (pelajar). Misalnya seorang pelajar yang merasa sukses karena naik kelas dengan nilai terbaik. Namun ada pula yang tetap merasa sukses karena ia naik kelas walau tidak dengan nilai terbaik.

  1. Sukses memberi mobilisasi energi cadangan

Kurt Lewin beranggapan bahwa dinamika kepribadian itu dikarenakan oleh adanya energi dalam diri seseorang yang disebut energi psikis.Energi psikis inilah yang dipergunakan untuk berbagai aktivitas seperti mengamati, mengingat, berpikir dan sebagainya.Dalam keadaan sehari-hari, hanya sedikit saja energi psikis yang dipergunakan dan sisanya tersimpan sebagai energy cadangan. Apabila orang mendapat pengalaman sukses, maka akan terjadi mobilisasi energi cadangan sehingga kemampuan individu untuk menyelesaikan problem bertambah. Oleh sebab itu secara praktis sangat dianjurkan untuk sebanyak mungkin memberikan kesempatan kepada para peserta didik kita supaya mereka mendapatkan pengalaman sukses.

BAB IV

PENUTUP

 

Kesimpulan

            Teori-teori belajar pada abad 20 antara lain:

  1. a.         Teori Behaviorisme:

a.1. Teori Classical Conditioning Ivan Pavlov

            Pavlov membuat teori berdasarkan pada eksperimennya yang terkenal tentang berfungsinya kelenjar ludah pada anjing. Kemudian ia menyimpulkan bahwa tingkah laku tertentu dapat dibentuk dengan cara diulang-ulang, yaitu “dipancing” dengan sesuatu yang memang dapat menimbulkan tingkah laku tersebut. Watson mengembangkan teori tersebut.

a.2. Teori Connectionism Thorndike

            Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi (connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan (law of readiness).

            Prinsip kedua adalah pelajaran akan dikuasai bila diulang-ulang (law of exercise).

            Kemudian prinsip ketiga adalah koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. (law of effects).[32] Misalnya bila anak mengerjakan PR, ia mendapat muka manis gurunya. Namun jika sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya.

            Teori ini menyebutkan pula konsep transfer of training, yaitu hasil kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah lain. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya.

a.3. Teori Operan Conditioning BF.Skinner

            Teori operan conditioning memiliki persamaan dengan teori Pavlov dan Watson, tetapi lebih terperinci. Ia membedakan adanya dua macam respons”

Respondent response, yaitu respons yang ditimbulkan stimulus tertentu (misalnya air liur timbul karena ada makanan) dan operant respondent, yaitu respons yang menimbulkan stimulus baru sehingga memperkuat respons yang telah dilakukan.

            Skinner memfokuskan perhatiannya pada jenis operant response. Skinner berpendapat bahwa proses belajar memerlukan usaha menimbulkan dan mengembangkan respons sebagai usaha memperoleh “penguatan”. Skinner mendasarkan teorinya atas percobaan yang dilakukan pada kera (simpanse).[33]

  1. b.        Teori Kognitif

b.1. Teori Gestalt Koffka & Kohler

            Teori Gestalt awalnya dikembangkan di bidang persepsi penglihatan, yakni:[34]

1)       Apabila mengamati sekelompok obyek, orang akan mengatur kesan pengamatannya sedemikian rupa sehingga pengelompokan obyek mempunyai arti tertentu baginya.

2)       Apabila mengamati suatu obyek, orang pun akan mengamati hal-hal sama secara Gestalt.

3)       Hal-hal yang saling berdekatan cenderung diamati secara bulat (Gestalt).

4)       Hal-hal yang diamati dalam bentuk tertutup cenderung memberi kesan Gestalt.

5)       Obyek pengamatan yang mempunyai kaitan kontinuitas cenderung membentuk kesan Gestalt.

Selanjutnya, prisnsip-prinsip di bidang pengamatan diberlakukan di bidang belajar dan berpikir. Alasannya, apa yang dipikir bersumber dari apa yang dikenal melalui pengamatan dan berpikir pada hakikatnya adalah melakukan pengubahan struktur kognitif.

Ada prinsip yang sangat penting yaitu “inti” belajar adalah pada insight (pengertian, pemahaman).

b.2. Teori Medan Kurt Lewin

            Pada dasarnya, teori Lewin dapat dikatakan sebagai perluasan teori Gestalt, yaitu:[35]

  1. Belajar adalah pengubahan struktur kognitif. Makanya pemecahan problem hanya terjadi bila struktur kognitif diubah. Misalnya luas tanah pekarangan segi empat 150 m2, bila panjangnya 25 m, berapa kelilingnya?

Apabila struktur kognitif anak tetap pada pola keliling sama dengan 2 x panjang + 2 x lebar, maka ia tidak dapat memecahkan soal tanpa menemukan lebarnya terlebih dahulu.

  1. Hadiah dan hukuman merupakan dua sarana motivasi belajar yang memerlukan pengawasan agar digunakan wajar dan tepat.
  2. Faktor motivasi belajar lain dalah masalah sukses dan gagal. Sukses menjadi pendorong belajar. Sedangkan gagal akan menyebabkan kemunduran belajar.

Pada perkembangan teori belajar dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Sebelum abad 20, teori belajar didasarkan atas pandangan-pandangan filosofis dan dikembangkan oleh tokoh-tokoh ilmu filsafat. Jadi cirinya filosofis tanpa eksperimen.
  2. Teori-teori belajar abad 20 mendasarkan teori belajar pada eksperimen-eksperimen.
  3. Pada akhir abadke-19 dan awal abad 20, ada pandangan bahwa psikologi termasuk bagian ilmu alam dan ilmu kimia sehingga percobaan-percobaan dilakukan dengan metode ilmu alam (fisiologi).
  4. Sekitar tahun 1930, percobaan-percobaan dilakukan terhadap binatang, seperti anjing (oleh Pavlov), kucing (oleh Thorndike), dan tikus (oleh Skinner). Kemudian prinsip-prinsip hasilnya diterapkan pada manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Bell Gredler, E. Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV. Rajawali.

Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Djamara. Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta.

Muhammad Thobroni, Arif Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

http://bambangriyantomath.wordpress.com/2009/05/29/teori-belajar-gestalt/.

Diakses 17 Maret 2010.

http://www.psychologymania.co.cc/…/kurt-lewin-teori-medan-field-theory.html, diakses

pada 27 Oktober 2010.

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta),

2006.

Syah Muhibbin, 2009, Psikologi Belajar, Jakarta: Rajawali Pers

Sarwono, Sarlito Wirawan. 1979. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-

tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.

Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta.


[1] Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Hal. 9

[2] Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Hal. 13-15

[3] Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Hal. 223

[4]Sarwono, Sarlito Wirawan. 1979. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.

 

[5]Djamara. Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta

 

[6]Bell Gredler, E. Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV. Rajawali

 

[7]Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon

 

[8] Muhibbin syah, psikologi belajar, Jakarta: rajawali pers hal 98

[9]Muhibbin syah, psikologi belajar, Jakarta: rajawali pers hal 98

[10]Muhibbin syah, psikologi belajar, Jakarta: rajawali pers hal 99

[11]Muhibbin syah, psikologi belajar, Jakarta: rajawali pers hal 99

[12]Muhibbin syah, psikologi belajar, Jakarta: rajawali pers hal 99

[13]Muhibbin syah, psikologi belajar, Jakarta: rajawali pers hal 100

[14]Muhibbin syah, psikologi belajar, Jakarta: rajawali pers hal 9101

[15]Riyanto, Bambang. 2008. Teori Belajar Gestalat.

[16]Riyanto, Bambang. 2008. Teori Belajar Gestalat.

[17]Marada. 2008. Belajar Psikologi Gestalt dan Implikasinya di dalam Belajar dan pembelajaran

[18]Marada.2008. Belajar Psikologi Gestalt dan Implikasinya di dalam Belajar dan pembelajaran.

[19]Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologis Proses Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), 2005, h. 172.

[20]Kurt Lewin, Field theory in social science; selected theoretical papers. D. Cartwright (ed.). (New York: Harper & Row), 1951, h. 240.

[21]B.R. Hergenhanh, op.cit, h. 285

[22]Erlina A, Chatarina dkk, Psikologi Belajar (Semarang, Unnes Pers), 2006, h. 97

[23]Erlina A., ibid, h. 172.

[24]Hall, C.S. and Lindzey, G. Theories of Personality 3e, (New York: John Wiley and Sons), 1978, h. 386.

[25]Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta), 2006, h. 47.

[26]Dimyati dan Mudjiono, ibid, h. 48.

[27]Nana Syaodih Sukmadinata, loc.cit, h. 173.

[28]Sugandi, Akhmad dkk, Teori Pembelajaran, (Semarang: Unnes Pers), 2006, h. 31.

[29]Sumadi Suryabrata, loc.cit, h. 282.

[30]Sumadi Suryabrata, ibid, h. 282-283.

[31]Sumadi Suryabrata, ibid, h. 283.

[32] Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Hal.14

[33] Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Hal 15

[34] Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Hal 16

[35] Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Hal 16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s